Anda di halaman 1dari 10

A.

TENTANG AQIDAH
1. Menurut Hasan al-Banna:



Aqidah adalah beberapa perkara yang wajib diyakini keberadaannya oleh hatimu,
mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak bercampur
sedikitpun dengan keragu-raguan
Al-Banna, Majmuatu ar-Rasail. Muassasah ar-Risalah Beirut: tanpa
tahun. h.165
2. Munurut Abu Bakar Jabir al-Jazairy:

, , ,
,
Aqidah adalah sejumlah kebenaran yang dapat diterima secara umum (axioma)
oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fithrah. (Kebenaran) itu dipatrikan
oleh manusia di dalam hati serta diyakini kesahihan dan kebenarannya secara pasti
dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu
Al-Jazairy, Aqidah al-Mukmin. h. 21
3. Fungsi Aqidah

Aqidah adalah dasar, fondasi untuk mendirikan bangunan. Semakin tinggi


bangunan yang akan didirikan harus semakin kokoh pula fondasi yang dibuat.
Kalau fondasinya lemah bangunan itu akan cepat ambruk. Tidak ada bangunan
tanpa fondasi. Kalau ajaran Islam kita bagi dalam sistimatika Aqidah Ibadah
Akhlak dan Muamalat, atau Aqidah Syariah dan Akhlak, atau Iman Islam dan
Ihsan, maka ketiga/keempat aspek tersebut tidak bisa dipisahkan sama sekali. Satu
sama lain saling terkait. Seseorang yang memiliki aqidah yang kuat, pasti akan
melaksanakan ibadah dengan tertib, memiliki akhlak yang mulia dan

bermuamalat dengan baik. Ibadah seseorang tidak akan diterima oleh Allah swt
kalau tidak dilandasi dengan aqidah. Misalnya orang nonmuslim memberi beras
kepada seorang yang miskin, amal ibadah orang itu nilainya NOL di hadapan
Allah, Allah tidak menerima ibadahnya karena orang itu tidak punya landasan
aqidah.
Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam (Cet. VIII; Yogyakarta: LPPI, 2004),
177.
4. Delapan Kaidah Aqidah

1. Apa yang saya dapat dengan indera saya, saya yakin adanya, kecuali bila akal
saya mengatakan tidak berdasarkan pengalaman masa lalu. Misalnya, bila saya
untuk pertama kali melihat sepotong kayu di dalam gelas berisi air putih kelihatan
bengkok, atau melihat genangan air di tengah jalan [fatamorgana], tentu saja saya
akan membenarkan hal itu. Tapi bila terbukti kemudian bahwa hasil penglihatan
indera saya salah maka untuk kedua kalinya bila saya melihat hal yang sama, akal
saya langsung mengatakan bahwa yang saya lihat tidak demikian adanya.
2. Keyakinan, di samping diperoleh dengan menyaksikan langsung, juga bias
melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita. Banyak hal yang
memang tidak atau belum kita saksikan sendiri tapi kita meyakini adanya.
Misalnya anda belum pernah ke Thailand, Afrika atau Yaman, tapi anda meyakini
bahwa negeri-negeri tersebut ada. Atau tentang fakta sejarah, tentang Daulah
Abbasiyah, Umayyah atau tentang kerajaan Majapahit, dan lain-lain, anda
meyakini kenyataan sejarah itu berdasarkan berita yang anda terima dari sumber
yang anda percaya.
3. Anda tidak berhak memungkiri wujudnya sesuatu, hanya karena anda tidak bisa
menjangkaunya dengan indera anda. Kemampuan alat indera memang sangat
terbatas. Telinga tidak bisa mendengar suara semut dari jarak dekat sekalipun,
mata tidak bisa menyaksikan semut dari jarak jauh. Oleh karena itu, seseorang

