Anda di halaman 1dari 47

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
DHF ( Dengue Haemorragic Fever ) merupakan penyakit yang menyerang
sistem hematologi manusia yang disebabkan oleh virus yang ditularkan melalui gigitan
nyamuk Aedes Aegepti. DHF merupakan kasus yang kerap kali ditemukan di rumah
sakit, khususnya di RS Santo Borromeus.
DHF merupakan suatu penyakit yang cukup kompleks, apabila tidak ditangani
segera akan mengakibatkan terjadinya komplikasi ke organ tubuh lain, hingga dapat
menyebabkan kematian.
Oleh karena itu, kami mengambil kasus DHF ini agar kami dapat mengetahui,
memahami, dan mampu mengaplikasikan asuhan keperawatan kepada klien dengan
gangguan DHF, sehingga resiko komplikasi maupun kematian dapat dihindari melalui
askep yang kami berikan kepada klien dengan gangguan DHF.

1.2

Tujuan
a

Tujuan umum
Diharapkan Mahasiswa/i tingkat II Program Studi D III Keperawatan, dapat
memahami Asuhan Keperawatan Pada Klien Dengan Gangguan Hematologi :

o
o
o

o
1.3

Suspect DHF.
Tujuan khusus
Diharapkan Mahasiswa/i tingkat II Program Studi D III Keperawatan, dapat
mengerti dan memahami :
Anatomi dan Fisiologi Sistem Hematologi
Pengertian DHF
Konsep Penyakit DHF :
Etiologi DHF
Patofisiologi DHF
Patoflow DHF
Manifestasi Klinis DHF
Klasifikasi DHF
Komplikasi DHF
Tes diagnostik
Penatalaksanaan pada Pasien DHF
Asuhan keperawatan pada pasien Ny. T
Konsep Proses Keperawatan pada Pasien DHF

Metode Penulisan

Dalam pembuatan makalah ini penulis menggunakan metode deskriptif yaitu


dengan mengumpulkan data-data yang diambil dari sumber buku perpustakaan dan
internet, studi kasus, diskusi kelompok, serta konsultasi dengan dosen pembimbing.

1.4

Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari Bab I Pendahuluan yang berisi latar belakang, tujuan,
metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II Tinjauan teoritis yang berisi
Anatomi dan Fisiologi Sistem Hematologi, Konsep Penyakit DHF, dan Konsep Proses
Keperawatan. Bab III Tinjauan Kasus Asuhan Keperawatan Pada Ny. T dengan
Gangguan Sistem Hematologi : Suspect DHF di Ruang Yosef 3 Dago Kamar 1323 Bed
3 Rumah Sakit Santo Borromeus Bandung.Bab IV Penutup yang berisi kesimpulan
dan saran.

BAB II

TINJAUAN TEORITIS
A. Anatomi dan Fisiologi Hematologi
Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limfa. Darah merupakan medium transport tubuh, volume darah
manusia sekitar 7%-10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter.
2

Darah terdiri atas 2 komponen utama, yaitu sebagai berikut :

Plasma darah
bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit, dan protein darah.
Butir-butir darah ( blood corpuscles), yang terdiri atas komponen sebagai
berikut:
a. Eritrosit (sel darah merah)
b. Leukosit (sel darah putih)
c. Trombosit (platelet) butir pembeku darah.

Sel darah merah (eritrosit)


merupakan

cairan

bikonkav

dengan

diameter

sekitar

mikron,

yang

memungkinkan gerakan oksigen masuk dan keluar sel secara cepat dengan jarak
yang pendek antara membran dan inti sel, warnanya kuning kemerah-merahan
karena didalamnya mengandung hemoglobin.
Komponen Eritrosit :
membran eritrosit
sistem enzim
hemoglobin, komponennya terdiri atas :
1. heme yang merupakan gabungan protoporfirin dengan besi
2. globin : bagian protein yang terdiri aats 2 rantai alfa dan 2 rantai beta.
Terdapat sekitar 300 molekul Hb dalam setiap sel darah merah. Tugas akhir
Hb adalah : menyerap karbondioksida dan ion hydrogen serta
membawanya ke paru tempat zat-zat tersebut dilepaskan dari Hb.
Sifat-sifat sel darah merah :
1. Normositik = sel yang ukurannya normal
2. Normokromik = sel dengan jumlah hemoglobin yang normal
3. Mikrositik = sel yang ukurannya terlalu kecil
4. Makrositik = sel yang ukurannya terlalu besar
5. Hipokromik = sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu sedikit
6.

Hiperkromik = sel yang jumlah hemoglobinnya terlalu banyak

Sel darah putih ( Leukosit )


Bentuknya dapat berubah-ubah dan dapat bergerak dengan perantaraan kaki palsu.
Sel darah putih dibentuk di sumsum tulang dari sel-sel bakal. Jenis-jenis dari
golongan sel ini adalah golongan yang tidak bergranula, yaitu limfosit T dan B :
3

monosit dan makrofag serta golongan yang bergranula, yaitu eosinofil, basofil, dan
neutrofil.
Fungsi sel darah putih adalah :
1. Sebagai serdadu tubuh yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit atau
bakteri yang masuk ke dalam tubuh jaringan sistem retikulo endotel
2. Sebagai pengangkut yaitu mengangkut atau membawa zat lemak dari dinding
usus melalui limfa terus ke pembuluh darah
Sel darah putih terdiri atas beberapa jenis sel darah sebagai berikut :
1. Agranulosit
Memiliki diameter sekitar 10-12 mikron. Granulosit terbagi menjadi 3
kelompok:
a. Neutrofil : granula yang tidak berwarna mempunyai inti sel yang terangkai,
kadang seperti terpisah-pisah, protoplasmanya banyak berbintik-bintik halus
atau granula, banyaknya sekitar 60%-70%.
b. Eosinofil : berwarna merah dengan pewarnaan asam, ukuran dan bentuknya
hampir sama dengan neutrofil banyaknya kira-kira 24%.
c. Basofil : berwarna biru dengan pewarnaan basa, sel ini lebih kecil dari pada
eosinofil, mempunyai inti yang bentuknya teratur banyaknya kira-kira 0.5%
disumsum merah. Basofil bekerja sebagai limfosit sel mast dan
mengeluarkan peptide vasoaktif.
2. Granulosit
Terdiri atas limfosit dan monosit:
a. Limfosit
Memiliki nukleus besar bulat dengan menempati sebagian besar sel limfosit
berkembang dalam jaringan limfe. Ukurannya sekitar 7-15 mikron,
banyaknya 20%-25 % yang berfungsi membunuh dan memakan bakteri yang
masuk dalam jaringan tubuh.
Limfosit ada 2 macam, yaitu limfosit T dan B.
Limfosit T meninggalkan susmsum tulang dan berkembang lama, kemudian
bermigrasi menuju ke timus. kemudian sel-sel beredar dalam darah sampai
mereka bertemu dengan antigen-antigen dimana mereka telah diprogramkan
untuk mungenalinya. Setelah dirangsang oleh antigennya. Sel ini

menghasilkan bahan-bahan kimia yang menghancurkan mikroorganisme dan


memberitahu sel-sel darah putih lainnya bahwa telah terjadi infeksi.
Limfosit B terbentuk di sumsum tulang lalu bersirkulasi dalam darah sampai
menjumpai antigen dimana mereka telah diprogram untuk mengenalinya.
Pada tahap ini, limfosit B mengalami pematangan lebih lanjut dan menjadi sel
plasma serta menghasilkan antibody.
b. Monosit
Ukurannya lebih besar dari limfosit, protoplasmanya besar, warna biru sedikit
abu-abu serta mempunyai bintik-bintik sedikit kemerahan. Monosit dibentuk
didalam sumsum tulang masuk kedalam sirkulasi dalam bentuk hematom dan
mengalami proses pematangan menjadi makrofag setelah masuk ke jaringan.
Fungsinya sebagai fagosit, jumlahnya 34 % dari total komponen yang ada di
sel darah putih.
Jumlah sel darah putih pada orang dewasa totalnya 4,0-11,0 x 10 9/l yang
terbagi sebagi berikut.
Granulosit :

