Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Pembangunan kesehatan merupakan bagian terpadu dari Pembangunan Nasional yang antara
lain mempunyai tujuan untuk mewujudkan bangsa yang maju dan mandiri serta sejahtera lahir
batin. Salah satu ciri bangsa yang maju adalah bangsa yang mempunyai derajat kesehatan yang
tinggi, karena derajat kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh pada
kualitas sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang sehat akan lebih produktif dan
meningkatkan daya saing bangsa. Oleh karena itu pembangunan kesehatan menempati peran
penting dalam Pembangunan Nasional.
Kesehatan adalah tanggungjawab bersama dari setiap individu, masyarakat, pemerintah dan
swasta. Apapun peran yang dimainkan pemerintah, tanpa kesadaran individu dan masyarakat
untuk secara mandiri menjaga kesehatan mereka, hanya sedikit yang akan dicapai. Perilaku sehat
dan kemampuan masyarakat untuk memilih dan mendapatkan pelayanan kesehatan yang
bermutu sangat menentukan keberhasilan pembangunan kesehatan.
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu
indikator derajat kesehatan. Namun, masalah kematian ibu dan bayi di Indonesia masih
merupakan masalah besar. Dengan demikian, pelayanan kesehatan ibu dan anak menjadi
prioritas utama dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.
Bidan merupakan salah satu tenaga kesehatan yang memiliki posisi penting dan strategis
terutama dalam penurunan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB).
Kebidanan berasal dari kata Bidan yang artinya adalah seseorang yang telah mengikuti
pendidikan tersebut dan lulus serta terdaftar atau mendapat ijin melakukan praktek kebidanan.
Sedangkan kebidanan sendiri mencakup pengetahuan yang dimiliki bidan dan kegiatan
pelayanan yang dilakukan untuk menyelamatkan ibu dan bayi yang dilahirkan. Sudah
merupakan tugas seorang bidan sebagai tenaga kesehatan untuk mengetahui masalah pelayanan
kebidanan yang meliputi kematian ibu dan bayi, kehamilan remaja, angka kejadian BBLR, PUS
(Pasangan Usia Subur), Pertolongan persalinan oleh tenaga non medis, dan IMS.
B.

Rumusan Masalah
Apa saja masalah kebidanan di komunitas ?

C.

Tujuan
Untuk mengetahui masalah pelayanan kebidanan.di komunitas

BAB II
PEMBAHASAN
1.1 Kematian Ibu dan Bayi
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu
indikator derajat kesehatan. Namun, masalah kematian ibu dan bayi di Indonesia masih
merupakan masalah besar. Dengan demikian, pelayanan kesehatan ibu dan anak menjadi
prioritas utama dalam pembangunan kesehatan di Indonesia.
a. Kematian Ibu.
Kematian ibu adalah kematian yang terjadi pada ibu selama masa kehamilan atau dalam
42 hari setelah berakhirnya kehamilan, tanpa melihat usia dan lokasi kehamilan, oleh setiap
penyebab yang berhubungan dengan atau diperberat oleh kehamilan atau penanganannya tetapi
bukan oleh kecelakaan atau incid. (Depkes RI, 2009).
Angka Kematian Ibu (AKI) merupakan tolak ukur keberhasilan kesehatan ibu, yang
manjadi indikator terpenting untuk menilai kualitas pelayanan obstetri dan ginekologi di suatu
wilayah. Menurut SDKI tahun 2007, AKI di Indonesia tahun 2007 sebesar 248/100.000
kelahiran hidup. Jika dibandingkan dengan AKI menurut SDKI tahun 2003 sebesar 307/100.000
kelahiran hidup, AKI tersebut sudah jauh menurun, namun masih jauh dari target MDGs 2015
yaitu sebesar 102/100.000 kelahiran hidup. Sehingga masih memerlukan kerja keras dari semua
komponen untuk mencapai target tersebut. Bidan sebagai tenaga kesehatan dalam tatanan
pelayanan kebidanan komunitas terdepan, mempunyai peranan penting dalam penurunan AKI
yang dinilai masih tinggi.
b.
Kematian Bayi
Kematian bayi adalah kematian yang terjadi saat setelah bayi lahir sampai bayi belum
berusia tepat 1 tahun (Depkes RI, 2009). Menurut SDKI tahun 2003, AKB sebesar 35/1000
kelahiran hidup. Sedangkan berdasarkan perhitungan BPS tahun 2007 sebesar 27/1000 kelahiran
hidup. Adapun target AKB pada MDGs 2015 sebesar 17/1000 kelahiran hidup. Penyebab
kematian bayi meliputi : Gangguan perinatal (34,7%), Sistim pernapasan (27,6 %), Diare
(9,4%), Sistim pencernaan (4,3%) dan Tetanus (3,4%).
c.
Upaya menurunkan AKI dan AKB:
1.
Melaksanakan kelas ibu hamil berkualitas
2.
Pelaksanaan P4K yang berkualitas
3.
Membangun kemitraan bidan dan dukun
4.
Implentasi pertolongan persalinan empat tangan di fasilitas kesehatan
5.
Implentasi penempatan bidan di desa dan berdomisili di desa
6.
Peningkatan fungsi PONED
7.
Optimalisasi desa siaga
d.
Peran bidan
1.
Melakukan pencatatan kelahiran dan kematian ibu dan bayi serta mengidentifikasi
penyebab kematian ibu dan bayi dengan melibatkan peran serta masyarakat.
2.
Bekerja sama dengan tokoh masyarakat untuk mengadakan desa siaga yang meliputi
pengaturan transportasi setempat yang siap melakukan rujukan kedaruratan, mengadakan
pengaturan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu atau dapat mengadakan tabungan ibu
bersalin pada ibu hamil sebagai persiapan untuk biaya persalinannya nanti, melakukan
pengorganisasian donor darah berjalan serta mencari calon pendonor bagi ibu bersalin nanti
sebagai antisipasi jika dalam persalinan ibu terjadi perdarahan sehingga tidak sampai terjadi
kematian ibu.
3.
Melakukan pelaksanaan pertemuan rutin GSI (gerakan sayang ibu) dalam promosi
suami, bidan dan desa SIAGA
1.2.
a.

