Anda di halaman 1dari 28

ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN Ny.

FH
DENGAN POSTCOITAL BLEEDING
DI RUANG BERSALIN RSD dr. SOEBANDI JEMBER
I.

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Perdarahan di luar masa haid adalah perdarahan yang terjadi setelah masa haid
berhenti atau dapat didefinisikan perdarahan yang terjadi pada seorang wanita
dimana wanita tersebut tidak berada pada siklus menstruasi. Jika terjadi di luar
masa haid, meskipun darah yang keluar cuma sedikit atau sekadar vlek, tetap
disebut perdarahan. Ada dua macam perdarahan diluar haid yaitu metroragia dan
menometroragia. Menoragia adalah perdarahan siklik yang berlangsung lebih dari
7 hari dengan jumlah darah kadang-kadang cukup banyak. Metroragia adalah
perdarahan dari vagina yang tidak berhubungan dengan siklus haid. Beberapa
penyebab yang dapat menyebabkan perdarahan diluar haid diantranya polip
serviks, erosi portio, ulkus portio, polip endometrium dan trauma. Penyebab
fungsional perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab
organik, dinamakan perdarahan disfungsional. Perdarahan diluar haid dapat terjadi
pada setiap umur antara menarche dan menopause. Tetapi kelainan ini lebih sering
dijumpai sewaktu masa permulaan dan masa akhir fungsi ovarium
Dua pertiga wanita dari wanita-wanita yang dirawat di rumah sakit untuk
perdarahan diluar haid berumur diatas 40 tahun, dan 3 % dibawah 20 tahun.
Sebetulnya dalam praktek dijumpai pula perdarahan disfungsional dalam masa
pubertas, akan tetapi karena keadaan ini biasanya dapat sembuh sendiri, jarang
diperlukan perawatan di rumah sakit. Pada keadaan tertentu ada beberapa wanita
yang mengalami perdarahan setelah melakukan hubungan intim. Perdarahan paska
senggama (post coital bleeding/PCB) pada umumnya di sebabkan oleh dua hal,
masalah pada serviks (leher rahim) dan perdarahan pada lapisan dalam rahim
(endometrium). Juga bisa terjadi karena adanya erosi di vagina dikarenakan baru
pertama kali berhubungan atau berhubungan seksual belum terlalu sering sehingga
vagina masih sempit, akibat penetrasi (penis masuk ke vagina), terutama bila
wanita masih belum penuh terangsang dapat menyebabkan gesekan yang
menghakibatkan luka atau lecet. Perdaran diluar siklus haid karena trauma disini
adalah dimana seorang wanita mengalami perdarahan baik sedikit ataupun banyak

diluar siklus haidnya dikarenakan adanya suatu benda asing yang masuk ke dalam
alat reproduksi wanita yang menimbulkan suatu trauma seperti lecet atau
perdarahan yang terjadi setelah melakukan hubungan seksual (post coitus
bleeding).
Perdarahan yang abnormal yang terjadi diluar siklus haid merupakan suatu
keadaaan yang membahayakan. Dimana pada saat wanita mengalami perdarahan
diluar siklus menstruasinya, terlebih lagi apabila wanita tersebut mengalami
perdarahaa setelah melakukan hubungan seksual (post coitus bleeding) dicurigai
perdarahan ini merupakan suatu gejala keganasan. Untuk mengantisipasi hal
tersebut perlu dilakukan pemeriksaan secara didi untuk mengetahui penyebabnya.
Untuk mengatasi perdarahan harus diketahui penyebab pasti dari perdarahan
tersebut. Semakin dini dilakukan pemeriksaan, semakin dini pula terapi yang akan
didapatkan, sehingga kemungkinan untuk teratasi akan lebih besar. Selain itu juga
harus diketahui dimana lokasi perdarahan serta penyebab pastinya. Perlu
dilakukan bebrapa pemeriksaan untuk menentukan terjadinya lokasi perdarahan.
Pemeriksaan inspekulo dapat dilakukan untuk menentukan perdarahan yang
terjadi pada vagina yang mengalami trauma atau keganasan, sedangkan untuk
pemeriksaan bagian dalam seperti pemeriksaan servik dapat dilakukan dengan
pemeriksaan USG.
Hal yang paling penting dilakukan untuk menghindari masalah-masalah tersebut
yaitu dengan melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teraatur untuk mendeteksi
secara dini kelainan-kelainan yang terjadi pada organ reproduksi. Semua wanita
yang sudah pernah melakukan hubungan seksual dianjurkan untuk melakukan tes
ini secara rutin, minimal setahun sekali. Pap smear dilakukan sebagai pencegahan
supaya bisa mendeteksi kelainan lebih dini, sehingga terapinya lebih ringan. Kalau
stadiumnya sudah tinggi, maka penanganan yang dilakukan juga lebih sulit
walaupun dengan melakukan pengangkatan rahim sekalipun belum tentu dapat
menjadi solusi yang tepat, karena sel kanker sudah kemana-mana. Jika terdeteksi
ada masalah, pap smear bisa dilakukan lebih rutin.
B. PERUMUSAN MASALAH
Post coitus bleeding adalah perdaran dimana seorang wanita mengalami
perdarahan baik sedikit ataupun banyak diluar siklus haidnya dikarenakan adanya

suatu benda asing yang masuk ke dalam alat reproduksi wanita yang menimbulkan
suatu trauma seperti lecet atau perdarahan yang terjadi setelah melakukan
hubungan seksual. Perdarahan yang abnormal yang terjadi diluar siklus haid
merupakan suatu keadaaan yang

membahayakan. Dimana pada saat wanita

mengalami perdarahan diluar siklus menstruasinya, terlebih lagi apabila wanita


tersebut mengalami perdarahaa setelah melakukan hubungan seksual (post coitus
bleeding) dicurigai perdarahan ini merupakan suatu gejala keganasan.
C. TUJUAN PENULISAN
1. Tujuan Umum
Memberikan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami post coital
bleeding di Ruang Bersalin RSD dr. Soebandi Jember.
2. Tujuan Khusus
a. Melakukan penerapan asuhan keperawatan pada kasus post coital bleeding.
b. Melakukan pegelolaan pada kasus post coital bleeding pada klien.
c. Melakukan pembahasan terhadap kasus yang telah dikelola.
d. Menarik kesimpulan dari proses penerapan asuhan keperawatan pada kasus
post coital bleeding.

II.

