Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN KASUS

DIARE AKUT DENGAN DEHIDRASI SEDANG

Oleh :

IQBAL MARGI SYAFAAT


201510401011009

Pembimbing :
dr. Rachmat Hadi Santoso, Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG
RSUD JOMBANG
2016

DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL...............................................................................
DAFTAR ISI............................................................................................
LAPORAN KASUS.................................................................................
BAB 1 PENDAHULUAN.......................................................................
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA..............................................................
2.1. Definisi..............................................................................................
2.2 Etiologi..............................................................................................
2.3 Klasifikasi.........................................................................................
2.4 Patofisiologi.......................................................................................
2.5 Diagnosis...........................................................................................
2.6 Penatalaksanaan.................................................................................
BAB 3 PEMBAHASAN.........................................................................
BAB 4 KESIMPULAN...........................................................................
DAFTAR PUSTAKA

LAPORAN KASUS
DIARE

Identitas :
Nama : An. Diajeng
Umur : 11bulan
Jenis Kelamin : Perempuan
Bangsa : Indonesia
Suku : Jawa
Alamat : Diwek
MRS : 27-09-2019 pkl 17.00

Summary Of Database
Keluhan Utama : BAB Cair
Riwayat Penyakit Sekarang :
-

Pasien kiriman dari IGD dengan diagnosis Diare akut + Dehidrasi sedang

Bab cair sejak kemaren (26/09/2016)

Bab cair sebanyak 6-7 kali, berampas, lendir (-), darah (-), warna kuning

Mual (+), muntah (+) 2 kali, muntah isi susu dan makanan

Minum masih mau / lahap kuat.

Panas (+ ) sumer sumer sejak kemaren (25/09/2015)

Batuk pilek (+) sejak tgl 25/09/2016

Riwayat Penyakit Dahulu :


-

Riwayat BAB lembek sebelumnya (+)

Alergi (-)

Riwayat Penyakit Keluarga :


-

Tidak ada keluarga yang menderita seperti ini

Riwayat Penyakit Sosial :


-

Riwayat imunisasi lengkap sesuai jadwal

Lahir normal di bidan

Susu formula (+) sejak usia 6 bulan

Sumber air dirmah : sumur

Status Gizi :
BB : 8,2kg
TB : 67 cm
Status gizi : baik
Pemeriksaan Fisik
Keadaan Umum : Lemah
Tanda-tanda vital :
Nadi :120 x/mnt
RR : 24 x/mnt
Suhu : 37,8 C
Kepala : a/i/c/d = -/-/-/mata cekung, bibir kering
Pulmo :
Inspeksi : simetris, retraksi (-)
Palpasi : ekspansi dinding dada simetris
Perkusi : sonor
Auskultasi : ves +/+, Rh -/-, Wh -/Cor :
Inspeksi : iktus cordis (-)

Palpasi : iktus tidak teraba,


Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi : S1 S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-)
Abdomen :
Inspeksi : flat
Palpasi : soefl, hepar/lien tidak teraba, turgor kulit menurun
Perkusi : tympani
Auskultasi : bising usus (+) meningkat
Ekstremitas : Akral hangat +/+, crt < 2dtk
Pemeriksaan Laboraturium :
Darah lengkap (11/08/2015) :
-

Hb : 13,2

Leukosit : 5.700

Hematokrit : 37,8

Eritrosit : 5.060.000

Trombosit : 467.000

Serum elektrolit :
Cl : 101
Na : 139
K : 4,25
GDS : 95
Clue and Cue :
-

perempuan,11 bln

BAB cair 6-7 kali, berampas, warna kuning

Nausea

Vomiting

mata cekung, bibir kering

Turgor kulit menurun

Bunyi usus (+) meningkat

Makan minum mau

Gizi baik

Problem list :
-

Diare akut

Dehidrasi sedang

Initial diagnosis : Dehidrasi sedang e.c diare akut dengan gizi baik
Planing diagnosis : Planing terapi :
-

Inf. Kaen 3B 450cc 6 jam pertama

Maintenance : Inf. Kaen 3B 800cc/24jam

Inj. Pyrex 2x 8cc

Zink tablet 1 x 20 mg

L- Bio 2 x 1

Konsul ahli gizi

Planing monitoring :
-

Keluhan utama (frekuensi diare, konsistensi, mual, muntah)

Tanda-tanda dehidrasi

Tanda-tanda pebaikan makan dan minum

Tanda-tanda vital

Planing edukasi :
-

Menjelaskan kepada keluarga mengenai penyakit pasien

Menjelaskan bahwa anak tidak boleh dipuasakan, susu tetap diberikan,


makanan sedikit-sedikit tapi sering , rendah serat, buah-buahan diberikan .