Kehamilan Remaja

Pengertian
Di Indonesia rata-rata kehamilan remaja terjadi pada usia 14-19 tahun. Hal ini didapatkan
dari hasil survey knowledge, attitude, practice. Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi
pada wanita usia 14-19 tahun baik melalui proses pranikah atau nikah. Hal masa depanpun

menjadi masalah misalnya malu terhadap teman,lingkungan dan juga merasa remaja sudah
musnah. Selain itu ketidak stabilan emosi dan ekonomi juga sangat mempengaruhi apalagi jika
hal ini terjadi pada keluarga yang kurang mampu. Maka akan terjadi penolakan terhadap anak
yang nanti akan dilahirkan.
b.
Hal yang mengakibatkan terjadinya kehamilan remaja antara lain :
1.
Kurangnya peran orang tua dalam keluarga
Perhatian dan peran orang tua amat berpengaruh besar terhadap perkembangan mental dan
kejiwaan si anak. Anak yang tidak merasakan ketentraman didalam keluarganya akan cenderung
mencari ketentraman di luar dengan berbagai cara, ada kalanya mereka melakukan hal-hal yang
banyak diantaranya yang cenderung melakukan hal-hal negatif sebagai bentuk kekesalan mereka
terhadap orang tua.
2.
Perkembangan IPTEK yang tidak didasari dengan perkembangan mental yang kuat
Semakin majunya IPTEK membuat para remaja semakin mudah untuk mendapatkan informasiinformasi mengenai seks dan apabila hal ini tidak didasari dengan perkembangan mental yang
kuat maka dapat membuat para remaja terjerumus ke arah pergaulan yang salah dan sehingga
terciptalah perbuatan-perbuatan yang tidak sesuai dengan norma dan agama yang berlaku
3.
Kurangnya Pendidikan Seks dari Orang Tua dan Keluarga terhadap Remaja
Berdasarkan penelitian yang didapat sejak September 2007 yang dilakukan di 4 kota di
Indonesia. Dengan mengambil 450 responden dan dengan kisaran usia antara 15 24 tahun,
kategori masyarakat umum dan dengan kelas sosial menengah ke atas dan ke bawah. Didapakan
informasi bahwa sekitar 65% informasi tentang seks didapat dari kawan 35% dari film porno.
Dan hanya 5% yang mendapatkan informasi tentang seks dari orang tua
c.
Masalah yang timbul akibat kehamilan remaja
1.
Masalah Kesehatan reproduksi
Kesehatan reproduksi merupakan masalah penting untuk mendapatkan perhatian terutama
dikalangan remaja. Remaja yang kelak akan menikah dan menjadi orang tua sebaiknya
mempunyai kesehatan reproduksi yang prima sehingga dapat menurunkan generasi sehat.
Dikalangan remaja telah terjadi semacam revolusi hubungan seksual yang menjurus kearah
diberalisasi yang dapat berakibat timbulnya berbagai penyakit hubungan seks yang merugikan
alat reproduksi. Bila pada saatnya diperlukan untuk hamil normal, besar kemungkinan kesehatan
reproduksi sudah tidak optimal dan dapat menimbulkan berbagai akibat samping kehamilan.
Dengan demikian dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan kesehatannya sehingga dapat
mempersiapkan diri untuk hamil dalam keadaan optimal.
2.
Masalah Psikologi Pada Kehamilan Remaja
Remaja yang hamil diluar nikah menghadapi berbagai masalah psikologis yaitu rasa takut,
kecewa, menyesal, dan rendah diri terhadap kehamilannya sehingga terjadi usaha untuk
menghilangkan dengan jalan gugur kandung. Gugur kandung mempunyai kerugian yang paling
kecil bila dibandingkan dengan melanjutkan kehamilan. Keadaan akan makin rumit bila pemuda
atau laki-laki yang menghamili malah tidak bertanggung jawab sehingga derita hanya
ditanggung sendiri dengan keluarga. Keluargapun menghadapi masalah yang sulit ditengah
masyarakat seolah-olah tidak mampu memberikan pendidikan moral pada anak gadisnya.
3.
Masalah sosial dan ekonomi keluarga
Perkawinan yang dianggap dapat menyelesaikan masalah kehamilan remaja tidak lepas dari
kemelut seperti:
1)
Penghasilan yang terbatas sehingga kelangsungan hamilnya dapat menimbulkan
berbagai masalah kebidanan
2)
Putus sekolah sehingga pendidikan jadi terlantar
3)
Putus kerja, karena berbagai alasan, sehingga menambah sulitnya masalah sosial
ekonomi
4)
Ketergantungan sosial ekonomi pada keluarga menimbulkan stres (tekanan batin)
5)
Nilai gizi yang relatif rendah dapat menimbulkan berbagai masalah kebidanan
Bila remaja memilih untuk mengasuh anaknnya sendiri, masyarakat belum siap menerima
kelahiran tanpa pernikahan berbeda halnya dengan negara maju seperti Amerika, masyarakat
sudah dapat menerima kehamilan sebagai hasil hidup bersama

