Anda di halaman 1dari 26

BAB III

HASIL KAJIAN LAPANGAN DAN PEMBAHASAN


3.1. Profil Umum Lokasi
Pada tugas besar mata kuliah rekayasa jalan raya ini mengambil
daerah studi pada ruas jalan Matnor, dalam lokasi yang kami tinjau, Jalan
Matnor ini merupakan jalan kolektor. Lokasi lokasi penting yang dapat
diakses melalui jalan ini ialah Lampu Lalu Lintas, gudang semen,
perumahan warga, dan lain-lain. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambar
berikut :

3.2. Profil Teknis Lokasi Studi


Dalam lokasi yang kami tinjau, diketahui panjang jalan ini adalah
1100 m, lebar jalan 6,5 m. Pada jalur kanan dari arah jalan natai arahan
terdapat retak ringan, Sedangkan jalur kiri tidak terdapat kerusakan,
sehingga memerlukan perhitungan perencanaan perkerasan jalan baru pada
jalur kanan. Pada tugas besar mata kuliah rekayasa jalan raya ini di ambil
daerah studi pada ruas jalan Matnor, pada daerah studi yang kami survey,
kami melakukan pengumpulan data yang berkenaan dengan kepentingan
terhadap perencanaan tebal perkerasan jalan menggunakan metode analisa
komponen untuk perkerasan lentur (SKBI-2.3.26.1987).

3.2.1. Faktor Regional


Dalam menilai faktor regional yang perlu dilakukan adalah
kajian berupa keadaan lapangan mencakup permeabilitas tanah,

24

pelengkapan drainase, bentuk elemen (kelandaian dan tikungan),


serta persentase kendaraan dengan berat

13 ton dan kendaraan

yang berhenti, sedangkan keadaan iklim mencakup curah hujan ratarata per tahun.
3.2.2. Jumlah Kendaraan Berat
Dari hasil survey lalu lintas di jalan Matnor, dikategorikan
secara umum untuk tipe tipe pemakai jalan yaitu

kendaraan

bermotor, mobil, dan truck hal ini merupakan salah satu satuan yang
akan mempengaruhi terhadap desain tebal perkerasan jalan.
3.2.3. Data Hidrologi
Data persiapan desain jalan adalah data tata air, yang
diperhitungkan akan memberi pengaruh gangguan terhadap badan
jalan dalam pembangunan, dan pemeliharaannya.
Pengaruh gangguan tersebut antara lain genangan air, banjir, aliran,
dan atau rembesan, baik yang berasal dari permukaan atau hujan,
maupun air bawah permukaan. Persiapan desain untuk mencegah
pengaruh gangguan tersebut berupa :
a. Mencari letak tempat pengaruh gangguan.
b. Menghitung jumlah debit air yang akan memberi pengaruh
gangguan.
c. Menentukan sistem drainase yang memadai
Dalam tugas besar mata kuliah Rekayasa Jalan Raya ini akan
dilakukan

salah

satu

perhitungan

data

curah

hujan

yang

mempengaruhi faktor regional,

3.2.4. Topografi
Untuk memperkecil biaya bangunan, suatu standar perlu
disesuaikan dengan keadaan topografi. Jenis medan dibagi dalam 3
golongan umum yang dibedakan menurut besarnya lereng melintang
dalam arah kurang lebih tegak lurus sumbu jalan raya. Klasifikasi
medan dan besarnya lereng melintang yang bersangkutan adalah
sebagai berikut :

