Anda di halaman 1dari 53

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN GNGGUAN SISTEM

PERKEMIHAN DENGAN ISK SISTITIS

DISUSUN OLEH
SEMESTER IV

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MAHARDIKA CIREBON
TAHUN 2016

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum wr.wb.
Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah swt. yang telah melimpahkan rahmat
dan hidayah-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul
Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Gngguan Sistem Perkemihan
Dengan ISK sistitis Makalah ini disusun untuk memenuhi salah satu tugas
Mata Kuliah Sistem Pencernaan. Selama proses penyusunan Makalah ini kami
tidak lepas dari bantuan berbagai pihak yang berupa bimbingan, saran dan
petunjuk baik berupa moril, spiritual maupun materi yang berharga dalam
mengatasi hambatan yang ditemukan. Oleh karena itu, sebagai rasa syukur dengan
kerendahan hati, kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada.
1. Kedua orang tua kami yang selalau memberrikan doa dan dukungannya
kepada kami
2. Dosen pembimbing Ibu Endah Sari S,Kep,Ners M,Kep yang sudah
memberikan kesempatan kepada kami untuk menyelesaikan penyusunan
makalah ini
3. Rekan-rekan yang ikut serta membantu menyelesaikan penyusunan
makalah ini
Kami menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu penulis
mengharapkan kritik serta saran yang bersifat membangun untuk perbaikan
penyusunan selanjutnya.

Cirebon,9 Juni 2016

Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................i
DAFTAR ISI.......................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.

Latar Belakang.................................................................................5
Rumusan Masalah............................................................................7
Tujuan..............................................................................................7
Sistematika Penulisan......................................................................8

BAB II TINJAUAN TEORI


2.1. ISK SISTITIS....................................................................................9
2.1.1 Epidemiologi..........................................................................9
2.1.2 Definisi.................................................................................10
2.1.3 Klasifikasi ............................................................................10
2.1.4 Etiologi..................................................................................11
2.1.5 Faktor resiko ........................................................................13
2.1.6 Anatomi Fisiologi.................................................................13
2.1.7 Patofisiologi..........................................................................20
2.1.8 Pathway.................................................................................23
2.1.9 Menifestasi Kliniks...............................................................24
2.1.10 Komplikasi............................................................................24
2.1.11 Pencegahan...........................................................................24
2.1.12 Pemeriksaan penunjang........................................................25
2.1.13 Penatalaksanaan....................................................................25
2.2. ASUHAH KEPERAWATAN
2.2.1. Pengkajian............................................................................26
2.2.2. Diagnosa Keperawatan.........................................................28
2.2.3. Rencana Asuhan Keperrawatan ...........................................29

BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KASUS


3.1.
3.2.
3.3.
3.4.
3.5.
3.6.

Kasus..............................................................................................34
Pengkajian......................................................................................35
Pemeriksaan Fisik...........................................................................38
Data Psikologis...............................................................................39
Data Sosial Dan Spiritual...............................................................39
Pemeriksaan Penunjang..................................................................40

3.7.
3.8.
3.9.
3.10.

Informasi tambahan........................................................................40
Analisa Data...................................................................................40
Diagnosa keperawatan......................................................................46
Rencana asuhan keperawatan...........................................................46

BAB VI ANALISA KASUS


4.1.
4.2.
4.3.
4.4.
4.5.
4.6.

Ringkasan Kasus............................................................................53
Pengkajian......................................................................................53
Pemeriksaan Fisik..........................................................................55
Informasi Tambahan.......................................................................55
Diagnosa Keperawatan ..................................................................56
Rencana Asuhan Keperawatan.......................................................57

BAB V PENUTUP
5.1.
5.2.

Kesimpulan......................................................................................
Saran ................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................
INFORMASI TAMBAHAN...............................................................................
Lampiran...............................................................................................................

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Infeksi Saluran Kemih (ISK) atau Urinarius Tractus Infection (UTI)
adalah suatu keadaan adanya infasi mikroorganisme pada saluran
kemih(Agus Tessy, 2001).
Infeksi Saluran Kemih (ISK) adalah suatu keadaan adanya infeksi
bakteri pada saluran kemih(Enggram, Barbara, 1998). Infeksi saluran kemih
dapat mengenai baik laki-laki maupun perempuan dari semua umur baik

pada anak-anak, remaja, dweasa maupun umur lanjut. Akan tetapi dari dua
jenis kelamin tersebut ternyata wanita lebih sering terkena dari pada pria
dengan angka populasi umur kurang lebih 5-15%. Infeksi saluran kemih
pada bagian tertentu dari saluran perkemihan yang disebabkan oleh bakteri
terutama scherichia coli : rtesiko dan beratnya meningkat dengan kondiisi
seperti

refluks

vesikouretral,

obstruksi

saluran

perkemihan,

statis

perkemihan, pemakaian instrumen uretral baru, septikemia. (Susan Martin


Tucker, dkk, 1998). Infeksi traktus urinarius pada pria merupakan akibat
dari menyebarnya infeksi yang berasal dari uretra seperti juga pada wanita.
Namun demikian, panjang uretra dan jauhnya jarak antara uretra dari rektum
pada pria dan adanya bakterisidal dalam cairan prostatik melindungi pria
dari infeksi traktus urinarius. Akibatnya UTI pada pria jarang terjadi, namun
ketika gangguan ini terjadi kali ini menunjukkan adanya abnormalitas fungsi
dan struktur dari traktus urinarius.
Sistem saluran kemih terdiri dari ginjal,ureter, kandung kemih dna
uretra. Diantara keempat organ tersebut ginjal adalah organ yang paling
penting. Ginjal berfungsi menyaring sampah dari saluran darah, mengatur
keseimbangan cairan, dan memproduksi beberaa hormon. Ureter befungsi
mengalirkan cairan hasil penyaring ginjal ke kandung kemih untuk disimpan
sementara dan bila kandung kemih telah penuh maka akan dikeluarkan ke
luar melalui uretra. Gangguan pada sistem urinaria yang umum terjadi yaitu
sistitis( cystitis)., hematuria, glomeluronefritis, batu ginjal, dan gagal ginjal.
Cystitis merupakan inflamasi kandung kemih yang lebih sering timbul pada
wanita dibadingkan pada pria, dan juga sering disertai dengan disuria,
urgency atau demam ringan. Bagi kaum wanita, radang selaput lendir
kandung kemih dapat terjadi satu atau dua hari sesudah bersenggama.
Peradangan pada kandung kemih juga dapat terjadi karena peradangan pada
ginjal. Bagi kaum pria jenis penyakit ini ada hubungannya dengan
peraddangan pada ginjal atau prostat. Sesuatu yang menghalangi
mengalirnya air kencing sehingga menyebabkan tertinggalnya air kening di
dalam kandung kemih dapat mengakibatkan peradangan. Peradangan

selaput lendir kandung kemih atau cystitis dapat juga disebabkan oleh sisasisa zat asam di dalam tubuh yang muncul karena makan daging, zat asam
oksalat dari abayam, atau sisa- sia makanan berkanji lainnya ( nainggolam,
2006 ).
Kekambuhan meskipun penangan infeksi saluran kemih khususnya
sistitis selama 3 hari biasanya adekuat pada wanita, tetapi kambuhnya
infeksi pada 20% wanita yang mendapat penangan untuk infeksi saluran
kemih non komplikasi ( soehartona dkk 2008 ). Cystitis merupakan infeksi
saluran kemih ( ISK ) bawah. Infeksi saluran kemih lebih sering terjadi pada
wanita pada populasi wanita, infeksi ini terjadi sebesar 1-3 % pada anak usia
sekolah yang kemudian meningkat cukup signifikan seiring dengan
peningkatan aktfitas seksual pada dewasa.
Isk sring ditemukan pada wanita usia 20-50 tahun, ssedangkan pada
populasi pria isk akut terjadi pada usia-usia pertama kehidupan dan ISK
jarang ditemukan pada pasien di bawah usia 50 tahun. Wanita lebih sering
mengalami sistitis daripada pria dikarenakan uretra wanita lebih pendek
dibandingkan uretra pria. Selain itu juga getah pada cairan prostat pria
mempunyai sifat bakterisidal sehingga relatif tahan terhadap infeksi saluran
kemih. Infeksi saluran kemih ( ISK ) bwah pada perempuan dapat berupa
sistitis dan sindrom uretra akut ( SUA ). Sistitis adalah persentasi klinis
infeksi kandung kemih disertai bakteriuria bermakna. Sindrom uretra akut
adalah persentasi klinis sistitis tanpa ditemukan mikroorganisme ( steril ),
sering dinamakan sistitis abakterialis.sedangkan ISK bawah pada laki-laki
dapat berupa sistitis, prostatitis, epididimitis, an uretritis ( Benson & pernol,
2009 ).
1.2

Rumusan Masalah
1. Apa Definisi Penyakit isk sisititis ?
2. Apa Saja Klasifikasi Penyakit isk sisititis ?
3. Apa Etiologi Pada Penyakit isk sisititis ?
4. Bagaimana Anatomi Fisiologi Terkena Penyakit isk sisititis ?
5. Bagaimana Patofisiologi Terjadinya Penyakit isk sisititis ?
6. Bagaimana Pathway Dari Penyakit isk sisititis ?
7. Apa Saja Menisfestasi Kliniks Pada Penyakit Hirschfrung ?
8. Apa Saja Komplikasi Dari Penyakit isk sisititis ?

9.
10.
11.
12.
1.3

Apa Saja Pencegahan Pada Penyakit isk sisititis ?


Apa Saja Pemeriksaan Penunjang Pada Penyakit isk sisititis ?
Bagaimana Penatalaksanaan Pada Penyakit isk sisititis ?
Bagaimana Asuhan Pererawatan Pada Kassus Dengan Penyakit isk

sisititis ?
Tujuan
1. Mahasiswa Mengetahui Apa Definisi Penyakit ISK sistitis
2. Mahasiswa Mengetahui Apa Saja Klasifikasi Penyakit ISK sistitis
3. Mahasiswa Mengetahui Apa Etiologi Pada Penyakit ISK sistitis
4. Mahasiswa Mengetahui Bagaimana Anatomi Fisiologi Terkena
5.

