Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
. Teori titik henti adalah teori yang digunakan untuk mengetahui jarak
maksimal daerah hinterland perdagangan sebuah kota. Reilly menerapkan hukum
fisika tentang gravitasi untuk mengukur kekuatan perdagangan barang antara dua
kota. Reilly menemukan sebuah konsep yang menunjukkan bahwa jika kedua kota
memiliki jumlah penduduk sama maka batas area perdagangan mereka tepat
ditengah-tengan jarak yang memisahkan keduanya. Jika salah satu kota memiliki
jumlah penduduk yang lebih besar maka jarak area pemasaran akan semakin
mendekati kota yang lebih kecil. Pengukuran jarak batas area pemasaran ini telah
dirumuskan dengan rumus titik henti secara matematis
Sehubungan dengan hal tersebut penulis dapat termotivasi untuk membahas
tentang teori titik henti secara singkat dan mudah dipahami dalam karya tulis yang
berjudul Peranan Teori Titik Henti Dalam Menentukan Lokasi Pusat Pelayanan.
B. Rumusan Masalah
Agar pembahasan paper ini lebih mudah dan terarah maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Apakah yang dimaksud dengan teori titik henti ?
2. Cagaimanakah cara menghitung rumus teori titik henti?
C. Tujuan Pembahasan
Setiap orang yang melakukan pekerjaarn pasti mempunyai

tujuan dan

maksud tertentu. Demikian juga penulis dalam menyusun paper ini mempunyai acuan
tertentu pula antara lain sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui bagaimana yang dimaksud dengan teori titik henti.
2.

Untuk mengetahui peranan teori titik henti dalam menentukan lokasi pusat
pelayanan.

3. Untuk mengetahui rumus dalam menghitung lokasi pusat dengan teori titik henti.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Teori Titik Henti
Pada tahun Pada tahun 1931, William J Reilly mengemukakan sebuah teori
yang sekarang dengan teori titik henti. Teori titik henti adalah teori yang digunakan
untuk mengetahui jarak maksimal daerah hinterland perdagangan sebuah kota. Reilly
menerapkan hukum fisika tentang gravitasi untuk mengukur kekuatan perdagangan
barang antara dua kota. Reilly menemukan sebuah konsep yang menunjukkan bahwa
jika kedua kota memiliki jumlah penduduk sama maka batas area perdagangan
mereka tepat ditengah-tengan jarak yang memisahkan keduanya. Jika salah satu kota
memiliki jumlah penduduk yang lebih besar maka jarak area pemasaran akan semakin
mendekati kota yang lebih kecil. Pengukuran jarak batas area pemasaran ini telah
dirumuskan dengan rumus titik henti secara matematis.
Teori titik henti adalah teori yang dapat dimanfaatkan dalam kajian keruangan
geografi. Teori titik henti dapat menjadi dasar pembatasan wilayah-wilayah
fungsional. Penggunaan teori titik henti dapat menggeser metode krigging (Poligon
Thiessen) untuk kasus atau tema tertentu. Pembatasan wilayah fungsional
menggunakan teori titik henti akan menghasilkan wilayah-wilayah fungsional yang
luasnya disesuaikan dengan ukuran masing-masing nodal yang membentuknya.
Nodal berukuran besar memiliki wilayah yang lebih luas dan sebaliknya. Hal ini
sesuai dengan hukum fisika yang dipakai oleh Reilly dalam merumuskan teori titik
henti.
Penerapan teori titik henti dalam geografi mempermudah pembatasan wilayah
fungsional yang terlalu sulit dilakukan dengan metode survei lapangan. Sehingga,
penerapan teori titik henti dapat menjadi alternatif pembatasan wilayah sosial.
Penggunaan teori titik henti dalam pembuatan wilayah geografi dapat dilakukan
terhadap banyak hal, seperti: analisis terhadap wilayah pemasaran, analisis konflik,
analisis pengaruh pusat industri, dan sebagainya.
Teori Titik Henti (Breaking Point Theory) merupakan hasil modifikasi dari
Model Gravitasi Reilly. Teori ini memberikan gambaran tentang perkiraan posisi
garis batas yang memisahkan wilayah-wilayah perdagangan dari dua kota atau
wilayah yang berbeda jumlah dan komposisi penduduknya. Teori Titik Henti juga
dapat digunakan dalam memperkirakan penempatan lokasi industri atau pusat
pelayanan masyarakat. Penempatan dilakukan di antara dua wilayah yang berbeda
jumlah penduduknya agar terjangkau oleh penduduk setiap wilayah.
B. Fungsi Teori Titik Henti
2

