Anda di halaman 1dari 86

BAB I

IDENTITAS PASIEN

Nama

: An. A

Usia

: 4 tahun

Jenis kelamin

: Perempuan

Alamat

: Gribik, Kec Kebomas, Gresik

Pekerjaan Orang Tua

: Ayah : Buruh lepas pabrik


Ibu : Penjual makanan

Suku bangsa

: Jawa

Agama

: Islam

Sistem Pembiayaan

: BPJS-PBI

Tanggal pemeriksaan

: Senin, 23 Maret 2015, pukul 09.30 WIB

SUBYEKTIF
1.1. Keluhan Utama
-

Gatal-gatal pada sela-sela jari tangan dan kaki kanan dan kiri
sejak dua minggu yang lalu.

1.2. Keluhan Tambahan :


-

Luka dan perih pada daerah yang megalami gatal-gatal.

1.3. Riwayat Penyakit Sekarang :


Pasien datang bersama ibunya ke Poli MTBS Puskesmas
Kebomas dengan keluhan gatal pada sela-sela jari kedua tangan
dan

kedua kaki sejak dua minggu yang lalu. Gatal terutama

dirasakan saat malam hari hingga mengganggu tidur. Karena rasa


gatal tersebut pasien sering menggaruk kedua tangan dan kakinya
sehingga terbentuklah luka bekas garukan yang terasa perih.
Awalnya gatal dan bintik-bintik muncul pada sela-sela jari
tangan sejak dua minggu yang lalu selanjutnya menyebar ke kaki.
Semakin lama bintik-bintik semakin banyak dan semakin gatal
sehingga pasien menggaruknya dan pada akhirnya timbullah luka
bekas garukan di daerah tersebut. Gatal semakin lama semakin hebat
dan luas sehingga ibu pasien memutuskan untuk membawa anaknya
berobat ke puskesmas.
Tante pasien mengalami gejala yang mirip seperti pada
pasien sekitar sebulan yang lalu, keluhannya membaik dua minggu
yang lalu dan saat ini sudah membaik. Pasien sering dititipkan pada
tantenya saat kedua orang tuanya bekerja. Selain itu, adik pasien (2
tahun) juga mengalami gejala gatal-gatal di sela-sela jari kedua
tangan.

Sejak 3 hari sebelum dilakukan pemeriksaan, ibu pasien

mengatakan adik perempuan pasien sering menggraruk tangannya


terutama saat malam hari. Keluhan pada adik pasien tidak disertai

timbul bintik-bintik seperti pada pasien. Menurut penuturan ibu pasien,


beliau belum pernah memeriksakan anaknya sebelumnya dan tidak
pernah memberikan obat-obatan.
1.4. Riwayat Penyakit Dahulu :
-

Tidak pernah sakit seperti ini sebelumnya


Riwayat rhinitis alergika
: disangkal
Riwayat asma bronkiale : disangkal
Riwayat alergi
: disangkal

1.5. Riwayat Penyakit Keluarga :


-

Tante dan adik perempuan pasien memiliki riwayat sakit yang sama

dengan pasien
Riwayat rhinitis alergika
Riwayat asma bronkiale
Diabetes Melitus
Hipertensi

: disangkal
: disangkal
: disangkal
: disangkal

1.6Anamnesa bio-psiko-sosio-kulturo-spiritual :
- Pasien merupakan anak pertama dari dua bersaudara.
- Pasien tinggal di rumah bersama ayah, ibu, dan adiknya.
- Lingkungan rumah pasien padat penduduk dan
-

tidak

memenuhi standard lingkungan sehat.


Ukuran rumah sekitar 3x4 meter dan dihuni oleh 4 orang. Jendela
rumah ada satu buah dengan ukuran sekitar 0,3x2 meter dan tidak
dapat dibuka. Alas tidur menggunakan kasur spon tanpa sprei

dan yang jarang dicuci ataupun dijemur.


Air minum menggunakan air PDAM yang dimasak sampai
mendidih. Mandi menggunakan air PDAM, sebelum ada keluhan
gatal-gatal pada pasien, pasien dan keluarga pasien mandi dan
mencuci baju menggunakan air sumur. Sumur ini digunakan secara

bersama-sama oleh warga sekitar tempat tinggal keluarga pasien.


Penerangan menggunakan lampu (listrik) berjumlah 2 buah, 1 di

kamar mandi dan dapur, 1 di kamar.


Adik pasien mengalami gejala gatal-gatal yang sama dengan
pasien tiga hari belakangan.

Berganti pakaian sehari dua kali. Cuci pakaian seminggu sekali.


Penderita mandi dua kali sehari memakai sabun mandi batang.
Sabun

mandinya

digunakan

secara

bersama-sama

dengan

anggota keluarga yang lain.


Pasien memakai handuk yang terkadang digunakan bersama
dengan adiknya. Semenjak penderita mengeluhkan adanya luka
pada sela-sela jari, ibu penderita memisahkan handuk penderita

dengan adiknya.
Luas rumah pasien 3 x 4 meter. Keadaan rumah pasien : ventilasi
udara dan sinar matahari tidak mencukupi. Dalam rumah ada satu
jendela, yang sedikit dimasuki sinar matahari dan jendela tersebut
tidak dapat dibuka. Kamar mandi berada di dalam rumah, namun
tidak dilengkapi dengan jamban. BAB terkadang menggunakan
jamban

umum

namun

keluarga

penderita

lebih

sering

menggunakan jamban di rumah kakeknya. Rumah pasien tidak


memenuhi standard rumah sehat. Lingkungan rumah pasien
-

merupakan rumah yang padat penduduk.


Terdapat tempat sampah di dalam dan di depan rumah pasien,
lingkungan tempat tinggalnya kumuh.

1.8 Anamnesa Makanan :


- Jadwal makan penderita teratur tiga kali sehari.
- Sumber karbohidrat
: Nasi
- Sumber protein
: Tahu, tempe, ikan, ayam, telur
- Sumber lemak
: susu, daging
- Sumber vitamin dan mineral : Sayur dan buah (1 minggu sekali)
- Penderita minum air putih sekitar 1,5 liter per hari.

1.9 Status Imunisasi

Imunisasi dasar lenkapBAB II


OBYEKTIF
2.1 PEMERIKSAAN FISIK (Tanggal 20 Maret 2015)
1. Keadaan Umum
- Keadaan Umum

: Tampak sakit ringan

- Kesadaran

: Compos mentis (GCS 4-5-6)

- Status gizi

:Tinggi Badan

: 103 cm

Berat Badan

: 14 kg

BMI

: Normal

(Tabel

BB/TB

Direktorat Gizi Masyarakat 2002)


Vital Sign

: Nadi : 86x/menit, reguler


Tensi : tidak dievaluasi
RR

: 18x/menit, regular

Suhu : 36,4 oC, axiller


2. Kepala/Leher
a. Mata

: Mata cowong

: (-)

Conjungtiva anemis

: (-)

Sclera ikterik

: (-)

Pupil

: Bulat, isokhor 3mm/3mm

Refleks cahaya

: (+/+)

b. Hidung : Bentuk simetris


Deviasi septum nasi

: (-)

Sekret

: (-)

Pernafasan cuping hidung

: (-)

c. Telinga : Bentuk daun telinga


Otorhea
d. Mulut : Bibir sianosis

: Simetris
: (-)
: (-)

Lidah kotor/hyperemi/tremor

: (-)

Faring hyperemi

: (-)

e. Leher : Pembesaran KGB

: (-)

Pembesaran tiroid

: (-)

Bendungan v. Jugularis

: (-)

Deviasi trakea

: (-)

Otot bantu pernafasan

: (-)

3. Thorax
a. Paru

: Suara nafas vesikuler


Suara nafas tambahan : Rhonkhi -/Wheezing -/-

b. Jantung: S1 S2 tunggal Normal


Murmur (-), Gallop (-)
4. Abdomen : Inspeksi

= Bentuk datar simetris

Auskultasi = Bising usus (+) normal


Palpasi

= Nyeri tekan (-)


= Pembesaran Hepar, Lien, Renal (-)

Perkusi

= Tympani

5. Ekstremitas
- Akral hangat pada keempat ekstremitas
+
+
+
+
- Edema pada keempat ekstremitas
-

2.2 PEMERIKSAAN DERMATOLOGIS


a. Lokasi
: Regio dorsum manus dekstra dan sinistra
Efloresensi : Tampak papul pada jari, sela-sela jari, dan
punggung tangan, pada beberapa tempat tampak
pustul, eksoriasi, serta krustae yang berwarna
kuning-merah.
b. Lokasi
: Regio dorsum pedis dekstra dan sinistra
Efloresensi : Tampak papul pada jari, sela-sela jari, dan
punggung tangan, pada beberapa tempat tampak

pustul, eksoriasi, serta krustae yang berwarna


kuning-merah.

BAB III
DISKUSI UKP DENGAN POLA PBS DAN
WAWASAN KONSEP H.L. BLUM
3.1. Pembahasan dengan Pola Tutorial (PBS)
Problem masalah

Hipotesis

Mekanisme (SO-)

More info

IDK

Learning issue (-AP)

Resume

ANATOMI
KULIT
Definisi
Lapisan

A:
Skabies
dengan
infeksi sekunder (ektima)
Meliputi:
H.L. Bluum dengan
Pendekatan Holistic
(Bio-psiko-sosialkultural)

Anak
perempuan
usia 4 tahun
dengan
keluhan gatal
dan luka pada
sela-sela jari
tangan
dan
kaki
sejak
dua minggu
yang lalu.

dugaan
Anak perempuan usia
4 tahun
Gatal pada sela-sela
jari kedua tangan
dan kedua kaki,
terutama
pada
malam hari.
Tampak luka bekas
garukan
disertai
dengan
papul,
pustul, dan krustae.
Ada 2 orang yang
sering
kontak
dengan
pasien
mengalami
gejala
serupa.
Keluarga
belum
menerapkan PHBS.
Lingkungan
rumah
belum
memenuhi
standard kesehatan.

- Skabies

S:
Puskesmas:
Gatal gatal pada sela- 1. Lintas
dengan
unit/program
sela jari tangan dan
a. Loket
infeksi
kaki kanan dan kiri
pendaftaran
sejak
dua
minggu
yang
sekunb. Poli MTBS
lalu. Gatal terutama
c. Progam
der
dirasakan saat malam
PHBS
hari
hingga
(ektima)
d. Poli Kesling / mengganggu
tidur.
Atopic
Sanitasi
Pasien
menggaruknya
alergi
sehingga
bintik-bintik e. CHN
Papular
tersebut mengeluarkan f. Poli obat
2. Home visite
cairan.
uticaria
a. Memenuhi

Ada
anggota
keluarga
Lichen
kebu-tuhan lain yang mengalami
physiologi
planus
gejala mirip.
b. Memenuhi
Dermatitis
kebu-tuhan
O:
Herpetipsikologis
A. Fisik
c. Menghindari formis - Nadi 86x/menit
terjadinya
- RR 18x/menit
penyakit
-

SKABIES:
Definisi.
Epidemiologi
Etiologi.
Patogenesis.
Gejala klinis
Diagnosa
Diagnosa
Banding
Pengobatan
Farmakologi
scabiside,
CTM,
dan
amoxicillin
Pencegahan
Komplikasi
Prognosis

P: Tatalaksana
Komprehensif:
Promotive :
edukasi tempat
tinggal, PHBS
Preventive :
mandi 2x sehari,
pakaian direbus
dengan air
mendidih,
meningkatkan

Pemeriksaan:
A. Fisik
Nadi
86x/menit
RR 18x/menit
Suhu :36,4o
C axillar
BB : 14 Kg
TB : 103 cm

- Suhu :36,4oC axiller


- BB : 14 Kg TB : 103 cm
B. Dermatologis
Papul, pustul, krusta

d. Untuk
menghindari
terjadinya
kecelakaan 3. Pembimbing pada palmar dekstra &
akademik :
sinistra. Papul, pustul, a. Syarat
membakrusta pada dorsum
ngun Rumah
Sehat
di pedis dekstra & sinistra
pedesaan
b. Drug
Interaction
Alert

EKTIMA:
Definisi
Etiologi
Farktor
predisposisi
Gejala klinis
Diagnosa
banding
Pengobatan
RUMAH
SEHAT
-Bahan
bangunan
- Ventilasi
Pencahayaan
-Luas
bangunan
rumah

personal hygiene
Curative :
medikamentosa
(skabisid, CTM,
amoxicilin), nonmedikamentosa
(edukasi
pemakaian obat)
Rehabilitative :
edukasi tetangga
tentang skabies
melalui PKK

B.
Dermatologis
Papul, pustul,
krusta

pada

dorsum
manus
dekstra

&

sinistra. Papul
pada dorsum
pedis dekstra
& sinistra.

PHBS
- Teori perilaku

3.2.

Pembahasan dengan Pola H.L.Blum


Host : Anak berusia 4 tahun.
Agent : Sarcoptes scabiei
Environtment :
-

Lingkungan keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan

penderita
Lingkungan rumah yang memiliki keluhan yang sama dengan

penderita
Kontak antara pasien dengan keluarga dan atau tetangga atau

sebaliknya.
Sanitasi yang buruk
Health service

Promotif :
a)
edukasi tempat tinggal
b)
PHBS
Preventif :
a. Mandi dua kali sehari
b. Pakaian direbus dengan air mendidik kemudian dicuci dan
dijemur
c. Meningkatkan higienitas personal
Specific protection : - Curative : medikamentosa (skabisid, CTM, amoxicilin), nonmedikamentosa (edukasi pemakaian obat)
Rehabilitation : Edukasi tetangga tentang skabies melalui PKK

BAB IV
MORE INFO

10

4.1 Puskesmas
Penderita dinyatakan suspek skabies dengan infeksi sekunder oleh
dokter puskesmas Kebomas saat datang berobat puskesmas kebomas
untuk keluhan-keluhannya. Saat dilakukan pemeriksaan dermatologi, tidak
ditemukan adanya terowongan-terowongan pada kulit penderita, hal
tersebut dikarena adanya infeksi sekunder yang menyamarkan gejala
skabiesnya.
4.1.1 Lintas unit atau Program
Pada puskesmas Kebomas, dalam menangani adanya kasus yang
berhubungan dengan skabies, maka diperlukan pendekatan lintas
program antara lain :
4.1.1.1 Loket Pendaftaran
Pasien datang mendaftar di loket pendaftaran. Untuk pasien umum
maka pasien harus mengikuti dengan alur pendaftaran sebagai berikut :
1. Pasien mendaftar di loket atas nama sebagai pasien BPJS
2. Setelah itu pasien ditangani di POLI MTBS dengan didampingi
orang tua pasien.
3. Setelah dilayani, bila pasien perlu dirujuk di rumah sakit, dibuatkan
surat rujukan, disertai kartun rujukann dan foto kopi KTP.
4. Bila ada yang perlu tindakan laborat maka dibuat surat rujukan
laboratorium tanpa dipungut biaya
5. Bila ada yang perlu tindakan rawat inap selama puskesmas masih
bisa, dapat dimasukkan di ruang rawat inap
6. Setelah dilayani, bila tidak perlu tindakan dapat langsung ambil
obat di apotek
7. Bagi peserta keluarga miskin atau gakin, dari luar wilayah harus
disertai surat rujukan gakin, dari puskesmas yang mengirim

Penderita Datang

11

Penderita Mengambil
Nomer Antrian

Nomer Dipanggil

Penderita belum
pernah berobat
Pengumpulan :
Nomer Antrian
KTP
Kartu
Jamkesmas atau
Kartu Askes

Identitas dimasukkan
database komputer
Pembuatan RM

Penderita sudah
pernah berobat di
puskesmas
Pengumpulan :
Nomer Antrian
Kartu Kunjungan
Puskesmas
Fotokopi Kartu
Jamkesmas/Ask

Pencocokan database
dan pencarian RM
Ruang Tunggu

Pemberdayaan sumber daya dari puskesmas harus dilakukan agar


pasien tetap dapat melakukan pengobatan secara kontinyu sehingga
dapat memotivasi penderita untuk melakukan pengobatan secara kontinyu
mengingat penyakit pada penderita merupakan penyakit yang menular
yang sangat sering terjadi dan harus terus dikendalikan angka
penularannya.