4. Dampak Kebidanan Kehamilan Remaja


1)
Keguguran
Keguguran pada usia muda dapat terjadi secara tidak disengaja. misalnya : karena terkejut,
cemas, stres. Tetapi ada juga keguguran yang sengaja dilakukan oleh tenaga non profesional
sehingga dapat menimbulkan akibat efek samping yang serius seperti tingginya angka kematian
dan infeksi alat reproduksi yang pada akhirnya dapat menimbulkan kemandulan.
2)
Persalinan prematur, berat badan lahir rendah (BBLR) dan kelainan bawaan
Prematuritas terjadi karena kurang matangnya alat reproduksi terutama rahim yang belum siap
dalam suatu proses kehamilan, berat badan lahir rendah (BBLR) juga dipengaruhi gizi saat hamil
kurang dan juga umur ibu yang belum menginjak 20 tahun. cacat bawaan dipengaruhi kurangnya
pengetahuan ibu tentang kehamilan, pengetahuan akan asupan gizi rendah, pemeriksaan
kehamilan (ANC) kurang, keadaan psikologi ibu kurang stabil. selain itu cacat bawaan juga di
sebabkan karena keturunan (genetik) proses pengguguran sendiri yang gagal, seperti dengan
minum obat-obatan (gynecosit sytotec) atau dengan loncat-loncat dan memijat perutnya sendiri.
3)
Mudah terjadi infeksi
Keadaan gizi buruk, tingkat sosial ekonomi rendah, dan stress memudahkan terjadi infeksi saat
hamil terlebih pada kala nifas.
4) Anemia kehamilan / kekurangan zat besi
Penyebab anemia pada saat hamil di usia muda disebabkan kurang pengetahuan akan pentingnya
gizi pada saat hamil di usia muda.karena pada saat hamil mayoritas seorang ibu mengalami
anemia. tambahan zat besi dalam tubuh fungsinya untuk meningkatkan jumlah sel darah merah,
membentuk sel darah merah janin dan plasenta.lama kelamaan seorang yang kehilangan sel
darah merah akan menjadi anemis.
5)
Keracunan Kehamilan
Kombinasi keadaan alat reproduksi yang belum siap hamil dan anemia makin meningkatkan
terjadinya keracunan hamil dalam bentuk pre-eklampsia atau eklampsia. Pre-eklampsia dan
eklampsia memerlukan perhatian serius karena dapat menyebabkan kematian.
6)
Kematian ibu yang tinggi
Kematian ibu pada saat melahirkan banyak disebabkan karena perdarahan dan infeksi. Selain itu
angka kematian ibu karena gugur kandung juga cukup tinggi.yang kebanyakan dilakukan oleh
tenaga non profesional (dukun).
a. Pencegahan Kehamilan Remaja
1. Tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah
2.
Kegiatan positif
3.
Hindari perbuatan yang memberi dorongan negatif misalnya perilaku sex.
4.
Jangan terjebak pada rayuan gombal
5.
Hindari pergi dengan orang yang tidak terkenal
6.
Mendekatkan diri pada Tuhan
7. Penyuluhan meliputi Kesehatan Reproduksi Remaja,Keluarga Berencana (alat
kontrasepsi, kegagalan dan solusinya), kegiatan rohani dengan tokoh agama.
8.
Bagi pasangan menikah sebaiknya menggunakan alat kontrasepsi yang tingkat
kegagalannya rendah, misalnya steril, AKBK, AKDR, dan suntik.
b.

Peran Bidan
Bersikap bersahabat jangan mencibir
Konseling kepada remaja dan keluarga meliputi kehamilan dan persalinan.
3.
Membantu mencari penyelesaian masalah yaitu dengan menyelesaikan secara
kekeluargaan, segera menikah.
4.
Periksa kehamilan sesuai standart
5.
Gangguan jiwa atau resiko tinggi segera rujuk ke Sp.OG
6.
Bila ingin abortus maka berikan konseling resiko abortus.
1.
2.

1.3. UNSAFE ABORTION

Aborsi tidak aman (Unsafe Abortion) adalah penghentian kehamilan yang dilakukan oleh
orang yang tidak terlatih/kompeten dan menggunakan sarana yang tidak memadai, sehingga
menimbulkan banyak komplikasi bahkan kematian. (Bidan Menyongsong Masa Depan, PP IBI).
Unsafe abortion adalah upaya untuk terminasi kehamilan muda dimana pelaksanaan tindakan
tersebut tidak mempunyai cukup keahlian dan prosedur standar yang aman sehingga dapat
membahayakan keselamatan jiwa pasien. (Behrman Kliegman, 2000:167).
Unsafe abortion adalah prosedur penghentian kehamilan oleh tenaga kurang terampil (tenaga
medis/non medis), alat tidak memadai, lingkungan tidak memenuhi syarat kesehatan (WHO,
1998).
Dalam pasal 15 (1) UU Kesehatan Nomor 23/1992 disebutkan bahwa dalam keadaan darurat
sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu hamil dan atau janinnya, dapat dilakukan tindakan
medis tertentu. Sedangkan pada ayat 2 tidak disebutkan bentuk dari tindakan medis tertentu itu,
hanya disebutkan syarat untuk melakukan tindakan medis tertentu.
Berdasarkan UU Kesehatan RI No. 36 Thn 2009, Pasal 75 bahwa setiap orang dilarang
melakukan aborsi dapat dikecualikan berdasarkan indikasi kedaruratan media yang dideteksi
sejak usia dini kehamilan dan aturan ini diperkuat dengan Pasal 77 yang berisi pemerintah wajib
melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75
mengenai tindakan aborsi yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab sera
bertentangan dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Dengan demikian pengertian aborsi yang didefinisikan sebagai tindakan tertentu untuk
menyelamatkan ibu dan atau bayinya (pasal 15 UU Kesehatan) adalah pengertian yang sangat
rancu dan membingungkan masyarakat dan kalangan medis.
1. Penyebab
Umumnya aborsi yang tidak aman terjadi karena tidak tersedianya pelayanan kesehatan yang
memadai. Apalagi bila aborsi dikategorikan tanpa indikasi medis, seperti :
a. Alasan kesehatan, dimana ibu tidak cukup sehat untuk hamil.
b. Alasan psikososial, dimana ibu tidak sendiri tidak punya anak lagi.
c. Kehamilan di luar nikah.
d . Masalah ekonomi, menambah anak akan menambah beban ekonomi.
e. Masalah sosial, misalnya khawatir adanya penyakit turunan.
f. Kehamilan yang terjadi akibat perkosaan.
g. Kegagalan pemakaian alat kontrasepsi.
2. Ciri Ciri
a. Dilakukan oleh tenaga medis atau non medis
b. Kurangnya pengetahuan baik pelaku ataupun tenaga pelaksana
c. Kurangnya fasilitas dan sarana
d. Status illegal
3.

Dampak

a. Dampak sosial
Biaya lebih banyak, dilakukan secara sembunyi - sembunyi.
b. Dampak kesehatan
Bahaya bagi ibu bisa terjadi perdarahan dan infeksi.
c. Dampak psikologis

4.