Teori ini digunakan untuk:


1. Menentukan lokasi suatu unit usaha ekonomi (pasar, SPBU, shopping center)
2. Menentukan lokasi sarana kesehatan (rumah sakit, klinik)
3. Menentukan lokasi sarana pendidikan (sekolah, kampus, pusdiklat)
Teori ini dapat digunakan jika memenuhi beberapa syarat yaitu:
1. Keadaan ekonomi penduduk relatif sama
2. Topografi wilayah datar
3. Sarana prasarana transportasi memadai
4. Daya beli masyarakat sama
Inti dari teori ini adalah bahwa jarak titik henti (titik pisah) dari lokasi pusat
perdagangan (atau pelayanan sosial lainnya) yang lebih kecil ukurannya adalah
berbanding lurus dengan jarak antara kedua pusat perdagangan. Namun, berbanding
terbalik dengan satu ditambah akar kuadrat jumlah penduduk dari kota atau wilayah
yang penduduknya lebih besar dibagi jumlah penduduk kota yang lebih sedikit
penduduknya.
C. Rumus Teori Titik Henti
Menurut teori ini jarak titik henti (titik pisah) dari lokasi pusat perdagangan
(atau pelayanan sosial lainnya) yang lebih kecil ukurannya adalah berbanding lurus
dengan jarak antara kedua pusat perdagangan. Namun, berbanding terbalik dengan
satu ditambah akar kuadrat jumlah penduduk dari kota atau wilayah yang
penduduknya lebih besar dibagi jumlah penduduk kota yang lebih sedikit
penduduknya. Formulasi Teori Titik Henti adalah sebagai berikut.

Keterangan :
DAB = jarak lokasi titik henti, diukur dari kota atau wilayah yang jumlah penduduknya
lebih kecil (dalam hal ini kota A)
dAB = jarak antara kota A dan B
PA = jumlah penduduk kota yang lebih kecil (kota A)
PB = jumlah penduduk kota yang lebih besar (kota B)
Contoh Soal 3 :

Kota A memiliki jumlah penduduk 20.000 jiwa, sedangkan kota B 30.000 jiwa. Jarak
antara kedua kota tersebut adalah 100 kilometer. Di manakah lokasi pusat pelayanan
yang tepat dan strategis agar terjangkau oleh penduduk setiap kota tersebut?
Diketahui :
dA.B = 100 km
PA = 20.000 jiwa
PB = 30.000 jiwa
k=1
Ditanyakan : titik henti?
Kunci Jawaban :

maka,

DAB = 44,9 km, diukur dari kota A (jumlah penduduknya lebih sedikit).

Lokasi Pusat Pelayanan


= lokasi pusat pelayanan sehingga terjangkau oleh penduduk dari kota A maupun B.

