Anda di halaman 1dari 11

Makalah Mata Kuliah Pengauditan

Disusun Oleh:
Adinda Alifia Pitasari (2014310151) / Kelas F

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI PERBANAS SURABAYA


Jalan Wonorejo Permai Utara III No. 16, Surabaya

Pengauditan dan Assurance Services

A. Sejaran Perkembangan Fungsi Pengauditan


Pengauditan telah mulai dilakukan sejak abad ke XV. Diketahui bahwa pada
sekitar awal abad ke XV jasa auditor telah mulai digunakan di Inggris. Meskipun
pengauditan telah lahir sejak beberapa abad yang lalu, namun perkembangan yang
pesat baru terjadi pada abad ini.
1. Penguditan Independen Sebelum Tahun 1900
Kelahiran fungsi pengauditan di mulai oleh negara Inggris. Kemudian
Inggris memperkenalkannya di benua Amerika pada abad pertengahan XV. Para
Auditor di Amerika Utara mengadopsi bentuk laporan dan prosedur audit persis
seperti yang berlaku di Inggris.Perusahaan-perusahaan publik di Inggris pada
waktu itu harus tunduk pada undang-undang yang disebut Companies Act.
Menurut undang-undang tersebut semua perusahaan publik harus diaudit. Ketika
fungsi audit mulai diekspor ke Amerika Serikat, bentuk laporan model Inggris
turut diadopsi pula meskipun peraturan yang berlaku di Amerika Serikat tidak
sama dengan yang berlaku di Inggris. Keharusan untuk diaudit datang dari badan
yang mengatur pasar modal yang disebut Securities and Exchange Commission
(SEC), serta dari pengakuan umum mengenai manfaat pendapat auditor atas
laporan keuangan.
2. Perkembangan Di Abad XX
Perkembangan di abad XX sangatlah pesat karena revolusi Industri di
Ingrgis telah memasuki usia yang ke 50 tahun. Perusahaan di Inggris mulai
merasakan maanfaat dari jasa Audit itu sendiri. Namun dikalangan pemegang
saham terjadi kesalah pahaman dengan apa fungsi Audit itu. Profesi Auditor di
Amerika berkembang pesat setelah berakhirnya Perang Dunia I. Sementara itu
kesalah pahaman tentang fungsi pendapat auditor masih terus berlangsung,
sehingga pada tahun 1917 Federal Reserve Board menerbitkan Federal Reserve
Buletin yang memuat cetak ulang suatu dokumen yang disusun oleh American
Institute of Accountant (yang selanjutnya berubah menjadi American Institute of
Certified Public Accountants atau AICPA pada tahun 1957) yang berisi himbauan
tentang perlunya Auditorsi yanng seragam, tetapi tulisan tersebut sesungguhnya
lebih banyak menguraikan tentang bagaimana mengaudit neraca. Pernyataan
teknis ini merupakan pernyataan pertama yang dikeluarkan oleh profesi Auditorsi

