Anda di halaman 1dari 45

MAKALAH

HEMOROID

DISUSUN :

MOURISKA
PUTRA ANSONI

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN


TRI MANDIRI SAKTI BENGKULU
TAHUN 2011

DAFTRA ISI

HALAMAN JUDUL .......................................................................................................................


DAFTAR ISI ...................................................................................................................................
KATAPENGANTAR ........................................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN
1.1.

Latar

Belakang

1.2.
1.3.

........................................................................................................................
Tujuan ....................................................................................................................................
Manfaat
........................................................................................................................
............

BAB II TINJAUAN TEORITIS


2.1. Konsep Dasar Anantomi Fisiologi Sistem Pencernaan

................................................

2.2. Konsep Dasar Hemoroid ............................................................................................................


2.3. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Hemoroid ........................................................................
BAB III PENUTUP
3.1. Kesimpulan
3.2. Saran

........................................................................................................................

....................................................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena dengan
karunianya penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk
menambah pengetahuan kepada pembaca tentang penyakit hemoroid
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik
dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan
makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta
dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
senantiasa meridhoi segala usaha kita. Amin.

Salam hormat,mei 2011

Tim penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Hemoroid merupakan penyakit yang sering dijumpai di masyarakat yang sampai saat ini
masih banyak orang yang salah mengerti tentang hemoroid dan masalah-masalah kesehatan
yang berhubungan dengan hemoroid. Hemoroid dikenal dengan banyak istilah. Kata
hemoroid sendiri berasal dari bahasa Yunani yaituhaem : darah danrhoos : mengalir, jadi
semua perdarahan yang ada di anus disebuthemoroid. Sedangkan di Amerika dan Inggris
memakai istilahpiles yang berasal dari bahasa Latin yang berarti bola. Istilah lain yang juga
sering digunakan adalahambeien yang berasal dari bahasa Belanda. Sedangkan di Indonesia
sendiri istilah yang paling sering digunakan adalah wasir yang pada orang awam mempunyi
arti berak darah. Hemoroid sudah dikenal selama berabad-abad dan diduga masih termasuk
salah satu penyakit yang umum ditemukan di mana-mana. Di Amerika Serikat, hemoroid
ditemukan dengan jumlah kasus meliputi 4,4% dari seluruh penduduk.1,2,3 Namun
sayangnya frekuensi pasti dari hemoroid sulit diketahui. Seseorang yang menderita hemoroid
cenderung malu mengutarakan penyakitnya dan takut membayangkan tindakan yang
mungkin akan dilakukan dokter. Di samping itu, hemoroid memang bukanlah penyakit yang
mematikan. Gejalanya dapat hilang timbul, dan pada sebagian besar kasus gejala hemoroid
sudah lenyap dalam beberapa hari saja.4 Menurut anatomi atau letaknya, hemoroid dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Batas antara
interna dan eksterna adalah suatu garis pada anus yang disebut linea dentata atau pectinate
line. Linea dentata adalah garis pertemuan antara permukaan usus besar di sisi dalam dan
permukaan kulit di sisi luar. Jika benjolan berasal dari atas linea dentata, maka hemoroidnya

termasuk hemoroid interna. Sebaliknya jika benjolan berasal dari bawah linea dentata,
hemoroidnya termasuk hemoroid eksterna.4 Gejala hemoroid sangat mirip dengan gejala
karsinoma kolorektal. Oleh karena itu pasien yang datang dengan keluhan hemoroid harus
mendapat pemeriksaan yang adekuat untuk menyingkirkan kemungkinan adanya karsinoma
kolorektal. Selain itu pemeriksaan yang adekuat juga diperlukan untuk
2 menegakkan diagnosis dan klasifikasi serta derajat hemoroid sehingga penanganan yang
tepat dapat diberikan. Pengobatan hemoroid dapat dilakukan dengan tiga modalitas utama,
yaitu modifikasi gaya hidup, obat-obatan (farmakologis), tindakan (nonfarmakologis).
1.2.

Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Diharapkan mahasiswa dapat memahami isi dari makalah yang kami buat serta
dapat menambah pengetahuan bagi pembaca tentang penyakit hemoroid dengan
adanya makalah ini mahasiswa mampu menguasai materi tentang hemoroid
2. Tujuan Khusus
Dapat menanmbah ilmu pengetahuan dan wawasan serta diharapkan mahasiswa
dapat memahami serta menerapkan dalam kehidupan sehari-hari mengenai
penyakit hemoroid.

1.3.

Manfaat penulisan
1. Bagi penulis
Dapat memahami materi yang diberikan serta dapat memberikan pengetahuan
kepada pembaca
2. Bagi pembaca
Diharapkan para pembaca dapat menambah ilmu dan wawasan dalam materi
penyakit hemoroid dan mampu mengaplikasikanya dalam kehidupan sehari-hari.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.

Konsep Dasar Anatomi dan Fisiologi Sistem Pencernaan

Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan yaitu tuba muskular panjang yang
merentang dari mulut sampai anus, dan organ-organ aksesoris, seperti gigi, lidah, kelenjar saliva,

hati, kandung empedu dan pankreas. Saluran pencernaan yang terletak dibawah area diafragma
disebut saluran gastrointestinal (Sloane, 2004 ; 281)
Saluran pencernaan merupakan jalur (panjang totalnya 23-26 kaki) yang berjalan dari mulut
melalui esofagus, lambung, usus dan anus.(Smeltzer, 2002 ; 984)
Fungsi utama dari saluran gastrointestinal yang berhubungan dengan memberikan kebutuhan
tubuh yaitu :
-

Memecahkan partikel makanan ke dalam bentuk molekuler untuk dicerna

Mengabsorbsi hasil pencernaan dalam bentuk molekul kecil ke dalam aliran darah.

Mengeliminasi makanan yang tidak tercerna dan terabsorbsi dan produk sisa lain dari tubuh.

(Smeltzer, 2002 ; 984)


Susunan saluran pencernaan terdiri dari: oris (mulut), faring (tekak), esofagus
(kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus) terdiri dari duodenum
(usus 12 jari), yeyenum dan ileum, intestinum mayor (usus besar) terdiri dari sekum, kolon
asendens, kolon transversum, kolon desendens dan kolon sigmoid, rektum dan anus. (Syaifuddin,
1997 ; 75).
1.

Mulut

Mulut adalah jalan masuk menuju sistem pencernaan dan berisi organ aksesori yang berfungsi
dalam proses awal pencenaan. Rongga vestibulum terletak diantara gigi dan bibir, dan pipi
sebagai batas luarnya. Rongga oral utama dibatasi gigi dan gusi dibagian depan, palatum lunak
dan keras di bagian atas, lidah dibagian bawah, dan orofaring dibagian belakang.

