Anda di halaman 1dari 3

Teori Gelombang Menurut Fisikawan

Bel telah berbunyi, siswa-siswi kelas X mulai bersiap keluar ruangan untuk beristirahat, dua
diantaranya Dian dan Ardi. Mereka bergegas menuju perpustakaan sekolah untuk membaca
buku edisi baru. Sesampainya di perpustakaan, mereka asyik membaca buku sambil
mengobrol.

Ardi : Yan, semalam aku lihat banyak sekali hewan yang terbang di sekitar lampu teras
rumah?
Kamu tahu tidak hewan apa itu?
Dian : Oh itu, laron. Mereka hidup berkoloni dan sangat peka dengan cahaya.
Ardi : Sepertinya begitu. Ketika lampu teras aku matikan, hewan itu langsung hilang.
Dian : Iya Di. Cahaya memang sangat penting buat laron. Biasanya laron keluar di malam
hari
untuk mencari cahaya lampu.
Ardi : Iya, kamu benar. Hmmm. Coba deh Yan kamu inget lagi, kalau gravitasi itu kan
ditemukan Newton, nah kalau cahaya siapa ya? Hebat banget ya ilmuwan zaman dulu,
mereka bisa membuat cahaya,
Dian : Hmmm.... Cahaya itu bersifat alami, manusia bisa membuat cahaya karena memahami
perilaku cahaya itu, kan cahaya merupakan gelombang elektromagnetik.
Ardi : Perilaku? Seperti manusia aja. Siapa ya ilmuwan yang pertama kali mengamati
perilaku
cahaya? Jadi penasaran aku.
Dian : Hehe..... daripada penasaran, coba kamu buka Quipper School. Menurut informasi, ada
kok topik yang membahas masalah itu.
Ardi : Asyik tu Yan, nanti sepulang sekolah aku langsung buka Quipper School deh.
Dian : Oke, aku juga. hihi
Tepat sekali Dian dan Ardi, pada topik kali ini kalian akan belajar tentang ilmuwan pencetus
teori gelombang. Siapa sajakah mereka? Berikut ini ulasannya.
Gelombang merupakan getaran yang merambat dengan energi tertentu. Berdasarkan medium
perambatannya, gelombang dibagi menjadi dua yaitu gelombang mekanik dan gelombang
elektromagnetik. Jenis gelombang yang menjadi fokus penelitian Ilmuwan fisika klasik dan
modern adalah gelombang elektromagnetik, yaitu gelombang yang tidak membutuhkan
medium untuk merambat. Berikut ini merupakan tokoh-tokoh di balik lahirnya teori
gelombang.

Teori Gelombang
Teori gelombang dikemukakan oleh Christian Huygens (1629-1695). Huygens merupakan
Ilmuwan asal Belanda yang menyatakan bahwa sebenarnya cahaya sama dengan bunyi.
Perbedaan keduanya terletak pada frekuensi dan panjang gelombangnya. Setiap gelombang
yang terbentuk, akan memiliki muka gelombang yang dianggap sebagai sumber gelombang
baru.
Sifat-sifat cahaya seperti pemantulan, pembiasan, interferensi, dan difraksi dapat
dijelaskan oleh Huygens. Akan tetapi, terdapat satu gejala yang masih belum dapat dijelaskan
dengan tepat, yaitu cahaya merambat lurus. Untuk menyempurnakan teori yang dikemukakan
Huygens, lahirlah teori baru, yaitu teori partikel atau teori emisi.

Teori Emisi atau Teori Partikel


Teori emisi ini dikemukakan oleh Ilmuwan asal Inggris yaitu Sir Isaac Newton (1642-1727).
Newton menyatakan bahwa cahaya memancarkan partikel-partikel yang berukuran sangat
kecil, ringan, dan berkecepatan tinggi ke segala arah. Newton mengemukakan pendapat
tersebut berdasarkan beberapa keadaan berikut.
Cahaya terdiri dari partikel yang bermassa ringan dan berkecepatan tinggi, sehingga tidak
dipengaruhi oleh gaya gravitasi. Akibatnya, cahaya dapat merambat lurus.
Cahaya akan dipantulkan saat mengenai permukaan yang halus dengan sudut datang sama
dengan sudut pantul.
Cahaya mengalami pembiasan. Akibatnya, kecepatan cahaya di dalam air akan bernilai
lebih besar daripada di udara.