di Amerika Serikat dari sekian banyak pernyataan yang dikeluarkan selama abad
ke-20.
3. Perkembangan Pengauditan di Indonesia
Profesi Auditorsi di Indonesia masih tergolong baru. Pada masa penjajahan
Belanda, jumlah perusahaan di Indonesia belum begitu banyak, sehingga
Auditorsi dengan sendirinya hampir tidak dikenal. Perusahaan-perusahaan milik
Belanda yang beroperasi di Indonesia pada waktu itu, mengikuti model
pembukuan seperti yang berlaku di negaranya. Situasi seperti itu berlangsung
hingga Indonesia merdeka. Auditorsi baru mulai dikenal di Indonesia setelah
tahun 1950-an, yaitu ketika semakin banyak perusahaan didirikan dan Auditorsi
sistem Amerika mulai dikenal, terutama melalui pendidikan di perguruan tinggi.
Perkembangan Auditorsi di Indonesia terjadi pada tahun 1973, yaitu ketika
Ikatan Auditor Indonesia (IAI) menetapkan Prinsip-prinsip Auditorsi Indonesia
(PAI) dan Norma Pemeriksaan Auditor (NPA). Selain itu perkembangan yang
terjadi dalam dunia perbankan sejak tahun 1988 semakin menuntut dilakukannya
audit atas laporan keuangan bagi perusahaan-perusahaan yang akan mengajukan
permohonan kredit ke bank. Pada tahun 1995 lahir Undang-undang Perseroan
Terbatas yang mewajibkan suatu perseroan terbatas menyusun laporan keuangan
dan jika perseroan merupakan perusahaan publik, maka laporan keuangannya
wajib diaudit oleh Auditor publik. Pada tahun yang sama Undang Undang Pasar
modal pun lahir juga.
Seiring perkembangan perusahaan di Indonesia, IAI telah banyak
melakukan penyempurnaan peraturan yang berlaku di Indonesia. Yang mana
Indonesia saat itu berkibalat pada peraturan yang dibuat oleh Amerika Serikat.
Pada tahun 1994 IAI melakukan penyusunan ulang prinsip Auditorsi dan standar
audit yang disebut Standar Auditorsi Keuangan (SAK) dan Standar Profesional
Auditor Publik (SPAP). Sejalan dengan itu Dewan Standar Auditorsi yang
dibentuk IAI secara terus menerus menerbitkan Pernyataan Standar Auditorsi
Keuangan (PSAK).

Seperti terjadi di Amerika Serikat seratus tahun lalu, fungsi pengauditan di


Indonesia memasuki abad ke-21 ini masih belum dipahami masyarakat. Banyak
kesalahpahaman yang terjadi atas laporan auditor, karena fungsi audit tidak
dipahami dengan benar. Maka dari itu Pemerintah mulai memperkenalakan
Auditorsi mulai dari SMA dan pengenalan Audit dilakukan di Perguruan Tinggi.
B. Jasa Asurans dan Pengauditan
Jasa asurans (assurance services) adalah jasa profesional independen yang
meningkatkan mutu informasi bagi pengambil keputusan. Pengambil keputusan
memerlukan informasi yang andal dan relevan sebagai dasar untuk pengambilan
keputusan. Oleh karena itu mereka mencari jasa asurans untuk meningkatkan kualitas
informasi yang akan dijadikan sebagai basis keputusan yang akan mereka lakukan.
Profesional yang menyediakan jasa asurans harus memiliki kompetensi dan
independensi berkaitan dengan informasi yang diperiksanya.
Jasa semacam ini dianggap penting karena penyedia jasa asurans bersifat
independen dan dianggap tidak bias berkenaan dengan informasi yang diperiksa.
Individu-individu yang bertanggungjawab membuat keputusan bisnis memerlukan jasa
asurans untuk membantu meningkatkan keandalan dan relevansi informasi yang
digunakan sebagai dasar keputusannya. Salah satu jasa asuran yang diberikan oleh
profesi akuntan publik atau auditor independen adalah jasa atestasi.
1. Jasa Atestasi
Jasa atestasi (attestation service) adalah jenis asurans di mana KAP
mengeluarkan laporan tentang reliabilitas suatu asersi yang disiapkan pihak lain.
Jasa atestasi dibagi menjadi lima kategori, yaitu:
a. Audit atas Laporan Keuangan Historis
Dalam suatu audit atas laporan keuangan historis, manajemen
menegaskan bahwa laporan itu telah dinyatakan secara wajar sesuai dengan
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum (GAAP). Audit atas laporan
keuangan ini adalah suatu bentuk jasa atestasi di mana auditor
mengeluarkan laporan tertulis yang menyatakan pendapat tentang apakah
laporan keuangan tersebut telah dinyatakan secara wajar sesuai dengan
prinsip-prinsip akuntansi yang berlaku umum. Audit ini merupakan
jasa assurance yang paling umum diberikan oleh KAP.
b. Atestasi Mengenai Pengendalian Internal atas Pelaporan Keuangan
Di Amerika Serikat, untuk sebuah atestasi mengenai pengendalian
internal atas pelaporan keuangan, manajemen menegaskan bahwa

pengendalian

internal

telah

dikembangkan

dan

diimplementasikan

mengikuti kriteria yang sudah mapan.


