Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Di era globalisasi seperti sekarang ini masyarakat di Indonesia dituntut untuk
serba cepat diantaranya dalam hal ekonomi, kesehatan, maupun informasi. Tidak
sedikit pula wanita yang telah berumah tangga, memilih hanya sebagai ibu rumah
tangga saja, akan tetapi banyak juga wanita yang memilih untuk berkarir. Bukan
hal yang tak lazim lagi apabila sekarang ini banyak sekali wanita di Indonesia
yang telah berkarir dalam bidangnya masing-masing. Tuntutan rutinitas pekerjaan
yang begitu padat serta menyita waktu terkadang menjadi alasan banyaknya
wanita sekarang ini sulit untuk menjaga kesehatan.
Wanita di zaman sekarang ini bisa dibilang memiliki pola hidup yang kurang
baik, seperti tidak rutin berolah raga, tidak mengatur pola makan secara baik,
serta mudah stress, semua itu merupakan pola hidup yang tidak sehat dan bisa
memancing penyakit untuk menyerang kesehatan tubuh setiap wanita di masa
kini. Ada sebuah penyakit yang terbilang cukup menarik untuk diketahui setiap
wanita khususnya yang berusia produktif di Indonesia sekarang ini yakni penyakit
kista. Kista memiliki banyak jenis, diantaranya adalah kista folikel, kista korpus
luteum, kista denoma, kista dermoid, kista hemorrhage, kista lutein, kista
polikistik ovarium, kista coklat atau yang disebut juga dengan endometriosis
(Saol, 2010).
Pada dasarnya kista dimiliki setiap manusia, baik pria maupun wanita, akan
tetapi kista yang ada di dalam tubuh pria tidak berpotensi untuk menjadi sebuah
penyakit. Sedangkan pada wanita kista berpotensi menjadi penyakit yang
berbahaya apabila mulai aktif di dalam tubuh wanita.
Endometriosis dapat terjadi pada sekitar 515% wanita usia reproduktif pada
populasi umum, dan pada 40% wanita yang mencari pengobatan infertilitas.

Lebih sering terjadi pada wanita usia 25-35 tahun, jarang pada wanita premenars
dan postmenopause. Prevalensi endometriosis secara umum juga terlihat lebih
rendah pada wanita dengan ras hitam dan Asia dibandingkan dengan Kaukasia.
Prevalensi kejadian endometriosis berdasarkan visualisasi organ pelvis dapat
diestimasi dengan :

1% dari wanita yang menjalani bedah mayor dengan semua indikasi


ginekologis

1 sampai 7 % dari wanita yang ditubektomi steril

12 sampai 32% dari wanita usia reproduktif yang dilakukan laparoskopi


diagnostik terhadap keluhan nyeri pelvis

9 sampai 50% wanita women yang dilakukan laparoskopi karena


infertilitas

50% dari remaja perempuan yang dilakukan laparoskopi evaluasi terhadap


nyeri pelvis kronis atau dysmenorrhea.
Pengaruh status sosioekonomi, ras dan umur pada angka prevalensi
endometriosis juga sangat kontroversial. Penundaan kehamilan dikatakan
meningkatkan risiko endometriosis, sehingga kejadian endometriosis dikatakan
lebih sering pada wanita dengan kelas ekonomi tinggi dimana wanita tersebut
lebih sering menunda kehamilan. Namun hal ini mungkin juga diakibatkan oleh
karena wanita tersebut mempunyai kans lebih tinggi untuk mendapat pelayanan
medis.
Endometriosis selama kurang lebih 30 tahun terakhir ini menunjukkan angka
kejadian yang meningkat. Angka kejadian antara 5 15% dapat ditemukandi
antara semua operasi pelvic. Yang menarik adalah bahwa endometriosis
lebihsering ditemukan pada wanita yang tidak menikah pada umur muda, dan
tidak mempunyai banyak anak.
Di Amerika Serikat, endometriosis timbul pada 7 10% populasi,
biasanya berefek pada wanita usis produktif. Prevalensi endometriosis pada
2

wanita infertileadalah sebesar 20 50% dan 80% pada wanita dengan nyeri
pelvis. Terdapatketerkaitan keluarga, dimana resiko meningkat 10 kali lipat pada
wanita dengankeluarga derajat pertama yang mengidap penyakit ini (Kapoor,
2009).

B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa definisi dari kista endometriosis dan laparotomy ?
2. Apa etiologi dari kista endometriosis?
3. Bagaimana anatomi fungsional pada anak kista endometriosis?
4. Bagaimana patofisiologi dari kista endometriosis?
5. Bagaimana tanda dan gejala dari kista endometriosis?
6. Bagaimana pencegahan dari kista endometriosis?
7. Bagaimana prognosis dari pasien kista endometriosis?
8. Bagaimana patient safety yang dilaksanakan?
9. Bagaimana underlying process pada kasus kista endometriosis?
10. Bagaimana proses fisioterapi pada kista endometriosis?

C. TUJUAN MAKALAH
1. Mengetahui definisi dari kista endometriosis dan laparotomy.
2. Mengetahui etiologi dari kista endometriosis.
3. Mengetahui anatomi fungsional pada anak kista endometriosis.
4. Mengetahui patofisiologi dari kista endometriosis.
5. Mengetahui tanda dan gejala dari kista endometriosis.
6. Mengetahui pencegahan dari kista endometriosis.
7. Mengetahui prognosis dari pasien kista endometriosis.
8. Mengetahui patient safety yang dilaksanakan.
9. Mengetahui underlying process pada kasus kista endometriosis.
10. Mengetahui proses fisioterapi pada kista endometriosis.

BAB II
PEMBAHASAN
A. DESKRIPSI KASUS
a. Definisi
1. Kista Endometriosis
Endometriosis adalah implan jaringan (sel-sel kelenjar dan stroma)
abnormal mirip endometrium yang tumbuh di sisi luar kavum uterus,dan
memicu reaksi peradangan menahun. (Heriansyah 2011)
Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip
dengan selaput dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di
ovarium dan berkembang menjadi kista. Kista ini sering disebut juga
sebagai kista coklat endometriosis karena berisi darah coklat-kemerahan.
Kista ini berhubungan dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan
nyeri haid dan nyeri senggama. Kista ini berasal dari sel-sel selaput perut
yang disebut peritoneum. (Safitri,2011)
2. Laparatomi
Bedah Laparatomi adalah tindakan operasi pada daerah abdomen
merupakan teknik sayatan yang dilakukan pada daerah abdomen yang
dilakukan pada bedah digesif dan kandungan. Adapun tindakan digesif
yang sering dilakukan dengan teknik sayatan arah laparatomi. (Smeltzer,
2001).
Tindakan bedah yang sering dilakukan dengan teknik sayatan arah
laparatomi adalah berbagai jenis operasi. Contohnya operasi uterus,
operasi ovarium, operasi ileus selain tindakan bedah dengan teknik
sayatan laparatomi dengan bedah digesif dan kandungan. (Smeltzert,
2001).