4.1.1.2 Poli MTBS


Di poli MTBS pasien mendapatkan penanganan sesuai dengan
protap Puskesmas Kebomas untuk penderita skabies. Protapnya adalah
sebagai berikut :

12

1. Mendapatkan saleb skabisid, dioleskan pada malam hari setelah


mandi sore dan didiamkan seharian, baru digelontor dengan air air
bersih saat mandi sore, dilakukan selama tiga hari dan ulang satu
minggu kemudian.
2. Untuk keluhan gatalnya diberikan CTM 2 mg 3 kali per hari
3. Untuk infeksi sekundernya diberikan puyer amoksisilin, diberikan 3
kali sehari.
4. Diet dengan tinggi kalori tinggi protein
5. Dokter puskesmas melakukan rujukan bila :
Kondisi tetap memburuk setelah diberikan terapi

4.1.1.3 Promosi Kesehatan


Indikator nasional PHBS ada 10, yaitu :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi bayi ASI Eksklusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan Air Bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik di rumah
8. Makan sayur dan buah setiap hari
9. Melakukan aktifitas fisik setiap hari
10. Tidak merokok di dalam rumah
Keluarga pasien mendapat penyuluhan mengenai perilaku hidup
bersih dan sehat seperti mencuci tangan dengan sabun, mencuci
tangan sebelum makan, dan selalu menjaga kebersihan tubuh,
pakaian, serta lingkungan rumah. Selain itu, diberikan penyuluhan
untuk mengonsumsi makanan sehat dan bergizi agar sistem imun
tubuh dapat terpelihara dengan baik.
4.1.1.4 P3-Kesling-Sanitasi

13

4.1.1.4.1 Penilaian Rumah Sehat


Untuk memenuhi persyaratan rumah sehat yang sebagai salah pilar
pencegahan demam berdarah, maka diperlukan format skoring penilaian
rumah sehat berupa Kartu Rumah (terlampir) untuk melihat apakah
rumah dari orang tersebut sudah layak dikatakan sehat atau belum.
Penilaian ini membagi kriteria rumah sehat mula, madya, pra parnipura
dan parnipura.
4.1.1.4.2 Sanitasi
Keluarga
pasien

mendapatkan

pengetahuan

mengenai

penggunaan air yang bersih dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari yang


meliputi sanitasi lingkungan dan sanitasi perorangan. Sanitasi lingkungan
seperti menguras kamar mandi, menutup tampungan atau tandon air dan
mengubur barang-barang bekas yang merupakan sarang nyamuk, serta
untuk sanitasi perorangan dengan memberikan pendidikan masyarakat
sehat seperti mencuci tangan dengan benar.
4.1.1.5 Program Community Health Nursing (CHN)
Community Health Nursing (CHN) atau home visite merupakan
sarana kontak langsung antara masyarakat dan petugas kesehatan yang
memungkinkan petugas kesehatan untuk menilai rumah dan situasi
keluarga untuk memberikan perawatan yang diperlukan dan kegiatan
kesehatan yang terkait. Dalam melakukan kunjungan rumah, sangat
penting untuk mempersiapkan rencana kunjungan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat dan mencapai hasil yang baik. Tujuan antara lain
untuk memberikan perawatan kepada anggota keluarga yang sakit,
menilai

status

kesehatan

pasien

dan

keluarganya,

memberikan

pengajaran kesehatan mengenai pencegahan dan pengendalian penyakit,


membangun hubungan yang erat antara lembaega kesehatan dan
masyarakat terutama dalam promosi kesehatan, dan memanfaatkan
sistem rujukan dan untuk mempromosikan pemanfaatan pelayanan
kesehatan masyarakat.
Beberapa pedoman yang harus dipertimbangkan saat melakukan
kunjungan rumah :

14

1. Harus memperhatikan kebutuhan fisik, psikologis, dan kebutuhan


pendidikan individu dan keluarga.
2. Menilai penerimaan serta keterbukaan keluarga untuk layanan yang
akan diberikan dan minat serta kesediaan untuk bekerja sama
3. Sesuai kebijakan lembaga tertentu dan penekanan diberikan
terhadap program kesehatan mereka
4. Memperhitungkan jumlah tenaga kesehatan sudah terlibat dalam
perawatan keluarga tertentu
5. Melakukan evaluasi secara berkala dan bagaimana respons
keluarga tersebut
6. Menilai kemampuan pasien dan keluarganya untuk mengenali
kebutuhan

mereka

sendiri,

pengetahuan

mereka

untuk

memanfaatkan sumber daya mereka untuk keuntungan mereka.


a.
b.
c.
d.
e.

Tujuan dari CHN adalah :


Meningkatkan sanitasi
Mengontrol epidemi komunitas
Mencegah transisi dari infeksi
Memberikan edukasi tentang personal hygiene
Merencanakan pelayan kesehatan dan keperawatan

untuk

diagnosa dini, pencegahan dan penganan penyakit.

Sementara itu sasaran dari CHN adalah tercapainya layanan


kesehatan yang menyeluruh meliputi jiwa, raga dan spiritual yang meliputi
antara lain:
a.
b.
c.
d.
e.

Kesadaran akan pentingnya gizi


Kesadaran akan lingkungan yang bersih dan sehat
Penurunan tingkat stress
Kesehatan spiritual
Tanggung jawab pribadi

4.1.1.6 Kamar Obat


A. Definisi Pengelolaan Obat
Pengelolaan merupakan suatu proses yang dimaksudkan
untuk mencapai suatu tujuan tertentu yang dilakukan secara

15

efektif dan efisien. Proses pengelolaan dapat terjadi dengan baik


bila dilaksanakan dengan dukungan kemampuan menggunakan
sumber daya yang tersedia dalam suatu sistem.
Pengelolaan obat merupakan suatu rangkaian kegiatan yang
menyangkut aspek perencanaan, pengadaan, pendistribusian
dan penggunaan obat yang dikelola secara optimal untuk
menjamin tercapainya ketepatan jumlah dan jenis perbekalan
farmasi dan alat kesehatan, dengan memanfaatkan sumbersumber yang tersedia seperti tenaga, dana, sarana dan
perangkat lunak (metoda dan tata laksana) dalam upaya
mencapai tujuan yang ditetapkan diberbagai tingkat unit kerja.
B. Ruang Lingkup Pengelolaan Obat di Puskesmas
a. Perencanaan
Tujuan perencanaan adalah adalah untuk mendapatkan :
1. Perkiraan

jenis

dan

jumlah

obat

dan

perbekalan

kesehatan yang mendekati kebutuhan


2. Meningkatkan penggunaan obat secara rasional
3. Meningkatkan efisiensi penggunaan obat
Perencanaan adalah suatu proses kegiatan seleksi obat
dan perbekalan kesehatan untuk menentukan jumlah obat
dalam

rangka

pemenuhan

kebutuhan

Puskesmas.

Perencanaan kebutuhan obat untuk Puskesmas setiap


periode dilaksanakan oleh Pengelola Obat Publik dan
Perbekalan Kesehatan di Puskesmas. Data mutasi obat yang
dihasilkan oleh Puskesmas merupakan salah satu faktor
utama dalam mempertimbangkan perencanaan kebutuhan
obat tahunan. Oleh karena itu data ini sangat penting untuk
perencanaan kebutuhan obat di Puskesmas.
Ketepatan dan kebenaran data di Puskesmas akan
berpengaruh terhadap ketersediaan obat dan perbekalan

16

kesehatan secara keseluruhan di Kab/Kota. Dalam proses


perencanaan kebutuhan obat pertahun Puskesmas diminta
menyediakan data pemakaian obat dengan mengunakan
LPLPO. Selanjutnya Instalasi Farmasi Kabupaten/Kota yang
akan melakukan kompilasi dan analisa terhadap kebutuhan
obat Puskesmas diwilayah kerjanya.
Tujuan permintaan obat adalah Memenuhi kebutuhan obat
di masing-masing unit pelayanan kesehatan sesuai dengan
pola penyakit yang ada di wilayah kerjanya.
Sumber penyediaan obat di Puskemas adalah berasal dari
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Obat yang diperkenankan
untuk disediakan di Puskesmas adalah obat Esensial yang
jenis dan

itemnya ditentukan setiap tahun oleh Menteri

Kesehatan dengan merujuk kepada Daftar Obat Esensial


Nasional. Selain itu

sesuai dengan

kesepakatan global

maupun Keputusan Menteri Kesehatan No : 085 tahun 1989


tentang Kewajiban menuliskan Resep/ dan atau menggunkan
Obat Generik di Pelayanan Kesehatan milik Pemerintah,
maka hanya obat generik saja yang diperkenan tersedia di
Puskesmas. Adapun

beberapa

dasar pertimbangan dari

Kepmenkes tersebut adalah :


a. Obat generik sudah menjadi kesepakatan global untuk
digunakan di seluruh dunia bagi pelayan kesehatan publik.
b. Obat generik mempunyai mutu, efikasi yang memenuhi
standar pengobatan.
c. Meningkatkan cakupan pelayanan kesehatan publik bagi
masyarakat.
d. Menjaga keberlangsungan pelayanan kesehatan publik.
e. Meningkatkan efektifitas dan efisensi alokasi dana obat di
pelayanan kesehatan publik.

17

Berdasarkan UU No : 23 tahun 1992 tentang Kesehatan dan


PP No : 72 tahun 1999 tentang Pengamanan sediaan farmasi
dan alat kesehatan, yang diiperkenankan untuk melakukan
penyediaan

obat

adalah

tenaga

Apoteker.

Untuk

itu

Puskesmas tidak diperkenankan melakukan pengadaan obat


secara sendiri-sendiri.
Permintaan obat untuk mendukung pelayanan obat di
masing-masing Puskesmas diajukan oleh Kepala Puskesmas
kepada Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dengan
menggunakan format LPLPO, sedangkan permintaan dari sub
unit

ke

kepala

puskesmas

dilakukan

secara

periodik

menggunakan LPLPO Sub unit. Berdasarkan pertimbangan


efisiensi dan ketepatan waktu penyerahan obat kepada
Puskesmas, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat
menyusun petunjuk lebih lanjut mengenai alur permintaan dan
penyerahan obat secara langsung dari

Instalasi Farmasi

Kabupaten/Kota ke Puskesmas.
b. Penerimaan Obat
Tujuan :
Agar obat yang diterima sesuai dengan kebutuhan
berdasarkan permintaan yang diajukan oleh Puskesmas.
Penerimaan adalah suatu kegiatan dalam menerima obatobatan yang diserahkan dari unit pengelola yang lebih tinggi
kepada unit pengelola di bawahnya. Setiap penyerahan obat
oleh Instalasi Farmasi Kabupaten/ Kota, kepada Puskesmas
dilaksanakan setelah mendapat persetujuan dari Kepala Dinas
Kesehatan

Kabupaten/Kota

atau

pejabat

yang

diberi

wewenang untuk itu.


Semua petugas yang terlibat dalam kegiatan pengelolaan
obat bertanggung

jawab

atas

ketertiban

penyimpanan,

pemindahan, pemeliharaan dan penggunaan obat berikut

18

kelengkapan catatan yang menyertainya. Pelaksanaan fungsi


pengendalian distribusi obat kepada Puskesmas Pembantu
dan sub unit kesehatan lainnya merupakan tanggung jawab
Kepala Puskesmas induk.
Petugas penerimaan obat wajib melakukan pengecekan
terhadap obat-obat yang diserahkan, mencakup jumlah
kemasan/peti, jenis dan jumlah obat, bentuk obat sesuai
dengan isi dokumen (LPLPO) dan ditanda tangani oleh
petugas penerima/diketahui Kepala Puskesmas. Bila tidak
memenuhi syarat petugas penerima dapat mengajukan
keberatan.
Jika terdapat kekurangan, penerima obat wajib wajib
menuliskan jenis yang kurang (rusak, jumlah kurang dan lain lain). Setiap penambahan obat-obatan, dicatat dan dibukukan
pada buku penerimaan obat dan kartu stok.
c. Penyimpanan
Tujuan penyimpanan adalah :
Agar obat yang tersedia di Unit pelayanan kesehatan
mutunya dapat dipertahankan. Penyimpanan adalah suatu
kegiatan pengamanan terhadap obat-obatan yang diterima
agar aman (tidak hilang), terhindar dari kerusakan fisik
maupun kimia dan mutunya tetap terjamin.
d. Distribusi
Tujuan :
Memenuhi kebutuhan obat sub unit pelayanan kesehatan
yang ada di wilayah kerja Puskesmas dengan jenis, mutu,
jumlah dan tepat waktu. Penyaluran/distribusi adalah kegiatan
pengeluaran dan penyerahan obat secara merata dan teratur

19

untuk

memenuhi

kebutuhan

sub-sub

unit

pelayanan

kesehatan antara lain :


1. Sub unit pelayanan kesehatan di lingkungan Puskesmas
(kamar obat, laboratorium)
2. Puskesmas Pembantu
3. Puskesmas Keliling
4. Posyandu
5. Polindes
e. Pengendalian
Tujuan :
Agar tidak terjadi kelebihan dan kekosongan obat di unit
pelayanan kesehatan dasar
Pengendalian obat terdiri dari :
1. Pengendalian persediaan
2. Pengendalian penggunaan
3. Penanganan obat hilang
Pengendalian persediaan adalah suatu kegiatan untuk
memastikan tercapainya sasaran yang diinginkan sesuai
dengan strategi dan program yang telah ditetapkan sehingga
tidak terjadi kelebihan dan kekurangan/kekosongan obat di
unit pelayanan kesehatan dasar
C. Pengelolaan Obat di Puskesmas
Pengelola obat dalam manajemen persedian obat di
Puskesmas adalah Kepala Puskesmas, Petugas Gudang Obat
dan Petugas Obat di subunit pelayanan adalah:
1). Kepala Puskesmas
Kepala Puskesmas bertanggung jawab atas pelaksanaan
pengelolaan obat dan pencatatan pelaporan, mengajukan
obat

untuk

pengadaan

persediaan

kepada

Kepala

20

Dinas/Kepala

GFK,

menyampaikan

laporan

bulanan

pemakaian obat, melaporkan semua obat yang hilang,


rusak maupun

kadaluarsa

kepada

Kepala

Dinas

Kesehatan/Kepala GFK.
2). Petugas Gudang Obat
Petugas

gudang

obat

bertanggung

jawab

dalam

menerima obat dari GFK, menyimpan dan mengatur ruang


gudang

obat

serta

mengendalikan

persediaan

obat,

mendistribusikan obat untuk unit pelayanan obat, mengawasi


mutu obat, melakukan pencatatan danpelaporan. Petugas
gudang obat membantu Kepala Puskesmas dalam hal
menjaga keamanan obat, penyusunan persediaan, distribusi
dan pengawasan persediaan obat.
3). Petugas Obat di Sub Unit Pelayanan
Petugas obat pada sub unit pelayan bertanggung jawab
dalam menerima, menyimpan dan memelihara obat dari
gudang

obat

Puskesmas,

menerima

resep

dokter,

meracik/menyiapkan obat, mengemas obat, menyerahkan


obat dan memberikan informasi penggunaan obat, membuat
catatan dan laporan pemakaian obat untuk petugas gudang
obat serta mengamati mutu obat secara umum.
D. Pencatatan dan Pelaporan
Tujuan Pencatatan dan pelaporan adalah :
1. Bukti bahwa suatu kegiatan yang telah dilakukan
2. Sumber data untuk melakukan pengaturan dan pengendalian
3. Sumber data untuk pembuatan laporan
Pencatatan

dan

pelaporan

data

obat

di

Puskesmas

merupakan rangkaian kegiatan dalam rangka penatalaksanaan


obat-obatan secara tertib, baik obat-obatan yang diterima,

21

disimpan, didistribusikan dan digunakan di Puskesmas dan atau


unit pelayanan lainnya.
Puskesmas

bertanggung

jawab

atas

terlaksananya

pencatatan dan pelaporan obat yang tertib dan lengkap serta


tepat waktu untuk mendukung pelaksanaan seluruh pengelolaan
obat.
4.2 Home Visit
Saat dilakukan kunjungan ke rumah pasieh kondisi rumahnya tidak
memeuhi standr rumah sehat, begitu juga kondisi lingkungan tempat
tinggal pasien tidak memenuhi standr lingkungan sehat. Keluarga pasien
belum menerepkan PHBS.

BAB V
I DONT KNOW
5.1 Kulit

5.1.1 Anatomi Kulit


Kulit

adalah

membatasinya

dari

organ

tubuh

lingkungan

yang

hidup

terletak
manusia.

paling
Luas

luar
kulit

dan
orang

dewasa1,5 m2 dengan berat kira-kira 15% berat badan. Kulit merupakan


organ yang esensial dan vital serta merupakan cermin kesehatan dan
kehidupan. Kulit juga sangat kompleks, elastis dan sensitif, bervariasi
pada keadaan iklim, umur, seks, ras, dan juga bergantung pada lokasi
tubuh.
Demikian pula kult bervariasi mengenai lembut, tipis dan tebalnya.
Kulit yang elastis dan longgar terdapat pada palpebra, bibir, dan

22

preputium, kulit yang tebaldan tegang terdapat di telapak kaki dan tangan
dewasa. Kulit yang tipis terdapat pada muka. Kulit yang lembut terdapat
pada leher dan badan, sedangkan kulit yang berambut kasar terdapat
pada kepala.
5.1.2 Lapisan Kulit
1.

Lapisan Epidermis
a. Stratum korneum
Adalah lapisan kulit yang paling luar dan terdiri atas beberapa
lapisan sel-sel gepeng yang mati, tidak berinti, dan protoplasmanya
telah berubah menjadi keratin (zat tanduk).
b. Stratum lusidum
Terdapat langsung di bawah lapisan korneum, merupakan lapisan
sel-sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma yang berubah
menjadi protein yang disebut eledin. Lapisan tersebut tampak lebih
jelas di telapak tangan dan kaki.
c. Stratum granulosum
Merupakan dua atau tiga lapis sel-sel gepeng dengan sitoplasma
berbutir kasar dan terdapat inti diantaranya. Butir-butir kasar ini
terdiri atas keratohialin. Mukosa biasanya tidak mempunyai lapisan
ini. Stratum granulosum juga tampak jelas pada telapak tangan dan
kaki.
d. Stratum spinosum
Terdiri atas beberapa lapis sel yang berbentuk poligonal yang
besarnya

berbeda-beda

karena

adanya

proses

mitosis.

Protoplasamanya jernih karena banyak mengandung glikogen, dan


inti terletak di tengah-tengah. Sel-sel ini makin dekat ke permukaan
makin gepeng bentuknya. Diantara sel-sel stratum spinosum
tersebut jembatan-jembatan antar sel (intercelullar bridges) yang
terdiri atas protoplasma dan tonofibril

atau keratin. Perlekatan

antar jembatan-jembatan ini membentuk penebalan bulat kecil yang


disebut nodulus Bizzozero. Di antara sel-sel spiosum terdapat pula

23

sel Langerhans. Sel-sel stratum spinosum mengandung banyak


glikogen.
e. Stratum basale
Terdiri atas sel-sel berbentuk kubus

(kolumnar) yang tersusun

vertikal padaperbatasan dermo-epidermal berbaris seperti pagar


(palisade). Lapisan ini merupakan lapisan epidermis yag paling
bawah. Sel-sel basal ini mengadakan

mitosis dan berfungsi

reproduktif. Lapisan ini terdiri atas dua jenis sel yaitu :


- Sel-sel yag berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti
lonjong dan besar, dihubungkan satu dengan yang lain oleh
-

jembatan antar sel


Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan
sel-sel berwarna muda, dengan sitoplasma basofilik dan inti
gelap, dan mengandung butir pigmen (melanosomes)

2.

