Anda di halaman 1dari 17

Sistem Pendidikan Berbasis Produksi (Production Based Education)

31
MEI
.date

BAB I
PENDAHULUAN
1.1
SEJARAH BERDIRINYA POLMAN BANDUNG (POLITEKNIK
MANUFAKTUR BANDUNG)
Pembangunan
sebagai
konsekuensi
logis
dalam
mengisi
kemerdekaan, maka Bangsa Indonesia mengambil langkah-langkah
strategis
untuk
meningkatkan
taraf
kehidupan
melalui
pembangunan jangka panjang. Pembangunan jangka panjang tahap
I yang diuraikan dalam Rencana Pembangunan Lima Tahun tahap II
(1972 1976, pada saat pendidikan Politeknik dirumuskan)
mempunyai titik berat pada sektor industri dan pertanian, yang
mana pembangunan sumber daya manusia merupakan faktor yang
sangat penting untuk dapat mencapai sasaran dengan efektif.
Melalui peningkatan sumber daya manusia diharapkan kualitas dan
kuantitas hasil produksi yang dihasilkan pada sektor tersebut dapat
bersaing di dalam ataupun di luar negeri. Salah satu usaha yang
dilakukan pemerintah untuk meningkatkan kualitas sumber daya
manusia adalah dengan mendirikan sekolah-sekolah umum dan
kejuruan, khususnya di bidang keindustrian. Sekolah kejuruan di
bidang industri seperti Politeknik ditujukan untuk mempersiapkan
sumber daya manusia yang siap pakai di dalam dunia kerja.
Politeknik merupakan lembaga pendidikan yang misinya mencetak
tenaga ahli keindustrian tingkat pengelola menengah maupun untuk
kerja mandiri (unsupervised job). Politeknik di Indonesia mulai
dirintis pada tanggal 6 Desember 1973 dengan didirikannya
Politeknik Mekanik Swiss Institut Teknologi Bandung (PMS ITB)
sebagai realisasi perjanjian kerja sama teknik antara Pemerintah
Republik Indonesia dengan Pemerintah Swiss. Politeknik ini mulai
melaksanakan program pendidikannya pada bulan Januari 1976
dengan program Diploma III Politeknik.
Sejak tahun 1982 sampai sekarang telah didirikan 25 Politeknik
baru melalui bantuan kredit dan pinjaman dari Bank Dunia, ADB

serta bantuan teknik negara-negara Swiss, Jerman, Jepang, Australia


dan Selandia Baru, yaitu melalui program studi bidang Keahlian
Rekayasa, Pertanian, Tata Niaga dan Pariwisata.
1.1
POLITEKNIK DALAM SISTEM PENDIDIKAN TINGGI NASIONAL
Pemantapan konsep pendidikan Politeknik dalam sistem pendidikan
di
Indonesia
dilakukan
pada
tahun
1986
dengan
mempertimbangkan hasil Seminar 10 Tahun Pendidikan Politeknik
yang diselenggarakan ITB di Bandung tanggal 15 16 Desember
1986. Dengan ditulisnya Undang-Undang Republik Indonesia No. 2
tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional pada tanggal 27
Maret 1989, maka sebagai Satuan Pendidikan, Politeknik adalah
Perguruan Tinggi yang menyelenggarakan Pendidikan Profesional di
samping Perguruan Tinggi lain yang menyelenggarakan Pendidikan
Akademi dan/atau Profesional. Ilustrasi Jalur Pendidikan Profesional
di Indonesia dapat dilihat pada gambar 1.1.

Gambar 1.1 Jalur Pendidikan Akademis dan Profesional serta


relevansinya terhadap standar kompetensi keindustrian
Politeknik merupakan multi-dicipline school yang menyelenggarakan
pendidikan profesional pada sejumlah bidang pengetahuan/keahlian
khusus. Sebagai lembaga pendidikan profesional, politeknik
diharapkan dapat membangun kemitraan (link) dengan industri
secara saling menguntungkan dalam menyelenggarakan proses
pendidikannya, sehingga pendidikan politeknik selalu menghasilkan
tenaga ahli yang relevan (match) dengan dunia kerjanya. Dengan
demikian, politeknik dituntut untuk selalu mengikuti dan mengejar
kemajuan teknologi agar dapat memberikan pelayanan yang
optimal bagi industri di sekitarnya.
Sesuai dengan kecenderungan internasional serta dalam rangka
menyikapi Era Pasar Bebas Global, Politeknik perlu mengembangkan

