Anda di halaman 1dari 19

Telaah Ilmiah

TOXIC ANTERIOR SEGMENT SYNDROME

Oleh:
Fitri Amaliah, S.Ked

Pembimbing
Dr. H. Alie Solahuddin, SpM(K)

DEPARTEMEN ILMU KESEHATAN MATA


RSUP DR. MOHAMMAD HOESIN PALEMBANG
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016

HALAMAN PENGESAHAN
Judul Telaah Ilmiah
Toxic Anterior Segment Syndrome
Oleh:
Fitri Amaliah, S.Ked
04054821618068

Referat ini diajukan untuk memenuhi salah satu tugas dalam mengikuti
Kepaniteraan Klinik Senior di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya
periode 21 November 2016 s.d 24 Desember 2016.
Palembang,

November 2016

dr. H. Alie Solahuddin, SpM(K)

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kepada Allah SWT atas berkat rahmat dan
karunia-Nya Telaah Ilmiah yang berjudul Toxic Anterior Segment syndrome ini
dapat diselesaikan tepat waktu. Telaah Ilmiah ini dibuat untuk memenuhi salah
satu syarat ujian kepaniteraan klinik di Bagian Ilmu Kesehatan Mata RSUP Dr.
Mohammad Hoesin Palembang Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
Penulis juga ingin menyampaikan terima kasih kepada dr. H. Alie
Solahuddin, Sp.M(K) atas bimbingannya sehingga penulisan ini menjadi lebih
baik.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dan kekeliruan dalam
penulisan Telaah Ilmiah ini. Oleh karena itu saran dan kritik sangat penulis
harapkan untuk penulisan yang lebih baik di masa yang akan datang.

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..............................................................................................i
HALAMAN PENGESAHAN ...............................................................................ii
KATA PENGANTAR ...........................................................................................iii
DAFTAR ISI .........................................................................................................iv
BAB I PENDAHULUAN......................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................................2
2.1 Anatomi Mata.............................................................................................2
2.2 Endoftalmitis..............................................................................................3
2.2.1 Definisi.............................................................................................3
2.2.2 Epidemiologi....................................................................................4
2.2.3 Etiologi.............................................................................................4
2.2.4 Klasifikasi........................................................................................5
2.2.5 Patofisiologi.....................................................................................8
2.2.6 Manifestasi Klinis............................................................................9
2.2.7 Diagnosis Banding...........................................................................9
2.2.8 Pemeriksaan Penunjang.................................................................10
2.2.9 Penatalaksanaan..............................................................................11
2.2.10 Prognosis........................................................................................12
BAB III KESIMPULAN.....................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................14

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Toxic Anterior Segment Syndrome (TASS) merupakan komplikasi yang
sering terjadi setelah dilakukannya operasi katarak. Komplikasi yang terjadi
berupa edema kornea yang difus disertai pupil yang dilatasi dan tidak dapat
berkontraksi (fixed and dilated pupil), serta biasanya disertai dengan peningkatan
tekanan intraokular. Namun pada TASS ini bahwa selama operasi berlangsung
tidak terdapat komplikasi yang mengarah kepada timbulnya komplikasi pascaoperasi. Endoftalmitis merupakan peradangan supuratif di bagian dalam bola mata
yang meliputi uvea, vitreus dan retina dengan aliran eksudat ke dalam kamera
okuli anterior dan kamera okuli posterior. Peradangan supuratif ini juga dapat
membentuk abses di dalam badan kaca.1
Endoftalmitis di sebabkan oleh bakteri dan jamur. Bakteri dan jamur ini
akan masuk dengan cara eksogen dan endogen. Endoftalmitis eksogen terjadi
akibat trauma tembus atau infeksi sekunder pada tindakan pembedahan yang
membuka bola mata. Endoftalmitis endogen terjadi akibat penyebaran bakteri atau
jamur dari fokus infeksi dalam tubuh.1
Untuk keseluruhan insiden endoftalmitis memberikan hasil yang berbedabeda. Laporan hasil dari inggris baru-baru menganalisis endoftalmitis akut antara
tahun 1991 dan 2004, ditemukan 120 kasus, 59% adalah eksogen dan 41%
endogen. Di negara india untuk kasus endoftalmitis ditemukan 955 pasien dalam
periode 10 tahun, 92,6% endoftalmitis eksogen dan hanya 7,4% endoftalmitis
endogen.2
Endoftalmitis merupakan penyakit yang memerlukan perhatian pada tahun
terakhir ini karena dapat memberikan penyulit yang gawat akibat suatu trauma
tembus atau akibat pembedahan mata intra okuler.1
Penulisan telaah ilmiah ini bertujuan untuk mengetahui definisi,
epidemiologi, etiologi, faktor risiko, patofisiologi, tanda dan gejala, diagnosis,
diagnosis banding, tatalaksana, dan pencegahan endoftalmitis. Telaah ilmiah ini
diharapkan dapat bermanfaat untuk memberikan informasi dan sumber bacaan
terkait endoftalmitis dan dapat membantu memberi petunjuk dalam diagnosis

