Anda di halaman 1dari 9

KONVENSI INTERNASIONAL TENTANG PERLINDUNGAN LAUT

MAKALAH KOSERVASI SUMBERDAYA DAN LINGKUNGAN LAUT

KELOMPOK 5

Dede Supriatna

230210130013

Adi Supriyatno

230210130023

Arya Narendra

230210130044

Wilman Shobara

230210130045

Vega Kharisma N

230210130072

Luthfi Fauzan A

230210130058

Egi Pamungkas

230210130061

Muhammad Ilham

2302101690001

UNIVERSITAS PADJADJARAN
FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN
PROGRAM STUDI ILMU KELAUTAN
JATINANGOR
2016

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI..............................................................................................................................1
BAB I.........................................................................................................................................2
PENDAHULUAN..................................................................................................................2
1.1

Latar belakang..........................................................................................................2

1.2

Tujuan......................................................................................................................2

BAB II........................................................................................................................................3
ISI...........................................................................................................................................3
2.1

United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982......................3

2.2

Convention on the Prevention of Marine Pollution by Dumping of Wastes and


Other Matter (London Dumping Convention) 1972...............................................4

2.3

The International Convention on Oil Pollution Preparedness Response and


Cooperation (OPRC) 1990......................................................................................4

2.4

Konvensi IMO (International Maritime Organization)............................................5

2.5

International Convention Relating to Invention on the High Seas in Case of Oil


Pollution 1969 (Konvensi Intervensi 1969)............................................................5

2.6

Protokol 1997 (Annex VI).......................................................................................6

BAB III.......................................................................................................................................7
PENUTUP..............................................................................................................................7
3.1

Kesimpulan..............................................................................................................7

DAFTAR PUSTAKA.................................................................................................................8

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Konvensi Internasional merupakan perjanjian antar negara dalam menyepakati
sesuatu hal.Konvensi internasional ini dilakukan banyak negara guna tercapai kesepakatan
bersama dalam suatu masalah yang berhubungan dengan masing-masing negara. Dalam
dunia konservasi laut sudah banyak konvensi tingkat internasional yang dilakukan oleh
seluruh negara. Berbagai permasalahan seputar sumberdaya hayati laut telah memaksa para
ahli konservasi tiap negara untuk membentuk kesepakatan agar tercapainya solusi bersama
guna melestarikan lingkungan.
Salah satu konvensi internasional di bidang konservasi yaitu CITES (Convention on
Internatinal Trade in Endangered Spesies Of Wild Flora and Fauna). CITES merupakan
suatu perjanjian atau traktat global dengan fokus perlindungan spesies tumbuhan dan satwa
liar terhadap perdagangan internasional serta tindak eksploitasi yang tidak sesuai dengan
ketentuan yang berlaku yang mungkin akan mengancam kelestarian kehidupan flora maupun
fauna (Bangun 2014). CITES membuat kesepakatan dengan mengatur batasan-batasan
perdagangan flora dan fauna sesuai dengan status populasinya di dunia. Permasalahan dunia
khususnya di bidang ekosistem laut menggerakkan berbagai ahli tiap negara untuk saling
bekerjasama membentuk suatu perjanjian guna kelestarian alam yang terus terjaga. Agar lebih
memahami konvensi internasional yang ada di dunia terkait perlindungan laut maka makalah
ini disusun.
1.2 Tujuan
Makalah ini bertujuan untuk mengetahui berbagai macam konvensi internasional
tentang perlindungan laut yang telah disepakati berbagai negara.

