Anda di halaman 1dari 33

BAB I

LANDASAN TEORI

1.1.

Tujuan Praktikum
a. Menganalisa kadar COD dalam sampel dengan penambahan larutan
KMnO4 berlebihan dalam suasana asam pada suhu 600C - 700C
b. Memahami metode analisis kadar COD.

1.2.

Landasan Teori
1.2.1. Kualitas Sungai Petapahan Kecamatan Gunung Toar Kabupaten
Kuantan Singingi

Pendahuluan
Sungai Petapahan yang teletak di Kecamatan Gunung Toar
Kabupaten Kuantan Singingi yang bemuara ke Sungai Kuantan,
merupakan salah satu sungai yang menjadi kebutuhan vital bagi
masyarakat untuk kebutuhan sehari-hari seperti, mencuci, mandi dan
lain sebagainya serta tempat mencari ikan dan budi daya ikan
kerambah. Disamping berfungsi sebagai kebutuhan primer bagi
masyarakat, Sungai Petapahan yang panjangnya 15.000 m juga
digunakan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat terutama
Sektor Pertanian, khususnya tanaman Padi Sawah yaitu dengan
dibangunnya bendungan Irigasi Sungai Petapahan pada tahun 1975
1976, panjang saluran pembawanya 7.310 m dan panjang saluran
pembuang3.000 m, dengan potensial areal sawah yang dapat diairi
seluas 144 ha dari luas baku 179 ha (Dinas PU, 1999).
Sejalan dengan perkembangan tuntutan kebutuhan hidup sehari
hari, keinginan untuk memanfaatkan sumber daya alam semaksimal
mungkin, termasuk sumber daya alam Sungai Petapahan berupa
penambangan galian C (pasir, kerikil) dan penambangan emas.
Pesatnya pemanfaatan terhadap penggunaan sumber daya lahan yang

berlebihan yang mengakibatkan terganggunya keseimbangan tata air


dan merusak catchmentarea(daerah tangkapan) air Sungai Petapahan
serta adanya aktifitas transportasi pengangkutan hasil seperti karet
melalui sungai petapahan yang tentunya akan menghasilkan limbah
organik yang dapat juga mempengaruhi kualitas sungai tersebut.
Untuk menentukan apakah air Sungai Petapahan masih dalam
Ambang Baku Mutu Air yang diperbolehkan dimanfaatkan oleh
masyarakat, perlu dilakukan penelitian menentukan kualitas Sungai
Petapahan dengan mengamati parameter fisika, kimia dan biologi
yang dibandingkan dengan klasifikasi mutu air bedasarkan PP No. 82
Tahun 2001 Tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air.
Adapun tujuan penelitan ini adalah :
1. Untuk mengetahui kualitas Sungai Petapahan ditinjau dari
parameter Fisika, Kimia dan Biologi bila dibandingkan dengan PP
No. 82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan
Pengendalian Pencemaran Air .
2. Untuk menentukan peruntukan yang sesuai dengan kualitas air
Sungai Petapahan.
Metode Penelitian
Waktu dan Tempat
Pelaksanaan penelitian dilakukan bulan November 2011,
Adapun tempat penelitian adalah perairan Sungai Petapahan di Desa
Petapahan Kecamatan Gunung Toar Kabupaten Kuantan Singingi
Propinsi Riau. Wilayah yang diteliti pada Daerah Aliran Sungai
Petapahan adalah Daerah Aliran Sungaibagian hulu (bagian hulu
Bendungan Irigasi), bagian tengah, bagian kawasan rumah penduduk
dan bagian hilir yang bermuara pada Sungai Kuantan.
Bahan dan Alat

Bahan dan alat yang digunakan untuk penelitian ini tertera


pada Tabel 1.
Tabel 1.Parameter Fisika, Kimia dan Biologi air serta Metode
yang diteliti menurut PP no. 82 Tahun 2001.

Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
survei dan penelitian perairan Sungai Petapahan dengan menetapkan 4
stasiun penelitian. Data yang diperoleh merupakan data primer dari
pengambilan sampel air dan sedimen sungai serta pengukuran dari
parameter kualitas air seperti fisika, kimia serta biologi. Pelaksanaan
pengukurannya ada langsung di lapangan (insitu) dan adapula sampel
air dan sedimen analisis di laboratorium.
Data yang diperoleh baik hasil pengukuran di lapangan
maupun hasil dari laboratorium dibandingkan dengan data Baku Mutu
kadar maksimal pada PP No.82 Tahun 2001 tentang Pengelolaan
Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air. Penentuan titik
sampling secara purposive sampling yaitu ditetapkan bedasarkan

karakteristik lingkungan yang berbeda pada masing - masing stasiun,


yaitu Stasiun 1 pada daerah bagian hulu Sungai Petapahan (hulu
bendungan irigasi) yang diduga intensitas limbahnya lebih banyak
akibat penambangan emas (PETI) dan limbah organik lainnya. Stasiun
2 yaitu pada bagian tengah Sungai Petapahan yang banyak
penambangan Galian C. Sedangkan untuk Stasiun 3 yaitu pada bagian
disekitar perumahan penduduk, serta Stasiun 4 yaitu pada bagian hilir
Sungai Petapahan yang bermuara ke Sungai Kuantan, yang mana jarak
antara stasiun 1 (bagian hulu) sampai Stasiun 4 (bagian hilir) lebih
kurang 6 km.
Hasil Dan Pembahasan
Sungai Petapahan yang dijadikan tempat penelitian berada di
Desa Petapahan merupakan potensi yang sangat besar pada Sektor
Pertanian di samping untuk kebutuhan primer masyarakat yang tinggal
di sepanjang perairan Sungai Petapahan.Daerah aliran Sungai
Petapahan melewati Desa Jake Kecamatan Kuantan Tengah dan Desa
Petapahan Gunung Toar.
Vegetasi yang terdapat didaerah Sungai Petapahan sebagian
besar rumput-rumputan dan tumbuhan jenis paku-pakuan.Selain itu
juga terdapat perkebunan tanaman kelapa sawit milik PT. Lokjenawi
dan perkebunan karet masyarakat. Karakteristik Sungai Petapahan
berwarna kekuningan agak keruh dengan debit air tinggi. Sungai
Petapahan yang berada di Kecamatan Gunung Toar bagian hulunya
berbatas dengan Desa Jake Kecamatan Kuantan Tengah.Untuk
jelasnya posisi Sungai Petapahan di Kabupaten Kuantan Singingi
dapat dilihat pada Peta Kabupaten Kuantan Singingi.
Parameter Fisika Kimia Biologi
Parameter fisika-kimia-biologi perairan merupakan faktor
yang mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme dalam
suattu perairan, kualitas perairan baru dapat dikatakan baik apabila

