Anda di halaman 1dari 14

Laporan Praktikum Biokimia

Semester Ganjil 2016/2017


Blok 9 - Traktus Urinarius

Kelompok 7A
Rosmeni Sembiring (1561050029)
Muhammad Imam Fitrah Hariyanto (1561050037)
Tika Kusuma Ningsih (1561050057)
Waode Al Fara Damierza Al Amin (1561050094)
Aderiza Setiadi Surya (1561050114)
Febriani Pangaribuan (1561050130)
Welda Daud (1561050160)
Christian Daniel H.H.I.S. (1561050190)

Fakultas Kedokteran
Universitas Kristen Indonesia
2016

Halaman
Praktikum I
1.1. Pengumpulan Urin
1.2. Sifat Sifat Urin
1.3. Jumlah Zat Padat Total
1.4. Asam Urat
1.5. Zat Zat Keton
1.6. Uji Protein
1.7. Uji Benedict (Semikuantitatif)
1.8. Empedu Dalam Urin

4
5
6
7
8
10
12
13

Praktikum II
2.1. Kreatinin
2.2. Penetapan Kadar Kreatinin Urin

14
14

Tinjauan Pustaka
Ginjal dan Urin
Urin merupakan hasil proses metabolism tubuh, baik fisiologik maupun patologik. Oleh karenanya,
pemeriksaan urin dapat membantu mendiagnosis gangguan metabolism dan gangguan organ atau
factor yang berhubungan dengan metabolism tersebut. Kandungan urin setiap 24 jam tidak banyak
berbeda. Akan tetapi, kandungan urin sewaktu dengan sepanjang hari dapat berbeda signifikan. Oleh
Karena itu, pengambilan contoh urin harus ditentukan berdasarkan tujuan pemeriksaan. Ada kalanya
perlu diketahui jumlah zat tertentu yang terdapat dalam urin sehari sehingga dilakukan pemeriksaan
terhadap urin yang terkumpul 24 jam.
Pemakaian zat pengawet untuk urin yang akan diperiksa secara kimia atau mikroskopik adalah
penting, Karena pada keadaan normal akan terjadi perubahan pada urin tersebut oleh kerja bakteri
dan hal ini akan mempengaruhi nilai pemeriksaan. Contohnya pada urea akan berubah menjadi
ammonium karbonat, gula akan dipecah menjadi CO2 dan H2O. Urin akan menjadi keruh dan terjadi
pemecahan zat zat yang berbentuk sedimen. Oleh Karena itu dipakai zat pengawet yang tidak atau
hanya sedikit berpengaruh terhadap zat zat dalam urin, misalnya toluene dan formaldehida.
Tugas:
1. Apa fungsi ginjal selain mempertahankan keseimbangan air dan keseimbangan asam basa?
2. Jelaskan mengapa asam urat dapat mereduksi sehingga berperan sebagai antioksidan dalam
tubuh!
3. Tulislah struktur asam urat!
4. Sebutlah sumber asam urat yang eksogen dan endogen!
Jawab:
1. Fungsi ginjal:
a. Mengatur volume komponen plasma (elektrolit dan air)
b. Mengatur keseimbangan asam basa
c. Mengatur keluarnya cairan (urine)
d. Mengeksresikan ureum dan kreatinin
e. Mengatur glukoneogenesis
f. Mensekresi eritropoetin, Prostaglandin dan Tromboksan
g. Mensintesis Renin dan Kalikrein
h. Mengatur fungsi metabolism khusus yaitu Vitamin D, dan menginaktifasi hormon
2. Asam urat adalah oksipurin yang dihasilkan dari Xanthin oleh enzim Xanthine oxidase.
Sebagai Antioksidan Karena dapat mengurangi ketegangan oksidatif yang disebabkan oleh
tingginya ketinggian hypoxia.
3. C5H4N4O3
4. Eksogen Dari Makanan tinggi purin (daging, jerohan, sarden, otak, dll)
Endogen Dari metabolism nukleotida jaringan.

