Anda di halaman 1dari 43

4

BAB II
TEORI DASAR LUMPUR PEMBORAN
Fluida Pemboran dapat diartikan secara umum ialah cairan, baik cair dan
gas yang dapat digunakan dalam operasi pemboran unutk mecapai tujuan
tertentu. Fluida pemboran secara umum dapat di klasifikasikan sebagai fluida
berbahan dasar air, fluida berbahan dasar minyak dan fluida berbahan dasar gas.
Fluida pemboran berbahan dasar minyak saat ini tidak menggunakan solar,
melainkan menggunakan minyak sintetis yaitu minyak dari kelapa sawit. Dimana
dalam penggunaan minyak kelapa sawit ini berfungsi untuk limbah yang lebih
baik terhadap lingkungan sekitar.
Komposisi yang sering digunakan untuk fluida pemboran bahan dasar
minyak terdiri dari diesel oil atau minyak sintetis, emulsi, lime, wetting agent,
CaCl2, oil wettable air, dan pengontrol densitas atau biasa digunakan adalah
barite.
Fluida pemboran mempunyai peran yang sangat penting dalam kegiatan
pemboran, dimana komposisi dari fluida tersebut memiliki potensial untuk
meningkatkan atau menurunkan efisiensi dari kegiatan pemboran tersebut.

2.1

Fungsi Utama Lumpur Pemboran


Pada operasi pemboran, lumpur pemboran memegang peranan yang

sangat penting. Penggunaan lumpur pemboran sangat berpengaruh terhadap


kecepatan pemboran, effisiensi pemboran, keselamatan kerja, dan biaya
pemboran. Lumpur pemboran dapat berfungsi dengan baik apabila sifat-sifat fisik

dan kimia lumpur tersebut sesuai dengan kondisi formasi yang akan ditembus.
Adapun fungsi utama dari lumpur pemboran yaitu sebagai berikut :
a. Mengangkat cutting (serbuk bor) ke permukaan.
b. Melumasi dan mendinginkan rangkaian pipa serta pahat bor.
c. Melindungi dinding lubang bor dengan mud cake.
d. Mengontrol tekanan formasi.
e. Menahan serbuk bor dan material pemberat saat sirkulasi berhenti, agar
tidak jatuh ke dasar lubang bor.
f. Membersihkan dasar lubang bor.
g. Sebagai media logging.
h. Menahan sebagian berat rangkaian pipa pemboran.
i. Sebagai tenaga penggerak down hole motor.
j. Mencegah dan menghambat korosi.
k. Meneruskan tenaga hidrolik ke pahat.
2.1.1

Mengangkat Serbuk Bor Kepermukaan


Pada kegiatan pemboran, serbuk bor (cutting) dihasilkan dari

penggerusan pahat terhadap formasi dan apabila serbuk bor tidak dapat
dikeluarkan maka akan terjadi penumpukkan serbuk bor didasar lubang. Jika hal
ini terjadi maka akan menimbulkan permasalahan seperti terjepitnya pipa oleh
serbuk bor.

Ada beberapa hal yang berpengaruh dalam proses pengangkatan serbuk


bor oleh lumpur bor dari dalam lubang bor ke permukaan, diantaranya adalah

kecepatan bergerak fluida (lumpur pemboran) tersebut didasar lubang sampai ke


permukaan yang disebut sebagai kecepatan di annulus (annular velocity).
Kecepatan bergerak di annulus ini dipengaruhi langsung oleh tekanan pompa
(pump output), selama tekanan pompa dapat memberikan kecepatan fluida yang
cukup, maka serbuk bor dapat terangkat ke permukaan dengan maksimal.
Kekentalan dan berat jenis (density) dari lumpur pemboran merupakan
dua hal yang berpengaruh terhadap kemampuan pengangkatan serbuk bor ke
permukaan (lifting capacity). Kemampuan mengangkat serbuk bor ini bertambah
bila kekentalan dan berat jenis lumpur tersebut bertambah besar. Kemampuan
serbuk bor untuk terangkat hingga kepermukaan tergantung besarnya yield point
dari lumpur itu sendiri. Jika lumpur bor memiliki yield point yang memadai maka
dengan melakukan proses sirkulasi, serbuk bor dapat terangkat keluar bersamasama dengan lumpur dan kemudian disaring atau dibersihkan dengan alat
pengontrol padatan (solid control equipment) yang terdiri dari shale saker,
desander, desilter, mud cleaner, dan centrifuge.
2.1.2

Melumasi Dan Mendinginkan Pahat Bor


Gesekan pahat bor dan rangkaian pipa bor yang kontak dengan formasi

serta perputaran rangkaian pipa bor akan menghasilkan panas. Konduksi formasi
umumnya kecil, sehingga sulit untuk menghilangkan panas tersebut. Umumnya
dengan adanya aliran lumpur, volume maupun specific heat lumpur telah cukup
untuk dapat mendinginkan pahat bor dan rangkaian pipa bor dalam suatu
pemboran.
Lumpur juga bertindak sebagai pelumas, sehingga putaran dari rangkaian

pemboran akan lebih baik. Saat rangkaian pipa bor dan pahat bor berputar maka
terjadi pergesekan dengan formasi yang akan menimbulkan panas. Disini lumpur
dapat berguna sebagai pendingin dan merupakan pelumas terhadap rangkaian
pipa serta pahat bor, sehingga dapat memperlambat kerusakan pahat bor. Lumpur
minyak dan special additive seperti lubricant dapat dipergunakan sebagai
pelumas yang lebih baik terhadap pahat bor atau rangkaian pipa apabila
diperlukan.

2.1.3

Melindungi Dinding Lubang Bor Dengan Mud Cake


Pada sistem lumpur bor yang baik makan akan terbentuk suatu lapisan

zat padat tipis (mud cake) di permukaan formasi yang permeable (dapat dialiri
suatu fluida). Mud cake ini berasal dari padatan yang terdapat pada lumpur
pemboran ketika filtratnya menembus masuk ke dalam formasi.
Pembentukan mud cake akan terjadi apabila lapisan semi permeable dan
differensian pressure antara tekanan hidrostatik dan dinging lubang bor. Mud
cake yang terbentuk diharapkan dapat menahan menahan aliran fluida masuk ke
formasi. Sifat wall building ini dapat diperbaiki dengan menambahkan sifat
koloid drilling mud dengan bentonite dan memberi zat kimia yang berfungsi
untuk memperbaiki distribusi zat padat dalam lumpur, misalnya CMC, Starch,
dan Cypan yang dapat mengurangi filter loss dan memperkuat mud cake.
Adapun tebal mud cake yang diharapkan yaitu setipis mungkin untuk
menghindari penyempitan diameter lubang bor sehingga tidak menimbulkan
masalah pada proses pemboran. Keuntungan yang diperoleh dari adanya mud

cake ini adalah sifat fisik lumpur dapat tetap dipertahankan karena fasa cair
lumpur yang masuk kedalam formasi akan lebih sedikit, sehingga proses
masuknya fluida ke dalam formasi yang dapat menimbulkan kerusakan dapat
ditanggulangi, terutama pada lapisan shale yang sensitif terhadap invasi air.

2.1.4

Mengontrol Tekanan Formasi


Besarnya tekanan hidrostatik lumpur dipengaruhi oleh tinggi kolom

lumpur (kedalaman lubang) dan besarnya densitas lumpur pemboran, secara


matematis dapat dilihat dari persamaan berikut :
Ph=0.052xm

(2.1)
dimana :
Ph = Tekanan Hidrostatik Lumpur, psi
m = Densitas Lumpur, ppg
D = Tinggi Kolom Lumpur, ft
Pada kondisi tekanan formasi normal, diharapkan tekanan hidrostatik
dari lumpur pemboran dapat mengimbangi besarnya tekanan formasi. Namun
dalam proses pemboran ada kemungkinan pemboran menembus lapisan shale
atau lapisan yang mengandung gas. Oleh karena itu, harus dijaga tekanan
hidrostatik yang memadai untuk menahan tekanan dari formasi.