Trauma
Komplikasi
Komplikasi yang sering terjadi akibat tindakan-tindakan yang tidak aman terhadap

kehamilan yang tidak diinginkan misalnya dengan melakukan abortus provokatus oleh dukun,
dengan meminum jamu-jamuan, ramuan.
Pengakhiran kehamilan yang tidak aman menurut WHO yaitu pengakhiran kehamilan yang
tidak dikehendaki dengan cara yang mempunyai resiko tinggi terhadap keselamatan jiwa
perempuan tersebut sebab dilakukan oleh individu yang tidak mempunyai pengetahuan dan
ketrampilan yang sangat diperlukan, serta memakai peralatan yang tidak memenuhi persyaratan
minimal bagi suatu tindakan medis tersebut.
Akibat dari tindakan yang tidak aman tersebut akan memberikan resiko infeksi, perdarahan,
sisa hasil konsepsi yang tertinggal di dalam rahim dan perforasi yang pada akhirnya dapat
menyebabkan kematian apabila tidak mendapatkan pertolongan yang segera.
Tingginya AKI mengindikasikan masih rendahnya tingkat kesejahteraan penduduk dan
secara tidak langsung mencerminkan kegagalan pemerintah dan masyarakat untuk mengurangi
resiko kematian ibu.

Peningkatan kualitas perempuan merupakan salah satu syarat

pembangunan sumber daya manusia.


Strategi untuk menurunkan risiko kematian karena aborsi tidak aman adalah dengan
menurunkan demand perempuan terhadap aborsi tidak aman. Ini dapat dimungkinkan bila
pemerintah mampu menyediakan fasilitas keluarga berencana yang berkualitas dilengkapi
dengan konseling.
Konseling keluarga berencana dimaksudkan untuk membimbing klien melalui komunikasi
dan pemberian informasi yang obyektif untuk membuat keputusan tentang penggunaan salah
satu metode kontrasepsi yang memadukan aspek kesehatan dan keinginan klien, tanpa
menghakimi. Bagi remaja yang belum menikah, perlu dibekali dengan pendidikan seks sedini
mungkin sejak mereka mulai bertanya mengenai seks. Namun, perlu disadari bahwa risiko
terjadinya kehamilan selalu ada, sekalipun pasangan menggunakan kontrasepsi. Bila akses
terhadap pelayanan aborsi yang aman tetap tidak tersedia, maka akan selalu ada demand
perempuan terhadap aborsi tidak aman.
5. Hukum
Menurut KUHP orang yang dapat dihukum adalah orang yang menggugurkan kandungan
seorang wanita, juga wanita yang digugurkan kandungannya. Sedangkan dalam praktek yang
tidak dihukum adalah dokter yang melakukan aborsi dengan indikasi medis, yaitu dengan tujuan
untuk menyelamatkan jiwa atau menjaga kesehatan wanita yang bersangkutan.
Persoalannya, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) kita yang merupakan
peninggalan masa kolonialisasi Belanda melarang keras dilakukannya aborsi dengan alasan
apapun sebagaimana diatur dalam pasal 283, 299 serta pasal 346 349. Bahkan pasal 299
intinya mengancam hukuman pidana penjara maksimal empat tahun kepada siapa saja yang
memberi harapan kepada seorang perempuan bahwa kandungannya dapat digugurkan.
6. Peran Bidan
a. Sex education

b. Bekerja sama dengan tokoh agama dalam pendidikan keagamaan


c. Peningkatan sumber daya manusia
d. Penyuluhan tentang abortus dan bahayanya
7. Kriteria Aborsi yang Aman
1. Dilakukan oleh pekerja kesehatan yang benar-benar terlatih dan berpengalaman
melakukan aborsi
2. Pelaksanaannya mempergunakan alat-alat kedokteran yang layak.
3. Dilakukan dalam kondisi bersih, apapun yang masuk dalam vagina atau rahim harus
steril atau tidak tercemar kuman dan bakteri.
4. Dilakukan kurang dari 3 bulan (12 minggu) sesudah pasien terakhir kali mendapat haid.
1.4. BBLR
Salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat adalah angka kematian
bayi (AKB). AKB merupakan indikator yang lazim digunakan untuk menentukan derajat
kesehatan masyarakat, baik pada tataran provinsi maupun nasional. Beberapa penyebab
kematian bayi baru lahir (neonatus) yang terbanyak di Indonesia diantaranya BBLR 29%,
asfiksia 27%, tetanus neonatorum 10%, masalah pemberian makanan 10%, gangguan
hematologik 6%, infeksi 5%, dan lain-lain 13%.
Prevalensi bayi berat lahir rendah (BBLR) menurut WHO (2007) diperkirakan 15% dari
seluruh kelahiran di dunia dengan batasan 3,3%-38% dan lebih sering terjadi di negara-negara
berkembang atau sosio-ekonomi rendah. Secara statistik menunjukkan 90% kejadian BBLR
didapatkan di negara berkembang dan angka kematiannya 35 kali lebih tinggi dibanding pada
bayi dengan berat lahir lebih dari 2500 gram. Data dari WHO (2009) menyebutkan bahwa angka
kejadian BBLR di Indonesia adalah 10,5%.
a.

Definisi
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500
gram. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu hamil anemia, kurang suplay gizi waktu
dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan. Bayi yang lahir dengan berat badan rendah perlu
penanganan yang serius, karena pada kondisi tersebut bayi mudah sekali mengalami hipotermi
yang biasanya akan menjadi penyebab kematian. (Depkes RI, 2006).
BBLR adalah neonatus dengan berat badan lahir pada saat lahir (yang diukur dalam 1 jam
setelah lahir) kurang dari 2500 gram, tanpa memandang usia kehamilan. (Depkes RI, 1999)
Menurut Saifudin, dkk (2000), BBLR diklasifikasikan menjadi :
1.
Bayi berat lahir rendah (BBLR) yaitu berat lahir 1500 2500 gram
2.
Bayi berat lahir sangat rendah (BBLSR) yaitu berat lahir < 1500 gram
3.
Bayi baru lahir ekstrem rendah (BBLER) yaitu berat lahir < 1000 gram
Bayi dengan berat badan lahir rendah, akan mengalami beberapa masalah diantaranya:
Asfiksia, Gangguan nafas, Hipotermi, Hipoglikemi, Masalah pemberian ASI, Infeksi, Ikterus
dan Masalah perdarahan.
b.
Ciri-ciri BBLR
1.
Berat < 2.500 gram
2.
Panjang badan < 45 cm
3.
Lingkar dada < 30 cm
4.
Lingkar kepala < 33 cm
5.
Usia kehamilan < 37 minggu
6.
Kepala relatif besar, kepala tidak mampu tegak
7.
Kulit tipis, transparan, lemak kulit kurang, otot hipotonik- lemah.
8.
Pernafasan tidak teratur, dll.
c.