25

Tabel 3.1 Tata Cara Perencanaan Geometrik Jalan Antar Kota Ditjen
Bina Marga 1997
Golongan medan
Lereng melintang (%)
Datar(D)
0 9,9
Perbukitan (B)
10 24,9
Pegunungan (G)
> 25
Dari tabel di atas pada daerah lokasi studi (Jalan Matnor) termasuk
golongan medan datar (D)
3.2.5. Penyelidikan Tanah
Pekerjaan ini terutama ditujukan untuk menganalisa tanah
dasar, material timbunan dan perkerasan. Lingkup kegiatan yang
tercakup dalam pekerjaan penyelidikan tanah ini adalah :
a. Penyelidikan CBR lapangan dengan alat dynamic

cone

penetrometer (DCP) setiap 100 m, diakukan dengan cara


menggali lubang uji pada sumbu rencana jalan (perkerasan yang
ada) dan tempat-tempat kritis.
b. Pengambilan contoh tanah tidak terganggu (undisturbed sample)
menggunakan bor tangan pada setiap 500 m atau minimal 2 buah
titik samping pada awal dan akhir lokasi jalan
3.2.6. Jalur Rencana
Lajur rencana merupakan salah satu lajur lalu lintas dari suatu
ruang jalan raya, yang menampung lalu lintas terbesar. Berdasarkan
hasil survey pada lokasi studi terdapat 1 jalur 2 lajur 2 arah, dengan
lebar badan jalan 6,5 meter, namun terjadi kerusakan atau retak
sedang, beberapa deformasi pada jalur roda, dan pada dasarnya
masih menunjukan kestabilan pada perkerasan jalan di STA 0 + 00
STA 1 + 100. Sehingga kami melakukan perencanaan perkerasan
aspal baru pada jalur kanan.
3.2.7. Distribusi Lajur
Koefisien distribusi lajur ditentukan berdasarkan kendaraan
ringan (berat total < 5 ton, misalnya: mobil penumpang, kendaraan
bermotor) dan kendaraan berat (berat total > 5 ton, misalnya : bus,
truk, traktor, semitrailer, trailer) yang lewat pada lajur rencana. Jalur
rencana yang ada pada lokasi studi terdapat 1 jalur 2 lajur 2 arah.

26

3.2.8. Umur Rencana


Pada umumnya umur rencana jalan diambil selama 10 tahun,
ini merupakan standar biasa yang dapat di terima yang dipakai untuk
pekerjaan rekonstruksi jalan dan didasarkan pada keperluan untuk
pemeliharaan yang sesuai dan harus dilaksanakan. Juga didasarkan
pada pertimbangan ekonomis praktis, bahwa kebanyakan pekerjaan
jalan umur pakainya sangat pendek (1 3 tahun) yang
mengakibatkan membutuhkan rehabilitasi besar dan secara berulang
ulang dengan biaya relatif tinggi, pada daerah studi untuk umur
rencana diambil selama 15 tahun.
3.2.9. Perkembangan Lalu Lintas (i)
Perkembangan laju pertumbuhan lalu lintas (i) didasarkan
pada perbandingan data lalu lintas pertahun pada suatu lokasi jalan.
Mengingat keterbatasan data maka untuk perkembangan lalu lintas
selama pelaksanaan dimisalkan 6% pertahun.

3.2.10.Jenis perkerasan yang ada


Informasi terhadap jenis perkerasan dan sisa umur konstruksi
yang ada pada lokasi studi sangat dibutuhkan sehingga diperlukan
penggalian data data lapangan dengan menggunakan teori teori
yang berlaku untuk hal yang dimaksud, didapat data jenis perkerasan
yang ada dilapangan sebagai lembar soal. Jenis perkerasan yang ada
dijalan matnor merupakan perkerasan komposit.
3.3. Pelaksanaan Pengumpulan Data
Pelaksanaan pengumpulan data dilakukan setelah survey lapangan
selesai dilaksanakan. Adapun data-data yang sudah dikumpulkan terbagi
menjadi dua yaitu data-data soal tugas besar dan data-data lapangan.
Data data soal tugas besar :
1. Daerah lokasi studi dijalan Matnor, Kelurahan Baru, Pangkalan Bun.
2. Umur rencana selama 15 tahun dengan perkembangan lalu lintas selama
pelaksanaan 6% pertahun.
3. CBR lapangan yang dipakai 4;5;5;4;4;4;6;6;6;8;7;5
4. Data curah hujan dari station A, B, E, G.