Neutrofil 2,5 7,5 x 109/ L

Eosinofil 0,04 0,44 x 109/ L

Basofil 0 0,10 x 109/ L

Limfosit 1,5 3,5 x 109/ L


Monosit 0,2 0,8 x 109/ L
3. Keping darah (Trombosit)
Trombosit adalah bagian dari beberapa sel-sel besar dalam sumsum tulang yang
berbentuk cakram bulat, oval, bikonveks, tidak berinti, dan hidup sekitar 10 hari.
Jumlah trombosit antara 150 dan 400 x 109/liter (150.000-400.000/milimeter),
sekitar 30%-40% terkonsentrasi di dalam limpa dan sisanya bersirkulasi dalam
darah.
Fungsi trombosit yaitu berperan penting dalam pembentukan bekuan darah
diantaranya mengubah bentuk dan kualitas setelah berikatan dengan pembuluh
yang cedera.
4. Plasma darah
Plasma darah adalah bagian darah yang encer tanpa sel-sel darah, warnanya
bening kekuning-kuningan hamper 90% dari plasma darah terdiri atas air.
Zat-zat yang terdapat dalam plasma darah sebagai berikut :
5

1. Fibrinogen yang berguna dalam peristiwa pembekuan darah.


2. Garam-garam mineral seperti garam kalsium, kalium, natrium, dan lain-lain
yang berguna dalam metabolisme dan juga mengadakan osmotik.
3. Protein darah (albumin dan globulin) meningkatkan viskositas darah juga
menimbulkan tekanan osmotik untuk memelihara keseimbangan cairan
dalam tubuh.
4. Zat makanan (asam amino, glukosa, lemak, mineral, vitamin).
5. Hormon yaitu zat yang dihasilkan dari kelenjar tubuh.
6. Antibody
5. Limpa
Merupakan organ lunak kurang lebih berukuran 1 kepalan tangan. Limpa
terletak pada pojok atas kiri abdomen di bawah costa, limpa terdiri atas kapsula
limpa fibroelastin, folikel (masa jaringan limpa) dan pulpa merah (jaringan ikat,
sel eritrosit, sel leukosit).

Faktor-faktor Pembekuan Darah


Factor

Nama

fibrinogen

II

protrombin

IV

kalsium

labile factor, proaccelerin, dan accelerator (AC-)


globulin

VII

proconvertin, serum, protrombin convertin accelerator


(SPCA),cotromboplastin, dan autoprotrombin I

VIII

Antihemophilic, factor, antihemophilic globulin (AHG)

IX

plasma thromboplastin component (PTC)/chrismas factor

stuart-power factor

XI

plasma tromboplastin antecedent (PTA)

XII

factor Hageman

XIII

factor stabilisasi febris

B. Demam Berdarah Dengue


1. Konsep penyakit DHF
6

A. PENGERTIAN
DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh
melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak,
remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi.
Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever
(DHF). (askep DHF.com)
Penyakit demam berdarah (DBD) adalah suatu penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan dari orang keorang lain melalui
gigitan nyamuk Aedes Aegypti yang sering menimbulkan wabah dan dapat
menimbulkan kematian yang singkat. (www.dkk-bpp.com)
Kesimpulan : penyakit demam berdarah adalah penyakit yang terdapat pada
anak dan dewasa dengan gejala utama demam, nyeri otot dan sendi yang
disebabkan oleh virus dengue dari nyamuk aedes aegypti, dan biasanya
memburuk setelah 2 hari pertama.

B. ETIOLOGI
Virus dengue tergolong dalam famili/suku/grup flaviviridae dan dikenal
ada 4 serotipe. Dengue 1 dan 2 ditemukan di Irian ketika berlangsungnya
perang dunia ke-III, sedangkan dengue 3 dan 4 ditemukan pada saat wabah di
Filipina

pada

tahun

1953

1954.

Virus dengue berbentuk batang, bersifat termolabil, sensitif terhadap inaktivasi


oleh dietileter dan natrium dioksikolat, stabil pada suhu 70oC. Dengue
merupakan serotipe yang paling banyak beredar.

C. PATOFISIOLOGI
Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami
keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri
otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan
kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelia seperti
7

pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF
disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit.
Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan
membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler
karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin, dan serotonin serta aktivasi
system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini
berakibat berkurangnya volume plasma, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi,
hipoproteinemia, efusi dan renjatan.
Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan
ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum,
pleura dan perikardium. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat
kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan,
asidosis metabolic, dan kematian. Penyebab lain kematian pada DHF adalah
perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia,
gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit.
Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses
imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran
darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati
yang fungsinya memang terbukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi.
Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/DSS, terutama pada pasien dengan
perdarahan hebat.

D. PATOFLOW (terlampir)
E. MANIFESTASI KLINIS

Demam mendadak, tinggi (dapat mencapai 39oC - 400C) disertai menggigil

Demam biphasik, yaitu demam yang berlangsung selama beberapa hari,


dan sempat turun di tengahnya menjadi normal kemudian naik lagi dan
baru turun lagi saat penderita sembuh (gambaran kurva panas seperti
punggung unta).
8

Nyeri pada seluruh tubuh

Ruam

Perdarahan

F. KLASIFIKASI DHF
WHO 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya
menjadi 4 golongan, yaitu :

Derajat I
Demam disertai gejala klinis lain, tanpa perdarahan spontan. Panas 2-7
hari, Uji tourniquet positif, trombositopenia, dan hemokonsentrasi.

Derajat II
Sama dengan derajat I, ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan
seperti petekie, ekimosis, hematemesis, melena, perdarahan gusi.

Derajat III
Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan
cepat ( >120x/mnt ) tekanan nadi sempit, tekanan darah menurun.

Derajat IV
Nadi tidak teraba, tekanan darah tidak teratur anggota gerak teraba dingin,
berkeringat dan kulit tampak biru.

G. MANIFESTASI KLINIS
Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat
penyakitnya, tanda dan gejala lain adalah :
Hati membesar, nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan
Asites
Cairan dalam rongga pleura ( kanan )
Ensephalopati : kejang, gelisah, soporo koma
H. KOMPLIKASI
Adapun komplikasi dari penyakit demam berdarah diantaranya :
a.
b.
c.
d.

Perdarahan luas
Shock atau renjatan
Effusi pleura
Penurunan kesadaran
9

I. TEST DIAGNOSTIK
a. Darah
Trombosit menurun
HB meningkat lebih 20 %
HT meningkat lebih 20 %
Leukosit menurun pada hari ke 2 dan ke 3
Protein darah rendah
Ureum PH bisa meningkat
Na dan Cl rendah
b. Serology : HI (hemaglutination inhibition test).
Rontgen thorax : Effusi pleura
Uji test tourniket (+)
J. PENATALAKSANAAN
a. Tirah baring
b. Pemberian makanan lunak
c. Pemberian cairan melalui infus
Pemberian cairan intra vena (biasanya Ringer Lactat, NaCl) Ringer
Lactat merupakan cairan intra vena yang paling sering digunakan,
mengandung Na + 130 mEq/liter, K + 4 mEq/liter, korekter basa 28
d.
e.
f.
g.
h.
i.

mEq/liter , Cl 109 mEq/liter dan Ca = 3 mEq/liter.


Pemberian obat-obatan : antibiotic, antipiretik.
Anti konvulsi jika terjadi kejang
Monitor tanda-tanda vital (T, S, N, RR)
Monitor adanya tanda-tanda renjatan
Monitor tanda-tanda perdarahan lebih lanjut
Periksa HB, HT, dan Trombosit setiap hari.

