Anda di halaman 1dari 12

PRODUKSI TANAMAN HAPLOID MELALUI

KULTUR ANTHER/POLEN

Laporan Praktikum
Untuk memenuhi tugas Matakuliah Kultur Jaringan Tumbuhan
dibina oleh Dr. Wahyu Widoretno, MSi. dan Ir. Retno Mastuti,
MAgSc., DAgSc

Oleh:
Jamilatus Sadiyah
(166090100111023)

UNIVERSITAS BRAWIJAYA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

JURUSAN BIOLOGI
Desember 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Upaya mendapatkan galur-galur homozigot dari
spesies tanaman yang menyerbuk silang dapat memakan
waktu yang cukup lama. Taji
et al. (2002)
mengemukakan, bahwa dengan teknologi haploid galurgalur homozigot dapat diperoleh hanya dalam satu
generasi, sementara dengan teknologi konvensional
diperlukan waktu 5 hingga 6 generasi untuk mendapatkan
galur homozigot. Oleh karena itu perlu dilakukan suatu
upaya untuk produksi tanaman haploid yang lebih cepat.
Salah satu tehnik yang dapat digunakan adaah
kultur anther. Kultur anther merupakan salah satu tehnik
dasar pemuliaan tanaman untuk menghasilkan tanaman
haploid. Secara teoritis kultur anter memiliki beberapa
keuntungan, yaitu untuk memperpendek siklus pemuliaan
dengan diperoleh homozygositas secara cepat,
menambah efisiensi seleksi, memperluas variabilitas
genetik melalui produksi variasi gametoklonal, dan gen
resesif terekspresi lebih cepat (Zulkarnain, 2004).
Keberhasilan
kultur anter
dipengaruhi oleh
berbagai faktor, yaitu komposisi media, praperlakuan,
genotipe tanaman, dan lingkungan. Sekalipun kultur
anter mempunyai banyak kelebihan, terdapat pula
beberapa kelemahan kultur anter yang meliputi; kecilnya
persentase regenerasi, albino, dan tidak semua genotipe
responsif terhadap kultur anter. (Agustin, 2005).
Berdasarkan fakta yang telah dijelaskan telah
diketahui bahwa setiap tanaman dengan genotip yang

berbeda akan memberikan respon yang berbeda pula


karena keberhasilan produksi tanaman haploid pada
dasarnya dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah
disebutkan. Oleh karena itu untuk mengetahui
perkembangan anther dalam kultur anther, maka
praktikum produksi tanaman haploid melalui kultur
anther/polen perlu dilaksanakan.
1.2 Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah
1.2.1 Untuk mengetahui respon pertumbuhan dan
perkembangan anther bunga dalam kultur in vitro
1.2.2 Untuk mengetahui pengaruh tahapan perkembangan
bunga terhadap pertumbuhan anther secara in vitro.

BAB II
METODE
2.1 Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan bersesuain dengan
jadwal praktikum kultur jaringan tumbuhan yang telah
ditentukan. Bagian topik kultur anther/polen ini tepatnya
dilaksanakan pada pada hari kamis 20 Oktober hingga 01
Desember
2016 di laboratorium Fisiologi, Kultur
Jaringan tumbuhan, dan Mikroteknik Universitas
Brawijaya.
2.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam praktikum ini meliputi
cutter, silet, pinset, scalpel, cawan petri, dan botol kultur.
Sedangkan bahan yang digunakan meliputi bunga sepatu
pada dua tahapan perkembangan, bunga Erithrina bunga
anggrek tanah. pada dua tahapan perkembangan, bayclean
30%, aquades, dan medium N6.
1.3 Langkah Kerja
Langkah kerja dalam praktikum ini sebagai berikut.

Bunga Sepatu
(2 tahapan)

Bunga Erithrina
(2 tahapan)

Anggrek
Tanah

Diberi perlakuan dingin dengan suhu 4-50C selama 24 jam


Disterilkan dalam larutan bayclean 30% selam 10 menit kemudian
dibilas aquades steril selama 5 menit sebanyak dua kali
Anther pada setiap kuncup bunga diambil dan dikultur pada medium N6,
setiap botol medium diidi 4 anther sebanyak 5 ulangan
BAB
III
Tanaman
Haploid

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1 Hasil
Pengamatan dalam praktikum ini dilakukan selama lima minggu berturut-turut untuk melihat
respon tiap anther yang telah dikultur pada tiap bunga dan tiao tahapan perkembangan. secara lebih
jelas hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1 Pengamatan respon produksi tanaman haploid melalui kultur anther/polen
No
1

Jenis
Bunga
Bunga
Sepatu

T U
1

1
2

1
Belum respon
Belum respon

Belum respon

Belum respon

Belum respon

2
Belum respon
menggembung,
putih kehijauan
menggembung,
putih kehijauan
menggembung,
putih kehijauan
menggembung,
putih kehijauan

