Anda di halaman 1dari 41

Ayat Jurnal Penyesuaian AJP Perusahaan

Dagang (Adjustment Journal)


Jurnal Penyesuaian (Adjustment Journal)

Jurnal penyesuaian adalah jurnal untuk mengadakan penyesuaian catatan-catatan dengan


keadaan atau fakta yang sebenarnya pada akhir periode. Tujuan pembuatan jurnal penyesuaian
adalah agar setiap perkiraan riil dan perkiraan nominal dapat menunjukkan besarnya harta, utang,
modal, pendapatan, dan beban yang sebenarnya dan seharusnya diakui pada akhir periode.

Jurnal penyesuaian disusun berdasarkan data dari neraca saldo dan data penyesuaian
akhir periode. Tidak semua akun-akun yang ada di neraca saldo dibuatkan jurnal penyesuaian,
akun-akun yang perlu dibuatkan jurnal penyesuaian adalah :

No
1

Macam Penyesuaian
Pemakaian perlengkapan

Jurnal Penyesuaian
Beban Perlengkapan
Perlengkapan

Piutang

Piutang

pendapatan/pendapatan

Pendapatan

yang masih harus diterima


3

Hutang beban/beban yang Beban


masih harus dibayar

Hutang

Hutang
pendapatan/pendapatan
diterima dimuka
a. Dicatat sebagai pendapatan diterima dimuka
diterima
(hutang/neraca)

dimuka Pendapatan

b. Dicatat

sebagai Pendapatan

pendapatan.. (laba rugi)


5

diterima dimuka

Beban dibayar dimuka


a. Dicatat

sebagai Beban

hutang/pendekatan Neraca

b. Dicatat

dibayar dimuka

sebagai

beban/pendekatan laba rugi

dibayar dimuka
Beban

Kerugian

piutang/piutang Beban Kerugian Piutang

yang tak tertagih

Cadangan Kerugian Piutang

Penyusutan aktiva tetap

Beban Penyusutan
Akumulasi Penyusutan

Persediaan barang dagangan


a. Pendekatan Ikhtisar Laba Ikhtisar L/R
Rugi

Persediaan Barang Dagang (awal)


Persediaan Barang Dagang (akhir)
Ikhtisar L/R

b. Pendekatan Harga Pokok Harga Pokok Penjualan


Penjualan

Persediaan Barang Dagang (awal)


Pembelian
Beban Angkut Pembelian
Persediaan Barang Dagang (akhir)
Retur Pembelian
Potongan Pembelian
Harga Pokok Penjualan

Contoh jurnal penyesuaian :

1.

Pemakaian Perlengkapan
Dalam pembuatan jurnal penyesuaian untuk pemakaian perlengkapan, yang perlu diingat adalah
dalam mengisi nominal dari jurnal tersebut adalah nominal perlengkapan yang sudah digunakan.
Contoh :
Pada tanggal 1 Juni 2013, saldo akun perlengkapan berjumlah Rp. 3.500.000,-. Pada akhir
periode perlengkapan yang tersisa berjumlah Rp. 500.00,Perhitungan :
Perlengkapan yang digunakan = Rp 3.500.000,- - Rp 500.000,= Rp 3.000.000,Jurnal Penyesuaian :
Beban Perlengkapan

Rp 3.000.000,-

Perlengkapan

2.

Rp 3.000.000,-

Pendapatan Yang Masih Harus Diterima/Piutang Pendapatan


Pendapatan yang masih harus diterima adalah pendapatan yang sudah dapat direalisasi dalam
suatu periode, tetapi belum diakui sebagai penghasilan.
Contoh :
Pekerjaan jasa yang telah selesai dikerjakan pada bulan Juni 2013 tetapi belum diserahkan
kepada pemesan seharga Rp 5.200.000,Jurnal Penyesuaian :
Piutang Pendapatan

Rp 5.200.000,-

Pendapatan

3.

Rp 5.200.000,-

Beban Yang Masih Harus Dibayar/Hutang Beban


Beban yang masih harus dibayar adalah beban yang masih harus dikeluarkan oleh perusahaan
pada akhir periode.