2. Konsep Proses Keperawatan


A. PENGKAJIAN
DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan
kematian anak, remaja dan dewasa ( Effendy, 1995 )

Keluhan Utama
Pasien mengeluh panas, sakit kepala, lemah, nyeri ulu hati, mual dan nafsu
makan menurun.

Riwayat penyakit sekarang


Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala, nyeri otot, pegal
seluruh tubuh, sakit pada waktu menelan, lemah, panas, mual, dan nafsu
makan menurun.

Riwayat penyakit terdahulu


10

Tidak ada penyakit yang diderita secara specific.

Riwayat penyakit keluarga


Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat
menentukan, karena penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan
melalui gigitan nyamuk aedes aegipty.

Riwayat Kesehatan Lingkungan


Biasanya lingkungan kurang bersih, banyak genangan air bersih seperti
kaleng bekas, ban bekas, tempat air minum burung yang jarang diganti
airnya, bak mandi jarang dibersihkan.

Pengkajian Per Sistem


a. Sistem Pernapasan
Sesak, perdarahan melalui hidung, pernapasan dangkal, epitaksis,
pergerakan dada simetris, perkusi sonor, pada auskultasi terdengar
ronchi, krakles.
b. Sistem Persyarafan
Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta
pada grade IV dapat terjadi DSS.
c. Sistem Cardiovaskuler
Pada grade I dapat terjadi hemokonsentrasi, uji tourniquet positif,
trombositopenia, pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi, nadi
cepat, lemah, hipotensi, cyanosis sekitar mulut, hidung dan jari-jari,
pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur.
d. Sistem Pencernaan
Selaput mukosa kering, kesulitan menelan, nyeri tekan pada
epigastrik, pembesaran limpa, abdomen teregang, penurunan nafsu
makan, mual, muntah, nyeri saat menelan, dapat hematemesis,
melena.
e. Sistem perkemihan
Produksi urine menurun, kadang kurang dari 30 cc/jam, akan
mengungkapkan nyeri saat kencing, kencing berwarna merah.
f. Sistem Integumen.
Terjadi peningkatan suhu tubuh, kulit kering, pada grade I terdapat
positif pada uji tourniquet, terjadi petekie, pada grade III dapat terjadi
perdarahan spontan pada kulit.
11

B. DIAGNOSA KEPERAWATAN

Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue.


Resiko defisit cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler
ke ekstravaskuler karena meningkatnya permeabilitas dinding pembuluh

darah.
Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang

berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler.


Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan
tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual

dan nafsu makan yang menurun.


Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan faktor-faktor
pembekuan darah (trombositopenia).

C. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN


a) DK : Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue
Tujuan : Suhu tubuh normal
Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36oC 37oC
Nyeri otot hilang
Intervensi :

Beri kompres air dingin


Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara
konduksi.

Anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai


toleransi )
Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi.

Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah


menyerap keringat
12

Rasional : Pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak


merangsang peningkatan suhu tubuh.
Observasi intake dan output, tanda vital (suhu, nadi, tekanan darah) tiap

3 jam sekali atau lebih sering


Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui
keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. Tanda
vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum
pasien.
Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai

program
Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu
tubuh yang tinggi. Obat khususnya untuk menurunkan suhu
tubuh pasien.

b) DK : Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya

cairan intravaskuler ke ekstravaskuler


Tujuan : Tidak terjadi devisit volume cairan
Kriteria : Input dan output seimbang
Vital sign dalam batas normal
Tidak ada tanda presyok
Akral hangat
Capilarry refill < 3 detik

Intervensi :

Awasi vital sign tiap 3 jam / lebih sering


Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan
intravaskuler.

Observasi capillary Refill


Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer.

Observasi intake dan output, catat warna urine / konsentrasi, dan BJ


Rasional : Penurunan pengeluaran urine pekat dengan peningkatan BJ
diduga dehidrasi.
13

Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml/hari (sesuai toleransi)


Rasional : Untuk memenuhi kebutuhan cairan tubuh peroral.

Kolaborasi : Pemberian cairan intravena


Rasional : Meningkatkan jumlah cairan tubuh untuk mencegah
terjadinya hipovolemik syok.

c) DK : Resiko Syok hipovolemik berhubungan dengan perdarahan


yang

berlebihan, pindahnya cairan intravaskuler ke

ekstravaskuler
Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik
Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal
Intervensi :

Monitor keadaan umum pasien


Rasional : Memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat
terjadi perdarahan (perawat segera mengetahui tanda-tanda
presyok / syok).

Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih


Rasional : Memastikan tidak terjadi presyok / syok.

Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan, dan segera


laporkan jika terjadi perdarahan
Rasional : Dengan melibatkan pasien dan keluarga maka tanda-tanda
perdarahan

dapat

segera

diketahui

sehingga

dapat

memberikan tindakan yang cepat dan tepat.

Kolaborasi : Pemberian cairan intravena


Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan
cairan tubuh secara hebat.

Kolaborasi : pemeriksaan : HB, PCV, trombo


Rasional : mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami
pasien dan memiliki acuan untuk melakukan tindakan lebih
lanjut.

14

d) DK : Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang
tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun
Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi
Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
Menunjukkan berat badan yang seimbang
Intervensi :

Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai


Rasional

Mengidentifikasi

defisiensi,

menduga

kemungkinan

intervensi.

Observasi dan catat masukan makanan pasien


Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas makanan yang di
konsumsi.

Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan)


Rasional : Mengawasi penurunan BB/mengawasi efektifitas intervensi.

Berikan makanan sedikit namun sering


Rasional : meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster.

Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas


Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster.

e) DK : Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan


faktor-faktor pembekuan darah ( trombositopenia )
Tujuan : Tidak terjadi perdarahan
Kriteria : TD : 100/60 mmHg, N : 80-100x/menit reguler
Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut, trombosit meningkat
Intervensi :

Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis


Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran
pembuluh

darah

yang

pada

tahap

tertentu

dapat

menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis, petekie.

Monitor trombosit setiap hari


Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari, dapat diketahui
tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan
perdarahan yang dialami pasien.

Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest )


15

Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan


terjadinya perdarahan.

Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika


ada tanda perdarahan spt : hematemesis, melena, epistaksis
Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk
penanganan dini bila terjadi perdarahan.

Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak, pelihara


kebersihan mulut, berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil
darah.
Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut.

BAB III
TINJAUAN KASUS
ASUHAN KEPERAWATAN PADA NY.T
DENGAN GANGGUAN SISTEM HEMATOLOGI : SUSPECT DHF
DI RUANG YOSEP 3 DAGO KAMAR : 1323 BED 3
RUMAH SAKIT SANTO BORROMEUS BANDUNG
I.

PENGKAJIAN
A. Pengumpulan Data
1. Data Umum
a. Identitas Klien
Nama
Umur
Jenis Kelamin
Agama
Pendidikan
Pekerjaan
Suku/Bangsa
Status Perkawinan

: Ny. T
: 32 tahun 3 bulan
: Perempuan
: Islam
: SLTP
: Baby Sitter
: Sunda/Indonesia
: Kawin
16

