Anda di halaman 1dari 163

MENGENAL SUKU BADUY

TEMPAT KERAMAT SUKU BADUY


Suku Baduy adalah kelompok kehidupan yang begitu patuh pada adat, ritual
dan agama yang mereka anut. Nama masyarakat Baduy sebenarnya adalahURANG
KENEKES. Mereka adalah suku bangsa Indonesia yang bertempat tinggal di
Pegunungan Kendeng Kabupaten Lebak (Jawa Barat). Nama Baduy sendiri diambil
dari nama sungai yang melewati wilayah itu yaitu Sungai Cibaduy.
Mereka adalah keturunan Raja Pajajaran yang menolak agama baru yang
masuk dibawa oleh Sunan Gunung Jati di abad 15 dan 16 yaitu agama Islam. Untuk
menghindari perang, para punggawa dan senopati Pajajaran yang menolak Sunan
Gunung Jati masuk hutan. Mereka memilih daerah perbukitan di kaki gunung
Sanggabuana, 1000 mdpl di Banten Selatan. Mereka menolak masuk Islam dan
menolak jadi pengikut Sunan Gunung Jati. Di sana mereka terus mengembangkan
agama lama mereka di dalam belantara yang sulit diterobos.
Orang Baduy pertama-tama memuja lelembut, yaitu roh halus, roh gaib yang
dianggap sebagai nenek moyang pemberi hidup dan mati. Roh itu adalah yang

menjiwai

segala-galanya.

Sebagai

pemegang

kekuasaan

tunggal

yang

disebut Batara Tunggal. Tempat kediaman lelembut adalah di dekat mata air sungai
Ciujung dan Sungai

Cisemet.

Tempat

keramat

tersebut

dipuja-puja

dan

dinamakan Arca Domas. Tempat pemujaan ini hingga sekarang sangat terlarang
bagi orang luar.
Masyarakat Kanekes mempunyai objek pemujaan penting yang lokasinya
dirahasiakan dan hanya ketua adat tertinggi beserta rombongan terpilihnya yang bisa
pergi kesana setiap setahun sekali di bulan kelima. Nama objek pemujaan tersebut
adalah Arca Domas. Arca ini memiliki batu lumping yang menjadi petunjuk apakah
panen mereka akan berhasil atau gagal.
Orang Baduy hidupnya sangat terisolasi dan jauh dari pergaulan umum. Hanya
pada waktu-waktu mendesak dan sangat terpaksa barulah mereka keluar wilayah.
Itupun dilakukan dengan sangat segan. Para wanita dan anak-anak tidak
diperkenankan oleh adat untuk ke luar daerah Baduy. Pemimpin pemerintahan dan
keagamaan disebut Girang Puun yang sangat ditakuti. Selain disegani karenaSuku
Baduy dibagi dua kelompok, yaitu Urang Kejeroan dan Urang Panamping. Urang
Kejeroan adalah Baduy Dalam, mereka yang menempati tanah keramat di daerah
Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Sedangkan Urang Panamping adalah Baduy
yang menempati di luar tanah keramat yaitu di daerah Ciboleger dan Kaduketer, dan
mereka dianggap Baduy yang derajatnya lebih rendah yang disebabkan melanggar
aturan-aturan adat.
Peraturan menetapkan, bahwa di tanah keramat itu selalu harus berdiam 40
kepala keluarga. Jika lebih, kelebihannya itu disuruh ke luar, yaitu menjadi warga
Baduy Luar. kewibawaan dan kharismanya, tapi juga dihormati karena dianggap
sebagai orang sakti madraguna. Girang Puun bisa mengobati segala macam
penyakit dan mampu menyelesaikan persoalan seberat apapun. Komandonya
adalah garis tegas yang tak boleh terbelokkan oleh siapapun. Tapi dia adalah
pemimpin

yang

adil,

PENGARUH LUAR TERHADAP SUKU BADUY

bijak

dan

bestari.

Keunikan suku Baduy yang masih tetap bertahan sampai sekarang adalah
ketiadaannya teknologi dan modernisasi dalam hal sekecil apapun. Para
penduduknya tidak mengenal pendidikan, benda telekomunikasi, listrik, bahkan alas
kaki. Meskipun begitu, para penduduknya tergolong pintar dalam bertahan hidup dan
berkreasi dalam pemenuhan kebutuhan sehari-hari.
Meskipun anti teknologi, namun ikatan masyarakat Baduy terhadap penduduk luar
sangatlah erat dan tetap bersifat kekeluargaan, tidak ada isolasi yang membuat
mereka terasing. Hal ini juga yang membuat rutinnya kegiatan Seba di masyarakat
Baduy, yaitu kegiatan yang diadakan setahun sekali untuk mengantarkan hasil bumi
kepada Gubernur Banten. Orang Baduy juga biasa berkelana ke kota besar di sekitar
mereka untuk berjualan dan hanya ditempuh dengan jalan kaki hingga berkilo-kilo
meter. Dulu para orang Baduy hanya menggunakan sistem barter dalam memenuhi
kebutuhan mereka, namun sekarang beberapa penduduknya telah menggunakan
uang rupiah untuk berjualan.
Perkampungan masyarakat Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran
sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng - Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km
sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Provinsi
Banten. Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Provinsi
Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak
terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai
tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas
komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar,
melalui kunjungan.

PENDAHULUAN
ETIMOLOGI
Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada
kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti

yang agaknya

mempersamakan mereka dengan kelompok yang merupakan masyarakat yang berpindahpindah (nomaden) seperti halnya suku bangsa Arab yang memiliki nama hampir sama juga,
yaitu suku Badui. Konon katanya, sebutan baduy diberikan oleh pemerintahan kesultanan
Banten ketika itu terhadap masyarakat asli banten yang enggan untuk menerima ajaran
islam seperti halnya suku badui di masa nabi Muhammad Saw. Dan atas sikap penolakan
mereka terhadap islam, sehingga mereka diasingkan ke daerah pedalaman.
Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada
di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagaiurang
Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang
mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).
WILAYAH
Banten merupakan sebuah provinsi di sebelah barat Pulau Jawa memiliki moto
Iman Taqwa. Moto ini mengartikan bahwa seluruh masyarakat Banten adalah orang-orang
yang memiliki agama atau kepercayaan yang kuat dan mendominasi hampir seluruh
kehidupan mereka. Ibu kota Banten adalah Serang. Hari jadi provinsi Banten adalah 4
Oktober 2000. Titik koordinat wilayah Banten adalah 5 7' 50" - 7 1' 11" LS dan 105 1' 11" 106 '12" BT.
Untuk saat ini pemerintahan Provinsi banten dipimpin oleh Gubernur Hj. Ratu Atut
Chosiyah. Luas wilayah Banten sesuai dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
23 tahun 2000 adalah 9.160,70 km2, dengan Populasi 10.644.030 jiwa, dan kepadatan
1.161,9/km.
Demografi Banten sendiri terdiri dari Suku bangsa Banten dengan presentase
sebesar 47% dari jumlah penduduk, Sunda dengan presentase sebesar 23% dari jumlah
penduduk, dengan presentase sebesar Jawa 12% dari jumlah penduduk, dengan presentase
sebesar Betawi 9,62% dari jumlah penduduk, Tionghoa dengan presentase sebesar 1,1%
dari jumlah penduduk, Batak dengan presentase sebesar 0,93% dari jumlah penduduk,
Minangkabau dengan presentase sebesar 0,81%, dari jumlah penduduk Lain-lain dengan
presentase sebesar 54% dari jumlah penduduk. Mereka berbahasa Sunda, Jawa Banten,
Indonesia, dan Betawi. Dan kebanyakan mereka memeluk agama Islam, karena hampir

96,6% jumlah presentase pemeluk agama islam. Sedangkan yang beragama Kristen 1,2%,
Katolik 1%, Buddha 0,7%, dan Hindu 0,4%.
Wilayah laut Banten merupakan salah satu jalur laut potensial selain karena batas
daerahnya. Batas daerah Banten sebelah utara adalah Laut Jawa, yang dikenal dengan
potensi perikanan yang cukup bagus bagi Jawa. Kemudian sebelah Barat berbatasan
dengan Selat Sunda, yang merupakan merupakan salah satu jalur lalu lintas laut yang
strategis karena dapat dilalui kapal besar yang menghubungkan Australia dan Selandia Baru
dengan kawasan Asia Tenggara misalnya Thailand, Malaysia, dan Singapura. Disebelah
selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia, yang berpotensi untuk memperkaya mata
pencarian penduduknya, dengan berlayar mencari ikan besar. Dan yang terakhir di sebelah
timur, yang berbatasan dengan DKI Jakarta dan Jawa Barat.
Di samping itu Banten merupakan jalur penghubung antara Jawa dan Sumatera. Bila
dikaitkan posisi geografis dan pemerintahan maka wilayah Banten terutama daerah
Tangerang raya (Kota Tangerang, Kabupaten Tangerang, dan Kota Tangerang selatan)
merupakan wilayah penyangga bagi Jakarta. Secara ekonomi wilayah Banten memiliki
banyak industri. Wilayah Provinsi Banten juga memiliki beberapa pelabuhan laut yang
dikembangkan sebagai antisipasi untuk menampung kelebihan kapasitas dari pelabuhan laut
di Jakarta dan ditujukan untuk menjadi pelabuhan alternatif selain Singapura.
Iklim Banten sendiri adalah Iklim Tropis. Daerah Banten terbagi menjadi 8 daerah
kabupaten/kota. Diantaranya adalah Kota Tangerang Selatan, Ciputat, Kota Cilegon, Kota
Serang, Kota Tangerang, Kabupaten Pandeglang , Kabupaten Lebak, Kabupaten Serang,
dan Kabupaten Tangerang.
Di Provinsi Banten terdapat suku asli, yaitu Suku Baduy. Suku Baduy Dalam
merupakan suku asli Sunda Banten yang masih menjaga tradisi anti modernisasi, baik cara
berpakaian maupun pola hidup lainnya. Perkampungan masyarakat Baduy umumnya
terletak di daerah aliran Sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng. Daerah ini dikenal sebagai
wilayah tanah titipan dari nenek moyang, yang harus dipelihara dan dijaga baik-baik, tidak
boleh dirusak. Masyarakat Baduy memiliki tanah adat kurang lebih sekitar 5.108 hektar yang
terletak di Pegunungan Keundeng. Mereka memiliki prinsip hidup cinta damai, tidak mau
berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat.
Kadang kala suku Baduy juga menyebut dirinya sebagai orang Kanekes, karena
berada

di

Desa

Kanekes.

Mereka

berada

di

wilayah

Kecamatan

Leuwidamar.

Perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di


Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta dan 65 km
sebelah selatan ibu kota Serang.

SEJARAH SUKU BADUY


Menurut kepercayaan warga sejarah suku baduy dalam berasal dari Batara Cikal,
yaitu salah satu dari tujuh dewa yang di turunkan ke bumi. Batara cikal memiliki
peran untuk mengatur keseimbangan di bumi. Versi ini hampir sama persis dengan
cerita di turunkannya nabi Adam, sebagai makhluk pertama dan memiliki tugas untuk
mengelola bumi. Suku baduy pun percaya bahwa mereka adalah keturunan nabi
Adam
1. Sejarah Suku Baduy Dalam Menurut Ahli Sejarah
Sedangkan pada versi yang lain, para ahli sejarah memiliki pendapat sendiri terkait
sejarah suku baduy. Pendapat mereka berdasar pada temuan prasasti sejarah,
kemudian di telusuri pula melalui catatan para pelaut dari Portugis dan Tiongkok
serta di hubungkan dengan cerita rakyat tentang Tatar Sunda. Meskipun pada
kenytaannya, cerita mengenai Tatar Sunda ini sangan sedikit sekali referensinya.
Menurut ahli sejarah, masyarakat baduy (kanekes) memiliki kaitan dengan kerajaan
Pajajaran (saat ini wilayah Bogor). Yang di ketahui, Pajajaran ada sekitar di abad ke16. Pada saat dimana kerajaan atau kesultanan Banten belum berdiri, wilayah yang
kemudian menjadi kesultanan Banten, ialah daerah yang sangat penting dan
memiliki peranan yang signifikan. Saat itu, Banten masih menjadi bagian dari wilayah
kerajaan Sunda. Banten berfungsi sebagai pelabuhan yang memang terkenal besar.
Di banten terdapat sungat Ciujung yang berfungsi sebagai pelabuhan dan bisa di
lewati beragam jenis perahu. Sungai ini menjadi lalu lintas angkutan barang-barang
hasil pertanian dari wilayah pedalaman. Pangeran Pucuk, penguasa saat itu merasa
perlu untuk melestarikan dan menjaga wilayah tersebut, terutama terkait kelestarian
sungainya. Wilayah itu di kenal dengan nama Gunung Kendeng.

Karena alasan itu, pangeran pucuk memerintahkan pasukan prajurit pilihan untuk
menjaga kelestarian Gunung Kendeng-Sungai Ciujung. Mereka tinggal dan bertugas
sebagai penjaga wilayah tersebut. Maka, dengan adanya pasukan kerajaan tersebut,
lambat laun kehidupan mulai berjalan normal. Jadi bisa di simpulkan bahwa sejarah
suku Baduy dalam dan yang hari ini kita kenal adalah berasal dari pasukan yang di
utus oleh Pangeran Pucuk yang bertugas melestarikan sungai Ciujung gunung
Kendeng. Pada masanya, suku baduy menutup identitas mereka terhadap orang
luar. Karena di khawatirkan akan di ketahui oleh musuh-musuh kerajaan Pajajaran.
2. Sejarah Suku Baduy Dalam Versi Van Tricht
Versi ketiga tekait sejarah suku baduy dalam ialah dari dokter Van Tricht yang
berkunjung ke Baduy di tahun 1982 kemudian mengadakan penelitian terkait
kesehatan masyarakat disana. Van Tricht tidak mengakui kedua pendapat diatas, ia
memiliki pendapat sendiri mengenai sejarah suku baduy dalam dan ia mengatakan
bahwa masyarakata Baduy sudah ada sejak lama disana dan merupakan
masyarakat asli sana. Menurut Van Tricht masyarkat baduy terutama warga
masyarakat suku baduy dalam memiliki sifat yang menolak keras dan tidak bisa
mengadopsi kebudayaan luar. Selain itu, menurutnya masyarakat baduy dalam
sangat mempertahankan kebudayaannya. Itu terbukti suku baduy dalam masih
sangat ketat untuk mempertahankan kebudayaan nenek moyang mereka.
Pendapat Van tricht terkait sejarah suku baduy dalam ini sejalan dengan pendapat
Danasasmita dan Djatisunda (1986:4-5). Menurut dua ahli ini saat itu raja yang
berkuasa di wilayah sekitar Baduy adalah Rakeyan Darmasiska, raja ini
memerintahkan masyarakat Baduy yang memang sudah tinggal disana dari dahulu
untuk memelihara Kabuyutan (tempat pemujaan nenek moyang). Menjadikan
kawasan tersebut sebagai Mandala atau kawaan suci. Masyarakatnya sendiri di
kenal memiliki kepercayaan Sunda Wiwitan (wiwitan:asli,pokok). Sampai sekarang
pun masyarakat baduy masih memegang teguh kepercayaan tersebut.

BAHASA DAN KEPERCAYAAN


a)

Bahasa

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek SundaBanten. Untuk
berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa
Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah.
Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat,
kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan
lisan saja.
Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan
dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun
fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era
Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara hidup
mereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang Kanekes
masih menolak usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang Kanekes
tidak dapat membaca atau menulis.
b)

Kepercayaan

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar


pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (Animisme) yang pada perkembangan
selanjutnya juga dipengaruhi oleh Agama Buddha, Hindu, . Inti kepercayaan tersebut
ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut dalam
kehidupan sehari-hari orang Kanekes (Garna, 1993). Isi terpenting dari pikukuh
(kepatuhan) Kanekes tersebut adalah konsep tanpa perubahan apa pun, atau
perubahan sesedikit mungkin:
Lojor heunteu beunang dipotong, pndk heunteu beunang disambung.

(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)
Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di
bidang, Pertanian bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur
lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah
lahan dengan Bajak, tidak membuat Terasering (halaman belum tersedia), hanya
menanam dengan Tugal (halaman belum tersedia), yaitu sepotong Bambu yang
diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur permukaan tanah dibiarkan
apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes seringkali tidak sama
panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos, tanpa basa-basi, bahkan
dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.
Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang
lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi
lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima, yang
pada tahun 2003 bertepatan dengan bulan Juli. Hanya Puun atau ketua adat
tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih saja yang mengikuti rombongan
pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas tersebut terdapat batu lumpang yang
menyimpan air hujan. Apabila pada saat pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut
ada dalam keadaan penuh air yang jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu
merupakan pertanda bahwa hujan pada tahun tersebut akan banyak turun, dan
panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila batu lumpang kering atau berair
keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen (Permana, 2003a).
Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan
yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan
masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

PEMBAGIAN MASYARAKAT SUKU BADUY


Masyarakat suku Baduy sendiri terbagi dalam tiga kelompok. Kelompok terbesar
disebut dengan Baduy Luar atau Urang Panamping yang tinggal disebelah utara
Kanekes. Mereka berjumlah sekitar 7 ribuan yang menempati 28 kampung dan 8
anak kampung. Mereka tinggal di desa Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh,
Cisagu, yang mengelilingi wilayah baduy dalam. Masyarakat Baduy Luar berciri khas
mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Suku Baduy Luar biasanya
sudah banyak berbaur dengan masyarakat Sunda lainnya. selain itu mereka juga
sudah mengenal kebudayaan luar, seperti bersekolah.
Sementara di bagian selatannya dihuni masyarakat Baduy Dalam atau Urang
Dangka. Diperkirakan mereka berjumlah 800an orang yang tersebar di Kampung
Cikeusik, Cibeo dan Cikartawana. Kelompok tangtu (baduy dalam). Suku Baduy
Dalam tinggal di pedalaman hutan dan masih terisolir dan belum masuk kebudayaan
luar. Memiliki kepala adat yang membuat peraturan-peraturan yang harus dipatuhi
biasa disebut Puun. Orang Baduy dalam tinggal di 3 kampung,yaitu Cibeo,
Cikartawana, dan Cikeusik.
Kelompok Baduy Dangka, mereka tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini
tinggal 2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh
(Cihandam). Kedua kelompok ini memang memiliki ciri yang beda. Bila Baduy Dalam
menyebut Baduy Luar dengan sebutan Urang Kaluaran, sebaliknya Badui Luar
menyebut Badui Dalam dengan panggilan Urang Girang atau Urang Kejeroan. Ciri
lainnya, pakaian yang biasa dikenakan Baduy Dalam lebih didominasi berwarna
putih-putih. Sedangkan, Baduy Luar lebih banyak mengenakan pakaian hitam
dengan ikat kepala bercorak batik warna biru.
Masyarakat Baduy sangat taat pada pimpinan yang tertinggi yang disebut Puun.
Puun ini bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan kehidupan

masyarakat yang menganut ajaran Sunda Wiwitan peninggalan nenek moyangnya.


Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun, yang tidak boleh
meninggalkan kampungnya. Pucuk pimpinan adat dipimpin oleh Puun Tri Tunggal,
yaitu Puun Sadi di Kampung Cikeusik, Puun Janteu di Kampung Cibeo dan Puun
Kiteu di Cikartawana. Sedangkan wakilnya pimpinan adat ini disebut Jaro Tangtu
yang berfungsi sebagai juru bicara dengan pemerintahan desa, pemerintah daerah
atau pemerintah pusat. Di Baduy Luar sendiri mengenal sistem pemerintahan kepala
desa yang disebut Jaro Pamerentah yang dibantu Jaro Tanggungan, Tanggungan
dan Baris Kokolot.
MATA PENCAHARIAN
Mata pencarian masyarakat Baduy yang paling utama adalah bercocok tanam padi
huma dan berkebun serta membuat kerajinan koja atau tas dari kulit kayu, mengolah
gula aren, tenun dan sebagian kecil telah mengenal berdagang. Kepercayaan yang
dianut masyarakat Kanekes adalah Sunda Wiwitan.didalam baduy dalam, Ada
semacam ketentuan tidak tertulis bahwa ras keturunan Mongoloid, Negroid dan
Kaukasoid tidak boleh masuk ke wilayah Baduy Dalam. Jika semua ketentuan adat
ini di langgar maka akan kena getahnya yang disebut kuwalat atau pamali adalah
suku Baduy sendiri.
Adapun sebutan siku Baduy menurut cerita adalah asalnya dari kata Badui, yakni
sebutan dari golongan/ kaum Islam yang maksudnya karena suku itu tidak mau
mengikuti dan taat kepada ajaran agama Islam, sedangkan disaudi Arabia golongan
yang seperti itu disebut Badui maksudnya golongan yang membangkang tidak mau
tunduk dan sulit di atur sehingga dari sebutan Badui inilah menjadi sebutan Suku
Baduy.
Konon pada sekitar abad ke XI dan XII Kerajaan Pajajaran menguasai seluruh tanah
Pasundan yakni dari Banten, Bogor, priangan samapai ke wilayah Cirebon, pada
waktu itu yang menjadi Rajanya adalah PRABU BRAMAIYA MAISATANDRAMAN
dengan gelar PRABU SILIWANGI.

Kemudian pada sekitar abad ke XV dengan masuknya ajaran Agama Islam yang
dikembangkan oleh saudagar-saudagar Gujarat dari Saudi Arabia dan Wali Songo
dalam hal ini adalah SUNAN GUNUNG JATI dari Cirebon, dari mulai Pantai Utara
sampai ke selatan daerah Banten, sehingga kekuasaan Raja semakin terjepit dan
rapuh dikarenakan rakyatnya banyak yang memasuki agama Islam. Akhirnya raja
beserta senopati dan para ponggawa yang masih setia meninggalkan keraan masuk
hutan belantara kearah selatan dan mengikuti Hulu sungai, mereka meninggalkan
tempat asalnya dengan tekad seperti yang diucapkan pada pantun upacara Suku
Baduy Jauh teu puguh nu dijugjug, leumpang teu puguhnu diteang , malipir dina
gawir, nyalindung dina gunung, mending keneh lara jeung wiring tibatan kudu
ngayonan perang jeung paduduluran nu saturunan atawa jeung baraya nu masih
keneh sa wangatua
Artinya : jauh tidak menentu yang tuju ( Jugjug ),berjalan tanpa ada tujuan, berjalan
ditepi tebing, berlindung dibalik gunung, lebih baik malu dan hina dari pada harus
berperang dengan sanak saudara ataupun keluarga yang masih satu turunan Suku
baduy masih setia dengan adat istiadatnya yang menjalani kehidupan seperti
leluhurnya. Tak heran, jika orang Baduy Dalam hingga kini tetap pantang
menggunakan sabun, menumpang mobil atau mengendarai sepeda motor. Bahkan
tak pernah bersepatu. Jika bepergian ke Jakarta misalnya, mereka tempuh dengan
berjalan kaki selama tiga hari tiga malam. Daftar pantangan tabu bagi mereka masih
berderet: Tak bersekolah, menggunakan kaca, menggunakan paku besi, pantang
mengkonsumsi alkohol dan berternak binatang yberkaki empat, dan masih banyak
lagi.
Prinsip kearifan yang dipatuhi secara turun temurun oleh masyarakat Baduy ini
membuat mereka tampil sebagai sebuah masyarakat yang mandiri, baik secara
sosial maupun secara ekonomi. Karena itu, ketika badai krisis keuangan global
melanda dunia, dan merontokkan pertahanan ekonomi kita di awal tahun milennium
ini, suku Baduy terbebas dari kesulitan itu. Hal itu berkat kemandirian mereka yang
diterapkan dalam prinsip hidup sehari-hari.

Orang Baduy tak saja mandiri dalam memenuhi kebutuhan sandang, pangan, dan
papan. Mereka tak membeli beras, tapi menanam sendiri. Mereka tak membeli baju,
tapi menenun kain sendiri.. Kayu sebagai bahan pembuat rumah pun mereka tebang
di hutan mereka, yang keutuhan dan kelestariannya tetap terjaga. Dari 5.136,8
hektar kawasan hutan di Baduy, sekitar 3.000 hektar hutan dipertahankan untuk
menjaga 120 titik mata air, kata Jaro Dainah, kepala pemerintahan (jaro
pamarentah) suku Baduy.
Kemandirian mereka dari hasrat mengonsumsi sebagaimana layaknya orang kota,
antara lain tampak pada beberapa hal lainnya. Untuk penerangan, mereka tak
menggunakan listrik. Dalam bercocok tanam, mereka tak menggunakan pupuk
buatan pabrik. Mereka juga membangun dan memenuhi sendiri kebutuhan untuk
pembangunan insfrasuktur seperti jalan desa, lumbung padi, dan sebagainya.
Orang tak bisa menuding begitu saja, bahwa suku Baduy Dalam terbelakang.
Ternyata, mereka menguasai teknik pertanian dan bercocok tanam dengan baik,
sembari tetap menjaga kelestarian lingkungan. Mereka memang tak bersekolah.
Belajar di ladang dan menimba kearifan hidup di alam terbuka adalah sekolah
mereka, tutur Boedihartono, antropolog dari Universitas Indonesia, yang pernah
meneliti suku Baduy selama beberapa tahun. Yang amat menggembirakan, tingkah
laku yang meneladani moralitas utama, menjadi acuan utama bagi kepribadian dan
perilaku orang Baduy dalam kehidupan mereka sehari-hari. Perkataan dan tindakan
mereka pun polos, jujur tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak
melakukan tawar-menawar. Karena itu, banyak merasa senang jika berurusan
dengan orang Baduy karena mereka pantang merugikan orang lain, ujarnya lagi.
Untuk menjaga kemurnian adat dari pencemaran budaya luar yang dibawa para
wisatawan dalam mengunjungi kawasan pemukiman kaum Baduy, sesekali jaro
(kepala desa) Baduy Dalam melakukan sidak ke desa Baduy Luar. Itu untuk meneliti
apakah ada benda-benda yang bisa melunturkan kepercayaan mereka. Mereka
kadang menyita radio yang dianggap melunturkan kepercayaan adat mereka.
Selama ini, tanpa bunyi sepeda motor, radio, televisi dan mesin apa saja apa saja

yang menimbulkan asap dan bunyi-bunyian, maka desa-desa Baduy adalah titik
tenang. Bunyi gemeletak alat penenun menjadi irama lembut yang menemani
keheningan alam di sana.
Akan tetapi, amatlah sukar menjaga keheningan tetap bertahan dalam dunia modern
yang serba hiruk pikuk ini. Misalnya kini, mulai tampak anak-anak Baduy yang
meninggalkan pakaian tradisional mereka, berupa kain tenunan tangan dengan
warna hitam dan putih, dengan memakai kaos ala seragam kesebelasan sepakbola
Italia yang berteriak dengan warna-warni meriah. Mereka yang selama ini
menabukan jual beli dan penggunaan uang, dengan menetapkan pola barter,
akhirnya mulai terlibat proses dagang.
ORANG BADUY MENJAGA ALIRAN SUNGAI
Kehadiran orang-orang Baduy di Gunung Kendeng di Banten selatan itu,
sesuai dengan urutan Pajajaran Raya, untuk mengelola kelangsungan aliran sungai
dari hulu ke bawah. Pada saat itu, sungai-sungai memainkan peran penting dalam
pertanian, selain menjadi sarana perdagangan dan transportasi di wilayah yang lebih
rendah-kursus Banten. The Baduy memiliki peran menjaga keseimbangan di wilayah
hulu, dan mempertahankan pembangunan ekonomi Kerajaan Pajajaran. The Baduy
yang tinggal di sekitar hulu sungai tidak diperbolehkan, tradisional, 'teu wasa',
mengganggu ekosistem, seperti untuk mengeksploitasi sawah atau menggali tanah
untuk kegiatan pertanian. Mereka menggunakan ungkapan: ... gunung teu meunang
dilebur, lebak teu meunang diruksak, gunung tidak dimusnahkan, lembah tidak
menjadi destruksi, jika tidak taat akan ada bencana besar pada kehidupan manusia.
Dalam melaksanakan perintah kerajaan, mereka didukung oleh sistem politik
hierarkis dan kompleks tertentu, meskipun mereka egaliter dan menjaga solidaritas
sosial perusahaan. Sistem stratifikasi pertahanan terikat oleh tangtu tilu 'tiga inti
kepemimpinan'. Hal ini juga disebut sistem ka-puun-ideologi yang terletak di tiga
desa: Cikeusik, Cibeo, dan Cikertawana di bawah bimbingan moral, etika, dan aturan
yang dinyatakan dalam nilai-nilai Sunda Wiwitan agama.

Sistem Ladang Padi Sebagai Mata Pencaharian Orang Baduy


Sistem ladang merupakan sistem pertanian yang paling primitif. Suatu sistem
peralihan dari tahap budaya pengumpul ke tahap budaya penanam. Munculnya
sistem atau pola berladang (ngahuma) merupakan suatu tahapan dalam evolusi
budaya manusia dari budaya berburu dan meramu ke budaya bercocok tanam
(Hardjasaputra, 2009). Pengolahan tanahnya sangat minimum, produktivitas
bergantung kepada ketersediaan lapisan humus yang ada, yang terjadi karena
sistem hutan. Sistem ini pada umumnya terdapat di daerah yang berpenduduk
sedikit dengan ketersediaan lahan tak terbatas. Tanaman yang diusahakan
umumnya tanaman pangan, seperti padi darat, jagung, atau umbi-umbian.
Di Indonesia sistem perladangan telah lama dan dipraktekkan di berbagai
wilayah pedesaan, khususnya di luar Jawa. Di luar Jawa praktek perladangan hampir
punah, kecuali masih ditemukan di beberapa tempat secara terbatas, misalnya di
daerah Sukabumi Selatan dan Banten Selatan. Pada masyarakat tertentu sistem
ladang masih dijalankan sampai saat ini sesuai dengan aturan atau adat istiadat
pada suatu masyarakat. Orang Baduy yang tinggal di pegunungan Kendeng, Banten
merupakan salah satunya yang sampai saat ini masih menjalankan dan menerapkan
sistem ladang. Orang Baduy masih memiliki dan menjalankan ajaran leluhur dengan
aturan-aturan yang berlaku untuk pedoman dalam kehidupan. Aturan tersebut

mencakup segala aspek kehidupan, dari sistem kepercayaan, mata pencaharian,


kehidupan sosial dan aturan-aturan tentang kehidupan sehari-hari. Selain contohcontoh di atas, aturan adat ini juga mencakup pengaturan tata guna lahan dan
sistem pertanian ladang berpindah (Iskandar, 2001). Wilayah mereka dibagi ke
dalam 3 zona berdasarkan struktur dan fungsinya yaitu zona pertama yang berupa
hutan kampung (leuweung lembur), zona kedua yang sebagian berupa lahan
pertanian intensif (huma), dan zona ketiga yang merupakan daerah hutan lindung
yang tidak boleh dibuka menjadi ladang (leuweung kolot atau leuweung titipan)
(Iskandar, 1992).
Berdasarkan pola mata pencaharian utama, masyarakat Indonesia dapat
dibagi ke dalam masyarakat pantai, masyarakat ladang, dan masyarakat sawah
(Wertheim, 1959). Berbeda dengan umumnya masyarakat pedesaan di Indonesia
yang bercocok tanam padi di sawah, orang Baduy sampai sekarang bercocok tanam
padi di ladang atau huma. Tradisi ini sangat dipegang teguh orang Baduy
berdasarkan buyut (larangan) yaitu tidak boleh merubah struktur tanah. Mata
pencaharian orang Baduy yang mayoritas berladang menurut Garna (1996a. 107:
108) adalah wujud kepercayaan masyarakat Baduy terhadap padi sebagai
perlambang Nyi Pohaci Sanghyang Asri yang harus ditanam sesuai ketentuanketentuan karuhun yaitu sebagaimana nenek moyang mereka menanam padi. Padi
ditanam di lahan kering, huma yang berada di luar dan di dalam desa, kecuali tidak
boleh ditanam di di hutan larangan yaitu hutan tua di wilayah Baduy Dalam. Dengan
penanaman padi di ladang sekali musim tanam tiap tahun mata pencaharian orang
Baduy merupakan salah satu bentuk subsisten yang tua usianya, mungkin sejak padi
dikenal di Jawa Barat. Padi tak boleh dijual itu ketentuan seluruh masyarakat Baduy.
Tetapi hasil hutan, buah-buahan dan tanaman di ladang yang lainnya boleh di jual
untuk memperoleh uang agar bisa membeli benang katun, ikan asin, rokok dan
tembakau (Garna, 1996a. 107: 108). Sesuai filosofi masyarakat Baduy yang
memandang

alam

adalah

bagian

dari

kehidupan

sehingga

harus

dijaga

keberadaannya maka mata pencaharian masyarakat Baduy adalah berladang atau


bercocok tanam di huma. Kegiatan berladang bagi orang Baduy sudah dilakukan
sejak dulu secara turun temurun.