Lapisan Dermis
Adalah lapisan dibawah epidermis yang jauh lebih tebal daripada
epidermis. Lapisan ini terdiri atas lapisan elastik dan fibrosa padat
dengan elemen-elemen seluler dan folikel rambut. Secara garis besar
dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
a. Pars papilare
Merupakan bagian yang menonjol ke epidermis, berisi ujung
serabut saraf dan pembuluh darah.
b. Pars retikulare
Merupakan bagian dibawahnya yang menonjol ke arah subkutan,
bagian ini terdiri atas serabut-serabut penunjang misalnya serabut
kolagen, elastin, dan retikulin. Dasar (matriks) lapisan ini terdiri atas
cairan kental asam hialuronat dan fibroblas. Serabut kolagen
dibentuk

oleh

fibroblas,

membentuk

ikatan

(bundel)

yangmengandung hidroksiprolin dan hidroksisilin. Kolagen muda


bersifat lentur dengan bertambah umurnmenjadi kurang larut
seingga makin stabil. Retikulin mirip kolagen muda. Serabut elastin
biasanya

bergelombang,

berbentuk

amorf

dan

mudah

mengembang serta lebih elastis.

24

3.

Lapisan Subkutis
Merupakan lanjutan dari dermis, terdiri atas jaringan ikat longgar
berisi sel-sel lemak didalamnya. Sel-sel lemak merupakan sel bulat,
besar, dengan inti terdesak ke pinggir sitoplasma lemak yang
bertambah.
Sel-sel ini membentuk kelompok yangdipisahkan satu dengan yang
lain oleh trabekula yang fibrosa. Lapisan sel-sel lemak disebut
panikulus adiposa, berfungsi sebagai cadangan makanan. Di
lapisan ini terdapat ujung-ujung saraf tepi, pembluh darah, dan
getah bening. Tebal tipisnya jaringan lemaktidak sama bergantung
pada lokalisasinya. Di abdomen dapat mencapai ketebalan 3 cm, di
kelopak mata dan penis sangat sedikit.
Vaskularisasi di kulit diatur oleh dua pleksus, yaitu pleksus yang
terletak di bagian atas dermis (pleksus superfisial) dan yang
terletak di subkutis (pleksus profunda). Pleksus yang di dermis
bagian atas mengadakan anastomosis di papil dermis, pleksus
yang

di

subkutis

dan

pars

retikulare

juga

mengadakan

anastomosis, di bagian ini pembuluh darah berukuran lebih besar.


Bergandengan dengan pembuluh darah terdapat saluran getah
bening.
5.2 Skabies
5.2.1 Definisi Skabies
Skabies adalah infestasi pada epidermis oleh kutu Sarcoptes
scabiei varietas Hominis. (Marks,2006). Infestasi tersebut disebabkan oleh
adanya sensitasi terhadap Sarcoptes scabiei dan produknya (Harahap,
2000). Penyakit ini disebut juga : the itch, seven year itch, Norwegian itch,
gudikan, gatal agogo, budukan atau penyakit ampere. (Handoko, 2011).
Penyakit ini menular, dapat terjadi bersamaan dengan penyakit
menular seksual (Hunter,2003). Keluhan yang paling menonjol adalah
keluhan gatal pada kulit, terutama pada malam hari. Kutu Sarcoptes
scabiei, filum Arthopoda, kelas Ackarina, superfamili Sarcoptes, memiliki

25

host selain manusia, yaitu host babi oleh S.scabiei var suis, host kambing
oleh S.scabiei var caprae, dan pada host biri-biri oleh S.scabiei var ovis.
(Handoko,2008).
5.2.2 Epidemiologi Skabies
Penyebaran / distribusi masalah kesehatan disini adalah menunjuk
kepada pengelompokan masalah kesehatan menurut suatu keadaan
tertentu. Keadaan tertentu yang dimaksudkan dalam epidemiologi adalah
menurut cirri-ciri manusia (person), tempat (place), dan waktu (time).
5.2.2.1. Distribusi Penyakit Skabies Menurut Orang
Skabies merupakan penyakit endemik pada banyak masyarakat
dengan prevalensi yang bervariasi (Sungkar, 1995). Penyakit ini dapat
mengenai semua ras dan golongan di seluruh dunia. Penyakit skabies
banyak dijumpai pada anak dan orang dewasa muda, insidennya sama
terjadi pada pria dan wanita. (Harahap, 2000).
Menurut

Departemen

Kesehatan

RI

prevalensi

skabies

di

Puskesmas seluruh Indonesia pada tahun 1986 adalah 4,6%-12,9%, dan


skabies menduduki urutan ketiga dari 12 penyakit kulit tersering. Di
Bagian Kulit dan Kelamin FKUI/RSCM pada tahun 1988, dijumpai 734
kasus skabies yang merupakan 5,77% dari seluruh kasus baru. Pada
tahun 1989 dan 1990 prevalensi skabies adalah 6% dan 3,9% (Sungkar,
1995).
5.2.2.2. Distribusi Penyakit Skabies Menurut Tempat
Distribusi skabies merata di seluruh dunia, tanpa melihat faktor usia,
ras, jenis kelamin atau status kesehatan seseorang. Insiden skabies di
negara berkembang menunjukkan siklus fluktuasi yang sampai saat ini
belum dapat dijelaskan. (Harahap, 2000)

26

Dibeberapa negara yang sedang berkembang prevalensi skabies


sekitar 6 % - 27 %. Prevalensi skabies sangat tinggi pada lingkungan
dengan tingkat kepadatan penghuni yang tinggi dan kebersihan yang
kurang memadai (Sungkar, 1995). Insiden skabies pada negara
berkembang terutama pada usia anak dan dewasa muda, sedangkan
pada negara berkembang insiden skabies sama pada semua usia (Orkin,
1997).
Penyakit ini endemis pada anak usia sekolah, hiperendemis pada
populasi pedesaan di negara dunia ketiga, dan pada pasien geriatri yang
jarang beraktivitas fisik di panti jompo, pasien HIV/AIDS, dan pasien
immunocompromised (seperti sindroma Down) merupakan predisposisi
infestasi kutu dalam jumlah besar. (Mark,2006)
5.2.2.3. Distribusi Penyakit Skabies Menurut Waktu
Scabies berlangsung 2 sampai 6 minggu sebelum serangan gatal
muncul pada orang yang sebelumnya belum pernah terpajan. Orang yang
sebelumnya pernah menderita scabies maka gejala akan muncul 1 4
hari setelah infeksi ulang.
Skabies bersifat endemik, dimana Interval antara akhir dari suatu
endemik dan permulaan epidemik berikutnya kurang lebih 10-15 tahun
(Harahap, 2000), hal tersebut diduga karena adanya herd immunity
terhadap infestasi ini. (Hunter,2003).

5.2.2.4. Faktor faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Infeksi


Skabies
Penularan penyakit Skabies dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu
agent(virus), host (pejamu), dan lingkungan, yaitu :

27

1. Agent (penyebab penyakit) adalah semua unsur atau elemen hidup


atau mati yang kehadirannya, apabila diikuti dengan kontak yang
efektif

dengan

memungkinkan

manusia
akan

rentan

menjadi

dalam

stimuli

untuk

keadaan
mengisi

yang
dan

memudahkan terjadinya suatu proses penyakit. Dalam hal ini yang


menjadi agent dalam penyebaran skabies adalah Sarcoptes scabiei
varietas hominis (Harahap, 2000).
2. Karakteristik host (pejamu) adalah manusia yang kemungkinan
terjangkit penyakit Skabies. Faktor-faktor yang terkait dalam
penularan skabies pada manusia yaitu :
i.
Kelompok umur akan mempengaruhi peluang terjadinya
ii.

penularan Skabies.
Jenis kelamin,

3. Lingkungan, lingkungan yang terkait dalam penularan penyakit


skabies antara lain lingkungan yang padat penduduk dan lembab.
5.2.3. Etiologi
Penyakit skabies disebabkan oleh tungau Sarcoptes scabiei var.
hominis, tungau ini termasuk filum Arthropoda , kelas Arachnida, ordo
Acarina, superfamili Sarcoptes. Pada manusia disebut Sarcoptes scabiei
var. hominis. Selain itu terdapat Sarcoptes scabiei yang lain, misalnya
pada kambing dan babi (Handoko, 2009). Beberapa tungau sarcoptid
yang bersifat obligat parasit pada kulit antara lain Sarcoptidae (mamalia),
Knemidokoptidae (burung/unggas) dan Teinocoptidae (kelelawar). Famili
Sarcoptidae yang mampu menular ke manusia, yaitu S.scabiei, Notoeders
cati (kucing) dan Trixacarus caviae (marmut) (Mc CARTHY et al ., 2004).
Morfologi
Secara morfologi, Sarcoptes scabiei merupakan tungau kecil
berbentuk oval, memiliki punggung yang cembung, dan bagian perutnya
rata. Tungau ini translusen, berwarna putih kotor, dan tidak bermata
(Handoko, 2009). Ukuran tungau betina berkisar 300 - 500 x 230 - 340

28

m, sedangkan tungau jantan berukuran lebih kecil, yakni 200 213 - 285 x
160 - 210 m. Permukaan tubuhnya bersisik dan dilengkapi dengan
kutikula

serta

banyak

dijumpai

garis-garis

paralel

yang

berjalan

transversal (CHANDLER dan READ, 1989; URQUHART et al ., 1989).


Bentuk dewasa mempunyai 4 pasang kaki, 2 pasang kaki di depan
sebagai alat untuk melekat dan 2 pasang kaki kedua pada betina berakhir
dengan rambut, sedangkan pada yang jantan pasangan kaki ketiga
berakhir dengan rambut dan keempat berakhir dengan alat perekat
(Handoko, 2009).

Gambar 1. Morfologi Skabies dan Telurnya; Sumber (CHANDLER dan


READ, 1989; URQUHART et al ., 1989).

29

Gambar 2. Morfologi Skabies Dewasa


Spesies tungau ini pada tiap-tiap jenis hewan hanya berbeda dalam
hal ukurannya, sedangkan morfologinya sulit untuk dibedakan . FAIN
(1978) mempelajari perbandingan morfologi antara varian S.scabiei untuk
mengidentifikasi spesies dan subspecies dari inang yang bervariasi .
Sebanyak tiga puluh spesies dan lima belas varietas telah mampu
didefinisikan ke dalam genus Sarcoptes . Ukuran tungau betina pada
karnivora lebih kecil (320 - 390 x 250 - 300 m) daripada tungau pada
manusia (390 - 500 x 290 420m). Hasil penelitian FAIN (1978)
menunjukkan bahwa hanya ada satu spesies di dalam genus Sarcoptidae
dan adanya beberapa varian di dalam spesies akibat terjadinya
interbreeding

yang

terus

menerus

antara

populasi

tungau

yang

menginfestasi manusia dan hewan.


Siklus Hidup
Sarcoptes scabiei mengalami empat tahap dalam siklus hidupnya :
telur, larva, nimfa dan dewasa. Betina mengeluarkan 2-3 telur per hari
saat mereka bersembunyi di bawah kulit. Telur berbentuk oval dan
panjangnya 0,10-0,15 mm dan menetas dalam 3 - 4 hari. Setelah telur
menetas, larva bermigrasi ke permukaan kulit dan menggali ke dalam

30

stratum korneum yang intak untuk membangun liang pendek yang hampir
tak terlihat, disebut molting pouches / kantung perubahan kulit. Tahap
larva, yang muncul dari telur, memiliki 3 pasang kaki dan tahap ini
berlangsung sekitar 3 - 4 hari. Setelah tahap larva, nimfa memiliki 4
pasang kaki. Bentuk perubahan ke nimfa yang sedikit lebih besar ini
terjadi sebelum berubah menjadi bentuk dewasa. Larva dan nimfa
mungkin sering ditemukan dalam molting pouches atau folikel-folikel
rambut dan terlihat mirip dengan bentuk dewasanya, hanya lebih kecil.
Bentuk dewasa : bulat, seperti tungau tanpa mata berkantung. Betina
0,30-0,45 mm dan 0,25-0,35 mm lebar, dan jantan sedikit lebih besar dari
setengah ukuran betinanya. Perkawinan terjadi setelah jantan yang aktif
menembus molting pouches dari betina dewasa. Perkawinan terjadi
hanya sekali dan menjadikan betina subur selama sisa hidupnya. Betina
subur meninggalkan molting pouches mereka dan berjalan di permukaan
kulit sampai mereka menemukan tempat yang cocok untuk membuat liang
permanen. Sementara di permukaan kulit, tungau memegang kulit dengan
menggunakan pulvilli pengisap yang melekat pada dua pasang kaki paling
anterior. Ketika betina subur menemukan lokasi yang cocok, ia mulai
membuat

liang

berkelok-kelok

spesifik,

sambil

menggali

betina

meletakkan telurnya. Setelah liang dalam kulit selesai, betina menetap


disana dan terus memperpanjang liang dan bertelur selama sisa hidupnya
(1-2 bulan). Pada kondisi yang paling menguntungkan, sekitar 10% dari
telurnya akhirnya tumbuh menjadi tungau dewasa. Jantan jarang terlihat;
mereka membuat lubang dangkal sementara di kulit untuk makan sampai
mereka menemukan liang betina dan pasangannya. (CDC, 2010)
Penularan terjadi terutama dengan perpidahan betina subur dari
orang-ke-orang, kontak kulit ke kulit. Kadang-kadang dapat terjadi
penularan melalui benda-benda (misalnya, tempat tidur atau pakaian).
Scabies manusia sering ditemukan diantara jari-jari dan pergelangan
tangan. (CDC, 2010)

31

Gambar 3. Siklus Hidup Skabies; Sumber CDC 2010


Daya Tahan Hidup Dan Infestasi
ARLIAN et al. (1984a) membuktikan bahwa tungau pada manusia
dan anjing dapat bertahan hidup selama 24-36 jam dalam kondisi suhu
ruangan (suhu 21C, kelembapan 40-80%) serta masih mampu untuk
menginfestasi ulang induk semangnya . Tungau hidup berhasil ditemukan
oleh ARLIAN et a! . (1988) di rumah penderita skabies dan masih
mempunyai daya infestasi yang cukup tinggi. Penelitian lain menyebutkan
bahwa tungau manusia mampu bertahan hidup selama tiga hari di luar
induk semangnya dan mampu menginfestasi para pekerja laundry,
sedangkan tungau pada hewan terbukti mampu menginfestasi manusia
namun diduga tidak mampu menyelesaikan siklus hidupnya (THOMAS et
al., 1987; MEINKING dan TAPLIN, 1990).
5.2.4. Faktor resiko
Ada banyak faktor yang menunjang perkembangan penyakit ini,
antara lain: sosial ekonomi yang rendah, higiene yang buruk, hubungan

32

seksual

yang

sifatnya

promiskuitas,

kesalahan

diagnosis,

dan

perkembangan demografik serta ekologik. Penyakit ini dapat dimasukkan


dalam penyakit hubungan seksual (Handoko, 2011).
Menurut CDC, Skabies dapat menular dengan mudah melalui
orang yang terinfestasi ke anggota keluarga dan pasangan seksualnya.
Skabies pada orang dewasa sering diperoleh secara seksual. Skabies
umumnya ditemukan di seluruh dunia; dapat menyerang orang dari semua
ras dan kelas sosial. Skabies dapat menyebar dengan mudah dalam
kondisi ramai di mana tubuh saling berdekatan dan kontak kulit adalah
umum. Tempat-tempat seperti panti jompo, fasilitas perawatan, dan
penjara merupakan tempat-tempat yang sering terjadi wabah scabies.
Fasilitas penitipan anak juga merupakan tempat umum terjadinya scabies
infestasi. (CDC, 2010)

5.2.5 Cara Penularan


a. Kontak langsung (kontak kulit dengan kulit), misalnya berjabat tangan,
tidur bersama, dan berhubungan seksual.
b. Kontak tak langsung (melalui benda), misalnya pakaian, handuk,
sprei, bantal, dan lain-lain.
Penularannya biasanya oleh Sarcoptes scabiei betina yang sudah
dibuahi atau kadang-kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes
scabiei var. animalis yang kadang-kadang dapat menulari manusia,
terutama pada mereka yang banyak memelihara binatang peliharaan,
misalnya anjing (Handoko, 2011)

33

Gambar 4. Cara Penularan Sarcoptes scabiei ; Sumber CDC 2010


.
5.2.6 Patogenesa
Penularan biasanya oleh Sarcoptes scabei betina yang sudah
dibuahi atau kadang kadang oleh bentuk larva. Dikenal pula Sarcoptes
scabei var animals yang kadang dapat menulari manusia, terutama pada
mereka yang banyak memelihara anjing.
Kelainan kulit dapat disebabkan tidak hanya oleh tungau scabies,
tetapi oleh penderita sendiri akibat garukan. Gatal yang terjadi disebabkan
oleh sensitisasi terhadap sekreta atau ekskreta oleh tungau yang
memerlukan waktu 2-4 minggu setelah infestasi. Pada saat itu kelainan
pada kulit menyerupai dermatitis dengan ditemukannya papul, vesikel,
urtika dan lain lain . Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta,
dan infeksi sekunder, (Abdullah, 2009). Kelainan kulit dan gatal yang
terjadi dapat lebih luas dari lokasi tungau (Handoko, 2001).
Tungau dapat hidup di dalam terowongan di tempat predileksi, yaitu
jari tangan, pergelangan tangan bagian ventral, siku bagian luar, lipatan

34

ketiak depan, umbilicus, gluteus, ekstremitas, genitalia eksterna pada lakilaki, dan areola mammae pada perempuan. Pada bayi, skabies dapat
menyerang telapak tangan dan telapak kaki (Harahap, 2000).
Pada tempat predileksi dapat ditemukan terowongan berwarna
putih abu-abu dengan panjang yang bervariasi, rata-rata 1 mm, berbentuk
lurus atau berkelok-kelok. Terowongan ditemukan bila belum terdapat
infeksi sekunder. Di ujung terowongan dapat ditemukan vesikel atau papul
kecil (Handoko, 2011). Terowongan lebih banyak terdapat di daerah yang
berkulit tipis dan tidak banyak mengandung folikel pilosebasea (Harahap
M., 2000). Adanya periode asimptomatis bermanfaat sekali bagi parasit
ini, karena dengan demikian mereka mempunyai waktu untuk membangun
dirinya sebelum hospes membuat respons imunitas. Setelahnya, hidup
mereka menjadi penuh bahaya karena terowongannya akan digaruk dan
tungau -tungau serta telur mereka akan hancur. Dengan cara ini hospes
mengendalikan populasi tungau dan pada kebanyakan penderita skabies,
rata-rata jumlah tungau betina dewasa pada kulitnya tidak lebih dari
selusin (Graham, 2005).

