Anda di halaman 1dari 23

BUDIDAYA LOBSTER LAUT

TUGAS MATA KULIAH DASAR-DASAR TEKNOLOGI DAN


MANAJEMEN BUDIDAYA PERAIRAN

ANGGOTA KELOMPOK :
HILDA NOVIYANI H.
NOOR WIDAYATI
WINARTI
TRI HANDAYANI
ELFANDRA A. R.
NURSATIA
KAMARUZZAMAN ALHAMDY
MOCHAMMAD ARFA
NINDIYA NASTITI
MULAT SUBEKTI
MARINA MASYITHOH
CITRA ANDRIANI
SAMSIR AMRUDIN
FADLILAH YUNI R.

26010210120018
26010213120008
26010213120023
26010213120037
26010213140056
26010213130071
26010213120010
26010213140048
26010213140072
26010213140083
26010213140096
26010213130107
26010213140118
26010213130129

PROGRAM STUDI BUDIDAYA PERAIRAN


JURUSAN PERIKANAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO

TAHUN 2014

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Lobster laut (Panulirus sp.) atau udang barong merupakan salah satu komoditas
perikanan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Komoditas ini tidak asing dikalangan
masyarakat penggemar makanan laut (sea food). Lobster terkenal dengan dagingnya yang
halus serta rasanya yang gurih dan lezat. Jika dibandingkan dengan udang jenis lainnya,
lobster memang jauh lebih enak. Tidak salah jika makanan ini merupakan makanan yang
bergengsi yang hanya disajikan di restoran-restoran besar dan hotel-hotel berbintang. Karena
harganya yang mahal, lobster biasanya hanya dikonsumsi oleh kalangan ekonomi atas.
Mangsa pasar lobster tidak hanya terbatas di dalam negeri, namun juga diluar negeri.
Permintaan akan lobster selalu meningkat tajam setiap tahunnya. Pada tahun 1990, ekspor
lobster ke Belanda, yang merupakan salah satu negara penggemar lobster di Eropa Barat,
mencapai 745,132 ton atau 89,59% dari total ekspor lobster Indonesia (826 ton).
Di Asia, Jepang dan Hongkong merupakan pengimpor lobster terbesar. Masyarakat di
kedua negara ini terkenel sebagai penggemar masakan laut, termasuk lobster. Di Jepang,
lobster biasanya disajikan dalam bentuk lobster rebus, dan digunakan untuk menghormati
tamu-tamu asing. Selain itu, lobster sering kali disajikan dalam acara pernikahan sebagai
pengganti kado.
Meskipun termasuk negara penghasil lobster, kebutuhan lobster Jepang belum
terpenuhi sehingga harus mengimpor dari negera lain. Pada tahun 1990, ekspor lobster
Indonesia ke Jepang mencapai 53.443 kg atau 6,43% dari total ekspor lobster Indonesia.
Permintaan Hongkong akan lobster tidak jauh berbada dengan Jepang. Tingginya permintaan
lobster di Hongkong dilatarbelakangi moleh mitos yang terdapat di Cina, yaitu bentuk lobster
yang seperti naga akan dapat mendatangkan hoki bagi yang menyantapnya.
Selain untuk ekspor, kebutuhan pasar dalam negeri juga meningkat seiring dangan
meningkatnya arus wisatawan manca negara, mengingat sebagian besar konsumen lobster
adalah orang asing. Peningkatan permintaan lobster biasanya diikuti dengan peningkatan
harga. Selain itu, tingginya harga lobster juga disebabkan oleh terbatasnya volume produksi.
Penetapan harga lobster biasanya didasarkan pada jenis, ukuran, dan kondisi fisik lobster itu
sendiri.
Harga lobster tergolong tinggi baik di pasar domestik maupun pasar ekspor. Nilai
lobster yang tinggi dan akses pasar yang lancar mendorong penangkapan lobster di alam
dilakukan secara intensif. Di Indonesia terdapat enam jenis lobster, namun yang banyak
dikenal oleh masyarakat hanya dua jenis, yaitu lobster mutiara (Panulirus versicolor) dan
lobster bambu (Panulirus penicillatus). Harga lobster mutiara biasanya lebih tinggi, dapat

mencapai 2-3 kali lipat dibandingkan dengan lobster bambu. Kondisi fisik (morfologis)
lobster pun sangat menentukan tingakat harga. Lobster yang masih hidup, sehat, dan tidak
cacat cenderung lebih mahal. Sementara, lobster yang cacat atau mati, harganya jauh lebih
murah untuk semua jenis.
Harga lobster relatif stabil. Kalaupun mengalami fluktasi (pada musim lobster),
perubahannya relatif kecil. Mengingat permintaan negara-negara pengimpor lobster yang
hingga saat ini belum terpenuhi, harga lobster akan cenderung meningkat. Hal ini merupakan
peluang bagi para nelayan dan pembudidaya untuk mengembangkan usaha penangkapan dan
budidaya lobster.
Volume permintaan dan harga lobster yang cenderung meningkat setiap tahun akan
sangat menarik minat nelayan untuk mengadakan penangkapan secara lebih intensif.
Demikian juga potensi perairan laut Indonesia baru dimanfaatkan sekitar 658.000 km 2 (60%),
yang berarti masih ada sekitar 438.800 km2 (40%) yang belum dimanfaatkan. Dari total luas
perairan laut Indonesia (1.097.000 km2), 6.782,48 km2 (0,62) diantaranya merupakan habitat
lobster. Pemanfaatan peluang tersebut dapat dilakukan dengan optimalisasi penangkapan di
seluruh perairan Indonesia, dengan menggunakan alat tangkap tertentu yang tetap
memperhatikan kelestarian habitat alami lobster. Selain dengan penangkapan, dapat juga
dilakukan usaha budidaya lobster secara intensif (dalam bak secara terkontrol). Selain
memenuhi permintaan pasar, usaha budidaya juga dimaksudkan untuk menjaga
keseimbangan produksinya. Dikhawatirkan suatu saat populasi lobster laut Indonesia akan
berkurang dan bahkan mungkin punah sehingga perlu dilakukan upaya untuk
melestarikannya.
2. Tujuan
Tujuan penulisan makalah ini yaitu untuk :
- Mengetahui tujuan utama budidaya lobster laut di Indonesia
- Mengetahui klasifikasi dan karakteristik lobster laut,
- Mengetahui cara-cara / teknik membudidayakan lobster laut yang baik sampai dengan cara
penanganan setelah panen agar sampai ke tangan konsumen.
3. Permasalahan
Permasalahan yang diangkat dalam makalah ini yaitu :
a. Bagaimana teknik atau cara-cara membudidayakan lobster laut yang baik?
b. Bagaimana teknik pembenihan lobster laut?
c. Bagaimana cara menangkap lobster yang telah siap untuk dipanen, dengan tetap
memerhatikan keselamatan lobster dan lingkungan perairan laut itu sendiri?
d. Bagaimana penanganan lobster pasca dipanen agar sampai ke tangan konsumen dengan
baik?
4. Manfaat
Makalah ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai teknik budidaya
lobster laut yang dapat dijadikan sebagai acuan dalam melakukan budidaya lobster laut mulai
dari anakan sampai menjadi lobster dewasa yang siap di jual ke konsumen.

BAB II
PEMBAHASAN

Spesies

I.) TINJAUAN PUSTAKA


a. Biologis Lobster
Lobster laut termasuk dalam family palinuridae. Sistematika lobster telah banyak
diungkapkan oleh banyak peneliti, meskipun terdapat berbagai perbedaan. Klasifikasi yang
dibuat oleh Latreille (1806) dalam Borradaille (1907) membagi ordo decapoda kedalam dua
subordo, yaitu macrura dan brachyura. Pembagian ini didasarkan atas kondisi (letak)
abdomen. Namun, pembagian ini memiliki banyak kelemahan. Oleh karena itu, H. Milne
Edward (1834) dalam borradaille (1907) menambahkan satu subordo lagi yaitu Anuora.
Namun pembagian ini dirasa masih memiliki kekurangan, sehingga ditambahkan Boas (1880)
dalam Borradaille (1907) mengusulkan dua subordo yang diberi nama reptantia dan
naptantia. Lobster dimasukkan kedalam ordo reptantia, sedangkan udang dimasukkan
kedalam ordo naptantia.
Oleh Waterman dan Chace (1960) dalam moosa M.K dan Aswandy I. (1984),
klasifikasi lobster dijelaskan sebagai berikut :
Super kelas : Crustacea
Kelas
: Malacostraca
Subkelas : Eumalacostraca
Superordo : Eucarida
Ordo
: Decapoda
Subordo
: Reptantia
Superfamili : Scyllaridae
Famili
: Palinuridae
Genus
: panulirus
: Panulirus homarus, P. Penicillatus, P. Longipes, P.versicolor, P.ornatus, P. poliphagus.
Lobster sering kali disebut dengan spiny lobster. Diindonesia, selain dikenal sebagai
udang barong atau udang karang, lobster juga memiliki berbagai nama daerah. Beberapa
diantaranya
adalah urang
takka (makasar),koloura (kendari), loppa (bone), hurang
karang (sunda), udang puyuh (padang), dan lain-lain.
b. Jenis Kelamin
Jenis kelamin lobster bisa ditentukan dari letak alat kelaminnya. Alat kelamin jantan
terletak diantara kaki jalan kelima, berbentuk lancip, dan menonjol keluar. Sementara, alat
kelamin betina terletak diantara kaki jalan ketiga, berbentuk dua lancipan. Lobster jantan
biasanya berukuran lebih kecil dibandingakan dengan lobster betina. Hal ini diperkuat oleh
Carpenter & Niem (1998) dalam Kadafi, et.al., jenis kelamin lobster ditentukan dengan
melihat letak gonopores. Gonopores lobster jantan terletak pada kaki jalan kelima, sedangkan
lobster betina terletak pada kaki jalan ketiga. Selain dari letaknya, penentuan jenis kelamin
lobster juga dapat dilakukan dengan memperhatikan ukuran badannya.