Sistem pertanian ladang memiliki karakter khusus, yaitu menggarap lahan


pertanian secara berpindah-pindah di lahan hutan. Para peladang, menebang hutan
untuk ditanami tanaman padi dan tanaman lainnya secara singkat 1-2 tahun, lalu
lahan itu diistirahatkan atau diberakan dengan waktu cukup panjang, mulai tiga tahun
sampai puluhan tahun (Iskandar, 1992). Pada saat lahan diberakan, berlangsung
proses suksesi alami menuju terbentuknya hutan sekunder. Hutan sekunder tersebut
dapat dibuka kembali sebagai ladang, dan dengan demikian daur pemanfaatan lahan
untuk pertanian dimulai kembali. Berhuma bagi orang Baduy adalah kerja sama yang
erat antara pria dan wanita. Pada masa pertumbuhan padi tidaklah dibiarkan begitu
saja, tetapi pada tiga bulan pertama diurus dengan baik, melalui ngored
membersihkan rumput dengan alat kored yang dilakukan berkali-kali. Selain itu padi
diubaran atau diobati, campuran debu dapur dengan berbagai ramuan umbi sebagai
pencegah hama. Waktu tanam atau ngaseuk yang berlainan untuk berbagai jenis
huma

dan

pemukiman

penduduk

Baduy

adalah

salah

satu

cara

dalam

menghindarkan hama padi (Garna, 1996a: 63).


Orang Baduy menolak program Revolusi Hijau yang sangat marak melanda
petani sawah di Jawa di awal tahun 1970-an. Orang Baduy dalam mempertahankan
keberlanjutan sistem ladang secara dinamik melakukan strategi adaptasi, seperti

menjaga keseimbangan populasi penduduk dengan adanya penduduk yang


dikeluarkan dari Baduy Dalam ke Baduy Luar, terutama bagi penduduk Baduy Dalam
yang

melanggar adat. Kemudian bagi orang Baduy Luar melakukan strategi

adaptasi dengan berladang di luar daerah desa Kanekes mengintroduksi tanaman


albasiah, mengembangkan industri gula aren, dan terlibat dalam perdagangan aneka
ragam hasil non-padi dalam skala kecil. Program Revolusi Hijau yang lebih
menekankan

dan

dirancang

secara

homogen

(seragam),

sentralistis

dan

mengabaikan keragaman sistem ekologi, sosial dan budaya pada masyarakat lokal.
Program tersebut mengarahkan untuk penanaman varietas padi unggul, intensifikasi
penggunaan pupuk kimia sintesis, intensifikasi penggunaan pestisida, perbaikan tata
cara budidaya tanam padi, dan perbaikan pembangunan irigasi baru. Hal tersebut
sangat bertentangan dengan prinsip dan kepercayaan orang Baduy. Penduduk
Baduy menolak mengadopsi program Revolusi Hijau, karena dianggap tidak sesuai
dengan kondisi sistem biofisik (ekosistem) dan sistem sosial mereka. Menurut
pandangan mereka, daerahnya dianggap suci, tanah larangan, yang senantiasa
harus dipelihara, sesuai dengan pikukuh yang diwariskan oleh leluhur mereka secara
turun temurun. Berdasarkan pikukuh tersebut, di antaranya mereka dilarang
menggunakan pupuk kimia, pestisida, membongkar-bongkar (membajak) tanah, dan
meracuni satwa liar dan ikan.

Masyarakat

Baduy

menyimpan

hasil

panen

padi

huma

di

sebuah leuit, lumbung padi. Leuit dibangun di pinggiran tiap kampung. Setiap
keluarga memiliki leuit. Leuit adalah wujud pemahaman masyarakat Baduy tentang
ketahanan

pangan.

Kondisi

adanya leuit membuat

masyarakat

Baduy

tidak

kekurangan

bahan

pangan.

Selain

masyarakat

Baduy

akan

itu,

apabila

menggunakan kayu maka kayu yang akan dipakai adalah kayu kayu yang telah
kering dan tua. kayu bakar tersebut diperoleh dari pohon yang sudah dimakan rayap
atau batang pohon dan ranting yang jatuh terserak. Masyarakat Baduy tidak
menebang pohon untuk kayu bakar. Kearifan lokal ini menjadikan Baduy dan hutan
di sekitarnya hidup harmonis selama ratusan tahun.
Hutan merupakan kawasan yang menyatu dengan manusia sebagai
ekosistem. Selain itu hutan telah menjadi kawasan habitat manusia secara turun
temurun dan dari hutan tersebut manusia memperoleh sumber-sumber kehidupan
pokok (Sapardi, 1994:45). Persentuhan yang mendalam antara orang Baduy dengan
hutan, pada giliran melahirkan apa yang disebut dengan sistem perladangan, yakni
suatu bentuk model kearifan tradisional dalam pengelolaan hutan. Ukur (dalam
Widjono,1995:34), menjelaskan bahwa sistem perladangan merupakan salah satu
ciri pokok kebudayaan hal tersebut dapat dikatakan secara jelas bahwa orang Baduy
tidak bisa dilepas untuk berladang atas dasar pemahaman akar kebudayaan
leluhurnya.

Sistem Kepercayaan Orang Baduy (Provinsi Banten)


Dasar religi orang Baduy ialah penghoramatan ruh nenek moyang dan
kepercayaan kepada satu kuasa, Batara Tunggal. Keyakinan mereka itu disebut
Sunda Wiwitan atau agama Sunda Wiwitan. Orientasi, konsep-konsep dan kegiatankegiatan keagamaan ditujukan kepada pikukuh agar supaya orang hidup menurut
alur itu dalam menyejahterakan kehidupan Baduy dan dunia ramai (orang Baduy dari
hirarki tua dan dunia ramai keturunan yang lebih muda). Mereka bertugas
menyejahterakan dunia melalui tapa (perbuatan, bekerja) dan pikukuh apabila
Kanekes sebagai inti jagat selalu terbelihara baik, maka seluruh kehidupan akan
aman sejahtera. Gangguan terhadap inti bumi ini berakibat fatal bagi seluruh
kehidupan manusia di dunia. Konsep keagamaan dan adat terpenting yang menjadi
inti pikukuh Baduy tanpa perubahan apa pun, seperti dikemukakan oleh peribahasa
lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang disambung (panjang tak boleh
dipotong, pendek tak boleh disambung). Konsep-konsep itu tidak berada dalam diri
orang Baduy sendiri yang kekuatannya tergantung dari tindakan atau perbuatan
seseorang. Konsep pikukuh merupakan pengejawantahan dari adat dan keagamaan
yang ditentukan oleh intensitas konsep mengenai karya dan keagamaan. Dengan
melaksanakan semuanya itu orang akan dilindungi oleh kuasa tertinggi, Batara
Tunggal, melalui para guriang yang dikirim oleh karuhun dan Batara Tunggal karena
orang tidak patuh kepada pikukuh, hakikat agama Sunda Wiwitan.

Para puun itu bukan hanya pemimpin tertinggi tetapi keturunan karuhun, yang
langsung mewakili mereka di dunia. Ada beberapa konsep yang merupakan
kewajiban puun dalam rangka pikukuh, yaitu memelihara Sasaka Pusaka Buana;
memelihara Sasakan Domas atau Parahyang; mengasuh dan memelihara para
bangsawan/pejabat; bertapa bagi kesejahteraan dunia; berbakti kepada dewi padi
dengan berpuasa pada upacara, memuja nenek-moyang, dan membuat laksa untuk
bahan pokok seba (Garna 1988).

Nenek moyang orang Baduy dikategorikan dalam dua kelompok, yaitu nenek
moyang yang berasal dari masa para Batara dan masa para puun. Batara Tunggal
digambarkan dalam dua dimensi, sebagai suatu kuasa dan kekuatan yang tak
tampak tetapi berada di mana-mana, dan sebagai manusia biasa yang sakti. Dalam
dimensi sebagai manusia sakti, Batara Tunggal mempunyai keturunan tujuh orang
batara yang dikirimkan ke dunia di kabuyutan (tempat nenek-moyang), yaitu titik awal
bumi Sasaka Pusaka Buana. Mereka itu ialah Batara Cikal, yang diberitakan tidak
ada keturunannya, Batara Patanjala yang menurunkan tujuh tingkat batara ketiga,
yaitu (dari yang paling senior) Daleum Janggala, Daleum Lagondi, Daleum Putih
Seda Hurip, Dalam Cinangka, Daleum Sorana, Nini Hujung Galuh, dan Batara
Bungsu. Mereka itu yang menurunkan Bangsawan Sawidak Lima atau tujuh batara
asal, nenek moyang orang Baduy. Daleum Janggala adalah batara yang tertua, dan
yang menurunkan kerabat tangtu Cikeusing; Daleum Putih Seda Hurip menurunkan
kerabat kampung Cibeo. Para batara tingkat ketiga lain masing-masing menurunkan
jenis kerabat pemimpin lainnya.
Lima batara tingkat kedua, saudara-saudara muda Batara Pantajala, yaitu Batara
Wisawara, Batara Wishnu, Batara Brahmana, Batara Hyang Niskala, dan Batara
Mahadewa, menurunkan kelompok kerabat besar di luar Baduy yang disebut salawe
nagara (dua puluh lima negara), yang menunjukkan jumlah kerabat yang besar, dan
menurut pengetahuan orang Baduy adalah wilayah yang sangat luas di sebelah
Sungai Cihaliwung (Garna 1988). Kelompok kerabat itulah yang dianggap orang
Baduy keturunan yang lebih muda.
Dari ketujuh orang batara tingkat ketiga nenek-moyang orang Baduy itu tampak
bahwa hanya kerabat jaro dangka yang berasal dari garis keturunan perempuan.
Lainnya diturunkan melalui garis keturunan patrilineal. Para puun adalah keturunan
Batara Patanjala, dan sampai masa akhir abad ke-19 oleh Jacobs dan maijer dicatat
sudah terjadi 13 kali pergantian puun Sikeusik (1891: hlm. 13). Menurut catatan
tahun 1988, jumlah puun Cikeusik adalah 24 orang, dan yang terakhir adalah Puun
Sadi (Garna 1988).

Suatu konsep penting dalam religi orang Baduy ialah karuhun, yaitu generasigenerasi pendahulu yang sudah meninggal. Mereka berkumpul di Sasaka Domas,
yaitu tempat di hutan tua di hulu Sungai Ciujung. Karuhun dapat menjelma atau
datang dalam bentuk asalnya menengok para keturuannya, dan jalan untuk masuk
ialah melalui hutan kampung.
Dalam kaitan dengan konsep karuhun itu ada konsep lain, yaitu guriang, sanghyang,
dan wangatua. Guriang dan sanghyang dianggap penjelmaan para karuhun untuk
melindungi para keturunannya dari segala marabahaya, baik gangguan orang lain
maupun mahluk-mahluk halus yang jahat (seperti dedemit, jurig, setan) wangatua
ialah ruh atau penjelmaan ruh ibu bapak yang sudah meninggal dunia.
Kosmologi orang Baduy yang menghubungkan asal mula dunia, karuhun dan posisi
tangtu, merupakan konsep penting pula dalam religi mereka. Karena itu wilayah yang
paling sakral ada di Kanekes, terutama wilayah taneuh larangan (tanah suci, tanah
terlarang) tempat kampung tangtu dan kabuyutan. Bumi dianggap bermula dari masa
yang kental dan bening, yang lama-kelamaan mengeras dan melebar. Titik awal
terletak di pusat bumi, yaitu Sasaka Pusaka Buana tempat tujuh batara diturunkan
untuk menyebarkan manusia. Tempat itu juga merupakan tempat nenek moyang.
Kampung tangtu kemudian dianggap sebagai inti kehidupan manusia, yang
diungkapkan dengan sebutan Cikeusik, Pada Ageung Cikartawana disebut
Kadukujang, dan Cikeusik disebut Parahyang, semua itu disebut Sanghyang
Daleum. Secara khusus posisi tempat nenek moyang (kabuyutan) dan alur tangut
dalam memperlihatkan kaitan karuhun, yaitu Pada Agueng ---- Sasaka Pusaka
Buana ---- dangkanya disebut Padawaras; Kadukujang ---- Kabuyutan ikut pada
Cibeo dan Cikeusik ---- dengan dangka-dangkanya yang disebut Sirah Dayeuh.
Konsep buana (buana, dunia) bagi orang Baduy berkaitan dengan titik mula,
perjalanan, dan tempat akhir kehidupan. Ada tiga buana, yaitu Buan Luhur atau
Buana Nyungcung (angkasa, buana atas) yang luas tak terbatas, Buana Tengah atau
Buana

Panca

Tengah,

tempat

manusia

melakukan

sebagian

besar

pengembaraannya dan tempat ia akan memperoleh segala suka-dukanya. Buana

Handap (buana bawah) ialah bagian dalam tanah yang tak terbatas pada luasnya.
Keadaan di tiga benua itu adalah seperti halnya dunia ini, ada siang dan ada malam,
dan keadaannya sebaliknya dengan di dunia.
Konsep lain dalam religi orang Baduy ialah kaambuan atau ambu (ibu, wanita, ibu
suci). Menurut orang Baduy ada tiga ambu yang penting (peling tidak yang ditakuti
dan disegani) yaitu Ambu Luhur di Buana Luhur, Ambu Tengah di Buana Panca
Tengah, dan Ambu Rarang di Buana Handap. Ambu Tengah ialah pemelihara
kehidupan yang harus dihormati dengan kesungguhan melakukan pikukuh. Ambu
luhur tidak hanya mengurus tempat orang Baduy setelah mati, tetapi juga dengan
segala kekuatan dan kesaktiannya, Ambu Rarang dapat menyelesaikan setiap
masalah kehidupan dengan menyebut namanya atau membaca mantera-mantera.
Sedang Ambu Rarang adalah ambu yang menerima jasad dan ruh orang Baduy
yang mati untuk diurus selama tujuh hari dan melepaskannya setelah 40 hari ke
tempat akhir tetapi juga bentuk nyata dari Buana luhur.

Makna Simbolik Huma (Ladang) Di Masyarakat Baduy


Abstrak Berbeda dengan umumnya masyarakat pedesaan di Indonesia yang
bercocok tanam padi di sawah, masyarakat Baduy di desa Kanekes kecamatan
Leuwidamar Lebak Banten sampai sekarang bercocok tanam padi di ladang atau
huma.

Tradisi ini sangat dipegang teguh masyarakat Baduy berdasarkan buyut

(larangan) yaitu tidak boleh merubah struktur tanah. Sesuai dengan struktur
masyarakat Baduy yang terbagi ke dalam dua klasifikasi yaitu Baduy Dalam dan
Baduy Luar, huma juga dibedakan dengan huma Baduy Dalam dan huma Baduy
Luar. Bagi masyarakat Baduy proses penanaman padi di ladang adalah simbol
proses pernikahan antara Nyi Pohaci Sanghyang Asri (Dewi Sri) sebagai simbol
perempuan dengan bumi (ladang) sebagai simbol laki-laki. Dualisme langit dan bumi
bertujuan menciptakan harmoni lewat proses perjodohan laki-laki dan perempuan.
Kata kunci: huma (ladang), Baduy, makna simbolik, mitologi padi.

1. Pendahuluan
Berdasarkan pola mata pencaharian utama, masyarakat Indonesia dapat dibagi ke
dalam masyarakat pantai, masyarakat ladang, dan masyarakat sawah (Wertheim,
1959). Contoh umum masyarakat ladang ialah masyarakat di daerah pedalaman
Sumatera dan daerah pedalaman Jawa Barat dan Banten, sedangkan masyarakat
pedalaman Jawa Tengah, Jawa Timur dan Bali oleh Wertheim dimasukkan ke dalam
pola masyarakat sawah. Di Jawa Barat dan Banten, sampai sekarang terdapat dua
model menanam padi berdasarkan tempatnya ditanam. Pertama adalah di ladang
(huma), dilakukan oleh masyarakat tradisional seperti warga desa Kanekes (Baduy)
kecamatan Leuwidamar kabupaten Lebak.
Munculnya sistem atau pola ngahuma merupakan suatu tahapan dalam evolusi
budaya manusia dari budaya berburu dan meramu ke budaya bercocok tanam
(Hardjasaputra, 2009). Dengan kata lain, model menanam padi di ladang adalah
cara tertua, merupakan
warisan periode masyarakat berpindah. Mata pencarian utama masyarakat Sunda
lama adalah berladang atau huma. Bukti untuk ini misalnya dapat dilihat dalam
kamus A Dictionary of The Sunda Language of Java karya Jonathan Rigg yang terbit
pada tahun 1862. Kamus itu mencatat varietas padi huma berjumlah 150 jenis
sedang padi sawah hanya 45 jenis. Jumlah varietas padi huma yang jauh lebih
banyak menunjukkan pola pertanian huma yang lebih dominan. Jonathan Rigg
sendiri bertempat tinggal di Jasinga wilayah yang termasuk Bogor sekarang. Artinya
pada akhir awal abad ke-19 itu, bercocok tanam padi di huma sangat boleh jadi tidak
hanya dilakukan masyarakat Baduy tetapi juga di luar termasuk kawasan sekitar
Bogor. Melihat karakteristik huma yaitu sistem perladangan, maka model huma ini
berada di kawasan berbukit sebagaimana karakteristik topografi bagian tengah dan
selatan Jawa bagian barat.
Di masyarakat dengan pola budaya bercocok tanam padi seperti Sunda, Jawa dan
Bali dikenal adanya mitologi asal usul padi dalam berbagai nama dan versi. Di
masyarakat Jawa dan Bali dikenal dengan nama Dewi Sri, yang berasal dari

pengaruh Hindu, sedang di masyarakat Sunda tradisional dikenal dengan nama Nyi
Pohaci Sanghyang Asri. Keberadaan mitos ini menunjukkan bahwa di pulau Jawa
atau di Nusantara budaya bercocok tanam padi telah berumur cukup tua. Dalam
masyarakat tradisional dengan pola bercocok tanam padi, mitos ini merupakan
bagian dari sistem religi masyarakat yang mewujud ke dalam ritual atau upacara
yang dihubungkan dengan proses pengolahan padi sebagai makanan pokok.
Berbagai upacara adat masyarakat Kanekes terpusat pada penghormatan terhadap
Nyi Pohaci Sanghyang Asri. Tujuan berbagai upacara adat itu adalah untuk
memelihara hubungan yang harmoni dengan Nyi Pohaci Sanghyang Asri, yang bagi
masyarakat Kanekes dan Sunda umumnya dipandang sebagai dewi kesuburan.
Dengan menjaga hubungan harmoni dengan dewi kesuburan, diharapkan hasil
panen tetap baik dan mencukupi kebutuhan serta persediaan makanan pokok.
Penggunaan bentuk figur perempuan yang mengacu pada figur perempuan Nyi
Pohaci pada wadah juga untuk tujuan yang sama seperti berbagai upacara adat.
2. Tinjauan Masyarakat Baduy
Baduy adalah sebutan dari pihak luar terhadap warga desa Kecamatan Leuwidamar
Kabupaten Lebak Provinsi Banten. Dalam penelitian ini sebutan Baduy dipakai untuk
menunjuk konteks budaya.

Asal usul nama Baduy ada beberapa versi, salah

satunya adalah bahwa nama itu berasal dari nama Gunung Baduy, antara kampung
Kaduketug dan Balimbing dan juga Sungai Cibaduy (Saputra, 1950). Menurut
pandangan warga Kanekes, wilayah mereka adalah mandala yaitu kawasan tanah
suci. Ini artinya masyarakat hanya boleh tinggal di sana selama mematuhi seluruh
aturan yang ada. Kawasan mandala juga berarti tidak boleh didatangi oleh
sembarang orang (Danasasmita & Djatisunda, 1986).
Secara etnis penduduk Kanekes adalah orang Sunda. Selain mereka sendiri
mengaku orang Sunda, agama mereka juga disebut Sunda Wiwitan (Sunda asal).
Mitologi mereka menampilkan pandangan bahwa di Kanekeslah awal kelahiran
mandala Sunda. Masyarakat Kanekes berbahasa Sunda dialek Banten Selatan.
Mereka cenderung merasa lebih Sunda dari orang Sunda di luar Kanekes terutama
yang telah menganut agama lain (Danasasmita & Djatisunda, 1986). Masyarakat

Kanekes bukanlah kelompok masyarakat terasing, tetapi berupaya membatasi diri


dalam pergaulan dengan orang luar karena alasan adat. Pernyataan mengenai
posisi masyarakat Kanekes adalah orang Sunda, juga diutarakan Ekadjati (1995).
Orang Kanekes tidak berbeda dengan orang Sunda lainnya. Yang membedakan
orang Kanekes dengan orang Sunda lainnya adalah sistem dan pola hidup
masyarakat Kanekes yang masih mencerminkan tipe masyarakat dan kebudayaan
Sunda lama.
Dipandang dari tingkat kesakralan atau kesucian, wilayah Kanekes dibagi dua, yaitu
kawasan Tangtu dan Panamping sering juga disebut Baduy Dalam,

terdiri dari

Cikeusik Cikertawana dan Cibeo. Baduy Luar terdiri dari 43 kampung yang tersebar
di sebelah barat, timur dan utara Baduy Dalam. Sehari-hari, warga Baduy Dalam
mengenakan baju warna putih dan Baduy Luar warna hitam. Masyarakat Kanekes
menganut agama yang mereka sebut Sunda Wiwitan. Arti wiwitan adalah asli, asal
mula atau yang pertama.
Agama tersebut lebih menitikberatkan ajarannya kepada masalah amal dan
perbuatan, tidak pada ibadah ritual sebagaimana terdapat dalam agama lain. Dilihat
dalam kehidupan sehari-hari warga Kanekes tampak bahwa kepercayaan mereka itu
menekankan pada apa yang harus mereka lakukan, bukan pada apa yang harus
mereka percayai (Danasasmita, Djatisunda, 1986).

Dari observasi ke beberapa

kampung Kanekes tidak ditemukan adanya warga yang tengah melakukan ibadah
ritual tertentu.
Masalah kesejahteraan kehidupan warga Kanekes dan hubungannya dengan
kepercayan warga terdapat dalam ungkapan khas Kanekes yaituhirup turun ti Nu
Rahayu, hurip lalaran Pohaci (hidup berasal dari Tuhan, kesejahteraan hidup
berasal dari Pohaci). Dalam ungkapan ini tercantum posisi Nyi Pohaci (Sanghyang
Asri) sebagai objek pemujaan karena perannya dalam memberi kesejahteraan
kepada masyarakat Kanekes dalam bentuk berbagai tanaman terutama padi.
Melakukan perhormatan atau pemujaan terhadap dewi padi ini merupakan salah
satu tugas hidup warga Kanekes. Warga Kanekes memuliakan dan menghormati
padi salah satu tujuannya agar kelak sukma (roh) mereka dapat kembali ke

Kahyangan ke tempat Nyi Pohaci berada. Setiap orang tua di desa Kanekes
umumnya mengetahui dengan pasti tugas hidup mereka yang merupakan pikukuh
atau aturan adat yang disampaikan secara turun temurun. Pikukuh ini berlaku baik
bagi warga Baduy Dalam maupun Baduy Luar (Danasasmita & Djatisunda, 1986).
3. Huma (ladang) Sebagai Tempat Penanaman Padi Pengertian umum huma adalah
tanah pertanian berupa ladang padi dan palawija yang sehabis panen ditinggalkan,
dibiarkan tidak digarap hingga kembali menjadi hutan dan berhumus kembali.
Menurut Sobana (2009), ngahuma (berladang) adalah suatu sistem/pola pertanian
yang mengubah hutan alam menjadi hutan garapan, dengan tujuan menghasilkan
kebutuhan pangan yang direncanakan. Proses itu berlangsung secara perputaran
(siklus). Dari segi sejarah munculnya sistem/pola pertanian, ngahuma merupakan
suatu tahapan dalam evolusi budaya manusia dari budaya berburu dan meramu ke
budaya bercocok tanam.
Di desa Kanekes dikenal lima macam tradisi huma berdasarkan fungsinya dan satu
yang berada di luar Kanekes (Danasasmita & Djatisunda:1986,

Ekadjati:1995,

Permana: 2006). Kelima huma tersebut adalah:


a. Huma serang, yaitu huma adat milik bersama, hanya terdapat di kawasan
Baduy Dalam (Cibeo, Cikertawana dan Cikeusik). Huma ini digarap secara
bersama-sama oleh warga Kanekes, baik Baduy Dalam maupun Baduy Luar,
dipimpin oleh puun. Huma ini dikerjakan paling awal mendahului pekerjaan
ladang lainnya. Biasanya hasil padi diperuntukan bagi upacara kapuunan.
b. Huma puun, yaitu huma milik puun (ketua adat), untuk keperluan puun
beserta

keluarganya

selama

ia

menduduki

jabatan

puun

tersebut.

Pengerjaannya dibantu warga meski tidak sebanyak pengerjaan huma


serang. Lokasi huma puun di kawasan Baduy Dalam. Menurut Permana
(1999) huma puun adalah huma dinas, yang hanya berhak digarap atau
dimiliki puun selama menjabat sebagai puun. Lokasi huma puun berada tidak
jauh dari rumah puun dan biasanya tidak berupa lahan berpindah. Untuk
menjaga kesuburan tanah, diberlakukan pola penanaman padi pada petak
yang berbeda pada setiap musim tanam. Luas lahan yang 2-3 kali lebih luas

dari huma tangtu (huma warga) memungkin dilakukannya penggiliran petak


penanaman

c. Huma tangtu berlokasi di kawasan Baduy Dalam, diperuntukkan bagi


keperluan warga kampung Tangtu (Baduy Dalam). Luas huma tangtu sekitar
0,75- 1,5 ha, berjarak sekitar 0,5-2 km dari kampung (Permana, 2006).
Perpindahan letak huma yang terjadi setiap masa tanam masih di sekitar
lahan huma sesuai pembagian di atas.
d. Huma tuladan adalah huma yang berada di kawasan kampung Panamping
untuk keperluan upacara warga Baduy Luar dan berlokasi di kawasan
Panamping.
e. Huma panamping untuk keperluan penduduk Baduy Luar. Huma ini berada di
wilayah Baduy Luar.
f. Huma urang Baduy, yaitu ladang di luar wilayah desa Kanekes yang
dikerjakan orang Baduy luar dan hasilnya diambil untuk kepentingan keluarga
masing-masing.
Dewasa ini lahan huma di kawasan desa Kanekes terutama kawasan Panamping
(Baduy Luar) sudah berkurang karena pertambahan penduduk yang berpengaruh
pada pertambahan kampung. Warga Baduy Luar mulai menggarap huma di luar
kawasan desa Kanekes dengan cara menyewa pada penduduk setempat. Sistem
sewa-menyewa tersebut ada yang dengan cara bagi hasil atau dengan cara
menyewa dengan uang. Letak huma di kawasan Baduy Dalam (tiga Kampung
Tangtu) umumnya berada di sekitar kampung dengan penataan kawasan huma
berdasarkan ketentuan
1) Huma tangtu berada di utara dan barat kampung,
2) Huma serang berada di timur kampung dan
3) huma puun berada di selatan kampung.

Gambar 1. Lokasi jenis huma di kawasan Baduy Dalam


Huma umumnya berupa lahan di perbukitan dengan bentuk empat persegi panjang.
Garis tepi huma tidak selalu tegak lurus karena disesuaikan dengan kontur lahan
tetapi secara keseluruhan senantiasa membentuk empat persegi panjang. Hasil
pengukuran terhadap huma yang dilakukan Permana (2006) didapat ukuran luas
huma rata-rata yaitu 75 x 100 m dan 200 x 250 m. Di kawasan Kampung Tangtu
(Cikeusik, Cikertawana dan Cibeo), terdapat tiga jenis huma yaitu huma tangtu,
yaitu huma yang padinya untuk keperluan warga kampung tangtu yang memilikinya;
huma serang adalah huma yang padinya dipakai untuk keperluan adat dan huma
puun yaitu huma yang dimiliki oleh puun selama masa jabatan sebagai puun.
Masing-masing lokasi huma diatur sesuai dengan keberadaan atau letak kampung
sebagai pusat.

Pada setiap tahap dari kegiatan proses penanaman padi di ladang

(huma), terutama kegiatan penanaman dan panen selalu disertai dengan upacara
selamatan agar huma itu tidak mengalami ganggguan atau diserang hama. Bentuk
upacara antara Kampung Tangtu (Baduy Dalam) lebih sederhana dibanding
Kampung Panamping (Baduy Luar) yang semarak (Danasasmita & Djatisunda, 1986;
Prawira, 1999).
Di bagian tengah huma terdapat pupuhunan, berupa ruang segi empat dengan
ukuran rata-rata satu meter. Puhu dalam bahasa Sunda artinya kepala atau bagian
utama dari suatu objek. Dinamai pupuhunan karena tempat ini adalah bagian
pertama di dalam huma tempat pertama kali benih padi di tanam. Dilihat secara

geometri, garis luar huma berbentuk empat persegi panjang, dengan bujur sangkar
di tengah (pupuhunan) sebagai pusat dan lingkaran tercipta dari pola penanaman
yang memutar searah jarum jam. Sebagai tanda bagian pusat huma pupuhunan
diberi tanda batas oleh tali naga yang diikatkan pada tiang dengan tinggi sekitar
satu meter di tiap sudut. Di pupuhunan inilah benih padi pertama kali ditanam
dengan membuat tujuh lubang (aseuk) di dalam dan di luar pupuhunan. Lubang di
dalam pupuhunan melambangkan kepala dan yang di luar melambangkan tangan
Nyi Pohaci. Pada dua lubang pupuhunan ditanam pare koneng (padi kuning) yang
melambangkan kepala, lima lubang lainnya ditanami padi jenis linggasari yang
melambangkan leher. Sementara tujuh buah lubang di tepi luar pupuhunan ditanami
pare beureum (padi merah) melambangkan tangan (Danasasmita & Djatisunda,
1986).