5.2.7 Manifestasi Klinis


Gatal merupakan gejala utama sebelum gejala klinis lainnya
muncul. Rasa gatal biasanya hanya pada lesi tetapi pada skabies kronis
gatal dapat dirasakan pada seluruh tubuh. Pada orang dewasa, gejala
yang timbul antara lain ada rasa gatal yang hebat pada malam hari, ruam
kulit yang terjadi terutama di bagian selasela jari tangan, bawah ketiak,
pinggang,

sekeliling

siku,

areola

mammae,

permukaan

depan

pergelangan tangan, skrotum, dan penis (Johnston G dan Sladden M,


2005).
Pada bayi dan anak-anak, lesi biasanya mengenai wajah, kepala,
leher, kulit kepala, dan telapak kaki. Pada bayi paling umum lesi yang
nampak adalah papul-papul dan vesikopustul. Vesikopustul sering

35

nampak di kulit kepala dan telapak kaki (Johnston G. dan Sladden M .,


2005).
Menurut Handoko (2011) ada empat tanda kardonal dari penyakit
skabies, yakni antara lain sebagai berikut:
a. Pruritus nokturna, artinya gatal pada malam hari yang disebabkan
karena aktivitas tungau ini lebih tinggi pada suhu yang lebih lembab
dan panas.
b. Penyakit ini menyerang manusia secara kelompok, misalnya dalam
sebuah keluarga biasanya seluruh anggota keluarga terkena
infeksi. Begitu pula dalam sebuah perkampungan yang padat
penduduknya, serta kehidupan di pondok pesantren, sebagian
besar tetangga yang berdekatan akan diserang oleh tungau
tersebut. Dikenal keadaan hiposensitisasi, yang seluruh anggota
keluarganya terkena, tetapi tidak memberikan gejala. Penderita ini
bersifat sebagai pembawa (carrier).
c. Adanya terowongan (kunikulus) pada tempat-tempat predileksi
yang bewarna putih keabu-abuan, berbentuk garis lurus atau
berkelok, rata-rata panjang satu centimeter, pada ujung terowongan
itu ditemukan papul atau vesikel. Jika timbul infeksi sekunder ruam
kulitnya menjadi polimorf (pustul, ekskoriasi, dan lain-lain). Tempat
predileksinya

biasanya

merupakan

tempat

dengan

stratum

korneum yang tipis, yaitu sela-sela jari tangan, pergelangan tangan,


siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, aerola mame (wanita),
umbilicus, bokong, genetalia eksterna (pria), dan perut bagian
bawah. Pada bayi dapat menyerang telapak tangan dan telapak
kaki.

36

Gambar 5. Manifestasi Terowongan pada Kulit Penderita Skabies


d. Menemukan tungau, merupakan hal yang paling diagnostik dapat
ditemukan satu atau lebih stadium hidup tungau ini.

Gambar 6. Gambaran Morfologi Tungau untuk Diagnostik Skabies

Diagnosis dapat dibuat dengan menemukan 2 dari 4 tanda kardinal tersebut


(Handoko, 2009).

37

Gambar 7. Manifestasi Klinis dari Skabies

5.2.8 Diagnosis
Dengan garukan dapat timbul erosi, ekskoriasi, krusta, dan infeksi
sekunder. Di daerah tropis, hampir setiap kasus skabies terinfeksi
sekunder oleh Streptococcus aureus atau Staphylococcus pyogenes
(Harahap, 2000).
Pada penderita yang baru pertama kali terjangkit Sarcoptes scabiei
biasanya baru menunjukkan gejala 2-6 minggu setelah terinfeksi, pada
fase ini seorang penderita sudah mampu menularkan skabies walaupun
gejala klinisnya belum muncul. Jika sebelumnya psien pernah terjangkit
skabies, maka gejala pada serangan kedua akan muncul lebih awal, yakni
sekitar 1-4 hari setelah infeksi (CDC, 2010).
Diagnosis ditegakkan atas dasar:
1. Adanya terowongan yang sedikit meninggi, berwarna keabu-abuan,
berbentuk garis lurus atau berkelok-kelok, panjangnya beberapa

38

millimeter sampai 1 cm, dan pada ujungnya tampak vesikula,


papula, atau pustula. Pada vesikel atau pustul berisi tungau
terdapat pada akhir dari terowongan, khususnya pada anak-anak
dan bayi. Untuk menemukan terowongan, teteskan tinta india atau
grnytian violet pada area infestasi, lalu lap dengan alkohol, akan
tampak terowongan berisi tinta.
2. Tempat predileksi yang khas adalah sela jari, pergelangan tangan
bagian volar, siku bagian luar, lipat ketiak bagian depan, areola
mammae, sekitar umbilicus, abdomen bagian bawah, dan genitalia
eksterna pria dan pantat. Pada orang dewasa jarang terdapat di
muka dan kepala, kecuali pada penderita

immunosupresif,

sedangkan pada bayi, lesi dapat terjadi di seluruh permukaan kulit.


Variasi erupsi tergantung pada lama infestasi, sensitisasi
sebelumnya, dan penanganan sebelumnya. Hal tersebut juga
bervariasi

tergantung

iklim

dan

status

imunologik. Tampak

likenifikai, impetigo, dan furunkulosis. Lesi bulosa berisi eosinofil,


menyerupai pemfigoid bulosa. Dapat ditemukan immunofluoresensi
positif.
Nodul merah pucat tampak pada skabies aktif, diameter 3-5 mm
bisa gatal ataupun tidak, dan terdapat pada stratum korneum penis
dan vulva. Steroid intralesi, tar, atau eksisi merupakan metode
penanganan untuk kondisi tersebut, yang disebut sebagai nodular
skabies.
Skabies berkrusta (norwegian atau hiperkeratotik) ditemukan pada
pasien immunokompromais atau keterbelakangan mental, termasuk
gangguan neurologis, sindroma down, transplatasi organ, leukimia
sel T, Hansens disease, AIDS. Pada pasien-pasien ini, infestasi
dalam bentuk berat dan berkrusta. Krusta ditumbuhi banyak tungau
dan melibatkan wajah dan kulit kepala. Hanya terasa sedikit gatal.
Pada ujng jari bengkak dan berkrusta. Terdapat garis-garis yang
parah pada area genital dan pantat. Pada area yang sering

39

mendapat tekanan, merupakan tempat predileksi untuk lesi


keratotik berat
3. Penyembuhan cepat setelah pemberian obat antiskabies topikal
yang efektif.
4. Adanya gatal hebat pada malam hari. Bila lebih dari satu anggota
keluarga menderita gatal, harus dicurigai adanya skabies. Gatal
pada malam hari disebabkan oleh temperatur tubuh menjadi lebih
tinggi sehingga aktivitas kutu meningkat.

Diagnosis pasti baru dapat ditegakkan bila ditemukan kutu dewasa,


telur, larva dari dalam terowongan. Cara mendapatkannya adalah dengan
membuka terowongan dan mengambil parasit dengan menggunakan
pisau bedah atau jarum steril. Kutu betina akan tampak sebagai bintik
kecil gelap atau keabuan di bawah vesikula. Di bawah mikroskop dapat
terlihat bintik mengkilat dengan pinggiran hitam. Cara lain ialah dengan
meneteskan minyak immersi pada lesi dan epidermis di atasnya dikerok
secara perlahan-lahan. Tangan dan pergelangan tangan merupakan
tempat terbanyak ditemukan kutu, kemudian berturut -turut siku, genital,
akhirnya aksila (Harahap M., 2000). Cara menemukan tungau antara lain :
1. Carilah mula-mula terowongan, kemudian pada ujung yang
terlihat papul atau vesikel dicongkel dengan jaarum dan
diletakkan diatas kaca objek, lalu ditutup dengan kaca
penutup dan dilihat dengan mikroskop cahaya.
2. Dengan cara menyikat dengan sikat dan ditampung di atas
selembar kertas putih dan dilihat dengan kaca pembesar
3. Dengan membuat biopsi irisan. Caranya : lesi dijepit dengan
dua jari, kemudian dibuat irisan tipis denngan pisau dan
diperiksa dengan mikroskop cahaya. Dengan biopsi eksisional
dan diperiksa dengan pewarnaan H.E (Amirudin, 2003).

5.2.9 Pembantu Laboratorium

40

Diagnosis pasti skabies ditegakkan dengan ditemukannya tungau


melalui pemeriksaan mikroskop, yang dapa dilakukan dengan beberapa
cara antara lain :
1. Kerokan kulit.
Kerokan kulit dilakukan dengan mengangkat atap terowongan atau
papula menggunakan skalpel nomor 15. Kerokan diletakkan pada
kaca objek, diberi minyak mineral atau minyak imersi, diberi kaca
penutup, dan dengan mikroskop pembesaran 20x atau 100x dapat
dilihat tungau, telur, atau fecal pellet (Handoko, 2011).
2. Mengambil tungau dengan jarum.
Jarum dimasukkan ke dalam terowongan pada bagian yang gelap
(kecuali pada orang kulit hitam pada titik yang putih) dan
digerakkan tangensial. Tungau akan memegang ujung jarum dan
dapat diangkat keluar (Handoko, 2011).
3. Epidermal shave biopsy.
Menemukan terowongan atau papul yang dicurigai antara ibu jari
dan jari telunjuk, dengan hati -hati diiris puncak lesi dengan skalpel
nomor 15 yang dilakukan sejajar dengan permukaan kulit. Biopsi
dilakukan sangat superfisial sehingga tidak terjadi perdarahan atau
tidak perlu anestesi. Spesimen diletakkan pada gelas objek lalu
ditetesi minyak mineral dan diperiksa dengan mikroskop (Handoko,
2011).
4. Kuretase terowongan
Kuretase superfisial mengikuti sumbu panjang terowongan atau
puncak papula kemudian kerokan diperiksa dengan mikroskop,
setelah diletakkan di gelas objek dan ditetesi minyak mineral.
5. Apusan kulit dengan pita selotip
Kulit dibersihkan dengan alkohol, kemudian diletakkan selotip pada
lesi dan diangkat dengan gerakan cepat. Selotip kemudian
diletakkan di atas gelas objek (enam buah dari lesi yang sama
pada satu gelas objek) dan diperiksa dengan mikroskop.
6. Biopsi plong (punch biopsy)

41

Biopsi berguna pada lesi yang atipik, untuk melihat adanya tungau
atau telur. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa jumlah tungau
hidup pada penderita dewasa hanya sekitar 12, sehingga biopsi
berguna bila diambil dari lesi yang meradang.
Cara menemukan terowongan dengan beberapa cara antara lain :
1. Tes tinta Burowi.

Papul skabies dilapisi dengan tinta pena, kemudia segera dihapus


dengan alkohol, maka jejak terowongan akan terlihat sebagai garis
yang karakteristik, berkelok-kelok, karena ada tinta yang masuk.
Tes ini tidak sakit dan dapat dikerjakan pada anak dan pada
penderita yang non-koperatif (Amirudin, 2003).
2. Tetrasiklin topikal.
Larutan tetrasiklin dioleskan pada terowongan yang dicurigai.
Setelah dikeringkan selama 5 menit, hapus larutan tersebut dengan
isopropilalkohol. Tetrasiklin akan berpenetrasi ke dalam melalui
kerusakan stratum korneum dan terowongan akan tampak dengan
penyinaran lampu Wood, sebagai garis linier berwarna kuning
kehijauan sehingga tungau dapat ditemukan. Dari berbagai macam
pemeriksaan tersebut, pemeriksaan kerokan kulit merupakan cara
yang paling mudah dan hasilnya cukup memuaskan. Agar
pemeriksaan berhasil, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan,
yakni:
Kerokan harus dilakukan pada lesi yang utuh (papula, kanalikuli)
dan tidak dilakukan pada tempat dengan lesi yang tidak spesifik.
- Sebaiknya lesi yang akan dikerok diolesi terlebih dahulu dengan
minyak mineral agar tungau dan produknya tidak larut, sehingga
-

dapat menemukan tungau dalam keadaan hidup dan utuh.


Kerokan dilakukan pada lesi di daerah predileksi.
Oleh karena tungau terdapat dalam stratum korneum maka
kerokan

harus

dilakukan

di

superficial

dan

menghindari

terjadinya perdarahan. Namun karena sulitnya menemukan


tungau maka diagnosis scabies harus dipertimbangkan pada

42

setiap penderita yang datang dengan keluhan gatal yang


menetap (Amirudin, 2003).

5.2.10 Variasi skabies pada host yang khusus, antara lain :


a Skabies Nodular
Lesi berupa nodul terdapat pada 7-10% pasien dengan skabies.
Diameter nodul 5-20mm, berwarna merah, pink, atau coklat,
halus. Terowongan dapat dilihat pada permukaan nodul yang
baru.
Distribusi biasanya pada penis, scrotum, axilla, pinggang, pantat,
aerolae. Berakhir dengan hiperpigmentasi post inflamasi. Mungkin
lebih terlihat setelah pengobatan. Pada bayi lokasi biasanya pada
punggung atas, tepi lateral kaki. Nodul biasanya terhitung
(Amirudin, 2003).
b Skabies pada bayi dan anak
Lesi atipikal : vesikel, pustul, nodul general, lesi terkonsentrasi
pada tangan/kaki/lipatan tubuh. Kepala, palmar juga tidak
terkecuali. Susah dibedakan dengan acropustulosis pada infantil,
yang mungkin sebagai reaksi non spesifik post skabies. Nodul
pruritus eritematous keunguan dapat ditemukan pada aksila dan
daerah lateral badan anak. Nodul-nodul ini bias timbul terutama
pada telapak tangan dan jari (Amirudin, 2003).
c

Skabies Norwegia
Skabies
pasien

berkrusta/norwegia/hiperkeratotik)
immunokompromais

atau

ditemukan

keterbelakangan

pada
mental,

termasuk gangguan neurologis, sindroma down, transplatasi


organ, leukimia sel T,

Hansens disease, AIDS.2 Faktor

prdisposisi : terapi glukokortikoid, downs syndrome, penyakit HIV,


infeksi HTLV-I, resepien transplantasi organ, penuaan. biasanya
dimulai sebagai skabies biasa (Amirudin, 2003).

43

Gambaran klinisnya ekzema kronis, dermatitis psoriasiform,


dermatitis seborhoik, atau eritroderma. Lesi sering ditandai
dengan hiperkeratosis dan atau krusta.1 Krusta ditimbuhi banyak
tungau dan melibatkan wajah dan kulit kepala. Hanya terasa
sedikit gatal. Pada ujng jari bengkak dan berkrusta. Terdapat
garis-garis yang parah pada area genital dan pantat. Pada area
yang sering mendapat tekanan, merupakan temoat predileksi
untuk lesi keratotik berat. (Handoko, 2003).
Distribusi yang tergeneralisata (bahkan di kepala dan leher) atau
terlokalisasi.

Krusta

ditemukan

pada

punggung

tangan,

pergelangan tangan, jari tangan, metacarpophalangeal joint,


palmar, ekstensor siku, kulit kepala, telinga, jari kaki (Amirudin,
2003).
Pada pasien dengan defisit neurologis, krusta skabies mungkin
muncul

pada

ekstremitas

yang

berpengaruh.

Mungkin

terlokalisasi hanya pada kulit kepala, wajah, jari, kuku, telapak


kaki (Amirudin, 2003).
d Skabies pada manula
Respon inflamasi yang berubah dapat menghambat diagnosis.
Pada pasien yang terbaring di tempat tidur, lesi biasanya
terkonsentrasi pada punggung.
e Skabies pada penderita HIV/AIDS
Gejala skabies pada umumnya tergantung pada respons imun,
karena itu tidak mengherankan bahwa spektrum klinis skabies
penderita HIV berbeda dengan penderita yang memiliki status
imun yang normal. Meskipun data yang ada masih sedikit,
tampaknya ada kecenderungan bahwa penderita dengan AIDS
biasanya menderita bentuk skabies berkrusta (crusted skabies).
Selain itu, skabies pada penderita AIDS biasanya juga menyerang

44

wajah, kulit, dan kuku dimana hal ini jarang didapatkan pada
penderita status imunologi yang normal. (Harahap, 2000).
Pada penderita dengan status imunologi yang normal, pruritus
merupakan tanda khas, sedangkan pada beberapa penderita
AIDS, pruritus tidak terlalu dirasakan. Hal ini mungkin disebabkan
status imun yang berkurang dan kondisi ini berhubungan dengan
konversi penyakit menjadi bentuk lesi berkrusta (Harahap, 2000).
Seperti pada penderita umumnya, lesi skabies berkrusta pada
penderita AIDS mengandung tungau dalam jumlah besar dan
sangat menular. Beberapa kasus penularan nosokomial kepada
penderita lain dan juga petugas kesehatan pernah dilaporkan
(Harahap, 2000).
f

Skabies yang ditularkan oleh hewan


Skabies zoonotik dapat berdampak pada orang yang kontak erat
dengan hewan. Reaksinya menyerupai dengan skabies, tetapi
merupakan penyakit yang dapat sembuh sendiri. Bisanya tidak
ditemukan terowongan (Handoko, 2011).

