Anda di halaman 1dari 11

BAB VII

STASIUN PENGUAPAN
VII.1 Proses Penguapan
Stasiun penguapan bertujuan untuk menguapkan kandungan air (kadar air dalam nira
80%-85%) yang berada dalam nira yang telah melalui serangkaian proses di stasiun
pemurnian sehingga diharapkan nira yang dihasilkan dari stasiun penguapan mempunyai
karakteristik nira yang lebih kental dan tidak merusak kandungan sukrosa.
Proses penguapan di pabrik gula dilaksanakan dengan dua proses yaitu :
1. Tahap pertama adalah menguapkan air yang terkandung di dalam nira encer sehingga
nira mempunyai batas kepekatan 30-32oBe. Tahap ini merupakan proses di stasiun
penguapan.
2. Tahap kedua adalah nira kental dengan kepekatan 30-32oBe diuapkan lagi hingga
mencapai kejenuhan yang tinggi dan membentuk kristal. Tahap ini merupakan proses
di stasiun masakan.
Hasil nira yang diharapkan di stasiun penguapan adalah nira kental yang mendekati
jenuh dengan kandungan brix 60-64%, kekentalan atau viskositas sebesar 30-32oBe, dan
kandungan airnya menjadi 35%. Jika brix yang dihasilkan > 64% akan terbentuk kristal di
badan penguapan sehingga dapat menyumbat pipa di dalam badan penguapan. Dan apabila
brix yang dihasilkan < 60% atau kekentalan nira rendah (< 30oBe) maka akan terjadi proses
penguapan yang kedua kalinya di stasiun masakan. Hal ini dapat menambah beban di proses
selanjutnya dan menyebabkan pemborosan uap, tenaga, dan waktu.

Gambar VII.1 Stasiun Penguapan


Di dalam proses penguapan yang mengalami perubahan adalah kadar air yang terdapat
pada nira dengan cara diuapkan, sedangkan zat terlarut tetap. Jadi dalam hal ini dapat
dikatakan bahwa total brix nira encer = total brix nira kental.
Air yang terkandung di dalam nira encer yang akan diuapkan berasal dari :
1. Air yang terkandung oleh tebu itu sendiri
2. Air imbibisi di stasiun gilingan
3. Air yang berasal dari penambahan susu kapur di stasiun pemurnian
4. Penambahan afzoet water pada rotary vacuum filter (RVF)
VII-1

Stasiun penguapan di PG Pagottan mempunyai 6 unit badan penguapan. Namun yang


beroperasi hanyalah 5 badan penguapan sedangkan yang 1 digunakan sebagai cadangan atau
saat scrub. Sehingga badan penguapan ini dioperasikan dengan sistem quintuple effect (5 unit
badan penguapan). Tekanan pada badan penguapan I, II, III, IV, dan V berbeda antara yang
satu dengan yang lain. Tekanan semakin rendah karena adanya vakum yang dipasang di badan
penguapan V dengan tekanan vakum 65 cmHg sehingga titik didih dalam badan penguapan
juga semakin rendah. Panas yang digunakan untuk badan penguapan berasal dari :
1. Badan penguapan I berasal dari uap bekas
2. Badan penguapan II berasal dari uap nira badan penguapan I dan disadap (bleeding
untuk pemanas pendahuluan I, pemanas pendahuluan III, dan masakan)
3. Badan penguapan III berasal dari uap nira badan penguapan II
4. Badan penguapan IV berasal dari uap nira badan penguapan III
5. Badan penguapan V berasal dari uap nira badan penguapan IV
Dalam pelaksanaan proses penguapan diharapkan agar waktu yang diperlukan untuk
proses penguapan sependek mungkin, tidak terjadi kerusakan pada kandungan gula, tidak
menimbulkan kerusakan lain yang dapat terjadi dalam proses selanjutnya, dan biaya yang
diperlukan rendah.
Suhu maksimal untuk bahan pemanas yaitu 115 oC. Hal ini dikarenakan sukrosa dapat
mengalami kerusakan pada suhu yang tinggi dan dapat mengakibatkan terbentuknya proses
karamelisasi. Dalam proses penguapan dilakukan dalam kondisi hampa (vacuum) di dalam
bejana kondensor dan dilaksanakan dengan cara seri (multiple effect) untuk menghemat
pemakaian uap yang akan digunakan selama proses. Semakin besar vacuum, maka semakin
rendah titik didihnya. Sehingga kecepatan penguapan akan semakin cepat. Dengan adanya
kondensor maka kondisi dari badan penguapan menjadi vacuum sehingga tekanan dari badan
penguapan I sampai badan penguapan berikutnya semakin rendah sehingga titik didih nira
akan semakin rendah pula. Akibat penurunan titik didih ini maka uap nira hasil pemanasan
badan penguapan I akan dapat digunakan untuk pemanasan pada badan penguapan
berikutnya. Kondisi normal untuk proses penguapan yaitu tekanan uap bekas 0,5-0,7 kg/cm 2
dengan suhu 120oC dan tekanan vacuum 65 cmHg.
Dengan demikian, kontsruksi alat penguapan yang digunakan menggunakan bahan
pemanas yang sekecil mungkin dan kerusakan sukrosa dapat dicegah akibat penurunan titik
didih.

