Anda di halaman 1dari 19

BAB II

PEMBAHASAN
2.1 Definisi Alkilasi
Alkilasi merupakan penambahan jumlah atom dalam molekul menjadi
molekul yang lebih panjang dan bercabang. Dalam proses ini menggunakan
katalis asam kuat seperti H2SO4, HCl, AlCl3 (suatu asam kuat Lewis). Dalam
industri migas, alkilasi termasuk dalam proses penyusunan kembali struktur
hydorkarbon dengan untuk memperoleh jenis fraksi yang diinginkan dan sesuai
dengan permintaan pasar. Selain itu Alkilasi dalam proses industri minyak bumi
merupakan salah satu proses yang digunakan bertujuan meningkatkan angka
oktan produk minyak bumi. Dengan kata lain alkilasi adalah kombinasi antara
molekul olefin dan isoparafin dengan bantuan katalis asam untuk pembuatan
produk alkilat berangka oktan tinggi yang merupakan salat satu komponen utama
bensin.

2.2 Zat-zat Pengalkilasi dan Zat yang Dialkilasi


2.2.1 Zat zat Pengalkilasi
Dalam alkilasi, dibutuhkan zat atau senyawa agar alkilasi dapat berjalan
dengan baik. Senyawa senyawa tersebut antara lain :
1. Olefin
Olefin terdiri dari gugus alkena (CnH2n) dan siklo parapin, kelompok
senyawa olefin atau juga disebut etilen terdiri dari senyawa rantai lurus yang tak
jenuh yang mempunyai ikatan rangkap menghubungkan dua atom karbon.
kelompok senyawa olefin antara lain etena, propena, butena, pentena dan lainlain. Olefin tidak terdapat dalam minyak mentah, tetapi terbentuk dalam distilasi
minyak mentah atau dalam proses perengkahan, oleh karena itu dalam bensin

rengkahan banyak mengandung senyawa olefin. Olefin merupakan bahan dasar


utama dalam industri petrokimia, misalnya etilena (C2H4) dan propilena (C3H6).
Sifat Fisika
Alkena merupakan senyawa nonpolar sehingga tidak larut dalam air dan
memiliki massa jenis lebih kecil dari air. Alkena dapat larut dalam alkena lain,
pelarut-pelarut nonpolar dan etanol. Pada temperatur kamar alkena yang
memiliki dua, tiga dan empat atom karbon berwujud gas. Sedangkan Alkena
dengan dengan berat molekul lebih tinggi dapat berupa cair dan padatan pada
suhu kamar.
Sifat kimia
Ikatan rangkap yang dimiliki alkena merupakan ciri khas dari alkena yang
disebut gugus fungsi. Reaksi terjadi pada alkena dapat terjadi pada ikatan
rangkap dapat pula terjadi diluar ikatan rangkap. Reaksi yang terjadi pada
ikatan rangkap disebut reaksi adisi yang ditandai dengan putusnya ikatan
rangkap (ikatan ) membentuk ikatan tunggal (ikatan ) dengan atom atau
gugus tertentu. Selain sifat-sifat tersebut dapat mengalami reaksi polimerisasi
dan alkena juga dapat bereaksi dengan oksigen membentuk korbondioksida
dan uap air apabila jumlah oksigen melimpah, apabila jumlah oksigen tidak
mencukupi maka terbentuk karbonmonooksida dan uap air.
2. Alkohol
Pada proses alkilasi, alkohol yang digunakan yaitu methanol dan etanol
dimana alkohol ini digunakan pada pembuatan eter, ispropil eter, etil eter, dan
naphtil metal eter.
Metanol
Metanol, juga dikenal sebagai metil alkohol, wood alcohol atau spiritus,
adalah senyawa kimia dengan rumus kimia CH3OH. Metanol merupakan
bentuk alkohol paling sederhana. Pada "keadaan atmosfer" ia berbentuk cairan
yang ringan, mudah menguap, tidak berwarna, mudah terbakar, dan beracun
dengan bau yang khas (berbau lebih ringan daripada etanol). metanol
digunakan sebagai bahan pendingin anti beku, pelarut, bahan bakar dan
sebagai bahan additif bagi etanol industri.

Metanol diproduksi secara alami oleh metabolisme anaerobik oleh bakteri.