endophtalmitis sehingga kemungkinan untuk penanganan yang tidak tepat dan


bisa berakibat fatal dapat dihindari.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi
Bola mata terdiri atas dinding bola mata dan isi bola mata. Pada dinding
bola mata terdiri atas sklera dan kornea. Isi bola mata terdiri atas lensa, uvea,
badan kaca (vitreous body), dan retina. 1,3
2.1.1 Uvea
Uvea merupakan jaringan lunak yang terdiri atas 3 bagian yaitu iris, corpus
cilliare, dan khoroid. Iris merupakan perpanjangan corpus cilliare ke anterior,
berbentuk sirkular, dan terdapat lubang yang dinamakan pupil. Iris berfungsi
untuk mengendalikan banyaknya cahaya yang masuk ke dalam mata. Ukuran
pupil pada prinsipnya ditentukan oleh keseimbangan antara konstriksi (miosis)
akibat aktivitas parasimpatis yang dihantarkan melalui nervus kranialis III dan
dilatasi (midriasis) yang ditimbulkan oleh aktivitas simpatis. Badan siliar atau
corpus cilliare ini dimulai dari pangkal iris ke belakang sampai koroid yang
terdiri otot-otot siliar dan prosessus siliar. Otot-otot siliar berfungsi untuk
akomodasi lensa. Jika otot-otot ini berkontraksi ia menarik prosessus dan khoroid
ke depan dan kedalam, mengendorkan zonula zinn sehingga lensa menjadi
cembung. Fungsi prosessus siliar adalah memproduksi cairan mata atau humor
akuous. Koroid adalah membran berwarna coklat tua yang terletak diantara sklera
dan retina. Koroid berfungsi sebagai pemberi nutrisi pada retina bagian luar. 1,3
2.1.2 Vitreous body
Badan kaca atau vitreous body adalah suatu badan gelatin yang jernih dan
avaskuler yang membentuk dua pertiga volume dan berat mata. Badan kaca
mengisi ruangan yang dibatasi oleh lensa, retina, dan diskus optikus. Bagian luar
badan kaca merupakan lapisan tipis (membran hialoid). 1,3
2.1.3 Retina
Retina adalah lembaran jaringan saraf yang berlapis yang tipis dan
semitransparan yang melapisi bagian dalam dua pertiga posterior dinding bola

mata. Bagian retina yang letaknya sesuai sumbu penglihatan terdapat makula lutea
(bintik kuning) yang berperan penting untuk tajam penglihatan. Retina memiliki
10 lapisan yang terdiri atas : (1) membran limitan interna, (2) lapisan serabut
saraf, (3) lapisan sel ganglion, (4) lapisan pleksiform dalam, (5) lapisan nukleus
dalam badan-badan sel bipolar, (6) lapisan pleksiform luar, (7) lapisan nukleus
luar sel fotoreseptor, (8) membran limitan luar, (9) lapisan batang dan kerucut,
(10), lapisan epitel pigmen. Suplai darah bernutrisi untuk lapisan dalam retina
berasal dari arteri retina sentralis yang memasuki bola mata melalui saraf optik
dan mempercabangkan diri untuk menyuplai seluruh permukaan dalam retina.
Lapisan luar retina mendapat suplai nutrisi dari khoroid. 1,3