Praktikum I
1.1. Pengumpulan Urin
Tujuan Percobaan:
Mahasiswa mampu mengumpulkan urin 24 jam dengan cara yang benar
Cara Kerja:
1. Hari pertama, urin dibuang pada waktu tertentu (misalnya pada pukul 6 pagi)
2. Selanjutnya, urin yang terbentuk dikumpulkan sampai pukul 6 pagi pada hari berikutnya.
3. Pada urin diberikan toluene 2 ml sebagai pengawet (sudah dimasukan di dalam wadah
pengumpul urin)
4. Catat volume urin 24 jam
Hasil:
Volume Urin 550 ml

1.2. Sifat Sifat Urin


Tujuan Percobaan :
Mahasiswa mampu mengetahui sifat sifat urin (Volume, warna, bau, kejernihan, berat jenis, pH)
A. Volume 24 jam
Volume urin 24 jam bergantung pada factor fisiologik (misalnya intake cairan, suhu udara,
kerja fisik) dan faktor patologik (misalnya penyakit ginjal, diabetes mellitus, dsb)
Pengertian :
Poliuria pengeluaran urin yang lebih banyak dari seharusnya, volume > 2000 ml/hari
Oligouria pengeluaran urin yang sedikit / kurang dari seharusnya, volume berkisar < 400
ml/hari
Anuria tidak ada produksi urin, atau seolah olah tidak ada urin, volume berkisar < 100
ml/hari
Nocturia buang air kecil yang sering di malam hari
Volume total urin percobaan 550 ml
B. Warna
Warna urin berbeda beda sesuai dengan kepekatannya, tetapi dalam keadaan normal urin
berwarna kuning muda. Warna urin disebabkan oleh pigmen urokrom yang berwarna kuning
dan sejumlah kecil urobilin dan hematoporfirin.
Bila urin didiamkan, warnanya akan bertambah gelap akibat perubahan kromogen yang tidak
berwarna menjadi senyawa senyawa berwarna. Pada beberapa penyakit atau setelah makan
obat obat tertentu warna urin dapat berubah.
Dalam keadaan demam, Karena pemekatan, warna urin berubah menjadi kuning tua atau agak
coklat. Pada penyakit hati yang mengakibatkan pigmen empedu terdapat dalam urin, warnna
urin menjadi hijau, coklat atau kuning tua. Darah atau hemoglobin dapat menyebabkan warna
urin merah, sedangkan methemoglobin atau asam homogensitat menyebabkan warna urin
coklat tua.
Warna urin Kuning Bening
C. Bau
Urin yang dikeluarkan mempunyai bau khas. Bila urin mengalami dekomposisi, timbul bau
ammonia yang tidak enak. Makanan atau obat obatan tertentu dapat menimbulkan bau khas,
misalnya buah jengkol, pete, metilsalisilat dan antibiotic.
Bau Urin : Amoniak
D. Kejernihan
Urin normal biasanya jernih bila baru dikeluarkan tetapi bila didiamkan dalam waktu yang
alama akan timbul kekeruhan yang disebabkan oleh nucleoprotein, mukoid atau sel sel
epitel. Disamping itu, kekeruhan pada urin yang alkalis dapat disebabkan oleh endapan fosfat,
sedangkan pada urin yang asam biasanya oleh endapan urat.
Urin Jernih
E. pH Urin
Ph ditentukan berdasarkan reaksi berbagai indicator seperti lakmus dan indicator universal,
juga dapat ditentukan dengan fenolftalein dan merah kongo.
Ph Urin percobaan 5

1.3. Jumlah Zat Padat Total


Prinsip Percobaan:
Berat jenis urin normal adalah 1,003 -1,030 bergantung pada jumlah zat yang terlarut di dalamnya
dan volume urin. Biasanya berat jenis berbanding terbalik dengan volume. Namun pada penyakit
Diabetes Mellitus, volume urin besar dan berat jenis tinggi Karena banyak mengandung glukosa.
Berat jenis urin berubah terutama pada penyakit ginjal.
Cara kerja:
1. Isilah tabung urinometer dengan urin dan letakkan urinometer di dalamnya tanpa menyentuh
dinding tabung.
2. Catat suhu urin dan suhu tera pada urinometer.
3. Bila suhu urin berbeda dengan suhu tera, lakukan koreksi berikut:
Tambahkan 0,001 pada angka yang ditunjukkam urinometer untuk setiap penambahan suhu
3C di atas suhu tera, atau kurangi 0,001 untuk setiap perbedaan suhu 3C di bawah suhu tera.
4. Hitunglah jumlah zat padat total
Kalikan 2 angka terakhir (dec. 2 dan 3) dari berat jenis dengan koefisiensi long (2,6).
Hasilnya merupakan nilai kasar zat padat total dalam gram/liter urin, hitunglah zat padat total
dalam urin 24 jam.
Hasil:
Suhu Urin
Suhu Tera Urinometer
BJ Hitung
BJ Koreksi
Zat Padat Total urin 24 jam