Tanggal, jam masuk


: 11 Januari 2010 pukul 20:40
Tanggal, jam pengkajian
: 12 Januari 2010 pukul 08:00
No. Register
: B10000XXX
Diagnosa Medis
: Suspect DHF
Alamat
: Jl. TCS No.9 Bandung
b. Identitas Keluarga / Penanggung jawab
Nama
: Tn. A
Umur
: 37 tahun
Jenis Kelamin
: Laki-laki
Agama
: Islam
Pendidikan
: Tidak terkaji
Pekerjaan
: Buruh
Hubungan dengan klien
: Suami
Alamat
: Jl. HK
2. Riwayat Kesehatan
a. Riwayat Kesehatan Klien
1) Riwayat Kesehatan Sekarang
a) Alasan Masuk Rumah Sakit
Pada tanggal 11 Januari 2010, pukul 12.10 klien masuk UGD
Rumah Sakit Santo Borromeus karena mengeluh pusing, panas,
mual, pegal-pegal seluruh badan dan lemas. Klien disarankan
untuk dirawat oleh dr. E. Pada pukul 20.40, klien masuk ruang
Yosef 3 Dago dengan menggunakan kursi roda.
b) Keluhan Utama
Keluhan utama : pusing
c) Riwayat Penyakit Sekarang
Klien mengeluh pusing. Keluhan bertambah apabila klien
duduk, berdiri, dan berjalan dan berkurang apabila berbaring.
Pusing dirasakan seperti berputar-putar. Pusing hanya dirasakan
pada daerah kepala. Pusing mengganggu hampir seluruh
aktivitas dan masuk skala 4. Pusing dirasakan secara tiba-tiba
dan terjadi setiap saat.
skala :
Skala 1 :Tidak mengeluh pusing
Skala 2 :Pusing tidak mengganggu aktivitas
Skala 3 :Pusing mengganggu sebagian aktivitas.
Skala 4 :Pusing mengganggu hampir seluruh aktivitas
Skala 5 : Pusing mengganggu seluruh aktivitas.
d) Keluhan yang menyertai
Mual, lemas, panas, pegal-pegal seluruh badan.
e) Riwayat tindakan konservatif dan pengobatan yang telah
didapat.
Klien sudah terpasang infus RL 30 tetes / menit dan klien sudah
mendapatkan injeksi 4 mg cedantron serta 4 mg sanmol per
oral.
17

2) Riwayat Kesehatan Masa Lalu


a) Riwayat alergi
Klien tidak punya alergi terhadap obat, cuaca dan makanan.
b) Riwayat penyakit sebelumnya
Klien tidak pernah sakit sebelumnya.
c) Riwayat rawat inap sebelumnya
Klien belum pernah dirawat sebelumnya.
d) Riwayat operasi
Klien belum pernah di operasi.
e) Riwayat transfusi
Klien belum pernah melakukan transfusi.
f) Riwayat pengobatan
Klien belum pernah mendapat pengobatan di Rumah Sakit.
b. Riwayat Kesehatan Keluarga
1) Riwayat penyakit anggota keluarga yang menurun dan menular
Klien mengatakan tidak ada anggota keluarga yang memiliki
penyakit menurun dan menular seperti kencing manis, TBC, darah
tinggi, dan penyakit jantung.
2) Keadaan kesehatan lingkungan rumah
Klien tinggal di rumah majikannya, dekat dengan pembuangan
sampah.
3) Genogram 3 generasi: tidak terkaji.
c. Riwayat Nutrisi
Klien mengatakan, sebelum sakit pola makan teratur 3x sehari dan
menyukai semua makanan.
3. Data Biologis
a) Penampilan Umum
Klien tampak Sakit sedang, klien terpasang cairan infus RL 30 tetes /
menit di lengan kiri, klien tampak berbaring lemah, ekspresi wajah
klien tampak sedih.
b) Tanda-tanda vital
Tekanan darah
Suhu
Nadi

: 100/60 mmHg
: 37,9oC per-axilla
: 76 x/menit di arteri radialis kanan, irama tidak

teratur dan denyutan lemah


Respirasi Rate
: 16 x/menit, teratur
Nyeri
: di regio epigastrik
c) Tinggi badan : 155 cm
18

Berat badan : 50 kg
IMT
: 20,82 kg/m2 ( klien dalam kategori normal )
d) Anamnesa dan pemeriksaan fisik per-sistem
1) Sistem Pernafasan
Anamnesa
Klien tidak mengeluh sesak nafas, dan batuk.
Inspeksi
Tidak ada pernafasan cuping hidung, tidak ada deviasi
septum nasi, hidung bersih, tidak ada tanda-tanda inflamasi
pada mukosa hidung, tidak ada polip, tidak terpasang
oksigen, Bentuk dada simetris, pengembangan dada
simetris, tidak ada penggunaan otot tambahan, irama

pernafasan teratur.
Palpasi
Tidak ada nyeri pada sinus paranasalis, vokal fremitus
teraba sama kedua lapang paru, tidak ada krepitasi.
Perkusi
Terdengar bunyi sonor pada kedua lapang paru.
Auskultasi
Suara nafas vesikular terdengar hampir diseluruh lapang

paru, tidak ada suara nafas tambahan.


2) Sistem Kardiovaskuler
Anamnesa
Klien mengatakan tidak mengonsumsi alkohol dan tidak
merokok, klien tidak mengeluh nyeri dada, dan tidak

mengeluh jantung berdebar-debar.


Inspeksi
Ictus cordis tidak terlihat, tidak ada clubbing finger, tidak

ada edema, tidak ada epistaksis, tidak ada sianosis.


Palpasi
Ictus cordis teraba di ICS 5 kiri, getaran terasa, capillary

refill time 2 detik.


Perkusi
Bunyi pekak
auskultasi
bunyi jantung I : ICS 4 linea sternalis kiri dan ICS 5 linea
midklavikularis kiri
bunyi jantung II: ICS 2 linea sternalis kanan dan ICS 2 linea
sternalis kiri
HR : 96x/menit
Tidak ada bunyi jantung tambahan
3) Sistem Pencernaan
Anamnesa

19

Klien mengeluh tidak nafsu makan, mual kalau makan nasi


tim, klien hanya mau nasi biasa, tidak ada nyeri saat
menelan, makanan yang disukai kangkung dan nasi, klien
mengatakan BAB teratur 2x sehari, bentuk feses lembek dan

tidak ada darah.


Inspeksi
Bibir kering, tidak ada stomatitis, lidah kotor berwarna
putih, tonsil T1, gigi lengkap tidak ada karies, abdomen

datar tidak ada distensi dan lesi, tidak ada haemoroid.


Auskultasi
Bising Usus : 5x/menit, lemah.
Palpasi
Nyeri tekan pada epigastrik, tidak ada pembesaran dan nyeri
tekan pada hepar dan lien.
Perkusi
Bunyi tympani.

4) Sistem Perkemihan
o Anamnesa
Klien mengatakan BAK 8x/hari, tidak ada kesulitan saat
BAK, tidak ada nyeri atau panas saat BAK, tidak ada nyeri
pinggang.
o Inspeksi
Tidak ada distensi pada regio suprapubik, tidak terpasang
kateter.
o Palpasi
Tidak ada nyeri tekan pada regio suprapubik.
o Perkusi
Tidak ada nyeri ketuk pada daerah costo vertebral ankle
kanan dan kiri.
5) Sistem Persarafan
o Anamnesa
Klien mengatakan sulit tidur pada malam hari karena belum
terbiasa dengan lingkungan rumah sakit, dan klien merasa
pusing berputar-putar.
o Inspeksi
Bentuk muka simetris, mulut simetris, tidak ada tremor,
tidak ada hemiplegia, kesadaran compos mentis.
GCS
: E=4, M=6, V=5
= 15
Uji saraf kranial :
Nervus I :
klien mampu mencium minyak kayu putih dan alkohol.
Nervus II:
20

klien mampu membaca nama perawat dengan jelas pada


jarak 30 cm.
Nervus III, IV, VI :
pupil isokor (3/3 mm), tidak ada ptosis, klien mampu
menggerakan bola mata sesuai dengan arah jari perawat.
Nervus V :
kulit wajah sensitif terhadap goresan kapas, mampu
menunjukan letak rangsangan kapas dengan mata tertutup.
Nervus VII :
klien mampu menyebutkan rasa makanan yang diberikan,
mampu mengangkat alis dan dahi.
Nervus VIII :
klien mampu mendengar suara gesekan rambut.
Nervus IX dan X :
letak uvula ditengah, klien mampu menelan makanan.
Nervus XI :
mampu mengangkat bahu kiri dan kanan.
Nervus XII :
mampu menjulurkan lidah pada posisi lurus, mampu
menggerakan lidah untuk mendorong pipi kiri dan kanan.
o Perkusi
Refleks fisiologis
tendon biceps, triceps, patela, achiles : tidak terkaji
Refleks patologis
babinski : -/6) Sistem Muskuloskeletal
o Anamnesa
Klien mengeluh sulit beraktifitas karena lemas.
o Inspeksi
Ekstremitas simetris, tidak ada atrofi, klien bebas bergerak,
kekuatan otot : 5
5= Kekuatan kontraksi maksimal (dapat melawan tahanan
pemeriksa dengan kekuatan maksimal)
4= kekuatan sedang (bisa bergerak melawan tahanan
pemeriksa tapi kekuatan berkurang)
3= kekuatan hanya cukup untuk mengatasi kekuatan
gravitasi
2= kekuatan untuk menggerakan tapi tidak dapat melawan
kekuatan gravitasi
1= kekuatan kontraksi minimal (terlihat kontraksi tapi tidak
ada gerakan sendi)
0= tidak mampu sama sekali
o Palpasi
Tidak ada nyeri tekan pada daerah prosesus spinosus dari
servikal sampai lumbo sakral.
21