27

NO

TAHUN

STATION A

DATA CURAH HUJAN


STATION B
STATION E

STATION G

1
2004
898
120
79
79
2
2005
150
86
67
89
3
2006
150
56
898
89
4
2007
120
121
150
136
5
2008
90
120
123
234
6
2009
115
110
124
160
7
2010
124
79
77
120
8
2011
123
123
78
90
9
2012
90
78
112
65
10
2013
120
300
87
56
11
2014
120
98
90
111
12
2015
898
54
78
99
13
2016
123
78
130
88
Data data lapangan dalam perencanaan jalan baru setelah dilakukan survey
lapangan lokasi studi didapat data data sebagai berikut :
a. Lokasi studi termasuk pada daerah datar
b. Lebar badan jalan 6,5 m
c. Lajur yang ada pada lokasi studi terdapat 1 jalur 2 lajur 2 arah
d. Jarak perencanaan yang di survey dari STA 0+00 1+100
Data konstruksi jalan yang ada :
Sub grade : Tanah Timbunan
Sub base : Sirtu / Pitrun (CBR 70 % )
Base
: Stab. Tanah denga semen (Kt 22 kg/cm)
Surface
: Laston 744 MS (kg)

28

3.4. Kompilasi dan Hasil Perhitungan LHR


Dalam perhitungan LHR diperlukan data survey lalu lintas yang
langsung diperoleh dari lokal studi. Dalam survey lalu lintas ini dilakukan
selam 2 (dua) hari. Data hasil survey perhitungan lalu lintas sebagai data
yang mewakili perhitungan LHR terlampir. Berdasarkan survey lalu lintas
pemakai jalan digolongkan menjadi 2 jenis yaitu kendaraan ringan ( 5
ton) dan kendaraan berat ( 5 ton).
3.5. Perencanaan Konstruksi Jalan
Perkerasan jalan diletakkan diatas tanah dasar, dengan demikian
secara keseluruhan mutu dan daya tahan konstruksi perkerasan tak lepas dari
sifat tanah dasar. Sifat masing masing jenis tanah tergantung dari struktur,
kepadatan, kadar air, kondisi lingkungan, dan lain sebagainya.
3.5.1. Perhitungan Hidrologi
Guna penentuan salah satu satuan yang mempengaruhi faktor
regional (FR) adalah dengan menghitung data curah hujan dengan
menggunakan metode Regresi Gumbel, sesuai dengan lembar soal
data curah hujan diambil dari 4 station, yaitu :
X T = X + K . Sx
X

Sx=

( x x)
n1

1
TR
Yt = -ln ()
ln

K=

Yt Yn
Sn

Ket : XT = besarnya curah hujan yang terjadi dengan kala ulang T


tahun
X

= rata rata x maksimum dari seri data xi

29

= faktor frekuensi

Sx

= Standard deviasi

Yn, Sn = besaran yang mempunyai fungsi dari jumlah


pengamatan
Yt = reduksi sebagai fungsi dari probabilitas
n = jumlah data

Perhitungan data curah hujan :


Tabel 3.2 Data Curah Hujan
DATA CURAH HUJAN
NO

TAHUN

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016

STATION A

STATION B

STATION E

898
150
150
120
90
115
124
123
90
120
120
898
123

120
86
56
121
120
110
79
123
78
300
98
54
78

79
67
898
150
123
124
77
78
112
87
90
78
130

STATION
G
79
89
89
136
234
160
120
90
65
56
111
99
88

DATA STATION A
DATA CURAH HUJAN
TR =

CURAH
NO

TAHUN

HUJAN X

(X X)
(mm)

(X X)2
(mm)

657,923
-90,077
-90,077
-120,077
-150,077
-125,077
-116,077
-117,077
-150,077

432862,775
8113,852
8113,852
14418,467
22523,083
15644,237
13473,852
13707,006
22523,083