organisme

tersebut

dapat

melakukan

pertumbuhan

dan

perkembangbiakan dengan baik. Organisme perairan dapat hidup


dengan layak bila faktor-faktor yang memengaruhinya, seperti fisikakimia perairan berada dalam batas toleransi yang dikehendakinya.
Hasil

pengamatan

parameter

fisika

kimia

Sungai

Petapahan

bedasarkan penelitian pada masing masing stasiun dapat dilihat pada


Tabel 2.
Tabel 2. Hasil Pengamatan Parameter Fisika Kimia Sungai Petapahan

Tabel 2 menunjukkan bahwa parameter fisika, seperti suhu


pada setiap stasiun tidak mengalami perbedaan yang mencolok yaitu
berkisar 32,5 32,9 0C, pada kecepatan arus hasil pengamatan
terendah terdapat pada Stasiun 3 (60 cm/det) dan yang tertinggi pada

Stasiun 1 (90 cm/det), apabila di kelompokkan kepada kecepatan arus


maka keempat stasiun pengamatan termasuk kepada air yang berarus
cepat (500 100 cm/det), sedangkan untuk TSS terendah terdapat
pada Stasiun 3 (4,0 mg/L) dan yang tertinggi pada Stasiun 2 (4,0
mg/L), namun apabila dibandingkan dengan ambang baku mutu maka
seluruh stasiun pengamatan TSS masih dibawah ambang baku mutu
air kelas I.
Pada pengamatan parameter kimia, pH pada seluruh stasiun
masih dibawah standar baku mutu yang ditetapkan. Hasil pengamatan
BOD pada seluruh stasiun diatas baku mutu yang ditetapkan dengan
nilai yang tertinggi pada Stasiun 1 yaitu 313,6 mg/L. Hasil
pengamatan COD pada seluruh stasiun juga diatas ambang baku mutu
yang ditetapkan dengan nilai tertinggi pada Stasiun 1 yaitu 1.568,0
mg/L. Hasil pengamatan nitrat pada seluruh stasiun masih dibawah
ambang baku mutu, sedangkan hasil pengamatan posfat pada Stasiun
1 diatas ambang baku mutu yaitu 0,24 mg/L sedangkan pada Stasiun
2, Stasiun 3 dan Stasiun 4 kandungan posfat masih berada dibawah
ambang baku mutu.
Menurut Verheyen dalamSastrawijaya(2009), spesies yang
dapat tahan hidup pada suatu lingkungan terpopulasi, akan menderita
stres fisiologis yang dapat digunakan sebagai indikator biologi.
Indikator biologi merupakan petunjuk untuk memantau terjadinya
pencemaran, adanya pencemaran lingkungan keanekaragaman spesies
akan menurun dan mata rantai makanannya menjadi lebih sederhana,
kecuali bila terjadi penyuburan. Untuk menentukan kualitas air Sungai
Petapahan melalui parameter keberadaan hewan makrozoobenthos
berdasarkan pengamatan pada masing masing stasiun dapat dilihat
pada Tabel 3.
Tabel 3.Hasil Pengamatan Makrozoobenthos di Sungai Petapahan
Pada Masing-Masing Stasiun Pengamatan

Tabel 3menunjukkan bahwa pada Stasiun 1 dan Stasiun 2 tidak


dijumpai hewan makrozoobenthos. Pada Stasiun 3 dan Stasiun 4
dijumpai hewan makrozoobenthos dengan kelimpahan tertinggi pada
Stasiun 3 yaitu 103 ind/m2 dan pada Stasiun 4 yaitu 29 ind/m2, Jenis
Makrozoobenthos pada Stasiun 3 ditemukan 3 jenis dan pada Stasiun
4 ditemukan 2 jenis, Indeks keanekaragaman (H) pada Stasiun 3 yaitu
1 ind/m2 sedangkan pada Stasiun 4 yaitu 0 ind/m2 dan indeks
dominansi (C) pada seluruh Stasiun adalah 0 ind/m2, berarti tidak ada
jenis individu yang mendominansi.
Pembahasan Parameter Fisika Kimia Biologi
Suhu

