Anda di halaman 1dari 3

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bullying

adalah

pola

perilaku

agresif

yang

melibatkan

ketidakseimbangan kekuasaan dengan tujuan membuat oranglain


merasa tidak nyaman, takut, dan sakit hati yang sering dilakukan atas
dasar perbedaan pada penampilan, budaya, ras, agama, orientasi
seksual dan identitas gender orang lain (British Columbia, 2012).
Olweus (Flynt dan Morton,2006, dalam Maghfiroh

dan

Rahmawati) mengartikan bullying sebagai prilaku agresif yang diniatkan


untuk menjahati atau membuat individu merasa kesusahanlu , terjadi
berulang kali dari waktu ke waktu dan berlangsung dalam hubungan yang
tidak terdapat keseimbangan kekuasaan atau kekuatan didalamnya
Bullying merujuk pada tindakan kekerasan yang dilakukan oleh
pelaku (bully/bullies) yang memiliki kekuatan atau kekuasaan kepada
orang lain yang dianggap lemah. Kekerasan yang dilakukan bisa
berbentuk kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis dan dapat terjadi
secara langsung seperti misalnya memukul, menendang, mencacimaki
maupun secara tidak langsung seperti mengaliniasi dan menggosip
(Papler & Craig, 2002; Storey, dkk, 2008)
Bullying dapat diartikan sebagai bentuk agresi dimana terjadi
ketidakseimbangan kekuatan atau kekuasaan antara pelaku (bullies/bully)
dengan

korban

(victim),

pelaku

pada

umumnya

memiliki

kekuatan/kekuasaan lebih besar daripada korbannya (Papler & Craig


2002; Rigby, 2003; Kim,dkk., 2011).
Liness (Sri Wahyuni & M.G. Adiyanti, 2010) mendefinisikan
perilaku bullying sebagai intimidasi yang dilakukan oleh individu atau
kelompok baik secara fisik, psikologis, sosial, verbal atau emosional,

yang dilakukan secara terus menerus. Menurut Santrock (2007:213),


bullying didefinisikan sebagai perilaku verbal dan fisik yang dimaksudkan
untuk mengganggu seseorang yang lebih lemah.
Bullying melibatkan beberapa pihak. Pertama, tentu saja pelaku,
yang biasanya bertujuan untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan,
mendapatkan kepuasan setelah unjuk kekuatan, namun bisa juga tadinya
ia

iseng,

dan

berhasil,

sehingga

ingin

mengulang

kembali

keberhasilannnya tersebut. Pihak selanjutnya, adalah korban. Korban


biasanya memiliki karakteristik tertentu yang menarik perhatian atau oleh
pelaku dianggap berbeda dibandingkan teman sebayanya, sehingga
memicu pelaku untuk melakukan bullying (Sawitri, 2009).
Para peneliti dari Kings College, London, meneliti sekitar 7.771
anak-anak, dan sekitar seperempat dari mereka (28 persen) ditindas atau
di bully antara usia tujuh dan sebelas tahun, dan hal tersebut terbawa
hingga di usia 50 tahun (Renny, 2014). Survey di berbagai belahan dunia
menyatakan bahwa bullying paling banyak terjadi pada usia 7 tahun, dan
selanjutnya menurun hingga usia 15 tahun. Studi lain menyatakan
prevalensi bullying tertinggi pada usia 7 tahun dan 10-12 tahun (KPA,
2007).
Dari 40 Negara yang di survey, Latitude News menempatkan 5
Negara diperingkat

teratas sebagai Negara-negara dengan kasus

bullying tertinggi khususnya anak-anak dan remaja. Kanda dan Amerika


Serikat sebenarnya sudah sejak dulu bergumul dengan masalah bullying
di sekolah-sekolah. Selain tingkat kasusnya tinggi,prilaku bullying di dua
Negara tersebut juga sangat mengkhawatirkan.,karena kadang sampai
menghilangkan nyawa seseorang. Karena dari itu kedua Negara tersebut

tidak memberi toleransi pada pelaku bullying dan menindak dengan


tegas, khususnya kejadian yang terjadi disekolah.
Jepang menduduki peringkat pertama sebagai Negara dengan
kasus bullying tertinggi,khususnya terjadi di sekolah. Di Jepang, kasus
bullying umumnya dilakukan dengan cara mengucilkan si korban,
daripada melakukan aksi kekerasan secara fisik. Seisi ruangan kelas bisa
saling bekerjasama menyudutkan si korban. Di Jepang tindakan seperti
itu disebut ijime.