Anda di halaman 1dari 15

DISUSUN OLEH KELOMPOK 2 :

1. MOHAMMAD RIZKY HARYPUTRA F 112 15 004


2. IWAN RAHMADI

F 112 15 005

3. AYU NATASHA LAMBOKA

F 112 15 006

4. ANDIS ISKANDAR

F 112 15 007

5. ERNA YUDITA
012

F 112 15

MAGISTER TEKNIK SIPIL


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS TADULAKO

KATA PENGANTAR

Kami memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesempatan dan
kemampuan sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.
Penulisan makalah ini berjudul Reactive Powder Concrete untuk mata kuliah Teknologi Beton
Lanjut dimana makalah ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya. Kami juga menyampaikan terima
kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini.
Namun kami menyadari bahwa penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan dan kami
menerima kritik dan saran membangun untuk perbaikan makalah ini.
Akhirnya penyusun mengharapkan semoga makalah ini bisa bermanfaat.

Palu, Mei 2016

Penyusun
KELOMPOK 2

DAFTAR ISI
SAMPUL
KATA PENGANTAR ..
DAFTAR ISI

i
ii

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan .

1.3 Batasan Masalah ..

BAB II TINJAUAN PUSTAKA


2.1. Perkembangan Beton

2.2. Prinsip Pengembangan Reactive Powder Concrete

2.3. Komposisi Campuran RPC

2.4. Sifat-sifat Mekanik dan Durabilitas RPC

2.5. Perkembangan Riset RPC

2.6. Material Pozzolan dari bahan Organik

2.7. Keunggulan dan Kekurangan RPC

2.8. Contoh Penelitian terhadap RPC pada konstruksi..

BAB III PENUTUP


3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

11

11

DAFTAR PUSTAKA

ii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Salah satu terobosan baru dalam bidang teknologi material beton adalah Reactive
Powder Concrete (RPC). Material ini pertama kali dikembangkan pada awal tahun 1990-an
oleh para peneliti di Laboratorium Henningston, Durham dan Richardson (HDR) pada
Perusahaan Bouygues S.A di Paris, Perancis. Selanjutnya Pierre Claude Aitcin, Direktur
Sains Beton Canada di Universitas Sherbrooke, mengaplikasikan RPC pada struktur
jembatan untuk pejalan kaki dan sepeda di sherbrooke, Quebec, Canada. RPC mempunyai
karakteristik berupa kuat tekan, daktilitas dan durabilitas yang sangat tinggi.
Reactive Powder Concrete (RPC) termasuk dalam jenis beton paling mutakhir yang
dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan akan material konstruksi beton berkekuatan
tinggi. RPC merupakan Ultra High Performance Concrete (UHPC) atau Ultra High Strength
Concrete (UHSC) yang mempunyai karakteristik sebagai material sangat padat dengan
kuat tekannya mencapai 800 MPa. Kekuatan yang sangat tinggi tersebut dapat dicapai
karena faktor air semen (fas) yang digunakan pada campuran RPC bernilai ekstrim rendah
(0,15 0,26), dan dilakukan optimalisasi struktur-micro matriks beton dengan gradasi
material berukuran nano (nm) yang berguna untuk meminimalkan rongga kosong antara
butiran/partikel sehingga didapat matriks beton yang ultra padat. Perencanaan gradasi
untuk mendapatkan kepadatan optimal tersebut diistilahkan sebagai Packing density.
Berhubung nilai fas yang digunakan ekstrim rendah, maka dibutuhkan superplastisizer,
agar beton segar RPC dapat dikerjakan dengan kelecakan (workability) yang baik. Selain
itu, RPC mengandung bahan tambah berupa silica fume dalam jumlah besar (23 25%
dari berat semen) yang rekasi kimianya menghasilkan kekuatan tambahan pada beton.
Dengan demikian, diketahui bahwa campuran RPC berbeda dengan beton konvensional,
karena RPC pada dasarnya meniadakan penggunaan agregat kasar dan ukuran partikel
material pembentuk berada pada skala nanometer.
Kuat tekan beton yang sangat tinggi berkorelasi dengan sifat getas beton (brittle), tetapi
hal ini dapat diminimalkan dengan penambahan serat baja sehingga diperoleh struktur
RPC yang bersifat daktail dengan dimensi struktur yang ramping, bobot struktur yang
ringan, dan dapat memikul beban sekuat baja.
Pada beberapa tahun belakang ini, banyak riset yang telah dilakukan oleh peneliti dari
berbagai negara guna menghasilkan beton dengan kuat tekan dan kinerja tinggi
menggunakan bahan-bahan local, tanpa bergantung pada merek industri tertentu.
Penggunaan bahan alternatif pengganti silica fume, sebagai sumber silika seperti: ground
granulated blast furnace slag, fly ash, dan abu sekam padi (rice husk ash) pada campuran
RPC memberikan kuat tekan dan kinerja yang memenuhi kriteria hampir setara dengan
RPC bermaterial silica fume.
1