(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9

2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012

898
150
150
120
90
115
124
123
90

(n+1)
m
14,000
7,000
4,667
3,500
2,800
2,333
2,000
1,750
1,556

30

10
11
12
13

2013
2014
2015
2016
n = 13

120
120
898
123
3121

-120,077
-120,077
657,923
-117,077

14418,467
14418,467
432862,775
13707,006
1026786,923

1,400
1,273
1,167
1,077

Penyelesaian :
X

Sx=

x
n

( x x)
n1

3121
13
=

= 240,077 mm
1026786,923
131

= 292,516 mm

Tabel 3.3. Nilai Reduced Standard Deviasi ( Sn )


N
10
15
20
25
30
35

Sn
0,9497
1,0210
1,0630
1,0910
1,1120
1,1280

n
40
45
50
60
70
80

Sn
1,1410
1,1520
1,1610
1,1750
1,1850
1,1940

N
90
100
200
500
1000

Sn
1,2010
1,2060
1,2360
1,2590
1,2690

Tabel 3.4. Nilai Reduced Mean ( Yn )


N
10
15
20
25
30
35

Yn
0,4952
0,5128
0,5236
0,5390
0,5362
0,5403

n
40
45
50
60
70
80

Yn
0,5436
0,5463
0,5485
0,5521
0,5548
0,5569

N
90
100
200
500
1000

Yn
0,5586
0,5600
0,5672
0,5724
0,5745

Untuk n=13 maka interpolasi antara n =10 dan n=15, diperoleh :


(0,51280,4952)
x ( 1310 )= 0,5058
Yn = 0,4952 +
(1510)
Sn = 0,9497 +

(1,02100,9497)
x ( 1310 )= 0,9925
(1510)

1
TR
Yt = -ln ()
ln

31

1
13
= -ln ( )
ln

= 2,5252

Yt Yn 2,52520,5058
=
Sn
0,9925

K =

= 2,0347
Persamaan Regresi Gumbel
X

XT =

+ K . Sx = 240,077 + 2,0347. 292,516 = 835,259 mm/th

DATA STATION B
DATA CURAH HUJAN
TR =

CURAH
NO

TAHUN

HUJAN X

(X X)
(mm)

(X X)2
(mm)

10,538
-23,462
-53,462
11,538
10,538
0,538
-30,462
13,538
-31,462
190,538
-11,462
-55,462
-31,462

111,059
550,444
2858,136
133,136
111,059
0,290
927,905
183,290
989,828
36304,905
131,367
3075,982
989,828
46367,231

(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
n = 13

120
86
56
121
120
110
79
123
78
300
98
54
78
1423

(n+1)
m
14,000
7,000
4,667
3,500
2,800
2,333
2,000
1,750
1,556
1,400
1,273
1,167
1,077

Penyelesaian :
X

Sx=

x
n

( x x)
n1

1423
13
=

= 109,462 mm

46367,231
131

= 62,161 mm

Untuk n=13 maka interpolasi antara n =10 dan n=15, diperoleh :


Yn = 0,5058
Sn = 0,9925

32

1
TR
Yt = -ln ()
ln

1
13
(
)
= -ln
ln

K=

Yt Yn
Sn

= 2,5252

2,52520,5058
0,9925

=2,0347

Persamaan Regresi Gumbel


XT

+ K . Sx = 109,462 + 2,0347. 62,161 = 235,941

mm/th
DATA STATION E
DATA CURAH HUJAN
TR =

CURAH
NO

TAHUN

HUJAN X

(X X)
(mm)

(X X)2
(mm)

-82,000
-94,000
737,000
-11,000
-38,000
-37,000
-84,000
-83,000
-49,000
-74,000
-71,000
-83,000
-31,000

6724,000
8836,000
543169,000
121,000
1444,000
1369,000
7056,000
6889,000
2401,000
5476,000
5041,000
6889,000
961,000
596376,000

