Anda di halaman 1dari 21

KAITAN ANTARA ETIKA dan ILMU PENGETAHUAN

PENDAHULUAN

Sejauh ini hampir semua kemampuan pemikiran (thought) manusia didominasi


oleh pendekatan filsafat. Pengetahuan manusia yang dihasilkan melalui proses berpikir
selalu digunakannya untuk menyingkap tabir ketidaktahuan dan mencari solusi masalah
kehidupan. Akan tetapi, sebelum sampai pada pembicaraan ilmu pengetahuan,
seharusnya yang harus dibicarakan terlebih dahulu ialah mengenai bagaimana proses
berpikir manusia (thinking process) sehingga dapat menghasilkan pengetahuan pada
manusia. Pengetahuan pada manusia secara garis besar terbagi kedalam dua bagian.
Pertama, konsepsi (tassawur) yaitu pengetahuan sederhana dan kedua, pembenaran
(thasdiq) yaitu pengetahuan yang mengandung suatu penilaian . Artinya, proses
berpikir yang manusia lakukan melalui dua tahapan yang saling melengkapi yaitu;
pengetahuan yang pertama kali muncul berupa konsepsi (tassawur) atau pengetahuan
sederhana dan seterusnya manusia melalui pikirannya melakukan pembenaran
(thasdhiq) atau dari pengetahuan sederhana (tassawur) sampai kepada ilmu
pengetahuan, pengetahuan sederhana itu diberi pembenaran sesuai dengan keyakinan
manusia yang diyakininya. Selanjutnya, untuk memahami pengetahuan sebagai sesuatu
yang natural (alamiah) dari sudut pandang manusia diperlukan uraian psikologi, yaitu
penjelasan atau uraian tentang proses mental yang bersifat subjektif yang dikaitkan
dengan hal-hal empirik yang bersifat objektif, dari hal itu diharapkan dapat
berpengaruh pada penguasaan manusia terhadap data konkrit sehingga dapat
mendukung pada pembenaran pengetahuan.
Pergerakan yang dialami oleh pengetahuan sederhana menuju pada pembenaran
ilmu pengetahuan sehingga menjadi ilmu pengetahuan diperlukan sebuah landasan dan
proses sehingga ilmu pengetahuan (science atau sains) dapat dibangun. Landasan dan
proses pembangunan ilmu pengetahuan itu merupakan sebuah penilaian (judgement)
yang dilibatkan pada proses pembangunan ilmu pengetahuan. Dalam pembangungan
ilmu pengetahuan juga diperlukan beberapa tiang penyangga agar ilmu pengetahuan
dapat menjadi sebuah paham yang mengandung makna universalitas. Beberapa tiang
penyangga dalam pembangunan ilmu pengetahuan itu sebenarnya berupa penilaian
yang terdiri dari ontologi, epistemologi dan aksiologi . Perlunya penilaian dalam
pembangunan ilmu pengetahuan alasannya adalah agar pembenaran yang dilakukan
terhadap ilmu pengetahuan dapat diterima sebagai pembenaran secara umum. Sampai
sejauh ini, didunia akademik panutan pembenaran ilmu pengetahuan dilandaskan pada
proses berpikir secara ilmiah. Oleh karena itu, proses berpikir di dunia ilmiah
mempunyai cara-cara tersendiri sehingga dapat dijadikan pembeda dengan proses
berpikir yang ada diluar dunia ilmiah. Dengan alasan itu berpikir ilmiah dalam ilmu
pengetahuan harus mengikuti cara filsafat pengetahuan atau epistemologi, sementara
dalam epistemologi dasar yang menjiwai dinamika proses kegiatan memperoleh
pengetahuan secara ilmiah disebut filsafat ilmu.