c. Karakteristik
Sifat dan kelakuan lobster perlu diketahui terlebih dahulu, sebelum memulai usaha
budidaya lobster di kolam secara terkontrol. Ketidaktahuan akan sifat dan kelakuan lobster
seringkali menjadi faktor yang menyebabkan kegagalan budidaya. Sifat dan kelakuan lobster
diuraikan sebagai berikut.
1. Sifat Nokturnal
Sifat nokturnal adalah sifat lobster yang melakukan aktivitasnya pada malam hari,
terutama aktivitas mencari makan. Sementara, pada siang hari lobster beristirahat dan tinggal
di tepi laut berkarang di dekat rumput laut yang subur, bersama golongan karang.
Diharapkan, para pembudidaya lobster memanfaatkan sifat ini, yakni melakukan pemberian
pakan pada malam hari dengan dosis yang lebih besar dibandingkan dengan pemberian pakan
pada siang hari.
Dengan sifat nokturnal tersebut, tampak bahwa lobster senang bersembunyi di
tempat-tempat yang gelap. Di alam, lobster bersembunyi pada lubang-lubang yang terdapat di
sisi terumbu karang. Oleh karena itu, tempat budidaya lobster perlu dilengkapi dengan tempat
perlindungan atau tempat persembunyian.
2. Sifat Ganti Kulit (Moulting/Ecdysis)
Langkah awal pertumbuhan lobster ditandai dengan terjadinya pergantingan kulit
(moulting atau ecdysis). Peristwa moulting pada Crustacea adalah pergantian atau
penanggalan rangka luar untuk diganti dengan yang baru. Proses ini biasanya diikuti dengan
pertumbuhan dan pertambahan berat badan.
Proses pergantian kulit pada lobster hampir sama dengan pergantian kulit pada udang
penaeid, misalnya udang windu. Sebelum moulting, lobster mencari tempat pesembunyian
terlebih dahulu tanpa melakukan aktivitas makan dan tidur. Dua hari kemudian, bagian kepala
sudah mulai retak, kemudian dilepaskan dengan gerakan meloncat.

Setelah berganti kulit, lobster akan mengisap air sebanyak-banyaknya sehingga


tubuhnya terlihat membengkak. Untuk mengeraskan kulit barunya, lobster membutuhkan gizi
yang cukup dan jumlah pakan yanglebih banyak. Proses pengerasan kulit biasanya
berlangsung selama 1-2 minggu.
3. Sifat Kanibalisme
Di alam, pakan yang disukai lobster adalah berbagai jenis kepiting, moluska, dan
ikan. Jika persediaan pakan tidak memadai, lobster akan memangsa sesamanya. Sifat lobster
yang saling memakan sesama jenisnya ini disebut sifat kanibalisme. Peristiwa ini terjadi
terutama jika ada lobster yang sedang dalam kondisi lemah (sedang berganti kulit) atau pakan
yang diberikan kurang tepat baik jenis, jumlah, frekuensi, maupun waktu pemberian. Oleh
karena itu, diperlukan adanya manajemen pakan yang baik. Selain itu, pemasangan potongan
pipa paralon di dasar bak akan sangan akan membantu lobster yang sedang berganti kulit
untuk menghindari pemangsaan dari lobster lainnya.
4. Daya Tahan
Pada umunya, jenis jenis udang mampu bertahan hidup pada perairan dengan kondisi
salinitas yang berubah-ubah (berfluktuasi). Sifat ini disebut eurihaline. Akan tetapi, beberapa
jenis udang, termasuk udang barong atau lobster, merupakan biota laut yang sangat sensitif
terhadap perubahan salinitas dan suhu. Oleh karena itu, budidaya harus dilakukan di tempat
yang beratap sehingga air hujan tidak masuk ke dalam media budidaya. Hal ini diperlukan
untuk mencegah terjadinya fluktuasi salnitas dan suhu yang terlalu tinggi. Jenis Panulirus
sp. lebih toleran terhadap salinitas antara 25-45%.
Lobster mencari makan pada malam hari, di sekitar karang yang lebih dangkal.
Lobster bergerak di tempat yang aman pada lubang-lubang karang, merayap untuk mencari
makan. Apabila terkena sinar lampu, lobster akan diam sejenak, kemudian melakukan
pergerakan mundur dan menghindar.
Pada saat tertentu, biasanya lobster berpindah ke perairan yang lebih dalam untuk
melakukan pemijahan. Lobster betina yang telah matang telur biasanya berukuran (dari ujung
telson sampai ujung rostrum) sekitar 16cm, sedangkan lobster jantan sekitar 20cm. Seekor
lobster jantan dapat membuahi banyak telur yang kemudian disimpan di bagian bawah perut
lobster betina.
5. Habitat
Lobster atau udang barong memiliki dua fase dalam siklus hidupnya, yaitu fase pantai
dan fase lautan. Lobster akan memijah di dasar perairan laut yang berpasir dan berbatu. Telur
yang dibuahi akan menetas menjadi larva yang kemudian bersifat planktonis, melayang-layang
dalam air. Larva yang disebut phylosoma ini memerlukan waktu sekitar 7 bulan untuk menjadi
lobster kecil/muda.

Habitat alami lobster adalah kawasan terumbu karang di perairan-perairan yang


dangkal hingga 100 m di bawah permukaan laut. Di Indonesia, terdapat perairan karang yang
merupakan habitat lobster seluas 6700 km2 dan merupakan perairan karang terluas di dunia.
Lobster berdiam di dalam lubang-lubang karang atau menempel pada dinding karang. Aktivitas
organisme ini relatif rendah. Lobster yang masih muda biasanya hidup di perairan karang di
pantai dengan kedalaman 0,5-30 m
Habitat yang paling disukai adalah perairan dengan dasar pasir yang ditumbuhi rumput
laut (seagrass). Hal ini diperkuat oleh Chan (1998) dalam Saputra, habitat udang karang

(lobster) pada umumnya adalah di perairan pantai yang banyak terdapat bebatuan / terumbu
karang. Terumbu karang ini disamping sebagai barrier (pelindung) dari ombak, juga tempat
bersembunyi dari predator serta berfungsi pula sebagai daerah pencari makan. Akibatnya
daerah pantai berterumbu ini juga menjadi daerah penangkapan lobster bagi para nelayan. Hal
ini dapat dilihat dari cara nelayan mengoperasikan alat tangkap (bintur) di daerah bebatuan di
pantai. Setelah menginjak dewasa, lobster akan bergerak ke perairan yang lebih dalam, dengan
kedalaman antara 7-40 m. Perpindahan ini biasanya berlangsung pada siang dan sore hari.
6. Morfologi lobster
Menurut Moosa dan Aswandy (1984), morfologi dari lobster yaitu terdiri dari kepala dan
thorax yang tertutup oleh karapas dan memiliki abdomen yang terdiri dari enam segmen.
Karakteristik yang paling mudah untuk mengenali lobster adalah adanya capit (chelae) besar
yang pinggirnya bergerigi tajam yang dimiliki lobster untuk menyobek dan juga menghancurkan
makanannya. Udang karang mudah dikenal karena bentuknya yang besar dibanding dengan
udang lainnya.

