Anda di halaman 1dari 16

AKUNTANSI SOSIAL DAN LINGKUNGAN

ABSTRAK
Akuntansi sosial dan lingkungan adalah proses mengkomunikasikan dampak sosial
dan lingkungan dari tindakan ekonomi. Akuntansi sosial dan lingkungan bertujuan untuk
mengontrol tanggung jawab perusahaan. Teori yang digunakan dalam akuntansi sosial dan
lingkungan adalah teori ekonomi politik, teori legitimasi, teori stakeholder dan teori
institusional. Bentuk pelaporan akuntansi sosial dan lingkungan yaitu dengan Triple Bottom
Line, Global Reporting Initiative (GRI) dan Audit Sosial. Pengungkapan sosial perusahaan
ini akan membantu pemakai laporan keuangan untuk menganalisis sejauh mana perhatian dan
tanggung jawab sosial perusahaan dalam menjalankan bisnis.
1.

PENDAHULUAN
Akuntansi sosial dan lingkungan sekarang ini telah menjadi sorotan para akuntan.

Akuntansi sosial dan lingkungan adalah proses mengkomunikasikan dampak sosial dan
lingkungan dari tindakan ekonomi. Akuntansi ini menjadi penting karena perusahaan perlu
menyampaikan informasi mengenai aktivitas sosial terhadap lingkungan kepada stakeholder
perusahaan. Perusahaan tidak hanya menyampaikan informasi mengenai keuangan saja
melainkan informasi sosial. Informasi sosial ini dilakukan sebagai bentuk kepedulian
perusahaan terhadap lingkungan sehingga untuk menarik para calon investor atau kreditor
untuk menanamkan saham di perusahaan tersebut. Perusahaan tidak dapat dipisahkan dengan
masyarakat karena mempunyai hubungan (timbal balik) antara perusahaan dengan
masyarakat. Dengan adanya hal itu perusahaan memberikan kontribusinya terhadap
lingkungan di sekitar perusahaan.
Keberhasilan akuntansi sosial dan lingkungan tidak hanya pada ketepatan dalam
mengatur biaya-biaya yang dibuat perusahaan tetapi kemampuan dan keakuratan data
akuntansi perusahaan dalam menekan dampak lingkungan yang disebabkan dari aktifitas
perusahaan. Perusahaan yang berorientasi pada laba akan berusaha menggunakan sumber
daya semaksimal mungkin yang berakibat pada dampak lingkungan baik secara positif
maupun secara negatif. Dampak negatif yang paling sering ditemukan dari dampak
operasional perusahaan adalah polusi udara, limbah produksi, kesenjangan dan lain
sebagainya. Dengan adanya hal tersebut perlu mengembangkan akuntansi sosial dan
lingkungan yang bertujuan untuk mengontrol tanggung jawab perusahaan.
1

Banyaknya perhatian akuntan mengenai persoalan akuntansi sosial dan lingkungan


menjadi penting untuk dipertimbangkan dalam mengungkapkan informasi perusahaan yang
berguna untuk mencapai keberhasilan dalam penerapan akuntansi lingkungan. Manajemen
perusahaan harus mengatur adanya kesesuaian antara evaluasi yang dibuat perusahaan
terhadap dampak lingkungan yang ditimbulkan. Kemudian menentukan apa yang menjadi
target perusahaan dengan cara mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berdampak pada
lingkungan perusahaan serta menyusun suatu perencanaan untuk mengurangi dampak
lingkungan. Pengungkapan sosial perusahaan ini akan membantu pemakai laporan keuangan
untuk menganalisis sejauh mana perhatian dan tanggung jawab sosial perusahaan dalam
menjalankan bisnis.
2.

PEMBAHASAN
Istilah Akuntansi Sosial (Social Accounting) sebenarnya bukan merupakan istilah

baku dalam akuntansi. Para pakar akuntansi membuat istilah masing-masing untuk
menggambarkan transaksi antara perusahaan dengan lingkungannnya. Ramanathan (1976)
dalam Arief Suadi (1988) mempergunakan istilah Social Accounting dan mendefinisikannya
sebagai proses pemilihan variabel-variabel yang menentukan tingkat prestasi sosial
perusahaan baik secara internal maupun eksternal. Sementara itu Belkoui dalam Harahap
(1993) membuat suatu terminologi Socio Economic Accounting (SEA) yang berarti proses
pengukuran, pengaturan dan pengungkapan dampak pertukaran antara perusahaan dengan
lingkungannya.
Dalam perkembangan bisnis, tanggung jawab sosial perusahaan yang dikenal
sebagai Corporate Social Responsibility (CSR) adalah fungsi

perusahaan. Adapun

desakan untuk itu bersumber dari banyak hal baik karena tekanan global maupun
regional. Bilamana dikaitkan fungsi maka ini dilakukan secara sukarela (voluntary) bukan
karena adanya paksaan dari luar. Banyak konsep CSR yang dipubllikasikan, Wibisono (2007)
melaporkan CSR bahwa CSR didefinisikan sebagai komitmen dunia usaha untuk terusmenerus bertindak secara etis, beroperasi secara legal dan berkontibusi untuk peningkatan
ekonomi, bersamaan dengan peningkatan kualitas hidup komunitas lokal dan masyarakat
secara lebih luas.
Pada perkembangannya, akuntansi tidak hanya sebatas proses pertanggung jawaban
keuangan namun juga mulai merambah ke wikayah pertanggung jawaban sosial lingkungan
sebagai ilmu akuntansi yang relatif baru. Akuntansi lingkungan menunjukkan biaya riil atas
input dan proses bisnis serta memastikan adanya efisiensi biaya, selain itu juga dapat
2