Sedangkan di Indonesia, karena masih terbatasnya penelitian tentang RPC, pertamatama yang harus dikembangkan adalah rancangan campuran yang menggunakan bahanbahan
lokal yang ada, agar dapat dihasilkan RPC yang benar-benar sesuai dengan
karakteristik material di Indonesia. Pada tahun 2009, telah berhasil dikembangkan UHPC
(atau RPC) pertama dengan material lokal Indonesia, berbasis pada teknologi nano dengan
sumber silika juga berasal dari silica fume. Kuat tekan yang dihasilkan berkisar antara 130
MPa sampai 140 MPa.

1.2 Maksud dan Tujuan


Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini adalah memberikan kontribusi terhadap
ketersediaan rancangan campuran RPC berbahan lokal Indonesia dengan biaya produksi
yang lebih ekonomis. Selanjutnya hasil riset RPC ini dapat dijadikan produk industri lokal
yang ramah lingkungan (green concrete) yang berdampak positif terhadap pengurangan
limbah padat.

1.3 Batasan Masalah


Dalam penyusunan makalah ini kami mencoba menyampaikan tulisan hasil penelitian
sebelumnya tentang Reactive Powder Concrete (RPC) dan beberapa referensi lainnya
tentang penggunaan RPC sebagai bahan konstruksi. Pembahasan makalah ini hanya
berupa uraian atau deskripsi.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2

