Anda di halaman 1dari 5

Nama : Mutia Agustria

NIM

: 04054821618047

Diagnosis Komunitas

Diagnosis komunitas, sering juga disebut public health assessment, adalah suatu kegiatan
untuk menentukan masalah yang terdapat dalam komunitas melalui suatu studi. Diagnosis
komunitas adalah suatu komponen penting dalam perencanaan program kesehatan. Kegiatan ini
menilai dan menghubungkan masalah, kebutuhan, keinginan, dan fasilitas yang ada dalam
komunitas. Dari hubungan keempat hal tersebut, dipikirkan suatu solusi atau intervensi untuk
pemecahan masalah yang ada dalam komunitas tersebut (Dhaar GM, 2008).
Diagnosis Klinis

Diagnosis Komunitas

Pasien

Komunitas

Dokter

Dokter atau tenaga profesional

Pengumpulkan data

dari Anamnesis dan Pengumpulan data dari rekam medis, angka

pemeriksaan fisis

mortalitas, angka morbiditas

Penentuan masalah individual

Penentuan masalah komunitas

Penentuan

pemeriksaan penunjang yang Penentuan studi atau eksplorasi yang akan

dibutuhkan
Melakukan

dilakukan pada komunitas


pemeriksaan klinis dan

Melakukan survei, skrining, atau surveilans

penunjang
Analisis dan interpretasi data

Analisis dan interpretasi data

Menentukan diagnosis klinis

Menentukan diagnosis komunitas

Memberikan terapi dan edukasi

Merencanakan dan mengimplementasikan


pelayanan dan program untuk komunitas

Follow-up pasien untuk perbaikan klinis

Follow-up dengan evaluasi program

Bila tidak ada perbaikan, pertimbangan untuk Bila tidak ada kemajuan, pertimbangan untuk
mengganti terapi

ubah atau modifikasi program

Nama : Mutia Agustria


NIM

: 04054821618047

Adapun langkah-langkah yang harus dilakukan dalam melaksanakan diagnosis komunitas


adalah definisi karakteristik komunitas, prioritas masalah, penilaian masalah kesehatan
terpilih,intervensi, evaluasi (Mulan F, 2002).
1. Definisi komunitas
Melalui data demografis, data kesehatan, data kualitatif ditentukan komunitas yang
spesifik.
2. Karakteristik komunitas
Berdasarkan data kuantitatif dan kualitatif, dapat ditentukan masalah kesehatan dalam
komunitas yang terpilih untuk kandidat intervensi.
3. Prioritas masalah
Dari masalah yang ada, ditentukan masalah yang paling penting dalam komunitas.
4. Penilaian masalah kesehatan terpilih
Masalah yang terpilih dianalisa dengan mempertim bangkan faktor-faktor yang terkait dan
strategi serta fasilitas yang ada untuk rencana intervensi
5. Intervensi
Penentuan intervensi dipengaruhi oleh masalah dan sumber yang ada.
6. Evaluasi
Evaluasi penting untuk menilai pemecahan masalah melalui intervensi yang diberikan.

Social Determinant of Health (SDH)


Dalam keseharian, ada banyak faktor sosial yang mempengaruhi derajat kesehatan
manusia. Faktor-faktor tersebut dapat berkontribusi dalam terjadinya ketidakseimbangan

Nama : Mutia Agustria


NIM

: 04054821618047

kesehatan diantara kelompok sosial. Faktor-faktor tersebut juga dapat mempengaruhi kesehatan
baik secara langsung maupun tidak langsung. Semua faktor ini saling terkait satu sama lain dan
dapat berakumulasi sepanjang kehidupan manusia. Faktor-faktor sosial yang berpengaruh dalam
kesehatan ini disebut dengan istilah social determinants of health (SDH).
Social determinants of health, menurut WHO, adalah kondisi sosial yang mempengaruhi
kesempatan seseorang untuk memperoleh kesehatan. Faktor-faktor seperti kemiskinan,
kekurangan pangan, ketimpangan sosial dan diskriminasi, kondisi masa kanak-kanak yang tidak
sehat, serta rendahnya status pekerjaan merupakan penentu penting dari terjadinya penyakit,
kematian, dan ketidakseimbangan kesehatan antar maupun di dalam sebuah negara.
Dalam SDH, ada dua hal berbeda yang dapat menggambarkan ketimpangan sosial terkait
derajat kesehatan masyarakat yaitu inequality dan inequity. Inequality in health merupakan
konsep normatif dan merujuk pada ketidakseimbangan yang dianggap tidak adil sebagai hasil
dari berbagai proses sosial. Faktor-faktor yang berkontribusi terhadap health inequalities adalah:
1) faktor sosial ekonomi atau faktor materi seperti anggaran belanja pemerintah dan distribusi
pendapatan serta sumber daya lain di masyarakat, 2) faktor psikologi seperti stres, keterasingan,
hubungan sosial dan dukungan sosial, dan 3) faktor perilaku dan gaya hidup.
Inequity in health atau ketidakadilan dalam aspek kesehatan merupakan sebuah dugaan
empiris dan merujuk pada perbedaan status kesehatan antar kelompok yang berbeda. Sedangkan,
health equity berarti ketiadaan ketidakadilan dan pencegahan perbedaan status kesehatan diantara
kelompok sosial. Health equity juga terkait dengan nilai-nilai kesetaraan dan keadilan. Dalam
health equity, kesehatan merupakan sumber daya yang penting dan bernilai untuk perkembangan
manusia yang membantu manusia untuk meraih potensi mereka dan berkontribusi secara positif
untuk masyarakat.
Dalam menggali adanya inequity dan inequality in health, diperlukan sebuah riset terkait
SDH. Ada 3 pendekatan dan prinsip dalam riset SDH ini, yakni: 1) berfokus pada kelompok
yang paling kurang beruntung. Ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan dari kelompok yang
paling kurang beruntung. Pendekatan ini juga dapat meningkatkan kesehatan bagi mereka yang
kurang beruntung meskipun kesenjangan kesehatan antara yang kaya dan miskin tidak berubah;