Teori Pengetahuan
Pengetahuan (knowledge atau ilmu) adalah bagian yang esensial- aksiden
manusia, karena pengetahuan adalah buah dari "berpikir ". Berpikir ( atau natiqiyyah)
adalah sebagai differentia ( atau fashl) yang memisahkan manusia dari sesama genus-
nya, yaitu hewan. Dan sebenarnya kehebatan manusia dan "barangkali" keunggulannya
dari spesies-spesies lainnya karena pengetahuannya. Kemajuan manusia dewasa ini
tidak lain karena pengetahuan yang dimilikinya. Lalu apa yang telah dan ingin
diketahui oleh manusia ? Bagaimana manusia berpengetahuan ? Apa yang ia lakukan
dan dengan apa agar memiliki pengetahuan ? Kemudian apakah yang ia ketahui itu
benar ? Dan apa yang mejadi tolak ukur kebenaran ?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya sederhana sekali karena pertanyaan-
pertanyaan ini sudah terjawab dengan sendirinya ketika manusia sudah masuk ke alam
realita. Namun ketika masalah-masalah itu diangkat dan dibedah dengan pisau ilmu
maka tidak menjadi sederhana lagi. Masalah-masalah itu akan berubah dari sesuatu
yang mudah menjadi sesuatu yang sulit, dari sesuatu yang sederhana menjadi sesuatu
yang rumit (complicated). Oleh karena masalah-masalah itu dibawa ke dalam
pembedahan ilmu, maka ia menjadi sesuatu yang diperselisihkan dan diperdebatkan.
Perselisihan tentangnya menyebabkan perbedaan dalam cara memandang dunia (world
view), sehingga pada gilirannya muncul perbedaan ideologi. Dan itulah realita dari
kehidupan manusia yang memiliki aneka ragam sudut pandang dan ideologi.
Atas dasar itu, manusia -paling tidak yang menganggap penting masalah-
masalah diatas- perlu membahas ilmu dan pengetahuan itu sendiri. Dalam hal ini, ilmu
tidak lagi menjadi satu aktivitas otak, yaitu menerima, merekam, dan mengolah apa
yang ada dalam benak, tetapi ia menjadi objek. Para pemikir menyebut ilmu tentang
ilmu ini dengan epistemologi (teori pengetahuan atau nadzariyyah al ma'rifah).
Epistemologi menjadi sebuah kajian, sebenarnya, belum terlalu lama, yaitu
sejak tiga abad yang lalu dan berkembang di dunia barat. Sementara di dunia Islam
kajian tentang ini sebagai sebuah ilmu tersendiri belum populer. Belakangan beberapa
pemikir dan filusuf Islam menuliskan buku tentang epistemologi secara khusus seperti,
Mutahhari dengan bukunya "Syinakht", Muhammad Baqir Shadr dengan "Falsafatuna"-
nya, Jawad Amuli dengan "Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya dan Ja'far Subhani dengan
"Nadzariyyah al Ma'rifah"-nya. Sebelumnya, pembahasan tentang epistemologi di
bahas di sela-sela buku-buku filsafat klasik dan mantiq. Mereka -barat- sangat menaruh
perhatian yang besar terhadap kajian ini, karena situasi dan kondisi yang mereka
hadapi. Dunia barat (baca: Eropa) mengalami ledakan kebebasan berekspresi dalam
segala hal yang sangat besar dan hebat yang merubah cara berpikir mereka. Mereka
telah bebas dari trauma intelektual. Adalah Renaissance yang paling berjasa bagi
mereka dalam menutup abad kegelapan Eropa yang panjang dan membuka lembaran
sejarah mereka yang baru. Supremasi dan dominasi gereja atas ilmu pengetahuan telah
hancur. Sebagai akibat dari runtuhnya gereja yang memandang dunia dangan
pandangan yang apriori atas nama Tuhan dan agama, mereka mencoba mencari
alternatif lain dalam memandang dunia (baca: realita). Maka dari itu, bemunculan
berbagai aliran pemikiran yang bergantian dan tidak sedikit yang kontradiktif. Namun
secara garis besar aliran-aliran yang sempat muncul adalah ada dua, yakni aliran
rasionalis dan empiris. Dan sebagian darinya telah lenyap. Dari kaum rasionalis muncul
Descartes, Imanuel Kant, Hegel dan lain-lain. Dan dari kaum empiris adalah Auguste
Comte dengan Positivismenya, Wiliam James dengan Pragmatismenya, Francis Bacon
dengan Sensualismenya.
Berbeda dengan barat, di dunia Islam tidak terjadi ledakan seperti itu, karena
dalam Islam agama dan ilmu pengetahuan berjalan seiring dan berdampingan,
meskipun terdapat beberapa friksi antara agama dan ilmu, tetapi itu sangat sedikit dan
terjadi karena interpretasi dari teks agama yang terlalu dini. Namun secara keseluruhan
agama dan ilmu saling mendukung. Malah tidak sedikit dari ulama Islam, juga sebagai
ilmuwan seperti : Ibnu Sina, al Farabi, Jabir bin al Hayyan, al Khawarizmi, Syekh al
Thusi dan yang lainnya. Oleh karena itu, ledakan intelektual dalam Islam tidak terjadi.
Perkembangan ilmu di dunia Islam relatif stabil dan tenang.
Filsafat
Filsafat berasal dari bahasa Yunani yang telah di-Arabkan. Kata ini barasal dari
dua kata "philos" dan "shopia" yang berarti pecinta pengetahuan. Konon yang pertama
kali menggunakan kata "philoshop" adalah Socrates. Dia menggunakan kata ini karena
dua alasan, Pertama, kerendah-hatian dia. Meskipun ia seorang yang pandai dan luas
pengetahuannya, dia tidak mau menyebut dirinya sebagai orang yang pandai. Tetapi dia
memilih untuk disebut pecinta pengetahuan.
Kedua, pada waktu itu, di Yunani terdapat beberapa orang yang menganggap diri
mereka orang yang pandai (shopis). Mereka pandai bersilat lidah, sehingga apa yang
mereka anggap benar adalah benar. Jadi kebenaran tergantung apa yang mereka
katakan. Kebenaran yang riil tidak ada. Akhirnya manusia waktu itu terjangkit skeptis,
artinya mereka ragu-ragu terhadap segala sesuatu, karena apa yang mereka anggap
benar belum tentu benar dan kebenaran tergantung orang-orang shopis. Dalam keadaan
seperti ini, Socrates merasa perlu membangun kepercayaan kepada manusia bahwa
kebenaran itu ada dan tidak harus tergantung kepada kaum shopis. Dia berhasil dalam
upayanya itu dan mengalahkan kaum shopis. Meski dia berhasil, ia tidak ingin
dikatakan pandai, tetapi ia memilih kata philoshop sebagai sindiran kepada mereka
yang sok pandai. Kemudian perjuangannya dilanjutkan oleh Plato, yang dikembangkan
lebih jauh oleh Aristoteles. Aristoteles menyusun kaidah-kaidah berpikir dan berdalil
yang kemudian dikenal dengan logika (mantiq) Aristotelian.
Pada mulanya kata filsafat berarti segala ilmu pengetahuan yang dimiliki manusia.
Mereka membagi filsafat kepada dua bagian yakni, filsafat teoritis dan filsafat praktis.
Filsafat teoritis mencakup: (1) ilmu pengetahuan alam, seperti: fisika, biologi, ilmu
pertambangan dan astronomi; (2) ilmu eksakta dan matematika; (3) ilmu tentang
ketuhanan dan methafisika. Filsafat praktis mencakup: (1) norma-norma (akhlak); (2)
urusa rumah tangga; (3) sosial dan politik.