Gambar 2.1 bola mata

2.2

Endoftalmitis

2.2.1 Definisi
Endoftalmitis merupakan peradangan berat dalam bola mata, biasanya
akibat infeksi setelah trauma atau bedah, atau endogen akibat sepsis.
Endoftalmitis berbentuk peradangan supuratif di dalam rongga mata dan struktur
di dalamnya.1 Endoftalmitis adalah inflamasi pada lapisan internal mata yang
berasal dari agen infeksius intraokular yang menyebabkan eksudasi ke dalam
badan kaca.4 Endoftalmitis merupakan infeksi pada segmen anterior dan posterior
mata akibat pajanan mikroorganisme yang bermula dari prosedur operasi (post
operasi), luka trauma (post traumatik), atau infeksi dari bagian tubuh lain

(endogen).5 Endoftalmitis dapat berkembang menjadi panoftalmitis jika infeksi


mengenai kornea dan sklera.5
2.2.2 Epidemiologi
Endophthalmitis endogen jarang terjadi, hanya terjadi pada 2-15% dari
semua kasus endophthalmitis. Kejadian rata-rata tahunan adalah sekitar 5 per
10.000 pasien yang dirawat. Dalam beberapa kasus, mata kanan dua kali lebih
mungkin terinfeksi sebagai mata kiri, mungkin karena lokasinya yang lebih
proksimal untuk mengarahkan aliran darah ke arteri karotid kanan. Sejak tahun
1980, infeksi Candida dilaporkan pada pengguna narkoba suntik telah meningkat.
Jumlah orang yang beresiko mungkin meningkat karena penyebaran AIDS, sering
menggunakan obat imunosupresif, dan lebih banyak prosedur invasif (misalnya,
transplantasi sumsum tulang).6
Sebagian besar kasus endophthalmitis eksogen (sekitar 60%) terjadi setelah
operasi intraokular. Ketika operasi merupakan penyebab timbulnya infeksi,
endophthalmitis biasanya dimulai dalam waktu 1 minggu setelah operasi. Di
Amerika Serikat, endophthalmitis post cataract merupakan bentuk yang paling
umum, dengan sekitar 0,1-0,3% dari operasi menimbulkan komplikasi ini, yang
telah meningkat selama beberapa tahun terakhir. Walaupun ini adalah persentase
kecil, sejumlah besar operasi katarak yang dilakukan setiap tahun memungkinkan
untuk terjadinya infeksi ini lebih tinggi.6
Post traumatic Endophthalmitis terjadi pada 4-13% dari semua cedera
penetrasi okular. Insiden endophthalmitis dengan cedera yang menyebabkan
perforasi pada bola mata di pedesaan lebih tinggi bila dibandingkan dengan
daerah perkotaan. Keterlambatan dalam perbaikan luka tembus pada bola mata
berkorelasi dengan peningkatan resiko berkembangnya endophthalmitis. Kejadian
endophthalmitis yang disebabkan oleh benda asing intraokular adalah 7-31%.6
2.2.3 Etiologi
Klasifikasi penyebab endoftalmitis berdasarkan jenis infeksi dibagi
menjadi 3, yaitu:7,8
A. Post operatif