Gambar 3 dan diagramGambar 2 Denah huma dan jenis padi yang

4. Makna Simbolik Huma a. Hubungan Simbolik Makrokosmos dan Mikrokosmos


Tiga jenis huma di Baduy Dalam yaitu huma serang, huma tangtu dan huma puun
ditempatkan pada lokasi tetap berdasarkan orientasi ke tiga kampung Baduy Dalam.
Penempatan huma ini di setiap lokasi mengandung makna yang mengacu pada
sistem kosmologi. Huma serang adalah huma sakral karena padinya diperuntukan
bagi keperluan upacara adat, ditempatkan di sebelah timur kampung karena timur
merupakan lokasi sakral bagi huma. Huma puun ditempatkan di selatan kampung
berdasarkan pada arah orientasi sakral masyarakat Baduy karena di selatan terdapat
Sasaka Domas, pusat sakral masyarakat Baduy. Puun adalah tokoh adat yang

dianggap sakral, selain ditandai dengan lokasi rumah tinggalnya yang berada di
bagian selatan kampung juga dengan lokasi humanya. Huma serang dan huma
puun, dua huma sakral di Baduy Dalam, ditempatkan pada lokasi yang
berseberangan dengan huma tangtu (huma warga biasa) yang berada di utara dan
barat. Dengan demikian penentuan lokasi huma bersifat paradoks atau didasarkan
pada sakral-profan.
Berdasarkan karakteristik dualisme langit dan bumi, di dalam

kosmologi Sunda

langit dimaknai sebagai perempuan karena pemberi kesuburan berupa hujan dengan
bentuk simbolik berupa lingkaran. Adapun bumi dimaknai sebagai laki-laki dan
disimbolkan ke dalam bentuk persegi. Hal ini relevan dengan kondisi di masyarakat
Baduy, terlihat dari
Kampung tangtu
Huma tangtu (warga)
Huma puun (individu sakral)
Huma tangtu (warga)
Huma serang (huma sakral)

Gambar 4. Penempatan huma berdasarkan lokasi dan arah sakral

makna kosmologis proses penanaman padi di huma yang dimaknai sebagai proses
menikahkan Nyi Pohaci (unsur langit, perempuan) dengan lahan huma (unsur bumi,
lakilaki).
b. Makna

Bentuk Bentuk lahan huma (ladang) yang berbentuk empat persegi

panjang dan bentuk persegi di tengah (pupuhunan) adalah simbol laki-laki. Bumi
sebagai laki-laki dipertegas dengan bentuk empat persegi panjang. Adapun
kehadiran simbolik Nyi Pohaci selain berupa benih padi juga dalam bentuk proses
penanaman yang dimulai dari arah selatan searah jarum jam. Proses ini
menciptakan bentuk lingkaran yang merupakan simbol perempuan. Dengan
demikian, proses penanaman padi di huma yang dimaknai sebagai proses
menikahkan dewi padi dan bumi juga ditandai dengan penyatuan bentuk lingkaran
dengan persegi
b. Harmoni: Proses Perjodohan Laki-laki dan Perempuan Proses penanaman padi di
huma

adalah

proses

ngareremokeun

(menjodohkan)

dan

ngahalimpukeun

(menikahkan) Nyi Pohaci Sanghyang Asri dengan bumi. Nyi Pohaci adalah entitas
dari langit (dunia atas) dengan gender perempuan (Sumardjo, 2003). Dalam konteks
ini padi adalah representasi Dewi Sri/Nyi Pohaci (perempuan) dan bumi sebagai lakilaki. Untuk itu diadakan upacara ngareremokeun (menjodohkan) sehari sebelum
benih tersebut di bawa ke huma. Huma memiliki simbol suci karena tempat Nyi
Pohaci menikah dengan bumi dan tempatnya kemudian tumbuh berbuah padi.
Proses menikahkan dalam masyarakat tradisional dimaksudkan agar tercipta
harmoni, yang diimplementasikan ke dalam bentuk hidup berpasangan..

Gambar 5. Bagan penyatuan bentuk persegi (simbol laki-laki) dan lingkaran (simbol
perempuan) pada huma
4. Kesimpulan Di masyarakat Baduy dan Sunda secara umum, mitologi padi yaitu
Nyi Pohaci Sanghyang Asri atau Dewi Sri, dipresentasikan ke dalam bentuk
perempuan. Dalam kosmologi masyarakat Baduy, perempuan adalah entitas langit
dan bumi dipandang sebagai laki-laki. Nyi Pohaci atau perempuan direpsentasikan
dalam bentuk hujan yang menyuburkan dan padi sebagai bahan makanan utama.
Menurut Wessing (dalam Schefold, dkk, 2008), padi, sebagai makanan utama,
mengalami

proses

deifikasi

(deification)

atau

pendewaan,

berupa

upaya

memuliakan dan menaikkan derajatnya ke dalam wilayah kosmologi atau alam dewa
dalam bentuk mitologi padi yang merupakan lambang kesuburan (fertility). Proses
tersebut dapat dilihat dari cerita Nyi Pohaci yang berasal dari sebutir telur Dewa
Naga Anta yang bermakna spiritual yaitu zat adikodrati dunia bawah. Dari dunia
bawah (bumi), dalam bentuk telur dibawa ke dunia para dewa (dunia atas), kemudian
diturunkan ke dunia tengah tempat manusia dan menumbuhkan berbagai tanaman
yang berbuah bahan makanan yang diperlukan manusia terutama padi (Sumardjo,
2005).
Makna cerita mitologi padi menunjukkan bahwa Nyi Pohaci Sanghyang Asri adalah
suatu objek hasil harmonisasi dunia bawah dan dunia atas, sehingga lebih
menekankan segi sakralitasnya atau kesempurnaan dan kebaikannya. Cara berpikir
atas-bawah- tengah ini melambangkan bersatunya unsur bumi dan langit atau tanah
(huma) dan air (dalam bentuk hujan) dalam kehidupan ngahuma, yang akan
menumbuhkan segala jenis tanaman yang dibutuhkan masyarakat Baduy.
Keberadaan dua tokoh perempuan dalam kosmologi Sunda yaitu Nyi Pohaci
Sanghyang

Asri

dan

Sunan

Ambu

sering

dijadikan

petunjuk

mengenai

kecenderungan karakteristik kebudayaan Sunda yang bercorak feminim. Akan tetapi


karakteristik laki-laki sesungguhnya lebih dominan, sebagaimana diutarakan Robert
Wessing dalam Schefold, dkk (2008). Wessing melihat dunia kosmologi (dunia ruh
Sunda sebagaimana Wessing menyebutnya spirit world of Sunda) yang menjadi

landasan kebudayaan Sunda merupakan gabungan dari dua unsur nature spirit (ruh
alam) yang bersifat laki-laki
sebagai simbol kesejahteraan (welfare) dan perempuan sebagai simbol kesuburan
(fertiliy) berupa rice spirit atau dewi padi.

PEMERINTAHAN
Masyarakat Kanekes mengenal dua sistem pemerintahan, yaitu sistem nasional,
yang mengikuti aturan negara Indonesia, dan sistem adat yang mengikuti adat istiadat yang
dipercaya masyarakat. Kedua sistem tersebut digabung atau diakulturasikan sedemikian
rupa sehingga tidak terjadi benturan. Secara nasional, penduduk Kanekes dipimpin oleh
kepala desa yang disebut sebagai jaro pamarentah, yang ada di bawah Camat, sedangkan
secara adat tunduk pada pimpinan adat Kanekes yang tertinggi, yaitu "Pu'un".
Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "Pu'un" yang ada di tiga
kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis dari
bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan Pu'untidak
ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang jabatan tersebut.

INTERAKSI DENGAN MASYARAKAT LUAR


Masyarakat Kanekes yang sampai sekarang ini ketat mengikuti adat-istiadat bukan
merupakan masyarakat terasing, terpencil, ataupun masyarakat yang terisolasi dari
perkembangan

dunia

luar.

Berdirinya

Kesultanan

Banten

yang

secara

otomatis

memasukkan Kanekes ke dalam wilayah kekuasaannya pun tidak lepas dari kesadaran
mereka. Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes
secara rutin melaksanakan Seba (halaman belum tersedia) ke Kesultanan Banten (Garna,
1993). Sampai sekarang, upacara seba tersebut terus dilangsungkan setahun sekali, berupa
menghantar hasil bumi (padi, palawija, buah-buahan) kepada Gubernur Banten (sebelumnya
ke Gubernur Jawa Barat), melalui bupati Kabupaten Lebak. Di bidang pertanian, penduduk
Kanekes Luar berinteraksi erat dengan masyarakat luar, misalnya dalam sewa-menyewa
tanah, dan tenaga buruh.
Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara Barter, sekarang ini
telah mempergunakan mata uang Rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan,
madu, dan gula kawung/aren melalui para Tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup
yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah
Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Pada saat ini orang luar yang mengunjungi wilayah Kanekes semakin meningkat
sampai dengan ratusan orang per kali kunjungan, biasanya merupakan remaja dari sekolah,
mahasiswa, dan juga para pengunjung dewasa lainnya. Mereka menerima para pengunjung
tersebut, bahkan untuk menginap satu malam, dengan ketentuan bahwa pengunjung
menuruti adat-istiadat yang berlaku di sana. Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh
berfoto di wilayah Kanekes Dalam, tidak menggunakan sabun atau odol di sungai. Namun
demikian, wilayah Kanekes tetap terlarang bagi orang asing (non-WNI). Beberapa wartawan
asing yang mencoba masuk sampai sekarang selalu ditolak masuk.
Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Kanekes juga senang
berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki. Pada
umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang,
berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Kanekes sambil menjual madu dan
hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan
uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

KEGIATAN SEHARI-HARI SUKU BADUY


Warga suku Baduy tidak diperbolehkan menebang pohon secara sembarangan,
terutama pohon yang berada pada area hutan lindung karena diperlukan untuk
menjaga keseimbangan dan kejernihan sumber air. Pepohonan di areal ini tidak
boleh ditebang untuk dijadikan apa pun, termasuk diubah peruntukannya menjadi
ladang atau kebon sayur/buah. Pernyataan jangan merusak hutan sudah sangat
dipahami oleh segenap warga Baduy seperti pernah diungkapkan kokolot Baduy,
Jaro Dainah: Gunung ulah dilebur, Lebak ulah dirusak ! Seperti kita ketahui hutan
tropis Indonesia banyak yang rusak dan berkurang karena keserakahan kegiatan
penjarahan hutan secara liar (illegal logging) dan pembukaan lahan baru misalnya
untuk perkebunan sawit dengan cara pintas membakar hutan yang mengakibatkan
polusi udara sehingga Indonesia menempati urutan tiga besar penyumbang emisi di
dunia dari segi kebakaran dan perusakan habitat hutannya.
Berladang/ bercocok tanam/ bertani merupakan pekerjaan utama suku Baduy.
Tidak diperbolehkan penggunaan bahan-bahan kimia seperti pestisida terutama bagi
orang Baduy Dalam yang hanya mengunakan pola tradisional organik dengan
dibantu doa serta mantra-mantra. Dengan demikian pola tanam organik bebas kimia
seperti ini, kenyataannya terbukti lebih bermanfaat dan menyehatkan dan malah

sekarang mulai banyak ditiru oleh orang kota yang peduli untuk menjaga
kesehatannya.
PIKUKUH SUKU BADUY
Objek yang akan dianalisis dari tulisan ini adalah mengenai pikukuh yang
berkembang di masyarakat Baduy. Pikukuhadalah sebuah tata cara kehidupan
masyarakat Baduy dengan konsep tanpa perubahan. Artinya mereka memegang
teguh kealamiahan untuk menjaga keseimbangan hidup antara alam dan manusia.
Kendati hukum-hukum itu tidak dimunculkan secara tertulis, akan tetapi pikukuh
tersebut

tetap

menjadi

pedoman

bagi

masyarakat

Baduy.

Untuk

menjaga pikukuhtersebut, maka dilaksanakan aturan untuk mempertahankannya


yang disebut buyut. (dalam bahasa Indonesia berarti tabu atau larangan).
Delapan klasifikasi pepatah yang ada di Baduy dan menjadi buyut yang tak boleh
dilanggar. Kedelapan klasifikasi pepatah itu adalah taat pada hukum, penegakan
hukum, pemeliharaan terhadap alam, pepatah untuk pemimpin, tolong-menolong,
hidup/ bekerja, kebersamaan, pepatah pertanggungjawaban. Konsep lisan yang
muncul

di

dalam

kehidupan

masyarakat

Baduy

mengakibatkan

terjadinya

perubahan-perubahan struktur dari pepatah tersebut. Kemudian, Kurnia, di dalam


mengklasifikasi pepatah masih bisa diperdebatkan karena beberapa klasifikasi itu
bisa juga bertalian dengan klasifikasi yang lain.
Berikut isi dari buyut tersebut yang berisi empat konsep larangan.

gunung teu meunang dilebur


lebak teu meunang diruksak,
lojor teu meunang dipotong,
pendek teu meunang disambung.
gunung tidak boleh dihancurkan,
lembah tidak boleh dirusak
panjang tidak boleh dipotong
pendek tidak boleh disambung

Kedekatan Baduy dengan alam seperti gunung dan lebak (lembah)

menjadikan komunitas mereka harus menjaga dua wilayah tersebut kendati


terdengar kontras. Gunung dan lembah tidak boleh dihancurkan karena jika itu
terjadi maka musnahlah segara kehidupan mereka. Dari letak geografis,
Baduy berada di dua wilayah itu. Dengan demikian mereka harus
memeliharanya sebagai bagian dari keseimbangan kehidupan. Konsep
oposisi biner, secara intertekstual mengindikasikan perbedaan, namun di
dalam konsep hidup justru memperlihatkan keseimbangan karena konsep
kosmos ini terbentuk dan dibentuk dari proses keseimbangan. Di dalam
konsep

Cina

kita

mengenal yin dan yang. Secara

alamiah,

kita

juga

menemukan konsep perbedaan untuk menjaga keseimbangan itu di dalam


tatanan realitas seperti laki-laki dan perempuan, hitam dan putih, kaya dan
miskin, begitu seterusnya. Konsep pikukuh Baduy menegaskan bahwa di
dalam perbedaan itu tetap harus dijaga, dipelihara dan tidak dirusak/ diubah.
lojor teu meunang dipotong, pendek teu meunang disambung. (panjang
tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung). Masyarakat Baduy
sangat percaya bahwa segala sesuatu di alam ini telah diciptakan oleh Sang
Maha Pencipta. Oleh karenanya, sebagai manusia yang juga diciptakan,
manusia tidak memiliki kepatutan untuk merusak seperti memotong atau
menyambung. Konsep hidup yang diserahkan pada gagasan natural ini jelas
memperkuat masyarakat Baduy secara umum bahwa mereka dilahirkan untuk
menjaga stabilitas alam agar tetap seimbang.
Kesederhanaan hidup ini adalah cara mereka untuk bersatu dengan
alam. Pikukuh yang menjadi pegangan hidup mereka dianggap sebagai harga
mati dan tak boleh diubah.

Pikukuh Baduy (Kanekes)

Suku baduy dalam (foto:republika)

Suku Baduy/Badui biasa juga dipanggil sebagai orang Kanekes. Kelompok


masyarakat etnis ini termaksud sub etnis Sunda yang berasal dari kabupaten Lebak
Banten. Suku ini sangat menutup diri dari dunia luar dan juga memiliki
keyakinan tabu untuk difoto, khususnya penduduk wilayah Baduy dalam.

Asal usul sebutan Baduy

Sebutan "Baduy" berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya
mempersamakan

mereka

dengan

kelompok Arab

Badawi yang

merupakan

masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena


adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah
tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau
"orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu
kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo (Garna, 1993).

Wilayah

Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan


Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten. Tiga desa utama orang
Kanekes Dalam adalah Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo.

Bahasa

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek SundaBanten. Mereka
juga dapat berbahasa Indonesia untuk komunkasi dengan masyarakat luar. Orang
Kanekes

Dalam

tidak

mengenal

budaya

tulis,

sehingga

adat-istiadat,

kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan


lisan saja. Bahkan hingga sekarang.

Kelompok masyarakat

Penampilan fisik dan bahasa mereka mirip dengan orang-orang Sunda pada
umumnyayang membedakan adalah sistem kepercayaan dan cara hidup mereka.
Orang Kanekes menutup diri dari pengaruh dunia luar dan secara ketat menjaga
cara hidup mereka yang tradisional, sedangkan orang Sunda lebih terbuka kepada
pengaruh asing dan mayoritas memeluk Islam.
Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu :

1. Tangtu
2. Panamping
3. Dangka

Kelompok tangtu

Kelompok ini yang dikenal sebagai Kanekes Dalam (Baduy Dalam), yang paling
ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga kampung: Cibeo, Cikertawana,
dan Cikeusik. Ciri khas Orang Kanekes Dalam adalah :
1.

Pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala

putih.
2.

Mereka dilarang secara adat untuk bertemu dengan orang asing.

3.

Kanekes Dalam adalah bagian dari keseluruhan orang Kanekes. Tidak seperti

Kanekes Luar, warga Kanekes Dalam masih memegang teguh adat-istiadat nenek
moyang mereka.
4.

Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Kanekes Dalam antara lain:

5.

Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi

6.

Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki

7.

Pintu

rumah

harus

menghadap

ke

utara/selatan

(kecuali

rumah

sang Pu'un atau ketua adat)


8.

Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)

9.

Menggunakan kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan

dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.


Kelompok Panamping

Mereka yang dikenal sebagai Kanekes Luar (Baduy Luar), yang tinggal di berbagai
kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Kanekes Dalam, seperti Cikadu,
Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Masyarakat Kanekes
Luar berciri khas :
1.

Mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.

2.

Kanekes Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan

wilayah Kanekes Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkannya


warga Kanekes Dalam ke Kanekes Luar:
3.

Mereka telah melanggar adat masyarakat Kanekes Dalam.

4.

Berkeinginan untuk keluar dari Kanekes Dalam

5.

Menikah dengan anggota Kanekes Luar

6.

Ciri-ciri masyarakat orang Kanekes Luar

7.

Mereka telah mengenal teknologi, seperti peralatan elektronik.

8.

Proses pembangunan rumah penduduk Kanekes Luar telah menggunakan

alat-alat bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat
Kanekes Dalam.
9.

Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-

laki), yang menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian
modern seperti kaos oblong dan celana jeans.
10.

Menggunakan peralatan rumah tangga modern, seperti kasur, bantal, piring &

gelas kaca & plastik.


11.

Mereka tinggal di luar wilayah Kanekes Dalam.

12.

Sebagian di antara mereka telah terpengaruh dan berpindah agama menjadi

seorang muslim dalam jumlah cukup signifikan.


Kelompok Dangka
Kelompok Kanekes Dangka tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal
2 kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh
(Cihandam).

Kampung

Dangka

zone atas pengaruh dari luar.

tersebut

berfungsi

sebagai

semacam buffer

3 Jenis Pakaian Adat Suku Baduy

Pakaian Adat Suku Baduy

Masyarakat Baduy dibedakan menjadi 2 kelompok, yaitu Baduy dalam dan Baduy
luar. Pada dasarnya pakaian adat yang dikenakan oleh keduanya sama, hanya saja
pakaian yang dikenakan oleh suku Baduy Dalam berwarna putih sebagai
perlambang kesucian, sementara pakaian yang dikenakan suku Baduy Luar
berwarna hitam. Untuk memenuhi kebutuhan sandangnya masyarakat suku Baduy
melakukan penanaman biji kapas, memanen, memintal, dan menenun sendiri kain
yang digunakan sebagai bahan pakaian.
Pakaian Adat Suku Baduy

Pakaian Adat Suku Baduy Dalam


Pakaian yang dikenakan oleh kaum pria suku Baduy Dalam berupa baju lengan
panjang yang disebut jamang sangsang. Hal ini dikarenakan penggunaannya hanya
disangsangkan atau dilekatkan di badan. Desain baju sangsang cukup sederhana
yaitu hanya dilubangi pada bagian leher sampai bagian dada, tanpa kerah, tanpa
kancing dan tanpa kantong baju. Pembuatan baju adat ini hanya boleh dilakukan
dengan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin. Bahan yang digunakan pun
harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun.
Pakaian Adat Suku Baduy

Penggunaan baju sangsang ini dipadukan dengan kain sarung berwarna biru
kehitaman, yang hanya dililitkan pada bagian pinggang dan diikat dengan selembar
kain agar tidak terlepas. Ciri khas yang terdapat pada pakaian adat Baduy Dalam
adalah penggunaan ikat kepala berwarna putih yang berfunggsi untuk menutup
rambut mereka yang panjang. Pemilihan warna putih pada pakaian adat suku Baduy
Dalam mengandung makna bahwa kehidupan mereka masih suci dan belum
terpengaruh budaya luar.
Pakaian Adat Suku Baduy

Pakaian Adat Suku Baduy Luar


Sementara pakaian adat yang dikenakan oleh suku Baduy Luar dikenal dengan
nama baju kampret berwarna hitam. Desain bajunya terbelah dua sampai bagian
bawah dengan potongan seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai yaitu
mengunakan kantong, kancing dan bahan dasarnya tidak diharuskan dari benang
kapas murni.

Pakaian Adat Suku Baduy

Dilihat dari model ataupun corak busana yang dikenakan, cara berpakaiannya suku
Baduy Luar menunjukan bahwa kehidupan mereka sudah terpengaruh oleh budaya
luar. Ciri khas yang terdapat pada pakaian adat Baduy Luar adalah penggunaan ikat
kepala berwarna biru tua dengan corak batik.
Pakaian Adat Suku Baduy

Pakaian Adat Wanita Baduy


Pakaian sehari-hari yang biasa dikenakan oleh kaum perempuan Baduy Dalam dan
Baduy Luar tidak terlalu menunjukkan perbedaan mencolok, mereka menggunakan
busana sejenis sarung yang berwarna biru kehitam-hitaman dan dikenakan mulai
dari dada sampai bagian tumit. Untuk wanita yang sudah menikah biasanya mereka
membiarkan dadanya terbuka secara bebas, sedangkan untuk para gadis harus
tertutup. Lain halnya untuk bepergian, pakaian yang dikenakan perempuan Baduy

yaitu berupa kebaya, kain tenunan sarung berwarna biru kehitam-hitaman,


karembong, kain ikat pinggang dan selendang.
Pakaian Adat Suku Baduy

Dua warga suku Badui menawarkankan dagangan pada warga di sekitar Cigudeg, Bogor, Jabar,
Jumat (6/1). Pedagang yang berasal dari Badui Dalam, Banten tersebut mengikuti adat sukunya
dilarang menggunakan kendaraan sehingga untuk sampai ke Bogor, dengan berjalan kaki
selama dua hari sambil membawa hasil usaha mereka berupa madu, ikat kepala dan tas
anyaman akar pohon. (Antara)

Bagi masyarakat Baduy pakaian tidak hanya berfungsi melindungi tubuh saja,
melainkan sebagai identitas budaya. Tidak heran jika hanya dengan melihat model,
potongan dan cara berbusananya saja, secara sepintas orang akan tahu bahwa itu
adalah suku Baduy. Mereka mempercayai bahwa pakaian diwariskan oleh nenek
moyang mereka untuk dijaga.

POLA BUDAYA BADUY

Konsep ruang dalam kehidupan orang kanekes


Sebagai suatu bentuk persekutuan hidup, orang-orang Kanekes dalam yang tinggal
bersama di daerah sebelah dalam desa Kanekes kecamatan Leuwidamar kabupaten
Lebak provinsi Banten sebelah selatan merupakan rumpun dari kebudayaan Sunda;
dalam terminologi antropologi untuk persekutuan hidup seperti orang-orang Baduy
itu sebenarnya lebih tepat disebut komunitas daripada masyarakat (Koentjaraningrat,
1990: 61); hanya untuk lebih memudahkan pemahaman maka istilah yang akan
dipakai untuk menamakan persekutuan hidup tersebut dalam tulisan ini adalah
orang Kanekes.
Hal tentang penamaan persekutuan hidup, Baduy, sebenarnya hanya berlaku pada
fihak diluar persekutuan itu, masyarakat suku Baduy itu sendiri sebenarnya tidak
suka menamakannya demikian, tetapi lebih menyatakan diri sebagai orang
Kanekes. Istilah Baduy menurut mereka adalah berkonotasi kurang baik karena
berkenaan dengan kelompok Badwi, satu kelompok pengembara padang pasir di
tanah Arab yang dipandang rendah peradabannya (Ekajati, 1995: 54). Kemungkinan
sebutan Baduy yang mempunyai konotasi ejekan berasal dari masyarakat sekitarnya
yang telah memeluk agama Islam.

kehidupan orang Kanekes yang terisolir selama berabad-abad hingga sekarang,


sikap hidup mereka selalu cenderung menolak masuknya kebudayaan luar dan
mempertahankan cara hidup sesuai dengan yang diajarkan oleh leluhur mereka,
dimana mereka masih banyak menyimpan unsur, pola, dan sistem masyarakat dan
kebudayaan Sunda lama. Sebenarnya istilah terisolir (terasing) dalam kasus orang
Kanekes adalah relatif karena hubungan dengan masyarakat luar ternyata
berlangsung secara terbuka, baik intensitas kunjungan orang Kanekes keluar dari
desanya maupun intensitas kunjungan studi bahkan wisata banyak orang ke desa
Kanekes. Istilah keterasingan disini bisa diartikan sebagai pengasingan diri.
Lokasi pemukiman yang terpencil, sikap hidup yang kukuh mempertahankan adat
istiadat dari leluhur, sikap keras menolak pengaruh kebudayaan luar, serta cara
hidup yang mandiri bila dibandingkan dengan beberapa bentuk masyarakat terasing
lainnya yang ada di Indonesia, rupanya keadaan inilah yang menjadi ciri pembeda
dan menonjol dari orang Kanekes. Berdasarkan pada tingkat adatnya, orang
Kanekes dapat diklasifikasikan atas dua kelompok sosial, yaitu orang Kanekes
Dalam (Baduy dalam) dan orang kanekes Luar (Baduy luar); orang Kanekes dalam
tinggal di tiga kampung terpisah yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik, sedangkan
orang Kanekes luar adalah orang Kanekes yang bermukim di banyak kampung di
luar kampung Kanekes dalam.
Keajegan orang Baduy dalam mempertahankan kepercayaan, tradisi, serta
kecenderungan untuk menolak perubahan baik yang berasal dari dalam dan luar
masyarakat ternyata terkait dengan berbagai sektor kehidupan; adalah cukup
menarik melihat keterkaitan itu dengan konsep ruang yang ternyata merupakan
fenomena penting dalam kepercayaan dan falsafah hidup orang kanekes menurut
dimensi makro dan mikro kosmos yang terwujud dalam tiga alam yaitu Buana
Nyungcung, tempat bersemayam Sang Hiyang Keresa, yang letaknya di alam atas,
Buana Panca Tengah, tempat berdiam manusia dan mahluk lainnya, yang letaknya di
alam tengah, serta Buana larang, yaitu neraka, yang letaknya di alam bawah.