Post

operatif

Laparatomi

merupakan

tahapan

setelah

proses

pembedahan pada area abdomen (laparatomi) dilakukan. Dalam Perry dan


Potter (2005) dipaparkan bahwa tindakan post operatif dilakukan dalam 2
tahap yaitu

periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah fase post


operatif. Proses pemulihan tersebut membutuhkan perawatan post laparatomi.
Perawatan post laparatomi adalah bentuk pelayanan perawatan yang di
berikan kepada klien yang telah menjalani operasi pembedahan abdomen.
b. Etiologi

Penyebabnya bisa karena infeksi kandungan menahun, misalnya keputihan


yang tidak ditangani sehingga kuman-kumannya masuk kedalam selaput perut
melalui saluran indung telur. Infeksi tersebut melemahkan daya tahan selaput
perut, sehingga mudah terserang penyakit.
Endometriosis ini disebabkan oleh karena siklus haid yang tidak berjalan
dengan baik sehingga darah kotor yang seharusnya terbuang dengan lancar
menjaditersumbat dan menetap didalam rahim wanita tersebut dan menjadi
semakin membesar karena terus-menerus tertampung, ini terjadi karena gangguan
hormon estrogen dan

progesteron

di dalam tubuh wanita tidak seimbang

(Nasdaldy, 2009).
Apabila ada akibat, maka pasti ada penyebabnya, begitu

juga

dengan

penyakit kista endometriosis ini, yang tergolong tinggi kasusnya pada wanita
usia produktif. Berikut beberapa hal yang dapat mendorong terbentuknya kista
endometriosis yakni:
1. Pola makan, jika banyak makan makanan berlemak dan kurang serat, maka
lemak yang berlebih akan susah dipecah oleh tubuh sehingga dapat berlanjut
dengan gangguan hormon. Demikian juga dengan pola makan yang tidak
teratur, mengkonsumsi zat-zat tambahan sintetik pada makanan secara tidak
sengaja.
2. Faktor psikologis, misalnya stres, depresi. Pola hormon sangat dipengaruhi oleh
stres, sehingga menyebabkan jumlah hormon tidak terkendali / terganggu. Hal
ini berdampak pada perkembangan kista yang tergantung pada hormonal,
seperti kista endometriosis.

3.

Faktor genetik, ada sebagian orang yang secara genetik lebih besar
kecenderungannya untuk menderita kanker. Ada pula orang yang secara genetik lebih
kecil kemungkinannya. Sebab itu, jika dalam riwayat kesehatan keluarga ada
beberapa orang yang diketahui mendrita kanker.

4.

Gaya hidup tidak sehat, misalnya kurang olahraga, merokok.


Dari penjelasan yang ada di atas bahwa bisa ditarik kesimpulan bahwa
sebagian besar masalah yang ada ditimbulkan oleh kemajuan zaman yang
menuntut segala sesuatunya serba instan dan tuntutan rutinitas yang padat menjadi
faktor kuat penyebab kista endometriosis terjadi pada kaum wanita khususnya
wanita yang berusia produktif yang menjalani rutinitasnya sebagai wanita karir.
c.

Anatomi Fungsional
Anatomi fisiologi sistem reproduksi wanita dibagi menjadi 2 bagian yaitu: alat

reproduksi wanita bagian dalam yang terletak di dalam rongga pelvis, dan alat
reproduksi wanita bagian luar yang terletak di perineum.
1. Alat genitalia wanita bagian luar

Gambar 2.1

a. Mons veneris / Mons pubis


Disebut juga gunung venus merupakan bagian yang menonjol di bagian depan
simfisis terdiri dari jaringan lemak dan sedikit jaringan ikat setelah dewasa
tertutup oleh rambut yang bentuknya segitiga. Mons pubis mengandung banyak
kelenjar sebasea (minyak) berfungsi sebagai bantal pada waktu melakukan
hubungan seks.
b. Bibir besar (Labia mayora)
Merupakan kelanjutan dari mons veneris berbentuk lonjong, panjang labia
mayora 7-8 cm, lebar 2-3 cm dan agak meruncing pada ujung bawah. Kedua bibir
ini dibagian bawah bertemu membentuk perineum, permukaan terdiri dari:
1. Bagian luar
Tertutup oleh rambut yang merupakan kelanjutan dari rambut pada mons
veneris.
2. Bagian dalam
Tanpa rambut merupakan selaput yang mengandung kelenjar sebasea (lemak).
c. Bibir kecil (labia minora)
Merupakan lipatan kulit yang panjang, sempit, terletak dibagian dalam bibir
besar (labia mayora) tanpa rambut yang memanjang kea rah bawah klitoris dan
menyatu dengan fourchette, semantara bagian lateral dan anterior labia biasanya
mengandung pigmen, permukaan medial labia minora sama dengan mukosa
vagina yaitu merah muda dan basah.
d. Klitoris
Merupakan bagian penting alat reproduksi luar yang bersifat erektil, dan
letaknya dekat ujung superior vulva. Organ ini mengandung banyak pembuluh
darah dan serat saraf sensoris sehingga sangat sensitive analog dengan penis lakilaki. Fungsi utama klitoris adalah menstimulasi dan meningkatkan ketegangan
seksual.

e. Vestibulum
Merupakan alat reproduksi bagian luar yang berbentuk seperti perahu atau
lonjong, terletak di antara labia minora, klitoris dan fourchette. Vestibulum terdiri
dari muara uretra, kelenjar parauretra, vagina dan kelenjar paravagina. Permukaan
vestibulum yang tipis dan agak berlendir mudah teriritasi oleh bahan kimia,
panas, dan friksi.
f. Perinium
Merupakan daerah muskular yang ditutupi kulit antara introitus vagina dan
anus. Perinium membentuk dasar badan perinium.
g. Kelenjar Bartholin
Kelenjar penting di daerah vulva dan vagina yang bersifat rapuh dan mudah
robek. Pada saat hubungan seks pengeluaran lendir meningkat.
h. Himen (Selaput dara)
Merupakan jaringan yang menutupi lubang vagina bersifat rapuh dan mudah
robek, himen ini berlubang sehingga menjadi saluran dari lendir yang di
keluarkan uterus dan darah saat menstruasi.
i. Fourchette
Merupakan lipatan jaringan transversal yang pipih dan tipis, terletak pada
pertemuan ujung bawah labia mayoradan labia minora. Di garis tengah berada di
bawah orifisium vagina. Suatu cekungan kecil dan fosa navikularis terletak di
antara fourchette dan himen.