Hasil proses tersebut adalah uap metanol (dalam jumlah kecil) di udara.
Setelah

beberapa

hari,

uap

metanol

tersebut

akan teroksidasi oleh oksigen dengan bantuan sinar matahari menjadikarbon


dioksida dan air.
Etanol
Etanol adalah cairan tak berwarna yang mudah menguap dengan aroma yang
khas. Ia terbakar tanpa asap dengan lidah api berwarna biru yang kadangkadang tidak dapat terlihat pada cahaya biasa.
Sifat-sifat

fisika

etanol

utamanya

dipengaruhi

oleh

keberadaan

gugus hidroksil dan pendeknya rantai karbon etanol. Gugus hidroksil dapat
berpartisipasi ke dalam ikatan hidrogen, sehingga membuatnya cair dan lebih
sulit menguap daripada senyawa organik lainnya dengan massa molekul yang
sama.
3. Alkil Halogenida : RX, sangat reaktif tetapi mahal
RH + R11X RR1 + HX
RNa + R1X R1 + NaX
Pb(Na)y + y R1X Pb(R1)y + yNaX
4. Alkil Sulfat
-

Yang sering digunakan adalah dimetil sulfat, metil hydrogen sulfat, dan
dietil sulfat

Alkil sulfat rantai panjang digunakan pada beberapa hal saja.

Dimetil sulfat sangat beracun dan harus ditangani secara hati-hati

Alkil sulfat digunakan untuk mendapatkan senyawa dialkil eter, alkil aril
eter, selulosa dan polivinil eter.

2.2.2 Zat yang Dialkilasi


1. Alkana
Alkana (juga disebut dengan parafin) adalah senyawa
kimia hidrokarbon jenuh asiklis.

Alkana

termasuk

senyawa alifatik. Dengan kata lain, alkana adalah sebuah


rantai karbon panjang

dengan

ikatan-ikatan

tunggal.

Rumus umum untuk alkana adalah CnH2n+2. Alkana yang paling sederhana
adalah metana dengan rumus CH4. Tidak ada batasan berapa karbon yang dapat
terikat bersama. Beberapa jenisminyak dan wax adalah contoh alkana dengan
atom jumlah atom karbon yang besar, bisa lebih dari 10 atom karbon.
Pada umumnya alkana hanya dapat dialkilasi dengan olefin. Dalam alkilasi
alkana perlu dibedakan dua kelompok :
a. alkana lurus : hanya bisa dilkilasi dengan mekanisme radikal bebas, pada
suhu tinggi
b. alkana bercabang : lebih mudah dialkilasi dengan mekanisme ion
2.3 Proses Alkilasi
Proses alkilasi dari umpan campuran antara molekul olefin c3/c4/ c5 dan
isoparafin dengan bantuan katalis asam, adalah untuk pembuatan produk alkilat
berangka oktana tinggi yang merupakan salah satu komponen utama bensin.
Umpan olefin yaitu propilena, butilena dan amilena timah dari proses
rengkahan baik termal (coking dan visbreaker) maupun katalitik (rengkahan
katalitik) . Sumber isoparafin seperti isobutana dan isopentana dihasilkan dari
proses perengkah katalitik, reformasi katalitik, penghidro rengkahan dan proses

isomerisasi butana dan pentana. Isobutana lebih banyak dipakai pada proses
alkilasi daripada isopentana yang dapat langsung dipakai sebagai komponen
bensin. umpan olefin dan iso-parafin harus kering dengan kandungan sulfur
randah untuk mengurangi kebutuhan katalis asam dan menjaga mutu produknya.
Rasio tinggi antara iso- dan olefin butana pria produkt alkilat berangka oktana
tinggi dengan titik didih akhir randah. Angka oktana (RON) produk alkilat dari
berbagai jenis umpan olefin propilena, butilena, isobutilena, amilena dan
propilena / butilena adalah sekitar 88-97.
Pada temperatur tinggi, reaksi akan menghasilkan produk alkilat berangka
oktana tinggi dengan titik didih akhir randah, tetapi reaksi alkilasi tidak berjalan
baik pada temperatur <350c proses alkilasi dengan katalis asam sulfat lebih
sensitive terhadap temperatur reaktor daripada dengan katalis asam fluorida.
Tekanan operasi harus cukup untuk review menjaga hidrokarbon umpan dan
katalis asam dalam keadaan cair. Pada kondisi operasi yang sama, karakteristik
produk alkilat tidak berbeda banyak bila menggunakan katalis asam baik asam
sulfat maupun asam fluorida.
2.4 Reaksi Alkilasi
Salah satu reaksi yang terkenal dalam alkilasi adalah reaksi antara
isobutana dengan olefin menggunakan katalis aluminium klorida yang ditemukan
oleh Ipattief dan kawan-kawan. Reaksi ini sampai saat ini digunakan secara luas
dalam alkilasi senyawa aromatik dan olefin, tetapi jarang digunakan dalam
alkilasi olefin dengan parafin. Selain itu, contoh reaksi jenis ini adalah reaksi
antara isobutana dengan olefin menggunakan katalis asam sulfat atau asam
fluorida. Alikilasi akan mengkombinasikan olefin dengan berat molekul rendah
(umumnya terdiri dari campouran propilena dan butilena) dengan isobutena
dengan adanya katalis asam sulfat atau asam fluorida. Produk disebut Alkilat
merupakan gasolin dengan sifat antiknocking dan pembakaran bersih.
Reaksi alkilasi secara umum adalah sebagai berikut:
RH + CH2 CRR panah R-CH2-CHRR.