Penyakit ISK sistitis


Mahasiswa Mengetahui Bagaimana Patofisiologi Terjadinya Penyakit

6.
7.

ISK sistitis
Mahasiswa Mengetahui Bagaimana Pathway Dari Penyakit ISK sistitis
Mahasiswa Mengetahui Apa Saja Menisfestasi Kliniks Pada Penyakit

8.
9.

ISK sistitis
Mahasiswa Mengetahui Apa Saja Komplikasi Dari Penyakit ISK sistitis
Mahasiswa Mengetahui Apa Saja Pencegahan Pada Penyakit ISK

sistitis
10. Mahasiswa Mengetahui Apa Saja Pemeriksaan Penunjang Pada
Penyakit ISK sistitis
11. Mahasiswa Mengetahui Bagaimana Penatalaksanaan Pada Penyakit ISK
sistitis
12. Mahasiswa Mengetahui Bagaimana Asuhan Pererawatan Pada Kassus
1.4

Dengan Penyakit ISK sistitis


Sistematika Penulisan
Kata pengantar. Daftar isi. Bab I Pendahuluan, yaitu latar belakang,
rumusan masalah, tujuan dan sistematika penulisan. Bab II Tinjauan teori,
yaitu pengertian, etiologi, anatomi, fisiologi, patofisiologi, tanda dan gejala,
penatalaksanaan, pemeriksaan klinik, dan pencegahan. Bab III Asuhan
keperawatan, yaitu pengkajian, pemeriksaan fisik, informasi tambahan,
pemeriksaan penunjang, analisa data, diagnosa keperawatan , rencana
asuhan keperawatan i. Bab IV analisa kasus, BAB V penutup yaitu terdiri
dari kesimpulan dan saran.

BAB II
TINJAUAN TEORI
2.1. Infeksi Saluran Kemih (ISK) Sistitis
2.1.1 Epidemiologi
Infeksi ini ditemukan pada semua umur, pria dan wanita mulai bayi
baru lahir hingga orang tua. Wanita lebih sering mengalami sistitis
dibanding pria. Kejadian sistitis rata-rata 9.3% pada wanita diatas 65 tahun
dan 2.5-11% pada pria di atas 65 tahun (Smyth & OConnell, 1998). Sistitis
pada neonatus banyak terdapat pada laki-laki (2,7%) dibanding bayi
perempuan (0,7%). Insidensi sistitis menjadi terbalik seiring bertambahnya
usia, yaitu pada masa sekolah sistitis pada anak perempuan sekitar 3%
sedangkan anak laki-laki 1,1%. Insidensi sistitis pada usia remaja wanita
meningkat 3,3-5,8% yang akan terus meningkat insidensinya pada usia
lanjut (Purnomo, 2003). Morbiditas dan mortalitas sistitis paling banyak
terjadi pada pasien usia kurang dari satu tahun dan usia lebih dari 65 tahun
(Shortliffe & McCue, 2002).
Sistitis merupakan masalah kesehatan yang serius karena dapat
menyerang berjuta-juta orang tiap tahunnya. Jumlah pasien sistitis mencapai
150 juta per tahun, dan di Amerika dilaporkan 6 juta pasien datang ke dokter
dengan diagnosis sistitis. Sistitis merupakan infeksi nosokomial tersering
yang mencapai kira-kira 40-60% (Naber & Carson, 2004). Sistitis
merupakan penyakit infeksi saluran kemih yang menempati urutan kedua

dan masuk dalam sepuluh besar penyakit di salah satu rumah sakit di
Yogyakarta (Aris et al, 2004).
Wanita lebih sering mengalami serangan sistitis daripada pria karena
uretra wanita lebih pendek daripada pria. Selain itu getah cairan prosfat pada
pria mempunyai sifat bakterisidal sehingga relatif tahan terhadap infeksi
saluran kemih. Diperkirakan bahwa paling sedikit 10-20% wanita pernah
mengalami serangan sistitis selama hidupnya dan kurang lebih 5% dalam
satu tahun pernah mengalami serangan ini.
2.1.2 Definisi
ISK Merupakan istilah umum yang menujukkan keberadaan
mikroorganisme dalam urin. Adanya bakteri dalam urin disebut bakteriuria.
Bakteriuria bermakna menunjukkan pertumbuhan mikroorganisme murni
lebih dari 10 5 colony forming units (CFU) pada biakan urin. Bakteriuria
bermakna tanpa disertai manifestasi klinis ISK disebut bakteriuria
asimptomatik. Sebaliknya bakteriuria bermakna disertai manifestasi klinis
disebut bakteriuria simptomatik. Infeksi saluran kemih dibagi berdasarkan
lokasinya yaitu saluran kemih atas dan bawah.
Sistitis adalah infeksi yang disebabkan bakteri pada kandung kemih,
dimana akan terassa nyeri ketika buang air kecil ( disuria ), kencing yang
tidak tuntas, dan demam yang ahrus dicurigai ( gupte,2004 ). Sistitis
merupakan peradangan yang terjadi di kantung urinaria biasanya terjadi
karena infeksi oleh bakteri yang masuk kedalam tubuh ( Perdinan &
aribowo,2007).
Sistitis virus dan kimiawai harus dibedakan dari sistitis bakterial
berdasarkan atas riwayat penyakit dan hasil biakan urin. Secara radiografi,
ginjal hipoplastik dan displastik, atau ginjal kecil akibat vaskuler, dapat
tampak sama dengan pielonefritis kronis. Namun, pada yang terakhir ini
biasanya terdapat refluks vesikuleter.
2.1.3 Klasifikasi sistitis
Sistitis dapat dibagi menjadi dua bagian ,yaitu :
1. Sistitis primer merupakan radang yang mengenai kandung kemih ,
radang ini dapat terjadi karena penyakit lain, seperti batu pada kandung

kemih di vertikal/ penonjolan mukosa buli, hipertropi prostat dan striktur


uretra ( penyempitan akibat dari adanya pembentukan jaringan
pibrotik/jaingan parut pada uretra atau daerah urethra ).
2. Sistitis sekunder merupakan gejala yang timbul kemudian sebagai akibat
dari penyakit primer misalnya uretritis/peradangan yang gterjadi pada
uretra dan prostatitis/ peradangan yang terjadi pada prostat ( bensol &
pernol, 2009).
Menurut taber ( 1994), sistitis dibedakan menjadi dua, yaitu tipe
infeksi dan tipe noninfeksi.
Tipe infeksi disebabkan oleh bakteri, virus, jamur dan parasit.
Sedangkan tipe non infeksi disebabkan oleh bahan kimia, radiasi, dan
interstisial ( tidak diketahui penyebabnya atau ideopatik ).
2.1.4 Etiologi sistitis
Etiolohgi dari etiologi dari sistitis berdasarkan jenisnya menurut taber
( 1994), yaitu :
1) Infeksi
a. Bakteri
Kebanyakan berasal dari bakteri Scherichia coli yang secara normal
terletak pada gastrointestinal. Pada beberapa kasus infeksi yang
berasal dari retra adpat menuju ginjal. Bakteri lain yang bisa
menyebabkan infeksi adalah enterocococus, klebsiella, protus,
pseudomonas, dan staptochicocus
b. Jamur
Infeksi jamur, penyebanya mislnya candida.
c. Virus dan parasit
d. Infeksi yang disebabkan oleh virus dan parasit jarang terjadi.
Contohnya adalah trichomonas, parasit ini terdapat dalam vagina, juga
dapat berada dalam urin.
2) Non infeksi
Paparan bahan kimia, contohnya obat-obatan ( misalnya cicrop host
pamide / cylotaksan, protcyecox )
a. Radioterapi
Reaksi imunologi, biasanya pada pasien SLE ( sistennmik lupus
erytematous )
Faktor predisposisi

10

Faktor predisposisi untuk sistitis adalah bersetubuh, kehamilan,


kandung kemih neurologenis, keaadaan-keadaan obesdtruktif, dan diabetes
militus ( Tambayon,2000). Pada umumnya faktor-faktor resiko yang
berhungan dengan perkembangan infeksi saluran kemih adalah :
1) Wanita cenderung mudah terserang dibandingkan dengan laki-laki
Faktor-faktor postulasi dari tingkat infeksi yang tinggi terdiri dari uretra
dekat kepala rektum dan kurang proteksi sekresi prostat dibandingkan
dengan pria.
2) Abnormalitas struktural dan fungsional mekanisme yang berhubungan
termasuk statis urin yang merupakan media untuk kultur bakteri, refluks,
urine yang infeksi lebih tinggi pada saluran kemih dan peningkatan
tekanan hidrostaltik. Contoh : strikur, anomali ketidaksempurnaan
hubungan uritera vesicalis.
3) Obstruksi
Contoh : tumor, hipertropi postat, calculus, sebab-sebab iatrogenic.
4) Gangguan inervasi kandung kemih
Contoh : malformasi sum-sum tulang belakang konginital, multiple
seklerosi.
5) Penyakit kronis
Contoh :gout/ asam urat, DM, hipertensi, penyakit sikle cell.
6) Intrumentasi
Contoh : prosedur kateteresasi.
7) Penggunaan fenacetin secara terus-menerus dan tidak pada tempatnya.
2.1.5 Faktor resiko
Faktor reiko ysng berpengaruh pada isk sistitis,yaitu :
1) Panjang uretra , pada wanita mempunyai uretra yang lebih pendek
dibadingkan pria sehingga lebih mudah terkena infeksi
2) Faktor usia , orang tua lebih mudah terkena dibandingkan dengan usia
muda
3) Wanita hamil lebih mudah terkena penyakit ini karena pengaruh
hormonal ketika kehamilan yang menyebabkan perubahan pada fungsi
ginjal dibadingkan sebelum kehamilan
4) Faktor hormonl seperti seperi menopouse. Wanita pada masa
menopouse lebih rentan terkena karena mukosa yang tergantung pada
esterogen yang dapat berfungsi sebagai pelindung.

