Anda di halaman 1dari 27

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Kesehatan Lingkungan
Ada 5 upaya dasar kesehatan lingkungan yang sering dan penting dilakukan yaitu
(Fauzan, 2013) :
1. Penyehatan sumber air bersih (SAB)
Kegiatan upaya penyehatan air meliputi: surveilance kualitas air, inspeksi sarana air bersih,
pemeriksaan kualitas air, pembinaan kelompok pemakai air.
2. Penyehatan lingkungan pemukiman (pemeriksaan rumah)
Sarana sanitasi dasar yang dipantau, meliputi jamban keluarga (Jaga), saluran pembangan air
limbah (SPAL) dan tempat pengolahan sampah (TPS)
3. Penyehatan tempat-tempat umum (TTU)
Penyehatan tempat-tempat umum meliputi hotel dan tempat penginapan lain, pasar, kolam
renang, pemandian umum lain, sarana ibadah, sarana angkutan umum, salon kecantikan, bar
dan tempat hiburan lainnya. Dilakukan upaya pembinaan institusi rumah sakit dan sarana
kesehatan lan, sarana pendidikan dan perkantoran.
4. Penyehatan tempat pengelola makanan (TPM)
Secara umum, penyehatan TPM bertujuan untuk melakukan pembinaan teknik dan
pengawasan terhadap tempat penyehatan makanan dan minuman, kesiapsiagaan dan
penanggulangan KLB keracunan, kewaspadaan dini serta penyakit bawaan makanan.
5. Pemeriksaan jentik nyamuk
Bersama kader juru pengamat jentik (Jumantik), petugas sanitasi puskesmas, melakukan
pemeriksaan terhadap tempat-tempat yang mungkin menjadi perindukan nyamuk dan
tumbuhnya jentik. Kemudian dihitung, berapa rumah penduduk yang mengalami bebas jentik.

2.2

Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM )


STBM adalah pendekatan dengan proses fasilitasi yang sedehana yang dapat merubah
sikap lama, kewajiban sanitasi menjadi tanggung jawab masyarakat. Dengan satu kepercayaan
bahwa kondisi bersih, nyaman dan sehat adalah kebutuhan alami manusia. Pendekatan yang
dilakukan dalam STBM menyerang/menimbulkan rasa ngeri dan malu kepada masyarakat
tentang kondisi lingkungannya (Depkes, 2008)
Melalui pendekatan ini kesadaran akan kondisi yang sangat tidak bersih dan tidak
nyaman ditimbulkan. Dari pendekatan ini juga ditimbulkan kesadaran bahwa sanitasi (kebisaan

BAB di sembarang tempat) adalah masalah bersama karena dapat berimplikasi kepada semua
masyarakat sehingga pemecahannya juga harus dilakukan dan dipecahkan secara bersama. Ciri
utama dari pendekatan ini adalah tidak adanya subsidi terhadap infrastruktur (jamban keluarga),
dan tidak menetapkan blue print jamban yang nantinya akan dibangun oleh masyarakat. Pada
dasarnya STBM adalah pemberdayaan dan tidak membicarakan masalah subsidi. Artinya,
masyarakat yang dijadikan guru dengan tidak memberikan subsidi sama sekali (Depkes,
2008)
Sanitasi Total yang dipimpin oleh Masyarakat (STBM/Community Lead Total
Sanitation) melibatkan fasilitasi atas suatu proses untuk menyemangati serta memberdayakan
masyarakat setempat untuk menghentikan buang air besar di tempat terbuka dan membangun
serta menggunakan jamban. Melalui penggunaan metode PRA para anggota masyarakat
menganalisa profil sanitasinya masing-masing termasuk luasnya buang air besar di tempat
terbuka serta penyebaran kontaminasi dari kotoran-kemulut yang mempengaruhi dan
memperburuk keadaan setiap orang. Pendekatan STBM menimbulkan perasaan jijik dan malu di
antara masyarakat. Secara kolektif mereka menyadari dampak buruk dari buang air besar di
tempat terbuka: bahwa mereka akan selamanya saling memakan kotorannya masing masing
apabila buang air besar di tempat terbuka masih berlangsung. Kesadaran ini menggerakkan
mereka untuk memprakarsai tindakan lokal secara kolektif guna memperbaiki keadaan sanitasi
di dalam komunitas. Apabila difasilitasi secara benar, STBM dapat memicu tindakan lokal yang
dipimpin oleh masyarakat untuk secara tuntas menghentikan buang air besar di tempat terbuka,
dan tanpa program sanitasi eksternal yang menyediakan subsidi atau petunjuk untuk model
jamban. Sekali tersulut, STBM akan memicu tindakan yang spontan dan komunitas akan mulai
menggali lobang-lobang untuk pembuatan lubang pembuangan jamban yang dibuat sendiri.
Keluarga-keluarga mulai memasang jamban yang masih berada dalam batas kemampuannya,
atau bersama-sama memakai jamban komunitas untuk mencapai desa yang bebas 100% dari
buang air besar di tempat terbuka. Sekali tercapai, komunitas dengan bangga akan memasang
papan pengumuman di jalan masuk ke desa bahwa desanya telah bebas dari buang air besar di
tempat terbuka dan orang lainpun tidak diperbolehkan melakukan demikian di desa mereka
(Depkes, 2008)

2.3 Prinsip-prinsip dasar STBM


Sebagai suatu metode pendekatan STBM mempunyai prinsip prinsip dasar yang harus dianut
dan ditegakan dalam setiap pelaksanaannya. Prinsip dasar STBM tersebut adalah :
a. Tanpa subsidi kepada masyarakat
b. Tidak menggurui, tidak memaksa dan tidak mempromosikan jamban
c. Masyarakat sebagai pemimpin
d. Totalitas; seluruh komponen masyarakat terlibat dalam analisa permasalahan - perencanaan
pelaksanaan serta pemanfaatan dan pemeliharaan Community lead tidak hanya dalam sanitasi,
tetapi juga dapat di terapkan dalam hal lain seperti dalam pendidikan, pertanian, dan lain lain,
yang terpenting adalah:
-