Menjelaskan komplikasi diare berupa dehidrasi

Menjelaskan tentang terapi yang akan diberikan.

Menjelaskan pencegahan agar anak tidak terjangkit diare kembali.

Tgl

27-9-2016 (H1)

28-89-20156 (H2)

29-89-2016 (H3)

Bab cair 6x (+)


Muntah (+) jika minum.
Kejang (-)
Panas (+)
Minum mau, rewel.

Bab kental 2x (+)


Muntah (-)
Kejang (-)
Panas (-)
Minum mau makan mau

Ku : Cukup
TTV : N: 120 Tax : 39
RR : 24
Kepala : a/i/c/d -/-/-/- mata
cekung, bibir kering.
Thorak :
P : simetris, sonor,
Vesikular (+/+) Rh (-/-),
Wh (-/-)
C : S1S2 tunggal
Abdomen : Soefl, BU (+)
meningkat, turgor kulit
menurun
Ekstrimitas : akral hangat
(+/+), CRT 2
Diare akut
Dehidrasi sedang
Inf. Kaen 3b 450cc/6 Jam
Lanjut 800cc/24jam
Inj. Pyrex 2x20 cc
L-bio 2x1
Zinc 1x1
Susu 8 x 100 cc

Bab kental 2x (+)


Muntah (-)
Kejang (-)
Panas (-)
Minum mau makan
berkurang
Ku : Cukup
TTV : N: 110 Tax : 37,5 RR
: 22
Kepala : a/i/c/d -/-/-/- bibir
kering.
Thorak :
P : simetris, sonor, Vesikular
(+/+) Rh (-/-), Wh (-/-)
C : S1S2 tunggal
Abdomen : Soefl, BU (+)
meningkat, turgor kulit
normal
Ekstrimitas : akral hangat
(+/+), CRT 2
Diare akut
Dehidrasi ringan
Inf. Kaen 3b 800 cc/24 jam
Inj. Pyex 1x20 (k/p)
L-bio 2x1
Zinc 1x1
Susu 8 x 100 cc

Diare akut
Tanpa dehidrasi
Aff Infus
L-bio 2x1
Zinc 1x1
Susu 8 x 100 cc
KRS

A
P

Ku : Cukup
TTV : N: 110 Tax : 37,2
RR : 24
Kepala : a/i/c/d -/-/-/Thorak :
P : simetris, sonor, Vesikular
(+/+) Rh (-/-), Wh (-/-)
C : S1S2 tunggal
Abdomen : Soefl, BU (+)
meningkat, turgor kulit
normal
Ekstrimitas : akral hangat (+/
+), CRT 2

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 DEFINISI
Diare adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan
konsistensi cair . Diare akut adalah episode diare yang berlangsung kurang dari 1
minggu, sedangkan diare persisten adalah episode diare yang diperkirakan
penyebabnya adalah infeksi dan mulainya sebagai diare akut tetapi berakhir lebih
dari 14 hari, serta kondisi ini menyebabkan malnutrisi dan berisiko tinggi
menyebabkan kematian (IDAI,2011).
Diare masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di negara berkembang
termasuk di Indonesia dan merupakan salah satu penyebab kematian dan
kesakitan pada anak, terutama usia di bawah 5 tahun. Di dunia, sebanyak 6 juta
anak meninggal setiap tahunnya karena diare dan sebagian besar kejadian tersebut
terjadi di negara berkembang. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar
(Riskesdas) 2007 diperoleh bahwa diare masih merupakan penyebab kematian
bayi terbanyak yaitu 42% dibandingkan pnemonia 24%, untuk golongan usia 1
4 tahun penyebab kematian karena diare 25% dibandingkan pnemonia (IDAI,
2011).

