Anda di halaman 1dari 17

BAB I

STATUS PASIEN
1

Identitas pasien
a Nama
b Umur
c Jenis kelamin
d Pekerjaan
e Pendidikan
f Alamat

: An. R
: 4 Tahun
: Perempuan
::: Rt. 03 Simpang 4 Sipin

Latar Belakang sosial-ekonomi-demografi-lingkungan keluarga


a Status perkawinan : Belum menikah
b Jumlah anak
:c Saudara
:d Status ekonomi keluarga :
- Pekerjaan orang tua:
Ayah
: Pedagang
Ibu
: Ibu Rumah Tangga
Kesan
: Mampu
e KB
:f Kondisi Rumah
:
Rumah permanen, dinding bata dan berlantaikan proslen, terdapat 3 jendela pada
ruang tamu dan tiap ruangan juga tersedia jendela serta ventilasi udara.
Rumah terdapat 1 ruangan tamu, 1 ruang keluarga, 2 buah kamar, 1 ruang dapur
dan 1 kamar mandi setiap ruangan pencahayaan baik tanpak tertata rapi dan bersih.
Sumber penerangan : PLN. Sumber air : PDAM (untuk memasak, minum, dan
mandi). Pembuangan sampah dengan cara dibakar. Di belakang rumah pasien
terdapat lahan kosong yang samak belukar.

Kondisi Lingkungan keluarga :


Pasien tinggal di lingkungan padat penghuni antara rumah satu dan yang lain tanpak
berdempetan. Warga di sekitar lingkungan pasien sangat ramah dan hidup kekeluargaan

di tempat ini cukup baik.


Aspek Psikologis keluarga :
Hubungan dengan anggota keluarga lainnya baik.

Keluhan Utama dan Riwayat Penyakit Sekarang :


Keluhan Utama : Pasien datang dibawa ibunya dengan keluhan luka digigit kucing pada
kaki kanan semalam.
Riwayat Penyakit Seakarang

Pasien datang dibawa oleh kedua orang tuanya ke puskesmas dengan keluhan ada
luka bekas digigit kucing pada kaki kanan sejak semalam. Dari keterangan ibunya saat itu os
sedang bermain, kemudian datang kucing liar yang biasa datang kerumah os, os didekati oleh
kucing liar tersebut kemudian tiba-tiba kucing itu menggigit dan mencakar os, setelah itu
kucing tersebut kabur dari rumah os. Os kemudian diobati lukanya oleh ibunya dengan
menggunakan betadin. Beberapa jam setelah kejadian tersebut os mengalami demam,
kemudian os diberikan parasetamol untuk menurunkan demamnya, dan keesokan harinya os
dibawa ke Puskesmas untuk tindakan lanjut.
5

Riwayat Penyakit dahulu :


Tidak ada

Riwayat Penyakit Keluarga :


Tidak ada

Pemeriksaan Fisik
Status Generalisata:
Kondisi umum
Kesadaran
Tekanan darah
Nadi
Respirasi
Suhu aksila
TB
BB
Mata

: Sakitsedang
: compos mentis
:: 94 x/mnt
: 24 x/mnt
: 36,4 C
: 85 cm
: 13 kg
: anemia -/-, ikterus -/-, reflek cahaya +/+, pupil isokor, oedem
palpebra-/-

THT

Telinga
: sekret -/-, kotoran telinga -/Hidung
: sekret -/-, kongesti -/Tenggorokan : tonsil T1/T1

Leher
: JVP 5-2, pembesaran KGB (-)
Thorax
:
Cor
: BJ I-II regular, murmur (-), gallop (-)
Pulmo
:
Inspeksi
: gerak pernafasan simetris, sikatriks (-)
Palpasi
: Tumor (-), NT (-)
Perkusi
: tidak dilakukan
Auskultasi
: vesikuler (+) N, rhonki -/-, wheezing -/-.
Abdomen
Inspeksi

: datar, sikatriks (-)


2

Auskultasi
: bising usus (+) normal
Palpasi
: hepar dan lien tidak teraba, nyeri tekan ()
Perkusi
: timpani
Ekstremitas
:
Superior dekstra
: akral hangat (+), edem (-), sianosis (-)
Superior sinistra
: akral hangat (+), edem (-), sianosis (-)
Inferior dekstra
: vulnus morsum (+),
Inferior sinistra
: akral hangat (=), edem (-), sianosis (-)