Peran Filsafat Ilmu Dalam Ilmu Pengetahuan


Ilmu pengetahuan (dalam hal ini pengetahuan ilmiah) harus diperoleh dengan
cara sadar, melakukan sesuatu tehadap objek, didasarkan pada suatu sistem, prosesnya
menggunakan cara yang lazim, mengikuti metode serta melakukannya dengan cara
berurutan yang kemudian diakhiri dengan verifikasi atau pemeriksaan tentang
kebenaran ilimiahnya (kesahihan). Dengan demikian pendekatan filsafat ilmu
mempunyai implikasi pada sistematika pengetahuan sehingga memerlukan prosedur,
harus memenuhi aspek metodologi, bersifat teknis dan normatif akademik. Pada
kenyataannya filsafat ilmu mengalami perkembangan dari waktu ke waktu,
perkembangannya seiring dengan pemikiran tertinggi yang dicapai manusia. Oleh
karena itu filsafat sains modern yang ada sekarang merupakan output perkembangan
filsafat ilmu terkini yang telah dihasilkan oleh pemikiran manusia.
Filsafat ilmu dalam perkembangannya dipengaruhi oleh pemikiran yang dipakai
dalam membangun ilmu pengetahuan, tokoh pemikir dalam filsafat ilmu yang telah
mempengaruhi pemikiran sains modern yaitu Rene Descartes (aliran rasionalitas) dan
John Locke (aliran empirikal) yang telah meletakkan dasar rasionalitas dan empirisme
pada proses berpikir.
Kemampuan rasional dalam proses berpikir dipergunakan sebagai alat penggali
empiris sehingga terselenggara proses “create” ilmu pengetahuan. Akumulasi
penelaahan empiris dengan menggunakan rasionalitas yang dikemas melalui
metodologi diharapkan dapat menghasilkan dan memperkuat ilmu pengetahuan
menjadi semakin rasional. Akan tetapi, salah satu kelemahan dalam cara berpikir ilmiah
adalah justru terletak pada penafsiran cara berpikir ilmiah sebagai cara berpikir
rasional, sehingga dalam pandangan yang dangkal akan mengalami kesukaran
membedakan pengetahuan ilmiah dengan pengetahuan yang rasional.
Oleh sebab itu, hakikat berpikir rasional sebenarnya merupakan sebagian dari
berpikir ilmiah sehingga kecenderungan berpikir rasional ini menyebabkan
ketidakmampuan menghasilkan jawaban yang dapat dipercaya secara keilmuan
melainkan berhenti pada hipotesis yang merupakan jawaban sementara. Kalau
sebelumnya terdapat kecenderungan berpikir secara rasional, maka dengan
meningkatnya intensitas penelitian maka kecenderungan berpikir rasional ini akan
beralih pada kecenderungan berpikir secara empiris. Dengan demikian penggabungan
cara berpikir rasional dan cara berpikir empiris yang selanjutnya dipakai dalam
penelitian ilmiah hakikatnya merupakan implementasi dari metode ilmiah.
Berdasarkan terminologi, empiris mempunyai pengertian sesuatu yang
berdasarkan pemerhatian atau eksperimen, bukan teori , atau sesuatu yang berdasarkan
pengalaman (terutama yang diperoleh dari penemuan, percobaan, pengamatan yang
telah dilakukan).
Dengan demikian sesuatu yang empiris itu sangat tergantung kepada fakta
(sesuatu yang benar dan dapat dibuktikan), hanya saja fakta yang dibuktikan melalui
penginderaan dalam dunia nyata bukanlah fakta yang sudah sempurna telah diamati,
melainkan penafsiran dari sebagian pengamatan. Terjadinya sebagian pengamatan pada
fakta disebabkan oleh pengamatan manusia yang tidak sempurna sehingga
mengakibatkan semua penafsiran manusia mengandung penambahan yang mungkin
berubah dengan berubahnya pengamatan.
Rasional mempunyai pengertian sesuatu yang berdasarkan taakulan, menurut
pertimbangan atau pikiran yang wajar, waras atau sesuatu yang dihasilkan menurut
pikiran dan timbangan yang logis, menurut pikiran yang sehat, cocok dengan akal,
menurut rasio, menurut nisbah (patut). Dengan demikian rasionalitas mencakup dua
sumber pengetahuan, yaitu; pertama, penginderaan (sensasi) dan kedua, sifat alami
(fitrah) . Implikasi dari sensasi dan fitrah di atas bisa berpengaruh pada bentuk
pemahaman rasional sebagai pandangan yang menyatakan bahwa pengetahuan tidak
hanya didapatkan dari proses penginderaan saja, karena proses penginderaan hanya
merupakan upaya memahami empirikal. Sementara, pemahaman rasional mengandung
makna bahwa akal manusia memiliki pengertian-pengertian dan pengetahuan-
pengetahuan yang tidak muncul dari hasil penginderaan saja.
Kematangan berpikir ilmiah sangat ditentukan oleh kematangan berpikir
rasional dan berpikir empiris yang didasarkan pada fakta (objektif), karena kematangan
itu mempunyai dampak pada kualitas ilmu pengetahuan. Sehingga jika berpikir ilmiah
tidak dilandasi oleh rasionalisme, empirisme dan objektivitas maka berpikir itu tidak
dapat dikatakan suatu proses berpikir ilmiah. Karena itu sesuatu yang memiliki citra
rasional, empiris dan objektif dalam ilmu pengetahuan dipandang menjamin
kebenarannya, dengan demikian rasionalisme, empirisme dan objektivitas merupakan
dogma dalam ilmu pengetahuan.
Dogma yaitu kepercayaan atau sistem kepercayaan yang dianggap benar dan
seharusnya dapat diterima oleh orang ramai tanpa sebarang pertikaian atau pokok
ajaran yang harus diterima sebagai hal yang benar dan baik, tidak boleh dibantah dan
diragukan. Paradigma ialah lingkungan atau batasan pemikiran pada sesuatu masa yang
dipengaruhi oleh pengalaman, pengetahuan, kemahiran, dan kesadaran yang ada atau
model dalam ilmu pengetahuan, kerangka berpikir . Dari terminologi di atas dogma dan
paradigma sebenarnya mempunyai kaitan makna, karena paradigma merupakan kata
lain dari paradogma atau dogma primer. Dogma primer ialah prinsip dasar dan landasan
aksiom yang kadar kebenarannya sudah tidak dipertanyakan lagi, karena sudah self
evident atau benar dengan sendirinya. Akibatnya dari kebutuhan terhadap adanya
paradigma dalam membangun ilmu pengetahuan (sains) membawa dampak pada
kebutuhan adanya rasionalisme, empirisme dan objektivitas. Artinya, apabila
pengetahuan yang dibangun dan dikembangkan tidak memenuhi aspek rasional,
empirikal dan objektif maka kebenaran pengetahuannya perlu dipertanyakan lagi atau
tidak mempunyai kesahihan. Oleh karena itu membangun ilmu pengetahuan diperlukan
konsistensi yang terus berpegang pada paradigma yang membentuknya.
Kearifan memperbaiki paradigma ilmu pengetahuan nampaknya sangat
diperlukan agar ilmu pengetahuan seiring dengan tantangan zaman, karena ilmu
pengetahuan tidak hidup dengan dirinya sendiri, tetapi harus mempunyai manfaat
kepada kehidupan dunia. Oleh karena itu kita tidak bisa mengatakan ilmu pengetahuan
dapat berkembang oleh dirinya sendiri, jika kita memilih berpikir seperti itu maka
sebenarnya kita telah berupaya memperlebar jurang ketidakmampuan ilmu pengetahuan
menjawab permasalahan kehidupan. Hal ini perlu dipahami secara bijak karena
permasalahan kehidupan saat ini sudah mencapai pada suatu keadaan yang kritis, yaitu
krisis yang kompleks dan multidimensi (intlektual, moral dan spiritual) yang
berdampak pada seluruh aspek kehidupan. Dengan demikian jika kita mempertanyakan
penyesuaian apa yang dapat dilakukan ilmu pengetahuan dengan kenyataan kehidupan
(realitas), maka perubahan paradigma ilmu pengetahuan merupakan jawaban untuk
mengatasi krisis yang cukup serius.

