Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH

SEJARAH ADVOKAT INDONESIA

Oleh :
ARDA FEBRI GIANT PUTRA,S.H
NIM :

MATA KULIAH SEJARAH HUKUM

PROGRAM STUDI PIDANA EKONOMI


PASCASARJANA UNIVERSITAS SEBELAS MARET
2016

BAB I
PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Dalam prefektif sejarah, disadari bahwa perjalanan profesi advokat di Indonesia tidak
bisa lepas dari keterkaitannya dengan perubahan sosial. Para advokat Indonesia terseret
dalam arus perubahan tersebut. Pada masa pra kemerdekaan dan saat ini setelah Indonesia
merdeka, secara individu banyak advokat terlibat dalam perjuangan kemerdekaan,
terutama perjuangan politik dan diplomasi. Kala itu, kaum intelektual dan pemimpin
politik Indonesia memang terbatas pada mereka yang berasal dari kalangan advokat,
dokter, insinyur dan pamong peraja. Mereka terdidik dalam alam romantisme liberal dan
etika berpikir Eropa Barat termasuk Belanda. Karena kedudukan yang cukup terhormat
itu, maka perannya cukup signifikan dalam menentukan sikap politik para pemimpin
Indonesia pada masanya, seperti ikut merumuskan dasar-dasar konstitusi Indonesaia.1
Di era kemerdekaan, pada masa pemerintahan Sukarno dimana politik menjadi
panglima, para advokat diam tidak bisa ikut melakukan revolusi. Dimasa itu pula kita
mencatat sejarah peradilan yang relatif bersih dan berwibawa.
Bahkan dimasa pemerintahan Suharto yang represif menggunakan kekuatan militer,
Persatuan Advokat Indonesai (peradin) dengan berani dan terbuka membela secara
probono para politikus komunis dan simpatisannya yang diadili dengan tuduhan makar
tehadap Negara Republik Indonesia, dihadapan Mahkamah Militer Luar Biasa
(Mahmilub).
Dari sekilas sejarah (peran) para advokat tersebut, menunjukkan bahwa sumbangan
pemikiran para advokat berkualitas, yang menjadi pemimpin politik dan sosial sejak
1923, adalah sangat besar. Pada masa itu, advokat Indonesia pertama Mr. Besar
Martokoesoemo, membuka kantor advokat ditegal, selain pak Besar sendiri, ada Sartono,
Alisastroamidjojo, Wilopa, Muh Roem, Ko Tjang Sing, Muh Yamin, Iskaq
Tjokrohadisuryo, lukman Wiradinata, Suardi Tasrif, Ani Abbas Manoppo, Yap Thiam
Hien, dan lain-lain dan generasi yang aktif sebelum dan sesudah kemerdekaan sampai

Daniel S.Lev, Kata Pengantar, Advokat Indonesia Mencari Legitimasi PSHK, 2001

1960-an dan beberapa diantaranya sampai 1980-an. 2Hanya saja, akibat ombang-ambing
politik,

sebagai

profesi

para

advokat

Indonesia

mengalami

perubahan

yang

membingungkan. Kalau mereka bisa aktif dalam politik pada zaman parlementer, dan
dihormati oleh hakim dan jaksa sebagai unsur biasa dalam sistem peradilan. Pada zaman
Demokrasi Terpinpin sebaliknya, Mereka mulai dijauhkan dari lembaga formal, diisolasi
sebagai unsur swasta, dan sering diperlakukan seperti musuh oleh hakim dan jaksa. 3 Pada
permulaan 1960-an korupsi peradilan mulai menonjol yang dimulai dari kantor kejaksaan,
dari situ kepengadilan dan pada akhirnya meluas pada advokat yang sulit membela
kliennya kecuali ikut main dalam sistem birokrasi peradilan yang korup. Kondisi
demikian, hingga pasca lahirnya undang-undang No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat
masih belum berubah. Pada hal Pasal 5 undang-undang No. 18 Tahun 2003, ayat (1)
menyatakan bahwa Advokat berstatus sebagai penegak hukum, bebas dan mandiri yang
dijamin oleh hukum dan peraturan perundang-undangan.

Artinya kedudukan advokat

sama dengan penegak hukum lainnya yaitu polisi, jaksa dan hakim atau yang disebut
dengan catur wangsa.
Sebagai organisasi profesi, advokat melalui pasal 28 undang-undang No. 18 Tahun
2003 tentang Advokat diamanatkan untuk membentuk wadah tunggal organisasi advokat,
yang kemudian lahir PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia), namun dalam
perkembangannya di internal organisasi advokat itu sendiri (PERADI) malahan terjadi
perpecahan, sehingga muncul lagi organisasi advokat lain yaitu KAI (Kongres Advokat
Indonesia). Hal itu tentunya sangat memprihatinkan dan patut menjadi bahan perenungan
yang mendalam, meskipun ada adagium yang sudah diketahui secara luas Tegakkan
hukum walaupun langit runtuh nampaknya harapan itu sangat jauh dari kenyataan yang
dihadapi.
Untuk itu, tulisan ini mencoba memberikan kajian dari aspek historis yuridis
perkembangan advokat di Indonesia dari masa pra kemerdekaan sampai lahirnya undangundang No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat, dari berbagai literatur serta analisa ringkas
terhadap aspek-aspek yang terkait dengan obyek kajian ini.

2
3
4

Ibid
Ibid
Undang-undang No. 18 Tahun 2003 Tentang Advokat

B.

C.

RUMUSAN MASALAH
1.

Bagaimana fase Kedudukan Advokat Pra Kemerdekaan Indonesia ?

2.

Bagaimana fase Kedudukan Advokat Pasca Kemerdekaan Indonesia ?

3.

Bagaimana Lahirnya Undang undang No 18 Tahun 2003 ?

TUJUAN
1.

Mengetahui fase Kedudukan Advokat Pra Kemerdekaan Indonesia.

2.

Mengetahui fase Kedudukan Advokat Pasca Kemerdekaan Indonesia.

3.