Usulan pemeriksaan penunjang


Pemeriksaan darah rutin

Diagnosa Kerja
Vulnus Morsum e.c Gigitan Hewan suspek Rabies

10 Manajemen :
a Promotif
- Memberitahukan kepada ibu tentang penyakit pasien serta pengobatannya.
- Hindari hewan-hewan liar yang dicurigai.
- Minum obat teratur
- Lapor ke Dinas Peternakan
b Preventif
- Membersihkan luka , jangan biarkan luka menjadi kotor.
c Kuratif
Non Farmakologi
- Bed rest
- Wound toilet
Farmakologi
-

Paracetamol syrup 3x125 mg


Amoxilin syrup 3x125 mg
VAR : Verorab 2x0,5 mg I.M

Dinas Kesehatan Kota Jambi


Puskesmas Simpang 4 Sipin
dr. Triana Linda L.
SIP

: No.180/SIK/2014 STR: 222/STR/2014


Jambi, 19 Mei 2015

R/ Paracetamol syr

no. I

S 3 d d 125 mg
R/ Amoxillin syr

no. I

S3 d d 125mg
R/ Verorab Vacc

no. IV

S i.m.m

Pro

: An. R

Umur : 4 tahun
Alamat : RT. 03 Simpang 4 Sipin

Rehabilitatif
- Minum obat sesuai anjuran.
- Kontrol ulang hari ke-7 dan hari ke 21 untuk suntik VAR ulang.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Pembangunan bidang kesehatan sebagai bagian dari pembangunan nasional di
Indonesia mempunyai peran ganda karenapenyakit menular masih merupakan masalah utama
kesehatan masyarakat yang memerlukan perhatian besar, disamping itu terjadinya
peningkatan penyakit tidak menular. Salah satu penyakit menular yang masih menjadi
permasalahan di seluruh dunia termasuk Indonesia adalah rabies (Depkes, 2003).
Penyakit anjing gilaatau dikenal dengan nama rabiesmerupakan suatu penyakit
infeksi pada hewan yang bersifat akut dan dapat ditularkan dari hewan kepada manusia
(zoonosis). Penyakit ini bila sudah menunjukkan gejala klinis pada hewan dan manusia selalu
diakhiri dengan kematian, sehingga menimbulkan rasa cemas dan takut bagi orang yang
terkena gigitan serta kekuatiran bagi masyarakat (Departemen Pertanian RI, 2006).
Penyakit rabies disebabkan oleh virus rabies dan penularannya kepada manusia dapat
terjadi melalui gigitan hewan penular rabies (HPR) terutama anjing, kucing dan kera.
5

Timbulnya penyakit ini pada manusia dapat dicegah dengan pemberian vaksinasi anti rabies
(VAR) dan serum anti rabies (SAR) setelah digigit hewan yang menderita rabies
(Soeharsono, 2002).
Menurut laporan WHO (2005a), penyakit rabies dapat timbul akibat kelalaian
manusia neglected diseasekarena penyakit ini sebenarnya dapat dicegah sebelum muncul.
Penyakit rabies tersebar di seluruh dunia dengan perkiraan 55.000 kematian per tahun,
hampir semuanya terjadi di negara berkembang. Jumlah yang terbanyak dijumpai di Asia
sebesar 31.000 jiwa (56%) dan Afrika 24.000 jiwa (44%).
Diperkirakan 30% 50% proporsi dari kematian yang dilaporkan terjadi pada
anakanak di bawah usia 15 tahun (WHO, 2006). Berdasarkan laporan WHO (2005a), South
East Asia Regional Office(SEARO) mempunyai beban kerja yang besar karena sekitar 25.000
kematian terjadi pada manusia setiap tahun akibat rabies dengan jumlah terbesar terdapat di
India yaitu sekitar 19.000 jiwa dan Banglades sekitar 2000 jiwa. Myanmar, Nepal, Indonesia,
Srilanka dan Thailand, melaporkan sedikitnya terjadi 100 kematian manusia akibat
rabies setiap tahun. Berdasarkan laporan OIE (Organization International des Epizooties), di
negara berkembang penyakit rabies merupakan urutan nomor 2 (dua) yang paling ditakuti
wisatawan mancanegara setelah penyakit malaria ( Dinas Peternakan Propinsi Jawa
Barat,2007 ).
Rabies (penyakit anjing gila) adalah penyakit hewan yang disebabkan oleh virus,
bersifat akut serta menyerang susunan saraf pusat hewan berdarah panas dan manusia. Rabies
bersifat zoonosis artinya penyakit tersebut dapat menular dari hewan ke manusia dan
menyebabkan kematian pada manusia dengan CFR (Case Fatality Rate) 100%. Virus rabies
dikeluarkan bersama air liur hewan yang terinfeksi dan disebarkan melalui luka gigitan atau
jilatan.
Gejala klinis pada manusia dibagi menjadi empat stadium.
1. Stadium Prodromal
Gejala awal yang terjadi sewaktu virus menyerang susunan saraf pusat adalah
perasaan gelisah, demam, malaise, mual, sakit kepala, gatal, merasa seperti terbakar,
kedinginan, kondisi tubuh lemah dan rasa nyeri di tenggorokan selama beberapa
hari.
2. Stadium Sensoris

