Anda di halaman 1dari 9

TUGAS MPK

MANAJEMEN RESIKO

Disusun oleh :

Irma Oktaviani (NIM. 1341320037)


4MRK3

PROGRAM STUDI MANAJEMEN REKAYASA KONSTRUKSI


JURUSAN TEKNIK SIPIL
POLITEKNIK NEGERI MALANG
2017

BAB I
PENDAHULUAN
Resiko merupakan variasi dalam hal ini yang mungkin terjadi secara alami didalam
suatu situasi (Fisk,1997). Maka dari itu Pengelolaan resiko sangat penting guna
mengantisipasi kemungkinan resiko yang terjadi, begitupula dalam
suatu proyek sangatlah penting mengingat proyek dapat dikatakan
sebagai suatu kegiatan yang memiliki tingkat kompleksitas yang cukup
rumit karena sebagaimana yang didefinisikan dalam buku Panduan
PMBOK (A Guide to the Project Management Body of Knowledge) bahwa
proyek adalah suatu usaha sementara yang dilaksanakan untuk
menghasilkan suatu produk atau jasa yang unik. Yang mana dari definisi
tersebut dapat disimpulkan bahwa proyek merupakan kegiatan yang
memiliki jangka waktu tertentu (tidak terus menerus) dan menghasilkan
produk atau jasa yang berbeda dari produk atau jasa lainnya (tidak ada
dua proyek yang 100% sama).
Pengelolaan resiko dalam suatu proyek perlu dilakukan karena
dalam proyek terdapat banyak kegiatan, banyak hubungan antar
kelompok (organisasi) dan banyak hubungan antar kegiatan (organisasi)
didalam proyek dengan pihak luar. Pengelolaan resiko dilakukan untuk
merencanakan, mengidentifikasi dan merespon kemungkinan
proyek yang mungkin terjadi.

resiko

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Landasan Teori
1. Resiko
Resiko merupakan variasi dalam hal ini yang mungkin terjadi secara alami didalam
suatu situasi (Fisk,1997). Risiko adalah ancaman terhadap

kehidupan

properti atau keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi (Duffield & Trigunarsyah,
1999). Secara umum risiko dikaitkan dengan kemungkinan (probabilitas) terjadinya
peristiwa diluar yang diharapkan (Soeharto, 1995).
Jadi risiko adalah variasi dalam hal-hal yang

mungkin terjadi secara

alami atau kemungkinan terjadinya peristiwa diluar yang diharapkan yang merupakan
ancaman terhadap properti dan keuntungan finansial akibat bahaya yang terjadi. Secara
umum risiko dapat diklasifikasikan menurut berbagai sudut pandang yang tergantung dari
kebutuhan
dalam penanganannya (Rahayu, 2001) :
1. Resiko murni dan risiko spekulatif (Pure risk and speculative risk) yaitu dimana
risiko murni dianggap sebagai suatu ketidakpastian yang dikaitkan dengan adanya
suatu luaran (outcome) yaitu kerugian. Contoh risiko murni kecelakaan kerja di
proyek. Karena itu risiko murni dikenal dengan nama risiko statis. Risiko spekulatif
mengandung dua keluaran yaitu kerugian (loss) dan keuntungan (gain). Risiko
spekulatif

dikenal

perusahaan asuransi

sebagai
jika

risiko

risiko

yang

dinamis.
dijamin

Contoh risiko spekulatif pada


terjadi

maka

pihak asuransi

akanmengalami kerugian karena harus menanggung uang pertanggungan sebesar nilai


kerugian yang terjadi tetapi bila risiko yang dijamin tidak terjadi maka perusahaan
akan meperoleh keuntungan.
2. Resiko terhadap benda dan manusia,

dimana risiko terhadap benda

adalah

risiko

yang menimpa benda seperti rumah terbakar sedangkan risiko terhadap manusia
adalah risiko

yang menimpa

manusia

seperti risiko

hari tua, kematian

dan

sebagainya.
3. Resiko fundamental dan risiko khusus (fundamental risk and particular risk)
adalah risiko fundamental adalah risiko yang kemungkinannya dapat timbul pada
hampir sebagian besar anggota Masyarakat dan tidak dapat disalahkan pada
seseorang atau beberapa orang sebagai penyebabnya, contoh risiko fundamental :
bencana alam,

peperangan. Risiko khusus

adalah

risiko yang bersumber

dari

peristiwa peristiwa yang mandiri dimana sifat dari

risiko ini adalah tidak selalu

bersifat bencana, bisa dikendalikan atau umumnya dapat diasuransikan.