7) Sistem panca Indra


o Anamnesa
Penglihatan : Klien mengatakan tidak menggunakan kaca
mata, tidak mengeluh gangguan penglihatan seperti
pandangan buram dan kabur.
Pendengaran : klien mengatakan tidak menggunakan alat
pendengaran, tidak mengeluh nyeri pada saluran telinga, dan
dapat mendengar dengan jelas.
o Inspeksi
Penglihatan : konjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik,
tidak ada pus pada palpebra.
Pendengaran : kondisi pinna tidak lesi, kanalis bersih,
membran tympani utuh, tidak ada pus.
o Palpasi
Penglihatan : TIO kanan kiri sama.
8) Sistem endokrin
o anamnesa :
klien mengatakan tidak berkeringat banyak, tidak punya
riwayat kencing manis.
o inspeksi :
bentuk tubuh normal, tidak ada pembesaran tyroid, tidak ada
pembesaran pada ujung-ujung ekstremitas atas dan bawah.
o palpasi :
tidak teraba pembesaran kelenjar tyroid.
9) Sistem reproduksi
o Anamnesa :
Klien mengatakan menstruasi teratur, tidak ada nyeri. Klien
tidak mengikuti KB (keluarga berencana), jumlah anak 2.

22

o Palpasi :
Mamae tidak ada benjolan.
10) Sistem integumen
o Anamnesa :
Klien mengatakan rambut tidak rontok, kulit kepala tidak
gatal.
o Inspeksi :
Rambut berminyak, warna hitam, distribusi merata, kulit
kepala bersih tidak ada ketombe, bibir terlihat kering.
Turgor kulit baik, tidak ada lesi, kulit bersih, bibir kering,
ada petekie.
o Palpasi :
Turgor kulit baik.
4. Data Psikologis
a) Status Emosi : Terkendali dan menunjukan ekspresi kesedihan.
b) Konsep Diri
Gambaran Diri : klien mengatakan biasa saja terhadap tubuhnya
Harga Diri : klien mengatakan biasa saja terhadap dirinya
Ideal Diri : klien bercita-cita menjadi baby sitter dan merawat anakanak
Identitas diri : klien menyukai dirinya apa adanya.
Peran : sebagai baby sitter.
c) Gaya Komunikasi
Tenang, berespon, namun cara bicara klien kurang jelas.
d) Pola Interaksi
Hubungan dengan suami dan anaknya kurang harmonisdan orang lain
baik.
e) Pola Mengatasi Masalah
Klien mengaku jika ada masalah, masalah itu di pendam dan
diselesaikan sendiri.

5. Data Sosio-Spiritual
Pendidikan pekerjaan : keterampilan yang di miliki mengasuh anak,

klien dalam satu hari bekerja 24 jam


Hubungan sosial dan kultur : hubungan dengan teman dekat baik,

bantuan didapat dari suaminya


Gaya hidup : klien tinggal di rumah majikannya
Arti kehidupan : ingin selalu sehat
Arti kematian : sesuatu yang menyedihkan
Arti sehat : senang
Arti sakit : susah
23

Hubungan dengan Tuhan : segala sesuatu yang terjadi adalah kehendak

Tuhan
Harapan tentang sehat dan sakit : berharap agar tidak sakit lagi dan

selalu sehat
Kegiatan agama yang diikuti : tidak ada
6. Persepsi Klien Terhadap Penyakitnya
Tidak menyenangkan
7. Data Penunjang
a) Laboratorium : pemeriksaan darah
12 Januari 2010
HT= 38

N: pria =40-54

Trombosit = 104.000

Wanita= 38-47
N: 150.000-450.000

13 Januari 2010
HT = 39
Trombosit = 80.000
b) Terapi
Injeksi : 2x4 mg cedantron R/IV
Indikasi : mual dan muntah karena kemoterapi, radioterapi/pasca
op.
Kontraindikasi : hipersensitifitas
Efek samping : konstipasi, sakit kepala, sensasi
kemerahan/panas pada kepala dan epigastrium
Obat oral : 1x1 Tribost R/X
Indikasi : membantu pemulihan sistem imun tubuh, meredakan
flu dan hidung tersumbat
Kontraindikasi : sklerosis multiple, penyakit kolagen, leukosis,
TBC, hamil, AIDS
Efek samping : reaksi alergi
2x20 mg famocid
Indikasi : terapi jangka pendek dan terapi pemeliharaan terhadap
Ulkus duodenum aktif, terapi untuk kondisi
hipersekresi patologis
Kontraindikasi : hyper sensitif terhadap famotidine
Efek samping : sakit kepala, pusing, konstipasi, diare,
Trombositopenia, dan nyeri sendi
k/p sanmol R/X
indikasi : menghilangkan demam dan nyeri
24

kontraindikasi : penyakit hati dan ginjal


efek samping : reaksi hematologi, erupsi kulit, mual muntah,
mengantuk
c) Acara infus : otsu RL 500 ml 30 tetes/menit
d) Mobilisasi : bedrest
B. Pengelompokan Data
Data subjektif :
o klien mengeluh pusing berputar-putar
o klien mengeluh mual kalau makan nasi tim, hanya mau makan nasi
o
o
o
o
o

biasa
Klien mengeluh tidak nafsu makan
klien mengeluh lemas
klien mengatakan kalau berdiri atau duduk kepala bertambah pusing
klien merasa meriang
klien mengeluh pegal-pegal seluruh badan

data objektif :

hanya mampu menghabiskan 1/3 porsi nasi tim, hanya makan sayur,
dan buah
bibir terlihat kering
Skala pusing : 4
klien terlihat lemah, bedrest
klien tidak mampu jalan ke kamar mandi sendiri
aktifitas klien di bantu penuh
terdapat petekie
suhu : 37,9oC, nadi : 76x/menit, TD : 100/60 mmHg
Data Penunjang
Terpasang infus RL 500 cc 30 tts/mnt di tangan kiri.
Laboratorium : pemeriksaan darah
o 12 Januari 2010 :
HT= 38
Trombosit= 104.000

o 13 januari 2010 :
HT = 39
Trombosit = 80.000

25

C. Analisa Data
Data
DS :
klien mengeluh mual kalau

makan nasi
klien mengeluh tidak nafsu
makan.