Pada proses yang umum dilakukan di pengilangan minyak, isobutana di


alkilasi menggunakanalkena alkena yang memilik MR rendah (biasanya
campuran dari propilena dan butilena) dan menggunakan katalis yang bersifat
asam kuat, antara asam sulfat (H2SO4) atau asam fluorida (HF).Pada pengilangan
minyak proses tersebut biasa disebut unit alkilasi asam sulfat (SAAU) atau
unitalkilasi fluorida (HFAU). Katalis tersebut memprotonasi alkena (campuran
propilena dan butilena)untuk memproduksi karbokation yang reaktif, yaitu
isobutana teralkilasi. Reaksi tersebut terjadi padatemperatur menengah (0 dan
300C) pada reaksi 2 fasa. Sangatlah penting untuk menjaga kadar isobutan
terhadap alkena tetap tinggi. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah reaksi
samping yang menghasilkan produk dengan nilai oktan rendah. Kedua fasa
tersebut dipisahkan secara spontan,sehingga fasa asam tersebut tercampur secara
cepat dengan fasa hidrokarbon untuk menghasilkan luas permukaan kontak yang
cukup.
Produk yang dihasilkan disebut zat turunan alkil dan terkandung dalam
campuran yang mengandung oktana yang tinggi, ikatan cabang dari hidrokarbon
jenis parafin ( kebanyakanisopentana dan isooktana). Zat turunan alkil adalah
perpaduan didalam bensin pada umumnya karena zat ini memiliki sifat antiknocking dan terbakar secara bersih. Zat turunan alkil juga merupakan komponen
utama didalam avgas (bahan bakar pesawat). Bilangan oktan dari zat turunan alkil
bergantung dari alkana turunan yang digunakan dan pada kondisi operasi tertentu.
Sebagai contoh,isooktana yang diperoleh dari pencampuran butilena dengan
isobutena akan memiliki bilangan oktansebesar 100.Pada umumnya minyak
mentah hanya memiliki kandungan 10 sampai 40 persen unsur hidrokarbon, oleh
karena itu pengilangan menggunakan proses FCC untuk mengkonversi
hidrokarbon dengan MR yang tinggi menjadi hidrokarbon yang lebih rendah MRnya dan menjadi zat yang mudah menguap, yang setelah itu dikonversi lagi
menjadi cairan kembali. Proses alkilasi mengubah alkena dan molekul iso-parafin
dengan MR rendah menjadi iso-parafin dengan MR yang lebih besar dan
memiliki nilai oktan yang tinggi pula.Penggabungan antara perengkahan,
polimerisasi, dan alkilasi akan memberikan hasil pada perolehan bensin hingga 70

persen dari minyak mentah awal. Proses yang lebih lanjut, seperti sklikisasi dari
parafin dan dehidrogenasi dari naftena membentuk hidrokarbon aromatik di
dalam pembaruan secara katalitik (catalytic reformer), juga telah dikembangkan
untuk meningkatkan nilai oktan dari bensin.

Reaksi alkilasi dengan katalis asam dimulai dengan pembentukan ion


karbonium (C + 4H9) dengan mentransfer proton dari katalis asam ke molekul
umpan olefin, dan kemudian ion karbonium tersebut berkombinasi dengan
molekul umpan isobutana untuk menghasilkan kation butilena-2 akan membentuk
masing-masing ion karbonium oktil(iso c+8h17) dengan dua cabang(dimetil)
dan tiga cabang(trimetil yang selanjutnya akan bereaksi dengan molekul umpan
isobutana untuk menghasilkan produk alkilat isooktana yaitu masing-masing
bercabang dua dan tiga metal.
2.4.1 Mekanisme Reaksi Alkilasi
Dengan iso umpan butilena-1 menjadi butilena-2 yang kemudian
berkombinasi dengan umpan iso maka produk alkilasi akan menghasilkan
isooktana bercabang tiga butana, metil, berangka oktana lebih tinggi. Salah satu
reaksi penting dalam proses alkilasi propilena adalah terbentuknya isobutilena
dari hasil kombinasi kedua molekul umpan propilena dan isobutana, dan
berkombinasinya molekul isobutilena tersebut dengan umpan isobutana akan men
produk isooktana bercabang tiga metil yang berangka oktana-RON-100
Isobutilena tersebut terbentuk dengan timbulnya transfer hidrogen dari isobutilena
ke propilena. Reaksi alkilasi adalah eksotermis dengan pelepasan panas reaksi
sekitar 124.000-140.000 BTU per barel isobutana bereaksi
2.4.2 Reaksi alkilasi Secara Kimia
1.