Suhu air Sungai Petapahan saat dilakukan penelitian pada


setiap stasiun berkisar antara 32,5 32,9 oC. Jika dilihat dari kisaran
suhu perairan, maka perairan Sungai Petapahan sudah diatas suhu
normal daerah tropis. Menurut Boyd (1979) kisaran suhu di daerah
tropis berkisar antara 25-32 oC, masih layak untuk pertumbuhan
organisme akuatik, sedangkan menurut Huet (1975), suhu air yang
baik untuk budidaya ikan adalah antar 18,0 30,0 oC, dengan suhu
optimum berkisar 20,0 28,0 oC Menurut Sastrawijaya (2009) suhu
mempunyai pengaruh yang besar terhadap kelarutan oksigen,
kenaikan suhu menyebabkan lajunya metabolisme dalam tubuh hewan
dalam air dan selanjutnya menaikkan kebutuhan oksigen yang
mengakibatkan kandungan oksigen dalam air menurun.
Kecepatan Arus
Kecepatan arus termasuk salah satu paremeter kualitas air yang
berpengaruh terhadap kemampuan suatu perairan untuk mengasimilasi
dan mengangkut bahan bahan pencemaran. Menurut Odum (1996)
kecepatan arus disungai tergantung kemiringan, kekasaran, kedalaman
dan kelebaran dasar perairan. Kemudian Harahap (1991) menjelaskan
kecepatan arus dibagi menjadi empat kategori :
1. Kecepatan arus 0- 25 cm/det berarus lambat
2. Kecepatan arus 25 50 cm/det berarus sedang
3. Kecepatan arus 50 100 cm/det berarus cepat
4. kecepatan arus > 100 cm/det berarus sangat cepat
Jika dilihat dari kategori kecepatan arus perairan Sungai
Petapahan termasuk kategori berarus cepat. Perairan berarus cepat
mempunyai sifat dasar sungai berkerikil dan berbatu, karena dengan
arus yang cepat partikel partikel lumpur akan terbawa oleh arus.
Demikian sebaliknya jika perairan memiliki arus yang lambat dasar
perairannya akan cenderung berlumpur. Jika dihubungkan dengan
keberadaan

organisme

makrozoobenthos,

maka

jenis

makrozoobenthos yang ditemukan pada Stasiun 3 dan Stasiun 4

berada pada dasar perairan yang berlumpur sementara pada dasar


perairan berkerikil dan berbatu tidak ditemukan. Hal ini menunjukkan
bahwa jenis makrozoobenthos yang menyukai dasar perairan yang
berlumpur saja yang bisa bertahan hidup.
Total Suspended Solid (TSS)
Padatan tersuspensi disebabkan oleh partikel partikel suspensi
seperti tanah liat, lumpur, bahan-bahan organik terurai, bakteri,
plankton, dan organisme lainnya. Pengaruh padatan tersuspensi yang
utama adalah terjadinya penurunan penetrasi cahaya secara menyolok,
sehingga aktifitas fotosintesis fitoplankton dan alga menurun,
akibatnya produktifitas perairan menurun. Dari hasil pengamatan
diperoleh bahwa padatan tersuspensi di perairan Sungai Petapahan
masih berada dibawah baku mutu yang ditetapkan berdasarkan PP
No.82 Tahun 2001. Berarti TSS diperairan Sungai Petapahan masih
produktif dan masih baik untuk aktifitas fotosintesis.
pH
Air normal yang memenuhi syarat untuk suatu kehidupan
mempunyai pH berkisar antara 6,5 7,5. Air dapat bersifat asam atau
basa tergantung pada besar kecilnya pH air atau besarnya konsentrasi
ion hidrogen dalam air. Air yang mempunyai pH lebih kecil dari pH
normal akan bersifat asam, sedangkan air yang mempunyai pH lebih
besar dari normal akan bersifat basa. Air limbah dan bahan buangan
dari kegiatan industri dan penambangan yang mengalir kesungai akan
mengubah pH air yang pada akhirnya dapat menggangu kehidupan
organisme di dalam air. Berdasarkan pengukuran pH pada masing masing Stasiun pengamatan di Sungai Petapahan, diperoleh hasil pH
air berada dibawah kisaran baku mutu yang ditetapkan yang bersifat
asam dan tidak baik untuk perairan sungai. Menurut Sastrawijaya
(2009) pH air akan menurun menuju suasana asam akibat
pertambahan bahan bahan organik yang kemudian membebaskan
CO2 jika mengurai di dalam air, terjadi perubahan pH akibat adanya

pencemaran oleh bahan bahan organik, kimia dan lain sebagainya.


Rendahnya kisaran pH pada perairan Sungai Petapahan ini
menandakan Sungai Petapahan bersifat asam.Karena lahan disekitar
perairan sungai Petapahan bertipe podzolik merah kuning berpasir
yang tanahnya bersifat asam.
Biologycal Oxygen Demand (BOD)
BOD adalah jumlah oksigen yang diperlukan untuk konversi
mikroba atau mengoksidasi senyawa organik didalam limbah cair oleh
mikroba pada suhu 20 oC selama waktu inkubasi 5 hari.BOD
digunakan untuk mengetahui karakteristik senyawa kimia organik
dalam limbah cair. Pengukuran nilai BOD yang diperoleh di Sungai
Petapahan berkisar antara 2,6 313,6 mg/L, dibandingkan dengan
nilai baku mutu kadar maksimum yang diperbolehkan PP No.82 tahun
2001 (2 mg/L). BOD Sungai Petapahan melebihi kisaran nilai yang
diperbolehkan, hal ini dapat diakibatkan oleh meningkatnya bahan
organik atau rendahnya kandungan oksigen terlarut terdapat dalam
perairan Sungai Petapahan.
Dari empat stasiun yang diamati, kadar BOD yang menyolok
tingginya adalah pada Stasiun 1. Pada wilayah Stasiun 1 ini
diperkirakan telah terjadi akumulasi bahan organik dan anorganik
yang berada pada hulu bendungan irigasi yaitu pada genangan air nya,
diakibatkan oleh adanya kebun masyarakat dan kebun perusahaan
pada kiri kanan sungai dimana pada areal tersebut pupuk yang
diberikan pada musin penghujan dan secara alami akan tercuci dan
merembes ke sungai. Disamping itu juga akibat dari penambangan
emas pada sungai dan sekitar sungai bagian hulu Sungai Petapahan.

