Anda di halaman 1dari 1

BAB I

PENDAHULUAN
Hemoptisis adalah mendahakkan darah yang berasal dari bronkus atau paru .
Dalam suatu penelitian tercatat Bronchiectasis (20%), kanker paru (19%), bronchitis
(18%), and pneumonia (16%) tercatat sebagai penyebab tersering hemoptisis.
Tuberkulosis adalah penyebab utama hemoptisis pada negara dengan angka pasien
tuberkulosis yang tinggi, misalnya Indonesia. Hemoptisis massif merupakan
kegawatdaruratan dalam bidang kedokteran. Hemoptisis masif adalah ekspektorasi
600 ml darah dalam 24 sampai 48 jam. Kecepatan perdarahan dan efek terhadap
pertukaran gas menentukan penatalaksanaan hemoptisis. Apabila perdarahan masif,
maka mempertahankan jalan napas dan pertukaran gas adalah harus didahulukan
Tuberkulosis (Tb) hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat
dunia walaupun upaya pengendalian dengan strategi DOTS telah diterapkan sejak
tahun 1995 di banyak negara. Menurut laporan WHO dalam Global Tuberculosis
Control 2013, pada tahun 2012 terdapat 8,6 juta kasus Tb. Indonesia berada pada
peringkat ke lima negara dengan beban Tb tertinggi di dunia. Selain merugikan secara
ekonomis, Tb juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial, seperti stigma
bahkan dikucilkan oleh masyarakat. Perubahan demografik karena meningkatnya
penduduk dunia dan perubahan struktur umur kependudukan menjadi pengaruh besar
terhadap penyebaran kasus Tb. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman Tb
terhadap obat anti Tb (MultiDrugResistance) semakin menjadi masalah akibat kasus
yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan menyebabkan
terjadinya epidemiologi Tb yang sulit ditangani.