Tingkatan Aksiologi Pengetahuan


Dalam filsafat ilmu, menurut Bertrand Russel, tahap ini disebut juga tahap
manipulasi. Dalam tahap ini, ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejala alam
untuk tujuan pengertian dan pemahaman (ontologi dan epistemologi), melainkan juga
untuk memanipulasi faktor-faktor yang terkait dengan alam untuk mengontrol dan
mengarahkan proses-proses alam yang terjadi. Konsep ilmiah tentang gejala alam
sifatnya abstrak menjelma bentuk jadi kongkret berupa teknologi, misalnya.
Teknologi yang dapat diartikan sebagai penerapan konsep-konsep ilmiah untuk
memecahkan persoalan-persoalan praktis, dalam perjalan dan pencapaian-
pencapaiannya, justru menimbulkan masalah lain. Eksesnya yang dapat disebutkan
misalnya dehumanisasi, degradasi eksistensi kemanusiaan, dan pengrusakan
lingkungan hidup. Sejarah kehidupan manusia memang telah mencatatkan bahwa
Perang Dunia I dan II merupakan ajang pemanfaatan hasil temuan-temuan ilmu
pengetahuan dan teknologi. Penggunaannya secara destruktif ini menimbulkan
kontroversi. Pada satu sisi hal itu menimbulkan efek kehancuran pada manusia dan
alam, sementara pada sisi lainnya pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang
kemudian banyak dimanfaatkan dalam peperangan dan kehancuran alam adalah bagian
dari rangkain perjalan ilmu untuk mengunkap hakikat gejala alam dan manusia.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sering melupakan faktor-faktor
manusia. Misalnya, manusia mesti menyesuaikan diri terhadap teknologi-teknologi
baru.
Akhirnya, eksistensi manusia terpinggirkan dalam kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi.
Bencana-bencana yang ditimbulkan oleh pamanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi (science and technology) antara kerusakan ekologi. Banyak yang dapat
disebutkan tentang kehancuran ekologi: kontaminasi air, udara, tanah, dampak rumah
kaca, kepunahan spesies tumbuhan dan hewan, pengrusakan hutan, akumulasi limba-
limba toksik, penipisan laporan ozon pada atmosfir bumi, kerusakan ekosistem
lingkungan hidup, dan lain-lain. Lebih-lebih lagi, musuh kemanusiaan, yaitu perang.
Perang Dunia I dan II yang meluluhlantakkan Eropa dan sejumlah kawasan di Asia dan
Pasifik menggoreskan luka kemanusiaan. Berapa korban manusia berguguran akibat
bom atom yang dijatuhkan di Hirosima dan Nagasaki, Jepang.
Atau kawasan Asia Tengah, yaitu Afganistan yang menjadi ajang ujicoba
penemuan mutakhir teknologi perang buatan Amerika Serikat dan Uni Soviet (sekarang
Rusia).
Pada akhirnya ilmuan memang tiba pada opsi-opsi: apakah ilmu pengetahuan
netral dari segala nilai atau justru batas petualangan dan prospek pengembangan ilmu
pengetahuan tidak boleh mengingkari suatu nilai, seperti nilai moral, religius, dan
ideologi. Ilmu pengetahuan sudah sangat jauh tumbuh dan berkembang untuk dirinya
sendiri, sementara teknologi atau ilmu pengetahuan terapan lain terus bergulir
mengikuti logika dan perspektifnya sendiri—dalam hal ini tak ada nilai-nilai lain yang
diizinkan memberikan kontribusi. Kecemasan tertinggi di tengah kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi terjadi ketika ilmu kedokteran berhasil menyelesaikan
proyek eksperimennya mengembangkan janin dengan metode yang disebut “bayi
tabung”.
Lalu kemudian ternyata masih ada yang lebih mutakhir dari pada “bayi tabung”
itu, yakni suksesnya para ilmuan merampungkan eksperimen kloningnya. Yang terakhir
ini mengubah hakikat manusia secara dramatis; ilmu pengetahuan yang diciptakan oleh
manusia mampu menciptakan manusia juga. Bahkan, ilmu pengetahuan yang
diproyeksi untuk membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan
hidupnya, justru berkembang dimana ilmu pengetahuan dan atau teknologi itu sendiri
mengkreasikan tujuan-tujuan hidup itu sendiri.