TINJAUAN PUSTAKA
A. KONSEP POST COITAL BLEEDING
1. DEFINISI
Perdarahan di luar masa haid adalah perdarahan yang terjadi setelah masa haid
berhenti atau dapat didefinisikan perdarahan yang terjadi pada seorang wanita
dimana wanita tersebut tidak berada pada siklus menstruasi. Jika terjadi di
luar masa haid, meskipun darah yang keluar cuma sedikit atau sekadar vlek,

tetap disebut perdarahan. Sedangkan yang dimaksud dengan perdaran diluar


siklus haid karena trauma disini adalah dimana seorang wanita mengalami
perdarahan baik sedikit ataupun banyak diluar siklus haidnya dikarenakan
adanya suatu benda asing yang masuk ke dalam alat reproduksi wanita yang
menimbulkan suatu trauma seperti lecet atau perdarahan yang terjadi setelah
melakukan hubungan seksual (post coitus bleeding).
2. ETIOLOGI
Penyebab perdarahan di luar masa haid dapat dikarenakan banyak hal,
sehingga harus diketahui penyebab pasti dari perdarahannya, agar penanganan
yang dilakukan tepat. Perdarahan yang terjadi meliputibeberapa lokasi yaitu :
perdarahan pada vagina, perdarahan pada leher rahim (servik), perdarahan
pada rahim, dimana perdarahan pada vagina dan servik lebih mudah dalaam
mendeeteksi dengan menggonakan pemeriksaan inspikulo untuk melihat
daerah yang mengalami lecet atau trauma. Sedangkan pada daerah uterus
diperlukan pemeriksaan seperti USG untuk melihat lokasi yang mengalami
trauma. Peradangan pada serviks (leher rahim) dimana hubungan seksual dapat
menyebabkan perdarahan. Kondisi ini disebut dengan erosi serviks, umum
terjadi pada wanita muda, wanita hamil, dan mereka yang memakai
kontrasepsi pil. Kebanyakan perdarahan berasal dari mulut rahim atau dari
dalam rahim, dan jarang yang berasal dari vagina, yang jelas akan
mengganggu keadaan umum. HB (hemoglobin) turun, kepala pusing, tekanan
darah menurun, nadi meningkat.
Perdarah diluar siklus haid karena trauma yang paling sering ditemukan yaitu
perdarahan setelah melakukan hubungan seksual (post coitus bleeding).
Dimana penyebab pendarahan setelah melakuakan hubungan seksual
diantaranya yaitu:
a. Cervical dysplasia : (Displasia serviks) merupakan perubahan pra-kanker
pada leher rahim. teorinya dikatakan disebabkan oleh Human Papilloma
Virus (HPV). Risiko meningkat dengan beberapa mitra seksual, hubungan
seks sebelum usia 18, melahirkan sebelum usia 16, atau sejarah masa lalu
dari PMS. Cara deteksi displasia dilakukan dengan pemeriksaan Pap
Smear.
b. Chlamydia : merupakan infeksi bakteri yang biasanya ditularkan melalui
aktivitas seksual yaitu dapat ditularksn melalui kontak dengan cairan
semen, cairan vagina, atau darah orang terinfeksi.

c. Gonorea : biasanya penyakit disebabkan oleh bakteri. Farmasi beberapa


perawatan yang tersedia.
d. Vaginitis atau Cervicitis: merupakan peradangan atau bengkak dan infeksi
pada vagina atau cervix. Dimama terjadi kekurangan hormon estrogen,
terutama pada wanita post menopause. Kurangnya lendir pada vagina
menyebabkan hubungan seksual menjadi nyeri dan dapat terjadi
perdarahan Pengobatan yang dapat dilakukan disesuaikan dengan
penyebab dari vaginitis atau cervisitis itu sendiri.
e. Cervical polyps: Cervical polyps yang halus, merah atau ungu, seperti
growths-jari yang tumbuh dari lapisan lendir di cervix atau cervical kanal.
Cervical polyps sangat rapuh, memperluas dari cervix
f. Trichomoniasis: disebabkan oleh protozoan. Dapat masuk ke vagina paga
proses bersalin karena kurangnya hiegyne selama proses persalinan.
Meskipun jarang, transmisi juga mungkin melalui keran air, hot tubs, air
seni, di WC duduk, dan di kolam renang. Dapat menyebabkan vaginitis.
g. Vaginal Yeast Infection: Adalah pertu,buhan jamur yang terlalu cepat pada
daerah vagina. Umumnya gejala yang sering dirasakan yaitu: rasa gatal,
membakar, dan keluar keputihan yang kental, tetapi tidak berbau.
h. Endometritis atau adenomyosis: Endometritis didefinisikan oleh Dorland's
Medical Dictionary, 27. Edition sebagai peradangan pada endometrium
(lapisan yang paling dalam dari rahim).
i. Polip rahim, mirip dengan polip serviks, tetapi bedanya polip rahim
tumbuh didalam rongga rahim
j. Fibroid Tumors: adalah massa yang solid yang terbuat dari serabut
jaringan. Fibroid Tumors jarang ganas. Gejala fibroid Tumors bervariasi
antara perempuan, dengan beberapa perempuan tidak pernah mengalami
semua gejala sama sekali. Perempuan yang dapat menunggu sampai mati
haid akan melihat fibroids mereka bersembunyi dan hilang setelah tubuh
mereka berhenti memproduksi estrogen.
k. Penyakit peradangan pelvis (PID, pelvic inflammatory disease) akut
paling banyak disebabkan oleh infeksi yang naik (ascending) dari vagina
atau serviks, yang merupakan peradangan pada traktus genitalia bagian
atas. Hal ini dapat menimbulkan kombinasi dari salpingitis, endometriosis,
ooforitis, peritonitis pelvis, dan pembentukan abses tubo-ovarian.
3. PENANGANAN

Perdarahan yang abnormal yang terjadi diluar siklus haid merupakan suatu
keadaaan yang

membahayakan. Dimana pada saat wanita mengalami

perdarahan diluar siklus menstruasinya, terlebih lagi apabila wanita tersebut


mengalami perdarahaa setelah melakukan hubungan seksual (post coitus
bleeding) dicurigai perdarahan ini merupakan suatu gejala keganasan. Untuk
mengantisipasi hal tersebut perlu dilakukan pemeriksaan secara didi untuk
mengetahui penyebabnya. Untuk mengatasi perdarahan harus diketahui
penyebab pasti dari perdarahan tersebut. Semakin dini dilakukan pemeriksaan,
semakin dini pula terapi yang akan didapatkan, sehingga kemungkinan untuk
teratasi akan lebih besar. Selain itu juga harus diketahui dimana lokasi
perdarahan serta penyebab pastinya. maka dilakukan pemeriksaan penunjang
yaitu USG. Dengan melakukan pemeriksaan USG maka dapat diketahui secara
lebih pasti.
Hal yang paling penting dilakukan untuk menghindari masalah-masalah
tersebut yaitu dengan melakukan pemeriksaan Pap Smear secara teratur untuk
mendeteksi secara dini kelainan-kelainan yang terjadi pada organ reproduksi.
Semua wanita yang sudah pernah melakukan hubungan seksual dianjurkan
untuk melakukan tes ini secara rutin, minimal setahun sekali. Pap smear
dilakukan sebagai pencegahan supaya bisa mendeteksi kelainan lebih dini,
sehingga terapinya lebih ringan. Kalau stadiumnya sudah tinggi, maka
penanganan yang dilakukan juga lebih sulit walaupun dengan melakukan
pengangkatan rahim sekalipun belum tentu dapat menjadi solusi yang tepat,
karena sel kanker sudah kemana-mana. Jika terdeteksi ada masalah, pap smear
bisa dilakukan lebih rutin.
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. PENGKAJIAN
a. Identitas pasien
Nama, usia, alamat, jenis kelamin, status perkawinan, pekerjaan, jumlah
anak, agama, dan pendidikan terakhir.
b. Keluhan utama: Klien biasanya mengeluh mengalami perdarahan post
coitus dimana ibu tidak sedang dalam siklus haid. Kadang disertai dengan
nyeri tekan pada daerah sympisis.
c. Riwayat penyakit sekarang