digunakan untuk mengukur biaya kualitas dan jasa. Tujuan utamanya adalah dipatuhinya
perundangan perlimdungan lingkungan untuk menemukan efisiensi yang mengurangi dampak
dan biaya lingkungan. (Helvegia ,2001).
Isu terkait dengan CSR senantiasa mengalami perubahan sesuai dengan dinamika
dan kesadaran tetang kebutuhan bersama. Isu yang terkait

utamnya adalah

Good

Corporate Governance, Sustainable Development, sampai ke Daya Saing. Bilamana isu ini
disimak lebih dalam, maka ditemukan bahwa penerapan CSR saling menopang dengan
dimensi-dimensi tersebut. Bila dikatikan dengan corporate governance maka penakanan
CSR adalah pelibatan stakeholder dalam tatakelola perusahaan. Semantara itu bila dikaitkan
dengan isu keberlanjutan, penekanannya adalah bahwa bisnis yang dapat berkelanjutan
apabila didukung oleh pemangku kepentingan. Selanjutnya bila dikaitkan dengan

konsep

daya saing, maka sisi pelaksanaan CSR adalah dalam rangka membangun daya saing bisnis
baik di tingkat regional maupun global (Zadek, 2006)
Secara tidak langsung, akuntan dan akuntansi lingkungan dapat berperan dalam
membantu masalah penanganan lingkungan. Gray (1993) mengemukakan peranan akuntan
dalam membantu manajemen mengatasi masalah lingkungan melalui 5 (lima) tahap, yaitu (1)
Sistem akuntansi yang ada saat ini dapat dimodifikasi untuk mengidentifikasi masalah
lingkungan dalam hubungannya dengan masalah pengeluaran seperti biaya kemasan, biaya
hukum, biaya sanitasi, dan biaya lain lain yang berkenaan dengan efek lingkungan. (2) Halhal yang negatif dari sistem akuntansi saat ini perlu diidentifikasikan, seperti masalah
penilaian investasi yang belum mempertimbangkan masalah lingkungan. (3) Sistem akuntansi
perlu memandang jauh kedepan dan lebih peka terhadap munculnya isu isu lingkungan yang
selalu berkembang. (4) Pelaporan keuanganuntuk pihak eksternal dalam proses berubah,
seperti misalnya berubah ukuran kerja perusahaan di masyarakat. (5) Akuntansi yang baru
dari sistem informasi memerlukan pengembangan seperti pemikiran tentang kemungkinan
adanya eco balance sheet.
2.1

Teori Ekonomi Politik


Gray, Owen, dan Adams (1996) mengungkapkan bahwa teori ini merupakan system-

oriented theories yang berarti menunjukkan peran informasi dan memberikan hubungan
antara pengungkapan pada organisasi, wilayah, individu dan kelompok. Sehingga dalam teori
ini dijelaskan tentang munculnya laporan pertanggungjawaban sosial (corporate social
responsibility/ CSR). Laporan tersebut, menurut Guthrie dan Parker (1990), adalah alat untuk
mengkonstruksi, menopang dan melegitimasi perjanjian ekonomi, politik dan ideologi yang
3

berkontribusi pada kepentingan korporasi dengan menyajikan pandangan yang lebih luas
tentang dampak operasi perusahaan dan informasi yang dipilih untuk diungkapkan. Oleh
karena itu, laporan ini pun tidak bisa dikatakan netral dan tidak bias, namun hanya
merupakan mediasi dan akomodasi dari berbagi kepentingan.
Dalam teori ini, dikenal dua pandangan yaitu pertama pandangan klasik. Pandangan
ini dikenalkan oleh Karl Max dan lebih terpusat pada konflik karena adanya
ketidakseimbangan akibat adanya kelas-kelas. Dalam pandangan ini laporan keuangan dan
pengungkapan digunakan untuk menjaga posisi yang menguntungkan bagi pengontrol
sumber daya dan merusak pihak-pihak yang tidak mengontrol sumber daya.

Kedua

pandangan burgeois. Pandangan ini diusung oleh Gray, Houchy, dan Flavers, lebih terpusat
pada interaksi kelompok dalam kemajemukan. Dalam pluralistik ini, menurut Lowe dan
Tinker (1977), terdapat kekuatan yang menyebar karena banyaknya individu yang ingin
menonjol dan tidak ada individu yang secara konsisten dapat mempengaruhi masyarakat.
Namun, definisi ini diungkapkan berbeda oleh Cooper dan Sherer. Mereka berpendapat
masyarakat dikendalikan oleh well-defined elite (kelompok yang ingin menjaga
dominasinya).
2.2