DO :

hanya mampu makan 1/3


porsi nasi tim, hanya makan
sayur dan buah

Etiologi
Masalah
Virus dengue masuk ke pembuluh darah Nutrisi kurang dari
melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepti

kebutuhan

Merangsang sel monosit, eosinofil,


neutrofil, makrofag
Zat-zat pirogen
Viremia
Vasodilatasi

Merangsang S. simpatis
HCL meningkat
mual

DS :

nafsu makan menurun


Virus dengue masuk ke pembuluh darah keterbatasan
Klien mengeluh pusing

melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepti

dan berputar-putar
Klien mengeluh lemas
Klien mengatakan kalau

Merangsang sel monosit, eosinofil,

duduk atau berdiri kepala

neutrofil, makrofag

bertambah pusing
Klien mengeluh pegal-

aktifitas sehari-hari

Zat-zat pirogen
26

pegal seluruh badan


DO :

Viremia
Klien terlihat lemah
Bedrest
Klien tidak mampu
berjalan ke kamar mandi

sendiri
Skala pusing : 4

Mekanisme perlawanan tubuh


Metabolisme meningkat
Kebutuhan energi meningkat
O2 ke otak menurun
Pusing
Virus dengue masuk ke pembuluh darah Resiko tinggi

DS :

Klien mengeluh lemas

DO :

Bibir terlihat kering


Terpasang infus RL 500
cc 30 tts/mnt di tangan

kiri
Pemeriksaan darah :
o 12 Januari 2010

melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepti


antigenantibodi

komplemen
C3&C5

kekurangan volume
cairan tubuh

C3a&C5a
histamine, serotonin
pe permeabilitas pemb. Drh

HT= 38
Trombosit= 104.000
o 13 januari 2010 :
HT = 39
Trombosit = 80.000

kebocoran dinding pemb.drh


ppindahan cairan intravaskuler ke
intertisial
hipovolemia
resti kekurangan volume cairan tubuh

DS :

Virus dengue masuk ke pembuluh darah Hypertermi


Klien merasa meriang

melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty

DO :
27

suhu : 37,9oC, nadi :

Merangsang sel monosit, eosinofil,


neutrofil, makrofag

76x/menit

Zat-zat pirogen

DO :

Hipertermi
Virus dengue masuk ke pembuluh darah Resiko tinggi
Laboratorium :
pemeriksaan darah

-12 Januari 2010

melalui gigitan nyamuk Aedes Aegepty


antigenantibodi

HT= 38
Trombosit = 104.000

perdarahan

komplemen
C3&C5
C3a&C5a
histamine, serotonin

-13 Januari 2010


HT = 39
Trombosit = 80.000

pe permeabilitas pemb. Drh

Ada petekie
kebocoran dinding pemb.drh
agregasi trombosit
trombositopenia
perdarahan spontan
(petekie)

II.

DIAGNOSA KEPERAWATAN BERDASARKAN PRIORITAS MASALAH


Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh b.d peningkatan

permeabilitas dinding pembuluh darah


Resiko tinggi perdarahan b.d efek penurunan trombosit
Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake berkurang karena mual
Hypertermi b.d proses infeksi virus DHF
Gangguan aktivitas sehari-hari b.d penurunan O2 ke otak yang
mengakibatkan pusing
28

III.
NO
1

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

TANGGAL

DIAGNOSA
TUJUAN

PERENCANAAN
INTERVENSI

RASIONAL

13 JANUARI

KEPERAWATAN
RESIKO TINGGI

Resiko kekurangan

2010

KEKURANGAN

volume cairan tubuh dapat

(lemah, pucat, takikardi) tanda-

mengetahui penyimpangan

VOLUME CAIRAN

diatasi dalam waktu 5 hari

tanda vital : tekanan darah,

dari normal.

TUBUH b.d

dengan kriteria :

suhu, dan nadi.

PENINGKATAN

- kulit terlihat lembab

PERMEABILITAS

- trombosit dalam batas

PEMBULUH DARAH

normal : 150.000-

DITANDAI DENGAN:

450.000

DO :

- HT tetap dalam batas

- bibir terlihat kering


- Terpasang infus RL
500 cc 30 tts/mnt di

- Kaji keadaan umum klien

- Monitor tetesan infus klien.

- tetesan infus yang lancar


memberikan kebutuhan
cairan klien yang adekuat.

- Berikan cairan intravena : RL 20

- Penting bagi klien yang

tts/mnt sesuai program dokter.

mengalami kekurangan

normal: 38-47

cairan tubuh karena cairan


- Anjurkan pasien untuk banyak
minum ( 2000-2500 ml).

tangan kiri.

langsung masuk ke dalam


pembuluh darah.
- Asupan cairan sangat

- Pemeriksaan darah:
o 12 Januari 2010

- menetapkan data dasar untuk

diperlukan untuk menambah


- monitor HT klien.

volume cairan tubuh.

HT= 38
Trombosit= 104.000

- Peningkatan HT
menunjukkan klien

o 13 januari 2010 :

kekurangan cairan tubuh.


29

HT = 39
Trombosit = 80.000
2

13 Januari 2010

RESTI PERDARAHAN

Tidak terjadi perdarahan

b.d EFEK PENURUNAN

dalam waktu 5 hari dengan

TROMBOSIT ;

kriteria :

DITANDAI DENGAN :

Trombosit dalam batas

DO :

normal = 150.000-450.000

- ada petekie

Monitor tanda-tanda
perdarahan

o 12 Januari 2010
HT= 38
o 13 januari 2010 :
HT = 39
Trombosit = 80.000

tiap 2-3 jam

- Pemeriksaan darah:

Trombosit= 104.000

Observasi tanda-tanda vital

Jelaskan pada pasien atau

Tanda-tanda vital dalam


batas normal menandakan

keadaan umum pasien baik.


Perdarahan yang cepat
diketahui dapat segera

diatasi.
Diharapkan tanda-tanda

keluarga tanda-tanda

perdarahan dapat diketahui

perdarahan dan segara

lebih cepat dan pasien atau

laporkan jika ada

keluarga menjadi

Kolaborasi dengan dokter


untuk memberi terapi cairan

kooperatif.
Diperlukan untuk
mengatasi kehilangan

intra vena jika terjadi

cairan tubuh.

perdarahan
DS :
o Pusing
o Lemas

Cek Ht dan trombosit

mengetahui tingkat
kebocoran pembuluh darah
dan acuan untuk melakukan

Perhatikan keluhan pasien

tindakan lebih lanjut.


30

seperti mata berkunang-

12 Januari 2010

NUTRISI KURANG

Nutrisi terpenuhi dalam

DARI KEBUTUHAN b.d

waktu 5 hari dengan

INTAKE YANG

kriteria:

BERKURANG DI
TANDAI DENGAN :
DO :
-

hanya mampu makan

- mampu menghabiskan 1

dan buah saja.

mengetahui seberapa jauh

kunang,pusing,lemas,eksterm

pengaruh perdarahan

itas dingin dan sesak nafas

tersebut.

Kaji keluhan mual yang

mengatasi rasa mual yang

dialami klien
observasi bagaimana cara

di alami klien.
Cara menghidangkan

makanan dihidangkan

porsi nasi.

makanan dapat
mempengaruhi nafsu makan

- tidak mengeluh mual.


-

Berikan makanan dalam


porsi kecil dan frekuensi

1/3 porsi nasi


tim.hanya makan sayur

sering
Catat jumah / porsi makanan

klien.
menghindari mual dan

muntah.
mengetahui pemenuhan
kebutuhan nutrisi.

yang dihabiskan oleh pasien


-

setiap hari
Memberikan umpan balik

memotivasi dan
meningkatkan semangat

positif saat pasien mau

pasien.

berusaha menghabiskan
makanannya
DS :
-

klien mengeluh mual


kalau makan nasi tim,

Jelaskan manfaat makanan/


nutrisi bagi pasien terutama
saat pasien sakit

meningkatkan pengetahuan
pasien tentang nutrisi
sehingga motivasi untuk
makan meningkat.
31

dan hanya mau makan


nasi.

berikan obat obatan

mengurangi rasa mual dan


diharapkan intake nutrisi

antiemetik sesuai program

meningkat.

dokter.
3

HIPERTERMI

Suhu tubuh normal (36oC-

( PENINGKATAN SUHU

37,5 0C)

TUBUH) b.d PROSES

Terpenuhi dalam waktu 3

INFEKSI VIRUS DHF

hari dengan kriteria :

(DENGUE HEMORAGIC

-suhu tubuh 36C-37,5C

Kaji saat timbulnya demam

Observasi tanda-tanda Vital

mengidentifikasi pola

demam pasien
Tanda Vital merupakan

( suhu , nadi, Tekanan Darah,

acuan untuk mengetahui

dan Pernafasan) setiap 4 jam

keadaan umum pasien.