@
@
@

dan mengamalkan wawasan kewirausahaannya (entrepreneurship)


dengan landasan ekonomi pasar, sehingga mampu menggerakan
dana masyarakat secara optimal, khususnya dari dunia usaha dan
industri. Selain itu, usaha yang dilakukan harus mampu untuk
memenuhi keperluan biaya operasional pendidikan yang cukup
besar supaya tidak memberatkan anggaran pemerintah yang masih
terbatas, serta untuk menjaga kelangsungan proses pendidikan
yang dilakukannya.
Sampai saat ini Politeknik Mekanik Swiss ITB, melalui SK
Mendikbud No. 0313/O/1991 tentang Penataan Politeknik Dalam
Lingkungan Universitas dan Institut Negeri, berubah namanya
menjadi Politeknik Manufaktur Bandung Institut Teknologi Bandung
(POLMAN) dengan tujuan pendidikan:
Politeknik Manufaktur Bandung Institut Teknologi Bandung yang
di sini disebutPOLMAN bertujuan melaksanakan pendidikan
profesional program Diploma dalam bidang pengerjaan logam dan
pemesinan di samping juga memberikan pelayanan kepada
lembaga / institusi lainnya, maupun kepada pihak industri (tertulis
dalam Peraturan Sekolah POLMAN pasal 1).
1.1
POLMAN
SEBAGAI
LEMBAGA
TRIDHARMA
PERGURUAN TINGGI
Sebagai lembaga pendidikan tinggi, POLMAN melaksanakan misinya
melalui pengembangan program-program dan penyelenggaraan
kegiatan fungsional berdasarkan Tridharma Perguruan Tinggi yang
meliputi:
Pendidikan
Penelitian
Pengabdian kepada masyarakat
Pendidikan yang dimaksud merupakan kegiatan dalam upaya
menghasilkan manusia terdidik yang memiliki kemampuan
akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan dan
mengembangkan IPTEK. Penelitian merupakan kegiatan dalam
upaya menghasilkan pengetahuan empirik, teori, konsep,
metodologi, model, atau informasi baru guna memperkaya IPTEK.
Sedangkan pengabdian kepada masyarakat merupakan kegiatan
yang memanfaatkan IPTEK dalam upaya memberikan sumbangan
demi kemajuan masyarakat.
Dalam
melaksanakan
pengembangan
program
dan
menyelenggarakan kegiatan fungsional perguruan tinggi, POLMAN
menerjemahkan Tridharma Perguruan Tinggi menjadi beberapa
aktifitas yang disingkat menjadi P3KR (Pendidikan, Pelatihan,
Produksi, Konsultasi dan Rekayasa). Proses penerjemahan tersebut
dapat dilihat pada gambar 1.2.

Gambar 1.2 Penerjemahan Tridharma Perguruan Tinggi menjadi


P3KR
Penerjemahan tersebut akan mempengaruhi struktur organisasi
yang terdapat di POLMAN, yang mana dapat memberi keleluasaan
untuk menyelenggarakan kegiatannya dengan tepat dan efisien.
Struktur organisasi POLMAN dibagi dalam 3 bagian utama, yaitu:
a)
Pusat yang berfungsi sebagai penarik.
b)
Divisi/jurusan yang berfungsi sebagai inti, serta menjadikan
segala aktifitas pendidikan dan produksi terlaksana.
c)
UPT, Unit dan Bagian berfungsi sebagai pendukung.
Fungsi utama Pusat adalah mengarahkan aktifitas pengembangan
dan pelayanan industri serta memberikan spesifikasi teknis yang
akan dilakukan oleh divisi/jurusan. Pusat merupakan sub-organisasi
matrik yang bekerja melalui tim pelaksana komisi & proyek yang
profesional dan berasal dari divisi/jurusan. Pusat dibagi menjadi tiga
bagian, yaitu:
Pusat Perencanaan Pengendalian dan Pengembangan
Akademik (P4A) yang memiliki fungsi merumuskan kurikulum,
silabus dan program pendidikan; administrasi akademik; inovasi
pendidikan dan pengembangannya.
Pusat Rekayasa dan Pengembangan Sistem (PRPS) yang
memiliki fungsi mengembangan produk yang meliputi rekayasa
produk dan pengembangan sistem manufaktur.
Pusat Pelayanan Masyarakat (PPM) memiliki fungsi sebagai
unit pelayanan masyarakat, dan berwenang untuk melakukan
analisis dan strategi pemasaran, pelayanan pelanggan dan
penjualan, perencanaan dan pengendalian pelaksanaan program
internal.
Divisi/jurusan sebagai inti organisasi dalam melakukan kegiatan
pendidikan, proses & produksi manufaktur dan pembuatan contoh
bentuk dasar produk (prototyping). Divisi memiliki fasilitas
penunjang yang memadai dan didukung oleh pelaksana yang
memiliki kualifikasi teknis tinggi. Jurusan adalah nama lain untuk
divisi dari sisi pendidikan, yang mana tugas utamanya melakukan
penerapan IPTEK dalam proses pendidikan, baik pembinaan dalam
segi kognitif, afektif maupun motorik yang diperlukan dalam setiap
tingkat kompetensinya. Istilah divisi digunakan dalam konteks
industri
sedangkan
jurusan
dalam
konteks
pendidikan.
Divisi/jurusan yang ada di POLMAN adalah:

@
@
@
@

@
@
@
@
@
@
@
@
@
@

Divisi/jurusan Teknik Mekanik


Divisi/jurusan Teknik Perancangan Manufaktur
Divisi/jurusan Teknik Otomasi Manufaktur & Mekatronik
Divisi/jurusan Pengecoran Logam
Unit, UPT dan Bagian memiliki fungsi sebagai pendukung organisasi
yang memberikan pelayanan dan dukungan terhadap semua
aktivitas yang dilakukan oleh Pusat ataupun Divisi/jurusan. Unit
yang ada dapat juga merupakan bagian dari pusat atau divisi. Unit
pendukung terdiri atas Bagian Keuangan, Unit Pelayanan Teknis
Logistik, Unit Pelayanan Teknis Pemeliharaan dan Perbaikan
Peralatan, Unit Kendali Mutu, Unit Pelayanan Teknis Multimedia,
Perpustakaan, Bagian Administrasi Umum dan Kepegawaian.
Hubungan antara struktur organisasi yang ada di POLMAN terhadap
fungsi kegiatan yang dilakukannya dapat dilihat pada gambar 1.3.

Gambar 1.3 Hubungan antara struktur organisasi dengan fungsi


kegiatan
Untuk mengamalkan Tridharma Perguruan Tinggi seperti yang
dijelaskan pada gambar di atas, maka POLMAN memiliki potensi
pelayanan produksi dan pelayanan jasa sebagai berikut:
Pembuatan dan perbaikan mould
Pembuatan dan perbaikan press tools
Pembuatan dan perbaikan jig & fixtures
Pembuatan dan perbaikan komponen mekanik
Pembuatan pola untuk pengecoran logam
Pembuatan mesin khusus
Pengecoran logam
Perbaikan, rekondisi dan retrofitting mesin perkakas
Pelatihan dalam teknologi manufaktur
Konsultasi pendidikan dan keteknikan
Pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi di POLMAN dilakukan
melalui struktur organisasi berikut:

Gambar 1.4 Struktur organisasi POLMAN


1.1
SISTEM PRODUCTION BASED EDUCATION (PBE)
1.4.1 LANDASAN PEMIKIRAN RELEVANSI
Pendidikan Tinggi sebagai bagian dari sistem Pendidikan Nasional
mempunyai tujuan umum sebagaimana tercantum dalam Pasal 2
Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1990, yaitu:
(1) menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang
memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat
menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu
pengetahuan, teknologi dan/atau kesenian; (2) mengembangkan
dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi dan/atau
kesenian
serta
mengupayakan
penggunaannya
untuk
meningkatkan taraf kehidupan masyarakat dan memperkaya
kebudayaan nasional.
Jalur pendidikan tinggi profesional ditujukan untuk menyiapkan
tenaga
kerja
yang
dapat
mengimplementasikan
dan
mentransformasikan teknologi dalam upaya menghasilkan produk
nyata dengan nilai ekonomis yang mengacu pada norma dan
standardisasi nasional maupun internasional. Jalur pendidikan
tersebut diperlukan pada lapangan pekerjaan yang spesifik,
sehingga lulusan yang dihasilkan dapat relevan dengan tuntutan
keahlian yang diinginkan oleh pasar atau lapangan pekerjaan.
Jalur pendidikan tinggi profesional memiliki empat tahap tingkat
program diploma (D I, D II, D III dan D IV) dan dua tahap tingkat
Spesialis (SP 1 dan SP 2). Jalur pendidikan tinggi profesional dan
jalur pendidikan tinggi akademis akan membangun keahlian
intelektual tetapi dengan penekanan yang berbeda. Jalur pendidikan
tinggi akademis pada tingkat kedua (S 2) dan ketiga (S 3) akan
memberikan prioritas pada keahlian intelektual. Jalur pendidikan
tinggi profesional pada tingkat Diploma III menekankan
keseimbangan diantara keahlian intelektual dan motorik.
Kebutuhan sumber daya manusia dikaitkan terhadap jalur

pendidikan dapat dilihat pada gambar 1.5.