1. Post operatif onset akut : coagulase negative Staphylococcus, S aureus,


Streptococcus spp, organisme gram negatif
2. Post operatif onset kronik : Propionibacterium acnes, fungi seperti
candida dan aspergilus, coagulase negative Staphylococcus
B. Post traumatik : bacillus spesies dan staphylococcus species
C. Endogen : Neisseria meningitidis, Haemophilus influenzae, Escherichia coli
dan spesies Klebsiella
Kebanyakan kasus endoftalmitis disebabkan oleh bakteri gram positif
seperti coagulase-negative staphylococcus epidermidis, staphylococcus aureus,
dan streptococcus species. Bakteri gram negatif seperti pseudomonas, escheria
coli, dan enterococcus lebih sering ditemukan pada endoftalmitis yang disebabkan
oleh trauma. Namun, pada endoftalmitis endogen, infeksi jamur memiliki proporsi
yang besar dibanding bakteri.
2.2.4 Klasifikasi
Endoftalmitis dibagi menjadi dua tipe berdasarkan jenis infeksinya, yaitu
eksogen dan endogen.4,9
2.2.4.1 Endoftalmitis eksogen
Endoftalmitis eksogen merupakan inokulasi agen infeksius yang merupakan
komplikasi dari pembedahan okular (contohnya katarak, implantasi IOL,
glaukoma, keratoplasty, eksisi pterigium, pembedahan strabismus paracentesis,
pembedahan vitreus dll), benda asing, dan trauma. Kebanyakan kejadian
endoftalmitis eksogen terjadi setelah pembedahan intra okular dengan persentase
sebesar 49-76%. Endoftalmitis eksogen terjadi kurang lebih 1 minggu setelah
operasi. Umumnya operasi katarak merupakan penyebab timbulnya endoftalmitis
eksogen.4,9
Endoftalmitis akut pasca bedah katarak merupakan bentuk yang paling
sering dari endoftalmitis, dan hampir selalu disebabkan oleh infeksi bakteri.
Tanda-tanda infeksi dapat muncul dalam waktu satu sampai dengan enam minggu
dari operasi. Namun, dalam 75-80% kasus muncul di minggu pertama pasca
operasi. Sekitar 56-90% dari bakteri yang menyebabkan endoftalmitis akut adalah
gram positif, dimana yang paling sering adalah Staphylococcus epidermis,

Staphylococcus aureus dan Streptococcus. Pada pasien dengan endoftalmitis akut


pasca operasi biasa ditemui Injeksi silier, hilangnya reflek fundus, hipopion,
pembengkakan kelopak mata, fotofobia, penurunan visus dan kekeruhan vitreus.10

Gambar 2.2 endoftalmitis akut pasca bedah katarak

Endoftalmitis pseudofaki kronik biasanya berkembang empat minggu


hingga enam minggu. Biasanya, keluhan pasien ringan dengan tanda-tanda mata
merah, penurunan ketajaman visus dan adanya fotofobia. Sedangkan tanda-tanda
yang dapat ditemui yaitu adanya eksudat serosa dan fibrinous dari berbagai
derajat dapat diamati, dihubungkan dengan adanya hipopion dan tanda-tanda
moderat dari kekeruhan dan opacity dalam vitreous body.11,12
Salah satu yang khas dari endoftalmitis pseudofaki kronik adalah adanya
plak kapsul putih dan secara proporsional tingkat kekeruhan badan vitreous yang
lebih rendah dibandingkan dengan endophthalmitis akut. Hal ini dianggap bahwa
penyebab endoftalmitis pseudofaki kronik adalah adanya beberapa bakteri yang
memiliki virulensi rendah, dengan tanda-tanda inflamasi yang berjalan lambat.
Frekuensi paling sering yang menjadi penyebab dari chronic endophthalmitis
adalah Propionibacterium acnes dan Corynebacterium species.12