Jenis Respon minggu ke3


4
Belum respon
Belum respon
Terbentuk kalus
kalus kompak,
kompak, bening
bening
menggembung,
menggembung,
putih kehijauan
putih kehijauan
menggembung,
menggembung,
putih kehijauan
putih kehijauan
menggembung,
menggembung,
putih kehijauan
putih kehijauan

5
menghitam
Muncul satu
tunas, hijau
menggembung,
putih kehijauan
menggembung,
putih kehijauan
Muncul kalus.
putih

Belum respon

Belum respon
Belum respon
Kulit luar anther
terkelupas, hijau
Belum respon

menggembung,
putih kehijauan
menggembung,
hijau
menggembung,
putih kehijauan
Belum respon
Belum respon
Kulit luar anther
terkelupas, hijau
Belum respon

menggembung,
hijau
Belum respon

Belum respon

Belum respon

Kulit luar anther


terkelupas, hijau
Belum respon
Belum respon
Belum respon
Belum respon
Belum respon

Kulit luar anther


terkelupas, hijau
Belum respon
Belum respon
Belum respon
Belum respon
Belum respon

Erithrina

4
5
1

5
1
2
3
4

menggembung,
putih kehijauan
-

menggembung,
putih kehijauan
-

menggembung,
putih kehijauan
-

menggembung,
putih kehijauan
Belum respon
Belum respon
menggembung,
putih
menggembung,
putih
menggembung,
putih kehijauan
menggembung,
putih kehijauan
Belum respon
Belum respon
Belum respon
Belum respon

menggembung,
putih kehijauan
Belum respon
Belum respon
menghitam

Muncul kalus,
hijau
menghitam
menghitam
menghitam

menghitam

menghitam

menghitam

menghitam

menghitam

menghitam

Belum respon
Belum respon
Belum respon
Belum respon

menghitam
menghitam
menghitam
menghitam

5
3

Anggrek
tanah

Kulit luar anther


terkelupas, hijau
Belum respon

Kulit luar anther


terkelupas, hijau
Belum respon

Belum respon

Belum respon

Belum respon

Belum respon

Belum respon

Kulit luar anther


terkelupas, putih
kehijauan
Kulit luar anther
terkelupas, putih
kehijauan
Kulit luar anther
terkelupas, putih
kehijauan

Keterangan :
T = Tahapan
U = Ulangan
- = Terkontaminasi

menghitam

menghitam

menghitam

menggembung,
putih kehijauan
menggembung,
putih kehijauan
menggembung,
putih kehijauan

menggembung,
putih kehijauan
-

menggembung,
putih kehijauan
-

menggembung,
putih kehijauan

menggembung,
putih kehijauan

menggembung,
putih kehijauan

menggembung,
putih kehijauan

menggembung,
putih kehijauan

menggembung,
putih kehijauan

menggembung,
putih kehijauan

menggembung,
putih kehijauan

3.2 Pembahasan
Sebagaimana yang terlihat pada hasil pengamatan
ditunjukkan bahwa setiap tahapan bunga menunjukkan
respon yang beragam sebagaimana didskripsikan pada
Tabel 3.1, respon paling baik hingga munculnya tunas
hanya ditunjukkan oleh kultur nather pada bunga sepatu
tahapan 1 (Gambar 1). Jenis respon yang muncul pada
tiap tahapan mulai dari perubahan warna yang semula
merah dan hijau menjadu putih dan putih kehiajaun pada
anther karena terkelupasnya kulit bagian luar dan
penggembungan pada eksplan, selanjutnya dari eksplan
yang menggembung dari minggu ke minggu mulai
terdapat eksplan yang menunjukkan muncul kalus
berwarna putih kehijauan (Gambar 2) hingga terdapat
eksplan yang muncul tunas, selain itu sebagian besar yang
mengalami kegagalan berkembang berubah warna
menjadi kehitaman (Gambar 3).
Praktikum ini dilakukan pada tiga jenis bunga,
diantaranya bunga sepatu dua tahapan, bunga erithrina
dua tahapan, dan anggrek tanah. Semua bunga tersebut
sebelum di ambil anther diberi pra-perlakuan dingin
dengan suhu 4-50C selama 24 jam. Hal ini dilakukan
untuk lebih menginisiasi pembelahan sporofitik dan
selanjutnya memudahkan untuk induksi embryogenesis
mikrospora (Supena dkk. 2009). Sebagaimana penelitian
Supena (2009) yang menegaskan bahwa perlakuan
cekaman suhu rendah (4-90C) selama seminggu pertama
kultur lebih mendukung induksi pembelahan sporofitik
dari pada suhu tinggi (31-33 0C) yang tidak menginduksi
dan bahkan mempercepat mikrospora kehilangan inti.