11

5) Gangguan pada anatomi dan fisiologi urin. Sifat urin yang asam dapat
menjadi anti bakteri alami tetapi apabila terjadi gangguan dapat
menyebabkan menurunya pertahanan terhadap kontaminasi bakteri
6) Penderita DM , orang yang mendrita cedera korda spinalis , atau
emnggunakan kateter dapat mengalami peningkatan resiko infeksi.
Sebagian besar ISK tidak berhubungan dengan faktor resiko tertentu.
Namun pada ISK berulang perlu difikirkan kemungkinan faktor resiko
seperi : kelainan fungsi anatomi saluran kemih, gangguan pengosongan
kandung kemih,( incomplete blader empyting ), konstipasi, operasi
saluran kemih atau instrumentasi lainnya terhadap saluran kemih
sehingga terdapat kemungkinan terjadinya kontaminasi dari luar,
kekebalan tubuh yang rendah.
2.1.6 Anatomi fisiologi
Anatomi
Sistem perkemihan merupakan suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan
oleh tubuh. Zat-zat yang tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan
dikeluarkan berupa urin (air kemih) (Speakman, 2008).
Susunan sistem perkemihan terdiri dari:
1) dua ginjal (ren) yang menghasilkan urin,
2) dua ureter yang membawa urin dari ginjal ke vesika urinaria (kandung
kemih),
3) satu vesika urinaria tempat urin dikumpulkan, dan d) satu uretra urin
dikeluarkan dari vesika urinaria (Panahi, 2010).

12

Gambar 2.l. Anatomi Saluran Kemih


1. Ginjal (Ren)
Ginjal terletak pada dinding posterior di belakang peritoneum pada
kedua sisi vertebra torakalis ke-12 sampai vertebra lumbalis ke-3. Bentuk
ginjal seperti biji kacang. Ginjal kanan sedikit lebih rendah dari ginjal
kiri, karena adanya lobus hepatis dextra yang besar.
2. Fungsi ginjal
Fungsi

ginjal

adalah

memegang

peranan

penting

dalam

pengeluaran zat-zat toksis atau racun, mempertahankan suasana


keseimbangan cairan, mempertahankan keseimbangan kadar asam dan
basa dari cairan tubuh, dan mengeluarkan sisa-sisa metabolisme akhir
dari protein ureum, kreatinin dan amoniak.
3. Fascia renalis
Fascia renalis terdiri dari:
a) fascia (fascia renalis),
b) jaringan lemak perirenal, dan

13

c) kapsula yang sebenarnya (kapsula fibrosa), meliputi dan melekat


dengan erat pada permukaan luar ginjal.
4. Stuktur ginjal
Setiap ginjal terbungkus oleh selaput tipis yang disebut kapsula
fibrosa, terdapat korteks renalis di bagian luar, yang berwarna cokelat
gelap, medulla renalis di bagian dalam yang berwarna cokelat lebih
terang dibandingkan korteks. Bagian medulla berbentuk kerucut yang
disebut piramides renalis, puncak kerucut tadi menghadap kaliks yang
terdiri dari lubang-lubang kecil yang disebut papilla renalis (Panahi,
2010).
Hilum adalah pinggir medial ginjal berbentuk konkaf sebagai pintu
masuknya pembuluh darah, pembuluh limfe, ureter dan nervus. Pelvis
renalis berbentuk corong yang menerima urin yang diproduksi ginjal.
Terbagi menjadi dua atau tiga calices renalis majores yang masingmasing akan bercabang menjadi dua atau tiga calices renalis minores.
Struktur halus ginjal terdiri dari banyak nefron yang merupakan unit
fungsional ginjal. Diperkirakan ada 1 juta nefron dalam setiap ginjal.
Nefron terdiri dari: glomerulus, tubulus proximal, ansa henle, tubulus
distal dan tubulus urinarius (Panahi, 2010).
5. Proses pembentukan urin
Tahap pembentukan urin
a. Proses filtrasi, di glomerulus.
Terjadi penyerapan darah yang tersaring adalah bagian cairan darah
kecuali protein. Cairan yang tersaring ditampung oleh simpai bowmen
yang terdiri dari glukosa, air, sodium, klorida, sulfat, bikarbonat dll,
diteruskan ke tubulus ginjal. Cairan yang disaring disebut filtrat
glomerulus.
b. Proses reabsorbsi
Pada proses ini terjadi penyerapan kembali sebagian besar dari
glukosa, sodium, klorida fosfat dan beberapa ion bikarbonat.
Prosesnya terjadi secara pasif (obligator reabsorbsi) di tubulus

14

proximal. Sedangkan pada tubulus distal terjadi kembali penyerapan


sodium dan ion bikarbonat bila diperlukan tubuh. Penyerapan terjadi
secara aktif (reabsorbsi fakultatif) dan sisanya dialirkan pada papilla
renalis.
c. Proses sekresi
Sisa dari penyerapan kembali yang terjadi di tubulus distal dialirkan
ke papilla renalis selanjutnya diteruskan ke luar (Rodrigues, 2008).
6. Pendarahan
Ginjal mendapatkan darah dari aorta abdominalis yang mempunyai
percabangan arteri renalis, arteri ini berpasangan kiri dan kanan. Arteri
renalis bercabang menjadi arteri interlobularis kemudian menjadi arteri
akuarta. Arteri interlobularis yang berada di tepi ginjal bercabang
manjadi arteriole aferen glomerulus yang masuk ke gromerulus. Kapiler
darah yang meninggalkan gromerulus disebut arteriole eferen gromerulus
yang kemudian menjadi vena renalis masuk ke vena cava inferior (Barry,
201l).
7. Persarafan ginjal.
Ginjal mendapatkan persarafan dari fleksus renalis (vasomotor). Saraf ini
berfungsi untuk mengatur jumlah darah yang masuk ke dalam ginjal,
saraf ini berjalan bersamaan dengan pembuluh darah yang masuk ke
ginjal (Barry, 2011).
8. Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing-masing bersambung dari ginjal ke
vesika urinaria. Panjangnya 25-34 cm, dengan penampang 0,5 cm.
Ureter sebagian terletak pada rongga abdomen dan sebagian lagi terletak
pada rongga pelvis. Lapisan dinding ureter menimbulkan gerakangerakan peristaltik yang mendorong urin masuk ke dalam kandung
kemih.
Lapisan dinding ureter terdiri dari:
a) Dinding luar jaringan ikat (jaringan fibrosa)
b) Lapisan tengah lapisan otot polos

15

c) Lapisan sebelah dalam lapisan mukosa


9. Vesika urinaria (kandung kemih)
Vesika urinaria bekerja sebagai penampung urin. Organ ini berbentuk
seperti buah pir (kendi). Letaknya di belakang simfisis pubis di dalam
rongga panggul. Vesika urinaria dapat mengembang dan mengempis
seperti balon karet.
10. Uretra
Merupakan saluran sempit yang berpangkal pada vesika urinaria yang
berfungsi menyalurkan air kemih ke luar. Pada laki-laki panjangnya kirakira 13,7-16,2 cm, terdiri dari:
a) Uretra pars prostatika
b) Uretra pars membranosa
c) Uretra pars spongiosa.
Uretra pada wanita panjangnya kira-kira 3,7-6,2 cm. sphincter uretra
terletak di sebelah atas vagina (antara clitoris dan vagina) dan uretra
disini hanya sebagai saluran ekskresi (Panahi, 2010).
Fisiologi

Gambar 2.2. Fisiologi Sistem Perkemihan

16

Lower Urinary Tract Symptom (LUTS)


Gejala saluran kemih bawah dapat dibagi menjadi dua yaitu : gejala
berkemih dan gejala penyimpanan, dan laki-laki mungkin hadir dengan
kombinasi dua kelompok gejala tersebut.
Gejala berkemih mencakup aliran urin yang lemah, keraguan, dan
tidak lengkap mengosongkan atau mengejan dan biasanya karena
pembesaran kelenjar prostat. Gejala penyimpanan meliputi frekuensi,
urgensi dan nokturia dan mungkin karena aktivitas yang berlebihan otot
detrusor. Pada pria lansia yang hadir dengan gejala saluran kemih bawah,
indikasi untuk rujukan awal untuk ahli urologi termasuk hematuria infeksi
berulang, batu kandung kemih, retensi urin dan gangguan ginjal. Dalam
kasus tanpa komplikasi, medis terapi dapat dilembagakan dalam pengaturan
perawatan pertama. Pilihan untuk terapi medis termasuk alpha blocker
untuk mengendurkan otot polos prostat, inhibitor 5 alfa reduktase untuk
mengecilkan prostat, dan antimuscarinik untuk mengendurkan kandung
kemih.
International Prostate Score Symptom (IPSS) adalah bermanfaat
dalam menilai gejala dan respon terhadap pengobatan. Jika gejala kemajuan
meskipun dengan terapi medis atau pasien tidak dapat mentoleransi terapi
medis, rujukan urologi dibenarkan (Arianayagam et al, 2011).
Penurunan keadaan umum termasuk menurunnya fungsi persarafan
pada usia tua proses ini akan merangsang timbulnya LUTS. Timbulnya
LUTS didasari oleh 2 keadaan :
1) Perubahan fungsi buli-buli yang menyebabkan instabilitas otot detrusor
atau penurunan pemenuhan buli-buli sehingga terjadi gangguan pada
proses pengisian. Secara klinis menunjukkan gejala : frekuensi, urgensi
dan nokturia.
Pada tahap lanjut menyebabkan gangguan kontraktilitas otot detrusor
sehingga terjadi gangguan pada proses pengosongan. Secara klinis