Chemical Oxygen Demand (COD)


Erat kaitannya dengan BOD adalah COD. Banyak zat organik
yang tidak mengalami penguraian biologi secara cepat berdasarkan

pengujian BOD 5 hari, tetapi senyawa- senyawa organik itu tetap


menurunkan kualitas air.Oleh karena itu perlu diketahui konsentrasi
organik setelah masuk dalam perairan sungai melalui uji COD.
Kandungan COD di Sungai Petapahan pada setiap stasiun pengamatan
berkisar antara 10,4 1568,0 mg/L. Kandungan COD yang tertinggi
juga dijumpai pada Stasiun 1 yaitu dibagian hulu Sungai Petapahan
yang dekat dengan sumber pencemaran penumpukan bahan bahan
organik.
Tingginya COD menunjukkan tingginya akumulasi senyawa
organik adan anorganik pada berbagai wilayah dalam perairan Sungai
Petapahan.Tingginya COD ini diperairan Sungai Petapahan juga
bersamaan dengan tingginya BOD pada perairan Sungai Petapahan
tersebut.
Nitrat
Nitrat adalah bentuk nitrogen utama diperairan alami dan nitrat
mudah larut dalam air dan bersifat stabil, dihasilkan dari proses
oksidasi sempurna senyawa nitrogen diperairan. Nitrat merupakan
nutrient dan nitrat mempercepat tumbuh plankton (Sastrawijaya
2009). Hasil pengamatan nitrat pada setiap Stasiun diperoleh
kandungan nitrat terendah pada Stasiun 3 yaitu 0,04 mg/L dan yang
tertinggi 1,74 mg/L, bila dibandingkan dengan baku mutu air kelas I
pada PP No. 82 Tahun 2001 (10 mg/L) maka kandungan nitrat masih
dibawah ambang baku mutu yang ditetapkan dalam arti kata air
Sungai Petapahan belum tercemar oleh kandungan nitrat. Apabila kita
hubungkan dengan tingkat kesuburan air maka air Sungai Petapahan
bedasarkan kandungan nitrat, maka kandungan nitrat pada Stasiun I
termasuk perairan yang agak subur karena kandungan nitratnya diatas
1,0 mg/L yaitu 1,74 mg/L, bedasarkan yang dinyatakan oleh
Vallenweider dalam Napitupulu ( 1996 ) mengemukakan kriteria
kesuburan bedasarkan kandungan nitrat sebagai berikut : 0,0 1,0

mg/L( perairan kurang subur), 1,0 - 5,0 mg/L (kesuburan sedang), 5,0
50.0 mg/l (tingkat kesuburan perairan tinggi).
Kualitas air Sungai Petapahan pada Stasiun 2, 3 dan 4
termasuk perairan yang kurang subur karena pada 3 (tiga) tersebut
kandungan nitrat berada antara 0 1,0 mg/Lyaitu pada Stasiun 2
adalah 0,65 mg/L, Stasiun 3 adalah 0,04 mg/L dan Stasiun 4 0,85
mg/L. Sesuai dengan yang dinyatakan oleh Vallenweider dalam
Effendi (2003), kandungan nitrat yang mengandung nitrat 0,0 1,0
mg/L termasuk perairan kurang subur. Tingginya kandungan nitrat
pada Stasiun 1 dikarenakan karakteristik lingkungan pada Stasiun 1
ini sangat berbeda dari karakteristik lingkungan Stasiun 2, 3 dan 4.
Dimana Stasiun 1 ini berada pada daerah bagian hulu Sungai
Petapahan dan lebih kurang 300 meter dihulu bendungan irigasi
Sungai Petapahan. Disamping itu juga kiri kanan sungai bersempadan
dengan kebun karet dan sawit perusahaan dan masyarakat, kondisi
lingkungan ini akan mengakibatkan terakumulasinya nitrat terutama
yang berasal dari pupuk nitrogen yang diberikan kepada kebun karet
dan sawit.
Posfat
Menurut Alaerts dan Santika (1984), perairan yang memiliki
kadar posfat < 0,01 mg/L memiliki kesuburan perairan yang rendah.
Kemudian menurut (Yoshimura dalam Rosyadi,2008) membuat
klasifikasi kesuburan perairan berdasarkan kandungan posfat. Apabila
kita bandingkan nilai posfat yang berada pada masing masing Stasiun
pengamatan dengan PP No.82 Tahun 2001 diperoleh bahwa
kandungan posfat pada Stasiun 2,3,4 masih berada di bawah ambang
baku mutu yang diperbolehkan, tetapi pada Stasiun 1 kadar posfat
telah melebihi ambang baku mutu air kelas I. Hal ini menandakan
bahwa pada lokasi tersebut telah terjadi akumulasi posfat dan senyawa
ini akan terurai dengan bantuan oksigen untuk dijadikan nutrisi dalam
ekosistem. Tingginya kandungan posfat pada Stasiun 1 juga

dipengaruhi oleh banyaknya pemberian pupuk Posfat seperti pupuk


TSP dan pupuk SP 36 untuk kebun karet dan sawit perusahaan dan
masyarakat yang berada pada kiri kanan sungai. Kondisi ini juga akan
mengakibatkan terakumulasinya posfat di sungai.
Jenis Makrozoobenthos
Menurut