Alkilasi Katalis
Suhu reaksi berkisar antara 30 1050F dan tekanan 1 atm 150 psig.
Katalis yang banyak digunakan, yaitu :

a. Proses Alkilasi Asam Fluorida diperkenalkan oleh Phillips Petroleum


Company pada tahun 1942.
b. Proses Alkilasi Aluminium Khlorida di operasikan oleh Phillip selama
Perang Dunia.
c. Proses Alkilasi Katalis Asam Sulfat telah di mulai di Amerika Serikat
pada tahun 1938 oleh Shell Oil Company. Pada proses ini, komponen
gasolin dengan angka oktan tinggi dibuat melalui reaksi isobutana dengan
olefin. Butilen merupakan senyawa yang paling umum dipakai, karena
produk yang dihasilkan mempunyai kualitas tinggi dan dapat diperoleh
hanya dengan sedikit Asam Sulfat dibandingkan dengan olefin lainnya, jika
diproses pada kondisi operasi yang sama.
2.

Alkilasi Termis
Alkilasi termis adalah alkilasi yang mengolah Etilen yang diikuti
oleh Propilene, Butane dan Isobutilene dengan bantuan panas. Suhu reaksi
berkisar 9500F dan tekanan sekitar 3000-5000 psia. Proses Alkilasi termis
yang komersil telah di bangun oleh Phillips Petroleum Co untuk membuat
neoheksana. Alkilasi ini menggunakan Etilene dan Isobutana sebagai
reaktan untuk membuat neoheksana.

2.5 Katalis Alkilasi


Katalis asam sulfat dan asam fluorida kuat digunakan pada proses alkilasi
umpan olefin dan isoparafin. Kekuatan asam kedua katalis tersebut harus dijaga
di atas 88% berat agar supaya tidak terbentuk reaksi polimerisasi. Asam sulfat
mengandung SO3 bebas atau berkonsentrasi di atas 99.3% berat dapat
menimbulkan reaksi samping polimerisasi. Kekuatan optimal asam fluorida
adalah sekitar 82-93% berat dengan kadar air 1% volume. Untuk menjaga
kekuatan asam sulfat 88% berat, maka sebagian katalis yang telah dipakai
diganti dengan katalis baru asam sulfat 99,3% berat.

Pemakaian katalis asam fluorida adalah sekitar 18-30 lb per barel produk
al Kelarutan isobutana di dalam fase asam hanya sekitar 0,1% berat di dalam
katalis asam sul fat, dan 3% berat di dalam katalis asam fluorida. Terlarutnya
sebagian kecil pol imer bersama olefin di dalam katalis asam akan dapat
menaikkan kelarutan isobutana di dalam katalis asam tersebut. Olefin lebih
mudah larut daripada isobutana di dalam fase asam.
Rasio antara katalis asam dan umpan hidrokarbon dapat mengontrol
derajat kontak antara katalis dan hidrokarbon Rasio rendah akan menghasilkan
produk alkilat berangka oktana rendah dengan titik didih akhir tinggi, sedang
kelebihan katalis asam di dalam reaktor akan terjadi pada rasio tinggi
Berdasarkan hasil penelitian, pada suatu kondisi proses alkilasi tertentu dapat
diperoleh rasio optimal antara katalis asam dan hidrokarbon umpan.
2.6 Unit Alkilasi pada Pengilangan Minyak Bumi
Pengilangan yang moderen dapat memproduksi banyak jenis bahan bakar
dengan spesifik performa dengan satu jenis umpan mentah.Pada seluruh rentang
proses pengilangan, alkilasi sangatlah penting karena dapat meningkatkan
perolehan bensin dengan bilangan oktan tinggi. Tetapi, tidak semua pengilangan
memiliki pabrik alkilasi.
Pengilangan memeriksa apakah akan ada peningkatan yang siknifikan
apabila pada pengilangan tersebut dipasang unit alkilasi. Hal ini disebabkan
karena unit alkilasi sangatlah kompleks, dengan skala ekonomi. Produk alternatif
dari pengilangan alkilasi dapat berupa LPG, pencampuran dari lajuC-4 secara
langsung kedalam bensin dan bahan baku untuk pabrik zat kimia.
Ketersediaan dari katalis yang cocok juga merupakan faktor pentingnya
untuk menentukan apakah perlu didirikan pabrik alkilasi. Misalnya pabrik dengan
katalis asam. Jalur masuk yang cocok dengan pabrik juga dibutuhkan untuk
memasok asam yang masih segar dan pembuangan asam yang telah dipakai. Jika
pabrik asam sulfat dibangun untuk mendukung unit alkilasi, konstruksi harus