Pada kondisi abnormal (over pressure), dimana tekanan formasi lebih


besar daripada tekanan hidrostatis lumpur (lebih dari 0.465 psi/ft), maka

diperlukan material pemberat (seperti barite) untuk memperbesar densitas lumpur


pemboran sehingga tekanan hidrostatis lumpur dapat mengimbangi tekanan
formasi.
Sebaliknya pada kondisi subnormal (under pressure), dimana tekanan
formasi lebih kecil daripada tekanan hidrostatis lumpur, maka densitas lumpur
harus diperkecil agar lumpur tidak hilang atau masuk kedalam formasi (loss
circulation). Perlu diketahui, pada persamaan 2.1 adalah persamaan untuk kondisi
statis (diam) sedangkan tekanan hidrodinamis yang dihasilkan oleh lumpur
pemboran pada saat sirkulasi (dinamis) adalah tekanan hidrostatik yang dihitung
dengan persamaan diatas ditambah dengan besarnya pressure loss (kehilangan
tekanan) pada annulus.
2.1.5

Menahan Serbuk Bor Dan Material Pemberat


Pada saat operasi pemboran dihentikan dan pompa dimatikan, seperti

pada penggantian pahat bor (bit), penambahan rangkaian bor dan lain sebagainya,
maka diperlukan suatu penahan agar cutting tidak jatuh ke dasar lubang bor.
Penahan serbuk bor tersebut dapat dilakukan oleh lumpur pemboran karena
memiliki sifat gel strength.
Cutting perlu ditahan agar tidak turun kebawah, karena jika mengendap
kebawah akan mengakibatkan akumulasi cutting dan pipa akan terjepit selain
juga akan memperberat rotasi permulaan dan kerja pompa untuk memulai
sirkulasi kembali. Gel strength yang terlalu besar dapat berakibat buruk terhadap
kemajuan kerja pompa, karena pompa akan memerlukan tekanan yang lebih besar
untuk dapat mengalirkan lumpur sehingga diperlukan horse power yang agak

10

lebih besar, dan sehingga akan berdampak pada effisiensi dan biaya dalam
pemboran.
Penggunaan alat-alat seperti desander dapat membantu pengambilan
cutting/pasir dari lumpur di permukaan. Pasir harus dibuang dari aliran lumpur,
karena sifatnya yang sangat abrasive (mengikis) pipa pompa, fitting dan bit.
Untuk ini biasanya kadar pasir maksimal yang diperbolehkan adalah 2%.

2.1.6

Membersihkan Dasar Lubang Bor


Kemampuan lumpur untuk menahan serbuk bor selama sirkulasi

dihentikan tergantung dari sifat daya agarnya (gel strength), sehingga mampu
dapat menahan serbuk bor agar tidak jatuh kedasar lubang bor dan dapat
menghindari akumulasi pengendapan serbuk bor yang dapat mengakibatkan
terjepitnya pipa.

2.1.7

Sebagai Media Logging


Pada penentuan zona minyak, gas, air ataupun untuk kepentingan

korelasi antar lapisan diperlukan kerja dari peralatan logging. Adapun peralatan
logging ini dijalankan dengan sistem listrik dan dengan adanya lumpur didalam
lubang bor berfungsi sebagai media penghantar arus listrik didalam lubang bor.
2.1.8

Menahan Sebagian Berat Rangkaian Pipa Pemboran


Pada saat memasukkan atau mencabut rangakain pipa bor, demikian pula

saat memasukkan casing ke dalam lubang bor yang berisi lumpur, sebagian berat
rangkaian pipa bor atau casing akan ditahan oleh gaya ke atas dari lumpur yang

11

sebanding dengan lumpur yang dipindahkan. Bertambah dalamnya formasi yang


dibor, maka rangkaian pipa bor serta casing yang di perlukan juga bertambah
banyak sehingga beban rangkaian pipa bor serta casing semakin berat.
Berat rangkaian pipa dalam lumpur akan berkurang sebesar gaya keatas
yang ditimbulkan lumpur yang bersangkutan, hal ini disebabkan berlakunya
hukum hidrolika, sehingga rangkaian pipa bor didalam lumpur dapat dihitung
sebagai berikut :
......................... W2 = W1 (B x L x ).........
(2.2)
dimana :
W2 = berat pipa bor dalam lumpur, lb
W1 = berat pipa bor diudara, lb
B = Bouyancy factor, gal/ft
L

= panjang pipa bor, ft

= berat jenis lumpur, ppg

Bouyancy effect dari lumpur pemboran menjadi sangat penting dengan


bertambahnya kedalaman suatu pemboran. Efek ini akan membantu mengurangi
beban yang harus ditanggung oleh peralatan pemboran di permukaan. Hal ini
karena lumpur pemboran akan menahan sebagian berat rangkaian pipa pemboran
seberat volume fluida yang dipindahkan. Besarnya Bouyancy Factor ini akan
bertambah besar dengan bertambahnya berat jenis lumpu. Dengan ini membuat
Bouyancy Factor menjadi faktor yang membantu dalam suatu pemboran
berlangsung.

12

2.1.9

Sebagai Tenaga Penggerak Down Hole Motor


Penggunaan down hole motor biasa dilakukan pada pemboran berarah

(directional drilling). Tidak seperti pada pemboran konvensional, pada pemboran


berarah berputarnya pahat bor dilakukan oleh motor penggerak yang dipasang
diatas pahat bor.
Kerja (putaran) yang dihasilkan oleh motor penggerak berasal dari gaya
centrifuge yang diakibatkan oleh aliran lumpur pemboran. Lumpur pemboran
dipompakan dari pompa di permukaan melalui rangkaian pipa pemboran
kemudian masuk kedalam motor penggerak yang terdiri dari beberapa tahap,
dimana setiap tahapnya memiliki motor dan stator (turbin). Dengan adanya aliran
lumpur ini, maka rotor dan stator dapat berputar sehingga motor penggerak
menghasilkan tenaga yang dapat memutar pahat bor.

2.1.10 Mencegah Dan Menghambat Korosi


Sifat korosif dalam lumpur pemboran biasanya disebabkan karena
adanya pencemaran CO2, H2S, O2, dan bakteri-bakteri lain yang bercampur
dengan lumpur pemboran. Lumpur dengan pH rendah, bila tercampur dengan
garam akan bersifat lebih korosif dibandingkan dengan lumpur air tawar.
Sedangkan lumpur minyak adalah lumpur yang bersifat tidak korosif.
Untuk menghindari hal-hal tersebut, maka didalam komposisi lumpur
ditambahkan bahan-bahan pH control dan corrotion inhibitor untuk mecegah
pecemaran tersebut terjadi.

13

2.1.11 Meneruskan Tenaga Hidrolik Ke Pahat


Disini lumpur berfungsi sebagai sarana untuk mengangkat serbuk bor
tersebut ke permukaan. Kemampuan untuk membersihkan serbuk bor dari pahat
itu di dapat karena adanya tenaga hidrolik (hydraulic horsepower) yang tersedia
harus disalurkan dari permukaan menuju ke pahat lewat media lumpur yang akan
disebut sebagai Bit Hydraulic Horsepower. Faktor-faktor yang mempengaruhinya
adalah berat jenis lumpur, kekentalan, ukuran nozzle dan kecepatan aliran lumpur.
Secara umum bit hydraulic horsepower dapat diperbesar dengan memperkecil
ukuran nozzle, kekentalan atau memperbesar kecepatan aliran fluida.
2.2

Komponen-Komponen Pembentuk Lumpur Bor


Lumpur bor yang paling banyak dipakai adalah lumpur bor dengan

bahan dasar air tawar (water based mud) dimana air sebagai fasa cair kontinyu
juga sebagai pelarut atau penahan materi-materi didalam lumpur. Secara
mendasar lumpur bor memiliki 4 (empat) komponen / fasa yaitu :
1. Fasa cair (Air atau Minyak)
2. Komponen Solid (Reactive Solid dan Inert Solid)
3. Komponen Kimia (Additive)

2.2.1

Komponen Cair
Zat cair dari lumpur bor merupakan komponen dasar dari lumpur yang

mana dapat berupa air atau minyak ataupun keduanya yang disebut dengan
emulsi. Emulsi ini dapat terdiri dari dua jenis emulsi minyak didalam air atau
emulsi air di dalam minyak.