Selanjutnya dilakukan sterilisasi dalam larutan


bayclean 30% selam 10 menit kemudian dibilas aquades
steril selama 5 menit sebanyak dua kali. Hal ini dilakukan
untuk membersihkan kontaminan yang berada pada
masing-masing bahan yang akan digunakan untuk kultur
anther.
Pada akhir perlakuan anther pada setiap kuncup
bunga diambil dan dikultur pada medium N6, setiap botol
medium diidi 4 anther sebanyak 5 ulangan. Terkait
percobaan beberapa komposisi media dasar, De Moraes
(dalam Supena dkk. 2009), menunjukkan bahwa medium
N6 dapat lebih mendukung kultur anther dan
perkembangan mikrosporanya daripada media MS, PCL2, dan B5. N6 (Chu) pada umunya banyak digunakan
untuk
serealia
dan
tanaman
lain
,
dalam
perkembangannya juga banyak digunakan untuk induksi
kalus dan kultur anther (Ling-Fu et.al.2011).
Berdasarkan penelitian Gorji
et.al
(2011)
menunjukkan kualitas kalus yang dihasilkan pada medium
N6 lebih baik dari pada yang ditumbuhkan dalam medium
MS. Bohorova (dalam Gorji et.al 2011) juga menyatakan
bahwa medium N6 dengan kandungan nitrogen yang lebih
rendah dari pada MS menunjukkan induksi kalus dan
pemeliharaan yang lebih baik.
Laboratorium HiMedia menyatakan bahwa;
CHU (N6) medium has been specially formulated
for plant cell, tissue and organ cultures. Potassium
nitrate serves as the nitrate source. Glycine serves
as the source of amino acid. Medium does not contain
sucrose and agar; hence these components have to be
added to the medium before use. Berdasarkan pernyataan
ini dapat terlihat bahwa keberadaan nitrat dan asam amino
dalam medium N6 dapat dipenuhi untuk mendukung

pertumbuhan jaringan atau organ yang dikultur. Lebih


lanjut, komposisi medium N6 secara umum adalah
sebagai berikut

Sumber: Plantigen HiMedia


Terkait tahapan bunga yang digunakan Supena
(2009) mengemukakan bahwa tahapan perkembangan
bunga mempengaruhi tahapan perkembangan kultur
anther, fase perkembangan mikrospora yang paling
responsive untuk induksi mikrospora umunya dalah fase
mikrospora tunggal sampai polen berinti ganda tahap
awal. Dalam praktikum ini belum jelas terlihat pengaruh
dari masing-masing tahapan karena banyaknya eksplan
yang menghitam, belum menunjukkan respon, dan
terkontaminasi.

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari praktikum
produksi tanaman haploid melalui kultur anther/polen
antara lain;
4.1.1 Respon pertumbuhan dan perkembangan anther
bunga dalam kultur in vitro beragam, tetapi yang
menunjukkan respon paling baik adalah bunga
sepatu tahap 1.
4.1.2 Tahapan perkemabangan mempengaruhi terhadap
pertumbuhan anther secara in vitro tetapi dalam
praktikum ini pengaruh masing-masing tahapan
belum terlihat jelas.
4.2 Saran
Saran yang diperlukan untuk praktikum produksi
tanaman haploid melalui kultur anther/polen antara lain;
4.2.1Dalam proses sterilisasi dan pengambilan polen
harus dilakukan dengan hati-hati agar polen tidak
rusak
4.2.2Proses penanaman polen harus dilakukan dengan
hati-hati agar tidak terjadi kesalahan dan kerusakan
pada polen.
4.2.3Kerjasama antar praktikan dalam kegiatan kultur
sangat diperlukan untuk memastikan kefektifan
proses kegiatan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Agustin, widi. 2005. Pemuliaan Tanaman Pisang dengan
Kultur Anther. Jurnal Agronomi 11(2). (online).
Diakses tanggal 21 November 2016.
Taji, A., Kumar, P. dan Lakshmanan, P. 2002. In Vitro
Plant Breeding. Haworth Press, Inc.: New York.
Zulkarnain. 2004. Pemanfaatan Metode Kultur Antera
Dalam Pemuliaan Tanaman. Jurnal Agronomi
8(1): 110. (online). Diakses tanggal 21
November 2016.
A.H.Gorji
*,M.Zolnoori
,A.Jamasbi
1
,Z . Zolnoori. In vitro plant generation of tropical maize
genotypes. 011 International Conference on
Environmental, Biomedical and Biotechnology
IPCBEE vol.16 (2011) (2011)IACSIT Press,
Singapoore
Feng-Ling Fu, Jing He, Zhi-Yong Zhang, Shu-Feng Zhou,
Su-Zhi Zhang and Wan-Chen Li. Further
improvement of N6 medium for callus induction
and plant regeneration from maize immature embryos.
African Journal of Biotechnology Vol. 10(14), pp.
2618-2624, 4 April, 2011
Available online at http://www.academicjournals.org/AJB
DOI: 10.5897/AJB10.491
ISSN 16845315 2011 Academic Journals