tidak bisa memungkiri wujudnya sesuatu hanya karena inderanya tidak bisa
menyaksikannya.
4. Seseorang hanya bisa menghayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh
inderanya.
Khayal manusiapun terbatas. Anda tidak akan bisa menghayalkan sesuatu yang
baru sama sekali. Waktu anda menghayalkan kecantikan seseorang secara fisik,
anda akan menggabungkan unsur-unsur kecantikan dari banyak orang yang sudah
pernah anda saksikan.
5. Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan ruang dan waktu.
Tatkala mata mengatakan bahwa tiang-tiang listrik berjalan waktu kita
menyaksikannya lewat jendela kereta api akal dengan cepat mengoreksinya. Tapi
apakah akal bisa memahami dan menjangkau segala sesuatu? Tidak. Karena
kemampuan akalpun terbatas. Akal tidak bisa menjangkau sesuatu yang tidak
terikat dengan ruang dan waktu.
6. Iman adalah fithrah setiap manusia. Setiap manusia memiliki fithrah
mengimani adanya Tuhan. Pada saat seseorang kehilangan harapan untuk hidup,
padahal dia masih ingin hidup, fithrahnya akan menuntun dia untuk meminta
kepada Tuhan. Misalnya bila anda masuk hutan, dan terperosok ke dalam lubang,
pada saat anda kehilangan harapan untuk bisa keluar dari lubang tiu, anda akan
berbisik Oh Tuhan!
7. Kepuasan

materil di dunia sangat terbatas. Manusia tidak akan pernah puas

secara materil. Seorang yang belum punya sepeda ingin punya sepeda. Setelah
punya sepeda ingin punya motor dan seterusnya sampai mobil, pesawat, dan lain
lain. Bila keinginan tercapai maka akan berubah menjadi sesuatu yang biasa,
tidak ada rasa kepuasan pada keinginan itu. Selalu saja keinginan manusia itu
ingin lebih dari apa yang sudah di dapatnya secara materil. Dan keinginan
manusia akan dipuaskan secara hakiki di alam sesudah dunia ini.
8. Keyakinan tentang hari akhir adalah konsekuensi logis dari keyakinan tentang
adanya Allah. Jika anda beriman kepada Allah, tentu anda beriman dengan segala

sifat-sifat Allah, termasuk sifat Allah Maha Adil. Kalau tidak ada kehidupan lain
di akhirat, bisakah keadilan Allah itu terlaksana? Bukankah tidak semua penjahat
menanggung akibat kejahatannya di dunia ini? Bukankah tidak semua orang yang
berbuat baik merasakan hasil kebaikannya?. Bila anda menonton film, ceritanya
belum selesai tiba-tiba saja dilayar tertulis kalimat Tamat, bagaimana komentar
anda? Oleh sebab itu, iman anda dengan Allah menyebabkan anda beriman
dengan adanya alam lain sesudah alam dunia ini yaitu Hari Akhir.
Aminuddin, Modul Aqidah (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta,
2009)

Muhammad bin Abdullah At Tuwaijry, Tauhid, keutamaan dan macammacamnya, (www.islamhouse.com, 2007)
Muhammad

bin

Abdul

Wahab,

Kitab

Tauhid,

(http://www.scribd.com/doc/10055486/Kitab-Tauhid, Yayasan Al-Sofwa, 2007)


Maktabah Abu Syeikha Bin Imam Al Magety, Rahasia di balik kalimat Tauhid
dalam

ayat-ayat

Al

Quran,

(http://www.4shared.com/file/41066124/ed75e1eb/RAHASIA_KALIMAT_TAUH
ID.html?s=1, 2008)
Syaikh

Muhammad

At-Tamimi,

Dasar-dasar

Memahami

Tauhid,

(www.perpustakaan-islam.com, Islamic Digital Library, 2006)


B. Penjelasan Ringkas Tentang Rukun Iman
1. Iman Kepada Allah Taala
Iman kepada Allah adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah adalah Rabb
dan Raja segala sesuatu, Dialah Yang Mencipta, Yang Memberi Rizki, Yang
Menghidupkan, dan Yang Mematikan, hanya Dia yang berhak diibadahi.
Kepasrahan, kerendahan diri, ketundukan, dan segala jenis ibadah tidak boleh
diberikan kepada selain-Nya, Dia memiliki sifat-sifat kesempurnaan, keagungan,
dan kemuliaan, serta Dia bersih dari segala cacat dan kekurangan.