Pasien datang dengan perdarahan pasca coitus. Perlu ditanyakan pada


pasien atau keluarga tentang tindakan yang dilakukan untuk mengurangi
gejala dan hal yang dapat memperberat, misalnya keterlambatan keluarga
untuk memberi perawatan atau membawa ke Rumah Sakit dengan segera,
serta kurangnya pengetahuan keluarga.
d. Riwayat penyakit terdahulu.
Perlu ditanyakan pada pasien dan keluarga, apakah pasien pernah
mengalami hal yang demikian dan perlu ditanyakan juga apakah pasien
pernah menderita penyakit infeksi. Data yang perlu dikaji adalah : Riwayat
abortus, infeksi pasca abortus, infeksi masa nifas, riwayat operasi
kandungan, serta adanya tumor
e. Riwayat penyakit keluarga
Perlu ditanyakan apakah dalam keluarga ada yang menderita penyakit
seperti ini atau penyakit menular lain.
f. Riwayat psikososial
Dalam pemeliharaan kesehatan dikaji tentang pemeliharaan gizi di rumah
dan bagaimana pengetahuan keluarga tentang penyakit.
g. Pola Kesehatan Fungsional :
1) Aktivitas/Istirahat
Gejala : Kelemahan/keletihan, anemia, Perubahan pada pola istirahat
dan kebiasaan tidur pada malam hari, adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas, keringat malam.
Pekerjaan/profesi dengan pemajanan karsinogen lingkungan, tingkat
stress tinggi.
2) Integritas Ego
Gejala : faktor stress, merokok, minum alkohol, menunda mencari
pengobatan, keyakinan religius/spiritual, masalah tentang lesi cacat,
pembedahan, menyangkal diagnosis, perasaan putus asa.
3) Eliminasi
Gejala : Perubahan pada pola devekasi, perubahan eliminasi urinarius
misalnya : nyeri.
4) Makanan dan Minuman
Gejala : Kebiasaan diet buruk (ex : rendah serat, tinggi lemak, aditif,
bahan pengawet, rasa).
5) Neurosensori
Gejala : pusing, sinkope
6) Nyeri/Kenyamanan

Gejala : adanya nyeri, derajat bervariasi misalnya : ketidaknyamanan


ringan sampai nyeri hebat (dihubungkan dengan proses penyakit)
7) Pernafasan
Gejala : Merokok, Pemajanan abses
8) Keamanan
Gejala : Pemajanan pada zat kimia toksik, karsinogen
Tanda : Demam, ruam kulit, ulserasi
9) Seksualitas
Gejala : Perubahan pola respon seksual, perdarahan sehabis
senggama, Nullgravida lebih besar dari usia 30 tahun multigravida
pasangan seks multiple, aktivitas seksual dini.
10) Interaksi sosial
Gejala : Ketidak nyamanan/kelemahan sistem pendukung, Riwayat
perkawinan (berkenaan dengan kepuasan), dukungan, bantuan,
masalah tentang fungsi/tanggung jawab peran.
11) Penyuluhan
Gejala : Penyakit primer, riwayat pengobatan sebelumnya (Doenges,
2000).
h. Data subjektif berdasarkan kasus:
1) Pasien mengatakan mengalami perdarahan di luar siklus haid dan post
coital bleeding.
i. Pemeriksaan Fisik
1) Konjungtiva : Anemis
2) Wajah
: Pucat
3) Abdomen
: Distensi abdomen
4) Vagina
: Keputihan berbau,warna merah,perdarahan merah
tua,berbau,dan kental
5) Serviks : Ada nodul
j. Pemeriksaan Penunjang
1) Laboratorium
2) Hb menurun, leukosit meningkat,trombosit meningkat
3) Pemeriksaan diagnostic

2. ANALISA DATA
No Data Fokus
1
DS : Klien

Etiologi
Diskontinuitas jaringan

Masalah Keperawatan
Nyeri Akut

mengeluh
nyeri yang
menjalar ke

Infiltrasi leukosit

Infiltrasi

ekstremitas

yg telah mati

mediator

di serviks

inflamasi

tekanan local

perubahan

di daerah serviks

keseimbangan

bawah
DO : -

asam-basa

Merangsang reseptor nyeri


Nyeri berlangsung lama
Menjalar ke ektremitas bawah dan lumbal

DS : Klien

Nyeri Kronis
Saat koitus

PK Perdarahan

mengeluh

terjadi gesekan penis

adanya post

pd serviks

coital bleeding
disertai

Pecahnya PD pd serviks

perdarahan di

Perdarahan post koitus

luar siklus haid.


DO : -

PK Perdarahan

3. DIAGNOSA KEPERAWATAN
a. Nyeri Kronis berhubungan dengan diskontinuitas jaringan ditandai dengan
keluhan nyeri
b. PK Perdarahan
4. RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN
a. Nyeri Akut berhubungan dengan diskontinuitas jaringan ditandai dengan
keluhan nyeri
Tujuan dan Kriteria Hasil :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam diharapkan nyeri
pasien dapat terkontrol, dengan kriteria hasil:
NOC : Pain Control
1) Pasien mengetahui panjang nyeri yang dirasakan (skala 5)
2) Pasien menggunakan analgetik untuk mengurangi nyeri (skala 5)
3) Pasien mengatakan nyeri sudah terkontrol dengan teknik non
farmakologis (skala 5)
NOC : Pain Level
1) TD normal : 100-120 / 60-80 mmHg
2) RR normal : 16 20 x/menit
3) HR normal : 60 -100x /menit
Intervensi
NIC : Pain Management
1) Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi
2) Gunakan teknik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman
nyeri pasien
3) Ajarkan prinsip manajemen nyeri
4) Ajarkan tentang teknik non farmakologi
5) Tingkatkan istirahat

NIC : Analgesic Administration


1) Ketahui lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum
memberikan pasien medikasi
2) Lakukan pengecekan terhadap riwayat alergi
3) Pilih analgesic yang sesuai atau kombinasikan analgesic saat di
resepkan anagesik lebih dari
4) Monitor tanda-tanda vital sebelum dan setelah diberikan analgesic
dengan satu kali dosis atau tanda yang tidak biasa dicatat perawat
5) Evaluasi keefektian dari analgesic
b. PK : Perdarahan
Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama 1 x 24 jam, perawat dapat
meminimalkan komplikasi yang terjadi dengan kriteria hasil:
1. Nilai Ht dan Hb berada dalam batas normal
2. Klien tidak mengalami episode perdarahan
3. Tanda-tanda vital berada dalam batas normal
TD: 100-120 / 60-80 mmHg
Nadi: 60 100 x/menit
RR : 16 20 x/mnt
Suhu : 36 - 370C 0,50C
Intervensi
Mandiri:
1)
2)
3)
4)
5)

Kaji pasien untuk menemukan bukti-bukti perdarahan atau hemoragi.