Teori Elektromagnetik
Teori elektromagnetik ini pertama kali dirumuskan oleh Ilmuwan asal Scotlandia yaitu James
Clerk Maxwell (1831-1879). Dalam teorinya, Maxwell mencoba untuk menggabungkan
sifat kelistrikan dan kemagnetan. Berikut ini merupakan tiga teori acuan tentang listrik dan
magnet yang digunakan oleh Maxwell.
Hukum Ohm yang menyatakan bahwa medan listrik disebabkan oleh adanya aliran
muatan listrik.
Hukum Biot Savart yang menyatakan bahwa medan magnet ditimbulkan oleh adanya arus
listrik.
Hukum Faraday yang menyatakan bahwa medan listrik ditimbulkan oleh adanya medan
magnet.
Berdasarkan ketiga hukum di atas, Maxwell berhasil merumuskan sendiri pendapatnya
ternyata perubahan medan magnet dapat menghasilkan medan listrik dan perubahan medan
listrik juga dapat menghasilkan medan magnet. Perubahan medan listrik dan medan magnet
yang berlangsung secara tegak lurus dan terus menerus dapat membentuk gelombang
elektromagnetik. Melalui penelitian yang cukup lama, Maxwell dapat menyimpulkan bahwa
gelombang elektromagnetik memiliki kecepatan yang sama dengan cahaya, yaitu 3 x 108 m/s
berdasarkan persamaan berikut.

c=100
Keterangan:
0 = permeabilitas ruang hampa (4 x 10-7 Wb/A.m); dan
0 = permitivitas ruang hampa (8,85 x 10-12 C2/N.m2).
Pernyataan Maxwell tersebut tentu sangat mengejutkan Ilmuwan saat itu, karena perumusan
yang dihasilkan sangat berbeda dengan Ilmuwan-Ilmuwan sebelumnya seperti Huygens dan
Newton. Beberapa Ilmuwan lain berusaha untuk membuktikan kebenaran teori Maxwell
dengan penelitiannya sebagai berikut.
Heinrich Rudolp Hertz (1857-1894) berhasil membuktikan bahwa kecepatan gelombang
elektromagnetik sama dengan kecepatan cahaya, yaitu 3 x 108 m/s. Karakteristik yang

dimiliki gelombang elektromagnetik sama dengan karakteristik cahaya.


Peeter Zeeman (1852-1943) merupakan seorang Ilmuwan berkebangsaan Belanda yang
berhasil membuktikan bahwa berkas cahaya dapat dipengaruhi oleh medan magnet yang
sangat besar.
Stark (1874-1957) merupakan Ilmuwan berkebangsaan Jerman yang berhasil
membuktikan bahwa berkas cahaya dapat dipengaruhi oleh medan listrik yang sangat besar.
Tiga penelitian di atas, merupakan pembuktian kebenaran teori Maxwell tentang gelombang
elektromagnetik yang terdiri dari medan magnet dan medan listrik yang saling tegak lurus.

Teori Kuantum
Setelah Maxwell, Ilmuwan lain yang berusaha menjelaskan fenomena gelombang
elektromagnetik adalah Karl Max Ernst Ludwig Planck (1858-1947). Max Planck
merupakan Ilmuwan asal Jerman yang mengemukakan bahwa cahaya tersusun atas paketpaket energi yang biasa disebut foton atau kuanta. Teori yang dikemukakan Planck ini
berbeda dengan teori emisi Newton. Newton menyatakan bahwa partikel penyusun cahaya
memiliki massa, sedangkan Planck berpendapat bahwa foton tidak memiliki massa.
Teori tersebut dipublikasi Planck pada tahun 1901 dan diperkuat oleh penelitian Albert
Einstein tentang efek fotolistrik pada tahun 1905. Efek fotolistrik merupakan gejala
terlepasnya elektron dari permukaan logam saat dikenai cahaya dengan panjang gelombang
tertentu di atas ambang batas energi elektron tersebut. Berikut ini merupakan persamaan
energi foton yang dikemukakan oleh Planck.

E=hf
Keterangan:
E = energi foton (J);
h = konstanta Planck (6,626 x 10-34 Js);
f = frekuensi foton (Hz).