memiliki dampak yang siknifikan terhadap persyaratan- persyaratan dasar untuk


modal dan biaya operasi.
Secara alternatif sangatlah mungkin untuk memasang proses WSA (Wet
Sulfuric Acid) untuk meregenasi asam yang telah jenuh. Tidak ada pengeringan
dari gas. Ini berarti tidak akan ada kehilangan asam, tidak ada material bersifat
asamyang terbuang dan tidak ada panas yang hilang pada proses pemanasan
kembali gas. Kondensasi yang selektif pada kondensor WSA menjamin asam
yang teregenasi akan memiliki adar 98% w/w bahkandengan gas proses yang
lembab. Sangatlah mungkin untuk menggabungkan regenerasi asam yang terpakai
dengan pembuangan asam sulfat dengan menggunakan asam sulfat sebagai bahan
bakar.
Katalis kedua yang biasa digunakan dalam proses alkilasi ini adalah asam
fluorida. Laju konsumsi HF pada pabrik alkilasi jauh lebih rendah dibandingkan
bila menggunakan asam sulfat. Pabrik yang menggunakan HF dapat memproses
campuran bahan baku dengan rentang yang lebar dan dicampur dengan propilena
dan butilena. Pabrik dengan HF juga memproduksi zat turunan alkildengan nilai
oktan yang lebih baik daripada pabrik dengan asam sulfat. Tetapi, karena sifat
yang berbahaya dari material, HF digunakan pada lokasi tertentu dan
transportasinya harus dilakukan secara ketat.
Unit pengolahan Pertamina mengolah berbagai jenis minyak bumi sebesar
1.063 MBCD pada 7 unit yang mengoperasikan 12 unit proses konversi yang
berpotensi dalam pembuatan umpan proses alkilasi isobutana dan olefin
(propilena dan butilena). Unit pengolahan Pertamina mengoperasikan baru satu
unit proses alkilasi dengan katalis asam sulfat di UP III Plaju, Sungai Gerong. UP
VI Balongan memakai produk gas olefin dari proses perengkahan katalitik untuk
proses polimerisasi (kondensasi) untuk pembuatan komponen pembangunan suatu
proses alkilasi agar supaya dapat ditingkatkan potensi kilang tersebut dalam
pembuatan bensin ramah lingkungan.
2.6.1 Unit Alkilasi Asam Sulfat
Pada proses alkilasi asam sulfat komponen gasoline dengan angka oktan
tinggi dibuat melalui reaksi isobutana dengan olefin. Butilena merupakan

senyawa yang paling umum dipakai karena produk yang dihasilkan mempunyai
kualitas tinggi dan dapat diperoleh hanya dengan sedikit asam sulfat
dibandingkan dengan olefin lainnya, jika diproses pada kondisi operasi yang
sama.
Didalam industri minyak bumi, umpan isobutana dan butilena
sebagian besar berasal dari hasil perengkahan berkatalis. Isobutana sebagian
kecil juga terdapat dalam minyak mentah bersama-sama dengan normal butane.
Reaksi yang terjadi pada alkilasi dengan asam sulfat sebagai alkalis adalah:

Jika menggunakan asam sulfat sebagai katalis, maka reaksi harus teriadi
pada suhu rendah untuk menekan terjadinya reaksi berkelanjutan atau
polimerisasi, Suhu reactor biasanya dijaga sekitar ToC atau 45F, dimana suhu
operasi beragam antara 0.20 Catau 32-68 F. Operasi pada suhu dibawah 0 tidak
menarik karena dapat menaikkan viskositas emulsi campuran asam/hidrokarbon
dan memberi kemungkinan terjadinya pembekuan asam sehingga menyulitkan
dalam operasinya. Sebaliknya suhu diatas 20oC juga tidak menarik karena
samngat cenderung mempercepat reaksi polimerisasi yang akan menyebabkan
kenaikan konsumsi asam dana menurunkan yield alkilat. Tekanan operasi tidak
begitu berpengaruh terhadap efisiensi alkilasi. Tekanan system harus tinggi untuk
menjaga hidrokarbon berada dalam fasa cairan dan perbedaan hidraulik cukup
untuk men fluida mengalir dalam system reactor. Untuk maksud tersebut reactor
biasanya beroperasi pada tekanan sekitar 7 kg cm3. Katalis asam sulfat dengan
konsentrasi 98% (berat) dimasukkan secara tenus-menerus atau dengan secara
injeksi asam dari belakang. perbandingan asam dan hidrokarbon didalam reactor

adalah 1:1. Penambahan asam segar didalam reactor dilakukan apabila


konsentrasinya kurang dari 88% berat).

Diagram air sederhana proses alkilasi asam sulfat dapat dilihat pada gambar
dibawah ini

Proses diagram alir diatas yaitu :