Mengetahui Bagaimana lahirnya undang undang No. 18 Tahun 2003.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Kedudukan Advokat Pra Kemerdekaan
Jika ditilik sejarahnya, fungsi advokat sebenarnya tidak lahir secara genuine dari
kultur hukum masyarakat Indonesia. Fungsi ini baru muncul sejalan dengan
ditransplantasikannya sistem hukum dan peradilan formal oleh pemerintah Hindia
Belanda. Sistem peradilan Hindia Belanda terbagi dalam empat jenis peradilan yang
berlainan. Pertama, pengadilan pemerintah untuk orang Eropa meliputi pengadilan
tingkat pertama residentiegerecht yang menjadi wewenang residen Belanda; pengadilan
banding raad van justitie di ibukota dan pengadilan tertinggi, hoogerechtshof. Kedua,
pengadilan pemerintah untuk orang bukan golongan eropa, pengadilan agama Islam, dan
pengadilan adat.5 Pengadilan pemerintah bagi orang Indonesia juga memiliki tiga
tingkatan yakni districtsgerecht, regentschapsgerecht, dan landraad. Landraad inilah
yang menjadi cikal bakal pengadilan negeri Indonesia. Pada tahun 1938, putusan
landraad dapat dibanding pada raad van justitie Sebagian besar hakim landraad adalah
orang Belanda, namun sejak 1920-an dan 1930-an beberapa orang ahli hukum Indonesia
berpendidikan hukum diangkat sebagai hakim. Pengadilan Indonesia menggunakan KUH
Pidana dengan hukum acara yang dikenal Herziene Inlandse Reglement (HIR).6
Pemerintah kolonial tidak mendorong orang-orang Indonesia untuk bekerja sebagai
advokat. Pada 1909 pemerintah kolonial mendirikan Rechtsschool di Batavia dan
membuka kesempatan pendidikan hukum bagi orang pribumi hingga tahun 1922, namun
kesempatan hanya dimanfaatkan kaum priyayi. Pada tahun 1928, Rechtsschool
meluluskan hampir 150 orang rechtskundigen (sarjana hukum). Namun mereka ini hanya
menjadi panitera, jaksa dan hakim tidak sebagai notaris dan advokat. 7 Hingga pada tahun
1940 terdapat hampir tiga ratus orang Indonesia asli menjadi ahli hukum sampai pada
pendudukan Jepang. Para advokat Indonesia angkatan pertama menetap di Belanda
sebagai advokat. Diantara empat puluh orang Indonesia yang meraih gelar sarjana hukum
di Leiden, tidak kurang dari enam belas orang menjadi advokat sepulang ke Indonesia.8

5
6
7
8

Khaerul H. Tanjung, Istilah Advokat, Pengacara, Penasehat Hukum & Konsultan Hukum, hal.1
Ibid
Ibid
Ibid

Salah seorang tokoh yang mendorong perkembangan advokat Indonesia adalah Mr.
Besar Martokusumo. Pada saat itu tidak satupun kantor advokat yang besar kecuali kantor
Mr. Besar di Tegal dan Semarang, dan kantor advokat Mr. Iskak di Batavia. Bagi advokat
Indonesia asli memulai praktik adalah langkah yang sulit. Hal ini terjadi karena advokat
Belanda mengganggap mereka sebagai ancaman dalam persaingan.9 Sebenarnya
transplantasi sistem peradilan Barat tidak otomatis mengintrodusir fungsi advokat di
dalamnya. Sebagai bukti, pemerintah Hindia Belanda sengaja memberlakukan Herziene
Indonesisch Reglement (HIR) sebagai hukum acara bagi kalangan pribumi yang tidak
mengenal fungsi advokat, bukannya Reglement op de Strafvordering (SV) dan Reglement
op de Rechtsvordering (RV) yang memang dikhususkan buat masyarakat Eropa di Hindia
Belanda. 10
HIR (Herziene Indonesisch Reglement) dibentuk dengan cara pandang yang
"menggampangkan" permasalahan hukum masyarakat pribumi, karena itu aturannya
dibuat sangat sederhana. Semua proses beracara juga dipusatkan pada kewenangan
(diskresi) hakim. Sebab selain berwenang mengadili, hakim dalam HIR juga diberi
kewenangan menyusun surat dakwaan (bukan jaksa), serta memberi nasehat hukum
kepada terdakwa atau pihak-pihak yang berperkara (bukan advokat atau ahli hukum lain
yang kompeten). Hal ini diperburuk oleh kualifikasi para pelaku peradilan di HIR yang
tidak ditentukan secara memadai. Hanya hakim yang disyaratkan harus memiliki keahlian
hukum tertentu, sementara fungsi jaksa cukup dilakukan oleh pejabat pamong praja, dan
nasehat hukum (jika bukan hakim yang melaksanakan) bisa diberikan oleh siapa saja
selama disetujui pihak berperkara.11
Sebagai perbandingan, pemberlakuan SV dan RV didasarkan pada penghargaan akan
kultur hukum masyarakat Eropa yang sudah maju. Kedua ketentuan hukum acara tersebut
cukup gamblang menjabarkan prinsip-prinsip peradilan yang baik. Hakim, jaksa, dan
advokat harus berasal dari mereka yang menyandang status sarjana hukum, serta masingmasing diberi fungsi yang jelas untuk saling mengawasi dan saling mengimbangi.12
Akibatnya profesi advokat berkembang maju di pengadilan-pengadilan yang
menyelesaikan sengketa hukum masyarakat Eropa (Raad van Justitie), dan secara kontras
9

Ibid
Binziad Hadfi, Ruu Tentang Provesi Advokat dan Sejarah Pengaturan Advokat di Indonesia, hal. 2
11
Ibid
12
Ibid
10

mengalami kemandegan di pengadilan-pengadilan pribumi (Landraad). Jika bagi advokat