BAB II
ISI

2.1 United Nation Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) 1982
Konvensi Hukum Laut 1982 adalah merupakan puncak karya dari PBB tentang
hukum laut, yang disetujui di montego Bay, Jamaica tanggal 10 Desember 1982. Konvensi
Hukum Laut 1982 secara lengkap mengatur perlindungan dan pelestarian lingkungan laut
(protection and preservation of the marine environment) yang terdapat dalam Pasal 192-237.
Pasal 192 berbunyi : yang menegaskan bahwa setiap Negara mempunyai kewajiban
untuk melindungi dan melestarikan lingkungan laut. Pasal 193 menggariskan prinsip penting
dalam pemanfaatan sumber daya di lingkungan laut, yaitu prinsip yang berbunyi : bahwa
setiap Negara mempunyai hak berdaulat untuk mengeksploitasi sumber daya alamnya sesuai
dengan kebijakan lingkungan mereka dan sesuai dengan kewajibannya untuk melindungi dan
melestarikan lingkungan laut.
Pasal 145 berbunyi : Tindakan-tindakan yang perlu berkenaan dengan kegiatankegiatan di Kawasan harus diambil sesuai dengan Konvensi ini untuk menjamin perlindungan
yang efektif terhadap lingkungan laut dari akibat-akibat yang merugikan yang mungkin
timbul dari kegiatan-kegiatan tersebut. Untuk tujuan ini Otorita harus menetapkan ketentuanketentuan, peraturan-peraturan dan prosedur-prosedur yang tepat untuk inter alia
Konvensi Hukum Laut 1982 meminta setiap Negara untuk melakukan upaya-upaya
guna mencegah (prevent), mengurangi (reduce), dan mengendalikan (control) pencemaran
lingkungan laut dari setiap sumber pencemaran, seperti pencemaran dari pembuangan limbah
berbahaya dan beracun yang berasal dari sumber daratan (land-based sources), dumping, dari
kapal, dari instalasi eksplorasi dan eksploitasi.
Negara peserta Konvensi Hukum Laut 1982 mempunyai kewajiban untuk menaati
semua ketentuan Konvensi tersebut berkenaan dengan perlindungan dan pelestarian
lingkungan laut, yaitu antara lain sebagai berikut :
a. Kewajiban membuat peraturan perundang-undangan tentang perlindungan dan pelestarian
lingkungan laut yang mengatur secara komprehensif termasuk penanggulangan
pencemaran lingkungan laut dari berbagai sumber pencemaran, seperti pencemaran dari
darat, kapal, dumping, dan lainnya.
b. Kewajiban melakukan upaya-upaya mencegah, mengurangi, dan mengendalikan
pencemaran lingkungan laut,
3

c. Kewajiban melakukan kerja sama regional dan global, kalau kerja sama regional berarti
kerja sama ditingkat negara-negara anggota ASEAN.
d. Negara harus mempunyai peraturan dan peralatan sebagai bagian dari contingency plan
e. Peraturan

perundang-undangan

tersebut

disertai

dengan

proses

mekanisme

pertanggungjawaban dan kewajiban ganti ruginya bagi pihak yang dirugikan akibat
terjadinya pencemaran laut.
2.2 Convention on the Prevention of Marine Pollution by Dumping of Wastes and
Other Matter (London Dumping Convention) 1972
London Dumping Convention merupakan Konvensi Internasional untuk mencegah
terjadinya Pembuangan (dumping), yang dimaksud adalah pembuangan limbah yang
berbahaya baik itu dari kapal laut, pesawat udara ataupun pabrik industri. Para negara
konvensi berkewajiban untuk memperhatikan tindakan dumping tersebut. Dumping dapat
menyebabkan pencemaran laut yang mengakibatkan ancaman kesehatan bagi manusia,
merusak ekosistem dan mengganggu kenyamanan lintasan di laut.
Beberapa jenis limbah berbahaya yang mengandung zat terlarang diatur dalam
London Dumping Convention adalah air raksa, plastik, bahan sintetik, sisa residu minyak,
bahan campuran radio aktif dan lain-lain. Pengecualian dari tindakan dumping ini adalah
apabila ada foce majeur, yaitu dimana pada suatu keadaan terdapat hal yang
membahayakan kehidupan manusia atau keadaan yang dapat mengakibatkan keselamatan
bagi kapal-kapal.
2.3 The International Convention on Oil Pollution Preparedness Response and
Cooperation (OPRC) 1990
OPRC adalah sebuah konvensi kerjasama internasional menanggulangi pencemaran
laut dikarenakan tumpahan minyak dan bahan beracun yang berbahaya. Dari pengertian yang
ada, maka dapat kita simpulkan bahwa Konvensi ini dengan cepat memberikan bantuan
ataupun pertolongan bagi korban pencemaran laut tersebut, pertolongan tersebut dengan cara
penyediaan peralatan bantuan agar upaya pemulihan dan evakuasi korban dapat ditanggulangi
dengan segera.
Indonesia juga memiliki aturan mengenai pencemaran laut yang disebabkan oleh
tumpahan minyak dilaut tersebut. Bagi pelaku pencemaran laut oleh tumpahan minyak,
dalam hal ini kapal-kapal tanker wajib menanggulangi terjadinya keadaan darurat tumpahan