Pantau hasil lab b/d perdarahan
Lindungi pasien terhadap cedera dan terjatuh
Instruksikan pasien untuk membatasi aktivitas, jika diperlukan
Siapkan pasien secara fisik dan psikologis untuk menjalani bentuk
terapi lain jika diperlukan

Kolaborasi :
1) Kolaborasi pemberian transfuse sesuai indikasi

III.

TINJAUAN KASUS
A. PENGKAJIAN
Rumah Sakit
Ruangan
Tgl MRS
Tgl Pengkajian
Dignosa Medis
No. Register

: RSD dr Soebandi Jember


: Ruang Bersalin
: 19 Oktober 2016
: 19 Oktober 2016
: Postcoital Bleeding
: 87685

1. Biodata
Nama
: Ny. FH
Umur
: 20 tahun
Suku
: Madura
Pendidikan : MI
Pekerjaan
: IRT
Agama
: Islam
Alamat
: Karangpring Sukorambi
2. Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri dan terjadi perdarahan pada daerah kemaluannya.
3. Riwayat Penyakit Sekarang
Keluarga klien mengatakan perdarahan terjadi setelah klien dipaksa
melakukan hubungan suami istri dengan tetangganya pada hari selasa (18
Oktober 2016) kemarin. Klien telah dibawa kepuskesmas dan sekarang
dirujuk Ke RSD dr Soebandi karena masih keluar perdarahan.
4. Riwayat Penyakit Dahulu
Klien mengatakan sebelumnya belum pernah mengalami perdarahan,
mentruasi normal setiap bulan. Klien tidak mengalami penyakit seperti
hipertensi, diabetes militus, jantung, asma dan lain-lain
5. Riwayat Penyakit Keluarga
Klien mengatakan keluarganya tidak ada yang memiliki penyakit hipertensi,
diabetes militus, jantung dan asma.
6. Riwayat Psikososial
Keluarga klien mengatakan klien cenderung pendiam dan tidak mau
berkomunikasi dengan lingkungan sekitar.
7. Pola-pola Fungsi Kesehatan
a. Pola Persepsi dan Tata Laksana Kesehatan
Klien kurang mengerti tentang tata laksana kesehatan, seperti menjaga
kesehatan, kebersihan yang kurang.
b. Pola Nutrisi dan Metabolisme
Klien tidak mengalami gangguan pemenuhan nutrisi, sebelum masuk
rumah sakit klien makan sehari 2-3 kali per hari. Saat dirumah sakit klien
menghabiskan memakan makanan yang disediakan oleh rumah sakit.
c. Pola Aktivitas
Sebelum masuk rumah sakit klien beraktivitas sebagai ibu rumah tangga
dan mengurus anaknya yang masih kecil. Selama dirumah sakit klien
kebanyaan tidur dan sedikit beraktifitas, klien mengatakan nyeri pada
kemaluannya dan keluar darah bila dibuat beraktifitas, seperti duduk dan
berjalan.
d. Pola Eliminasi

Sebelum masuk rumah saikit klien BAB 1 kali dalam sehari di pagi hari,
BAK 4-5 kali dalam sehari. Saat dirumah sakit klien sudah BAK di pispot
dan BAB masih belum
e. Pola Persepsi Sensoris
Saat dapat berkomunikasi dengan lancar dengan keluarganya, namun
klien mengalami kesulitan berkomunikasi dengan tenaga kesehatan, klien
cenderung diam dan tidak menjawab pertanyaan dari petugas kesehatan.
f. Pola Konsep Diri
Selama dirumah klien sering menutup diri, diam dan tidak bersosialisasi
dengan lingkungan sekitarnya. Saat dirumah sakit klien enggan berbicara
dengan tenaga kesehatan yang ada dan hanya berbicara dengan ibunya
saja.
g. Pola Seksual
Klien baru saja ditinggalkan oleh suaminya, sehingga selama beberapa
bulan ini tidak melakukan hubungan seksual.
h. Pola Penanggulangan Stres
Klien tinggal dengan ayah dan ibunya serta adiknya, bila ada masalah
klien meminta bantuan ke salah satu anggota keluarganya. Klien paling
dekat dengan ibunya.
8. Riwayat Pengkajian Obstetri
a. Riwayat Penggunaan Kontrasepsi
Sebelumnya klien tidak memakai kontrasepsi
b. Riwayat Marital
Klien menikah usia 18 tahun, 1 kali dan sekarang berpisah dengan
suaminya.
c. Riwayat Menstruasi
Menstruasi
: 12 tahun
Lamanya
: 5-6 hari
Siklus
: normal, 28-30 hari
Disminor
: tidak
Keputihan
: tidak
Haid Terakhir
: awal bulan oktober 2016
d. Riwayat Kehamilan terdahulu
I : Perempuan, 2200 gr, Operasi SC, usia 14 bulan.
9. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum
Keadaan Cukup, Kesadaran komposmentis, GCS 456, grimace (+), skala
nyeri 4
b. Tanda-tanda Vital
TD : 110/70 mmHg
Nadi : 80 x/menit
TB : 140 cm
Suhu : 36,6 oC
RR : 20 x/menit
BB : 39 Kg
c. Kepala dan Leher
Rambut: penyebaran rambut merata, tidak ada kelainan, nyeri (-), rambut
sedikit kotor. Mata: konjungtiva tidak anemis, sklera tidak icterik, tidak

ada edema palpebra, penglihatan normal. Hidung: hidung bersih, tidak ada
sekret. Telinga: pendengaran normal, tidak ada abses, tidak ada serumen.
Mulut: gigi atas patah, mukosa kering. Leher: pembesaran kelenjar tiroid
(-), distensi vena jugularis (-).
d. Thorax/Dada
Bentuk simetris, ekspansi dada maksimal, tidak ada retraksi otot bantu
nafas, nyeri tekan (-), payudara simetris tidak ada kelainan, perkusi pekak,
suara nafas vesikuler, bunyi jantung S1 S2 tunggal.
e. Abdomen
Perut datar, bising usus (+), nyeri perut (-), uterus keras, perkusi tympani.
f. Genetalia dan Anus
Tidak ada varises, tidak ada hemoroid, ada perdarah 150 cc,
pemeriksaan VT terdapat robekan dinding vagina sebelah kanan 4 cm ,
nyeri (+).
g. Ekstremitas
Tonus otot kuat, CRT < 2 detik, turgor kulit < 2 detik, akral hangat. Kuku
tangan dan kaki panjang dan kotor.
10. Pemeriksaan Diagnostik
Belum dilakukan
B. ANALISA DATA
Tgl/Ja
m
19/10
2016
Jam
08.30

Data Penunjang

Masalah

Kemungkinan Penyebab

DS: Klien mengatakan nyeri dan


keluar darah pada
kemaluannya. Skala nyeri 4
DO: Keadaan umum cukup,
kesadaran komposmentis,
GCS 456, Grimace (+),
perdarahan 150 cc

Nyeri Akut

Postcoital
Diskontinuitas jaringan
Pelepasan senyawa kimia
bradikinin dan
prostaglanding
Stimulasi saraf perifer
Nyeri Akut

19/10
2016
Jam
08.30

DS: Klien mengatakan nyeri dan


keluar darah pada
kemaluannya.
DO: TD: 110/70 mmHg, Nadi:
80 x/menit, RR:20 x/menit
S: 36,6 oC. Perdarahan (+)
150 cc. VT terdapat

Resiko
Kekurangan
Volume Cairan

Postcoital
Kerusakan integritas
jaringan
Perdarahan

robekan dinding vagina


sebelah kanan 4 cm.