Eropa dibuat pengaturan lanjutan berupa Reglement op de Rechterlijk Organisatie (RO)
yang tujuannya mengintegrasikan fungsi advokat sebagai unsur penting dari administrasi
peradilan secara keseluruhan, maka orang-orang pribumi yang memberikan nasehat
hukum (lazim disebut "pokrol bambu") diatur dengan ketentuan seperti Stbl. 1927-496.
Dasar Stbl. 1927-496 adalah pemikiran negatif tentang pokrol bambu dan bertujuan
melindungi masyarakat dari penipuan yang mungkin dilakukan pokrol bambu.13
Adapun pengaturan advokat dapat ditemukan diberbagai peraturan pada masa pra
kemerdekaan adalah sebagai berikut:
a. Staatblad Tahun 1847 Nomor 23 dan Staatblad Tahun 1848 Nomor 57 tentang
Reglement op de rechtelijk organisatie en het beleid de justitie in Indonesie atau
dikenal dengan RO, pada Pasal 185 s/d 192 mengatur tentang advocaten en
procureurs yaitu penasehat hukum yang bergelar sarjana hukum.
b. Staatblad Tahun 1847 Nomor 40 tentang Reglement op de Rechtsvordering (RV),
dalam peradilan khusus golongan Eropa (Raad van Justitie) ditentukan bahwa para
pihak harus diwakili oleh seorang advokat atau procureur.
c. Penetapan Raja tanggal 4 Mei 1926 Nomor 251 jo. 486 tentang Peraturan Cara
Melakukan Menjalankan Hukuman Bersyarat, pada Bab I Bagian II Pasal 3 ayat 3
ditentukan bahwa orang yang dihukum dan orang yang wajib memberikan bantuan
hukum kepadanya sebelum permulaan pemeriksaan.
d. Staatblad Tahun 1926 nomor 487 tentang Pengawasan Orang yang Memberikan
Bantuan Hukum, ditentukan bahwa pengawasan terhadap orang-orang yang
memberikan bantuan hukum atau orang yang dikuasakan untuk menunjuk lembaga
dan orang yang boleh diperintah memberi bantuan.
e. Staatblad Tahun 1927 Nomor 496 tentang Regeling van de bijstaan en
vertegenwoordiging van partijen in burgerlijke zaken voor de landraden, mengatur
tentang penasehat hukum yang disebut zaakwaarnemers atau pada masa tersebut
dikenal dengan pokrol.
f. Staatblad Tahun 1941 Nomor 44 tentang Herziene Inlandsch Reglement (HIR), dalam
Pasal 83 h ayat 6 ditentukan bahwa jika seseorang dituduh bersalah melakukan
13

Ibid

sesuatu kejahatan yang dapat dihukum dengan hukuman mati, maka magistraat
hendak menanyakan kepadanya, maukah ia dibantu di pengadilan oleh seorang
penasehat hukum. Dan Pasal 254 menentukan bahwa dalam persidangan tiap-tiap
orang yang dituduh berhak dibantu oleh pembela untuk mempertahankan dirinya.
g. Staatblad Tahun 1944 Nomor 44 tentang Het Herziene Inlandsch Reglement atau RIB
(Reglemen Indonesia yang diperbaharui), menurut Pasal 123 dimungkinkan kepada
pihak yang berperkara untuk diwakili oleh orang lain.
Berbagai ketentuan hukum diatas mendasari profesi advokat pada masa pra kemerdekaan,
meski masih mengutamakan advokat Belanda. Akan tetapi berbagai pengaturan itu
sedikitnya telah mendasari perkembangan advokat Indonesia pada masa selanjutnya. 14
B. Kedudukan Advokat Pasca Kemerdekaan
Perkembangan pengaturan profesi advokat di Indonesia dilanjutkan pada masa
pendudukan Jepang. Pemerintah kolonial Jepang tidak melakukan perubahan yang berarti
mengenai profesi ini. Hal ini terbukti pada UU Nomor 1 Tahun 1946 tentang
Pemberlakuan Wetboek van strafrecht voor Nederlands Indie tetapi digunakan istilah
KUH Pidana. UU ini memuat pengaturan tentang kedudukan advokat dan procureur dan
orang-orang yang memberikan bantuan hukum. Pengaturan profesi advokat secara
sporadis tersebar dalam berbagai ketentuan perundang-undangan termasuk didalamnya
ketentuan pada masa kolonial Belanda. Bahkan pengaturan profesi advokat sejak
proklamasi 17 Agustus 1945 justru kurang mendapat perhatian. Hal ini ditunjukkan
dengan tidak ditemukannya istilah advokat atau istilah lain yang sepadan dimasukkan
dalam UUD 1945. Demikian pula pada UUD RIS 1949 yang digantikan dengan UUDS
1950.
Memang pada pasca-kemerdekaan satu-persatu undang-undang organik di bidang
peradilan dan kekuasaan kehakiman diberlakukan, lengkap dengan fluktuasinya. Kadang
menunjukkan pergerakan positif, kadang justru berbalik arah sesuai tarik-ulur
kepentingan politik pemerintah di dalamnya. Mulai dari UU No. 1 tahun 1950 tentang
Susunan dan Kekuasaan Jalannya Mahkamah Agung Indonesia yang mengakui hak
pemohon kasasi untuk mendapatkan bantuan hukum, hingga UU No. 13 tahun 1965
tentang hal sama yang membenarkan intervensi langsung Presiden sebagai pemimpin
besar revolusi ke dalam jalannya peradilan. Padahal satu tahun sebelumnya, baru
14

Khaerul H. Tanjung, Op. Cit., hal.3

diberlakukan UU No. 19 tahun 1964 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan


Kehakiman, yang mengintroduksi hak untuk mendapatkan bantuan hukum bagi
masyarakat walau dengan batasan-batasan tertentu.15 Namun yang jelas, materi
pengaturan tentang bantuan hukum yang berarti juga menyinggung fungsi advokat pada
perundang-undangan di atas, hanya dilekatkan secara simbolis, dan tidak pernah
diturunkan dalam ketentuan yang lebih operasional. Sehingga tidak keliru jika dikatakan
bahwa pada masa tersebut, tidak ada kebijakan yang pasti tentang bantuan hukum,
maupun tentang profesi advokat yang bertugas menyediakannya.
Sementara akibat sengketa hukumnya seringkali harus diselesaikan secara formal
lewat mekanisme peradilan, sesungguhnya masyarakat mulai merasakan kebutuhan akan
fungsi advokat. Kebutuhan ini diindikasikan dengan meluasnya peran pokrol bambu yang
makin terasa akrab dan terjangkau oleh masyarakat. Pada prakteknya pun, profesi advokat
di Indonesia terus berkembang. Di banyak kota besar mulai bermunculan kantor-kantor
hukum advokat profesional, menggantikan advokat-advokat Belanda yang semakin
berkurang jumlahnya menjelang dan sesudah pembebasan Irian Barat. Berbagai
organisasi yang menaungi para advokat (Balie van Advocaten) pun banyak berdiri,
termasuk Persatuan Advokat Indonesia (Peradin) yang didirikan pada tahun 1963.16
Guna mengisi kekosongan hukum saat itu, akibat tidak kunjung diperjelasnya fungsi
advokat dalam perundang-undangan di bidang peradilan sementara praktek pemberian
bantuan hukum secara empirik terus dijalankan, pemerintah mengeluarkan Peraturan
Menteri Kehakiman RI No. 1 tahun 1965 tentang Pokrol sebagai acuan awal. Pengaturan
ini kemudian diikuti oleh berbagai peraturan Mahkamah Agung dan Pengadilanpengadilan Tinggi di bawahnya tentang pendaftaran advokat dan pengacara. 17 Memasuki
tahun 1970, sebenarnya ada sebuah titik terang bagi kejelasan fungsi iadvokat. Lewat
pemberlakuan UU No. 14 tahun 1970 tentang Ketentuan-Ketentuan Pokok Kekuasaan
Kehakiman, pemerintah membuka lebih luas pintu bagi advokat untuk memasuki sistem
kekuasaan kehakiman. Selain menjamin hak setiap orang yang berperkara untuk
mendapatkan bantuan hukum, Pasal 38 UU tersebut juga mengamanatkan diaturnya
undang-undang tersendiri mengenai bantuan hukum.18

