Anda di halaman 1dari 9

BAGIAN IKM-IKK

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
LAPORAN KASUS PUSKESMAS
OKTOBER 2013

DISPEPSIA

OLEH :
NURUL FADHILLAH
110208088

DIBAWAKAN DALAM RANGKA TUGAS KEPANITERAAN KLINIK


BAGIAN IKM-IKK FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA
MAKASSAR
2013

LAPORAN KASUS
I. IDENTITAS PASIEN
Nama

: An. RE

Umur

: 4 tahun

Jenis kelamin

: Laki-laki

Bangsa/suku

: Bugis

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Belum bekerja

Alamat

: Jln. Mawas 1, Makassar

Tanggal Pemeriksaan : 24 Oktober 2013


II. ANAMNESIS
Keluhan Utama

: Nyeri Ulu Hati

Ananmesis Terpimpin :
Nyeri Ulu Hati dialami kurang lebih 1 minggu yang lalu, dan memberat 3 hari
terakhir, tidak terus menerus, muntah (+) dialami 1 hari yang lalu dengan
frekuensi 1 kali, isi makanan dan cairan, 200 ml, darah (-), disertai rasa perih di
tenggorokannya. Muntah tidak menyemprot. Disertai mual sebelumnya. Demam
(+), dialami sejak tadi malam, batuk (-), sesak (-). Buang air besar lancar, buang
air kecil lancar. Pasien datang bersama ibunya. Hal ini baru pertama kali
dirasakan.
BAK: Lancar, kesan Normal
BAB: Biasa, kesan Normal
Riwayat penyakit sebelumnya : Belum pernah diperiksa
Riwayat penyakit keluarga :
Riwayat penyakit saluran pencernaan tidak diketahui
PEMERIKSAAN FISIS
Status present : Sakit sedang / gizi cukup/ composmentis
(BB = 12 kg, TB = 115 cm)

Tanda Vital

: TD= 110/70 mmHg P=22x/menit


N = 88x/menit

S=37,8oC

Kepala

: anemis (-), sianosis (-), ikterus (-)

Leher

: Dalam batas normal

Thorax

: Vesikuler, Rh -/-, Wh -/-

Cor

: SI/II reguler, murni

Abdomen

: Nyeri di Regio Epigastrium


Peristaltik (+) kesan normal

Ekstremitas

: Edema (-), dalam batas normal

PEMERIKSAAN PENUNJANG
Tidak dilakukan
DIAGNOSIS
Dispepsia
PENATALAKSANAAN
Pengobatan nonfarmakologi berupa saran kepada pasien untuk :
1. Makan secara teratur, mengonsumsi makanan berserat tinggi, bervitamin,
dan memperbanyak minum air putih.
2. Mengurangi konsumsi makanan berlemak, kecut, pedas, dan mengandung
gas, serta minuman berkafein seperti kopi dan teh pekat.
3. Mengontrol kesehatan secara teratur.
Pengobatan farmakologi yang diberikan adalah :
1. Antasida

3 x tab

2. Parasetamol

3 x tab

3. Vitamin BC/C

2 x tab

PEMBAHASAN PENYAKIT
DISPEPSIA
Definisi
Dispepsia merupakan gejala/simptom atau sindrom yang terdiri dari
keluhan nyeri ulu hati, kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang,
rasa penuh/ begah dan rasa panas/terbakar di dada/epigastrium. Keluhan ini tidak
perlu selalu semua ada pada tiap pasien, dan bahkan pada satu pasien pun keluhan
dapat bervariasi dari segi jenisnya ataupun kualitasnya dari waktu ke waktu.
Sindrom dispepsia ini secara garis besar dapat disebabkan oleh gangguan lokal
atau sistemik serta oleh gangguan yang bersifat organik atau fungsional.
Pengertian dispepsia terbagi dua, yaitu :
1. Dispepsia organik, bila telah diketahui adanya kelainan organik
sebagai penyebabnya. Sindroma dispepsi organik terdapat kelainan
yang nyata terhadap organ tubuh misalnya tukak (luka) lambung,
usus dua belas jari, radang pankreas, radang empedu, dan lain-lain.
2. Dispepsia nonorganik atau dispepsia fungsional, atau dispesia
nonulkus (DNU), bila tidak jelas penyebabnya. Dispepsi fungsional
tanpa disertai kelainan atau gangguan struktur organ berdasarkan
pemeriksaan klinis, laboratorium, radiologi, dan endoskopi.
Etiologi
Penyebab Dispepsia adalah :
-

Gangguan pada lumen saluran cerna: tukak peptik, tumor, gastritis, hiatus
hernia, esofagitis refluks.