(Sloane, 2004 ; 282-283)


a.

Bibir

Tersusun dari otot rangka (orbikularis mulut) dan jaringan ikat. Organ ini berfungsi untuk
menerima makanan dan produksi wicara. (Sloane, 2004 ; 283)
b.

Lidah

Lidah dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulun lingua. Lidah berfungsi untuk menggerakkan
makanan saat di kunyah atau ditelan, untuk pengecapan, dan dalam produksi wicara. (Sloane,
2004 ; 283)
c.

Palatum

Palatum terbagi atas 2 bagian, yaitu: palatum durum (palatum keras) yang tersusun atas tajuktajuk palatum dan sebelah depan tulang maksilaris dan lebih ke belakang terdiri dari 2 tulang
palatum dan palatum mole (palatum lunak), terletak di belakang yang merupakan lipatan
menggantung yang dapat bergerak, terdiri atas jaringan fibrosa dan selaput lendir. ( Syaifuddin,
1997 ; 75).
d.

Gigi

Gigi tersusun dalam kantong-kantong (alveoli) pada mandibula dan maksila, setiap lengkung
barisan gigi pada rahang membentuk lengkung gigi. Lengkung bagian atas lebih besar dari
bagian bawah sehingga gigi atas secara normal menutup gigi bawah. Manusia mempunyai dua
susunan gigi yaitu gigi primer dan gigi sekunder. gigi berfungsi dalam proses mastikasi atau
pengunyahan. Makanan yang masuk ke dalam mulut dipotong menjadi bagian-bagian kecil dan

bercampur dengan saliva untuk membentuk bolus makanan yang dapat ditelan. (Sloane, 2004 ;
284)
e.

Kelenjar ludah

Kelenjar saliva mensekresi saliva ke dalam rongga oral. Saliva terdiri dari cairan encer yang
mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus.
Fungsi saliva yaitu melarutkan makanan secara kimia, untuk pengecapan rasa, melembabkan dan
melumasi makanan sehingga dapat ditelan, mengurai zat tepung menjadi polisakarida dan
maltosa, mengeksresi zat buangan seperti asam urat dan urea, serta berbagai zat lain, sebagai zat
anti bakteri dan antibodi. (Sloane, 2004 ; 283)
2. Faring
Faring adalah tabung muscular berukuran 12,5 cm yang merentang dari bagian dasar tulang
tengkorak sampai sampai esofagus. Faring terbagi menjadi nasofaring, orofaring dan
laringofaring. (Sloane, 2004 ; 267)
3. Esofagus
Esofagus adalah tuba muscular, panjangnya sekitar 9-10 inci (25 cm) dan berdiameter 1 inci
( 2,54 cm). Esofagus berawal dari area laringofaring, melewati diafragma dan hiatus esofagus
(lubang) pada area sekitar vertebra torak ke sepuluh dan membuka kearah lambung. Fungsi
esofagus menggerakkan makanan dari faring ke lambung melalui gerak peristalsis. (Sloane, 2004
; 285)
4. Lambung

Lambung adalah organ berbentuk J, terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen dibawah
diafragma. Regia-regia lambung terdiri dari bagian jantung, fundus, badan organ, dan bagian
pilorus. Fungsi lambung yaitu sebagai penyimpanan makanan, produksi kimus, digesti protein,
produksi mukus, produksi faktor intrinsik dan absorbsi. (Sloane, 2004 ; 285)
5. Usus halus
Usus halus adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal, yang jumlah panjang
kira-kira 2/3 dari panjang total saluran.
(Smeltzer, 2002 ; 984)
Keseluruhan usus halus adalah tuba terlilit yang merentang dari sfingter pilorus sampai ke katup
ileosekal, tempatnya menyatu dengan usus besar. (Sloane, 2004 ; 288)
Usus halus dibagi menjadi duodenum, yeyenum dan ileum. Pembagian ini agak tidak tepat dan
didasarkan pada sedikit perubahan struktur dan yang relatif lebih penting berdasarkan fungsi.

a. Duodenum :
Disebut juga usus dua belas jari, panjangnya 25 cm mulai dari pilorus sampai yeyenum.
Berbentuk seperti sepatu kuda melengkung ke kiri, pada lengkungan ini terdapat pankreas,
bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang membukit disebut papila vateri. Pada papila
vateri bermuara saluran empedu dan saluran pankreas. Dinding duodenum mempunyai lapisan
mukosa yang banyak mengandung kelenjar Brunner, berfungsi memproduksi getah intestinum.
Pemisahan duodenum dan yeyenum ditandai oleh Ligamentum Treitz.

b. Yeyenum
Mempunyai panjang 2-3 meter atau 2/5 bagian atas. Yeyenum terletak di regio abdominalis
media sebelah kiri.
c.

Ileum

Mempunyai panjang 4-5 meter atau 3/5 bagian terminal. Ileum cenderung terletak di regio
abdominalis bawah kanan.
Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan
lipatan peritonium dan berbentuk kipas dikenal sebagai mesentrium. (Price, 2006 ; 438)
Fungsi usus halus yaitu :
a.

Mengakhiri proses pencernaan makanan yang dimulai di mulut dan di lambung. Proses ini

diselesaikan oleh enzim usus dan enzim pankreas serta dibantu empedu dan hati.
b.

Usus halus secara selektif mengabsorbsi produk digesti.

(Sloane, 2004 ; 290)


6. Usus besar
Usus besar atau kolon berbentuk tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1,5 m yang
terbentang dari sekum sehingga kanalis ani dengan diameter sekitar 6,5 cm.
Usus besar tidak memiliki vili, tidak memiliki lipatan-lipatan sirkular, dan diameternya lebih
lebar, panjangnya lebih pendek, dan daya regangnya lebih besar dibanding usus halus. (Sloane,
2004 ; 294)

Fungsi usus besar adalah :


a. Mengabsorbsi 80 % - 90 % air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah kimus dari
cairan menjadi massa semi padat.
b. Usus besar hanya memproduksi mukus. Sekresinya tidak mengandung enzim atau hormon
pencernaan.
c. Sejumlah bakteri dalam kolon mampu mencerna sejumlah kecil selulosa dan memproduksi
sedikit kalori nutrient bagi tubuh dalam setiap hari.
d. Usus besar mengekskresi zat sisa dalam bentuk feses.
(Sloane, 2004 ; 295)
Bagian-bagian dari usus besar adalah sebagai berikut :
a. Sekum
Pada sekum terdapat katub ileoseikal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum. Sekum
menempati sekitar 2-3 inci pertama dari usus besar. Katub ileoseikal mengendalikan aliran kimus
dan ileum ke sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar ke dalam
usus halus. (Price, 2006 ; 456)
b. Kolon
Kolon adalah bagian usus besar dari sekum sampai rektum. Kolon memiliki 3 divisi :
1)

Kolon Asenden

Kolon asenden merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hati disebelah kanan dan membalik
secara horizontal pada fleksura hepatika.
2)

Kolon Tranversum

Kolon tranversum merentang menyilang abdomen di bawah hati dan lambung sampai ketepi
lateral ginjal kiri, tempatnya memutar kebawah pada fleksura splenik.
3)

Kolon Desenden.