15

16

17

18

Binziad Khadafi, Op.Cit.,hal.4


Binziad Khadafi, Ibid., hal.4
Binziad Khadafi, Ibid.
Binziad Khadafi, Ibid.

Amanat UU itulah yang menjadi dasar dimulainya perjuangan advokat Indonesia


untuk menggolkan undang-undang khusus yang mengatur profesinya. Pada kongres
(Peradin) yang kedua tahun 1969, Peradin Jawa Tengah mulai memperkenalkan naskah
RUU Profesi Advokat. Tetapi upaya para advokat di Peradin tersebut tidak sepenuhnya
berhasil. Dikatakan tidak sepenuhnya berhasil karena, walau RUU Profesi Advokat yang
muatannya mengusung isu kemandirian dan kejelasan fungsi profesi tidak kunjung
diakomodasikan oleh pemerintah dan DPR, namun lewat pemberlakuan KUHAP (UU
No. 8 tahun 1981), sebagian materi bantuan hukum diatur secara cukup komprehensif. Di
dalamnya dimuat antara lain: hak advokat (penasehat hukum) untuk menghubungi
tersangka sejak saat ditangkap atau ditahan pada semua tingkat pemeriksaan; hak untuk
menghubungi dan berbicara dengan tersangka pada setiap tingkat pemeriksaan dan setiap
waktu dalam rangka pembelaan perkara; serta hak untuk mengirimkan dan menerima
surat dari tersangka setiap kali dikehendaki.19
Sayangnya, tidak begitu lama advokat menikmati dampak positif dari ketentuan
KUHAP, khususnya di lingkungan peradilan pidana, beberapa undang-undang yang
diberlakukan kemudian ternyata memberi pukulan telak bagi kemandirian advokat secara
lembaga. UU No. 14 tahun 1985 tentang Mahkamah Agung misalnya, semakin
menguatkan fungsi pembinaan dan pengawasan terhadap advokat oleh Mahkamah Agung
dan pemerintah. Ditambah dengan UU No. 8 tahun 1985 tentang Organisasi
Kemasyarakatan yang menundukkan organisasi-organisasi advokat yang ada saat itu ke
dalam wilayah pembinaan pemerintah, sehingga setiap saat dapat dibekukan jika dinilai
oleh penguasa telah melakukan kegiatan yang mengganggu keamanan dan ketertiban
umum. Akibatnya Peradin yang pernah menandai masa kejayaan advokat di Indonesia
terus dilemahkan, sampai akhirnya tenggelam sama sekali.20
Prosedur pengawasan terhadap advokat sendiri kemudian dirinci dalam UU No. 2
tahun 1986 tentang Peradilan Umum. Bahkan materi pengaturannya diperluas hingga ke
tingkat penindakan dengan melibatkan para Ketua Pengadilan Negeri yang melaksanakan
pengawasan secara operasional. Materi pengaturan inilah yang kemudian menimbulkan
tidak sedikit benturan antara advokat dengan hakim di lapangan. Salah satunya benturan
antara advokat Adnan Buyung Nasution dengan majelis hakim dalam perkara HR
Dharsono. Kejadian tersebut memicu lahirnya SKB Ketua Mahkamah Agung RI No.
19

Binziad Khadafi, Ibid.

20

Binziad Khadafi, Ibid.

KMA/005/SKB/VII/1987,

No.

M.03-PR.08.95

tahun

1987

tentang

Tata

Cara

Pengawasan, Penindakan, dan Pembelaan Diri Penasehat Hukum, yang secara signifikan
mereduksi

kemandirian

advokat

dengan

mensub-ordinatkan

advokat

berikut

organisasinya terhadap pengadilan dan pemerintah. Malah SKB tersebut secara sepihak
dijadikan salah satu pranata hukum bagi contempt of court di Indonesia.21
Berbagai peraturan perundang-undangan yang lahir berikutnya, relatif tidak
membawa perubahan penting bagi kebutuhan advokat. UU No. 5 tahun 1986 tentang
Peradilan Tata Usaha Negara, UU No. 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama, UU No. 3
tahun 1997 tentang Pengadilan Anak, UU No. 31 tahun 1997 tentang Peradilan Militer,
dan UU No. 4 tahun 1998 tentang Kepailitan, kesemuanya secara sporadis menyinggung
fungsi advokat. Berbeda dengan UU No. 8 tahun 1995 tentang Pasar Modal yang
berkontribusi penting dalam menguatkan pelembagaan profesi advokat di bidang nonlitigasi. Sehingga ironi dalam pembangunan hukum di Indonesia, tidak mengatur secara
khusus profesi advokat sebagaimana profesi hukum lainnya, padahal profesi ini sebagai
salah satu unsur penegak hukum. Akibatnya menimbulkan berbagai keprihatinan dan
kesimpangsiuran menyangkut profesi tersebut. Seirama dengan merosotnya wibawa
hukum (authority of law) dan supremasi hukum (supremacy of law), maka profesi hukum
ini juga terbawa arus kemerosotan.
Meskipun demikian secara implisit, terdapat beberapa ketentuan yang mengisyaratkan
pengakuan terhadap profesi ini, antara lain sebagai berikut :
a. UU Nomor 20 Tahun 1947 tentang Peradilan Ulangan untuk Jawa dan Madura, dalam
Pasal 7 ayat 1 menyebutkan bahwa peminta atau wakil dalam arti orang yang diberi
kuasa untuk itu yaitu pembela atau penasehat hukum.
b. UU Nomor 1 Tahun 1950 tentang Mahkamah Agung dalam Pasal 42 memberikan
istilah pemberi bantuan hukum dengan kata PEMBELA.
c. UU Drt. Nomor 1 Tahun 1951 tentang Tindakan Sementara Penyelenggaraan
Kekuasaan dan Acara Pengadilan sipil, memuat ketentuan tentang bantuan hukum
bagi tersangka atapun terdakwa.
d.UU Nomor 19 Tahun 1964 tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman yang kemudian
diganti dengan UU Nomor 14 Tahun 1970, menyatakan bahwa setiap orang yang
tersangkut perkara berhak memperoleh bantuan hukum.
21