14

2.2.1.1 Air
Lebih dari 75% lumpur pemboran menggunakan air, disini air dapat
dibagi menjadi dua, yaitu : air tawar dan air asin, sedangkan air asin dapat dibagi
menjadi dua, yaitu : air asin jenuh dan air air asin tak jenuh. Untuk pemilihan air
hal ini perlu disesuaikan dengan lokasi setempat, manakah yang mudah didapat
dan juga disesuaikan dengan formasi yang akan ditembus.
2.2.1.2 Emulsi
Invert emulsion adalah pencampuran minyak dengan air dan mempunyai
kompisisi minyak 50 70% (sebagai komponen yang kontinyu) dan air sebanyak
30 50% (sebagai komponen diskontinyu), emulsi terdiri dari dua macam, yaitu :
Oil In Water Emulsion dan Water In Oil Emulsion
1.

Oil In Water Emulsion


Disini air merupakan komponen yang kontinyu dan minyak sebagai
komponen teremulsi. Air bisa menacapai sekitar 70% volume,
sedangkan minyak sekitar 30%.

2.

Water In Oil Emulsion


Disini yang merupakan komponen kontinyu adalah minyak, sedangkan
komponen teremulsi adalah air. Minyak bisa mencapai sekitar 50 70%,
sedangkan air 30 50%.

2.2.1.3 Minyak

15

Lumpur dengan komponen minyak dikembangkan untuk menanggulangi


sifat-sifat Lumpur dasar air (water base mud) yang tidak di inginkan. Untuk itu
digunakan Lumpur dasar minyak (oil base mud) yang mempunyai keuntungan
antara lain : mempunyai sifat lubrikasi yang baik, stabilitas temperatur yang tahan
sampai 500oF, corrosion resistance, meminimalisasi kerusakan formasi, dan
mencegah terjadinya shale problem.
2.2.2

Komponen Solid
Komponen padatan disini merupakan komponen pembentuk campuran

lumpur berupa padatan reaktif (reaktif solid) dan juga dengan padatan tidak
reaktif (inert solid).
2.2.2.1 Reaktif Solid
Reaktif solid adalah padatan yang apabila bereaksi dengan fasa cair akan
membentuk sifat koloidal pada lumpur. Salah satu dari material ini adalah
bentonite, dimana bila bentonite dicampur dengan air akan menyebar (terdispersi)
karena muatan negatif pada permukaan plat-plat materialnya akan saling tolakmenolak dan pada saat itu akan menyerap air sehingga membentuk koloid
(suspensi) yang lunak dan volumenya membesar (swelling). Kenaikan volume ini
bisa mencapai 10 kali lipat atau lebih.
2.2.2.2 Inert solid
Inert solid merupakan komponen padatan dari lumpur yang tidak
bereaksi dengan zat-zat cair lumpur bor. Dalam kehidupan sehari-hari pasir yang
diaduk dengan air dan kita diamkan beberapa saat, akan turun kedasar bejana

16

dimana kita mengaduknya. Disini pasir disebut inert solid. Didalam lumpur bor
inert solid berguna untuk menambah berat atau berat jenis lumpur, yang
tujuannya untuk menahan tekanan dari formasi.
Inert solid dapat pula berasal dari formasi-formasi yang dibor dan
terbawa oleh lumpur seperti chert, pasir atau clay-clay non swelling, padatan
seperti ini bukan disengaja untuk menaikkan densitas lumpur dan perlu dibuang
secepat mungkin (dapat menyebabkan abrasi dan kerusakan pompa). Sebagai
contoh yang umum digunakan sebagai inert solid dalam lumpur bor, adalah :
Barite (BaSO4)
Oksida Besi (Fe2O3)
Kalsium Karbonat (CaCO3)
Galena (PbS)
Barite yang digunakan harus memenuhi standard API, yaitu harus
mempunyai berat minimum sebesar 4,2 gr/cc dan penambahan bahan tersebut
terbatas sampai berat tertentu yang di kehendaki. Maka yang harus diperhatikan
adalah pengendalian kandungan padatan inert lainnya, seperti pasir, silt maupun
serbuk bor baik secara pengenceran artinya menambah jumlah cairan maupun
dengan cara-cara mekanikal. Kandungan bahan inert yang berlebihan akan
menyebabkan kenaikan densitas, kerusakan pompa dan problem lain nya yang
mana akan membutuhkan biaya yang besar untuk memperbaikinya.
2.2.3

Komponen Kimia (Additive)

17

Additive merupakan material atau bahan kimia yang ditambahkan


kedalam lumpur pemboran dan digunakan untuk mengontrol sifat-sifat lumpur
secara fisik maupun kimia seperti kekentalan, air tapisan, serta mengontrol
adanya flokulasi (penggumpalan partikel clay), dispersi (penyebaran partikelpartikel clay).
Banyak sekali additive yang dapat digunakan untuk menurunkan
viskositas, mengurangi water loss, mengontrol fasa koloid (disebut surface active
agent = surfactant). Additive-additive tersebut antara lain :

2.3

Phospate

Sodium Tannate (kombinasi caustic soda dan tannium)

Surfactant

Lignosulfonate

Lignite

CMC

Starch (Thinner)

Jenis-Jenis Lumpur Pemboran


Lumpur pemboran mempunyai 3 (tiga) jenis, yaitu lumpur pemboran

dengan bahan dasar minyak (oil based mud), air (water based mud), dan lumpur
gas (gaseous drilling fluid). Lumpur dengan bahan dasar air dibagi menjadi 2
macam ; lumpur dengan air tawar (fresh water base mud atau lebih dikenal
dengan water base mud) dan lumpur air asin (salt water base mud).

18

2.3.1

Lumpur Bor Berbahan Dasar Minyak (Oil Base Mud)


Lumpur bor bahan dasar minyak atau lumpur minyak adalah lumpur

pemboran dimana minyak menjadi fasa internal dan tersebar merata berbentuk
butir-butir halus (emulsi). Jadi didalam bentuk emulsinya, lumpur minyak adalah
emulsi air didalam minyak (water in oil emulsion) dan minyak merupakan
komponen terbanyak dan tidak ada batas-batas yang jelas antara fasa eksternal
dan internal maka minyak tidak akan mempengaruhi produktifitas formasi (tidak
ada kerusakan formasi), jika masuk kedalam zona-zona produktif sebagai filtrate
(tapisan).
Untuk mendapatkan sifat-sifat lumpur yang diperlukan sebagai fluida
lumpur bor, maka minyak harus ditambahkan berbagai macam additive (zat kimia
tambahan) yang bertujuan untuk mendapatkan sifat viskositas, suspensi, laju
tapisan, dan alkalinity emulsi yang stabil.

2.3.2

Lumpur Bor Berbahan Dasar Air Tawar (Water Base Mud)


Lumpur bahan dasar air tawar dipakai sebagai fluida pemboran yang

memakai air tawar sebagai fasa yang kontinyu dan material tertentu yang ada
dalam suspense, serta material lain yang terlarutkan. Zat-zat yang ditimbulkan
pada lumpur (mud additive) yang mendapatkan sifat-sifat lumpur yang baik.
Lumpur dasar air tawar mempunyai tiga komponen dasar yaitu :

Fasa Cair
Fasa cair didalam lumpur bor merupakan fasa kontinyu, dimana fasa cair
ini adalah air tawar yang mengandung garam. Kurang dari 1% berat

19

garam, serta konsentrasi kalsium tidak lebih dari 120 ppm. Air tawar
mempunyai berat jenis 8,33 ppg. Fungsi utama dari fluida atau fasa yang
kontinyu dari lumpur bor adalah memberikan kekentalan atau viskositas.
Pada kondisi standart yaitu 14,7 psia dan 60 F, viskositas air tawar adalah
1,1 cp.

Fasa Padatan Aktif


Setiap padatan mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat fisika
dan kimia dalam lumpur bor, misalnya lempung/kapur.

Fasa Padatan Inert


Setiap padatan yang tidak bereaksi dan tidak aktif secara fisika atau kimia
dalam lumpur bor misalnya barite dan pasir.