5.2.11 Diagnosis Banding


Diagnosis banding dari skabies terbagi atas (Handoko, 2011):
1. Papular Urtikaria.
Biasanya terjadi pada anak-anak berumur diantara 2-10 tahun.
Yang

membedakannya

dari

skabies

adalah

ketidakhadiran

terowongan pada lesinya. Dan lagi pada umumnya tidak terdapat


karakteristik gatal pada skabies.
2. Atopic Dermatitis.
Terdapat gatal dan erupsi vesikopapular yang predominan di
fleksor. Yang membedakannya dengan skabies adalah adanya
terowongan dan pembungkusan ruang jaringan.
3. Lichen Planus.

45

Ditandai dengan sebuah gatal di lengan bawah, kaki, dan


punggung. Selain gatal, simetris dari lesi, dan kejadian lesinya,
penyakit ini tidak menyerupai skabies.
4. Dermatitis Herpetiformis.
Ditandai dengan gatal yang kronis,

simetris,

dan

erupsi

vesikopapular yang meliputi ekstremitas atas dan ekstremitas


bawah. Gatal bersifat persisten dan hadir terus setiap hari. Penyakit
ini sering salah didiagnosis sebagai skabies, meskipun jarang
terjadi.
5. Infantile Acropustulosis.
Penyakit ini bisa dibedakan dengan skabies dengan tidak adanya
lesi pada jaringan cutaneous di badan, dan juga tidak adanya
gatal.jaringan cutaneous di badan, dan juga tidak adanya gatal.

5.2.12 Pengobatan Penderita Skabies


Merupakan hal yang penting untuk menerangkan kepada pasien
dengan sejelas-jelasnya tentang bagaimana cara memakai obat-obatan
yang digunakan, dan lebih baik lagi bila disertai penjelasan tertulis. Semua
anggota keluarga dan orang-orang yang secara fisik berhubungan erat
dengan pasien, hendaknya secara simultan diobati juga (CDC, 2010).
Obat-obat topikal harus dioleskan mulai daerah leher sampai jari kaki, dan
pasien diingatkan untuk tidak membasuh tangannya sesudah melakukan
pengobatan (Graham-Brown dan Burns, 2005).
Pada bayi, orang-orang lanjut usia, dan orang-orang dengan
immunokompromasi, terowongan tungau dapat terjadi pada kepala dan
leher, sehingga pemakaian obat perlu diperluas pada daerah itu. Sesudah
pengobatan, rasa gatal tidak dapat segera hilang, tetapi pelan-pelan akan
terjadi perbaikan dalam waktu 2-3 minggu, saat epidermis superfisial yan
g mengandung tungau alergenik terkelupas (Graham-Brown dan Burns,
2005).
Syarat obat yang ideal adalah harus efektif terhadap semua
stadium tungau, harus tidak menimbulkan iritasi dan tidak toksik, tidak

46

berbau atau kotor serta tidak merusak atau mewarnai pakaian, mudah
diperoleh dan harganya murah (Handoko, 2011).
Pengobatan skabies tidak hanya diberikan pada penderita, namun
juga perlu diberikan pada anggota keluarga dan pasangan terutama bagi
mereka yang mengalami kontak kulit ke kulit secara langsugn dalam kurun
waktu yang panjang dengan penderita skabies. Semuanya harus
mendapatkan terapi bersamaan untuk mencegah terjadinya infeksi ulang.
Umumnya yang digunakan adalah scabicide yang dapat membunuh baik
kutu dewasa maupun telur kutu. Scabicide bisa berbentuk lotion atau
cream, dan harus dioleskan pada seluruh area tubuh dari leher sampai ke
kaki. Pengecualian untuk kasus skabies pada bayi atau anak usia muda,
scabicide harus dioleskan pada daerah wajah dan leher, karena kutu bisa
menginfeksi daerah ini. Scabicide dioleskan malam hari pada kulit yang
telah dibersihkan sebelumnya dan harus dibiarkan semalaman dan baru
dibersihkan keesokan harinya. Selanjutnya sprei, baju dan handuk yang
digunakan oleh penderita atau anggota keluarga lain yang berkontak erat
tiga hari sebelum terapi dimulai harus didekontaminasi dengan mencuci
dalam air hangat dan mengeringkannya dengan pengering atau dengan
dry-cleaning, atau dengan membungkusnya dengan kantung plastik
sekurangnya 72 jam. Kutu umumnya tidak dapat bertagan hidup lebih dari
2-3 hari diluar kulit manusia (CDC, 2010).
Beberapa macam obat yang dapat dipakai pada pengobatan
skabies yaitu:
1. Permetrin.
Dalam bentuk krim 5% sebagai dosis tunggal. Penggunaannya
selama 8-12 jam dan kemudian dicuci bersih -bersih. Obat ini
dilaporkan efektif untuk skabies. Pengobatan pada skabies
krustosa sama dengan skabies klasik, hanya perlu ditambahkan
salep keratolitik. Bila didapatkan infeksi sekunder perlu diberikan
antibiotik sistemik (Harahap, 2000). Tidak dianjurkan pa da bayi di
bawah umur 2 bulan (Handoko, 2011).
2. Malathion.

47

Malathion 0,5% dengan dasar air digunakan selama 24 jam.


Pemberian berikutnya diberikan beberapa hari kemudian (Harahap,
2000).
3. Emulsi Benzil-benzoas (20-25%).
Efektif terhadap semua stadium, diberikan setiap malam selama
tiga hari. Obat ini sulit diperoleh, sering memberi iritasi, dan kadang
- kadang makin gatal setelah dipakai (Handoko, 2011).
4. Sulfur.
Dalam bentuk parafin lunak, sulfur 10% secara umum aman dan
efektif digunakan. Dalam konsentrasi 2,5% dapat digunakan pada
bayi. Obat ini digunakan pada malam hari selama 3 malam
(Harahap, 2000). Kekurangannya yang lain ialah berbau dan
mengotori

pakaian

dan

kadang-kadang

menimbulkan

iritasi

(Handoko, 2011).
5. Monosulfiran.
Tersedia dalam bentuk lotion 25%, yang sebelum digunakan harus
ditambah 2-3 bagian dari air dan digunakan selama 2-3 hari.
Selama pengobatan, penderita tidak boleh minum alkohol karena
dapat menyebabkan keringat yang berlebihan dan takikardi
(Harahap, 2000).
6. Gama Benzena Heksa Klorida (gameksan).
Kadarnya 1% dalam krim atau losio, termasuk obat pilihan karena
efektif terhadap semua stadium, mudah digunakan, dan jarang
memberi iritasi. Obat ini tidak dianjurkan pada anak di bawah 6
tahun dan wanita hamil karena toksik terhadap susunan saraf
pusat. Pemberian cukup sekali, kecuali jika masih ada gejala
diulangi seminggu kemudian (Handoko, 2011).
7. Krotamiton.
Krotamiton 10 % dalam krim atau losio juga merupakan obat
pilihan, mempunyai dua efek sebagai antiskabies dan antigatal;
harus dijauhkan dari mata, mulut, dan uretra (Handoko, 2011).
Gejala yang timbul pada penderita skabies akibat suatu rekasi
hipersensitivitas terhadap kutu dan fesesnya (scybala), rasa gatal dapat
berlanjut beberapa minggu setelag terapi bahkan setelah kutu dan

48

telurnya mati. Jika rasa gatal menetap lebih dari 2-4 minggu setelah terapi
atau jika terowongan baru atau jika lesi menyerupai jerawat terus muncul
maka diperlukan adanya terapi ulang (CDC, 2010).
5.2.13 Farmakoterapi Obat yang Diberikan ke Pasien
1. Amoxicillin
Mekanisme Aksi
Amoxicilin merupakan derivatif ampisilin dan memiliki spektrum
antibakteri yang luas, sama dengan ampisilin yakni untuk bakteri
gram positif dan bakteri gram-negatif.

Bersifat bakterisidal yang

sama seperti penisilin; bekerja pada bakteri selama tahap


pembelahan

dengan

menghambat

biosintesis

dinding

sel

mucopeptide. Bersifat tahan terhadap asam lambung dan memiliki


spektrum yang lebih luas dibandingkan dengan penisilin. Bila
dibandingkan dengan penicilin, amoxicillin lebih efektif melawan
bakteri gram negatif (seperti N. Meningitidis dan H. Influenza),
sedangkan penicilin lebih efektif terhadap Streptococcus dan
pneumococcus dibandingkan amoxicillin.
Penyerapan : Cepat diserap.
Bioavailabilitas : 74-92%
Puncak waktu plasma : 2 jam (kapsul); 3,1 jam (release tab
diperpanjang); 1 jam (suspensi).
Distribusi
Kebanyakan cairan tubuh dan tulang, CSF <1%.
Ikatan dengan protein t : 17-20%.
Metabolisme : Hati
Eliminasi
Ekskresi : Urin
Waktu paruh : 3,7 jam (neonatus jangka penuh); 1-2 jam (bayi dan
anak-anak); 0,7-1,4 jam (dewasa).
2. CTM

49

Mekanisme Aksi
Antagonis terhadap reseptor histamin H1 di pembuluh darah, saluran
pernapasan,

dan

saluran

pencernaan

Farmakokinetik
Waktu paruh : 10-13 jam (anak-anak); 14-24hr (dewasa)
Durasi : 24 jam
Onset : 6 jam
Puncak Plasma Waktu : 2-3 jam
Ikatan dengan protein : 29-37%
Volume distribusi : 4-7 L / kg (anak-anak); 6-12 L / kg (dewasa)
Metabolisme : Hati (CYP2D6), metabolit :
Monodesmethylchlorpheniramine, didesmethylchlorpheniramine
Ekskresi : Urin
Efek sedatif : Rendah
Aktivitas antihistamin : Moderat
Antikolinergik acitivity : Moderat
3. Scabicide (Gameksan)
Indikasi:
Untuk pengobatan pasien skabies yang tidak memberikan respon
terhadap dosis pengobatan yang adekuat terhadap regimen yang
lain.
Absorbsi :
Scabiside diserap secara signifikan melalui kulit. Konsentrasi
puncak dalam darah rata-rata sebesar 28 nanogram per mL pada
bayi dan anak-anak, tercapai dalam waktu 6 jam setelah
penggunaan scabicide seluruh tubuh.
Toksisitas:
Scabiside adalah senyawa yang bersifat racun tingkat menengah
pada pemberian secara oral, dilaporkan LD50 88-190 mg / kg pada
tikus.Pemberian via kulit juga beracun dengan LD50 dari 500

50

sampai 1000 mg/kg pada tikus putih, 300 mg/kg pada mencit, 400
mg / kg pada marmut, dan 300 mg/kg pada kelinci. Penggunaan
scabicide dapat menyebabkan stimulasi sistem saraf pusat
(biasanya berkembang dalam waktu 1 jam), gangguan mental /
motorik, eksitasi, kejang klonik (intermiten) dan tonik (kontinu). Efek
samping lainnya termasuk toksisitas terhadap sistem saraf pusat,
serta kulit dan gangguan gastrointestinal.
Ikatan dengan Protein: 91%
Biotransformas i: Terutama melalui hati
Waktu paruh : 18 jam
5.2.14 Komplikasi
-

Jika tidak ditangani, akan semakin gatal dan menjadi tak

tertahankan
Setelah terapi, pasien akan tetap merasa gatal selama 1-2
minggu. Hal ini harus diberi tahu kepada pasien agar tidak terjadi

penggunaan obat secara berlebihan.


Nodul akan menetap selama 1 bulan
Norwegian scabies (skabies yang luas, berkrusta, dan tidak gatal
pada pasien immunocompromised). Dapat terjadi misdiagnosa

dengan eczema atau psoriasis


Infeksi bakteri sekunder pada kulit yang mengalami ekskoriasi.
(Marks,2006) Jarang, dapat diikuti terjadi glomerulonephritis.
(Hunter,2003)

5.2.15 Pencegahan
Tinggal bersama dengan sekelompok orang seperti di pesantren
berisiko mudah tertular berbagai penyakit skabies. Penularan terjadi
melalui dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Adapun yang
termasuk faktor internal adalah kebersihan diri, perilaku, dan yang
termasuk faktor eksternal adalah lingkungan, budaya dan sosial ekonomi.
Jadi
a.

Kebersihan Diri

51

Pemeliharaan kebersihan diri berarti tindakan memelihara kebersihan


dan kesehatan diri sesorang untuk kesejahteraan fisik dan psikisnya.
Seseorang dikatakan memiliki kebersihan diri baik apabila, orang
tersebut

dapat

menjaga

kebersihan

tubuhnya

yang

meliputi

kebersihan kulit, tangan dan kuku, kebersihan kaki dan kebersihan


genitalia (Badri, 2008).
I. Kebersihan Kulit
Kebersihan individu

yang

buruk

atau

bermasalah

akan

mengakibatkan berbagai dampak baik fisik maupun psikososial.


Dampak fisik yang sering dialami seseorang tidak terjaga dengan
baik adalah gangguan integritas kulit.
Penyakit kulit dapat disebabkan oleh jamur, virus, kuman, parasit
hewani dan lain-lain. Salah satu penyakit kulit yang disebabkan
oleh parasit adalah Skabies (Juanda, 2000). Sabun dan air adalah
hal yang penting untuk mempertahankan kebersihan kulit. Mandi
yang baik adalah : 1). Satu sampai dua kali sehari, khususnya di
daerah tropis. 2). Bagi yang terlibat dalam kegiatan olah raga atau
pekerjaan lain yang mengeluarkan banyak keringat dianjurkan
untuk segera mandi setelah selesai kegiatan tersebut. 3). Gunakan
sabun yang lembut. Germicidal atau sabun antiseptik tidak
dianjurkan untuk mandi sehari-hari. 4). Bersihkan anus dan
genitalia dengan baik karena pada kondisi tidak bersih, sekresi
normal dari anus dan genitalia akan menyebabkan iritasi dan
infeksi. 5). Bersihkan badan dengan air setelah memakai sabun
dan handuk yang sama dengan orang lain (Webhealthcenter,
2006).
II. Kebersihan tangan dan kuku

Indonesia adalah negara yang sebagian besar masyarakatnya


menggunakan tangan untuk makan, mempersiapkan makanan,
bekerja dan lain sebagainya. Bagi penderita skabies akan sangat
mudah penyebaran penyakit ke wilayah tubuh yang lain. Oleh
karena itu, butuh perhatian ekstra untuk kebersihan tangan dan

52

kuku sebelum dan sesudah beraktivitas. 1). Cuci tangan sebelum


dan

sesudah

makan,

setelah

ke

kamar

mandi

dengan

menggunakan sabun. Menyabuni dan mencuci harus meliputi area


antara jari tangan, kuku dan punggung tangan. 2). Handuk yang
digunakan untuk mengeringkan tangan sebaiknya dicuci dan diganti
setiap hari. 3). Jangan menggaruk atau menyentuh bagian tubuh
seperti telinga, hidung, dan lain-lain saat menyiapkan makanan. 4).
Pelihara kuku agar tetap pendek, jangan memotong kuku terlalu
pendek sehingga mengenai pinch kulit (Webhealthcenter, 2006).
III. Kebersihan Kaki
Para santri selalu memakai sepatu setiap hari. Sehingga kaki akan
selalu berada pada tempat tempat yang tertutup. Para santri
dianjurkan menjaga kebersihan kakinya dengan selalu memakai
sepatu dan kaus kaki yang kering agar terhindar dari penyakit kulit
skabies, karena sarkoptis skabie selalu hidup pada tempat-tempat
yang lembab dan tertutup (Webhealthcenter, 2006).
IV. Kebersihan Genitalia
Karena minimnya pengetahuan tentang kebersihan genitalia,
banyak kaum remaja putri maupun putra mengalami infeksi di alat
reproduksinya akibat garukan, apalagi seorang anak tersebut
sudah mengalami skabies diarea terterntu maka garukan di area
genitalia akan sangat mudah terserang penyakit kulit skabies,
karena area genitalia merupakan tempat yang lembab dan kurang
sinar matahari. Salah satu contoh pendidikan kesehatan di dalam
keluarga, misalnya bagaimana orang tua mengajarkan anak cebok
secara benar. Seperti penjelasan, bila ia hendak cebok harus
dibasuh dengan air bersih. Caranya menyiram dari depan ke
belakang bukan belakang ke depan. Apabila salah, pada alat
genital anak perempuan akan lebih mudah terkena infeksi.
Penyebabnya karena kuman dari belakang (dubur) akan masuk ke
dalam alat genital. Jadi hal tersebut, harus diberikan ilmunya sejak

53

dini. Kebersihan genital lain, selain cebok, yang harus diperhatikan


yaitu pemakaian celana dalam. Apabila ia mengenakan celana pun,
pastikan celananya dalam keadaan kering. Selain kebersihan
genital, peningkatan gizi juga merupakan hal yang penting untuk
tumbuh kembang anak. Bila alat reproduksi lembab dan basah,
maka

keasaman

akan

meningkat

dan

itu

memudahkan

pertumbuhan jamur. Oleh karena itu seringlah menganti celana


dalam (Webhealthcenter, 2006).
b. Perilaku
Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan kebiasaan untuk
menerapkan kebiasaan yang baik, bersih dan sehat secara berhasil
guna dan berdaya guna baik dirumah tangga, institusi-institusi
maupun

tempat-tempat

umum.