VII.2 Skema Operasional Evaporator

VII-2

Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan


Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS

Gambar VII.2 Skema Operasional Evaporator


Pada saat proses penguapan berlangsung, ketinggian nira di dalam badan penguapan
dipertahankan antara 30-35% dari tinggi pipa nira. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh
antara ketinggian larutan nira dalam pipa terhadap koefisien perpindahan panas.
Berikut ini adalah data tekanan dan suhu dari masing-masing evaporator :
Tabel VII.1 Data Tekanan pada Evaporator
Evaporator
Evaporator
Evaporator
Evaporator
I
II
III
IV
Ruang Uap 0,7 kg/cm2
0,3 kg/cm2
0 kg/cm2
5-10 cmHg
0,2-0,3
Ruang Nira
0 kg/cm2
5-10 cmHg
30-40 cmHg
kg/cm2

Ruang Uap
Ruang Nira

VII-3

Tabel VII.2 Data Suhu pada Evaporator


Evaporator
Evaporator
Evaporator
Evaporator
I
II
III
IV
o
o
o
120 C
108 C
101 C
85-90oC
o
o
o
108 C
101 C
85-90 C
65-75oC

Evaporator
V
30-40 cmHg
60-65 cmHg

Evaporator
V
o
65-75 C
55-60oC

Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan


Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS

Gambar VII.3 Bagian-Bagian Evaporator

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
VII-4

Tabel VII.3 Bagian dan Fungsi Alat Evaporator


Nama Bagian
Fungsi
Untuk aliran uap nira menuju ke badan penguapan
Pipa pengeluaran uap nira
selanjutnya
Juice
separator
atau
Penangkap nira karena lonjakan nira di dalam badan
penangkap nira
Manometer uap
Untuk mengetahui tekanan uap
Untuk pengembalian nira yang tertangkap oleh juice
Pipa pengembalian nira
separator
Untuk pembuangan gas-gas yang tak terembunkan
Pipa amoniak
(gas amoniak)
Untuk pembuangan uap soda pada saat memasak soda
Pipa uap soda
dalam rangka pembersihan kerak (pada saat scrub )
Termometer
Untuk mengetahui suhu dari uap nira
Jalan untuk masuk ke dalam badan penguapan pada
Man hole
saat scrub atau pada saat mengontrol keadaan badan
penguapan (dalam keadaan tidak bekerja)
Untuk sirkulasi nira yang dipanaskan dan untuk keluar
Pipa jiwa
nira dari badan penguapan
Manometer uap
Untuk mengetahui tekanan uap
Sebagai penangkap nira yang akan keluar dari badan
Corong chapman
(BP)
Pipa uap baru
Untuk memasukka uap baru ke dalam badan
Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan
Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS

penguapan (BP) pada saat masak soda


Untuk aliran air kondensat (uap yang terembunkan)
Untuk mengetahui level nira di dalam badan
penguapan (BP)
Pipa untuk aliran nira keluar dari badan penguapan
(BP)
Pipa untuk pembuangan nira atau air pada saat badan
dibersihkan
Untuk nira di jalan pipa nira lurus
Pipa untuk aliran nira masuk ke dalam badan
penguapan (BP)
Jalan masuk ke badan penguapan dari bawah
Untuk memasukkan uap ke dalam badan penguapan
Untuk membuka dan menutup uap yang masuk ke
dalam badan penguapan
Untuk mengetahui suhu uap
Pompa pengaman apabila terjadi tekanan uap yang
melebihi ketentuan
Untuk nmengetahui kondisi nira di dalam badan
penguapan
Untuk melihat keadaan nira di dalam badan penguapan
Pipa untuk aliran biasa (dingin) pada saat pembersihan
badan / pressure pipa nira atau press trommol
Sebagai pipa mengalirnya nira
Sebagai tempat uap pemanas pipa nira
Sebagai penyebar uap yang masuk ke dalam badan
agar dapat rata sama

13.