(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
n = 13

79
67
898
150
123
124
77
78
112
87
90
78
130
2093

(n+1)
m
14,000
7,000
4,667
3,500
2,800
2,333
2,000
1,750
1,556
1,400
1,273
1,167
1,077

Penyelesaian :
X

x
n

2093
13

= 161 mm

33

Sx=

( x x)
n1

596376
131

= 222,931 mm

Untuk n=13 maka interpolasi antara n =10 dan n=15, diperoleh :


Yn = 0,5058
Sn = 0,9925
1
TR
Yt = -ln ()
ln

1
13
(
)
= -ln
ln

K=

= 2,5252

Yt Yn 2,52520,5058
=
Sn
0,9925

=2,0347

Persamaan Regresi Gumbel


XT =

+ K . Sx = 161+ 2,0347. 222,931 = 614,598 mm/th


DATA STATION G
DATA CURAH HUJAN
TR =

CURAH
NO

TAHUN

HUJAN X

(X X)
(mm)

(X X)2
(mm)

-29,923
-19,923
-19,923
27,077
125,077
51,077
11,077
-18,923
-43,923
-52,923
2,077
-9,923
-20,923

895,391
396,929
396,929
733,160
15644,237
2608,852
122,698
358,083
1929,237
2800,852
4,314
98,467
437,775
26426,923

(mm)
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

2004
2005
2006
2007
2008
2009
2010
2011
2012
2013
2014
2015
2016
n = 13

79
89
89
136
234
160
120
90
65
56
111
99
88
1416

(n+1)
m
14,000
7,000
4,667
3,500
2,800
2,333
2,000
1,750
1,556
1,400
1,273
1,167
1,077

Penyelesaian :

34

Sx=

( x x)
n1

1416
13
=

= 108,923 mm

26426,923
131

= 46,928 mm

Untuk n=13 maka interpolasi antara n =10 dan n=15, diperoleh :


Yn = 0,5058
Sn = 0,9925
1
TR
()
Yt = -ln
ln

1
13
= -ln ( )
ln

K =

Yt Yn
=
Sn

= 2,5252

2,52520,5058
0,9925

=2,0347

Persamaan Regresi Gumbel


XT =

+ K . Sx = 108,923 + 2,0347. 46,928 = 204,407 mm/th

Sehingga untuk ke - 4 station, dengan metode aritmatik untuk


periode ulang 13 tahun :
835,259+ 235,941+ 614,598+ 204,407
XT =
4
3.5.2.

= 472,551 mm/th

Perhitungan Daya Dukung Tanah Dasar (DDT) dan CBR


Daya dukung tanah dasar (DDT) ditetapkan berdasarkan grafik

korelasi. Yang dimaksud dengan harga CBR disini adalah harga CBR
lapangan atau CBR laboratorium.

35

Gambar 3.2 Korelasi DDT dan CBR


Jika digunakan CBR lapangan maka pengambilan contoh tanah
dasar dilakukan dengan tabung (undistrurb), kemudian direndam dan
diperiksa harga CBR nya. Dapat juga mengukur langsung di lapangan
(musim hujan/direndam). CBR lapangan biasanya digunakan untuk
perencanaan lapis tambahan (overlay). CBR laboratorium biasanya
sssdipakai untuk perencanaan pembangunan jalan baru.
Harga yang mewakili dari sejumlah CBR yang dilaporkan, ditentukan
sebagai berikut:
a. Tentukan harga CBR terendah
b. Tentukan berapa banyak harga CBR yang sama dan lebih besar dari
masing-masing nilai CBR.
c. Angka jumlah terbanyak dinyatakan sebagai 100%. Jumlah lainnya
merupakan prosentase dari 100%.
d. Dibuat grafik hubungan antara harga CBR dan presentase jumlah
tadi.