Teori Legitimasi
Deegan (2002) menyatakan bahwa teori legitimasi merupakan teori turunan dari teori

politik. Dalam teori ini, diakui tentang adanya benturan kekuatan yang muncul antara
masyarakat dan beberapa kelompok dalam masyarakat. Dengan memahami teori politik ini
maka peneliti dapat memahami lebih baik isu-isu sosial yang lebih luas yang mempengaruhi
operasional perusahaan dan informasi apa yang dipilih untuk diungkapkan. Deegan (2002)
menyatakan bahwa asumsi yang digunakan dalam teori ini adalah perusahaan tidak memiliki
sumber daya yang dibutuhkan untuk operasional. Perusahaan hanya diberi hak legal untuk
beroperasi oleh masyarakat sebagai penyedia sumber daya. Oleh karena itu, masyarakat pun
berekspektasi lebih atas biaya yang telah mereka keluarkan sebagai penyedia sumber daya.
Itulah definisi kontrak sosial menurut Matthews (1993). Hasilnya, perusahaan pun akan
terancam keberadaannya apabila masyarakat merasa perusahaan tidak mampu memenuhi
kontrak sosial tersebut.
Deegan (2002) mengungkapkan bahwa selain dari teori politik, teori legitimasi
dipercayai merupakan turunan dari teori institusional juga (DiMaggio dan Powell, 1983).
Teori institusional membuat organisasi merubah struktur operasinya untuk sejalan dengan
ekspektasi eksternal tentang bentuk struktur yang diterima (legitimasi). Kegagalan untuk
4

sejalan dengan ekspektasi eksternal disebut Isomorfisme (DiMaggio dan Powell, 1983).
Perbedaannya, dalam teori politik, perusahaan dirasa memiliki kemampuan untuk
mempengaruhi pihak lain, sedangkan dalam teori institusional ini perusahaan diekspektasikan
sejalan dengan norma.
Seperti yang diketahui, perusahaan beroperasi dalam batasan dan norma tertentu di
masyarakat. Batasan ini memunculkan suatu kontrak sosial yang akan selalu berubah
sehingga perusahaan harus selalu bermoral dalam operasinya untuk diakui legitimasinya.
Kontrak sosial ini mengacu pada ekspektasi masyarakat tentang bagaimana perusahaan
beroperasi. Adanya sanksi apabila perusahaan tidak mematuhi, membuat perusahaan
menyusun strategi, menurut Dowling dan Pfeffer (1975) yang disempurnakan oleh Lindbolm
(1994), sebagai berikut:
a. Menginformasikan tentang relevansi publik, perubahan aktual pada kinerja dan
aktivitas perusahaan yang dapat menunjukkan dimana kinerja dan aktivitas itu sejalan
dengan nilai dan ekspektasi masyarakat
b. Berusaha merubah persepsi relevansi publik kinerja dan aktivitas agar sesuai dengan
nilai dan ekspektasi namun tidak merubah perilaku perusahaan
c. Berusaha untuk memanipulasi persepsi dengan mengalihkan perhatian dari masalah
yang menjadi perhatian terhadap isu-isu terkait lainnya
d. Berusaha untuk mengubah ekspektasi eksternal terhadap kinerja perusahaan.
Teori ini menyatakan bahwa pengungkapan adalah suatu strategi untuk mengatur
hubungan perusahaan dan lingkungan operasinya. Namun, dalam hal ini, perusahaan akan
menghadapi perubahan yang dinamis. Perusahaan pun merespon perubahan dengan
melakukan pengungkapan dengan karakteristik berikut (Deegan dan Gordon, 1996):
a. Peningkatan pengungkapan lingkungan perusahaan sepanjang waktu sejalan positif
dengan peningkatan level kelompok lingkungan.
b. Pengungkapan meliputi pujian terhadap diri sendiri.
c. Adanya korelasi positif antara sensitivitas lingkungan industri yang dimiliki perusahaan
dan tingkat pengungkapan lingkungannya.
Akuntansi ada untuk implementasi strategi dan melegitimasi keberadaan perusahaan
yang ditunjukkan dengan adanya variasi pengungkapan pertanggungjawaban sosial sepanjang
waktu karena adanya perubahan kebijakan demi mengurangi pandangan negatif terhadap
perusahaan. Perusahaan juga sering mengungkapkan manajemen risiko yang dilaksanakan.
Pengungkapan ini ada karena adanya ancaman yang dapat merusak nilai perusahaan sehingga
perusahaan harus dapat mengatasi melalui manajemen yang aktif.
5

Tren pengungkapan juga terlihat pada perusahaan yang tertangkap basah melakukan
perusakan lingkungan. Perusahaan ini cenderung memberi pengungkapan lebih pada
pertanggungjawaban terhadap lingkungan. Pengungkapan ini diharapkan mengembalikan
legitimasi perusahaan. Ekspektasi masyarakat diketahui oleh manajemen melalui media.
Media memberikan penekanan pada berbagai topik yang kemudian membuat topik tersebut
terlihat menonjol dan menghasilkan opini publik (media agenda setting theory). Perusahaan
pun akan semakin mengungkapkan pada aspek yang ditonjolkan oleh media tersebut. Adanya
senioritas manajer, respon kompetitor dan kekuatan prediksi konsumen menghasilkan batasan
pada teori ini. Teori ini pun memiliki persamaa dengan teori positif dimana sama-sama
menggantungkan perilaku pada masyrakat. Perbedaannya adalah tidak adanya economicbased assumption dan efisiensi pasar. Selain itu, Deegan (2002) juga mengungkapkan bahwa
teori legitimasi ini masih berisi beberapa kekurangan, seperti:
a. Apakah teori legitimasi ini bekerja saat media memiliki pengaruh yang lebih besar
untuk merubah pandangan masyarakat (Milne dan Patten, 2002).
b. Masih kurangnya bukti bahwa terdapat kelompok yang lebih mempengaruhi daripada
kelompok lain.
c. Bagaimana manajer dikatakan sadar tentang isu-isu di masyarakat dalam kaitannya
dengan kontrak sosial.
d. Bagaimana manajer menentukan mana relevant public yang membutuhkan lebih
banyak legitimasi.
2.3