minyak yang berasal dari kapalnya, yang tercantum dalam Peraturan Presiden Nomor 109
Tahun 2006 Tentang Penanggulangan Keadaan Darurat Tumpahan Minyak Di Laut.
2.4 Konvensi IMO (International Maritime Organization)
Pada tahun 1928, The Financial Times of London memberitakan bahwa lebih dari
500.000 barrel minyak tumpah setiap tahunnya ke laut. selanjutnya pada tahun 1934 atas
inisiatif pemerintah Inggirs, masalah perlindungan lingkungan laut terhadap tumpahan
minyak ini dibicarakan pada The League of Nations (Liga Bangsa-Bangsa). Namun
pembicaraan ini belum menghasilkan suatu persetujuan internasional sampai terjadi Perang
Dunia I pada tahun 1939. Perhatian masyarakat internasional akan pencemaran lingkungan
laut ini selanjutnya timbul kembali setelah Perang Dunia II. Pada tahun 1952, Pemerintah
Inggris membuat suatu laporan yang merekomendasikan kemungkinan untuk mengontrol
pencemaran lingkungan laut di luar juridiksi suatu negara.
Pada tahun 1948, masyarakat internasional mendirikan IMCO (International
Maritime Consultative Organization) yang saat ini dikenal dengan nama International
Maritime Organization (IMO). IMO merupakan badan khusus PBB yang mengurus bidang
kemaritiman yang didirikan di Jenwa. Tujuan didirikannya IMO adalah untuk memajukan
kerjasama antar negara-negara anggota dalam masalah-masalah teknis di bidang pelayaran
dengan perhatian khusus pada keselamatan di laut dan untuk menjami tercapainya taraf
keselamatan serta efisiensi pelayaran setinggi-tingginya. Dengan demikian, IMO merupakan
badan khusus PBB yang bertanggung jawab dalam keselamatan pelayaran secara luas dan
pencegahan dari pencemaran lingkungan laut.
2.5 International Convention Relating to Invention on the High Seas in Case of Oil
Pollution 1969 (Konvensi Intervensi 1969)
Konvensi Intervensi 1969 ini merupakan usaha dari masyarakat internasional dengan
membuat ketentuan-ketentuan bagi perlindungan lingkungan laut dengan latar belakang
persitiwa Torrey Canyon Case 1967. Pada tanggal 18 Maret 1967, kapal tanker Torrey
Canyon kandas ketika memasuki the English Channel. Peristiwa tersebut terjadi di laut lepas.
Kapal tanker ini membawa lebih dari 119.000 ton the crude oil dalam bentuk kargo. Pada
waktu terjadi kandas, kargo kapal tersebut mengalami kerusakan. Pada 20 Maret 1967, lebih
dari 100.000 ton crude oil tumpah ke laut. akibat terpaan angin keras, tumpahan minyak
tersebut sampai ke laut teritorial sehingga menimbulkan kerusakan yang serius di sepanjang
the cornish coast berupa kerusakan serius pada ekologi kelautan dan perikanan.
5