17

menunjukkan gejala: penurunan kekuatan pancaran miksi, hesitensi,


intermitensi dan bertambahnya residu urin. Urin.
Sifat fisis air kemih, terdiri dari:
a) Jumlah ekskresi dalam 24 jam 1.500 cc tergantung dari pemasukan
(intake) cairan dan faktor lainnya.
b) Warna bening kuning muda dan bila dibiarkan akan menjadi keruh.
c) Warna kuning tergantung dari kepekatan, diet, obat-obatan dan
sebagainya.
d) Bau, bau khas air kemih bila dibiarkan lama akan berbau amoniak.
e) Berat jenis 1,015-1,020.
f) Reaksi asam, bila lama-lama menjadi alkalis, juga tergantung daripada
diet (sayur menyebabkan reaksi alkalis dan protein member reaksi
asam).
Komposisi air kemih, terdiri dari:
a) Air kemih terdiri dari kira-kira 95% air.
b) Zat-zat sisa nitrogen dari hasil metabolisme protein, asam urea,
amoniak dan kreatinin.
c) Elektrolit natrium, kalsium, NH3, bikarbonat, fosfat dan sulfat.
d) Pigmen (bilirubin dan urobilin).
e) Toksin.
f) Hormon (Velho, 2013).
Mikturisi
Mikturisi ialah proses pengosongan kandung kemih setelah terisi
dengan urin. Mikturisi melibatkan 2 tahap utama, yaitu:
a) Kandung kemih terisi secara progesif hingga tegangan pada
dindingnya meningkat melampaui nilai ambang batas, keadaan ini
akan mencetuskan tahap ke-2.
b) Adanya refleks saraf (disebut refleks mikturisi) yang akan
mengosongkan kandung kemih. Pusat saraf miksi berada pada otak
dan spinal cord (tulang belakang). Sebagian besar pengosongan

18

diluar kendali tetapi pengontrolan dapat dipelajari latih. Sistem


saraf simpatis : impuls menghambat vesika urinaria dan gerak
spinchter interna, sehingga otot detrusor relax dan spinchter interna
konstriksi. Sistem saraf parasimpatis : impuls menyebabkan otot
detrusor berkontriksi, sebaliknya spinchter relaksasi terjadi mikturisi
(Roehrborn, 2009).
Ciri-ciri urin normal.
a) Rata-rata dalam satu hari l-2 liter tapi berbeda-beda sesuai dengan
jumlah cairan yang masuk.
b) Warnanya bening tanpa ada endapan.
c) Baunya tajam.
d) Reaksinya sedikit asam terhadap lakmus dengan pH rata-rata 6
(Velho, 2013).
2.1.7 Patofisiologi sistitis
Sistitis merupakan infeksi saluran kemih bagian bawah yang secara
umum disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu escheriachia coli
peradangan timbul drngan penjalaran secara hematogen ataupun akibat
obstruksi saluran kemih bagian bawah, baik akut maupu kronik dapat
bilateral maupun unilateral. Kemudai bakteri tersebut berekolonisasi pada
suatu tempat misalkan pada vagina atau genitalia eksterna menyebabkan
organisme melekat dan berkolonisasi disuatu tempat

di perutenial dan

amsuk ke kandung kemih.


Kebanyakan saluran infeksi kemih bawah iaalah oleh organisme gram
negatif seperti E. Coli, psedomonas, klebsilea, proteus yang berasal dari
saluran intestinumorang itu sendiri dan turun melalui ureterha ke kandungan
kencing.pada mikturisi air kemih bisa megalir kembali ke ureter
( Vesicouretal refluks ) dan membawa bakgeri dadri kandung kemih keatas
ke ureter dan velvis renalis. Kapan saja terjadi urinstatis seperti maka
bakteri mempunyai kesempatan yang lebih beasar untuk bertumbuh dan
menjadikan media yang lebih alkalis sehingga menyuburkan pertumbuhan.
Masuknya mikroorganisme kedalam saluran kemih dapat melalui :

19

1) Penyebaran endrogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat saluran


kemih yang terinfeksi
2) Hematogen yaitu penyebaran mikroorganisme fatogrn yang masuk
melalui darah yeng terdapat kuman penyebab infeksi saluran kemih yang
masuk melalui darah dari suplai jantung ke ginjal.
3) Limfogen yaitu kuman masuk melalui kelenjar getah bening yang
disalurka melalui helium ginjal.
4) Eksogen sebagia akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.
Dua jalur utama terjadi infeksi saluran kemih ialah hematogen dan
asending tetapi dari kedua cara ini asendinglah yang paling sering
terjadi.Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan
tubuh yang rendah karena menderita suatu penyakit kronik atau pada pasien
yang sementara mendapat pengobatan imun supresi. Penyebaran hematogen
bisa juga timbul akibat adanya infeksi disalah satu tempat misalnya infeksi
S. Aureus pada ginjal bisa terjadi akibat penyebaran hematogen dari fokus
infeksi dari tulang, kulit, endoel atau ditempat lain.
Infeksi ascending yaitu masuknya mikroorganisme dari uretra ke
kandung kemih dan menyebabkan infeksi pada saluran kemih bawah.
Infeksi asending juga erjadi oleh adanya refluks vesico ureter yang mana
mikroorganisme melalui ureter naik ke ginjal untuk menyebabkan infeksi.
Infeksi trctus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada
feses yang naik dari perneum ke uretra dan kandung kemuh serta menempel
pada permukaan mukosa. Agar infeksi dapat terjadi bakteri harus mencapai
kandung kemih, melekat pada dan mengkolonisasi epitelium praktus
urinarius untk menghindari pembilasan melalui berkemih, mekanisme
pertahanan penjamu dan cetusan inflamasi.
Menurut Tiber ( 1994 ), agen infksi kebanyakan disebabkan oleh
bakteri E.Coli. tipikal ini berada pada sluran kencing dari uretra luar sampai
ke ginjal melaui penyabaran hematogen, lymphogendan eksogen. Tiga
faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi adalah virulensi ( kemampuan
untuk menimbulkan pennyakit ) dari organisme, ukuran dari jumlah dari
mikroorganisme yang amsuk dalam tubuh, dan keadekuatan dari mekanisme

20

pertahana tubuh. Terlalu banyaknya bakteri yang menyebabkan infeksi dapat


mempengaruhi pertahanan tubuh alami pasien. Mekanisme pertahanan
tubuh merupakan penentu terjadinya infeksi, normalnya urin dan bakteri
tidak dapat menembus didnding mukosa blader. Lapisan mukosa blader
tersususn dari sel-se uritenial yang memproduksi mucin yaitu unsur yang
membantu mempertahankan integritas lapisaN bladeer dan mencegah
kerusakan serta inflamasi blader. Mucin juga mencegah bakteri melekat
pada seelurotelial.selain itu pH urine yang asam dan penurunan/keanikan
cairan dari kontrisbusi urin dalam batas tetap, berfungsi untuk
mempertahankan integrtas mukosa, beebrapa bakteri dapat masuk dan
sistem urin akan mengeluarkannya. Sistitis merupakan infeksi saluran kemih
bagian bawah yang secara umum disebabkan oleh bakteri gram negatif yaitu
Escheriachia Coli peradangan timbul dengan penjalaran secara hematogen
ataupun akibat obstruksi saluran kemihbagian bawah baik akut atau kronis
dapat bilateral maupan unilater.

2.1.8 Pathway sistitis

21

Infeksi
Bakteri

jamur

non infeksi
virus dan parasit

paparan bahan kimia radioterapi

reaksi imunologi

pertahanan tubuh menurun


infeksi
urin dan bakteri menembus dinding mukosa blader
refluks kedalam kandung kemih
infeksi saluran kemih bawah

disuria

inkonensia

pengosongan
kandung kemih

Resiko
infeksi

sistitis

retensi urin

nyeri

nyeri

punggung suprapubik

tidak sempurna

Gangguan Eliminasi Urin

Nyeri akut

2.1.9 Manifestasi klinis Isk sistitis


Menurut Taber ( 1994 ), secatra umum tanda dan gejala sistitis adalah:
1) Disuria
2) Rasa panas seperti terbakar saat kencing
3) Ada nyeri pada tulang punggung bagian bawah
4) Urgensi ( rasa terdesak saat kencing )
5) Nokturia ( cenderung sering kencing pada malam hari akibat penurunan
kapasitas kandung kemih )

22

6) Pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna


7) Inkontinensia ( keluarnay urin tanpa isengaja atau sulit ditahan )
8) Retensi, yaitu suatu keadaan penumpuka urin dikandung kemih dan tidak
mempunyai kemampuan untuk mengosongkannya
9) Nyeri supraspubik
2.1.10 Komplikasi ISK Sistitis
1) Pembentukan abses ginjal atau perirenal
2) Gagal ginjal
2.1.11 Pencegahan
1) Menjaga kebersihan daerrah ginetal dengan air bersih
2) Jangan terlalu banyak menggunakan tisu basah atau sabun khusus organ
kewanitaan karena bisa mematikan bakteri baik dalam organ ginetal.
Kalau tetap menggunakan sabun, gunakan sabun dengan Ph 3,5.
3) Jika mencuci alat kemaluan, arah cebok ( mencuci daerah ginetal ) dari
arah depan dan tidak berulang ( maju mundur ). Jadi, daerah depan
( uretra ) dibersihkan dahulu baru kemudian daerah vagina dan terakhir
anus untuk menghindari perpindahan kuman dari anus atau vagina ke
uretra.
4) Segers mengobati keputihan yang berlebih
5) Tidak menahan kencing
6) Meningkatkan daya tahan tubuh dengan mengkonsumsi suplement
Vitamin C atau buah-buahan sumber Vitamin C.
7) Pilih toilet umum dengan toilet jongkok tidak menyentuh langsung
permukaan toilet dan lebih higenis. Jika terpaksa menggunakan toilet
duduk sebelum menggunakannya sebaiknya bersihkan dahulu pinggiran
atau dudukan toilet.
8) Gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang menyerap keringat agar
tidak lembab.
2.1.12 Pemeriksaan penunjang dan diagnosis ISK Sistitis
Pemeriksan penunjang dilakukan pada pasien dengan sistitis menurut
Grace & Bourley, ( 2007 ), yaitu :
1) Urinalisis dengan mikroskopik yaitu urin berwarna keruh dna berbau ,
dan dengan mikroskopik yaitu piuria , hematuria, dan bakteriunia atau
piuria terdapat > 5/lapang pandang besar sedimen air kemih dan
hematuris 5-10 eritrosit/lpd sedimen air kemih.
2) Kultur urin, dilakukan untuk mengetahui jenis kuman penyebab infeksi
3) Sistrograf, dilakukan bila pada anamnesa ditemukan hematuria yaitu
untuk mengetahui asal dari perdarahan yang ada

23

4) Pemeriksaan darah perifer lengkap ( DPL )


5) Sistokopi hanya jika terdapat hematuria, keganasan batu yang menjadi
penyebar dasar.
6) Jika
terdapat

obstruksi

scan

ultasonografi

USG

ginjal dan kandung kemih, IVU ( kelainan struktural ), dan sistoskopi.