Obat-obatan: anti-inflamasi nonsteroid, antibiotik, digitalis, teofilin.

Penyakit pada hati, pankreas, dan saluran empedu.

Penyakit sistemik: diabetes melitus, penyakit tiroid, penyakit jantung


koroner.

Fungsional: dispepsia fungsional atau dispepsia non-ulkus.

Mungkin disebabkan makanan yang mengiritasi mukosa lambung (kafein,


alkohol, makanan yang sulit dicerna, dan lain-lain).

Faktor mekanik seperti makan terlalu banyak, makan dengan cepat dan
kesalahan mengunyah mungkin menyebabkan timbulnya gejala-gejala.

Stress psikologis, kecemasan, atau depresi

Infeksi Helicobacter pylory

Gejala dan Tanda


Gejala dispepsia antara lain adalah :

Nyeri dan rasa tidak nyaman pada perut atas atau dada mungkin disertai
dengan sendawa dan suara usus yang keras (borborigmi). Pada beberapa
penderita, makan dapat memperburuk nyeri; pada penderita yang lain, makan
bisa mengurangi nyerinya.

Rasa penuh setelah makan dan flatulensi.

Heartburn; regurgitasi

Gejala lain meliputi nafsu makan yang menurun, mual, muntah, sembelit, dan
diare.

Diagnosis

Anamnestik akurat untuk menilai apakah keluhan ini lokal atau berdasarkan
gangguan sistemik.

Pemeriksaan fisis untuk mengidentifikasi kelainan intralumen yang padat


misalnya massa intraabdomen, tanda peritonitis, organomegali.

Laboratorium:

mengidentifikasi

adanya

faktor

infeksi

(leukositosis),

pankreatitis (amilase/lipase), keganasan (CEA, CA 19.9, AFP).

Ultrasonografi: pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi dengan baik kelainan


pada hati (sirosis hati, tumor), pankreas (pankreatitis), dan saluran empedu
(kolesistitis, batu).

Endoskopi: pemeriksaan ini sangat dianjurkan untuk segera dikerjakan bila


dispepsia tersebut disertai pula oleh adanya anemia, berat badan yang turun,

muntah hebat diduga adanya obstruksi, adanya muntah darah, atau keluhan
sudah lama dan terjadi pada usia > 45 tahun. Keadaan itu kita sebut sebagai
alarm symptom karena sangat dicurigai suatu keadaan gangguan organik
terutama keganasan. Pemeriksaan ini dapat mengidentifikasi kelainan organik
intra lumen seperti tukak, tumor, lesi inflamasi, adanya obstruksi saluran cerna
bagian atas. Endoskopi bisa digunakan untuk memeriksa esofagus, lambung
atau usus kecil dan untuk mendapatkan contoh jaringan untuk biopsi dari
lapisan lambung. Contoh tersebut kemudian diperiksa dibawah mikroskop
untuk mengetahui apakah lambung terinfeksi oleh Helicobacter pylori.

Barium enema untuk memeriksa esofagus, lambung atau usus halus dapat
dilakukan pada orang yang mengalami kesulitan menelan atau muntah,
penurunan berat badan atau mengalami nyeri yang membaik atau memburuk
bila penderita makan.