c. Review atas Laporan Keuangan Historis
Untuk review atas laporan keuangan historis, manajemen menegaskan
bahwa laporan tersebut telah dinyatakan secara wajar sesuai dengan prinsipprinsip akuntansi yang berlaku umum, sama seperti audit. Akuntan publik
hanya memberikan tingkat kepastian yang moderat atau sedang
terhadap review atas laporan keuangan jika dibandingkan dengan tingkat
kepastian yang tinggi untuk audit, sehingga lebih sedikit bukti yang
diperlukan.
d. Jasa Atestasi Mengenai Teknologi Informasi
Untuk atestasi mengenai teknologi

informasi,

manajemen

mengeluarkan berbagai asersi tentang reliabilitas dan keamanan informasi


elektronik. Pertumbuhan teknologi Internet dan perdagangan elektronik (ecommerce) telah menciptakan permintaan akan jenis-jenis assurance ini.
Banyak fungsi bisnis, seperti pemesanan dan pembayaran, sekarang
dilakukan melalui Internet atau secara langsung antarkomputer dengan
menggunakan electronic data interchange (EDI). Oleh karena transaksi dan
informasi dipakai bersama secara online dan real-time, para pelaku bisnis
meminta kepastian yang lebih tinggi lagi mengenai informasi, transaksi, dan
sistem pengamanan yang melindunginya. WebTrust dan SysTrust adalah
jasa-jasa atestasi yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan
akan asurans ini.
e. Jasa Atestasi Lain
Akuntan publik memberikan banyak jasa atestasi lainnya, yang
kebanyakan merupakan perluasan alami dari audit atas laporan keuangan
historis, karena pemakai menginginkan kepastian yang independen
menyangkut jenis-jenis informasi lainnya. Dalam setiap kasus, organisasi
yang diaudit harus menyediakan sebuah asersi sebelum akuntan dapat
memberikan atestasi. Sebagai contoh, apabila bank meminjamkan uang
kepada suatu perusahaan, maka perjanjian pinjaman itu mungkin
mengharuskan perusahaan menugaskan seorang akuntan untuk memberikan
kepastian

tentang

ketaatan

menyangkut pinjaman itu.

perusahaan

pada

ketentuan

keuangan

2. Jasa Non Asurans


Jasa Non Asurans adalah jasa yang dihasilkan oleh akuntan publik yang di
dalamnya tidak memberikan suatu pendapat, keyakinan negatif, ringkasan
temuan, atau bentuk lain keyakinan. Jenis jasa non assurance yang dihasilkan
olah akuntan publik adalah jasa kompilasi, jasa perpajakan, jasa konsultasi.
Dalam jasa kompilasi, akuntan publik melaksanakan berbagai jasa
akuntansi kliennya, seperti pencatatan transaksi akuntansi sampai dengan
penyusunan laporan keungan. Jasa perpajakan meliputi bantuan yang diberikan
oleh akuntan publik kepada kliennya dalam pengisian Surat Pemberitahuan Pajak
Tahunan (SPT) pajak penghasilan, perencanaan pajak, dan bertidak mewakili
kliennya dalam menghadapi masalah perpajakan. Jasa konsultasi diatur dalam
Standar Jasa Konsultasi. Jasa konsultasi dapat meliputi jasa-jasa berikut ini:
Konsultation (consultations)
Jasa pemberian saran profesional (advisory service)
Jasa Implementasi
Jasa Transaksi
Jasa penyediaan staf dan jasa pendukung lainya
Jasa produk
C. Definisi dan Jenis-Jenis Pengauditan
Pengauditan adalah suatu proses yang sistematik untuk mendapatkan bukti-bukti
yang objektif mengenai kegiatan dan kejadian ekonomi serta mengevaluasi apakah hal
tersebut telah sesuai dengan beberapa kriteria yang telah ditetapkan. Kemudian hasilnya
akan disampaikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Audit pada umumnya dibagi menjadi tiga golongan, yaitu : audit laporan
keuangan, audit kepatuhan, dan audit operasional.
1. Audit Laporan Keuangan (Financial Statement Audit).
Audit laporan keuangan adalah audit yang dilakukan oleh auditor eksrernal
terhadap laporan keuangan kliennya untuk memberikan pendapat apakah laporan
keuangan tersebut disajikan sesuai dengan kriteria-kriteria yang telah ditetapkan.
Hasil audit lalu dibagikan kepada pihak luar perusahaan seperti kreditor,
pemegang saham, dan kantor pelayanan pajak.
2. Audit Kepatuhan (Compliance Audit)
Audit ini bertujuan untuk menentukan apakah yang diperiksa sesuai dengan
kondisi, peratuan, dan undang-undang tertentu. Kriteria-kriteria yang ditetapkan
dalam audit kepatuhan berasal dari sumber-sumber yang berbeda. Contohnya ia
mungkin