Merentang kebawah pada sisi kiri abdomen.


(Sloane, 2004 ; 294)
4)

Kolon Sigmoid

Kolon sigmoid mulai setinggi Krista iliaka dan membentuk lekukan berbentuk S. lekukan bagian
bawah membelok ke kiri sewaktu kolon sigmoid bersatu dengan rektum.
(Price, 2006 ; 456)

c. Rektum
Membentang dari kolon sigmoid hingga anus (muara ke bagian luar tubuh). 1 inci terakhir dari
rektum disebut sebagai kanalis ani dan dilindungi oleh otot spingter ani eksternus dan internus.
Panjang rektum dan kanalis ani adalah sekitar 15 cm. (Price, 2006 ; 456)
d. Anus

Adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia luar. Terletak
di dasar pelvis, dindingnya diperkuat oleh dua sfingter :
1)

Sfingter ani interna, dikendalikan oleh saraf otonom

2)

Sfingter ani eksterna, dikendalikan oleh sistem saraf volunter

Defekasi dikendalikan oleh sfingter ani eksterna dan interna. Reflek defekasi terintegrasi pada
medula spinalis segmen sakral kedua dan keempat. Otot sfingter eksterna dan interna berelaksasi
pada waktu anus tertarik keatas melebihi massa feses. Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi
voluntar otot sfingter eksterna dan levator ani. Bila defekasi tidak sempurna, rektum menjadi
relaks dan keinginan defekasi menghilang. Air tetap terus diabsorbsi dari massa feses, sehingga
feses menjadi keras dan menyebabkan lebih sukarnya defekasi. Tekanan pada feses yang
berlebihan menyebabkan timbulnya kongesti vena hemoroidalis interna dan eksterna sehingga
terjadi

B.

hemoroid

(vena

Konsep Dasar Hemoroid

varikosa

rektum).

(Price,

2006

458-459).

1. Defenisi
1. Hemorrhoid are dilated, engorged veins in the lining of the rectum.
Hemoroid adalah pembesaran dan penonjolan vena disekitar rektum. (Potter, 1997 ; 1374).
2. Hemorrhoid are dilated varicose veins of the anus and rectum.
Hemoroid adalah dilatasi pembuluh darah vena varicose pada anus dan rektum. (Reeves, 1999 ;
162).
3. Hemoroid adalah dilatasi pleksus (anyaman pembuluh darah) vena yang mengitari rektal dan
anal. (Tambayong, 2000 ; 142).
4. Hemoroid (Wasir) adalah pembengkakan jaringan yang mengandung pembuluh balik (vena)
dan terletak di dinding rektum dan anus. (www.medicastore.com, 2001).
5. Hemorrhoids are a common problem of the anus and rectum. They occur when the veins
around the anus or lower rectum become swollen and inflamed, often as a result of straining
during a bowel movement.

Hemoroid adalah suatu masalah umum pada anus dan rektum. Yang terjadi bila vena-vena
disekitar anus dan rektum mengalami peradangan yang diakibatkan karena mengedan selama
buang air besar.
(www.hemorrhoids.emedtv.com, 2001)
6. Hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah di bawah selaput lendir anus menjadi semacam
benang khusus sehingga membentuk gumpalan benjolan. (www.kaltimpost.web.id, 2002).
7. Hemoroid adalah perdarahan yang keluar lewat anus berupa darah segar dengan atau tanpa
disertai lendir tidak termasuk perdarahan yang berasal dari bagian-bagian lambung dan usus
halus.
(www.ultinetindonesia.com, 2005)
8. Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen / lebih pembuluh darah vena hemoroidales
(bacon) pada poros usus dan anus yang disebabkan karena otot & pembuluh darah sekitar anus /
dubur kurang elastis sehingga cairan darah terhambat dan membesar. (www.fkuii.org, 2006).
9. Hemoroid adalah suatu penyakit pelebaran pembuluh darah balik (vena) yang terdapat di
daerah saluran cerna bagian bawah yang berbatasan dengan dubur/anus. (www.balipost.com,
2003).

2.

Etiologi

Hemoroid dapat terjadi karena dilatasi (pelebaran), inflamasi (peradangan) atau pembengkakan
vena hemoroidalis yang disebabkan:

Konstipasi kronik: sulit buang air besar, sehingga harus mengejan.

Kehamilan: karena penekanan janin pada perut.

Diare kronik.

Usia lanjut.

Duduk terlalu lama

Hubungan seks peranal.

Pada beberapa individu terjadi hipertrofi sfingter ani (pembengkakan otot/ klep dubur),

obstruksi (sumbatan) fungsional akibat spasme (kejang), dan penyempitan kanal anorektal
(saluran dubur-ujung akhir usus besar)
(www.suaramerdeka.com, 2005)
3.

Patofisiologi

Mengedan selama buang air besar dapat meningkatkan tekanan intra abdominal dan vena
hemoroidal, menimbulkan distensi pada vena hemoroidal. Bila ujung rektum penuh oleh kotoran
obstruksi vena mungkin bisa terjadi. Sebagai salah satu akibat dari pengulangan dan
perpanjangan meningkatkan tekanan dan obstruksi, sehingga dilatasi permanen pada vena
hemoroidal dapat terjadi. Distensi juga dapat mengakibatkan terjadinya trombosis dan
perdarahan. (Lukmans, 1997 ; 1085)
Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan oleh gangguan aliran darah balik dari
vena hemoroidalis. (Price, 2006 ; 467)

Hemoroid dapat menimbulkan nyeri hebat akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh
trombosis. Trombosis adalah pembekuan darah dalam hemoroid. (Smeltzer, 2002 ; 1138)

4.

Klasifikasi

a.