Kumpulan beberapa rumah yang kadang-kadang terdiri dari 4 5 rumah yang


membentuk satu kesatuan yang lebih besar dari rumah dan sekelilingnya sebagai
unit terkecil yang disebut babakan. Bentuk yang lebih besar dari babakan yang terdiri
dari beberapa puluh rumah dengan berbagai sarana dan prasarana kehidupan
lainnya, seperti balai pertemuan, lubung padi, tempat mandi umum, lapangan, areal
pekuburan, jalan-jalan setapak, kebun atau sawah membentuk satu persekutuan
yang bias di sebut sebagai kampung; dan bentuk persekutuan yang lebih besar dari
kampung disebut sebagai desa. Pada dasarnya, satu desa itu terdiri dari beberapa
kampung, namun tidak selalu satu kampung itu terdiri dari beberapa babakan.
Untuk beberapa kampung atau desa pada masyarakat Sunda biasanya mengambil
nama dari sumber air, sungai atau gunung yang dihubungakan dengan peristiwa
yang terjadi di sana; sebutan awal Ci (asal kata Sunda cai yang berarti air) adalah
sangat umum dipakai sebagai nama suatu daerah. Orang Kanekes bagian dalam
atau menurut istilah setempat disebut sebagai Urang Tangtu yang bertempat tinggal
di daerah pedalaman desa Kenekes, Kecamatan Leuwidamar, Provinsi Banten
bagian selatan mencirikan keterhubungan nama daerah mereka dengan air ini, yaitu
Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik.
2.2. Tempat, Kesejarahan, dan Kepercayaan Orang Kanekes
Desa Kanekes sebagai tempat bermukin orang kanekes terletak di bagian selatan
daerah kecamatan Leuwidamar yang merupakan daerah aliran sungai Ciujung pada
bagian utara pegunungan Kendeng, termasuk wilayah Banten selatan. Daerah desa
Kanekes ini terdiri atas hutan, lading, semak belukar, dan perkampungan.
Pemukiman orang Kanekes merupakan daerah berbukit yang makin ke arah selatan
makin curam lereng-lerengnya; hutan yang lebat di sekitar pegunungan Kendeng
merupakan sumber air yang penting bagi daerah aliran sungai Ciujung di sebelah
utara Banten. Orang Kanekes berkumpul dalam satu kesatuan pemukiman yang
disebut babakan atau kampung.
Menurut kesejarahannya, orang Kanekes merupakan bagian dari suku bangsa
Sunda, selain dari cirri-ciri fisik yang tidak berbeda dengan orang-orang Sunda
lainnya juga dari segi kebahasaan sama-sama merujuk pada satu rumpun bahasa

yang sama, bahasa orang Kanekes adalah bahasa Sunda. Dalam satu analisa
sejarah, diperkirakan mereka pindah di daerah terpencil pegunungan Kendeng ini
pada abad ke 16, yaitu bersamaan dengan runtuhnya kerajaan Padjadjaran. Dahulu,
sebelum Islam masuk ke Indonesia dan Jawa, pengaruh agama Hindu dan Budha
sangat kuat, termasuk kerajaan Padjadjaran. Pada tahun 1579 masuklah Islam untuk
menghancurkan Padjadjaran dan masyarakat disana berpindah ke agama Islam. Ada
sekelompok masyarakat yang menolak untuk masuk Islam, kemudian mereka
berpindah tempat dan mengasingkan diri; kelompok tersebut kemudian dinamakan
dengan suku Baduy.
Berbagai penelitian yang kemudian dilakukan tentang keberadaan masyarakat suku
Baduy ini menghasilkan pendapat yang berlainan dengan analisa kesejaran di atas;
seperti yang diteliti oleh Saleh Danasasmita dan Anis Djatisunda (1986) bahwa bila
berbicara mengenai asal usul masyarakat Kanekes hendaklah bertitik tolak dari
kedudukan masyarakat tersebut dalam konteks masyarakat Sunda lama. Masyarakat
Kanekes mempunyai kedudukan dan tugas khusus dalam hubungan dengan
masyarakat Sunda secara keseluruhan. Dalam hal ini, masyarakat Kanekes secara
turun temurun berkedudukan sebagai mandala dan semua warga masyarakatnya
mengemban tugas untuk melakukan tapa (bekerja-beraktifitas) di mandala.
Sedangkan masyarakat Sunda lainnya, di luar masyarakat mandala, berkedudukan
sebagai nagara dan semua warga masyarakatnya mengemban tugas untuk
melakukan tapa di nagara (Danasamita & Djatisunda, 1986: 3).
Mandala adalah satu konsep dalam kerajaan Sunda lama yang berarti tempat suci
untuk pusat kegiatan keagamaan; di mandala ini hidup kelompok masyarakat
(pendeta, murid-murid, atau bahkan pengikut mereka) yang membaktikan seluruh
hidupnya bagi kepentingan kehidupan beragama. Berdasarkan prasasti Banten dan
naskah Sunda kuno, diketahui bahwa dalam masyarakat Sunda lama mandala itu
disebut pula dengan istilah kabuyutan, yang terdiri dari dua jenis : (1) Lemah
Dewasasana dan (2) Lemah Parahiyangan. Lemah Dewasasana adalah mandala
sebagai tempat untuk pemujaan dewa, kegiatan ini berlaku bagi penganut agama

Hindu atau Budha, dan Lemah Parahiyangan, disebut juga sebagai kabuyutan
jatisunda, adalah mandala sebagai tempat untuk pemujaan hiyang, kegiatan mana
berlaku bagi penganut yang memuja terhadap arwah leluhur atau nenek moyang
yang berlaku sejak jaman prasejarah. Dari prasasti dan naskah-naskah Sunda kuno
itu dapat diketahui beberapa buah mandala di tanah Sunda dimana salah satunya
adalah Kanekes, Denuh (Kropak, Carita Parahiyangan).
Sesuai dengan isi kepercayaan orang Kanekes yang dinamai mereka sendiri sebagai
agama Sunda Wiwitan dan nama lain lokasi pemukiman mereka serta nama sebuah
sungai di situ, yaitu Lebak Parahiang dan Ciparahiyangan, maka Kanekes kiranya
sebuah mandala yang tergolong lemah parahiyangan. Berdasarkan pengakuan
masyarakat Kanekes sendiri, dikatakannya bahwa sejak semula leluhur kereka hidup
di daerah yang mereka duduki sekarang, yaitu desa Kanekes; leluhur mereka bukan
berasal dari mana-mana dan buka pula berasal sebagai pengungsi. Bila
dihubungkan dengan asal usul mereka dengan kaum pelarian dari Pakuan
Padjadjaran bahkan mereka bersikukuh bahwa sejak zaman Nabi Adam AS pun
leluhur mereka telah bermukim di daerah Kanekes (Ekajati, 1995: 62-64).
Sesuai dengan aktivitas keagamaan yang dilakukan orang Kanekes, agaknya sulit
untuk menentukan termasuk kelompok agama besar apa yang dianut mereka;
walaupun ada beberapa pengaruh dari agama Hindu seperti tergambarkan dalam
nama-nama batara, juga pengaruh agama Islam seperti dalam istilah Syahadat
(Suhamihardja, 1980: 281), namun dalam kenyataannya praktika ritual mereka lebih
menujukkan pada bentuk Animisme, yaitu bentuk kepercayaan yang memuja arwah
nenek moyang. Orang Kanekes menyebut agamanya sebagai Sunda Wiwitan, yang
berarti mula-pertama, asal, pokok, atau jati; dalam hal ini agama yang dianut orang
Kanekes adalah agama Sunda asli, yang menurut Carita Parahiyangan adalah
agama Jatisunda.
Dalam mitologi orang Kanekes, kekuasaan tertinggi berada pada apa yang disebut
Sang Hiyang Keresa (Yang Mahakuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Menghendaki)
atau Batara Seda Niskala (Yang Gaib) dimana semua dewa dalam konsep agama
Hindu (Brahma, Wisynu, Syiwa, Indra, Yama, dan lain-lain) tunduk pada Batara Seda

Niskala ini semuanya bersemayam di Buana Nyungcung, merupakan tempat


tertinggi dalam tiga klasifikasi kosmologi orang Kanekes. Tempat
manusia dan mahluk lain hidup di dunia disebut sebagai Buana Panca Tengah.
Sedangkan tempat atau alam bawah, yaitu neraka, disebut Buana Larang.
Antara Buana Nyungcung dan Buana Panca Tengah terdapat 18 lapisan alam yang
tersusun dari atas ke bawah; lapisan teratas disebut Bumi Suci Alam Padang atau
menurut kropak 630 bernama alam Kahiyangan atau mandala Hiyang, lapisan ini
merupakan tempat tinggal Nyi Pohaci Sanghiyang Asri dan Sunan Ambu.
Sanghiyang Keresa menurunkan 7 batara di Sasaka Pusaka Buana, salah satu
batara itu bernama Batara Cikal, berusia paling tua, dianggap sebagai leluhur orang
Kanekes.
Dalam kepercayaan orang Kanekes, tanah atau daerah di dunia ini (Buana Panca
Tengah) dibedakan berdasarkan tingkatan kesuciannya. Sasaka Pusaka Buana
dianggap sebagai tempat yang paling suci, hampir berdampingan dengan Sasaka
Domas. Selanjutnya, berurutan tingkat kesuciannya makin menurun adalah kampung
dalam, kampung luar (panamping), Banten, Tanah Sunda, dan luar Sunda.
Ada dua tempat yang dianggap sangat suci di kalangan orang kanekes, dan tidak
sembarang orang, apalagi orang luar Kanekes, bisa ke tempat ini hanya ketua adat
tertinggi (pu-un) saja beserta orang-orang kepercayaannya yang dapat melakukan
upacara ritual disana. Tempat pertama disebut dengan Sasaka Pusaka Buana atau
disebut juga Pada Ageung dan Arca Domas, merupakan tempat yang paling suci
yang dianggap sebagai titik awal terbentuknya dunia dimana ke 7 batara diturunkan.
Letaknya di bukit Pamutuan, daerah hulu sungai Ciujung disebelah ujung barat
pegunungan Kendeng. Tanggung jawab pemeliharaan Sasaka ini berada pada
tangan pu-un Cikeusik, dan hanya pu-un Cikeusik dengan beberapa orang
kepercayaannya saja yang mengetahui tepatnya lokasi itu berada. Tempat suci
kedua yaitu Sasaka Domas atau Mandala Parahiyangan, lokasinya di hulu sungai
Ciparahiyangan,

termasuk

kompleks

hutan

pemeliharaannya berada di tangan pu-un Cibeo.

larangan.

Tanggungjawab

Dalam masyarakat desa Kanekes terdapat satu bentuk stratifikasi sosial yang
didasarkan kepada pembagian wilayah sesuai dengan status kemandalaan Kanekes.
Dalam hal ini, wilayah Kanekes dibagi atas 3 wilayah berdasarkan tingkat
kemandalaannya, yaitu (1) wilayah Tangtu, yang terletak paling jauh dari masyarakat
luar dan memiliki kadar kemandalaan yang terbesar dan sepenuhnya sebagai
mandala; (2) wilayah Panamping, terletak di luar wilayah Tangtu yang memiliki
tingkat kemandalaan lebih kecil, (3) wilayah Dangka, terletak diluar wilayah
Panamping dengan tingkat kemandalaan lebih kecil lagi.
Seiring dengan tingkat kemandalaan ini, tuntutan kehidupannya pun berbeda pula;
penduduk wilayah Tangtu dituntut secara penuh untuk hidup sesuai dengan aturan
kemandalaan, sedangkan tuntutan penduduk di wilayah Panamping dan Dangka
akan lebih longgar dari itu. Stratifikasi sosial orang kanekes ini sejajar dengan tingkat
dan kadar kemandalaan, semakin tinggi tingkat dan kadar kemandalaannya, makin
tinggi pula tingkat sosialnya; semakin rendah tingkat dan kadar kemandalaannya,
makin rendah [pula tingkat sosialnya.
Masyarakat Tangtu terbagi lagi menjadi 3 kelompok sosial berdasarkan kampung
tempat tinggalnya dengan merujuk pada konsep Telu Tangtu (kropak 630 : Tri
Tangtu); suatu konsep yang hidup dalam kerajaan Sunda kuno yang melibatkan satu
kesatuan antara tiga unsur peneguh dunia dan dilambangkan dengan raja sebagai
sumber wibawa, rama sebagai sumber ucap (yang benar), dan resi sebagai sumber
tekad (yang baik); dunia bimbingan berada ditangasn sang rama, dunia
kesejahteraan berada ditangan sang resi, dan dunia pemerintahan berada ditangan
sang raja (Atja & Saleh Danasasmita, 1981: 30, 37). Pertama, kelompok masyarakat
yang menetap di kampung Cibeo, disebut sebagai Tangtu Parahiyangan yang
mempunyai tugas sebagai Sang Prabu; kedua, kelompok masyarakat yang
menetap di kampung Cikartawana, disebut sebagai Tangtu Kadu Kujang yang
mempunyai tugas sebagai Sang Resi; ketiga, kelompok masyarakat yang menetap
di kampung Cikeusik, disebut sebagai Tangtu Pada Ageung yang mempunyai tugas
sebagai Sang Rama.

Berdasarkan pola pengelolaan tata ruangnya, kawasan Tangtu secara umum


dibedakan menjadi tiga, yaitu zona bawah sebagai tempat pemukiman, zona tengah
sebagai tempat bercocok tanam, serta zona atas yang merupakan hutan tua yang
diperuntukan sebagai tempat untuk praktek pemujaan.
Zona pertama, yaitu areal di sekitar daerah lembah yang dekat dengan sumbersumber air baik dari sungai maupun sumber air tanah. Areal ini digunakan sebagai
tempat pusat aktivitas keseharian penduduk, yang meliputi tempat permukiman yang
terdiri dari rumah-rumah tradisional penduduk biasa, rumah pu-un, balai pertemuan
(bale kapu-unan), penumbukan padi /saung lisung, lapangan, tempat penyimpanan
padi penduduk atau leuit, sumber-sumber air minum, tempat mandi cuci kakus,
dan tempat pekuburan penduduk (Garna, 1980: 236-238).
Di sekitar pemukinan ini, biasa ditumbuhi aneka ragam tanaman buah-buahan dan
kayu-kayuan, yang tumbuh liar, setengnah liar, atau masih liar. Hutan antropogenik di
daerah kampung penduduk yang rimbun menyerupai struktur vegetasi hutan alam,
biasanya disebut sebagai dukuh lembur atau leuweung lembur. di daerah dukuh
lembur tersebut, di bawah pepohonan rindang, ditempatkan lumbung padi (leuit).
Menurut pikukuh orang Kanekes, dukuh lembur tidak boleh dirusak atau ditebangi
karena dianggap sebagai perlindungan kampung dan sekaligus menghasilkan aneka
ragam buah-buahan untuk kepentingan sosial ekonomi penduduk (Iskandar, 2006).
Di sekitar pinggiran rumah penduduk yang banyak ditumbuhi oleh pohon-pohon kayu
dan rumpun bambu, banyak ditemukan mata air (Kanekes: cai nyusu) dan di
beberapa tempat itu kemudian dibuat semacam pancuran yang dimanfaatkan untuk
mandi, sekedar mencuci, dan dipergunakan untuk air minum (Iskandar, 2006).
Sungai dan beberapa anak sungai lainnya juga dipakai sebagai tempat untuk mandi,
mencuci dan buang air, selain juga merupakan tempat untuk menangkap ikan pada
waktu-waktu tertentu.
Zona kedua, yaitu areal di bagian luar pemukiman penduduk di atas lembah-lembah
bukit yang terdiri dari hutan sekunder atau hutan produksi yang dibersihkan dan
dipergunakan sebagai tempat untuk bercocok tanam tadah hujan dengan pola
peladangan berpindah (slash and burn agriculture).

Zona ketiga, berupa areal di puncak bukit yang diperuntukan sebagai tempat yang
dianggap suci (sakral) berupa hutan tua dan terlarang untuk diberdayakan guna
kehidupan praktis penduduk. Hutan ini disebut oleh masyarakat setempat sebagai
hutan titipan (leuweung titipan) atau hutan tua (leuweung kolot) yang diperuntukan
sebagai tempat untuk melakukan upacara keagamaan. Terdapat dua tempat yang
dianggap suci oleh penduduk Kanekes, yang pertama adalah kawasan hutan Sasaka
Pusaka Buana atau Pada Ageung dikawasan hulu sungai ciujung, yaitu di sebelah
selatan Kampung Cikeusik; dan yang kedua yaitu hutan Sasaka Domas di kawasan
hulu sungai Ciparahiang, anak sungai Ciujung di sebelah selatan kampung Cibeo.

Dalam memenuhi kebutuhan akan tempat tinggal, komunitas Kanekes Tangtu


mewujudkannnya dalam bentuk yang sangat sederhana. Mereka hanya membangun
tempat tinggal seperlunya dengan arsitektur bangunan yang sama; setiap rumah
dirancang untuk tidak langsung berhubungan dengan tanah tetapi berbentuk
panggung dengan penyangga dari batu setinggi kurang lebih 75 cm. Material
bangunan untuk rumah sendiri sangat sederhana yaitu dengan memanfaatkan
bahan-bahan yang ada di lingkungan setempat mencakup kayu-kayu ringan, bambu
baik yang utuh, dibelah (palupuh), atau dianyam (bilik) dan serat pohon enau (injuk),
semacam daun pandan, daun kelapa, atau alang-alang kering sebagai bahan untuk
atap rumah.
Untuk satu Keluarga inti, hanya ada 2 3 ruangan di dalam rumah, yaitu 1 ruangan
agak besar untuk tempat berkumpul keluarga, tidur anak laki-laki, tempat menerima
tamu,

tempat

menyimpan

berbagai

perkakas

rumah

tangga,

dan

tempat

memasak/perapian yang merangkap tempat untuk makan; 1 ruangan untuk orang


tua, dan 1 ruangan lagi untuk anak perempuan. Dengan konstruksi rumah panggung
seperti di atas, maka ada ruang kosong di bawah rumah yang biasanya difungsikan
sebagai tempat untuk memelihara ternak.
Rumah pimpinan komunitas (puun) dipisahkan dengan tempat pemukiman penduduk
biasa yang dibatasi oleh satu lapangan dimana tidak sembarang orang bias
memasuki areal ini karena sangat terlarang menurut kepercayaan setempat.

Kesucian tanah, apalagi rumah kepala adat, sesuai dengan kehendak nenek moyang
mereka
(karuhun), haruslah dipelihara dari sentuhan orang yang bukan warga Baduy
dengan cara tidak menginjak dan berada di tanah dan rumah ini.
Jarak antara rumah berdekatan, pekarangan depan rumah dan belakang agak lebih
luas dibandingkan dengan pekarangan di kedua sampingnya yang agak sempit.
Jarak yang dekat ini memudahkan wanita-wanita meminta api dari tetangganya
untuk keperluan dapur (hawu). Hubungan dekat terjalin dengan erat, tidak saja
dengan saling berkunjung, tetapi terjadi pula pada waktu mereka sama-sama pergi
ke sungai atau pancuran, dan sampil menumbuk padi di saung lisung. Sumber air
dan saung lisung ini mempunyai fungsi ganda; disini wanita-wanita bias saling
bertemu, berbicara, dan mengobrol untuk memahami dan memecahkan berbagai
persoalan hidup (terutama dalam hal memelihara dan mengasuh anak, relasi antara
angota keluarga dan hal-hal kewanitaan lainnya yang seringkali disampaikan secara
terbuka dan berkelakar).
Orang Tangtu yang matapencahariannya berladang ternyata memiliki dua pola
tempat tinggal, pertama adalah tempat tinggal yang tetap berupa kampung serta
tempat tinggal di ladang (saung huma atau dangau ladang) untuk waktu-waktu
tertentu, biasanya pada saat-saat pertama menanam dan saat-saat menjelang akan
panen, yang serupa dengan tempat tinggalnya di kampung; hanya saja pola
mukimnya tidak terpusat seperti di kampung tetapi tersebar di ladang masingmasing.

Sistem perekonomian orang Kanekes Tangtu cenderung menggambarkan sistem


yang tertutup, dalam arti aktivitas perekonomiannya dilakukan hanya untuk
memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan diproduksi serta dikonsumsi di
lingkungan mereka sendiri. Pertanian merupakan aktivitas ekonomi utama dan
penting, dengan pandangan mereka bahwa aktivitas ekonomi ini hanya untuk
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan bukan untuk memperkaya diri, maka tidak

banyak aktivitas jenis ekonomi yang dilakukan mereka seperti masyarakat modern
pada umumnya.
Seluruh warga komunitas belajar untuk bekerja di sektor pertanian sesuai dengan
aturan yang telah ditentukan, mereka dituntut untuk melakukan terhadap apa
yang telah digariskan apakah tentang waktu pengolahan tanah, jenis tanaman,
proses pengolahan tanah, maupun memanen hasil pertaniannya. Pada masa tidak
sedang bekerja di ladang, para laki-laki bekerja di hutan untuk berburu dan
memanen madu, sementara perempuan bekerja menenun dirumah untuk membuat
baju, selendang, sarung, serta kerajinan rumah tangga lainnya. Hasil dari aktivitas
ekonomi ini diutamakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk upacaraupacara, sedangkan sisanya mereka jual ke daerah luar untuk ditukar dengan
kebutuhan yang tidak mereka hasilkan seperti garam, minyak goreng, serta bumbubumbu.
Orang Kanekes dalam dipebolehkan untuk berburu namun hanya dalam konteks
untuk memenuhi kebutuhan upacara-upacara tertentu saja; hewan-hewan buruan
juga terbatas pada jenis kancil, menjangan, dan tupai.

Sistem pertanian di Indonesia maupun di beberapa Negara pertanian di dunia sudah


sangat jarang sekali menggunakan sistem berladang, karena dengan tingkat
pertambahan penduduk yang semakin banyak maka pemberdayaan lahan menjadi
semakin tidak efektif dan cenderung tidak ramah lingkungan. Menurut orang
Kanekes, sistem berladang yang mereka kerjakan sesuai dengan kepercayaan serta
pandangan hidup mereka, yaitu untuk tidak membuat perubahan secara besarbesaran

pada

alam,

karena

justru

dengan

demikian

akan

menimbulkan

ketidakseimbangan alam dalam konteks mirko dan makro kosmos (Boolars, 1984:
33).
Dengan sistem berladang, mereka tidak malakukan perubahan bentuk alam karena
mereka menanam mengikuti alam yang ada, mereka menanam padi dan tumbuhan
lainnya sesuai dengan lereng disana, dan tidak membuat terasering. Sistem

pengairannya tidak menggunakan irigasi teknis, tetapi hanya memanfaatkan hujan


yang ada. Ada pelarangan penggunaan air sungai dan sumber mata air lainnya untuk
mengairi sawah atau ladang, hidup kepercayaan di lingkungan mereka bahwa
dengan membelokkan arah aliran air sungai maupun mata air untuk pertanian akan
merubah bentuk alam dan dapat menimbulkan ketidakseimbangan alam sehingga
akan ada kerusakan alam.
Pemupukan serta perawatan pertanian dilakukan semuanya adalah organik, tidak
ada unsur kimia yang digunakan dalam mengelola pertanian. Lahan untuk berladang
dipilih yang memiliki humus banyak hal mana biasanya ditandai dengan banyaknya
daun-daun yang berserakan di ladang tersebut. Semakin lama lahan tersebut tidak
digunakan sebagai ladang, maka akan semakin banyak humus di daerah tersebut
dan semakin subur.
Hasil panen padi disimpan di lubung bersama yang berada di tepi kampung, selain
untuk menyimpan padi untuk persediaan selama satu tahun, lumbung juga
digunakan untuk menyimpan bibit-bibit unggul untuk ditanam pada tahun berikutnya.
Lumbung ditutup rapat untuk mencegah padi dari hama maupun hewan lainnya.
Lumbung padi tidak bisa di buka sembarang waktu, tetapi harus dengan seizin
pemuka masyarakat yang berhubungan dengan kegiatan itu. Kebutuhan padi untuk
hidup sehari-hari, maupun untuk upacara-upacara telah direncanakan bersama
sehingga tidak ada keluarga yang kekurangan maupun kelebihan persediaan padi di
rumah.
Dalam hal penggunaan lahan pertanian juga rumah tempat tinggal, komunitas
Kanekes tidak mengenal konsep kepemilikan individual, semuanya adalah milik
kelompok (persekutuan komunal), lahan disana merupakan tanah adat yang
digunakan secara bersama-sama, dan tentu saja melalui proses pengaturan. Di
wilayah Kanekes dalam ini tidak berlaku sistem jual beli maupun sewa menyewa
lahan, yang ada adalah kepemilikan tanaman. Tanaman menjadi milik orang yang
menanam sementara lahan tetap menjadi milik adat; dengan system ini, adat dapat
mengendalikan lahan dan peruntukannya. Lahan-lahan yang dapat digunakan
sebagai lahan pertanian digunakan secara bergiliran oleh keluarga-keluarga disana.

Kondisi lingkungan di kampung-kampung Kanekes dalam memiliki kualitas yang baik


yang ditandai dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang masih tinggi. Banyak
jenis-jenis flora dan dauna yang ada di Kanekes tetapi tidak ditemukan di wilayah
lainnya. Beberapa satwa yang hidup di sana tergolong liar dan langka sehingga
dilindungi oleh pemerintah Indonesia. Kemandirian hidup mereka
menciptakan iinteraksi masyarakat dan lingkungan yang sangat erat dan saling
tergantung.
Tempat tinggal yang relatif jauh dari peradaban modern dan kehidupan yang
tradisional yang tetap dipertahankan oleh komunitas Kanekes menyebabkan mereka
memiliki sifat-sifat yang khas. Cara hidup tradisional yang sarat dengan nilai-nilai
toleransi antara lingkungan sosial-budaya, alam, dan transendental dalam kehidupan
masyarakat Baduy sebenarnya adalah konsep yang sangat modern; orientasi pada
masa yang akan datang seperti terwujud dalam mekanisme pengelolaan lubung padi
adalah salah satu kriteria modern yang dikemukakan oleh Kluckhohn dan Strodtbeck
(1961) atau oleh Inkeles (1994); Kerusakan lingkungan sebagai salah satu indikator
dari masyarakat pembangun seperti yang dikemukakan oleh Budiman (1995: 6) juga
diterjemahkan dengan baik oleh komunitas ini dalam penataan lingkungannya.
Proteksi terhadap lingkungannya ini ditujukan untuk mempertahankan kehidupan
mereka agar supaya tetap utuh dan bisa memenuhi kebutuhann hidup sendiri.
Pandangan mereka dalam kelestarian lingkungan, sama dengan pemikiran dalam
pembangunan berkelanjutan dimana mereka beranggapan bahwa kerusakan
lingkungan atau perubahan terhadap bentuk limngkungan akan mengancam sumber
kehidupan mereka yang berakibat dengan kelaparan dan kekurangan secara
ekonomi lainnya. Kehancuran kehidupan akibat kerusakan lingkungan akan memicu
kepunahan orang Kanekes, oleh sebab itu mereka melarang bahkan melawan fihak
luar yang berusaha untuk mengadakan berubahan disana, termasuk pemerintah.
Prinsip dan falsafah kehidupan di Kanekes merupakan instrumen utama bagi
pengelolaan lingkungan disana, mereka menganggap dirinya termasuk dalam
dimensi lingkungan secara totalitas; Petuah sekaligus amanat dari nenek

moyangnya, yang dianggap sebagai bagian dari unsur kepercayaan, mengisyaratkan


bahwa mereka adalah kaum yang dipilih sebagai penjaga alam desa Kanekes
khususnya yang merupakan salah satu pusat alam, petuah dan amanat mana
sedemikian kuat terinternalisasi dalam hati dan pikiran segenap orang Kanekes yang
berpengaruh positif terhadap segala tindakannya kemudian. Keyakinan kuat dari
orang Kanekes dalam menjaga lingkungan dari kerusakan didukung oleh keyakinan
mereka bahwa Kenekes merupakan wilayah pusat tanah Jawa (Prihartoro, 2006: 17;
Ekajati, 1995: 70). Mereka berkeyakinan jika pusat dari alam mengalami kerusakan
maka akan
menimbulkan bencana alam di tempat lainnya. Untuk menghindari dari kerusakan
atau bencana alam di tempat lain itu, maka komunitas Kanekes terutama pemimpin
mereka harus sangat disiplin menjaga kelestarian lingkungan.
Aturan untuk menghindari perubahan terhadap bentuk alam dalam segala aspek
kehidupan merupakan bentuk untuk menjaga kelestarian alam antar generasi.
Struktur pemerintahan dan adat yang dikombinasikan untuk menjaga eksistensi
hukum adat dan tetap menjadi bagian dari lingkungan luar. Prinsip ekonomi yang
diterapkan juga menjadi kunci keberlangsungan komunitas Kanekes, yaitu bahwa
segenap aktivitas ditujukan pada pemenuhan kebutuhan sehari-hari yang merupakan
kebutuhan primer seperti sandang, pangan, dan papan. Kebutuhan diluar primer
dianggap sebagai pemenuhan nafsu atau keinginan saja yang akan memicu
eksploitasi sumber daya alam dan kesenjangan sosial.

Konsep belajar pada masyarakat suku Baduy tidak mengacu pada dimensi jenjang
atau waktu, bagi mereka belajar harus terus dilakukan sampai manusia mati. Salah
satu sumber bejalar dalam kehidupan mereka adalah alam, karena selama ini
sumber ilmu yang mereka ajarkan dan mereka dapatkan semuanya bersumber dari
alam. Fenomena alam yang ada disekelilingnya selalu direfleksikan, terutama oleh
para pimpinan adat sebagai sumber ilmu bagi mereka. Cara-cara bertani selalu
dikaitkan dengan posisi bintang, karena menurut mereka posisi bintang ini sangat

berpengaruh terhadap kehidupan yang kemudian dijadikan sebagai pedoman dari


seperangkat tindakan manusia.
Prinsip hidup masyarakat suku Baduy mencerminkan ajaran pendidikan mereka,
dimana materi yang diajarkan adalah hanya sebatas pada kebutuhan yang biasa ada
saja; mereka tidak pernah dan tidak merasa perlu belajar berbagai hal yang tidak
mereka lakukan dalam kehidupannya. Pola pendidikannya dapat dikatakanb tidak
universal karena mereka membuat materi ajar tertentu dengan tanpa dokumentasi
yang jelas. Nilai yang dapat diikuti secara universal adalah substansi pembangunan
yang berkelanjutan yang diajarkan secara turun temurun. Integrasi
pengetahuan tentang lingkungan, sosial-budaya, ekonomi, dan kepercayaan
dikemas dalam materi untuk mencapai proses kesimbangan antaranya.
Pengetahuan tidak diajarkan secara terpotong-potong tetapi berlaku secara
menyeluruh mengenai bagaimana suatu kelestarian dan keharmonisan dengan alam
itu akan menyebabkan keseimbangan yang baik dan dapat berproduksi untuk
memenuhi kebutuhan hidup mereka. Jika kebutuhan terpenuhi maka masyarakat
dapat menjalankan eksistensinya yang pada akhirnya menghasilkan pemikiran dan
teknologi untuk menciptakan kelestarian lingkungan. Pola pikir yang membentuk
siklus kehidupan tersebut yang selama ini menjadi inti ajaran masyarakat Baduy
terbukti dapat bertahan sampai saat ini.

Perubahan budaya Tradisional Suku Baduy secara evolusi


Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh
adat tradisi yaitu Suku Baduy. Suku Baduy mendiami kawasan Pegunungan
Keundeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten
Lebak.Masyarakat Baduy sebagai salah satu suku terasing di Indonesia masih
sangat jarang, Hal itu lebih disebabkan karena masyarakat Baduy merupakan salah
satu kelompok suku terasing di Indonesia yang mempunyai kesan tersendiri,
Pendiriannya yang keras tapi tidak pernah merepotkan orang lain dalam keadaan
bagaimanapun. Bagi masyarakat Baduy, larangan sudah menjadi pagar tradisi yang
kokoh untuk taat pada pikukuh aturan. Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan)
Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apa pun", atau perubahan
sesedikit mungkin Lojor heunteu beunang dipotong, pndk heunteu beunang

disambung. (Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh
disambung).

Masyarakat dan kebudayaan manusia di manapun selalu berada dalam


keadaan berubah. Pada masyarakat-masyarakat dengan kebudayaan primitif, yang
hidup terisolasi jauh dari berbagai jalur hubungan dengan masyarakat-masyarakat
lain di luar dunianya sendiri, perubahan yang terjadi dalam keadaan lambat.
Perubahan yang terjadi dalam masyarakat berkebudayaan primitif tersebut, biasanya
telah terjadi karena adanya sebab-sebab yang berasal dari dalam masyarakat dan
kebudayaan itu sendiri, yaitu karena perubahan dalam jumlah penduduknya dan
karena perubahan lingkungan alam dan fisik tempat mereka hidup.
Perubahan yang terjadi pada masyarakat baik modern maupun primitif disebut
dengan perubahan sosial dimana perubahan ini tidak terlepas sebagai akibat dari
interaksi sosial masyarakat itu sendiri. Perubahan sosial adalah variasi dari cara-cara
hidup yang diterima yang disebabkan oleh perubahan-perubahan kondisi geografis,
kebudayaan material, komposisi penduduk, ideology, difusi dan penemuan baru
dalam masyarakat.(John Lewis Gillin)
Perubahan sosial terjadi karena bermacam-macam factor yang mempengaruhi
dan terdiri dari berberapa bentuk. Perubahan sosial pada masyarakat primitive
termasuk dalam evolusi, karena merupakan salah satu bentuk perubahan sosial
yang berlangsung lambat. Hal ini terjadi dikarenakan keadaan masyarakat yang
berwatak keras dan sulit menerima kebudayaan baru serta meninggalkan adat
daerahnya.