2. Resiko Proyek
Resiko proyek adalah peristiwa tidak pasti yang bila terjadi akan memiliki efek
positif atau negatif terhadap tujuan proyek (bisa berupa biaya, waktu, mutu, ruang
lingkup). Resiko mungkin memiliki satu atau lebih penyebab, yang bila terjadi memiliki
satu atau lebih dampak. Resiko memiliki 3 unsur utama didalamnya, ditunjukkan oleh
gambar 1 dibawah ini.

Gambar 1. Resiko Proyek


Sumber : Internet

Resiko-resiko yang terdapat pada proyek konstruksi sangat banyak, namun tidak
semua resiko tersebut perlu diprediksi dan diperhatikan untuk memulai suatu
proyek karena hal itu akan memakan waktu yang lama. Oleh karena itu pihak pihak
didalam

proyek

kontruksi perlu untuk

risiko yang penting yang

memberi

prioritas

akan memberikan pengaruh terhadap

pada risiko-

keuntungan

proyek.

Menurut (Wideman, 1992) risiko-risiko tersebut adalah:


Resiko External, tidak dapat diprediksi (tidak dapat dikontrol) yaitu :
a.
b.
c.
d.
e.

Perubahan peraturan perundang- undangan,


Bencana alam : badai, banjir, gempa bumi,
Akibat kejadian pengrusakan dan sabotase,
Pengaruh lingkungan dan sosial, sebagai akibat dari proyek
Kegagalan penyelesaian proyek External, dapat diprediksi (tetapi tidak dapat
dikontrol) contohnya :
a) Resiko pasar,
b) Operasional (setelah proyek selesai),
c) Pengaruh lingkungan,
d) Pengaruh sosial,
e) Perubahan mata uang,
f) Inflasi,
g) Pajak

Resiko Internal, non teknik (tetapi umumnya dapat dikontrol) yaitu :

a)
b)
c)
d)
e)

Manajemen,
Jadwal yang terlambat,
Pertambahan biaya,
Cash flow,
Potensi kehilangan atas

manfaat dan keuntungan

teknik (dapat dikontrol)

misalnya:
1) Perubahan teknologi,
2) Resiko-resiko spesifikasi atas teknologi proyek,
3) Desain
4) Hukum, timbulnya kesulitan akibat dari :
- Lisensi,
- Hak paten,
- Gugatan dari luar,
- Gugatan dari dalam,
- Hal-hal tak terduga
3. Manajemen Resiko Proyek
Manajemen risiko pada proyek meliputi langkah memahami dan mengidentifikasi
masalah potensial yang mungkin terjadi, mengevaluasi, memonitoring dan menangani
risiko. Manajemen risiko yang proaktif artinya menjawab bagaimana orang secara aktif
berusaha mengurangi risiko serta memperbaiki tingkat probabilitas keberhasilan
pelaksanaan proyek. Manajemen Resiko Proyek adalah sebuah proses sistematis untuk
merencanakan, mengidentifikasi dan merespon resiko proyek. Manajemen resiko proyek
meliputi aspek teknik, dan non teknik. Contoh aspek teknik misalnya adalah hal-hal yang
berhubungan dengan item pekerjaan. Contoh aspek non teknik misalnya adalah hubungan
antara proyek dengan lingkungan dan masyarakat sekitar, dengan pemerintah, dan lainlain. Tujuan dari manajemen resiko proyek adalah (C. Duffield & B. Trigunarsyah, 1999)
a. Membatasi kemungkinan-kemungkinan dari ketidakpastian
b. Membuat langkah-langkah yang lebih mengarah pada tindakan proaktif
dibandingkan reaktif dalam memandang kemungkinan ancaman dan kerugian yang
besar.
c. Membatasi kerugian dan ketidakpastian pada stake holder
d. Menjaga kesinambungan program operasi, sehingga tidak terganggu dengan
kejadian-kejadian yang belum terantisipasi sebelumnya.
e. Menjalankan program manajemen risiko secara efektif sehingga mempunyai
pengaruh yang menguntungkan dan bukan menimbulkan biaya baru.
Di dalam manajemen resiko proyek, ada beberapa proses yang terlibat didalamnya, yaitu :
1. Perencanaan Manajemen Resiko
5) Menetapkan basis yang disepakati untuk mengevaluasi resiko.