Pertentangan Aksiologis: Ilmuwan dan Humanis


Kalangan humanis kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan etis yang
penting. Antara lain pertanyaan itu adalah: untuk apa sebenarnya ilmu harus
dipergunakan? Dimanakah batas ilmu harusnya berkembang? Namun pertanyaan ini
tidak urgen bagi ilmuan dan tidak merupakan tanggung jawab bagi perkembangan ilmu
pengetahuan itu sendiri. Penelaahan tujuan ilmu pengetahuan itu dikembangkan dan
diterapkan, untuk tulisan ini, cukup penting.
Karena ide dasar penerapan hasil-hasil ilmu pengetahuan adalah untuk
meningkatkan kesejahteraan dan penghidupan manusia. Seperti disebutkan
sebelumnya, ekspektasi besar manusia pada ilmu pengetahuan bahwa itu dapat
membantu dan memudahkan manusia mencapai tujuan-tujuan hidupnya. Namun yang
terjadi kemudian adalah absuditas (paradoks): bahwa ilmu pengetahuan justru
membiaskan kehancuran dan malapetaka bagi alam dan manusia (kehancuran itu telah
disebutkan pada pragraf sebelumnya).
Adakah ini berarti bahwa gerak perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
sebaiknya cukup sampai di sini? Atau boleh dilanjutkan tetapi menurut konsideran dari
otoritas-otoritas tertentu (bukan otoritas administratif dan institusi keagamaan atau
ideologi)? Akan tetapi, bila ruang gerak prospek ilmu pengetahuan dan teknologi ini
dipagari, berarti kita telah melangkah mundur hingga pada jamannya Galileo atau
Socrates. Konsekuensinya, kemandirian ilmu pengetahuan untuk berkembang terkebiri,
sementara problem yang muncul sesungguhnya tidak bersumber pada pencapaian ilmu
pengetahuan dan teknologi itu.
Untuk sementara, dasar ontologis, epistemologis dan aksiologis terbentuknya
pengetahuan perlu diungkit kembali untuk mempetakan persoalan yang ditimbulkan
oleh pencapaian-pencapaian ilmu pengetahuan dan teknologi. Menurut dasar-dasar ini,
suatu pengetahuan merupakan hasil kontemplasi yang menguak hakikat realitas alam
dan manusia sebagai suatu obyek empiris (tahap ontologis). Ketika realitas yang
berbentuk obyek itu berusaha dipahami dan dimengerti (diketahui), maka itulah tahap
epistemologis. Intervensi kepentingan manusia dan nilai-nilai etika, moral, dan agama
tidak ditemukan dalam tahap ini dan memang tidak relevan ditempatkan dalam proses
itu. Ketika ada pertanyaan tentang manfaat pengetahuan itu bagi kehidupan manusia,
berarti yang dimaksudkan adalah tahap aksiologis dari pengetahuan itu. Dalam tahap
ini, persitwa alam dan manusia tidak lagi bergerak secara orisinal menurut
kecenderungan alamiahnya, tetapi sudah merupakan proses yang artikulatif dan
manipulatif. Dalam artian bahwa, kepentingan manusia sudah dapat berinfiltrasi ke
dalam penerapan pengetahuan itu.
Tahap aksiologis inilah dari sejumlah rangkaian kegiatan keilmuan suatu
pengetahuan yang kerap menimbulkan kontroversi dan paradoks. Hal ini dimungkinkan
karena adanya kemampuan manusia melakukan artikulasi dan manipulasi terhadap
kejadian-kejadian alam untuk kepentingannya. Kepentingan manusia sangat ditentukan
oleh motif dan kesadaran yang pada manusia itu sendiri. Jadi, fokus persoalan ilmu
pengetahuan pada tingkat aksiologis ini ada pada manusia. Oleh karena itu, maka
tinjauan kita tentang manusia akan sangat membantu memahami dan menyusun
pengertian tentang bagaimana sebaiknya ilmu pengatahuan dan teknologi diteruskan
pengembangannya dalam tataran aksiologi. Sekaligus pula diperperterang kembali
bahwa pertentangan antara kalangan humanis dan ilmuan pada abad ini adalah berkisar
pada tingkatan aksiologis itu. Berbeda pada zamam Copernicus atau Galileo, di mana
ilmuan bertentangan dan saling mempertahankan keyakinan dengan kalangan gerja
pada tataran ontologis. Oleh karena itu, tuntutan kemanusiaan pada wilayah aksiologi
ilmu pengetahuan dan teknologi ini mendapat permakluman secara luas.

Aspek Etika (Moral) Ilmu Pengetahuan


Kembali, kita akan fokus pada manusia sebagai manipulator dan artikulator
dalam mengambil manfaat dari ilmu pengetahuan. Dalam psikologi, dikenal konsep diri
daru Freud yang dikenal dengan nama “id”, “ego” dan “super-ego”. “Id” adalah bagian
kepribadian yang menyimpan dorongan-dorongan biologis (hawa nafsu dalam agama)
dan hasrat-hasrat yang mengandung dua instink: libido (konstruktif) dan thanatos
(destruktif dan agresif). “Ego” adalah penyelaras antara “id” dan realitas dunia luar.
“Super-ego” adalah polisi kepribadian yang mewakili ideal, hati nurani. Dalam agama,
ada sisi destruktif manusia, yaitu sisi angkara murka (hawa nafsu).
Ketika manusia memanfaatkan ilmu pengetahuan untuk tujuan praktis, mereka
dapat saja hanya memfungsikan “id”-nya, sehingga dapat dipastikan bahwa manfaat
pengetahuan mungkin diarahkan untuk hal-hal yang destruktif. Milsanya dalam
pertarungan antara id dan ego, dimana ego kalah sementara super-ego tidak berfungsi
optimal, maka tentu—atau juga nafsu angkara murka yang mengendalikan tindak
manusia menjatuhkan pilihan dalam memanfaatkan ilmu pengetahuan—amatlah nihil
kebaikan yang diperoleh manusia, atau malah mungkin kehancuran. Kisah dua kali
perang dunia, kerusakan lingkungan, penipisan lapisan ozon, adalah pilihan “id” dari
kepribadian manusia yang mengalahkan “ego” maupun “super-ego”-nya.
Oleh karena itu, pada tingkat aksiologis, pembicaraan tentang nilai-nilai adalah
hal yang mutlak. Nilai ini menyangkut etika, moral, dan tanggungjawab manusia dalam
mengembangkan ilmu pengetahuan untuk dimanfaatkan bagi sebesar-besar
kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena dalam penerapannya, ilmu pengetahuan juga
punya bias negatif dan destruktif, maka diperlukan patron nilai dan norma untuk
mengendalikan potensi “id” (libido) dan nafsu angkara murka manusia ketika hendak
bergelut dengan pemanfaatan ilmu pengetahuan. Di sinilah etika menjadi ketentuan
mutlak, yang akan menjadi well-supporting bagi pemanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi untuk meningkatkan derajat hidup serta kesejahteraan dan kebahagiaan
manusia. Hakikat moral, tempat ilmuan mengembalikan kesuksesannya.
Etika adalah pembahasan mengenai baik (good), buruk (bad), semestinya (ought
to), benar (right), dan salah (wrong). Yang paling menonjol adalah tentang baik atau
good dan teori tentang kewajiban (obligation). Keduanya bertalian dengan hati nurani.
Bernaung di bawah filsafat moral . Etika merupakan tatanan konsep yang melahirkan
kewajiban itu, dengan argumen bahwa kalau sesuatu tidak dijalankan berarti akan
mendatangkan bencana atau keburukan bagi manusia. Oleh karena itu, etika pada
dasarnya adalah seperangkat kewajiban-kewajiban tentang kebaikan (good) yang
pelaksananya (executor) tidak ditunjuk. Executor-nya menjadi jelas ketika sang subyek
berhadap opsi baik atau buruk—yang baik itulah materi kewajiban ekskutor dalam
situasi ini.