Penyebab BBLR
Menurut Depkes (1993) terdapat tiga faktor yang mempengaruhi terjadinya BBLR, yaitu:
1.
Faktor Ibu
a. Gizi ibu hamil yang kurang

Kekurangan gizi pada ibu hamil dapat memengaruhi proses pertumbuhan janin dan
dapat menimbulkan keguguran, abortus, bayi lahir mati, kematian neonatal, cacat bawaan,
anemia pada bayi, asfiksia. Intra partum (mati dalam kandungan) lahir dengan berat badan
rendah (BBLR). Indikator lain untuk mengetahui status gizi ibu hamil adalah dengan mengukur
LILA. LILA adalah Lingkar Lengan Atas. LLA kurang dari 23,5 cm merupakan indikator kuat
untuk status gizi yang kurang/ buruk. Ibu berisiko untuk melahirkan anak dengan Berat Badan
Lahir Rendah (BBLR).
b.
Umur kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
Kelahiran bayi BBLR lebih tinggi pada ibu-ibu muda berusia kurang dari 20 tahun. Remaja
seringkali melahirkan bayi dengan berat lebih rendah. Hal ini terjadi karena mereka belum matur
dan mereka belum memiliki sistem transfer plasenta seefisien wanita dewasa. Pada ibu yang tua
meskipun mereka telah berpengalaman, tetapi kondisi badannya serta kesehatannya sudah mulai
menurun sehingga dapat memengaruhi janin intra uterin dan dapat menyebabkan kelahiran
BBLR. Faktor usia ibu bukanlah faktor utama kelahiran BBLR, tetapi kelahiran BBLR tampak
meningkat pada wanita yang berusia di luar usia 20 sampai 35 tahun.
c.
Jarak hamil dan persalinan terlalu dekat
Jarak kehamilan kurang dari 2 tahun dapat menimbulkan pertumbuhan janin kurang baik,
persalinan lama dan perdarahan pada saat persalinan karena keadaan rahim belum pulih dengan
baik. Ibu yang melahirkan anak dengan jarak yang sangat berdekatan (di bawah dua tahun) akan
mengalami peningkatan risiko terhadap terjadinya perdarahan pada trimester III, termasuk
karena alasan plasenta previa, anemia dan ketuban pecah dini serta dapat melahirkan bayi
dengan berat lahir rendah.
d.
Paritas ibu
Anak lebih dari 4 dapat menimbulkan gangguan pertumbuhan janin sehingga melahirkan bayi
dengan berat lahir rendah dan perdarahan saat persalinan karena keadaan rahim biasanya sudah
lemah.
2.
Faktor Kehamilan
a.
Hamil dengan polihidramnion
Polihidramnion adalah keadaan di mana banyaknya air ketuban melebihi 2000 cc.
Polihidramnion harus dianggap sebagai kehamilan dengan risiko tinggi karena dapat
membahayakan ibu dan anak.
b.
Hamil ganda
Berat badan satu janin pada kehamilan kembar rata-rata 1000 gram lebih ringan daripada janin
kehamilan tunggal. Berat badan bayi yang baru lahir umumnya pada kehamilan kembar kurang
dari 2500 gram. Suatu faktor penting dalam hal ini ialah kecenderungan terjadinya partus
prematurus.
c.
Perdarahan antepartum
Perdarahan antepartum merupakan perdarahan pada kehamilan diatas 22 minggu hingga
mejelang persalinan yaitu sebelum bayi dilahirkan. Komplikasi utama dari perdarahan
antepartum adalah perdarahan yang menyebabkan anemia dan syok yang menyebabkan keadaan
ibu semakin jelek. Keadaan ini yang menyebabkan gangguan ke plasenta yang mengakibatkan
anemia pada janin bahkan terjadi syok intrauterin yang mengakibatkan kematian janin
intrauterine. Bila janin dapat diselamatkan, dapat terjadi berat badan lahir rendah, sindrom gagal
napas dan komplikasi asfiksia.
d.
Preeklamsi dan eklampsi
Pre-eklampsia dan Eklampsia dapat mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan janin
dalam kandungan atau IUGR dan kelahiran mati. Hal ini disebabkan karena Preeklampsia/Eklampsia pada ibu akan menyebabkan perkapuran di daerah plasenta, sedangkan
bayi memperoleh makanan dan oksigen dari plasenta, dengan adanya perkapuran di daerah
plasenta, suplai makanan dan oksigen yang masuk ke janin berkurang.
e.
Ketuban pecah dini
Ketuban Pecah Dini (KPD) disebabkan oleh karena berkurangnya kekuatan membran yang
diakibatkan oleh adanya infeksi yang dapat berasal dari vagina dan serviks. Pada persalinan

normal selaput ketuban biasanya pecah atau dipecahkan setelah pembukaan lengkap, apabila
ketuban pecah dini, merupakan masalah yang penting dalam obstetri yang berkaitan dengan
penyulit kelahiran prematur dan terjadinya infeksi ibu.
3.
Faktor Janin
a.
Cacat bawaan / kelainan congenital
Kelainan kongenital merupakan kelainan dalam pertumbuhan struktur bayi yang timbul
sejak kehidupan hasil konsepsi sel telur. Bayi yang dilahirkan dengan kelainan kongenital,
umumnya akan dilahirkan sebagai Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR) atau bayi kecil untuk masa
kehamilannya. Bayi Berat Lahir Rendah dengan kelainan kongenital yang mempunyai berat
kira-kira 20% meninggal dalam minggu pertama kehidupannya.
b.
Infeksi dalam Rahim
Infeksi hepatitis terhadap kehamilan bersumber dari gangguan fungsi hati dalam mengatur dan
mempertahankan metabolisme tubuh, sehingga aliran nutrisi ke janin dapat terganggu atau
berkurang. pengaruh infeksi hepatitis menyebabkan abortus atau persalinan prematuritas dan
kematian janin dalam rahim. Wanita hamil dengan infeksi rubella akan berakibat buruk terhadap
janin. Infeksi ini dapat menyebabkan bayi berat lahir rendah, cacat bawaan dan kematian janin.
c.