Inisiatif masyarakat
Total atau keseluruhan, keputusan masyarakat dan pelaksanaan secara

utama.
Solidaritas masyarakat (laki perempuan, kaya miskin) sangat terlihat dalam pendekatan ini.
Semua dibuat oleh masyarakat, tidak ada ikut campur pihak luar, dan biasanya akan muncul

kolektif adalah kunci

natural leader
2.4 PRA dalam STBM
Untuk menimbulkan dan mewujudkan suatu partisipasi aktif dalam masyarakat dalam suatu
kegiatan atau program, dikenal suatu istilah metode atau pendekatan partispatif. Dalam STBM
pendekatan partisipatif yang dianut adalah yang dikenal dengan istilah Partisipatory Rural Appraisel
(PRA).
Ada 3 (tiga) pilar utama dalam PRA yang merupakan basis STBM adalah :
1. Attitude and Behaviour Change (perubahan perilaku dan kebiasaan)
2. Sharing (berbagi)
3. Method (metode)
Ketiganya merupakan pilar utama yang harus diperhatikan dalam pendekatan STBM, namun
dari ketiganya yang paling penting adalah perubahan perilaku dan kebiasaan, karena jika perilaku
dan kebiasaan tidak berubah maka kita tidak akan pernah mencapai tahap sharing dan sangat sulit

untuk menerapkan metode. Perilaku dan kebiasaan yang dimaksud dan harus berubah adalah perilaku
fasilitator. Perilaku dan kebiasaan yang harus diubah diantaranya:
-

Pandangan bahwa ada kelompok yang berada di tingkat atas (upper) dan kelompok yang
berada di tingkat bawah (lower). Cara pandang upper lower harus dirubah menjadi
pembelajaran bersama, bahkan menempatkan masyarakat sebagai guru karena masyarakat

sendiri yang paling tahu apa yang terjadi dalam masyarakat itu.
Cara pikir bahwa kita datang bukan untuk memberi sesuatu tetapi menolong masyarakat

untuk menemukan sesuatu.


Bahasa tubuh atau gesture; sangat berkaitan dengan pandangan upper lower. Bahasa tubuh
yang menunjukkan bahwa seorang fasilitator mempunyai pengetahuan atau ketrampilan yang
lebih dibandingkan masyarakat, harus dihindari.

Gambar 2.1 Bagan Perubahan Perilaku dan Kebiasaan


Perubahan perilaku dan kebiasaan tersebut harus total, dimana didalamnya meliputi:
- perilaku personal atau individual,
- perilaku institusional atau kelembagaan dan
- perilaku profesional atau yang berkaitan dengan profesi,
Ketika perilaku dan kebiasaan (termasuk cara pikir dan bahasa tubuh) dari fasilitator telah
berubah maka sharing akan segera dimulai. Masyarakat akan merasa bebas untuk mengatakan
tentang apa yang terjadi di komunitasnya dan mereka mulai merencanakan untuk melakukan sesuatu.
Setelah masyarakat dapat berbagi, maka metode mulai dapat diterapkan. Masyarakat secara bersamasama melakukan analisa terhadap kondisi dan masalah masyarakat tersebut. Dalam STBM fasilitator

tidak memberikan solusi. Namun ketika metode telah diterapkan (proses pemicuan telah dilakukan)
dan masyarakat sudah terpicu sehingga diantara mereka sudah ada keinginan untuk berubah tetapi
masih ada kendala yang mereka rasakan misalnya kendala teknis, ekonomi, budaya, dan lain-lain
maka fasilitator mulai memotivasi mereka untuk mecapai perubahan kearah yang lebih baik, misalnya
dengan cara memberikan alternatif pemecahan masalah-masalah tersebut. Tentang usaha atau
alternatif mana yang akan digunakan, semuanya harus dikembalikan kepada masyarakat tersebut.
STBM merupakan pendekatan untuk merubah perilaku higiene dan sanitasi melalui
pemberdayaan masyarakat dengan metode pemicuan. STBM (Sanitasi Total Berbasis Masyarakat)
terdiri dari 5 pilar yaitu (DepKes RI, 2008) :
-

Tidak Buang Air Besar (BAB) Sembarangan.

Mencuci Tangan Pakai Sabun.

Mengelola Air Minum dan Makanan yang Aman.

Mengelola Sampah Dengan Benar.

Mengelola Limbah Cair Rumah Tangga Dengan Aman.

Gambar 2.2 Bagan STMB


Strategi Nasional STBM memiliki indikator outcome yaitu menurunnya kejadian penyakit
diare dan penyakit berbasis lingkungan lainnya yang berkaitan dengan sanitasi dan perilaku.
Sedangkan indikator output-nya adalah sebagai berikut:
-

Setiap individu dan komunitas mempunyai akses terhadap sarana sanitasi dasar sehingga dapat
mewujudkan komunitas yang bebas dari buang air di sembarang tempat (ODF).

Setiap rumah tangga telah menerapkan pengelolaan air minum dan makanan yang aman di
rumah tangga.

Setiap rumah tangga dan sarana pelayanan umum dalam suatu komunitas (seperti sekolah,
kantor, rumah makan, puskesmas, pasar, terminal) tersedia fasilitas cuci tangan (air, sabun,
sarana cuci tangan), sehingga semua orang mencuci tangan dengan benar.

Setiap rumah tangga mengelola limbahnya dengan benar.

Setiap rumah tangga mengelola sampahnya dengan benar.


Di sebut Sanitasi Total, bila semua masyarakat disuatu komunitas telah:

Semua masyarakat berhenti BAB di sembarang tempat.

Semua masyarakat telah mempunyai dan menggunakan jamban yang sehat dan memeliharanya
dengan baik.

Semua masyarakat telah terbiasa mencuci tangan dengan benar menggunakan sabun setelah
BAB, setelah menceboki anak, sebelum makan, sebelum memberi makan bayi, dan sebelum
menyiapkan makanan.

Semua masyarakat telah mengelola dan menyimpan air minum dan makanan dengan aman.

Mengelola limbah rumah tangga (cair dan padat) dengan benar.

2.5 Sampah
Pengertian sampah adalah suatu yang tidak dikehendaki lagi oleh yang punya dan bersifat padat.
Sementara didalam UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan sampah adalah
sisa kegiatan sehari hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi padat berupa zat
organik atau anorganik bersifat dapat terurai atau tidak dapat terurai yang dianggap sudah tidak
berguna lagi dan dibuang kelingkungan, (Slamet,2002).
Berdasarkan difinisi diatas, maka dapat dipahami sampah adalah :
1. Sampah yang dapat membusuk (garbage), menghendaki pengelolaan yang cepat. Gas-gas yang
dihasilkan dari pembusukan sampah berupa gas metan dan H2S yang bersifat racun bagi tubuh.
2. Sampah yang tidak dapat membusuk (refuse), terdiri dari sampah plastik, logam, gelas karet dan
lain-lain.
3. Sampah berupa debu/abu sisa hasil pembakaran bahan bakar atau sampah.
4. Sampah yang berbahaya terhadap kesehatan, yakni sampah B3 adalah sampah karena sifatnya,
jumlahnya, konsentrasinya atau karena sifat kimia, fisika dan mikrobiologinya dapat