Contoh :
Perusahaan mempekerjakan 5 pekerja dengan upah @Rp. 50.000,- per hari. Upah dibayarkan
setiap hari Sabtu untuk masa enam hari kerja. Pembayaran upah terakhir dilakukan pada hari
Sabtu tanggal 29 Desember 2013. Beban upah yang masih harus dibayar pada tanggal 31
Desember 2013 adalah satu hari, yaitu Senin, 31 Desember 2013.
Perhitungan :
5 (pekerja) x 1 (hari) x Rp 50.000,- = Rp 250.000,Jurnal penyesuaian :
Beban Gaji

Rp 250.000,-

Hutang Gaji

4.

Rp 250.000,-

Pendapatan Diterima Dimuka/Hutang Pendapatan


Pendapatan diterima dimuka adalah pendapatan yang diterima lebih dahulu atas pembayaran
transaksi yang belum dilakukan kepada pelanggan.

a.

Dicatat sebagai akun pendapatan diterima dimuka (hutang/neraca)


Apabila perusahaan menggunakan pendekatan neraca, maka perusahaan akan mencatat uang
yang diterima sebagai pendapatan diterima di muka (utang) dan akan diakui sebagai pendapatan
bila perusahaan telah melakukan pekerjaan yang diminta oleh pelanggan.
Contoh :
Pada tanggal 1 Mei 2013, diterima pembayaran sewa gedung sebesar Rp. 3.600.000,- untuk masa
satu tahun.
Perhitungan :
1 mei s/d 31 des = 8 bulan
8/12 x Rp 3.600.000,- = Rp 2.400.000,Jurnal Penyesuaian :
Sewa Diterima Dimuka
Pendapatan Sewa

b. Dicatat sebagai akun pendapatan..

Rp 2.400.000,Rp 2.400.000,-

Perhitungan :
Karena dicatat sebagai akun pendapatan sewa, maka perusahaan hanya boleh mengakui
pendapatan sebesar Rp 2.400.000,- yaitu dari 1 mei sampai dengan 31 desember, maka untuk
mengisi saldo di jurnal penyesuaian perhitungannya :
Rp 3.600.000,-- Rp 2.400.000,- = Rp 1.200.000,Jurnal penyesuaian :
Pendapatan Sewa

Rp 1.200.000,

Sewa Diterima Dimuka

5.

Rp 1.200.000,-

Beban Dibayar Dimuka


Beban dibayar dimuka adalah beban yang sudah dibayar tetapi belum dibebankan sebagai beban
pada periode itu. Beban dibayar di muka ini sering timbul apabila perusahaan membayar biayabiaya untuk beberapa periode sekaligus, sehingga dari jumlah pengeluaran tadi sebagian akan
menjadi beban periode itu dan sebagian lagi akan dibebankan pada periode mendatang.

a.

Dicatat sebagai harta


Artinya pada neraca saldo awal periode, akun yang ada di neraca saldo adalah akun harta, bukan
akun beban.
Contoh :
Pada tanggal 1 September 2013, dibayar sewa gedung sebesar Rp. 4.800.000,- untuk masa satu
tahun.
Perhitungan :
Karena dicatat sebagai harta, maka akun yang ingin disesuaikan adalah harta. Beban yang diakui
pada periode tersebut hanya 4 bulan
1 sep s/d 31 des = 4 bulan
4/12 x Rp 4.800.000,- = Rp 1.600.000,Jurnal Penyesuaian :
Beban Sewa
Sewa Dibayar Dimuka

Rp 1.600.000,Rp 1.600.000,-

b. Dicatat sebagai beban


Perhitungan :
8/12 x Rp 4.800.000,-= Rp 3.200.000,Jurnal penyesuaian :
Sewa Dibayar Dimuka

Rp 3.200.000,-

Beban Sewa

6.

Rp 3.200.000,-

Kerugian Piutang/Piutang Yang Tidak Tertagih


Piutang merupakan kewajiban pihak luar perusahaan kepada perusahaan.Piutang dagang timbul
dari penjualan kredit barang dan jasa. Pada umumnya tidak semua piutang akan dapat ditagih,
sehingga kerugian yang timbul akan dicatat sebagai kerugian piutang.
Contoh :
Tanggal 31 Desember 2013 PD MAJU memiliki piutang sebesar Rp 7.000.000,00. Perusahaan
menetapkan besar kerugian piutang adalah 10% dari total piutang.
Perhitungan :
Kerugian piutang = 10% x Rp 7.000.000,-= Rp 700.000,Jurnal Penyesuaian :
Beban Kerugian Piutang
Cadangan Kerugian Piutang