Berdasarkan asal / tempat penyebabnya:

1)

Hemoroid interna

Hemoroid ini berasal dari vena hemoroidales superior dan medial, terletak diatas garis anorektal
dan ditutupi oleh mukosa anus. hemoroid ini tetap berada di dalam anus.
2)

Hemoroid eksterna

Hemoroid ini dikarenakan adanya dilatasi (pelebaran pembuluh darah) vena hemoroidales
inferior, terletak dibawah garis anorektal dan ditutupi oleh mukosa usus. hemoroid ini keluar dari
anus (wasir luar)

b.
1)

Hemoroid interna diklasifikasikan lagi berdasarkan perkembangannya :


Tingkat 1 : biasanya asimtomatik dan tidak dapat dilihat, jarang terjadi perdarahan,

benjolan dapat masuk kembali dengan spontan.

2)

Tingkat 2 : gejala perdarahannya berwarna merah segar pada saat defekasi (buang air

besar) benjolan dapat dilihat disekitar pinggir anus dan dapat kembali dengan spontan.
3)

Tingkat 3 : prolapsus hemoroid, terjadi setelah defekasi dan jarang terjadi perdarahan,

prolapsus dapat kembali dengan dibantu.


4)

Tingkat 4 : terjadi prolaps dan sulit kembali dengan spontan.

(www.fkuii.org, 2006)
5.

Tanda dan Gejala

Terjadi benjolan-benjolan disekitar dubur setiap kali buang air besar.

Rasa sakit atau nyeri.

Rasa sakit yang timbul karena prolaps hemoroid (benjolan tidak dapat kembali) dari anus
terjepit karena adanya trombus.
-

Perih.

Perdarahan segar disekitar anus.

Perdarahan terjadi dikarenakan adanya ruptur varises.


-

Perasaan tidak nyaman (duduk terlalu lama dan berjalan tidak kuat lama)

Keluar lendir yang menyebabkan perasaan isi rektum belum keluar semua.

(www.fkuii.org, 2006)
Gejala-gejala yang lain termasuk :

Rasa gatal pada rektal.

Konstipasi.

Nyeri.

Perdarahan berwarna merah terang.

Prolaps dapat terjadi pada kasus berat.

(Black, 1997 ; 1826)


6.

Komplikasi

Komplikasi hemoroid yang paling sering adalah :


a.

Perdarahan.

b.

Trombosis.

Trombosis adalah pembekuan darah dalam hemoroid.


c.

Hemoroidal strangulasi.

Hemoroidal strangulasi adalah hemoroid yang prolaps dengan suplai darah dihalangi oleh
sfingter ani.
(Lukmans, 1997 ; 1085)
7.

Pemeriksaan Diagnostik

Pemeriksaan yang dilakukan antara lain :


a.

Pemeriksaan colok dubur

b.

Anorektoskopi (untuk melihat kelainan anus dan rektum)

(www.suaramerdeka.com, 2005)
c.

Pemeriksaan rectal dan palpasi digital.

d.

Proctoscopi atau colonoscopy (untuk menunjukkan hemoroid internal)

(Reeves, 1999 ; 162)


8.

Penatalaksanaan

a.

Medis

1)

Farmakologis

Menggunakan obat untuk melunakkan feses / psillium akan mengurangi sembelit dan

terlalu mengedan saat defekasi, dengan demikian resiko terkena hemoroid berkurang.
-

Menggunakan obat untuk mengurangi/menghilangkan keluhan rasa sakit, gatal, dan

kerusakan pada daerah anus. Obat ini tersedia dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk supositoria
untuk hemoroid interna, dan dalam bentuk krim / salep untuk hemoroid eksterna.
-

Obat untuk menghentikan perdarahan, banyak digunakan adalah campuran diosmin (90%)

dan hesperidin (10%)


2)
-

Nonfarmakologis
Perbaiki pola hidup (makanan dan minum): perbanyak konsumsi makanan yang

mengandung serat (buah dan sayuran) kurang lebih 30 gram/hari, serat selulosa yang tidak dapat
diserap selama proses pencernaan makanan dapat merangsang gerak usus agar lebih lancar,

selain itu serat selulosa dapat menyimpan air sehingga dapat melunakkan feses. Mengurangi
makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam. Menghindari makanan yang sulit dicerna oleh
usus. Tidak mengkonsumsi alkohol, kopi, dan minuman bersoda. Perbanyak minum air putih 3040 cc/kg BB/hari.
-

Perbaiki pola buang air besar : mengganti closet jongkok menjadi closet duduk. Jika

terlalu banyak jongkok otot panggul dapat tertekan kebawah sehingga dapat menghimpit
pembuluh darah.
-

Penderita hemoroid dianjurkan untuk menjaga kebersihan lokal daerah anus dengan cara

merendam anus dalam air selama 10-15 menit tiga kali sehari. Selain itu penderita disarankan
untuk tidak terlalu banyak duduk atau tidur, lebih baik banyak berjalan.
3)

Tindakan minimal invasif

Dilakukan jika pengobatan farmakologi dan non farmakologi tidak berhasil, tindakan yang dapat
dilakukan diantaranya adalah :
-

Skleroskopi hemoroid, dilakukan dengan cara menyuntikkan obat langsung kepada

benjolan / prolaps hemoroidnya.


-

Ligasi pita karet, dilakukan dengan cara mengikat hemoroid. Prolaps akan menjadi layu

dan putus tanpa rasa sakit.


-

Penyinaran sinar laser.

Disinari sinar infra red.

Dialiri arus listrik (elektrokoagulasi)

Hemoroideolysis

(www.fkuii.org, 2006)
b.

Pembedahan

Terapi bedah dilakukan pada hemoroid derajat III dan IV dengan penyulit prolaps, trombosis,
atau hemoroid yang besar dengan perdarahan berulang. Pilihan pembedahan adalah
hemoroidektomi secara terbuka, secara tertutup, atau secara submukosa. Bila terjadi komplikasi
perdarahan, dapat diberikan obat hemostatik seperti asam traneksamat yang terbukti secara
bermakna

efektif

menghentikan

perdarahan

dan

mencegah

perdarahan

ulang.

(www.suaramerdeka.com, 2005)
Terapi medikal hanya digunakan untuk kasus ringan, hemoroid tanpa komplikasi dengan
manifestasi ringan. Pengobatan meliputi :
1)

Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan hygiene personal yang

baik.
2)

Menghindari mengejan yang berlebihan selama defekasi.

3)

Diit tinggi serat.

4)

Pemberian laksatif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati anus.

5)

Rendam duduk dengan salep dan supositoria yang mengandung anastesi.

6)

Tirah baring.

7)

Tindakan non operatif seperti : fotokoagulasi infra merah, diatermi bipolar dan terapi laser.

8)

Injeksi larutan sklerosan untuk hemoroid berukuran kecil dan berdarah.