2.2 ETIOLOGI
Diare disebabkan oleh faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan
zat gizi), makanan dan faktor psikologis
a. Faktor infeksi

Infeksi pada saluran pencernaan merupakan penyebab utama diare pada


anak-anak. Jenis-jenis infeksi yang dapat menyebabkan diare antara lain :
-

Infeksi oleh bakteri Eschericia coli, Salmonella, Vibrio cholera, Shigella,


dan serangan bakteri lain yang jumlahnya berlebihan dan patogenik seperti
pseudomonas.

Infeksi basil (disentri)

Infeksi virus (rotavirus)

Infeksi parasit oleh cacing (Ascaris lumbricoides)

Infeksi amoeba (amebiasis)

Infeksi akibat organ lain, seperti peradangan tonsil, bronchitis, dan


faringitis

Keracunan makanan

b. Faktor malabsorbsi
Malabsorbsi dibagi menjadi dua, yaitu malabsorbsi karbohidrat dan lemak.
Pada bayi malabsorbsi karbohidrat dapat terjadi karena kepekaan terhadap
lactobacillus dalam susu formula. Sedangkan malabsorbsi lemak terjadi bila tidak
ada lipase dan terjadi kerusakan mukosa usus, diare dapat muncul karena lemak
tidak terserab dengan baik.
c. Faktor makanan
Kriteria makanan yang dapat menyebabkan diare adalah, makanan yang
terontaminasi, tercemar, basi, beracun, terlalu banyak lemak, dan kurang matang.
d. Faktor psikologis
Rasa takut, cemas, tegang dapat menyebabkan diare kronis. Tetapi
umumnya terjadi pada anak yang lebih besar.

2.3 KLASIFIKASI
Menurut WHO, diare dapat diklasifikasikan menjadi :
a. Diare akut merupakan episode diare yang berlangsung kurang dari 1
minggu. Penyebab terbanyak usia 0-2 tahun adalah rotavisus.
b. Diare persisten adalah diare yang

berlangsung

lebih dari 2 minggu

dengan penyebab infeksi


c. Diare kronis merupakan kategori luas dari kondisi diare, termasuk diare
dengan etiologi non infeksi, yang berlangsung lebih dari 2 minggu.

Gejala khas diare akut oleh berbagai penyebab


Gejala

Rotavir

Shigella

Salmonell ETEC

EIEC

Klinis
Masa

us
17-72

24-48

a
6-72 jam

6-72 jam 47-72

tunas
Panas
Mual

jam
+
Sering

jam
++
Jarang

Muntah
Nyeri

Tenesmu

perut
Nyeri
kepala
Lamanya

++
Sering

6-72 jam

Kolera

jam
-

++
-

Tenesmu Tenesmus

Tenesmu Sering

s
-

s kramp
+

kolik
+

s kramp
-

kramp
-

5.7 Hari

>7 hari

3-7 hari

2-3 hari

Variasi

3 hari

Sifat Tinja
Sedikit
Banyak
Sering
Sering

Sedikit
Sering

Banyak
Terus

sakit
Volume
Frekuensi

Konsisten

Sedang
5-10

Sedikit
>10

x/hari

x/hari

meneru

Lembek

s
Cair

Cair

Lembek

Cair

Lembek

10

si
Darah
Bau
Warna

Langu

sering

Kuning

Merah

hijau

hijau

Kadang
Busuk
Kehijauan

+
-

Amis

Tak

Merah

khas
Seperti

berwarna

hijau

air
cucian

Leukosit
Lain lain

Anoreksi

+
Kejang

+
Sepsis +

Meteorism

Infeksi

us

sistemik

beras

2.4 PATOFISIOLOGI
Patofisiologi diare yang disebabkan oleh virus, pada awalnya virus masuk
ke dalam tubuh melalui makanan dan minuman sampai ke enterosit.virus yang
masuk akan menyebabkan infeksi dan mengerosif villi usus halus (terletak di
duedonum dan jejunum). Enterosit yang rusak diganti dengan yang baru, dimana
fungsi masih belum matang. Villi pada akhirnya mengalami atrofi dan tidak dapat
mengabsorbsi cairan dan makanan dengan baik, sehingga timbul diare akibat
terjadi peningkatan tekanan koloid osmotik usus dan meningkatkan motilitasnya.
Sedangkan patofisiologi diare yang diakibatkan oleh bakteri terjadi melalui
salah satu mekanisme yang berhubungan dengan pegaturan transport ion dalam
sel-sel usus cAMP, cGMP, an Ca dependen. Diare yang disebabkan oleh bakteri
antara lain oleh Salmonella, Shigella, E colli pada prinsipnya sama dengan diare
akibat virus, akan tetapi yang membedakan adalah bakteri dapat menembus
(invasi) ke sel mukosa usus halus sehingga dapat menyebabkan reaksi sistemik

11

seperti demam. Diare akibat toksin shigella dapat masuk ke serabut syaraf
sehingga dapat meningkatkan risiko terjadinya kejang pada anak.