Morfologi dari udang karang atau lobster yaitu mempunyai bentuk badan memanjang,
silindris, kepala besar ditutupi oleh carapace berbentuk silindris, keras, tebal dan bergerigi.
Mempunyai antenna besar dan panjang menyerupai cambuk, dengan rostum kecil.
Lobster secara umum memiliki tubuh yang berkulit sangat keras dan tebal, terutama di
bagian kepala, yang ditutupi oleh duri-duri besar dan kecil. Mata lobster agak tersembunyi di
bawah cangkang ruas abdomen yang ujungnya berduri tajam dan kuat. Lobster memiliki dua
pasang antena, yang pertama kecil dan ujungnya bercabang dua disebut juga sebagai kumis.
Antena kedua sangat keras dan panjang dengan pangkal antena besar kokoh dan ditutupi duri-

duri tajam, sedangkan ekornya melebar seperti kipas. Warna lobster bervariasi tergantung
jenisnya, pola-pola duri di kepala, dan warna lobster biasanya dapat dijadikan tanda spesifik jenis
lobster.
Menurut Subani (1984), udang karang atau lobster memiliki ciri-ciri yaitu badan besar dan
dilindungi kulit keras yang berzat kapur, mempunyai duri-duri keras dan tajam, terutama dibagian
atas kepala dan antena atau sungut, bagian belakang badannya (abdomen) dan lembaran
ekornya. Pasangan kaki jalan tidak mempunyai chela atau capit, kecuali pasangan kaki lima
pada betina. Pertumbuhan udang karang sendiri selalu terjadi pergantian kulit atau molting,
udang karang memiliki warna yang bermacam-macam yaitu ungu, hijau, merah, dan abu-abu
serta membentuk pola yang indah. Memiliki antena yang tumbuh dengan baik, terutama antena
kedua yang melebihi panjang tubuhnya.
Secara morfologi tubuh lobster

terdiri

dari

bagian,

yaitu

bagian

depan

atau cephalothoraxs (kepala menyatu dengan dada) dan bagian belakang yang disebut abdomen
(perut). Seluruh tubuh lobster terdiri dari ruas-ruas yang tertutup olek kerangka luar yang keras,
bagian kepala terdiri dari 13 ruas dan bagian dada terdiri dari 6 ruas (Subani, 1984). Menurut
Sudradjat (2008), cephalothoraxs tertutup oleh cangkang yang keras (carapace) dengan bentuk
memanjang kearah depan. Pada bagian ujung cangkang tersebut terdapat bagian runcing yang
disebut cucuk kepala (rostrum). Mulut terletak pada kepala bagian bawah, diantara rahangrahang (mandibula). Sisi kanan dan kiri kepala ditutup oleh kelopak kepala dan dibagian
dalamnya terdapat insang. Mata terletak dibagian bawah rostrum, berupa mata majemuk
bertangkai yang dapat digerakkan.
7. Sistem Reproduksi Lobster
Lobster memiliki siklus hidup yang kompleks. Siklus hidup lobster mengalami beberapa
tingkatan yang berbeda pada tiap jenis. Lobster termasuk binatang yang mengasuh anaknya
walaupun hanya sementara. Menurut Subani (1978), sistem pembuahan lobster terjadi di luar
badan induknya (external fertilization). Indung telur nya berupa sepasang kantong memanjang
terletak mulai dari belakang perut (stomach) dibawah jantung (pericarduim) yang dihubungkan
keluar oleh suatu pipa peneluran (oviduct) dan bermuara di dasar kaki jalannya yang ketiga.
Menurut Moosa dan Aswandy (1984), ukuran panjang total lobster jantan dewasa kurang
lebih 20 cm, dan betina kurang lebih 16 cm, sedangkan umur pertama kali matang gonad yaitu
ditaksir antara 5 tahun 8 tahun. Pada waktu pemijahan lobster mengeluarkan sperma
(spermatoforik) dan meletakkannya di bagian dada (sternum) betina mulai dari belakang celah
genital (muara oviduct) sampai ujung belakang sternum.
Peletakan spermatoforik ini terjadi sebelum beberapa saat peneluran terjadi. Masa
spermatoforik yang baru saja dikeluarkan sifatnya lunak, jernih dan kemudian agak mengeras
dan warna agak menghitam dan membentuk selaput pembungkus bagian luar atau semacam
kantong sperma.
Pembuahan terjadi setelah telur-telur dikeluarkan dan ditarik kearah abdomen yaitu
dengan cara merobek selaput pembungkus oleh betina dengan menggunakan cakar (kuku) yang
berupa capit terdapat pada ujung pasangan kaki jalannya. Lobster yang sedang bertelur
melindungi telurnya dengan cara meletakkan atau menempelkan dibagian bawah dada
(abdomen) sampai telur tersebut dibuahi dan menetas menjadi larva atau biasa disebut burayak
atau tumpayak (Moosa dan Aswandy, 1984). Menurut Hasrun (1996), lobster betina kadangkadang dapat membawa telur antara 10.000 -100.000 butir, sedangkan pada jenis-jenis yang

besar bisa mencapai 500.000 hingga jutaan telur. Banyak sedikitnya jumlah telur tergantung dari
ukuran lobster air laut tersebut.
Menurut Prisdiminggo (2002), lobster mempunyai periode pemijahan yang panjang
puncaknya pada bulan November sampai Desember. Setiap individu hanya sekali memijah
setahun. Tetapi pada musim perkembangbiakan, lobster dapat melakukannya lebih dari satu kali
pemijahan. Waktu pemijahan sangat berhubungan dengan temperatur.
8. Jenis

Menurut Moosa dan Aswandy (1984), lobster mendiami suatu perairan tertentu
menurut jenisnya. Berikut jenis-jenis lobster laut :
Panulirus hommarus (lobster hijau pasir) biasanya ditemukan hidup di perairan karang pada
kedalaman belasan meter, dalam lubang-lubang batu granit atau vulkanis. Jenis ini sering
ditemukan berkelompok dalam jumlah yang banyak dan pada saat masih muda lebih suka
hidup di perairan yang keruh. Menurut Chan (1998) dalam Saputra, jenis Panullirus
hommarus hidup pada perairan pantai yang jernih pada bebatuan dan karang berpasir. Lobster
ini biasa disebut scapolled spiny lobster/spiny lobster mempunyai punggung berwarna
kebiru-biruan, kehijau-hijauan atau cokelat kemerah-merahan, dan terdapat bintik-bintik
besar dan kecil berwarna kuning terang. Pada bagian badan terdapat garis kuning, melintang
pada bagian sisi belakang segmen abdomen. Selain itu, terdapat bercak-bercak pada bagian
kakinya.

Panulirus Peniculatus (lobster batu) atau pronghorn spiny/spiny lobster mempunyai bentuk
tubuh berwarna hijau tua atau hijau-kehitaman dengan sapuan warna coklat melintang.
Lobster
jantan
biasanya
berwarna
lebih
gelap
dari
betina. Jenis Panulirus penicillatus biasanya mendiami perairan dangkal berkarang (tidak
jauh dari pantai) di bagian luar terumbu karang pada kedalaman 1-4 m, dengan air yang
jernih dan berarus kuat.
Panulirus longipes (lobster merah/bintik seribu) mampu beradaptasi pada berbagai habitat,
namun lebih menyukai perairan yang lebih dalam, pada lubang-lubang batt karang. Pada
malam hari, sering ditemukan pada tubir-tubir batuan dan kadang-kadang tertangkap di

perairan yang relatif dangkal (sekitar 1m) dengan air yang jernih dan berarus kuat. Hal ini
diperkuat oleh Chan (1998) dalam Saputra, habitat spesies P. longipes adalah perairan karang
atau bebatuan yang dangkal (tapi kadang-kadang dijumpai juga pada kedalaman 130 meter).
Perairan yang disukai yang jernih, dengan arus seang, atau kadang-kadang sedikit
keruh. Lobster ini disebut long legged spiny, mempunyai warna tubuh merah kecoklatan
terang, merah kecoklatan gelap, atau kemerahan. Terdapat bintik-bintik putih dan setiap ruas
kaki bergari-garis coklat atau kekuning-kuningan memanjang. Spesies ini diperkirakan
memiliki dua varietas, yaitu Panulirus Longipes femoritiga dan Panulirus Longipes longipes.
Panulirus ornatus (lobster mutiara) lebih menyukai terumbu karang yang agak dangkal dan
sering tertangkap di perairan yang agak keruh, pada karang karang yang tidak tumbuh dengan
baik, di kedalaman 1-8m. Lobster ini disebut ornate spiny, mempunyai tubuh berwarna hijau
berbelang-belang kuning. Pada bagian abdomen terdapat bintik berwarna kuning.
Panulirus versicolor (lobster hijau) senang berdiam di tempat-tempat yang terlindung di
antara batu-batu karang, pada kedalaman hingga 16m. Jenis ini jarang terlihat berkelompok
dalam jumlah banyak. Lobster ini disebutpainted spiny, yang masih muda mempunyai bentuk
tubuh berwarna kebiru-biruan atau keungu-unguan. Sedangkan lobster dewasa berwarna hijau
terang dengan sapuan warna merah, terutama pada bagian punggung. Bagian kepala berwarna
kehitam-hitaman dengan bercak-bercak putih tersebar pada cangkang kepala. Pada setiap
ujung segmen terdapat guratan berbentuk pipa hitam dengan garis putih di bagian tengahnya.
Antena berwarna coklat muda kekuning-kuningan. Pada kaki didominasi oleh warna putih.