2.1.13 Penatalaksanaan ISK Sistitis
ISK bawah
Prinsip manajemen meliputi intake cairan yang banyak, antibiotika
yang adekuat dan terapi simptomatik antara lain dengan antibiotika tunggal
seperti ampisilin 300 mg, trimetropim 200 mg. Bila infeksi menetap disertai
memperlihatkan kelainan urinalisis diperlukan terapi konvensional selama
5-10 hari. Pada SUA dengan jumlah bakteri 10 3 -10 5 diperlukan
antibiotika yang adekuat. Untuk yang anaerob diberikan antimikroba yang
sesuai seperti quinolon.
Penatalaksanan non farmakologi dan pfarmakologi
1) Untuk sistitis ringan langkah pertama yang bisa dilakukan adalah
banyak minum cairan/ air putih. Aksi pembilasan ini akan membuang
banyak bakteri dari tubuh, bakteri yang tersisa akan dilenyapkan oleh
pertahanan alami tubuh
2) Pemberian atibiotik per-oral ( tablet, kapsul sirup ), selama 3 hari atau
dosis tunggal biasanya efektif, selama belum timbul koplikasi . jika
infeksinya kebal biasanya antibiotik diberikan selama 7-10 hari tata
cara pengobatannya adalah :
- Menggunakan pengobatan dosis unggal
- Menggunakan pengobatan jangka pendek anatara 10-14 hari
- Menggunakan pwngobatan jangka panjang antara 4-6 minggu
- Menggunakan pengobatan pencegahan ( profilaksis ) dosis rendah
- Menggunakan pengobatan supresif, yaitu pengobatan lanjutan jika
pemberantasan ( eradikasi ) bakteri belum memberikan hasil
3) Untuk meringankan kejang otot bisa diberikan atropi. Untuk
mengurangi nyeri bisa diberikan fenazopiridin. Gejalanya sering kali
bisa dikurangi dengan membuat suasana air kemih menjadi basa, yaitu
meminum baking soda yang dilarutkan dalam air.
4) Pembeddahan dilakukan untuk mengatasi penyumbatan pada aliran
kemih ( uropati obstruktif ) atau untuk memperbaiki kelainan struktur

24

yang menyebabkan infeksi lebih mudah terjadi. Biasanya sebelum


ppembedahan diberikan antibiotik untuk mengurangi resiko penyebaran
infeksi keseluruh tubuh.
2.2 Asuhan Keperawatan ISK Sistitis
2.2.1 Pengkajian
1. Anamnesa
1) Identitas
a. Pada wanita kebanyakan infeksi kandung kemih diakibatkan oleh
infeksi asenden yang berasal dari uretra dan sering kali berkaitan
dengan aktifitas seksual
b. Pada peria dapat diakibatkan infeksi acenden dari uretra atau
prosfat tetapi lebih sring bersifat sekunder terhadap kelainan
anatomik dari traktus urinarius
c. Sistitis pada anak-anak dapat terjadi oleh karena abnormal dalam
urinari tract ( saluran kencing ). Oleh karena itu, anak-anak dengan
sistitis khususnya di bawah usia 5 tahun perlu tindak lanjut khusus
untuk kerusakan ginjal nantinya.
2) Keluhan utama
Biasanya pasien mengeluh nyeri dan rasa panas saat berkemih disertai
demam
3) Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
- Adanya disuria, polaksuria, nokturia, rasa tidak enak di daerah
suprapubis, nyeri tekan pada palpasi di daerah suprapubis.
- Adanya gejala sistemik berupa periksia, kadang-kadang
menggigil , sering lebih nyata pada anak-anak, kadang-kadang
tanpa gejala atau tanda-tanda infeksi lokal dari traktus urinaris
b. Riwayat penyakit dahulu
- Kaji riwayat ISK sebelumnya
- Kaji apakah pasien menderita DM, karena biasanya lebih sering
terjadi pada penderita DM
- Pada wanita kaji apakah pernah menggunakan kontrasepsi atau
diafragma, karena penyakit ini dapat meningkat pada wanita
yang menggunakan kontrasepsi atau diafragma yang tidak
terpasang dengan tepat.
c. Riwayat psikososisal

25

Nyeri dan kelelahan yang berkenaan dengan infeksi dapat


berpengaruh terhadap penampilan kerja dan aktifitas kehidupan
sehari-hari
2. Pemeriksaan Fisik
1) Data objektif
a. Pemeriksaan abdomen : gambaran ini biasanya normal , dengan
kemungkinan kekecualian nyeri tekan suprapubik
b. Pemeriksaan pelvis : secret perulen dapat diekspresikan dari uretra
tau kelenjar skene. Divertikel uretra dicurigai, bila pus tampak pada
ostium ureter eksternum setelah uretra dikosongkan melalui vagina
dengan jari dalam vagina. Pada pemeriksaan biminual, nyeri tekan
vesika urinaria dapat dipalpasi. Sering, pemeriksaan pelvis benarbenar normal.
2) Pemeriksaan Per-Sistem
a. B1 ( breath )
RR menigkat karena nyeri
b. B2 ( Blood )
Peningkatan tekanan darah , nadi meningkat, suhu meningkat
c. B3 ( Brain )
Biasanya tidak mengalami masalah
d. B4 (Bladder )
Nyeri tekan pada palpasi di daerah suprapubis, urin keruh dan
mungkinberbau tidak enak dengan leukosit, eritrosit, dan
organisme
e. B5 ( Bowel )
Biasanya tidak mengalami masalah
f. B6 ( Bone )
Biasanya tidak mengalami masalah
2.2.2 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b.d agen cedera biologis : proses penyakit
2. Resiko infeksi b.d ketidak adekuatan pertahanan sekunder ,daya tahan
tubuh menurun
3. Gangguan eliminasi urine b.d infeksi saluran kemih
2.2.3 Rencana assuhan keperawatan
No

Diagnosa

Tujuan ( NOC )

keperawatan

26

Intervensi ( NIC )

Nyeri akut b.d agen Setelah dilakukan

Pain management
- Lakukan

cedera biologis :

tindakan keperawatan

proses penyakit

selama 3x24 jam

pengkajian nyeri

diharapkan pasien

secara

dapat melakukan

komperhensif

Pain contol and

termasuk lokasi,
karakteristik,

level.
Comfort Level

durasi, frekuensi,
kualitas dan

Dengan kriteria hasil:


- Mampu
mengontrol nyeri

nonverbal dari

( tahu penyebab

ketidaknyamanan

nyeri, mampu
menggunakan

factor presipitas
Observasi reaksi

.
Gunakan teknik

teknik non

komunikasi

farmakologi untuk

terapeutik untuk

mengurangi nyeri

mengetahui

mencari bantuan )
- Melaporkan bahwa
nyeri berkurang

pengalaman nyeri
-

dengan

mempengaruhi

menggunakan
management nyeri
- Mampu mengenali

respon nyeri
Evaluasi
pengalaman nyeri

nyeri (skala
intensitas,

pasien
Kaji kultur yang

masa lampau
Evaluasi bersama

frekuensi dan

pasien dan tim

tanda nyeri)
- Menyatakan rasa

kesehatan lain
tentang ketidak

nyaman setelah

efektifan kontrol

nyeri berkurang

nyeri masa
lampau

27

Kurangi faktor

presipitasi nyeri
Kaji tipe dan
sumpeer nyeri
untuk
menentukan

intervensi
Ajarkan tentang

non farmakologik
Evaluasi ketidak
efektifan kontrol

nyeri
Kolaborasi
dengan dokter
jika ada keluhan
dan tindakan
manajemen nyeri

tidak berhasil
Analgesik
-

administration
Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas dan
derajat nyeri
sebelum

pemberian obat
Cek instruksi
dokter tentang
jenis obat, dosis

dan frekuensi
Cek riwayat

alergi
Pilih rute
pemberian decara

28

IM, IV untuk
pengobatan nyeri
-

secara teratur
Evaluasi
efektivitas
analgesik, tanda

sekunder : daya

dan gejala
Setelah
dilakukan Infection control
( kontol infeksi )
tindakan keperawatan
- Batasi pengunjung
selam
2x24
jam
bila perlu
diharapkan
- Intruksikan pada

tahan tubuh

Knowledge

menurun,

infection control
Risk control

pengunjung saat

Dengankriteria hasil:

setelah berkunjung

1. Klien bebas dari

untuk cuci tangan


Cuci tangan setiap

Resiko infeksi b.d


ketidak adekuatan
pertahanan

tanda dan gejala

keluarga dan
berkunjung dan

dan sesudah

infeksi
2. Orang tua

tindakan

Menunjukan
kemampuan untuk -

keperawatan
Pertahankan

mencegah

lingkungan
antiseptik selama

timbulnya infeksi
3. Jumlah leuki=osit
dalam batas
normal
4. Orang tua

pemasangan alat
Tingkatkan intake

nutrisi
Inspeksi kulit dan

menunjukan

membran mukosa

prilaku hidup sehat

terhadap
kemerahan,
-

panas,drainase
Dorong masukan
nutrisi yang cukup

29

Gangguan

Setelah dilakukan

eliminasi urine b.d

tindakan keperawatan

infeksi saluran

diharapkan pasien

kemih

dapat melakukan
Urinary eliminatin
Urinary continence
Dengan kriteria hasil :
-

Dorng istirahat
Laporkan

kecurigaan infeksi
Laporkan kultur

positif
Urinary retention
-

care
Monitor intake
dan output
Monitor
penggunaan obat

antikolionergik
Monitor tanda

Kandung kemih

dan gejala ISK

kosong secara

(panas,

penuh
Tidak ada reidu

hematuria,
perubahan bau

urine > 100-200

dan konsistensi

cc
Bebas dari ISK
Tidak ada spasme

urine)
Sediakan privacy

bladder
Balance cairan

untuk eliminasi
Stimulasi reflek
bladder dengan

seimbang

kompres dingin
-

pada abdomen
Memantau asupan

dan keluaran
Memantau tingkat
distensi kandung
kemih dengan

palpsi dan perkusi


Membantu ke
toilet secara

30

berkala
Kateterisai jika

perlu
Merujuk ke
spesialis
kontinensia
kemih

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KASUS
3.1. KASUS
Ny. M Berusia 26 tahun masuk ruang Bougenvile sejak 2 hari yang lalu,
dengan keluhan demam. Dari anamnesa dengan pasien diperoleh data klien
mengeluh nyeri didaerah pubis, nyeri saat berkemih, urine keluar hanya
sedikit dan pedih. Mual kadang disertai muntah, pasien juga mengatakan
nyeri dipunggung. Sebelumnya klien berobat ke puskesmas dan diberikan
paracetamol, hct dan amoksilin. Namun sehari sebelum dibawa ke RS
pasien kambuh lagi. Pasien tidak bisa tidur dengan nyenyak selalu
terbangun dimalam hari karena adanya keinginan untuk berkemih.
Pemeriksaan fisik didapatkan TD 110/80, S= 37,80C, kesadaran compos
mentis, adanya distensi abdominal,
Hasil pemeriksaan penunjang pada urine : urine bau menyengat, berwarna
keruh, terdapat lekosiuria +++++,
Terapi saat ini diberikan terapi cefotaxime 3 x 1gr, profenid supp 3 x 1,
infus dekstrose 5% 20 tts/menit.

31

Rasional : Di lihat dari kasus diatas Ny.M menderita penyakit ISK sistitis
dengan menifestasi klnis yang khas pada sistitis karen dari
anamnesa Ny.M terdapat tanda dan gejala seperrti : nyeri
didaerah pubis, nyeri saat berkemih, urine keluar hanya sedikit
dan pedih.Mual kadang disertai muntah, pasien juga mengatakan
nyeri dipunggung. Terpai yang diberikan pada Ny.M terapi
cefotaxime 3 x 1gr, profenid supp 3 x 1, infus dekstrose 5% 20
tts/menit. Terapi tersebut diberikan kepada Ny.M Untuk
meringankan sakit yang di derita oleh Ny.M.

3.2. Pengkajian
1. Identitas
a. Identitas Klien
- Nama
: Ny. M
- Umur
: 26 tahun
- Tanggal Lahir
: tidak terkaji
- Agama
: tidak terkaji
- Suku Bangsa
: tidak terkaji
- No Medrek
: tidak terkaji
- Tanggal Masuk RS : tidak terkaji
- Tanggal Pengkajian : 9 Juni 2016
- Diagnosa Medis
: ISK SISTITIS
- Ruangan/Kamar
: tidak terkaji
- Alamat
: tidak terkaji
b. Identitas orang tua / keluarga
- Nama
: tidak terkaji
- Umur
: tidak terkaji
- Agama
: tidak terkaji
- Suku Bangsa
: tidak terkaji
- Pendidikan
: tidak terkaji
- Pekerjaan
: tidak terkaji
- Hubungan dg klien
: tidak terkaji
- Alamat
: tidak terkaji
c. Keluhan Utama
Klien mengeluh demam
d. Riwayat Kesehatan
a) Riwayat Kesehatan Sekarang
Dengan keluhan demam. Dari anamnesa dengan pasien diperoleh
data klien mengeluh nyeri didaerah pubis, nyeri saat berkemih,

32

urine keluar hanya sedikit dan pedih. Mual kadang disertai muntah,
pasien juga mengatakan nyeri dipunggung.
b) Riwayat Kesehatan Dahulu
Sejak 2 hari yang lalu, dengan keluhan demam. Sebelumnya klien
berobat ke puskesmas dan diberikan paracetamol, hct dan
amoksilin. Namun sehari sebelum dibawa ke RS pasien kambuh
lagi. Pasien tidak bisa tidur dengan nyenyak selalu terbangun
dimalam hari karena adanya keinginan untuk berkemih.
c) Riwayat Kesehatan Keluarga
tidak terkaji
d) Genogram (2 generasi atas klien )
tidak terkaji
e) Riwayat PsikoSosial Spiritual dan Budaya
tidak terkaji
e. Data Biologis
Pola Kehidupan Sehari-hari (ADL)
No

Pola Kehidupan sehari- Saat Sehat

Saat Sakit

hari
1

Nutrisi (makan)
- Frekuensi
- Jenis
- Porsi
- Pantangan
- Keluhan

Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Mual kadang
disertai
muntah

Nutrisi (minum)
- Frekuensi
- Jenis
- Porsi
- Pantangan
- Keluhan

Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Mual kadang
disertai
muntah

Eliminasi fecal (BAB)


- Frekuensi
- Konsistensi
- Warna

Tidak terkaji Tidak terkaji

33

Bau
Keluhan

Eliminasi fecal (BAK)


- Frekuensi
- Konsistensi
- Warna
- Bau
- Keluhan

Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Tidak terkaji
Klien
mengeluh
nyeri
didaerah
pubis,

nyeri

saat
berkemih,
urine

keluar

hanya sedikit
dan pedih
5

Istirahat dan Tidur


Tidak terkaji
- Kuantitas
Tidak terkaji
- Kualitas
Tidak terkaji
- Kebiasaan sebelum
Tidak terkaji
-

tidur dan saat tidur


Keluhan

Pasien

tidak

bisa

tidur

dengan
nyenyak
selalu
terbangun
dimalam hari
karena adanya
keinginan
untuk
berkemih
6

Personal Hygiene

Tidak terkaji Tidak terkaji

34

a. Mandi
b. Gosok gigi
c. Keramas
3.3. Pemeriksaan Fisik (Head To Toe)
1) Keadaan Umum
a. Penampilan
: Tidak terkaji
b. Kesadaran
: compos mentis
c. Orientasi
: Tidak terkaji
d. Vital sign
:
- BB
- TB
- Tekanan darah
- Nadi
- Respirasi
- Suhu
2) Kulit dan kuku
Inspeksi, palpasi : Tidak terkaji

: Tidak terkaji -kg


: Tidak terkaji -cm
: 110/80 mmhg
: Tidak terkaji
:Tidak terkaji
: 37,80C

3) Mata
Inspeksi, palpasi : Tidak terkaji
4) Telinga
Inspeksi, palpasi :Tidak terkaji
5) Hidung
Inspeksi, palpasi :Tidak terkaji
6) Mulut
Inspeksi, palpasi :Tidak terkaji
7) Leher
Inspeksi, palpasi :Tidak terkaji
8) Dada Paru-paru
Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi : tidak terkaji
9) Jantung
Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi : tidak terkaji
10) Payudara dan ketiak
Inspeksi, palpasi : Tidak terkaji
11) Abdomen
Inspeksi, palpasi, perkusi, auskultasi : hati limfe lambung dan usus :
adanya distensi abdominal
12) Genetalia
a. Alat kelamin wanita/pria : Tidak terkaji
b. Anus
: Tidak terkaji
13) Ekstremitas : Tidak terkaji
a. Otot
b. Tulang

35

c. Sendi
Data Psikologis
Tidak Terkaji
3.5. Data Sosial Dan Spiritual
Tidak terkaji
3.4.

3.6. Pemeriksaan Penunjang


Hasil pemeriksaan penunjang pada urine : urine bau menyengat, berwarna
keruh, terdapat lekosiuria +++++,
3.7. Informasi tambahan
Terapi saat ini diberikan terapi cefotaxime 3 x 1gr, profenid supp 3 x 1, infus
dekstrose 5% 20 tts/menit.
3.8. Analisa Data

Data
DS :
-dengan keluhan
demam
DO :
-S= 37,80C

Etiologi/pathway
Faktor resiko (infeksi
mikroorganisme,
penggunaan steroid
dalam jangka panjang,
usia lanjut, anomaly
saluran kmih, cidera
uretra dan riwayat ISK)
Makanan terkontaminasi
mikroorganisme masuk
lewat mulut- lambung
Mikroorganisme
berkembang hidup di
lambung-usus
Usus terutama pleg
player
Kuman mengeluarkan

36

Masalah
keperawatan
Hipertermia

endotoksin
Bakteremia primer
Bakteri tidak difagosit
Bakterimia sekunder
Hipotalamus
Menekan termoreguler
DS :
- nyeri didaerah
pubis, nyeri saat
berkemih, urine
keluar hanya
sedikit dan pedih,
tidak bisa tidur

Hipertermia
Faktor resiko (infeksi
mikroorganisme,
penggunaan steroid
dalam jangka panjang,
usia lanjut, anomaly
saluran kmih, cidera
uretra dan riwayat ISK)

dengan nyenyak
selalu terbangun
dimalam hari
karena adanya
keinginan untuk
berkemih
DO :
- distensi
abdominal, Hasil
pemeriksaan
penunjang pada
urine : urine bau

Makanan terkontaminasi
mikroorganisme masuk
lewat mulut- lambung
Mikroorganisme
berkembang hidup di
lambung-usus
Usus terutama pleg
player
Kuman mengeluarkan
endotoksin

menyengat,
berwarna keruh,
terdapat
lekosiuria +++++

Bakteremia primer
Bakteri tidak difagosit
Bakterimia sekunder

37

Nyeri akut

Peradangan
Peningkatan
frekuensi/dorongan
kontraksi uretral
Depresi saraf perifer
DS :
- Mual