Mempercayai bahwa Allah itu adalah Zat (essensi) dan Ada (eksistensi)
pada Allah Maha Esa itu merupakan satuan, Ada pada Allah itu bersifat mutlak,
berbeda dengan eksistensi manusia bersifat nisbi. Aliran Sunni menambahkan
beberapa Sifat-Ilah yang merupakan suatu kemestian, yaitu Azali (al-Qidam),
kekal tanpa batas (al-Baqa), berbeda dengan setiap kebaharuan (Mukhlafat lil
Hawdits), keberadaannya itu pada zat-Nya sendiri (Qiymuhu bi Nafsihi), maha
esa (al-Wahdniyat), berkemampuan tanpa batas (al-Qudrat), berkemauan tanpa
hambatan (al-Irdat), tahu atas setiap sesuatu (al-u), hidup (al-Hayt), mendengar
(al-Samak), menyaksikan (al-Bashar), berbicara menurut zat-Nya (al-Kalam).
2. Iman Kepada Para Malaikat-Nya
Iman kepada malaikat adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah memiliki
malaikat-malaikat, yang diciptakan dari cahaya. Mereka, sebagaimana yang telah
dijelaskan oleh Allah, adalah hamba-hamba Allah yang dimuliakan. Adapun yang
diperintahkan kepada mereka, mereka laksanakan. Mereka bertasbih siang dan
malam tanpa berhenti. Mereka melaksanakan tugas masing-masing sesuai dengan
yang diperintahkan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam riwayat-riwayat
mutawatir dari nash-nash Al-Quran maupun As-Sunnah. Jadi, setiap gerakan di
langit dan di bumi, berasal dari para malaikat yang ditugasi di sana, sebagai
pelaksanaan perintah Allah Azza wa Jalla. Maka, wajib mengimani secara tafshil
(terperinci), para malaikat yang namanya disebutkan oleh Allah, adapun yang
belum disebutkan namanya, wajib mengimani mereka secara ijmal (global).

3. Iman Kepada Kitab-Kitab


Maksudnya adalah, meyakini dengan sebenarnya bahwa Allah memiliki
kitab-kitab yang diturunkan-Nya kepada para nabi dan rasul-Nya, yang benarbenar merupakan Kalam (firman, ucapan)-Nya. Ia adalah cahaya dan petunjuk.
Apa yang dikandungnya adalah benar. Tidak ada yang mengetahui jumlahnya
selain Allah. Wajib beriman secara ijmal, kecuali yang telah disebutkan namanya
oleh Allah, maka wajib baginya mengimaninya secara tafshil, yaitu Taurat, Injil,
Zabur, dan Al-Quran. Selain wajib mengimani bahwa Al-Quran diturunkan dari

sisi Allah, wajib pula mengimani bahwa Allah telah mengucapkannya


sebagaimana Dia telah mengucapkan seluruh kitab lain yang diturunkan. Wajib
pula melaksanakan berbagai perintah dan kewajiban serta menjauhi berbagai
larangan yang terdapat di dalamnya. Al-Quran merupakan tolok ukur kebenaran
kitab-kitab terdahulu. Hanya Al-Quranlah yang dijaga oleh Allah dari pergantian
dan perubahan. Al-Quran adalah Kalam Allah yang diturunkan, dan bukan
makhluk, yang berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya.
4. Iman Kepada Rasul-rasul
Iman kepada rasul-rasul adalah keyakinan yang kuat bahwa Allah telah
mengutus para rasul untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya.
Kebijaksanaan-Nya telah menetapkan bahwa Dia mengutus para rasul itu kepada
manusia untuk memberi kabar gembira dan ancaman kepada mereka. Maka, wajib
beriman kepada semua rasul secara ijmal sebagaimana wajib pula beriman secara
tafshil kepada siapa di antara mereka yang disebut namanya oleh Allah, yaitu 25
diantara mereka yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Quran. Wajib pula beriman
bahwa Allah telah mengutus rasul-rasul dan nabi-nabi selain mereka, yang
jumlahnya tidak diketahui oleh selain Allah, dan tidak ada yang mengetahui
nama-nama mereka selain Allah Yang Maha Mulia dan Maha Tinggi. Wajib pula
beriman bahwa Muhammad shalalallahu alaihi wa salam adalah yang paling mulia
dan penutup para nabi dan rasul, risalahnya meliputi bangsa jin dan manusia, serta
tidak ada nabi setelahnya.
Kecuali mesti beriman terhadap Nabi Muhammad, yang merupakan bagian
kedua pada Syahadatain, maka setiap Muslim diwajibkan pula mempercayai
Rasul-Rasul Allah pada masa-masa sebelumnya dan memuliakannya. Di dalam
kitab suci Al-Qur'an terdapat nama dua puluh lima Rasul Allah, yang satu
persatunya disebutkan dengan nyata, yaitu : Adam, Idris, Nuh, Hud, Shalih,
Ibrahim, Luth, Ismail, Ishak, Yaakub, Yusuf, Ayub, Zulkifli, Syu'aib, Musa, Harun,
Daud, Sulaiman, Ilyas, Ilyasa, Yunus, Zakharia, Yahya, Isa,
Beberapa dalil mengenai adanya rasul Allah adalah sebagai berikut:
1)