2.3.3

Lumpur Bor Berbahan Dasar Air Garam Jenuh (Salt Saturated

Mud)
Lumpur bahan dasar air garam jenuh merupakan fasa cair yang telah
dijenuhkan dengan Natrium Chlorida (NaCl). Konsentrasi garam diatas 1% (1000
ppm), pada kondisi jenuh konsentrasi garam dapat mencapai ( 300.000 ppm).
Konsentrasi garam pada lumpur berasal dari :

Pemboran batuan garam (salt stringer)

Aliran air asin

Garam yang sengaja ditambahkan

Garam dari air pembuat lumpur

20

Lumpur jenis ini tepat untuk pemboran formasi batuan garam (salt
domes) dan bagian-bagian formasi yang berkadar garam tinggi karena
kemampuannya mencegah pembesaran lubang yang akan terjadi jika pemboran
pada daerah ini menggunakan air tawar.
Sifat khusus air garam adala toleransinya yang rendah terhadap
konsentrasi tinggi dari padatan dengan berat jenis rendah (padatan) dan
kebutuhan yang tinggi terhadap bahan kimia untuk laju tapisan (water loss). Pada
waktu pemboran, formasi batuan garam mungkin dijumpai, dan jika lumpur yang
pakai adalah air tawar maka garam akan larut kedalam lumpur. Jika jumlah garam
yang dijumpai besar, maka dianjurkan untuk menggunakan jenis lumpur air
garam jenuh (salt saturated mud).
2.3.4

Lumpur Berbahan Dasar Gas


Low density drilling fluid dipakai untuk pemboran dalam kondisi

balance (seimbang) atau underbalance untuk mencapai maksud tertentu. Fluida


yang dipakai antara lain adalah udara/gas. Foam (busa) dialirkan bersama-sama
dengan udara. Pemakaian istilah Air Drilling adalah pemboran dengan
menggunakan udara atau gas alam sebagai fluida pemboran.
2.4

Sifat-Sifat Fisik Lumpur Pemboran


Dalam suatu operasi pemboran, semua fungsi lumpur pemboran haruslah

berada dalam kondisi yang baik sehingga operasi pemboran dapat berlangsung
dengan baik. Hal ini dapat dicapai apabila sifat lumpur selalu diamati dan dijaga
secara kontinyu dalam setiap tahap operasi pemboran. Selain hal diatas,

21

pengukuran dan pengamatan sifat-sifat kimia juga harus dilakukan dengan


seksama. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga ke stabilan sifat-sifat lumpur
pemboran. Adapun sifat-sifat fisik lumpur diatas akan dirangkum pada sub-sub
bab berikut.
2.4.1

Densitas (Berat Jenis)


Lumpur pemboran sebagai benda cair mempunyai berat jenis. Berat jenis

suatu benda adalah berat benda dibagi volumenya pada temperatur dan tekanan
tertentu. Satuan (Dimensi) yang dipakai adalah kg/l, gr/cc dan lb/gal. Secara
matematis dapat dituliskan sebagai berikut :
m =

Wm
..................................................................................................(2.3)
Vm

dimana :

Berat jenis lumpur, ppg

Wm

Berat lumpur, lb

Vm

Volume lumpur, gal

Berat jenis merupakan berat per satuan volume dari lumpur yang
memiliki pengaruh terhadap daya apung (Bouyancy Factor) terhadap partikel
padatan, semakin besar berat jenis lumpur maka semakin tinggi kemampuan
pengangkatannya karena kecepatan gelincir (slip) dari partikel padat menjadi
berkurang.
Densitas lumpur pemboran diukur dengan alat timbangan lumpur (mud
balance) yaitu semacam alat penimbang yang disatu ujungnya berskala dan
ujungnya yang lainnya terdapat mangkuk tempat akan ditentukan densitasnya.

22

Kalibrasi alat tersebut dapat dilakukan dengan air biasa harus menunjukkan
angka 8,33 lb/gal (ppg), 62,4 lb/cuft, 1 spesifik gravitasi dan 433 psi/1000 ft.
Hasil pengukuran yang lengkap dicatat dalam satuan-satuan tersebut diatas.
Berat jenis lumpur harus dikontrol agar dapat memberikan tekanan
hidrostatik yang cukup untuk mencegah masuknya cairan formasi kedalam
lubang bor, tetapi tekanan tersebut jangan terlalu besar sehingga menyebabkan
formasi pecah dan lumpur hilang ke formasi. Oleh karena itu berat jenis lumpur
pemboran perlu direncanakan sebaik-baiknya dan disesuaikan dengan keadaan
tekanan formasi. Tekanan hidrostatik lumpur didasar lubang adalah fungsi dari
berat jenis lumpur itu sendiri dan dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ph =

x 0.433 x D
0,052 . . D .....................................................(2.4)
8.33

dimana :
Ph = tekanan hidrostatis lumpur

= densitas lumpur, ppg

D = kedalaman, ft
Tekanan hidrostatik lumpur didasar lubang akan mempengaruhi
kemampuan daripada formasi dibawahnya yang akan dibor. Semakin besar
tekanan hidrostatik atau semakin mampat sehingga merupakan hambatan
tambahan terhadap kemampuan pahat untuk mengoreknya, sehingga kemajuan
pahat akan semakin lambat.
Hubungan antara kecepatan pemboran dengan tekanan hidrostatik
lumpur di dasar lubang dapat dilihat dengan grafik di bawah ini.

D
riln
g
ra
te
-fe
t/h
o
u
r

23

1
8
6
1
4
2
1
0
8
6
4
2
0H
1
2
3
4
5
y
d
ro
s
ta
ic
p
re
s
u
re
-1
9
0
p
s
i
Gambar 2.1

Hubungan Tekanan Hidrostatik Lumpur vs Laju Pemboran(2)

2.4.2

Viskositas (Kekentalan)
Pada lumpur pemboran viskositas adalah tahanan fluida terhadap aliran

atau gerakan yang disebabkan oleh adanya gesekan antara partikel pada fluida
yang mengalir. Pada lumpur bor, viskositas merupakan tahanan terhadap aliran
lumpur disaat dilakukan sirkulasi, hal ini dapat terjadi karena adanya pergeseran
antara partikel-partikel dari lumpur bor tersebut.
Viskositas menyatakan kekentalan dari lumpur bor, dimana viskositas
lumpur memegang peranan dalam pengangkatan serbuk bor atau cutting. Bila
lumpur tidak cukup kental maka pengangkatan serbuk bor kurang sempurna dan
akan mengakibatkan serbuk bor tertinggal di dalam lubang bor sehingga
menyebabkan rangkaian pipa bor akan terjepit.
Akan tetapi apabila lumpur bor memiliki viskositas yang besar sekali
maka akan dapat menyebabkan problem pada pemisahan cutting di permukaan.

24

Viskositas lumpur dapat dinyatakan dengan persamaan berikut ini :


=

ShearStres s
F/A
=
.....................................................................(2.5)
ShearRate
V /r

dimana :

= Viskositas, cp

= Gaya yang bekerja pada system, dyne

A = Luas penampang, cm
V = Kecepatan aliran, cm/det
r

= Jarak aliran, cm

Sedangkan lumpur merupakan fluida Now Newtonian. Pada fluida Non


Newtonian dikenal dengan adanya plastic viscosity, yield point, dan apparent
viscosity. Plastic viscosity adalah suatu tahanan terhadap aliran yang disebabkan
karena adanya gesekan-gesekan antara padatan dalam lumpur, padatan cairan,
dan gesekan antara lapisan cairan, dimana plasic viscosity merupakan hasil torsi
dari pembacaan pada alat Fan VG Meter 6 speed. Torsi pada putaran 600 rpm
dikurangi torsi pada putaran 300 rpm.
Yield point adalah gaya elektro kimia antara padatan-padatan, cairancairan, cairan-padatan pada zat kimia dalam kondisi dinamis yang berhubungan
dengan pola aliran, pengangkatan serpih, ketahanan tekanan di annular dan
kontaminasi. Yield point merupakan hasil dari torsi pada putaran 300 rpm
dikurangi plastic viscosity.
Apparent viscosity adalah keadaan dimana fluida Non Newtonian,
dimana apparent viscosity merupakan hasil torsi pada putaran 600 rpm dibagi dua
dan dapat ditulis dengan persaman sebagai berikut :

25

PV = 600 - 300....................................................................................(2.6)
YP = 300 - PV.........................................................................................(2.7)
AV =

600
...............................................................................................(2.8)
2

dimana :
PV = Plastic Viscosity, cp
YP = Yield Point, cp
AV = Apparent Viscosity, lbs/100ft

2.4.3

Gel Strenght (Daya Agar)


Di waktu lumpur bersirkulasi yang berperan adalah viskositas.

