Anda di halaman 1dari 4

RS PKU

MUHAMMADIYAH
BANTUL

PANDUAN PRAKTIK KLINIS


PERDARAHAN SALURAN CERNA ATAS
RS PKU MUHAMMADIYAH BANTUL

1. Definisi

2. Anamnesis

Kehilangan darah dari saluran cerna atas, di mana saja, mulai dari
esofagus sampai dengan duodenum (dengan batas anatomik di
ligamentum Treitz), dengan manifestasi klinis berupa hematemesis,
melena, hematoskezia atau kombinasi.
Tanda dan gejala tersering adalah hematemesis (muntah darah),
muntah berwarna coffee ground dan melena (tinja seperti aspal/tar).
Sekitar 30% pasien dengan perdarahan ulkus datang dengan
hematemesis, 20% dengan melena dan 50% dengan keduanya..
Meskipun demikian, 5% pasien dengan perdarahan ulkus datang
dengan hematoskezia, yang menandakan perdarahan berat, biasa lebih
dari 1.000 mL. Pasien yang datang dengan hematoskezia dan disertai
dengan tanda-tanda gangguan hemodinamik, seperti sinkop, hipotensi
postural, takikardia dan syok harus dicurigai menderita perdarahan
saluran cerna bagian atas.
Tanda dan gejala nonspesifik termasuk nausea, vomitus, nyeri
epigastrik, fenomena vasovagal dan sinkop, serta adanya penyakit
komorbid tersering (misalnya diabetes melitus, penyakit jantung
koroner, stroke, penyakit ginjal kronik dan penyakit arthritis) dan
riwayat penggunaan obat-obatan harus diketahui

3. Pemeriksaan Fisik 1.
2.
3.

Penilaian hemodinamik (keadaan sirkulasi)


Perlu dilakukan evaluasi jumlah perdarahan.
Pemeriksaan fisik lainnya yang penting yaitu mencari stigmata
penyakit hati kronis (ikterus,spider nevi, asites, splenomegali, eritema
palmaris, edema tungkai), massa abdomen, nyeri abdomen, rangsangan
peritoneum, penyakit paru, penyakit jantung, penyakit rematik dll.
4.
Rectal toucher, warna feses ini mempunyai nilai prognostik
5.
Dalam prosedur diagnosis ini penting melihat aspirat dari Naso
Gastric Tube (NGT). Aspirat berwarna putih keruh menandakan
perdarahan tidak aktif, aspirat berwarna merah marun menandakan
perdarahan masif sangat mungkin perdarahan arteri. Seperti halnya
warna feses maka warna aspirat pun dapat memprediksi mortalitas
pasien. Walaupun demikian pada sekitar 30% pasien dengan perdarahan
tukak duodeni ditemukan adanya aspirat yang jernih pada NGT.

4. Kriteria diagnosis
5. Diagnosis Kerja
6. Diagnosis Banding
7. Pemeriksaan

Diagnosis berdasarkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, inspeksi dengan


pemasangan nasogastric tube (NGT), pemeriksaan laboratorium,
pemeriksaan endoskopi, radionuclide scanning, radiografi barium kontras.
Hematemesis , melena
1. Hemoptisis
2. Hematoskezia
1.

8. penunjang
2.

Laboratorium darah lengkap, faal hemostasis, faal hati, faal ginjal,


gula darah, elektrolit, golongan darah, petanda hepatitis B dan C.
Rontgen dada dan elektrokardiografi.

3.

Dalam prosedur diagnosis ini pemeriksaan endoskopi merupakan


gold standard. Tindakan endoskopi selain untuk diagnostik dapat
dipakai pula untuk terapi.

4.