Feed dipompakan masuk ke reaktor, sebelum masuk reaktor bersamasama dengan recycle isobutane. Total feed masuk ke teed produk HE dimana teed
mengalami pendinginan 250C, sedangkan reaktor produk mengalami pemanasan
10- 30oC selanjutnya feed ditampung didalam settling water untuk memisahkan
air. Dari feed settler, feed masuk ke pompa sirkulasi reaktor bersama-sama
dengan asam dan recycle reaktor produk emulsi) dipompa melalui propan chiller
untuk didinginkan sampai 10oC lalu masuk reaktor. Bottom dari reaktor
merupakan reaktor produk sebagian disirkulasikan kembali ke dalam reaktor
melalui propan chiller dan sebagian yang lain dengan tekanan reaktor mengalir ke

acid separation dimana feriadi pemisahan asam sulfat dari HC hasil reaksi secara
perbedaan berat jenis settling asam sulfat yang terpisah masuk ke pompa sirkulasi
reaktor dipakai kembali sebagai katalis.
Reaktor produk berupa HC pada bagian katalis separator dengan kekuatan
tekanan mengalir ke separator akhir merupakan Casam yang terpisah acid
separator akhir biasanya berupa sludge selanjutnya dikirim ke treating unit
dinetralkan dengan spent coustik sebelum dibuang sebagai waste disposal
kadang-kadang spent acid dibakar. Reaktor produk berupa HC pada bagian atas
acid separator akhir dipompakan melalui feed produk HE masuk ke soda mixer
selanjutnya masuk kedalam soda settler didalam coustic settler ini. Didalam
coustik settler soda sirkulasi dipompakan kembali ke coustik mixer untuk
mengatur kadar NaOH dalam coustik settler tersebut maka penambahan fresh
coustik dan pembuangan coustik diperlukan minimum kadar NaOH dalam spent
soda adalah 40 mgr/l. Reaktor produk yang telah netral dari asam terpisah pada
pagian atas Coustik settler langsung dipompa pada bagian sebelumnya masuk ke
water wash drum sebelum masuk ke bagian fraksinas.
Reaktor produk yang telah di netralkan dari asam masuk ke stabilizer
kolom hasil puncak berupa campuran normal butan, iso butan dan propan
Campuran ini sebagai feed debutanizer kolom sedang botom produk masingmasing ke aliran. Hasil puncak debutanizer kolom sebagai feed de propanizer
kolom sedang hasil botom yang berupa normal butan ditampung dalam storage
tank sebagai LPG butan Hasil puncak depropanizer berupa propan ditampung
dalam storage tank sebagai LPG propan Hasil botom sebagai iso butan disirkulasi
ke reaktor sebagai recycle untuk mengatur ratio iso buta butilin didalam feed ke
reaktor. Produk dari aliran kolom has puncak berupa light alkilat sebelum
ditampung melalu proses soda washing light alkilat inilah yang merupakan
sebagai has utama komponen pembuatan Avigas. Sedangkan heavy alkilat dari
botom kolom ditampung dalam tangki sebagai light slop

Unit- unit alkilasi asam sulfat berdasarkan diagram alir diatas yaitu :

1. Reaktor
Bagian ini berfungsi mengadakan reaksi antara iso butan dengan
olefin (butylin) membentuk alkilasi dengan katalis H2SO4 pada kondisi
temperature 7 10oC. Reaktor yang dipakai berupa kolom vertical
dilengkapi piringan-piringan berlubang kecil vaporated plate. Vaporated
plate digunakan untuk mendapatkan campuran yang baik antara
hidrokarbon dengan asam sulfat. Didalam reactor jenis ini campuran
tersebut digunakan oleh pompa emulsi sirkulasi. Fresh feed dicampur
dengan iso butan untuk mendapatkan rasio iso butan dengan butilin
kemudian di injeksi dengan H2SO4 sebagai pembentuk emusi.
2. Refrigeration
Bagian ini berfungsi untuk mendapatkan suhu rendah yang
diperlukan untuk reaksi alkilasi. Refrigerator yang dipakai adalah propan
yang baik yaitu bebas air karena air didalam propan dapat menyebabkan
kebuntuan dalam sistem akibatnyapembekuan air pada suhu rendah kadar
propan dalam refrigeren minimum.
3. Treating
Bagian ini berfungsi untuk menetralkan asam yang terdapat pada reactor
produk dengan coustik soda sebelum dipisahkan didalam bagian
fraksinasi. Untuk menghilangkan coustik soda yang terbawa reactor
prodak setelah coustic washing biasanya dilakukan water washing
4. Fraksinasi
Bagian ini berfungsi memisahkan propan, iso butane dan normal butane
dari alkilat dan juga memisahkan light alkilat dan heavy alkilat.
6.6.2 Unit Alkilasi Asam Posfat
Alkilasi menggunakan asam posfat dimaksudkan untuk memprodukasi
isopropyl benzene atau kumen dengan mereaksikan propilena dengan benzene.
Katalis asama posfat berbentuk padatan dapat mengendung campuran kieselguhn,
tepung, magnesia, seng khlorida, seng oksida dan lain-lain yang dikalsinasi
pada suhu 180.250 C. Perbandingan benzene dan propilena dijaga
pada 6/1 atau lebih besar, dan yield yang diperoleh sekitar 96%(V) kumen dan
4% (v) adalah alkilat aromatik berat.