Sehingga,

menyebabkan

menyebabkan perubahan sosial.

kebudayaan

lain

sukar

masuk

dan

Kepercayaan Sunda Wiwitan

Kebudayaan

Indonesia memang

beraneka

ragam salah

satunya

adalah

masyarakat Baduy atau Kanekes yang memiliki agama kepercayaan yaitu Sunda
Wiwitan, meski ada beberapa masyarakat Baduy yang sudah memeluk agama Islam
atau Buddha. Keberagaman dalam memeluk agama pada masyarakat Baduy
merupakan bentuk ketaatan terhadap nilai-nilai dan pandangan hidup yang
diturunkan nenek moyang. Agama apapun yang menjadi ajaran dalam masyarakat
Baduy mengajarkan bahwa semua hal yang berkaitan dengan pola kehidupan
mereka tidak boleh atau pantang untuk diubah.
Sunda Wiwitan sebagai ajaran masyarakat Baduy adalah bentuk penghormatan dan
kepercayaan kepada satu kuasa yaitu Batara Tunggal. Orientasi, konsep-konsep dan
kegiatan-kegiatan keagamaan ditujukan kepada pikukuh. Hal itu dilakukan agar
manusia hidup menurut alur (filosofi diatas) dalam menyejahterakan kehidupan

masyarakat Baduy. Gangguan terhadap inti bumi akan berakibat fatal bagi seluruh
kehidupan manusia di dunia.
Konsep keagamaan dan adat yang penting menjadi inti pandangan hidup
masyarakat Baduy yaitu lojor teu meunang dipotong, pondok teu meunang
disambung (panjang tak boleh dipotong, pendek tak boleh disambung). Pandangan
hidup tersebut merupakan pengejawantahan dari adat dan keagamaan yang
ditentukan oleh intensitas pandangan hidup mengenai karya dan keagamaan.
Dengan melaksanakan semua itu manusia akan dilindungi oleh kuasa tertinggi yaitu
Batara Tunggal.
Kewajiban

masyarakat

Baduy

untuk

menjalankan

ajaran kepercayaan Sunda

Wiwitan diajarkan melalui puun sebagai pemimpin tertinggi masyarakat Baduy yang
merupakan keturunan Karuhun. Kewajiban itu adalah memelihara Sasaka Pusaka
Buana, memelihara Sasakan Domas atau parahyang, mengasuh dan memelihara
para bangsawan/pejabat, bertapa bagi kesejahteraan dunia, berbakti kepada dewi
padi dengan cara berpuasa pada upacara, memuja nenek moyan dan membuat
laksa untuk bahan pokok seba.
Adapun nenek moyang orang Baduy terbagi pada dua kelompok yaitu nenek
moyang yang berasal dari masa para batara dan masa puun. Gambaran Batara
Tunggal terdapat dalam dua dimensi yaitu sebagai suatu kuasa yang kekuatannya
yang tidak tampak tetapi berada di mana-mana, dan sebagai manusia biasa yang
sakti. Dalam dimensi sebagai manusia sakti, Batara Tunggal mempunyai keturunan
tujuh orang batara yang dikirimkan ke dunia di kabuyutan (tempat nenek-moyang),
yaitu titik awal bumi Sasaka Pusaka Buana.
Mereka itu ialah Batara Cikal, yang diberitakan tidak ada keturunannya, Batara
Patanjala yang menurunkan tujuh tingkat batara ketiga, yaitu (dari yang paling
senior) Daleum Janggala, Daleum Lagondi, Daleum Putih Seda Hurip, Dalam
Cinangka, Daleum Sorana, Nini Hujung Galuh, dan Batara Bungsu. Mereka itu yang
menurunkan Bangsawan Sawidak Lima atau tujuh batara asal, nenek moyang orang

Baduy. Daleum Janggala adalah batara yang tertua, dan yang menurunkan kerabat
tangtu Cikeusing; Daleum Putih Seda Hurip menurunkan kerabat kampung Cibeo.
Para batara tingkat ketiga lain masing-masing menurunkan jenis kerabat pemimpin
lainnya. Lima batara tingkat kedua, saudara-saudara muda Batara Pantajala, yaitu
Batara Wisawara, Batara Wishnu, Batara Brahmana, Batara Hyang Niskala, dan
Batara Mahadewa, menurunkan kelompok kerabat besar di luar Baduy yang disebut
salawe nagara (dua puluh lima negara), yang menunjukkan jumlah kerabat yang
besar, dan menurut pengetahuan orang Baduy adalah wilayah yang sangat luas di
sebelah Sungai Cihaliwung (Garna 1988). Kelompok kerabat itulah yang dianggap
orang Baduy keturunan yang lebih muda.
Dari ketujuh orang batara tingkat ketiga nenek-moyang suku Baduy itu tampak
bahwa hanya kerabat jaro dangka yang berasal dari garis keturunan perempuan.
Lainnya diturunkan melalui garis keturunan patrilineal. Para puun adalah keturunan
Batara Patanjala, dan sampai masa akhir abad ke-19 oleh Jacobs dan maijer dicatat
sudah terjadi 13 kali pergantian puun Sikeusik (1891: hlm. 13). Menurut catatan
tahun 1988, jumlah puun Cikeusik adalah 24 orang, dan yang terakhir adalah Puun
Sadi (Garna 1988).

UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN SUKU BADUY

Sekilas..
Menyimak cerita rakyat khususnya di wilayah Kecamatan Leuwidamar Kabupaten
Lebak umumnya se-wilayah Banten maka suku Baduy berasal dari 3 tempat
sehingga baik dari cara berpakaian, penampilan serta sifatnya pun sangat berbeda.

I. Berasal dari Kerajaan Pajajaran/Bogor


II. Berasal dari Banten Girang/Serang
III. Berasal dari Suku Pangawinan (Campuran)
Kini sebutan bagi suku Baduy terdiri dari :

1. Suku Baduy Dalam yang artinya suku Baduy yang berdomisili di Tiga Tangtu
(Kepuunan) yakni Cibeo, Cikeusik dan Cikertawana.

2. Suku Baduy Panamping artinya suku Baduy yang bedomisili di luar Tangtu yang
menempati di 27 kampung di desa Kanekes yang masih terikat oleh Hukum adat
dibawah pimpinan Puuun (kepala adat).

3. Suku Baduy Muslim yaitu suku Baduy yang telah dimukimkan dan telah mengikuti
ajaran agama Islam dan perilakunya telah mulai mengikuti masyarakat luar serta
sudah tidak mengikuti hukum adat.

Adapun sebutan suku Baduy menurut cerita adalah asalnya dari kata Badui, yakni
sebutan dari golongan/kaum Islam yang maksudnya karena suku itu tidak mau

mengikuti dan taat kepada ajaran agama Islam, sedangkan di Saudi Arabia golongan
yang seperti itu disebut Badui maksudnya golongan yang membangkang tidak mau
tunduk dan sulit diatur sehingga dari sebutan Badui inilah menjadi sebutan Suku
Baduy.

HUBUNGAN ANTARA UNSUR-UNSUR KEBUDAYAAN MASYARAKAT SUKU


BADUY

Peralatan dan Perlengkapan Hidup

Alat-Alat Produksi

Golok/Bedog

Golok atau bedog menjadi atribut sehari-hari lelaki Baduy. Ada dua macam Golok
yang dibuat dan digunakan oleh orang Baduy, yaitu golok polos dan golok pamor.
Golok polos dibuat dengan proses yang biasa, menggunakan besi baja bekas per
pegas kendaraan bermotor yang ditempa berulang-ulang. Golok ini digunakan oleh
orang Baduy untuk menebang pohon, mengambil bambu, dan keperluan lainnya.
Golok Baduy yang telah diyakini kekuatannya yaitu golok yang berpamor. Golok
pamor memiliki urat-urat atau motif gambar yang menyerupai urat kayu dari pangkal

hingga ujung golok pada kedua permukaannya. Proses pembuatannya lebih lama
dan memerlukan pencampuran besi dan baja yang khusus. Kekuatan dan ketajaman
golok pamor melebihi golok polos biasa, di samping memiliki kharisma tersendiri bagi
yang menyandangnya.

Golok buatan orang Baduy-Dalam berbeda dengan buatan orang Baduy-Luar.


Secara jelas perbedaannya terletak pada sarangka dan perah-nya, baik yang
berpamor maupun tidak. Golok terbuat dari bahan baja dan besi bekas dari per
pegas kendaraan bermotor. Pembuatannya dengan cara menempa besi baja
tersebut hingga pipih dan tajam dengan pemanasan api arang.

Reka hias golok diterakan pada bagian sarangka (wadah) dan perah (pegangan).
Motif hiasnya berupa garis-garis yang geometris mengikuti alur dan arah sarangka
dan perah tersebut, dengan menggunakan alat pisau pangot, atau pisau raut dan
gergaji kecil.

Bahan untuk membuat sarangka ialah kayu Reunghas, dan perahnya dari bahan
kayu duren atau kayu jenis lain yang lebih keras. Pengikat atau penguat sarangka
digunakan bahan tanduk sapi atau kerbau yang telah diraut terlebih dahulu. Tanduk
sapi atau kerbau kadang-kadang digunakan pula untuk perah golok (berdasarkan
pesanan).

Kujang

Kujang adalah alat untuk keperluan bercocok tanam di huma, misalnya untuk nyacar,
ngored, dan dibuat. Benda seperti ini di daerah Sunda yang lain sering dinamakan
arit. Kujang dibuat dari bahan besi dan baja yang ditempa. Alat ini disebut kujang
karena berbentuk mirip kujang sebagai senjata khas Pajajaran dan kini menjadi
simbol daerah Jawa Barat.

Istilah kujang ditujukan untuk bentuk seperti kujang dengan bagian bawah
(tangkai)nya seperti golok , dan alat ini banyak digunakan oleh orang Baduy Dalam.
Sedangkan bagi orang Baduy Luar biasanya menggunakan istilah kored (alat untuk
pekerjaan ngored/membersihkan rerumputan di huma).

Kapak Beliung

Baliung adalah alat untuk menebang pohon besar atau sebagai salah satu perkakas
untuk membangun rumah. Di daerah lain disebut juga kapak. Gagangnya terbuat
dari kayu yang agak panjang (30-35 cm). Tenaga dan daya tekan Baliung harus lebih
besar daripada golok, dan karena itu dibuat dari besi baja yang lebih besar dan tebal
pada bagian pangkal (yang tumpulnya).

Senjata
Ada dua kampung di Baduy Luar yang terkenal pembuatan perkakas tajam, yaitu
kampung Batu Beulah dan Cisadane. Kedua kampung ini letaknya tidak berjauhan,
dan berada di sebelah Selatan Baduy (Kanekes). Tukang membuat perkakas tajam
ini dinamakan Panday Beusi. Yang dibuatnya antara lain Golok, Kujang, dan Baliung.
Kampung yang sangat populer goloknya yaitu dari panday beusi Batu Beulah dan
Cisadane. Sejak dahulu kedua kampung yang berdekatan ini sudah terkenal buatan
goloknya yang sangat hebat (karena kekuatan, ketajaman, dan pamornya). Bahkan
tersebutlah nama seorang panday beusi Daenci (sekarang sudah meninggal dunia)
yang terkenal karena kesaktian dan kekuatan goloknya. Kepopuleran Batu Beulah
hingga kini tidak bisa dilepaskan dari nama Daenci. Anak dan cucu Daenci
merupakan generasi penerus pembuat golok Daenci.

Wadah

Lodong

Salah satu kegiatan wanita suku Baduy adalah mencari lahang untuk dijadikan gula
aren. Setiap pagi mereka membawa lodong, gelonggong bambu sepanjang 1 meter,
untuk menampung lahang (air nira) dari pohon aren yang tumbuh di sekitar kampung
dan hutan.

Setelah terkumpul, digodoklah lahang itu hingga kental sebelum kemudian dicetak
menggunakan tempurung menjadi gula aren yang siap jual. Dalam sehari setidaknya
dia dapat membuat 40 tangkup gula aren. Setangkup gula aren yang dihasilkan dari
dua keping tempurung dijualnya Rp 4.000.

Makanan dan Minuman


Dalam hal makanan, orang Baduy tergolong sangat fanatik. Mereka tidak mau
menyantap makanan selain makanan tradisional yang mereka santap setiap hari.
Maklum, masyarakat yang tinggal di pedalaman Pegunungan Kendeng, Desa
Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, ini sangat memegang
teguh adat istiadat nenek moyang mereka hingga saat ini.

Mereka tidak akan menyantap jenis makanan yang tidak dimakan nenek moyang
mereka. Mereka juga tidak akan melakukan kebiasaan yang dulunya tidak pernah
dilakukan nenek moyang mereka. Kebiasaan mandi tidak menggunakan sabun
masih berlangsung hingga saat ini.

Orang Baduy memang suka sekali makan ikan asin. Setiap seminggu sekali ketika
hari pasaran tiba, mereka menempuh jarak puluhan kilo ke pasar terdekat hanya
untuk membeli ikan asin.

Akan tetapi, orang Baduy adalah manusia biasa yang punya keinginan untuk sedikit
berbeda. Ketika di antara mereka berjalan-jalan menuju daerah lain atau bahkan
hingga Jakarta dengan berjalan kaki, ada juga yang ingin mencoba minuman Sprite
atau Coca-Cola.

Interaksi warga Baduy dengan masyarakat lain menyebabkan perubahan gaya hidup
warga Baduy. Kalau dulu masyarakat Baduy cukup makan dengan nasi, ikan asin
dan garam, kini mereka gemar makan mi instan. Menurut Nasib, salah seorang
pedagang makanan yang berkeliling dari Baduy Luar hingga Baduy Dalam, rata-rata
sepekan ia bisa menjual 10 kardus atau 400 bungkus mi instan. Tak cuma mi instan,

menyantap spageti dengan sumpit pun tidak membuat mereka kikuk. Awal
September lalu, Narpa (45) dan dua anaknya, serta beberapa lelaki Baduy lahap
menyantap makanan Italia yang disajikan tamu dari Jakarta yang menginap di
rumahnya. Hanya istri Narpa saja yang mengaku tidak doyan.

Pergeseran selera makan pun terjadi pada anak-anak. Jarmin, warga Kampung
Cibeo, mengaku, di masa anak-anak ia hanya memakan pisang bakar sebagai
camilan. Kini ia harus mengeluarkan Rp 10.000 untuk jajan tiga anaknya yang gemar
camilan-camilan dalam kemasan, permen, atau minuman kemasan.

Penjual makanan datang dari luar Cibeo sebab masyarakat Baduy Dalam tidak
diperkenankan berdagang oleh adat. Peraturan adat hanya melarang masyarakat
Baduy untuk makan daging kambing, anjing, dan kucing serta minum sesuatu yang
memabukkan. Aturan ini menyebabkan es lilin, minuman ringan (soft drink), susu,
roti, dan makanan ringan dengan mudah diterima masyarakat Baduy.

Jika bepergian ke kota, orang Baduy Dalam biasa membawa oleh-oleh buah-buahan
atau makanan yang tak ada di kampungnya. "Habis enggak ada lagi yang boleh
dibeli," ungkap Sanif, warga Baduy Dalam berambut gondrong yang biasa membawa
jeruk, apel, anggur, dan kelengkeng. Di Jakarta, beberapa kali mereka dijamu makan
di restoran mewah oleh kenalannya. Jangan heran kalau orang-orang Baduy Dalam
bisa bercerita soal Toserba Sarinah atau Mal Pondok Indah.

Pakaian dan Perhiasan

Baduy Dalam

Baduy Luar

Baduy Dalam, untuk laki-laki memakai baju lengan panjang yang disebut jamang
sangsang, karena cara memakainya hanya disangsangkan atau dilekatkan di badan.
Desain baju sangsang hanya dilobangi/dicoak pada bagian leher sampai bagian
dada saja. Potongannya tidak memakai kerah, tidak pakai kancing dan tidak
memakai kantong baju. Warna busana mereka umunnya adalah serba putih.

Pembuatannya hanya menggunakan tangan dan tidak boleh dijahit dengan mesin.
Bahan dasarnya pun harus terbuat dari benang kapas asli yang ditenun.

Bagian bawahnya memakai kain serupa sarung warna biru kehitaman, yang hanya
dililitkan pada bagian pinggang. Agar kuat dan tidak melorot, sarung tadi diikat
dengan selembar kain. Mereka tidak memakai celana, karena pakaian tersebut
dianggap barang tabu.

Selain baju dan kain sarung yang dililitkan tadi, kelengkapan busana pada bagian
kepala menggunakan ikat kepala berwarna putih pula. Ikat kepala ini berfungsi
sebagai penutup rambut mereka yang panjang. Kemudian dipadukan dengan
selendang atau hasduk yang melingkar di lehernya. Pakaian Baduy Dalam yang
bercorak serba putih polos itu dapat mengandung makna bahwa kehidupan mereka
masih suci dan belum terpengaruh budaya luar.

Bagi suku Baduy Luar, busana yang mereka pakai adalah baju kampret berwarna
hitam. Ikat kepalanya juga berwarna biru tua dengan corak batik. Desain bajunya
terbelah dua sampai ke bawah, seperti baju yang biasa dipakai khalayak ramai.
Sedangkan potongan bajunya mengunakan kantong, kancing dan bahan dasarnya
tidak diharuskan dari benang kapas murni. Cara berpakaian suku Baduy Panamping
memamg ada sedikit kelonggaran bila dibandingkan dengan Baduy Dalam. Melihat
warna, model maupun corak busana Baduy Luar, menunjukan bahwa kehidupan
mereka sudah terpengaruh oleh budaya luar.

Kelengkapan busana bagi kalangan laki-laki Baduy adalah amat penting. Rasanya
busana laki-laki belum lengkap apabila tidak memakai senjata. Bagi Baduy Dalam
maupun Luar kalau bepergian selalu membawa senjata berupa golok yang
diselipkan di balik pinggangnya. Pakaian ini biasanya masih dilengkapi pula dengan
tas kain atau tas koja yang dicangklek (disandang) di pundaknya.

Sedangkan, busana yang dipakai di kalangan wanita Baduy, baik Kajeroan maupun
Panamping tidak menampakkan perbedaan yang mencolok. Model, potongan dan
warna pakaian, kecuali baju adalah sama. Mereka mengenakan busana semacam
sarung warna biru kehitam-hitaman dari tumit sampai dada. Busana seperti ini
biasanya dikenakan untuk pakaian sehari-hari di rumah. Bagi wanita yang sudah
menikah, biasanya membiarkan dadanya terbuka secara bebas, sedangkan bagi
para gadis buah dadanya harus tertutup. Untuk pakain bepergian, biasanya wanita
Baduy memakai kebaya, kain tenunan sarung berwarna biru kehitam-hitaman,
karembong, kain ikat pinggang dan selendang. Warna baju untuk Baduy Dalam
adalah putih dan bahan dasarnya dibuat dari benang kapas yang ditenun sendiri.

Untuk memenuhi kebutuhan pakaiannya, masyarakat suku Baduy menenun sendiri


dan dilakukan oleh kaum wanita. Dimulai dari menanam biji kapas, kemuduan
dipanen, dipintal, ditenun sampai dicelup menurut motifnya khasnya. Penggunaan
warna pakaian untuk keperluan busana hanya menggunakan warna hitam, biru tua
dan putih. Kain sarung atau kain wanita hampir sama coraknya, yaitu dasar hitam
dengan garis-garis putih, sedangkan selendang berwana putih, biru, yang dipadukan
dengan warna merah.

Semua hasil tenunan tersebut umumnya tidak dijual tetapi dipakai sendiri. Bertenun
biasanya dilakukan oleh wanita pada saat setelah panen. Jenis busana yang
dikerjakan antara lain, baju, kain sarung, kain wanita, selendang dan ikat kepala.
Selain itu, ada kerajinan yang dilakukan oleh kalangan pria di antaranya adalah
membuat golok dan tas koja, yang terbuat dari kulit pohon teureup ataupun benang
yang dicelup.

Dari model, potongan dan cara berbusananya saja, secara sepintas orang akan tahu
bahwa itu adalah suku Baduy. Memang, pakaian bagi suku Baduy bukanlah sekedar

untuk melindungi tubuh saja, melainkan lebih bersifat sebagai identitas budaya yang
melekatnya. Mereka percaya bahwa semuanya itu merupakan warisan yang
dituturkan oleh karuhun atau nenek moyang mereka untuk dijaga.

Dari perhiasan, suku Baduy menganggap manik-manik yang berwarna orange,


merah, atau hijau, sebagai sebuah perhiasan yang berharga. Mungkin sama
sebagaimana orang modern melihat emas dan berlian.

Tempat Berlindung dan Perumahan

Rumah suku Baduy

Proses pembuatan rumah/membangun rumah selalu dikerjakan secara gotong


royong,

yang

menunjukkan

bahwa

masyarakat

Baduy sangat

tinggi

rasa

kebersamaannya. Adapun bentuk rumah tidak semewah rumah di kota-kota yang


dindingnya menggunakan pasir, semen, ditata dengan indah, diberikan berbagai
aksesoris dan hiasan dinding sesuai dengan keinginan pemilik rumah, namun pada
masyarakat Baduy rumah mereka cukup sederhana, terbuat dari bahan-bahan
seperti kayu yang berasal dari alamnya, bilik bambu, atap rumbia, genting ijuk dan
lain-lain yang jelas sangat sederhana, dengan posisi semua rumah di Baduy selalu

menghadap utara selatan, yang secara logika rumah menghadap utara selatan maka
proses pergantian dan penyinaran sinar matahari sangat baik, apabila pagi sinar
matahari masuk dari arah timur dan sore hari sinar matahari masuk dari arah barat,
sehingga masyarakat baduy memiliki tingkat kesehatan yang sangat tinggi apalagi
dengan aktifitas mereka yang selalu berolah raga setiap hari, namun olah raga yang
mereka lakukan bukan olah raga yang pada umumnya dilakukan, olah raga yang
mereka lakukan adalah olah raga yang berkaitan dengan aktifitas mereka seharihari.

Tempat tinggal suku Baduy Dalam masih berupa rumah adat/tradisional yang masih
dipertahankan sampai sekarang. Rumah suku Baduy di Banten ini memiliki makna
yang dalam.

Secara umum, bentuk rumah adat banten suku Baduy ini merupakan rumah
panggung yang hampir keseluruhan bahan bangunan rumah berasal dari bambu.

Bangunan rumah dibuat tinggi, berbentuk panggung, mengikuti kontur/tinggi


rendahnya permukaan tanah. Pada tanah yang miring dan tidak rata permukaannya,
bangunan disangga menggunakan tumpukan batu. Batu yang dipakai adalah batu
kali, berfungsi sebagai tiang penyangga bangunan dan menahan tanah agar tidak
longsor.
Atapnya terbuat dari daun yang disebut dengan sulah nyanda. Nyanda berarti sikap
bersandar, sandarannya tidak lurus melainkan agak merebah ke belakang. Salah
satu sulah nyanda ini dibuat lebih panjang dan memiliki kemiringan yang lebih
rendah pada bagian bawah rangka atap.
Bilik rumah dan pintu rumah terbuat dari anyaman bambu yang dianyam secara
vertikal. Teknik anyaman bambu yang dikenal dengan nama sarigsig ini hanya dibuat
berdasarkan perkiraan, tidak diukur lebih dulu. Kunci pintu rumah dibuat dengan
memalangkan dua kayu yang di dorong atau ditarik dari luar bangunan rumah.

Ada 3 ruangan dalam bangunan rumah adat ini, yaitu ruangan yang dikhususkan
untuk ruang tidur kepala keluarga juga dapur yang disebut Imah, ruang tidur untuk
anak-anak sekaligus ruang makan yang disebut tepas dan ruang untuk menerima
tamu yang disebut sosoro.
Seluruh bangunan rumah dibuat saling menghadap satu dengan yang lain, hanya
diperbolehkan membangun rumah menghadap ke Utara-selatan saja. Menghadap ke
arah Timur-barat tidak diperbolehkan secara adat.

Itulah bangunan rumah adat Banten suku Baduy, yang terkenal dengan
kesederhanaan, dan dibangun berdasarkan naluri manusia yang ingin mendapatkan
perlindungan dan kenyamanan. Rumah adat ini masih dapat anda jumpai di Banten,
jika anda ingin mengetahui dan melihat secara langsung di sana.

Alat-Alat Transportasi

Suku Baduy masuk kota

Suku Baduy Dalam tidak menggunakan


alat-alat elektronik seperti televisi dan lainnya, juga tidak boleh menggunakan alas
kaki seperti sendal dan sepatu saat berjalan. Semuanya serba alami dan tidak
mengikuti perkembangan zaman. Sedangkan kehidupan suku Baduy Luar ini lebih
mengikuti perkembangan zaman dan teknologi. Umumnya, masyarakat suku Baduy
Luar merupakan generasi muda yang menginginkan perubahan hidup. Masyarakat
Baduy Luar telah mengenal alat elektronik seperti televisi dan lainnya. Juga telah
menggunakan alat transportasi umum atau kendaraan. Kehidupan suku Baduy Luar
lebih modern, pembuatan rumahnya jauh lebih mengikuti perkembangan jaman.

Sistem Mata Pencaharian

Bercocok Tanam dan Berladang

Suku Baduy bercocok tanam

Masa tanam padi di kampung-kampung Baduy Dalam dimulai ketika puun sudah
menanam padi. Setelah puun, warga mulai menanam. Beberapa warga memiliki hari
baik yang mereka jadikan pegangan untuk mulai menanam padi. Mereka
membersihkan ladang dari tumbuhan-tumbuhan yang bisa mengurangi produksi
padi. Pengairan ladang dilakukan tanpa irigasi dan hanya mengandalkan hujan.
Masa tanam padi sengaja dipilih pada awal musim hujan atau sekitar bulan Oktober.
Ladang tidak mendapatkan pengairan untuk menjaga kebersihan air.

Warga Baduy, terlebih Baduy Dalam, tidak menggunakan obat-obatan kimia selama
berladang. Adapun Baduy Luar sudah mengenal pestisida. Di Baduy Dalam,
pemberantasan hama dilakukan dengan membacakan mantra-mantra. Hama pun
jarang menyerang ladang. Alat pertanian yang digunakan di Baduy tergolong
sederhana. Koret (arit), kayu untuk membuat lubang tempat benih, serta etem (aniani) adalah alat-alat yang digunakan dalam perladangan masyarakat Baduy. Mereka
tidak boleh membajak tanah dengan hewan atau traktor dengan alasan akan
merusak kesuburan tanah.

Baduy Dalam dan Baduy Luar memiliki areal tanah garapan masing-masing. Baduy
Dalam tidak boleh berladang di Baduy Luar, demikian pula Baduy Luar tidak

diperkenankan memiliki ladang di Baduy Dalam. Tanah perladangan di Baduy Luar


boleh diperjualbelikan di antara mereka. Untuk tanah yang berkualitas baik, harga
jualnya mencapai Rp 10.000 per meter persegi. Tanah ini tidak boleh dijual kepada
orang yang bukan berasal dari suku Baduy. Sedangkan, Baduy Luar memiliki tanah
di luar tanah Baduy. Berbeda dengan Baduy Luar, Baduy Dalam tidak mengenal
perdagangan tanah. Tanah Baduy Dalam tidak diperjualbelikan, tetapi boleh
digunakan secara bergantian oleh semua warga Baduy Dalam. Warga Baduy Dalam
juga tidak diperkenankan membeli tanah di mana pun. Setiap kampung di Baduy
Dalam mempunyai ladangnya masing-masing.Tanah yang dulu dikerjakan oleh
seorang warga boleh ditempati orang lain pada musim tanam berikutnya. Hanya
saja, tanaman yang telah ditanam oleh penggarap ladang sebelumnya tetap menjadi
milik penanam sebelumnya.

Setiap keluarga di Baduy Dalam menentukan luas ladang yang sanggup dikerjakan
keluarga itu. Bila ternyata keluarga itu tidak mampu mengerjakan ladangnya, ia
dapat meminta bantuan warga lain. Orang yang diminta membantu mengerjakan
ladang bekerja dari pukul 08.00 sampai 12.00. Penyewa tenaga ini harus membayar
upah pekerja sebesar Rp 6.000 per hari. Suku Baduy mempunyai areal yang
dijadikan hutan lindung. Hutan lindung berfungsi sebagai areal resapan air.
Pepohonan di areal ini tidak boleh ditebang untuk dijadikan apa pun, termasuk untuk
ladang. "Tidak. Tidak boleh ngapa-ngapain hutan. Ini sudah adat kami," ungkap
Jakri. Hutan ini juga membantu menjaga keseimbangan air dan kejernihan air di
Baduy, terlebih di Baduy Dalam.

Hasil panen ladang di Baduy terutama padi. Padi ini disimpan di lumbung-lumbung
dan bisa bertahan sampai puluhan bahkan ratusan tahun! Setiap keluarga
mempunyai lumbung masing-masing. Jumlah lumbung yang dimiliki tiap keluarga
tidak sama. Ada yang hanya memiliki satu lumbung, tapi ada juga yang punya 10
lumbung. Padi dimanfaatkan untuk mencukupi kebutuhan pangan warga Baduy. Adat
juga mengatur bahwa padi yang dihasilkan suku Baduy tidak boleh diperjualbelikan,

baik di dalam ataupun di luar Baduy. Padi hanya boleh diberikan secara gratis. Bila
ada warga yang gagal panen atau kekurangan beras, warga lain membantu
mencukupi kebutuhan beras mereka yang tertimpa musibah. Berkurangnya produksi
padi sejak sekitar empat tahun lalu mendorong warga Baduy untuk membeli beras
dari luar Baduy. Pembelian beras ini dilakukan untuk mencegah kekurangan stok
beras mereka.

Selain menanam padi, lahan di ladang juga dimanfaatkan untuk menanam sayur
atau buah, seperti kacang, durian, atau aren. Tanaman ini ditanam di antara padi.
Lahan untuk menanam tanaman lain selain padi sering disebut kebon. Meskipun
secara garis besar suku Baduy tidak mengenal perdagangan, pada kenyataannya
jual beli hasil kebon sudah terjadi di Baduy, terutama Baduy Luar. Di Baduy Dalam,
adat mereka melarang warganya menjual hasil kebon. Tetapi, bila ada orang yang
datang dan tertarik membeli hasil kebon, perdagangan boleh dilakukan langsung di
tempat.

Untuk meneruskan tradisi berladang, setiap anak di Baduy selalu diajak ke ladang
dan diperkenalkan cara berladang sejak usia dini. Suku Baduy juga mempunyai
kebiasaan, setiap anak yang telah menikah dan membentuk keluarga baru harus
mengerjakan ladang sendiri.Sebelum menikah, calon menantu laki-laki harus
membantu keluarga perempuan di ladang. Tujuannya agar keluarga perempuan
dapat menilai sejauh mana calon suami yang dipilihkan untuk putri mereka mampu
menghidupi keluarga barunya kelak dari berladang.

Suku Baduy mendirikan saung huma (gubuk) di ladang mereka. Saung ini digunakan
sebagai tempat istirahat dan makan siang ketika berladang.Di saung huma ini warga
Baduy menyimpan perlengkapan memasak dan persediaan beras. Kira-kira pukul
10.00, ibu-ibu atau anak perempuan mulai memasak. Setelah matang, mereka
makan bersama di saung.Hampir setiap hari warga Baduy pergi ke ladang. Mereka

bekerja di ladang sejak pukul 07.00 hingga sekitar pukul 17.00. Saat itulah kampungkampung di Baduy sepi.

Tidak setiap hari mereka bekerja di ladang. Di Baduy Dalam, setiap tanggal 15 dan
30 menurut kalender mereka ada larangan bekerja di ladang. Sedangkan warga
Baduy Luar mempunyai kebiasaan libur setiap hari Minggu. Bagi beberapa keluarga,
hari Jumat juga dijadikan sebagai hari libur.Tak jarang, warga Baduy-terutama lakilaki-meninggalkan ladangnya bila pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak.Lewat
sistem kepercayaan, adat, serta niat untuk menjaga keseimbangan alam, suku
Baduy terbukti mampu menghidupi diri mereka sekaligus melestarikan alam.
Semoga saja, adat mereka tidak serta-merta berubah akibat pengaruh dari luar yang
menyerbu suku Baduy dari berbagai penjuru.

Pola bercocok tanam masyarakat Baduy sangat tradisional dan memegang adat
leluhur. Biasanya, sebagai penghormatan, masyarakat Baduy melakukan ritual
khusus jika hendak memulai masa tanam. Upacara membersihkan lahan sebelum
ditanami disebut dengan istilah nyacar. Membakar lahan supaya subur disebut
ngaduruk. Sementara, upacara proses mulai menanam padi disebut dengan
ngaseuk. Soal waktu tanam, mereka masih berpanduan pada letak bintang.

1. Jenis Padi
Ada beberapa jenis padi yang dimiliki masyarakat Baduy. Bahkan, diperkirakan
terdapat 40 jenis padi yang ditanam dan tumbuh di sekitar warga Baduy. Ada pun
nama-namanya memanglah sangat kental dengan bahasa Sunda lokal, di antaranya
pare koneng, pare salak, pare siang, dan pare ketan.