Gambar 2.3 endoftalmitis pseudofaki kronik

10

Endoftalmitis pasca trauma terjadi dalam persentase tinggi (20%),


terutama jika cedera ini terkait dengan adanya benda asing intraokular. Dengan
temuan klinis berupa luka perforasi, infeksi berkembang sangat cepat. Tandatanda infeksi biasanya berkembang segera setelah cedera, tapi biasanya diikuti
oleh reaksi post-traumatic jaringan mata yang rusak. Informasi yang sangat
penting dalam anamnesis adalah apakah pasien berasal dari lingkungan pedesaan
atau perkotaan, cedera di lingkungan pedesaan lebih sering diikuti oleh
endoftalmitis (30%) dibandingkan dengan pasien dari lingkungan perkotaan.
(11%). Secara klinis, Endoftalmitis pasca-trauma ditandai dengan rasa sakit,
hiperemi ciliary, gambaran hipopion dan kekeruhan pada vitreous body. Dalam
kasus endoftalmitis pasca-trauma, agen causative paling umum adalah bakteri dari
kelompok Bacillus dan Staphylococcus.11,12
2.2.4.2 Endoftalmitis endogen
Endoftalmitis endogen merupakan infeksi mikroorganisme yang berasal dari
bagian tubuh lain melalui hematogen (contoh : septik emboli, endocarditis,
urinary tract infection, artritis, pyelonefritis, faringitis, pneumoni dll).
Endoftalmitis endogen sangat jarang ditemukan dengan presentasi kejadian sekitar
2-15%.4,9 Individu yang berisiko terkena endoftalmitis endogen biasanya memiliki
faktor predisposisi seperti diabetes mellitus, gagal ginjal kronik, gangguan katup
jantung, systemic lupus eritematosus, AIDS, leukimia, malignansi traktus
gastrointestinal, neutropenia, limfoma, hepatitis, dan transplantasi sumsum
tulang.6
Endoftalmitis endogen tidak ada riwayat operasi mata ataupun trauma
mata. Biasanya ada beberapa penyakit sistemik yang mempengaruhi, baik melalui
penurunan mekanisme pertahanan host atau adanya fokus sebagai tempat
potensial terjadinya infeksi. Dalam kelompok ini penyebab tersering adalah;
adanya septicaemia, pasien dengan imunitas lemah, penggunaan catethers dan
Kanula intravena kronis. Agen bakteri yang biasanya menyebabkan endoftalmitis
endogen

adalah

Staphylococcus

aureus,

Escherichia

coli

dan

spesies

Streptococcus. Namun, agen yang paling sering menyebabkan Endoftalmitis


endogen adalah jamur (62%), gram positive bakteri (33%), dan gram negatif

11

bakteri dalam 5% dari kasus.7 Fungal endoftalmitis dapat berkembang melalui


mekanisme endogen setelah beberapa trauma atau prosedur bedah dengan
inokulasi langsung ke ruang anterior atau vitreous body, atau transmisi secara
hematogen dalam bentuk candidemia. Tidak seperti fungal chorioretinitis yang
disebabkan oleh kandidiasis, yang disertai dengan tanda peradangan minimal pada
vitreous body, fungal endoftalmitis merupakan penyakit serius dengan
karakteristik tanda-tanda endoftalmitis akut.7

Gambar 2.4 endoftalmitis endogen

Gambar 2.5 fungal endoftalmitis

2.2.5 Patofisiologi
Kejadian, tingkat keparahan, dan riwayat perjalanan klinis dari endoftalmitis
bergantung pada rute infeksi, virulensi, jumlah inokulasi patogen, kondisi sistem
imun, dan deteksi dini. Dalam keadaan normal, sawar darah-mata (Blood-Ocular
Barrier) berfungsi sebagai pelindung dari infeksi mikroorganisme.6,13
Pada endoftalmitis endogen maupun eksogen, mikroorganime menembus
sawar darah-mata secara langsung maupun melalui perubahan pembuluh darah
endotel yang disebabkan oleh mediator inflamasi. Kerusakan jaringan intraokular
dapat disebabkan oleh mikroorganisme dan/atau mediator inflamasi sistem imun.
Pada endoftalmitis endogen, mikroorganisme berasal dari bagian tubuh lain dan