meningkatkan mortalitas dan mobilitas secara bermakna atau menyebabkan penyakit reversible
atau berpotensi irreversible atau sakit berat yang pulih.
5. Menimbulkan bahaya sekarang maupun yang akan datang terhadap kesehatan atau lingkungan
apabila tidak diolah dengan baik (Ayu Artiningsih, 2002).
2.5.1 Jenis-jenis Sampah:
Jenis sampah yang ada di sekitar kita cukup beraneka ragam, ada yang berupa sampah rumah tangga,
sampah industri, sampah pasar, sampah rumah sakit, sampah pertanian, sampah perkebunan, sampah
peternakan, sampah institusi/kantor/sekolah, dan sebagainya. Berdasarkan asalnya, sampah padat
dapat digolongkan menjadi 2 (dua) yaitu sebagai berikut :
1. Sampah Organik
Sampah organik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan bahan hayati yang dapat didegradasi
oleh mikroba atau bersifat biodegradable. Sampah ini dengan mudah dapat diuraikan melalui proses
alami. Sampah rumah tangga sebagian besar merupakan bahan organik. Termasuk sampah organik,
misalnya sampah dari dapur, sisa sisa makanan, pembungkus (selain kertas, karet dan plastik),
tepung , sayuran, kulit buah, daun dan ranting.
2. Sampah Anorganik
Sampah anorganik adalah sampah yang dihasilkan dari bahan-bahan nonhayati, baik berupa produk
sintetik maupun hasil proses teknologi pengolahan bahan tambang. Sampah anorganik dibedakan
menjadi : sampah logam dan produk produk olahannya, sampah plastik, sampah kertas, sampah
kaca dan keramik, sampah detergen. Sebagian besar anorganik tidak dapat diurai oleh
alam/mikroorganisme secara keseluruhan (unbiodegradable). Sementara, sebagian lainnya hanya
dapat diuraikan dalam waktu yang lama. Sampah jenis ini pada tingkat rumah tangga misalnya botol
plastik, botol gelas, tas plastik, dan kaleng (Gelbert dkk, 1996).
Berdasarkan keadaan fisiknya sampah dikelompokkan atas :
1. Sampah basah (garbage)
Sampah golongan ini merupakan sisa sisa pengolahan atau sisa sisa makanan dari rumah tangga atau
merupakan timbulan hasil sisa makanan, seperti sayur mayur, yang mempunyai sifat mudah
membusuk, sifat umumnya adalah mengandung air dan cepat membusuk sehingga mudah
menimbulkan bau.
2. Sampah kering (rubbish)
Sampah golongan ini memang diklompokkan menjadi 2 (dua) jenis:
- Golongan sampah tak lapuk. Sampah jenis ini benar-benar tak akan bisa lapuk secara
alami, sekalipun telah memakan waktu bertahun tahun, contohnya kaca dan mika.

- Golongan sampah tak mudah lapuk. Sekalipun sulit lapuk, sampah jenis ini akan bisa
lapuk perlahan lahan secara alami. Sampah jenis ini masih bisa dipisahkan lagi atas
sampah yang mudah terbakar, contohnya seperti kertas dan kayu, dan sampah tak mudah
lapuk yang tidak bisa terbakar, seperti kaleng dan kawat.(Gelbert dkk., 1996).
2.5.2 Sumber Sampah
Menurut Gelbert dkk.(1996), sumber-sumber timbulan sampah adalah sebagai berikut :
a. Sampah dari pemukiman penduduk
Pada suatu pemukiman biasanya sampah dihasilkan oleh suatu kluarga yang tinggal disuatu bangunan
atau asrama. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya cendrung organik, seperti sisa makanan atau
sampah yang bersifat basah, kering, abu plastik dan lainnya.
b. Sampah dari tempat tempat umum dan perdagangan
Tempat- tempat umum adalah tempat yang dimungkinkan banyaknya orang berkumpul dan
melakukan kegiatan. Tempat tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup besar dalam
memproduksi sampah termasuk tempat perdagangan seperti pertokoan dan pasar. Jenis sampah yang
dihasilkan umumnya berupa sisa sisa makanan, sampah kering, abu, plastik, kertas, dan kalengkaleng serta sampah lainnya.
c. Sampah dari sarana pelayanan masyarakat milik pemerintah
Yang dimaksud di sini misalnya tempat hiburan umum, pantai, masjid, rumah sakit, bioskop,
perkantoran, dan sarana pemerintah lainnya yang menghasilkan sampah kering dan sampah basah.
- Sampah dari industri
Dalam pengertian ini termasuk pabrik pabrik sumber alam perusahaan kayu dan lain lain, kegiatan
industri, baik yang termasuk distribusi ataupun proses suatu bahan mentah. Sampah yang dihasilkan
dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering abu, sisa sisa makanan, sisa bahan bangunan
- Sampah Pertanian
Sampah dihasilkan dari tanaman atau binatang daerah pertanian, misalnya sampah dari kebun,
kandang, ladang atau sawah yang dihasilkan berupa bahan makanan pupuk maupun bahan pembasmi
serangga tanaman.
Berbagai macam sampah yang telah disebutkan diatas hanyalah sebagian kecil saja dari sumbersumber sampah yang dapat ditemukan dalam kehidupan sehari - hari. Hal ini menunjukkan bahwa
kehidupan manusia tidak akan pernah lepas dari sampah.
2.6 Sistem Pengelolaan Sampah

Sistem pengelolaan sampah adalah proses pengelolaan sampah yang meliputi 5 (lima)
aspek/komponen yang saling mendukung dimana antara satu dengan yang lainnya saling berinteraksi
untuk mencapai tujuan (Dept. Pekerjaan Umum, SNI 19-2454-2002). Kelima aspek tersebut meliputi:
aspek teknis operasional, aspek organisasi dan manajemen, aspek hukum dan peraturan, aspek
bembiayaan, aspek peran serta masyarakat. Kelima aspek tersebut di atas ditunjukkan pada berikut ini.

Gambar 2.3 Bagan Teknis Pengelolaan Sampah (Ayu Artiningsih, 2008)


Dari gambar tersebut terlihat bahwa dalam sistem pengelolaan sampah antara aspek teknis
operasional, organisasi, hukum, pembiayaan dan peran serta masyarakat saling terkait, tidak dapat
berdiri sendiri.
2.6.1 Aspek teknik Operasional
Aspek Teknis Operasional merupakan komponen yang paling dekat
dengan obyek persampahan. Menurut Hartoyo (1998:6), perencanaan sistem persampahan
memerlukan suatu pola standar spesifikasi sebagai landasan yang jelas. Spesifikasi yang digunakan
adalah Standar Nasional Indonesia (SNI) Nomor 19-2454-2002 tentang Tata Cara Pengelolaan
Sampah di Permukiman. Teknik operasional pengelolaan sampah bersifat integral dan terpadu secara
berantai dengan urutan yang berkesinambungan yaitu: penampungan/pewadahan, pengumpulan,
pemindahan, pengangkutan, pembuangan/pengolahan.