9)

Tindakan bedah konservasif hemoroid internal adalah prosedur ligasi pita-karet.

10)

Hemoroidektomi kriosirurgi adalah metode untuk mengangkat hemoroid dengan cara

membekukan jaringan hemoroid selama waktu tertentu sampai timbul nekrosis.


11) Laser Nd:YAG digunakan terutama pada hemoroid eksternal.
(Smeltzer, 2002 ; 1138)
C.

Konsep Dasar Asuhan Keperawatan Hemoroid


Proses keperawatan adalah metode dimana suatu konsep diterapkan dalam praktik

keperawatan. Hal ini biasa disebut sebagai suatu pendekatan problem solving yang memerlukan
ilmu, tehnik dan keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk memenuhi kebutuhan klien/
keluarga. Dimana proses keperawatan terdiri dari lima tahap yang sequensial dan berhubungan:
pengkajian, diagnosis, perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi.(Nursalam, 2001 ; 1)
Proses keperawatan adalah metode sistemik dimana secara langsung perawat bersama
klien secara bersama menentukan masalah keperawatan sehingga membutuhkan asuhan
keperawatan, membuat perencanaan dan rencana implementasi, serta mengevaluasi hasil asuhan
keperawatan. (Gaffar, 1999 ; 54)
Proses keperawatan adalah satu pendekatan untuk pemecahan masalah yang memungkinkan
seorang perawat untuk mengorganisir dan memberikan asuhan keperawatan. Proses keperawatan
merupakan suatu elemen dari pemikiran kritis yang memperbolehkan perawat untuk membuat
keputusan dan mengambil tindakan yang didasarkan atas pertimbangan. Suatu proses adalah satu
rangkaian dari langkah-langkah atau komponen-komponen petunjuk/ penentu untuk mencapai

tujuan. Tiga karakteristik dari suatu proses adalah Purpose, Organization dan Creativity
( Bevis,1978). Purpose adalah tujuan atau maksud yang spesifik dari proses. Proses
keperawatan digunakan untuk mendiagnosa dan merawat respon manusia pada kondisi sehat dan
sakit. (American Nurses Association,1980). Organization adalah tahapan atau langkah-langkah
atau komponen-komponen yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Proses keperawatan
mengandung 5 langkah : Pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, dan
evaluasi. Creativity adalah pengembangan lanjut dari proses itu. Proses keperawatan dinamis
dan berlanjut terus menerus. (Potter, 1997 ; 103 )
Asuhan Keperawatan adalah faktor penting dalam survival pasien dan dalam aspek-aspek
pemeliharaan, rehabilitatif dan preventif perawatan kesehatan. Untuk sampai pada hal ini, profesi
keperawatan telah mengidentifikasikan proses pemecahan masalah yang menggabungkan elemen
yang paling diinginkan dari seni keperawatan dengan elemen yang paling relevan dari sistem
teori, dengan menggunakan metode ilmiah.
(Doengoes, 2000 ; 6, dikutip dari Shore,1998)
Dalam melakukan asuhan keperawatan terdapat beberapa langkah yang harus ditempuh. Adapun
langkah tersebut adalah sebagai berikut :

1.

Pengkajian

Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu proses yang
sistematis dalam pengumpulan data dari berbagai sumber data untuk mengevaluasi dan
mengidentifikasi status kesehatan klien. (Nursalam, 2001 ; 17)

Merupakan dasar utama atau langkah awal dari proses keperawatan secara keseluruhan. Pada
tahap ini semua data/informasi tentang klien yang dibutuhkan dikumpulkan dan dianalisa untuk
menentukan diagnosa keperawatan. (Gaffar, 1999 ; 57)
Dalam tahap pengkajian dilakukan pengumpulan data dengan cara komunikasi yang efektif,
observasi dan pemeriksaan fisik. Data yang dikumpulkan terdiri dari data dasar dan data fokus.
Pengkajian keperawatan data dasar yang komprehensif adalah kumpulan data yang berisikan
mengenai status kesehatan klien, kemampuan klien untuk mengelola kesehatan dan
keperawatannya terhadap dirinya sendiri dan hasil konsultasi dari medis (terapi) atau profesi
kesehatan lainnya. Sedangkan data fokus adalah data tentang perubahan-perubahan atau respon
klien terhadap kesehatan dan masalah kesehatannya serta hal-hal yang mencakup tindakan yang
dilakukan kepada klien. (Nursalam, 2001 ; 17)
Pengkajian yang dapat dilakukan pada klien dengan Hemoroid meliputi :
a.

Riwayat kesehatan diambil untuk menentukan adanya gatal, rasa terbakar dan nyeri

berserta karakteristiknya
1)

Apakah ini terjadi selama defekasi ?

2)

Berapa lama ini berakhir ?

3)

Adakah nyeri abdomen dihubungkan dengan hal itu ?

4)

Apakah terdapat perdarahan dari rektum ?

5)

Seberapa banyak ?

6)

Seberapa sering ?

7)

Apakah warnanya ?

8)

Adakah rabas lain seperti mukus atau pus ?

b.

Pertanyaan lain berhubungan dengan pola eliminasi dan penggunaan laksatif

1)

Riwayat diet, termasuk masukan serat

2)

Jumlah latihan

3)

Tingkat aktivitas

4)

Pekerjaan (khususnya bila mengharuskan duduk atau berdiri lama)

(Smeltzer, 2002 ; 179)


c. Pemeriksaan fisik pada klien dengan hemoroid adalah sebagai berikut:
a.

Kaji tingkat kesadaran (kacau mental, letargi, tidak merespon).

b.

Ukur tanda-tanda vital (TD meningkat/ menurun, takikardi).

c.

Auskultasi bunyi nafas.

d.

Kaji kulit (pucat, bengkak, dingin).

e.

Kaji terhadap nyeri atau mual.

f.

Abdomen : Nyeri tekan pada abdomen, bisa terjadi konstipasi.

g.

Anus : Pembesaran pembuluh darah balik (vena) pada anus, terdapat benjolan pada anus,

nyeri pada anus, perdarahan.


(Engram, 1999 ; 789)

2.

Diagnosa Keperawatan

Diagnosa keperawatan adalah keputusan klinik tentang respon individu, keluarga dan masyarakat
tentang masalah kesehatan aktual atau potensial, sebagai dasar seleksi intervensi keperawatan
untuk mencapai tujuan asuhan keperawatan sesuai dengan kewenangan perawat. (Nursalam,
2001 ; 35, dikutip dari NANDA)
Diagnosa keperawatan adalah pernyataan yang menjelaskan status/ masalah kesehatan aktual
atau potensial. Tujuannya adalah mengidentifikasi adanya masalah aktual berdasarkan respon
klien terhadap masalah atau penyakit, faktor-faktor yang berkontribusi atau penyebab adanya
masalah, kemampuan klien mencegah atau menghilangkan masalah. (Gaffar,1999 ; 61)
Tujuan diagnosa keperawatan adalah untuk mengidentifikasi :
a.