Panulirus poliphagus (lobster bambu) banyak

ditemukan hidup di perairan karang yang keruh dan sering kali juga ditemukan di dasar
perairan yang berlumpur agak dalam. Lobster ini disebut juga mud spiny mempunyai bentuk
badan berwarna coklat. Setiap ujung ruas tubuhnya terdapat guratan berbentuk pipa berwarna
putih dan coklat gelap.

d. Padat Penebaran

Menurut Anggoro (1992), padat penebaran adalah jumlah ikan yang ditebarkan atau
dipelihara dalam satu-satuan luas tertentu. Padat penebaran ini erat kaitannya dengan
produksi dan kecepatan tumbuh ikan yang diharapkan. Peningkatan padat penebaran akan
berhenti pada suatu batas tertentu, karena pakan dan lingkungan menjadi faktor pembatas.

Menurut Widha (1993), ada dua efek kepadatan yang berpengaruh pada populasi organisme
air, pertama mempengaruhi pertumbuhan dan yang kedua adalah mempengaruhi
kelulushidupan. Padat penebaran yang terlalu tinggi menyebabkan ikan menjadi lemah
karena kompetisi dan persaingan dalam mendapatkan ruang gerak, oksigen dan pakan
sehingga kelulushidupannya akan rendah atau terhambatnya pertumbuhan akibat kekurangan
pakan, dengan demikian ada batas padat penebaran dan batas ini tergantung dari umur dan
ukuran ikan.
Dalam kegiatan pendederan lobster (Panulirus spp) masih mengalami kendala yaitu
rendahnya kelulushidupan pada stadia juvenile lobster. Hal ini diduga karena sifat kanibal
pada stadia juvenil pada lobster. Salah satu cara untuk mengatasi permasalahan tersebut yaitu
dengan pengaturan padat penebaran pada stadia juvenile lobster, dengan padat penebaran
yang tepat maka sifat kanibal pada lobster terutama pada stadia juvenile dapat ditekan dan
pertumbuhan serta kelulushidupan juvenile lobster akan mendapatkan hasil yang terbaik.
Penentuan tingkat padat penebaran ini didasarkan pada pernyataan Dwi Eny Djoko (2006),
yaitu padat penebaran yang ideal untuk pemeliharaan lobster untuk sistem keramba jaring
apung sebanyak 15-20 ekor per meter2 luas dasar kolam.
e. Kelulushidupan
Menurut Effendie (1997), kelulushidupan merupakan suatu peluang untuk hidup pada
saat tertentu. Metode yang umum digunakan untuk menyatakan tingkat kelulushidupan
adalah perbandingan antara jumlah individu yang hidup pada akhir percobaan dengan jumlah
individu pada awal percobaan. Kelulushidupan dan pertumbuhan dipengaruhi oleh faktor
internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi jenis kelamin, keturunan, umur,
reproduksi, ketahanan terhadap penyakit dan kemampuan memanfaatkan pakan. Faktor
eksternal meliputi kualitas air, padat penebaran, jumlah dan komposisi kelengkapan asam
amino dalam pakan.
f. Kualitas Air
Menurut Effendi (2003), suhu dan salinitas memainkan peranan yang penting dalam
kehidupan organisme laut dan estuaria. Suhu sangat berperan dalam mempercepat
metabolisme dan kegiatan organ lainnya. Suhu yang tinggi dapat meningkatkan konsumsi
oksigen dan terjadinya pengeringan sel. Keasaman air yang lebih dikenal dengan pH
(Paissanee negatif de H) juga sangat besar pengaruhnya bagi kehidupan ikan. Keasaman
dihitung berdasarkan logaritma negatif dari ion-ion hidrogen per liter air. Keasaman (pH)
yang terlalu tinggi atau rendah akan meracuni ikan dan hewan lainnya. Derajat keasaman
suatu perairan menunjukan tinggi rendahnya konsentrasi ion hodrogen perairan tersebut.
Kisaran parameter kualitas air untuk pemeliharaan lobster secara lengkap, disajikan pada
tabel berikut :
Parameter

Kisaran Nilai

Suhu (oC)

1129*

Salinitas ()

25-45***

DO (ppm)

>5***

Ph
Kedalaman (m)
Amoniak (ppm)

7,8-8,5**
11-15*
< 0.1***

Sumber: *Menurut Cook (1978) dalam Cobb and Phillips (1980)


**Menurut Effendi (2003)
***Menurut Kanna (2006)

II.) PEMBAHASAN MASALAH


1. Cara Budidaya Lobster Air Laut yang Baik
A. Pemilihan Lokasi Budidaya
1. Faktor Ekologis
Ekologis merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan dalam pemilihan
lokasi budidaya lobster. Untuk pemilihan kondisi ekologis yang tepat, harus dikembangkan
beberapa parameter yang dapat digunaan untuk mengkaji dan menilai lokasi pengembangan
lobster jenis tertentu.
Kondisi Lingkungan Fisika
Lokasi yang cocok bagi usaha budi daya lobster adalah daerah pantai yang terletak di
sekitar teluk, selat diantara pulau-pulau yang berdekatan, atau perairan terbuka dengan
terumbu karang penghalang (barrier reef) yang cukup panjang. Lokasi juga harus bebas dari
lalu lintas laut karena lalu lintas kapal atau perahu dapat mengganggu ketenangan usaha
budidaya.
Kondisi Lingkungan Kimiawi
Lahan perairan untuk budi daya lobster sebaiknya tidak mengalami fluktuasi salinitas
yang tajam. Fluktuasi salinitas di luar kisaran ideal menyebabkan terjadinya stress pada
lobster, ditandai dengan sulitnya berganti kulit(moulting). Kisaran salinitas yang optimal bagi
lobster adalah 25-45 %.
2. Faktor Teknis
Faktor teknis lebih ditekankan pada kondisi lokasi agar dapat mendukung teknologi
yang akan diterapkan . Lokasi yang cocok digunakan dalam budidaya lobster, baik
pembenihan maupun pembeseran, adalah lokasi dengan ketersediaan pasokan air laut dan air
tawar yang cukup. Air laut digunakan dalam pemijahan , pemeliharaan larva, dan bahkan
pemeliharaan induk.
3. Faktor Sosial Ekonomi
Lokasi yang dipilih sebaiknya mudah dijangkau (accessible) agar diperoleh
kemudahan dalam pengadaan sarana dan prasarana , pengelolaan proses produksi, sampai
pemasaran. Lokasi yang strategis akan memberikan kemudahan dalam transportasi bahan,
tenaga kerja, dan hasil panen, serta kemudahan dalam pemantauan dan pengawasan lobster
terhadap pencurian. Usaha budidaya lobster memerlukan banyak tenaga kerja sehingga
berdampak positif terhadap masyarakat sekitar karena dapat menciptakan lapangan kerja.
4. Aspek Peraturan dan Perundang-undangan
Lokasi dan lahan yang dipilih sebagai tapak usaha budi daya lobster sebaiknya tidak
bertentangan dengan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Izin usaha dari
pemerintah harus dipertimbangkan sehingga tidak terjadi hambatan pada saat akan memulai
usaha.

1.

2.

3.

4.

5.