2.1 Perkembangan Beton


Perkembangan beton sebagai bahan structural juga terus berkembang dengan semakin
banyaknya kebutuhan konstruksi. Tahun 1950-an beton sebagai pemikul beban struktural
sudah mencapai kekuatan 35 MPa. Penelitian tentang kekuatan beton ini terus
berkembang. Pada tahun 1960-an di amerika sudah diproduksi secara missal beton
dengan kekuatan antara 41-52 MPa. Hal ini terus berlanjut sampai pada awal tahun 1970ansudah dapat diproduksi beton dengan kuat tekan 62 MPa. Pada akhir tahun 1980-an
kuat tekan yang dapat dibuat mencapai 138 MPa dan pada akhir abad ini kuat tekan 172207 MPa sudah dapat diproduksi secara missal dengan sisten precast.
Berdasarkan kekuatan beton, beton dikelompokkan sebagai berikut :
1. Beton normal, kuat tekan yang dicapai kurang dari 45 MPa.
2. Beton mutu tinggi (High Strength Concrete/HSC) yang memiliki kuat tekan 45-90 Mpa
3. Beton mutu sangat tinggi (Ultra High Strength Concrete/UHSC) yang memiliki kuat
tekan diatas 90 MPa.
4. Reactive Powder Concrete (RPC), ini merupakan marga baru dalam kelompok beton
yang sedikit berbeda dengan ketigabeton sebelumnya, kekuatan yang dimiliki antara
200-800 MPa.
2.2 Prinsip Pengembangan Reactive Powder Concrete
Reactive Powder Concrete adalah mortar yang terbuat dari material yang memiliki
kehalusan tertentu yang diharapkan akan terjadi reaksi lanjutan antara bahan penyusunnya
sehingga didapatkan kuat tekan yang lebih tinggi. Agregat yang digunakan memiliki ukuran
butiran sebesar 300 m dengan kuat tekan yang diperoleh sebesar 200-800 MPa. Kuat
tekan yang diperoleh sangat bergantung pada komposisi campuran dan curing yang
dilakukan.
Pembuatan RPC dilakukan dengan beberapa prinsip dasar berikut:
a. Peniadaan agregat kasar untuk meningkatkan homogenitas beton;
b. Penggunaan silica fume untuk reaksi pozzolanik;
c. Optimalisasi campuran material granular agar terjadi peningkatan kerapatan dan
terbentuknya matriks beton ultra padat;
d. Penerapan tekanan pada beton segar untuk memperoleh pemadatan terbaik;
e. Perawatan dengan panas dalam jangka waktu panjang untuk meningkatkan sifat
mekanis struktur-mikro, mempercepat proses susut dan pengeringan, hal ini
menghasilkan stabilitas volume, sifat rangkak minim, dan sifat susut dapat diabaikan.
f. Penambahan serat baja mutu tinggi untuk memperbaiki daktilitas dan kekuatan tarik,
meningkatkan daya tahan tumbukan dan keausan, serta retak-mikro dapat diatasi
secara lebih efektif.
g. Penggunaan faktor air semen ekstrim rendah guna mengurangi jumlah pori-pori dan
kapiler sehingga impermeabilitas meningkat yang menghasilkan durabilitas dan
kekuatan superior;
h. Penggunaan superplastisizer dalam dosis tinggi guna memperoleh kelecakan/
kemudahan kerja (workability) yang baik.
2.3. Komposisi Campuran RPC

Tipikal komposisi material penyusun RPC terdiri-terdiri atas :


a. Semen (cement): jenis semen portland tipe I/II, yang terbaik adalah semen yang
mempunyai kandungan C3A (Tricalcium aluminate) paling sedikit. Ukuran partikel semen
1 m 100 m;
b. silica fume: bersih dari kotoran dengan ukuran partikel 0,1 m 1 m;
c. superplastisizer: berbahan dasar Polycarboxyltatehter (PCE) akan memberikan tingkat
workability yang terbaik ;
d. pasir kuarsa (quartz sand): ukuran partikel 150 m 600 m;
e. serbuk/tepung kuarsa (crushed quartz/quartz powder): berjenis crystalline dengan
ukuran partikel 5 m 25 m;
f. serat baja (steel frber) (optional): berbentuk lurus dengan diameter 0,15 mm 0,2 mm,
panjang antara 10 25 mm.
Komposisi campuran RPC berdasarkan berat material dari beberapa peneliti terdahulu
diperlihatkan dalam Tabel 1.

2.4 Sifat-Sifat Mekanik dan Durabilitas RPC


4
Kuat tekan dan kinerja RPC sangat tergantung pada bahan baku, proporsi material, jenis
perawatan (curing) dan kontrol kualitas keseluruhan produksi. RPC memiliki kuat tekan