36

e. Nilai CBR yang mewakili adalah yang didapat dari angka


prosentase 80%
Perhitungan DDT dan CBR sebagaimana berikut ini.
Menghitung CBR yang mewakili.
Data CBR = 4;5;5;4;4;4;6;6;6;8;7;5
Di urutkan = 4;4;4;4;5;5;5;6;6;6;7;8
Tabel perhitungan CBR
N

CBR

Jumlah yang sama

Persen (%) yang

O
1

atau lebih besar


12

sama atau lebih besar


12
12 x 100% =

10

11

100%

8
12

x 100% =
66,7 %

5
12

x 100% =
41,7 %

2
12

x 100% =
16,7 %

12

1
12

x 100% = 8,3
%
37

120

100 100

80
66.7
60

41.7

40

20

16.7
8.3

0
4

Dari grafik diatas didapat nilai CBR = 4,6 %

38

Dari gambar korelasi DDT dan CBR didapat nilai DDT sebesar = 4,5
3.5.3. Perhitungan Desain Konstruksi Perkerasan
Perhitungan perencanaan ini didasarkan pada kondisi yang ada
dilapangan, sehingga kami

menggunakan perhitungan dengan

menggunakan

perkerasan

perencanaan

jalan

baru.

merencanakan Lapisan Tebal Perkerasan pada

Untuk

perencanaan

konstruksi jalan raya, data datanya yaitu :


a. Komposisi kendaraan awal umur rencana pada tahun 2016
b. Klasifikasi Jalan
Jalan = kolektor
Lebar Jalan = 6,5 m
Arah = 1 lajur 2 jalur 2 arah
c. Umur Rencana 15 Tahun
d. Pertumbuhan Lalu lintas = 6% selama pelaksanaan
e. Curah hujan rata rata = 472,551 mm/th
f. Kelandaian < 6 %
g. Jenis lapisan perkerasan yang ada :
Pondasi bawah : Tanah Timbunan
h. Data CBR : 4;5;5;4;4;4;6;6;6;8;7;5
i. Jenis perencanaan lapisan perkerasan :
Lapisan permukaan : Laston
Pondasi atas
: Stab. Tanah dengan semen (Kt 22kg/cm)
Pondasi bawah
: Sirtu kelas A ( CBR 70% )
Mobil penumpang = sepeda motor + mobil = 721 + 94 + 782 + 96 + 1398
+ 161 + 1293 + 127
= 4672 kendaraan
= 4672/2 = 2336 kendaraan
Truck as 13 Ton = 24 + 18 + 32 + 22 = 96 kendaraan
= 96/2 = 48 kendaraan
Menghitung ( Lintasan Harian Rata Rata )
a. Komposisi kendaraan awal umur rencana (2016)
a. Mobil penumpang ( 1 + 1 )
= 2336 kendaran
b. Truck 2 as 13 ton ( 5 + 8 )
= 48 kendaraan +
= 2384 kendaraan
b. Perhitungan LHR pada tahun ke 15 ( 2031 )
LHR 2016 ( 1 +

a. Mobili penumpang
2336 x ( 1 + 0,06 )15 = 5598,360 kend/hari
)n
b. Truck 2 as 13 ton 48 x ( 1 + 0,06 )15
= 115,035 kend/hari +
LHR 2031
= 5713,395 kend/hari
Menentukan Angka Ekivalen
39

Berdasarkan tabel didapat angka ekivalen :


a. Mobil penumpang ( 1 + 1 )
b. Truck 2 as 13 ton ( 5 + 8 )
Menentukan LEP

= 0,0002 + 0,0002 = 0,0004


= 0,1410 + 0,9238 = 1,0648

LEP =

i x cj x Ej

Dari data yang telah didapat, dapat dihitung nilai LEP yaitu :
a. Mobil penumpang 2336 x 1,00 x 0,0004 = 0,934
b. Truck 2 as 13 ton 48 x 1,00 x 1,0648
= 51,110 +
LEP 2031 = 52,044
Menentukan LEA
n