Penanganan
1.
Pengaturan suhu lingkungan
Terapi inkubator, dengan pengaturan suhu
BB < 2 kg
: 350C
BB 2 kg 2,5 kg
: 34 oC,
suhu inkubator diturunkan 1 oC setiap minggu, sampai bayi dapat ditempatkan pada suhu
lingkungan (24 27 oC).
2.
Makanan bayi
Umumnya refleks menghisap belum sempurna. Kapasitas lambung masih kecil dan daya enzim
pencernaan (lipase) masih kurang, sedangkan kebutuhan protein 3-5 gr/kg BB dan kalori 110
Kal/kg BB sehingga pertumbuhannya dapat meningkat. ASI merupakan makanan yang paling
utama, sehingga ASI yang paling dahulu diberikan. ASI dapat diperas dan di minumkan
perlahan-lahan atau dengan memasang sonde menuju lambung. Permulaan cairan diberikan
sekitar 50-60 cc/kg BB/hari dan terus dinaikkan sampai mencapai sekitar 200 cc/kg BB/hari.
Pemberian makanan dilakukan menggunakan pipet sedikit namun sering, perhatikan
kemungkinan terjadinya pneumonia aspirasi). (Wiknjosastro H, 2007)

d.

Pencegahan
1.
Meningkatkan pemeriksaan kehamilan, upayakan ANC yang berkualitas, segera
lakukan rujukan apabila ditemukan kelainan
2.
Meningkatkan gizi masyarakat
3. Tingkatkan penerimaan gerakan KB
4.
Penyuluhan kesehatan
5.
Melakukan konsultasi terhadap penyakit yang dapat menyebabkan kehamilan dan
persalinan preterm.

e. Peran bidan
1.
Melakukan KIE pada waktu pemeriksaan kehamilan tentang asupan nutirsi selama
hamil dan meninjau ulang status pekerjaan dan membantu membuat keputusan
mengenai persalinan. Mengkaji kesiapan ibu untuk kelahiran dan persalinan serta
kesiapan keluarga untuk bayi baru lahir.
2.
Meningkatkan peran serta keluarga dan masyarakat agar mau menerima pelayanan
KIA sebagai upaya untuk mencegah kejadian BBLR dan penangananya.
3.
Bekerja sama dengan tokoh masyarakat untuk mengadakan desa siaga yang meliputi
pengaturan transportasi setempat yang siap melakukan rujukan kedaruratan,
mengadakan pengaturan biaya bagi masyarakat yang tidak mampu.

1.5 Tingkat kesuburan


1.

PUS dengan Fertilitas tinggi


Tingkat fertilitas/ tingkat kesuburan yang mana sumbernya adalah PUS (pasangan usia
subur) merupakan salah satu masalah kebidanan yang perlu mendapatkan perhatian karena
dengan tingginya tingkat fertilitas tanpa diiringi oleh tingkat pengetahuan akan sistem
reproduksi akan meningkatkan AKI dan AKB. Peran bidan adalah dengan memberikan KB yang
sesuai.
2.
PUS dalam masa prakonsepsi
Masa prakonsepsi adalah masa persiapan sebelum memasuki masa pembuahan dan kehamilan.
Pada masa ini pasutri (PUS) dapat merencanakan kehamilan dengan berbagai persiapan yang
lebih matang. Peran bidan disini adalah membantu persiapan pra konsepsi dengan:
a)
Pemberian informasi pola hidup sehat seperti pola makan, olahraga, istirahat cukup,
tidak mengkonsumsi minuman beralkohol dan tidak merokok.
b)
Konseling variasi hubungan seksual dan cara menghitung masa subur.
c)
Pemeriksaan fisik dan tes-tes kesehatan.
3.
PUS dengan masalah Infertilitas (Kemandulan)
Tingkat kesuburan seseorang memegang peranan yang sangat penting bagi pasangan suami istri.
Tingkat kesuburan dibedakan menjadi fertilitas/kesuburan dan infertilitas/ketidaksuburan.
Tingkat kesuburan dapat menjadi masalah yang serius. Untuk itu bidan harus mampu mengenal
masalah kesuburan dan ketidaksuburan pada pasangan suami istri.
a. Definisi Infertil
Infertilitas adalah kegagalan dari pasangan suami-istri untuk mengalami kehamilan setelah
melakukan hubungan seksual, tanpa kontrasepsi, selama satu tahun (Sarwono,497).
Ketidaksuburan (infertil) adalah suatu kondisi dimana pasangan suami istri belum mampu
memiliki anak walaupun telah melakukan hubungan seksual sebanyak 2 3 kali seminggu
dalam kurun waktu 1 tahun dengan tanpa menggunakan alat kontrasepsi jenis apapun
(Djuwantono,2008). Secara medis infertil dibagi menjadi dua jenis, yaitu:
1). Infertile primer
Berarti pasangan suami istri belum mampu dan belum pernah memiliki anak setelah satu tahun
berhubungan seksual sebanyak 2 3 kali perminggu tanpa menggunakan alat kontrasepsi dalam
bentuk apapun.
2) . Infertile sekunder
Berarti pasangan suami istri telah atau pernah memiliki anak sebelumnya tetapi saat
ini belum mampu memiliki anak lagi setelah satu tahun berhubungan seksual sebanyak 2 3 kali
perminggu tanpa menggunakan alat atau metode kontrasepsi jenis apapun. (Djuwantono,2008,
hal: 2).
Berdasarkan hal yang telah disebutkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa pasangan
suami istri dianggap infertile apabila memenuhi syarat-syarat berikut:
1)
Pasangan tersebut berkeinginan untuk memiliki anak.
2)
Selama satu tahun atau lebih berhubungan seksual, istri sebelum mendapatkan
kehamilan.
3)
Frekuensi hubungan seksual minimal 2 3 kali dalam setiap minggunya.
4)
Istri maupun suami tidak pernak menggunakan alat ataupun metode kontrasepsi,
baik kondom, obat-obatan dan alat lain yang berfungsi untuk mencegah kehamilan.
(Djuwantono,2008, hal: 3).
b.
Pencegahan
1)
Berbagai macam infeksi diketahui menyebabkan infertilitas terutama infeksi
prostate, buah zakar, maupun saluran sperma. Karena itu, setiap infeksi didaerah
tersebut harus ditangani serius (Steven RB,1985).