Teori Stakeholder
Deegan (2009) mengungkapkan bahwa teori stakeholder memandang setiap kelompok

stakeholder memiliki pandangan yang berbeda terhadap organisasi. Perusahaan pun harus
mengoordinasikan semua kepentingan stakeholder termasuk jika suatu ketika harus dilakukan
pengorbanan terhadap kepentingan investor.
Teori Stakeholder mempunyai 2 cabang yaitu cabang yang etika (moral atau normatif)
dan cabang positif (manajerial). Kedua teori secara eksplisit mempertimbangkan berbagai
kelompok (dari stakeholder) yang ada dalam masyarakat, bagaimana harapan dari kelompok
stakeholder tertentu dapat mempunyai lebih (kurang) pengaruh pada strategi perusahaan. hal
ini dapat mempunyai implikasi bagaimana harapan stakeholder dipertimbangkan dan dikelola
oleh perusahaan.
Cabang dari Sisi Etika. Teori ini menyatakan semua stakeholder mempunyai hak untuk
diperlakukan secara fair atau adil oleh perusahaan. Siapapun stakeholder harus diperlakukan
dengan baik. Stakeholder mempunyai hak instrisik yang tidak boleh dilanggar (seperti gaji
6

yang wajar). Definisi stakeholder (Freeman & Reed): grup atau individu yang dapat
mempengaruhi atau dipengaruhi oleh pencapaian tujuan perusahaan. Clarkson membagi
stakeholder menjadi 2 yaitu stakeholder primer dan sekunder. Stakeholder primer adalah
pihak yang mempunyai kontribusi nyata terhadap perusahaan, tanpa pihak ini perusahaan
tidak akan bisa hidup. Sedang stakeholder sekunder adalah pihak yang tidak akan
mempengaruhi kelangsungan hidup perusahaan secara langsung. Menurut Clarkson
stakeholder primer harus diperhatikan oleh manajemen agar perusahaan bisa hidup. Namun
pernyataan ini ditentang oleh teori stakeholder cabang etika yang beragumentasi bahwa
semua stakeholder mempunyai hak yang sama untuk diperhatikan oleh manajemen. Semua
stakeholder mempunyai hak untuk mendapatkan informasi mengenai bagaimana dampak
perusahaan bagi mereka. Berkaitan dengan hak informasi, Gray menyarankan menggunakan
perspektif model akuntabilitas. Akuntabilitas adalah kewajiban untuk menyediakan laporan
atas tindakan mereka sebagai wujud tanggungjawabnya. Akuntabilitas meliputi 2 kewajiban:
1) kewajiban/tanggungjawab melakukan tindakan tertentu, 2) tanggungjawab menyediakan
laporan akibat tindakan tersebut. Dengan model akuntabilitas tersebut, maka pelaporan
dianggap dipicu oleh tanggungjawab, bukan dipicu karena permintaan.
Cabang dari Sisi Manajerial. Teori ini lebih terpusat pada organisasi (organizationcentered). Perusahaan harus mengidentifikasi perhatian para stakeholder. Semakin penting
stakeholder bagi perusahaan, semakin banyak usaha yang harus dikeluarkan untuk mengelola
hubungannya dengan stakeholder ini. Informasi adalah elemen penting yang dapat dipakai
oleh perusahaan untuk mengelola (memanipulasi) stakeholder agar supaya terus
mendapatkan dukungan. Perusahaan tidak akan memperhatikan semua kepentingan
stakeholder secara sama, tapi hanya kepada yang sangat powerfull saja. Power stakeholder
(kreditor, pemilik, dll) dipandang sebagai fungsi tingkat kontrol stakeholder terhadap sumber
daya perusahaan. Semakin tinggi tingkat kontrol stakeholder terhadap sumber daya
perusahaan, maka semakin tinggi perhatian perusahaan terhadap stakeholder ini. Perusahaan
yang sukses adalah perusahaan yang dapat memuaskan permintaan berbagai stakeholder.
2.4

Teori Institusional
Teori ini merupakan teori pelengkap atas kedua teori diatas, teori ini memberikan

pemahaman tentang bagaimana oerusahaan mengerti dan merespon perubahan sosial dan
tekanan serta ekspektasi pada institusi dengan menghubungkan pada nilai masyarakat untuk
menjaga legitimasi perusahaan. Teori ini terbagi menjadi dua, yaitu isomorfik dan
decoupling. Isomorfik terpusat pada bagaimana perusahaan beradptasi pada berbagai tekanan
7

institusional. Teori ini terbagi lagi dalam Corcive yang artinya perusahaan berubah karena
tekanan oleh stakeholder yang berpengaruh. Mimetic yang artinya perusahaan berubah untuk
mendapat keuntungan kompetitif yang terjadi karena organisasi gagal mengikuti praktik
inovatif pada sektor yang sama sehingga perusahaan kehilangan legitimasi. Mimetic ada
karena ada coercive. Kemudian Normatic adalah Tekanan muncul dari norma kelompok, baik
formal maupun informal. Sedangkan decoupling theory mengimplikasikan saat manajer
mungkin merasa kebutuhan atas organisasi mereka terlihat dengan mengadopsi praktek
institusional

tertentu

dan

mungkin

proses

institusi

formal

tersebut

bertujuan

mengimplematasikan praktik ini. Praktek aktual organisasi pun dapat sangat berbeda karena
adanya sanksi formal yang diumumkan pada publik atas praktik dan proses tersebut.
2.5