::: 1,004
::-

1.4. Asam Urat


UJI BENEDICT
Prinsip Percobaan:
Asam urat mereduksi arseno-fosfotungstat menjadi arseno-fosfotungstit (biru).
Cara Kerja:
1. Letakkan 1 tetes Na2CO3 jenuh pada piring reaksi + sedikit asam urat + 1 tetes NaCN 5% +
1 Tetes pereaksi arseno-fosfotungstat Benedict. Terlihat warna biru.
2. Ulangi uji ini terhadap 1 atau 2 tetes urin.
Hasil:
Tidak dilakukan percobaan.
UJI MUREKSIDA
Prinsip Percobaan:
Oksida asam urat dengan ammonia membentuk mureksida (ammonium purpurat) yang berwarna
ungu kemerahan.
Cara Kerja:
1. Letakkan sedikit kristal asam urat dalam cawan penguap
2. Tambahkan 3 tetes HNO3 pekat sebagai oksidator
3. Panaskan hingga kering, perhatikan warnanya.
4. Biarkan dingin dan tambahkan setetes ammonia encer (1:1000)
5. Perhatikan warna yang terjadi
Hasil:
Timbul warna merah di cawan penguap.
Pembahasan:
Pengujian asam urat dilakukan tes mureksida, yaitu
dengan memanaskan sampai kering urin yang telah
ditambah HNO3 pekat. Asam urat akan dioksidasi oleh
HNO3 pekat membentuk asam dialurat dan aloksan.
Setelah dingin, ditambahkan satu tetes ammonia encer (1 :
100), maka asam dialurat dan aloksan berkondensasi
dengan amonia membentuk mureksida (ammonia
purpurat) yang berwarna ungu kemerahan. Mekanisme
reaksi yang terjadi adalah jika urin setelah ditambahkan
ammonia encer tetap berwarna merah, maka hal itu
menyatakan adanya asam urat. Pereaksi Benedict yang
mengandung kuprisulfat dalam suasana basa akan
tereduksi oleh gula yang menpunyai gugus aldehid atau
keton bebas (misal oleh glukosa), yang dibuktikan dengan
terbentuknya kuprooksida berwarna merah (Soewolo 2005).

1.5. Zat Zat Keton


UJI IODOFORM (LIEBEN)
Cara Kerja:
1. Campurkan 2 ml urin + 1 ml lugol + 1 ml NaOH
2. Perhatikan endapan iodoform yang berwarna kuning
Catatan:
Uji ini juga positif untuk alcohol. Reaksi menjadi spesifik untuk
aseton bila NaOH diganti dengan ammonia (UJI GUNNING)
Hasil:
Timbul endapan berwarna kuning, zat keton (+)
Pembahasan:

UJI NITROPRUSIDA (LEGAL)


Cara Kerja:
1. Campurkan 2ml urin + Na-nItroprusida + NaOH
2. Perhatikan warna yang terjadi
Catatan:
Aseton akan menimbulkan warna merah. Kreatinin
juga menyebabkan warna merah akan tetapi pada
penambahan asam asetat akan hilang.
Hasil:
Timbul Cincin berwarna ungu-kemerahan di bagian
atas larutan
UJI NITROPRUSIDA (ROTHERA)
Cara Kerja:
Lakukan uji pada urin sendiri dan pada urin penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol
sebagai berikut:
1. 5 ml urin + kristal ammonium sulfat sampai jenuh
2. Tambahkan 3 tetes Na-nitroprusida dan 1 ml NH4OH Pekat
3. Campurkan dan tunggu 30 menit
4. Perhatikan warna permanganat (positif) dan warna coklat (negatif)
Hasil:
Bahan Uji
Urin
Urin pasien DM

Warna
Kuning Bening
Kuning Pekat

Kesimpulan (+/-)
(-)
(+)

Pembahasan:
1. Pada keadaan apakah ditemukan zat keton pada urin?
2. Pelajaari pembentukan kreatinin!
Uji rothera ini bertujuan untuk membuktikan adanya badan keton di dalam urin. Ada 3 macam
badan keton, yaitu aseton, asam asetoasetat dan asam b-hidroksibutirat. Prinsip dari uji rothera

didasarkan adanya reaksi antara aseton dengan natrium nitroprusida dalam urin yang ditandai
dengan terbentuknya warna ungu karena terbentuk senyawa kompleks yang diakibatkan adanya
donor elektron dari atom pusat, yaitu Fe. Konsentrasi badan keton dalam urin orang sehat sebesar
0,03-0,3 mg/kg berat badan per hari atau rata-rata 0,2 mg/kg berat badan per hari. Warna larutan
tersebut berubah menjadi ungu muda karena terbentuknya senyawa kompleks.
Hasil percobaan tidak menunjukan terbentuknya warna ungu pada urin sampel maupun urin uji
yang membuktikan bahwa konsentrasi badan keton terutama aseton pada urin sampel maupun uji
tidak ada atau sedikit.