6) Menyediakan sumberdaya dan waktu yang memadai untuk aktivitas manajemen


resiko
2. Identifikasi Resiko
7) Menentukan resiko-resiko yang mempengaruhi proyek dan mendokumentasikan
karakteristiknya
8) Merupakan proses iteratif karena resiko-resiko baru mungkin diketahui sebagai
kemajuan proyek melalui siklus hidupnya
3. Analisis Resiko Kualitatif
9) Menilai prioritas resiko teridentifikasi menggunakan peluang terjadinya dan
dampaknya terhadap tujuan proyek bila resiko itu terjadi.
4. Analisis Resiko Kuantitatif
10) Dikerjakan berdasarkan resiko yang diprioritaskan oleh proses analisis resiko
kualitatif
11) Teknik untuk menganalisa resiko kuantitatif dan pengambilan keputusan.
5. Perencanaan Respon Terhadap Resiko
12) Proses mengembangkan pilihan dan menentukan tindakan untuk mengurangi
ancaman terhadap tujuan proyek.
6. Pengendalian Dan Monitoring Resiko
13) Proses mengidentifikasi, menganalisis, dan merencanakan resiko-resiko yang baru
muncul, melacak resiko teridentifikasi, menganalisis ulang resiko sekarang,
memonitor kondisi pemicu rencana kontingensi, memonitor sisa resiko, dan
mereview pelaksanaan respon resiko saat mengevaluasi keefektifannya

4. Proyek Konstruksi
Proyek konstruksi adalah suatu

rangkaian kegiatan yang hanya

dilaksanakan dan umumnya berjangka


kegiatannya.

Dalam

pendek

satu

kali

serta jelas waktu awal dan akhir

rangkaian kegiatan tersebut,

ada suatu

proses yang mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan berupa
bangunan.
Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya melibatkan pihakpihak yang terkait baik secara langsung maupun tidak langsung. Menurut Ervianto
( 2002), proyek konstruksi mempunyai tiga karakteristik yang dapat dipandang
secara tiga dimensi yaitu :

1. Bersifat unik : tidak pernah terjadi


(tidak ada proyek yang identik, yang
bersifat sementara dan

rangkaian kegiatan yang sama


ada adalah proyek

selalu melibatkan

sejenis),

persis
proyek

buruh / pekerja yang berbeda-

beda.
2. Dibutuhkan sumber daya : setiap proyek konstruksi membutuhkan sumber
daya yaitu tenaga kerja, uang, peralatan, metode dan material.
3. Organisasi : setiap organisasi mempunyai keragaman tujuan di dalamnya
terlibat sejumlah individu dengan

keahlian yang bervariasi.