Peran Etika (Moral) Dan Dilema Yang Muncul


Peranan moral akan sangat kentara ketika perkembangan ilmu terjadi pada saat tahap
peralihan dari kontemplasi ke tahap manipulasi. Pada tahap kontemplasi, masalah
moral berkaitan dengan metafisik keilmuan, sedangkan pada tahap manipulasi masalah
moral berkaitan dengan cara penggunaan pengetahuan ilmiah itu sendiri. Dengan kata
lain ketika ilmu dihadapkan pada kenyataan, maka yang dibicarakan adakah tentang
aksiologi keilmuan.
Sebelum menentukan sejauhmana peran moral dalam penggunaan ilmu atau
teknologi, ada dua kelompok yang memandang hubungan antara ilmu dan moral.
Kelompok pertama, memandang bahwa ilmu itu harus bersifat netral, bebas dari nilai-
nilai ontologi dan aksiologi.
Dalam hal ini, fungsi ilmuwan adalah menemukan pengetahuan selanjutnya
terserah kepada orang lain untuk mempergunakan untuk tujuan baik atau buruk.
Kelompok pertama ini ingin melanjutkan tradisi kenetralannya secara total seperti pada
waktu Galileo. Kelompok kedua, berpendapat bahwa kenetralan terhadap nilai
hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya, bahkan
pemilihan obyek penelitian, kegiatan keilmuan harus berlandaskan asas-asas moral. Hal
ini ditegaskan oleh Charles Darwin bahwa kesadaran kita akan moral dalam
penggunakan ilmu kita sejogyanya menggunakan pikiran kita.
Analisa perkembangan selanjutnya dengan apa yang sudah terjadi, kelompok
yang mengedepankan nilai moral mengkhawatrirkan terjadinya de-humanisasi, di mana
martabat manusia menjadi lebih rendah, manusia akan dijadikan obyek aplikasi
teknologi kelimuan.
Hal ini berkaitan peristiwa yang terjadi selama ini, yaitu : (1) Secara faktual
telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya
Perang Dunia II. (2) Ilmu telah berkembang dengan pesat dan sangat esoterik (hanya
diketahui oleh orang-orang tertentu saja) sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui
ekses-ekses yang mungkin terjadi bila terjadi penyalahgunaan. (3) Ilmu telah
berkembang sedemikian rupa dimana terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat
mengubah manusia dan kemanusiaannya yang paling hakiki seperti pada revolusi
genetika dan teknik perubahan sosial.
Persoalan baru yang muncul saat menerapkan nilai moral ialah konflik yang
menimbulkan dilema nurani mana yang baik, benar, yang mana yang tidak dan mana
yang selayaknya.
Disinilah, etika memainkan peranannya, etika berkaitan dengan “apa yang
seharusnya” atau terkait dengan apa yang baik dan tidak baik untuk kita lakukan serta
apa yang salah dan apa yang benar. Menurut J.Osdar, oleh filsuf Yunani kuno,
Aristoteles, kata etika dipakai untuk menunjukkan filsafat moral. Kata moral punya arti
sama dengan kosakata etika. Kata moral berasal dari bahasa Latin, yakni mos
(jamaknya mores). Artinya kebiasaan, adat. Di sini kata moral dan etika punya arti
sama.
Dari pemahaman tersebut, maka etika menjadi acuan atau panduan bagi ilmu
dalam realisasi pengembangannya. Untuk mengatasi konflik batin dikemukakan teori-
teori etika yang bermaksud untuk menyediakan konsistensi dan koheren dalam
mengambil keputusan–keputusan moral. Teori–teori etika tersebut adalah :
1. Konsekuensialisme. Teori ini menjawab “apa yang harus kita lakukan”,
dengan memandang konsekuensi dari bebagai jawaban. Ini berarti bahwa yang
harus dianggap etis adalah konsekuensi yang membawa paling banyak hal yang
menguntungkan, melebihi segala hal merugikan, atau yang mengakibatkan
kebaikan terbesar bagi jumlah orang terbesar. Manfaat paling besar daru teori
ini adalah bahwa teori ini sangat memperhatikan dampak aktual sebuah
keputusan tertentu dan memperhatikan bagaimana orang terpengaruh.
Kelemahan dari teori ini bahwa lingkungan tidak menyediakan standar untuk
mengukur hasilnya.
2. Deontologi, berasal dari kata Yunani deon yang berarti “kewajiban”.
Teori ini menganut bahwa kewajiban dalam menentukan apakah tindakannya
bersifat etis atau tidak, dijawab dengan kewajiban-kewajiban moral. Suatu
perbuatan bersifat etis, bila memenuhi kewajiban atau berpegang pada
tanggungjawab, Jadi yang paling penting adalah kewajiban-kewajiban atau
aturan-aturan, karena hanya dengan memperhatikan segi-segi moralitas ini
dipastikan tidak akan menyalahkan moral. Manfaat paling besar yang
dibawakan oleh etika deontologis adalah kejelasan dan kepastian. Problem
terbesar adalah bahwa deontologi tidak peka terhadap konsekuensi-konsekuensi
perbuatan. Dengan hanya berfokus pada kewajiban, barangkali orang tidak
melihat beberapa aspek penting sebuah problem.
3. Etika Hak. Teori ini memandang dengan menentukan hak dan tuntutan
moral yang ada didalamnya, selanjutnya dilema-dilema ini dipecahkan dengan
hirarkhi hak. Yang penting dalam hal ini adalah tuntutan moral seseorang yaitu
haknya ditanggapi dengan sungguh-sungguh. Teori hak ini pantas dihargai
terutama karena terkanannya pada nilai moral seorang manusia dan tuntutan
moralnya dalam suatu situasi konflik etis. Selain itu teori ini juga menjelaskan
bagiaman konflik hak antar individu. Teori ini menempatkan hak individu
dalam pusat perhatian yang menerangkan bagaimana memecahklan konflik hak
yang bisa timbul.
4. Intuisionisme, teori ini berusaha memecahkan dilema-dilema etis dengan
berpijak pada intuisi, yaitu kemungkinan yang dimiliki seseorang untuk
mengetahui secara langsung apakah sesuatu baik atau buruk. Dengan demikian
seorang intuisionis mengetahui apa yang baik dan apa yang buruk berdasarkan
perasaan moralnya, bukan berdasarkan situasi, kewajiban atau hak. Dengan
intuisi kita dapat meramalkan kemungkinan-kemunginan yang terjadi tetapi kita
tidak dapat mempertanggungjawabkan keputusan tersebut karena kita tidak
dapat menjelaskan proses pengambilan keputusan.
Etika menjadi acuan bagi pengembangan ilmu pengetahuan karena penghormatan
atas manusia. Sebagaimana dikemukakan, fisuf Jerman, Imanuel Kant, penghormatan
kepada martabat manusia adalah suatu keharusan karena manusia adalah satu-satunya
makhluk yang merupakan tujuan pada dirinya, tidak boleh ditaklukkan untuk tujuan
lain.

Problematika Etika dan Tanggungjawab Ilmu Pengetahuan


Kenyataan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh terpengaruh oleh nilai-nilai
yang letaknya di luar ilmu pengetahuan , dapat diungkapkan juga dengan rumusan
singkat bahwa ilmu pengetahuan itu seharusnya bebas . Namun demikian jelaslah
kiranya bahwa kebebasan yang dituntut ilmu pengetahuan sekali-kali tidak sama
dengan ketidakterikatan mutlak. Patutlah kita menyelidiki lebih lajut bagaimana
kebebasan ini.
Bila kata “kebebasan” dipakai, yang dimaksudkan adalah dua hal: kemungkinan
untuk memilih dan kemampuan atau hak subjek bersangkutan untuk memilih sendiri.
Supaya terdapat kebebasan, harus ada penentuan sendiri dan bukan penentuan dari luar.
Etika memang tidak masuk dalam kawasan ilmu pengetahuan yang bersifat otonom,
tetapi tidak dapat disangkal ia berperan dalam perbincangan ilmu pengetahuan.
Tanggungjawab etis, merupakan hal yang menyangkut kegiatan maupun
penggunaan ilmu pengetahuan. Dalam kaitan hal ini terjadi keharusan untuk
memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, menjaga keseimbangan ekosistem,
bertanggungjawab pada kepentingan umum, kepentingan pada generasi mendatang, dan
bersifat universal.
Karena pada dasarnya ilmu pengetahuan adalah untuk mengembangkan dan
memperkokoh eksistensi manusia bukan untuk menghancurkan eksistensi manusia.
Tanggungjawab etis ini bukanlah berkehendak mencampuri atau bahkan
“menghancurkan” otonomi ilmu pengetahuan, tetapi bahkan dapat sebagai umpan balik
bagi pengembangan ilmu pengetahuan itu sendiri, yang sekaligus akan memperkokoh
eksistensi manusia.
Pada prinsipnya ilmu pengetahuan tidak dapat dan tidak perlu di cegah
perkembangannya, karena sudah jamaknya manusia ingin lebih baik, lebih nyaman,
lebih lama dalam menikmati hidupnya. Apalagi kalau melihat kenyataan bahwa
manusia sekarang hidup dalam kondisi sosio-tekhnik yang semakin kompleks.
Khususnya ilmu pengetahuan – berbentuk tekhnologi – pada masa sekarang tidak lagi
sekedar memenuhi kebutuhan manusia, tetapi sudah sampai ketaraf memenuhi
keinginan manusia. Sehingga seolah-olah sekarang ini tekhnologilah yang menguasai
manusia bukan sebaliknya.
Kita yakin adanya kenyataan bahwa antara ilmu pengetahuan theoria dengan
penerapan praksisnya sukar sekali dipisahkan. Tetapi jelas karena sudah menyangkut
relasi antar manusia yang bersifat nyata, dan bukan sekedar perbincangan teoritik
“awang-awang” harus dikendalikan secara moral. Sebab ilmu pengetahuan dan
penerapannya yang – yang berupa tekhnologi – apabila tidak tepat dalam mewujudkan
nilai intrinsiknya sebagai pembebas beban kerja manusia akan dapat menimbulkan
ketidakadilan karena ada yang diuntungkan dan ada yang dirugikan, pengurangan
kualitas manusia karena martabat manusia justru direndahkan dengan menjadi budak
teknologi, kerisauan social yang mungkin sekali dapat memicu terjadinya penyakit
sosial seperti meningkatnya tingkat kriminalitas, penggunaan obat bius yang tak
terkendali, pelacuran dan sebagainya. Terjadi pula fenomena depersonalisasi,
dehumanisasi, karena manusia kehilangan peran dan fungsinya sebagai makhluk
spiritual. Bahkan dapat memicu konflik-konflik sosial- politik, karena menguasai ilmu
pengetahuan (tekhnologi) dapat memperkuat posisi politik atau sebaliknya orang yang
berebut posisi politik agar dapat menguasai aset ilmu dan tekhnologi. Semuanya
mengisyaratkan pentingnya etika yang mengatur keseimbangan antar ilmu pengetahuan
dengan manusia, antara manusia dengan lingkungan, antara industriawan selaku
produsen dengan konsumen. Dalam bahasa Jacob lebih lanjut dikatakan bahwa ilu
pengetahuan jangan sampai merugikan manusia dan lingkungan serta tidak boleh
menimbulkan konflik internal maupun politik.
Tanggungjawab ilmu pengetahuan menyangkut juga tanggungjawab terhadap
hal-hal yang akan dan telah diakibatkan ilmu pengetahuan dimasa lalu, sekarang,
maupun apa akibatnya bagi masa depan berdasar keputusan-keputusan bebas manusia
dalam kegiatannya.
Penemuan-penemuan baru dalam ilmu pengetahuan terbukti ada yang dapat
mengubah sesuatu aturan baik alam maupun manusia. Hal ini tentu saja menuntut
tanggungjawab untuk selalu menjaga agar apa yang diwujudkan dalam perubahan
tersebut akan merupakan perubahan yang baik, yang seharusnya ; baik bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi itu sendiri maupun bagi
perkembangan eksisitensi manusia secara utuh. Dalam bahasa Melsen : Tanggungjawab
dalam ilmu pengetahuan menyangkut problem etis karena menyangkut ketegangan-
ketegangan antara realitas yang ada dan realitas yang seharusnya ada.
Ilmu pengetahuan secara ideal seharusnya berguna dalam dua hal yaitu membuat
manusia rendah hati karena memberikan kejelasan tentang jagad raya, kedua
mengingatkan bahwa kita masih bodoh dan masih banyak yang harus diketahui dan
dipelajari. Ilmu pengetahuan tidak mengenal batas, asalkan manusia sendiri yang
menyadari keterbatasannya. Ilmu pengetahuan tidak dapat menyelesaikan masalah
manusia secara mutlak, namun ilmu pengetahuan sangat bergua bagi manusia.
Keterbatasan ilmu pengetahuan mengingatkan kepada manusia untuk tidak
hanya mengekor secara membabi buta kearah yang tak dapat dipanduinya, sebab ilmu
pengetahuan saja tidak cukup dalam menyelesaikan masalah kehidupan yang amat
rumit ini. Keterbatasan ilmu pengetahuan membuat manusia harus berhenti sejenak
untuk merenungkan adanya sesuatu sebagai pegangan.
Kemajuan ilmu pengetahuan, dengan demikian, memerlukan visi moral yang
tepat. Manusia dengan ilmu pengetahuan akan mampu untuk berbuat apa saja yang
diinginkannya, namun pertimbangan tidak hanya sampai pada “apa yang dapat
diperbuat” olehnya tetapi perlu pertimbangan “apakah memang harus diperbuat dan apa
yang seharusnya diperbuat” dalam rangka kedewasaan manusia yang utuh. Pada
dasarnya mengupayakan rumusan konsep etika dalam ilmu pengetahuan harus sampai
kepada rumusan normatif yang berupa pedoman pengarah konkret, bagaimana
keputusan tindakan manusia dibidang ilmu pengetahuan harus dilakukan. Moralitas
sering dipandang banyak orang sebagai konsep abstrak yang akan mendapatkan
kesulitan apabila harus diterapkan begitu saja terhadap masalah manusia konkret.
Realitas permasalahan manusia yang bersifat konkret-empirik seolah-olah mempunyai
“kekuasaan” untuk memaksa rumusan moral sebagai konsep abstrak menjabarkan
kriteria-kriteria baik buruknya sehingga menjadi konsep normatif, secara nyata sesuai
dengan daerah yang ditanganinya.
Dewasa ini pengetahuan dan perbuatan, ilmu dan etika saling bertautan. Tidak
ada pengetahuan yang pada akhirnya tidak terbentur pertanyaan, “apakah sesuatu itu
baik atau jahat”. “Apa” yang dikejar oleh pengetahuan, menjelma menjadi
“Bagaimana” dari etika.
Etika dalam hal ini dapat diterangkan sebagai suatu penilaian yang
memperbincangkan bagaimana tekhnik yang mengelola kelakuan manusia. Dengan
demikian lapangan yang dinilai oleh etika jauh lebih luas daripada sejumlah kaidah dari
perorangan, mengenai yang halal dan yang haram. Tetapi berkembag menjadi sesuatu
etika makro yang mampu merencanakan masyarakat sedemikian rupa sehingga
manusia dapat belajar mempertanggungjawabkan kekuatan-kekuatan yang
dibangkitkannya sendiri.
Terkait dengan keterbukaan yang disebutkan diatas, maka etika hanya menyebut
peraturan-peraturan yang tidak pernah berubah, melainkan secara kritis mengajukan
pertanyaan, bagaimana manusia bertanggungjawab terhadap hasil-hasil tekhnologi
moderen dan rekayasanya. Etika semacam itu tentu saja harus membuktikan
kemampuannya menyelesaikan masalah manusia konkret. Tidak lagi sekedar
memberikan isyarat dan pedoman umum, melainkan langsung melibatkan diri dalam
peristiwa aktual dan factual manusia, sehingga terjadi hubungan timbale balik dengan
apa yang sebenarnya terjadi. Etika seperti itu berdasarkan “interaksi” antara keadaan
etika sendiri dengan masalah-masalah yang mem-“bumi”.

PENUTUP
Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila,
mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik dan
lurus. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya, timbul pula
perbedaan penafsiran. Timbulnya dilema-dilema nurani yang mengakibatkan konflik
berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral, kemudian muncul teori etika, tetapi
juga tidak bisa serta merta menjadi pegangan untuk mempertanggungjawaban
pengambilan keputusan. Meski demikan, teori etika memberikan kerangka analisis bagi
pengembangan ilmu agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat
kemanusiaan.

Selain itu, pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral dan


bukannya berdasarkan situasi, kewajiban dan hak. Pengembangan ilmu harus berpijak
pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat diterima oleh masyarakat
atau individu-individu manusia selaku pengguna atau penerima hasil pengembangan
ilmu (teknologi). Apa yang baik dan buruk dari hasil pengembangan ilmu harus dapat
dipertanggungjawabkan pihak yang mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu).
Sebagaimana namanya, “intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses
pengambilan keputusan, karena berpijak pada intuisi. Ini dapat dimaknai, ilmuwan
secara pribadi, menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut.
DAFTAR PUSTAKA

Charis Zubeir, Ahmad. 2002. Kajian Filsafat Ilmu; Dimensi Etik dan Asketik
Ilmu Pengetahuan Manusia. Lembaga Studi Filsafat Islam; Yogyakarta

Van Melsen, A. G. M.1992. Ilmu Pengetahuan dan Tanggungjawab Kita Terj. Dr.
K. Bertens, PT Gramedia Pustaka Utama; Jakarta

Kamus Besar Bahasa Indonesia. 1995. Ed. ke 2. Jakarta: Balai Pustaka

As-Shadr, Muhammad Baqir.1995. Falsafatuna. Terj. M. Nur Mufid bin Ali.


Bandung: Penerbit Mizan.

Kamus Dewan. 1994. Ed. ke 3. Kuala Lumpur: Dewan Pustaka dan Bahasa.
Rosenthal, Franz. 1997. Keagungan Ilmu Terj. Syed Muhamad Dawilah Syed
Abdullah. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Jujun S, Suriasumantri.,2003, “Filsasfat Ilmu”, sebuah pengantar populer.


Pustaka Sinar Harapan: Jakarta

Soewardi, Herman, 1999, “Roda Berputar Dunia Bergulir” Kognisi Baru Tentang
Timbul-Tenggelamnya Sivilisasi, Bakti Mandiri, Bandung.
Berbicara etika sama artinya dengan berbicara tentang moral atau susila,
mempelajari kaidah-kaidah yang membimbing kelakuan manusia sehingga baik
dan lurus. Penilaian moral diukur dari sikap manusia sebagai pelakuknya,
timbul pula perbedaan penafsiran. Timbulnya dilema-dilema nurani yang
mengakibatkan konflik berkembangnya ilmu (pengetahuan) dengan moral,
kemudian muncul teori etika, tetapi juga tidak bisa serta merta menjadi
pegangan untuk mempertanggungjawaban pengambilan keputusan. Meski
demikan, teori etika memberikan kerangka analisis bagi pengembangan ilmu
agar tidak melanggar penghormatan terhadap martabat kemanusiaan.
Selain itu, pengembangan ilmu harus memperhitungkan perasaan moral
dan bukannya berdasarkan situasi, kewajiban dan hak. Pengembangan ilmu
harus berpijak pada proyeksi tentang kemungkinan yang secara etis dapat
diterima oleh masyarakat atau individu-individu manusia selaku pengguna atau
penerima hasil pengembangan ilmu (teknologi). Apa yang baik dan buruk dari
hasil pengembangan ilmu harus dapat dipertanggungjawabkan pihak yang
mengembangkan ilmu (ilmuwan ataupun penemu). Sebagaimana namanya,
“intiusionisme” memang tidak bisa menjelaskan proses pengambilan keputusan,
karena berpijak pada intuisi. Ini dapat dimaknai, ilmuwan secara pribadi,
menjadi penentu pertimbangan moral dari pengembangan ilmu tersebut.