Kebiasaan

menyangkut

pinjam

meminjam yang dapat mempengaruhi timbulnya penyakit menular


seperti baju, sabun mandi, handuk, sisir haruslah dihindari (Dinkes
Kota Medan, 2010)
Salah satu penyebab dari kejadian skabies adalah pakaian yang
kurang bersih dan saling bertukar-tukar pakaian dengan teman satu
kamar. Hal itulah yang tidak diperhatikan serius oleh pimpinan pondok
pesantren dan santri itu sendiri. Para santri dapat menghindari
penyakit skabies dengan menjaga kebersihan pakaiannya. Dengan
rajin mencuci dan menjemur pakaian sampai kering dibawah terik
matahari. Dan jangan menggunakan pakaian yang belum kering atau
lembab. Biasakan mencuci sedikit tapi sering (Emier, 2007)
c. Lingkungan
Kebersihan lingkungan adalah kebersihan tempat tinggal, tempat
bekerja, dan berbagai sarana umum. Kebersihan tempat tinggal
dilakukan dengan cara membersihkan jendela dan perabot santri,
menyapu

dan

mengepel

lantai,

mencuci

peralatan

makan,

54

membersihkan

kamar,

serta

membuang

sampah.

Kebersihan

lingkungan dimulai dari menjaga kebersihan halaman dan selokan,


dan membersihkan jalan di depan asrama dari sampah. Penularan
penyakit skabies terjadi bila kebersihan pribadi dan kebersihan
lingkungan tidak terjaga dengan baik. Faktanya, sebagian pesantren
tumbuh dalam lingkungan yang kumuh, tempat mandi dan WC yang
kotor, lingkungan yang lembab, dan sanitasi buruk (Badri, 2008).
Ditambah lagi dengan perilaku tidak sehat, seperti menggantung
pakaian di kamar, tidak membolehkan pakaian santri wanita dijemur di
bawah terik matahari, dan saling bertukar pakai benda pribadi, seperti
sisir dan handuk (Depkes, 2007).
d. Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu maka tidak boleh
dimandikan. Sehingga skabies sangat mudah berkembang pada
tempat disela-sela tubuh karena tidak dibersihkan. Padahal jika rajin
mandi kemungkinan besar skabies akan susah berkembang ditubuh
manusia. Seharusnya jika sebagian budaya tidak membolehkan
mandi bagi orang yang sakit maka dapat dibersihkan dengan cara
mengelap bagian tubuh dengan handuk yang basah. Terutama pada
tempat-tempat yang mudah dihinggapi skabies (Universitas Sumatera
Utara, 2014).
e.

Sosial Ekonomi

Kebersihan diri memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi,
sikat gigi, sampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk
menyediakannya. Yang menjadi penghambat saat pencegahan
penyakit skabies adalah

keterlambatan

atau

kurangnya

uang

kebutuhan yang dikirim orangtua untuk para santri selama diasrama


tiap bulannya. Dan banyak para santri yang saling tukar alat mandi
sampai kiriman tiba. Sebagian dari santri apabila belum mendapatkan
kiriman dari orangtuanya mereka mandi tanpa menggunakan sabun

55

atau sampo. Apabila saat mandi kurang bersih maka penyakit scabies
akan semakin mudah menyerang tubuh para santri (Universitas
Sumatera Utara, 2014).
5.3. EKTIMA
5.3.1. Definisi
Ektima adalah ulkus superfisial dengan krusta di atasnya
disebabkan infeksi oleh Streptococcus (Amirudin, 2003).
5.3.2. Etiologi
Adapun penyebab

dari

ektima

adalah

Streptococcus

hemolyticus (Amirudin, 2003)


5.3.3. Faktor Predisposisi
Menurut Amirudin (2003), faktor predisposisi dari ektima antara
lain sebagai berikut:
1 Higiene yang kurang
2 Menurunnya daya tahan
Misalnya : kekurangan

gizi,

anemia,

penyakit

kronik,

neoplasma ganas, diabetes melitus.


3 Telah ada penyakit lain di kulit
Karena terjadi kerusakan di epidermis, maka fungsi kulit
sebagai pelindung akan terganggu sehingga memudahkan
terjadinya infeksi.
5.3.4. Gejala Klinis
Tampak sebagai krusta tebal berwarna kuning, biasanya
berlokasi di tungkai bawah, yaitu tempat yang relatif banyak
mendapatkan trauma. Jika krusta diangkat teryata lekat dan
tampak ulkus yang dangkal (Amirudin, 2003).
5.3.5. Diagnosis Banding
Impetigo krustosa. Persmaannya, keduanya memiliki krusta
kekuningan. Perbedaanya, impetigo krustosa terdapat pada anak,
berlokasi di muka, dan dasarnya ialah erosi. Sebaliknya ektima

56

terdapat baik pada anak maupun dewasa, tempat predileksi di


tungkai bawah, dan dasarnya ialah ulkus (Amirudin, 2003).
5.3.6. Pengobatan
Jika terdapat sedikit, krusta diangkat lalu diolesi salap antbiotik.
Kalau banyak, juga diobati dengan antibiotik sistemik (Amirudin,
2003).
a. Sistemik
1. Penisilin G prokain dan semisintetiknya
Penisilin G prokain
Dosisnya 1,2 juta per hari, i.m. obat ini tidak dipakai lagi
karena tidak praktis, diberikan i.m. dengan dosis tinggi,

dan makin sering terjadi syok anafilaktik.


Ampisilin
Disosnya 4x500 mg, diberikan sejam sebelum makan.
Amoksisilin
Dosisnya sama dengan ampisilin, kelebihannya praktis
karena dapat diberikan setelah makan. Juga cepat
diabsorbsi

dibandingkan

dengan

ampisilin

sehingga

konsentrasi dalam plasma lebih tinggi.


Golongan obat penisilin resisten-penisilinase
Yang termasuk golonganini, contohnya : oksasiklin,
kloksasilin, dikloksasilin, fluklosasilin. Dosis kloksasilin
3x250 mg per hari sebelum makan. Golongan obat ini
mempunyai

kelebihan

Staphylococcus

karena

aureus

juga

yang

berkhasiat

telah

bagi

membentuk

penisilinase.
2. Linkomisin dan klindamisin
Dosis linkomisin 3x500 mg sehari. Klindamisin diabsorbsi lebih
baik karena itu dosisnya lebih kecil, yaitu 4x150 mg sehari.
Pada infeksi berat dosisnya 4x300-450 mg sehari. Obat ini
efektif untuk pioderma disamping golongan obat penisilin
resisten-penisilinae.

Linkomisin

telah

digantikan

oleh

klindamisin karena potensi antibakterialnya lebih besar, efek


sampinhnya lebih sedikit, pada pemberian per oral tidak terlalu
dihambat oleh adanya makanan dalam lambung.

57

3. Eritromisin
Dosisnya 4x500
dibandingkan
golongan

mg

dengan

penisilin

sehari.

Efektivitasnya

linkomisin/klindamisin

resisten-penisilinase.

Obat

kuranng
dan

obat

ini

cepat

menyebabkan resistensi. Sering memberi rasa tak enak pada


lambung.
4. Sefalosporin
Pada pioderma yang berat atau yang tidak memberi respon
dengan obat-obatan tersebut doatas, dipakai sefalosporin.
b. Topikal
Sebagai obat topikal dan kompres terbuka, contohnya :
Larutan permanganas kalikus 1/5000
Larutan rivanol 1
Yodium povidon 7,5% yang dilarutkan 10 kali
5.4. RUMAH SEHAT
5.4.1. Definisi
Rumah adalah struktur fisik terdiri dari ruangan, halaman dan area
sekitarnya yang dipakai sebagai tempa t tinggal dan sarana pembinaan
keluarga (UU RI No. 4 Tahun 1992). Menurut WHO, rumah adalah struktur
fisik atau bangunan untuk tempat berlindung, dimana lingkungan berguna
untuk kesehatan jasmani dan rohani serta keadaan sosialnya baik untuk
kesehatan kelu arga dan individu (Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan
Lingkungan, 2001).
Rumah sehat merupakan bangunan tempat tinggal yang memenuhi
syarat kesehatan yaitu rumah yang memiliki jamban yang sehat, sarana
air bersih, tempat pembuangan sampah, sarana pembuangan air limbah,
ventilasi yang baik, kepadatan hunian rumah yang sesuai dan lantai
rumah yang tidak terbuat dari tanah (Depkes RI, 2002). WHO (2004)
mendeskripsikan rumah sehat sebagai rumah berlindung, bernaung, dan

58

tempat untuk beristirahat, sehingga menimbulkan kehidupan yang


sempurna baik fisik, rohani, sosial.
Jadi dapat dikatakan bahwa rumah sehat adalah bangunan tempat
berlindung dan beristirahat yang menumbuhkan kehidupan sehat secara
fisik, mental dan sosial, sehingga seluruh anggota keluarga dapat
memperoleh derajat kesehatan yang optimal. Oleh karena itu keberadaan
perumahan yang sehat, aman, serasi, teratur sangat diperlukan agar
fungsi dan kegunaan rumah dapat terpenuhi dengan baik.
5.4.2. Syarat Rumah Sehat
Rumah sehat menurut Winslow dan APHA (American Public Health
Association) harus memiliki syarat, antara lain:
1) Memenuhi kebutuhan fisiologis antara lain pencahayaan,
penghawaan (ventilasi), ruang gerak yang cukup, terhindar dari
kebisingan/suara yang mengganggu.
2) Memenuhi kebutuhan psikologis antara lain cukup aman dan
nyaman bagi masing-masing penghuni rumah, privasi yang
cukup, komunikasi yang sehat antar anggota keluarga dan
penghuni rumah, lingkungan tempat tinggal yang memiliki
tingkat ekonomi yang relatif sama.
3) Memenuhi persyaratan pencegahan penularan penyakit antar
penghuni rumah dengan penyediaan air bersih, pengelolaan
tinja dan air limbah rumah tangga, bebas vektor penyakit dan
tikus, kepadatan hunian yang berlebihan, cukup sinar matahari
pagi, terlindungnya makanan dan minuman dari pencemaran.
4) Memenuhi persyaratan pencegahan terjadinya kecelakaan baik
yang timbul karena keadaan luar maupun dalam rumah.
Termasuk dalam persyaratan ini antara lain bangunan yang
kokoh, terhindar dari bahaya kebakaran, tidak menyebabkan
keracunan gas, terlindung dari kecelakaan lalu lintas, dan lain
sebagainya (Notoatmodjo S., 2003).

59

Faktor Yang Mempengaruhi Keadaan Lingkungan Sekitar


Rumah (Azwar, 1996):
1. Faktor lingkungan Baik lingkungan fisik,lingkungan biologis maupun
lingkungan sosial
2. Tingkat kemampuan

ekonomi

masyarakat

berdasarkan kemampuan penghuninya.


3. Teknologi yang dimiliki oleh masyarakat

Rumah

dibangun

Rakyat

pedesaan

bagaimana sederhanya sudah mempunyai teknologi perumahan


sendiri

yang

dipunya

turun

temurun.sehingga

dlm

rangka

penerapan teknologi tepat guna dimodifikasi


4. Kebijaksanaan (peraturan-peraturan) pemerintah yg menyakut tata
guna tanah

5.4.3. Parameter dan Indikator Penilaian Rumah Sehat


Parameter yang dipergunakan untuk menentukan rumah sehat
adalah

sebagaimana

Kesehatan

Nomor

yang

tercantum

dalam

829/Menkes/SK/VII/1999

Keputusan
tentang

Menteri

Persyaratan

kesehatan perumahan. meliputi 3 lingkup kelompok komponen penilaian,


yaitu :
1) Kelompok komponen rumah, meliputi langit-langit, dinding, lantai,
ventilasi, sarana pembuangan asap dapur dan pencahayaan.
2)

Kelompok

sarana

sanitasi,

meliputi

sarana

air

bersih,

pembuangan kotoran, pembuangan air limbah, sarana tempat


pembuangan sampah.
3) Kelompok perilaku penghuni, meliputi membuka jendela ruangan
dirumah, membersihkan rumah dan halaman, membuang tinja
ke

jamban,

membuang

sampah

pada

tempat

sampah

(Kamenkes, 1999).
Adapun aspek komponen rumah yang memenuhi syarat rumah
sehat adalah :

60

1) Atap
Secara umum konstruksi atap harus didasarkan kepada
perhitungan yang teliti dan dapat dipertanggung jawabkan
kecuali untuk atap yang sederhana tidak disyaratkan adanya
perhitungan-perhitungan. Maksud utama dari pemasangan atap
adalah untuk melindungi bagian-bagian dalam bangunan serta
penghuninya terhadap panas dan hujan, oleh karena itu harus
dipilih penutup atap yang memenuhi persyaratan sebagai
berikut:
- Rapat air serta padat dan Letaknya tidak mudah bergeser
- Tidak mudah terbakar dan bobotnya ringan dan tahan lama
Bentuk atap yang biasa digunakan ialah bentuk atap datar dari
konstruksi beton bertulang dan bidang atap miring dari genteng,
sirap, seng gelombang atau asbes semen gelombang. Pada
bidang

atap

miring

mendaki

paling

banyak

digunakan

penutup/atap genteng karena harga rumah dan cukup awet.


2) Langit-langit
Dibawah kerangka atap/ kuda-kuda biasanya dipasang penutup
yang disebut langit-langit yang tujuannya antara lain:
-

Untuk menutup seluruh konstruksi atap dan kuda-kuda


penyangga agar tidak terlihat dari bawah, sehingga ruangan
terlihat rapi dan bersih.

Untuk menahan debu yang jatuh dan kotoran yang lain juga
menahan tetesan air hujan yang menembus melalui celahcelah atap.

Untuk membuat ruangan antara yang berguna sebagai


penyekat sehingga panas atas tidak mudah menjalar
kedalam ruangan dibawahnya.

Adapun persyaratan untuk langit-langit yang baik adalah:


a. Langit-langit harus dapat menahan debu dan kotoran lain
yang jatuh dari atap.

61

b. Langit-langit harus menutup rata kerangka atap kuda-kuda


penyangga dengan konstruksi bebas tikus.
c. Tinggi langit-langit sekurang-kurangnya 2,40 dari permukaan
lantai
d. Langit-langit

kasaunya

miring

sekurang-kurangnya

mempunyai tinggi rumah 2,40 m dan tinggi ruang selebihnya


pada titik terendah titik kurang dari 1,75m
e. Ruang cuci dan ruang kamar mandi diperbolehkan sekurang
kurangnya sampai 2,40 m.
2) Dinding
Adapun syarat-syarat untuk dinding antara lain:
a. Dinding harus tegak lurus agar dapat memikul berat sendiri,
beban tekanan angin, dan bila sebagai dinding pemikul harus
pula dapat memikul beban diatasnya.
b. Dinding harus terpisah dari pondasi oleh suatu lapisan air
rapat air sekurangkurangnya 15 cm di bawah permukaan
tanah sampai 20 cm di atas lantai bangunan, agar air tanah
tidak dapat meresap naik keatas, sehingga dinding tembok
terhindar dari basah dan lembab dan tampak bersih tidak
berlumut.
c. Lubang jendela dan pintu pada dinding, bila lebarnya kurang
dari 1 meter dapat diberi susunan batu tersusun tegak diatas
batu,batu tersusun tegak diatas lubang harus dipasang balok
lantai dari beton bertulang atau kayu awet.
d. Untuk memperkuat berdirinya tembok bata digunakan
rangka pengkaku yang terdiri dari plester-plester atau balok
beton bertulang setiap luas 12 meter.
3) Lantai
Lantai harus kuat untuk menahan beban diatasnya. Bahan untuk
lantai biasanya digunakan ubin,kayu plesteran, atau bambu
dengan syarat-syarat tidak licin, stabil waktu dipijak, tidak mudah

62

aus, permukaan lantai harus rata dan mudah dibersihkan, yang


terdiri dari (DepKes RI, 2002):
I.

Lantai tanah stabilitas


Lantai tanah stabilitas terdiri dari tanah,pasir, semen, dan
kapur, seperti tanah tercampur kapur dan semen, dan untuk
mencegah masuknya air kedalam rumah sebaiknya lantai
dinaikkan 20 cm dari permukaan tanah. Sebaiknya lantai tnah
tidak dipergunakan lagi karena kelembapannya cukup tinggi
terutama

saat

musim

hujan

sehingga

berpotensi

menyebabkan munculnya berbagai macam penyakit.


Lantai papan
Pada umumnya lantai papan dipakai di daerah basah/rawa.

II.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pemasanan lantai adalah :


a. Sekurang-kurangnya 60 cm diatas tanah dan ruang bawah
tanah harus ada aliran air yang baik.
b. Lantai harus disusun dengan rapi dan rapat satu sama
lain,sehingga tidak ada lubang-lubang ataupun lekukan
dimana debu bisa bertepuk. Lebih baik jika lantai seperti ini
dilapisi dengan perlak atau kampal plastik ini juga berfungsi
sebagai penahan kelembaban yang naik dari dikolong
rumah.
c. Untuk kayu-kayu yang tertanam dalam air harus yang tahan
air dan rayap serta untuk konstruksi diatasnya agar
digunakan
III.

lantai

kayu

yang

telah

dikeringkan

dan

diawetkan.
Lantai ubin
Lantai ubin adalah lantai yang terbanyak digunakan pada
bangunan perumahan karena : Lantai ubin murah/tahan
lama,dapat mudah dibersihkan dan tidak dapat mudah
dirusak rayap.