Sedangkan diwaktu sirkulasi berhenti yang memegang peranan adalah gel


strength. Lumpur akan menjadi agar atau menjadi gel apabila tidak terjadi
sirkulasi, hal ini disebabkan oleh gaya tarik-menarik antara partikel-partikel
padatan lumpur. Gaya menjadi agar inilah yang disebut gel strength.
Di waktu lumpur berhenti melakukan sirkulasi, lumpur harus
mempunyai gel strength yang dapat menahan cutting dan material pemberat
lumpur agar jangan turun. Akan tetapi kalau gel strength terlalu tinggi akan
menyebabkan terlalu berat kerja pompa lumpur pemboran untuk memulai
sirkulasi kembali.
Walaupun pompa mempunyai daya yang kuat, pompa tidak boleh
memompakan lumpur dengan daya yang besar, karena formasi bisa pecah.
Misalnya sirkulasi berhenti untuk penggantian bit. Agar formasi tidak pecah

26

didasar lubang bor, maka sirkulasi dilakukan dengan secara bertahap, dan
sebelum melakukan sirkulasi, rotary table diputar terlebih dahulu untuk memecah
gel.
Gel Strength yang terlampau kecil akan menyebabkan terendapnya
cutting/pasir pada saat sirkulasi lumpur berhenti, sedangkan gel strength yang
terlampau tinggi mempersulit usaha pompa untuk memulai sirkulasi lagi.
Kekuatan gel strenght secara kualitatif dapat diklasifikasikan menjadi dua tipe,
yaitu gel strenght 10 detik dan gel strenght 10 menit, yang dihitung dalam satuan
lb/100ft.
2.4.4

Water Loss (Laju Tapisan)


Laju tapisan lumpur pemboran terdiri dari komponen padat dan cair.

Karena pada umumnya dinding lubang sumur mempunyai pori-pori, maka


komponen cair dari lumpur akan masuk ke dalam dinding lubang bor. Dimana
indikasi jumlah cairan yang masuk ke formasi yang tergantung pada suhu,
tekanan, dan padatan yang disebut laju tapisan.
Area yang terinfiltrasi lumpur disebut invaded zone sedangkan zat cair
yang masuk disebut filtrate. Kegunaan laju tapisan adalah membentuk mud cake
pada dinding lubang bor. Secara matematis hubungan tersebut dapat ditulis :
T 2
.........................................................................................(2.9)
T 1

Q2 = Q1
dimana :

Q2 =

Volume fluid loss yang dicari selama waktu T2 menit, cc

Q1 =

Volume fluid loss yang diketahui selama T1 menit, cc

27

Mud cake yang baik adalah yang tipis untuk mengurangi kemungkinan
terjepitnya pipa bor dan kuat untuk membantu kestabilan lubang bor serta padat
agar filtrat yang masuk kedalam formasi tidak terlalu berlebih. Mud cake yang
tebal akan menjepit pipa pemboran sehingga sulit diangkat dan diputar
sedangkan filtrate yang masuk keformasi akan merusak formasi dan dapat
menimbulkan kerusakan pada formasi. Di dalam proses filtrasi-nya, maka laju
tapisan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :

1. Statik filtrasi, merupakan filtrasi yang terjadi pada saat lumpur pada
keadaan diam (tidak ada sirkulasi)

2. Dinamik filtrasi, filtrasi yang terjadi dalam keadaan ada sirkulasi dan pipa
bor berputar dan harus diamati ketika proses pemboran berlangsung.
Cairan yang
menyebabkan

masuk kedalam formasi pada dinding lubang bor akan

akibat negatif,

yaitu

lubang

bor

akan

runtuh, water

blocking, dan differential sticking. Cairan yang masuk ke formasi pada dinding
lubang bor akan menyebabkan pengaruh negatif, yaitu :
A. Dinding lubang bor akan runtuh
Bila formasi yang dimasuki oleh zat cair yang masuk tersebut adalah air,
maka ikatan antara partikel formasi akan lemah, sehingga dinding lubang bor
runtuh.
B. Water Blocking
Filtrat yang berupa air akan menghambat aliran minyak dari formasi ke
dalam lubang sumur jika filtrate dari lumpur banyak.

28

C. Differential Sticking
Seiring dengan banyaknya laju tapisan maka mud cake dari lumpur akan
tebal. Di waktu sirkulasi berhenti ditambah dengan berat jenis lumpur yang
besar, maka drill collar akan cenderung terjepit, karena mud cake akan
menahan drill collar yang terbenam di dalam lumpur, serat lumpur akan
menekan dengan tekanan hidrostatikyang besar ke dinding lubang.
Laju tapisan yang besar dapat menyebabkan terjadinya formation
damage dan lumpur akan kehilangan banyak cairan. Invasi filtrate yang masuk
kedalam formasi produktif dapat menyebabkan produktivitas menurun. Untuk itu
perlu adanya pengaturan laju filtrasi, yaitu dengan membatasi cairan yang masuk
ke dalam formasi.

2.5

Sifat-Sifat Kimia Lumpur Pemboran


Selain mempunyai sifat-sifat fisik lumpur pemboran juga mempunyai

sifat-sifat lain, dimana sifat-sifat lumpur pemboran harus diatur sedemikian rupa
sehingga tidak menimbulkan problem selama pemboran sedang berlangsung.
2.5.1

pH (Derajat Keasaman)
pH dipakai untuk menentukan tingkat kebasaan dan keasaman dari

lumpur yang dipakai, berkisar antara 9-12. Jadi lumpur pemboran yang
digunakan adalah suasana basa. Jika lumpur yang digunakan dalam suasana asam
maka serbuk bor yang keluar dari lubang bor akan halus dan hancur, sehingga
tidak dapat ditentukan batuan apa yang ditembus oleh mata bor selain itu

29

peralatan yang dilalui oleh lumpur saat sedang sirkulasi atau tidak akan mudah
berkarat. Kalau lumpur bor terlalu basa terlalu basa juga tidak baik karena dapat
menaikkan kekentalan dan gel strength dari lumpur.
2.5.2

Sand Content (Kadar Pasir)


Sand content adalah besarnya kadar pasir di dalam lumpur bor. Kadar

pasir harus seminimal mungkin untuk mengurangi sifat abrasive. Pasir tidak
boleh terlalu banyak dalam lumpur bor, karena dapat merusakan peralatan yang
dilalui pada saat sirkulasi dan akan menaikkan berat jenis dari lumpur bor itu
sendiri. Maksimal kadar pasir di dalam lumpur bor yang diperbolehkan adalah
2% volume.

2.5.3

CI- Content (Kadar Garam)


Kadar garam berhubungan langsung dengan besarnya ion chloride yang

terkandung di dalam lumpur bor. Kontaminasi ion chloride ini mungkin berasal
dari air formasi. Kandungan Cl- ditentukan untuk mengetahui kadar garam dari
lumpur akan mempengaruhi interpretasi logging listrik atau tidak. Kadar garam
yang besar akan menyebabkan daya hantarnya besar. Pembacaan resestivity dari
cairan formasi akan terpengaruh.

2.5.4

Fasa Padatan-Cairan (Solid Content)


Solid content adalah kandungan padatan di dalam lumpur pemboran.

Padatan tidak boleh terlalu banyak yang terkandung di dalam lumpur pemboran
karena dapat menimbulkan masalahmasalah di dalam pemboran. Kandungan

30

padatan yang baik di dalam lumpur sekitar 8%-12% volume lumpur. Untuk
menentukan kandungan padatan di dalam lumpur digunakan alat Mud Retort.