2.5 DIAGNOSIS
a. Anamnesis
-

Perjalanan penyakit diare harus ditanyakan secara jelas :


-

Lamanya diare berlangsusng

Kapan diare muncul (saat neonatus, bayi atau anak-anak) untuk


mengetahui apakah termasuk diare kongenitasl atau didapat

Frekuensi BAB, konsistensi feses, ada tidaknya darah dalam feses.

Adanya muntah, rasa haus, rewel, anak lemah, kesadaran menurun,


buang air kecil terakhir, demam, sesak, kejang, kembung

Jumlah cairan yang masuk selama diare

Jenis makanan dan minuman yang diminum selama diare,


mengkonsumsi makanan yang tidak biasa

Penderita diare di sekitarnya dan sumber air minum.

Mencari faktor-faktor risiko penyebab diare, antara lain :


-

Tidak diberikannya ASI atau ASI tidak eksklusif dalam 6 bulan


pertama kehidupan.

Riwayat

makanan

adanya

faktor-faktor

modifikasi

yang

mempengaruhi BAB seperti diet (untuk memperkirakan termasuk


diare osmotik atau diare sekretorik) atau stress
-

Riwayat kecil masa kehamilan

12

Jenis kelamin laki-laki

Riwayat diare dalam dua bulan terakhir (yang menunjukkan ada


masalah dalam sistem imunologi anak).

Tanda-tanda adanya penyakit sistemik, pneumonia, di daerah


endemis HIV

Riwayat pemberian antimikroba atau antiparasit yang tidak


diperlukan sebelumnya

Gejala penyerta : sakit perut, kembung, bnyak gas, gagal tumbuh

Riwayat pembedahan usus dapat mengakibatkan striktur intestinal, adhesi


atau hilangnya valvula ileocecal. Semuanya ini dapat menyebabkan
terjadinya small bowel bacterial overgrowth yang merupakan faktor risiko
terjadinya diare persisten.

Riwayat bepergian, tinggal di tempat penitipan anak

Riwayat dehidrasi berat selama dalam perawatan

Riwayat penggunaan nutrisi parenteral total

b. Pemeriksaan Fisik
-

Keadaan umum, kesadaran dan tanda vital

Tanda utama : keadaan umum gelisah/cengeng/ lemah/ letargi/ koma,


rasa haus, turgor kulit abdomen menurun

Tanda tambahan : ubun-ubun besar, kelopak mata, air mata, mukosa


bibir, mulut dan lidah

Berat badan

13

Tanda gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit, seperti nafas


cepat dan dalam (asidosis metabolik), kembung (hipokalemia), kejang
(hipo atau hipernatremia)

Penilaian derajat dehidrasi dilakukan sesuai dengan kriteria berikut :


Tanpa dehidrasi (kehilangan cairan < 5% berat badan)
-

Tidak ditemukan tanda utama dan tanda tambahan

Keadaan umum baik, sadar

Ubun-ubun besar tidak cekung, mata tidak cowong, air mata


ada, mukosa mulut dan bibir basah)

Turgor abdomen baik, bising usus normal

Akral hangat

Dehidrasi ringan-sedang/ tidak berat (kehilangan cairan 510% berat badan)


-

Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah 2 atau lebih tanda


tambahan

Keadaan umum gelisah atau cengeng

Ubun-ubun besar sedikit cekung, mata sedikit cowong, air mata


kurang, mukosa mulut dan bibir sedikit kering)

Turgor abdomen kurang

Akral hangat

Dehidrasi berat (kehilangan cairan > 10% berat badan)

14

Apabila didapatkan 2 tanda utama ditambah dengan 2 atau lebih


tanda tambahan

Keadaan umum lemah, letargi atau koma

Ubun-ubun besar sangat cekung, mata sangat cowong, air mata


tidak ada, mukosa mulut dan bibir kering)