Soeparno

(1985)

sampah

pencemaran

dapat

mempengaruhi perubahan struktur dan fungsi ekosistem sungai baik


hewan maupun tumbuhan.Setiap spesies mempunyai batas antara
toleransi terhadap suatu faktor yang ada di lingkungan, teori toleransi
Shelford (Odum 1971). Menurut Hawkes (1979), banyaknya bahan
pencemaran dalam perairan akan mengurangi spesies yang ada dan
pada umumnya akan meningkatkan populasi jenis yang tahan terhadap
kondisi perairan tersebut. Dari hasil pengamatan pada masing masing
Stasiun pengamatan di Sungai Petapahan yang tertera pada Tabel 3,
makrozoobenthos hanya dijumpai pada Stasiun 3 dan Stasiun 4
sedangkan pada Stasiun 1 dan Stasiun 2 tidak dijumpai sama sekali.
Kondisi perairan ini menunjukkan bahwa telah terjadi pencemaran
yang tinggi terutama pada perairan dimana hewan makrozoobenthos
sebagai indikator tidak ditemui.
Setelah

dilakukan

identifikasi

terhadap

organisme

makrozoobenthos, ternyata jenis makrozoobenthos yang dijumpai


pada Stasiun 3 dan Stasiun 4 seperti genus l.sp ,tubifex sp dan
ablabesmyia sp. Organisme ini termasuk organisme yang memiliki
daya toleransi yang besar terhadap perubahan kualitas air. Organisme
makrozoobenthos jenis tersebut keberadaannya dapat dijadikan
sebagai pertanda bahwa perairan tersebut kualitas airnya kurang baik.
Menurut Sastrawijaya (2009) hewan makro inventebrata untuk
indikator biologi pencemaran organik pada beberapa tingkat stadium
dibagi atas : 1.) indikator air bersih: Ephemera, Ecdyonurus, Leuctra.
Namurella

dan

Perla.

2.)

Indikator

pencemaran

ringan :Amphinemura, Ephemerella, Caenis, Gammarus, Baetis,

Valvata, Bythynia, Hydropsyche, Limnodrius, Rhyacophyla adan


Sericostoma. 3.) Indikator pencemaran sedang :Asellus, Sialis,
Limnaea, Physa dan Sphaerium. 4.) Indikator pencemaran berat :Nais,
Chironomous, Tubifex, Chrnomous dan Eristalis.
Kelimpahan Makrozoobenthos
Jumlah kelimpahan makrozoobenthos berkisar antara 29 103
ind/m2, kelimpahan ini dijumpai pada Stasiun 3 dan Stasiun 4
sementara pada Stasiun 1 dan Stasiun 2 tidak ada kelimpahan
makrozoobenthos karena tidak ada dijumpai jenis organisme
makrozoobenthos pada Stasiun pengamatan 1 dan 2 tersebut. Jika
dibandingkan dengan penelitian yang dilakukan Dessy (2006) di
perairan Sungai Sail, diperoleh kelimpahan makrozoobenthos antara
75 22.708 ind/m2 dan penelitian yang dilakukan Rosyadi (2008) di
perairan Sungai Singingi kelimpahan makrozoobenthos antara 105
427 ind/m2.
Jumlah ini jauh lebih besar dari kelimpahan makrozoobenthos
yang terdapat pada Sungai Petapahan yaitu hanya mencapai 29 103
ind/m2. Kecilnya kelimpahan makrozoobenthos yang dijumpai di
perairan Sungai Petapahan dan bahkan pada Stasiun 1 dan 2 tidak ada
sama sekali, kondisi ini dimungkinkan karena adanya pengaruh dari
terakumulasinya bahan-bahan organik dan anorganik yang telah cukup
lama akibat adanya penambangan di hulu Sungai Petapahan,
disamping pengaruh dari limbah organik dan anorganik baik dari
perkebunan perusahaan maupun dari perkebunan masyarakat. Kondisi
ini juga diperkuat dengan tingginya hasil pengukuran BOD dan COD
pada seluruh Stasiun yang menunjukan telah melampui ambang batas
mutu air kelas I.

Indeks Keanekaragaman (H)

Indeks keanekaragamandi Sungai Petapahan adalah1 yang


terdapat pada Stasiun 3, sedangkan pada Stasiun 1, Stasiun 2 dan
Stasiun 4 indeks keanekaragaman jenis adalah 0. Dari data Indeks
Keragaman ini dapat diketahui bahwa Sungai Petapahan telah
tercemar berarti termasuk juga daerah yang telah tercemar berat.
Menurut Sastrawijaya (2009) klasifikasi derajat pencemaran air
berdasarkan indeks keanekaragaman komonitas hewan benthos: tidak
tercemar dengan indeks keanekaragaman > 2, tercemar ringan dengan
indeks keanekaragaman 1,6 2,0, tercemar sedang dengan indeks
keanekaragaman 1,0 2,0 dan tercemar berat dengan indeks
keanekaragaman < 1,0.
Rendahnya nilai indeks keanekaragaman makrozoobenthos
diperairan Sungai Petapahan diantaranya dapat disebabkan banyaknya
aktifitas masyarakat disungai tersebut. Aktifitas yang dapat memberi
kontribusi besar terhadap pencemaran perairan Sungai Petapahan yang
berasal

dari

kegiatan

penambang

emas

tanpa

izin

(PETI),

penambangan galian C serta aktifitas aktifitas lainnya yang membuat


sungai tercemar dan juga pencemaran yang terjadi secara alami.
Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dan analisa kualitas air yang di lakukan
pada Sungai Petapahan menggunakan parameter fisika, kimia, dan
biologi dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1. Berdasarkan pengamatan parameter fisika, kimia, dan biologi,
kualitas perairan Sungai Petapahan sudah tercemar melebihi
ambang baku mutu air kelas I bila dibandingkan dengan PP No.82
Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian
Pencemaran Air.
2. Air Sungai Petapahan tidak layak dijadikan kebutuhan minum bagi
masyarakat dan peruntukannya hanya cocok sebagai air Irigasi
untuk Tanaman Padi Sawah.

1.2.2. COD
COD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk
mengoksidasi zat-zat organik yang terdapat dalam limbah cair dengan
memanfaatkan oksidator kalium dikromat sebagai sumber oksigen.
Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat organik
yang secara alamiah dapat dioksidasi melalui proses biologis dan
dapat menyebabkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air.
1.2.2.1.