2. Perawatan Padi

Berbeda dengan petani kebanyakan yang melakukan perawatan padi dengan bahan
kimia, suku Baduy tidaklah demikian. Mereka melakukan perawatan padi dengan
cara yang sangat tradisional.

Biasanya, petani Baduy memakai ramuan yang dihasilkan dari oplosan aneka
tanaman; cangkudu, tamiang, gempol, pacing tawa, dan lajak. Semua tanaman ini
diaduk rata dengan campuran air tuak lalu ditebarkan pada tanaman yang mulai
tumbuh dewasa. Ini biasa mereka sebut dengan pestisida alamiah.

3. Tempat Penyimpanan Padi


Gudang penyimpanan padi atau biasa dikenal dengan lumbung, dalam bahasa
Baduy disebut dengan leuit. Bahan kerangka pokok bangunan itu dengan anyaman
bambu yang dijadikan dindingnya. Sementara, bagian atapnya ditutup dengan
hateup alias daun kelapa kering atau juga ijuk yang terbuat dari serabut pada pohon
areng.

Jika kita teliti, maka akan ditemukan papan bundar sebagai alas kaki-kaki lumbung.
Gunanya sebagai antihama, misalnya tikus. Meski rata-rata lumbung itu tidak terlalu
besar, tetapi sekitar 3.000 ikat padi bisa dimasukkan ke dalamnya dan bisa bertahan.
Konon, hingga ratusan tahun.

Menjual Hasil Kerajinan

Suku Baduy sedang menjual hasil kerajinan

Masyarakat Baduy memang layak dikatakan sebagai masyarakat madani. Dengan


berprinsip hidup dari apa yang ada di alam, mereka pun berusaha segala
kebutuhannya dengan caranya sendiri tanpa banyak bergantung kepada orang lain.
Secara tak langsung, hal ini memaksa mereka untuk berkreasi menciptakan sesuatu
guna memenuhi kebutuhan hidup.

Bagi kaum wanita Baduy (baik Baduy Luar maupun Dalam) menenun telah menjadi
bagian pekerjaan rutin sehari-hari. Kegiatan ini sudah berlangsung turun temurun
dan masih dilakukan sampai sekarang. Biasanya para wanita akan menenun di siang
hari; setelah memasak, membenahi rumah, mengurus anak, mencari kayu bakar,
dan pergi ke ladang. Dengan begitu, keluarga mereka dapat mengenakan pakaian
untuk melindungi tubuh maupun untuk kelengkapan upacara adat. Jadi, saat
menjejalajah kawasan Baduy di siang hari, Anda akan menyaksikan para wanita
Baduy tengah bekerja di beranda rumah.

Dulu, kain atau sarung Baduy dibuat dari dari kapas dan melalui proses yang sangat
rumit. Kini, mereka telah menggunakan bahan dan teknik pengerjaan yang lebih
singkat. Kalau dulu untuk membuat satu kain atau sarung bisa membutuhkan waktu

sekitar seminggu atau lebih, kini bisa lebih singkat, hanya 4-7 hari. Namun
prosesnya tetap menggunakan peralatan tenun tradisional.

Untuk warga Baduy Dalam, warna putih polos menjadi warna dominan busana yang
mereka gunakan. Selain sebagai simbol kesucian atau kebersihan, aturan adat
memang melarang menggunakan pakaian dari luar dengan warna yang beraneka
ragam. Sedangkan kain maupun selendang buatan warga Baduy Luar memiliki
warna yang lebih variatif. Selain warna hitam dan biru, warna kuning, oranye, merah,
biru terang, abu-abu dan putih juga terlihat dalam kreasinya. Motif kainnya
sederhana, berupa kotak-kotak kecil. Kain atau selendang inilah yang mudah
dijumpai dan bisa dimiliki oleh para wisatawan. Selendang atau kain ini ditawarkan
dengan harga antara Rp.30.000,- sampai Rp.70.000,- .

Selain hasil tenun, warga Baduy juga kerap membuat kantong layaknya tas yang
dikenal dengan Koja atau Jarog. Benda ini dibuat dari bahan kulit kayu teureup
(ardisia elastica) yang dihaluskan dan kemudian dirajut. Warnanya yang coklat tua
adalah hasil pewarna alami, dari larutan kulit pohon Salam (eugenia cumini). Kriya ini
dijual dengan harga dari Rp30.000,- sampai Rp50.000,- , tergantung besar kecilnya
ukuran.

Baju orang Baduy Luar, belakangan juga menjadi barang yang kerap ditawarkan
kepada para wisatawan. Ditawarkan seharga Rp40.000,- sampai Rp.50.000,-, baju
ini berwarna hitam, berlengan panjang dan berkancingkan dari bahan batok kelapa.

Menjual Buah-Buahan

Anak suku Baduy membawa buah durian untuk dijual

Suku Baduy juga menjual buah-buahan yang mereka dapatkan dari hutan.
Selain itu Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat
Kanekes secara rutin melaksanakan seba yang masih rutin diadakan setahun sekali
dengan mengantarkan hasil bumi kepada penguasa setempat yaitu Gubernur
Banten. Dari hal tersebut terciptanya interaksi yang erat antara masyarakat Baduy
dan penduduk luar. Ketika pekerjaan mereka diladang tidak mencukupi, orang Baduy
biasanya berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan berjalan kaki,
umumnya mereka berangkat dengan jumlah yang kecil antara 3 sampai 5 orang
untuk mejual madu dan kerajinan tangan mereka untuk mencukupi kebutuhan
hidupnya. Perdagangan yang semula hanya dilakukan dengan barter kini sudah
menggunakan mata uang rupiah. Orang baduy menjual hasil pertaniannya dan buahbuahan melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak
diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah
Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Sistem Kemasyarakatan

Struktur Pemerintahan Baduy

Kampung dan Ikatan Kerabat


Untuk melihat kekerabatan orang Baduy, lokasi tempat tinggal mereka dianggap
penting. Lokasi permukiman itu menentukan pada kedudukan mana terletak
seseorang sebagai keturunan para Batara. Selain itu, dapat pula dipahami berbagai
sistem sosial lainnya seperti perkawinan, pola tempat tinggal sesudah kawin,
penempatan rumah di kampung yang dapat memberikan gambaran tentang
kekerabatan dan kedudukannya dalam masyarakat.

Hubungan antara sistem kekerabatan dan lokasi kampung dapat dilihat dari tiga sisi,
yaitu: pertama tentang kampung tangtu; kedua, kampung panamping; dan ketiga
pajaroan. Tentang hal itu, ekpresi orang Baduy menyatakan bahwa seluruh wilayah
Desa Kanekes adalah tangtu teulu jaro tujuh. Artinya, bahwa wilayah Kanekes
seluruh penduduknya merupakan satu kerabat yang berasal dari satu nenek
moyang, kalau pun ada perbedaan terletak pada tua dan muda dari sisi generasi.

Dalam kekerabatan orang Baduy, Cikeusik dianggap yang tertua, Cikertawana yang
menengah dan Cibeo yang termuda. Oleh karena itu, Puun Cikeusik lah yang
mengurus kunjungan tahunan ke Sasaka Domas tempat yang disucikan oleh orang
Baduy. Kerabat yang lebih muda cukup dengan mengikuti yang tertua. Demikian juga
halnya dengan pembagian kombala, berupa tanah putih dan lumut yang dibawa dari
tempat itu, mengikuti ketentuan kerabat tua dan muda.

Namun demikian, untuk memudahkan pembahasan kekerabatan, istilah kekerabatan


atau kinship dalam tulisan ini mengacu pada sejumlah status (posisi atau kedudukan
sosial), dan saling hubungan antarstatus sesuai dengan prinsip-prinsip budaya yang
berlaku terutama digunakan untuk: (1) menarik garis pemisah antara kaum-kerabat
(kin) dan bukan kaum-kerabat (non-kin); (2) menentukan hubungan kekerabatan
seseorang dengan yang lain secara tepat; (3) mengukur jauh/dekatnya hubungan
kekerabatan seseorang dengan yang lain; dan (4) menentukan bagaimana
seseorang harus berperilaku terhadap seseorang yang lain sesuai dengan aturanaturan kekerabatan yang disepakati bersama.

Prinsip kekerabatan tersebut, dalam konteks Orang Baduy sebagaimana ditunjukkan


oleh N.J.C. Geise (1952) dalam disertasinya yang berjudul Badujs en Moslims in
Lebak Parahiang, Zuid Banten, mengungkapkan bahwa kekerabatan Orang Baduy
tidak menyimpang dari model klasik yang dibuat oleh van Wouden (1935), untuk
beberapa masyarakat Indonesia Timur. Menurutnya, ada beberapa perubahan yang

terjadi disebabkan isolasi yang dilakukan Orang Baduy sendiri. Model van Wouden
itu berdasarkan perkawinan asimetris (asymetric connumbium), dan garis keturunan
(double descent) serta suatu preferensi untuk perkawinan antarsepupu (crosscousins marriage) dengan kedudukan yang utama untuk saudara laki-laki dari pihak
ibu.

Temuan Geise tentang sistem kekerabatan Orang Baduy yang sebagaimana model
Van Wouden itu dibantah oleh Berthe, sebab ia menganggap bahwa model klasik
yang diajukan itu hampir tidak bisa dipakai untuk menelaah kekerabatan Orang
Baduy. Kalau bisa dipakai pun, seharusnya akan diperoleh sesuatu istilah untuk
saudara laki-laki dari pihak ibu di dalam terminologi kekerabatan Orang Baduy.
Dalam kenyataannya Geise tidak menyebutkan istilah itu. Namun begitu, Berthe
berdasarkan kekerabatan Orang Baduy mengidentifikasi atas sesuatu sifat yang
khas Orang Sunda, yaitu perlawanan (oposisi) antara kakak dan adik.

Dari perlawanan itu ada kecenderungan yang dianggap paling baik bagi perkawinan
anak laki-laki yang pertama (kakak) dari suatu garis keturunan dengan anak
perempuan yang terakhir (adik) dari garis keturunan yang lain. Kemudian hal yang
dianggap penting dalam kaitan dengan ketentuan itu adalah adik tidak boleh
melangsungkan

perkawinan

sebelum

kakaknya

melangsungkan

perkawinan

(ngarunghal). Dalam prakteknya pada Orang Baduy tidak terdapat perbedaan antara
sepupu persamaan (paralel-cousins) dan antarsepupu (cross-cousins) (Garna,1987),
sehingga ada kecenderungan dalam perkawinan itu terjadi dalam keluarga yang
paling dekat, yang menurut Berthe (2000) dapat terjadi sampai dengan sepupu
tingkat keempat. Atau, istilah Orang Baduy menyebut dengan baraya.

Dalam kaitan itu, Garna (1988), melihat bahwa antara dangka dan tangtu adalah
seperti rangka dengan isi yang pasti, yaitu tangtu merupakan nenek moyang atau
karukun yang dengan istilah lain sebagai pusat dan dangka sebaga isi dari seluruh

keturunannya. Dangka adalah tempat tinggal bagi warga tangtu yang untuk
sementara waktu tinggal di sana karena melanggar adat sebagaimana ditentukan
oleh nenek moyang. Untuk sementara sampai dosanya dianggap lebur, orang tangtu
yang tinggal di dangka sebenarnya masih satu keluarga dengan warga kampung
tangtu yang mengirimkan mereka ke sana. Jika mereka yang di dangka itu tidak
dapat atau tidak mau kembali ke tangtu, maka mereka tetap merupakan kerabat
dekat. Dari istilah warga dangka mereka itu disebut kaum dangka, dan sebutan
tersebut menunjukkan bahwa mereka masih segolongan atau sekerabat dengan
warga tangtu.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa warga kampung tangtu berkerabat dekat
dengan 3 kampung. Tangtu Cikeusik berkerabat dekat dengan warga dangka
Cibengkung, Kompol dan Kamancing, sedangkan Tangtu Cibeo berkerabat dengan
dangka Cihandam, dan tangtu Cikertawana berkerabat dekat dengan dangka
Cilenggor, Nungkulan dan Panyaweuyan. Ikatan kerabat yang dekat itu berlaku pula
terhadap warga yang tinggal di kampung-kampung Baduy-luar atau mereka
menyebut panamping yang warganya disebut kaum daleum. Warga kampung tangtu
Cikeusik berhubungan kerabat yang erat dengan warga kampung Pamoean dan
Cipiit, tangtu Cibeo dengan kampung Gajeboh, Kaduketer, dan kampung Cihulu,
sedangkan warga tangtu Cikertawana berkerabat dekat dengan warga kampung
Cikopeng.

Dalam perkembangannya kampung-kampung kaum daleum kini semakin bertambah,


dengan jumlahnya menjadi 12 buah kampung pada tahun 1986. Pengembangan dari
kampung induk merupakan pengembangan kerabat kaum daleum dari kampung
induknya, sehingga dengan sendirinya mereka pun terkait pula dengan kampung
asalnya di tangtu.

Kelompok Asal Keturunan

Orang Baduy mengelompok menurut asal keturunan tangtu, yaitu keluarga luas yang
tinggal dalam satu kampung. Ada 3 kelompok kekerabatan dalam kesatuan orang
tangtu, yaitu tangtu Cikeusik, tangtu Cikertawana dan tangtu Cibeo. Adapun hirarki
kekerabatan itu sesuai dengan urutan dari yang paling tua ke yang paling muda,
yaitu Cikeusik, Cikertawana, dan Cibeo. Menurut Garna (1988), walaupun cenderung
terdapat orientasi kepada pihak ibu (ambu), biasanya seorang pria membawa istrinya
ke kampung tangtu tempat tinggal keluarga luasnya dan membuat rumah baru.
Namun dalam upacara-upacara keagamaan Sunda Wiwitan mereka mengikuti
kampung asal istrinya. Keadaan itu tampaknya tidak berlaku mutlak untuk seorang
wanita yang mengikuti keluarga luas suaminya, karena seorang pria juga dapat
mengikuti istri ke kampung asalnya.

Seluruh Desa Kanekes terbagi dalam dua wilayah penting, yaitu wilayah tangtu
(sakral) dan wilayah panamping (profan). Makin ke arah selatan daerahnya makin
sakral, dan daerah tersuci adalah hulu Ciujung, tempat Sasaka Pusaka Buana yang
lebih dikenal dengan sebutan Sasaka Domas. Derajat sakral menurut bagian
kampung dengan arah seperti itu berlaku pula dihampir setiap kampung panamping.
Rumah kokolot (ketua adat dan agama) adalah daerah sakral dan bagian belakang
rumah biasanya bersambung ke hutan kampung. Di daerah kampung tangtu yang
sakral pun masih terdapat daerah tersakral yang tidak boleh diinjak orang luar, yaitu
rumah puun dan daerah sekitarnya.

Dalam kaitan itu, mitologi Baduy mengungkapkan bahwa Batara Tunggal Karang
menurunkan 7 anak (batara) yang memerintah di 7 wilayah, yaitu Parahyang,
Jampang, Sajra, Jasinga, Bombang dan Banten. Dalam kaitan ini sistem
kekerabatan orang Baduy terkait dengan organisasi sosial Banten (Berthe, 1965).
Para puun diturunkan dari garis tua atau kakak sedangkan sultan-sultan Banten dari
garis muda atau adik yang mempunyai peranannya masing-masing sesuai dengan
hirarki tersebut (Garna, 1988).

Pembagian yang memotong seluruh warga masyarakat Baduy dalam dua paroh
masyarakat, yaitu tangtu dan panamping, menentukan posisi masing-masing dalam
rangka suatu kesatuan masyarakat. Peranan untuk saling mengendalikan dan
mengawasi ditentukan oleh sistem pajaroan yang dibentuk serta dipimpin oleh tangtu
atau tiga puun. Puun mengangkat seorang jaro, yaitu tanggungan jaro duawelas
yang bertugas mengawasi para jaro, terutama para jaro di panamping dan kampung
dangka.

Dalam pemerintahan Baduy dikenal suatu sistem pemimpin yang meliputi sejumlah
pejabat dengan sebutan sendiri-sendiri. Orientasi setiap pemimpin kepada pemimpin
tertinggi, yakni para puun. Mereka dianggap satu kesatuan pemimpin tertinggi untuk
mengatasi semua aspek kehidupan di dunia dan mempunyai hubungan dengan
karuhun. Dalam kesatuan puun tersebut senioritas ditentukan berdasarkan alur
kerabat bagi peranan tertentu dalam pelaksanaan adat dan keagamaan Sunda
Wiwitan. Puun memiliki kekuasaan dan kewibawaan yang sangat besar, sehingga
para pemimpin yang ada di bawahnya dan warga masyarakat Baduy tunduk dan
patuh kepadanya. Berdasarkan konsep itu dalam menjalankan pemerintahannya,
semua lingkup dan mekanisme menjalankan kekuasaan tercakup dalam tiga tangtu
dan tujuh jaro.

Asal Pemimpin
Untuk mengetahui asal mula pemimpin dan pamarentahan Baduy dapat ditelusuri
dari folklor yang hidup di tiga daerah tangtu yang berkaitan dengan manusia pertama
yang turun ke dunia. Tempat mula menurunkan para Batara sebutan lain untuk para
leluhur mereka, adalah di Sasaka Domas yang setelah menurunkan para Batara
kemudian turun para daleum, peristiwa itu mereka menyebutkan sebagaimana
dikehendaki oleh nu ngersakeun. Karena itu, tempat tersebut merupakan pusat dunia
(Pancer Bumi) dan tempat suci dari suatu awal kelahiran manusia serta Mandala
Sunda.

Batara Patanjala merupakan anak laki-laki kedua dari Batara Tunggal yang
mempunyai 7 orang anak, 6 orang laki-laki dan seorang perempuan. Mereka itulah
oleh Orang Baduy dikenal sebagai nenek moyang Orang Tangtu. Ketujuh anak
Batara Pantajala, ialah daleum Janggala, daleum Lagondi, daleum Putih Seda,
daleum Cinangka, daleum Sorana, Nini Hujung Galuh, dan Batara Bungsu.

Daleum Janggala menurunkan puun Cikeusik, daleum Langondi menurunkan Puun


Cikertawana. Dan daleum Seda Hurip penurunkan puun Cibeo. Sedangkan daleum
Cinangka menurunkan para girang seurat, daleum Sorana, menurunkan para kokolot
dan Nini Hujung Galuh menurunkan para jaro dangka.

Dalam perkembangannya kemudian, setelah semua batara dan daleum menghilang,


maka tinggal para puun yang meneruskan kehadiran manusia di dunia. Itu
maknanya, bahwa dari mulai ada alam dan dunia hanya dihuni oleh dua orang, yaitu
sepasang puun, yakni puun Cikeusik. Tuturan tersebut, mengemukakan bahwa puun
Cikeusik lah manusia pertama yang ada di dunia. Manusia pertama di dunia atau
yang tertua adalah sepasang, yaitu puun Cikeusik. Baru kemudian menyusul puun
Cikertawana dan Cibeo. Tuturan lainnya, menyebutkan, bahwa kejeroan semuanya
adalah anak-cucu puun perempuan. Anak puun Cikeusik menjadi puun Cibeo,
anaknya kemudian menjadi puun Cikertawana.

Asal Pemerintahan Baduy

Dengan demikian, bagi orang Baduy seorang pemimpin dalam pemerintahan (jaro,
girang seurat, tangkesan kokolotan, kokolot, dan baresan), berasal dari keturunan
para puun yang artinya, satu sama lain terikat oleh garis kerabat. Dalam konteks itu,
ciri penting dalam pamarentahan Baduy, terletak pada diferensiasi peran dan
pembagian jabatan yang terpisahkan melalui struktur sosial, namun semuanya
terikat oleh satu hubungan kerabat yang erat.

Perbedaan peran yang mendasar antara para pemimpin yang disebut puun dan yang
disebut para jaro, adalah pada tanggung jawab yang berurusan dengan aktivitasnya,
karena para puun berurusan dengan dunia gaib sedangkan para jaro bertugas
menyelesaikan persoalan duniawi. Atau, dengan perkataan lain, para puun
berhubungan dengan dunia sakral dan para jaro berhubungan dengan dunia profan.
Oleh karena itu, para puun menerima tanggung jawab tertinggi pada hal-hal yang
berhubungan dengan pengaturan harmonisasi kehidupan sosial dan religius,
sehingga kehidupan warga masyarakatnya dapat berlangsung dengan tertib.

Dalam situasi seperti itu warga masyarakat dituntut patuh memenuhi ketentuan
pikukuh yang telah digariskan para karukun. Pelanggaran terhadap pikukuh berarti
telah siap menerima hukuman berupa pengusiran dari daerah tangtu. Atau, bagi
masyarakat panamping melanggar ketentuan itu berarti harus menangung kewajiban
bekerja di huma puun, yang lamanya disesuaikan dengan berat ringannya
pelanggaran.

Pemerintahan Baduy
Di rumah, kepala keluarga inti mengatur kehidupan para anggota keluarganya,
termasuk pengawasan sosial terhadap aturan adat. Urusan dan pengaturan yang
dilakukannya ialah membina kehidupan keluarga intinya, berhuma, hubungan
dengan kaum kerabat, melakukan perhitungan untuk menentukan saat mulai

menanam, bepergian, menyelenggarakan perkawinan, pengasuhan, pendidikan


anak dan turut serta dalam berbagai upacara.

Pada tingkat kampung ada beberapa jenis pemimpin. Di kampung dangka terdapat
seorang pemimpin adat dan agama yang disebut jaro dangka. Ia meneruskan dan
mengawasi ketentuan karuhun yang disampaikan melalui puun, dan ia juga dapat
berkumpul di tangtu dalam upacara keagamaan penting. Selain itu, jaro dangka juga
diharuskan turut serta dalam upacara membersihkan kampung tangtu dari dosa yang
ditinggalkan oleh si pelanggar.

Dalam pamarentahan Baduy, ada dua orang yang dituakan dalam kampung
panamping namun berfungsi berbeda, yaitu: pertama, kokolot lembur. Yang menjadi
pemimpin pikukuh. Ia bertugas atas nama puun untuk mengawasi, mengatur, dan
melaksanakan ketentuan puun. Kedua, kokolotan lembur yang kedudukannya sejajar
dengan ketua rukun kampung dalam sistem pemerintahan formal. Rumah kokolot
lembur dianggap sakral yang tidak boleh diinjak orang asing. Karena itu, rumah
kokolot terletak di bagian paling ujung dari jajaran paling luar yang berbatasan
langsung dengan hutan kampung. Hal itu, maksudnya agar para guriang yang
kehadirannya dianggap penting sebagai penjaga keselamatan masuk ke kampung
melalui rumah kokolot.

Pemimpin kampung tangtu adalah jaro tangtu. Ia bertugas sebagai kokolot lembur
dan sekaligus pula bertindak sebagai kokolotan lembur. Selain itu, ia pun harus turut
serta seba ke ibukota kabupaten di Rangkasbitung dan keresiden Banten yang kini
Gubernur di Serang. Jaro tangtu diangkat menurut alur keturunan dari para jaro
terdahulu, yang disiapkan oleh pikukuh langsung di bawah tangkesan dan
pengawasan puun. Apabila calon jaro tangtu dianggap siap, walaupun ia masih
muda, ia dapat saja diangkat.

Dalam pamarentahan Baduy, istilah jaro banyak digunakan. Arti kata jaro sendiri
adalah ketua kelompok atau pemimpin. Pada tingkat panamping terdapat seorang
jaro yang tidak hanya mengurus dan mengatur seluruh jaro, tetapi juga berkuasa
mutlak sebagai pengawas serta pelaksana tertinggi pikukuh di panamping. Dari
keduabelas jaro, yaitu tiga jaro tangtu, tujuh orang jaro dangka, seorang jaro warega,
dan seorang jaro pamarentah, maka ia adalah koordinator kerja para jaro yang
dalam pamarentahan Baduy dikenal dengan sebutan jaro duawelas. Jaro warega
berperan dalam upacara keagamaan, terutama untuk persiapan dan pelaksanaan
seba, tetapi pada posisi pimpinan dalam Sunda Wiwitan, ia adalah pembantu utama
tanggungan jaro duawelas.

Jaro pamarentah, adalah jaro Kanekes, kepala desa yang pengangkatannya


disetujui oleh kedua belah pihak, para puun dan pemerintah daerah. Acuan ke atas
juga dua yaitu puun dan camat. Karena itu seorang jaro pamarentah merupakan
pengimbang di antara kedua kategori pemimpin itu, yang dengan penuh bijaksana
harus mampu melaksanakan semuanya. Masa kerja seorang jaro pamarentah
tergantung dari lamanya dan sejauh mana ia mampu melaksanakan kebijaksanaan
pengimbang dimaksud. Jaro pamarentah dibantu oleh paling tidak tiga orang
pembantu utama, yaitu carik adalah juru tulis desa yang selalu berasal dari luar
Kanekes, dan dua orang pangiwa, pembantu jaro pamarentah yang berasal dari
panamping.

Pada tingkat tangtu terdapat tiga puun, yang tidak hanya menjadi pemimpin agama
dan adat tertinggi di kampung tangtu, tetapi juga untuk seluruh Kanekes. Semua
pemimpin bawahan termasuk jaro pamarentah harus tunduk kepada mereka. Puun
dalam menjalankan aktivitasnya dibantu oleh sejumlah pejabat adat dan agama.
Pejabat adat dan agama tertinggi yang berfungsi sebagai penasihat ialah tangkesan
yang juga disebut dukun putih. Ia biasanya berasal dan berkedudukan di kampung
Cikopeng. Dukun-dukun pada tingkat kampung lainnya selain berada di bawah
pengawasan puun juga diamati oleh tangkesan.

Puun mempunyai staf yang lengkap, seperti seurat atau girang seurat yang menjadi
pembantu puun untuk berbagai hal. Jabatan seurat hanya ada di Cikeusik dan
Cibeo, tetapi tidak ada di Cikertawana. Jaro tangtu membantu seurat dan puun
secara langsung. Penyampaian berita dan lain-lainnya dilakukan oleh pembantu
umum. Jumlahnya tergantung dari kekerapan kerja, upacara dan pelaksanaan
pikukuh.

Semacam dewan penasihat puun terdapat di setiap kampung tangtu, yang disebut
baresan (barisan, dewan atau kumpulan) atau sering disebut baresan salapan,
karena terdiri dari sembilan orang tokoh, termasuk jaro tangtu, seurat dan lainnya.
Fungsi baresan adalah membantu puun dan jaro tangtu memecahkan berbagai
masalah dan melaksanakan pikukuh.

Dengan demikian seorang puun didukung oleh panasihat batin melalui tangkesan
dan penasihat pelaksanaan pikukuh oleh baresan salapan. Pengawasan para puun
mampu menjangkau wilayah dan seluruh warga Kanekes melalui tanggungan jaro
duawelas dan dukun-dukun lembur serta kokolot dan kokolotan lembur.

Dalam konteks itu, pamarentahan Baduy berfungsi untuk mensucikan dan membuat
tapa dunia, termasuk memelihara alam sebagai pusat dunia, sedangkan dunia
beserta isinya dijaga oleh keturunan muda, dan sultan-sultan Banten yang harus
membuat dunia ramai.seorang pemimpin agama dihubungkan dengan garis
keturunan yang paling tua, sedangkan seorang pemimpin politik dihubungkan
dengan garis keturunan yang paling muda. Kekuasaan agama dihubungkan dengan
para leluhur atau karuhun dan kekuasaan politik dihubungkan dengan aktivitas
manusia untuk memenuhi kebutuhan hidup. Itu artinya, seorang pemimpin agama
mewujudkan identatis masyarakat Baduy, sedangkan seorang pemimpin politik

mengurus kehidupan duniawi termasuk mengurus dan memelihara kelestarian


tanah.

Untuk melangsungkan aktivitasnya itu, kegiatan duniawi dipusatkan di tangtu Cibeo,


sedangkan aktivitas ritual dan keagamaan berada di tangtu Cikeusik. Namun tangtu
dalam menjalankan aktivitasnya itu saling menyokong dan sekaligus saling terikat.
Karena diantara keduanya saling memberikan pengaruh untuk mengokohkan tradisi
Baduy yang bersandar pada pikukuh karuhun, yaitu: nu lain kudu dilainkeun, nu
enya kudu dienyakeun, nu ulah kudu diulahkeun. Artinya, yang bukan harus
dikatakan bukan, yang benar harus dikatakan benar dan yang dilarang harus
dikatakan dilarang.

Bahasa
Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek SundaBanten. Untuk
berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa
Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah.
Orang Kanekes Dalam tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat-istiadat,
kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan
lisan saja. Ciri bahasa yang digunakan suku Baduy adalah tidak memiliki tinggirendah bahasa dengan aksen tinggi dalam lagu kalimat.

Orang Kanekes tidak mengenal sekolah, karena pendidikan formal berlawanan


dengan adat-istiadat mereka. Mereka menolak usulan pemerintah untuk membangun
fasilitas sekolah di desa-desa mereka. Bahkan hingga hari ini, walaupun sejak era
Suharto pemerintah telah berusaha memaksa mereka untuk mengubah cara
hidupmereka dan membangun fasilitas sekolah modern di wilayah mereka, orang
Kanekes masih menolak usaha pemerintah tersebut. Akibatnya, mayoritas orang
Kanekes tidak dapat membaca atau menulis.

Kesenian

Dalam melaksanakan upacara tertentu, masyarakat Baduy menggunakan kesenian


untuk memeriahkannya. Adapun keseniannya yaitu:

1. Seni Musi (Lagu daerah yaitu Cikarileu dan Kidung (pantun) yang digunakan
dalam acara pernikahan).

2. Alat musik (Angklung Buhun dalam acara menanan padi dan alat musik kecapi)

Kesenian Angklung Buhun merupakan kesenian angklung khas kabupaten Lebak


dengan peralatan perkusi dari bambu yang dibentuk sedemikian rupa sehingga
menimbulkan nada-nada yang harmonis. Angklung Buhun berarti angklung tua, kuno
(baheula) yang dalam arti sebenarnya adalah kesenian pusaka. Dinamakan buhun,
karena kesenian ini lahir bersamaan dengan hadirnya masyarakat Baduy. Dengan
demikian salah satu jenis kesenian masyarakat Baduy yang pertama kali lahir adalah
Angklung Buhun yang memiliki nilai magis (kekuatan gaib) dan sakral, selain itu
punya arti penting sebagai penyambung amanat untuk mempertahankan generasi
orang Baduy. Saat ini kelompok pemain kesenian Angklung Buhun sangat jarang
ditemui atau dipentaskan. Biasanya kesenian ini sekarang hanya dijumpai pada

acara-acara ritual, seperti acara adat Seren Taun di Cisungsang dan Seba yang
dilakukan oleh masyarakat Baduy di kabupaten Lebak. Kesenian Buhun memiliki
karakter kesenian yang sederhana baik dalam lirik atau lagunya, dan biasanya
menggambarkan alam sekitar sehingga menciptakan suasana yang nyaman, damai
dan harmonis.

3. Seni Ukir Batik.

Sistem Ilmu dan Pengetahuan

Sistem pengetahuan orang Baduy adalah Pikukuh yaitu memegang teguh segala
perangkat peraturan yang diturunkan oleh leluhurnya. Dalam hal pengetahuan ini,
orang Baduy memiliki tingkat toleransi, tata krama, jiwa sosial, dan teknik bertani
yang diwariskan oleh leluhurnya. Dalam pendidikan modern orang Baduy masih
tertinggal jauh namun mereka belajar secara otodidak. Jadi sebetulnya orang Baduy
sangat informasional sekali sebetulnya, tahu banyak informasi. Hal ini ditunjang
karena kegemaran sebagai orang rawayan (pengembara).