2)

Beberapa zat dapat meracuni sperma. Banyak penelitihan menunjukan pengaruh


buruk rokok terhadap jumlah dan kualitas sperma (Steven RB,1985).
3)
Alcohol dalam jumlah banyak dihubungkan dengan rendahnya kadar hormone
testosterone yang tentunya akan menganggu pertumbuhan sperma (Steven
RB,1985).
4)
Berperilaku sehat (Dewhurst,1997).
Peran bidan
1)
Meningkatkan peran serta kedua pasangan untuk dapat saling bekerjasama dalam
menangani masalah infertilitas.
2)
Melakukan rujukan sehingga pasangan infertil mendapat penanganan yang tepat
3)
Konseling tentang variasi dalam hubungan seksual, cara menghitung masa subur,
makanan yang dapat meningkatkan kesuburan suami atau isteri.

c.

1.6 Pertolongan Persalinan oleh Tenaga Non Medis


a.

Definisi
Pertolongan persalinan oleh tenaga non medis yaitu proses persalinan yang dibantu oleh
tenaga non kesehatan yang biasa dikenal dengan istilah dukun bayi. Dalam tatanan masyarakat
yang masih memegang tradisi adat, dukun masih memegang peranan yang sangat penting.
Adanya asumsi pada masyarakat kita bahwa melahirkan di dukun mudah dan murah, merupakan
salah satu penyebab terjadinya pertolongan persalinan oleh tenaga non kesehatan.
b. Penyebab
Penyebab persalinan di tenaga non medis:
1.
Disparitas antar wilayah (Jauh dari nakes)
2.
Pendidikan (Pendidikan yang rendah)
3.
Ekonomi (Ibu dengan tingkat penghasilan rendah hampir lima kali lebih besar
melakukan persalinan dirumah dibandingkan dengan ibu dengan tingkat pengeluaran tinggi)
c. Penanganan
Penanganannya dengan diadakan program penempatan bidan di desa yang bertujuan untuk
menurunkan tingkat kematian ibu hamil, bayi dan balita. Kecuali hal-hal yang berhubungan
dengan adat dan kebiasaan masyarakat setempat, dengan menjalin hubungan kemitraan antara
keduanya.
d. Peran bidan
Bekerja sama dengan tokoh masyarakat untuk mengadakan desa siaga yang meliputi pengaturan
transportasi setempat yang siap melakukan rujukan kedaruratan, mengadakan pengaturan biaya
bagi masyarakat yang tidak mampu.
1.7 PMS/IMS
a.
Definisi
IMS adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan kelamin atau kontak intim
( Jan Tambayong,2000:195). IMS adalah penyakit yang disebabkan karena adanya invasi
organisme virus, bakteri, parasit dan kutu kelamin yang sebagian besar menular melalui
hubungan seksual, baik yang berlainan jenis ataupun sesama jenis. (Aprilianingrum, 2002).
Umumnya mata rantai penularan IMS adalah PSK. Rasio penularan akan meningkat bila
pemakaian kondom dan hubungan seksual dengan PSK tidak dilakukan. PMS banyak ditemui
Gonorrhoe (GO), sifilis, trikomoniasis, herpes simpleks, HIV/AIDS. Penularan penyakit tidak
selalu harus melalui hubungan kelamin. Penyakit dapat terjadi pada orang-orang yang belum
pernah melakukan hubungan kelamin. Sebagian penderita adalah akibat korban keadaan diluar
kemampuan mereka, dalam arti mereka sudah berusaha sepenuhnya untuk tidak mendapat
penyakit, tetapi kenyataan masih juga terjangkit (Adhi Jduanda, 2007).
b.

Gejala
Sebenarnya mengenali gejala infeksi menular seksual cukup mudah, yaitu dengan mengecek
apakah ada cairan seperti nanah keluar dari vagina, penis ataudubur, lalu cairan ini biasanya
berupa lendir dalam jumlah banyak, bau dan kental. Terasa pedih atau panas ketika buang air
kecil atau saat melakukan hubungan seksual, nyeri di perut bagian bawah (pada wanita) dan di
buah zakar (pada pria), serta bokong dan kaki. Gejala umum IMS yaitu:

1.
Perubahan pada kulit disekitar kemaluan
2.
Gatal pada alat kelamin.
3. Terasa nyeri saat buang air kecil.
4.
Muncul cairan tertentu, dan terlihat tidak normal
5.
Ada perubahan yang tidak wajar seperti melepuh, lecet, luka, muncul bintil, ruam atau
pembengkakan di kelamin atau sekitar kelamin.
6. Ada benjolan yang mencurigakan
7.
Berdarah dan nyeri saat berhubungan
c.
Pengobatan IMS
1.
Yang terbaik adalah mencegah tertular : tidak berhubungan seks, berhubungan hanya
dengan satu pasangan yang setia. Jika berganti-ganti pasangan, selalu gunakan kondom. juga
jangan bertukar alat suntik.
2.
Kunjungi klinik dokter secara rutin setiap bulan untuk pemeriksaan.
3.
Bila ada keluhan segera periksa ke dokter.
4.
Jangan mengobati diri sendiri. Penggunaan antibiotika tanpa pengawasan dokter akan
sangat merugikan. Setiap jenis IMS punya obatnya sendiri-sendiri.
5.
Bila ragu-ragu, ajaklah teman anda untuk bersama-sama ke dokter.
d.