10

2. Alat genitalia wanita bagian dalam

Gambar 2.2 Organ Interna Wanita ( Bobak, IM, 2000 )


a. Vagina

Vagina adalah suatu tuba berdinding tipis yang dapat melipat dan mampu
meregang secara luas karena tonjolan serviks ke bagian atas vagina. Panjang
dinding anterior vagina hanya sekitar 9 cm, sedangkan panjang dinding posterior
11 cm. Vagina terletak di depan rectum dan di belakang kandung kemih. Vagina
merupakan saluran muskulo-membraneus yang menghubungkan rahim dengan
vulva. Jaringan muskulusnya merupakan kelanjutan dari muskulus sfingter ani
dan muskulus levator ani oleh karena itu dapat dikendalikan.
Pada dinding vagina terdapat lipatan-lipatan melintang disebut rugae dan
terutama di bagian bawah. Pada puncak (ujung) vagina menonjol serviks pada
bagian uterus. Bagian servik yang menonjol ke dalam vagina di sebut portio.

10

11

Portio uteri membagi puncak vagina menjadi empat yaitu: fornik anterior, fornik
posterior, fornik dekstra, fornik sinistra.
Sel dinding vagina mengandung banyak glikogen yang menghasilkan asam
susu dengan PH 4,5. Keasaman vagina memberikan proteksi terhadap infeksi.
Fungsi utama vagina yaitu sebagai saluran untuk mengeluarkan lendir uterus dan
darah menstruasi, alat hubungan seks dan jalan lahir pada waktu persalinan.
b. Uterus
Merupakan jaringan otot yang kuat, berdinding tebal, muskular, pipih, cekung
dan tampak seperti bola lampu / buah peer terbalik yang terletak di pelvis minor
di antara kandung kemih dan rectum. Uterus normal memiliki bentuk simetris,
nyeri bila ditekan, licin dan teraba padat.
Uterus terdiri dari tiga bagian yaitu: fundus uteri yaitu bagian corpus uteri yang
terletak di atas kedua pangkal tuba fallopi, corpus uteri merupakan bagian utama
yang mengelilingi kavum uteri dan berbentuk segitiga, dan seviks uteri yang
berbentuk silinder. Dinding belakang, dinding depan dan bagian atas tertutup
peritoneum sedangkan bagian bawahnya berhubungan dengan kandung kemih.
Untuk mempertahankan posisinya uterus disangga beberapa ligamentum,
jaringan ikat dan peritoneum. Ukuran uterus tergantung dari usia wanita, pada
anak-anak ukuran uterus sekitar 2-3 cm, nullipara 6-8 cm, dan multipara 8-9 cm.
Dinding uterus terdiri dari tiga lapisan yaitu peritoneum, miometrium / lapisan
otot, dan endometrium.
1) Peritoneum
a. Meliputi dinding rahim bagian luar
b. Menutupi bagian luar uterus
c. Merupakan penebalan yang diisi jaringan ikat dan
d. pembuluh darah limfe dan urat saraf
e. Meliputi tuba dan mencapai dinding abdomen

11

12

2) Lapisan otot
a. Lapisan luar: seperti Kapmelengkung dari fundus uteri menuju
ligamentum.
b. Lapisan dalam: berasal dari osteum tuba uteri sampai osteum uteri
internum.
c. Lapisan tengah: terletak di antara kedua lapisan tersebut membentuk
lapisan tebal anyaman serabut otot rahim. Lapisan tengah ditembus oleh
pembuluh darah arteri dan vena. Lengkungan serabut otot ini membentuk
angka dan sehingga saat terjadi kontraksi pembuluh darah terjepit rapat
dengan demikian perdarahan dapat terhenti.
3) Semakin ke arah serviks otot rahim makin berkurang dan jaringan ikatnya
bertambah. Bagian rahim yang terletak antara osteum uteri internum
anatomikum yang merupakan batas dan kavum uteri dan kanalis servikalis
dengan osteum uteri histologikum (dimana terjadi perubahan selaput lendir
kavum uteri menjadi selaput lendir serviks) disebut istmus. Istmus uteri ini
akan menjadi segmen bawah rahim dan meregang saat persalinan.
4) Kedudukan uterus dalam tulang panggul ditentukan oleh tonus otot rahim
sendiri, tonus ligamentum yang menyangga, tonus otot-otot dasar panggul,
ligamentum yang menyangga uterus adalah ligamentum latum, ligamentum
rotundum (teres uteri) ligamentum infindibulo pelvikum (suspensorium
ovarii) ligamentum kardinale machenrod, ligamentum sacro uterinum dan
ligamentum uterinum.
a) Ligamentum latum
1. Merupakan lipatan peritoneum kanan dan kiri uterus meluas sampai ke
dinding panggul

12

13

2. Ruang antara kedua lipatan berisi jaringan ikat longgar dan mengandung
pembuluh darah limfe dan ureter
3. Ligamentum latum seolah-olah tergantung pada tuba fallopi
4. Ligamentum rotundum (teres uteri)
5. Mulai sedikit kaudal dari insersi tuba menuju kanalis inguinalis dan
mencapai labia mayus
6. Terdiri dari otot polos dan jaringan ikat
7. Fungsinya menahan uterus dalam posisi antefleksi
b) Ligamentum infundibulo pelvikum
1. Terbentang dari infundibulum dan ovarium menuju dinding panggul
2. Menggantung uterus ke dinding panggul
3. Antara tuba fallopi dan ovarium terdapat ligamentum ovarii proprium
c) Ligamentum kardinale machenrod
1. Dari serviks setinggi osteum uteri internum menuju panggul
2. Menghalangi pergerakan uterus ke kanan dan ke kiri
3. Tempat masuknya pembuluh darah menuju uterus
4. Ligamentum sacro uterinum. Merupakan penebalan dari ligamentum
kardinale machenrod menuju os sacrum
e) Ligamentum vesika uterinum
1. Dari uterus menuju ke kandung kemih
2. Merupakan jaringan ikat yang agak longgar sehingga dapat mengikuti
perkembangan uterus saat hamil dan persalinan
5) Pembuluh darah uterus
a Arteri uterina asenden yang menuju corpus uteri sepanjang dinding lateral
dan memberikan cabangnya menuju uterus dan di dasar endometrium
membentuk arteri spinalis uteri

13

14

Di bagian atas ada arteri ovarika untuk memberikan darah pada tuba
fallopi dan ovarium melalui ramus tubarius dan ramus ovarika.

6) Susunan saraf uterus


Kontraksi otot rahim bersifat otonom dan dikendalikan oleh saraf simpatis dan
parasimpatis melalui ganglion servikalis fronkenhouser yang terletak pada
pertemuan ligamentum sakro uterinum.
c. Tuba Fallopi
Tuba fallopi merupakan saluran ovum yang terentang antara kornu uterine
hingga suatu tempat dekat ovarium dan merupakan jalan ovum mencapai rongga
uterus. terletak di tepi atas ligamentum latum berjalan ke arah lateral mulai dari
osteum tubae internum pada dinding rahim. Panjang tuba fallopi 12cm diameter
3-8cm. Dinding tuba terdiri dari tiga lapisan yaitu serosa, muskular, serta mukosa
dengan epitel bersilia.
Tuba fallopi terdiri atas :
1.