antara 120 MPa 800 MPa dengan modulus elestisitas antara 30 GPa 75 GPa dan kuat
tarik lentur berkisar 22 MPa 141 MPa.
RPC memiliki durabilitas ultra tinggi yang dihasilkan dari ekstrim rendahnya porositas
matriks beton. Penetrasi ion klorida rata-rata lebih rendah 25 kali dibanding HPC, absorpsi
air rata-rata 4 kali lebih rendah dibanding HPC dan kehilangan bobot akibat penetrasi
asam/sulfat rata-rata 2,5 kali lebih rendah dibanding HPC.
2.5 Perkembangan Riset RPC
Richard,P. dan Cheyrezy, M.H. (1994): Memberikan definisi tentang RPC. RPC dibagi 2
jenis yaitu RPC 200 dan RPC 800. RPC 200 menggunakan material semen type V dengan
agregat pasir kuarsa halus dengan ukuran 150-300 m, micro silica, steel fiber dengan
panjang 12,5 mm dan diameter 180 m dan komposisi secara rinci dapat dilihat pada Tabel
2. Pelaksanaan pencampuran dengan konvensional demikian juga untuk pemadatan
digunakan vibrator, sedang curing yang dilakukan ada 2 yaitu curing biasa dan curing air
panas antara suhu 80-90oC.Sifat mekanik yang dihasilkan di tabelkan pada Tabel 3. RPC
200 dapat direkomendasikan untuk pemakaian beton prestress tanpa tulangan pasif.
Sedang untuk pemakaian elemen struktur penerima tekan seperti kolom tidak perlu
menggunakan prestressing dan sudah diuji untuk balok prestress dengan panjang 10 m
tanpa tulangan. Sedang RPC 800 lebih diutamakan untuk elemen yang kecil dan sedang
untuk skala prepabrikasi, yang secara material sama dengan RPC 200, hanya steel fiber
diganti dengan stainless steel microfiber dengan panjang kurang dari 3 mm dan curing
yang dilakukan Dry-Curing dengan suhu 250 oC. Dengan adanya penambahan steel fiber
akan meningkatkan energy fraktur hingga 40.000 J/m3 untuk beton normal. Untuk
komposisi campuran dan sifat mekanik dapat dilihat pada table 2 dan tabel 3.
Tabel. 2. Komposisi campuran menurut Richard,P dan Cheyrezy, M.H.

Tabel.3. Sifat Mekanik dari Richard,P dan Gheyrezy, M.H.


5

2.6 Material Pozzolan dari bahan organik


1. Abu sekam padi (rice husk ash)
Abu sekam padi merupakan hasil pembakaran dari kulit padi berwarna keabu-abuan pada
kondisi alami. Abu sekam padi mengandung silika (SiO2) 90% 95% setelah pembakaran 2
jam pada temperatur 600 oC 800 oC [15]. Tabel 4 memperlihatkan bahwa kandungan
silika dalam abu sekam padi lebih tinggi dibanding semen.
Tabel. 4. Komposisi kandungan kimia semen dan abu sekam padi

Penggunaan abu sekam padi dalam campuran beton akan meningkatkan kemudahan kerja
(workability), menurunkan retak thermal dan susut plastis. Selain itu, abu sekam juga
meningkatkan kekuatan, impermaebilitas dan durabilitas beton. Abus sekam padi dapat
mensubstusi berat semen sebesar 30 40%.
2. Abu cangkang kelapa sawit (palm oil fuel ash)
Abu cangkang kelapa sawit punya potensi yang cukup baik sebagai material pozzolan
dalam campuran beton apabila kehalusannya ditingkatkan dengan proses penggilingan.
Penggunaan abu canggkang kelapa sawit berukuran partikel 7,4 m dapat mensubstitusi
semen pada campuran beton sebesar 20% 30%. Hasil kuat tekan yang diperoleh setara
dengan campuran beton tanpa abu canggkang kelapa sawit, sedang durbilitasnya
menunjukkan peningkatan. Sebagaimana halnya dengan abu sekam padi, Tabel 5
memperlihatkan bahwa kandungan silika dalam abu cangkang kelapa sawit juga lebih
tinggi dibanding semen.

Tabel. 5. Komposisi kandungan kimia semen dan abu cangkakang kelapa sawit.

3. Limbah Kaca
Kaca adalah material transparan yang diproduksi dari peleburan silaka, soda dan
CaCO3 pada suhu tinggi kemudian didinginkan sehingga menjadi padat. Kaca banyak
ditemui sebagai limbah dalam bentuk botol, pecahan kaca, alat-alat rumah tangga, dan
tabung vakum (tabung TV). Limbah kaca merupakan non-biodegradable (tidak dapat
terurai) yang menimbulkan masalah sebagai limbah padat dan tidak ramah lingkungan.
Penggunaan limbah kaca sebagai material konstruksi dapat menurunkan masalah
lingkungan yang ditimbulkannya. Tepung limbah kaca dengan partikel 38 m
mengandung silika tinggi yang bersifat sebagai material pozzolan. Penggunaan tepung
kaca dalam campuran beton memberikan dampak baik pada sifat-sifat mekanis dan
durabilitas beton. Sementara itu, apabila limbah kaca digunakan untuk aggregate halus,
akan menghasilkan kemudahaan kerja (workability) yang lebih baik.