Metode Analisis COD


Metoda standar penentuan kebutuhan oksigen kimiawi atau
Chemical Oxygen Demand (COD) yang digunakan saat ini
adalah metoda yang melibatkan penggunaan oksidator kuat
kalium bikromat, asam sulfat pekat, dan perak sulfat sebagai
katalis.

Kepedulian

akan

aspek

kesehatan

lingkungan

mendorong perlunya peninjauan kritis metoda standar penentuan


COD

tersebut,

karena

adanya

keterlibatan

bahan-bahan

berbahaya dan beracun dalam proses analisisnya. Berbagai


usaha telah dilakukan untuk mencari metoda alternatif yang
lebih baik dan ramah lingkungan.Perkembangan metoda-metoda
penentuan COD dapat diklasifikasikan menjadi dua kategori.
Pertama, metoda yang didasarkan pada prinsip oksidasi kimia
secara konvensional dan sederhana dalam proses analisisnya.
Kedua, metoda yang berdasarkan pada oksidasi elektrokatalitik
pada bahan organik dan disertai pengukuran secara elektrokimia.
KOK= Kebutuhan Oksigen Kimiawi (Chemical Oxygen
Demand = COD) adalah jumlah oksidan Cr2O7(2-) yang bereaksi
dengan contoh uji dan dinyatakan sebagai mg O2 untuk tiap
1000 ml contoh uji. Senyawa organik dan anorganik, terutama
organik dalam contoh uji dioksidasi oleh Cr2O7(2-) dalam
refluks tertutup menghasilkan Cr(3+). Jumlah oksidan yang

dibutuhkan dinyatakan dalam ekuivalen oksigen (O2 mg /L)


diukur secara spektrofotometri sinar tampak. Cr2O7(2-) kuat
mengabsorpsi pada panjang gelombang 400 nm dan Cr(3+) kuat
mengabsorpsi pada panjang gelombang 600 nm. Untuk nilai
KOK 100 mg/L sampai dengan 900 mg/L ditentukan kenaikan
Cr(3+) pada panjang gelombang 600 nm. Pada contoh uji dengan
nilai KOK yang lebih tinggi, dilakukan pengenceran terlebih
dahulu sebelum pengujian. Untuk nilai KOK lebih kecil atau
sama dengan 90 mg/L ditentukan pengurangan konsentrasi
Cr2O7(2-) pada panjang gelombang 420 nm.

1.2.2.2.

Kelebihan dan Kelemahan Metode Analisis COD


Adapun kelebihan dari metode analisi COD adalah
sebagai berikut :
a. Memakan waktu 3 jam, sedangkan BOD5 memakan waktu
5 hari.
b. Untuk menganalisa COD antara 50 800 mg/l, tidak
dibutuhkan pengenceran sampel, sedangkan BOD5 selalu
membutuhkan pengenceran.
c. Ketelitan dan ketepatan (reprodicibilty) tes COD adalah 2
sampai 3 kali lebih tinggi dari tes BOD5.
d. Gangguan zat yang bersifat racun tidak menjadi masalah.
Sedangkan kekurangan dari tes COD adalah tidak dapat
membedakan antara zat yang sebenarnya yang tidak teroksidasi
(inert) dan zat-zat yang teroksidasi secara biologis. Hal ini

disebabkan karena tes COD merupakan suatu analisa yang


menggunakan suatu oksidasi kimia yang menirukan oksidasi
biologis, sehingga suatu pendekatan saja. Untuk tingkat
ketelitian pinyimpangan baku antara laboratorium adalah 13
mg/l. Sedangkan penyimpangan maksimum dari hasil analisa
dalam

suatu

laboratorium

sebesar

5%

masih

diperkenankan.Senyawa kompleks anorganik yang ada di


perairan yang dapat teroksidasi juga ikut dalam reaksi (De
Santo, 1978), sehingga dalam kasus-kasus tertentu nilai COD
mungkin sedikit over estimate untuk gambaran kandungan
bahan organik.

1.2.3. Penanggulangan Kelebihan/Kekurangan Kadar COD


1.2.3.1.

Penanggulangan kelebihan Kadar COD


Pada Trickling filter terjadi penguraian bahan organik
yang terkandung dalam limbah. Penguraian ini dilakukan oleh
mikroorganisme yang melekat pada filter media dalam bentuk
lapisan biofilm. Pada lapisan ini bahan organik diuraikan oleh
mikroorganisme aerob, sehingga nilai COD menjadi turun.
Pada proses pembentukan lapisan biofilm, agar diperoleh hasil
pengolahan yang optimum maka dalam hal pendistribusian
larutan air kolam retensi Tawang pada permukaan media
genting harus merata membasahi seluruh permukaan media.
Hal ini penting untuk diperhatikan agar lapisan biofilm dapat
tumbuh melekat pada seluruh permukaan genting.
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat
diketahui bahwa semakin lama waktu tinggal, maka nilai COD
akhir semakin turun (prosentase penurunan COD semakin
besar). Hal ini disebabkan semakin lama waktu tinggal akan

memberi banyak kesempatan pada mikroorganisme untuk


memecah bahan-bahan organik yang terkandung di dalam
limbah. Di sisi lain dapat diamati pula bahwa semakin kecil
nilai COD

awal

(sebelum treatment

dilakukan)