Gambar 1.5 Piramida sumber daya manusia kebutuhan industri


Sebagai konsekuensi terhadap tuntutan relevansi luaran sistem
pendidikan dan kebutuhan tenaga industri, POLMAN mengarahkan
proses pendidikannya agar peserta didik mempunyai kesempatan
yang seluas-luasnya dalam mencapai kemampuan intelektual,
motorik dan etika industri yang diperlukan pada saat memasuki
dunia kerja. Oleh karenanya POLMAN membangun sistem
pendidikannya dalam beberapa tahap, yaitu:
Tahap I: Perioda 1976 1986
Lulusannya diharapkan mampu untuk menguasai pengetahuan dan
teknologi pada spesialisasinya dengan baik, sehingga timbul moto
Presisi Ciri Kami.
Tahap II: Perioda 1986 1996
Lulusannya diharapkan mampu menguasai pengetahuan dan
teknologi pada spesialisasinya, dan mampu menerapkannya dengan
benar. Mutu produk dalam batas spesifikasi teknis mulai
dikembangkan dalam proses pendidikan.
Tahap III: Perioda 1996 sekarang
Lulusannya diharapkan mampu menguasai pengetahuan dan
teknologi pada spesialisasinya, serta mampu menerapkan dengan
benar sehingga dapat menghasilkan produk yang kompetitif.
Sehingga timbul moto baru Presisi Ciri Kami, Mutu Andalan Kami
dan Teknologi Unggulan Kami.
Dari ketiga tahap pengembangan pendidikan tersebut, yang paling
mendasar adalah mengubah dari menguasai pengetahuan dan
teknologi menjadi mampu menerapkan dan mengembangkan
teknologi melalui customizing dengan ilmu pengetahuan yang
relevan serta membangun etika keindustrian melalui pengalaman
dalam sistem manufaktur. Yang pada tingkat Diploma III, proses
pendidikannya ditekankan pada pembangunan kompetensi produksi
manufaktur, sehingga pendidikannya disebut pendidikan berbasis

@
@
@
@

produksi (Production Based Education). Yang pada saat ini,


umumnya tenaga ahli lulusan Diploma III ditempatkan pada sektor
Produksi.
Melalui potensi dan peluang yang ada, POLMAN melakukan program
pendidikan berbasis produksi dalam 2 jenis, yaitu:
Industrial Based Learning Approach
Pendidikan dilakukan selama 3 semester pendidikan dan pelatihan
terstruktur, 2 semester di industri yang relevan, 1 semester
spesialisasi dalam sistem produksi POLMAN.
Production Based Learning Approach
Pendidikan dilakukan selama 6 semester pendidikan dan pelatihan
dalam sistem produksi POLMAN.
Oleh karena itu, sebagai konsekuensinya maka POLMAN:
Harus membangun kemitraan dengan industri, baik dalam
bentuk penyediaan tempat kerja lapangan maupun penyediaan
pesanan produksi.
Harus dapat membangun sistem produksi manufaktur dengan
IPTEK yang benar.
Menata profesionalisme SDM dan mengembangkannya sesuai
dengan perkembangan IPTEK.
Dituntut untuk meremajakan fasilitas dan teknologi sesuai
dengan perkembangan IPTEK.
Dituntut untuk membangun sistem manajemen berbasis
pendidikan dan manufaktur yang terbebas dari pemborosan.
1.4.1 RELEVANSI PENDIDIKAN TERHADAP DUNIA TENAGA KERJA
POLMAN mempunyai misi untuk mengembangkan secara strategis
dan menyiapkan sumber daya manusia yang siap pakai di industri,
khususnya dalam bidang teknologi manufaktur yang mampu
bersaing dalam pasar global melalui pembangunan dan
pengembangan pendidikan, rekayasa dan produksi. Ruang lingkup
tenaga kerja pada tingkat Diploma III adalah menjaga keseimbangan
keahlian intelektual dan keahlian motorik. Selain itu, lulusan tenaga
kerjanya diharapkan memiliki etika industri yang berhubungan
dengan waktu, kualitas, pelopor pengurangan pemborosan,
kepuasan pelanggan dan berusaha lebih baik. Keseimbangan
diantara keahlian intelektual dan keahlian motorik dapat dicapai
melalui pengajaran teori yang baik dan praktik yang tersruktur.
Sedangkan etika industri dapat dicapai melalui pengalaman kerja di
industri atau melakukan praktik dalam sistem produksi.
Untuk menghasilkan tenaga kerja yang siap pakai, POLMAN
berusaha untuk mendidik mahasiswa sesuai dengan hasil yang ingin
dicapai. Kombinasi dari berbagai faktor yang mempengaruhi tenaga
kerja yang akan dihasilkan harus dicermati secara seksama dan