19/10
2016
Jam
08.30

19/10
2016
Jam
08.30

Risiko Kekurangan
Volume cairan

DS: Klien mengatakan nyeri dan


keluar darah pada
kemaluannya.
DO: TD: 110/70 mmHg, Nadi:
80 x/menit, RR:20 x/menit
S: 36,6 oC. Perdarahan (+)
150 cc. VT terdapat
robekan dinding vagina
sebelah kanan 4 cm.

Risiko Infeksi

DS: Klien kurang mengerti


tentang tata laksana
kesehatan.
DO: Rambut sedikit kotor, kuku
tangan dan kaki panjang
dan kotor.

Defisit
Perawatan Diri

Postcoital
Diskontinuitas jaringan
Perdarahan
Port de exit - Port de entry
Risiko Infeksi

Kurangnya sumber
informasi
Support keluarga/
lingkungan kurang
Kurang pengetahuan tata
laksana kesehatan

19/10
2016
Jam
08.30

DS:Keluarga klien mengatakan


selama dirumah klien
sering menutup diri, diam
dan tidak bersosialisasi
dengan lingkungan
sekitarnya.
DO: Saat dirumah sakit klien
enggan berbicara dengan
tenaga kesehatan yang ada
dan hanya berbicara dengan
ibunya saja.

Ketidakefektifan
Koping

Defisit perawatan diri


Support keluarga/
lingkungan kurang
Perilaku klien pendiam/
tertutup
Ketidakefektifan koping

C. PRIORITAS MASALAH
1. Nyeri akut yang berhubungan dengan agen cidera fisik (diskontinuitas
jaringan)
2. Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan
volume cairan aktif (perdarahan)

3. Risiko infeksi yang berhubungan dengan terbukanya pertahan tubuh primer


(diskontinuitas jaringan)
4. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan nyeri dan penurunan motivasi
5. Ketidakefektifan koping yang berhubungan dengan dukungan sosial yang
tidak adekuat yang diciptakan oleh karakteristik hubungan.
D. INTERVENSI (19/10/2016 Jam 09.00)
1. Nyeri akut yang berhubungan dengan agen cidera fisik (diskontinuitas
jaringan)
a. Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam diharapkan nyeri
klien dapat terkontrol dengan kriteria hasil:
1) Mampu mengenali nyeri.
2) Mampu mengontrol nyeri.
3) Melaporkan bahwa nyeri berkurang
menejemen nyeri.
b. Rencana Tindakan
1) Kaji secara komphrehensif

tentang

dengan

nyeri,

menggunakan

meliputi:

lokasi,

karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas, intensitas/beratnya nyeri, dan


faktor-faktor pencetus
2) observasi isyarat-isyarat

verbal

dan

non

verbal

dari

ketidaknyamanan, meliputi ekspresi wajah, pola tidur, nasfu makan,


aktitas dan hubungan sosial.
3) Kolaborasi pemberian analgetik sesuai dengan anjuran. Pemberian
analgetik harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut : prinsip
pemberian obat 6 benar (benar nama, benar obat, benar dosis, benar
cara, benar waktu pemberian, dan benar dokumentasi)
4) Gunakan komunikiasi terapeutik agar pasien dapat mengekspresikan
nyeri
5) Kaji pengalaman masa lalu individu tentang nyeri
6) Evaluasi tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang
telah digunakan
7) Berikan dukungan terhadap pasien dan keluarga
8) Berikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama
terjadi, dan tindakan pencegahan
9) Ajarkan penggunaan teknik non-farmakologi (seperti: relaksasi,
guided imagery, terapi musik, dan distraksi)
10) Modifikasi tindakan mengontrol nyeri berdasarkan respon pasien
11) Anjurkan klien untuk meningkatkan tidur/istirahat
12) Anjurkan klien untuk melaporkan kepada tenaga kesehatan jika
tindakan tidak berhasil atau terjadi keluhan lain

2. Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan


volume cairan aktif (perdarahan)
a. Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 1x24 jam, diharapkan
kebutuhan cairan pasien dapat terpenuhi dengan kriteria hasil sebagai
berikut:
1) Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan BB, BJ urine
normal.
2) Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal
3) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi, turgor < 2 detik, membran mukosa
lembab, tidak ada rasa haus yang berlebihan.
b. Rencana Tindakan
1) Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
2) Monitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat dan tekanan
3)
4)
5)
6)
7)
8)

darah
Monitor vital sign
Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian
Kolaborasikan pemberian cairan intra vena
Hentikan perdarahan yang yang terjadi
Kolaborasi dalam pemberian obat penghenti perdarahan.
Kolaborasi kemungkinan persiapan tranfusi
3. Risiko infeksi yang berhubungan dengan terbukanya pertahan tubuh primer
(diskontinuitas jaringan)
a. Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan asuhan keperawatann selama 1x24 jam, diharapkan
pasien dapat menjelaskan kembali cara mengkontrol infeksi dengan
kriteria hasil sebagai berikut:
1) Mampu menerangkan cara-cara penyebaran infeksi
2) Mampu menerangkan factor-faktor yang berkontribusi dengan
penyebaran
3) Mampu menjelaskan tanda-tanda dan gejala
4) Mampu menjelaskan aktivitas yang dapat meningkatkan resistensi
terhadap infeksi
b. Rencana Tindakan
1) Bersikan lingkungan setelah digunakan oleh pasien
2) Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan
3) Batasi jumlah pengunjung
4) Ajarkan cuci tangan untuk menjaga kesehatan individu
5) Anjurkan pasien untuk cuci tangan dengan tepat
6) Gunakan sabun antimikrobial untuk cuci tangan
7) Anjurkan pengunjung untuk mencuci tangan sebelum dan setelah
meninggalkan ruangan pasien
8) Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
9) Gunakan universal precautions

10) Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV


11) Lakukan teknik perawatan luka dengan memperhatikan prinsip septik
dan aseptik
12) Anjurkan istirahat
13) Kolaborasi pemberian terapi antibiotik dengan memperhatikan prinsip
pemberian obat 6 benar (benar obat, benar nama, benar dosis, benar
waktu, benar cara pemberian, dan benar dokumentasi)
14) Ajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda, gejala dari infeksi
dan cara pencegahan infeksi
4. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan nyeri dan penurunan
motivasi
a. Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan asuhan keperawatann selama 1x24 jam, diharapkan self
care pasien dapat terpenuhi kriteria hasil sebagai berikut:
1) Mampu melakukan tugas fisik yang paling mendasar dan aktivitas
perawatan pribadi
2) Mampu mempertahankan kebersihan pribadi
3) Memakai pakaian yang rapi dan bersih
b. Rencana Tindakan
1) Pantau tingkat kekuatan dan toleransi aktivitas
2) Pantau peningkatan dan penurunan kemampuan

melakukan

perawatan diri
3) Pertimbangkan budaya klien ketika mempromosikan aktivitas
perawatan diri
4) Pertimbangkan

usia

pasien

ketika

mempromosikan

aktivitas

perawatan diri
5) Libatkan keluarga dalam membantu klien dalam berpakaian
6) Pertahankan privasi klien
7) Beri pujian atas usaha pasien dalam merawat diri.
5. Ketidakefektifan koping yang berhubungan dengan dukungan sosial yang
tidak adekuat yang diciptakan oleh karakteristik hubungan.
a. Tujuan dan Kriteria Hasil
Setelah dilakukan asuhan keperawatann selama 1x24 jam, diharapkan
koping klien efektif kriteria hasil sebagai berikut:
1) Klien mengungkapkan secara verbal tentang koping yang efektif
2) Klien mengatakan telah menerima tentang kondisi dirinya
3) Mampu mengidentifikasi strategi tentang koping
4) Support sosial yang mendukung
b. Rencana Tindakan
1) Menginformasikan kepada klien alternatif atau solusi lain penanganan
masalah.
2) Memfasilitasi klien untuk membuat keputusan

3) Bantu klien mengedentifikasi keuntungan dan kerugian dari keadaan


4) Bantu pasien identifikasi strategi positif untuk mengatur pola nilai
yang dimiliki
5) Gunakan pendekatan tenang dan menyakinkan.
6) Hindari pengambilan keputusan pada saat pasien berada dalam stress
berat
7) Berikan informasi aktual yang terkait dengan diagnosis, terapi dan
prognosis

E. IMPLEMENTASI (19/10/2016 Jam 10.00)


1. Nyeri akut yang berhubungan dengan agen cidera fisik (diskontinuitas
jaringan)
Tindakan Keperawatan:
a. Berkenalan dengan klien dengan komunikiasi terapeutik agar pasien dapat
mengekspresikan kondisinya.
Respon : Klien mengatakan namanya Ny. FH
b. Mengkaji nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas/beratnya nyeri, dan faktor-faktor pencetus.
Respon : Klien mengatakan kemaluannya masih terasa nyeri, nyerinya
terus menerus dan bertamban nyeri bila dibuat bergerak.
c. Mengobservasi isyarat-isyarat
verbal dan non

verbal

dari

ketidaknyamanan klien.
Respon : ekspresi wajah grimace (+) saat mobilisasi.
d. Memberikan informasi tentang nyeri, seperti: penyebab, berapa lama
terjadi, dan tindakan pencegahan
Respon : Keluarga dan klien memperhatikan.
e. Mengajarkan penggunaan teknik relaksasi
Respon: Keluarga dan klien memperhatikan.
f. Memberikan pasien posisi yang nyaman.
Respon : Klien mengatakan nyerinya sedikit berkurang
g. Menganjurkan klien untuk meningkatkan tidur/istirahat.Mengevaluasi
tentang keefektifan dari tindakan mengontrol nyeri yang telah digunakan
Respon : Klien dapat mengikuti intruksi menarik nafas dalam.
2. Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan
volume cairan aktif (perdarahan)
Tindakan Keperawatan:
a. Mempertahankan catatan intake dan output yang akurat
b. Memonitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat dan tekanan
darah)
c. Monitor vital sign
TD 100/70 mmHg, Nadi 80 x/menit, RR 20 x/menit, Suhu 36,8 oC.
d. Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian
Respon: Klien menghabiskan porsi makan yang disediakan rumah sakit
e. Kolaborasikan pemberian cairan intra vena
Respon : Klien mengatakan nyeri saat dipasang infus.
3. Risiko infeksi yang berhubungan dengan terbukanya pertahan tubuh primer
(diskontinuitas jaringan)
Tindakan Keperawatan:
a. Membersikan lingkungan setelah digunakan oleh pasien
b. Mengganti peralatan pasien setiap selesai tindakan
c. Membatasi jumlah pengunjung
d. Mengajarkan cuci tangan untuk menjaga kesehatan individu

Respon : Klien dan keluarga mempraktekkan cara cuci tangan dan masih
bingung.
e. Mengajarkan pasien dan keluarga tentang tanda-tanda, gejala dari infeksi
dan cara pencegahan infeksi
Respon : Keluarga dan klien memperhatikan.
f. Menganjurkan pasien untuk cuci tangan dengan tepat dan menggunakan
g.
h.
i.
j.
k.

sabun antimikrobial untuk cuci tangan.


Mencuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
Menggunakan universal precautions
Melakukan vulva higene untuk menjaga kebersihan luka pada genetalia.
Melakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV
Menganjurkan klien untuk istirahat

4. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan nyeri dan penurunan


motivasi
Tindakan Keperawatan:
a. Memantau tingkat kekuatan dan toleransi aktivitas
Respon : Klien mengatakan nyeri pada kemaluannya.
b. Memantau peningkatan dan penurunan kemampuan melakukan perawatan
diri
Respon : Klien terlihat kurang bersih
c. Mempertimbangkan budaya klien ketika mempromosikan aktivitas
perawatan diri
d. Mempertimbangkan

usia

pasien

ketika

mempromosikan

aktivitas

perawatan diri
e. Melibatkan keluarga dalam membantu klien dalam mengganti pakaian dan
celana dalam
Respon : Klien merasa lebih nyaman
f. Mempertahankan privasi klien
g. Memberi pujian atas usaha pasien dalam merawat diri.
Respon : keluarga klien tersenyum dan mengucapkan terima kasih.
5. Ketidakefektifan koping yang berhubungan dengan dukungan sosial yang
tidak adekuat yang diciptakan oleh karakteristik hubungan.
Tindakan Keperawatan:
a. Menggunakan pendekatan tenang dan menyakinkan.
Respon : Klien dan keluarga dapat diajak berkomunikasi.
b. Menginformasikan kepada klien alternatif atau solusi lain penanganan
masalah.
Respon : Klien bingung dengan kondisinya saat ini.
c. Memfasilitasi klien untuk membuat keputusan
Respon : Klien dapat berkomunikasi dengan baik dengan ibunya.
d. Membantu klien mengedentifikasi keuntungan dan kerugian dari keadaan
Respon : Keluarga klien mengerti tentang baik dan buruknya kondisi klien
saat ini

e. Membantu pasien identifikasi strategi positif untuk mengatur pola nilai


yang dimiliki
Respon : Klien selalu didampingi ibunya dalam pemenuhan kebutuhannya
f. Menghindari pengambilan keputusan pada saat pasien berada dalam stress
berat.
g. Memberikan informasi aktual yang terkait dengan diagnosis, terapi dan
prognosis.
Respon : Keluarga dan klien mendengarkan dan memperhatikan petugas
kesehatan