Pipa air kondensat

14.

Gelas penduga

15.

Pipa out nira

16.

Pipa tap

17.

Afsluiter nira

18.

Pipa nira masuk

19.
20.

Man hole bawah


Pipa uap

21.

Afsluiter uap

22.

Termometer uap

23.

Safety valve

24.

Lampu penerangan

25.

Kaca penduga

26.

Pipa air

27.
28.

Pipa nira
Ruang uap

29.

Steam belt

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Tabel VII.4 Spesifikasi Evaporator I


Uraian
Keterangan
Jenis atau tipe
Robert
Tahun pembuatan / Merk
2008 / PT Trisula Abadi
Luas permukaan
2.000 m2
Pipa pemanas
Dia 50,8 x 2.400 mm
Jumlah pipa
5.635 buah
Bahan
SUS J4/ # 1,2 mm
Valve bleeding uap nira
47
Valve uap nira
40
Inlet / outlet nira
8
Valve kondensat
6
Valve amoniak, soda, air pencuci, padat air, tromol
4
Jumlah
1 unit

No

Tabel VII.5 Spesifikasi Evaporator II


Uraian

VII-5

Keterangan

Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan


Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Jenis atau tipe


Tahun pembuatan / Merk
Luas permukaan
Pipa pemanas
Jumlah pipa
Bahan
Valve bleeding uap nira
Valve uap nira
Inlet / outlet nira
Valve kondensat
Valve amoniak, soda, air pencuci, padat air, tromol
Jumlah

Robert
1991 / Ponco Engineering
1.400 m2
Dia 47,5/50,8 x 1.800 mm
4.540 buah
SUS 304 TP
47
40
8
6
4
1 unit

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.

Tabel VII.6 Spesifikasi Evaporator III, IV, dan V


Uraian
Keterangan
Jenis atau tipe
Robert
Tahun pembuatan / Merk
1991 / Karpindo Bagia
Luas permukaan
1.100 m2
Pipa pemanas
Dia 47,5/50,8 x 1.900 mm
Jumlah pipa
3.563 buah
Bahan
SUS 304 TP
Valve bleeding uap nira
47
Valve uap nira
40
Inlet / outlet nira
8
Valve kondensat
6
Valve amoniak, soda, air pencuci, padat air, tromol
4
Jumlah
1 unit

VII.2.1 Prosedur Pengoperasian Evaporator


1. Cara memulai proses penguapan (badan penguapan V scrub) :
a) Afsluiter pengeluaran uap nira badan penguapan I-IV dibuka sedangkan uap nira
badan penguapan V ke badan penguapan VI ditutup. Afsluiter bypass uap nira
antar badan ditutup.
b) Afsluiter pengeluaran nira encer badan penguapan I-IV dibuka, pengeluaran
badan penguapan V ditutup, dan pengeluaran badan penguapan VI dibuka, semua
valve masuk nira ditutup.
c) Pompa vacuum dan pompa injeksi dijalankan, vacuum kondensor hingga 65
cmHg.
d) Pancingan vacuum badan penguapan VI dibuka perlahan sampai vacuum 65
cmHg baru valve uap nira badan penguapan IV, 45 cmHg. Valve amoniak badan
VII-6

Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan


Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS

penguapan III dan badan penguapan IV dibuka maka akan terjadi vacuum yang
berbeda pada badan penguapan III dan badan penguapan IV.
e) Uap bekas untuk badan penguapan I dibuka perlahan begitu juga valve masuk
nira.
f) Permukaan nira tiap badan diatur 1/3 calandria dengan menyetel pemasukan dan
pengeluaran nira.
g) Pompa embun dijalankan.
h) Valve pembuangan gas ruang pemanas badan penguapan I dibuang ke udara.
i) Pengeluaran nira badan penguapan VI di pompa ke bejana sulfitasi nira kental.
2. Cara pengendalian dan menjaga proses penguapan
Mengendalikan alat agar berjalan dengan lancar berpedoman pada :
a) Pengaturan debit bahan pemanas atau penyediaan bahan pemanas harus cukup,
suhu 120oC dan tekanan minimal 0,5 cmHg.
b) Badan terakhir harus mencapai vacuum sekitar 60-65 cmHg.
c) Pengeluaran air kondensat tiap badan penguapan harus lancar.
d) Pengeluaran gas amoniak harus lancar.
3. Cara pemberhentian badan penguapan apabila badan penguapan V akan dilakukan
pembersihan :
a) Afsluiter input dan output nira badan penguapan V ditutup
b) Afsluiter pemasukan uap nira dari badan penguapan IV ditutup dan afsluiter uap
nira badan penguapan V ditutup.
c) Afsluiter bypass badan penguapan V dibuka.
d) Sisa nira badan penguapan V dikeluarkan dan dibilas dengan air.
e) Dilakukan masak soda setelah itu dilakukan pendidihan dan perendaman
kemudian dilakukan penyekrapan.
VII.2.2 Permasalahan yang Dapat Terjadi
Beberapa permasalahan yang dapat terjadi di badan penguapan atau evaporator adalah
sebagai berikut :
1. Level nira
Level nira harus dijaga 1/3 dari tinggi pipa agar transfer panas dapat terjadi
dengan baik. Cara mengatur level nira adalah dengan mengatur input dan output pada
masing-masing badan penguapan.
2. Tekanan vacuum kurang
Cara mengatasi apabila tekanan vacuum kurang adalah dengan memeriksa
kebocoran yang terjadi dan menutup kebocoran tersebut. Atau selain itu, dapat
dilakukan pemeriksaan air injeksi. Jika air injeksi kurang, maka dapat dilakukan
penambahan debit untuk air injeksi yang masuk.
3. Panas kurang
Jika uap bekas yang masuk di stasiun penguapan kurang maka dilakukan
pengecekan stasiun masakan. Ada kemungkinan stasiun masakan tidak menggunakan
bleeding. Pressing gilingan ditingkatkan lagi jika pressing kurang. Jika kedua masalah
tersebut sudah diselesaikan maka penambahan panas dapat dilakukan dengan
membuka supply uap baru.

VII-7

Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan


Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS

VII.3 Bejana Pengembun (Kondensor)


Bejana pengembun atau juga bisa disebut dengan kondensor adalah sebuah alat yang
berfungsi untuk membuat tekanan di satu ruangan atau badan penguapan menjadi kondisi
vacuum.
Tabel VII.7 Bagian dan Fungsi Bejana Pengembun
No
Nama Bagian
Fungsi
Dengan badan penguapan akhir ini pembuatan hampa
1.
Badan penguapan akhir
udara dilakukan
Untuk menangkap nira yang terikut uap nira dari
2.
Verkliker
badan penguapan akhir
Bejana kondensor
3.
Untuk mengembunkan uap nira menjadi air
Baromatis
Sebagai penangkap air agar tidak terhisap oleh pompa
4.
Penangkap air
vacuum
5.
Pipa vaccum
Sebagai pipa aliran tekanan udara vacuum
Sebagai pipa aliran pengembalian air yang terhisap
6.
Pipa air pengembalian
oleh pompa vacuum
Sebagai pipa aliran pengembalian air yang terhisap
7.
Pipa air injeksi
oleh pompa vacuum
Sebagai pipa aliran air injeksi dan air hasil
8.
Pipa air jatuhan
pengembunan
Untuk mengetahui suhu air jatuhan (suhu maksimal
9.
Termometer air jatuhan
45oC)
Untuk menampung air injeksi dan air hasil
10.
Kolam air jatuhan
pengembunan
11.
Peti penampung nira
Untuk menampung nira dari hasil tangkapan verkliker
12.
Pompa air injeksi
Sebagai pemompa air injeksi atau air pendingin
13.
Termometer air injeksi
Untuk mengetahui suhu air injeksi (maksimal 35oC)
Tempat air injeksi yang akan digunakan untuk
14.
Kolam air injeksi
pendingin
15.
Pompa vacuum
Untuk membuat udara vacuum
Bejana pengembun atau kondensor baromatis mempunyai ketinggian 11 m dari
permukaan tanah. Uap yang mengalir ke bejana pengembun adalah uap nira dari badan
penguapan atau evaporator I dengan suhu akhir 60 oC. Suhu air pendinginnya berasal dari air
permukaan dengan suhu 30-35oC yang berjumlah 200 liter/detik. Sedangkan untuk suhu air
jatuhannya memiliki nilai sebesar 40-45oC dengan jumlah 265 liter/detik.

No
1.
2.
3.
4.
VII-8

Tabel VII.8 Spesifikasi Alat Kondensor Baromatis


Uraian
Keterangan
Jenis atau tipe
Counter Flow Cascade
Tahun pembuatan / Merk
1993
Kapasitas
25 ton/jam
Konsumsi air
265 liter/detik
Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan
Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS

1 kg/cm2
400 mm
230 mm x tinggi 9.750 mm
200 x 300 x 500 x 1500 (mm)

5.
6.
7.
8.