Turgor abdomen kurang

Akral dingin

Pasien harus rawat inap

Penilaian status gizi, dan status perkembangan anak

Edema mungkin menunjukkan adanya protein losing enteropathy yang


merupakan

akibat

sekunder

dari

inflamatory

bowel

disease,

lymphangiektasia atau colitis


-

Perianal rash merupakan akibat dari diare yang memanjang atau


merupakan tanda dari malabsorbsi karbohidrat karena feses menjadi
bersifat asam

Tanda-tanda malnutrisi seperti cheilosis, rambut merah jarang dan


mudah dicabut, lidah yang halus, badan kurus, boggy pants.

c. Pemeriksaan penunjang
-

Pemeriksaan darah lengkap, hitung jenis lekosit, serum imunoglobulin


untuk mengevaluasi adanya defisiensi imun, HIV testing, KED
(Kecepatan Endap Darah), CRP, albumin, ureum darah, elektrolit, tes
fungsi hati, vitamin B12, vitamin A, D, dan E, folat, kalsium, feritin,
waktu protrombin (petanda untuk defisiensi vitamin K) untuk
mengevaluasi gangguan nutrisi akibat diare yang berkepanjangan.

15

Analisis gas darah dan elektrolit bila secara klinis dicurigai adanya
gangguan keseimbangan asam basa dan elektrolit

Pemeriksaan tinja tidak rutin dilakukan pada kasus diare akut, kecuali
apabila ada tanda intoleransi laktosa dan kecurigaan amubiasis. Hal
yang dinilai pada pemeriksaan tinja : makroskopis (konsistensi, warna,
lendir, darah, bau), mikroskopis (leukosit, eritrosit, parasit, bakteri),
kimia : pH, elektrolit (Na, K, HCO3), Biakan dan uji sensitifitas (tidak
dilakukan pada kasus diare akut)

Kultur feses: patogen yang sering ditemukan pada diare persisten


adalah E. coli (EPEC), Salmonella, enteroaggregative E. Coli (EAEC),
Klebsiella, Aeromonas, Amebiasis, Campylobacter, Shigella, Giardiasis
dan Cryptosporidium (antigen testing), Rotavirus (Elisa).

Tes enzim pankreas seperti tes fecal elastase untuk kasus yang diduga
sebagai insufisiensi pankreas. pH tinja < 5,5 atau adanya substansi yang
mereduksi (glukosa, fruktosa, laktosa) pada pemeriksaan tinja,
membantu mengarahkan kemungkinan intoleransi laktosa.

Osmolalitas feses dan elektrolit feses untuk menghitung osmotik gap


dapat membantu membedakan antara diare osmotik dengan diare
sekretorik. Osmotic gap dihitung dengan rumus: 290 2 (Na+ + K+).
Osmotic gap > 50 mOsm menunjukkan diare osmotik.

Pemeriksaan radiologi sedikit digunakan pada kasus diare persisten,


barium meal dapat menunjukkan nodularitas, striktur dengan dilatasi
proksimal usus yang bisa merupakan tempat small bacterial
overgrowth yang dapat menyebabkan diare.

16

Endoskopi dapat digunakan untuk mengevaluasi beberapa kasus diare


persisten. Endoskopi dan kolonoskopi dengan biopsi digunakan untuk
mengevaluasi pasien yang dicurigai mengalami inflammatory bowel
disease.

Breath hydrogen test atau pemberian susu bebas laktosa sementara


waktu dapat dikerjakan pada pasien yang dicurigai intoleransi laktosa.

2.6 PENATALAKSANAAN
Pada diare akut, dikenal dengan lintas diare, antara lain :
(1) Berikan oralit
(2) Berikan tablet zink selama 10 hari berturut-turut
(3) Teruskan asi-makan
(4) Berikan antibiotik secara selektif
(5) Berikan nasihat pada ibu/keluarga
Sedangkan pada diare persisten yang disertai dengan gangguan

nutrisi

harus selalu dianggap sebagai penyakit yang serius, dan terapi harus segera
dimulai. Terapi dapat dibagi menjadi (1) tindakan suportif umum, (2) rehabilitasi
nutrisi dan (3) obat.
2.6.1