12

secara hematogen bergerak ke arah intraokular. Pada endoftalmitis eksogen,


paparan mikroorganisme dapat berasal dari permukaan bola mata yang
menginfeksi saat adanya perlukaan akibat insisi atau trauma.6,13
Endophthalmitis dapat terlihat nodul putih yang halus pada kapsul lensa,
iris, retina, atau koroid. Hal ini juga dapat timbul pada peradangan semua jaringan
okular, mengarah kepada eksudat purulen yang memenuhi bola mata. Selain itu,
peradangan dapat menyebar ke jaringan lunak orbital.6,13
2.2.6 Manifestasi klinis
Berdasarkan Endopthalmitis Vitrectomy Study Group (EVS), beberapa
gejala dan tanda yang sering ditemukan pada endoftalmitis yaitu :1,3
Gejala :
A. Mata merah (82%
B. Nyeri pada mata (74%)
C. Penglihatan kabur (94%)
D. Fotofobia
E. Lakrimasi
Tanda :
A. Kelopak mata bengkak dan eritema (34%)
B. Hipopion (lapisan sel-sel inflamasi dan eksudat di ruang anterior) (86%)
C. Konjungtiva tampak khemosis
D. Kornea edema, keruh, tampak infiltrat
E. Iris edema dan keruh
F. Eksudat pada vitreus
G. TIO dapat meningkat atau menurun
2.2.7 Diagnosis banding
Endofthalmitis yang disebabkan oleh bakteri dan jamur seringkali sulit
untuk dibedakan dengan peradangan intraocular lainnya. Peradangan berlebihan
tanpa endopthalmitis sering ditemui pasca operasi yang rumit, uveitis yang sudah
ada sebelumnya dan keratitis, diabetes, terapi glaukoma, dan bedah sebelumnya.

13

Toxic anterior segment syndrome (TASS) juga termasuk dalam diagnosis


diferensial endoftalmitis. TASS disebabkan oleh pengenalan substansi zat beracun
selama operasi yang umumnya disebabkan oleh instrumen, cairan, atau lensa
intraokular. Keratitis dan infeksi pasca operasi sering disertai dengan hipopion
tanpa infeksi intraokular. Ini penting untuk menghindari terjadinya infeksi
eksternal (seperti dalam kasus keratitis bakteri) ke mata dengan melakukan
paracentesis yang tidak perlu. Sel tumor dari limfoma mungkin menumpuk di
vitreous, atau sel retinoblastoma dapat terakumulasi di ruang depan, simulasi
peradangan intraocular. Pada retinoblastoma intraokular biopsi merupakan
kontraindikasi. karakteristik yang paling membantu untuk membedakan
endophthalmitis yang benar adalah bahwa vitritis ini progresif dan keluar dari
proporsi lain temuan segmen anterior. Jika ragu, dokter harus menangani kondisi
ini sebagai suatu proses infeksi.14
2.2.8 Pemeriksaan penunjang
Metode kultur merupakan langkah yang sangat diperlukan karena bersifat
spesifik untuk mendeteksi mikroorganisme penyebab. Teknik kultur memerlukan
waktu 48 jam -14 hari. Bahan-bahan yang dikultur diambil dari: 3,15
- Cairan COA dan Corpus Vitreous
Pada endoftalmitis, biassanya terjadi kekeruha pada corpus vitreous. Oleh
karena itu, bila dengan pemeriksaan oftalmoskop, fundus tidak terlihat, maka
dapat dilakukan pemeriksaan USG mata.
Dengan pemeriksaan ini dapat ditentukan apakah ada benda asing dalam
bola mata, menilai densitas dari vitreitis yang terjadi dan mengetahui apakah
infeksi telah mencapai retina.
Pemeriksaan penunjang lainnya dilakukan untuk mengetahui dengan pasti kuman
penyebab endoftalmitis, terutama ada penyakit sistemik yang dapat menimbulkan
endoftalmitis, melalui penyebaran secara hematogen. Pemeriksaan penunjang
tersebut dapat berupa:
- Pemeriksaan darah lengkap, LED, kadar nitrogen, urea, kreatinin
- Foto Rontgen Thoraks
- USG jantung
- Kultur darah, Urin, LCS, sputum, tinja
2.2.9 Tatalaksana
Pengobatan tergantung pada penyebab yang mendasari endophthalmitis.
Hasil akhir ini sangat tergantung pada penegakan diagnosis dan pengobatan tepat
14