Pelaporan Sosial dan Lingkungan


Milton Friedman (1962) pernah mengungkapkan bahwa manajemen tidak memiliki

kewajiban moral selain memaksimalkan profit. Ia beranggapan apabila setiap orang ingin
memaksimalkan kekayaan maka perekonomian pasti akan maju. Hal ini pun didukung
dengan banyaknya pihak yang hanya memperhatikan laba tanpa melihat aspek sosial
lingkungan perusahaan. Namun, teori ini tidaklah seperti realitanya. Pada realitanya tetap
terjadi gap dan perekonomian tidak maju.
Isu sosial dan lingkungan pun mulai diperdebatkan. Perlunya laporan tentang sosial
dan lingkungan dari suatu perusahaan diawali dengan diterbitkannya Our Common Future
(1987) oleh General Assembly dari United Nations yang kemudian dikenal dengan The
Brundtland Report. Dalam bahasan ini dikenalkan istilah bahwa perusahaan haruslah
sustainable. Sustainable berarti perkembangan perusahaan haruslah memenuhi kebutuhan
saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi di masa depan untuk memenuhi
kebutuhan mereka. Dengan kata lain, sustainable berarti memperhatikan keseimbangan
antara aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Perusahaan yang sustainable berarti perusahaan
yang mampu menghasilkan laba dengan mengurangi dampak negatif pada sosial dan
lingkungan.
2.6 Keterbatasan Akuntansi Keuangan Tradisional dalam Menangkap dan Melaporkan
Kinerja Sosial dan Lingkungan
Fokusnya adalah pada pihak yang terlibat pada keputusan alokasi sumber daya atau
bisa dikatakan financial interest sehingga tidak ada laporan bagi pihak yang terkena dampak.
Adanya diskonto yang membuat biaya sosial lingkungan diakui sangat kecil atau bahkan

tidak diakui karena tidak bisa diselesaikan dalam beberapa waktu mendatang. Entity
assumption mengakibatkan hal-hal yang tidak berdampak langsung, yaitu sosial dan
lingkungan, terhadap entitas akan diabaikan. Perdagangan izin mengeluarkan polutan yang
diakui sebagai aset. Pengakuan ini dipertanyakan karena izin ini hanya rasional menurut
perspektif ekonomi dan tidak rasional menurut perspektif masyarakat. Definisi aset
menyebutkan bahwa aset adalah sesuatu yang dikontrol dan beban adalah outflow, padahal
lingkungan dan sosial tidak dikontrol sehingga perusahaan bebas merusak dan tidak
mengakui apapun selama tidak ada denda. Aspek sosial lingkungan tidak dapat terukur.
2.7

Mengapa Harus Melaporkan (Why Stage)?

a. Terkadang tindakan perusahaan hanya berorientasi ekonomi dan tidak mempedulikan


aspek lingkungan dan sosial. Hal tersebut terbukti dari pola konsumsi saat ini
memberikan dampak negatif pada masa depan. Aktivitas perusahaan saat ini telah
melebihi kapasitas bumi, dan suatu ketika biosfer akan mencapai titik degradasi
tertinggi sehingga tidak bisa menyokong kehidupan manusia lagi. Oleh karena itu
perusahaan haruslah sustainable dengan turut serta mengurangi kemiskinan dan
kelaparan. Kemiskinan dan kelaparan akan menyebabkan manusia memandang sebagai
penyedia uang gratis dan membawa ke kerusakan lebih parah. Perusahaan juga
diharapkan tidak mengkonsumsi secara maksimal (tindakan ekonomi rasional) karena
hal tersebut tidak berdampak rasional pada global dan intergenerasi.
b. Ekonomi dan semua sistem sosial beroperasi di lingkungan. Kerusakan lingkungan pun
berarti kemusnahan manusia.
c. Anthony Giddens dan Ulrich. Pengungkapan CSR dapat menjadi alat manajemen risiko
yang digunakan sebagai usaha mengatasi prediksi negatif dari aktivis.
d. Bank dan asuransi mengkriteriakan perusahaan untuk bertanggung jawab terhadap
lingkungan dan sosial karena memiliki risiko lebih rendah dan aset yang lebih bersih.
e. Adanya tren yang berkembang bahwa perusahaan melaporkan CSR mereka, karena
perusahaan beranggapan apa yang menguntungkan masyarakat dan lingkungan pasti
menguntungkan pemegang saham.
f. Dengan asumsi EMH, penelitian menunjukkan bahwa:
1) Pasar bereaksi terhadap pengungkapan sosial lingkungan (Ingran, 1978; Anderson
dan Frankle, 1980).
2) Investor bereaksi positif terhadap pengungkapan perusahaan atas pengelolaan
limbah atau disebut ethical investor (Belkaoki, 1976; Jaggi dan Freedman, 1982).
9