Binziad Khadafi, Ibid.

e. UU Nomor 13 Tahun 1965 tentang Mahkamah Agung, diganti dengan UU Nomor 14


Tahun 1985, pada Pasal 54 bahwa penasehat hukum adalah mereka yang melakukan
kegiatan memberikan nasehat hukum yang berhubungan suatu proses di muka
pengadilan.
f. UU Nomor 1 Tahun 1981 tentang KUHAP, dalam Pasal 54 s/d 57 dan 69 s/d 74
mengatur hak-hak tersangka atau terdakwa untuk mendapatkan penasehat hukum dan
tata cara penasehat hukum berhubungan dengan tersangka dan terdakwa.
g. UU Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum, mengakui keberadaan penasehat
hukum dalam memberi bantuan hukum kepada tersangka atau terdakwa.
h. Surat Edaran dan Surat Keputusan Bersama Mahkamah Agung dan Menteri
Kehakiman, dan sebagainya.
Bahkan sebenarnya Pasal 38 UU Nomor 14 Tahun 1970, telah mengisyaratkan perlunya
pengaturan profesi advokat dalam UU tersendiri. Namun hal itupun tidak menjadi
perhatian pemerintah hingga akhirnya tuntutan pengaturan tersebut semakin besar di
kalangan organisasi advokat. Setelah 33 tahun, barulah perjuangan itu berhasil melalui
UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat. 22
C. Lahirnya Undang-undang Advokat (Undang-undang No.18 Tahun 2003)
Lahirnya undang-undang advokat, merupakan hasil perjuangan yang panjang sejak
dulu, selama ini advokat selalu menjadi anak bawang dalam sistem hukum dan sistem
peradilan. Hampir seluruh peraturan perundang-undangan yang dibuat tentang peradilan
tidak mengakui secara tegas fungsi advokat di dalamnya. Bahkan sebagian produk
perundang-undangan tersebut justru mendatangkan intervensi eksternal atas advokat oleh
pemerintah dan birokrasi peradilan. Penghargaan terhadap fungsi advokat dalam undangundang mengenai peradilan biasanya baru datang bersamaan dengan diintrodusirnya
prinsip-prinsip peradilan yang baik, seperti ketika dibentuknya UU Kekuasaan
Kehakiman dan KUHAP (yang umumnya lebih kuat disebabkan oleh desakan
internasional). Namun karena diatur secara simbolis, maka permasalahan tentang fungsi
advokat tidak secara nyata diselesaikan, sebagaimana tidak nyatanya penyelesaian
masalah-masalah yang menghambat terciptanya fair trial. Oleh sebab itulah upaya
mempertegas pengakuan negara terhadap fungsi advokat dalam sistem peradilan harus

22

Khaerul H. Tanjung, Op. Cit.,hal.4

sejalan dengan upaya mengakomodasikan sebesar-besarnya kepentingan publik dalam


pelaksanaan peradilan.
Memang secara garis besar, perjuangan advokat Indonesia untuk menggolkan undangundang tentang profesi advokat dilatari oleh faktor bahwa advokat dalam prakteknya
sering mendapatkan perlakuan tidak seimbang dari unsur peradilan formal (hakim, jaksa,
polisi, panitera) saat menjalankan profesinya. Namun ternyata dalam perkembangannya,
bukan itu faktor utama. Ketidakjelasan fungsi, ketidakpastian kebijakan baik tentang
rekrutmen, pengawasan, sampai ke penindakan, belakangan malah menjadi tambang emas
bagi sebagian advokat. Sebab sekalipun SKB tahun 1987 (yang sering dijadikan simbol
intervensi pemerintah dan peradilan terhadap urusan profesi) secara formal, pada
realisasinya para hakim di pengadilan-pengadilan tidak cukup waktu (sebagian barangkali
"tidak cukup moral") untuk menegakkan ketentuan SKB tersebut. Hasilnya, advokat
dapat leluasa menjalankan praktek profesinya dengan cara-cara tidak etis, bahkan kadang
melanggar kaedah hukum, tanpa pengawasan yang berarti.23 Agaknya faktor yang paling
menentukan perjuangan mendapatkan undang-undang Advokat, adalah polarisasi di
kalangan advokat yang semakin kuat. Konflik internal di tubuh organisasi advokat
menyeruak silih berganti, bersamaan dengan terus bermainnya kepentingan pemerintah
untuk melemahkan organisasi advokat. Sehingga komunitas profesi yang kuat yang
mampu meletakkan fungsi profesi dalam kerangka sistem peradilan tidak pernah terwujud
di Indonesia. Dan akhirnya mereka mulai mencari bantuan pihak luar untuk ikut
menyelesaikan persoalannya, dalam hal ini pilihan jatuh pada negara.24
Berawal dari Kongres Peradin tahun 1969, perjuangan advokat untuk mengupayakan
undang-undang profesinya terangkat kembali ke permukaan pada Kongres Peradin tahun
1973. RUU Pokok Advokat yang dibicarakan dalam Kongres tersebut merupakan hasil
godokan Peradin-Peradin di Jawa Tengah, dengan membandingkan undang-undang
sejenis yang ada di negara-negara lain seperti India, Jepang, RRC, dan Muangthai,
termasuk juga Belanda. Namun upaya ini terhenti sejalan dengan melemahnya Peradin di
tahun-tahun berikutnya. Apalagi saat itu tidak sedikit pimpinan dan anggota Peradin yang
menolak usulan tersebut. Diwakili oleh Yap Thiam Hien, mereka percaya bahwa