Penderita merasa nyeri, rasa panas disertai kesemutan pada tempat bekas luka
kemudian disusul dengan gejala cemas dan reaksi yang berlebihan terhadap
rangsangan sensoris.
3. Stadium Eksitasi
Tonus otot-otot akan aktivitas simpatik menjadi meninggi dengan gejala berupa
eksitasi atau ketakutan berlebihan, rasa haus, ketakutan terhadap rangsangan
cahaya, tiupan angin atau suara keras. Umumnya selalu merintih sebelum kesadaran
hilang. Penderita menjadi bingung, gelisah, rasa tidak nyaman dan ketidak
beraturan. Kebingungan menjadi semakin hebat dan berkembang menjadi agrresif,
halusinasi, dan selalu ketakutan. Tubuh gemetar atau kaku kejang.
4. Stadium Paralisis
Sebagian besar penderita rabies meninggal dalam stadium eksitasi. Kadangkadang
ditemukan juga kasus tanpa gejala-gejala eksitasi, melainkan paresis otot-otot yang
bersifat progresif. Hal ini karena gangguan sumsum tulang belakang yang
memperlihatkan gejala paresis otot-otot pernafasan.

Gambar 1. Skema Patogenesis Infeksi Virus Rabies

Gambar 2. Tatalaksana Kasus Gigitan Tersangka Rabies


Penderita gigitan Anjing, Kucing, Kera segera :
- Cuci luka gigitan dengan sabun, detergent lain di air mengalir selama 10 15
menit dan beri antiseptik (betadine, alkohol 70 %, obat merah dll)
- Segera ke Puskesmas/ Rabies Center/ Rumah Sakit untuk mencari pertolongan
selanjutnya.

Di Puskesmas/ Rabies Center/ Rumah Sakit di lakukan :


Penanganan luka gigitan :
- Ulangi cuci luka gigitan dengan sabun, detergent lain di air mengalir selama 10
15 menit dan beri antiseptik (betadine, alkohol 70 %, obat merah dll)
- Anamnesis apakah didahului tindakan provokatif, hewan yang menggigit
menunjukkan gejala rabies, penderita gigitan hewan pernah divaksinasi dan kapan,
hewan penggigit pernah divaksinasi dan kapan.
- Identifikasi luka gigitan
Luka resiko tinggi : Jilatan/luka pada mukosa, luka diatas daerah bahu (mukosa,
leher, kepala), luka pada jari tangan, kaki, genetalia, luka lebar/dalam dan luka
yang banyak multiple wound).
Luka yang tidak berbahaya : Jilatan pada kulit, garukan atau lecet (erosi,
ekskoriasi), luka kecil di sekitar tanga, badan, dan kaki.
Terhadap luka resiko tinggi, selain VAR juga diberi SAR. Untuk kontak (dengan air
liur atau saliva hewan tersangka/hewan rabies atau penderita rabies), tetapi tidak ada luka,
kontak tak langsung, tidak ada kontak, maka tidak perlu diberikan pengobatan VAR maupun
SAR. Sedangkan apabila kontak dengan air liur pada kulit luka yang tidak berbahaya, maka
diberikan VAR atau diberikan kombinasi VAR dan SAR apabila kontak dengan air liur pada
luka berbahaya.
Dosis dengan cara pemberian Vaksin dan Serum Anti Rabies adalah sebagai berikut :
I. Dosis dan Cara Pemberian Vaksin Anti Rabies (VAR)
1. Purified Vero Rabies Vaccine (PVRV)
Kemasan :
Vaksin terdiri dari vaksin kering dalam vial dan pelarut sebanyak 0,5 ml dalam
syringe.
a. Dosis dan cara pemberian sesudah digigit (Post Exposure Treatment)
- Cara pemberian :
disuntikkan secara intra muskuler (im) di daerah deltoideus (anakanak di daerah
paha).