@
@
@
@

diformulasikan dengan tepat. Faktor-faktor tersebut adalah:


Kecenderungan mengenai tuntutan tenaga kerja di masa yang
akan datang.
Jenis pesanan atau kontrak yang datang dari industri.
Teknologi manufaktur modern yang sedang berkembang.
Penelitian terapan/mengaplikasikan teori ke dalam dunia
nyata.
Dalam mencermati dan memformulasikan faktor-faktor tersebut,
POLMAN harus dapat mengelompokkan secara tegas dan jelas serta
menyatukan beberapa media yang ada sehingga dapat
menghasilkan tenaga kerja yang sesuai dengan tuntutan dunia
industri. Formulasi yang ditentukan tidak statis dan senantiasa
berubah seiring dengan perjalanan waktu. Oleh karenanya informasi
yang transparan dan sesuai dengan perkembangan harus dapat
diperoleh setiap saat dengan mudah. Informasi yang diperoleh
tersebut akan berfungsi sebagai alat acuan umpan balik yang akan
memberi suatu penilaian terhadap kegiatan yang sedang dilakukan.
Keberhasilan formula yang ditentukan akan diperoleh melalui
pengalaman yang tidak lepas dari pengaruh eksternal seperti
kebijaksanaan pemerintah dalam dunia pendidikan, serta industri
dalam memberikan bantuan secara langsung maupun tidak
langsung. Kedua hal tersebut ditekankan dan dijelaskan secara
tepat agar pada pelaksanaannya tidak menimbulkan distorsi atau
penyimpangan pada saat meraih tujuan yang ingin dicapai.
Hubungan diantara faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan
tenaga kerja ahli yang dihasilkan oleh POLMAN dapat dilihat pada
gambar 1.6.

Gambar 1.6 Relevansi sistem PBE terhadap pembentukan tenaga


kerja ahli
1.4.1 FAKTOR KETERBATASAN DANA DAN PARTISIPASI INDUSTRI

Seperti yang telah disebutkan pada penjelasan sebelumnya, bahwa


keberhasilan formula yang ditentukan akan diperoleh melalui
pengalaman yang tidak lepas dari pengaruh eksternal seperti
kebijaksanaan pemerintah dalam dunia pendidikan dan industri
dalam memberikan bantuan secara langsung maupun tidak
langsung. Secara ideal kedua faktor tersebut harus dipenuhi, tetapi
pada kenyataannya kedua faktor tersebut belum dapat dipenuhi
secara tepat dan menyeluruh. Untuk mencapai tujuan tersebut
diperlukan dana operasinal dan pemeliharaan yang besar untuk
melakukan kegiatannya. Dana tersebut digunakan untuk gaji
pegawai dan pengajar, material untuk latihan atau pendidikan,
peralatan dan perlengkapan yang dipakai serta biaya overhead
POLMAN. Bagaimanapun dana tersebut sangat vital dan pada
kondisi saat ini bantuan yang diperoleh dari dunia internasional
umumnya hanya dialokasikan untuk pengembangan karyawan atau
pengajar serta pendirian atau pengembangan bangunan.
Pada sekolah pemerintah, sumber dana berasal dari pemerintah dan
biaya pendidikan dibebankan kepada mahasiswa. Di Indonesia, dana
dari pemerintah dialokasikan untuk gaji pegawai negeri dan
pengoperasian serta pemeliharaan pendidikan, yang besarnya
dipengaruhi oleh jumlah mahasiswa setiap tahunnya. Biaya
pendidikan yang harus dibayar oleh orang tua mahasiswa
ditetapkan oleh pemerintah dan umumnya sangat rendah dan tidak
dapat mendukung secara penuh. Pada sekolah swasta, sumber dana
berasal dari yayasan sekolah yang bersangkutan dan biaya
pendidikan dibebankan kepada mahasiswa.
Kondisi tersebut akan mengakibatkan bahwa sekolah sebagai
tempat pendidikan merupakan pusat yang memerlukan biaya
dibandingkan pusat yang akan menghasilkan keuntungan melalui
kegiatan produksi yang dilakukan. Umumnya kondisi tersebut akan
terjadi pada suatu negara yang sedang mengembangkan
perekonomiannya, dan pemerintahan yang ada tidak memiliki cukup
dana untuk membiayai pendidikannya.
Selain itu, di negara kita belum terbiasa dan membudaya bahwa
suatu industri ikut aktif secara langsung memberikan bantuan dana
yang akan digunakan oleh sekolah yang bersangkutan untuk
pengembangan dan penelitian, ataupun memberikan bantuan
berupa fasilitas yang digunakan untuk mendidik siswanya.
Kesadaran bahwa industri turut bertanggung jawab terhadap lulusan
tenaga kerja yang akan dihasilkan oleh suatu sekolah belum
sepenuhnya dilakukan. Yang sering terjadi adalah bahwa setelah
sekolah menghasilkan lulusan tenaga kerja, maka industri-industri
yang ada akan berlomba untuk mendapatkan lulusan terbaiknya