23

Binzaid Khadafi, Op.Cit.,hal.4-6

24

Binzaid Khadafi, Ibid.,hal.4-6

keberadaan

undang-undang

advokat

malah

potensial

semakin

membahayakan

kemandirian advokat sendiri.25


Setelah terbentuknya Ikatan Advokat Indonesia (Ikadin) pada tahun 1985, upaya
mengusung RUU Advokat kembali dilakukan. Namun kala itu political will pemerintah
tidak cukup memadai untuk membawa gagasan tersebut secara resmi dalam proses
legislasi. RUU Advokat bahkan sempat beberapa kali berubah, baik nama maupun konsep
pengaturannya. Hingga akhirnya pada tahun 2000, satu klausul dalam Letter of Intent
antara pemerintah RI dengan International Monetary Fund (IMF) menyerukan perlunya
diajukan RUU tentang Profesi Advokat ke DPR-RI, agar seluruh advokat yang berpraktek
di Pengadilan disyaratkan untuk memiliki izin praktek, dan mentaati ketentuan kode etik
profesi yang seragam.26 Dalam rangka melaksanakan klausul tersebut, pemerintah
akhirnya membentuk tim perumus RUU tentang Profesi Advokat yang dipimpin oleh
HAS Natabaya (mantan Kepala Badan Pembinaan Hukum Nasional) sebagai ketua dan
Adnan Buyung Nasution sebagai wakil ketua, dengan merangkul perwakilan dari
beberapa organisasi advokat yang ada, seperti Ikadin, Asosiasi Advokat Indonesia (AAI),
Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI), dan Asosiasi Konsultan Hukum Indonesia
(AKHI). Tim tersebut berhasil menyelesaikan tugasnya pada bulan September 2000,
dengan mengajukan RUU yang dibuat kepada pimpinan DPR RI melalui surat No.
R.19/PU/9/2000.27 Sebenarnya sampai saat ini pun belum pernah dicapai kesepakatan
bulat dan tuntas di antara para advokat mengenai perlu tidaknya profesi mereka diatur
dalam undang-undang tersendiri. Selalu terdapat dua pandangan yang saling
berseberangan. Pandangan pertama, sebagai pandangan mayoritas di kalangan advokat,
menyatakan

bahwa

undang-undang

profesi

advokat

mutlak

diperlukan

untuk

menyetarakan status antara profesi advokat dengan unsur-unsur peradilan lainnya (seperti
polisi, jaksa, dan hakim). Tanpa status yang setara, advokat akan terus menjadi "anak
bawang" dalam proses peradilan, dan selalu dipandang sama swastanya dengan klien
yang diwakili. Akibatnya, advokat tidak dapat menjalankan perannya secara optimal
karena rentan terhadap tindak diskriminasi, intervensi, dan represi baik dari polisi, jaksa,
maupun hakim.28

25

26

27
28

Binzaid Khadafi, Ibid.,hal.4-6


Binzaid Khadafi, Ibid.,hal.4-6
Binzaid Khadafi, Ibid.,hal.4-6
Binzaid Khadafi, Ibid.,hal.4-6

1. Kronologi Lahirnya Undang-undang Advokat (Undang-undang No.18 Tahun


2003)
Berikut ini kami sajikan kronologis perjalanan Undang-undang No.18/2003 tentang
Advokat. Untuk mengetahui lebih jauh sikap masing-masing fraksi mengenai
pembahasan undang-undang ini saat dibahas pada September 2000, sebagai berikut:
28 September 2000, Presiden Abdurrahman Wahid, lewat surat bernomor
R.19/Pu/9/2000, menyampaikan RUU tentang Profesi Advokat ke DPR. Isinya
berjumlah 35 pasal;
28 Oktober 2000 , Pemerintah, lewat Menteri Kehakiman Moh. Machfud MD,
menyampaikan keterangan pemerintah atas RUU Profesi Advokat di depan Rapat
Paripurna DPR;
15 November 2000, Fraksi-fraksi yang ada di DPR menyampaikan pemandangan
umum terhadap usulan Pemerintah
21 November 2000, Jawaban Pemerintah atas Pemandangan Umum Fraksi-Fraksi
terhadap RUU Profesi Advokat. Saat itu Pemerintah sudah diwakili Menteri
Kehakiman baru Prof. Yusril Ihza Mahendra.
27 Februari 2001, Badan Musyawarah DPR menugaskan Komisi II untuk
membahas RUU tentang Profesi Advokat.
05 Februari 2002, Rapat Kerja Komisi II dengan Menteri Kehakiman dan HAM
membahas materi RUU secara umum.
25-26 Februari 2002, Panja memulai pembahasan Daftar Inventarisasi Masalah
(DIM).
27 Februari 2002, Panja mengundang organisasi advokat yang tergabung dalam
KKAI untuk membahas organisasi profesi dan kode etik advokat.
23 Mei 2002, Tujuh organisasi advokat (Ikadin, AAI, IPHI, HAPI, SPI, AKHI,
HKHPM) menetapkan Kode Etik dan ketentuan tentang Dewan Kehormatan Profesi
Advokat.

17 Februari 2003, Rapat Panja memutuskan untuk membentuk dan menugaskan


Tim Perumus dan Tim Sinkronisasi untuk merumuskan substansi RUU Profesi
Advokat yang sebelumnya sudah disepakati Panja. Tim langsung dipimpin oleh
Ketua Komisi II DPR Agustin Teras Narang.
20-21 Februari 2003, Pembahasan di Tim Perumus.
25 Februari 2003, Laporan Tim Sinkronisasi RUU Advokat dalam Rapat Panja
Komisi II DPR.
05 Maret 2003, Rapat kerja kembali dengan Menteri Kehakiman untuk
mendengarkan laporan Panja dan kemudian disempurnakan untuk dibawa ke
pembicaraan tingkat dua.
06 Maret 2003, Laporan Komisi II yang kemudian dilanjutkan pendapat akhir
Fraksi-fraksi. Pada hari yang sama Rapat Paripurna DPR menyetujui RUU Profesi
Advokat untuk disahkan menjadi Undang-Undang.
05 April 2003, RUU Profesi Advokat diundangkan Mensesneg ke dalam Lembaran
Negara, tanpa tanda tangan Presiden Megawati. 29
2. Uji Materil Undang-undang Advokat ke Mahkamah Konstitusi
Menurut Ketua Mahkama Konstitusi saat itu, Prof. Dr. Jimly Asshiddiqie SH, dapat
disimpulkan bahwa undang-undang Advokat bermasalah, baik itu dari segi isi
maupun proses pembentukannya (hukumonline.com, 1/12/06). Meski sejauh ini
hanya satu permohonan pengujian undang-undang Advokat yang dikabulkan
Mahkamah Konstitusi. Pada 2006 silam, ada tiga permohonan pengujian undangundang Advokat ke Mahkamah Konstitusi, sedang sisanya di tahun 2004 dan 2003.
Satu-satunya permohonan judicial review undang-undang Advokat yang dikabulkan
Mahkamah Konstitusi pada 9 Desember 2004 adalah yang diajukan oleh Tongat dkk
yang berakhir dengan Pasal 31 dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum
mengikat (No. 006/PUU-II/2004). Putusan ini tergolong berat bagi profesi advokat