Rp 700.000,Rp 700.000,-

7. Penyusutan Aktiva Tetap


Yang dimaksud dengan penyusutan aktiva tetap adalah alokasi harga perolehan aktiva tetap yang
dibebankan pada suatu periode tertentu.Pembebanan bebanpenyusutan ini biasanya dilakukan
pada akhir periode. Beban penyusutan yang dibebankan dihitung dengan cara taksiran, karena
jumlahnya tergantung pada tiga faktor yaitu harga perolehan, taksiran umur ekonomis, dan
taksiran nilai residu.
Contoh :

Sebuah perusahaan membeli mesin dengan harga perolehan sebesar Rp 360.000.000,- .


Diperkirakan nilai residu dari mesin tersebut setelah 12 tahun dipakai adalah sebesar Rp
60.000.000,Perhitungan :
Rp 360.000.000,-- Rp 60.000.000,-= Rp 25.000.000,- per tahun
12 tahun
Jurnal penyesuaian :
Beban Penyusutan Mesin

Rp 25.000.000,-

Akumulasi Penyusutan Mesin

Rp 25.000.000,-

8. Persediaan Barang Dagangan


Persediaan barang dagangan harus dilakukan penyesuaian karena pada akhir periode akuntansi
jumlah persediaan awal barang dagangan disesuaikan menjadi persediaan akhir barang
dagangan.
a.

Metode ikhtisar laba rugi


Ketika perusahaan memutuskan untuk menggunakan metode ikhtisar laba rugi, maka ada 2
langkah yang dilakukan yaitu :

1. Memindahkan jumlah persediaan awal barang dagangan kea kun ikhtisar laba rugi. Akibatnya,
terjadi perubahan status akun persediaan barang dagangan yang tergolong dalam akun riil
menjadi akun nominal, hal ini karena persediaan awal merupakan bagian dari harga pokok
barang yang telah terjual.
2. Mendebet jumlah akun persediaan akhir barang dagangan dan mengkredit akun ikhtisar laba rugi
untuk melihat pengurangan nilai barang dagangan yang tersedia untuk dijual.
Contoh :
Dalam neraca saldo PD NUSA 30 Desember 2013, akun persediaan barang dagang seharga Rp
145.000.000,Data penyesuaian, harga persediaan barang dagang akhir adalah Rp 122.500.000,Jurnal Penyesuaian :
Ikhtisar Laba Rugi

Rp 145.000.000,-

Persediaan Barang Dagang (Awal)


Persediaan Barang Dagang (Akhir)

Rp 145.000.000,Rp 122.500.000,-

Ikhtisar Laba Rugi

Rp 122.500.000,-

b. Metode Harga Pokok Penjualan


Harga pokok penjualan adalah dasar perhitungan keuntungan atau laba yang ditetapkan
perusahaan, atau harga perolehan barang yang terjual.
Contoh :
Dalam neraca saldo PD NUSA diketahui data sebagai berikut :
Persediaan barang dagang

Rp.6.500.000,-

Pembelian

Rp. 35.000.000,-

Retur pembelian

Rp.

650.000,-

Beban angkut pembelian

Rp.

250.000,-

Potongan pembelian

Rp.200.000,-

Data penyesuaian menunjukkan persediaan barang dagang akhir sebesar Rp. 10.000.000,-.
Jurnal Penyesuaian :
Harga Pokok Penjualan

Rp 41.750.000,-

Pembelian

Rp 35.000.000,-

Beban Angkut Pembelian

Rp

250.000,-

Persediaan Barang Dagang (Awal)

Rp

6.500.000,-

Retur Pembelian

Rp

650.000,-

Potongan Pembelian

Rp

200.000,-

Persediaan Barang Dagang (Akhir)


Rp 10.000.000,Harga Pokok Penjualan

Diposka

Rp 10.850.000,-

Jurnal Penutup Perusahaan Dagang


(closing journal)
Jurnal Penutup

Jurnal penutup adalah jurnal untuk memindahkan saldo perkiraan sementara ke perkiraan tetap
pada akhir periode akuntansi. Tujuannya adalah untuk mengenolkan semua saldo perkiraan
sementara, selanjutnya dipindahkan ke perkiraan modal. Sumber data untuk penyusunan jurnal
penutup berasal dari kertas kerja pada kolom laba rugi dan kolom neraca akun prive.
Dalam pembuatan jurnal penutup, akun-akun yang ditutup yaitu :
a.