2.7 Keunggulan dan Kekurangan RPC.


Penggunaan RPC pada konstruksi dapat memberikan beberapa keunggulan dibandingkan
dengan beton konvensional, antara lain:

(i)

Superior dalam hal kuat tekan: kuat tekan RPC 4 kali lebih besar dibandingkan kuat
tekan beton normal, sehingga dapat mereduksi beban mati dengan demensi struktur
yang lebih ramping. Struktur RPC memiliki bobot antara 1/3 1/2 dari bobot struktur
konvensional. Reduksi dimensi struktur akan mengurangi biaya total struktur dan
meningkatkan daya guna ketinggian lantai pada gedung bertingkat tinggi;

(ii) Superior dalam hal daktilitas: daktilitas RPC rata-rata 300 kali lebih besar dibanding high
performance concrete (HPC) yang menggunakan agregat kasar, memberikan tingkat
keandalan (reliability) struktur yang lebih besar bahkan pada kondisi beban berlebih atau
beban gempa;
(iii) Superior dalam hal durabilitas (keawetan): durabilitas RPC yang tinggi berdampak pada
berkurangnya biaya perawatan. Tingkat impermaebilitas RPC hampir mendekati kedap
air/udara, memberikan daya tahan terhadap karbonisasi, penetrasi klorida dan penetrasi
sulfat. RPC memiliki ketahanan aus tinggi yang dapat meningkatkan umur penggunaan
7
lantai jembatan dan lantai industri. RPC juga memiliki daya tahan tinggi terhadap korosi
sehingga memberikan perlindungan yang cukup baik dalam lingkungan yang ekstrim;

(iv) Tanpa tulangan baja: RPC meng-eleminasi penggunaan tulangan baja, hal ini
mengurangi biaya buruh yang dipakai untuk merakit dan memasang tulangan. Juga
memberikan keleluasaan desain elemen struktur tanpa ada pembatasan ukuran
penampang ;
(v) Mereduksi ketebalan elemen beton: memberikan keuntungan pada penghematan
material dan biaya;
(vi) Kualitas permukaan beton sangat halus.

Disamping memberi beberapa keunggulan, RPC juga memiliki beberapa kelemahan,


berupa:
(i)

Kandungan semen tinggi: berat semen dalam RPC berkisar antara 800 1000 kg/m3 (3
4 kali lebih besar dibanding beton normal) mengakibatkan biaya produksi tinggi dan
menghasilkan efek negatif dari panas hidrasi yang menyebabkan masalah susut.

(ii)

RPC secara umum mahal, dan tidak dapat menggantikan beton konvensional pada
keseluruhan aplikasi. Hal ini terjadi apabila campuran beton konvensional telah
memenuhi kriteria kinerja (performance) dengan biaya yang lebih ekonomis.

2.8. Contoh penelitian terhadap RPC pada konstruksi


1. Panel Join Balok dan Kolom
Perencanaan join balok-kolom (beam-column joint) pada struktur beton bertulang pada
daerah yang rawan gempa, menurut Park & Paulay harus didasarkan pada hal-hal
sebagai berikut :
a. Kekuatan panel join balok-kolom tidak boleh kurang dari gaya yang berpotensi
menimbulkan sendi plastis pada balok. Hal ini dapat mengeliminasi keperluan
perbaikan pada bagian yang sulit dijangkau serta dapat menjamin terjadinya disipasi
energi oleh mekanisme join, yang akan mengalami degradasi (penurunan) kekakuan
akibat beban siklik inelastis.
b. Kapasitas kekuatan kolom tidak boleh berkurang karena adanya degradasi kekuatan
dari panel join balok-kolom. Pada gempa kecil dan sedang, panel join balok-kolom
diharapkan masih dapat memberikan perilaku elastis.