tanpa menghiraukan bahwa sebenarnya industri memiliki tanggung


jawab juga untuk menghasilkan lulusan tenaga kerja.
Secara teoritis tujuan pendidikan tersebut tidak dapat dicapai
secara optimal, tetapi dengan kewajiban moral yang diterimanya
maka POLMAN harus berusaha mencari jalan lain agar tujuan
pendidikan tercapai.
Berdasarkan kondisi tersebut di atas maka timbul suatu pertanyaan,
dapatkah kita menemukan suatu cara sehingga lembaga pendidikan
yang bersangkutan dapat menghasilkan dana sendiri untuk
mengembangkan kegiatan perekonomiannya. Hal tersebut harus
dijawab agar tujuan pendidikan yang dilakukan dapat terlaksana
secara optimal.
1.4.2 PENERAPAN SISTEM PRODUCTION BASED EDUCATION (PBE)
Konsep utama penerapan sistem Production Based Education adalah
untuk memberikan arah dalam melaksanakan proses pendidikan
dengan pendekatan produksi yang sekaligus mengandung potensi
penyelesaian masalah yang telah dijelaskan pada bagian 1.4.3.
Panduan sebagai acuan pelaksanaan untuk menghasilkan tenaga
teknisi industri (D III) adalah kurikulum yang terdiri atas mata
pelajaran teori dan praktik. Umumnya teori dan praktik disusun
secara seragam dan berurutan untuk menghasilkan program yang
terstruktur dan baku. Pada pola yang berorientasi produksi, hanya
mata pelajaran teori yang dapat distrukturkan secara baku tetapi
tidak demikian halnya dengan praktik latihan. Praktik latihan
merupakan produk manufaktur yang diharapkan hasilnya baik untuk
dijual dan bersaing di pasar penjualan. Meskipun produk yang
dihasilkan menggantikan latihan yang terstruktur secara baku,
ruang lingkup keahlian dan tingkat pengetahuan yang didapat akan
diarahkan melalui kurikulum yang harus selalu dijaga mutunya.
Secara umum proses pendidikan dapat dijelaskan melalui gambar
1.7.

@
@

Gambar 1.7 Aliran proses pendidikan


Keterangan gambar aliran proses pendidikan:
Kompetensi standar meliputi pembentukan komisi pembuat
kurikulum (dilaksanakan oleh bagian pengembangan akademik) dan
mendefinisikan kompetensi standar (dilaksanakan oleh komisi
pembuat kurikulum).
Peninjauan kurikulum meliputi kegiatan peninjauan kurikulum
dan silabus yang dilaksanakan oleh komisi pembuat kurikulum.
Perencanaan
program
meliputi
pembuatan
program
pendidikan secara umum dan program semester yang dilaksanakan
oleh bagian pengembangan akademik beserta jurusan terkait.
Implementasi program meliputi pelaksanaan program yang
telah direncanakan dan pengujian/evaluasi secara berkala (jangka
waktu menengah) yang dilaksanakan oleh jurusan terkait.
Evaluasi akhir meliputi kegiatan evaluasi dan pengujian akhir
terhadap program yang telah direncanakan dan dilakukan oleh
divisi terkait.
Secara umum proses produksi dapat dijelaskan melalui gambar 1.8.