2.6

Karakteristik Yang Mempengaruhi Sifat Fisik Lumpur Pemboran


Sebelum membuat lumpur pemboran yang baik, terlebih dahulu harus

memperkirakan keadaan dan kondisi dari formasi yang akan ditembus. Ada
beberapa yang dapat mempengaruhi sifat lumpur pemboran, yaitu :

1.Suhu formasi
2.Tekanan formasi
3.Kandungan clay dan garam

2.6.1

Suhu Formasi
Semakin dalam formasi yang akan ditembus maka suhu formasi juga

semakin meningkat. Dengan meningkatnya suhu formasi tersebut akan


mempengaruhi keseimbangan dari fluida pemboran. Pada saat lumpur dalam
keadaan diam, maka semakin bertambah tinggi suhunya akan semakin tinggi juga
daya untuk menjadi gel dan penggumpalan gel dalam batas tertentu dapat diatasi
dengan mengaduk lumpur hingga encer kembali.
2.6.2

Tekanan Formasi
Sebelum menentukan jenis fluida pemboran apa yang digunakan, maka

kita harus mengetahui sekurang-kurangnya memperkirakan tekanan formasi


terlebih dahulu. Hal ini bertujuan untuk menentukan densitas fluida pemboran

31

yang diperbolehkan. Densitas fluida pemboran didapat dari tekanan formasi


ditambah dengan faktor keamanan (safety factor) yang telah ditentukan sehingga
fluida pemboran tersebut cukup mampu menahan tekanan formasi.
Untuk formasi yang bertekanan rendah digunakan berat jenis rendah,
sehingga tekanan hidrostatis lumpurnya rendah, jika digunakan dengan berat
jenis besar maka akan menyebabkan formasi pecah dan kehilangan sirkulasi.
2.6.3

Kandungan Clay Dan Garam


Pada formasi yang mengandung clay dimana secara terus menerus akan

menghisap air sehingga mengembang dan gugur ke lubang akan menimbulkan


problem pipa terjepit.
Untuk formasi yang mengandung garam kuat atau lapisan-lapisan garam
serta adanya abondant salt water yang berada di daerah payau atau lokasi
pengeboran on-shore atau off-shore, dianjurkan menggunakan salt water
mud atau oil in water emulsion dalam operasi pemboran.

Tabel 2.1
Sifat Fisik Lumpur Dan Fungsinya Serta Alat Pengukurannya(8)

Sifat dan Satuan

Fungsi
Mengontrol

tekanan

Alat
formasi,

Berat Lumpur
mencegah gugurnya formasi dan
(ppg,SG)
hilang cairan

Mud Balance

32

Mengetahui sifat kekentalan relatif,


Viskositas (detik)

Marsh Funnel

mengangkat padatan bor


Mengukur

gaya

gesek

antara

padatan,

cairan

dan

yang

Plastic Viscosity (cp)

Fann VG Meter
berhubungan dengan konsentrasi
padatan.
Mengukur gaya elektrokimia antara

Yield Point
padatan-padatan,

cairan-cairan,

Fann VG Meter

(lbs/100ft)
padatan-cairan.
Tabel 2.1
Sifat Fisik Lumpur Dan Fungsinya Serta Alat Pengukurannya(8)
(Lanjutan)

Sifat dan Satuan

Fungsi
Mengukur

gaya

tarik

Alat
menarik

Daya Agar

antara partikel pada kondisi statis

(lbs/100ft)

atau pada kondisi tidak adanya

Fann VG Meter
aliran
Mengetahui jumlah cairan yang
Laju Tapisan (cc)

masuk kedalam formasi

API Filter Press

Berhubungan dengan konsentrasi


Mud Cake (32/inch)

padatan, sifat kimia dan kestabilan


lumpur

API Filter Press

33

Mengukur ion Hydroxyl didalam


Digital pH
lumpur yang berhubungan langsung
pH Lumpur

Meter dan
dengan

kestabilan

kimia

dan
Paper Test Strip

menjaga dari korosi


2.7

Sistem Sirkulasi Lumpur Pemboran


Sistem sirkulasi adalah salah satu bagian rotary drlling rig yang

tugasnya adalah membantu sistem putar didalam pengeboran sumur dengan


menyediakan fluida atau lumpur pemboran, tempat persiapan (preparation area),
peralatan sirkulasi dan kondisi area yang dibutuhkan. Gambar 2.2 menjelaskan
proses sistem sirkulasi lumpur pemboran secara menyeluruh. Berikut ini adalah
sirkulasi lumpur pemboran :
Pompa

Stand Pipe

Drill Pipe

Bit

Rotary House

Annulus

Goose Neck

Shale Shacker

Swivel

Degasser

Kelly

Desilter

Mud

Tank.
2.7.1

Tempat Persiapan (Preparation Area)


Tempat persiapan pada sistem sirkulasi diperlukan untuk mempersiapkan

lumpur pemboran yang akan dipergunakan dan juga memperbaiki lumpur lama.
Berikut ini tempat persiapan pembuatan lumpur.

Mud House, tempat ini biasanya berada dekat tangki lumpur dimana
terdapat mixing hooper, material-material pembuat lumpur dan additive.

Steel Mud Pits (tanks) / Tangki Lumpur, tangki lumpur ini terbuat dari
plat baja. Pada unit pemboran biasanya terdapat beberapa tangki yang

34

dipergunakan untuk menampung lumpur yang disirkulasikan disamping


untuk tempat penyimpanan lumpur cadangan dan tempat memperbaiki
dan membuat lumpur baru.

Mixing Hopper, dipergunakan untuk mencampur bahan lumpur pada


waktu pembuatan lumpur tersebut dilakukan. Dengan cara, menyemprot
didasar corong bahan-bahan lumpur yang dimasukkan dari atas kedalam
corong itu dan akan segera bercampur dengan cepat dan ditampung
didalam tangki lumpur.

Chemical Mixing Barrel, tabung ini dipergunakan untuk mencampur


bahan-bahan kimia kedalam yang sedang dibuat atau disirkulasikan.

Bulk Mud Storage Bins, tangki ini dirancang untuk menyimpan bahan
baku lumpur seperti barite atau bentonite, sehingga lebih mudah dan
cepat kalau akan dicampur pada waktu membuat lumpur.

Water Tanks, tangki ini dipergunakan untuk menampung air yang


diperlukan untuk pembuatan dan perawatan lumpur.

Reserve Pit, tangki khusus ini dipergunakan untuk menyimpan lumpur


cadangan yang diperlukan pada waktu operasi pemboran berlangsung,
saat diperlukan jumlah yang lebih banyak, misalnya saat ada mud loss.

2.7.2

Peralatan Sirkulasi (Circulating Equipment)


Peralatan sirkulasi ini merupakan salah satu dari peralatan utama yang

harus ada pada suatu menara rig pemboran. Peralatan ini berfungsi untuk
mensirkulasikan lumpur dari permukaan, kemudian masuk kedalam lubang bor

35

dan kembali lagi ke permukaan. Beberapa peralatan sirkulasi yang penting antara
lain :
Tangki Hisap (Suction Pipe), tangki isap adalah salah satu dari beberapa
tangki yang dimiliki oleh suatu unit pemboran dimana lumpur mulai
diisap oleh pompa untuk disirkulasikan kedalam sumur.
Pompa Lumpur (Mud Pump), pompa ini dipergunakan untuk
mensirkulasikan lumpur. Pompa ini merupakan pompa yang mempunyai
tekanan tinggi pada setiap unit pemboran.
Discharge Line, lumpur yang dihisap oleh pompa akan disirkulasikan
kedalam sumur melalui discharge lini terlebih dahulu sehingga sampai
ke stand pipe dan drill string.
Stand Pipe dan Rotary Hose, dari discharge line lumpur akan mengalir
melalui stand pipe dan rotary hose sebelum sampai ke rangkain pipa bor.
Stand pipe dipasang dan diclamp secara vertikal di menara bor. Pada
ujung atas pipa tengah ini dihubungkan atau dipasang satu ujung pada
karet kelly, sedangkan ujung lainnya dihubungkan ke swivel yang
digantungkan pada hok yang berada di travelling block. Dengan
demikian memungkinkan kelly dapat bergerak naik-turun secara bebas
pada saat operasi pemboran berlangsung.
2.7.3