FEVER) DITANDAI
DENGAN :
-

Anjurkan pasien untuk

DO :

banyak minum kurang lebih

2,5 liter/24 jam

Suhu 37,90C
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 76x/menit

mengakibatkan penguapan
perlu diimbangi dengan

klien merasa meriang


klien mengeluhn

Peningkatan suhu tubuh


tubuh meningkat sehingga

Berikan kompres hangat

DS :
-

asupan cairan yang banyak.


-

pusing

meningkatkan penguapan

Anjurkan untuk tidak

yang memmpercepat

memakai selimut dan pakaian


-

yang tebal
Catat asupan dan keluaran

vasodilatasi dapat

penurunan suhu tubuh.


Pakaian tipis membantu
32

cairan.

mengurangi penguapan

Berikan penjelasan tentang

tubuh.
mengetahui adanya

penyebab demam atau

ketidakseimbangan cairan

peningkatan suhu tubuh.


-

tubuh.
Penjelasan tentang kondisi
yang dialami pasien dapat

Berikan penjelasan pada

membantu pasien atau

pasien atau keluarga tentang

keluarga mengurangi

hal-hal yang dapat dilakukan

kecemasan yang timbul.

untuk mengatasi demam dan


menganjurkan pasien/
-

keluarga untuk kooperatif.


Jelaskan pentingnya tirah

sangat berarti dalam proses


penyembuhan pasien di

baring bagi pasien dan

Rumah Sakit.

akibatnya jika hal tersebut


-

Keterlibatan keluarga

tidak dilakukan.
Berikan terapi cairan
intravena dan obat-obatan

Penjelasan yang diberikan


pada pasien atau keluarga

antipiretik sesuai program

akan memotivasi pasien

dokter
-

untuk kooperatif.
Pemberian cairan sangat
penting bagi pasien dengan
33

GANGGUAN

Aktivitas sehari-hari

AKTIVITAS SEHARI-

terpenuhi dalam waktu 5

HARI b.d PENURUNAN

hari dengan kriteria :

O2 DI OTAK YANG

MENGAKIBATKAN

Kaji keluhan pasien

suhu tinggi.
mengidentifikasi masalahmasalah pasien.

Kaji tingkat nyeri yang

klien tampak lebih

dialami pasien dengan

segar

memberi rentang nyeri

mengetahui berapa berat


nyeri yang dialami pasien.

PUSING DITANDAI
DENGAN:

Observasi hal-hal yang

klien mampu

mampu atau yang tidak

klien terlihat lemah


Klien bedrest
Klien tidak mampu

beraktivitas mandiri
klien tidak mengeluh

mampu dilakukan pasien

berjalan ke kamar

pusing lagi
klien tidak merasa

DO :
-

mandi sendiri
skala pusing : 4

klien merasa pusing

yang berputar-putar
klien mengeluh lemas
klien mengatakan kalau
duduk atau berdiri

dalam memenuhi
-

kebutuhannya.
Pemberian bantuan sangat
diperlukan bagi pasien pada

sehari-hari seperti mandi,

saat kondisinya yang lemah

BAK, BAB sesuai tingkat

dan perawat mempunyai

keterbatasan pasien

DS :

mengetahui tingkat
ketergantungan pasien

Bantu klien untuk memenuhi


kebutuhan aktivitasnya

pegal-pegal lagi

tanggung jawab dalam


pemenuhan kebutuhan
sehari-hari pasien tanpa
mengalami ketergantungan
-

Letakkan barang-barang yang

kepala menjadi tambah

mudah terjangkau oleh

pusing

pasien

pada perawat.
membantu pasien
memenuhi kebutuhan
34

klien mengeluh pegalpegal

sendiri tanpa bantuan orang


-

Sarankan pasien untuk

banyak beristirahat

lain.
mengurangi keluhan yang
dialami pasien.

berikan obat-obatan
analgesik sesuai dengan resep
dokter

Obat analgesik dapat


mengurangi nyeri sehingga
klien mampu melakukan
aktivitas sehari-hari.

35

IV.
NO
1

IMPLEMENTASI KEPERAWATAN
TANGGAL
12 Januari 2010

JAM
09.00

IMPLEMENTASI
Membantu Morning Care. Pasien mengeluh pusing. Keadaan Umum

NAMA & TTD


Sheilla dan Anyela Yunarti

: tampak sakit sedang, terpasang infus Otsu-RL 30 tetes/menit di


sebelah kiri dan klien dalam keadaan compos mentis
R : pasien mengeluh pusing.
H : pasien tampak lebih segar setelah dimandikan.

10.00

10.15

Mengobservasi asupan nutrisi klien


R : pasien mengeluh mual.
H : klien hanya mampu menghabiskan 1/3 porsi.

Membantu BAK di kamar mandi memakai kursi roda


R : Pasien terlihat lemas, mengeluh pusing sekali dan mual.
H : pasien dapat BAK dengan bantuan perawat.

Mengukur TTV
R : Pasien masih mengeluh pusing
H : suhu= 37,90C ; Tekanan Darah =100/60 mmHg ; nadi=

Sheilla

Sheilla dan Ayela Yunarti

76x/menit.
12.00

Veronika dan Anyela Yunarti

Membantu menyuapi makan dan minum


R : Pasien masih mengeluh mual
H : Pasien mampu menghabiskan makanan porsi

Anamnesa riwayat penyakit


R : pasien tampak lemas

Anyela Yunarti

36

12.30

H : pasien memberikan informasi tentang riwayat penyakitnya

12.45

Melakukan Pemeriksaan Fisik ekstremitas atas


R : pasien tampak lemas
H : pasien mengeluh pusing, lemas, mual, nyeri ulu hati, dan pegal-

Yulius Inkris, Anyela,

pegal

Veronika

Luh Gde Putri, Ni Putri,


2

13 Januari 2010

13.00
08.00

Membantu memandikan di tempat tidur. Keadaan Umum : tampak

Sheilla
Luh Gde Putri

sakit sedang, terpasang infus Otsu-RL 30 tetes/ menit di tangan


sebelah kiri dengan kesadaran Composmentis.
R : Pasien mengeluh pusing dan lemas.
H : Pasien tampak lebih segar.

Melakukan anamnesa riwayat kesehatan masa lalu dan melanjutkan


Pemeriksaan Fisik ekstremitas atas
R : pasien masih mengeluh lemas.
H : pasien memberikan informasi tentang riewayat kesehatan masa

08.15

Luh Gde Putri

lalu.

Mengukur TTV
R : Pasien masih mengeluh pusing
H : suhu= 37,90C ; Tekanan Darah =110/60 mmHg ; nadi=
37

11.30

12.20

94x/menit.

Memberikan Obat Oral Sanmol


R : pasien mengeluh pusing
H : pasien tidak muntah

Memonitor hasil pemeriksaan rutin Ht dan Trrombosit tanggal 12

Luh Gde Putri

Luh Gde Putri

Januari 2010
H : HT= 38 dan Trombosit= 104.000

12.45
3

14 Januari 2010

12.00

Yulius Inkris Nugroho

Mengkaji keluhan mual dan asupan nutrisi


R : Pasien masih mengeluh mual
H : Pasien hanya menghabiskan 1 sendok nasi, buah pepaya habis

Anyela Yunarti

dan sayur kangkung habis

13.00

Melakukan Anamnesa data psikologis untuk melengkapi data-data


R : pasien tampak bingung
H : pasien memberikan informasi tentang data psikologis namun

Ni Putri Putu

tidak jelas

Memonitor hasil pemeriksaan rutin Ht dan Trrombosit tanggal 13


Januari 2010

13.10

H : HT = 39 dan Trombosit = 80.000

Yulius Inkris Nugroho


38

15 Januari 2010

10.00

Menolong Pasien BAK di tempat tidur


R : Pasien mengeluh pusing
H : warna urine kuning agak pekat

Menolong Pasien BAK di tempat tidur


R :Pasien mengeluh lemas dan pusing
H : warna urine kuning agak pekat

12.00

Luh Gde Putri

Mengobservasi Keadaan Umum Klien dan Memonitor tetesan infus


R : Pasien mengeluh pusing
H: Pasien tampak lebih sehat dari kemarin tetapi bibir pasien terlihat
kering dan ada terdapat luka

12.15

Veronika

Membantu menyuapi makan dan minum


R : Pasien mengeluh lemas dan mual
H : Pasien hanya menghabiskan 1/3 porsi nasi tim, sayur bayam

Luh Gde Putri, Ni Putri, dan


Veronika

habis , melon habis.