Berkaitan dengan perencanaan pembangunan wilayah, Model Gravitasi dan


Teori Titik Henti dapat dimanfaatkan sebagai salah satu pertimbangan faktor lokasi.
Model Gravitasi dan Teori Titik Henti dapat dimanfaatkan untuk merencanakan
pusat-pusat pelayanan masyarakat, seperti pusat perdagangan (pasar, super market,
bank), kantor pemerintahan, sarana pendidikan dan kesehatan, lokasi industri,
ataupun fasilitas pelayanan jasa masyarakat lainnya.
Geografia :
Geografi regional merupakan bagian dari kajian geografi wilayah dengan
segala ruang lingkupnya. Dalam kajian geografi regional sangat menentukan
karakteristik dari suatu wilayah. (Sumber: Geography Dictionary, 2000)
D. Peranan Teori Titik Henti Dalam Menentukan Lokasi Pusat Pelayanan
Adanya wilayah-wilayah yang menjadi pusat pertumbuhan memberikan
kegunaan bagi pemenuhan kebutuhan manusia dan dalam meningkatkan peran
sertanya terhadap proses pembangunan bangsa, baik dalam pembangunan fisik dan
infrastruktur, serta fasilitas-fasilitas sosial lainnya, dalam sektor ekonomi, dan sosial
budaya. Beberapa contoh dampak munculnya wilayah-wilayah yang menjadi pusat
pertumbuhan regional, antara lain semakin lancarnya pergerakan barang-barang atau
komoditas ekonomi antarwilayah, memberikan peluang kerja bagi penduduk, serta
dapat meningkatkan pendapatan penduduk yang pada akhirnya mampu meningkatkan
kualitas kesejahteraan masyarakat.
Selain itu, semakin maraknya pusat-pusat pertumbuhan dalam suatu wilayah
sudah tentu akan memberikan pengaruh terhadap kondisi sosial masyarakat tersebut.
Secara umum masyarakat yang tinggal di suatu kawasan dapat termotivasi untuk
bersaing dalam menghadapi berbagai peluang yang ada. Untuk mendapatkan peluang
tersebut diperlukan adanya kesiapan, seperti penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi, keterampilan, dan kesehatan. Oleh karena itu secara langsung maupun
tidak, penduduk akan berusaha secara maksimal dalam mendapatkan pengetahuan
dan keterampilan yang memadai.
Teori titik henti dapat dimanfaatkan untuk merencanakan pusat-pusat
pelayanan masyarakat, seperti pusat perdagangan (pasar, super market, bank), kantor
pemerintahan, sarana pendidikan dan kesehatan, lokasi industri, ataupun fasilitas
pelayanan jasa masyarakat lainnya.

BAB IV
5

PENUTUP
A. Kesimpulan
Teori Titik Henti (Breaking Point Theory) merupakan hasil modifikasi dari
Model Gravitasi Reilly. Teori ini memberikan gambaran tentang perkiraan posisi
garis batas yang memisahkan wilayah-wilayah perdagangan dari dua kota atau
wilayah yang berbeda jumlah dan komposisi penduduknya. Teori Titik Henti juga
dapat digunakan dalam memperkirakan penempatan lokasi industri atau pusat
pelayanan masyarakat. Penempatan dilakukan di antara dua wilayah yang berbeda
jumlah penduduknya agar terjangkau oleh penduduk setiap wilayah.
Teori ini dapat digunakan jika memenuhi beberapa syarat yaitu:
1. Keadaan ekonomi penduduk relatif sama
2. Topografi wilayah datar
3. Sarana prasarana transportasi memadai
4. Daya beli masyarakat sama
B. Penutup
Alhamdulillah teriring rasa puji syukur atas kehadirat Allah SWT dengan
rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan karya tulis yang sederhana ini
dengan sebaik-baiknya. Penulis yakin bahwa karya tulis ini masih banyak kekurangan
baik dalam penyusunan dan penulisan serta masih jauh dari kesempurnaan.
Dan semoga para pembaca bisa lebih mengetahui peranan teori titik henti
yang dapat digunakan dalam memperkirakan penempatan lokasi industri atau pusat
pelayanan masyarakat

DAFTAR PUSTAKA

Utoyo, B. 2009. Geografi: Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas XII Sekolah
Menengah Atas/Madrasah Aliyah Program Ilmu Pengetahuan Sosial. Pusat
Perbukuan, Departemen Pendidikan Nasional, p. 202.
http://perpustakaancyber.blogspot.co.id/2013/01/perencanaan-dan-pembangunanwilayah-dan-kota.html
http://rizalsuhardieksakta.blogspot.co.id/2012/12/geogfari-desa-kota.html