B. Sarana Pembenihan
Sarana pembenihan akan sangat mempengaruhi kualitas dan kuantitas benih lobster
yang dihasilkan. Beberapa sarana yang dibutuhkan dalam usaha pembenihan lobster adalah
sebagai berikut :
Calon Induk
Kualitas dan kuantitas benih yang akan dihasilkan dalam pembenihan lobster sangat
dipengaruhi oleh induk yang digunakan. Calon induk lobster yang akan dikembangbiakkan
harus memenuhi beberapa persyaratan, yakni berumur 1,5-2,0 tahun, berat 1,0-1,5 kg/ekor
untuk induk jantan dan 1,5-2,0 kg/ekor untuk induk betina, sudah matang gonad (ditandai
dengan warnanya yang lebih cemerlang dengan panjang kerapas minimal 65 mm), serta sehat
dan tidak cacat.
Pakan
Pakan yang dibutuhkan dalam pembenihan lobster adalah pakan alami yang berupa
rotifer (Brachionus plicatilis). Selain rotifer, diperlukan jenis pakan lain untuk melengkapi
nutrisi yang tidak terkandung dalam rotifer, terutama protein. Pakan yang dapat digunakan
misalnya daging ikan rucah. Disamping pakan alami, dapat juga diberikan pakan buatan,
seperti flake yang sering dipakai sebagai pakan dalam usaha pembenihan udang windu
(Penaeus monodon Fabricius). Di perairan, makanan untuk kebutuhan ikan sebenarnya sudah
tersedia yaitu berupa makanan alami yang banyak sekali macamnya, baik dari golongan
hewan (zooplankton, invertebrate, dan vertebrate), tumbuhan (phytoplankton maupun
tumbuhan air) dan organisme mati (detritus).
Selama tiga bulan pertama masa pemeliharaan, ikan atau kulitivan diberi pakan
berupa ikan rucah, seperti tembang, selar, dan peperek hingga kenyang. Tujuh bulan
berikutnya pemberian pakan hanya dilakukan satu hari sekali dengan dosis 4-6% bobot
badan.
Bak Sand Filter dan Reservoir
Sand Filter (saringan pasir ) berupa bak beton (permanen) yang berisi pasir, ijuk,
kerikil, dan arang yang disusun untuk menjernihkan air. Air yang telah tersaring ditampung
dan diendapkan dalam reservoir I selama 1-2 hari agar kualitas air yang digunakan lebih
terjamin. Selanjutnya ,air dialirkan ke dalam reservoir II dan siap untuk digunakan. Selama
pengendapan kedua, air sebaiknya dperlakukan dengan aerasi terus menerus untuk
meningkatkan kandungan oksigennya.
Bak Pemeliharaan Induk
Bak pemeliharaan induk terbuat dari semen atau beton, berbentuk empat persegi
panjang berukuran (3 x 2 x 1)m3 atau bujur sangkar berukuran (2 x 2 x 1)m3. Dinding bak
bagian dalam sebaiknya berwarna biru laut dan dasar bak diberi pasir putih setebal 10-15 cm.
Di permukaan pasir putih ditempatkan potongan paralon berdiameter 5 6 inci sepanjang 3050 cm sebagai tempat perlindungan. Bak ditemptakan di dalam ruangan tertutup dengan
intensitas cahaya matahari pada siang hari tidak melebihi 1.000 lux. Bak pemeliharaan induk
lobster dilengkapi dengan saluran pemasukan (inlet) pengeluaran air (outlet) untuk
mempermudah sirkulasi air.
Bak Kultur Pakan Alami

Bak kultur pakan almi terdiri atas bak kultur Chloerella sp. dan rotifer (Brachionus
plicatillis). Jumlah dan kapasitas bak disesuaikan dengan kebutuhan akan pakan alami
tersebut.
6. Bak Pemeliharaan Larva
Bak pemeliharaan larva / benih lobster dapat terbuat dari semen (beton) berbentuk
persegi panjang, bujur sangkar, atau lingkaran dengan ukuran dan jumlah diesuaikan dengan
skala usaha yang akan diterapkan. Selain itu, dapat juga digunakan fiberglass atau tangki
polikarbonat. Bak pemeliharaan larva sebaiknya ditempatkan di dalam ruangan untuk
mencegah fluktuasi suhu akibat sinar matahari langsung dan mencegah fluktuasi salinitas
akibat hujan.

2. Teknik Pembenihan Lobster


Intensitas penangkapan lobster yang tinggi telah menimbulkan tekanan terhadap
populasinya di alam. Selain itu, usaha penangkapan lobster seringkali dilakukan dengan cara
dan alat atau bahan yang tidak ramah lingkungan sehingga menimbulkan kerusakan pada
habitat lobster dan lingkungan. Kondisi ini jika berlangsung-terus menerus maka populasi
lobster di alam akan semakin terancam kelestariannya.
A. Persiapan
Persiapan yang harus diperhatikan ketika ingin memulai pembenihan adalah sarana
dan prasarana pembenihan harus higienis, siap pakai, dan bebas dari bahan cemaran yang
dapat mengakibatkan kegagalan proses pembenihan. Beberapa hal yang harus dilakukan
seperti:
Pembersihan bak yang akan digunakan dengan menggunakan deterjen dan dikeringkan
selama 2-3 hari.
Pembersiahan bak pembenihan jua dapat dilakukan dengan cara membasuh bagian dalam bak
dengan kain yang telah dicelupkan kedalam larutan desinfektan, misalnya klorin dengan dosis
150 ppm atau formalin dengan dosis 50 ppm. Setelah dibasuh, didiamkan selam 1-2 jam, dan
selanjutnya dinetralkan dengan larutan natrium tiosulfat 50 ppm.
Batu dan selang aerasi pun perlu dibersihkan. Batu dan selang aerasi yang telah bersih
dipasang pada bak pembenihan dengan kepadatan minimal dua buah batu aerasi/m2.
B. Pemeliharaan Induk
Induk dipelihara dalam bak semen atau fiberglass yang ditempatkan dalam ruangan
agar air bak pemeliharaan bebas dari pengaruh sinar matahari langsung dan air hujan. Pada
prinsipnya, pemeliharaan induk lobster bertujuan untuk menghasilkan induk-induk lobster
yang layak untuk dipijahkan, ditandai dengan kematangan gonad induk tersebut . induk
lobster jantan yang telah matang gonad berwarna lebih terang daripada biasanya, dengan
panjang carapace mencapai 32,65-55,00 mm. pemeliharaan induk lobster jantan sebaiknya
dilakukan secara terpisah dengan induk betina agar tidak terjadi pemijahan maling.
Pematangan gonad dapat dirangsang melalui pengelolaan dan pemilihan jenis pakan.
Biasanya, lobster menyukai pakan alami berupa ikan,udang,keong, dan kerang-kerangan
dalam bentuk segar. Pakan diberikan secaraad libitum (sesuai dengan kebutuhan) dengan
frekuensi pemberian tiga kali sehari. Dengan pengelolaan dan pemilihan jenis pakan yang
baik, diharapkan lobster dapat matang gonad dan dapat memijah secara alami sehingga tidak
perlu dilakukan pemijahan buatan (ablasi mata).

C. Pemijahan
Pemijahan merupakan kegiatan mempertemukan induk jantan dan betina agar dapat
kawin dan menghasilkan telur. Untuk memperlancar proses pemijahan, sebaiknya salinitas air
bak pemijahan dipertahankan 25-45%. Pada umumnya, lobster akan memijah 3-6 jam setelah
proses moulting selesai. Lobster jantan yang sedang birahi akan menarik lobster betina
sambil mengeluarkan sejenis zat yang berfungsi untuk melindungi betina dari serangan
lobster lain. Selanjutnya, lobster jantan membersihkan kotoran yang melekat pada bagian
perut dan dada lobster betina dan membantu membalikkan tubuhnya. Kemudian, lobster
jantan akan mengangkat kaki jalan dan memasukkan alat kelaminnya ke alat kelamin lobster
betina untuk meyemprotkan sperma. Proses ini biasanya berlangsung selama 30 menit.
Setelah pemijahan, telur-telur yang berada didalam bagian perut lobster betina akan
mengalami beberapa kali pembelahan sel. Biasanya, induk betina yang membawa telur
disebut betina berry. Pembelahan pertama terjadi lima jam setelah pemijahan. Pembelahan
kedua, ketiga, keempat, masing-masing terjadi 1,3, dan 4 jam setelah pembelahan pertama.
Selanjutnya, pembelahan berlangsung setiap dua jam sekali dan selesai 30 jam kemudian.
Setelah 30 jam, lobster betina akan mengeluarkan telur-telur yang telah dibuahi. Satu
kali peneluran memerlukan waktu 30 menit. Telur akan keluar melalui carapace setelah
melalui perut dan lubang kelamin pada saat keluar dari dalam tubuh lobster betina, telur-telur
tersebut diletakkan dibawah perut, melekat pada bulu-bulu ang terdapat pada ummbai-umbai
kaki renang. Pada saat inilah telur lobster harus segera dipindahkan kebak penetasan untuk
ditetaskan .tiga minggu kemudian, telur-telur yang tidak dibuahi akan keuar dengan
sendirinya dari alat kelamin lobster betina.
D. Penetasan
Pada hari ketiga setelah telur dikeluarkan, tali embrio menbesar menjadi daun embrio.
Pada hari keempat dari daun embrio akan tumbuh perut embrio. Pada hari kelima mulai
tumbuh kaki tambahan, kaki jalan, ekor, dan bulu-bulu halus. Pada hari kedelapan, dasar
mata berubah menjadi sel mata (titik hitam) dan ujung kaki tambahan ditumbuhi bulu-bulu
halus. Pada hari kesembilan, dasar cangkang kepala menjadi transparan dan oragan-oragan
pernapasan, pencernaan, dan pembuangan mulai terbentuk. Pada hari kedua belas, kaki
tambahan bertambah panjang dan oragan-organ baru mulai terbentuk. Pada hari kudua puluh ,
telur menetas menjadi naupli loster yang sering disebut nauplisoma. Biasanya, fase
nauplisoma hanya berlangsung beberapa jam, kemudian berganti kulit menjadi fase filosoma.
Dua hari kemudian, filosoma mulai mencari pakan alami yang berupa rotifera.
Larva yang baru berganti kulit menjadi filosoma berwarna merah, kemudian berubah
menjadi transparan. Didalam air, filosom sulit dibedakan dengan tumbuhan air karena
berbentuk mirip daun. Namun, apabila diperhatikan secara cermat, ternyata filosoma ini
sudah mempunyai bulu-bulu halus berbentuk kupu-kupu. Selain itu, tulangnya masih lembek
dan kerangka luarnya masih belum mengandung zat kapur.
E. Pemeliharaan Larva
Pemeliharaan larva bertujuan untuk memelihara larva yang baru menetas hingga
mejadi lobster muda yang berukuran sekitar 7-10 cm. Kegiatan pemeliharaan larva biasanya

mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi dibandingkan dengan kegiatan lainnya. Pada
fase larva, lobster sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan, baik suhu dan salinitas
maupun jenis, kualitas, dan kuantitas pakan yang diberikan.
Sebaiknya larva yang berasal dari induk yang berbeda tidak dipelihara dalam satu
wadah karena kedua kelompok larva tersebut akan mengalami proses bergati
kulit (moulting) pada waktu yang berbeda. Hal ini dapat menyebabkan tingginya tingkat
kematian (mortalitas) akibat terjadinya kanibalisme (saling memangsa) diantara larva yang
dipelihara. Selain itu agar larva dapat tumbuh dengan cepat, kualitas air harus selu dijaga dan
dipertahankan pada kondisi optimal.
a. Penebaran Nauplisoma
Telur yang telah menjadi nauplisoma dapat dipindahkan kedalam bak pemeliharaan
larva dengan menggunakan ember atau Waskom. Disarankan agar nauplisoma dipindahkan
bersama dengan air medianya untuk mencegah tingginya tingkat kematian larva paada saat
pemindahan larva harus dilakukan dengan hati-hati dan secepatnya untuk menghindari stress
akibat kepadatan larva yang tinggi dalam bak penetasan.
Pengambilan nauplisoma dari bak penetasan dilakukan dengan cara mematikan aerasi
terlebih dahulu, kemudian nauplisoma diambil dengan hati-hati menggunakan gayung
bersama-sama masa air. Larva ditampung didalam ember atau wasskom yang dilengkapi
aerasi lemah telebih dahulu, kemudian dipindah ke bak pemeliharan larva.
Penebaran larva sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari karena suhu masih
relative rendah ataupun disesuaikan dengan waktu penetasan telur. Padat penebaran larva
lobster berkisar antara 10-30 ekor/liter air. Selama pemeliharaan; diusahakan agar air dalam
bak pemeliharaa tetap bersih dan jernih dengan salinitas 31-33 ppt.
b. Pemberian Pakan
Larva lobster membtuhkan pakan dalam jumlah tertentu untuk menunjang aktivitas
dan pertumbuhannya. Jenis pakan yang dikonsumsi bervariasi, tergantung pada stadium dan
ukuran larva. Pada umunya, pada fase larva lobster cenderung menyukai pakan alami yang
berupa rotivera. Dengan kepadatan dipertahankan antara 10-15 ekor/ml. larva yang baru
menetas masih mempunyai cadangan makanan didalam tubuhnya, berupa kuning telur.
Kuning telur tersebut akan habis pada hari kedua setelah penetsan. Dengan demikian,
pemberian pakan pertama kali dilakukan pada hari kedua setelah penetasan.
Sejalan dengan perkembangan larva, kebutuhan pakan semakin meningkat. Untuk
melengkapi nutrisi, terutama protein ang tidak terdapat dalam rotifer selain itu, dapat
digunakan pakan buatan breupa flakes seperti yang biasa digunakan dalam pembenihan
udang windu. Pemberian pakan dilakukan 3 kali sehari yaitu pada pagi, siang, dan malam
hari.
F. Perkembangan Larva
Selama pemeliharaan larva akan mengalami pergantian kulit yaitu, dari stadium
nauplisoma, filosoma, perurilla, hingga mencapai stadium lobster muda. Telur yang baru
menetas. Kualitas air harus dijaga agar fluktuasi suhu dan salinitas tidak terlalu tinggi.
Fluktuasi suhu dan salinitas yang terlalu tinggi dapat menyebabkan lobster sulit berganti kulit
dan dengan demikian terhambat pertumbuhannya.

Pada stadium nauplisoma, nilai pH media pemeliharaan lobster dipertahankan 9,2


dengan cara menambahkan NaOH kedalam air. Selama larva berumur kurang dari sebulan,
diusahakan agar tidak dilakukan pergantian air karena larva masih sangat sensitif terhadap
perubahan lingkungan media tumbuhnya.
Pergantian air dapat dilakukan setelah larva berumur sebulan, yakni dengan
mengganti 10% dari volume air keseluruhannya. Untuk mencegah fluktuasi suhu dan salinitas
yang terlalu tinggi, pergantian air dilakukan dengan system air mengalir(sirkulasi).
Banyaknya air yang digantidapat ditngkatkan setelah larva menginjak stadium
filosoma, yakni 25% dari volume air keseluruhan, sedangkan pada tingkat perurilla sebanyak
30%. Pergantian air diatur sedemikian rupa sehinggakondisi air dapat dipertahankan pada
kisaran suhu 28-32oC dan salinitas 25-30 ppt.
G. Panen Lobster
Panen dilakukan setelah lobster mencapai ukuran pasar, yaitu 150 200 gram/ekor.
Benih yang ditebar dengan ukuran rata-rata 5 gram/ekor dapat dipanen dengan ukuran ratarata 120 gram/ekor selama pemeliharaan 10 (sepuluh bulan). Sedangkan benih yang ditebar
dengan ukuran 10 gram/ekor dapat dipanen dengan ukuran rata-rata 120 gram/ekor selama 8
(delapan bulan).
Udang karang atau lobster hasil budidaya dipasarkan dalam kondisi hidup dan tidak
cacat, sehingga panen harus dilakukan secara hati-hati. Pemanenan dilakukan dengan cara
mengangkat karamba. Selanjutnya, lobster dipindahkan satu persatu dari tempat
pemeliharaannya ke dalam boks styrofoam. Pengangkutan udang antar daerah maupun ekspor
dilakukan dalam keadaan hidup. Selain itu, suhu diusahakan rendah sekitar 20o C dengan
kondisi tanpa air, tetapi lembab.

3. Usaha Penangkapan Lobster

Pemilihan Alat Tangkap


Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih jenis alat tangkap lobster,
terutama tingkat risiko yang ditimbulkan terhadap hasil tangkapan. Hal ini ditentukan karena
sering kali terjadi lobster tangkapan terluka, kehilanagan salah satu atau lebih organ tubuh
(cacat), atau pun mati akibat pemilihan alat tangkap yang tidak sesuai. Hal hal tersebut
menyebabkan harga jual rendah.
Salah satu alat tangkap yang mempunyai risiko kerusakan hasil tangkapan kecil dan
menjamin lobster tetap hidup adalah bubu. Penggunaan bubu juga tidak menimbulkan
dampak negatif yang dapat mengancam kelestarian ekosistem terumbu karang karena tidak
menggunakan racun atau bahan peledak. Bubu sudah lama digunakan oleh nelayan, terutama
untuk menangkap ikan karang, misalnya kerapu dan lobster. Alat tangkap ini terdiri atas
beberapa bagian, yaitu badan bubu, ijeb-ijeb dan mulut/pintu . Ijeb ijeb umumnya
berbentuk kerucut, bagian luar terlihat lebar, sedangkan bagian dalam lebih sempit.
Jenis Jenis Bubu
Di Indonesia, bubu umumnya terbuat dari bambu, dengan aneka rakam bentuk : bujur
sangkar, silindris, gendang kubus, dan lain lain. Jenis bubu yang demikian sering
dioprasikan di perairan dekat pantai atau perairan karang dangkal. Dengan perkembangan
teknologi perikanan, khususnya penangkapan ikan laut, bahan dan bentuk bubu pun