Gambar 2.4. Teknis Operasional Pengelolaan Sampah (Sumber : Standar Nasional Indonesia Nomor
19-2454-2002 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman)
Aspek Teknik Operasional merupakan salah satu upaya dalam mengontrol pertumbuhan sampah,
namun pelaksanaannya tetap harus disesuaikan dengan pertimbangan kesehatan, ekonomi, teknik,
konservasi, estetika dan pertimbangan lingkungan.

1) Penampungan sampah
Proses awal dalam penanganan sampah terkait langsung dengan sumber sampah adalah penampungan.
Penampungan sampah adalah suatu cara penampungan sampah sebelum dikumpulkan, dipindahkan,
diangkut dan dibuang ke TPA. Tujuannya adalah menghindari agar sampah tidak berserakan sehingga
tidak menggangu lingkungan. Faktor yang paling mempengaruhi efektifitas tingkat pelayanan adalah
kapasitas peralatan, pola penampungan, jenis dan sifat bahan dan lokasi penempatan. Bahan wadah
yang dipersyaratkan sesuai Standart Nasional Indonesia adalah tidak mudah rusak, ekonomis, mudah
diperoleh dan dibuat oleh masyarakat dan mudah dikosongkan (SNI 19-2454-2002). Sedangkan
menurut Syafrudin dan Priyambada (2004), persyaratan bahan wadah adalah awet dan tahan air,
mudah diperbaiki, ringan dan mudah diangkat serta ekonomis, mudah diperoleh atau dibuat oleh
masyarakat.
2) Pengumpulan sampah
Pengumpulan sampah adalah cara proses pengambilan sampah mulai dari tempat penampungan
sampah sampai ke tempat pembuangan sementara. Pola pengumpulan sampah pada dasarnya
dikempokkan dalam 2 (dua) yaitu pola individual dan pola komunal (SNI 19-2454-2002) sebagai
berikut :
a. Pola Individual
Proses pengumpulan sampah dimulai dari sumber sampah kemudian diangkut ke tempat pembuangan
sementara/ TPS sebelum dibuang ke TPA

Gambar 2.5 Pola Pengumpulan Sampah Individual Tak Langsung


Sumber : SNI 19-2454-2002

b. Pola Komunal
Pengumpulan sampah dilakukan oleh penghasil sampah ke tempat penampungan sampah komunal
yang telah disediakan / ke truk sampah yang menangani titik pengumpulan kemudian diangkut ke
TPA tanpa proses pemindahan.

Gambar 2.6 Pola Pengumpulan Sampah Komunal


Sumber : SNI 19-2454-2002
3) Pemindahan sampah
Proses pemindahan sampah adalah memindahkan sampah hasil pengumpulan ke dalam alat
pengangkutan untuk dibawa ke tempat pembuangan akhir. Tempat yang digunakan untuk pemindahan
sampah adalah depo pemindahan sampah yang dilengkapi dengan container pengangkut dan atau ram
dan atau kantor, bengkel (SNI 19-2454-2002). Pemindahan sampah yang telah terpilah dari
sumbernya diusahakan jangan sampai sampah tersebut bercampur kembali (Widyatmoko dan
Sintorini Moerdjoko, 2002:29).
4) Pengangkutan sampah
Pengangkutan adalah kegiatan pengangkutan sampah yang telah dikumpulkan di tempat
penampungan sementara atau dari tempat sumber sampah ke tempat pembuangan akhir. Berhasil
tidaknya penanganan sampah juga tergantung pada sistem pengangkutan yang diterapkan.
Pengangkutan sampah yang ideal adalah dengan truck container tertentu yang dilengkapi alat
pengepres (SNI 19-2454-2002), sehingga sampah dapat dipadatkan 2-4 kali lipat (Widyatmoko dan
Sintorini Moerdjoko, 2002:29). Tujuan pengangkutan sampah adalah menjauhkan sampah dari
perkotaan ke tempat pembuangan akhir yang biasanya jauh dari kawasan perkotaan dan permukiman.
5) Pembuangan akhir sampah
Pembuangan akhir merupakan tempat yang disediakan untuk membuang sampah dari semua hasil
pengangkutan sampah untuk diolah lebih lanjut. Prinsip pembuang akhir sampah adalah
memusnahkan sampah domestik di suatu lokasi pembuangan akhir. Jadi tempat pembuangan akhir
merupakan tempat pengolahan sampah. Menurut SNI 19-2454-2002 tentang Teknik Operasional
Pengelolaan Sampah Perkotaan, secara umum teknologi pengolahan sampah dibedakan menjadi 3
metode yaitu :
a. Metode Open Dumping

Merupakan sistem pengolahan sampah dengan hanya membuang/ menimbun sampah disuatu tempat
tanpa ada perlakukan khusus/ pengolahan sehingga sistem ini sering menimbulkan gangguan
pencemaran lingkungan.
b. Metode Controlled Landfill (Penimbunan terkendali)
Controlled Landfill adalah sistem open dumping yang diperbaiki yang merupakan sistem pengalihan
open dumping dan sanitary landfill yaitu dengan penutupan sampah dengan lapisan tanah dilakukan
setelah TPA penuh yang dipadatkan atau setelah mencapai periode tertentu.
c. Metode Sanitary landfill (Lahan Urug Saniter)
Sistem pembuangan akhir sampah yang dilakukan dengan cara sampah ditimbun dan dipadatkan,
kemudian ditutup dengan tanah sebagai lapisan penutup. Pekerjaan pelapisan tanah penutup dilakukan
setiap hari pada akhir jam operasi.

2.6.2.

Aspek Peran Masyarakat


Peran serta masyarakat sangat mendukung program pengelolaan sampah suatu wilayah.