Pars interstitialis (intramularis) terletak di antara otot rahim mulai dari osteum
internum tuba.

2.

Pars istmika tubae, bagian tuba yang berada di luar uterus dan merupakan
bagian yang paling sempit.

3.

Pars ampuralis tubae, bagian tuba yang paling luas dan berbentuk s.

4.

Pars infindibulo tubae, bagian akhir tubae yang memiliki lumbai yang disebut
fimbriae tubae.
Fungsi tuba fallopi :

1.

Sebagai jalan transportasi ovum dari ovarium sampai kavum uteri.

2.

Untuk menangkap ovum yang dilepaskan saat ovulasi.

3.

Sebagai saluran dari spermatozoa ovum dan hasil konsepsi.

4.

Tempat terjadinya konsepsi.

14

15

5. Tempat pertumbuahn dan perkembangan hasil konsepsi sampai mencapai


bentuk blastula yang siap mengadakan implantasi.
d. Ovarium
Ovarium berfungsi dalam pembentukan dan pematangan folikel menjadi ovum,
ovulasi, sintesis, dan sekresi hormon hormon steroid. Letak: Ovarium ke arah
uterus bergantung pada ligamentum infundibulo pelvikum dan melekat pada
ligamentum latum melalui mesovarium.
Jenis: Ada 2 bagian dari ovarium yaitu:
1) Korteks ovarii
a. Mengandung folikel primordial
b. Berbagai fase pertumbuhan folikel menuju folikel de graff
c. Terdapat corpus luteum dan albikantes
2) Medula ovarii
a. Terdapat pembuluh darah dan limfe
b. Terdapat serat saraf
c. Parametrium ,
Parametrium adalah jaringan ikat yang terdapat di antara ke dua lembar
ligamentum latum.
Batasan parametrium
1. Bagian atas terdapat tuba fallopi dengan mesosalping
2. Bagian depan mengandung ligamentum teres uteri
3. Bagian kaudal berhubungan dengan mesometrium.
4. Bagian belakang terdapat ligamentum ovarii
d. Patofisiologi
Kista yang terbentuk dari jaringan endometriosis (jaringan mirip dengan
selaput dinding rahim yang tumbuh di luar rahim) menempel di ovarium dan
berkembang menjadi kista. Kista ini sering disebut juga sebagai kista coklat
endometriosis karena berisi darah coklat-kemerahan. Kista ini berhubungan

15

16

dengan penyakit endometriosis yang menimbulkan nyeri haid dan nyeri


senggama. Kista ini berasal dari sel-sel selaput perut yang disebut peritoneum.
Penyebabnya bisa karena infeksi kandungan menahun, misalnya keputihan yang
tidak ditangani sehingga kuman-kumannya masuk kedalam selaput perut melalui
saluran indung telur.Infeksi tersebut melemahkan daya tahan selaput perut,
sehingga mudah terserang penyakit. Gejala kista ini sangat khas karena berkaitan
dengan haid. Seperti diketahui, saat haid tidak semua darah akan tumpah dari
rongga rahim ke liang vagina, tapi ada yang memercik ke rongga perut. Kondisi
ini merangsang sel-sel rusak yang ada di selaput perut mengidap penyakit baru
yang dikenal dengan endometriosis. Karena sifat penyusupannya yang perlahan,
endometriosis sering disebut kanker jinak.
Dinding dari rongga kelenjar terdiri dari lapisan epitel kolumnar tinggi dan
dapat juga terdiri dari lebih satu lapisan. Bukti adanya perdarahan dapat diamati
di luar rongga kelenjar. Bentuk spindle atau sel stellate dapat diamati pada area
interstitial yang edematous di sekitar rongga kelenjar. Sel atipik tidak tampak
pada pemeriksaan sel-sel ini. Endometrioma adalah massa soliter, non neoplastik,
berbatas tegas yang mengandung jaringan endometrium dan juga seringkali darah.
Endometrioma secara klinis bisa dikenali dengan perabaan pada palpasi bila
massa berukuran besar atau hanya muncul sebagai nyeri pelvis kronik dan nyeri
abdomen. Kebanyakan kasus terjadi di dalam pelvis, namun pada endometrioma
atipikal, endometrioma dapat ditemukan pada usus, thorax, dan dinding abdomen.
Banyak dari pasien ini sebelumnya menjalani operasi ginekologi atau seksio sesar
dan histerektomi. Endometrioma dinding abdomen banyak dijumpai pada pasien
dengan riwayat operasi ginekologi. Penemuan khas dari kasus endometriosis
adalah dijumpainya implan endometriosis, endometrioma dan perlengketan atau
adhesi. Implan yang terbentuk dapat sangat kecil sampai dengan beberapa
sentimeter, dapat merupakan lesi implan superfisial ataupun tertanam cukup
dalam. Penampakan warna dari implantasi endometriosis ini bisa berubah selama
siklus menstruasi, dapat membesar dan mengalami kongesti dan mengalami
perdarahan seiring dengan perdarahan siklus menstruasi. Implan endometriosis
16

17

lebih mudah diamati saat fase sekresi siklus menstruasi. Saat ini lesi
endometriosis akan mengeluarkan respons inflamasi dengan pembentukan area
perdarahan, proses fibrotik dan pembentukan perlengketan.
Kista endometriosis (endometrioma) biasanya terjadi di dalam ovarium
sebagai akibat dari perdarahan intra ovarium berulang. Lebih dari 90%
endometrioma adalah pseudokista yang terbentuk akibat invaginasi korteks
ovarium, yang kemudian tertutup oleh pembentukan jaringan adhesi.
Endometrioma dapat sepenuhnya menggantikan jaringan ovarium normal.
Dinding kista umumnya tebal dan fibrotik dan biasanya memiliki perlekatan
fibrotik dan adanya area dengan perubahan warna. Di dalam kista umumnya
terdapat cairan kental, berwarna gelap, berisi produk darah yang sudah
berdegenerasi dimana penampilan ini menyebabkan kista endometriosis atau
endometrioma ini sering disebut kista coklat. Kebanyakan endometrioma terjadi
pada ovarium kiri. Endometrioma bilateral terjadi dalam 50 % kasus dan bisa
ditemukan cukup besar walau jarang melebihi diameter 15 cm. Lokasi lain dari
endometriosis selain ovarium adalah ligament uterus (ligamentum latum
posterior, ligament sacro uterine), cavum Douglas, peritoneum rongga pelvis,
tuba falopi, daerah rektosigmoid dan kandung kemih. Lesi yang besar dan lesi
dengan dinding noduler harus diperiksa untuk menyingkirkan keganasan.
Endometriosis biasanya akan mengalami regresi alami setelah menopause.
e. Tanda Dan Gejala
Gejala-gejala endometriosis umumnya terasa paling parah sebelum dan selama
siklus menstruasi berlangsung. Gejala gejala yang dapat ditemui pada penderita
endometriosis antara lain :
1. Nyeri di perut bagian bawah dan di daerah panggul
Tanda paling umum adalah rasa sakit yang hebat pada perut bagian bawah,
bisa terasa sesekali, ataupun terus-menerus. Rasa sakit ini seringkali menjadi
lebih parah jika si penderita melakukan aktivitas melelahkan.
2. Rasa sakit yang berlebihan saat menstruasi
Endometriosis terjadi saat jaringan endometrium tumbuh di luar rahim. Pada
17