mengalami perkembangan. Berdasarkan bahan dan bentuknya, bubu dibedakan menjadi enam
macam, yaitu bubu bone, bubu bali, bubu beehive pot, bubu crayfish, bubu lipat, dan krendet.
1. Bubu Bone
Bubu bone biasanya terbuat dari anyaman bambu, rotan, atau kawat besi. Bubu ini
disebut bubu bone karena biasa digunakan oleh nelayan yang beroprasi di teluk bone. Pada
umumnya bubu bone berbentuk balok/kotak yang dilubangi pada salah satu sisinya.
2. Bubu Bali
Bubu bali terbuat dari anyaman bambu. Alat ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu
bagian luar dan bagian dalam. Bagian luar berupa silinder menyerupai pagar (sappo) ,
sedangkan bagian dalam berbentuk dua kerucut yang saling bertemu pada bagian ujungnya.
3. Bubu Beehive Pot
Bubu beehive pot juga sering disebut bubu labalaba berbentuk menyerupai sarang
laba-laba. Alat ini biasa dioprasikan di daerah karang sehingga disebut juga rock lobster pot.
Konstruksi terdiri atas kerangka besi yang dibalut dengan anyaman rotan, sedangkan mulut
/injap terbuat dari anyaman rotan.
4. Bubu Crayfish
Bubu crayfish banyak digunakan di daerah Australia Berat. Sebagian besar terbuat
dari bahan kayu dengan kombinasi bagian atas dan bawah dari pelat besi agar mudah dan
cepat tenggelam. Pada umumnya, jenis bubu ini berbentuk trapesium sehingga juga sering
disebut bubu trapezium.
5. Bubu Lipat
Bubu lipat berbentuk tidak tepat persegi panjang , bagian atas berbentuk setengah
lingkaran, sedangkan bagian bawahnya sedikit melengkung. Bubu ini memiliki dua sisi yang
pendek dan dilengkapi dengan mulut.
6. Krendet
Krendet biasa digunakan oleh para nelayan di daerah partai selatan Yogyakarta,
khusus Gunung kidul ( pantai Baron , Krakal, dan Kukup ).
Pengoperasian Alat Tangkap
1. Penetapan Daerah Penangkapan ( Fishing Ground )
Daerah penangkapan sangat menentukan keberhasilan usaha penangkapan lobster.
Perairan karang yang merupakan habitat lobster di Indonesia mencapai luasan 6.700 km 2.
Perairan ini merupakan perairan karang terluas di dunia. Potensi tersebut terdapat di perairan
sebelah barat Sumatra, Selat Malaka, sebelah selatan pulau jawa, sebelah timur Kalimantan,
perairan Maluku dan Irian Jaya, serta daerah Bali dan Nusa Tenggara.
2. Cara Pengoperasian Alat Tangkap
Berdasarkan skala usaha yang diterapkan, ada dua system pengoprasian alat tangkap
lobster dengan menggunakan bubu, yaitu system tunggal (single trap ) dan sistem berangkai
(long line traps). Sistem tunggal merupakan cara pengoprasian alat tangkap dengan
menggunakan hanya satu buah alat tangkap per satu kali pemasangan. Pengoprasian sistem
tunggal memerlukan sebuah pelampung dan seutas tali dengan panjang disesuaikan oleh
nelayannelayan kecil yang mempunyai sarana sederhana dan modal terbatas.
Pengoperasian sistem berangkai memerlukan tali utama dengan ukuran panjang
disesuaikan dengan banyaknya alat tangkap yang akan digunakan. Selain itu, sistem ini juga
memerlukan tali pemberat dan pemberatnya serta tali pelampung dan pelampungnya.

a. Persiapan
Sebelum dioperasikan, seluruh komponen alat tangkap bubu haarus disiapkan di
bagian butiran kapal. Umpan di pasang kuat kuat pada masing masing alat tangkap
sehingga tidak mudah lepas.
b. Penebaran
Penebaran bubu dapat dilakukan setiap saat, pada saat kapal bergerak maju dengn
kecepatan 3 knot. Tali pelampung bubu pertama yang dijatuhkan ke laut akan diikuti oleh
bubu bubu berikutnya secara otomatis karena tertarik oleh bubu sebelumnya.
c. Pengangkatan
Pengangkatan bubu dilakukan pada siang hari agar lebih mudah menemukan
pelampung tanda. Bagian pertama yang di angkat adalah pelampung tanda, dengan
menggunakan pengait. Selanjutnya, tali pelampung ditarik dengan menggunakan mesin
penarik tali melalui sebuah takal. Takal berfungsi untuk mengurangi beban tarikan dan
gesekan yang dapat menyebabkan kerusakan pada tali.
3. Tenaga Kerja
Pengoprasian bubu dengan sistem berangkai (long line traps) dengn bubu sebanyak 10
30 buah memerlukan tenaga kerja sekurangkurangnya enam orang.
Penanganan Hasil Tangkapan
Lobster hasil penangkapan diupayakan agar teteap sampai ke tangan konsumen,
mengingat harga lobster hidup lebih tinggi dari pada lobster yang sudah mati. Untuk
mencapai tujuan tersebut, diperlukan keterampilan tersendiri.
1. Sistem Pengadukan Air
Penanganan lobster hasil tangkapan dengan sistem ini sangat sederhana dan biasanya
dilakukan oleh nelayan nelayan kecil dengan fasilitas kurang memadai. Biasanya, perahu
nelayan dilengkapi dengan bak penanampung lobster. Bak tersebut diisi air laut secukupnya
atau setinggi 15 20 cm. permukaan air terus menerus di aduk- aduk secara terus menerus
hingga lobster sampai ke tangan konsumen.
Secara ekonomi, sistem ini mempunyai keuntungan tersendiri, yakni tidak
memerlukan biaya sehingga tidak terjadi pembengkakan biaya produksi. Namun, secara
teknis sistem ini merugikan karena membutuhkan lebih banyak tenaga kerja dan ruang.
Selain itu, sistem ini tidak menjamin kelangsungan hidup lobster hasil tangkapan karena
kelalaian sedikit saja akan berdampak besar terhadap lobster. Berdasarkan pengamatan
nelayan penangkapan lobster di Teluk Bone, penanganan lobster dengan cara seperti ini
hanya bisa di pertahankan 65% dari total tangkapan.
2. Sistem Perlakuan Aerasi
Pada prinsipnya, penanganan hasil tangkapan dengan sistem perlakuan aerasi hampir
sama dengan penanganan dengan sistem pengadukan air. Namun, untuk meningkatkan
oksigen terlarut, diupayakan difusi oksigen secara langsung dengan mencelupkan batu dan
slang aerasi ke dasar wadah penampungan. Pangkal selang aerasi dihubungkan dengan
sumber udara berupa tabung oksigen berupa tabung oksigen .
Keuntungan sistem ini adalah kelangsungan hidup lobster lebih terjamin karena
kandungann oksigen dalam air relatif stabil. Namun, sistem ini membutuhkan banyak biaya
dan ruang. Meskipun demikian, jika dianalisis secara ekonomi, sistem ini lebih

menguntungkan karena bisa mempertahankan kelangsungan hidup hasil tangkapan hingga


80-90%.
3. Pembiusan dengan Suhu Rendah
Penanganan hasil tangkapan dengan sistem ini biasanya dilakukan oleh perusahaanperusahaan atau nelayan tertentu yang memiliki keterampilan, sarana, dan prasarana yang
memadai, dengan modal yang cukup banyak. Pada prinsipnya, penanganan dengan sistem
pembiusan adalah menekan aktivitas metabolisme dan respirasi selama pengangkutan agar
kehidupan lobster dapat di perhatikan.

4. Penanganan Pasca Panen


Penanganan pasca panen produk perikanan dapat dilakukan dengan berbagai metode,
yaitu panangana produk biologis, penanganan produk awetan, dan penanganan produk
olahan. Khusus komoditas lobster, penanganan pasca panen hanya mengunakan metode
pertama dan kedua, mengingat pada umumnya lobster dikonumsi dalam bentuk segar, bukan
dalam bentuk olahan.
Penanganan produk biologis merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan untuk
mempertahankan mutu produk perikanan tanpa melakukan perubahan bentuk, bahkan lobster
dipertahankan dalam keadaan hidup. Penanganan produk biologis terhadap lobster dipandang
sangat perlu, mengingat harga akan jauh lebih tinggi apabila dalam keadaaan hidup.
Penanganan produk biologis pada lobster dapat dilakukan denagn pengemasa dan
pengangkutan serta penampungan.
A. Pengemasan dan Pengangkutan
Pada dasarnya, pengemasan dan pengangkutan lobster dapat dilakukan dengan dua
cara, yaitu metode basah (wet method) dan metode kering (dry method). Metode basah
merupakan suatu cara pengemasan dan pengangkutan lobster beserta air medianya dengan
menggunakan fiberglass, styroform, atau wadah lainya yang dilengkapi dengan instalasi
aerasi. Sementara, metode kering merupakan cara pengemasan dan pengangkutan lobster
tanpa menggunakan air.
Pengangkutan dengan metode kering adalah menciptakan kondisi tertentu sehingga
metabolisme, respirasi, dan aktivitas lobster rendah, dengan kondisi tersebut lobster memiliki
kemampuan hidup diluar kondisi habitatnya. Langkah-langkah pengemasan lobster dengan
metode kering adalah sebagai berikut :
a. Persiapan dan Penanganan Lobster
Sebelum dilakukan pembiusan, diperlukan beberapa tahap persiapan yang meliputi
pemeriksaan kesehatan, pembugaran, dan pemberokan lobster yang akan diangkut, serta
persiapan media dan kemasan untuk pengangkautan.
b. Proses Pembiusan
Lobster dibius dengan cara menurunkan suhu air secara bertahap sampai suhu
tertentu. Pembiusan dapat dilakukan secara langsung pada bak pemeliharaan ataupun secara
tidak langsung dengan mengunakan wadah atau bak lainya, seperti akuarium dan baskom.
Pembiusan lobster secara langsung adalah pembiusan yang dilakukan pada bak pemeliharaan.
Suhu air diturunkan secara berlahan dengan menyemprotkan es air laut.
c. Pengemasan

Kemasan yang digunakan adalah kotak styrofoam yang memiliki daya insulasi tinggi
sehingga perubahan suhu didalam kemasan dapat dipertahankan tetap rendah.
B.