Pemberian Cairan
Kematian akibat diare paling sering disebabkan oleh dehidrasi, maka

intervensi awal yang paling utama adalah penggantian cairan dan elektrolit yang
hilang. Rehidrasi paling baik dilakukan dengan cairan rehidrasi oral, termasuk
pemberian

oralit. Jenis oralit memiliki formula baru yang berbeda dengan

17

formula lama, perbedaannya pada tingkat osmolaritasnya, dimana pada oralit baru
osmolaritasnya lebih rendah dari pada oralit lama.

a. Tanpa Dehidrasi
-

Cairan rehidrasi oralit dengan menggunakan new oralit diberikan 5-10


mL/kgBB setiap kali diare cair atau berdasarkan usia, yaitu umur <1
tahun sebanyak 50-100 mL, umur 1-5 tahun sebanyak 100-200 mL dan
umur > 5 tahun semaunya. Dapat diberikan cairan rumah tangga sesuai
kemauan anak. ASI harus tetap diberikan.

Pasien dapat dirawat di rumah sakit, kecuali apabila terdapat komplikasi


lain (tidak mau minum, muntah terus menerus, diare profus)

18

b. Dehidrasi ringan-sedang
-

Cairan rehidrasi oral (CRO) hipoosmolar diberikan sebanyak 75 mL/kgBB


dalam 3 jam untuk mengganti kehilangan cairan yang telah terjadi dan
sebanyak 5-20 mL/kgBB setiap diare cair.

Rehidrasi parenteral diberikan bila anak muntah setiap diberi minum


walaupun telah diberikan dengan cara sedikit demi sedikit atau melalui
pipa nasogatrik. Cairan intravena yang diberikan adalah ringerlaktat atau
KaEN 3B atau NaCl dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan berat
badan. Status hidrasi dievaluasi secala berkala.

Berat badan 3-10 kg : 200mL/kgBB/hari

Berat badan 10-15 kg : 175 mL/kgBB/hari

Berat badan > 15kg : 135 mL/kgBB/hari

Pasien dipantau di Puskesmas/Rumah sakit selama proses rehidrasi sambil


memberi edukasi tentang melakukan rehidrasi kepada orangtua.

19

c. Dehidrasi berat
-

Diberikan cairan rehidrasi parenteral dengan ringer laktat atau ringer asetat
100 mL/kgBB dengan cara pemberian :

Umur < 12 bulan : 30 mL/kgBB dalam 1 jam pertama, dilanjutkan 70


mL/kgBB dalam 5 jam berikutnya.

20

Umur > 12 bulan : 30 mL/kgBB dalam jam pertama, dilanjutkan 70


mL/kgBB dalam 2,5 jam berikutnya

Masukkan cairan peroral diberikan bila pasien sudah mau dan dapat
minum, dimulai dengan 5 mL/kgBB selama proses rehidrasi.

21

2.6.2 Seng
Seng terbukti secara ilmiah terpercaya dapat menurunkan frekuensi buang
air besar dan volume feses sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya dehidrasi
pada anak. Seng Zing elemental diberikan selama 10-14 hari meskipun anak telah
tidak mengalami diare dengan dosis :
-

Umur < 6 bulan : 10 mg/hari

Umur > 6 bulan : 20 mg/hari

Hubungan defisiensi seng, malnutrisi dan diare

22

2.6.3 Nutrisi
ASI dan makanan dengan menu yang sama saat anak sehat sesuai umur
tetap diberikan untuk mencegah kehilangan berat badan dan sebagai pengganti
nutrisi yang hilang. Adanya perbaikan nafsu makan menandakan fase
kesembuhan. Anak tidak boleh dipuasakan, makanan sedikit-sedikit tapi sering
(lebih kurang 6 x/hari), rendah serat, buah-buahan diberikan terutama pisang.
Rehabilitasi nutrisi sangatlah penting pada anak malnutrisi yang mengalami
infeksi usus. Sejumlah kalori yang cukup harus selalu disediakan. Pemasukan
kalori dinaikkan secara bertahap sampai 50% atau lebih di atas RDA
(Recomended Daily Allowance) untuk umur dan jenis kelamin. Pemberian kalori
dimulai dari 75 kkal/kgBB/hari dinaikkan bertahap sebesar 25 kkal/kgBB/hari
sampai bisa mencapai 200 kkal/kgBB/hari.
Untuk anak yang tidak dapat menerima volume makanan dalam jumlah
yang banyak, kepadatan kalori dapat ditingkatkan dengan penambahan lemak atau
karbohidrat, tetapi kapasitas absorpsi usus harus selalu dimonitor. Susu bebas
laktosa sebaiknya diberikan pada semua anak dengan diare persisten yang tidak
mendapat ASI.
Vitamin A, asam folat, besi, vitamin B12, zinc bekerja pada mukosa
intestinal dan respons imun sehingga harus diberikan pada pasien diare persisten.
Pasien diare persisten rentan terhadap kekurangan mikronutrien, diakibatkan
asupan nutrisi yang tidak adekuat dan pembuangan mikronutrien melalui defekasi.
Suplementasi multivitamin dan mineral harus diberikan minimal dua RDA
(Recommended Daily Allowances) selama dua minggu. Satu RDA untuk anak
umur 1 tahun meliputi asam folat 50 mikrogram, zinc 10 mg, vitamin A 400