18

penderita endometriosis, jaringan tersebut juga mengalami proses penebalan


dan luruh yang sama dengan siklus menstruasi. Tetapi darah di luar rahim
akhirnya mengendap dan tidak bisa keluar karena terletak di luar rahim.
Endapan tersebut beserta dengan jaringan di sekitarnya akan mengalami iritasi.
Hal ini dapat mengakibatkan rasa sakit yang luar biasa saat menstruasi.
3.

Pendarahan yang berlebihan saat menstruasi

4.

Menstruasi yang tidak teratur (misalnya spotting sebelum menstruasi)

5.

Rasa sakit saat buang air besar serta kecil


Jaringan endometrium yang melekat pada usus besar atau kandung kemih bisa
menyebabkan pembengkakan perut, nyeri ketika buang air besar, perdarahan
melalui rektum selama menstruasi atau nyeri perut bagian bawah ketika
berkemih.

6. Dispareunia (nyeri ketika melakukan hubungan seksual)


Rasa nyeri pada penderita endometriosis biasanya juga dirasakan saat
melakukan

hubungan

seksual

karena

peradangan

yang

terjadi

pada

endometrium menimbulkan rasa sakit yang dapat menyebar di area perut dan
panggul. Proses iritasi yang berlangsung terus menerus ini menyebabkan
pembentukan jaringan parut dan perlengketan di dalam tuba dan ovarium, serta
di sekitar fimbrie tuba. Perlengketan ini bisa menyebabkan pelepasan sel telur
dari ovarium ke dalam tuba falopii terganggu atau tidak terlaksana. Selain itu,
perlengketan juga bisa menyebabkan terhalangnya perjalanan sel telur yang
telah dibuahi menuju ke rahim. Itulah mengapa penderita endometriosis sulit
mendapatkan keturunan.
Pada penderita endometriosis, jaringan endometrium yang melekat pada
ovarium atau struktur di sekitar ovarium bisa membentuk massa yang terisi
darah (endometrioma). Kadang endometrioma pecah dan menyebabkan nyeri
perut tajam yang timbul secara tiba-tiba (Syamsir dan Iwan, 2007).
f. Pencegahan
Berikut langkah-langkah yang harus dilakukan untuk mencegah kista
endometriosis ini:
1.

Rutin berolah raga, seperti senam aerobik, senam yoga, maupun lari pagi, agar
tubuh tetap sehat bugar, membakar lemak agar tidak obesitas, serta asupan oksigen di
18

19

dalam tubuh tercukupi.


2.

Mengkonsumsi buah-buahan segar seperti: jeruk, kiwi, apel, pir, anggur,


stroberi. Begitu juga sayur-sayuran yang berserat seperti: kangkung, bayam,
brokoli agar proses pembuangan kotoran di dalam tubuh menjadi lancar.
3. Mengurangi kebiasaan pola mengkonsumsi makanan- makanan berlemak,
terlalu pedas, makanan olahan, dan yang berpengawet zat kimia, minumminuman bersoda seperti soft drink, karena zat kimia yang ada dalam
makanan maupun minuman berpengawet mampu memancing pertumbuhan
kista di dalam tubuh wanita.

4.

Melakukan juga aktifitas yang menyenangkan namun tetap sehat seperti


liburan berekreasi ke tempat-tempat yang bisa menghilangkan kejenuhan atau stress
setelah melakukan rutinitas yang padat dan menyita waktu serta tenaga.
5.
Istirahat secukupnya, dan jangan telat makan, karena asupan gizi harus
seimbang.

Sedangkan

langkah pengobatan yang harus diambil oleh penderita

kista endometriosis tidak berbeda jauh dengan langkah pencegahan dalam hal
menjaga pola konsumsi, tingkat stress, adapun langkah lain selebihnya sebagai
berikut:
1. Rutin melakukan pemeriksaan klinis ginekologi untuk mendeteksi adanya kista
atau pembesaran ovarium lainnya, pemeriksaan USG, bila perlu dengan alat
Doppler untuk mendeteksi aliran darah, pemeriksaan petanda tumor (tumor
marker), pemeriksaan CT-Scan / MRI bila dianggap perlu.
2. Tipe olah raga yang dianjurkan bagi wanita penderita kista endometriosis ialah
senam yoga, karena dengan senam ini keadaan tubuh bisa menjadi lebih santai,
dan pikiranpun menjadi tenang, agar tingkat stress akibat rutinitas sehari-hari bisa
hilang dan tidak menjadi beban yang berdampak negatif bagi kesehatan. Namun
tipe olah raga yang berat tidak dianjurkan bagi penderita kista endometriosis ini,
karena dapat menimbulkan goncangan pada rahim yang akan menyebabkan rasa
sakit yang sangat hebat.
3.

Operasi, kista endometriosis juga bisa diobati melalui langkah pembedahan


atau pengangkatan kista yang melekat pada dinding rahim wanita, namun langkah
19

20

inipun tidak sepenuhnya dapat berhasil, karena kista tersebut bisa muncul kembali
suatu saat kemudian, karena banyak sebab, selain karena pola makan yang salah,
gangguan hormon
4. Menunggu masa menopause, wanita akan berhenti menstruasi saat mencapai
masa menopause yakni ketika memasuki usia 45 55 tahun, karena pada tahap ini
wanita akan
sehingga

berhenti

kista

mengeluarkan

endometriosis

akan

darah

kotor

terhenti

yang

ada pada tubuh,

masa perkembangannya dan

kistanya akan hilang dengan sendirinya karena organ rahimya telah tidak berfungsi
lagi.
5. Rutin mengkonsumsi obat dari dokter maupun menjalani terapi penyembuhan
tradisional seperti minum kunir putih yang dipercaya dapat

mengobati kista

endometriosis.

g. Prognosis
Pada pasien yang mengalami pembedahan radikal, 3% akan mengalami
endometriosis kembali. Sedangkan pasien yang mengalami pembedahan
konservatif, 10% akan menderita kembali pada 3 tahun pertama dan 35% pada 5
tahun pertama. Pemeriksaan CA 125 secara serial mungkin berguna untuk
memperkirakan kemungkinan rekurensi setelah terapi.
Endometriosis tak dapat disembuhkan total, namun gejala dapat dikendalikan
dengan obat-obatan dan kemandulan sebagian besar dapat teratasi dengan
tindakan operatif. Umumnya penyakit akan mereda setelah menopause. Angka
kekambuhan dalam 5 tahun pasca operasi konservatif diperkirakan sekitar 20 40
%. (Syamsir dan Iwan, 2007).
Kesimpulan :
1. Quo ad vitam