Penampungan
Kegiatan penampungan lobster biasanya dilakukan oleh pedangang pengumpul yang
beroprasi disekitar lokasi pendaratan kapal-kapal perikanan disepanjang pantai. Pada
perinsipnya usaha penampungan lobster sama dengan usaha pembesaran, namun kegiatan
pemeliharaanya bersifat sementara. Lama pemeliharaan tergantung pada pencapaian target
yang telah ditentukan sebelumnya. Selama penampungan ada bebrapa hal yang harus
dilakukan agar lobster tetap hidup dan sehat pada saat akan dikemas dan diangkut. Hal-hal
yang dimaksud meliputi konstruksi dan desain bak penampungan , pengelolaan kualitas air,
managemen pakan, grading, dan lain-lain.
Penanganan produk awetan lebih tidak menguntungkan apabila dibandingkan dengan
penangana produk biologis karena harga lobster hidup dapat mencapai 3-5 kali dari harga
lobster mati. Namun demikian, penanganan produk awetan perlu dilakukan selam
pemeliharaan atau penangkapan pasti ada lobster yang mati. Secara umum, penanganan
produk awetan hasil perikanan dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu pengawetan
dengan suhu tinggi (pengasapan dan perebusan), pengawetan dengan suhu rendah
(pendinginan dan pembekuan), pengawetan dengan bahan kimia, dan pengawetan dengan
dengan mengurangi kadar air (pendinginan dan penggaraman). Khusus untuk lobster,
pengawetan biasanya dilakukan dengan suhu rendah, yaitu dengan pembekuan.
Proses pembekuan
Langkah-langkah kerja dalam proses pengawetan lobster melalui pembekuan
dijelaskan sebagai berikut.
Persiapan
Persiapan lobster yang akan dibekukan sangat sederhana. Lobster terlebih dahulu
dibersihkan dari lumpur , algae, dan zat-zat lain yang biasanya ditemukan menempel pada
tubuh lobster. Pencucian lobster ini harus dilakukan secra hati-hati dan diusahan agar tidak
ada anggota tubuh yang tertinggal, mengingat sebaiknya lobster diekspor dalam kondisi utuh.
Pengemasan 1
Setelah dibersihkan, lobster dibungkus dengan plastik serta dipres sehingga tertutup
rapat. Ukuran plastik yang digunakan tergantung pada ukuran lobster yang akan dikemas.
Sebelum dikemas, sebaiknya kondisi lobster diamati terlebih dahulu agar tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan. Lobster yang sudah lama mati dan sudah berbau busuk sebaiknya
tidak dikemas karena peluang pemasaranya sangat kecil.
Pemasukan dalam freezer
Lobster yang telah dikemas segera dimasukkan ke dalam freezer untuk dibekukan.
Pada umumnya, pembekuan lobster dapat dilakukan dengan tiga metode, yaitu air blast
freezing, contact plate freezing, dan immersion (spray) freezing.
Pelepasan dan pengemasan 2
Setelah proses pembekuan selesai, kemasan lobster dikeluarkan dari dalam freezer
dengan cara melepasnya satu per satu. Selanjutnya, lobster ditimbang dan dikemas sesuai
dengan permintaan konsumen. Misalnya, kemasan lobster beku disusun dala kotak yang
mempunyai daya insulasi tinggi, yaitu kotak styrofoam.

BAB III
KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil yaitu :
Tujuan utama Budidaya lobster ait laut adalah memanfaatkan potensi alam indonesia yang
kaya akan hasil laut yang mana secara tidak langsung juga bertujuan meningkatkan
pendapatan masyarakat nelayan dan meningkatkan ekspor produk hasil laut dalam negeri.
Lobster air laut dibudidayakan dari segi pembesaran dan pembenihan. Pembenihan lobster air
laut untuk bertujuan mendapatkan benih. Pembenihan di lakukan dengan cara mengawinkan
induk jantan dan betina. Benih yang dihasilkan bisa di budidayakan lewat pembesaran.
Pembesaran lobster air laut bertujuan untuk mendapatkan lobster dewasa yang siap
dikonsumsi. Pembesaran lobster sangat berhubungan dengan laju pertumbuhan.

Lobster merupakan hewan malam (nokturnal). Lobster lebih banyak beraktivitas dan mencari
makan pada malam hari atau saat gelap. Karena itu, pemberian pakan lobster sebaiknya lebih
banyak dilakukan pada malam hari. Pada siang hari, lobster cenderung untuk diam di tempat
persembunyiannya. Mengalami Pergantian Kulit atau Molting Pertumbuhan lobster ditandai
dengan adanya pergantian kulit atau biasanya dikenal dengan kata molting. Seiring dengan
pertumbuhannya, pergantian kulit akan semakin berkurang menjadi beberapa bulan sekali, atau
bahkan bisa satu tahun sekali. Lobster termasuk hewan yang memiliki sifat kanibal atau
memakan sesamanya. Umumnya, lobster yang sedang dalam tahap molting sangat lemah dan
rentan terhadap serangan sesamanya. Untuk itu makanan yang diberikan untuk lobster yang
dibudidayakan harus mencukupi, bila tidak akan terjadi kanibalisme.

Teknik membudidayakan lobster laut yang baik terdiri dari pemilihan lokasi budidaya, dan
sarana pembenihan yang baik. Setelah lobster dibudidayakan dengan baik, lobster ditangkap
dengan menggunakan alat yang benar. Baru setelah itu lobster mulai masuk dalam tahap
pengemasan agar dapat sampai ke tangan konsumen.

BAB IV
DAFTAR PUSTAKA
Effendie, M.I. 1997. Metoda Biologi Perikanan. Yayasan Pustaka Nusatama. Yogyakarta.
Effendi, H. 2003. Telaah Kualitas Air. Kanisius. Yogyakarta.

http://mengenal-lobster-air-laut.htm
Kadafi, Muammar, et.al., 2006. Aspek Biologi dan Potensi Lestari Sumberdaya Lobster
(Panulirus spp.) di Perairan Pantai Kecamatan Ayah Kabupaten Kebumen. Jurnal
VIII(1).
Kanna, Iskandar. 2006. Lobster. Kanisius. Yogyakarta.

Perikanan

Moosa, M.K. dan I. Aswandy. 1984. Udang Karang (Panulirus spp.) dari Perairan
Indonesia. LON LIPI. Jakarta

Phillips, B.F., J.S. Cobb, and R.W. George, 1980. General Biology. In Cobb, J.S., and
B.P.
Phillips (eds.). The Biology and Management of Lobsters. Volume I. Physiology
and Behavior. Academic Press.
Prisdiminggo, Mashur, M. Nazam, L. Wirajaswadi. 2002. Budidaya Ikan Kerapu Bebek
(Cromileptes altivelis) dan Lobster (Panulirus sp) dalam Karamba Jaring Apung

(KJA) di

Teluk Ekas, Lombok Timur.


Saputra,
Suradi
Wijaya. 2009. Status
Pemanfaatan
Lobster
Perairan
Kebumen. Jurnal Saintek Perikanan Vol. 4, No. 2

sp)

(Panulirus

di

Subani, W., 1987. Perikanan Udang Barong (Spiny Lobster) dan Prospek Masa Depannya.
Bulletin
Penelitian
Perikanan
Volume I
(3). Pusat
Penelitian
dan Pengembangan
Perikanan, Jakarta.
______1984. Studi Mengenai Pergantian Kulit Udang Barong (Spiny Lobster, Panulirus
spp)
Kaitannya dengan Hasil Tangkapan. Laporan Penelitian Perikanan Laut.