Penatalaksanaan
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat, yaitu:
1. Antasida
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan
menetralisir sekresi asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na
bikarbonat, Al(OH)3, Mg(OH)2, dan Mg triksilat. Pemberian antasid
jangan terus-menerus, sifatnya hanya simtomatis, unutk mengurangi
rasa nyeri. Mg triksilat dapat dipakai dalam waktu lebih lama, juga
berkhasiat sebagai adsorben sehingga bersifat nontoksik, namun
dalam dosis besar akan menyebabkan diare karena terbentuk senyawa
MgCl2.
2. Antagonis reseptor H2
Golongan obat ini banyak digunakan untuk mengobati dispepsia
organik atau esensial seperti tukak peptik. Obat yang termasuk
golongan antagonis respetor H2 antara lain simetidin, roksatidin,
ranitidin, dan famotidin.
3. Penghambat pompa asam (proton pump inhibitor = PPI)

Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir
dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan
PPI adalah omeperazol, lansoprazol, dan pantoprazol.
4. Untuk gejala mula dapat diberikan anti muntah seperti metoclopramide
atau domperidone.
5. Bila pasien terinfeksi Helicobater Pylori di lapisan lambungnya, maka
biasanya diberikan bismuth subsalisilate dan antibiotic seperti
Amoxicilin, Tetracycline, Metrondazole.
Pencegahan
Berikut ini adalah modifikasi gaya hidup yang dianjurkan untuk mengelola
dan mencegah timbulnya gangguan akibat dispepsia :
1. Atur pola makan seteratur mungkin.
2. Hindari makanan berlemak tinggi yang menghambat pengosongan isi
lambung
(coklat, keju, dan lain-lain).
3. Hindari makanan yang menimbulkan gas di lambung (kol, kubis, kentang,
melon, semangka, dan lain-lain).
4. Hindari makanan yang terlalu pedas.
5. Hindari minuman dengan kadar caffeine dan alkohol.
6. Hindari obat yang mengiritasi dinding lambung, seperti obat antiinflammatory, misalnya yang mengandung ibuprofen, aspirin, naproxen,
dan ketoprofen. Acetaminophen adalah pilihan yang tepat untuk mengobati
nyeri karena tidak mengakibatkan iritasi pada dinding lambung.
7. Kelola stress psikologi se-efisien mungkin.
8. Jika anda perokok, berhentilah merokok.
9.

Jika anda memiliki gangguan acid reflux, hindari makan sebelum waktu
tidur.

10. Hindari faktor-faktor yang membuat pencernaan terganggu, seperti makan


terlalu banyak, terutama makanan berat dan berminyak, makan terlalu
cepat, atau makan sesaat sebelum olahraga.

11. Pertahankan berat badan sehat


12. Olahraga teratur (kurang lebih 30 menit dalam beberapa hari seminggu)
untuk mengurangi stress dan mengontrol berat badan, yang akan
mengurangi dispepsia.
13. Ikuti rekomendasi dokter Anda mengenai pengobatan dispepsia. Baik itu
antasid, PPI, penghambat histamin-2 reseptor, dan obat motilitas.

DAFTAR PUSTAKA

1. Ariyanto, W.L. 2007. Mencegah Gangguan Lambung. [online 2005].


[Cited 2009 December]; available from www.kiatsehat.com
2. Edmundowicz SA, MD. Dyspepsia in Gastroenterology. McGraw-Hill.
Medical Publishing Division. New York. 2002
3. Holtmann, Gerald. 2006. A Placebo-Controlled Trial of Itopridein
Functional Dyspepsia. http://content.nejm.org/cgi/content/short/354/8/
832, 23 Februari 2006
4. Longstreth, George F. 2006. Functional Dyspepsia Managing the
Conundrum. [online 2005]. [Cited 2009 December]; available from
http://content.nejm.org/cgi/content/short/354/8/791
5. Mansjoer, Arif et al. 2007. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 1. Edisi
Ketiga. Jakarta.: 488-491
6. Price SA, Wilson LM. Patofisiologi Saluran Cerna. Dalam: Patofisiologi:
Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 1995. hal.357-388
7. Sudoyo, Aru W. dkk. Dispepsia Fungsional. Buku Ajar Ilmu Penyakit
Dalam. Edisi 4. Jilid I. Jakarta: FKUI;2006.
8. Seidel E, PhD. Disorders of the Stomatch in Gastointestinal System. East
Carolina University. Greenville, North Carolina. 2006.
9. Talley, Nicholas J., dkk.Guidelines for the Management of Dyspepsia.
[online 2005]. [Cited 2009 December]; available from
http://content.nejm.org/americanjournalofgastroenterology.