12.30

Memonitor hasil pemeriksaan rutin Ht dan Thrombosit tanggal 14

Ni Putri Putu

Januari 2010
Ht = 38 dan Trombosit = 58.000

12.45

Luh Gde Putri

39

16 Januari 2010

11.00

Mengukur Tanda-tanda Vital


R : Pasien mengeluh masih pusing dan lemas
H :Suhu= 36,50C dan Nadi = 67x/menit

Melakukan anamnesa tentang data sosio-spiritual dan


memonitoring tetesan infus.
R : Pasien mengeluh masih pusing dan lemas
H : Pasien memberikan inforasi tentang data sosio-spiritual.

12.30

12.45

Mengobservasi asupan nutrisi


R : Pasien mengeluh sedikit mual
H : pasien mampu menghabiskan porsi makanan
Memonitor hasil pemeriksaan rutin Ht dan Trrombosit tanggal 15

Anyela Yunarti

Veronika dan Anyela Yunarti

Luh Gde Putri, Ni Putri,


Sheilla, Yulius Inkris

Januari 2010
Ht = 40 dan Trombosit = 56.000
Yulius Inkris Nugroho
6

17 Januari 2010

13.00
13.00

Mengkaji status kesehatan pasien


R : pasien mengatakan sudah mampu untuk beraktivitas seperti

Veronika dan Anyela Yunarti

mandi
H :pasien mengatakan pusing sudah berkurang dan lebih sehat dari
hari kemarin serta bibir pasien terlihat sedikit kering lagi tetapi
masih terdapat petekie (bintik- bintik merah).

13.30

Mengobservasi asupan nutrisi pasien


R : pasien sudah tidak mual lagi jika makan nasi.

Veronika dan Anyela Yunarti

40

H : pasien mampu menghabiskan 1 porsi makanan.

NO
1

Veronika dan Anyela Yunarti

Januari 2010
Ht = 40 dan Trombosit = 36.000

14.00

V.

Memonitor hasil pemeriksaan rutin Ht dan Trrombosit tanggal 16

EVALUASI KEPERAWATAN
TGL
17 Januari

NO. DK
I

2010

EVALUASI
S:-

NAMA &TTD
Sheilla Putriana dan Luh Gde

O : Infus Otsu-RL 30 tetes/menit masih terpasang di lengan kiri dan bibir

Putri

masih terlihat sedikit kering


A : Masalah belum teratasi
2

17 Januari

II

2010

P : Intervensi di lanjutkan
S : Masih ada pusing dan lemas

Sheilla Putriana dan Luh Gde

O : Masih adanya petekie

Putri

A : Masalah belum teratasi


3

17 Januari
2010

III

P : Intervensi dilanjutkan
S : Klien tidak mengeluh mual kalau makan nasi

Veronika dan Anyela Yunarti

O : Mampu menghabiskan 1 porsi nasi


A : Masalah teratasi
41

17 Januari

IV

2010

P : Intervensi di hentikan
S : Klien tidak mengeluh meriang

Ni Putu Putri dan

O : Suhu 37,50C

Yulius Inkris Nugroho

A : Masalah teratasi
5

17 Januari
2010

P : Intervensi di hentikan
S : Klien mengatakan pusing sudah berkurang

Veronika dan Anyela Yunarti

O : Klien mampu mandi sendiri


A : Masalah teratasi
P : Intervensi di hentikan

42

BAB IV
PENUTUP
1.1

Simpulan
DHF ( Dengue Hemoragic Fever ) merupakan penyakit yang menyerang
sistem hematologi dengan manifestasi klinis

pusing, panas, lemas, mual,

pegal-pegal, penurunan trombosit serta perdarahan spontan seperti petekie.


Dari kasus ini Diagnosa Keperawatan yang muncul adalah

Resiko tinggi kekurangan volume cairan tubuh b.d peningkatan

permeabilitas dinding pembuluh darah


Nutrisi kurang dari kebutuhan b.d intake berkurang karena mual
Hypertermi b.d proses infeksi virus DHF
Gangguan aktivitas sehari-hari b.d penurunan O2 ke otak yang
mengakibatkan pusing

1.2

Saran
Diharapkan mahasiswa/i D-III Keperawatan STIKes Santo Borromeus
dapat

mengetahui,

memahami

pengkajian, menetapkan

dan

mengaplikasikan

cara

melakukan

diagnosa keperawatan, meyusun perencanaan dan

mengimplementasikannya serta melakukan evaluasi pada klien dengan


Diagnosa Medis DHF ( Dengue Hemoragic Fever).

43

DAFTAR PUSTAKA
Effendy, Christantie. 1995. Perawatan Pasien DHF. Jakarta : EGC
Handayani, wiwik. 2008. Asuhan keperawatan pada klien dengan gangguan sistem
hematologi. Jakarta : salemba medika.
Lemone, priscilia. 2004. Medical surgical nursing : crirical thinking in client care.
Jakarta : EGC.
Penerbit Ikatan Sarjana Indonesia.2005. Informasi Spesialite Obat ( ISO ). Jakarta :
PT. Ikrar Mandiri Abadi.
http://askepblogspot.com/2008/01/asuhan keperawatan pada klien dengan DHF6163.html

44

PATOFLOW
Virus dengue masuk ke pembuluh darah melalui
Gigitan nyamuk aedes aegepty

Mengaktifasi sistem
Komplemen C3 & C5

aktivasi antigen
antibodi

merangsang sel2 monosit, eosinofil, neutrofil


dan makrofag

C3a dab C5a

mengeluarkan zat2 pirogen

Histamin, Bradikinin , serotinin

Viremia

Dx : Hipertermi b.d
proses infeksi virus
DHF

Peningkatan permeabilitas
Pembuluh darah

limfa

hepar

mekanisme perta-

Adrenal

Vasodilatasi

hanan tubuh
Kebocoran dinding
pembuluh darah

hepatomegal
splenomegali

Demam

Saraf simpatis

metabolisme

pembesaran

HCL meningkat

keb. Energi

kel. Getah bening

mual

O2 ke otak

anorexsia, nyeri epigastrium

pusing
Dx: Keterbatasan aktivitas b.d pe
ke otak

Dx : Nutrisi << dari keb b.d


intake berkurang akibat mual
O2

45

Cairan intravaskuler
Pindah ke intertisial
Agregasi Trombosit

Hipovolemia
Viskositas naik

HT

Trombositopeni
Perdarahan spontan

kerja jantung

O2 Sel

(ptekie,epitaksis,melena,

Hipoksia

Hematemesis,hematuri)

syok
Asidosis metebolik

DK:resti pendarahan b.d


efek penurunan
trombosit..

Cardiac Output

Metabolisme anaerob
menghasilkan asam laktat
Pegal-pagal

DK:resti kekurangan volume


cairan tubuh b.d peningkatan
permeabilitas dinding pembuluh
darah

Otak:

Ginjal:

Penurunan kesadaran

Auria

Jantung:
bradikardi

Integuman:
Sianosis

Hipotensi

46

47