3) Adanya negative return pada perusahaan yang memiliki kontrol polusi lemah
(Shane dan Spicer, 1983).
4) Perusahaan yang memiliki level polusi yang sama tinggi namun diungkapkan
akan memiliki reaksi kecil daripada yang tidak diungkapkan (Freedman dan
Pattern).
5) Reaksi pasar saat terjadi bencana akan lebih kecil pada perusahaan yang
melakukan penungkapan (Blacconiare dan Pattern, 1994)
g. Sustainable development telah menjadi ekspektasi masyarakat dimana masyarakat
memiliki ekspektasi bahwa perusahaan bertanggung jawab seutuhnya atas operasional
dan produk yang tidak membahayakan lingkungan (70% dari polling tahun 1999 oleh
Environics).
h. Rintangan yang dihadapi adalah :
1) Akuntan harus meluaskan pekerjaan ke pelaporan kinerja sosial lingkungan.
2) Manusia selalu ingin mendominasi dan mengeksploitasi lingkungan (Dillard,
Brown, Marshall, 2005, p.81).
3) Adanya pengorbanan profit jangka pendek untuk memastikan laba yang
sustainable dalam jangka panjang.
2.8 Siapa yang Harus Diberi Laporan (Who Stage)?
a. Beck (1992, 1999) beranggapan bahwa stakeholder yang dimaksud adalah stakeholder
yang terkena dampak operasional perusahaan.
b. Menurut perspektif etis, perusahaan perlu memprioritaskan dengan mengidentifikasi
stakeholder yang terkena dampak terbesar (Gray, et al, 1997) dengan maksud untuk
meminimalkan dampak sosial dan lingkungan.
c. Berdasar penelitian, perusahaan menganggap pemegang saham yang harus diberi
laporan karena merupakan pihak yang paling potensial terhadap profit dan
keberlanjutan perusahaan.
d. Berdasarkan perspektif etis, perusahaan berusaha memahami apa saja dampak aktual
dan potensinya untuk memberikan fokus pada CSR sehingga perusahaa harus
melibatkan masyarakat, yang hidupnya terpengaruh, dalam decision making.
Perusahaan harus mengadakan dialog intensif karena:
1) Stakeholder banyak dan tidak dapat mengekspresikan karena takut dengan
konsekuensi yang mungkin ia dapat (ODwyer, 2005)
2) Adanya stakeholder yang apatis (Adams, 2004, p.76)
3) Sulitnya menentukan apakah nerpengaruh ke masa depan.
e. Pada dasarnya, semua menyesuaikan dengan alasan perusahaan melaporkan.

10

2.9

Untuk Isu Sosial dan Lingkungan Apa Perusahaan Harus Bertanggungjawab dan
Akuntabel (What Stage)?

a. Sesuai dengan kebutuhan yang merupakan permintaan atau reaksi eksternal atas
informasi tertentu yang diungkapkan.
b. Terdapat beberapa persyaratan agar laporan tersebut digunakan sehingga dapat
membentuk persepsi (Deegan dan Rankin, 1997), yaitu :
1) Materialitas dari isu lingkungan untuk kelompok tertentu dalam masyarakat yang
menggunakan laporan tahunan untuk mendapat informasi.
2) Apakah informasi lingkungan dipandang dari laporan tahunan.
3) seberapa

penting

informasi

lingkungan

pada

proses

decision-making

dibandingkan pada informasi pertanggungjawaban sosial lainnya dan informasi


posisi dan kinerja keuangan perusahaan.
c. perusahaan haruslah akuntabel untuk semua stakeholder atas tindakan perusahaan yang
telah (atau mungkin) berdampak pada stakeholder.
2.10 Bagaimana Bentuk Pelaporannya (How Stage)?
a. Triple Bottom Line
Cara ini mengukur keseimbangan antara aspek ekonomi (financial secure), sosial
(sejalan

dengan

ekspektasi

stakeholder

untuk

sustainable)

dan

lingkungan

(meminimalkan dampak negatif lingkungan). Dalam praktiknya, cara ini:


1) berhasil membuat manajer menangkap masalah sosial dan lingkungan, namun
tetap tidak bisa melaporkannya dengan angka
2) kesulitan dalam memahami aspek memaksimalkan alam dan sosial seperti halnya
memaksimalkan laba.
3) adanya anggapan bahwa ketika tidak bisa memperlakukan ketiga aspek tersebut
secara seimbang, maka aspek tersebut tidak terinterkoneksi. Hal ini merupakan
pemahaman konsep yang salah dan berdampak pada manajemen yang berfokus
pada laba dan lebih merusak lingkungan.
b. Global Reporting Initiative (GRI)
Awalnya, metode pelaporan CSR sangatlah beragam karena bergantung dari persepsi
manajemen atas informasi yang dibutuhkan stakeholder (Solomon dan Lewis, 2002).
Pada tahun 1987 diterbitkanlah tulisan yang berjudul Our Common Future oleh
General Assembly dari United Nations. Tulisan ini kemudian lebih dikenal dengan The
Brundtland Report. Penerbitan ini diikuti dengan diadakannya Earth Summit yang
11

diadakan di Rio de Jenairo dan dihadiri perwakilan pemerintah seluruh negara dan ahli
sosial lingkungan. Di EU, tahun 1992, dirilis Towards Sustainability dengan salah
satu isi pentingnya adalah perintah pada akuntan untuk memperbaiki sistem costing
untuk menekan biaya lingkungan. Kemudian, sebagai tindak lanjut dari Earth Summit,
tahun 2000 diterbitkan kumpulan pedoman pelaporan CSR yang kemudian dikenal
dengan Sustainability Reporting Guidelines. Hal ini merupakan jawaban untuk
pelaporan yang lebih terstruktur. GRI merupakan praktik pelaporan terbaik yang
diterima umum. Dalam GRI terdapat 50 indikator inti dan 47 tambahan pedoman yang
digunakan tergantung jenis perusahaan. Namun, perusahaan akan bertindak
oportunistik dengan selektif memilh indikator dan menggunakannya sebagai legitimasi
dengan label mematuhi pedoman GRI.
Kategori pengungkapan dalam GRI berhubungan dengan:
1)
2)
3)
4)
5)
6)
7)
8)

dampak signifikan transportasi terhadap lingkungan


isu tentang hubungan pemasok dan lingkungan
energi dan air yang dikonsumsi
emisi dan pembuangan
isu biodiversity
kepatuhan hukum
total pengeluaran lingkungan
tipe dan informasi material yang digunakan bersama dengan informasi tentang
pembuangannya