Nyeri
Faktor resiko (infeksi
kadang

disertai muntah

mikroorganisme,
penggunaan steroid
dalam jangka panjang,
usia lanjut, anomaly
saluran kmih, cidera
uretra dan riwayat ISK)
Makanan terkontaminasi
mikroorganisme masuk
lewat mulut- lambung
Mikroorganisme
berkembang hidup di
lambung-usus
Usus terutama pleg
player
Kuman mengeluarkan
endotoksin
Bakteremia primer
Bakteri tidak difagosit
Bakterimia sekunder
Reinteraksi abdominal

38

Kekuranagan volume
cairan

Obstruksi
Mual muntah
Kekurangan volume
DS :
- urine keluar
hanya sedikit dan
pedih, selalu
terbangun
dimalam hari
karena adanya

cairan
Faktor resiko (infeksi
mikroorganisme,
penggunaan steroid
dalam jangka panjang,
usia lanjut, anomaly
saluran kmih, cidera
uretra dan riwayat ISK)

keinginan untuk
berkemih.
DO :
- distensi

Makanan terkontaminasi
mikroorganisme masuk
lewat mulut- lambung

abdominal,
Jaringan parut- total
tersumbat
Obstruksi saluran kemih
yang bermuara ke vesika
urinarius
Peningkatan vesika
urnarius
Penebalan dinding
vesika urnarius
Penurunan kontraksi otot
vesika urnarius
Kesulitan berkemih
Retensi urin

39

Retensi urine

DS :
- tidak bisa tidur
dengan

nyenyak

selalu terbangun
dimalam
karena

hari
adanya

keinginan

untuk

Faktor resiko (infeksi


mikroorganisme,
penggunaan steroid
dalam jangka panjang,
usia lanjut, anomaly
saluran kmih, cidera
uretra dan riwayat ISK)

berkemih
DO :
-

Hasil
pemeriksaan

Makanan terkontaminasi
mikroorganisme masuk
lewat mulut- lambung

penunjang pada

Mikroorganisme

urine : urine bau

berkembang hidup di

menyengat,
berwarna keruh,

lambung-usus
Usus terutama pleg

terdapat

player

lekosiuria +++++,
Kuman mengeluarkan
endotoksin
Bakteremia primer
Bakteri tidak difagosit
Bakterimia sekunder
Ureter
Iritasi ureteral
Oliguria
Gangguan eliminasi
urine

3.9. DIAGNOSA KEPERAWATAN

40

Gangguan
urine

eliminasi

1. Kekuranagan volume cairan b.d kehiangan caiaran aktif ditanda dengan


mual, muntah
2. Hipertermia b.d peningkatan laju metabolisme dan prose penyakit
3. Nyeri akut b.d inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih sruktur
traktus urinarius
4. Retensi urine b.d peningkatan tekanan ureter, sumbatan pada kandung
kemih
5. Gangguan eliminasi urine b.d obstruksi mekanik pada kandung kemih
ataupun struktur traktus urinarius lain
3.10. Rencana Asuhan Keperawatan

Diagnosa

NOC

Keperawatan
Kekuranagan

Setelah dilakukan

volume cairan b.d

tindakan keperawatan

kehiangan caiaran

diharapkan pasien dapat

aktif ditanda dengan

melakukan

mual, muntah

Fluid management
- Pertahankan catatan
intake dan output
-

Fluid balance
Hydration
Nutrional status :

hidrasi (kelembaban
membran mukosa,
nadi adekuat,

intake
Dengan kriteria

tekanan darah

hasil :
Mempertahankan

ortostatik) jika di
-

perlukan
Monitor vital sign
Monitor masukan

dengan ussia dan

makanan/ cairan dan

BB, BJ urine

hitung intake kalori

normal, HT normal
Tekanan darah,

harian
Monitor stsatus

nutrisi
Dorong masukan

oral
Dorong keluarga

nadi, suhu tubuh


-

yang akurat
Monitor status

food and fluid

urine output sesuai

NIC

dalam batas normal


Tidak ada dehidrasi,
elastisitas turgor
kulit baik, membran

41

untuk membantu

mukosa lembab,
tidak ada haus
berlebihan

pasien makan
Kolaborasi dengan

dokter
Kolaborasikan
pemberian cairan IV
Hypovolemia

management
Monitor status
cairan termasuk

intake output cairan


Pelihara IV
Monitor tingkat HB

dan hematokrit
Monitor vital sign
Monitor respon
pasien terhadap

penambahan cairan
Monitor BB
Monitor adanya

tanda gagal ginjal


Dorong pasien
untuk menambah

Nyeri akut b.d

Setelah dilakukan

intake oral
Pain management

inflamasi dan infeksi

tindakan keperawatan

uretra, kandung

diharapkan pasien dapat

pengkajian nyeri

kemih sruktur

melakukan

secara

traktus urinarius

Pain contol and

komperhensif

level.
Comfort Level

termasuk lokasi,

karakteristik,

Dengan kriteria hasil:


-

durasi, frekuensi,

Mampu mengontrol

kualitas dan factor

nyeri ( tahu
penyebab nyeri,
mampu

42

Lakukan

presipitas
Observasi reaksi
nonverbal dari

menggunakan
teknik non

komunikasi

farmakologi untuk

terapeutik untuk

mengurangi nyeri
-

mengetahui

mencari bantuan )
Melaporkan bahwa

pengalaman nyeri

nyeri berkurang
dengan

frekuensi dan tanda


-

respon nyeri
Evaluasi
pengalaman nyeri

nyeri (skala
intensitas,

pasien
Kaji kultur yang
mempengaruhi

menggunakan
management nyeri
Mampu mengenali

ketidaknyamanan.
Gunakan teknik

masa lampau
Evaluasi bersama
pasien dan tim

nyeri)
Menyatakan rasa

kesehatan lain
tentang ketidak

nyaman setelah

efektifan kontrol

nyeri berkurang
-

nyeri masa lampau


Kurangi faktor

presipitasi nyeri
Kaji tipe dan
sumpeer nyeri
untuk menentukan

intervensi
Ajarkan tentang

non farmakologik
Evaluasi ketidak
efektifan kontrol

nyeri
Kolaborasi dengan
dokter jika ada
keluhan dan
tindakan

43

manajemen nyeri
tidak berhasil
Analgesik
administration
-

Tentukan lokasi,
karakteristik,
kualitas dan derajat
nyeri sebelum

pemberian obat
Cek instruksi
dokter tentang jenis
obat, dosis dan

frekuensi
Cek riwayat alergi
Pilih rute
pemberian decara
IM, IV untuk
pengobatan nyeri

secara teratur
Evaluasi efektivitas
analgesik, tanda
dan gejala

Hipertermia b.d

Setelah dilakukan

Fever treatment

peningkatan laju

tindakan keperawatan

Monitor suhu

metabolisme dan

diharapkan pasien dapat


-

sesering mungkin
Monitor IWL
Monitor warna dan

suhu kulit
Monitor tekanan

darah, nadi dan RR


Monitor penurunan

tingkat kesadaran
Monitor WBC, HB,

prose penyakit

melakukan
Thermoregulation
Dengan kriteria hasil :
-

Suhu tubuh dalam

rentang normal
Nadi dan RR dalam

rentang normal
Tidak ada

44

HCT

perubahan warna

Monitor intake

ouput
Monitor suhu

minimal tiap 2 jam


Monitor tanda

kulit dan tidak ada


pusing

tanda hipertermi
-

dan hipotermi
Identifkasi
penyebab dari
perubahan vital

sign
Anjurkan kompres
pada lipat paha dan

aksila
Kolaborasi
pemberian cairan

Retensi urine b.d

Setelah dilakukan

peningkatan tekanan

tindakan keperawatan

ureter, sumbatan

diharapkan pasien dapat

pada kandung kemih

melakukan
-

dokter
- Berikan antipiretik
Urinary retention care
-

Monitor intake

dan output
Monitor
penggunaan obat

Urinary eliminatin
Urinary continence

Dengan kriteria hasil :


-

IV
Kolaborasi dengan

dan gejala ISK

Kandung kemih

(panas,

kosong secara
-

penuh
Tidak ada reidu

urine > 100-200 cc


Bebas dari ISK
Tidak ada spasme
bladder

45

antikolionergik
Monitor tanda

hematuria,
perubahan bau
dan konsistensi
-

urine)
Sediakan
privacy untuk

Balance cairan
-

seimbang

eliminasi
Stimulasi reflek
bladder dengan
kompres dingin

pada abdomen
Kateterisai jika

Gangguan eliminasi

Setelah dilakukan

perlu
Urinary retention care

urine b.d obstruksi

tindakan keperawatan

Monitor intake dan

mekanik pada

diharapkan pasien dapat

kandung kemih

melakukan

output
Monitor

ataupun struktur

traktus urinarius lain

Dengan kriteria hasil :


