Anda di halaman 1dari 3

Penjelasan Tentang Konseling Ego

6. Tujuan Konseling Ego


Adapun tujuan konseling menurut Erikson adalah memfungsikan ego
klien secara penuh. Tujuan lainnya adalah melakukan perubahan-perubahan
pada diri klien sehingga terbentuk coping behavior yang dikehendaki dan
dapat terbina agar ego klien itu menjadi lebih kuat. Ego yang baik adalah
ego yang kuat, yaitu yang dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan
dengan dimana dia berada.
7. Proses Konseling Ego
Agar konseling Ego dapat diselenggarakan dengan efektif, Hansen,dkk
(1977) merumuskan beberapa aturan dalam konseling ego yaitu:
1. Proses konseling harus bertitik tolak dari proses kesadaran
2. Proses konseling hendak lah bertitik tolak dari azas kekinian atau
tingkah laku sekarang
3. Proses konseling lebih ditekankan pada pembahasan secara rasional
4. Konselor hendak lah menciptakan suasana hangat dan spontan baik
dalam penerimaan klien maupun dalam proses konseling
5. Konseling harus dilakukan secara profesional
6. Proses konseling hendak lah tidak berusaha mengorganisir keseluruhan
kepribadian individu, tetapi hanya pada pola-pola tingkah laku yang
salah suai.
8. Teknik Konseling Ego
Adapun tekhnik konseling ego itu adalah sebagai berikut :
Pengawalan : membina hub. antara klien dan konselor
Pengontrolan proses
a. memusatkan kegiatan pada tugas membantu ego strength
klien
b. mengontrol keseimbangan antara ekspresi klien yg
c. bersifat kognitif maupun konatif(emosi)- tetapi

proses

konseling tetap menekan dimensi kognitif


d. mengontrol ambiguitas dlm proses konseling
e. mengontraskan perasaan klien
f. menampilkan keunikan pribadi klien
g. membangun transferensi melalui proyeksi
Transferensi: tidak spt pada psikoanalisis klasik, dalam ego
konseling transferensi dimaksudkan sbg perasaan klien yg timbul

thd konselor
Counter
transference:

upaya

konselor

utk

mencegah

perasaannya yg muncul thd klien dan mempengaruhi proses


konseling

Diagnosis
merumuskan

dan
dan

interpretasi:
mendiagnosis

konselor
masalah,

bertanggung
serta

jawab

memberikan

kesempatan kpd klien utk memahami masalah-masalahnya itu.


Apabila klien sudah menyadari masalahnya, proses konseling diarahkan ke

Pembentukan Tingkah Laku Baru:


a. konselor mengajarkan cara-cara baru
b. klien dilatih
c. mempergunakan tugas rumah yang harus dikerjakan
9. Langkah-Langkah Konseling Ego
Langkah-langkah dalam penyelenggaraan konseling ego dirumuskan

oleh Hummel, yang dikutip oleh Hansen, dkk (1977) sebagai berikut:
a. Pertama-tama membantu klien mengkaji perasaan-perasaan berkenaan
dengan kehidupan, juga feeling terhadap peranan-peranannya, feeling
penampilannyadan hal-hal lain yang bersangkut paut dengan tugas-tugas
kehidupannya.
b. Klien kita proyeksikan dirinya terhadap masa depan (bagaimana dirinya
bersangkut paut dengan masa depan). Dengan keadaanya sekarang apa
yang dapat dia capai di masa depan.
c. Selanjutnya konselor berusaha mendiskusikan dengan klien hambatanhambatan yang dijumpainya untuk mencapai tujuan.
d. Kalau pendiskusian tentang hambatn-hambatan itu sudah berlangsung
cukup jauh, konselor melalui proses interpretasi dan refleksi, mengajak
klien untuk mengkaji lagi diri sendiri dan lingkungannya.
e. Terakhir, konselor membantu klien menumbuhkan seperangkat hasrat
kemauan dan semangat yang lebih baik dan mantap dalam

kaitannya

dengan pelajaran.
10.
Kriteria Keberhasilan
a. Berdasarkan ciri dari masing-masing tahap perkembangan yang sukses
dijalani klien, maka konseling dapat dianggap berhasil apabila klien dapat
mencapai perkembangan yang sukses
b. Kriteria berikutnya ialah dengan melihat kembali berfungsinya ego
seseorang.
c. Kriteria lainnya juga dapat diamati dari kembalinya kemampuan sesorang
untuk mengembangkan coping behavior dalam setiap menghadapi
problem-problem kehidupan.
11.
Sumbangan Teori Konseling Ego
Konseling ego menekankan pada adnya kekuatan ego ( ego strengh) yang diperkirakan
berpengaruh besar pada kemunculan masalah. Kelihatannya konseling ego lebih-lebih

memusatkan, perhatian pada aspek individu klen dengan melihat dari berfungsinya atau tidaknya
ego klien.