Vaksinasi

Dosis

Waktu Pemberian
10

Dasar

Anak
0,5 ml

Dewasa
0,5 ml

4x pemberian:
- Hari ke- 0, 2x pemberian
sekaligus (deltoideus kiri
dan kanan)
- Hari ke- 7 dan 21

Ulangan

b. Dosis dan cara pemberian VAR yang bersamaan dengan SAR sesudah digigit (Post
Exposure Treatment)
Vaksinasi
Dasar

Dosis
Anak
0,5 ml

Waktu Pemberian
Dewasa
0,5 ml

4x pemberian:
- Hari ke- 0, 2x pemberian
sekaligus (deltoideus kiri
dan kanan)

Ulangan

0,5 ml

0,5 ml

- Hari ke- 7 dan 21


- Hari ke- 90

2. Suckling Mice Brain Vaccine (SMBV)


Kemasan :
- Dos berisi 7 vial @ 1 dosis dan 7 ampul pelarut @ 2 ml.
- Dos berisi 5 ampul @ 1 dosis intra cutan dan 5 ampul pelarut @ 0,4 ml.
a. Dosis dan cara pemberian sesudah digigit (Post Exposure Treatment)
- Cara pemberian :
Untuk vaksinasi dasar disuntikkan secara sub cutan (sc) di sekitar daerah pusar.
Sedangkan untuk vaksinasi ulang disuntikkan secara intra cutan (ic) di bagaian fleksor
lengan bawah.

Vaksinasi

Dasar
Ulangan

Dosis
Anak (3 tahun ke Dewasa
bawah)
1 ml
0,1 ml

2 ml
0,25 ml

Waktu Pemberian

7x pemberian setiap hari


- Hari ke- 11, 15, 30, 90
11

b. Dosis dan cara pemberian bersamaan dengan SAR sesudah digigit (Post Exposure
Treatment)
Vaksinasi

Dasar
Ulangan

Dosis
Anak (3 tahun ke Dewasa
bawah)
1 ml
0,1 ml

Waktu Pemberian

2 ml
0,25 ml

7x pemberian setiap hari


- Hari ke- 11, 15, 30, 90

II. Dosis dan Cara Pemberian Serum Anti Rabies (SAR)


1. Serum Hetorolog (Kuda)
- Kemasan : vial 20 ml (1 ml = 100 IU)
- Cara pemberian :
Disuntikkan secara infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, sisanya disuntikkan
intra
muskuler.
Jenis Serum
Serum heterolog

Dosis
40 IU/kgBB

Waktu Pemberian
Keterangan
Bersamaan dengan Sebelumnya
pemberian VAR hari dilakukan skin test.
ke- 0

2. Serum Monolog
Kemasan : vial 2 ml ( 1 ml = 150 IU )
- Cara pemberian :
Disuntikkan secara infiltrasi di sekitar luka sebanyak mungkin, sisanya disuntikkan
intra
muskuler.
Jenis Serum
Serum heterolog

Dosis
20 IU/kgBB

Waktu Pemberian
Keterangan
Bersamaan dengan Sebelumnya

tidak

pemberian VAR hari dilakukan skin test.


ke- 0

12

III. Dosis dan Cara Pemberian VAR untuk Pengebalan Sebelum Digigit (Pre
Exposure Immunization)
1. Purified Vero Rabies Vaccine (PVRV)
Kemasan :
Vaksin terdiri dari vaksin kering dalam vial dan pelarut sebanyak 0,5 ml dalam
syringe.
- Cara pemberian (cara I) :
Disuntikkan secara intra muskuler (im) di daerah deltoideus.
Vaksinasi
Dasar

Ulangan
Ulangan selanjutnya

Dosis
I. 0,5 ml

Waktu Pemberian
Pemberian pertama (Hari

II. 0,5 ml
0,5 ml

ke- 0)
Hari ke- 28
1 tahun setelah pemberian

0,5 ml

pertama
Tiap 3 tahun

- Cara pemberian (cara II) :


Disuntikkan secara intra kutan di bagian fleksor lengan bawah.
Vaksinasi
Dasar

Ulangan

Dosis
I. 0,1 ml

Waktu Pemberian
Pemberian pertama (Hari

II. 0,1 ml
III. 0,1 ml
0,5 ml

ke- 0)
Hari ke- 7
Hari ke- 28
Tiap 6 bulan 1 tahun

2. Suckling Mice Brain Vaccine (SMBV)


Kemasan :
Dus berisi 7 vial @ 1 dosis dan 7 ampul pelarut @ 2 ml
Dus berisi 5 ampul @ 1 dosis intra cutan dan 5 ampul pelarut @ 0,4 ml.
- Cara pemberian :
Disuntikkan secara intra cutan (ic) di bagian flektor lengan bawah.
Vaksinasi
Dasar