c. Ketahanan panel join balok-kolom harus mampu untuk berdeformasi dan menyalurkan
gaya geser dari rangka struktur.
d. Kapasitas kekuatan kolom tidak boleh berkurang karena adanya degradasi kekuatan
dari panel join balok-kolom. Pada gempa kecil dan sedang, panel join balok-kolom
diharapkan masih dapat memberikan perilaku elastis.
e. Penulangan join yang diperlukan tidak menimbulkan kerumitan dalam pelaksanaan
pembuatannya.
Dalam riset ini yang ditinjau dalah join eksterior dari bangunan gedung. Untuk memahami
perilaku join pada saat bekerja gaya gempa, maka harus dipelajari mekanisme gaya-gaya
yang bekerja pada join eksterior. Adapun gaya-gaya dalam dari balok dan kolom yang
bertemu pada panel join balok-kolom tersebut akan menghasilkan gaya geser join dan
berbagai jenis tegangan, baik dalam arah horizontal maupun vertical yang dapat
mengakibatkan retak diagonal pada panel join yang selanjutnya akan mengakibatkan
keruntuhan karena dilampauinya kekuatan geser dan lekatannya. Untuk memperjelas
mekanisme gaya-gaya yang bekerja pada join eksterior balok-kolom dengan satu balok
dapt dilihat pada Gambar.1 dengan menggunakan keseimbangan momen pada pusat join
yaitu di titik C, maka akan diperoleh hasilnya yaitu :

Gambar 1. Gaya-gaya pada join balok-kolom eksterior.

Selanjutnya dari hubungan keseimbangan gaya-gaya yang bekerja pada inti join (core
joint), seperti pada Gambar.1, maka akan diperoleh gaya geser horizontal sebesar :

V jh = T Vkol
Berdasarkan keseimbangan gaya-gaya, maka diperoleh gaya geser vertical pada join (Vvj),
yaitu :
V jh = T Cc + Cs
V jh = T Cc + Cs - Vb

BAB III
PENUTUP

10

A. Kesimpulan
-

Reactive Powder Concrete (RPC) adalah mortar yang terbuat dari material yang
memiliki kehalusan tertentu.

Penggunaan RPC dapat meningkatkan kekuatan, kekakuan dan daktilitas elemen


struktur beton bertulang dibanding dengan beton mutu tinggi dan beton normal.

RPC ini dapat dijadikan produk industri lokal yang ramah lingkungan (green
concrete) yang berdampak positif terhadap pengurangan limbah padat.

Biaya produksi RPC yang umumnya mahal, pemanfaatan pozzolan limbah organik
untuk menggantikan silica fume dan limbah kaca untuk menggantikan tepung kuarsa
sebagai bahan campuran RPC akan dapat menekan biaya produksi, serta
mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan limbah terhadap lingkungan

B. Saran
Penelitian terhadap RPC sebaiknya terus dikembangkan mengingat bahwa
pemanfaatan material ini memiliki banyak keunggulan dan dapat mengurangi dampak
negative terhadap lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA
11

Yulius Rief Alkhaly, Karakteristik dan Durabilitas Reactive Powder

Concrete Menggunakan Material Pozzolan dari Limbah Bahan Organik


(Properties of Reactive Powder Concrete using Pozzolanic Materials from Organic
Waste), Staf Pengajar Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik,Universitas
Malikussaleh.
-

Pio Ranap Tua Naibaho dkk, 2013, Perilaku Hubungan Balok-Kolom


Eksterior Beton Normal, Mutu Tinggi & Bubuk Reaktif Dengan Beban Lateral
Siklik (Jurnal), Staff Pengajar Program Studi Teknik Sipil, FT. Universitas Tama
Jagakarsa, Jakarta

Pio Ranap Tua Naibaho dkk, 2015, Studi Eksperimental Perilaku


Sambungan Balok-Kolom Eksterior Beton Bubuk Reaktif Terhadap Beban
Lateral Siklis (Jurnal), Staff Pengajar Program Studi Teknik Sipil, FT. Universitas
Tama Jagakarsa, Jakarta