bersumber

dari

manajemen

dalam

bentuk

prosedur-prosedur

pengendalian internal. Audit kepatuhan biasanya disebut fungsi audit internal,


karena oleh pegawai perusahaan.
3. Audit Operasional (Operational Audit)

Audit operasional merupakan penelahaan secara sistematik aktivitas operasi


organisasi dalam hubungannya dengan tujuan tertentu. Dalam audit operasional,
auditor diharapkan melakukan pengamatan yang obyektif dan analisis
yang komprehensif terhadap operasional-operasional tertentu.
D. Auditor dan Kantor Akuntan Publik (KAP)
1. Jenis-Jenis Auditor
Auditor dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
a. Auditor Internal (Internal Auditor)
Auditor internal adalah auditor yang dipekerjakan oleh suatu entitas
usaha dan bekerja untuk perusahaan tersebut. Auditor internal hanya
memeriksa dokumen-dokumen keuangan internal yang dberikan oleh pihakpihak manajemen dalam ruang lingkup yang terbatas. Auditro internal juga
membantu perusahaan untuk meningkatkan akurasi data keuangan mereka
dan menghindari masalah hukum atau keuangan.
b. Auditor Independen (Independent Auditor)
Auditor independen adalah auditor eksternal yang pada umumnya
merupakan anggota kantor akuntan publik yang memberikan jasa audit
profesional untuk masing-masing klien. Di luar negeri, sebutan auditor
independen adalah CPA. Auditor independen haruslah benar-benar
independen yang tidak dipengaruhi pihak-pihak manapun.
c. Auditor Pemerintah (Government Audit)
Auditor pemerintah adalah auditor yang bekerja pada sektor-sektor
pemerintahan. Auditor pemerintah pada umumnya meninjau keuangan dan
praktik lembaga-lembaga pemerintahan. Hasilnya akan dijadikan acuan
dalam membuat dan mengelola beberapa kebijakan dan anggaran.
2. Kantor Akuntan Publik
Kantor akuntan publik (KAP) adalah badan usaha yang telah mendapatkan
izin dari Menteri Keuangan sebagai wadah bagi akuntan publik dalam
memberikan jasanya.
Pekerjaan yang dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) meliputi:
a. Bidang Jasa KAP
Jasa Atestasi
Jasa Non-Atestasi
b. Bentuk Badan Usaha
Badan usaha KAP dapat berbentuk:
Perseorangan
Persekutuan perdata atau persekutuan firma
Bentuk usaha lain yang sesuai dengan karakteristik profesi Akuntan
Publik yang diatur dalam Undang-Undang.
c. Struktur Kantor Akuntan Publik

Tersedia 6 struktur organisasi bagi KAP.

Perusahaan Perorangan (Proprietorship), Persekutuan Umum ( General

Partnership), bentuk organisasi ini dimiliki oleh banyak pemilik.


Korporasi Umum, pemegang sahamnya bertanggung jawab hanya

sebatas sampai investasi mereka dalam korporasi.


Korporasi Profesional (Profesional Corporation, PC), memberikan jasa
profesional yang dimiliki oleh pemegang saham. Kelemahannya

korporasi ini sulit memiliki klien-klien di berbeda negara.