Peran serta masyarakat dalam bidang persampahan adalah proses dimana orang sebagai konsumen
sekaligus produsen pelayanan persampahan dan sebagai warga mempengaruhi kualitas dan kelancaran
prasarana yang tersedia untuk mereka. Peran serta masyarakat penting karena peran serta merupakan
alat guna memperoleh informasi mengenai kondisi, kebutuhan dan sikap masyarakat setempat,
masyarakat lebih mempercayai proyek/program pembangunan jika merasa dilibatkan dalam proses
persiapan dan perencanaan (LP3B Buleleng-Clean Up Bali, 2003).
Bentuk peran serta masyarakat dalam penanganan atau pembuangan sampah antara lain: pengetahuan
tentang sampah/kebersihan, rutinitas pembayaran retribusi sampah, adanya iuran sampah
RT/RW/Kelurahan, kegiatan kerja bakti, penyediaan tempat sampah.
2.7 Dampak Jika Sampah Tidak Dikelola
Menurut Gelbert dkk (1996:46-48), jika sampah tidak dikelola dengan
baik akan menimbulkan dampak negatif terhadap manusia dan lingkungan, yaitu:
1. Dampak terhadap Kesehatan
Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol)
merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti

lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat
ditimbulkan adalah sebagai berikut (Gelbert dkk 1996:46-48):
a. Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah
dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum.
b. Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit).
c. Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu
penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnnya masuk ke dalam
pencernakan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah.
d. Sampah beracun: Telah dilaporkan bahwa di Jepang kira-kira 40.000 orang meninggal akibat
mengkonsumsi ikan yang telah terkontaminasi oleh raksa (Hg). Raksa ini berasal dari sampah
yang dibuang ke laut oleh pabrik yang memproduksi baterai dan akumulator.
2. Dampak terhadap Lingkungan
Cairan rembesan sampah (lindi) yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air.
Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini
mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis (Gelbert dkk., 1996). Penguraian sampah
yang dibuang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas cair organik, seperti metana.
Selain berbau kurang sedap, gas ini dalam konsentrasi tinggi dapat meledak (Gelbert dkk., 1996).
3. Dampak terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi
Dampak-dampak tersebut menurut Gelbert dkk, 1996 adalah sebagai berikut:
a. Pengelolaan sampah yang kurang baik akan membentuk lingkungan yang kurang
menyenangkan bagi masyarakat: bau yang tidak sedap dan pemandangan yang buruk karena
sampah bertebaran dimana-mana.
b. Memberikan dampak negatif terhadap kepariwisataan.
c. Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan
masyarakat. Hal penting disini adalah meningkatnya pembiayaan secara langsung (untuk
mengobati orang sakit) dan pembiayaan secara tidak langsung (tidak masuk kerja, rendahnya
produktivitas).
d. Pembuangan sampah padat ke badan air dapat menyebabkan banjir dan akan memberikan
dampak bagi fasilitas pelayanan umum seperti jalan, jembatan, drainase, dan lain-lain.
e. Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti
tingginya biaya yang diperlukan untuk pengelolaan air. Jika sarana penampungan sampah yang

kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini
mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki.
2.8

Teknik Operasional Pengelolaan Sampah

Secara garis besar teknis operasional pengelolaan sampah dapat diuraikan sebagai berikut:
1. Pola Operasional Pengelolaan Sampah
Menurut Revisi SNI 03-3242-1994 tentang Tata Cara Pengelolaan Sampah di Permukiman, faktor
penentu dalam memilih teknik operasional yang akan diterapkan adalah kondisi topografi dan
lingkungan, kondisi sosial, ekonomi, partisipasi masyarakat, jumlah dan jenis timbulan sampah.
Uraian lebih rinci tentang pola operasional adalah sebagi berikut :
a. Pewadahan terdiri dari :pewadahan individual dan atau pewadahan komunal
b. Jumlah wadah sampah minimal 2 buah per rumah untuk pemilahan jenis sampah mulai di
sumber yaitu (1) wadah sampah organik untuk mewadahi sampah sisa sayuran, sisa makanan,
kulit buah-buahan, dan daun-daunan menggunakan wadah dengan warna gelap ; (2) wadah
sampah anorganik untuk mewadahi sampah jenis kertas, kardus, botol, kaca, plastik, dan lainlain menggunakan wadah warna terang.
c. Pengumpulan terdiri dari :
1)

pola individual tidak langsung dari rumah ke rumah;

2)

pola individual langsung dengan truk untuk jalan dan fasum;

3)

pola komunal langsung untuk pasar dan daerah komersial ;

4)

pola komunal tidak langsung untuk permukiman padat.

d.

Pemanfaatan dan daur ulang sampai di sumber dan di TPS

e.

Pemindahan sampah dilakukan di TPS atau TPS Terpadu dan di lokasi wadah sampah

komunal
f.

Pengangkutan dari TPS atau TPS Terpadu atau wadah komunal ke TPA frekuensinya

dilakukan sesuai dengan jumlah sampah yang ada.


Dari uraian tersebut dapat diketahui, yang terpenting dalam operasional adalah tentang pewadahan,
pengumpulan, pemanfaatan, pemindahan dan pengangkutan.
2. Pengelolaan di Sumber Sampah Permukiman
Dalam masalah sampah, sumber sampah adalah pihak yang menghasilkan sampah, seperti rumah
tangga, restoran, toko, sekolah, perkantoran dan lainnya. Pengelolaan sampah di tingkat sumber
dilakukan sebagai berikut :

- Sediakan wadah sampah minimal 2 buah per rumah untuk wadah sampah organik dan anorganik
- Tempatkan wadah sampah anorganik di halaman bangunan
- Pilah sampah sesuai jenis sampah. Sampah organik dan anorganik masukan langsung ke masingmasing wadahnya ;
- Pasang minimal 2 buah alat pengomposan rumah tangga pada setiap bangunan yang lahannya
mencukupi ;
- Masukkan sampah organik dapur ke dalam alat pengomposan rumah tangga individual atau komunal
;
- Tempatkan wadah sampah organik dan anorganik di halaman bangunan bagi sistem pengomposan
skala kingkungan.
3 Pengumpulan Sampah
Pengumpulan sampah dari sumber sampah dilakukan sebagai berikut :
- Pengumpulan sampah dengan menggunakan gerobak atau motor dengan bak terbuka atau mobil bak
terbuka bersekat dikerjakan sebagai berikut :
o Kumpulkan sampah dari sumbernya minimal 2 (dua) hari sekali
o Masukkan sampah organik dan anorganik ke masing-masing bak di dalam alat
pengumpul
o Pindahkan sampah sesuai dengan jenisnya ke TPS atau TPS Terpadu
- Pengumpulan sampah dengan gerobak atau motor dengan bak terbuka atau mobil bak terbuka tanpa
sekat dikerjakan sebai berikut :
o Kumpulkan sampah organik dari sumbernya minimal 2(dua) hari sekali dan angkut ke
TPS atau TPS Terpadu
o Kumpulkan sampah anorganik sesuai jadwal yang telah ditetapkan dapat dilakukan
lebih dari 3 hari sekali oleh petugas RT atau RW atau oleh pihak swasta
4. Pengelolaan di TPS/TPS Terbuka
Pengelolaan sampah di TPS / TPS Terbuka dilakukan sebagai berikut :
a)