23

mikrogram, zat besi 10 mg, tembaga 1 mg dan magnesium 80 mg. WHO (2006)
merekomendasikan suplementasi zinc untuk anak berusia 6 bulan sebesar 10 mg
dan untuk anak berusia >6 bulan sebesar 20 mg, dengan masa pemberian 10 14
hari.
2.6.4 Medikamentosa
-

Tidak boleh diberikan obat anti diare

Antibiotik
Antibiotik diberikan bila ada indikasi, misalnya disentri (diare berdarah)

atau kolera. Pemberian antibiotik yang tidak rasional akan mengganggu


keseimbangan flora usus sehingga dapat memperpanjang lama diare dan
Clostridium difficle akan tumbuh yang menyebabkan diare sulit disembuhkan.
Selain itu, pemberian antibiotik yang tidak rasional dapat mempercepat resistensi
kuman terhadap antibiotik. Untuk disentri basiler, antibiotik diberikan sesuai
dengan data sensitivitas setempat. Bila tidak memungkinkan dapat menggunakan
kotrimoksazol sebagai lini pertama, bila telah resisten gunakan sefiksim.
-

Antiparasit
Metronidazol 50 mg/kgBB/hari dibagi dalam 3 dosis merupakan obat

pilihan untuk amuba vegetatif

2.6.5 Edukasi
Orangtua diminta untuk membawa kembali anaknya ke Pusat Pelayanan
Kesehatan bila ditemukan hal sebagai berikut : demam, tinja berdarah, makan atau
minum sedikit, sangat haus, diare makin sering, atau belum membaik dalam 3

24

hari. Orangtua dan pengasuh diajarkan cara menyiapkan oralit secara benar.
Langkah promotif/ prefentif :
-

ASI tetap diberikan

Kebersihan perorangan, cuci tangan sebelum makan

Kebersihan lingkungan, buang air besar

Imunisasi campak

Memberikan makanan yang benar

Penyedian air minum yang bersih

Selalu memasak makanan.

BAB 3
PEMBAHASAN

Pasien An. Diajeng, usia 11bulan dari anamnesis pada tanggal 27-08-2015
didapatkan bab cair sejak kemaren (10/08/2015). Bab cair sebanyak 6- 7 kali,
berampas, lendir (-), darah (-), warna kuning. Mual (+), muntah (+) 2 kali, muntah
isi susu dan makanan. Makan dan minum masih mau / lahap. Selain itu pasien

25

juga terdapat panas (+) sejak kemaren (10/08/2015) . ada riwayat bab cair
sebelumnya dan tidak ada keluarga yang menderita seperti ini.
Pada pemeriksaan fisik kepala didapatkan mata cekung, bibir kering. Tidak
didapatkan anemis, ikterus, sianosis maupun dyspneu. Pada pemeriksaan
abdomen, didapatkan abdomen, soefl, hepar/lien tidak teraba, turgor kulit
menurun, dan bisingusus (+) meningkat. Sedangkan