29

Kronologis Perjalanan UU Advokat, www.hukumonline.com.

karena Pasal 31 adalah satu-satunya ketentuan pidana dalam undang-undang


Advokat yang diharapkan dapat melindungi publik dari praktik advokat gadungan.30
Meski pada akhirnya Mahkamah Konstitusi menolak permohonan-permohonan
tersebut di atas, namun Mahkamah Konstitusi membuat sejumlah pendapat yang
penting dalam sebagian putusan atas perkara-perkara tersebut. Dalam perkara
Sudjono cs misalnya, Mahkamah Konstitusi menyatakan kedelapan organisasi
pendiri PERADI tetap eksis namun kewenangannya sebagai organisasi profesi
advokat, yaitu dalam hal kewenangan membuat kode etik, menguji, mengawasi, dan
memberhentikan Advokat, secara resmi kewenangan tersebut telah menjadi
kewenangan PERADI.31 Mahkamah Konstitusi juga menyatakan bahwa kedelapan
Organisasi Advokat pendiri PERADI tetap memiliki kewenangan selain kewenangan
yang telah menjadi kewenangan PERADI, sehingga tidak dapat dikatakan bahwa
Pasal 28 Ayat (1) UU Advokat meniadakan eksistensi kedelapan organisasi, yang
karenanya melanggar prinsip kebebasan berserikat dan berkumpul sebagaimana
diatur UUD 1945.32
Dalam putusan perkara No.014/PUU-IV/2006 itu, secara tegas menyatakan PERADI
sebagai satu-satunya wadah profesi Advokat pada dasarnya adalah organ negara
dalam arti luas yang bersifat mandiri yang juga melaksanakan fungsi negara. Fungsi
negara yang dimaksud oleh Mahkamah Konstitusi , dengan merujuk pada putusan
atas perkara No. 006/PUU-II/2004, adalah kewajiban para advokat pada umumnya
untuk memberikan akses pada keadilan bagi semua orang. 33
akses pada keadilan adalah bagian tak terpisahkan dari ciri lain negara hukum
yaitu bahwa hukum harus transparan dan dapat diakses oleh semua orang
(accessible to all), sebagaimana diakui dalam perkembangan pemikiran
kontemporer tentang negara hukum. Jika seorang warga negara karena alasan
finansial tidak memiliki akses demikian maka adalah kewajiban negara, dan
sesungguhnya juga kewajiban para advokat untuk memfasilitasinya, bukan justru
menutupnya (vide Barry M. Hager, The Rule of Law, 2000, hal. 33). Demikian

30
31
32
33

Amrie Hakim, Catatan Refleksi Atas Pengujian-pengujian UU Advokat, www.hukumonline.com


Amrie Hakim,Ibid.
Amrie Hakim,Ibid.
Amrie Hakim,Ibid.

bunyi pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi dalam perkara No. 006/PUUII/2004.34


Maraknya judicial review yang mendera undang-undang Advokat tidak sepenuhnya
mencerminkan seluruh kritik yang ada terhadap undang-undang Advokat. Advokat
secara umum memiliki kritik tersendiri terhadap isi undang-undang Advokat
maupun pelaksanaannya. Dalam berbagai kesempatan misalnya, PERADI kerap
mengeluhkan belum adanya pengakuan yang tulus akan status advokat sebagai
penegak hukum dari unsur penegak hukum lain. Peran advokat hingga kini
cenderung masih dianggap berada di luar sistem penegakan hukum.35
D. Wadah Tunggal Advokat di Indonesia
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menentukan secara
tegas bahwa negara Indonesia adalah negara hukum. Prinsip negara hukum menuntut
antara lain adanya jaminan kesederajatan bagi setiap orang di hadapan hukum (equality
before the law). Oleh karena itu, Undang-Undang Dasar juga menentukan bahwa setiap
orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan dan kepastian hukum yang adil serta
perlakuan yang sama di hadapan hukum.Dalam usaha mewujudkan prinsip-prinsip negara
hukum dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, peran dan fungsi Advokat sebagai
profesi yang bebas, mandiri dan bertanggung jawab merupakan hal yang penting, di
samping lembaga peradilan dan instansi penegak hukum seperti kepolisian dan kejaksaan.
Melalui jasa hukum yang diberikan, Advokat menjalankan tugas profesinya demi
tegaknya keadilan berdasarkan hukum untuk kepentingan masyarakat pencari keadilan,
termasuk usaha memberdayakan masyarakat dalam menyadari hak-hak fundamental
mereka di depan hukum. Advokat sebagai salah satu unsur sistem peradilan merupakan
salah satu pilar dalam menegakkan supremasi hukum dan hak asasi manusia. 36
Sebagai organisasi profesi, advokat melalui pasal 28 undang-undang No. 18 Tahun
2003 diamanatkan untuk membentuk wadah tunggal organisasi advokat, yang kemudian
lahir PERADI (Perhimpunan Advokat Indonesia). Namun dalam perkembangannya di
internal organisasi advokat itu sendiri (PERADI) malahan terjadi perpecahan, sehingga
muncul lagi organisasi advokat yaitu KAI (Kongres Advokat Indonesia). Hal itu tentunya
34
35
36

Amrie Hakim,Ibid.
Amrie Hakim, Catatan Refleksi Atas Pengujian-pengujian UU Advokat, www.hukumonline.com
Didik Maryono, Kajian Singkat Terhadap Permasalahan Bantuan Hukum dan Peranan Pengacara di Indonesia

sangat memprihatinkan dan patut menjadi bahan perenungan yang mendalam.