Peralatan Perawatan Lumpur (Mud Conditioning Equipment)


Peralatan-peralatan

untuk

perawatan

lumpur

pemboran

(Mud

Conditioning Equipment) ini dipergunakan untuk menjaga agar sifat-sifat dari


lumpur pemboran itu tetap stabil setelah disirkulasi dan keluar dari lubang bor

36

sesuai dengan kondisi lapangan yang direncanakan. Peralatan-peralatan


perawatan lumpur pemboran tersebut adalah :
Shale Shacker, berfungsi untuk membersihkan lumpur yang keluar dari
lubang bor dengan cara digetarkan. Potongan serbuk bor (cutting)
dipisahkan untuk dianalia dan lumpur kembali ke settling tank.
Settling Tank, pada tangki ini serbuk yang kecil akan diendapkan.
Partikel padat ini terdiri dari berbagai ukuran, umumnya yang
diendapkan adalah partikel yang terbesar yang lolos dari shale shacker
yakni pasir kasar.
Mud Gas Separator, berfungsi untuk memisahkan lumpur dari gas yang
terkandung didalamnya. Gas yang tercampur dengan lumpur harus
dipisahkan didalam mud gas separator, gas dibuang dan lumpur akan
diperiksa sifatnya dan dimasukkan kedalam tangki.
Degasser, alat dipergunakan untuk memisahkan gas dari lumpur yang
telah terkontaminasi oleh gas. Dalam hal ini jumlah gas yang terkandung
didalam lumpur itu masih dalam batas yang membahayakan. Untuk
keadaan itu gas dapat dikeluarkan dari lumpur dengan degasser.
Desander, alat ini dipergunakan untuk mengeluarkan atau memisahkan
pasir yang terkandung didalam lumpur yang tidak terendapkan di
settling tank, dimana bentuk dan ukurannya lebih halus dari pada pasir
yang terendapkan di settling tank. Kerugian apabila kandungan pasir
yang berada didalam lumpur ini cukup besar akan mengakibatkan

37

kerusakan peralatan yang dipergunakan, karena terkikis oleh pasir


tersebut pada waktu disirkulasikan.
Desilter, alat ini dipergunakan untuk memisahkan partikel-partikel yang
lebih halus yang tidak dapat dipisahkan oleh desander. Alat ini
mempunyai bentuk yang sama, dengan tetapi ukurannya lebih kecil.
Special Pumps, special pump ini adalah pompa centrifugal yang
dipergunakan untuk membuat lumpur dan mensirkulasikan lumpur yang
tertampung didalam tangki, agar partikel-partikel padat yang masuk
didalam lumpur tidak mengendap. Mud Agiator, alat ini dipasang didasar
tangki berbentuk kipas. Alat ini digerakan oleh motor listrik dan akan
berputar, kemudian akan mengaduk lumpur yang terdapat didalam
tangki. Sehingga dengan demikian partikel padat akan dapat bercampur
dengan lumpur dan tidak akan mengendap didalam tangki.

38

Gambar 2.2
Sistem Sirkulasi Lumpur Pemboran(4)

2.8

Lumpur Berbahan Dasar Minyak (Oil Base Mud)


Penggunaan fluida berbahan dasar minyak ditanggapi ketika dengan

membukanya formasi tertentu filtrat yang dihasilkan air water based mud hilang
dalam formasi produksi. Oil base mud pertama kali digunakan sebagai fluida
komplesi dan workover. Adapun formasi produktif mengandung clay yang dapat
menghidrat berhubungan dengan air akan menyebabkan clay mengembang dan
terdispersi. Ketika terdispersi clay berpindah dengan fluida kedalam ruang pori
sampai mampu untuk menyumbat pori dan membentuk suatu penutup (bridge),

39

sehingga dapat menghentikan atau menghalangi aliran. Mekanisme ini disebut


clay blocking. Tetesan padatan yang larut dalam air menyebabkan naiknya
apparent viscosity minyak dan mengurangi kemampuan untuk mengalir, kondisi
ini disebut water blocking atau solid blocking.
Penggunaan oil base mud berawal menggunakan crude oil (minyak
mentah). Namun pada penggunaan crude oil secara terus menerus akan
mempunyai beberapa kerugian yang serius, yaitu :
1. Material pemberat tidak dapat tersuspensi karena kurangnya struktur gel.
2. Viskositas bervariasi, tergantung dari tempat diperoleh crude oil.
3. Fluid loss ke dalam formasi berlebihan.
4. Dapat terjadi bahaya kebakaran karena terdiri dari unsur-unsur yang
volatile dalam crude oil.
5. Keefektifan penyekatan pada formasi yang kurang bagus karena tidak
adanya padatan koloid yang dapat menghasilkan wall cake.
Untuk mengatasi hal tersebut, saat ini terdapat pengembangan dua
sistem oil base, secara umum disebut sebagai true oil mud, dan invert emulsion.
Teknologi oil base mud berbeda dengan water base mud, pemantauan terhadap
sifat-sifat lumpur bukan sebagai sesuatu yang dapat diprediksi. Keaneka-ragaman
bahan-bahan kimia yang digunakan untuk oil base mud lebih sedikit, akan tetapi
sebenarnya dapat merusak sistem lumpur jika penggunaannya tidak sesuai.
Dalam sistem water base, pada umumnya dapat diprediksi pengaruh treatment
kimia dan kontaminan terhadap sifat-sifat fisik lumpur, tetapi oil base mud tidak
selalu mungkin.

40

Meskipun dalam penggunaan sistem oil base mud relatif lebih mahal
dibanding dengan lumpur water base. Penggunaannya telah semakin meningkat
pada dasawarsa lalu. Dimana penggunaan oil base digunakan pada berbagai
keadaan, yaitu:
1. Pemboran yang mengalami problem shale.
2. Pemboran dalam, dan bertemperatur tinggi.
3. Fluida komplesi.
4. Fluida packer.
5. Fluida workover.
6. Fluida perendam untuk pipa terjepit.
7. Pemboran zona garam yang masif.
8. Fluida coring.
9. Pemboran formasi yang mengandung hydrogen sulfide dan karbon
dioksida.
2.8.1

Teori Emulsi
Emulsi didefinisikan sebagai dispersi suatu fluida, yang disebut fasa

internal dalam fluida yang lain, yang disebut sebagai fasa ekstema atau fasa
kontinyu. Dua macam cairan yang tidak tercampur, tetapi fasa internal tetap
terdispersi dalam bentuk butiran-butiran kecil. Jika butir-butir air terdispersi
dalam minyak, maka akan terbentuk water-in-oil emulsion. Jika butir-butir
minyak terdispersi dalam air, maka akan menghasilkan oil-in-water emulsion.
Terdapat tiga istilah yang dalam literatur lumpur pembora, yaitu : oilemilsion mud, oil based mud, dan invert emulsion. Oil emulsion mud digunakan

41

hanya untuk oil-in-water system. Oil based mud biasanya mengandung 3-5% air
yang teremulsi dalam minyak sebagai fasa kontinyu. Invert emulsion mud dapat
mengandung sampai 80% air dan yang biasa digunakan adalah 50% teremulsi
dalam minyak. Sedangkan dua yang terakhir adalah water in oil emulsion.
Tiga kriteria dasar untuk pembuatan emulsi, yaitu pemotongan mekanis
(mechanical shering) yang cukup untuk memperkecil butir-butir air dengan
ukuran yang seragam. Emulsifying agent dalam jumlah yang memadai untuk
memisahkan butir-butir air dan mencegah agar tidak bersatu kembali dan minyak
yang viskositasnya rendah sebagai fasa ekstemal. jumlah energi yang diperlukan
untuk mendispersikan air ke dalam minyak berhubungan langsung dengan
viskositas cairan fasa kontinyu. Mobilitas juga tergantung dari viskositas fasa
ekstemal. Faktor-faktor tersebut harus dipertimbangkan pada saat mencampur
oil-base mud, terutama pada invert emulsion.

2.8.2

Komposisi Lumpur Minyak


Produk dasar yang diperlukan untuk formulasi bail oil base mud ataupun

invert emulsion system adalah sebagai berikut :


1.