Pilah sampah organik dan anorganik

b)

Lakukan pengomposan sampah organik skala lingkungan

c)

Pilah sampah anorganik sesuai jenisnya yaitu :

sampah anorganik yang dapat didaur ulang, misalnya membuat barang kerajinan dari sampah,

membuat kertas daur ulang, membuat pellet plastik dari sampah kantong plastik keresek

sampah lapak yang dapat dijual seperti kertas, kardus, plastik, gelas / kaca, logam dan lainnya

dikemas sesuai jenisnya


-

sampah B3 rumah tangga

residu sampah

d)

jual sampah bernilai ekonomis ke bandar yang telah disepakati

e)

kelola sampah B3 sesuai dengan ketentuan yang berlaku

f)

kumpulkan residu sampah ke dalam container untuk diangkut ke TPA sampah.

2.9

Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Pasal 19 UU RI Nomor 18 Tahun 2008 mengatur mengenai pengelolaan sampah rumah tangga dan
sampah sejenis sampah rumah tangga. Pasal tersebut menyebutkan bahwa pengelolaan sampah rumah
tangga dan sampah sejenis sampah rumah tangga terdiri atas pengurangan sampah dan penanganan
sampah.
Dalam hal pengurangan sampah, lebih lanjut disebutkan dalam Pasal 20 sebagai berikut :
a. Pengurangan sampah yang dimaksud dalam Pasal 19 huruf a meliputi kegiatan: (1)
pembatasan timbulan sampah; (2) pendauran ulang sampah; dan/atau (3) pemanfaatan kembali
sampah.
b. Pemerintah dan pemerintah daerah wajib melakukan kegiatan sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) sebagai berikut: (1) menetapkan target pengurangan sampah secara bertahap dalam
jangka waktu tertentu; (2) memfasilitasi penerapan teknologi yang ramah lingkungan; (3)
memfasilitasi penerapan label produk yang ramah lingkungan; (4) memfasilitasi kegiatan
mengguna ulang dan mendaur ulang; (5) memfasilitasi pemasaran produk-produk daur ulang.
c. Pelaku usaha dalam melaksanakan kegiatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1)
menggunakan bahan produksi yang menimbulkan sampah sesedikit mungkin, dapat diguna
ulang, dapat didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh proses alam.
d. Masyarakat dalam melakukan kegiatan pengurangan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) menggunakan bahan yang dapat diguna ulang, didaur ulang, dan/atau mudah diurai oleh
proses alam.
e. Ketentuan lebih lanjut mengenai pengurangan sampah sebagaimana dimaksud pada ayat (1),
ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) diatur dengan PP.
UU RI Nomor 18 Tahun 2008 juga telah mengatur mengenai reward and punishment (haCdiah dan
hukuman) berupa pemberian insentif dan disintensif sebagaimana diatur dalam pasal Pasal 21 :

a. Pemerintah memberikan: (1) insentif kepada setiap orang yang melakukan pengurangan
sampah; dan (2) isinsentif kepada setiap orang yang tidak melakukan pengurangan sampah.
b. Ketentuan lebih lanjut mengenai jenis, bentuk, dan tata cara pemberian insentif dan disinsentif
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) diatur dengan peraturan pemerintah.
Dalam Pasal 22 UU tersebut juga diatur mengenai mengenai penanganan sampah, yang meliputi :
a. pemilahan dalam bentuk pengelompokan dan pemisahan sampah sesuai dengan jenis, jumlah,
dan/atau sifat sampah;
b. pengumpulan dalam bentuk pengambilan dan pemindahan sampah dari sumber sampah ke
tempat penampungan sementara atau tempat pengolahan sampah terpadu;
c. pengangkutan dalam bentuk membawa sampah dari sumber dan/atau dari tempat
penampungan sampah sementara atau dari tempat pengolahan sampah terpadu menuju ke
tempat pemrosesan akhir;
d. pengolahan dalam bentuk mengubah karakteristik, komposisi, dan jumlah sampah; dan/atau
pemrosesan akhir sampah dalam bentuk pengembalian sampah dan/atau
e. residu hasil pengolahan sebelumnya ke media lingkungan secara aman.
Pengelolaan Sampah Rumah Tangga Berbasis Masyarakat
Pasal 16 Undang-undang Lingkungan Hidup No.23 Tahun 1997, yaitu berbunyi tanggung jawab
pengelolaan lingkungan ada pada masyarakat sebagai produsen timbulan limbah sejalan dengan hal
tersebut, masyarakat sebagai produsen timbulan sampah diharapkan terlibat secara total dalam lima
sub sisitem pengelolaan sampah, yang meliputi sub sistem kelembagaan, sub sistem teknis
operasional, sub sistem finansial, sub sistem hukum dan peraturan serta sub sistem peran serta
masyarakat.
Menurut Syafrudin (2004), salah satu alternatif yang bisa dilakukan adalah
melaksanakan program pengelolaan sampah berbasis masyarakat, seperti minimasi limbah dan
melaksanakan 5 R (Reuse, Recycling, Recovery, Replacing dan Refilling). Kedua program tersebut
bisa dimulai dari sumber timbulan sampah hingga kelokasi TPA.
Seluruh sub sistem didalam sistem harus dipandang sebagai suatu sistem
yang memerlukan keterpaduan didalam pelaksanaannya. Sistem pengelolaan sampah terpadu (
Integrated Solid Waste management ) didefinisikan sebagai pemilihan dan penerapan program
teknologi dan manajemen untuk mencapai sistem yang tinggi, dengan hirarki sebagai berikut
(Tchobanoglous, 1993 dalam Syafrudin, 2004 ).

1.

Source Reduction, yaitu proses minimalis sampah di sumber dalam hal kuantitas timbulan dan

2.

kualitas timbulan sampah, terutama reduksi sampah berbahaya.


Recyclling, yaitu proses daur ulang yang berfungsi untuk mereduksi kebutuhan sumberdaya dan

3.

reduksi kuantitas sampah ke TPA.


Waste Transformation, yaitu proses perubahan fisik, kimia dan biologis perubahan sampah.
Dimana ketiga komponen itu akan menentukan :
a. Perubahan tingkat efesiensi yang diperlukan didlam sistem pengelolaan.
b. Perlunya proses reduce, reuse, dan recycle sampah.
c. Proses yang dapat menghasilkan barang lain yang bermanfaat seperti pengomposan.
d. Landfillimg, sebagai akhir dari suatu pengelolaan sampah yang tidak dapat dimanfaatkan
kembali.