Pada beberapa keadaan dimana pemeriksaan endoskopi tidak dapat


dilakukan, pemeriksaan dengan kontras barium (OMD) dengan

angiografi atau skintigrafimungkin dapat membantu


9. Tata Laksana

Penatalaksanaan Umum:
1. Identifikasi dan antisipasi terhadap adanya gangguan
hemodinamik harus dilaksanakan secara prima di lini terdepan
karena keberhasilannya akan mempengaruhi prognosis.
2. Langkah awal menstabilkan hemodinamik.
a. Pemasangan IV line paling sedikit 2
b. Dianjurkan pemasangan CVP
c. Oksigen sungkup/kanula. Bila ada gangguan A-B perlu
dipasang ETT
d. Mencatat intake output, harus dipasang kateter urine
e. Memonitor tekanan darah, nadi, saturasi oksigen dan
keadaan lainnya sesuai dengan komorbid yang ada.
3. Pemasangan NGT (nasogatric tube)
4. Pemeriksaan laboratorium segera diperlukan pada kasus-kasus yg
membutuhkan transfusi lebih 3 unit pack red cell. Pasien yang
stabil setelah pemeriksaan dianggap memadai, pasien dapat segera
dirawat untuk terapi lanjutan atau persiapan endoskopi.
5. Konsultasi ke dokter spesialis terkait dengan penyebab perdarahan.
Penatalaksanaan sesuai penyebab perdarahan
6. Tirah baring
7. Puasa/Diet hati/lambung
Terapi farmakologi :
1.
Injeksi antagonis reseptor H2 atau penghambat pompa
proton (PPI) : omeprazole 80 mg bolus iv dilanjutkan perinfus 80
mg/jam selama 72 jam dan per oral 20 mg/hari selama 8 minggu.
2.
Sitoprotektor: sukralfat 3-4x1 gram
3.
Antacida
4.
Injeksi vitamin K untuk pasien dengan penyakit hati
kronis
5.
Terhadap pasien yang diduga kuat karena ruptura varises
gastroesofageal dapat diberikan: somatostatin bolus 250 ug + drip
250 mikrogram/jam atau oktreotid bolus,1mg/2 jam. Pemberian
diberikan sampai perdarahan berhenti atau bila mampu diteruskan
3 hari setelah ligasi varises.
6.
Propanolol, dimulai dosis 2x10 mg dapat ditingkatkan
sampai tekanan diastolik turun 20 mmHg atau denyut nadi turun
20%.
7.
Laktulosa 4x1 sendok makan
8.
Neomisin 4x500 mg
9.
Sebagian besar pasien dengan perdarahan SCBA dapat
berhenti sendiri, tetapi pada 20% dapat berlanjut. Walaupun sudah
dilakukan terapi endoskopi pasien dapat mengalami perdarahan
ulang. Oleh karena itu perlu dilakukan assessmen yang lebih
akurat untuk memprediksi perdarahan ulang dan mortalitas.
10.
Prosedur bedah dilakukan sebagai tindakan emergensi atau
elektif.
Terapi endoskopis
Ditujukan untuk perdarahan tukak yang aktif dan tukak dengan
pembuluh yang tampak. Metode : termal kontak, termal nonkontak,
atau non termal ( adrenalin, polidokanol, alkohol, atau penggunaan
klip ).
Intervensi radiologis
Tindakan Bedah

10. Komplikasi
11. Prognosis

12. Edukasi

Syok hipovolemik yang dapat diikuti dengan gagal ginjal akut, gagal multi
organ dan kematian
Perdarahan yang berasal dari varises mempunyai tingkat mortalitas dan
resiko perdarahan ulang paling tinggi.Tingkat mortalitas saat peraweatan
awal setidaknya mencapai 30 % dan resiko perdarahan ulang mencapai 5070 %.
Tentang lama terapi, angka kesembuhan, kemungkinan perdarahan ulang,
serta pola diet

13. Tingkat
rekomendasi
14. Penelaah kritis
15. Indikator
16. Kepustakaan

SMF Ilmu Penyakit Dalam


1. Tanda-tanda vital haemodinamik membaik
2. Perdarahan saluran cerna berhenti
1.

Barkun AN, Bardou M, Kuipers EJ, et al. International consensus


recommendations on the management of patients with nonvariceal upper
gastrointestinal bleeding. Ann Intern Med 2010;152:101-13.
2. Sung JJ, Chan FK, Chen M, et al. Asia-Pacific Working Group consensus
on nonvariceal upper gastrointestinal bleeding. Gut 2011;60:1170-7.
3. Sudoyono. W A, 2009. Ilmu penyakit Dalam jilid I oleh : Adi P,
Pengelolaan Saluran cerna Bagian Atas. Interna Publising: Jakarta
4. Djojoningrat D. Perdarahan Saluran Cerna Bagian Atas (Hematemesis
Melena). 1 ed. Jakarta: Interna Publishing; 2011.
5. BJ Waleleng TW, F Wibowo. Tukak Duodenum. 1 ed. Jakarta: Interna
Publishing; 2011.
6. Sanusi IA. Tukak lambung. 1 ed. Jakarta: Interna Publishing; 2011

Direktur
RSU PKU Muhammadiyah Bantul

Ketua komite medik

dr. Barkah Djaka purwanta, Sp. PD

dr. Ana budi Rahayu, Sp. S