"Kami utus pada setiap ummat itu seorang Rasul", (Nahal, 16:36).

2)

"Kami tidak akan memikulkan siksa (atas sesuatu ummat) kecuali lebih dahulu
Kami utus seorang Rasul," (Isra', 17:15).
5. Iman Kepada Kebangkitan Setelah Mati
Iman kepada kebangkitan setelah mati adalah keyakinan yang kuat tentang
adanya negeri akhirat. Di negeri itu Allah akan membalas kebaikan orang-orang
yang berbuat baik dan kejahatan orang-orang yang berbuat jahat. Allah
mengampuni dosa apapun selain syirik, jika Dia menghendaki. Pengertian albats
(kebangkitan) menurut syari adalah dipulihkannya badan dan dimasukkannya
kembali nyawa ke dalamnya, sehingga manusia keluar dari kubur seperti belalangbelalang yang bertebaran dalam keadaan hidup dan bersegera mendatangi
penyeru. Kita memohon ampunan dan kesejahteraan kepada Allah, baik di dunia
maupun di akhirat.
6. Iman Kepada Takdir Yang Baik Maupun Yang Buruk Dari Allah
Taala.
Iman kepada takdir adalah meyakini secara sungguh-sungguh bahwa segala
kebaikan dan keburukan itu terjadi karena takdir Allah. Allah taala telah
mengetahui kadar dan waktu terjadinya segala sesuatu sejak zaman azali, sebelum
menciptakan dan mengadakannya dengan kekuasaan dan kehendak-Nya, sesuai
dengan apa yang telah diketahui-Nya itu. Allah telah menulisnya pula di dalam
Lauh Mahfuzh sebelum menciptakannya. Allah berfirman Sesungguhnya Kami
menciptakan segala sesuatu menurut qadar (ukuran). (Al-Qomar: 49)
Pengaruh Iman terhadap Kehidupan Seorang Muslim
Berikut ini adalah pembahasan mengenai pengaruh dan dampak keimanan
seseorang muslim terhadap perilakunya sehari-hari.

a.

Pengaruh Iman Kepada Allah


Iman kepada Allah serta iman kepada sifat-sifatnya akan mempengaruhi
perilaku seorang muslim, sebab keyakinan yang ada dalam dirinya akan
dibuktikan pada dampak perilakunya. Jika seseorang telah beriman bahwa Allah
itu ada, Maha Melihat dan Maha Mendengar, maka dalam perilakunya akan

senantiasa berhati-hati dan waspada, ia tidak akan merasa sendirian, kendati tidak
ada seorang manusiapun di sekitarnya, sebab ia yakin bahwa Allah itu ada. Karena
itu selama iman itu ada dalam dirinya, tidak mungkin ia dapat berbuat yang tidak
sesuai dengan perintah Allah.
b.