Laporan CSR yang dikeluarkan perusahaan haruslah berisi :


1)
2)
3)
4)
5)

visi dan strategi


Profil perusahaan
struktur dan sistem manajemen
Index GRI
Indikator kinerja

GRI pun diakui sebagai pedoman pelaporan CSR berterima umum. Atribut
komparabilitas adalah sesuatu yang diusung GRI. GRI juga mengusung karakteristik
kualitatif, seperti halnya laporan keuangan, meliputi transparansi, auditabilitas,
relevansi, kelengkapan, konteks sustainability, ketepatan, netralitas, reliabilitas,
kejelasan, ketepatan waktu, dan verifiabilitas. Area lain yang diperhitungkan GRI
adalah assurance proses untuk meningkatkan kredibilitas dan kualitas laporan.
c. Audit Sosial
Menurut Elkington (1997, p.88) tujuan dari audit sosial adalah menilai kinerja dalam
hubungannya dengan kebutuhan dan ekspektasi. Audit sosial diharapkan menghasilkan
12

statement of assurance yang merupakan dasar dari laporan sosial yang diterbitkan
untuk publik dan dasar untuk berdialog dengan stakeholder. Kriteria audit sosial adalah
berdasar materialitas, kelengkapan dan kemampuan reaksi. Namun, tidak semua
mampu menyediakan organisasi karena bergantung pada tipe perusahaannya (Owen
dan ODwyer, 2005). Terdapat dua tipe dalam lingkup audit sosial, yaitu:
1) Audit Sosial
Audit sosial seringkali digunakan oleh MNC dan dilaksanakan bersamaan dengan
audit laporan keuangan. Tujuannya adalah untuk mendapatkan legitimasi, aspek
sustainable dan transparansi. Hal ini dilakukan dengan cara mengadopsi
pendekatan hati-hati dengan sebagian besar berfokus pada masalah konsistensi
informasi yang muncul dalam laporan organisasi dengan kumpulan data yang
mendasari.
2) Konsultasi sosial dan lingkungan
Dalam lingkup ini penekanan laporan CSR lebih ke aspek kelengkapan, fairness,
keseimbangan menyeluruh dan pengungkapan kelemahan dari pelaporan.
Suharto (2004) menyebutkan beberapa kesulitan manajemen keuangan untuk
melaporkan kewajiban lingkungan, yaitu sebagai berikut:
a.

Permintaan atas pengungkapan informasi lingkungan dalam pelaporan keuangan

b.

belum ada secara tegas.


Biaya dan manfaat dalam rangka menyajikan informasi lingkungan dalam laporan

c.
d.

keuangan dirasakan tidak seimbang oleh perusahaan.


Pengenalan kewajiban bersyarat.
Kesulitan dalam mengidentifikasi biaya-biaya lingkungan.
Manfaat CSR terhadap perusahaan yaitu (1) Brand differentiation. Dalam persaingan

pasar yang kian kompetitif, CSR bisa memberikan citra perusahaan yang khas, baik, dan etis
di mata publik yang pada gilirannya menciptakan customer loyalty. The Body Shop dan BP
(dengan bendera Beyond Petroleum-nya), sering dianggap sebagai memiliki image unik
terkait isu lingkungan. (2) Human resources. Program CSR dapat membantu dalam
perekrutan karyawan baru, terutama yang memiliki kualifikasi tinggi. Saat interview, calon
karyawan yang memiliki pendidikan dan pengalaman tinggi sering bertanya tentang CSR dan
etika bisnis perusahaan, sebelum mereka memutuskan menerima tawaran. Bagi staf lama,
CSR juga dapat meningkatkan persepsi, reputasi dan dedikasi dalam bekerja. (3) License to
operate. Perusahaan yang menjalankan CSR dapat mendorong pemerintah dan publik
memberi ijin atau restu bisnis. Karena dianggap telah memenuhi standar operasi dan
kepedulian terhadap lingkungan dan masyarakat luas. (4) Risk management. Manajemen
13

resiko merupakan isu sentral bagi setiap perusahaan. Reputasi perusahaan yang dibangun
bertahun-tahun bisa runtuh dalam sekejap oleh skandal korupsi, kecelakaan karyawan, atau
kerusakan lingkungan. Membangun budaya doing the right thing berguna bagi perusahaan
dalam mengelola resiko-resiko bisnis.
Dengan demikian CSR merupakan suatu bagian dari Good corporate governance
yang menganggap lingkungan, masyarakat dan karyawan sebagai suatu kontributor dalam
mempertahankan kelangsungan perusahaan.
3.