Limited Liability Company (LLC), LLC biasanya memakai struktur
persekutuan umum, tetapi para pemiliknya bertanggung jawab pribadi

terbatas.
Limited Liability Partnership (LLP), dimiliki oleh satu atau lebih
partner. Para partner dalam LLP bertanggung jawab atas utang dan
kewajiban persekutuan, tindakan mereka sendiri, dan tindakan orang
lain dibawah supervise mereka.
Struktur KAP secara umum dapat terdiri sebagai berikut :

Partner
Menduduki jabatan tertinggi dalam per ikatan audit, bertanggung jawab
secara menyeluruh mengenai auditing.
Manajemen
Sebagai pengawas audit, bertugas untuk membantu auditor senior
dalam merencanakan program audit dan waktu audit, me-review kertas

kerja, laporan audit dan manajemen letter.


Auditor Senior
Melaksanakan audit, bertanggung jawab untuk mengusahakan biaya
audit dan waktu audit sesuai dengan rencana, mengarahkan dan me-

review pekerjaan auditor junior.


Auditor Junior
Melaksanakan prosedur audit secara rinci, membuat kertas kerja untuk

mendokumentasikan pekerjaan audit yang telah dilaksanakan.


d. Persyaratan Kantor Akuntan Publik di Indonesia
Untuk mendapatkan izin usaha KAP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (1) yang berbentuk badan usaha perseorangan, Pemimpin
KAP mengajukan permohonan tertulis kepada Sekretaris Jenderal u.p.
Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) memiliki izin Akuntan Publik;
b) menjadi anggota IAPI;

c) mempunyai paling sedikit 3 (tiga) orang auditor tetap dengan tingkat


pendidikan formal bidang akuntansi yang paling rendah berijazah
setara Diploma III dan paling sedikit 1 (satu) orang diantaranya
memiliki register negara untuk akuntan;
d) memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP);
e) memiliki rancangan Sistem Pengendalian Mutu (SPM) KAP yang
memenuhi Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP) dan paling
kurang mencakup aspek kebijakan atas seluruh unsur pengendalian
mutu;
f) domisili Pemimpin KAP sama dengan domisili KAP;
g) memiliki bukti kepemilikan atau sewa kantor, dan denah kantor yang
menunjukkan kantor terisolasi dari kegiatan lain; dan
h) membuat Surat Permohonan, melengkapi formulir Permohonan Izin
Usaha Kantor Akuntan Publik, dan membuat surat pernyataan
bermeterai cukup yang menyatakan bahwa data persyaratan yang
disampaikan adalah benar dengan menggunakan Lampiran VI
sebagaimana terlampir dalam Peraturan Menteri Keuangan ini.
Untuk mendapatkan izin usaha KAP sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 17 ayat (1) yang berbentuk badan usaha persekutuan, Pemimpin
Rekan KAP mengajukan permohonan tertulis kepada Sekretaris Jenderal
u.p. Kepala Pusat dengan memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a) memenuhi persyaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (1);
b) memiliki Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) KAP;
c) memiliki perjanjian kerja sama yang disahkan oleh notaris bagi KAP
yang berbentuk badan usaha persekutuan yang paling sedikit memuat:
(1) pihak-pihak yang melakukan persekutuan;
(2) alamat para sekutu;
(3) bentuk badan usaha persekutuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 16 ayat (3);
(4) nama dan domisili KAP;
(5) hak dan kewajiban para pihak/sekutu;
(6) sekutu yang berhak mengadakan perikatan, untuk dan atas nama
KAP, dengan pihak ketiga berkaitan dengan jasa yang
diberikan; dan
(7) penyelesaian sengketa dalam hal terjadi perselisihan.
d) memiliki surat izin Akuntan Publik bagi Pemimpin Rekan dan Rekan
yang Akuntan Publik;
e) memiliki tanda keanggotaan IAPI yang masih berlaku bagi Pemimpin
Rekan dan Rekan yang Akuntan Publik;