Masalah dimana adanya respon klien terhadap status kesehatan atau penyakit.

b.

Faktor-faktor yang menunjang atau menyebabkan suatu masalah (etiologi)

c.

Kemampuan klien untuk mencegah atau menyelesaikan masalah.

(Nursalam, 2001 ; 36)

Langkah-langkah dalam diagnosa keperawatan dapat dibedakan menjadi :


a.

Klasifikasi dan analisa data.

b.

Interpretasi data.

c.

Validasi data.

d.

Perumusan diagnosa keperawatan.

(Nursalam, 2001 ; 36)


Diagnosa keperawatan dapat dibedakan menjadi 5 kategori : aktual, resiko, kemungkinan,
wellnes, syndrom. (Nursalam, 2001 ; 43)
Diagnosa keperawatan yang mungkin timbul pada pasien dengan hemoroid adalah :
a.

Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal atau anal

sekunder akibat penyakit anorektal.


b.

Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri

selama eliminasi
c.

Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu.

d.

Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.

(Smeltzer, 2002 ; 179)

3.

Perencanaan Keperawatan (INTERVENSI)

Setelah merumuskan diagnosa keperawatan langkah berikutnya adalah menentukan perencanaan


keperawatan. Perencanaan meliputi pengembangan strategi desain untuk mencegah, mengurangi
dan mengoreksi masalah-masalah yang di identifikasi pada diangosa keperawatan. Tahap ini
dimulai setelah menentukan diagnosa keperawatan dan menyimpulkan rencana dokumentasi.

Tahapan dalam perencanaan ini meliputi : menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil,
menentukan rencana tindakan dan pendokumentasian. (Nursalam, 2001 ; 51)
Tujuan perencanaan adalah mengurangi, menghilangkan dan mencegah masalah keperawatan
klien. Tahap perencanaan keperawatan adalah penentuan prioritas diagnosa keperawatan,
penetapan sasaran (goal) dan tujuan (objective), penetapan kriteria evaluasi dan merumuskan
intervensi keperawatan. (Gaffar, 1997 ; 63)
Ada beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam langkah-langkah penyusunan
perencanaan yaitu : menentukan prioritas, menentukan kriteria hasil, menentukan rencana
tindakan dan dokumentasi. Untuk menentukan prioritas ada dua hirarki yang dapat digunakan,
yaitu :
a.

Hirarki Maslow (1943), membagi kebutuhan dalam lima tahap yaitu : kebutuhan

fisiologis, rasa aman dan nyaman, sosial, harga diri dan aktualisasi diri
1)

Kebutuhan fisiologis (Physiological Need) yang merupakan kebutuhan pokok utama.

Misalnya : udara segar (O2), air (H2O), cairan elektrolit, makanan dan sex, bila kebutuhan ini
tidak terpenuhi akan terjadi ketidakseimbangan fisiologis misalnya :

a)

Kekurangan oksigen menyebabkan sesak.

b)

Kekurangan cairan/ air menyebabkan dehidrasi.

2)

Kebutuhan akan rasa aman (Safety Need)

Misalnya : rasa aman terhindar dari penyakit, gangguan pencurian, perlindungan hukum.

3)

Kebutuhan dicintai dan mencintai (Love Need)

Misalnya : mendambakan kasih sayang ingin dicintai/ diterima oleh kelompok.


4)

Kebutuhan harga diri (Esteem Need)

Misalnya : ingin dihargai/ menghargai ; adanya respek dari orang lain. Toleransi dalam hidup
berdampingan.
5)

Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization Need)

Misalnya : ingin diakui/ dipuja, ingin berhasil, ingin menonjol/ lebih dari orang lain.
b.

Hirarki Kalish, menjelaskan kebutuhan Maslow lebih mendalami dengan membagi

kebutuhan fisiologis menjadi kebutuhan untuk bertahan hidup dan stimulasi. (Nursalam,
2001 ; 52)
Adapun perencanaan/ intervensi dari diagnosa yang timbul pada pasien hemoroid adalah:
a.

Nyeri berhubungan dengan iritasi, tekanan, dan sensitifitas pada area rektal atau anal

sekunder akibat penyakit anorektal.


Tujuan

: Nyeri berkurang atau hilang

Kriteria hasil

: Melaporkan nyeri hilang

Mengungkapkan metode yang memberikan penghilangan


Mendemonstrasikan penggunaan intervensi terapeutik (misal keterampilan relaksasi) untuk
menghilangkan nyeri.
Rencana tindakan :

Mandiri
1)

Kaji karakteristik, intensitas dan lokasi nyeri.

Rasional

: Membantu menentukan intervensi dan memberikan dasar untuk perbandingan dan

evaluasi terhadap terapi.


2)

Pantau tanda-tanda vital.

Rasional : Perubahan frekuensi jantung menunjukkan bahwa pasien mengalami nyeri.


Rasional

Meningkatkan relaksasi dan mungkin meningkatkan koping pasien dengan

memfokuskan kembali perhatian.


3)

Kaji hal-hal yang dapat meningkatkan rasa nyeri.

Rasional : Digunakan sebagai dasar dari tindakan selanjutnya.


4)

Hindarkan hal-hal yang dapat menimbulkan nyeri

Rasional : Menghindarkan stimulasi yang dapat mengakibatkan peningkatan rasa nyeri, seperti
mengurangi frekuensi dan durasi kontak dengan bagian yang dirasa nyeri
5)

Ajarkan tehnik distraksi dan relaksasi

Rasional : Relaksasi digunakan untuk mengurangi stimulus nyeri, dan mengalihkan perhatian
terhadap nyeri.
6)

Dorong klien untuk ambulasi dini.

Rasional

kelancaran flatus

Meningkatkan normalisasi fungsi organ, contoh merangsang peristaltik dan

Kolaborasi
7)

Berikan analgesik sesuai indikasi.

Rasional : Meningkatkan kenyamanan dan untuk menghilangkan nyeri sedang sampai berat.
b.

Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri

selama eliminasi
Tujuan

: Eliminasi kembali normal.

Kriteria hasil

: Membuat kembali pola yang normal dari fungsi usus.