@
@

Gambar 1.8 Aliran proses produksi


Keterangan gambar aliran proses produksi:
Kebutuhan pemesan merupakan kegiatan mendefinisikan
kebutuhan pemesan berdasarkan aspek teknis dan non teknis dari
suatu produk. Pelaksanaannya dilakukan oleh bagian pemasaran
dan penjualan.
Analisa produk meliputi kegiatan analisis kemampuan teknik
yang dilakukan oleh POLMAN (dilaksanakan oleh setiap divisi
terkait); pembuatan rancangan untuk estimasi harga (dilaksanakan
oleh divisi perancangan); estimasi harga proses dan waktu
penyerahan pesanan (dilaksanakan oleh setiap divisi terkait);
perencanaan umum (dilaksanakan oleh perencana program/
kegiatan); menerbitkan penawaran harga (dilaksanakan oleh bagian
pemasaran dan penjualan).
Pembuatan kontrak ditandai melalui penerbitan purchase
order oleh pemesan.
Perencanaan kualitas hanya dilakukan untuk jenis produk baru
yang pertama kali dipesan ke POLMAN. Kegiatan yang dilakukan
meliputi pendefinisian kerja proyek (dilaksanakan oleh pusat
rekayasa); pembentukan tim proyek (dilaksanakan oleh pusat
rekayasa); mendefinisikan spesifikasi umum produk (dilaksanakan
oleh tim proyek); merencanakan kualitas dan mengendalikan proses
(dilaksanakan oleh tim proyek).
Perancangan meliputi kegiatan perancangan akhir, membuat
spesifikasi detail, menganalisa sifat produk, membuat gambar detail
yang seluruhnya dilaksanakan oleh divisi perancangan.
Perencanaan produksi meliputi kegiatan perencanaan material
dan membuat perencanaan aliran proses secara detail yang
dilakukan oleh setiap divisi terkait melalui shop floor control.

Pelaksanaan produksi meliputi kegiatan pemeriksaan dalam


proses dan pengendalian proses yang dilaksanakan oleh pelaksana
terkait pada setiap divisi.
Pemeriksaan kualitas meliputi kegiatan menganalisis dokumen
proses, memeriksa produk akhir dan membuat sertifikasi produk
yang dilakukan oleh bagian pemeriksa kualitas.
Penyimpanan lanjut meliputi kegiatan penyimpanan lanjut
produk siap kirim, menjaga produk dan melakukan pengepakan
yang dilaksanakan oleh bagian logistik.
Pengiriman merupakan kegiatan penyerahan produk pesanan
ke pemesan yang dilaksanakan oleh bagian logistik.
Kunci penentu keberhasilan Production Based Education adalah
sejauh mana penggabungan dilakukan secara bersamaan terhadap
sasaran/tujuan pendidikan yang berpedoman pada kompetensi
berdasarkan kurikulum serta jenis produk yang akan dibuat dan
bersaing di pasar bebas. Kedua aspek tersebut meliputi kegiatan
belajar & mengajar dan proses produksi yang saling mempengaruhi
satu dengan yang lainnya. Jika kita berbicara mengenai produk yang
akan dijumpai pada pasar penjualan, maka kita harus
mempertimbangkan dan mengikuti kaidah/pola pelaksanaan sesuai
yang diinginkan pasar tersebut, selain itu keberhasilan pencapaian
tujuan pendidikan harus tetap dijaga juga. Keberhasilan tersebut
hanya dapat dicapai jika penggabungan dilakukan secara optimal.
Apabila berhasil akan diperoleh hasil berupa lulusan tenaga kerja
yang profesional dan luaran produk berkualitas yang dapat dijual.
Gambar 1.9 menunjukkan metoda penggabungan diantara sistem
produksi dan pendidikan yang berlandaskan Production Based
Education.

Gambar 1.9 Penggabungan sistem produksi dan pendidikan di

POLMAN
Penggabungan sistem produksi dan pendidikan untuk memperoleh
keberhasilan sistem production based education akan dipengaruhi
oleh kemampuan pemilihan metoda dan pelaksanaan sistem PBE
untuk memadukan sistem produksi dan pendidikan (gambar 1.10).