Nama : Mutia Agustria


NIM

: 04054821618047

2) mempersempit kesenjangan kesehatan. Ini bertujuan untuk meningkatkan kesehatan mereka


yang kurang beruntung dengan meningkatkan keluaran kesehatan mereka agar setara dengan
kelompok yang beruntung. Ini memerlukan pengaturan target untuk mengurangi perbedaan
dalam keluaran kesehatan; dan 3) mengurangi kesenjangan sosial. Ini termasuk menurunkan
perbedaan dan membuat aspek kesehatan menjadi lebih adil disemua jenjang.
Untuk mengukur SDH dan inequalities in health, diperlukan data yang memadai untuk
dapat membantu kita memahami inequalities in health dan untuk membantu kita
mengidentifikasi target dan intervensi yang tepat untuk mengatasinya. Data yang dimaksud
adalah: 1) data mengenai kematian, kesakitan, kesehatan dan penggunaan layanan kesehatan, dan
2) informasi mengenai bagaimana indikator pelayanan tersebut dipolakan diseluruh kelompok
demografis dan sosioekonomi serta diseluruh area geografis yang berbeda.
Ada sepuluh determinan sosial yang dapat mempengaruhi kesehatan, antara lain.
1. Kesenjangan social

Masyarakat dengan kelas sosial ekonomi lemah, biasanya sangat rentan dan beresiko
terhadap penyakit, serta memiliki harapan hidup yang rendah.
2. Stres
Stres merupaka keadaan psikologis/jiwa yang labil. Kegagalan menanggulangi stres baik
dalam kehidupan sehari-hari di rumah dan di lingkungan kerja akan mempengaruhi
kesehatan seseorang.
3. Pengucilan social
Kehidupan di pengasingan atau perasaan terkucil akan menghasilkan perasaan tidak
nyaman, tidak berharga, kehilangan harga diri, akan mempengaruhi kesehatan fisik maupaun
mental.
4. Kehidupan dini
Kesehatan masa dewasa ditentukan oleh kondisi kesehatan di awal kehidupan.
Pertumbuhan fisik yang lambat, serta dukungan emosi yang kurang baik pada awal
kehidupan akan memberikan dampak pada kesehatan fisik, mental, dan kemampuan
intelektual masa dewasa.
5. Pekerjaan
Stres di tempat kerja meningkatkan resiko terhadap penyakit dan kematian. Syarat-syarat
kesehatan di tempat kerja akan membantu meningkatkan derajat kesehatan.
6. Pengangguran

Nama : Mutia Agustria


NIM

: 04054821618047

Pekerjaan merupakan penopang biaya kehidupan. Jaminan pekerjaan yang mantap akan
meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan bagi diri dan keluarganya.
7. Dukungan social

Hubungan sosial termasuk diantaranya adalah persahabatan serta kekerabatan yang baik
8.

dalam keluarga dan juga di tempat kerja.


Penyalahgunaan napza
Pemakaian napza merupakan faktor memperburuk kondisi kesehatan,keselamat dan
kesejahteraan. Napza atau pemakaian narkoba, alkohol, dan merokok akan memberika

dampak buruk terhadap kehidupan sosial ekonomi masyarakat.


9. Pangan
Ketersediaan pangan, pendayagunaan penghasilan keluarga untuk pangan, serta cara
makan berpengaruh terhadap kesehatan individu, keluarga dan masyarakat. Kekurangan gizi
maupun kelebihan gizi berdampak terhadap kesehatan dan penyakit.
10. Transportasi
Transportasi yang sehat, mengurangi waktu berkendara, meningkatkan aktivitas fisik
yang memadai akan baik bagi kebugaran dan kesehatan. Selain itu, mengurangi waktu
berkendara dan jumlah kendaraan akan mengurangi polusi pada manusia.