Pasien dapat mengeluarkan feses lunak/ konsistensi agak berbentuk tanpa mengejan
Menciptakan kembali kepuasan pola eliminasi usus
Rencana tindakan :
Mandiri
1)

Catat adanya distensi abdomen dan auskultasi peristaltik usus.

Rasional

: Distensi dan hilangnya peristaltik usus merupakan tanda bahwa fungsi defekasi

hilang yang kemungkinan berhubungan dengan kehilangan persarafan parasimpatik usus besar
dengan tiba-tiba
2)

Anjurkan latihan defekasi secara teratur

Rasional

: Program untuk seumur hidup ini perlu untuk secara rutin mengeluarkan feses dan

biasanya termasuk stimulasi manual, minum jus dan/ atau cairan hangat dan menggunakan

pelunak feses atau supositoria pada interval tertentu. Kemampuan mengontrol pengeluaran feses
penting untuk kemandirian fisik pasien dan penerimaan sosial.
3)

Anjurkan pasien untuk minum paling sedikit 2000 ml/ hari

Rasional : Dapat melembekkan feses memfasilitasi eliminasi.


4)

Anjurkan pasien untuk makan-makanan yang sehat dan yang termasuk makanan yang

berserat.
Rasional : Meningkatkan konsistensi feses untuk melewati usus dengan mudah.
5)

Anjurkan untuk melakukan pergerakan atau ambulasi sesuai kemampuan.

Rasional : Menstimulasi peristaltik yang memfasilitasi terbentuknya flatus.


6)

Periksa kembali adanya defekasi, karena feses yang keras atau karena penurunan/ sampai

tidak adanya feses atau diare.


Rasional

: Pengeluaran feses secara manual dengan hati-hati mungkin perlu, yang dilakukan

bersamaan dengan intervensi lain untuk menstimulasi pengeluaran feses.


Kolaborasi
7)

Tingkatkan diit makanan berserat.

Rasional : Membantu dalam mengatur konsistensi fekal dan menurunkan konstipasi.


8)

Beri obat pelembek feses, supositoria, laksatif atau enema jika diperlukan.

Rasional

Mencegah konstipasi, menurunkan distensi abdomen dan membantu dalam

keteraturan fungsi defekasi.

c.

Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan dan rasa malu

Tujuan

: Pasien dapat menerima secara nyata kondisi penyakit dengan positif.

Kriteria hasil

: Menunjukkan rileks dan melaporkan penurunan ansietas sampai tingkat

ditangani.
Mengatakan perasaan dan cara yang sehat untuk menghadapi masalah
Menunjukkan keterampilan pemecahan masalah dan penggunaan sumber secara efektif
Rencana tindakan :
Mandiri
1)

Evaluasi tingkat ansietas, catat respon verbal dan non verbal pasien. Dorong ekspresi bebas

akan emosi.
Rasional

: Ketakutan dapat terjadi karena nyeri hebat, meningkatkan perasaan sakit, penting

dalam prosedur diagnostik dan kemungkinan pembedahan.


2)

Jelaskan prosedur atau asuhan yang diberikan. Ulangi penjelasan dengan sering atas sesuai

kebutuhan.
Rasional

: Rasa takut akan ketidaktahuan diperkecil dengan informasi atau pengetahuan dan

dapat meningkatkan penerimaan dialisis.


3)

Dorong menyatakan perasaan. Berikan umpan balik.

Rasional

Membuat hubungan terapeutik. Membantu pasien/ orang terdekat dalam

mengidentifikasi masalah yang menyebabkan stress.

4)

Tunjukkan indikator positif pengobatan, contoh perbaikan nilai laboratorium, TD stabil,

berkurangnya kelelahan.
Rasional : Meningkatkan perasaan berhasil atau maju
5)

Berikan lingkungan yang tenang pada pasien..

Rasional

: Memindahkan pasien stress dari luar, meningkatkan relaksasi, membantu

menurunkan ansietas.
6)

Bantu pasien belajar mekanisme koping baru, misal : tehnik mengatasi stress, keterampilan

organisasi.
Rasional

: Belajar cara baru untuk mengatasi masalah dapat membantu dalam menurunkan

stress dan ansietas, meningkatkan kontrol penyakit.


d.

Resiko terhadap infeksi berhubungan dengan pertahanan primer tidak adekuat.

Tujuan

: Infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil

: Menyatakan pemahaman penyebab atau faktor resiko

Meningkatkan waktu penyembuhan, bebas tanda infeksi


Tidak demam
Berpartisipasi pada aktifitas untuk menurunkan resiko infeksi.
Rencana tindakan :
Mandiri

1)

Kaji tanda-tanda infeksi.

Rasional : Mengetahui tanda-tanda infeksi sedini mungkin, sehingga dapat dilakukan tindakan
keperawatan selanjutnya.
2)

Pertahankan teknik aseptik pada perawatan hemoroid.

Rasional : Menurunkan resiko infeksi


3)

Kaji tanda-tanda vital dengan sering, catat tidak membaiknya atau berlanjutnya hipotensi,

penurunan tekanan darah, takikardia, demam, takipnea


Rasional

Tanda adanya syok septik, menyebabkan vasodilatasi, kehilangan cairan dari

sirkulasi dan rendahnya status curah jantung.


4)

Anjurkan klien dan keluarga untuk menjaga kebersihan daerah anus.

Rasional : Meminimalkan resiko terjadinya infeksi.

Kolaborasi
5)

Berikan antibiotik sesuai indikasi

Rasional : Untuk mencegah dan menangani infeksi


4.

Pelaksanaan (IMPLEMENTASI)

Pelaksanaan tindakan keperawatan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan
yang spesifik. Tahap pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan pada
nursing orders untuk membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan.

Pelaksanaan adalah inisiatif dari rencana tindakan untuk mencapai tujuan yang spesifik. Tahap
pelaksanaan perawatan merupakan tindakan pemberian asuhan keperawatan yang dilakukan
secara nyata untuk membantu klien mencapai tujuan pada rencana tindakan yang telah dibuat.
(Nursalam, 2001 ; 63, dikutip dari Lyer, et.al, 1996)
Hal-hal yang harus diperhatikan ketika melakukan implementasi adalah intervensi dilaksanakan
sesuai dengan rencana setelah dilakukan validasi, penguasaan keterampilan inter personal,
intelektual dan teknikal, intervensi harus dilakukan dengan cermat dan efisien pada situasi yang
tepat, keamanan fisik dan psikologi dilindungi dan dokumentasi keperawatan berupa pencatatan
dan pelaporan. (Gaffar, 1999 ; 65)
Tujuan dari pelaksanaan adalah membantu klien dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan,
yang mencakup peningkatan kesehatan, pencegahan penyakit, pemulihan kesehatan dan
memfasilitasi koping. (Nursalam, 2001 ; 63)
Dalam pelaksanaan tindakan ada tiga tahapan yang harus dilalui yaitu persiapan, perencanaan
dan dokumentasi.
a.