akan

menimbulkan kecenderungan penurunan nilai COD akhir


sehingga persentase penurunan CODnya meningkat seperti
yang ada pada grafik 4.6. Karena dengan COD awal yang kecil
ini, kandungan bahan organik dalam limbah pun sedikit,
sehingga bila dilewatkan trickling filter akan lebih banyak
yang terurai akibatnya COD akhir turun. Begitu pula bila
diamati dari sisi jumlah tray (tempat filter media). Semakin
banyak tray, upaya untuk menurunkan kadar COD akan
semakin baik. Karena dengan penambahan jumlah tray akan
memperbanyak jumlah ruang / tempat bagi mikroorganisme
penurai untuk tumbuh melekat. Sehingga proses penguraian
oleh mikroorganisme akan meningkat dan proses penurunan
kadar COD semakin bertambah. Jadi prosen penurunan COD
optimum diperoleh pada tray ke 3.
Permukaan

media

bertindak

sebagai

pendukung

mikroorganisme yang memetabolisme bahan organik dalam


limbah. Penyaring harus mempunyai media sekecil mungkin
untuk meningkatkan luas permukaan dalam penyaring dan
organisme aktif yang akan terdapat dalam volume penyaring
akan tetapi media harus cukup besar untuk memberi ruang
kososng yang cukup untuk cairan dan udara mengalir dan tetap
tidak tersumbat oleh pertumbuhan mikroba. Media berukuran
besar seperti genting (tanah liat kering) berukuran 2-4 in akan
berfungsi secara maksimal. Media yang digunakan berupa
genting

dikarenakan

lahan

diatas

permukaan

genting

cenderung berongga dibanding media lain yang biasa

mensuplai udara dan sinar matahari lebih banyak daripada


media lain yang dibutuhkan untuk pertumbuhan mikroba pada
genting.
Pada penelitian ini, efisiensi Trickling Filter dalam
penurunan COD tidak dapat menurunkan sampai 60%
dikerenakan :
a. Aliran air yang kurang merata pada seluruh permukaan
genting karena nozzle yang digunakan meyumbat aliran air
limbah karena tersumbat air kolam retensi Tawang.
b. Supplay oksigen dan sinar matahari kurang karena trickling
filter diletakkan didalam ruangan sehingga pertumbuhan
mikroba kurang maksimal.
Dalam penumbuahan mikroba distibusi air limbah
dibuat berupa tetesan agar air limbah tersebut dapat memuat
oksigen lebih banyak jika dibanding dengan aliran yang terlalu
deras karena oksigen sangat diperlukan mikroba untuk tumbuh
berkembang.
1.2.3.2.

Penanggulangan Kekurangan Kadar COD


Senyawa organik yang terdiri dari karbon, hidrogen dan
oksigen dengan elemen aditif nitrogen, sulfur, fosfat, dll
cenderung untuk menyerap oksigen-oksigen yang tersedia dalam
limbah

air

dikonsumsi

oleh

mikroorganisme

untuk

mendegredasi senyawa organik akhirnya oksigen. Konsentrasi


dalam air limbah menurun, ditandai dengan peningkatan COD,
BOD, SS dan air limbah juga menjadi berlumpur dan bau busuk.
Semakin

tinggi

konsentrasi

COD

menunjukkan

bahwa

kandungan senyawa organik tinggi tidak dapt terdegredasi


secara biologis. EM4 pengobatan 10 hari dalam tangku aerasi
harus dilanjutkan karena peningkatan konsentrasi COD.

Fenomena ini menunjukkkan bahwa EM4 tidak bisa eksis baik


di kondisi ini air limbah, karena populasi yang kuat dan jumlah
rendah mikroorganisme dalam air limbah.

BAB II

ALAT DAN BAHAN

2.1. Alat
1.

Water bath

2.

Buret

3.

Statif

4.

Corong

5.

Erlenmeyer

6.

Pipet volum

7.

Gelas ukur

8.

Pipet tetes

2.2. Bahan
1.

Larutan KMnO4 0,025 N

2.

Larutan Na2C2O4

3.

Ag2SO4

4.

H2SO4 1:2

5.

Aquades

6.

Sampel ( Aqua dan Clean-Q)

BAB III

PROSEDUR KERJA

3.1. Prosedur Kerja Pembuatan Reagen pada Penetapan COD


1.

Ag2SO4

2.

H2SO4 1:2
Ambil 100 ml H2SO4 (p), diencerkan menjadi 300 ml dengan aquades.

3.

Larutan Na2C2O4 0,025 N


Timbang dengan teliti 1,68 gr Na2C2O4 dilarutkan menjadi 1 liter dengan
aquades masukkan ke dalam labu ukur 1000 ml, tepatkan sampai tanda
garis, aduk sampai homogen.

4.

Pembuatan Larutan Standar.


Larutan KMnO4 0,025 N
Timbang 0,79 gr KMnO4, larutkan menjadi 1 liter dengan aquades,
didihkan selama 2 jam dan biarkan selama 1 malam, kemudian tentukan
faktor larutan tersebut.

5.

Penentuan faktor larutan KmnO4 selama 40-60 menit pada temperatur


150-200

C, dinginkan dalam desikator, setelah dingin pipet 25 ml

Na2C2O4 0,025 N, masukkan ke dalam erlenmeyer 300 ml kemudian


tambahkan 100 ml aquades dan 10 ml H2SO4 1:2 dan tambahkan KmnO4
0,025 N sekitar 20 ml, biarkan beberapa menit sampai hilang warnanya.
Panaskan pada temperatur 55-600 C dalam water bath selama beberapa
menit. Dalam keadaan panas titrasi dengan KmnO4 sampai warna merah
muda yang tidak hilang selaman 50 detik.

3.2. Prosedur Kerja Penetapan COD

Pipet diantara 50 ml sampel, masukkan ke dalam erlenmeyer 300 ml,


tambahkan 100 ml aquades dan tambahkan 5 ml H2SO4 1:2 dan 1 gram
Ag2SO4 kristal, aduk sampai rata. Tambahkan 10 ml Na2C2O4 0,025 N
panaskan dengan water bath mendidih selama 30 menit. Tambahkan dengan
pipet volum 10 ml Na2C2O4 0,025 N kemudian titrasi dengan larutan KmnO 4
0,025 N sampai warna merah muda.
Blanko (100 ml aquades dilakukan dengan cara yang sama di atas tanpa
memberi Ag2SO4 ).