2.6.3 Unit Alkilasi Asam Flourida


Alkilasi dengan menggunakan asam fluoride sebagai katalis telah
dijumpai dalam 2 kelompok operasi pengilangan minyak. Pertama dalam
pembuatan komponen dasar untuk diterjen sintesis yang diperoleh dari alkilasi
benzene dengan olefin yang sesuai, seperti propilena tetramer, olefin yang
diturunkan dari perengkahan lili, dan lain-lain. Alkilasi ini banyak dijumpai
dalam bidang petrokimia.
Kedua dalam pembuatan komponen blending untuk avgas yang
berkualitas tinggi melalui alkilasi isobutana dengan propilena, butilena dan
pentilena(amilena) Proses alkilasi asam fluoride utnuk pembuatan komponen
dasar avgas ini telah dikembangkan oleh Philips Petroleum Company dan oleh
UOP Company. Operasi proses ini sangan sama dengan operasi alkilasi asam
sulfat. Perbedaannya yang sangat penting adalah terletak adalah pada pengolahan
asam bekas yang siap dan terus-menerus dapat diregenerasi sehingga konsumsi
asam flourida sangat sedikit. Regenerasi asam bekas ini dipengaruhi oleh cara
destilasi yang sangat sederhana, dimana asam dapat dipisahkan dari caampurab
azeotrop H20-HF dan pol yang terbentuk dari proses alkilasi. Titik didih HF pada
tekana l atm adalah 194"C dan berat jenisnya 0.988. Tanpa proses regenerasi,
baik air maupun polimer akan terakumulasi didalam asam dan akan berpengaruh
buruk terhadap yield dan kualitas produk. Asam yang sudah diregenerasi didaur
ulang kedalam reactor.
Pada alkilasi isobutana dengan butilena, proses alkilasi HF memproduksi
suatu alkilat yang mengandung 2,2,3 trimetil pentane yang persentasenya lebih
besar daripada proses alkilasi asam sulfat. Angka oktan alkilat yang dihasilkan
sangat tergantung pada jenis olefin sebagai berikut iso oktana(ON 392-94) iso
Nonana(ON 90-92) iso oktana(ON 89-91).
2.7 Alkilasi Termis
Alkilasi termis adalah alkilasi yang mengolah etilena yang di oleh
propilena, butena, dan isobutilena dengan bantuan panas. Kondisi operasi
proses ini tinggi, suhu sekitar F dan tekanan sekitar 3000-5000 psia. Umpan

olefin yang diperkaya seperti tersebut diatas dapat diproduksi dari proses
dekomposisi hidrokarbon yang beroperasi pada suhu 1200-1425 OF dan tekanan
1 atm. Kondisi sedemikian sangat memungkinkan untuk pembentukan etilena.
Etilena diserap didalam isobutana untuk dimasukkan kedalam dapur melalui zona
perendaman. Sedikit ter atau material yang mempunyai titik didih diatas gasoline
dapat dihasilkan karena konsentrasi etilennya rendah dalam zona reaksi.
Diperlukan waktu 2-7 detik unutk mencapai suhu 950 F, tergantung pada jumlah
hidrokarbon yang diolah dan jumlah isobutilena yang didaur ulang. Campuran
etana dan propane direngkah pada suhu sekitar 1400 F dan tekanan 6-8 psig utnuk
pembentukan propilena yang optimum.
Gas-gas yang terbentuk dibebaskan dari material yang lebih besar dari
C2melalui scrubber, lalu diikuti dengan kompresi dan pendinginan. Etilena
kemudian diserap oleh cairan isobutana pada suhu-30F. sedangkan gas hydrogen
dan metana dipisahkan dari system. Campuran etilena dan isobutana pada dapur
alkilasi melalui preheater pada suhu 950 F. Perbandingan isobutana daan etilena
pada 9/1 atau lebih pada zona reaksi. Yield yangdikirim kemenara del berupa
cairan pada bagian propanizer bawah yang menghabiskan 7% (berat etana,
propane dan isobutanayang mengandung kira- kira 30-40% neoheksana.
Neoheksana dikarakterisasi sebagai bahan campuran avgas dengan sifat-sifat
yang sempurna dan sangat mudah menerima TEL. Senyawa ini mempunyai RVO
9,5 psi titik didh 121 F dan angka oktan 95.

2.8 Pengaruh Variabel Operasi


Dalam proses alkilasi ada banyak variable yang mempengaruhi, dimana
variable-variabel tersebut harus sangat diperhatikan demi keberhasilan proses
alkilasi sehingga bisa mendapatkan produk sesuai dengan yang diinginkan.
Variabel - varibel operasi yang berpengaruh antara lain :
1. Temperatur
Reaksi alkylasi yang baik pada suhu 0 s/d 20oC, dibawah 0 menyebabkan
kenaikan viscositas dan emolsi asam hydro carbon sehingga terjadi