Sebenarnya pada dua dasawarsa 1980 hingga 1990, justru sudah timbul berbagai
macam pergeseran di kalangan intern organisasi advokat. Fenomena yang dapat diajukan
adalah munculnya asosiasi pengacara baru sesudah era PERADIN antara lain IKADIN
Ikatan Advokat Indonesia (IKADIN), Asosiasi Advokat Indonesia ( AAI), Serikat
Pengacara Indonesia (SPI) ,Ikatan Penasehat Hukum Indonesia (IPHI), Asosiasi
Konsultan Hukum Indonesia (AKHI), Himpunan Konsultan Hukum Pasar Modal
(HKHPM), Himpunan Advokat dan Pengacara Indonesia (HAPI) dan Asosiasi Pengacara
Syariah Indonesia (APSI). Dalam putusan Mahkamah Konstitusi perkara No.014/PUUIV/2006 itu, secara tegas menyatakan PERADI sebagai satu-satunya wadah profesi
Advokat pada dasarnya adalah organ negara dalam arti luas yang bersifat mandiri yang
juga melaksanakan fungsi negara. Fungsi negara yang dimaksud oleh MK, dengan
merujuk pada putusan atas perkara No. 006/PUU-II/2004, adalah kewajiban para advokat
pada umumnya untuk memberikan akses pada keadilan bagi semua orang.

MK juga menyatakan bahwa kedelapan Organisasi Advokat pendiri PERADI tetap


memiliki kewenangan selain kewenangan yang telah menjadi kewenangan PERADI,
sehingga tidak dapat dikatakan bahwa Pasal 28 Ayat (1) UU Advokat meniadakan
eksistensi kedelapan organisasi, yang karenanya melanggar prinsip kebebasan berserikat
dan berkumpul sebagaimana diatur UUD 1945.
Namun dalam perjalanannya organisasi advokat PERADI terpecah oleh karena
adanya ketidak puasan dari anggota PERADI itu sendiri yang menganggap pendirian
organisasi advokat Peradi sebagai wadah tunggal organisasi advokat sebagaimana yang
diamanatkan oleh undang-undang Advokat tidak demokratis sehingga muncul gagasan
untuk membentuk organsasi advokat yang baru yang lebih demokratis yaitu KAI
(Kongres Advokat Indonesia), setelah sempat diwarnai beberapa interupsi, advokat
senior Adnan Buyung Nasution akhirnya menengahi dengan memunculkan nama KAI
(Kongres Advokat Indonesia).
Akhirnya muncul perseteruan diantara kedua organsasi advokat tersebut. Reaksi
PERADI menilai KAI merupakan upaya beberapa advokat yang ingin menciderai,
menentang dan atau menolak eksistensi PERADI. Padahal, masih menurut iklan itu, para

advokat yang dimaksud adalah anggota PERADI. Sebagian diantaranya bahkan menjadi
bidan lahirnya PERADI dan sekarang duduk di kepengurusan. PERADI mengklaim KAI
tidak sah karena bertentangan dengan UU No. 18 Tahun 2003 tentang Advokat. KAI
dinilai akan merugikan dan menafikan eksistensi sekitar 19.000 advokat yang terdaftar
sebagai anggota PERADI. Soal keabsahan, PERADI menegaskan merekalah organisasi
profesi advokat yang diamanatkan UU Advokat. Pendiriannya pun sudah sesuai
mekanisme, delapan organisasi yang disebut UU Advokat bersepakat mendirikan
PERADI. 37

BAB III
PENUTUP
A.

KESIMPULAN

Dari sekilas uraian sejarah para advokat tersebut di atas, ada beberapa hal yang perlu dicatat
yaitu sebagai berikut:
Pertama, pada awalnya secara perorangan para advokat pernah menjadi bagian yang sangat
penting dalam pembentukan negara ini, baik pembentukan institusi, politik hukum, maupun
etika profesi para penegak hukum;
Kedua, dalam keterbatasan represi, para advokat secara perorangan organisasi masih mampu
berperan di dalam gerakan penegakkan hak asasi manusia di Indonesia;

37

Panas Menjelang Kongres Advokat Indonesia, www.hukumonline.com

Ketiga, pada masa jatuhnya Orde Baru sampai sekarang ini, para advokat sebagai individu
maupun organisasi menjadi sangat dilemahkan, hingga tidak mampu menolong dirinya
sendiri untuk berperan dalam menentukan politik hukum dan reformasi hukum (termasuk
institusi hukum), penegakkan hukum dan keadilan, hak asasi manusia, serta pemberantasan
korupsi, yang menjadi agenda utama reformasi. Bahkan, ada beberapa memperlihatkan
indikasi yang jelas tentang keterlibatannya dalam praktek-praktek koruptif di badan
peradilan;
Keempat, walaupun pada mulanya kedudukan advokat dipinggirkan baik oleh pemerintah
penjajahan

maupan

pemerintahan

Indonesia

setelah

merdeka,

namun

dalam

perkembangannya karena peranan advokat sangat penting dan dibutuhkan oleh masyarakat
pencari keadilan maka diberbagai perundang-undangan diatur tentang kedudukan advokat,
puncaknya pengaturan advokat diatur khusus dalam undang-undang yaitu undang-undang no
18 tahun 2003 tentang advokat. Namun sayangnya pasca lahirnya undang-undang no 18
tahun 2003 tentang advokat, terjadi perpecahan di internal organisasi advokat itu sendiri yaitu
PERADI dan KAI yang masing-masing mengklaim sebagai wadah tunggal organisasi
advokat, hal itu sangat disayangkan karena advokat dianggap tidak dapat melaksanakan
amanah sebagaimana ketentuan pasal 28 undang-undang no.18 tahun 2003 tentang advokat,
dan pada akhirnya akan merugikan bagi kalangan profesi advokat itu sendiri dan juga
masyarakat pada umumnya.
B.

SARAN
Saran kami, agar tugas makalah yang membahas tentang Sejarah Hukum Indonesia ini

dapat diapahami dan dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pembaca. Sehingga pembaca
dapat mengerti apa saja yang terkandung dalam peristiwa peristiwa yang terjadi pada
sejarah hukum di Indonesia baik di fase prakolonial hingga pada fase kemedekaan.

DAFTAR PUSTAKA

Najih, Muhammad dan Soimin, Pengantar Hukum Indonesia, Malang : Setara


Press,2012
Djamali , Abdoel, Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta : PT. Raja Grafindo
Persada,1996
Samidjo, Pengantar Hukum Indonesia, Bandung: CV. Armico, 1993
Kansil, C.S.T, Latihan Ujian Pengantar Hukum Indonesia, Jakarta: Sinar Grafika,
1999
Kansil, C.S.T, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Jakarta : Balai
Pustaka, 1989