F. EVALUASI (19/10/2016 Jam 12.00)


1. Nyeri akut yang berhubungan dengan agen cidera fisik (diskontinuitas
jaringan)
S: Klien mengatakan kemaluannya masih terasa nyeri, durasi terus menerus,
bertambah berat bila dibuat aktivitas, skala nyeri 3.
O: Kaeadaan umum cukup, Kesadaran komposmentis, GCS 456, Grimace
(+), Nyeri pada bagian genetalia
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Lanjutkan Intervensi
1. Kaji nyeri, meliputi: lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
dan intensitas /beratnya nyeri.
2. Observasi isyarat-isyarat
verbal

dan

non

verbal

dari

ketidaknyamanan klien.
3. Berikan pasien posisi yang nyaman.
4. Anjurkan klien untuk meningkatkan tidur/istirahat.
5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian analgesik untuk
mengurangi nyeri.
2. Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan
volume cairan aktif (perdarahan)
S: Klien mengatakan kemaluannya masih keluar darah
O: Tanda-tanda vital TD: 100/70 mmHg, Nadi: 80 x/menit, RR : 20 x/menit,
Suhu : 36,8 oC. Perdarahan masih aktif 30 cc di pembalut. Pemeriksaan
dalam ada luka bagian dinding vagina sebelah kanan 4 cm. Akral
hangat, CRT < 2 detik, turgor kulir < 2detik, mukosa lembab. Infus RL
500 cc 20 tpm.
A: Masalah Belum Terjadi

P: Lanjutkan Intervensi
1. Pertahankan catatan intake dan output yang akurat
2. Memonitor status hidrasi (kelembaban membran mukosa, nadi adekuat dan tekanan
3.
4.
5.
6.
7.
8.

darah
Monitor vital sign
Monitor masukan makanan/cairan dan hitung intake kalori harian
Hentikan perdarahan yang yang terjadi dengan heacting daerah yang terluka.
Kolaborasikan pemberian cairan intra vena.
Kolaborasi dalam pemberian obat penghenti perdarahan.
Kolaborasi kemungkinan persiapan tranfusi
3. Risiko infeksi yang berhubungan dengan terbukanya pertahan tubuh primer
(diskontinuitas jaringan)
S: Klien mengatakan mengerti tentang cara mencuci tangan yang benar.
O: Tanda-tanda vital TD: 100/70 mmHg, Nadi: 80 x/menit, RR : 20 x/menit,
Suhu : 36,8 oC. Perdarahan masih aktif 30 cc di pembalut. Pemeriksaan
dalam ada luka bagian dinding vagina sebelah kanan 4 cm.
A: Masalah Belum Terjadi
P: Lanjutkan Intervensi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Ganti peralatan pasien setiap selesai tindakan


Batasi jumlah pengunjung
Anjurkan pasien untuk cuci tangan dengan tepat
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan pasien
Gunakan universal precautions
Lakukan perawatan aseptic pada semua jalur IV
Lakukan teknik perawatan luka dengan memperhatikan prinsip septik

dan aseptik
8. Kolaborasi pemberian terapi antibiotik dengan memperhatikan prinsip
pemberian obat 6 benar (benar obat, benar nama, benar dosis, benar
waktu, benar cara pemberian, dan benar dokumentasi).
4. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan nyeri dan penurunan
motivasi
S: Klien mengatakan nyaman setelah menggunakan pakaian yang bersih
O: Keadaan umum cukup, Klien tampak segar, Baju dan celana dalam
diganti.
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Lanjutkan Intervensi
1. Pantau tingkat kekuatan dan toleransi aktivitas

2. Pantau peningkatan dan penurunan kemampuan melakukan perawatan


diri
3. Libatkan keluarga dalam membantu klien dalam berpakaian
4. Pertahankan privasi klien
5. Beri pujian atas usaha pasien dalam merawat diri.
5. Ketidakefektifan koping yang berhubungan dengan dukungan sosial yang
tidak adekuat yang diciptakan oleh karakteristik hubungan.
S: Klien mengatakan keluarganya selalu membantunya saat dia mempunyai
masalah.
O: Klien mendapat support sosial (didampingi oleh ayah dan ibunya)
A: Masalah Teratasi Sebagian
P: Lanjutkan Intervensi
1. Memfasilitasi klien untuk membuat keputusan
2. Bantu klien mengedentifikasi keuntungan dan kerugian dari keadaan
3. Bantu pasien identifikasi strategi positif untuk mengatur pola nilai
yang dimiliki
4. Berikan informasi aktual yang terkait dengan diagnosis, terapi dan
prognosis.
IV.

PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil penngkajian yang dilakukan meliputi anamnesa dan pemeriksaan
fisik diperoleh hasil bahwa klien didiagnosis mengalami kasus post coital bleeding.
Hal ini membutuhkan penanganan secara khusus dan harus dilakukan pemantauan
tentang kondisi luka dan jumlah perdarahan yang keluar. Post coital bleeding
merupakan kasus yang harus diperhatikan karena perdarahan yang terjadi diluar siklus
mentruasi merupakan tanda bahaya kegananasan atau masalah kandungan lainnya.
Klien harus menjaga kondisi tubuhnya dengan baik dengan cara memperhatikan
kebersihan luka, mengontrol jumlah perdarahannya, mengetahui perubahan pada
kondisi tubuhnya dan melakukan penanganan awal secara cepat agar perdarahannya
dapat terkontrol dan dapat teratasi sehingga tidak muncul komplikasi yang lain.
Masalah keperawatan yang terjadi pada kasus post coital bliding yang dialami Ny. FH
diantaranya adalah nyeri yang berhubungan dengan diskontinuitas jaringan akibat
trauma post coitus, risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan
kehilangan volume cairan aktif perdarahan, risiko infeksi yang berhubungan dengan
terbukanya pertahan tubuh primer, defisit perawatan diri yang berhubungan dengan