pembekuan asam sehingga mengganggu fluiditi. Diatas 20oC terjadi


reaksi polimerisasi antara olefin akibatnya menambah konsumsi asam,
mengurangi produk alkylate dan menurunkan angka oktan alkylate
disamping itu terbentuk senyawa ester antara lain acid dan olefin yang
menyebabkan korosi pada peralatan karena terurainya ester setelah
pemanasan. Suhu reaksi alkylasi ang optimal adalah 4-16oC.
2. Tekanan (bar)
Tekanan tidak berpengaruh terhadap jumlah produk alkylat tetapi tekanan
pada proses alkylasi harus cukup tinggi, maksudnya untuk
mempertahankan agar hidro karbon tetap fase cair. Selama reaksi
disamping itu bermanfaat untuk menjamin aliran dari vesel ke peralatan
berikutnya. Tekanan operasi pada alkylasi adalah 100 s/d 200 psig.
3. External Iso Butane
Ratio iso butan butiline dalam feed ke reaktor dipertahankan antara 5 s/d
6. Pada ratio dibawah 3 ini berarti bahwa olefine berlebihan, maka akan
terjadi reaksi polimerisasi akibatnya konsumsi dari asam akan naik produk
alkylat berkurang serta angka oktan turun.
4. Ratio Acid Hydrocarbon
Tidak berpengaruh besar pada hasil dan mutu alkylat dan acid lain,
walaupun demikian 50-60 vol acid dipertahankan pada inlet reaktor. Pada
40 43% vol acid akan terjadi inversi fase emulsi dari hydro asam menjadi
asam hidro carbon ini akan menghasilkan emulsi yang stabil yang akan
menyulitkan pemisahan asam hidrokarbon hasil dari reaktor.
5. Keasaman H2SO4 (%H2SO4)
Pada konsentrasi dibawah 88% berat akan terjadi polimerisasi antara
butiline sehingga akan mengurangi hasil alkylat. Demikian juga kualitas
dan acid lain. Nitril ester akan menaikkan kecepatan korosi alat-alat dan
ini terjadi pada konsentrasi dibawah 88% makin tinggi acid pada
dasarnya makin besar produk alkylat serta mutunya dan makin besar acid
lainnya. Dalam praktek konsentrasi dipertahankan antara 90 s/d 96%.
6. Resident Time
Untuk alkylasi butiline terhadap iso butane resident time yang optimal
adalah 30 menit. Resident time yang lebih besar 30 menit akan
mengurangi produk alkylasi karena terpecahnya alkylat olefine.

7. Komposisi Feed Stock


Macam olefin yang akan dipakai sebagai gugus alkyl mempengaruhi
produk alkylate, kualitas dan acid lain. Pada kondisi yang sama hasil dari
alkylasi olefin akan berbeda.
8. Kadar Ido Butane dalam Reaktor Fluent
Ini merupakan petunjuk(indikator) jumlah deluent yang ada dalam sistim
reaktor makin besar kadar iso butane dalam reaktor efluent makin besar
yield(produk) ON dari alkylate dan makin besar acid life(umur asam)
Pengaruh impurities dari feed stock terhadap umur asam dan kualitas
produk.

2.9 Produk Alkilasi


1. Gasoline (bensin)
Gasoline adalah suatu senyawa organic yang dibutuhkan dalam suatu
pembakaran dengan tujuan mendapatkan energy.
Sifat fisik dan kimia dari gasoline yaitu :
-

Titik didih

: 40C 220C

Daya melarutkan : Tinggi

Daya oksidasi/penguapan : Cepat

Masa Penggunaan : 4 kali

Density : 0.68 gr/ml

Gasoline biasanya digunakan sebagai :


-

Bahan bakar motor


Sebagai bahan bakar motor ada beberapa sifat yang diperhatikan
untuk menentukan baik atau tidaknya bensin tersebut.

Bensin hasil penyulingan dapat dipergunakan sebagai bahan


pengekstrak lemak karena tidak menunjukkan perbedaan yang
mencolok baik pada titik didih, massa penggunaan, capasitas
ataupun densitynya.

Sebagai sumber energi

Sebagai bahan bakar penerangan dan pemanasan

2. LPG

LPG (liquified petroleum gas) adalah campuran dari berbagai unsur


hidrokarbon dimana komponennya didominasi propana (C3H8) dan butana
(C4H10). Elpiji juga mengandung hidrokarbon ringan lain dalam jumlah kecil,
misalnya etana (C2H6) dan pentana (C5H12). Pada proses alkilasi, dihasilkan
LPG butan dan LPG propan
3. Normal Butana
N-butana atau butane adalah alkana bercabang yang terdiri dari empat atom
karbon. Butane merupakan gas mudah terbakar yang layak dapat dicairkan.
Butane dapat dimanfaatkan sebagai refrigeran.
4. Avgas (Aviation Gasoline)
Avgas merupakan bahan bakar minyak jenis khusu yang di desain untuk
pesawat terbang dan mobil balap. Komponen utama avgas adalah alkilat yang
pada dasarnya merupakan campuran dari berbagai isooktan.