Pemilihan dan penerapan teknologi dalam kontek ini tentunya dilakukan sehingga terpilih teknologi
tepat guna. Di dalam operasional sistem

pengelolaan sampah, pendekatan yang tepat adalah

pendekatan sistem pemanfaatan terpadu (Integrated Material Recovery-IMR ). Pada masyarakat yang
masih mengandalkan TPA sebagai akhir pengelolaan limbahnya, strategi pendekatan IMR ini tepat
untuk diterapkan. Kesadaran masyarakat untuk menerapkan konsep ini akan memicu tumbuhnya
pengelolaan sampah berbasis masyarakat disamping kegiatan yang berusaha untuk meminimasi
sampah. Mengingat konsep IMR pada dasarnya adalah memanfaatkan kembali sampah yang masih
berpotensi untuk didaur ulang, disetiap langkah operasi yaitu mulai dari pewadahan, pengumpulan,
pengangkutan dan pembuangan akhir. Sistem IMR akan meningkatkan perolehan berbagai bahan yang
bernilai ekonomi dan dapat dipasarkan, bukan menghambat kemampuan yang ada (Ayu artiningsih,
2008).
Pengertian Pengelolaan Sampah Dengan Konsep 3R
Menurut Departemen Pekerjaan Umum Kota Semarang (2008), pengertian pengelolaan sampah 3R
secara umum adalah upaya pengurangan pembuangan sampah, melalui program menggunakan
kembali (Reuse), mengurangi (Reduce), dan mendaur ulang (Recycle).
1. Reuse (menggunakan kembali) yaitu penggunaan kembali sampah secara langsung,baik untuk
fungsi yang sama maupun fungsi lain.
2. Reduce (mengurangi) yaitu mengurangi segala sesuatu yang menyebabkan timbulnya sampah.
3. Recycle (mendaur ulang) yaitu memanfaatkan kembali sampah setelah mengalami proses
pengolahan. Mengurangi sampah dari sumber timbulan, di perlukan upaya untuk mengurangi
sampah mulai dari hulu sampai hilir, upaya-upaya yang dapat dilakukan dalam mengurangi
sampah dari sumber sampah ( dari hulu ) adalah menerapkan prinsip 3R sesuai petunjuk teknis

nomor CT/Rc-TC/001/98 atau pendekatan prinsip produksi sampah sebagaimana dikemukakan


oleh Winarno dkk, (1995).
Tindakan yang bisa dilakukan untuk setiap sumber sampah adalah sebagai berikut (Ayu Artiningsih,
2008):
a. Rumah Tangga, tindakan yang bisa dilakukan adalah :
1. Mengurangi ( Reduce ), melalui tindakan :
- Menghindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah
besar.
- Menggunakan produk yang bisa di isi ulang, misalnya penggunan lahan pencuci yang
menggunakan wadah isi ulang.
- Mengurangi penggunaan bahan sekali pakai, misalnya penggunaan tissu dapat dikurangi,
menggantinya dengan serbet atau sapu tangan.
2. Menggunakan Kembali (Reuse), melalui tindakan :
- Gunakan kembali wadah/ kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya, misalnya
penggunaan botol bekas untuk wadah minyak goreng hasil home industri minyak kelapa
atau wadah untuk madu lebah.
- Gunakan wadah atau kantong yang dapat digunakan berulang ulang misalnya, wadah
untuk belanja kebutuhan pokok yang terbuat dari bahan yang tahan lama sehingga dapat
digunakan dalam waktu yang lama.
3. Daur ulang (Recycle), melalui tindakan :
- Pilih produk atau kemasan yang dapat di daur ulang dan mudah terurai.
- Lakukan penggunaan sampah organik menjadi kompos dengan berbagai cara yang telah
ada atau memanfaatkan sesuai kreaktifitas masing-masing.
- Lakukan penanganan untuk sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat.
b. Fasilitas Umum ( perkantoran, sekolah )
1. Mengurangi ( Reduce ) produksi sampah dengan cara :
- Penggunaan kedua sisi kertas dan spasi yang tepat untuk penulisan dan foto copy.
- Penggunaan alat tulis yang bisa di isi kembali.
- Sediakan jaringan informasi dengan komputer ( tanpa kertas ).
- Gunakan produk yang dapat di isi ulang.
- Hindari bahan yang sekali pakai.
- Hindari penggunaan bahan dari plastik dalam penjilidan laporan laporan.
2. Menggunakan kembali ( reuse ), melalui tindakan:
- Gunakan alat kantor yang bisa digunakan berulang kali.
- Gunakan alat-alat penyimpanan elektronik yang dapat di apus dan ditulis kembali.
c. Daerah Komersil
1. Mengurangi (reduce), melalui tindakan:
- Memberikan intensif oleh produsen bagi pembeli yang mengembalikan kemasan yang
dapat digunakan kembali.

- Memberikan kemasan/ pembungkus hanya kepada produk yang benarbenar


memerlukannya.
- Sediakan produk yang kemasannya tidak menghasilkan sampah dalam jumlah besar.
- Sediakan pembungkus/ kemasan yang mudah terurai.
2. Menggunakan Kembali (reuse)
- Gunakan sampah yang masih dapat di manfaatkan untuk produk lain.
- Sediakan perlengkapan untuk pengisian kembali produk umum isi ulang (minyak,
minuman).
2.10

Mengolah Sampah dengan Komposter

2.10.1 PUPUK CAIR


Bahan dan Alat :
a. Biang Bakteri (1/2 liter)
b. Sampah Rumah Tangga /sampah basah/sampah organik
c. Air (10 liter) lebih bagus pakai air tanah
d. Gula Pasir (1/2 kg)
e. Ember/ tong dilengkapi keran di bagian bawah
f. Karung Goni Plastik
Cara pembuatan :
a. Tempatkan karung goni pada ember/tong
b. Masukkan air yang sudah dilarutkan dengan gula
c. Masukkan biang bakteri
d. Buang sampah organik tiap hari ke dalam ember/tong
e. Tutup rapat-rapat
f. Setelah 3 7 hari, dan larutan sudah beraroma asam,
pupuk cair siap digunakan

f. Sampah padat bisa dijemur dan bisa dipakai sebagai pupuk

2.10.2 Komposting dengan Sistem Timbun


Bahan dan Alat :
1. Keranjang sampah yang berlubang
2. karung goni plastik
3. Kasa nilon
4. Pupuk kompos
5. Sekam/ serbuk gergaji
6. Sampah rumah tangga
Cara pembuatan :
Tempatkan karung goni plastik pada keranjang sampah
Alasi dengan bantalan sekam/ serbuk gergaji yang dibungkus kasa nilon
Masukkan pupuk kompos setebal 3 jari
Semprot dengan biang bakteri
Masukkan sampah rumah tangga, tutup dengan pupuk
kompos
Tutup dengan bantalan sekam
Tutup dengan kain, dan tutup keranjang
2.10.3. Keranjang Ajaib (Keranjang Komposting Takakura)
Bahan dan Alat :
1. Keranjang sampah yang berlubang