nyeri dan kurangnya motifasi dan ketidakefektifan koping yang berhubungan dengan
dukungan sosial yang tidak efektif.
Klien mengalami nyeri akibat trauma yang menyebabkan diskontinuitas jaringan pada
vagina sebelah kanan yang memgalami robekan 4 cm. Hal ini terjadi karenan
pemaksaan saat coitus (pemerkosaan) yang mengakibatkan ruptus pada jaringan. Pada
kasus ini nyeri klien dapat teratasi sebagian dengan menggunakan menejemen nyeri
yang dibuktikan dengan klien mengerti tentang proses terjadinya nyeri yang
dialaminya, klien mengungkapkan nyerinya dapat berkurang setelah melakukan terapi
relaksasi nafas dalam, klien dapat mempraktekkan relaksasi nafas dalam untuk
mengurangi nyeri. Untuk maslah keperawatan resiko kekurangan volume cairan pada
klien karena terjadi perdarahan aktif dilakukan tindakan keperawatan seperti observasi
vital sign, melakukan pemberian cairan parenteral RL 20 tpm, memonitoring intake
input dan output klien, kolaborasi dalam melakukan heacting pada jaringan yang
ruptur dengan dokter. Perdarahan yang dialami klien masih terus terjadi namun
jumlah perdarahnya sudah berkurang dari sebelumnya. Risiko kekurangan volume
cairan tidak terjadi pada klien Ny FH yang dibuktikan dengan vital sign dalam batas
normal, turgor kulit baik, CRT < 2detik, akral hangat, mukosa lembab dan perdarahan
berkurang.
Masalah keperawatan resiko infeksi yang berhubungan dengan terbukanya pertahan
tubuh primer dilakukan tindakan keperawatan monitoring vital sign, melakukan vulva
hiegine, memberi penyuluhan tentang proses terjadinya infeksi dan personal hiegine,
kolaborasi dengan tim medis dalam pemberian terapi antibiotik dalam kasus ini
menggunakan cefotaxim 3 x 1 g. Untuk masalah keperawatan defisit perawatan diri
dan ketidakefektifan koping klien ini terjadi akibat adanya rasa tidak nyaman pada
dirinya dan kurannya motifasi dalam melakukan kebersihan diri. Kuranngnya support
sosial dari keluarga dan lingkungan sekitar juga mempengaruhi keadaan dari klien.
Asuhan keperawatan yang diberikan dalam kasus ini adalah memberikan motivasi dan
informasi tentang pentingnya kebersihan kemudian melibatkan keluarga klien dalam
setiap kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan klien dan keluarganya agar
terhindar dari penyakit dan proses penyembuhan penyakit menjadi lebih cepat.
V.

PENUTUP
A. Kesimpulan

1. Pada pengkajian didapatkan data fokus keluhan utama ibu adalah nyeri nyeri
dan keluar darah pada kemaluannya, skala nyeri 4. Keadaan umum cukup,
kesadaran komposmentis, GCS 456, Grimace (+), perdarahan 150 cc.
Tekanan Darah : 110/70 mmHg, Nadi: 80 x/menit, Respiratori Rate : 20
x/menit S: 36,6 oC. Perdarahan (+) 150 cc. VT terdapat robekan dinding
vagina sebelah kanan 4 cm. Berdasarkan hasil penngkajian yang dilakukan
meliputi anamnesa dan pemeriksaan fisik diperoleh hasil bahwa klien
didiagnosis mengalami kasus post coital bleeding.
2. Diagnosa keperawatan yang dapat diangkat dalam kasus diatas adalah:
a. Nyeri yang berhubungan dengan diskontinuitas jaringan akibat trauma post
coitus
b. Risiko kekurangan volume cairan yang berhubungan dengan kehilangan
volume cairan aktif perdarahan
c. Risiko infeksi yang berhubungan dengan terbukanya pertahan tubuh
primer
d. Defisit perawatan diri yang berhubungan dengan nyeri
e. Kurangnya motifasi dan ketidakefektifan koping yang berhubungan
dengan dukungan sosial yang tidak efektif
3. Rencana tindakan yang akan dilakukan fokus pada menejemen nyeri dan
pemantauan volume cairan karena terjadi perdarahan, dan mencegah terjadinya
syok hipovolemik.
4. Implementasi keperawatan dilakukan sesuai dengan rencana tindakan
keperawatan untuk memenuhi kebutuhan klien dan mengatasi masalah pasien
5. Evaluasi didapatkan hasil dari asuhan keperawatan yang telah dilakukan pada
Ny FH diatas beberapa masalah sudah dapat teratasi sebagian dan masalah
resiko tidak terjadi. Dengan dilakukan tindakan keperawatan yang baik dan
sesuai dengan prosedur, masalah pada klien dapat segera diatasi. Selain
dukungan dari petugas kesehatan terhadap masalah yang dihadapai oleh klien,
support sosial dari orang terdekat seperti orang tua sangatlah dibutuhkan untuk
mempertahankan dan memperkuat koping yang dimiliki klien, sehingga klien
dapat melalui proses adaptasi secara optimal. Pemberian informasi yang
berkaitan dengan personal higene, proses penyembuhan luka dan proses
perjalanan infeksi sangatlah penting, sehingga klien dapat mempertahankan
status kesehatannya dan terjadinya proses penyembuhan luka yang cepat
terjadi.
B. Saran

1. Untuk Klien
Kasus perdarahan yang terjadi setelah post coitus harus di waspadai karena
apabila tidak segera ditangani bisa menyebakan perdarahan yang parah dan
membahayan bagi penderita.
2. Untuk Tenaga Kesehatan
a. Sebagai tenaga kesehatan, harus memberikan penyuluhan kepada
masyarakat khususnya kelompok wanita dan memberikan pengertian
tentang resiko yang akan timbul serta komplikasi akibat perdarahan.
b. Dapat menegakan diagnosa secara dini tentang penyakit perdarahan post
coitus juga merupakan tanda-tanda dari kegananasan dan harus segera
ditangi. Pemberian asuhan keperawatan yang komprehsip dapat
diberikan agar kebutuhan biopsikososial dan spiritual klien dapat
terpenuhi.
3. Untuk Institusi Pendidikan
Sebagai bahan masukan untuk menambah pengetahuan bagi mahasiswa
keperawatan, khususnya tentang asuhan keperawatan pada kasus dengan
postcoital bleeding. Hasil laporan ini diharapkan dapat berguna untuk
menambah meningkatnya mutu pelayanan keperawatan sehingga para
mahasiswa keperawatan dapat memberikan asuhan keperawatan yang
holistik.

DAFTAR PUSTAKA
Bulechec, Gloria M., dkk .2013. Nursing Interventions Classification (NIC) ; Alih Bahasa,
Nurjannah, Intansari, Edisi Keenam. Mosby: Imprint of Elsevier Inc.
Farrer, H. 2001. Perawatan Maternitas. Edisi 2. Jakart: EGC
Guyton. Hall. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 9. Jakarta: EGC
Herdman, T. Helter. 2015. Diagnosis Keperawatan : Definisi & Klasifikasi 2015-2017 ; Alih
Bahasa, Budi Anna Keliat. Jakarta: EGC
http://www.scribd.com/doc/77442630/askep-kanker-servik (akses tanggal 18 Oktober 2016)

Manuaba. 1998. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk
Pendidikan Bidan. Jakarta: EGC.
Mansyoer, A., dkk. 1999. Kapita SeleKta Kedokteran. Jakarta: Media Aeskulapius FKUI
Moorhead, Sue., dkk. 2013. Nursing Outcomes Classification (NOC) ; Alih Bahasa,
Nurjannah, Intansari, Edisi Kelima. Mosby: Imprint of Elsevier Inc.
Prawiroharjo, Sarwono. 2007. Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan
Neonatal. Jakarta: Yayasan Bina
Price, Sylvia A dan Lorraine M. Wilson. (1994). Patofisiologi, Konsep Klinis Proses Proses
Penyakit. Jakarta: Penerbit EGC.
Sarwono, P. 1994. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Balai Penerbit UI