KESIMPULAN
Akuntansi sosial dan lingkungan adalah proses mengkomunikasikan dampak sosial

dan lingkungan dari tindakan ekonomi. Akuntansi ini menjadi penting karena perusahaan
perlu menyampaikan informasi mengenai aktivitas sosial terhadap lingkungan kepada
stakeholder perusahaan. Perusahaan tidak hanya menyampaikan informasi mengenai
keuangan saja melainkan informasi sosial. Informasi sosial ini dilakukan sebagai bentuk
kepedulian perusahaan terhadap lingkungan.
Teori yang digunakan dalam akuntansi sosial dan lingkungan adalah teori ekonomi
politik, teori legitimasi, teori stakeholder dan teori institusional. Perlunya laporan tentang
sosial dan lingkungan dari suatu perusahaan diawali dengan diterbitkannya Our Common
Future (1987) oleh General Assembly dari United Nations yang kemudian dikenal dengan
The Brundtland Report. Dalam bahasan ini dikenalkan istilah bahwa perusahaan haruslah
sustainable. Sustainable berarti perkembangan perusahaan haruslah memenuhi kebutuhan
saat ini tanpa mengkompromikan kemampuan generasi di masa depan untuk memenuhi
kebutuhan mereka. Dengan kata lain, sustainable berarti memperhatikan keseimbangan
antara aspek ekonomi, sosial dan lingkungan. Perusahaan yang sustainable berarti perusahaan
yang mampu menghasilkan laba dengan mengurangi dampak negatif pada sosial dan
lingkungan.
Bentuk pelaporan akuntansi sosial dan lingkungan yaitu dengan Triple Bottom Line,
Global Reporting Initiative (GRI) dan Audit Sosial. Teori Triple Bottom Line ini memberi
pandangan bahwa jika sebuah perusahaan ingin mempertahankan kelangsungan hidupnya,
maka perusahaan tersebut harus memperhatikan 3P. Selain mengejar keuntungan (profit),
perusahaan juga harus memperhatikan dan terlibat pada pemenuhan kesejahteraan
masyarakat (people) dan turut berkontribusi aktif dalam menjaga kelestarian lingkungan
(planet). Sedangkan GRI diakui sebagai pedoman pelaporan Corporate Social Responsibility
berterima umum. Atribut komparabilitas adalah sesuatu yang diusung GRI dengan
14

karakteristik kualitatif, seperti halnya laporan keuangan, meliputi transparansi, auditabilitas,


relevansi, kelengkapan, konteks sustainability, ketepatan, netralitas, reliabilitas, kejelasan,
ketepatan waktu, dan verifiabilitas. Sedangkan audit sosial menurut Elkington (1997, p.88)
bertujuan untuk menilai kinerja dalam hubungannya dengan kebutuhan dan ekspektasi. Audit
sosial diharapkan menghasilkan statement of assurance yang merupakan dasar dari laporan
sosial yang diterbitkan untuk publik dan dasar untuk berdialog dengan stakeholder.

DAFTAR PUSTAKA
Arief Suadi, et.al, 1988. Akuntansi Sosial : Implikasi dan Kemungkinan Pengembangan di
Indonesia, majalah akuntansi, no. 11 bulan Nopember
Deegan, C. (2002). The legitimising effect of social and environmental disclosures -- a
theoretical foundation. Accounting, Auditing & Accountability Journal, Vol. 15, Pg. 282311.
Deegan, C., Rankin, M., & Tobin, J. (2002). An examination of the corporate social and
environmental disclosures of BHP from 1983-1997 a test of legitimacy theory.
Accounting, Auditing, & Accountability Journal, Vol. 15, Pg. 312-343.
Deegan, C. & Unerman, J. 2006. Financial Accounting Theory. European edition McGrawHill education UK.
Deegan, C.2009. Financial Accounting Theory. McGraw-Hill Book Company: Sydney.
D. Crowther, Social and Environmental Accounting (London: Financial Times Prentice Hall,
2000), p. 20.
Gaffikin, M. 2008. Accounting Theory: Research, Regulation, and Accounting Practice.
Pearson Education. Australia.
Gray, Edmund R., dan Larry, Management: The competitive Edge, New York: Maxwell
Mecmillan Publishing, 1990
Helvegia,Thomas. , Socio Accounting for Environmental , First Edition. , Grammarica
press. , Journey. , Nixxon Offset. ,UK. ,2001
https://fadliadhin.wordpress.com/2015/10/30/csr-corporate-social-responsibility/
(http://csr.pkpu.or.id/article/csr-dan-kepedulian-perusahaan,
http://www.rahmatullah.net/2010/05/masalah-pengelolaan-program-corporate.html )
http://dokumen.tips/documents/makalahakuntansi-sosial-lingkungan.html
Indra Surya, SH.LLM, dan Ivan Yustiavandana,SH.LLM, 2006,Penerapan Good Corporate
Governance, Prenada Media Group, Jakarta, Indonesia.
15

Jones, M.J. (2010). Accounting for the environment: towards a theoretical perspective for
environmental accounting and reporting. Accounting Forum, Vol. 34, Pg. 123-138
Mardikanto, totok. 2009. Majalah Bisnis dan CSR. Jakarta: Latofi
R.H. Gray, D.L.Owen & K.T.Maunders, Corporate Social Reporting: Accounting and
accountability (Hemel Hempstead: Prentice Hall, 1987)p. IX.
http://www.sarjanaku.com/2012/12/pengertian-akuntansi-lingkungan-artikel.html
Suharto, Harry. 2004. Standar Akuntansi Lingkungan: Kebutuhan Mendesak. Akuntansi.
Edisi 42. Tahun XI, Juli 2004. Hal. 4-5.
Wibisono, Y. 2007. Membedah Konsep dan Aplikasi CSR (Corporate Social Responsibility),
Fascho Publlishing, Gresik, Indonesia.
Zadek, S. 2006. Corporate responsibility and competitiveness`at the macro level
Responsible competitiveness: reshaping global markets through responsible business
practices, Corporate Governance, Vol. 6. no 4. pp 334-348. Emerald Group Publishing
Limited.

16