LEA =

i LHRj ( 1 + 1 )n x cj x Ej

Perhitungan LEA untuk 15 tahun ( 2031 )


c. Mobil penumpang 5598,360 x 1,0 x 0,0004
d. Truck 2 as 13 ton 115,035 x 1,0 x 1,0648
LEA 2031
Menentukan LET

= 2,239
= 122,489 +
= 124,728

LET = 1/2 ( LEP +

Dari data, dapat

dihitung LET yaitu :

LET15 = 1/2 ( LEP15 + LEA15 ) = 1/2 (52,044 + 124,728) = 88,386


Menentukan LER
LER = LET15 x UR/10
LER15 = 88,386 x 15/10 = 132,579
Menentukan Faktor Regional ( FR )
Jumlah kendaraan berat
x 100
e. Kendaraan ringan =
Jumlah semua kendaraan
=

2336
x 100
2384

= 97,986 %
Jumlah kendaraan berat

f. Kendaraan berat = Jumlah semua kendaraan x 100


=

48
x 100
2384

= 2,013 %
Dari data yang diketahui :
Curah hujan 472,551 mm/thn = iklim I < 900 mm/thn
Landai jalan < 6 % = Kelandaian I ( < 6 % )
Nilai FR dapat kita lihat pada tabel terlampir :
Maka faktor regional (FR) yang didapat 0,5

40

g. Indeks Permukaan ( IP )
Untuk mendapat nilai IP dapat dilihat dari nilai LER dan tabel indeks
permukaan terlampir.
LER15
= 132,579
Didapat IP
= 2,0
Jadi, IP yang digunakan 2,0
h. Indeks Permukaan Pada Awal Umur Rencana ( ITP )
ITP dapat ditentukan melalui grafik nomogram. Untuk menentukan
ITP dari grafik nomogram diperlukan data sebagai berikut, IP, IPO,
DDT, LER dan FR. Untuk mendapat angka IPo, dapat dilihat pada
tabel.
Dari tabel dan grafik nomogram didapat hasil :
IP
= 2,0
IPo
= 3,9 3,5
DDT
= 4,5
LER15 = 132,579
FR
= 0,5

Maka diperoleh hasil ITP

= 6,5

a. Menetapkan tebal perkerasan


Variabel variabel untuk menetapkan lapisan tebal perkersan pada
-

untuk 15 tahun .
Lapisan permukaan: Laston, MS 744 a1 = 0,40
Lapis pondasi atas : Stab. Tanah dengan semen (Kt 22kg/cm) a2 = 0,15
Lapis pondasi bawah: Sirtu kelas A ( CBR 70% ) a3 = 0,13

41

Jadi di peroleh pada nilai CBR tanah dasar = 4,6% ; DDT = 4,5 ;
IP = 2,0
LER15 = 134,829 ; ITP15 = 6,5 ( IPo = 3,9 35 )

Menentukan tebal lapisan tambahan :


Kekuatan jalan lama :
Laston ( MS 744 ) 6,5 cm

= 80% x 6,5 x 0,40


= 2,08
Stab. Tanah dengan semen (Kt 22kg/cm) 20 cm = 100% x 20 x 0,15
= 3
Sirtu kelas A ( CBR 70% ) 10 cm
= 100% x 10 x 0,13
= 1,3 +
ITPada = 6,38
UR 15 tahun
ITP
= ITP15 - ITPada
= 7,4 6,38
= 1,02
ITP
= a1 . D1
1,02
= 0,40 . D1
1,02
D1
= 0,40
= 2,55
5 cm
Digunakan tebal 5 cm karena merupakan tebal minimum berdasarka
ITP dari tabel 2.8 Batas batas minimum tebal perkerasan.