Dosis
Anak
I. 0,1 ml
II. 0,1 ml

Waktu Pemberian
Dewasa
I. 0,25 ml
II. 0,25 ml

Pemberian I
3 minggu setelah
13

III. 0,1 ml
Ulangan

0,1 ml

III. 0,25 ml

pemberian I
6 minggu setelah

0,25 ml

pemberian I
Tiap 1 tahun

Perawatan pasien rabies:


- Penderita dirujuk ke Rumah Sakit
- Sebelum dirujuk, penderita diinfus dengan cairan Ringer Laktat/NACI 0,9%/cairan
lainnya, kalau perlu diberi anti konvulsan dan sebaiknya penderita difiksasi selama di
perjalanan dan waspada terhadap tindaktanduk penderita yang tidak rasional.
- Di Rumah Sakit penderita dirawat di ruang perawatan dan diisolasi.
- Tindakan medik dan pemberian obatobat simptomatis dan supportif termasuk
antibiotik bila diperlukan.
- Untuk menghindari adanya kemungkinan penularan dari penderita, maka sewaktu
menangani kasus rabies pada manusia, hendaknya dokter dan paramedis memakai
sarung tangan, kaca mata dan masker, serta sebaiknya dilakukan fiksasi penderita
pada tempat tidurnya.

BAB III
ANALISIS KASUS
ANALISIS PASIEN SECARA HOLISTIK
a.

Hubungan anamnesis, diagnosis dengan keadaan rumah :


Pasien datang dibawa oleh kedua orang tuanya ke puskesmas dengan keluhan
ada luka bekas digigit kucing pada kaki kanan sejak semalam. Dari keterangan ibunya
saat itu os sedang bermain, kemudian datang kucing liar yang biasa datang kerumah
os, os didekati oleh kucing liar tersebut kemudian tiba-tiba kucing itu menggigit dan
mencakar os, setelah itu kucing tersebut kabur dari rumah os. Os kemudian diobati
lukanya oleh ibunya dengan menggunakan betadin. Beberapa jam setelah kejadian
tersebut os mengalami demam, kemudian os diberikan parasetamol untuk
14

menurunkan demamnya, dan keesokan harinya os dibawa ke Puskesmas untuk


tindakan lanjut.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik, akhirnya didapatkan diagnosa
penyakit yang diderita pasien yaitu Vulnus Morsum e.c Gigitan Hewan suspek Rabies.
b.

Hubungan diagnosis dengan aspek psikologis di keluarga


Secara psikologis pasien tidak punya masalah dalam keluarga. Pasien merupakan anak
yang diharapkan dari perkawinan kedua orang tuanya yang sah.

c.

Hubungan kausal antara beberapa masalah dengan diagnosis


Kausal penyebab dari masalah timbulnya suatu penyakit tersebut tidak ada.

d.

Analisis kemungkinan berbagai faktor risiko atau etiologi penyakit :


Tidak ada.

e.

Analisis untuk menghindari faktor pencetus atau memperberat penyakit :


-

Istirahat yang cukup


Hindari lingkungan yang banyak hewan liarnya.
Menjaga luka agar tetap bersih
Suntik VAR atau SAR, dan suntik ulang pada hari ke 7 dan ke 21.

RENCANA PROMOSI DAN PENDIDIKAN KESEHATAN KEPADA PASIEN DAN


KEPADA KELUARGA

Menjelaskan kepada pasien tentang penyakitnya, menjelaskan tentang pencegahan dan

tatalaksananya.
Minum obat secara teratur sesuai anjuran dokter
Lapor ke Dinas Peternakan untuk mendapatkan vaksin anti rabies.

RENCANA EDUKASI PENYAKIT KEPADA PASIEN DAN KEPADA KELUARGA


Menjelaskan kepada pasien bahwa luka gigitan hewan tersangka rabies merupakan sesuatu
hal yang harus diwaspadai, seharusnya hewan yang menggigit itu ditangkap dan diamati,
hewan yang positif rabies biasanya dalam 14 hari akan mati.

ANJURAN-ANJURAN

PROMOSI

KESEHATAN

PENTING

YANG

DAPAT

MEMBERI SEMANGAT/MEMPERCEPAT PENYEMBUHAN PADA PASIEN


15

1.
2.
3.
4.

Menjelaskan kepada keluarga pasien mengenai penyakitnya


Istirahat yang cukup
Minum obat yang teratur dan sesuai anjuran dokter
Jika ada tanda-tanda atau gejala rabies segera ke RS untuk perawatan intensif

LAMPIRAN

16

17