BAB IV

GAMBAR RANGKAIAN
Penetapan COD pada Sampel dan Blanko
50 ml sampel dimasukkan kedalam erlenmeyer

Ditambahkan 100 ml Aquadest

Dipipet KMnO4 0,025 N 10 ml

Ditambahkan 5 ml H2SO4 1 : 2 dan


1 gram Ag2SO4

Dimasukkan KMnO4 kedalam erlenmeyer berwarna Violet

Lalu dipanaskan pada waterbath selama 30 menit,dan kemudian ditambahkan 10


ml Na2C2O4

Terakhir dititrasi dengan KMnO4 hingga larutan menjadi merah muda

Begitu juga dilakukan pada blanko tanpa adanya penambahan


Argentum Sulfat (Ag2SO4)
BAB V

DATA PENGAMATAN
Peneteapan faktor larutan KmnO4.
Na2C2O4

Aquades

0,025 N
25 ml

100 ml

Na2C2O4 + aquadest

H2SO4 1:2

KMnO4 0,025

V.Titrasi

5 ml

N
20 ml

KMnO4
0,87 ml

larutan bening

Larutan bening + H2SO4

Larutan kuning bergel

Larutan kuning bergel + KMnO4

Larutan violet

Larutan violet + Na2C2O4

Larutan bening

Larutan bening

550C 600C

Larutan bening

Larutan bening

titrasi

Larutan merah muda

KMnO4

f=ax

25
1000

b
100

1
Xx 0,001675

= 1,68 x (25/1000) x (99,8/100) x (1/(6,7+20)x0,001675)


= 1,68 x 0,025 x 0,998 x 1/ 0,044
= 1,68 x 0,025 x 0,998 x 22,7272 = 0,9526
Sampel

V.
sampel

Aquades

V. H2SO4

Gr

V.

V. titrasi

Ag2SO4

KMnO4

KMnO4

Aqua
Clean
Q
Blanko

50 ml

100 ml

5 ml

1gr

10 ml

0,65 ml

50 ml

100 ml

5 ml

1gr

10 ml

0,45 ml

100 ml

5 ml

10 ml

0,20 ml

Sampel + aquadest

larutan bening

Larutan bening + H2SO4

Larutan bening

Larutan bening + Ag2SO4

Larutan keruh

Larutan keruh + KMnO4

Larutan violet

Larutan violet

500C 600C

Larutan violet + Na2C2O4


Larutan bening

titrasi

Larutan bening

Larutan bening
Larutan merah muda

KMnO4

BAB VI
PENGOLAHAN DATA

6.1. Perhitungan Kadar COD dalam Aqua


V KMnO4 (blanko)= 6,6 ml
f = 0,9526
Aqua

COD (ppm) = (a-b) x f x

100
V

x 0,2

= (7,4 ml 6,6 ml) x 0,9526 x

1000
10

x 0,2

= 0,8 ml x 0,9526 x 100 x 0,2


= 15,2416 ppm
Clean Q

COD (ppm) = (a-b) x f x

100
V

x 0,2

= (7,2 ml 6,6 ml) x 0,9526 x


= 0,6 ml x 0,9526 x 100 x 0,2
= 11,4312 ppm

1000
10

x 0,2

6.2. Reaksi
O2 + H2O
Oksigen

H2O + O2
air

air

HSO4-

H2O + H2SO4
Air

asam sulfat

+ O2

2AgO

Perak sulfat oksigen

AgO

K2SO4
Kalium sulfat

3Na2C2O4
Natrium oksalat

asam sulfat
+

ion air

+ H2SO4

+ 2 H2O

perak oksida asam sulfatair

+ 3 H2SO4 +

Perak oksida

H3O+

ion asam sulfat

2H3O + Ag2SO4
air

oksigen

2KMnO4

AgSO4 +

kalium permanganat

2MnSO4

mangan sulfat

+ 3H2SO4
asam sulfat

perak sulfat

+ 3H2O+

O2

air

3 Na2SO4

oksigen

natrium sulfat

3H2C2O4
asam oksalat

Na2SO4 +

KMnO4

NaMnO4 +

K2SO4

Natrium sulfat

Kalium permanganat Natrium permanganat Kalium sulfat

BAB VII
KESIMPULAN
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan dapat disimpulkan :
1. Faktor larutan KMnO4 yang didapat dari hasil praktikum adalah sebesar
0,9526
2. Dan penetapan COD dalam sampel aqua adalah sebesar 15,2416 ppm,
sedangkan penetapan COD dalam sampel clean q adalah sebesar 11,4312
ppm.
3. Maka dari hasil yang didapat dapat diketahui bahwa sampel clean q yang
baik dibandingkan dengan sampel aqua.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim,Penuntun

Praktikum

Teknologi

Pengolahan

Air

dan

Limbah.2012.PTKI Medan
Gilang Yanuar Raditya & Ali Masduqi, Perencanaan Sanitasi Masyarakat
Daerah Pesisir (Studi Kasus: Kecamatan Kenjeran, Surabaya), Institut
Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya: 2009.
Najwa

Binti

Mohd

Radzi,Perawatan

Air

Buangan

Penyudah

Logam

Menggunakan Kaedah Fizik Dan Kimia.Universiti Sains Malaysia .2007

Lampiran :Drinking Water Standard

Sumber : Pengantar Pengolahan Air, TL 4001 Rekayasa Lingkungan 2009


Program Studi Teknik Lingkungan ITB