waktu. Tujuan dari terapi endophthalmitis adalah untuk mensterilkan mata,


mengurangi kerusakan jaringan dari produk bakteri dan peradangan, serta
mempertahankan penglihatan. Dalam kebanyakan kasus terapi yang diberikan
adalah antimikroba intravitreal, periokular, dan topikal. Sedangkan dalam kasus
yang parah, dilakukan vitrectomy di endophthalmitis18.
Tatalaksana non farmakologi meliputi :
A. Menjelaskan bahwa penyakit yang diderita memiliki prognosa yang buruk
yang mengancam bola mata dan nyawa apabila tidak tertangani.
B. Menjelaskan bahwa penyakit tersebut dapat mengenai mata satunya,
sehingga perlu dilakukan pengawasan yang ketat tentang adanya tanda-tanda
inflamasi pada mata seperti mata merah, bengkak, turunnya tajam
penglihatan, kotoran pada mata untuk segera untuk diperiksakan ke dokter
mata.
C. Menjelaskan bahwa penderita menderita diabetes yang memerlukan
pengontrolan yang ketat baik secara diet maupun medikamentosa. Hal ini
disebabkan oleh karena kondisi hiperglikemia akan meningkatkan resiko
terjadinya bakteriemi yang dapat menyerang mata satunya, atau bahkan dapat
berakibat fatal jika menyebar ke otak.
D. Perlunya menjaga kebersihan gigi mulut, sistem saluran kencing yang
memungkinkan menjadi fokal infeksi dari endoftalmitis endogen.
Tatalaksana farmakologi :

Antibiotik yang sesuai dengan organisme penyebab.

Steroid secara topikal, konjungtiva, intravitreal, atau secara sistematik, yang


digunakan untuk pengobatan semua jenis endoftalmitis.

Sikloplegia tetes dapat diberikan untuk mengurangi rasa nyeri, stabilisasi


aliran darah pada mata dan mencegah terjadinya sinekia.

Tindakan Vitrektomi.
Keadaan visus yang buruk pada endoftalmitis, dikarenakan virulensi

mikroorganisme penyebab yang memiliki enzim proteolitik dan produk toksin


yang dapat merusak retina, serta kemampuan multiplikasi yang cepat, juga jarak
antara ditegakkannya diagnosis sampai pada saat terapi diberikan. Oleh karena itu
pengobatan ditujukan bukan untuk memperbaiki visus, tapi untuk mengatasi

15

proses inflamasi yang terjadi, serta membatasi infeksi agar tidak terjadi penyulit
dan keadaan yang lebih berat.1
Vitrectomy adalah tindakan bedah dalam terapi endofthalmitis. Bedah
debridemen rongga vitreous terinfeksi menghilangkan bakteri, sel-sel inflamasi,
dan zat beracun lainnya untuk memfasilitasi difusi vitreal, untuk menghapus
membran vitreous yang dapat menyebabkan ablasio retina, dan membantu
pemulihan penglihatan. Endophthalmitis vitrectomy Study (EVS) menunjukkan
bahwa di mata dengan akut endophthalmitis operasi postcataract dan lebih baik
dari visi persepsi cahaya. Vitrectomy juga

memainkan peran penting dalam

pengelolaan endoftalmitis yang tidak responsif terhadap terapi medikamentosa.16,17


2.2.10 Prognosis
Prognosis dari endoftalmitis sendiri bergantung durasi dari endoftalmitis,
jangka waktu infeksi sampai penatalaksanaan, virulensi bakteri dan keparahan
dari trauma. Diagnosa yang tepat dalam waktu cepat dengan tatalaksana yang
tepat mampu meningkatkan angka kesembuhan endoftalmitis.1,7

BAB III
KESIMPULAN
Endoftalmitis merupakan reaksi inflamasi pada intraokuler yang
disebabkan oleh mikroorganisme seperti bakteri atau jamur. Klasifikasi
endoftalmitis berdasarkan jenis infeksinya yaitu endoftalmitis endogen dan
endoftalmitis eksogen. Tanda dan gejala yang ditunjukan antara lain adanya

16

penurunan visus, hiperemi konjungtiva, nyeri, pembengkakan, dan hipopion,


konjungtiva chemosis dan edema kornea. Pemeriksaan penunjang untuk
endoftalmitis adalah vitreous tap untuk mengetahui organisme penyebab sehingga
terapi yang diberikan sesuai. Tujuan penatalaksanaan endoftalmitis adalah
eradikasi infeksi, mencegah komplikasi, dan memperbaiki visus.