@
@
@
@

Gambar 1.10 Aspek penentu keberhasilan PBE


Untuk dapat bersaing di pasar bebas maka produk yang dibuat
harus mampu memenuhi tuntutan pasar, seperti:
Kualitas produk yang akan dihasilkan sesuai dengan
kebutuhannya.
Biaya pembuatan produk yang seekonomis mungkin.
Ketepatan waktu dalam penyerahan produk ke pemesan.
Kepuasan pelayanan purna jual.
Untuk memenuhi semua tuntutan tersebut maka perlu dilakukan
pengembangan produk dan melakukan proses manufaktur dengan
benar, baik, aman dan optimal. Pengembangan produk yang
dilakukan meliputi perancangan dan perekayasaan. Sedangkan
pelaksanaan
sistem
manufaktur
meliputi
perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan dan pengendalian. Perlu ditegaskan
kembali bahwa keberhasilan hanya dapat dicapai jika aspek-aspek
yang mempengaruhinya dapat dilaksanakan sebaik mungkin, dan
melakukan penyesuaian antara sistem pendidikan dengan sistem
produksi yang ada.
Pada saat penggabungan dilakukan terhadap tujuan pendidikan dan
produksi maka akan dijumpai tiga kemungkinan tingkat kompetensi
sebagai berikut:
Kemungkinan pertama dijumpai jika produk pesanan
mempunyai tingkat kompleksitas di bawah tuntutan kurikulum.
Untuk mencapai tuntutan kompetensi maka produk standar
digunakan sebagai media pencapaian kompetensi tersebut.
Kemungkinan kedua dijumpai jika produk pesanan mempunyai
tingkat kompleksitas sedikit di atas tuntutan kurikulum. Untuk
mencapai tuntutan kompetensi maka dilakukan penyesuaian silabus
melalui supervisi yang memadai.

Kemungkinan ketiga dijumpai jika produk pesanan mempunyai


tingkat kompleksitas jauh di atas tuntutan kurikulum. Maka produk
standar dipakai sebagai media untuk mencapai kompetensi. Apabila
produk pesanan yang masuk sebagian besar mempunyai tingkat
kompleksitas jauh di atas tuntutan kurikulum, maka kompetensi
standar lulusan tidak relevan lagi, sehingga perlu penyesuaian
kurikulum. Untuk mencapai tuntutan kompetensi baru maka Pusat
melakukan pengkajian yang hasil kajiannya dapat dijadikan program
peningkatan kurikulum.
Ketiga kemungkinan tersebut dapat dijelaskan melalui gambar 1.11.

Gambar 1.11 Pencapaian target kompetensi


Tingkat kompetensi yang dijumpai pada suatu saat dapat dijadikan
acuan sebagai pedoman untuk membangun sistem pendidikan,
rekayasa dan produksi dalam menghasilkan tenaga kerja yang
profesional dan menghasilkan produk yang dapat bersaing di pasar
penjualan.
PENUTUP
Untuk menjalankan sistem tersebut maka kaidah-kaidah yang
berlaku secara nasional maupun internasional harus diberlakukan
dan diimplementasikan di dalam pelaksanaan pendidikan yang
dilakukan. Suatu hal yang menjadi persyaratan bahwa Penerapan
Standard
Pendidikan
dapat
diterapkan
secara
bertahap
menggunakan beberapa Standardisasi yang berlaku semisal: Badan
Akreditasi Nasional, Standard Nasional Indonesia, ISO 9001:2008.
Penulis telah melihat, terlibat didalamnya, dan merasakan bahwa
beberapa Institusi telah berhasil menerapkannya dengan kadar
penerapan dan penekanan yang berbeda-beda. Luaran yang
diperoleh adalah pencapaian kualitas tenaga kerja yang profesional
dan produk yang berkualitas, melalui pengembangan dan
penerapan sistem manufaktur yang terintegrasi dengan sistem

pendidikan yang ada. Sebagai pionir pelaksana PBE di Indonesia


adalah POLMAN-Bandung (dahulu: Politeknik Mekanik Swiss-ITB),
yang kemudian diikuti oleh POLMAN-Timah Bangka, dan Akademi
Teknik Soroako (dahulu: Inco Sumitomo Training Center). Beberapa
Institusi lainnya bahkan telah melakukan penerapan model tersebut
seperti: POLMAN-Astra, Akademi Teknik Mesin Indonesia, dan
beberapa Institusi Pendidikan lainnya, tentunya dalam bentuk
berbeda yang disesuaikan dengan lingkungan geografis dan kultur
masyarakat yang ada. Sebagai pencetus awal sistem tersebut di
Indonesia diinisiasi oleh Direktur Pertama POLMAN-Bandung (dahulu
PMS-ITB), yaitu Bapak Ir. Hadi Waratama, Msc., yang sekaligus
sebagai Bapak Politeknik di Indonesia.
Akhir kata, perlu kita fahami skematik pendidikan jalur frofesional
seperti yang dicantumkan pada gambar berikut:

Skematik jalur pendidikan profesional


Penulis: