Anda di halaman 1dari 15

PRINSIP

PENELITIAN

DALAM

BIDANG

PENDIDIKAN

BIOLOGI

YANG

MENGGUNAKAN PARADIGMA POSITIVISTIK KUANTITATIF

Oleh :
1. Laras Auliantika Hapsari

(16725251006)

2. Mega Mernisa

(16725251031)

3. Wahyu Oktamarsetyani

(16725251033)

4. Iis Aida Yustiana

(16725251035)

PROGRAM PASCASARJANA PENDIDIKAN BIOLOGI


UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2016
DAFTAR ISI
Cover

Daftar isi ...

ii

BAB I Pendahuluan ..

BAB II ISI

A. Paradigma PositivistiK..

B. Pendekatan Positivistik dalam Penelitian..

C. Penelitian Kuantitatif dengan Pendekatan Positivistik .

D. Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Kuantitatif

E. Jenis - Jenis Penelitian Kuantitatif

BAB III Penutup ..

11

Daftar Pustaka .

12

ii

iii

BAB I
PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan salah satu point penting dalam perkembangan
suatu bangsa. Pendidikan bangsa Indonesia sampai saat ini masih menghadapi
persoalan dan tantangan yang kompleks serta mendasar sehingga dibutuhkan
penelitian-penelitian untuk memecahkan persoalan dalam berbagai bidang ilmu
pengetahuan dan pendidikan, salah satunya dalam bidang Pendidikan Biologi.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia dalam (Darmawan, 2013) penelitian
merupakan kegiatan pengumpulan, pengolahan, analisis, dan penyajian data yang
dilakukan secara sistematis dan objektif untuk memecahkan suatu persoalan atau
menguji suatu hipotesis untuk mengembangkan prinsip-prinsip umum.
Penelitian memiliki prinsip berlandaskan metode ilmiah tersistematis
yang dijadikan pedoman untuk berpikir atau bertindak oleh peneliti. Secara garis
besar jenis penelitian terdiri dari penelitian kuantitatif dan kualitatif dimana
penelitian tersebut diatur dalam paradigma yang berbeda. Paradigma merupakan
suatu cara pendekatan investigasi suatu objek atau titik awal mengungkapkan
point of view, formulasi suatu teori, mendesain pertanyaan atau refleksi yang
sederhana. Akhirnya paradigma dapat diformulasikan sebagai keseluruhan sistem
kepercayaan, nilai dan teknik yang digunakan bersama oleh kelompok komunitas
ilmiah.
Paradigma penelitian kuantitatif berlandaskan pada positivistik.
Positivistik memandang realitas/gejala/fenomena yang dapat diklasifikasikan,
relatif tetap, konkrit, teramati, terukur, dan hubungan gejala bersifat sebab akibat.
Positivistik kuantitatif dapat digunakan untuk meneliti populasi atau sampel.
Pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian serta analisis data bersifat
kuantitatif/statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan.
Tujuan dari penulisan makalah yang berjudul Prinsip Penelitian dalam
Bidang

Pendidikan

Biologi

yang

Menggunakan

Paradigma

Positivistik

Kuantitatif adalah untuk mengetahui lebih dalam mengenai paradigma


positivistik kuantitatif dalam bidang biologi.

BAB II
ISI
A. Paradigma Positivistik
Positivisme dirintis oleh August Comte (1798-1857), yang dianggap
sebagai Bapak Ilmu Sosiologi Barat. Positivisme adalah cara pandang dalam
memahami dunia berdasarkan sains. Positivisme sebagai perkembangan
empirisme yang ekstrim, yaitu pandangan yang menganggap bahwa yang
dapat diselidiki atau dipelajari hanyalah data-data yang nyata/empirik, atau
yang mereka namakan positif (Adib, 2011).
Menurut paradigma positivistik, pengetahuan terdiri atas berbagai
hipotesis yang diverifikasi dan dapat diterima sebagai fakta atau hukum. Ilmu
pengetahuan mengalami akumulasi melalui proses pertambahan secara
bertahap, dengan masing-masing fakta berperan sebagai semacam bahan
pembentuk yang ketika ditempatkan dalam posisinya yang sesuai,
menyempurnakan bangunan pengetahuan yang terus tumbuh. Ketika faktanya
berbentuk generalisasi atau pertalian sebab-akibat, maka fakta tersebut bisa
digunakan secara sangat efisien untuk memprediksi dan mengendalikan.
Dengan demikian generalisasi pun bisa dibuat, dengan kepercayaan yang bisa
diprediksikan.
Jika dilihat dari tiga pilar keilmuan, ciri-ciri positivistik yaitu: (a)
aspek ontologis, positivistik menghendaki bahwa realitas penelitian dapat
dipelajari secara independen, dapat dieliminasikan dari obyek lain dan dapat
dikontrol; (b) secara epistemologis, yaitu upaya untuk mencari generalisasi
terhadap fenomena; (c) secara aksiologis, menghendaki agar proses penelitian
bebas nilai. Artinya, peneliti mengejar obyektivitas agar dapat ditampilkan
prediksi meyakinkan yang berlaku bebas waktu dan tempat. Kevalidan
penelitian positivisme dengan cara mengandalkan studi empiri. Generalisasi
diperoleh dari rerata di lapangan. Data diambil berdasarkan rancangan yang
telah matang, seperti kuesioner, inventori, sosiometri, dan sebagainya. Paham
positivistik akan mengejar data yang terukur, teramati, dan menggeneralisasi
berdasarkan rerata tersebut.
Kata kunci positivistik yang penting adalah jangkauan yang bisa
dibuktikan secara empirik (nyata) oleh pengalaman indrawi (dilihat, diraba,
didengar, dan dirasakan). Misalnya: seseorang pada akhirnya berkesimpulan

dan itu benar, bahwa logam apapun jenisnya akan memuai jika dipanaskan.
Proses nalar tidak lain berlandaskan pada pengujian terhadap berbagai jenis
logam yang memuai saat dipanaskan. Penemuan bukti bahwa logam tersebut
dapat memuai dipandang sebagai kebenaran yang bersifat umum, berawal
pada peristiwa yang bersifat khusus. Pengambilan kesimpulan seperti ini
disebut sebagai penalaran induktif. Cara penalaran ini merupakan proses yang
diawali dari fakta-fakta pendukung yang spesifik, menuju ke arah yang lebih
umum untuk mencapai kesimpulan. Contoh lainnya: Ayam hitam yang kita
amati mempunyai hati. Ayam putih yang diamati juga mempunyai hati.
Kesimpulannya adalah setiap ayam mempunyai hati.
Filsafat positivisme memberikan pengaruh yang nyata dalam mengkaji
ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, pendekatan positivisme dipakai sangat luas
dalam penelitian-penelitian dasar, demikian juga penelitian di bidang
pendidikan. Penganut positivistik sepakat bahwa tidak hanya alam semesta
yang bisa dikaji, melainkan fenomena sosial termasuk pendidikan harus
mencapai taraf objektifitas dan valid melalui metode yang empirik. Dalam
rangka mengkaji gejala/fenomena sebagai ilmu pengetahuan ilmiah,
positivisme memiliki pokok-pokok paradigma positivistik sebagai berikut:
1. Keyakinan bahwa suatu teori memiliki kebenaran yang bersifat universal.
2. Komitmen untuk berusaha mencapai taraf objektif melalui fenomena.
3. Kepercayaan bahwa setiap gejala dapat dirumuskan dan dijelaskan
mengikuti hukum sebab akibat.
4. Kepercayaan bahwa setiap variabel penelitian dapat dididentifikasikan,
didefinisikan dan pada akhirnya diformulasikan menjadi teori dan hukum.
B. Pendekatan Positivistik dalam Penelitian
Positivistik bisa menjalankan peran pendekatan ilmiah pada gejala
lingkungan untuk diformulasikan menjadi pengetahuan yang bemakna.
Pengetahuan modern mengharuskan adanya kepastian dalam suatu kebenaran.
Sehingga, sebuah fakta dan gejala dapat dikumpulkan secara sistematis dan
terencana harus mengikuti asas yang terukur, terobservasi dan diverifikasi.
Dengan begini, pengetahuan menjadi bermakna dan sah menurut tata cara
positivistik. Positivistik sendiri sebenarnya merupakan sebuah paham
penelitian. Istilah ini juga merujuk pada sudut pandang tertentu, sehingga
boleh disebut sebagai pendekatan. Positivistik lebih berusaha kearah mencari

fakta atau sebab-sebab terjadinya fenomena secara objektif, terlepas dari


pandangan pribadi yang bersifat subjektif.
Tujuan penelitian dengan pendekatan filsafat positivisme adalah
menjelaskan yang pada akhirnya memungkinkan untuk memprediksi dan
mengendalikan fenomena, benda-benda fisik atau manusia. Kriteria kemajuan
puncak dalam paradigma ini adalah bahwa kemampuan ilmuwan untuk
memprediksi dan mengendalikan (fenomena) seharusnya berkembang dari
waktu ke waktu. Perlu dicermati reduksionisme dan determinisme yang
diisyaratkan dalam posisi ini. Peneliti terseret ke dalam peran ahli, sebuah
situasi yang tampaknya memberikan hak istimewa khusus, namun boleh jadi
justru tidak layak, bagi seorang peneliti.
Positivistik lebih menekankan pembahasan singkat, dan menolak
pembahasan yang penuh deskripsi cerita. Peneliti yang akan menggunakan
positivistik, harus berani membangun teori-teori atau konsep dasar, kemudian
disesuaikan dengan kondisi lapangan. Peneliti lebih banyak berpikir induktif,
agar menghasilkan verifikasi sebuah fenomena. Penelitian positivistik
menuntut pemisahan antara subyek peneliti dan obyek penelitian sehingga
diperoleh hasil yang obyektif. Kebenaran diperoleh melalui hukum kausal dan
korespondensi antar variabel yang diteliti. Karenanya, menurut paham ini,
realitas juga dapat dikontrol dengan variabel lain. Biasanya peneliti juga
menampilkan hipotesis berupa prediksi awal setelah membangun teori secara
handal.
Suatu penelitian yang memiliki dasar positivistik memiliki ciri-ciri
sebagai berikut:
1. Menekankan objektivitas secara universal dan tidak dipengaruhi oleh
ruang dan waktu.
2. Menginterpretasi variabel yang ada melalui peraturan kuantitas atau angka.
3. Memisahkan peneliti dengan objek yang hendak diteliti. Membuat jarak
antara peneliti dan yang diteliti, dimaksudkan agar tidak ada pengaruh atau
kontaminasi terhadap variabel yang hendak diteliti.
4. Menekankan penggunaan metode statistik untuk mencari jawaban
permasalahan yang hendak diteliti.
C. Penelitian Kuantitatif dengan Pendekatan Positivistik
1. Definisi Penelitian Kuantitatif

Kasiram (2008: 149) dalam bukunya Metodologi Penelitian


Kualitatif dan Kuantitatif, mendefinisikan penelitian kuantitatif adalah
suatu proses menemukan pengetahuan yang menggunakan data berupa
angka sebagai alat menganalisis keterangan mengenai apa yang ingin
diketahui.
Tujuan

penelitian

kuantitatif

adalah

mengembangkan

dan

menggunakan model-model matematis, teori-teori dan/atau hipotesis yang


berkaitan dengan fenomena alam. Proses pengukuran adalah bagian yang
sentral dalam penelitian kuantitatif karena hal ini memberikan hubungan
yang fundamental antara pengamatan empiris dan ekspresi matematis dari
hubungan-hubungan

kuantitatif.

Penelitian

kuantitatif

banyak

dipergunakan baik dalam ilmu-ilmu alam maupun ilmu-ilmu sosial, dari


fisika dan biologi hingga sosiologi dan jurnalisme.
2. Asumsi Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif didasarkan pada asumsi sebagai
berikut (Nana Sudjana dan Ibrahim, 2001) :
a. Bahwa realitas yang menjadi sasaran penelitian berdimensi tunggal,
fragmental, dan cenderung bersifat tetap sehingga dapat diprediksi.
b. Variabel dapat diidentifikasi dan diukur dengan alat-alat yang objektif
dan baku.
3. Karakeristik Penelitian Kuantitatif
Karakteristik penelitian kuantitatif adalah sebagai berikut (Nana
Sudjana dan Ibrahim, (2001 : 6-7):
a. Menggunakan pola berpikir deduktif (rasional empiris atau
topdown), yang berusaha memahami suatu fenomena dengan cara
menggunakan konsep-konsep yang umum untuk menjelaskan
fenomena-fenomena yang bersifat khusus.
b. Logika yang dipakai adalah logika positivistik dan menghundari
halhal yang bersifat subjektif.
c. Proses penelitian mengikuti prosedur yang telah direncanakan.
d. Tujuan dari penelitian kuantitatif adalah untuk menyususun ilmu
nomotetik yaitu ilmu yang berupaya membuat hokum-hukum dari
generalisasinya.

e. Subjek yang diteliti, data yang dikumpulkan, dan sumber data yang
dibutuhkan, serta alat pengumpul data yang dipakai sesuai dengan apa
yang telah direncanakan sebelumnya.
f. Pengumpulan

data

dilakukan

melalui

pengukuran

dengan

menggunakan alat yang objektif dan baku.


g. Peneliti menempatkan diri secara terpisah dengan objek penelitian,
dalam arti dirinya tidak terlibat secara emosional dengan subjek
penelitian.
h. Analisis data dilakukan setelah semua data terkumpul.
i. Hasil penelitian berupa generalisasi dan prediksi, lepas dari konteks
waktu dan situasi.
4. Prosedur Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif pelaksanaannya berdasarkan
prosedur yang telah direncanakan sebelumnya. Adapun prosedur
penelitian kuantitatif terdiri dari tahapan-tahapan kegiatan sebagai berikut.
a. Identifikasi permasalahan
b. Studi literatur.
c. Pengembangan kerangka konsep
d. Identifikasi dan definisi variabel, hipotesis, dan pertanyaan penelitian.
e. Pengembangan disain penelitian.
f. Teknik sampling.
g. Pengumpulan dan kuantifikasi data.
h. Analisis data.
i. Interpretasi dan komunikasi hasil penelitian.
Metodologi

penelitian

kuantitatif

mempunyai

batasan-batasan

pemikiran yaitu: korelasi, kausalitas, dan interaktif; sedangkan objek data,


ditata dalam tata pikir kategorisasi, interfalisasik dan kontinuasi.
Acuan filosofik dasar metodologi penelitian positivistik kuantitatif
adalah sebagai berikut:
1. Acuan hasil penelitian terdahulu

Sesuai dengan filsafat ilmunya, positivisme tunduk kepada bukti


kebenaran empirik, maka sumber pustaka yang perlu dicari adalah bukti
empirik hasil-hasil penelitian terdahulu.
2. Analisis, sintesis dan refleksi
Metodologi positivistik menuntut dipilahnya analisis dari sintesis.
Dituntut data dikumpulkan, dianalisis, barulah dibuat kesimpulan atau
sintesis.
3. Fakta obyektif
a. Variabel
Dalam penelitian positivistik kebenaran dicari dengan mencari
hubungan relevan antara unit terkecil jenis satu dengan unit terkecil
jenis lain.
b. Eliminasi data
Cara berfikir positivistik adalah meneliti sejumlah variabel dan
mengeliminasi variabel yang tidak teliti.
c. Uji reliabilitas, validitas instrument dan validitas butir
Penelitian positivistik menuntut data obyektif. Obyektif dalam
paradigma kuantitatif diwujudkan dalam uji kualitas instrumennya
yang disebut uji reliabilitas dan validitas instrumennya. Dari uji
validitas instrumen tersebut berarti instrumen tersebut dapat dipakai
untuk mengumpulkan data yang obyektif. Kualitas instrumen lebih
tinggi lagi dapat diuji lebih lanjut lewat uji validitas setiap soalnya
atau uji validitas butirnya. Uji validitas butir diuji daya diskriminasi
dan tingkat kesukarannya.
4. Argumentasi
a. Fungsi parameter
Sejumlah variabel diuji pengaruhnya dengan teknik uji relevansi atau
korespondensi antar sejumlah variabel. Uji korespondensi hanya
membuktikan hubungan paralel antar banyak variabel (bukan sebabakibat).
b. Populasi
Subyek penelitian adalah subyek pendukung data, subyek yang
memiliki data yang diteliti.
c. Wilayah atau penelitian
Membahas lingkungan yang memberi gambaran latar belakang atau
suatu lingkungan khusus yang dapat memberi warna lain pada
populasi yang sama.
5. Realitas
a. Desain standar

Kerangka

berfikir

hubungan

variabel-variabelnya

harus

jelas,

dirancang hipotesis yang dibuktikan termasuk dirancang instrumen


pengumpulan datanya yang teruji validitas instrumennya dan juga
validitas butir soalnya dan dirancang teknik analisis.
b. Uji kebenaran
Realitas dalam paradigma kuantitatif obyektif adalah kebenaran sesuai
signifikansi statistik dan pemaknaannya juga sebatas teknik uji yang
digunakan. Unsur-unsur data untuk uji kebenaran menyangkut melihat
antara lain jumlah subyeknya, jenis datanya, distribusi datanya, mean,
simpangan bakunya dan teknik uji korelasinya.
Realitas atau kebenaran yang diakui dalam positivistik sebatas obyek yang
diteliti dan seluas populasi penelitiannya dan dijamin oleh teknik
pengumpulan data, teknik analisis, dan penetapan populasi.

D. Kelebihan dan Kekurangan Penelitian Kuantitatif


Menurut Sugiyono (2012) dan Muhadjir (1996) kelebihan dan kekurangan
penelitian kuantitatif sebagai berikut :
Paradigma Kuantitatif
Kelebihan
Kekurangan
Penelitian lebih berjalan secara empiris, Pengambilan
data
cenderung
terukur, rasional, dan sistematis
bergantung pada percobaan tertentu

Mampu memanfaatkan teori yang ada


Penelitian bersifat independen, supaya
terbangun objektivitas
Spesifik, jelas dan rinci

Penelitian kuantitatif menekankan pada


keluasan informasi (bukan kedalaman).
Metode ini cocok digunakan untuk
populasi yang luas dengan variabel
yang terbatas.

sehingga membutuhkan waktu yang


lebih lama
Penelitian tidak subjektif
Berorientasi hanya terbatas pada nilai
(value) dan jumlah (angka).
Dibatasi oleh peluang untuk menggali
responden dan kualitas perangkat
pengumpul data orisinil
Keterlibatan peneliti umumnya terbatas.
Tidak
semua
variabel
dapat
dimanipulasikan, artinya tidak semua
variabel
dapat
dikontrol
atau
dipengaruhi oleh peneliti

D. Jenis-Jenis Penelitian Kuantitatif


1. Penelitian deskriptif
Suatu metode yang digunkan untuk menggambarkan atau menganalisis
suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang
lebih luas (Sugiyono, 2005).
a. Penelitian survey
Aspek kajian metode penelitian menunjukkan bahwa survey bersifat
explanatory, yaitu penelitian yang harus dilakukan penjelasan atas
hubungan, pengaruh atau adanya hubungan kausal dan sebab akibat. Hal
tersebut dimiliki oleh penelitian survey ini mengingat data-data dan sampel
penelitian sudah pasti ada. Hasil dari penelitian ini dapat digeneralisasikan,
alasannya karena sampel yang digunakan biasanya cukup banyak dan
sasaran penelitian atau wilayah tempat dilakukannya penelitian juga lebih
luas (Darmawan, 2013).
b. Penelitian observasi
Merupakan teknik pengumpulan data dimana peneliti melakukan
pengamatan secara langsung ke objek penelitian untuk melihat dari dekat
kegiatan yang dilakukan (Riduwan, 2004).
c. Penelitian ex-post-facto
Menurut Sukardi (2013), merupakan penelitian dimana variabelvariabel bebas telah terjadi ketika peneliti mulai dengan pengamatan
variabel terikat dalam suatu penelitian.
2. Penelitian eksperimen

Merupakan penelitian yang digunakan untuk mencari pengaruh


perlakuan tertentu terhadap yang lain dalam kondisi yang terkendalikan
(Sugiyono, 2012).
a. Penelitian pre eksperimen
Penelitian pre eksperimen menggambarkan desain penelitian pendahulluan
atau bukan sebenarnya, desain ini belum bisa dianggap sebagai eksperimen
karena adanya hambatan berupa hasil yang tidak memadai (Rosleny,
2013).
b. Penelitian eksperimen sebenarnya
Menurut Suryabrata (2011), disebut sebagai true experiment karena dalam
desain ini peneliti dapat mengontrol semua variabel luar yang
mempengaruhi jalannya eksperimen.
c. Penelitian eksperimen semu
Penelitian eksperimen semu (kuasi eksperimen) menggunakan kelompok
pembanding untuk mengetahui efek perlakuan (Rosleny, 2013).
3. Design and development research
Seels dan Richey (1994), mendefinisikan penelitian pengembangan
sebagai suatu pengkajian sistematik terhadap pendesainan, pengembangan,
dan evaluasi program, proses, dan produk pembelajaran yang harus memenuhi
criteria validitas, kepraktisan, dan efektivitas.
4. Research and development
Menurut Sugiyono (2012), penelitian R&D merupakan metode
penelitian yang digunakan untuk menghasilkan produk tertentu yang dipakai
untuk penelitian bersifat analisis kebutuhan dan untuk menguji keefektifan
produk tersebut supaya bisa berfungsi di masyarakat luas, maka diperlukan
penelitian guna menguji keefektifan produk tersebut.
BAB III
PENUTUP
Kata kunci positivistik yang penting adalah jangkauan yang bisa dibuktikan
secara empirik (nyata) dan oleh pengalaman indrawi (dilihat, diraba, didengar, dan
dirasakan). Dalam rangka mengkaji gejala/ fenomena sebagai ilmu pengetahuan
ilmiah, positivisme memiliki pokok-pokok paradigma positivistik sebagai berikut:
1. Keyakinan bahwa suatu teori memiliki kebenaran yang bersifat universal; 2.
Komitmen untuk berusaha mencapai taraf objektif melalui fenomena; 3.
Kepercayaan bahwa setiap gejala dapat dirumuskan dan dijelaskan mengikuti
hukum sebab akibat.; 4. Kepercayaan bahwa setiap variabel penelitian dapat

10

diidentifikasikan, didefinisikan dan pada akhirnya diformulasikan menjadi teori


dan hukum. Tujuan penelitian dengan pendekatan positivisme adalah menjelaskan
yang pada akhirnya memungkinkan untuk memprediksi dan mengendalikan
fenomena, benda-benda fisik atau manusia. Kriteria kemajuan puncak dalam
paradigma ini adalah bahwa kemampuan ilmuwan untuk memprediksi dan
mengendalikan (fenomena) seharusnya berkembang dari waktu ke waktu. Acuan
filosofik dasar metodologi penelitian positivistik kuantitatif yaitu; 1. Acuan hasil
penelitian terdahulu; 2. Analisis, sintesis dan refleksi; 3. Fakta obyektif; 4.
Argumentasi; dan 5. Realitas.
Jenis-jenis penelitian dalam paradigma Positivistik Kuantitatif, meliputi: 1.
Penelitian deskriptif (Penelitian survei, Penelitian observasi, dan Penelitian expost-facto); 2. Penelitian eksperimen (Penelitian pre eksperimen, Penelitian
eksperimen sebenarnya, dan Penelitian eksperimen semu); 3. Design and
development research, dan 4. Research and development.

DAFTAR PUSTAKA
Adib, Mohammad. 2011. Filsafat Ilmu : Ontologi, Epistemologi, Aksiologi, dan
Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.
Darmawan, Deni. 2013. Metode Penelitian Kuantitatif. Bandung: PT Remaja
Sosdakarya.
Kasiram, Moh. 2008. Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif. Malang:
UIN Malang Press.
Muhadjir, Noeng. 1996. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Rake
Sarasin.
Purwanto. 2010. Metodologi Penelitian Kuantitatif untuk Psikologi dan
Pendidikan. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
11

Riduwan. 2004. Metode Riset. Jakarta: Rineka Cipta.


Rosleny, Marliani. 2013. Psikologi Eksperimen. Bandung: Pustaka Setia.
Seels, B dan Richey, C. 1994. Teknologi Pembelajaran. Jakarta: Seri Pustaka.
Sudjana, Nana dan Ibrahim. 2001. Penelitian dan Penilaian Pendidikan.
Bandung: Sinar Baru Algensindo.
Sugiyono. 2005. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabet.
________. 2010. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif ,
Kualitatif dan R&D. Bandung:
Alfabeta, cv.
Sukardi. 2013. Metode Penelitian Pendidikan Tindakan Kelas Implementasi dan
Pengembangan. Jakarta: Bumi Aksara.
Suryabrata. 2011. Metodologi Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

12