Tekanan air
Diameter pipa jatuhan
Diameter badan penguapan
Diameter inlet-outlet

No
1.
2.
3.

Tabel VII.9 Spesifikasi Alat Pompa Vacuum


Uraian
Keterangan
Merk
E M (Elmo Motor)
Tahun pembuatan
2004
Kapasitas
40 m3/menit

VII.4 Tangki Air Kondensat


Tangki embun atau air kondensat adalah suatu alat untuk menampung air embun yang
tertahan di dalam ruang pemanas (ruang uap), dimana air kondensat ini harus dikeluarkan
secara kontinyu karena dapat menghambat proses pemanasan atau transfer panas.
Di tangki air kondensat terdapat kaca penduga yang apabila dilihat dari kaca penduga
tersebut pengeluaran air kondensat dari evaporator stabil dan tidak berjubel serta
bergelembung maka proses pengeluaran air kondensat berlangsung lancar dan tidak terjadi
gangguan.
Air kondensat yang keluar dari evaporator I dan II akan di pompa menuju bak
penampung khusus sebagai air pengisi boiler apabila air kondensat tersebut tidak mengandung
nira. Sedangkan air kondensat yang keluar dari evaporator III, IV, dan V di pompa menuju ke
bak penampungan khusus sebagai air proses. Hal tersebut dimungkinkan air kondensat
mengandung nira karena air kondensat yang keluar dari evaporator III, IV, dan V nira sudah
mengental.

Gambar VII.4 Alat Pengeluaran Air Embun (Kondensat) dari Evaporator


VII-9

Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan


Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS

No
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

No
1.
2.
3.
4.

Tabel VII.10 Bagian dan Fungsi Alat Pengeluaran Air Kondensat


Nama Bagian
Fungsi
Pipa pemasukan air
Sebagai pipa aliran air embun dari evaporator dan
Embun
masuk ke receiver
Untuk melihat dan memantau kelancaran aliran air
Kaca penduga
embun masuk ke receiver
Man hole
Sebagai jalan apabila receiver melakukan pembersihan
Sebuah tangki untuk menampung air embun yang
Receiver
keluar dari evaporator
Sebagai pipa aliran air embun dari receiver untuk
Pipa pengeluaran embun
masuk ke bak penampung
Merupakan pipa berbentuk U untuk memperlancar
Scaling vessel
pengeluaran air embun karena terjadinya vacuum
Pipa udara
Sebagai pipa aliran udara uap air embun
Untuk memindahkan air embun dari dalam receiver ke
Pompa
bak penampung

Tabel VII.11 Spesifikasi Tangki Kondensat Evaporator I


Uraian
Keterangan
Jenis atau tipe
Tahun pembuatan / Merk
Dimensi Tangki :
- Panjang
- 80 cm
- Diameter
- 150 cm
Jumlah
1 unit

4.

Tabel VII.12 Spesifikasi Tangki Kondensat Evaporator II


Uraian
Keterangan
Jenis atau tipe
Tahun pembuatan / Merk
Dimensi Tangki :
- Panjang
- 180 cm
- Diameter
- 100 cm
Jumlah
1 unit

No
1.
2.
3.

Tabel VII.13 Spesifikasi Tangki Kondensat Evaporator III


Uraian
Keterangan
Jenis atau tipe
Tahun pembuatan / Merk
Dimensi Tangki :

No
1.
2.
3.

VII-10

Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan


Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS

4.

No
1.
2.
3.
4.

- Panjang
- Diameter
Jumlah

- 210 cm
- 100 cm
1 unit

Tabel VII.14 Spesifikasi Tangki Kondensat Evaporator IV


Uraian
Keterangan
Jenis atau tipe
Tahun pembuatan / Merk
Dimensi Tangki :
- Panjang
- 180 cm
- Diameter
- 110 cm
Jumlah
1 unit

Tabel VII.15 Spesifikasi Tangki Kondensat Gabungan Evaporator IV, V, VI (Bawah Tanah)
No
Uraian
Keterangan
1.
Jenis atau tipe
2.
Tahun pembuatan / Merk
Dimensi Tangki :
3.
- Panjang
- 500 cm
- Diameter
- 180 cm
4.
Jumlah
1 unit

VII-11

Laporan Kerja Praktek PG. Pagottan


Program Studi D3Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri - ITS