Langkah awal yang harus dilakukan adalah menyatukan fisi menjadi satu tujuan
yang ditetapkan organisasi dalam proses

mencapai batasan/kendala yaitu (triple

constraint) diantaranya besar biaya (anggaran) dan yang dialokasikan, mutu dan jadwal
yang harus dipenuhi.
2.2 Contoh Permasalahan Resiko Dilapangan
1. Pekerjaan Tiang Pancang
Setelah tanah bersih dan rata, dilanjutkan kemudian dengan pemancangan tiang
pondasi, yang biasa disebut dengan Tiang Pancang. Sebelum pemancangan ini, perlu
ditentukan dahulu titik-titik pondasi tersebut. Setelah titik-titik pondasi ditentukan, barulah
proses pemancangan dapat dilakukan. Proses pemancangan ini harus sangat diperhatikan,
karena saat proses pemancangan, dapat terjadi berbagai kesalahan. Operator mesin
pancang diharapkan terus mengontrol posisi tiang pancang. Dalamnya pondasi tiang
pancang yang tertanam di dalam tanah tergantung dari jenis dan kondisi tanah tersebut,
karena pondasi tiang pancang harus berdiri di atas tanah yang keras. Jika proyek berada di
daerah tanah rawa, pondasi tiang pancang tertanam lebih dalam. Jenis pondasi tiang
pancang sudah banyak digunakan untuk gedung bertingkat maupun jembatan karena
mempunyai daya dukung yang sangat baik, tetapi proses yang dilakukan saat pemancangan
akan menimbulkan getaran yang cukup besar dan akan mengganggu terhadap kenyamanan
manusia maupun kerusakan bangunan di sekitarnya.

Contoh resiko yang mungkin terjadi diproyek dalam bidang teknis pekerjaan pondasi tiang
pancang yaitu :
1. Penanggung jawab supervisor pekerjaan pondasi tiang pancang dan Staff HSE
2. Resiko kecelakaan yang mungkin terjadi :
1) Orang jatuh dari Crane
2) Kejatuhan benda dari atas
3) Crane amblas
4) Diesel hammer terpental dari leader
5) Kabel sling putus
6) Tiang pancang patah saat pengangkatan

Solusi Permasalahan Resiko Dilapangan


1. Pekerjaan Tiang Pancang
Pencegahan dan Penanganan yang dilakukan oleh supervisor dan Staff HSE selaku
Penanggung jawab supervisor pekerjaan pondasi tiang pancang :
1) Mengingatkan agar selalu memakai sabuk pengaman waktu naik dan bekerja diatas
2)
3)
4)
5)
6)

a.

ketinggian
Mengingatkan agar selalu memakai pelindung kepala yaitu helm pengaman
Menggunakan matras plat besi sebagai landasan crane
Mengawasi tinggi jatuh hammer
Melakukan pengecekan sling sebelum mulai bekerja secara berkala
Melakukan pengangkatan pada titik tiang

BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Dari hasil penyusunan makalah ini yang mengacu pada landasan teori dan contoh
yang terjadi dilapangan, penulis dapat mengambil beberapa kesimpulan yaitu sebagai
berikut :
1. Dalam setiap proyek konstruksi sangat penting dilakukan manajemen risiko untuk
untuk menghindari kerugian atas biaya, mutu dan jadwal proyek.
2. Manajemen resiko merupakan Pendekatan yang dilakukan terhadap risiko yaitu
dengan

memahami,

mengidentifikasi

dan

mengevaluasi

resiko

suatu

proyek.Kemudian mempertimbangkan apa yang akan dilakukan terhadap dampak


yang

ditimbulkan dan kemungkinan pengalihan resiko kepada pihak lain atau

mengurangi resiko yang terjadi.


3. Penilaian resiko yang dilakukan meliputi :
a. Identifikasi resiko,
b. Memahami kebutuhan atau
c. Mempertimbangkan resiko,
d. Menganalisis dampak dari risiko tersebut / evaluasi resiko,
e. Menetapkan siapa yang bertanggung jawab terhadap risiko tertentu (alokasi
resiko).
4. Melakukan tindakan penanganan yang dilakukan terhadap risiko yang mungkin
terjadi (respon resiko) dengan cara :
a. Menahan resiko (risk retention),
b. Mengurangi risiko (risk reduction),
c. Mengalihkan risiko (risk transfer),
d. Menghindari resiko (risk avoidance).