f) memiliki surat persetujuan dari seluruh Rekan KAP mengenai


penunjukan salah satu Rekan menjadi Pemimpin Rekan; dan
g) memiliki bukti domisili Pemimpin Rekan dan Rekan KAP.
E. Standar Profesional Akuntan Publik (SPAP)
Standar Profesional Akuntan Publik (disingkat SPAP) adalah kodifikasi berbagai
pernyataan standar teknis yang merupakan panduan dalam memberikan jasa
bagi akuntan publik di Indonesia. SPAP dikeluarkan oleh Dewan Standar Profesional
Akuntan Publik Institut Akuntan Publik Indonesia (DSPAP IAPI).
Standar-standar yang tercakup dalam SPAP adalah:
1. Standar Auditing
2. Standar Atestasi
3. Standar Jasa Akuntansi dan Review
4. Standar Jasa Konsultansi
5. Standar Pengendalian Mutu
Kelima standar profesional di atas merupakan standar teknis yang bertujuan untuk
mengatur mutu jasa yang dihasilkan oleh profesi akuntan publik di Indonesia.
F. Standar Pengendalian Mutu
Sebagai pedoman, IAASB telah menerbitkan International Standard on Quality
Control (ISQC) No. 1 yang mulai berlaku tanggal 1 Januari 2009.
Secara garis besar struktur ISQC adalah sebagai berikut:
1. Pendahuluan yang terdiri dari lingkup, otoritas, dan tanggal efektif
a. Lingkup ISQC
ISQC berhubungan dengan tanggungjawab KAP untuk sistem
pengendalian mutu untuk audit dan review atas laporan keuangan, dan
penugasan asurans serta jasa lain yang bersangkutan. ISQC harus

dibaca dalam kaitannya dengan ketentuan etik yang relevan.


Pernyataan IAASB lain menetapkan standar dan pedoman lain
mengenai tanggungjawab personel KAP tentang prosedur pengendalian

mutu untuk tipe penugasan spesifik.


Sistem pengendalian mutu terdiri dari kebijakan yang dirancang untuk
mencapai

tujuan

serta

prosedur

yang

diperlukan

untuk

mengimplementasikan dan memantau kesesuaian dengan kebijakan


tersebut.
b. Otoritas ISQC

ISQC berlaku bagi semua KAP akuntan profesional dalam kaitannya


dengan audit dan review laporan keuangan, dan penugasan asurans dan jasa
lain yang berhubungan. Sifat dan luas kebijakan dan prosedur yang
dikembangkan oleh seorang individu KAP agar sesuai dengan ISQC akan
tergantung pada berbagai faktor, seperti besarnya dan karakteristik operasi
KAP, dan apakah KAP tersebut merupakan bagian dari jaringan kantor
akuntan.
c. Tujuan
Tujuan KAP menetapkan dan memelihara suatu sistem pengendalian
mutu adalah untuk memberikan asurans yang layak bahwa:
KAP dan personalianya mematuhi standar prfesional serta ketentuan

perundang-undangan dan peraturan yang berlaku; dan


Laporan yang diterbitkan KAP atau partnernya sudah tepat sesuai
dengan situasi yang dihadapi.

2. Tujuan
ISQC memuat 47 ketentuan (ISQC 1.13 ISQC 1.59) yang terbagi dalam
beberapa kategori sebagai berikut:
Penerapan dan kepatuhan dengan ketentuan yang relevan
Elemen sistem pengendalian mutu
KAP harus menetapkan dan memelihara suatu sistem pengendalian
mutu yang mencakup kebijakan dan prosedur yang mengatur setiap elemen
di bawah ini:
Tanggungjawab kepemimpinan untuk mutu dalam KAP
Ketentuan etika yang relevan
Penerimaan dan keberlanjutan hubungan dengan klie serta penugasan

tertentu
Sumber daya manusia
Pelaksanaan tugas
pemantauan
Tanggungjawab kepemimpinan untuk mutu dalam KAP
Ketentuan etika yang relevan
Penerimaan klien dan keberlanjutan hubungan dengan klien serta penugasan

khusus
Sumber daya manusia
Pelaksanaan penugasan
Dokumentasi sistem pengendalian mutu