4) Pembagian ruangan / tata ruang


Setiap rumah harus mempunyai bagian ruangan yang sesuai
dengan fungsinya.
Adapun syarat pembagian ruangan yang baik adalah :

63

a) Adanya pemisah yang baik antara ruangan kamar tidur


kepala keluarga (suami istri) dengan kamar tidur anak-anak,
baik laki-laki maupun perempuan, terutama anak-anak yang
sudah dewasa.
b) Memilih tata ruangan

yang

baik,

agar

memudahkan

komunikasi dan perhubungan antara ruangan didalam rumah


dan juga menjamin kebebasan dan kerahasiaan pribadi
masing-masing terpenuhi.
c) Tersedianya jumlah kamar/ruangan kediaman yang cukup
dengan luas lantai sekurang-kurangnya 6 m2 agar dapat
memenuhi kebutuhan penghuninya untuk melakukan kgiatan
kehidupan.
d) Bila ruang duduk digabung dengan ruang tidur, maka luas
lantai tidak boleh kurang dari 11 m2 untuk 1 orang, 14 m2 bila
digunakan 2 orang, dalam hal ini harus dipisah.
e) Ruang dapur
Dapur harus mempunyai ruangan tersendiri, karena asap dari
hasil pembakaran dapat membawa dampak negatif terhadap
kesehatan. Ruang dapur harus memiliki ventilasi yang baik
agar udara/asap dari dapur dapat teralirkan keluar. Syaratsyarat dapur untuk rumah sehat antara lain:
-

Luas dapur minimal 14 m2 dan lebar minimal 1,5 m2

Bila penghuni tersebut lebih dari 2 orang, luas dapur tidak


boleh kurang dari 3 m2,

Di dapur harus tersedia alat-alat pengolahan makanan,


alat-alat masak, tempat cuci peralatan dan air bersih,

Didapur harus tersedia tempat penyimpanan bahan


makanan. Atau makanan yang siap disajikan yang dapat
mencegah pengotoran makanan oleh lalat, debu dan lainlain dan mencegah sinar matahari langsung.

f) Kamar mandi dan jamban keluarga

64

Setiap kamar mandi dan jamban paling sedikit salah satu


dari dindingnya yang berlubang ventilasi berhubungan
dengan udara luar. Bila tidak harus dilengkapi dengan
ventilasi mekanis untuk mengeluarkan udara dari kamar
mandi dan jamban tersebut, sehingga tidak mengotori
ruangan lain.

Pada setiap kamar mandi harus bersih untuk mandi yang


cukup jumlahnya.

Jamban harus berleher angsa dan 1 jamban tidak boleh


dari 7 orang bila jamban tersebut terpisah dari kamar
mandi.

5) Ventilasi
Ventilasi ialah proses penyediaan udara segar ke dalam suatu
ruangan dan pengeluaran udara kotor suatu ruangan baik
alamiah

maupun

secara

buatan.

Ventilasi

harus

lancar

diperlukan untuk menghindari pengaruh buruk yang dapat


merugikan kesehatan. Ventilasi yang baik dalam ruangan harus
mempunyai syarat-syarat, diantaranya :
a) Luas lubang ventilasi tetap, minimum 5% dari luas lantai
ruangan. Pemberian lubang hawa/saluran angin dekat
dengan langit-langit berguna sekali untuk mengluarkan udara
panas dibagian atas dalam ruangan tersebut. Tingginya
minimal 1,95 meter dari permukaan lantai. Sedangkan luas
lubang ventilasi insidentil (dapat dibuka dan ditutup) minimum
5%. Jumlah keduanya menjadi 10% kali luas lantai ruangan
dan setengah dari jumlah luas jendela/lubang itu harus dapat
dibuka.
Ketentuan luas jendela/lubang angin tersebut hanya sebagai
pedoman yang umum dan untuk daerah tertentu, harus
disesuaikan dengan keadaan iklim daerah tersebut. Untuk

65

daerah pengunungan yang berhawa dingin dan banyak


angin, maka luas jendela/lubang angin dapat dikurangi
sampai dengan 1/20 dari luas ruangan. Sedangkan untuk
daerah pantai laut dan daerah rendah yang berhawa panas
dan basah, maka jumlah luas bersih jendela, lubang angin
harus diperbesar dan dapat mncapai 1/5 dari luas lantai
ruangan.
b) Udara yang masuk harus udara bersih, tidak dicemari oleh
asap kendaraan, dari pabrik, sampah, debu dan lainnya.
c) Aliran

udara

diusahakan

Cross

Ventilation

dengan

menempatkan dua lubang jendela berhadapan antara dua


dinding ruangan sehingga proses aliran udara lebih lancar.
Tetapi gerak udara ini harus dijaga jangan sampai terlalu
besar dan keras, karena gerak angin atau udara angin yang
berlebihan meniup badan seseorang, akan mengakibatkan
penurunan suhu badan secara mendadak dan menyebabkan
jaringan selaput lendir akan berkurang sehingga mengurangi
daya tahan pada jaringan dan memberikan kesempatan
kepada bakteri-bakteri penyakit berkembang biak, dan
selanjutnya menyebabkan gangguan kesehatan, yang antara
lain : masuk angin, pilek atau kompilasi radang saluran
pernafasan. Gejala ini terutama terjai pada orang yang peka
terhadap udara dingin. Untuk menghindari akibat buruk ini ,
maka

jendela

atau

lubang

ventilasi

jangan

terlalu

besar/banyak, tetapi jangan pula terlalu sedikit.


Jika ventilasi alamiah untuk pertukaran udara dalam ruangan
kurang memenuhi syarat, sehingga udara dalam ruangan akan
berbau pengap, maka diperlukan suatu sistem pembaharuan
udara mekanis. Untuk memperbaiki keadaan udara dalam

66

ruangan, sistem mekanis ini harus bekerja terus menerus selama


ruangan yang dimaksud digunakan. Alat mekanis yang biasa
digunakan/dipakai untuk sistem pembaharuan udara mekanis
adalah kipas angin (ventilating, fan atau exhauster), atau air
conditioning.
6) Pencahayaan
Cahaya yang cukup kuat untuk penerangan di dalam rumah
merupakan kebutuhan manusia. Penerangan ini dapat diperoleh
dengan pengaturan cahaya alami dan cahaya buatan. Yang
perlu diperhatikan, pencahayaan jangan sampai menimbulkan
kesilauan.
a) Pencahayaan alamiah
Penerangan

alami

diperoleh

dengan

masuknya

sinar

matahari ke dalam ruangan melalui jendela, celah maupun


bagian

lain

dari

rumah

yang

terbuka,

selain

untuk

penerangan, sinar ini juga mengurangi kelembaban ruangan,


mengusir nyamuk atau serangga lainnya dan membunuh
kuman penyebab penyakit tertentu (Azwar, 1996). Suatu cara
sederhana menilai baik tidaknya penerangan alam yang
terdapat dalam sebuah rumah adalah: baik, bila jelas
membaca dengan huruf kecil, cukup; bila samar-samar bila
membaca huruf kecil, kurang; bila hanya huruf besar yang
terbaca, buruk; bila sukar membaca huruf besar.
b) Pencahayaan buatan
Penerangan dengan menggunakan sumber cahaya buatan,
seperti lampu minyak tanah, listrik dan sebagainya. (Azwar,
1996).
7) Luas Bangunan Rumah
Luas bangunan rumah sehat harus cukup untuk penghuni di
dalamnya, artinya luas bangunan harus disesuaikan dengan
jumlah penghuninya. Luas bangunan yang tidak sebanding

67

dengan jumlah penghuninya akan menyebabkan kepadatan


penghuni

(overcrowded).

Hal

ini

tidak

sehat,

disamping

menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen, bila salah satu


anggota keluarga terkena penyakit infeksi akan mudah menular
kepada anggota keluarga yang lain. Sesuai kriteria Permenkes
tentang rumah sehat, dikatakan memenuhi syarat jika 8 m2 /
orang.
Dilihat dari aspek sarana sanitasi, maka beberapa sarana
lingkungan yang berkaitan dengan perumahan sehat adalah sebagai
berikut :
1) Sarana Air Bersih
Air bersih adalah air yang digunakan untuk keperluan sehari-hari
yang kualitasnya memenuhi syarat kesehatan dan dapat
diminum apabila telah dimasak. Di Indonesia standar untuk air
bersih diatur dalam Permenkes RI No. 01/Birhubmas/1/1975.
Dikatakan air bersih jika memenuhi 3 syarat utama, antara lain
(Chandra, 1995):
a) Syarat fisik
Air tidak berwarna, tidak berbau, jernih dengan suhu di
bawah suhu udara sehingga menimbulkan rasa nyaman.
b) Syarat kimia
Air yang tidak tercemar secara berlebihan oleh zat kimia,
terutama yang berbahaya bagi kesehatan.
c) Syarat bakteriologis
Air tidak boleh mengandung suatu mikroorganisme. Misal
sebagai petunjuk bahwa air telah dicemari oleh faces
manusia adalah adanya E. coli karena bakteri ini selalu
terdapat dalam faces manusia baik yang sakit, maupun
orang sehat serta relatif lebih sukar dimatikan dengan
pemanasan air.

68

2) Jamban (sarana pembuangan kotoran)


Pembuangan kotoran yaitu suatu pembuangan yang digunakan
oleh keluarga atau sejumlah keluarga untuk buang air besar.
Cara pembuangan tinja, prinsipnya yaitu (DepKes RI, 2002):
a.

Kotoran manusia tidak mencemari permukaan tanah.

b.

Kotoran manusia tidak mencemari air permukaan / air tanah.

c.

Kotoran manusia tidak dijamah lalat.

d.

Jamban tidak menimbulkan bau yang mengganggu.

e.

Konstruksi jamban tidak menimbulkan kecelakaan.


Ada 4 cara pembuangan tinja, yaitu (DepKes RI, 2002):
a) Pembuangan tinja di atas tanah
Pada cara ini tinja dibuang begitu saja diatas permukaan
tanah, halaman rumah, di kebun, di tepi sungai dan
sebagainya. Cara demikian tentunya sama sekali tidak
dianjurkan, karena dapat mengganggu kesehatan.
b) Kakus lubang gali (pit privy)
Dengan cara ini tinja dikumpulkan kedalam lubang dibawah
tanah, umumnya langsung terletak dibawah tempat jongkok.
Fungsi dari lubang adalah mengisolasi tinja sehingga tidak
memungkinkan penyebaran bakteri. Kakus semacam ini
hanya baik digunakan ditempat dimana air tanah letaknya
dalam.
c) Kakus Air (Aqua pravy)
Cara ini hampir mirip dengan kakus lubang gali, hanya
lubang kakus dibuat dari tangki yang kedap air yang berisi
air, terletak langsung dibawah tempat jongkok. Cara kerjanya
merupakan peralihan antara lubang kakus dengan septic
tank. Fungsi dari tank adalah untuk menerima, menyimpan,

69

mencernakan tinja serta melindunginya dari lalat dan


serangga lainnya.
d) Septic Tank
Septic Tank merupakan cara yang paling dianjurkan. Terdiri
dari tank sedimentasi yang kedap air dimana tinja dan air
masuk dan mengalami proses dekomposisi yaitu proses
perubahan

menjadi

bentuk

yang

lebih

sederhana

(penguraian).

Gambar 9. Syarat membuat septic tank dan resapan WC ramah


lingkungan
3) Pembuangan Air Limbah (SPAL)
Air limbah adalah cairan buangan yang berasal dari rumah
tangga, industri, dan tempat umum lainnya dan biasanya
mengandung bahan atau zat yang membahayakan kehidupan
manusia

serta

mengganggu

kelestarian

lingkungan

(Notoatmodjo. Soekijo, Sarwono Salita, 2005)


Menurut Azwar (1996) air limbah dipengaruhi oleh tingkat
kehidupan masyarakat, dapat dikatakan makin tinggi tingkat
kehidupan masyarakat, makin kompleks pula sumber serta

70

macam air limbah yang ditemui. Air limbah adalah air tidak bersih
mengandung

berbagai

zat

yang

bersifat

membahayakan

kehidupan manusia ataupun hewan, dan lazimnya karena hasil


perbuatan manusia.
Dalam kehidupan sehari-hari, sumber air limbah yang lazim
dikenal adalah :
a) Limbah rumah tangga, misalnya air dari kamar mandi dan
dapur.
b) Limbah perusahaan, misalnya dari hotel, restoran, kolam
renang.
c) Limbah industri.
4) Sampah
Sampah adalah semua produk sisa dalam bentuk padat, sebagai
akibat aktifitas manusia, yang dianggap sudah tidak bermanfaat.
Agar sampah tidak membahayakan kesehatan manusia, maka
perlu pengaturan pembuangannya, seperti tempat sampah yaitu
tempat penyimpanan sementara sebelum sampah tersebut
dikumpulkan untuk dibuang (dimusnahkan).
Syarat tempat sampah adalah (DepKes RI, 2002):
a. Terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, kuat sehingga
tidak mudah bocor, kedap air.
b. Harus ditutup rapat sehinga tidak menarik serangga atau
binatang-binatang

lainnya

seperti

tikus,

kucing

dan

sebagainya.
4. Letak Rumah
Letak rumah adalah salah satu faktor yang penting artinya bagi
kesehatan penghuni. Sebagai contoh adalah, sebuah rumah
seharusnya tidak didirikan di dekat tempat dimana sampah
dikumpulkan atau dibuang, dengan pertimbangan karena di tempat
pembuangan sampah tersebut akan banyak lalat, serangga

71

maupun tikus yang akan membawa kuman penyakit kedalam


lingkungan rumah.
Perlu diperhatikan juga letak sebuah bangunan hendaknya
menyerong dari arah lintasan matahari yaitu arah utaraselatan
untuk mencegah penyinaran yang terus-menerus pada satu bagian
rumah. Di bangun dengan lubang bukaan maksimal pada arah
utara, arah selatan, dan arah timur, serta seminimal mungkin pada
arah barat. Lubang bukaan pada arah utara-selatan diharapkan
sebanyak mungkin memasukan sinar matahari dari kubah langit.
Sementara lubang pada arah timur untuk memasukan sinar
matahari pagi yang dapat meningkatkan kesehatan.
Kurangnya cahaya matahari yang masuk ke dalam rumah. Rumah
terasa

sumpek,

pengap,

panas,

dan

dapat

menimbulkan

ketidaknyamanan penghuni. Selain berguna untuk penerangan


sinar ini juga mengurangi kelembaban ruangan, mengusir nyamuk
atau serangga lainnya dan membunuh kuman penyebab penyakit
tertentu, misalnya untuk membunuh bakteri adalah cahaya pada
panjang gelombang 4000 A sinar ultra violet
5.5
a)

PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT (PHBS)


Pengertian Teori Perilaku

Perilaku adalah tindakan atau aktivitas dari manusia itu sendiri


yang mempunyai bentangan yang sangat luas antara lain :
berjalan,

berbicara,

menangis,

tertawa,

bekerja,

menulis,

membaca, dan sebagainya. Dari uraian ini dapat disimpulkan


bahwa yang dimaksud perilaku manusia adalah semua kegiatan
atau aktivitas manusia, baik yang diamati langsung, maupun
yang tidak dapat diamati oleh pihak luar.
Menurut Skinner, seperti yang dikutip oleh Notoatmodjo (2003),
merumuskan bahwa perilaku merupakan respon atau reaksi
seseorang terhadap stimulus atau rangsangan dari luar. Oleh

72

karena perilaku ini terjadi melalui proses adanya stimulus


terhadap

organisme,

dan

kemudian

organisme

tersebut

merespons, maka teori Skinner ini disebut teori S-O-R atau


Stimulus-Organisme-Respon.
Dilihat dari bentuk respon terhadap stimulus ini, maka perilaku
dapat dibedakan menjadi dua (Notoatmodjo, 2003) :
1. Perilaku tertutup (convert behavior)
Perilaku tertutup adalah respon seseorang terhadap stimulus
dalam bentuk terselubung atau tertutup (convert). Respon
atau reaksi terhadap stimulus ini masih terbatas pada
perhatian, 1persepsi, pengetahuan, kesadaran, dan sikap
yang terjadi pada orang menerima stimulus tersebut, dan
belum dapat diamati secara jelas oleh orang lain.
2. Perilaku terbuka (overt behavior)
seseorang terhadap stimulus dalam bentuk tindakan nyata
atau terbuka. Respon terhadap stimulus tersebut sudah jelas
dalam bentuk tindakan atau praktek, yang dengan mudah
dapat diamati atau dilihat oleh orang lain.
b)

Klasifikasi Perilaku Kesehatan

Perilaku kesehatan menurut Notoatmodjo (2003) adalah suatu


respon seseorang (organisme) terhadap stimulus atau objek
yang berkaitan dengan sakit atau penyakit, sistem pelayanan
kesehatan, makanan, dan minuman, serta lingkungan. Dari
batasan ini perilaku kesehatan dapat diklasifikasikan menjadi 3
kelompok :
1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (health maintenance)
Adalah perilaku atau usaha-usaha seseorang untuk
memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan
usaha untuk penyembuhan bilamana sakit.
2. Perilaku pencarian atau penggunaan system atau fasilitas
kesehatan,

atau

sering

disebut

perilaku

pencairan

pengobatan (health seeking behavior)

73

Perilaku ini adalah menyangkut upaya atau tindakan


seseorang

pada

saat

menderita

penyakit

dan

atau

kecelakaan.
3. Perikalu kesehatan lingkungan
Adalah apabila seseorang merespon lingkungan, baik
lingkungan fisik maupun social budaya, dan sebagainya.
c)

Domain Perilaku

Menurut Bloom, seperti dikutip Notoatmodjo (2003), membagi


perilaku itu didalam 3 domain (ranah/kawasan), meskipun
kawasan-kawasan tersebut tidak mempunyai batasan yang jelas
dan tegas. Pembagian kawasan ini dilakukan untuk kepentingan
tujuan pendidikan, yaitu mengembangkan atau meningkatkan
ketiga domain perilaku tersebut, yang terdiri dari ranah kognitif
(kognitif domain), ranah affektif (affectife domain), dan ranah
psikomotor (psicomotor domain).
Dalam perkembangan selanjutnya oleh para ahli pendidikan dan
untuk kepentingan pengukuran hasil, ketiga domain itu diukur
dari :
1. Pengetahuan (knowlegde)
adalah hasil dari tahu, dan ini terjadi setelah seseorang
melakukan penginderaan terhadap suatu objek tertentu.
Tanpa pengetahuan seseorang tidak mempunyai dasar untuk
mengambil keputusan dan menentukan tindakan terhadap
masalah yang dihadapi.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang :
a. Faktor Internal : faktor dari dalam diri sendiri, misalnya
intelegensia, minat, kondisi fisik.
b. Faktor Eksternal : faktor dari luar diri, misalnya keluarga,
masyarakat, sarana.
c. Faktor pendekatan belajar : faktor upaya belajar, misalnya
strategi dan metode dalam pembelajaran Notoatmodjo
(2003).