Konvensi Intervensi 1969 dikhususkan melindungi dan menyelamatkan negara-negara


pantai dari bahaya pencemaran, khususnya yang diakibatkan oleh tumpahan minyak. Tidak
sebatas pencemaran oleh minyak dari kapal tanker saja tetapi mencakup bagi tumpahan
minyak dari semua kapal-kapal. Pengecualian dari konvensi ini mencakup pencemaran yang
berasal dari instalasi-instalasi minyak dalam hal eksplorasi dan eksploitasi sumberdaya alam
di dasar laut, kapal perang, serta kapal milik pemerintah dengan tujuan pelayanan nonkomersial. Konvensi ini memperbolehkan negara peserta untuk melakukan intervensi di laut
lepas. Intervensi ini dilakukan dalam rangka mengambil langkah-langkah di laut lepas yang
dianggap perlu untuk mencegah, menghilangkan, atau menghalangi bahaya besar yang
mungkin timbul pada pantai suatu negara.
2.6 Protokol 1997 (Annex VI)
Pada tahun 1997, IMO (International Maritime Organization) mengeluarkan Protokol
1997 guna mengatur hal-hal yang menyangkut pencegahan pencemaran udara dari kapalkapal. Ketentuan ini membatasi zat sulphur oxide dan emisi nitrogen oksida dari kapal-kapal
yang berlayar, juga melarang dikeluarkannya emisi-emisi yang merusak ozon.
Dari laporan penelitian Buewater Network, sebuah organisasi yang berkedudukan di
San Fransisco, menyatakan bahwa kapal-kapal besar merupakan penyumbang terbesar dari
bentuk-bentuk pengotoran dibanding dengan sarana transportasi lainnya, misalnya dalam
penggunaan sulfur yang 5.000 kali lebih tinggi dibanding dengan truk diesel atau bus. Emisi
pencemaran yang dikeluarkan dalam bentuk smog dan sulfur membawa konsekuensi bagi
kerusakan kualitas hidup manusia.
Sulfur yang dapat dibuang oleh kapal harus tidak melebihi 4,5% m/m. Bagi kategori
Sox Emmission Control Areas seperti Laut Baltic, tidak melebihi 1,5% m/m. Sebagai
alternatif untuk mengatasi hal ini, setiap kapal diharuskan untuk mengadakan gas cleaning
system atau dapat dipergunakan teknologi yang dapat membatasi Sox emmission.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Laut sebagai salah satu penunjang kehidupan di bumi dan merupakan wilayah yang
paling luas dibandingkan ekosistem lainnya perlu mendapat perhatian khusus. UNCLOS
1982 merupakan dasar hukum laut yang secara lengkap mengatur perlindungan dan
pelestarian lingkungan laut. Selain UNCLOS, ada beberapa konvensi internasional lainnya
seperti IMO, OPRC, International Convention Relating to Invention on the High Seas, yang
berfokus pada masalah pencemaran di lingkungan laut yang diakibatkan oleh tumpahan
minyak. Konvensi-konvensi internasional tersebut dilakukan agar dapat mencegah atau
setidaknya mengurangi kerusakan yang terjadi di laut yang disebabkan oleh pihak-pihak
tertentu dan dapat memberikan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan.

DAFTAR PUSTAKA
Bangun, Ollani,V. 2014. EFEKTIVITAS CITES ( CONVENTION ON INTERNATIONAL
TRADE IN ENDANGERED SPECIES OF WILD FAUNA AND FLORA) DALAM
MENGATUR PERDAGANGAN HIU DI KAWASAN CORAL TRIANGEL
(IMPLEMENTASI DI INDONESIA). Jom FISIP. Vol.1 No.2: 1-12
Terjemahan UNCLOS 1982. http://www.hukum.unsrat.ac.id/hi/unclos_terjemahan.doc.
diakses pada Rabu, 21 September 2016
Suhaidi. 2006. Perlindungan Lingkungan Laut: Upaya Pencegahan Pencemaran Lingkungan
Laut Dengan Adanya Hak Pelayaran Internasional di Perairan Indonesia. Program
Studi Hukum Internasional. Fakultas Hukum. Universitas Sumatera Utara.
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/701/1/08E00119.pdf diakses pada
Rabu, 21 September 2016
Suhaidi. 2015. Perkembangan Konvensi-Konvensi IMO: Perlindungan Terhadap Lingkungan
Dari Pencemaran Yang Bersumber Dari Kapal. Program Studi Hukum Internasional.
Fakultas Hukum. Universitas Sumatera Utara.
http://library.usu.ac.id/download/fh/hkm-inter-suhaidi.pdf diakses pada Rabu, 21
September 2016