: baik

2. Quo ad sanam

: baik

3. Quo ad functionam

: baik

4. Quo ad cosmeticam

: baik

h. Pasien Safety
Keselamatan pasien (patient safety) adalah suatu sistem dimana rumah sakit
20

21

membuat asuhan pasien lebih aman, mencegah terjadinya cedera yang disebabkan
oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak mengambil tindakan
yang seharusnya diambil. Sistem tersebut meliputi pengenalan risiko, identifikasi dan
pengelolaan hal yang berhubungan dengan resiko pasien, pelaporan dan analisis
insiden, kemampuan belajar dari insiden, tindak lanjut dan implementasi solusi untuk
meminimalkan resiko (Depkes 2008).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 1691/ Menkes/ Per/ VIII/ 2011,
keselamatan pasien rumah sakit adalah suatu sistem dimana rumah sakit membuat
asuhan pasien lebih aman yang meliputi asesmen risiko, identifikasi dan pengelolaan
hal yang berhubungan dengan risiko pasien, pelaporan dan analisis insiden,
kemampuan belajar dari insiden dan tindak lanjutnya serta implementasi solusi untuk
meminimalkan timbulnya risiko dan mencegah terjadinya cedera yang disebabkan
oleh kesalahan akibat melaksanakan suatu tindakan atau tidak
mengambil tindakan yang seharusnya diambil.
Tujuh Standar Keselamatan Pasien Standar keselamatan pasien menurut
Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1691/Menkes/Per/VIII/2011
Keselamatan Pasien Rumah Sakit, Pasal 7 ayat (2) meliputi:

tentang

1. Hak pasien
Standarnya adalah pasien & keluar ganya mempunyai hak untuk mendapatkan
informasi tentang rencana & hasil pelayanan termasuk kemungkinan terjadinya
KTD (Kejadian Tidak Diharapkan). Kriterianya adalah sebagai berikut:
a.

Harus ada dokter penanggung jawab pelayanan.

b.

Dokter penanggung jawab pelayanan wajib membuat rencana pelayanan

c.

Dokter penanggung jawab pelayanan wajib memberikan penjelasan yang jelas


dan benar kepada pasien dan keluarga tentang rencana dan hasil pelayanan,
pengobatan atau prosedur untuk pasien termasuk kemungkinan terjadinya KTD.
2. Mendidik pasien dan keluarga
Standarnya adalah RS harus mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban
& tanggung jawab pasien dalam asuhan pasien. Kriterianya adalah keselamatan
dalam pemberian pelayanan dapat ditingkatkan dengan keterlibatan pasien adalah
partner dalam proses pelayanan. Karena itu, di RS harus ada sistim dan mekanisme
21

22

mendidik pasien & keluarganya tentang kewajiban & tanggung jawab pasien
dalam asuhan pasien. Dengan pendidikan tersebut diharapkan pasien & keluarga
dapat:
a.

Memberik an info yang benar, jelas, lengkap dan jujur

b.

Mengetahui kewajiban dan tanggung jawab

c.

Mengajukan pertanyaan untuk hal yang tidak dimengerti

d.

Memahami dan menerima konsekuensi pelayanan

e.

Mematuhi instruksi dan menghormati peraturan RS

f.

Memperlihatkan sikap menghormati dan tenggang rasa

g.

Memenuhi kewajiban finansial yang disepakati


3. Keselamatan pasien dalam kesinambungan pelayanan;
Standarnya adalah RS menjamin kesinambungan pelayanan dan menjamin
koordinasi antar tenaga dan antar unit pelayanan dengan kriteri sebagai berikut:

a.

Koordinasi pelayanan secara menyeluruh

b.

Koordinasi pelayanan disesuaikan kebutuhan pasien dan kelayakan sumber


daya

c.

Koordinasi pelayanan mencakup peningkatan komunikasi

d.

Komunikasi dan transfer informasi antar profesi kesehatan


4. Penggunaan metode peningkatan kinerja untuk melakukan evaluasi dan program
peningkatan keselamatan pasien. Standarnya adalah RS harus mendisain proses
baru atau memperbaiki proses yang ada, memonitor & mengevaluasi kinerja
melalui pengumpulan data, menganalisis secara intensif KTD, & melakukan
perubahan untuk meningkatkan kinerja serta KP dengan kriteria sebagai berikut:

a.

Setiap rumah sakit harus melakukan proses perancangan (design) yang baik,
sesuai denganTujuh Langkah Menuju Keselamatan Pasien Rumah Sakit.
b. Setiap rumah sakit harus melakukan pengumpulan data kinerja
c. Setiap rumah sakit harus melakukan evaluasi intensif
d. Setiap rumah sakit harus menggunakan semua data dan informasi hasil
analisis
5. Peran kepemimpinan dalam meningkatkan keselamatan pasien
22

23

a. Pimpinan dorong & jamin implementasi program KP melalui penerapan


7 Langkah Menuju KP RS.
b. Pimpinan menjamin berlangsungnya program proaktif identifikasi risiko KP
& program mengurangi KTD.
c. Pimpinan dorong & tumbuhkan komunikasi & koordinasi antar unit &
individu berkaitan dengan pengambilan keputusan tentang KP.
d. Pimpinan mengalokasikan sumber daya yang adekuat untuk mengukur,
mengkaji, & meningkatkan kinerja RS serta tingkatkan KP.
e. Pimpinan mengukur & mengkaji efektifitas kontribusinya
meningkatkan kinerja RS & KP, dengan criteria sebagai berikut:
a)

dalam

Terdapat tim antar disiplin untuk mengelola program keselamatan pasien.

b)

Tersedia program proaktif untuk identifikasi risiko keselamatan dan program


meminimalkan insiden,

c)

Tersedia mekanisme kerja untuk menjamin bahwa semua komponen dari


rumah sakit terintegrasi dan berpartisipasi

d)

Tersedia prosedur cepat-tanggap terhadap insiden, termasuk asuhan kepada


pasien yang terkena musibah, membatasi risiko pada orang lain
dan

penyampaian informasi yang benar dan jelas untuk keperluan

analisis.
e)
f)
g)

Tersedia mekanisme pelaporan internal dan eksternal berkaitan dengan


insiden,
Tersedia mekanisme untuk menangani berbagai jenis insiden
Terdapat kolaborasi dan komunikasi terbuka secara sukarela antar unit dan
antar pengelola pelayanan

h)

Tersedia sumber daya dan sistem informasi yang dibutuhkan

i)