74

Ada enam tingkatan domain pengetahuan yaitu Notoatmodjo


(2003) :
a. Tahu (Know)
Tahu diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap
suatu materi yang telah dipelajari sebelumnya.
b. Memahami (Comprehension)
Suatu kemampuan untuk menjelaskan secara benar
tentang

objek

yang

diketahui

dan

dapat

menginterpretasikan materi tersebut secara benar.


c. Aplikasi
Diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan materi
yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi yang
sebenarnya.
d. Analisis
Adalah suatu kemampuan untuk menjabarkan materi atau
suatu objek kedalam komponen-komponen tetapi masih
dalam suatu struktur organisasi dan ada kaitannya dengan
yang lain.
e. Sintesa
Sintesa menunjukkan suatu kemampuan untuk meletakkan
atau menghubungkan bagian-bagian dalam suatu bentuk
keseluruhan baru.
f. Evaluasi
Evaluasi ini berkaitan

dengan

kemampuan

untuk

melaksanakan justifikasi atau penilaian terhadap suatu


materi / objek.
2. Sikap (attitude)
Sikap merupakan reaksi atau respon yang masih tertutup
dari seseorang terhadap suatu stimulus atau objek. Sikap
mempunyai tiga komponen pokok :
a. Kepercayaan (keyakinan), ide, konsep terhadap suatu
objek
b. Kehidupan emosional atau evaluasi terhadap suatu objek
c. Kecenderungan untuk bertindak (tend to behave)

75

Seperti halnya pengetahuan, sikap ini terdiri dari berbagai


tingkatan :
a. Menerima (receiving)
Menerima diartikan bahwa orang (subyek) mau dan
memperhatikan stimulus yang diberikan (obyek).
b. Merespon (responding)
Memberikan jawaban apabila ditanya, mengerjakan, dan
menyelesaikan tugas yang diberikan adalah suatu indikasi
dari sikap.
c. Menghargai (valuing)
Mengajak orang lain

untuk

mengerjakan

atau

mendiskusikan suatu masalah adalah suatu indikasi sikap


tingkat tiga.
d. Bertanggung jawab (responsible)
Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah
dipilihnya dengan segala resiko merupakan sikap yang
paling tinggi.
3. Praktik atau tindakan (practice)
Suatu sikap belum otomatis terwujud dalam suatu tindakan
(overt behavior). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu
perbuatan yang nyata diperlukan faktor pendukung atau
suatu kondisi yang memungkinkan, antara lain adalah
fasilitas dan faktor dukungan (support) praktik ini mempunyai
beberapa tingkatan :
a. Persepsi (perception)
Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan
dengan

tindakan

yang

akan

diambil

adalah

merupakan praktik tingkat pertama.


b. Respon terpimpin (guide response)
Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan
yang benar dan sesuai dengan contoh adalah
merupakan indikator praktik tingkat kedua.
c. Mekanisme (mecanism)
Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu
dengan benar secara otomatis, atau sesuatu itu

76

sudah merupakan kebiasaan, maka ia sudah


mancapai praktik tingkat tiga.
d. Adopsi (adoption)
Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang
sudah berkembang dengan baik. Artinya tindakan
itu sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran
tindakan tersebut.
Pengukuran perilaku dapat dilakukan secara langsung yakni
dengan wawancara terhadap kegiatan-kegiatan yang telah
dilakukan beberapa jam, hari atau bulan yang lalu (recall).
Pengukuran juga dapat dilakukan secara langsung, yakni
dengan mengobservasi tindakan atau kegiatan responden.
Menurut penelitian Rogers (1974) seperti dikutip
Notoatmodjo (2003), mengungkapkan bahwa sebelum orang
mengadopsi perilaku baru didalam diri orang tersebut terjadi
proses berurutan yakni :
1. Kesadaran (awareness)
Dimana orang tersebut menyadari dalam arti
mengetahui terlebih dahulu terhadap stimulus
(objek)
2. Tertarik (interest)
Dimana orang mulai tertarik pada stimulus
3. Evaluasi (evaluation)
Menimbang-nimbang terhadap baik dan tidaknya
stimulus tersebut bagi dirinya. Hal ini berarti sikap
responden sudah lebih baik lagi.
4. Mencoba (trial)
Dimana orang telah mulai mencoba perilaku baru.
5. Menerima (Adoption)
Dimana subyek telah berperilaku baru sesuai
dengan pengetahuan, kesadaran dan sikapnya
terhadap stimulus.
d) Asumsi Determinan Perilaku

77

Menurut Spranger membagi kepribadian manusia menjadi


6

macam

nilai

kebudayaan.

Kepribadian

seseorang

ditentukan oleh salah satu nilai budaya yang dominan pada


diri

orang

tersebut.

Secara

rinci

perilaku

manusia

sebenarnya merupakan refleksi dari berbagai gejala


kejiwaan seperti pengetahuan, keinginan, kehendak, minat,
motivasi, persepsi, sikap dan sebagainya Notoatmodjo
(2003).
Beberapa teori lain yang telah dicoba untuk mengungkap
faktor

penentu

yang

dapat

mempengaruhi

perilaku

khususnya perilaku yang berhubungan dengan kesehatan,


antara lain :
1 Teori Lawrence Green (1980)
Green mencoba menganalisis perilaku manusia
berangkat dari tingkat kesehatan. Bahwa kesehatan
seseorang dipengaruhi oleh 2 faktor pokok, yaitu
faktor perilaku (behavior causes) dan faktor diluar
perilaku (non behavior causes).
Faktor perilaku ditentukan atau dibentuk oleh :
a. Faktor predisposisi (predisposing factor), yang
terwujud

dalam

kepercayaan,

pengetahuan,

keyakinan,

sebagainya.
b. Faktor pendukung

(enabling

sikap,

nilai-nilai

dan

factor),

yang

terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia atau


tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau saranasarana kesehatan, misalnya puskesmas, obatobatan, alat-alat steril dan sebagainya.
c. Faktor pendorong (reinforcing factor)

yang

terwujud dalam sikap dan perilaku petugas


kesehatan atau petugas lain, yang merupakan
kelompok referensi dari perilaku masyarakat.
2. Teori Snehandu B. Kar (1983)

78

Kar mencoba

menganalisis perilaku

kesehatan

bertitik tolak bahwa perilaku merupakan fungsi dari :


a. Niat seseorang untuk bertindak sehubungan
dengan

kesehatan

atau

perawatan

kesehatannya (behavior itention).


b. Dukungan sosial dari masyarakat sekitarnya
(social support).
c. Adanya atau tidak adanya informasi tentang
kesehatan atau fasilitas kesehatan (accesebility
of information)
d. Otonomi pribadi orang yang bersangkutan dalam
hal

mengambil

tindakan

atau

keputusan

(personal autonomy).
e. Situasi yang memungkinkan untuk bertindak
(action situation).
3. Teori WHO (1984)
WHO menganalisis bahwa

yang

menyebabkan

seseorang berperilaku tertentu adalah :


1) Pemikiran dan perasaan (thougts and feeling),
yaitu dalam bentuk pengetahuan, persepsi, sikap,
kepercayaan dan penilaian seseorang terhadap
objek (objek kesehatan).
a. Pengetahuan diperoleh

dari

pengalaman

sendiri atau pengalaman orang lain.


b. Kepercayaan sering atau diperoleh dari orang
tua, kakek, atau nenek. Seseorang menerima
kepercayaan

berdasarkan

keyakinan

dan

tanpa adanya pembuktian terlebih dahulu.


c. Sikap menggambarkan suka atau tidak suka
seseorang

terhadap

objek.

Sikap

sering

diperoleh dari pengalaman sendiri atau orang


lain yang paling dekat. Sikap membuat
seseorang mendekati atau menjauhi orang
lain atau objek lain. Sikap positif terhadap
tindakan-tindakan

kesehatan

tidak

selalu

79

terwujud didalam suatu tindakan tergantung


pada situasi saat itu, sikap akan diikuti oleh
tindakan mengacu kepada pengalaman orang
lain, sikap diikuti atau tidak diikuti oleh suatu
tindakan

berdasar

pada

banyak

sedikitnya pengalaman seseorang.


2) Tokoh penting sebagai Panutan.

atau
Apabila

seseorang itu penting untuknya, maka apa yang ia


katakan atau perbuat cenderung untuk dicontoh.
3) Sumber-sumber daya (resources), mencakup
fasilitas, uang, waktu, tenaga dan sebagainya.
4) Perilaku normal, kebiasaan, nilai-nilai dan
penggunaan

sumber-sumber

didalam

suatu

masyarakat akan menghasilkan suatu pola hidup


(way of life) yang pada umumnya disebut
kebudayaan. Kebudayaan ini terbentuk dalam
waktu yang lama dan selalu berubah, baik lambat
ataupun cepat sesuai dengan peradapan umat
manusia (Notoatmodjo, 2003).
BAB VI
LEARNING ISSUE

6.1. Host :
- Pengobatan terhadap host.
- Peningkatan status gizi anak
- Memberlakukan PHBS dengan CTPS dan mandi minimal 2x
sehari
- Menghindari penggunaan bersama sprei, bantal, pakaian, sabun
mandi, handuk, sisir dengan anggota keluarga lain untuk
mencegah penularan

80

- Mencuci dan menjemur pakaian sampai kering dibawah terik


matahari, jangan menggunakan pakaian yang belum kering atau
lembab. Kalau cahaya matahari tidak cukup terik, maka sprei,
bantal, pakaian, dl bisa dibungkus dengan plastik dan didiamkan
minimal 3 hari.
6.2.

Agent :
- Sarcoptei scabiei

6.3. Environtment :
- Mengajarkan

tentang

gejala

penyakit

skabies

sehingga

mempermudah untuk mendeteksi dan mengobati pasien skabies.


- Menjaga kebersihan tempat tinggal dilakukan dengan cara
membersihkan jendela dan perabot, menyapu dan mengepel
lantai, mencuci peralatan makan, membersihkan kamar, serta
membuang sampah

6.4. Health Service


Host : Anak berusia 4 tahun.
Agent : Sarcoptes scabiei
Environtment :
-

Lingkungan keluarga yang memiliki keluhan yang sama dengan

penderita
Lingkungan rumah yang memiliki keluhan yang sama dengan

penderita
Kontak antara pasien dengan keluarga dan atau tetangga atau

sebaliknya.
Sanitasi yang buruk
Health service

Promotif :
c)
edukasi tempat tinggal

81

d)
PHBS
Preventif :
d. Mandi dua kali sehari
e. Pakaian direbus dengan air mendidik kemudian dicuci dan
dijemur
f. Meningkatkan higienitas personal
Specific protection : - Curative : medikamentosa (skabisid, CTM, amoxicilin), nonmedikamentosa (edukasi pemakaian obat)
Rehabilitation : Edukasi tetangga tentang skabies melalui PKK

BAB VII
RESUME

Seorang anak usia 4 tahun datang ke puskesmas Kebomas pada


hari Senin, 23 Maret 2015 dengan keluhan gatal dan luka pada sela-sela
jari tangan dan kaki sejak dua minggu yang lalu. Rasa gatal tersebut
terutama terjadi pada malam hari sehingga didapatkan gangguan tidur
pada penderita. Selain itu juga dikeluhkan luka pada tangan, kaki akibat
sering digaruk oleh pasien. Satu bulan yang lalu, tante pasien juga
mengeluh gatal-gatal pada sela jarinya. Tiga hari yang lalu, adik pasien
mulai merasakan gatal-gatal pada sela-sela jari kedua tangannya.
Pada pemeriksaan fisik didapatkan status gizi penderita adalah
baik, dengan tinggi badan 103 cm dan berat badan 14 kg. Nadi 86x/menit,
RR 18x/menit, Suhu :36,4oC axillar. Pada pemeriksaan dermatologis
ditemukan adanya papul, pustul, krusta pada dorsum manus dekstra &

82

sinistra. Selain itu juga didapatkan adanya papul pada dorsum pedis
dekstra & sinistra.
Berdasarkan hasil kunjungan diinterpretasikan kedalam format
rumah sehat menurut program kesehatan lingkungan,

rumah pasien

termasuk dalam golongan rumah tidak sehat. Pasien adalah penduduk


kecamatan Kebomas Kabupaten Gresik dan biaya berobat pasien berasal
dari jamkesmas.
Dari data subjektif dan objektif, assessment yang dapat ditarik ialah
kasus baru skabies dengan infeksi sekundr (ektima), dimana pada kasus
ini tante penderita bertindak sebagai kontak. Sementara itu, penderita
bertindak sebagai kontak terhadap adik penderita. Planning yang
dilakukan ialah sesuai dengan teori blumm, yaitu planning terapi dan
planning monitoring.

83

DAFTAR PUSTAKA
Amiruddin MD. 2003. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin, edisi ke-1.
Makassar: Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin.
Azwar A. 1996. Pengantar Ilmu Kesehatan Lingkungan. Mutiara Sumber
Wijaya. Jakarta.
Badri, (2008). Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan.
Bandung. http://digilib.litbang.depkes.go.id/go.php?id=jkpkbppk gdl-grey2008-mohbadri-2623&node=146&start=141 yang diakses bulan Maret
2015
Binongko, Adhien. 2003. Scabies Epidemiologi Penyakit Menular. Diakses
dari
:
https://adhienbinongko.wordpress.com/2012/12/03/scabiesepidemiologi-penyakit-menular/ pada tanggal 20 Maret 2015
CDC.
2010.
Scabies.
Diakses
http://www.cdc.gov/parasites/scabies/epi.html pada 20 Maret 2015

dari

Chandler, A.C. and C.P. Read. 1989. Introduction to Parasitology. 10th Ed.
John Willey and Soons Inc. Tap An Chompany Ltd. Japan : 543-9.
Chandra B. 1995. Pengantar Statistik Kesehatan Jakarta: EGC.
Depkes.
2007.
Cegah
dan
Hilangkan
Penyakit
Khas
Pesantren.Jakarta.
website
http://suhelmi.wordpress.com/2007/10/23/cegah-dan-hilangkan- penyakitkhas-pesantren/ yang diakses bulan Maret 2015

84

Depkes RI.,
2002. Pengendalian Lingkungan Fisik Perumahan.
Depkes RI. Jakarta
Dinkes Kota Medan, 2011, Profil Kesehatan Kota Medan Tahun 2010,
Medan.
Emier,(2007).
Scabies.
Diakses
bulan
Maret
websitehttp://emier86.blogspot.com/2007/10/scabies.html

2015.

Fain, A. 1978. Epidemiological Problems of Scabies. Int. J. Dermato. 17 :


20-30.
Graham, B. Brown. Burns, T. (2005). Scabies. Dalam: Graham, B. Brown.
Burns, ed. Lecture Notes Dermatologi. Jakarta. Erlangga
Harahap, M. 2000. Ilmu Penyakit Kulit. Hipokrates: Jakarta.
Handoko, Ronny P. 2011. Skabies dalam Djuanda, Adhi, et all. 2011. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin Edisi Keenam. Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia : Jakarta.
Hunter,John, Savin,John,Dahl,Mark. 2003. Clinical Dermatology Third
Edition. Massachusetts: Blackwell Publishing.
Johnston, G. Sladden, M. Scabies : Diagnosis And Treatment. British
Medical Journal 2005 : 331 : 619-622
Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 829/Menkes/SK/VII/1999 tentang
Persyaratan kesehatan perumahan
Komisi WHO Mengenai Kesehatan dan Lingkungan . (2001). Planet Kita
Kesehatan Kita. Kusnanto H (Editor). Yogyakarta : Gajah Mada University
Press, p. 279.
Levine. N.D. 1990. Textbook of Veterinary Parasitology. Bursess
Publishing Company New York. Pp 325-8.
Marks,James G jr, Miller, Jeffrey J. 2006. Principles of Dermatology,Fourth
Edition. Pennsylvania : Elsevier.
Mc Carthy, J.S, D.J. Kemp, S.P. Ealton, And B.J. Currie. 2004. Scabies :
More than Just an Irritation. Postgrad. Med. 80 : 382-7.
Meinking, T.L and D. Taplin. 1990. Andances in Pediculosis, Scabies and
Other Mite Infestation. Adv Dermato. 5 : 131-51.

85

Nettleman, Mary. Conrad, Stppler M. 2014. Scabies article. Diakses


dari : http://www.emedicinehealth.com/scabies/page7_em.htm pada
tanggal 20 Maret 2015
Notoatmodjo. S. 2003. Pendidikan dan prilaku Kesehatan. Jakarta :
Rineka Cipta.
Notoatmodjo. Soekijo, Sarwono Salita. 2005. Pengantar Ilmu Perilaku
Kesehatan .Badan penerbit kesehatan Masyarakat FKM. UI. Jakarta
Orkin, M, Maibach, H. Parish, C.L. Mellanby. 1997. Scabies and
Pediculosis. J.B. Lippincott Company
Sungkar, S, 2000, Skabies, Yayasan Penerbit Ikatan Dokter Indonesia,
Jakarta.
Thomas, M.C., G.H. Giedinghagen and G.L. Hoff. 1987, An-Outbreak of
Scabies Among Employees in a Hospital-Assosiated Commercial.
Laundry. Infect. Control. 8:427-9.
Undang-Undang RI No. 4 Tahun 1992 tentang Perumahan dan
Pemukiman. Jakarta : Departemen Kesehatan R.I.
Universitas
Sumatera
Utara.
2014.
Skabies.
websitehttp://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/20352/Cha
pter%20II.pdf;jsessionid=866C4F1D0A9272E31A86CE5F1ECEF252?
sequence=4 yang diakses pada 20 Maret 2015
Urquhart, G.M., J. Amaur, H. Duncan, A.M Doon and F.W Jenning. 1989.
Vetenary Parasitology. Long Man Scientific and Technical, New Yprk. 1847.
Webhealthcenter. (2006). Personal Hygiene. Dibuka pada website
http://www. webhealthcenter.com, diakses 20 Maret 2015

86