DAFTAR PUSTAKA
1. Ilyas SH dan Sri, RY. 2012. Anatomi dan fisiologi mata, Dalam: Ilmu Penyakit
Mata. Jakarta. Balai Penerbit FKUI, hal. 1-11.
2. Safneck, J.R. 2012. Endopthalmitis: A review of recent trends. Saudi Journal of
Opthalmology. Saudi opthalmology society, King Saud University. 26, 181-9.
3. Vaughan D, Asbury T. Oftalmologi Umum (General Opthalmology) Edisi 17.
Jakarta, EGC: 2009; 195 96.

17

4. Pahuja S, Narula R. 2011. Endophtalmitis. Delhi Journal of Ophtalmology 21 (3) :


4-8
5. Coburn PS, Callegan MC. 2012. Endophtalmitis, Advances in Ophtalmology.
InTech

319-340

(http://www.intechopen.com/books/advancesin-

ophthalmology/endophthalmitis).
6. Egan

DJ,

Peters

JR,

Peak

DA.

2013.

Endophtalmitis.

(http://emedicine.medscape.com/article/799431-overview, diunduh 28 Mei 2013,


20:09)
7. Bobrow JC, dkk. 2011. Intraocular Inflammation and Uveitis. Dalam: American
Academy of Ophtalmology. San Francisco. hal 269-273, 355-360.
8. Flynn HW Jr. 2010. Recognition, Treatment, and Prevention of Endophtalmitis.
OphtalmicEdge.Org : 1-30
9. Bhatia K, Pathengay A, Khera M. 2012. Vitrectomy in Endophtalmitis. InTech : 116

(http://www.intechopen.com/books/vitrectomy/vitrectomy-for-intraocular-

infections).
10. Cooper Ba, Holekamp Nm, Bohigian G, Thompson PA. Case- control study of
endophthalmitis after cataract surgery comparing scleral and corneal wounds. Am
J Ophtalmol 2003; 136: 5-300.
11. Callegan MC, Elenbert M, Parke DW. Bacterial endophthalmitis: Epidemiology,
therapeutics, and bacterialhost interactions. Clin Microbiol Rev 2002;15:1:24-111.
12. Trofa D, Gcser A, Nosanchuk JD. Candida parapsilosis,an emerging fungal
pathogen. Clin Microbiol Rev 2008;21(4):25-606.
13. Barry P, Behrens-Baumann W, Pleyer U, Seal D. 2007. ESCRS Guidelines on
Prevention, Investigation and Management of Post-operative Endophtalmitis
version 2. The European Society of Cataract & Refractive Surgeon : 1-36
14. Smith MA, Sorenson JA, D'Aversa G, Mandelbaum S, Udell I, Harrison W.
Treatment of experimental methicillin-resistant Staphylococcus epidermidis
endophthalmitis with intravitreal vancomycin and intravitreal dexamethasone.J
Infect Dis 1997; 175(2):6-462.
15. American Academy of Opthamology. 2011. Intraocular Inflammation and Uveitis.
Section 9. Singapore: American Academy of Opthamology.p. 269-73.

18

16. Vidyashankar B, Singal R, Shahnawaz K, Motwane SS. 2001. Medical Treatment


of Endoftalmitis. Journal of The Bombay Ophtalmologists association 11 (2) : 4750.
17. Gan IM, Ugahary LC, van Dissel JT, Feron E, PeperkampE, Veckeneer M et al.
Intravitreal dexamethasone as adjuvant in the treatment of postoperative
endophthalmitis:a prospective randomized trial. Graefes Arch Clin Exp
Ophthalmol.2005;243(12):5-1200.

19