Tersedia sasaran terukur, dan pengumpulan informasi menggunakan kriteria


objektif untuk mengevaluasi efektivitas perbaikan kinerja rumah sakit dan
keselamatan pasien
6. Mendidik staf tentang keselamatan pasien
a. RS memiliki proses pendidikan, pelatihan & orientasi untuk setiap jabatan
mencakup keterkaitan jabatan dengan KP secara jelas.
23

24

b. RS menyelenggarakan pendidikan & pelatihan yang berkelanjutan untuk


meningkatkan & memelihara kompetensi staf serta mendukung pendekatan
interdisiplin dalam pelayanan pasien, dengan kriteria sebagai berikut:
a)

Memiliki program diklat dan orientasi bagi staf baru yang memuat topik
keselamatan pasien.

b)

Mengintegrasikan topik keselamatan pasien dalam setiap kegiatan inservice


Training dan memberi pedoman yang jelas tentang pelaporan insiden.

c)

Menyelenggarakan pelatihan tentang kerjasama kelompok (teamwork) guna


mendukung pendekatan interdisiplin dan kolaboratif dalam rangka melayani pasien.
7. Komunikasi merupakan kunci bagi staf untuk mencapai keselamatan pasien
Standarnya adalah:

a.

RS merencanakan & mendesain proses manajemen informasi KP untuk


memenuhi kebutuhan informasi internal & eksternal.

b.

Transmisi data & informasi harus tepat waktu & akurat, dengan criteria
sebagai berikut:
1. Disediakan anggaran untuk merencanakan dan mendesain proses
manajemen untuk memperoleh data dan informasi tentang hal-hal terkait
dengan keselamatan pasien.
2. Tersedia mekanisme identifikasi masalah dan kendala komunikasi untuk
merevisi manajemen informasi yang ada.
Klinik fisioterapi di Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta
melaksanakan beberapa aturan tentang pasien safety, seperti :

Terapis mencuci tangan terlebih dahulu sebelum memegang atau


melakukan terapi terhadap pasien.

Terapis menggunakan sarung tangan dan masker saat melakukan


terapi.

Alat terapi dibersihkan terlebih dahulu sebelum digunakan.

Terapis selalu berhati-hati saat melakukan terapi latihan dengan pasien

Komunikasi antara kepala klinik dan pelaksana sudah terjalin dengan baik.

24

25

i. Underlying Procces
Infeksi kandungan menahun (keputihan yang
tidak ditangani)

Kuman masuk ke dalam selaput melalui


indung telur

Infeksi tersebut melemahkan daya tahan


selaput perut

Saat haid tidak semua darah akan tumpah


dari rongga rahim ke liang vagina, tapi ada
yang memercik ke rongga perut. Kondisi ini
merangsang sel-sel rusak yang ada di
selaput perut dan terjadi Kista

Dilakukan laparotomi / ooforectomy kanan

Adanya kerusakan jaringan

Muncul proses inflamasi

25
Terjadi pelepasan zat-zat kimia
(prostaglandin, serotonin, bradikinin,
histamin, substansi P dan lekotrein)

26

Mengaktivasi nosiseptor (reseptor nyeri)


berupa saraf A delta dan saraf C

Merangsang saraf perifer menyalurkan


impuls ke medulla spinalis

Menuju ke PHC (Posterior Horn Cell) atau


thalamus (pusat sensori pertama
dipersepsikan)

Impuls nyeri melewati Gate Control


(Substansia Gelatinosa)

Impuls masuk ke Cortex Cerebri untuk


persepsi intensitas dan lokasi nyeri

Persepsi Nyeri selesai

Gangguan Mobilisasi

26

27

B. DESKRIPSI PROBLEMATIKA FISIOTERAPI

1. Assessment
Fisioterapi

a. Keterangan Umum Penderita

Nama

: Ny. Siti Maryati

Umur

: 40 tahun

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Patangpuluhan, Wirobrajan 3/215 RT 01/01

Nomor Rekam Medik

: 664555

Data Medis Rumah Sakit / Klinik


Radiologi

: Tidak ada

Laboratorium

: Hb 14,1 g/dl
Leukosit 8,8 rb/uL

USG

: terdapat Kista Endometriosis

b. Anamnesis
Autoanamnesis
Heteroanamnesis

1. Keluhan Utama
Nyeri pada bekas luka jahitan operasi, nyeri saat bergerak

27

28

2. Riwayat Penyakit Sekarang


Nyeri pada saat haid, dokter menyampaikan terdapat kista endometriosis
bagian kanan, kemudian dilakukan operasi pada 2 Agustus 2016 di RS
PKU Kota Yogyakarta
-

Pasien mengeluh nyeri pada luka jahitan bekas bekas operasi dan
kesulitan bergerak
3. Riwayat Penyakit Dahulu dan Penyerta
- Tidak ada

c. Pemeriksaan Objektif
1. Vital Sign
Blood Pressure

: 114/68 mmHg

Heart Rate

: 110 x/menit

Respiratory Rate

: x/mnt

Temperature

2. Pemeriksaan Sistemik Khusus


Muskuloskeletal
-

Dari tidur ke duduk

Dari duduk ke berdiri

Saat berjalan

: Nyeri saat melakukan gerakan

: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan

Kardiopulmonal
Neuromuskuler
: Skala VAS = 6
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan

Integument
28

29

3. Pengukuran Khusus
Muskuloskeletal
Kardiopulmonal
Neuromuskuler
Integument

29

30

2. Impairment
Nyeri pada lika bekas incisi (pembedahan Laparotomi / Ooforektomi)
Kesulitan dalam mobilisasi
3. Functional Limitation
Pasien kesulitan menggerakkan kaki
Pasien kesulitan bangkit dari tidur ke duduk dan duduk ke berdiri
4. Participation Restriction
Pasien belum bisa melakukan aktivitas berjualan di warung

C.

PENATALAKSANAAN FISIOTERAPI
1.

Intervensi Fisioterapi
a) Posisi Pasien

: Duduk

b) Posisi Terapis

: Berdiri di samping pasien

c) Pelaksanaan Terapi
Terapis memberikan edukasi mengenai posisi mengangkat barang yang benar,
pasien tidak diperkenankan mengangkat barang berat, tidak
diperkenankan mengangkat kaki >45
d) Dosis: 2x sehari
1. Latihan pernafasan perut atau abdominal breathing exercise
Sikap berbaring terlentang kedua tangan di samping badan, kedua kaki
ditekuk pada lutut dan santai.
Bentuk latihan pernapasan perut (1) letakkan tangan kiri di atas perut,
(2) lakukan pernafasan diafragma, yaitu tarik nafas melalui hidung, tangan
kiri naik ke atas mengikuti dinding perut yang menjadi naik, (3) lalu
hembuskan nafas melalui mulut. Frekuensi latihan adalah 12-14 per menit.
Lakukan gerakan pernafasan ini sebanyak 8 kali dengan interval 2 menit.
(Mochtar, 1998)