Sistem perladangan berpindah atau perladangan daur ulang telah dipraktekkan


selama berabad-abad dan merupakan bentuk pertanian yang paling awal di wilayah
tropika dan subtropika. Sistem pertanian dilakukan adalah tanaman pangan dalam
waktu dekat (pada umumnya 2 3 tahun), dan kemudian diikuti dengan fase
regenerasi atau masa bera yang lebih lama (pada umumnya 10 20 tahun).
Pembukaan hutan biasanya menggunakan alat sederhana, dilakukan secara
tradisional, dan menggunakan cara tebang bakar.

Pada waktu hutan dibuka maka tumbuhan alam yang berguna biasanya dibiarkan
atau sedikit disiangi dan dimanfaatkan hasilnya. Lama waktu perladangan dan masa

bera atau masa lahan diistirahatkan adalah sangat bervariasi, dan lama masa bera
merupakan faktor kritis bagi regenerasi kesuburan tanah, keberlanjutan, dan hasil
pertanian yang didapatkan. Regenerasi kesuburan tersebut melibatkan tumbuh
kembalinya tanaman tahunan atau tumbuhan asli.

Masyarakat Baduy yang masih mengikuti pola pertanian tradisional zaman Kerajaan
Sunda (Pajajaran), telah mempraktekkan sistem perladangan berpindah tersebut
sejak kurang lebih 600 tahun yang lampau. Mereka membuka huma untuk ditanami
padi selama 1 sampai 2 tahun, dan kemudian ketika hasil panen telah menurun akan
meninggalkan huma tersebut dan membuka kembali huma baru dari bagian hutan
alam yang mereka peruntukkan bagi kepentingan tersebut. Huma yang ditinggalkan
pada suatu saat akan diolah kembali dan periode masa bera tersebut pada awalnya
7 sampai 10 tahun.

Sebagaimana masyarakat agraris lainnya di Indonesia, masyarakat Baduy


mempunyai jadwal pertanian yang tertentu setiap tahunnya dan didasarkan kepada
letak benda astronomi tertentu, seperti kemunculan bintang tertentu dan letak
matahari. Adapun patokan bintang yang digunakan adalah bintang kidang (Waluku
atau rasi Orion) dan bintang Kartika atau bintang Gumarang. Dalam prakteknya
bintang kidang lebih banyak dipakai karena lebih jelas terlihat. Kemunculan bintang
kidang tersebut menandai dimulainya proses berladang karena masyarakat mulai
bersiap-siap turun ke ladang dan mulai mengolah lahan pertanian. Dalam ungkapan
mereka disebutkan: Mun matapoe geus dengek ngaler, lantaran jagad urang geus
mimiti tiis, tah dimimitian ti wayah eta kakara urang nanggalkeun kidang, tanggal
kidang mah laju turun kujang. (Terjemahan: Jika matahari telah condong ke utara,
ketika bumi kita telah mulai dingin, mulai saat itu baru kita mengamati penanggalan
dengan munculnya bintang kidang, waktu muncul bintang kidang kita mulai
menggunakan alat pertanian (kujang)

Adapun alat pertanian yang mereka gunakan adalah terbatas sekali, dan prinsip
pengolahan lahan mereka adalah sesedikit mungkin mengganggu tanah. Mereka
membuka huma dengan bedog atau parang panjang dan kujang (parang pendek
atau pisau), dan menanam benih padi dengan cara menugal atau melubangi tanah
dengan sepotong kayu. Pengolahan lahan dengan cara mencangkul atau membajak
adalah terlarang.

Kalender sebagai penanda waktu pada masyarakat Baduy adalah kalender yang
berpatokan pada perputaran bulan (komariah). Satu tahun dibagi menjadi 12 bulan.
Menurut Narja, seorang penduduk kampung Cibeo, urutan bulan-bulan tersebut
adalah sebagai berikut: Kapat, Kalima, Kanem, Katujuh, Kadalapan, Kasalapan,
Kasapuluh, Hapit Lemah, Hapit Kayu, Kasa, Karo, Katiga. Urutan bulan tersebut juga
mengikuti tahapan dalam proses perladangan. Bulan Kasa, Karo, dan Katiga, yang
merupakan bulan-bulan akhir masa berladang dan masa panen disebut pula masa
Kawalu yang dipenuhi dengan berbagai upacara adat dan berbagai bentuk larangan.
Pada masa tersebut tamu atau pengunjung dari luar biasanya tidak diterima.

Masyarakat Baduy menerapkan cara pertanian ladang berpindah yang merupakan


cara bercocok tanam tahap awal evolusi cara bertani. Sistem perladangan berpindah
tersebut sangat tergantung pada keberadaan dan kelestarian hutan di wilayah
tersebut. Dengan demikian hutan memegang peran penting dalam hubungan antara
masyarakat Baduy dengan lingkungan alamnya. Keberadaan mereka menurut
sejarah dan kepercayaan adalah dalam rangka menjaga hutan dan mata air Sungai
Ciujung yang menjadi sungai utama pada jaman Kerajaan Sunda/Pajajaran.
Masyarakat Baduy diperintahkan untuk mengelola Daerah Aliran Sungai (DAS)
Ciujung yang berperan sangat penting dalam bidang transportasi dan pertanian,
beserta hutan yang melindungi mata airnya, yang mereka sebut sebagai Sirah Cai
atau kepala air.

Kebiasaan masyarakat kanekes dalam membangun rumah pada hakekatnya


merupakan pencerminan keteguhan masyarakat dalam melaksanaan peraturan
peraturan adat sebagai tradisi turun temurun dari nenek moyangnya. Membongkar
tanah adalah buyut. Apabila permukaan tanah tempat mendirikan rumah ternyata
tidak rata, maka bukan permukaan tanahnya yang diratakan, melainkan tiang tiang
panggung rumah yang disesuaikan tinggi atau rendahnya menurut kelerengan
permukaan rumah. Rumah tradisional baduy berupa panggung dengan lantai
pelepah bambu dan berdinding bilik anyaman bambu. Atapnya terbuat dari daun
rumbia dan ijuk. Konstruksi rumah tidak menggunakan paku dan cat, umumnya
terdiri dari lima bagian; SOSORO atau Serambi, TEPAS atau Ruang Tamu, IMAH
atau Ruang Utama yang juga berfungsi sebagai kamar, MUSUNG atau Tempat
Penyimpanan Barang dan PARAKO atau Tempat Penyimpanan Barang diatas
Tungku.

Sistem Kepercayaan (Religi)

Suku Baduy yang merupakan suku tradisional di Provinsi Banten hampir


mayoritasnya mengakui kepercayaan sunda wiwitan.

Yang mana kepercayaan ini meyakini akan danya Allah sebagai Guriang Mangtua
atau disebut pencipta alam semesta dan melaksanakan kehidupan sesuai ajaran
Nabi Adam sebagai leluhur yang mewarisi kepercayaan turunan ini. Kepercayaan
sunda wiwitan berorientasi pada bagaimana menjalani kehidupan yang mengandung
ibadah dalam berperilaku, pola kehidupan sehari-hari,langkah dan ucapan, dengan
melalui hidup yang mengagungkan kesederhanaan (tidak bermewah-mewah) seperti
tidak mengunakan listrik,tembok, mobil dll.

Ada

beberapa

kegiatan

kepercayaan sunda wiwitan:

yang

dilakukan

oleh

masyarakat

Baduy menurut

1. Upacara Kawalu yaitu upacara yang dilakukan dalam rangka menyambut bulan
kawalu yang dianggap suci dimana pada bulan kawalu masyarakat baduy
melaksanakan ibadah puasa selama 3 bulan yaitu bulan Kasa,Karo, dan Katiga.
2. Upacara ngalaksa yaitu upacara besar yang dilakukan sebagain uacapan syukur
atas terlewatinya bulan-bulan kawalu, setelah melaksanakan puasa selama 3 bulan.
Ngalaksa atau yang bsering disebut lebaran.

3. Seba yaitu berkunjung ke pemerintahan daerah atau pusat yang bertujuan


merapatkan tali silaturahmi antara masyarakat baduy dengan pemerintah, dan
merupakan bentuk penghargaan dari masyarakat baduy.

4. Upacara menanam padi dilakukan dengan diiringi angklung buhun sebagai


penghormatan kepada dewi sri lambing kemakmuran.

5. Kelahiran yang dilakukan melalui urutan kegiatan yaitu:

1. Kendit yaitu upacara 7 bulanan ibu yang sedang hamil.

2. saat bayi itu lahir akan dibawa ke dukun atau paraji untiuk dijampi-jampi.

3. setelah 7 hari setelah kelahiran maka akan diadakan acara perehan atau
selametan.

4. Upacara Angiran yang dilakukan pada hari ke 40 setelah kelahiran.

5. Akikah yaitu dilakukannya cukuran, khitanan dan pemberian nama oleh dukun
(kokolot) yuang didapat dari bermimpi dengan mengorbankan ayam.

Perkawinan, dilakukan berdasarkan perjodohan dan dilakukan oleh dukun atau


kokolot menurut lembaga adat (Tangkesan) sedangkan Naib sebagai penghulunya.
Adapun mengenai mahar atau seserahan yakni sirih, uang semampunya, dan kain
poleng.

Dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari tentunya masyarakat baduy disesuaikan


dengan penanggalan:

1. Bulan Kasa
2. Bulan Karo
3. Bulan Katilu
4. Bulan Sapar
5. Bulan Kalima
6. Bulan Kaanem
7. Bulan Kapitu
8. Bulan Kadalapan
9. Bulan Kasalapan
10. bulan Kasapuluh
11. Bulan Hapid Lemah
12. Bulan Hapid Kayu

Seperti yang telah diuraikan diatas, apabila ada masyarakat baduy yang melanggar
salah satu pantangan maka akan dikenai hukuman berupa diasingkan ke hulu atau
dipenjara

oleh

pihak

polisi

yang

berwajib.

Tradisi Seba baduy pemberian hasil bumi ke


Gubernur Banten

Bantenku.com, LEBAK Sejak Jumat (24/4/2015) kemarin, sekitar dua ribuan


warga dari Suku Baduy Dalam dan Luar melaksanakan tradisi yang sudah dilakukan
turun temurun selama ratusan tahun lamanya bernama Seba Baduy.
"Kalau jaman dulu (zaman penjajahan dan kerajaan), Karesidenan Banten kan ada di
Serang, makanya kita silaturahmi ke sana ketemu pimpinan," kata Jaro Dainah
kepala desa suku baduy luar, di Kabupaten Lebak, Sabtu (25/4/2015)
Seba Baduy merupakan tradisi tahunan suku Baduy Dalam dan Luar untuk
memberikan hasil bumi kepada pimpinan di wilayahnya. Tahun ini, suku baduy
melaksanakan Seba Gede (besar) yang dilakukan setiap dua tahun sekali, dimana
tahun 2014 lalu merupakan Seba Leutik (kecil).
Hasil bumi yang dibawa oleh Suku Baduy berupa beras ketan, beras biasa, pisang,
gula aren, sirih, sayuran, dan berbagai macam hasil bumi lainnya. Hasil bumi yang
mereka bawa, di angkut menggunakan mobil pick up bagi suku baduy luar.
Sedangkan untuk suku baduy dalam, mereka membawanya dengan berjalan kaki
dari terminal Ciboleger, Kecamatan Leuwi Damar, Kabupaten Lebak menuju
Pendopo Gubernur Banten, yang berlokasi di Jalan Brigjen KH. Syam\'un, Kota
Serang sejauh 180 kilometer.
Dalam acara Seba ini, selain memberikan hasil bumi, Suku Baduy dalam dan luar
pun akan menyampaikan keluhan dan memberi masukan kepada pimpinan tertinggi
di Banten atau biasa disebut Abah Gede (bapak besar), sebutan untuk pemimpin
tertinggi di Banten jika dikepalai oleh seorang laki-laki.
"Ada pembicaraan, menyampaikan keluhan-keluhan sama masukan kakolot (orang
tua) suku Baduy ke Abah Gede (pimpinan di Banten Rano Karno)," terangnya.
Suku Baduy Dalam yang berjalan kaki untuk sampai ke Pendopo Lama Gubernur
Banten melewati sawah, sungai, dan hutan tanpa alas kaki. Karena menurut mereka,
tanpa alas kaki, manusia dan alam dapat bersatu saling menghargai.

Suku Baduy Dalam mulai meninggalkan perkampungannya semenjak hari Jum'at 24


April 2015 kemarin sekitar pukul 05.00 wib. Di tengah perjalanan, tepatnya disungai
Cigolear, mereka 'Mensucikan Diri' agar selama diperjalanan tak ada aral melintang
atau kesulitan.
"Abis makan pagi (sarapan), kita makan 'rajah' (makanan yang dibungkus dengan
daun talas), menginang yang udah di doakan dulu satu malam sebelumnya biar
selamat,\" kata ketua adat suku baduy dalam, Ayah Mursid.
Tradisi pensucian diri ini bernama prosesi adat Damarwilis. Prosesinya mirip dengan
mandi lalu berwudhu dalam agama Islam.
"Kalau bebersih maksudnya agar kita (suku baduy dalam) menjalankan Seba ini,
agar segala kekurangan dan kesalahan kita (suku baduy dalam) dapat di maafkan
oleh yang maha besar (Tuhan)," terangnya.
Perlu diketahui, Seba Baduy kali ini di ikuti oleh sekitar 2 ribu suku baduy dalam dan
luar. Dimana, hanya suku baduy laki-laki saja yang boleh mengikuti. Berdasarkan
data tahun 2010, penduduk baduy dalam dan luar berjumlah 11. 172 jiwa. (Dhan)

Baduy dan Peradaban

Apa yang terlintas dibenak kita bila mendengar kata badui, mungkin orang langsung
membayangkan sebuah suku masyarakat terpencil yang tinggal di pedesaan udik
dan terisolasi dari berbagai perkembangan dunia yang semakin hari semakin
mengglobal. Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat
adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan
sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut,
berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka
dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah

(nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung
Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka
menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama
wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti
Urang Cibeo.

Wilayah Kanekes secara geografis terletak pada koordinat 62727-6300 LS dan


10839-106455BT. Mereka bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa
Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten,
berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Wilayah yang merupakan bagian
dari Pegunungan Kendeng dengan ketinggian 300-600 m.dpl tersebut mempunyai
topografi berbukit dan bergelombang dengan kemiringan tanah rata-rata mencapai
45%, yang merupakan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian
tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan). suhu rata-rata 20 C.

Bahasa yang mereka gunakan adalah Bahasa Sunda dialek Sunda-Banten. Untuk
berkomunikasi dengan penduduk luar mereka lancar menggunakan Bahasa
Indonesia, walaupun mereka tidak mendapatkan pengetahuan tersebut dari sekolah.
Orang Kanekes 'dalam' tidak mengenal budaya tulis, sehingga adat istiadat,
kepercayaan/agama, dan cerita nenek moyang hanya tersimpan di dalam tuturan
lisan saja.

Kepercayaan masyarakat Kanekes yang disebut sebagai Sunda Wiwitan berakar


pada pemujaan kepada arwah nenek moyang (animisme) yang pada perkembangan
selanjutnya juga dipengaruhi oleh agama Budha, Hindu, dan Islam. Inti kepercayaan
tersebut ditunjukkan dengan adanya pikukuh atau ketentuan adat mutlak yang dianut
dalam kehidupan sehari-hari orang Kanekes. Isi terpenting dari 'pikukuh' (kepatuhan)
Kanekes tersebut adalah konsep "tanpa perubahan apapun", atau perubahan
sesedikit mungkin:
Lojor heunteu beunang dipotong, pndk heunteu beunang disambung.
(Panjang tidak bisa/tidak boleh dipotong, pendek tidak bisa/tidak boleh disambung)
Tabu tersebut dalam kehidupan sehari-hari diinterpretasikan secara harafiah. Di
bidang pertanian, bentuk pikukuh tersebut adalah dengan tidak mengubah kontur
lahan bagi ladang, sehingga cara berladangnya sangat sederhana, tidak mengolah
lahan dengan bajak, tidak membuat terasering, hanya menanam dengan tugal, yaitu
sepotong bambu yang diruncingkan. Pada pembangunan rumah juga kontur
permukaan tanah dibiarkan apa adanya, sehingga tiang penyangga rumah Kanekes
seringkali tidak sama panjang. Perkataan dan tindakan mereka pun jujur, polos,
tanpa basa-basi, bahkan dalam berdagang mereka tidak melakukan tawar-menawar.

Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang
lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. Orang Kanekes mengunjungi
lokasi tersebut untuk melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan Kalima. Hanya
puun yang merupakan ketua adat tertinggi dan beberapa anggota masyarakat terpilih

saja yang mengikuti rombongan pemujaan tersebut. Di kompleks Arca Domas


tersebut terdapat batu lumpang yang menyimpan air hujan. Apabila pada saat
pemujaan ditemukan batu lumpang tersebut ada dalam keadaan penuh air yang
jernih, maka bagi masyarakat Kanekes itu merupakan pertanda bahwa hujan pada
tahun tersebut akan banyak turun, dan panen akan berhasil baik. Sebaliknya, apabila
batu lumpang kering atau berair keruh, maka merupakan pertanda kegagalan panen.

Bagi sebagian kalangan, berkaitan dengan keteguhan masyarakatnya, kepercayaan


yang dianut masyarakat adat Kanekes ini mencerminkan kepercayaan keagamaan
masyarakat Sunda secara umum sebelum masuknya Islam.

Kelompok Dalam Masyarakat Kanekes

Masyarakat Kanekes secara umum terbagi menjadi tiga kelompok yaitu Tangtu,
Panamping, dan Dangka.Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai
Baduy Dalam, yang paling ketat mengikuti adat, yaitu warga yang tinggal di tiga
kampung: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik). Ciri khas Orang Baduy Dalam adalah

pakaiannya berwarna putih alami dan biru tua serta memakai ikat kepala putih.
Kelompok masyarakat panamping adalah mereka yang dikenal sebagai Baduy Luar,
yang tinggal di berbagai kampung yang tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam,
seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya.
Masyarakat Baduy Luar berciri khas mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna
hitam. Apabila Baduy Dalam dan Baduy Luar tinggal di wilayah Kanekes, maka
"Baduy Dangka" tinggal di luar wilayah Kanekes, dan pada saat ini tinggal 2
kampung yang tersisa, yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).
Kampung Dangka tersebut berfungsi sebagai semacam buffer zone atas pengaruh
dari luar.

Baduy Luar
Baduy Luar merupakan orang-orang yang telah keluar dari adat dan wilayah Baduy
Dalam. Ada beberapa hal yang menyebabkan dikeluarkanya warga Baduy Dalam ke
Baduy Luar. Pada dasarnya, peraturan yang ada di baduy luar dan baduy dalam itu
hampir sama, tetapi baduy luar lebih mengenal teknologi dibanding baduy dalam.

Penyebab :

Mereka telah melanggar adat masyarakat Baduy Dalam.

Berkeinginan untuk keluar dari Baduy Dalam

Menikah dengan anggota Baduy Luar


Ciri-ciri masyarakat
Mereka

telah

mengenal

teknologi,

seperti

peralatan

elektronik,

meskipun

penggunaannya tetap merupakan larangan untuk setiap warga Baduy, termasuk


warga Baduy Luar. Mereka menggunakan peralatan tersebut dengan cara sembunyisembunyi agar tidak ketahuan pengawas dari Baduy Dalam.
Proses Pembangunan Rumah penduduk Baduy Luar telah menggunakan alat-alat
bantu, seperti gergaji, palu, paku, dll, yang sebelumnya dilarang oleh adat Baduy
Dalam.
Menggunakan pakaian adat dengan warna hitam atau biru tua (untuk laki-laki), yang
menandakan bahwa mereka tidak suci. Kadang menggunakan pakaian modern
seperti kaos oblong dan celana jeans. Menggunakan peralatan rumah tangga
modern, seperti kasur, bantal, piring dan gelas kaca serta plastik.

Baduy Dalam
Baduy Dalam adalah bagian dari keseluruhan Suku Baduy. Tidak seperti Baduy Luar,
warga Baduy Dalam masih memegang teguh adat istiadat nenek moyang mereka.
Sebagian peraturan yang dianut oleh suku Baduy Dalam antara lain:

Tidak diperkenankan menggunakan kendaraan untuk sarana transportasi

Tidak diperkenankan menggunakan alas kaki

Pintu rumah harus menghadap ke utara/selatan (kecuali rumah sang Puun)

Larangan menggunakan alat elektronik (teknologi)

Menggunakan Kain berwarna hitam/putih sebagai pakaian yang ditenun dan


dijahit sendiri serta tidak diperbolehkan menggunakan pakaian modern.
Pemerintahan
Pemimpin adat tertinggi dalam masyarakat Kanekes adalah "puun" yang ada di tiga
kampung tangtu. Jabatan tersebut berlangsung turun-temurun, namun tidak otomatis
dari bapak ke anak, melainkan dapat juga kerabat lainnya. Jangka waktu jabatan
puun tidak ditentukan, hanya berdasarkan pada kemampuan seseorang memegang
jabatan tersebut.

Pelaksana sehari-hari pemerintahan adat kapuunan (kepuunan) dilaksanakan oleh


jaro, yang dibagi ke dalam empat jabatan, yaitu jaro tangtu, jaro dangka, jaro
tanggungan,

dan

jaro

pamarentah.

Jaro

tangtu

bertanggung

jawab

pada

pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya.
Jaro dangka bertugas menjaga, mengurus, dan memelihara tanah titipan leluhur
yang ada di dalam dan di luar Kanekes. Jaro dangka berjumlah 9 orang, yang
apabila ditambah dengan 3 orang jaro tangtu disebut sebagai jaro duabelas.

Pimpinan dari jaro duabelas ini disebut sebagai jaro tanggungan. Adapun jaro
pamarentah secara adat bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat
Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa,
carik, dan kokolot lembur atau tetua kampong.

Mata Pencaharian
Sebagaimana yang telah terjadi selama ratusan tahun, maka mata pencaharian
utama masyarakat Kanekes adalah bertani padi huma. Selain itu mereka juga
mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual buah-buahan yang mereka
dapatkan di hutan seperti durian dan asam keranji, serta madu hutan. Selain itu,
mereka juga memiliki kerajinan tangan seperti menenun dengan model tenunan
sarung dan selendang khas Badui.

Perdagangan yang pada waktu yang lampau dilakukan secara barter, sekarang ini
telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buahbuahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli
kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes
terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Pada saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, orang Baduy juga senang
berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan syarat harus berjalan kaki.
Pada umumnya mereka pergi dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5
orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual
madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka
mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Masyarakat Baduy Masih Teguh Pertahankan


Kearifan Lokal
Agnesia Wardhani
11140110096
B1

Hallo teman-teman disini saya akan berbagi pengalaman dan berbagi informasi kepada
kalian bagaimana kebiasaan, mata pencaharian, peraturan, dan larangan dalam
masyarakat suku Baduy Dalam, Baduy Luar, dan sedikit tentang Baduy Dangka. Semoga
ini dapat membantu kalian menambah pengetahuan tentang suku Baduy. Saya juga akan
bercerita tentang pengalaman saya selama disana, semoga saja dengan kalian membaca
tulisan ini kalian akan berpikir dan berniat untuk sama-sama merasakan keunikan yang
ada di dalam masyarakat suku Baduy. Ini merupakan pengalaman yang sanagt luar biasa
bagi saya, dengan mengunjungi salah satu suku yang ada di Indonesia ini saya sadar
bahwa masih ada hal yang bisa dibanggakan dari negeri kita Indonesia, sangat beruntung

masih ada suku yang masih mau mempertahankan adat istiadat dari leluhurnya dimana
saat hampir semua tempat sudah bercampur dengan adat dan budaya luar, suku Baduy
masih tetap kokoh mempertahankan keaslian budaya mereka. Untuk menemukan hal ini
sudah sangat jarang, meskipun masih ada beberapa tempat yang mempertahankan budaya
aslinya akan tetapi sulit menemukan suku yang tidak sembarangan orang dapat
menginjakan kaki ditanah leluhur mereka. Benar-benar tempat yang sangat unik dan
pantas untuk dilestarikan. Semoga kalian terkesan dengan tulisan ini.
Untuk memasuki kawasan suku Baduy itu sendiri saya harus menempuh perjalanan
yang cukup jauh tidak hanya itu kondisi jalan yang licin, naik turun perbukitan, disertai
dengan bebatuan yang sangat tajam membuat saya kelelahan. Akan tetapi rasa penasaran saya
terhadap pesona suku Baduy membuat saya tidak ingin menyerah begitu saya hanya karena
kondisi jalan yang bisa dibilang buruk.
Hari itu, saya dan beberapa teman saya yang sengaja datang dari Tangerang
menempuh perjalan dari desa Cicakal ke salah satu desa yang ada dalam wilayah Baduy Luar.
Kami ditemani dua orang warga dari desa Cicakal, karena jalanan begitu licin dan berbukit
kami dibuatkan masing-masing tongkat untuk mempermudah perjalanan. Awalnya, jujur saja
saya sedikit merasa takut karena kami memasuki hutan dan melewati beberapa kuburan tua.
Ditambah lagi dengan ketakutan saya kepada binatang buas salah satunya ular tanah yang
menurut uwa (sebutan om tertua) yang mengantar kami sering ditemui diperjalanan, adrenalin
saya benar-benar di uji pada saat itu. Sebelum masuk di perkampungan salah satu suku Baduy
Luar kami melihat lumbung padi, menurut uwa padi yang ada didalamnya sudah berumur
puluhan tahun. Kemudian kami melanjutkan perjalan tibalah kami kepada salah satu desa
yang ada di wilayah Baduy Luar tersebut, saya begitu terkesan melihat rumah yang berdiri itu
hampir tidak ada bedanya yang membedakannya hanyalah jenis pintunya saja. Kemudian
kami berjalan-jalan perkampungan sangat sepi hal ini dikarenakan banyak yang masih berada
di ladang, hanya beberapa penenun dan salah seorang penjahit pakaian ciri khas suku Baduy
Luar yang berhasil kami temui. Untuk menenun satu kain saja diperlukan waktu minggu atau
bahkan sampai bulanan, kemudian untuk membuat tas yang biasanya dipakai oleh suku
Baduy untuk yang berukuran kecil diperlukan waktu 2 minggu sedangkan untuk yang ukuran
besar diperlukan hingga 1 bulan. Kemudian kami berjalan menuju salah satu sungai, disitu
saya melihat beberapa pemuda sedang menghanyukkan kayu-kayu besar ternyata, kayu-kayu
besar itu akan dibawa ke salah satu desa untuk dijual, hal ini terjadi karena kondisi jalan yang
tidak memungkinkan untuk membwa kayu-kayu tersebut sehingga kayu-kayu tersebut
dihanyutkan dan dijaga oleh beberapa orang yang berada dibagian hilir sungai. Mereka benarbernar memanfaatkan alam untuk menghemat tenaga mereka. Kemudian kami melanjutkan
perjalan kedesa selanjutnya, disitu kami beristirahat karena menempuh perjalanan yang sangat
jauh, naik turun perbukitan dan disertai dengan cuaca yang panas pula pada saat itu. Hal unik
yang saya temui disitu adalah warung mereka berada dalam rumah dan rumah dalam keadaan

tertutup, tidak sepeti warung-warung yang kita lihat, saya membeli beberapa makanan kecil
untuk menahan lapar dan makanan-makanan tersebut dijual dengan harga yang jauh lebih
murah. Wah, benar-benar perjalana yang sangat luar biasa begitu melelahkan tetapi juga
menyenangkan dapat melihat adat dan kebiasaan masyarakat Baduy, meskipun saya tidak
masuk ke dalam wilayah Baduy Dalam tetapi mendengar cerita dari uwa Budi saya dapat
merasakan damainya tinggal di wilayah Baduy Dalam. Meskipun tidak pernah merasakan
kehidupan dalam era modern tetapi yang terpenting adalah bagaimana kita dapat hidup tenang
damai, dan sejahtera di tanah tanah leluhur kita.

Suku Baduy merupakan masyarakat yang mendiami desa Kenekes, Kabupaten


Lebak, Provinsi Banten. Suku Baduy menerapkan isolasi dari dunia luar hal ini karena mereka
tidak ingin budaya asing masuk dan menghilangkan budaya asli mereka. Masyarakat Baduy
dalam kesehariannya menggunakan bahasa Sunda, untuk dapat berkomunikasi dengan
masyarakat suku Baduy kita dapat menggunakan bahasa Indonesia walaupun mereka tidak
pernah mendapatkan pengetahan dari bangku sekolah akan tetapi mereka bisa mengerti
bahasa Indonesia. Masyarakat Baduy terutama Baduy dalam tidak mengenal budaya menulis,
sehingga agama, adat, tradisi hanya disampaikan secara lisan saja.
Terdapat kurang lebih 57 kampung atau desa di dalam Suku Baduy Dalam dan Luar.
Suku Baduy dalam terdiri dari 3 desa yaitu Cibeo, Cikatawarna, dan Cikeusik) sedangkan
selebihnya adalah termasuk kedalam syku Baduy Luar. Masyarakat suku Baduy di bawahi
oleh 7 Jaro (kepala suku). Khusus bagi suku Baduy Dalam, selain ada Jaro terdapat pula
seorang Puun, Puun adalah orang yang dianggap sakral oleh masyarakat Baduy Dalam.
Masyarakat Baduy di kelompokan menjadi 3 yang pertama adalah Baduy Dalam, Baduy Luar,
dan Baduy Dangka.