Peran Bidan
Peran bidan dalam pemberantasan IMS ditegaskan dalam kompetensi kedua Permenkes No.
900 /MENKES/SK/VII/2002 yaitu:
1.
Penyuluhan kesehatan mengenai PMS, HIV/AIDS.
2.
Dalam kewenangan yang telah ditetapkan ini, bidan dapat melakukan :
a)
Bidan sebagai role model memberi contoh sikap yang baik pada masyarakat.
b)
Memberikan konseling pada masyarakat terutama remaja dan pasangan suami istri
tentang kesehatan reproduksi.
c)
Memberikan konseling pada masyarakat tentang penyebab dan akibat IMS dan
bekerjasama dengan tokoh masyarakat dan tokoh agama dalam pelaksanaan penyuluhan pada
masyarakat.
d) Mewaspadai gejala - gejala dan mendeteksi dini adanya IMS
1.8 Perilaku dan sosial budaya yang berpengaruh pada pelayanan kebidanan komunitas
a. pengertian
Budaya adalah suatu pola hidup yang menyeluruh.
Kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem
ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia dalam kehidupan sehari-hari kebudayaan
itu bersifat abstrak. Beberapa perilaku dan aspek sosial budaya yang mempengaruhi pelayanan
kebidanan di komunitas antara lain :
1. Health believe
Tradisi-tradisi yang diberlakukan secara turun temurun dalam pemberian makanan bayi.
Contohnya : di daerah nusa tenggara barat ada pemberian nasi papah atau di jawa dengan
tradisi nasi pisang
2. Life style
Gaya hidup yang berpengaru terhadap kesehatan
Contohnya gaya hidup kawin cerai di lombok atau gaya hidup perokok
3. Health seeking behavior
Salah satu bentuk perilaku sosial budaya yang mempercayai apa bilah seseorang sakit tidak
perlu pelayanan kesehatan, akan tetapi cukup dengan membeli obat di warung atau mendatangi
dukun
b. Perilaku sosial budaya yang berpengaruh pada pelayanan kebidanan komunitas pada ibu
hamil dan ibu bersalin
1. Hamil
Beberapa contoh perilaku sosial budaya masyarakat yangh berkaitan dengan kehamilan antara
lain :

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
2.
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Upacara upacara yang di lakukan untuk mengupayakan keselamatan bagi janin dalam
prosesnya menjadi bayi hingga saat kelahirannya adalah upacara mitoni, procotan,dan brokohan
Mengidam, dikotomi panas dingin
Larangan masuk hutan
Pantangan keluar waktu maghrib
Pantangan menjalin rambut karena bisa menyebabkan lilitan tali pusat
Tidak boleh duduk di depan pintu
Tidak boleh makn pisang dempet
Persalinan
Beberapa contoh perilaku sosial budaya dalam persalinan yang ada di masyarakat antara lain :
Bayi laki-laki adalah penerus keluarga yang akan menjaga nama baik
Bayi perempuan adalah pelanjut atau penghasil keturunan
Memasuki minyak ke dalam vagina supaya bersalin lancar
Melahirkan di daerah terpencil hanya dengan dukun
Minum minyak kelapa memudahkan persalinan
Makan daun kemangi membuat jari-jari lengket sehinggga mempersulit persalinan

c.
a.

Peran bidan komunitas terhadap perilaku selama persalinan


Memberikan pendidikan pada penolong persalinan mengenai tempat persalinan, proses
persalinan, perawatan selama dan pasca persalinan
b. Memberikan pendidikan mengenai konsep kebersihan baik dari segi tempat dan peralatan
c. Bekerja sama dengan penolong persalinan (dukun) dan tenaga kesehatan setempat
d. Contoh kasus perilaku dan sosial budaya yang berpengaruh pada pelayanan kebidanan
yang positif
a.

Selamatan 7 bulan (pada ibu hamil)

BAB III
PENUTUP
A.

Kesimpulan
Masalah pelayanan kebidanan yaitu kematian ibu dan bayi, kehamilan remaja, angka kejadian
BBLR, PUS (Pasangan Usia Subur), pertolongan persalinan oleh tenaga non medis, dan IMS.
Angka Kematian Ibu (AKI) dan Angka Kematian Bayi (AKB) merupakan salah satu indikator
derajat kesehatan. Namun. masalah kematian dan kesakitan ibu di Indonesia masih merupakan
masalah besar.
Di Indonesia rata-rata kehamilan remaja terjadi pada usia 14-19 tahun. Hal ini didapatkan
dari hasil survey knowledge, attitude, practice. Kehamilan remaja adalah kehamilan yang terjadi
pada wanita usia 14-19 tahun baik melalui proses pranikah atau nikah.
Bayi berat badan lahir rendah adalah bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500
gram. Penyebab terjadinya BBLR antara lain karena ibu hamil anemia, kurang suplay gizi waktu
dalam kandungan, ataupun lahir kurang bulan.
Tingkat fertilitas/ tingkat kesuburan yang mana sumbernya adalah PUS (pasangan usia subur)
merupakan salah satu masalah kebidanan yang perlu mendapatkan perhatian karena dengan
tingginya tingkat fertilitas tanpa diiringi oleh tingkat pengetahuan akan sistem reproduksi akan
meningkatkan AKI dan AKB.

Pertolongan persalinan oleh tenaga non kesehatan yaitu proses persalinan yang dibantu oleh
tenaga non kesehatan yang biasa dikenal dengan istilah dukun bayi. Dalam tatanan masyarakat
yang masih memegang tradisi adat, dukun masih memegang peranan yang sangat penting.
Adanya asumsi pada masyarakat kita bahwa melahirkan di dukun mudah dan murah, merupakan
salah satu penyebab terjadinya pertolongan persalinan oleh tenaga non kesehatan.
IMS adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui hubungan kelamin atau kontak intim ( Jan
Tambayong,2000:195). Umumnya mata rantai penularan IMS adalah PSK. Rasio penularan akan
meningkat bila pemakaian kondom dan hubungan seksual dengan PSK tidak dilakukan. PMS
banyak ditemui Gonorrhoe (GO), sifilis, trikomoniasis, herpes simpleks, HIV/AIDS.
B.

Saran
Sebaiknya seorang bidan mengetahui tentang masalah pelayanan kebidanan di tingkat
pelayanan kesehatan, sehingga akan lebih tanggap untuk melakukan pencegahan akan timbulnya
masalah yang terjadi. Sedangkan bila sudah terlanjur masalah kesehatan tersebut muncul maka
bidan akan lebih cepat dalam penanganannya dan dapat bekerja sama dengan tenaga kesehatan
lain serta masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA
Kusmiran, Eni.2011. Kesehatan Reproduksi Remaja Dan Wanita. Jakarta: Salemba Medika.
Mochtar, Rustam.1998. Synopsis Obstetric. Jakarta : EGC.
Syafrudin, dkk. 2009. Kebidanan Komunitas. Jakarta: EGC.
Yayasan bina pustaka sarwono prawirohardjo, 2007. Buku acuan nasional pelayanan kesehatan
maternal dan neonatal. Jakarta
Wong, donna,L. 2004 . Pedoman klinis Keperawatan Pediatric. Jakarta : EGC.
http:www.vifinjangkeng.blogspot/kehamilan-remaja-html.

Anda mungkin juga menyukai