1.6. Uji Protein


Tujuan Percobaan:
Mahasiswa mampu menentukan proteinuria
UJI HELLER
HNO3 pekat bereaksi dengan protein dan membentuk endapan putih
Cara kerja:
1. Isi tabung reaksi dengan 3 ml HNO3 pekat
2. Tambahkan dengan hati hati melalui dinding tabung 3ml urin
3. Perhatikan apakah ada presipitat cincin putih pada perbatasan kedua cairan
Hasil:
Bahan Uji
Urin
Urin Patologik

Putih bening tanpa cincin


Kuning, Ada cincin

Pembahasan:
Reaksi heller dilakukan untuk mengetahui kandungan protein
di dalam urine. Biasanya, hanya sebagian kecil protein
plasma disaring di glomerulus yang diserap oleh tubulus
ginjal dan diekskresikan ke dalam urin. Normal ekskresi
protein biasanya 0-5 mg/dl urin. Lebih dari 6 mg/dl
didefinisikan sebagai proteinuria. Adanya protein dalam urine
disebut proteinuria.Proteinuria biasanya disebabkan oleh
penyakit ginjal akibat kerusakan glomerulus dan / atau
gangguan reabsorpsi tubulus ginjal.
Pengujian dilakukan dengan memasukkan 5 ml asam nitrat
pekat ke dalam tabung reaksi, lalu perlahan-lahan
ditambahkan 5 ml urine. Hasil positiv ditandai terbentuknya
cincin putih di atas lapisan asam nitrat pekat. Pada sampel
terbentuk cincin putih, hal ini dapat terjadi karena adanya
protein di dalam sampel yang terdenaturasi oleh asam pekat.

UJI KOAGULASI
Cara Kerja :
1. Panaskan 5 ml urin jernih (saring bila perlu) sampai mendidih 1 2 menit
2. Bila ada presipitat, tambahkan 4 tetes asam asetat 2%
3. Perhatikan apakah presipitat hilang (berarti fosfat) atau tetap/bertambah (berarti protein)
Hasil:
Bahan Uji
Urin
Urin Patologik

Protein (Positif/negative)
Putih Bening
Putih Keruh

Pembahasan
Uji koagulasi memiliki tujuan yang sama dengan uji heller sebelumnya, yaitu mengetahui
kandungan protein di dalam urine. Pengujian dilakukan pada sempel dan urine praktikan . Pada
tabung 1 berisi sampel dan pada tabung 2 berisi urine praktikan. Kepada masing-masing tabung

didihkan, urinyang dipanaskan akan terkoagulasi akibat kenaikan


suhu sehingga protein dan fosfatterendapkan. Selanjutnya
dilakukan penambahan asam asetat 2 % untuk memastikan
endapan yang terbentuk adalah protein, karena fosfat larut dalam
asam asetat.
Pada tabung 1 yang berisi sampel terdapat endapan putih pada
saat didihkan dam kemudian ditambahkan asam asetat, ini
membuktikan bahwa pada sampel terdapat protein. Sedangkan
pada tabung 2, yaitu urine praktikan tidak terdapat endapan
putih.

10

UJI ASAM SULFOSALISILAT


Cara Kerja:
1. Campurkan 2 ml urin dengan 4 ml asam sulfosalisilat 3%
2. Kekeruhan akan terbentuk bila terdapat protein di dalam urin
Hasil:
Bahan Uji
Urin
Urin Patologik