Fase persiapan, meliputi:

1)

Review tindakan keperawatan

2)

Menganalisa pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan

3)

Mengetahui komplikasi yang mungkin timbul

4)

Menentukan dan mempersiapkan peralatan yang diperlukan

5)

Persiapan lingkungan yang kondusif

6)

Mengidentifikasi aspek hukum dan etik

b.
1)

Fase intervensi:
Independen: Tindakan yang dilakukan oleh perawat tanpa petunjuk atau perintah dokter

atau tim kesehatan lain.


2)

Interdependen: Tindakan perawat yang melakukan kerjasama dengan tim kesehatan lain

(gizi, dokter, laboratorium dll).


3)

Dependen: Berhubungan dengan tindakan medis atau menandakan dimana tindakan medis

dilaksanakan.
c.

Fase dokumentasi

Merupakan suatu pencatatan lengkap dan akurat dari tindakan yang telah dilaksanakan yang
terdiri dari tiga tipe yaitu:
1)

Sources Oriented Records (SOR)

2)

Problem Oriented Records (POR)

3)

Computer Assisted Records (CAR)

(Nursalam, 2001; 53, dikutip dari Griffith, 1986)


5.

Evaluasi

Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan yang menandakan
seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan dan pelaksanaannya sudah berhasil

dicapai. Melalui evaluasi memungkinkan perawat untuk memonitor kealpaan yang terjadi
selama tahap pengkajian, analisa, perencanaan, dan pelaksanaan tindakan. (Nursalam, 2001 ; 71,
dikutip dari Ignatavicius & Bayne, 1994)
Evaluasi sebagai sesuatu yang direncanakan dan perbandingan yang sistematik pada status
kesehatan klien. (Nursalam, 2001 ; 71, dikutip dari Griffith dan Christensen, 1986)
Tujuan evaluasi adalah untuk melihat kemampuan klien mencapai tujuan. Hal ini bisa
dilaksanakan dengan melaksanakan hubungan dengan klien berdasarkan respon klien terhadap
tindakan keperawatan yang diberikan, sehingga perawat dapat mengambil keputusan :
a.

Mengakhiri rencana tindakan keperawatan (klien telah mencapai tujuan yang ditetapkan).

b.

Memodifikasi rencana tindakan keperawatan (klien mengalami kesulitan untuk mencapai

tujuan).
c.

Meneruskan rencana tindakan keperawatan (klien memerlukan waktu yang lebih lama

untuk mencapai tujuan).


(Nursalam, 2001 ; 71, dikutip dari Iyer et. al, 1996)
Ada 2 komponen untuk mengevaluasi kualitas tindakan keperawatan yaitu :
a.

Proses (Formatif)

Adalah evaluasi yang dilaksanakan segera setelah perencanaan keperawatan dilaksanakan untuk
membantu keefektifan terhadap tindakan.
b.

Hasil (Sumatif)

Adalah evaluasi yang dapat dilihat pada perubahan perilaku atau status kesehatan klien pada
akhir tindakan perawatan klien.
(Nursalam, 2001 ; 74, dikutip dari Iyer et. al, 1996)
Komponen evaluasi dapat dibagi menjadi 5 yaitu:
a.

Menentukan kriteria, standar dan pertanyaan evaluasi.

b.

Mengumpulkan data mengenai keadaan klien terbaru.

c.

Menganalisa dan membandingkan data terhadap kriteria dan standar.

d.

Merangkum hasil dan membuat kesimpulan.

e.

Melaksanakan tindakan yang sesuai berdasarkan kesimpulan.

( Nursalam, 2001 ; 74, dikutip dari Pinnell & Meneses, 1986 )

Adapun kriteria yang diharapkan pada evaluasi dari penyakit hemoroid adalah:
a.

Nyeri berkurang atau hilang.

b.

Eliminasi kembali normal.

c.

Pasien dapat menerima secara nyata kondisi dengan positif.

d.

Infeksi tidak terjadi.

BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Hemoroid adalah pembesaran bantalan vaskular dari anal kanal. Hemoroid terdiri dari dua
jenis yaitu hemoroid interna yang terletak di atas linea dentata dan hemoroid eksterna yang
terletak di bawah linea dentata. Diagnosis ditegakkan dengan anamnesa, inspeksi, colok dubur
dan penilaian anoskop. Bila perlu dilakukan pemeriksaan proktosigmoidoskopi untuk

menyingkirkan kemungkinan radang dan keganasan. Manifestasi klinis hemoroid yaitu


perdarahan lewat anus berwarna merah segar dan tidak tercampur dengan feses. Penatalaksanaan
hemoroid yaitu dengan konservatif, membuat nekrosis jaringan, dan terapi operatif. Prognosis
hemoroid baik bila diberikan terapi yang sesuai.
B. SARAN
Hemoroid sudah dikenal selama berabad-abad dan diduga masih termasuk salah satu
penyakit yang umum ditemukan di mana-mana. Di Amerika Serikat, hemoroid ditemukan
dengan jumlah kasus meliputi 4,4% dari seluruh penduduk.1,2,3 Namun sayangnya frekuensi
pasti dari hemoroid sulit diketahui. Seseorang yang menderita hemoroid cenderung malu
mengutarakan penyakitnya dan takut membayangkan tindakan yang mungkin akan dilakukan
dokter, maka dengan adanya makalah ini di harapkan dapat memberikan penanganan pasien
hemoroid sesuai standar prosedur pelayanan kesehatan yang profesional.

DAFTAR PUSTAKA

1. Dr. M.T. Dardjat, 1987. Kumpulan Kuliah ilmu Bedah Khusus. Penerbit Aksara Medisina,
Salemba Jakarta.
2. Syvia Anderson Price, 1991. Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penerbit buku
Kedokteran EGC, Jakarta.

3. Susan Martin Tucker, 1998. Standar Perawatan Pasien, Edisi V Vol 2. Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
4. Dr. Sumitro Arkanda, 1987. Ringkasan Ilmu Bedah, Penerbit Bina Aksara.
5. Purnawan Junadi, 1982. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Kedua, Penerbit Media Aesculavius,
Jakarta.
6. Doenges Moorhouse Geissle, 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Ed. 3 Penerbit Buku
Kedokteran EGC, Jakarta.
7. www.scribd.com/doc/24475703/REFERAT-Hemoroid
8. www.scribd.com/doc/38397839/Hemoroid