2. Sekam (sekam padi atau sekam gergaji)


3. Kertas kardus bekas
4. Kain kasa tipis atau kain kaos berwarna hitam (yang berpori)
5. Pupuk kompos (hasil dari sampah rumah tangga)
6. Cetok
7. Sampah rumah tangga
Keranjang Takakura

Cara pembuatannya yaitu

1. Menyiapkan keranjang plastik berventilasi ukuran (min 30x40x50cm).


2. Lapisi bagian dalam dengan karton bekas kardus.
3. Letakkan bantal berventilasi/bantal vitrase berisi gabah dibagian dasar keranjang ( bantal 1 ).
4. Isi dengan kompos jadi kurang lebih setinggi 25 cm.
5. Letakkan bantal 2 berisi gabah diatas kompos jadi.
6. Tutup dengan kain kasa hitam bersama tutup keranjang.
Sebelumnya, siapkan dahulu bakteri starternya

Cara kerja :

Setelah keranjang Takakura siap, sampah rumah tangga pun siap diolah menjadi kompos. Sampah
rumah tangga yang bisa diolah dengan keranjang komposting ini adalah :
sayuran baru
sisa sayuran basi
sisa nasi basi
sisa makan pagi, siang atau malam

sampah buah (anggur, kulit jeruk, apel, pepaya),kecuali buah berkulit keras
Bahan-bahan yang sebaiknya tidak dibuat kompos yaitu: Daging, ikan, kulit udang, tulang, susu, keju,
lemak/minyak,ampas kelapa, sisa sayuran yang bersantan (menyebabkan munculnya belatung).
Kotoran anjing & kucing (kemungkinan membawa penyakit).Tanaman yang berhama (hama dan
bijinya masih terkandung dalam kompos jadi).Ranting, dahan, dan batang kayu yang tidak mudah
hancur dalam kompos (mengundang rayap).Sampah ikan laut, ikan air tawar atau daging

Cara memasukkan sampah organik tersebut adalah sebagai berikut:

pertama, timbunan kompos dalam keranjang digali sehingga terbentuk lubang. Besar lubang
tergantung jumlah sampah yang dimasukkan.
Kedua, masukkan sampah rumah tangga ke dalam lubang tersebut (akan lebih baik jika sampah
dicacah kecil-kecil terlebih dahulu dan umurnya tidak lebih dari 1 hari).
Ketiga, sampah tersebut kemudian ditimbun dengan kompos yang ada di sekelilingnya.
Keempat, setelah tertimbun rata, kemudian tutup dengan bantal sekam, tujuannya untuk menyaring
gas-gas hasil dekomposisi.
Kelima, kemudian tutup dengan kain, agar lalat tidak dapat bertelur yang nantinya dapat
menimbulkan belatung, serta mencegah proses metamorfosis belatung menjadi lalat
Jika keranjang sudah penuh, hanya 1/3 bagian yang bisa diambil untuk dimatangkan selama kurang
lebih 1 bulan. Sisa kompos dalam keranjang bisa dimanfaatkan lagi.

Cara pengomposannya :

1. Sampah-sampah RT sisa makanan atau sisa dapur (sampah organik lho!)ditiriskan dulu agar bebas
dari air/cairan dan bila ada bekas sayuran yang masih panjang-panjang diranjang terlebih dahulu.
2. Setelah dikumpulkan sampah rumah tangga tadi dimasukkan kedalam keranjang TAKAKURA
yang telah disiapkan serta dicampurkan dalam kompos jadi, dalam keranjang diaduk menggunakan
cetok sampai rata. Kemudian letakkan kembali bantal gabah 2 diatasnya dan tutup kembali keranjang
TAKAKURA tersebut.

3. Sampah-sampah RT sisa makanan dapur/sampah organik dibuang setiap hari ke dalam keranjang
TAKAKURA.
4. Setelah penuh dan cukup umur, kompos yang sudah matang dari TAKAKURA dikeluarkan untuk
kemudian dijemur sampai kering kemudian diayak menjadi kompos jadi. Untuk calon kompos yang
belum matang dikembalikan ke keranjang TAKAKURA.
2.11

PEMBUATAN BIANG BAKTERI MOL

(starter kompos)
o Bahan-bahan :
1. Berbagai jenis buah-buahan yang masak ( 5 kg )
2. Gula merah ( kg )
3. Air cucian beras ( 1 liter )
4. Alkohol 40 % ( 1 liter )
5. Cuka (1 sendok makan)
6. Gula pasir ( 1 ons )
Cara pembuatan :
Buah-buahan ditumbuk/ diparut
Saring/ peras untuk mengambil sarinya
Larutkan gula dan masukkan sari buah
Masukkan air beras, cuka dan alkohol
Simpan dalam botol yang tertutup selama 2 minggu ( jangan terkena sinar matahari )
Setelah dua minggu bahan siap digunakan
o Bahan-bahan :
1. Dedak 4 takaran

2. Sekam 1 takaran
3. Air gula 1 takaran
4. Pupuk kompos 1 takaran
Cara pembuatan :
Campurkan bahan-bahan diatas
Tambahkan air sehingga cukup lembab
Campuran dimasukkan ke dalam karung selama 1 1,5 hari hingga hangat
Diamkan hingga 4 7 hari
Masukkan ke dalam keranjang sampai memenuhi 2/3-nya
o Bahan-bahan :
Nasi (baru maupun basi) dibentuk bulat sebesar bola ping-pong sebanyak 4 buah.
Diamkan selama tiga hari sampai keluar jamur yang berwarna kuning, jingga, dan abu-abu.
Bola nasi jamuran kemudian dimasukkan ke dalam botol/wadah plastik.
Tuang air satu gayung yang sudah dicampur gula sebanyak empat sendok makan ke dalam
botol/wadah yang berisi nasi jamuran.
Diamkan selama satu minggu. Campuran nasi dan air gula tersebut akan berbau asem seperti
tape/peuyeum.
MOL (microorganisme local) sudah bisa digunakan sebagai starter untuk membuat kompos dengan
dicampur air.
Perbandingan MOL dengan air sebesar 1:5.