Protein (positif/negative)
Putih bening, ada titik titik putih
Putih Keruh

11

1.7. Uji Benedict (Semikuantitatif)


Prinsip Percobaan:
Larutan tembaga dalam suasana basa dapat di reduksi oleh karbohidrat yang mengandung gugus
aldehid atau keton bebas dan membentuk kuprooksida yang tidak larut, berwarna kuning atau
merah. Larutan benedict berisi kuprisulfat, natrium karbonat dan natrium sitrat.
Cara Kerja:
1. Campurkan 2,5 ml pereaksi benedict dengan 4 tetes urin
2. Panaskan 5 menit pada penangas air mendidih atau didihkan 1 menit di atas api
3. Dinginkan dan perhatikan warna yang terjadi
Penafsiran
Warna
Biru/Hijau Keruh
Hijau/Hijau kekuningan

Penilaian
0
+

Kadar Glukosa
<0,5%

Kuning/Kuning kehijauan

++

0,5 1,0%

Jingga
Merah

+++
++++

1,0 2,0%
>2%

Hasil : didemokan
Bahan Uji
Urin
Urin dengan glukosa 1%
Urin dengan glukosa 5%
Urin dengan galaktosa 1%
Pembahasan:
Dalam uji benedict ditunjukkan bahwa adanya kandungan gula (karbohidrat) pereduksi. Gula
pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa dan maltose.
Pada uji ini benedict akan bereaksi dengan gugus aldehid, kecuali aldehid dalam gugus aromatic
dan alpha hidroksi keton.
Glukosa akan terdapat di dalam urine bila kadar glukosa darah meningkat (hiperglikemia) atau bila
kemampuan absorbsi ginjal menurun. Glukosa dalam urine dapat mengindikasikan adanya
diabetes melitus, stres, atau terkadang pankreatitis atau sindroma cushing.

12

1.8. Empedu Dalam Urin


Tujuan Percobaan:
Mahasiswa mampu menetapkan bilirubinuria
UJI GMELIN
Prinsip Percobaan:
Pigmen pigmen empedu sebagian besar berasal dari hasil penghancuran
sel sel darah merah. Pigmen yang terbanyak adalah bilirubin berwarna
merah/kuning coklat dan biliverdin berwarna hijau. Oksidasi pigmen ini
menghasilkan sejumlah pigmen lain dengan bermacam macam warna.
Cara kerja:
Campurkan HNO3 pekat + 2 ml urin melalui dinding tabung
Hasil :

UJI GMELIN MODIFIKASI ROSENBACH


Cara kerja:
1. Basahi kertas saring yang ditempatkan dalam corong dengan urin
2. Teteskan asam nitrat pekat pada ujung kerucut kertas saring
Hasil:
Ujung kertas saring tidak ada perubahan warna

UJI HARRISON
Cara kerja:
1. Basahi kertas saring dengan BaCl2 10%
2. Keringkan dan rendam dalam urin 10 detik
3. Tambahkan 1 tetes pereaksi fouchet
4. Warna hijau menyatakan ada bilirubin
Hasil:
Uji kertas saring tidak ada perubahan warna

13

Praktikum II
2.1. Kreatinin
REAKSI JAFFE
Prinsip percobaan:
Kreatinin bereaksi dengan asam pikirat dalam larutan alkalis membentuk tautomer kreatinin pikat
merah. Warna ini menjadi kuning pada pengasaman.
Cara kerja:
1. Isi tabung A dan B dengan 5 ml urin + 1 ml asam pikirat jenuh + 1
ml NaOH 10%
2. Perhatikan warna merah yang terbentuk
3. Tambahkan sedikit HCl pada tabung A (Pengasaman)
4. Perhatikan perubahan warna pada tabung A

B A

Hasil:
Tabung A Kuning
Tabung B Merah
UJI NITROPRUSIDA (WEYL)
Prinsip percobaan :
Kreatinin dalam larutan alkalis membentuk warna merah pada penambahan larutan nitroprusida.
Pada pengasaman, warna berubah menjadi kuning kehijauan dan pemanasan merubah warna
menjadi kuning.
Cara kerja:
1. Campurkan 5 ml urin dengan 5 tetes Na-nitroprusida
2. Tambahkan NaOH 10% tetes demi tetes sampai terjadi perubahan warna
3. Perhatikan warna yang terjadi
4. Bagi larutan menjadi 2 bagian A dan B
5. Tambahkan asam asetat glasial pada A
6. Panaskan bagian B
Hasil:
Uji kreatinin pada urin
Pengasaman dengan asam asetat glasial
Pemanasan
awan putih

B A

: Warna kuning terang


: Warna kuning pucat
: Warna kuning dengan awan

2.2. Penetapan Kadar Kreatinin Urin


Tidak dilakukan Percobaan

14