-

penggunaan obat

Urinary eliminatin
Urinary continence
-

gejala ISK (panas,

Kandung kemih

hematuria,

kosong secara
-

penuh
Tidak ada reidu

urine > 100-200 cc


Bebas dari ISK
Tidak ada spasme

bladder
Balance cairan

antikolionergik
Monitor tanda dan

perubahan bau dan


-

konsistensi urine)
Sediakan privacy

untuk eliminasi
Stimulasi reflek
bladder dengan
kompres dingin

seimbang
-

pada abdomen
Memantau asupan

dan keluaran
Memantau tingkat
distensi kandung
kemih dengan

46

palpsi dan perkusi


Membantu ke toilet

secara berkala
Kateterisai jika

perlu
Merujuk ke

spesialis
kontinensia kemih

BAB IV
ANALISA KASUS
5.1. Ringkasan Kasus
Ny. M Berusia 26 tahun masuk ruang Bougenvile sejak 2 hari yang lalu,
dengan keluhan demam. Dari anamnesa dengan pasien diperoleh data klien
mengeluh nyeri didaerah pubis, nyeri saat berkemih, urine keluar hanya
sedikit dan pedih. Mual kadang disertai muntah, pasien juga mengatakan
nyeri dipunggung. Sebelumnya klien berobat ke puskesmas dan diberikan
paracetamol, hct dan amoksilin. Namun sehari sebelum dibawa ke RS
pasien kambuh lagi. Pasien tidak bisa tidur dengan nyenyak selalu
terbangun dimalam hari karena adanya keinginan untuk berkemih.
Terapi saat ini diberikan terapi cefotaxime 3 x 1gr, profenid supp 3 x 1,
infus dekstrose 5% 20 tts/menit.
5.2. Pengkajian
A. Keluhan Utama
Ny.M mengeluh demam
Rasional : demam terjadi karena adanya suatu zat atau bakteri pada
kandung kemih

pasien dan

terjadi

inflamasi yang

disebakan adannya infeksi bakteri eschericia coli dan


terjadi berawal dari invasi bakteri ke dalam saluran kemih
bagian bawah , kondisi tubuh dengan imun yang rendah ,
obstruksi saluran kemih , VUR dapat menghambat
eliminasi bakteri kedalam urin sehingga bakteri dapat
berkembang biak dan menginfeksi mukosa saluran kemih,
apabila tubuh tidak mampu mengatasi fluktuasi bakteri
dalam saluran kemih maka bakteri tersebut akan naik ke

47

saluran

kemih

bagian

atas

yang

mengakibatkan

peradangan infeksi diparemkin ginjal( pielonefritis). Pada


Pielonefritis terjadi reaksi radang dan peningkatan antara
antigen dan antibody, peningkatan tersebut menakibatkan
tubuh akan melepaskan mediator-meditaor kimia yang
dapat

menimbulkan

gejala

inflamasi.

Mediator

EP( endrogen pirogen ) dapat mengakibatkan penigkatan


suhu tubuh karena EP merangsang prostaladin untuk untuk
meningkatkan thermostat tubuh di hipotalamus dan
terjadilah demam.
B.

Riwayat Kesehatan Sekarang


- Dari anamnesa Ny.M mengeluh nyeri didaerah pubis,
Rasional : nyeri tekan suprapubis dalah perassan tidak enak pada
daerah abdomen yang terletak diatas simpatis pubis.
Nyeri suprapubis terjadi akibat overdistensi buli-buli
( kandung kemih ) yang mengalami ristensi urin atau
terdapat inflamasi pada buli-buli. Kelainan pada
kandung kemih dapat menyebabkan nyeri suprapubis .
pada infeksi kandung kemih , nyeri di bawah abdomen
scara khas terasa tumpul dan seperti tertekan atau
anyang-ayangan.kemungkinan nyeri timbul hebat saat
urin masih tertampung di buli-buli dan hilang setelah
terjadi pengosongan.
-

Ny. M. mengeluh nyeri saat berkemih, urine keluar hanya


sedikit dan pedih, mual disertai muntah, pasien juga
mengatakan nyeri dipunggung
Rasional : nyeri saat BAK terjdi karena adanya infeksi pada
vesika urinaria . mikroorganisme yang masuk ke
vesika urinaria menyebabkan iritasi dan spasme
pada dinding otot polos vesika urinaria, selain itu
keberadaan bakteri dalam vesika urinaria akan
mengaktivasi sistem inflamasi sehingga terlepaslah

48

beberapa mediator inflamasi seperti IL, TNF, PG.


Faktor-faktor inilah yang akan menyebabkan rasa
nyeri saat BAK.
5.3. Pemeriksaan Fisik
Adanya distensi abdominal
Rasional :
5.4. Informasi Tambahan
- Pemeriksaan penunjang pada Ny.M terdapat urine bau menyengat,
berwarna keruh, dan terdapat lekosiuria +++++,
Rasional

: warna urine yang pada Ny.M yang berwarna keruh , bau


menyengat tersebut berhubungan dengan adanya bakteri
pada urin, banyaknya bakteri pada urin menyebabkan tubuh
mengaktifkan sel darah putih yang bercampur denga urin dn
bakeri-bakteri sehingga urin bewarna keruh dan bau
menyengat.

- Terapi cefotaxime 3 x 1gr, profenid supp 3 x 1, infus dekstrose 5% 20


tts/menit.
Rasional :
-

karena cefotaxsime adalah obat antibiotik golongan


safalosporin yang memepunyai khasiat bakterisidal dan
bekerja untuk menghambat sintesis mukopeptida pada
idngding se bakteri, cefotaxsime juga memiliki aktivitas
spectum yang lebih luas terhadap organisme gram positif
dan gram negatif bakteri gram positif .oleh kare itu Ny. M
diberikan terapi obat cefotaxsime 3x1grm karena Ny.M
mengalami isk istitis yang disebabkan oleh bakteri/

mikroorganisme
profenid supp adalah oabat anti nyeri dan anti radang maka
dari itu Ny.M di berikan Terapi obat profenid 3x1 untuk
mengurangi rasa nyeri pada pubis

dan rasa nyeri pada

punggung yang di dasakan oleh Ny.M.


infus dextrose 5 % diberikan kepada Ny.M karena Ny,M
mengalami muntah dak sering kencing walaupun sedikit

49

karena infus dekstrose dapat menningkatkatkan kadar


glukosa darah dan menambah kalori dalam tubuh.
5.5. Diagnosa Keperawatan
1) Kekuranagan volume cairan b.d kehilangan caiaran aktif ditanda dengan
mual, muntah:
Rasional : Ny,M mengalami mual muntah sehingga caiiran dalam tubuh
berkurang
2) Hipertermia b.d peningkatan laju metabolisme dan prose penyakit
Rasional : Ny,M mengeluh demam sehingga suhu tubuh nya meningkat
S= 37,80C, disebabkan oleh adanya proses inflamasi oakibat
bakteri yang masuk kedalam tubuh dan bermuara di kandung
kemih.
3) Nyeri akut b.d inflamasi dan infeksi uretra, kandung kemih sruktur
traktus urinarius
Rasional : Ny,M mengeluh nyeri saat berkemih Nyeri pada daerah pubis
dan nyeri punggung karena adanya infeksi alam kandung
kemih
4) Retensi urine b.d peningkatan tekanan ureter, sumbatan pada kandung
kemih
Rasional : Ny,M mengeluh tidak bisa tidur dengan nyenyak selalu
terbangun dimalam hari karena adanya keinginan untuk
berkemih.
5) Gangguan eliminasi urine b.d obstruksi mekanik pada kandung kemih
ataupun struktur traktus urinarius lain
Rasional : Ny,M mengeluh urine keluar hanya sedikit dan pedih.oleh
karena itu adanya obtruksi mekanik pada kandung kemih
terjadi abnormal
5.6. Rencana Asuhan Keperawatan

50

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan

51

Sistitis adalah infeksi yang disebabkan bakteri pada kandung kemih,


dimana akan terassa nyeri ketika buang air kecil ( disuria ), kencing yang
tidak tuntas, dan demam yang ahrus dicurigai ( gupte,2004 ). Sistitis
merupakan peradangan yang terjadi di kantung urinaria biasanya terjadi
karena infeksi oleh bakteri yang masuk kedalam tubuh ( Perdinan &
aribowo,2007).
Menurut Tiber ( 1994 ), agen infksi kebanyakan disebabkan oleh
bakteri E.Coli. tipikal ini berada pada sluran kencing dari uretra luar sampai
ke ginjal melaui penyabaran hematogen, lymphogendan eksogen. Tiga
faktor yang mempengaruhi terjadinya infeksi adalah virulensi ( kemampuan
untuk menimbulkan pennyakit ) dari organisme, ukuran dari jumlah dari
mikroorganisme yang amsuk dalam tubuh, dan keadekuatan dari mekanisme
pertahana tubuh.
5.2. Saran
Semoga untuk ke depannya dapat ditingkatkan kesehatan dan
kebersihan pada tiap-tiap individu sehingga dapat terhindar dari penyakit
infeksi bakteri seperti infeksi saluran kemih. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi semua pihak, terutama penulis dan pembaca. Mohon kritiik
dan saran yang membangun demi menyempurnakan makalah ini dilain
kesempatan

DAFTAR PUSTAKA

52

Suharyanto, dkk.2008. asuahn keperawawtan pad klien dengan gangguan sistem


perkemihan. Jakarta : EGC
Benso , R.C.& Pernoll,M. 2009. Buku saku obstreti dan genekologi edisi 9.
Jkarta : EGC
Gupte, S.2004. Panduan perawtan anak. Jakarta : EGC
Ferdinand, F.Ariebowo,M. 2007. praktis belajar biologi. Jakarta : Visindo
Taber, B. 1994. Kapita selekta kedaruratan obstreti dan genekologi. Jakarta : EGC
Tambayong J. 2000. Patofisiologi untuk keperawatan pemula . Jakarta :EGC
Grace,P.A., & Borley, N.R. 2007. At a glance ilmu bedah edisi 3. Jakarta : EMS
Longo, D.L. ,Kapser, D.L, et al. 2012. Harrisons priciples of internal medicine,
ed. 18th , New York : the McGraw- Hill Companies.
Sukandar, Enday. 2009. Infeksi saluran kemih pasien dewasa : buku ajar ilmu
penyakit dalam . edisis V. Jakarta : FKUI. Hal 1008
http//:www. Digilib.unimus.ac.id. 4 bab II tinjauan puataka A.anatomi fisiologi
traktus urinarus.pdf. diunggah 11 juni 2016.
Nurarif, Amin Huda & Kusuma Hardi. 2015. Aplikasi asuhan keperawatan
berdasarkan diagnosa medis & NANDA NIC NOC . edisi revisi jilid
2. Jakarta : EGC

53

No RM pasien dengan
diagnosa partus matur