3.6. Perhitungan Backup Quantity


Pada perhitungan bekcup quantity ini kami hanya memperhitungkan
volume perkerasan rencana pada lokasi studi yaitu pada jalan Matnor.
Dimana penetuan volume tebal perkerasan dengan rumus :
V = Pjalan x Ijalan x Tjalan
Dimana :
V
: Volume Perkerasan
Pjalan : Panjang Jalan
Ijalan : Lebar Jalan
Tjalan : Tebal/tinggi lapis perkerasan jalan

42

Perhitungan Volume Di STA 0+000 s/d 1+100


Pada STA 0+000 s/d 1+100 ini, kami rencanakan lapisan permukaan
atau surface ( Laston MS 744 ) dengan perencanaan yang kami tinjau dari
hasil survei kami di lapangan, maka kami simpulkan bahwa lapis
permukaan umumnya terlihat retak halus, sedikit deformasi pada jalar roda
namun masih tetap setabil dengan persentase sebesar 90% - 100%, pada
lapis pondasi atas dengan kesimpulan tidak terlihat kerusakan sehingga
persentase yg diambil sebesar 70% - 100% (stabilitas tanah dengan semen
atau kapur) dan lapis pondasi bawah dengan indek plastisitas (Plasticity
index = PI < 6) dengan persentase 90% 100 %. Dengan kesimpulan yang
kami uraikan diatas berdasarkan perencanaan dari hasil survei di lapangan,
maka dapat diperhitungkan volume susunan perkerasan sebagai berikut :
Sub grade tanah timbunan ( CBR 4,6 % )
Sub base sirtu kelas A ( CBR 70 % )
= 10 cm
Base Stab. Tanah dengan semen (Kt 22kg/cm)
= 20 cm
Surface laston, MS 744
= 5 cm
V d1 = 1100 x 6,5 x 0,05
= 357,5 m3
Jadi volume perkerasan dan volume total material yang dibutuhkan
pada STA 0+000 sampai 1+100 untuk pengerjaan
D1 ( surface laston, MS 744 )

= 357,5 m3

3.7. Gambar Rencana


Gambar susunan konstruksi perkerasan jalan dan tabel perkerasan gambar
terlampir :

43

3.8. Foto Foto Visual Lokasi Studi


Lampiran dalam bentuk foto foto dengan kondasi lapangan pada lokasi
studi :

44

45

46

47

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
.1

Kesimpulan
Dari data yang kami peroleh dari hasil survei pada lokasi studi yaitu pada
jalan Matnor, terdapat kondisi jalan yang seragam, dalam arti kondisi jalan
tersebut sudah memiliki sifat perkerasan maupun permukaan yang berkondisi

48

baik, namun terdapat beberapa dari lapis permukaan yang berkondisi retak
sedang. Sehingga kami melakukan perencanaan lapis permukaan atas atau
surface dengan melakukan pekerjaan overlay di atas lapis permukaan lama
tanpa mengganggu lapis pondasi bawahnya. Dalam hal ini pekerjaan overlay
tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas jalan tersebut agar pengguna
jalan lebih merasakan kenyaman dan keamanan, serta mengurangi tingkat
kecelekaan akibat kualitas jalan yang kurang baik bagi pengendara lainnya.
Kontruksi perkerasaan terdiri dari :
a. Surface laston
= 5 cm
b. Surface laston Lama
= 6,5 cm
c. Base Stab. Tanah dengan semen (Kt 22kg/cm)
= 20 cm
d. Sub base sirtu ( CBR 70% )
= 10 cm
.2

Saran
Dari kesimpulan diatas, kami menyarankan agar dilakukan perencanaan
perkerasan tambahan pada lapis permukaan, guna meningkatkan kualitas jalan
tersebut agar fungsi jalan tersebut dapat berkualitas baik dari perencanaan jalan
sebelumnya. Mengenai hal ini, dijalan tersebut terdapat volume kendaraan
yang cukup padat karena terdapat gudang semen yang cukup besar dan banyak
perumahan warga di sekitar jalan tersebut.

49