pemeriksaan lain dalam

batas normal.
Pasien datang dengan keluhan diare sebanyak 6-7 kali, konsistensi cair,
sedikit cair, berwarna kuning. Diare muncul sejak 1 hari yang lalu. Diare ini
termasuk diare jenis diare akut. Diare akut adalah episode diare yang berlangsung
kurang dari 1 minggu, sedangkan diare persisten adalah episode diare yang
diperkirakan penyebabnya adalah infeksi dan mulainya sebagai diare akut tetapi
berakhir lebih dari 14 hari, serta kondisi ini menyebabkan malnutrisi dan berisiko
tinggi menyebabkan kematian. Diare dapat disebabkan oleh multifaktor, antara
lain oleh faktor infeksi, malabsorbsi (gangguan penyerapan zat gizi), makanan
dan faktor psikologis.
Untuk menegakkan diagnosis diperlukan anamnesis yang tepat. Seperti
perjalanan penyakit diare, mencari faktor-faktor risiko penyebab diare, serta
riwayat penyerta yang lain. Selain itu perlu ditanyakan keinginan anak untuk
minum, serta tanda-tanda dehidrasi yang merupakan komplikasi dari diare.
Penatalaksanaan awal adalah dengan mengatasi dan memperbaiki keadaan umum,
seperti rehidrasi oral tergantung dari tingkat dehidrasi anak. Pemberian rehidrasi
oral yang tepat dengan jumlah yang memadai merupakan modal utama untuk
mencegah terjadinya dehidrasi. Akan tetapi pada anak ini, tidak didapatkan

26

pemberian rehidrasi yang tepat, sehingga ketika MRS pasien sudah jatuh pada
kondisi dehidrasi sedang.
Pemberian Zink dianjurkan karena terbukti dapat menurunkan frekuensi
buang air besar dan volume feses sehingga dapat menurunkan risiko terjadinya
dehidrasi pada anak dengan dosis 1 x 20 mg/hari.
Pemantauan diperlukan untuk memantau tumbuh kembang anak sekaligus
memantau perkembangan hasil terapi.

BAB 4
KESIMPULAN

Diare adalah buang air besar lebih dari 3 kali dalam 24 jam dengan
konsistensi cair .Diare akut adalah episode diare yang berlangsung kurang dari 1
minggu, sedangkan diare persisten adalah episode diare yang diperkirakan
penyebabnya adalah infeksi dan mulainya sebagai diare akut tetapi berakhir lebih

27

dari 14 hari, serta kondisi ini menyebabkan malnutrisi dan berisiko tinggi
menyebabkan kematian. Pada Pasien An. Azzahra, usia 2 tahun 6 bulan dari
anamnesis pada tanggal 11-08-2015 didapatkan bab cair sejak kemaren
(10/08/2015). Bab cair sebanyak 6- 7 kali, berampas, lendir (-), darah (-), warna
kuning. Mual (+), muntah (+) 2 kali, muntah isi susu dan makanan. Makan dan
minum masih mau / lahap. Selain itu pasien juga terdapat panas (+) sejak kemaren
(10/08/2015) .ada riwayat bab cair sebelumnya dan tidak ada keluarga yang
menderita seperti ini.
Pada pemeriksaan fisik kepala didapatkan mata cekung, bibir kering. Tidak
didapatkan anemis, ikterus, sianosis maupun dyspneu. Pada pemeriksaan
abdomen, didapatkan abdomen, soefl, hepar/lien tidak teraba, turgor kulit
menurun, dan bisingusus (+) meningkat. Sedangkan

pemeriksaan lain dalam

batas normal.

Berdasarkan

hasil

anamnesis,

pemeriksaan

fisik

dan

pemeriksaan

penunjang, dapat ditegakkan diagnosis diare akut dengan komplikasi berupa


dehidrasi sedang.

28

DAFTAR PUSTAKA

1. IDAI. (2009). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia.


Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
2. IDAI. (2011). Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia
Edisi II. Jakarta: Badan Penerbit IDAI.
3. Setiawan, B. (2009). Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat
Penerbit Ilmu Penyakit Dalam.

29

4. WHO. 2009.Pelayanan kesehatan anak di rumah sakit rujukan tingkat


pertama ; alih bahasa, Tim adaptasi Indonesia. Jakarta:WHO Indonesia.
5. Siswidiasari, A., Ketut, &Sagung. (2014). Profil Terapi Obat pada Pasien
Rawat Inap dengan Diare Akut pada Anak di Rumah Sakit Umum Negara.
JurnalKimia, 2 (8), 183-190.
6. Firmansyah A. Terapi probiotik dan prebiotik pada penyakit saluran
cerna.dalam Sari pediatric Vol 2,No. 4 maret 2001

30