1 Baduy Dalam
Masyarakat Baduy dalam adalah mereka yang masih dapat memegang teguh adat istiadat dari
nenek moyang mereka. Ciri khas orang Baduy dalam adalah mengenakan pakaian berwarna
putih dan ikat kepala berwarna putih. Masyarakat baduy dalam tidak boleh menggunakan
apapun yang berhubungan dengan bahan kimia, untuk mandi dan keramas mereka
menggunakan salah satu jenis dedaunan dan untuk menyikat gigi mereka menggunakan batu
halus yang ditumbuk dan dihaluskan sehingga dapat dijadikan sebagai pasta gigi. Sedangkan
untuk memasak, masyrakat suku Baduy Dalam menggunakan tungku api. Masyarakat suku
Baduy Dalam tidak diperbolehkan memakai kendaraan sebagai alat transportasi, sehinnga
jauh dekatnya jarak yang ditempuh mereka tetap harus berjalan kaki, mereka tidak
diperbolehkan memakai alas kaki, dan mereka tidak diperbolehkan menggunakan alat
elektronik atau apapun yang berhubungan dengan teknologi jika mereka berani melanggar
larangan tersebut maka mereka akan mendapat hukuman yaitu dikucilkan kedalam hutan adat,
mereka bekerja tanpa dibayar dan hanya diberi makan saja, jika mereka tidak bersedia
menjalani hukuman tersebut maka mereka akan diasingkan ke dalam suku Baduy Luar.
Masyarakat Baduy memang sangat anti dengan kehidupan dunia luar. Mereka tetap
melestarikan kebudayaan asli mereka tanpa mau mencampurinya dengan budaya lain,
sehingga jika kita melihat budaya Baduy dalam itu adalah benar-benar Budaya asli mereka
salah satu kebanggaan bagi bangsa Indonesia bahwa masih ada suku yang mau
mempertahankan adat istiadat dari leluhur mereka. Malam hari itu kami kedatangan tamu dari
suku Baduy dalam bernama bapak Jasi (nama anaknya Jasi) akan tetapi kami tidak dapat
mengabadikan perbincangan kami melalui video karena tidak cukup cahaya dalam rumah
tempat kami menginap dan tidak banyak informasi yang bisa kami dapatkan karena orang
Baduy Dalam memiliki prinsip jika bukan bidang mereka atau mereka tidak benar-benar
mengetahui informasi yang kita tanyakan, mereka tidak akan berani menjawab karena takut
memberikan informasi yang salah kepada orang asing, saat mendengar hal itu saya benarbenar merasa kagum karena mereka memiliki prinsip yang kuat dan sangat jujur. Tidak
sembarangan orang dapat memasuki kawasan suku Baduy Dalam, orang-orang yang ingin
melihat masuk harus seizin Jaro setempat dan itupun tidak diperbolehkan merekam atau
memotret saat berada dalam wilayah suku Baduy Dalam. Satu hal yang membuat saya sangat
terkesan saat mendengar cerita dari bapak Jasi, dia mengatakan orang Baduy Dalam jika
mereka berbuat satu kesalahan atau baru sekedar berniat saja membuat satu kesalahan mereka
akan mengaku atau bahkan mengasingkan diri mereka sendiri ke Baduy Luar. Mereka benarbenar memiliki kesadaran diri yang sangat luar biasa, bahkan ketika mereka pergi ke kota
untuk menjual menjual madu dan yang lainnya atau bahkan mengunjungi orang-orang yang

pernah berkunjung ke Baduy Dalam mereka tetap akan berjalan kaki daripada naik angkutan
umum, padahal kalau kita pikirkan jika mereka naik angkutan umum siapa yang akan tau?
Kepala suku tidak akan bisa melihat apa yang mereka lakukan saat barada di luar wilayah
mereka tetapi nilai kejujuran sudah sangat melekat bagi masyakat Baduy terutama pada
masyarakat Baduy Dalam mereka tidak ingin melanggar hukum dan ketentuan yang berlaku
di dalam masyarakat mereka.

2 Baduy Luar
Masyarakat Baduy Luar merupakan masyarakat yang telah diasingkan dari Baduy Dalam.
Ada beberapa alasan mengapa mereka diasingkan antara lain adalah hal tersebut merupakan
keinginan mereka sendiri untuk meninggalkan wilayah Baduy Dalam, mereka telah
melanggar adat istiadat yang berlaku di masyarakat Baduy Dalam, ataupun kerena mereka
menikah dengan orang Baduy Luar. Kebiasaan dan adat istiadat yang berlaku dalam
masyarakat Baduy Luar pada dasarnya masih memiliki kesamaan dengan kebiasaan dan adat
istiadat masyarakat Badut Dalam akan tetapi masyarakat Baduy Luar telah mengenal dan
menggunakan teknologi, dapat menggunakan kendaraan sebagai alat transportasi,
diperbolehkan menggunakan alas kaki, alat untuk membuat rumah pun sudah menggunakan
gergaji, paku, palu dan lain sebagainya yang dalam masyarakat Baduy Dalam itu tidak
diperbolehkan. Untuk membedakan masyarakat suku Baduy Dalam dan suku Baduy Luar itu
dapat dilihat dari pakaian mereka, jika masyarakat suku Baduy Dalam menggunakan pakain
sampai ikat kepala berwarna putih, suku Baduy Luar menggunakan pakaian serba hitam hal

itu karena mereka dianggap sudah tidak suci lagi bahkan masyarakay suku Baduy Luar
sebagian besar telah menggunakan pakaian modern. Mata pencaharian mereka adalah bertani,
menenun, membuat pakaian ciri khas suku Baduy Luar, ataupun membuat pernak-pernik ciri
khas suku Baduy. Masyarakat suku Baduy Luar sudah dapat dengan terbuka menerima orang
asing, meskipun begitu kebanyakan dari mereka masih yang tabu untuk difoto sehingga saat
diminta berfoto bersama mereka masih keberatan.

3 Baduy Dangka
Masyarakat suku Baduy Dangka merupakan masyarakat yang telah benar-benar
terasing dari suku Baduy, biasanya hal tersebut terjadi karena mereka telah membuat
kesalahan yang besar, wilayah merekapum telah jauh dari wilayah Baduy. Masyarakat
Baduy dalam tidak boleh berburu atau membunuh binatang kecuali binatang tersebut
sudah merusak seperti tikus (hama), ular pun jika dia tidak membahayakan mereka, mereka
tidak akan membunuh.di dalam masyarakat suku Baduy, ada beberapa tanaman yang tidak
boleh ditanam yaitu kopi, cengkeh, kelapa, dan singkong kenapa tanaman ini tidak
diperbolehkan? Tentu terdapat alasannya, hal itu karena kelapa dianggap tanaman yang
menghabiskan banyak air, tanaman kopi daunnya dapat menutupi pohon lainnya yang ada
dibawah sehingga tidak terdapat pohon lagi, singkong dapat menggangu kesubururan tanah.
Nah, itu lah penyebabnya mengapa tanaman-tanaman tersebut tidak boleh di tanaman di
wilayah Baduy karena mereka sangat menghormati dan mencinta alam, sehingga jika alam
terganggu mereka sendiri nanti yang akan merasakan dampaknya. Konsep komunikasi orang
Baduy adalah memanfaatkan tetapi tidak merusak alam.

Terdapat tiga komunikasi yang ada dalam suku Baduy, yang pertama adalah
Komunikasi dengan Tuhan, yang kedua adalah komunikasi dengan alam, dan yang terakhir
adalah bagaimana komunikasi dengan sesama manusia. Dalam komunikasi dengan Tuhan,
masyarakat Baduy contohnya saja jika terdapat kematian mereka tidak akan menagis karena
mereka sangan meyakini janji Tuhan yang paling pasti itu adalah kematian sehingga
semuanya memang harus kembali kepada penciptanya dan saat ada kelahiranpun tidak ada
upacara atau selamatan khusus, yang kedua dalam komunikasi dengan alam dalam
masyarakat Baduy mereka meyakini bahwa sebelum manusia ada alam sudah tercipta terlebih
dahulu mereka menghormati tanaman dan binatang mereka meyakini bahwa jika alam dirusak
dan mulai hancur maka tidak akan ada lagi kehidupan seperti yang telah saya katakan
masyarakat Baduy tidak diperbolehkan memburu kecuali binatang tersebut sudah merusak,
dan yang terakhir komunikasi dengan sesama manusia, masyarakat Baduy saling
menghormati hal ini dibuktikan dengan tidak adanya seorang pemimpin karena jika ada yang
menjadi pemimpin itu sama saja dengan pembunuhan karakter, struktur komunikasi sosial
masyarakat Baduy ada tiga yaitu pada masyarakat Baduy dalam Cikeusik lebih difokuskan
kepada pengajaran kepada Tuhan yang Maha Esa, padas masyarakat Baduy Dalam Cibeo
lebih difokuskan kepada alam, dalan dalam masyarakat Cikatawarna lebih difokuskan kepada
pengajaran bagaimana mereka dengan sesama manusia. Dalam kebiasaan masyarakat Baduy
jika beberapa orang berjalan tidak boleh beiringan mereka lebih mengutamakan anak kecil
dan perempuan yang lebih dahulu berjalan, dapat diasimpulkan bahwa mereka sangat
menghargai sesamanya mereka tidak ingin menghalangi perjalanan orang lain, dan memang
seperti itu yang saya lihat ketika saya berada dalam wilayah Baduy, saya tidak pernah melihat
mereka berjalan beriringan yang lebih kecil selalu diutamakan. Saya begitu terkesima bahwa
jangankan untuk hal-hal yang besar hal kecil seperti kebiasaan berjalan tidak beringanpun
mereka masih tetap taat. Perlu kalian ketahui pula bahwa hukum terbesar dalam masyarakat
Baduy adalah jika seorang pria mengganggu perempuan, jadi untuk para perempuan tidak
perlu takut akan diganggu oleh pemuda Baduy karena mereka sangat menghormati para
perempuan. Jika kalian melihat ada masyarakat Baduy yang datang ke kota hal itu karena
mereka ingin bersilaturahmi dengan orang yang pernah datang ke Baduy Dalam tidak ada niat
lai

Kearifan Lokal Suku Baduy


NIM
: 11140110060
NAMA : Georgene Suryani

KELAS : E1

Dapatkah Anda bayangkan bagaimana rasanya sehari saja hidup tanpa adanya listrik
dan
televisi?
Lalu,
pernahkah
Anda
merasa
uring-uringan
karena
kehilangan smartphone kesayangan Anda? Atau bagaimana jika Anda memiliki telepon
seluler, tetapi tidak ada sinyal yang menunjang komunikasi Anda?

Bisa jadi situasi-situasi seperti yang disebutkan di atas membuat Anda bete dan
cemberut seharian. Memang perasaan semacam itu manusiawi. Akan tetapi,
sebelumnya ada baiknya kita melihat kehidupan orang Baduy, sebuah suku yang kental
akan aturan adat dan berusaha untuk bertahan di tengah terpaan badai teknologi.
Konsep kehidupan dari kacamata Anda kemungkinan besar akan berubah 180 derajat.
Dan itulah yang secara pribadi saya rasakan sewaktu berkunjung dan tinggal bersama
orang Baduy selama tiga hari.

Rencana perjalanan menuju Baduy yang sempat tertunda beberapa kali akhirnya
terealisasikan juga pada 14 Desember 2012 lalu ketika saya dan ketiga teman lainnya
memutuskan untuk berangkat ke wilayah di pedalaman Lebak, Banten itu. Sebuah
perjalanan yang berjarak kurang lebih 85 kilometer dari Gading Serping itu terasa begitu
menyenangkan. Tinggal di bawah satu atap yang sama, alas tidur yang sama, dan ruang
yang sama membuka mata saya bahwa kita harus bersyukur dengan segala karunia
kehidupan yang kita miliki saat ini. Sekalipun orang Baduy hidup dalam keterbatasan,
mereka menjalani dengan keikhlasan, tanpa ada keluhan sedikit pun.

Pagi itu sekitar pukul 11.15, kami memulai perjalanan dari stasiun Serpong menuju
Rangkas Bitung, kota terdekat dari Baduy. Hanya dengan merogoh kocek sebesar
Rp1500,00, kami akan diantar sampai ke Rangkas. Namun, memang sesuai dengan
harganya, jangankan berharap untuk duduk nyaman dan sejuk, bau keringat bercampur
dengan segala jenis bau lainnya berkumpul jadi satu. Hawa panas, pengamen, dan
pedagang segala jenis baranglah yang menemani satu setengah jam perjalanan kami.
Namun, itu semua tidak mematahkan semangat kami. Rasa penasaran ingin melihat
sendiri uniknya budaya yang satu ini membuat saya tetap bersemangat.

Sesampainya di kota Rangkas, kami pun melanjutkan perjalanan dengan mencarter


sebuah angkot menuju ke Ciboleger, perbatasan terluas dengan permukiman orang
Baduy Luar. Untuk itu, setiap orang harus membayar RP15.000,00.

Pukul 15.00, sampailah kami berempat di Ciboleger yang terlihat begitu gersang di
bawah teriknya sinar matahari. Pemandangan pertama yang saya lihat di sana yaitu tugu
selamat datang yang di atasnya berdiri patung sebuah keluarga yang tampaknya
menggambarkan keluarga orang Baduy dengan mata pencaharian utamanya yaitu
bertani dan berladang. Selain itu, layaknya sebuah tempat wisata, sejumlah bangunanbangunan yang terlihat sedikit kumuh dimanfaatkan warga setempat untuk berjualan,
mulai dari sembako hingga oleh-oleh khas daerah sana yang dibuat langsung oleh para
pengrajin Baduy, seperti kaos, gelang, kalung, dan gantungan kunci. Harganya pun
cukup terjangkau, mulai dari Rp4.000,00 hingga Rp30.000,00.

Tidak lama setelah itu, Kang Sarmidi dan Kang Sarwadi, orang Baduy Dalam yang akan
memandu perjalanan kami ke dalam selama tiga hari, datang menjemput kami. Sebelum
memasuki wilayah Baduy, kami diantar ke rumah Djaro Dainah (sebutan bagi Kepala
Desa) untuk mendaftarkan diri di sana.

Sejak zaman dahulu, orang Baduy memang terkenal dengan ketaatannya pada aturan
adat yang ditetapkan oleh Kepala Adat yang disebut Puun. Hampir seluruh aspek
kehidupan masyarakat Baduy dibatasi oleh aturan adat, mulai dari tidak menggunakan
listrik, peralatan teknologi, sistem pendidikan, kepercayaan, pakaian, bahkan hingga
urusan mandi dan menggosok gigi pun diatur. Bagi kebanyakan orang, semua batasan
itu terkesan kuno dan aneh. Akan tetapi, masyarakat baduy tetap bertahan dengan
keyakinan mereka sekalipun menghadapi terpaan badai budaya modern.

Selama 3 hari 2 malam bersama Kang Sarmidi, Kang Sarwadi, dan keluarga Baduy, ada
banyak hal unik yang saya temui di sana. Dalam beberapa hal, orang Baduy Luar dan

orang Baduy Dalam sendiri memiliki ciri orisinal mereka masing-masing yang menarik
untuk dikulik bersama.

Kang Sarmidi - Babang - Me - Desy - Sintia - Kang Sarwadi

SISTEM KEPERCAYAAN AGAMA


Mayoritas orang Baduy beragama Sunda Wiwitan. Ada beberapa informasi yang saya
peroleh mengenai kepercayaan ini. Pertama-tama saya menanyakan itu langsung ke
sang pemandu yang membawa kami memasuki wilayah Baduy, Kang Sarwadi. Ia hanya
mengatakan itu kepercayaan pada leluhur.

Sewaktu di Baduy Dalam, saya bertemu dengan seorang anak perempuan asal Cilegon
bernama Caca. Ia sudah tiga kali berkunjung ke Baduy untuk melakukan observasi
budaya. Dan ia mengatakan bahwa Sunda Wiwitan pada dasarnya mirip dengan agama
muslim. Bahkan, ada pula tradisi puasa yang mereka lakukan.

KELAHIRAN
Setiap proses kelahiran dan kematian orang Baduy ditangani langsung oleh orang
Baduy sendiri. Biasanya setiap kampung memiliki dua orang dukun beranak atau yang
biasa mereka sebut sebagai paraji yang akan membantu proses persalinan mereka.
Dengan segala keterbatasan obat-obatan tradisional, kelahiran-kelahiran di Baduy itu
biasanya ditangani. Yang pasti, orang Baduy Dalam tidak boleh dibawa keluar dari
kampungnya untuk mendapat penanganan medis di luar yang sudah modern.

Namun, menurut cerita yang saya peroleh dari salah satu warga Baduy, aturan adat
tersebut pernah dilanggar oleh salah seorang warga Baduy Dalam. Satu alasan yang
diperbolehkan untuk melanggar aturan adat yaitu untuk menyelamatkan nyawa. Setelah
seorang ibu di Baduy dibantu proses persalinannya oleh paraji setempat dan bayinya
sudah lahir, ternyata plasenta bayinya tidak keluar-keluar. Hal itu bisa mengancam
nyawa sang ibu. Akan tetapi, paraji setempat itu tetap berkukuh pada pendiriannya,
menolak untuk membiarkan sang pasien memperoleh tindakan medis modern. Namun,
belakangan si ibu itu terus menerus merasa kesakitan dan sang suami tidak tega
melihat keadaan sang istri. Akhirnya dibuatlah keputusan untuk melanggar aturan adat
itu demi menyelamatkan nyawa istrinya. Syukurnya nyawa orang tersebut akhirnya
selamat. Setelah pengobatan dijalani, hukum pengasingan di luar Baduy harus tetap
dijalani oleh pasangan tersebut, yaitu selama 40 hari.

Ada beberapa kebiasaan menyambut prosesi kelahiran bayi yang biasanya dijalani
orang Baduy, baik Baduy Dalam maupun Luar. Tiga hari setelah bayinya lahir, sebuah
acara syukuran akan diadakan. Dan seminggu setelah kelahiran, anaknya baru akan
diberi nama. Menurut pengamatan yang saya lakukan, nama adik kakak di dalam satu
keluarga biasanya hampir mirip. Contoh Sarwadi dan Sarmidi.

KEMATIAN
Sekalipun wilayah pemukiman orang Baduy berada di kaki pegunungan yang dikelilingi
hutan dan jurang-jurang, tetapi lahan khusus untuk pemakaman sudah disediakan.
Biasanya di hari ketiga setelah kematian akan ada acara peringatan kematian. Pada
masa-masa itu, makam itu masih dianggap keramat. Namun, hari ketujuh setelah
prosesi pemakaman, tanah makam sudah boleh digunakan lagi sebagai lahan pertanian
atau berladang. Bahkan, sudah boleh diinjak-injak.

PERKAWINAN
Hukum adat Baduy mengatur bahwa sistem pernikahan di Baduy Dalam didasarkan atas
perjodohan. Biasanya seorang perempuan yang berusia di atas 16 tahun sudah akan
dinikahkan. Sedangkan laki-laki biasanya pada usia 20 hingga 25 tahun sudah
berkeluarga. Dan jodoh yang dipilih biasanya masih berada dalam satu keluarga, namun
tidak sedarah. Jika seseorang ketahuan berpacaran atau menikah dengan orang yang
bukan dijodohkan dengannya, maka dia dapat dikenai sanksi diusir dari baduy Dalam.

Sedangkan di Baduy Luar, seseorang bisa mencari jodohnya sendiri, tanpa harus
dipilihkan oleh orangtuanya. Prosesi pelamaran dilakukan dalam 3 tahapan.

Di dalam aturan orang Baduy, poligami dan poliandri dilarang keras. Satu pria hanya
boleh memiliki istri 1 orang. Demikian pula sebaliknya. Selain itu, perceraian tidak
diperkenankan di Baduy Dalam. Pernikahan boleh dilakukan kembali jika salah satu
pasangan meninggal dunia. Oleh karena itu, ikrar perkawinan memiliki nilai yang tinggi di
mata masyarakat Baduy.

Masyarakat Baduy dikenal sebagai masyarakat yang berbudaya santun. Selama 3 hari
tinggal bersama mereka, saya merasa aman. Mereka menghargai lawan jenis. Sungguh
berbeda sekali dengan keadaan masyarakat sekarang.

BAHASA
Orang Baduy berkomunikasi sehari-hari dengan menggunakan bahasa Sunda. Namun,
dialek Sunda yang digunakan adalah versi Banten, atau yang sering disebut Sunda
Ngapak. Sekilas bahasa Sunda orang Baduy terdengar lebih kasar, menurut Kang
Sarwadi, orang Baduy Dalam.

Namun, seiiring berjalannya waktu, wilayah Baduy sering mendapat kunjungan, baik dari
pemerintah maupun para turis yang suka mengobservasi budaya di sana. Oleh karena
itu, bahasa Indonesia sudah mulai digunakan oleh orang Baduy meskipun memang
beberapa orang Baduy senior belum sepenuhnya bisa berkomunikasi dalam bahasa
Indonesia. Itulah yang saya temukan pada saat menginap di Baduy Dalam. Ketika saya
menanyakan di mana tempat untuk buang air, mereka menjawab dalam bahasa yang
sulit untuk dipahami. Saya pun Cuma bisa membaca jawaban mereka dari gerak tubuh.
Akan tetapi, orang Baduy menunjukkan keramahan mereka terhadap para tamu yang
datang berkunjung.

Aturan adat melarang orang-orang Baduy untuk mengenyam pendidikan formal di


bangku sekolah. Bahkan, sekalipun pemerintah sudah menawarkan untuk membantu,
tawaran itu pun ditolak mentah-mentah. Itulah sebabnya, masayarakat Baduy
kebanyakan tidak mengenal baca dan menulis. Akan tetapi, ada satu hal yang cukup
mengejutkan. Ketika saya akan pergi ke Baduy, saya mengontak Kang Sarmidi dan
Kang Sarwadi melalui SMS. Awalnya saya mengira mereka adalah orang Baduy Luar.
Namun, ternyata mereka adalah orang Baduy Dalam.

Sempat muncul tanda tanya besar di benak saya, bagaimana mungkin orang Baduy
Dalam bisa menggunakan teknologi dan bisa ber-SMS. Ketika saya mewawancarai
Kang Sarwadi, dia mengatakan bahwa itu tidak menjadi masalah jika digunakan di luar
kawasan Baduy Dalam. Lalu, saya memancing kembali dengan pertanyaan lainnya:
Kalau begitu, apa yang membuat seorang Baduy Dalam diusir keluar?. Ia pun
menjawab, jika ketahuan melanggar aturan adat, misalnya naik kendaraan. Saya pun
kembali mengajukan pertanyaan: Lho naik kendaraan kan di luar Baduy Dalam?
Kenapa dianggap melanggar aturan adat?.

Mendengar pertanyaan saya itu, Kang Sarwadi hanya tersenyum malu-malu. Kini,
kecurigaan saya semakin bertambah besar. Apakah orang Baduy masih
mempertahankan kepatuhannya kepada aturan adat secara utuh. Sejujurnya, saya tidak
yakin akan hal itu.

TEMPAT TINGGAL

Pada waktu pertama kali menginjakkan


kaki di wilayah pemukiman Baduy Luar, bentuk tempat tinggal orang Baduy Luar sudah
jauh berbeda dengan tempat tinggal warga di Ciboleger.

Lumbung padi

Rumah-rumah tradisional dengan beratapkan rumbia menghiasi pemandangan kami


saat itu. Tidak ada lagi bangunan bertembokkan besi dan beton. Hanya saja, memang
paku sudah boleh digunakan di rumah-rumah orang Baduy Luar. Namun, halnya
berbeda dengan rumah orang Baduy Dalam yang hanya murni menggunakan kayu rotan
dan ikat tali dari bahan alami.

Sekilas rumah orang Baduy terlihat seperti rumah panggung. Rumah orang Baduy
Dalam dibangun dengan lebih tinggi (lebih panggung) ketimbang rumah orang Baduy
Luar.

Penerangan yang digunakan di rumah orang Baduy Luar yaitu lampu tempel dengan
minyak tanah. Sedangkan di Baduy Dalam hanya diperbolehkan lampu tempel dengan
minyak kelapa yang alami.

Uniknya, jika kita berkunjung ke Baduy Luar dan Dalam, hampir setiap rumah memiliki
bentuk yang mirip. Hal ini secara simbolik menggambarkan kesetaraan sosial yang
dianut orang Baduy. Dengan begitu, konflik pun dapat dikurangi.

PAKAIAN

Kang Sarmidi

Kaum pria di Baduy Dalam biasanya mengenakan baju berlengan panjang tanpa kerah
dan kancing dan berwarna putih ataupun hitam polos. Warna putih yang dipilih itu
menjadi gambaran simbolis tentang kesucian dan kebersihan. Mereka dilarang keras
untuk mengenakan pakaian dengan warna selain hitam dan putih. Dan pakaian yang
mereka kenakan wajib ditenun sendiri dari kapas, tidak boleh menggunakan mesin jahit.
Kemudian, mereka juga mengenakan sarung berwarna abu-abu kehitaman. Salah satu
kelengkapan wajib yang harus dikenakan pria Baduy Dalam yaitu ikat kepala berwarna
putih dan sebuah gelang kain.

Sedangkan kaum pria di Baduy Luar biasanya mengenakan baju kampret (sekilas
terlihat seperti baju silat orang Betawi) berwarna hitam. Selain itu, dilengkapi dengan ikat
kepala berwarna biru tua dengan variasi corak batik. Namun, bagi orang Baduy luar
yang dinilai sudah mulai terpengaruh budaya luar, maka baju-baju yang berbau modern
sudah boleh mereka kenakan. Misalnya, kaos, celana panjang, dan sandal pun boleh
dikenakan.

Biasanya kaum pria Baduy, baik Baduy Dalam maupun Luar, selalu membawa golok
saat berpergian. Golok itu disimpan di balik sarung di pinggangnya. Biasanya golok itu
akan digunakan untuk membuka jalur perjalanan di hutan ataupun mengerjakan lahan
ladang dan pertanian mereka.

Bagi kaum wanita di Baduy Dalam,


biasanya mereka mengenakan semacam kain kemben berwarna abu-abu kehitaman.
Bahannya pun sama seperti yang dikenakan kaum lelaki Baduy Dalam, benang kapas
yang ditenun sendiri. Sewaktu berada di Baduy Dalam, saya sering kali berpapasan
dengan ibu-ibu orang Baduy yang tampaknya sudah cukup berumur dan mereka sering
kali membiarkan buah dadanya terlihat, tidak ditutupi pakaian. Namun, khusus jika akan
pergi beraktivitas, kaum wanita di Baduy Dalam biasanya mengenakan baju yang mirip
dengan kebaya dengan bahan benang kapas tenunan berwarna putih atau hitam.

Lalu, bagaimana dengan gaya berpakaian di Baduy luar? Menurut yang saya amati
selama beberapa hari, kebanyakan wanita yang sudah dewasa gaya berpakaiannya
hampir mirip dengan wanita Baduy Dalam. Yaitu kebaya berwarna putih, hitam, atau
abu-abu kehitaman. Hanya saja, wanita Baduy luar juga mengenakan pakaian berwarna
biru tua bercorak batik. Sedangkan gadis-gadis remaja dan anak-anak kecil di Baduy
Luar biasanya sudah mengenakan baju-baju modern, seperti kaos, tetapi masih
dicocokan dengan rok ataupun sarung sebagai bawahannya.

PEKERJAAN

Orang Baduy bermukim di kaki pegunungan Kendang di


desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak Rangkasbitung, Banten.
Daerah itu dikelilingi oleh hutan-hutan yang asri dan tanah yang subur. Tidaklah
mengherankan jika bertani dan berladang menjadi mata pencaharian utama orang-orang
Kanekes (sebutan bagi orang Baduy). Beberapa hasil pertanian yang dihasilkan,
misalnya petai, durian, pisang, dan rambutan.

Kebetulan pada waktu saya berkunjung ke Baduy kemarin,


sedang berlangsung musim panen durian. Di beberapa kesempatan, saya berpapasan
dengan sejumlah anak berusia kurang lebih 7 tahun sedang memikul buah durian.
Dengan tubuh semungil itu, mereka seakan sudah terbiasa memikul buah durian yang
begitu berat. Meskipun medan perjalanan yang mereka lalui begitu curam dan terjal,
anak-anak kecil itu tetap bersemangat untuk membawa hasil panenan keluarga mereka
ke terminal untuk dijual di sana.

Namun, khusus untuk padi, aturan adat melarangnya untuk dijual. Hasil panen padi
orang Baduy akan disimpan di lumbung padi sehingga orang Baduy tidak akan
kekurangan persediaan makanan pada musim paceklik.

Bagi masyarakat Baduy, roda kehidupan bermula di pagi


hari saat mereka bangun dan pergi bekerja. Dan segala aktivitas orang Baduy berakhir
pada malam hari saat mereka kembali beristirahat. Pandangan itulah yang membuat
masyarakat Baduy selalu bekerja dengan rajin. Bahkan, nilai itu pun ditanamkan pada
anak cucu mereka. Sejak pagi-pagi buta, anak-anak kecil pun sudah bangun dan
membantu orangtua mereka bekerja.
Bagi anak laki-laki, mereka biasanya akan diajar untuk bertani dan berladang dengan
sang ayah. Sedangkan, anak-anak perempuan biasanya akan membantu sang ibu di
dapur, menumbuk padi, ataupun menenun pakaian. Untuk selembar kain, butuh waktu
sekitar dua sampai tiga bulan pengerjaan, baru kemudian dijual. Lalu, uang hasil menjual
hasil pertanian dan kain, serta kerajinan tangan khas Baduy akan digunakan orang
Baduy untuk memenuhi kebutuhan hidup orang Baduy di pasar.

KONFLIK
Menurut hasil wawancara saya dengan Kang Sarmidi, selama ini belum pernah terjadi
masalah besar yang mengakibatkan keributan antara orang Baduy Dalam dan Baduy
Luar. Biasanya hanya terjadi masalah-masalah kecil yang diakibatkan kesalahpahaman
komunikasi. Dan jika hal itu sampai terjadi, maka akan dibawa ke Djaro Adat (ketua adat)
untuk menengahi permasalahan tersebut.

Oleh karena pandangan terhadap aturan adat yang tinggi, konflik kecil semcam itu
biasanya dapat mudah diselesaikan. Menurut yang saya amati selama tinggal di sana,
jarang sekali saya menemukan orang Baduy yang berteriak dan suka memotong
percakapan. Mereka sangat santun dalam berbicara. Dan ketika ada satu orang yang
bicara, mereka akan mendengarkan. Kemungkinan besar ini juga yang menyebabkan
konflik tersebut jarang terjadi.

Selain itu, kebanyakan orang Baduy (baik di Luar dan Dalam) biasanya saling mengenal
sekalipun mereka tinggal saling berjauhan. Selama perjalanan dari Ciboleger ke Baduy
Dalam, saya sempat singgah di beberapa rumah penduduk dan mereka sangat ramah
dalam menjamu kami. Sekalipun hidup dengan keterbatasan materi, tetapi menjamu
dengan makanan dan minuman yang mereka miliki tampaknya adalah hal yang wajib.

Waktu itu kami dijamu dengan buah durian hasil panenannya dan saya pun
menyicipinya. Sungguh nikmat.

SISTEM KEPENDUDUKAN

Konon saya pernah mendengar bahwa


jumlah kepala keluarga sudah ditetapkan. Jika ada kepala keluarga baru, dia pun harus
keluar dari Baduy Dalam. Saya pun menanyakan hal itu kepada Kang Sarwadi. Dia
menjelaskan bahwa itu berkaitan dengan zaman Belanda. Untuk melindungi keluargakeluarga orang Baduy, Djaro Adat pun membuat semacam tipuan kepada orang Belanda
dengan mengatakan aturan itu. Padahal sebenarnya banyak keluarga-keluarga lainnya
yang juga bersembunyi di wilayah Baduy Dalam.

Kini warga Baduy pun sudah mulai mendaftarkan kependudukan mereka dengan
membuat KTP. Bahkan wilayah Baduy luar pun sudah menjadi lahan kampanye para
calon kepala daerah. Orang Baduy kini sudah mulai menerima pengaruh dari luar,
meskipun memang belum sepenuhnya.

Dengan sejuta aturan hukum adat yang wajib dijalani orang Baduy, apakah mereka
pernah mengeluh? Sama sekali tidak. Justru mereka menikmatinya. Kang Sarwadi
berkata bahwa ia betah dengan apa yang ia miliki sekarang. Tidak bisa menonton
televisi, tidak ada gadget mewah, tidak ada listrik, dan hanya dapat makan nasi
dan ikan asin pun bisa terasa nikmat jika kita mensyukurinya. Jadi, bagaimana
pandangan Anda tentang konsep kehidupan? Masihkah Anda akan mengeluh hari
ini?
Posted by Tugas KAB at 7:34 PM
Email ThisBlogThis!Share to TwitterShare to FacebookShare to Pinterest