30

31

Gambar 2.3 Latihan pernapasan perut (Mochtar, 1998) 2)


Latihan untuk bahu, siku dan jari-jari.
Untuk bahu, posisi tidur telentang, pasien diminta menggerakkan bahunya
secara aktif ke arah fleksi, ekstensi (mengangkat lengan ke depan dan ke
belakang), abduksi-adduksi (mengangkat lengan ke samping badan),
sircumduksi secara bergantian kanan dan kiri.
Untuk siku, posisi tidur terlentang, pasien diminta untuk menekuk dan
meluruskan sikunya secara bergantian kanan dan kiri.
Untuk jari-jari, posisi tidur terlentang, pasien diminta untuk menggerakkan
jari-jari tangannya, genggam lemas, dan semua gerakan diatas diulang
sampai 3 x 8 hitungan.
2. Positioning
Tujuan : melatih transfer dari telentang ke miring.
Pelaksanaannya :
pasien diminta untuk berubah posisi dari terlentang ke posisi miring kanan
dan kiri secara bergantian dalam waktu 15 menit kemudian ganti posisi.
3. Gerak Aktif
Posisi pasien berbaring terlentang kedua tungkai lurus, kemudian pasien
diminta menekuk dan meluruskan pergelangan kaki (dorsi fleksi dan plantar
fleksi), gerakan memutar ke dalam dan ke luar (inversi dan eversi) dan
gerakan memutar pergelangan kaki kedalam dan keluar (sirkumduksi),
dilanjutkan dengan menekan lutut ke bawah secara bergantian kanan dan kiri.
Semua gerakan diatas dilakukan sebanyak 3x8 hitungan.

31

32

Gambar 2.4
Bentuk latihan aktif pada kaki (Mochtar, 1998)
4. Latihan duduk
Bila pasien tidak ada keluhan dapat dilanjutkan dengan latihan duduk.
Dari posisi tidur terlentang ke posisi duduk dilakukan dengan cara kedua
tungkai dirapatkan, salah satu lutut sedikit di tekuk, kemudian tubuh diputar
miring bersamaan dengan kedua tungkai kesisi tempat tidur. Kedua tungkai
bawah diturunkan dari Bed sambil mendorong tubuh ke posisi duduk dengan
menggunakan dorongan kedua tangan, kemudian terapis harus menanyakan
kepada pasien apabila pusing atau mual serta dapat dilihat pada wajah pasien
apakah pucat atau tidak.
5. Latihan berdiri
Untuk latihan berdiri dimulai dari urutan latihan duduk sampai pasien
sudah duduk di tepi Bed dengan kaki menggantung, dilanjutkan pasien
menggeser pantat dan tubuhnya ke salah satu sisi tangannya untuk
menapakkan salah satu kakinya di lantai, hal ini dilakukan dengan kedua
tungkai tetap merapat. Setelah menapak lalu berdiri tegak dan tetap harus
ditanyakan oleh terapis pada pasien adakah keluhan pusing dan mual. Jika
tidak ada keluhan dapat dilanjutkan dengan latihan berjalan di sekitar Bed.
6. Latihan relaksasi
Tidur terlentang, kedua tungkai lurus dan sedikit terbuka, kedua lengan
32

33

rileks di samping badan. Dibawah lutut dan kepala diganjal bantal. Tutup
mata, lemaskan seluruh tubuh, tenang, dilakukan pernafasan teratur dan
berirama.

Gambar 2.5
Gerakan-gerakan sebelumnya tetap dilakukan, kemudian dilanjutkan dengan :
1. Latihan jongkok-berdiri
Posisi awal berdiri tegak, kaki terbuka selebar bahu, tangan berpegangan
pada tepi bed, dilakukan gerakan jongkok dengan tangan masih berpegangan
dan berdiri kembali perlahan-lahan. Pada latihan ini sebatas toleransi pasien,
sehubungan dengan masih adanya nyeri.

Gambar 2.6
Latihan jongkok berdiri (Mochtar, 1998) 2)

33

34

2. Latihan pembentukan sikap tubuh yang benar.


Posisi berdiri tegak kemudian dilakukan sikap membawa berat badan
langsung di atas lekukan kaki dan ratakan semua jari kaki di atas lantai, tekankan
lutut ke belakang secara perlahan. Otot-otot panggul dikencangkan, otot-otot perut
ditarik ke dalam, rongga dada dikembangkan, tarik kepala ke atas, luruskan tengkuk.
Pertahankan sikap ini sampai 8 hitungan kemudian rileks. Diulang hingga 8 kali.

Gambar 2.7
Latihan pembentukan sikap tubuh yang benar (Mochtar, 1998)
2.

Evaluasi Fisioterapi
Setelah dilakukan dua kali terapi diantaranya :
a. 3 Agustus 2016 : breathing exercise, mika miki, gerak aktif, edukasi
duduk setelah 2 jam dilakukan terapi latihan.
b. 4 Agustus 2016 : edukasi ADL
Diperoleh hasil bahwa :
Pasien mengalami peningkatan nyeri (ditunjukkan skala VAS 5 6).
ADL pasien mengalami peningkatan (pasien sudah mampu duduk, berdiri,
dan berjalan).

Tindak Lanjut :
-

Melakukan latihan di rumah sesuai anjuran fisioterapis

Mengikuti saran dan edukasi sesuai anjura fisioterapis

34

35

36

37

38

BAB III
STATUS KLINIS

39

40

41

42

43

44

BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Endometriosis adalah implan jaringan (sel-sel kelenjar dan stroma)
abnormalmirip endometrium (endometrium like tissue) yang tumbuh di sisi
luar kavum uterus,dan memicu reaksi peradangan menahun. (Heriansyah
2011)
Post operatif Laparatomi merupakan tahapan setelah proses
pembedahan pada area abdomen (laparatomi) dilakukan. Dalam Perry dan
Potter (2005) dipaparkan bahwa tindakan post operatif dilakukan dalam 2
tahap yaitu periode pemulihan segera dan pemulihan berkelanjutan setelah
fase post operatif.
Dalam kasus ini fisioterapi berperan untuk meningkatkan mobilitas
dan ADL pasien post operasi laparatomi kista endometriosis yaitu dengan
memberikan latihan seperti breathing exercise, gerak aktif, mika miki, edukasi
duduk dan edukasi ADL.

B. SARAN
1. Pembaca
a. Diharapkan pembaca dapat mengetahui penyakit kista endometriosis
dan pembedahan laparatomi.
b. Diharapkan pembaca mendapatkan banyak pengetahuan dan informasi
dari laporan yang penulis buat.
2. Penulis
a. Diharapkan penulis untuk lebih memperbanyak informasi dan
pengetahuan dalam menulis laporan.
b. Dengan dilakukan ECE diharapkan penulis mampu memahami materi
yang sudah diajarkan dan mampu untuk mengaplikasikan di lahan.

45

Anda mungkin juga menyukai