Pengaruh Iman Kepada Malaikat


Keyakinan terhadap adanya malaikat, bukan hanya sebatas mengetahui nama dan
tugas-tugasnya, akan berpengaruh terhadap perilaku manusia. Jika kita yakin ada
malaikat yang mencatat semua amal baik dan buruk kita, maka seorang muslim
akan senantiasa berhati-hati dalam setiap perbuatannya karena ia akan menyadari
bahwa semua perilakunya tersebut akan dicatat oleh malaikat. Begitu juga dengan
keyakinan adanya malaikat, maka seorang muslim akan senantiasa optimis dan
yakin perbuatan yang baiknya tidak akan sia-sia dilakukan. Oleh karena itu iman
kepada malaikat akan melahirkan sikap berhati-hati, optimis, dan dimanis, tidak
mudah putus asa atau kecewa.

c.

Pengaruh Iman Kepada Kitab


Iman kepada kitab Allah bagi manusia dapat memberikan keyakinan yang
kuat akan kebenaran jalan yang ditempuhnya, karena jalan yang harus ditempuh
manusia telah diberitahukan Allah dalam kitab suci. Manusia tidak memiliki
kemampuan untuk melihat masa depan yang akan ditempuhnya setelah kehidupan
untuk melihat masa depan yang akan ditempuhnya setelah hidup berakhir, maka
dengan

pemberitahuan

kitab

suci

manusia

dapat

mengatur

hidupnya

menyesuaikan dengan rencana Allah, sehingga manusia mempunyai masa depan


yang jelas.
d.

Pengaruh Iman Kepada Rasul


Iman kepada rasul merupakan kebutuhan manusia, karena dengan adanya
rasul maka manusia dapat melihat contoh-contoh perilaku dan teladan terbaik
yang sesuai dengan apa yang diharapkan Allah. Dengan perilaku yang
dicontohkan Rasulullah, maka manusia akan mempunyai pegangan yang jelas dan
lengkap mengenai berbagai tuntutan kehidupan baik yang berhubungan dengan
Allah, hubungan antar manusia maupun lainnya.

e.

Pengaruh Iman Kepada Hari Akhir

Beriman kepada hari akhir atau hari kiamat adalah keyakinan akan
datangnya hari akhir sebagai ujung perjalanan umat manusia. Keimanan tersebut
akan melahirkan sikap optimis, yakni bahwa tidak akan ada yang sia-sia dalam
kehidupan manusia, karena semuanya akan dipertanggungjawabkan amal ibadah
dan balasannya. Manusia tidak akan kecewa apabila di dunia ia tidak memperolah
balasan dari amal perbuatannya, karena ia yakin di hari akhir ia akan memperoleh
balasan apa yang ia perbuat di dunia ini. Apabila seorang muslim yakin akan hari
akhir, maka ia akan terhindar dari sikap malas dan suka melamun, melainkan ia
akan terus berproses dan mencari makna kehidupan.
f.

Pengaruh Iman Kepada Takdir


Beriman kepada takdir akan melahirkan sikap optimis, tidak mudah
kecewa dan putus asa, sebab yang menimpanya ia yakini sebagai ketentuan yang
telah Allah takdirkan kepadanya dan Allah akan memberikan yang terbaik kepada
seorang muslim, sesuai dengan sifatnya yang Maha Pengasih dan Maha
Penyayang. Oleh karena itu, jika kita tertimpa musibah maka ia akan bersabar,
sebab buruk menurut kita belum tentu buruk menurut Allah, sebaliknya baik
menurut kita belum tentu baik menurut Allah. Karena itu dalam kaitan dengan
takdir ini segogjayanya lahir sikap sabar dan tawakal yang dibuktikan dengan
terus menerus berusaha sesuai dengan kemampuan untuk mencari takdir yang
terbaik dari Allah.

Ahyadi. 2009. Bahan Kuliah PAI. Sumedang: PG PAUD STKIP UNSAP


Muhammad Nur. 1987. Muhtarul Hadis. Surabaya: Pt. Bina Ilmu.
Miftah Faridl. 1995. Pokok-pokok Ajaran Islam. Bandung: Penerbit Pustaka
Syed Mahmudunnasir. 1994. Islam, Konsepsi dan Sejarahnya. Bandung: Rosdakarya.
Toto Suryana, Dkk. 1996. Pendidikan Agama Islam. Bandung: Tiga Mutiara