Diesel oil atau natural oil

2.

Air

3.

Emuslifier

4.

Wetting agent

5.

Oil - wettable organophilic clay

6.

Lime

42

7.

Barite

Produk-produk pelengkap meliputi :

2.8.3

1.

Calcium Chloride

2.

Thinner

3.

Calcium Carbonate

4.

Asphaltenes

5.

Oil - wettable lignites

Sifat - Sifat Fisik Lumpur Minyak


Pemantauan sifat-sifat fisik oil-base mud sangatlah penting. Meskipun

sistem lumpur dipersiapkan secara memadai, tetapi biasanya menunjukan adanya


perabahan sifat-sifat tersebut. Oleh karena itu, sifat-sifat fisik harus dipantau dan
jika perlu dilakukan koreksi-koreksi sebelum terjadi permasalahan yang serius.

2.8.3.1 High - Temperature / High - Pressure (HTHP) Fluid Loss


Pengontrolan fluid loss dari oil base mud bukan merupakan
permasalahan yang umum karena bahan-bahan yang digunakan sistem lumpur
tersebut dan micellar emulsion sangat efektif untuk menyekat ruang pori yang
sangat kecil. API fluid loss lumpur minyak biasanya mendekati nol. HTHP fluid
loss dari oil mud dan invert system bervariasi antara 15 - 30 cc/ menit.
HTTP fluid loss test diiakukan menggunakan alat API filtrate loss
dengan menggunakan 750 psi pada fluida dengan back pressure 250 psi pada
tabung penerima untuk mencegah flashing atau penguapan dari filtrat minyak.

43

2.8.3.2 Sifat - Sifat Aliran


Sifat-sifat aliran seperti plastic viscosity, yield point, dan gel strength
dipengaruhi oleh banyaknya ukuran butir-butir air yang teremulsi dalam minyak,
jumlah ukuran dan kondisi total padatan yang terkandung didalam sistem lumpur,
serta elektrokimia dan interaksi fisik dari padatan, air dan minyak.
Pengukuran sifat-sifat aliran sistem oil base pada permukaan dapat
memberikan trend yang baik terhadap perubahan fluida, tetapi dapat memberikan
hasil yang keliru jika pengaruh kondisi temperatur dan tekanan pada lubang bor
tidak diperhitungkan. Viskositas baik air maupun minyak berkurang dengan
naiknya temperatur, akan tetapi kedua fasa fluida tersebut memiliki kriteria yang
sangat berbeda dengan naiknya tekanan. Viskositas air tetap tidak berubah dengan
naiknya tekanan, tetapi viskositas diesel oil, sebagai contoh, naik secara tajam
dengan betambahnya tekanan.
2.8.3.3 Oil Water Ratio
Sistem oil base metnpunyai fasa ekstemal minyak dan fasa internal air,
yang bervariasi dari 5% vol sampai sekitar 50% vol. Jika campuran dari kedua
fasa tersebut diputus secara mekanis dengan adanya etnulsi yang memadai. air
akan terdispersi kedalam butir - butir yang sangat kecil, yang disebut dengan
colloidal micelles. Mereka mempunyai pengaruh yang sama terhadap viskositas
yang diperoleh jika koloid ditambahkan kedalam lumpur water base. Oleh karena
itu, naiknya kadar air atau berkurangnya oil water ratio akan menyebabkan
naiknya viskositas, sedangkan dengan bertambahnya kadar minyak akan menurun

44

viskositas. Meskipun demikian, manipulasi oil water ratio untuk mengatur


viskositas oil base mud biasanya tidak dilakukan terkecuali pada kondisi khusus.
Dalam perencanaan oil base mud, cara terbaik adalah dimulai dengan oil
water ratio minimum dan mencoba menjaga ratio ini sedekat mungkin selama
pemboran beriangsung.
2.8.3.4 Electrical Stability
Dalam lumpur berbahan dasar minyak ini memiliki suatu sifat khusus
yang harus diperhatikan dalam bentuk satuan volt. Sifat ini diuji dengan
memberikan arus listrik ke dalam fluida pemboran. Pengujian ini menggunakan
alat yang bemama Electrical Stability Tester. Hal ini dilakukan untuk mengetahui
kekuatan ketahanan emulsi terhadap arus listrik. Jika dalam fluida pemboran
emulsi tersebut pecah maka oil base invert akan mengalami pemisahan antara
minyak dan air.
2.9

Spesifikasi Lumpur Berbahan Dasar Minyak


Dalam setiap pembuatan fluida pemboran, suatu fluida harus memiliki

batasan-batasan setiap sifat fisiknya yang disesuaikan oleh formasi yang akan
ditembus atau yang diinformasikan oleh perusahaan.

Tabel 2.2
Spesifikasi Lumpur Berbahan Dasar Minyak(5)

Spesifikasi Standar
Parameter

Satuan

Nilai

45

Density

ppg

13 - 15

Funnel Viscosity

sec/quart

60 - 75

Plastic Viscosity

centipoise

< 35

Yield Point

Ibs/100ft2

12 - 30

Gel Strength 10 sec

lbs/100ft2

12 - 20

Gel Strength 10 min

lbs/100ft2

20 - 35

HTHP Filtrate Press

mililiter

<8

Mud Cake

milimeter

<4

Electrical Stability

volt

< 600

Hal tersebut harus dipenuhi persyaratannya agar saat pemboran dapat


langsung secara efektif dan efisien. Dimana pada sifat fisik densitas harus
dipenuhi agar tidak terjadi loss atau kick, namun pada sifat fisik viskositas dan
plastic viscosity dapat berpengaruh dalam kinerja pompa lumpur, yield point dan
gel strength untuk mengetahui kekuatan lumpur untuk mengangkat serpihan
serbuk bor saat keadaan statis dan dinamis serta mengetahui daya mengarah
ketika sirkulasi dihentikan, laju tapisan dan mud cake dapat berpengaruh dalam
proses intepretasi logging. Dan electrical stability bertujuan untuk mengetahui
ketahanan emulsi terhadap arus listrik, serta dapat menunjukan lumpur berbahan
dasar minyak berupa oil-wett atau water-wett.
2.10

Diesel Oil dan Smooth Fluid


Diesel Oil merupakan hasil penyulingan minyak yang berwarna hitam

dan berbentuk cair pada temperatur rendah, dengan cetane number 40-45
biasanya memiliki kandungan sulfur yang rendah. Selain itu Diesel Oil juga
memiliki boiling point yang tidak terlalu rendah dan tidak terlalu tinggi. Namun

46

pada penggunaan lumpur Diesel Oil dapat merusak formasi dan tingginya kadar
aromatik dalam Diesel Oil atau solar menyebabkan diesel oil tersebut bersifat
toksik. Untuk itu diperlukan alternatif lain dalam penggunaan diesel oil maupun
bio diesel untuk oil based mud (OBM), maka digunakanlah Smooth Fluid.
Lumpur berbahan Smooth Fluid merupakan produk base oil dengan
spesifikasi

dan kegunaan

khusus

sebagai

penunjang kegiatan

drilling

(pengeboran) sumur minyak. Smooth Fluid memiliki komposisi sulfur yang


rendah sehingga dapat mengurangi potensi korosifitas peralatan. Smooth Fluid
juga memiliki sifat pelumasan baik, kompatibel dan korosif terhadap peralatan
pemboran terhadap gasket dan segel, stabil dan tidak mudah teroksidasi, aman
bagi perangkat keija. Selain itu, produk ini juga aman bagi pekerja dan ramah
terhadap lingkungan, baik di darat maupun perairan karena telah lulus uji toxicity
test, biodegradebility test, BTX Content, Eye Irritation dan Skin Irritation.
Dalam penggunaan bahan Smooth Fluid memberikan kemudahan dalam
proses pengeboran di bandingakan water base mud, utamanya pada pengeboran
dengan kondisi tanah liat. Smooth Fluid meminimalisasi hole problem, lubang
yang dihasilkan pun lebih baik. Smooth fluid juga memiliki satu keunggulan ada
sifat viskositas yang lebih tinggi dan hal ini dapat mengurangi pemakaian bahan
aditif viscosifier.