Menutup akun pendapatan


Penjualan

Rp xxx

Retur Pembelian

Rp xxx

Potongan Pembelian

Rp xxx

Pendapatan Bunga

Rp xxx

Ikhtisar Laba Rugi/Harga Pokok Penjualan

Rp xxx

b. Menutup akun beban


Retur Penjualan

Rp xxx

Potongan Penjualan

Rp xxx

Pembelian

Rp xxx

Beban Angkut Pembelian

Rp xxx

Beban .

Rp xxx

Ikhtisar Laba Rugi/Harga Pokok Penjualan


c.

Rp xxx

Menutup akun prive


Modal

Rp xxx
Prive

Rp xxx

d. Menutup akun laba/rugi


-

Apabila laba
Ikhtisar Laba Rugi/Harga Pokok Penjualan

Rp xxx

Modal
-

Rp xxx

Apabila rugi
Modal

Rp xxx
Ikhtisar Laba Rugi/Harga Pokok Penjualan

Rp xxx

Pencatatan Jurnal Penyesuaian


Perusahaan Dagang
Posted on November 28, 2013 by Sabrina Cyndi Azhari Pasaribu

Standard
A. AYAT JURNAL PENYESUAIAN
Ayat Jurnal Penyesuaian atau yang biasa disingkat dengan AJP adalah jurnal yang dibuat pada akhir periode yang
mana bertujuan untuk menyesuaikan saldo saldo perkiraan/ akun akun baik itu akun riil (harta, kewajiban, modal)
maupun akun nominal (pendapatan dan beban) agar kiranya menunjukkan keadaan yang sebenarnya. Ayat jurnal
penyesuaian dibuat sebelum membuat kertas kerja (worksheet) dan juga Laporan Keuangan.
Pencatatan jurnal penyesuaian dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
1.
2.

Deferal
Akrual

: Penangguhan pengakuan pendapatan dan beban yang dicatat dalam akun.


: Pengakuan atas pendapatan dan beban yang belum dicatat dalam akun.

Pencatatan jurnal penyesuaian pada perusahaan jasa dan perusahaan dagang, pada dasarnya sama, tetapi pada
perusahaan dagang, terdapat 8 akun lagi yang perlu disesuaikan dan kedelapan akun ini tidak ada pada perusahaan
jasa. Kedelapan akun tersebut adalah sebagai berikut.
1.

PERSEDIAAN BARANG DAGANG (PDB)

Proses pencatatan jurnal penyesuaian pada akun PDB, menggunakan dua metode, yaitu metode ikhtisar Laba/Rugi
dan metode Harga Pokok Penjualan (HPP).

Metode Ikhtisar L/R

Pencatatan penyesuaian persediaan barang dagang dengan metode ikhtisar L/R, hanya menyesuaikan akun PDB.
Pokoknya, kalau disuruh buat jurnal penyesuaian untuk akun PDB dengan metode ikhtisar L/R, ingat aja deh yang
namanya IPPI. Nah, itu adalah singkatan dari awalan huruf pada nama akunnya.
Lanjuut, contoh :
Pada akhir periode, tercatat saldo persediaan barang dagang awal sebesar Rp. 7.000.000,- dan persediaan barang
dagang akhir sebesar Rp. 8.500.000,-.

Penyesuaian :

Ikhtisar L/R

Rp. 7.000.000,-

Persediaan barang dagang awal


Persediaan barang dagang awal

Rp. 7.000.000,Rp. 8.500.000,-

Ikhtisar L/R

Rp. 8.500.000,-

Metode Harga Pokok Penjualan (HPP)

Nah, kalau menggunakan metode HPP, akun akun yang disesuaikan bukan hanya PDB awal dan akhir ya, tetapi
ada 4 akun lagi yang harus disesuaikan, Apa aja ya? Well, keempat akun itu adalah pembelian, beban angkut
pembelian, retur pembelian & pengurangan harga (PH) dan potongan pmbelian. Oke, contoh :
Diketahui persediaan barang dagang awal sebesar Rp. 6.500.000,- , pembelian sebesar Rp. 35.000.000,- ,retur
pembelian & PH sebesar Rp. 650.000,- , beban angkut pembelian sebesar Rp. 250.000,- ,potongan pembelian
sebesar Rp. 200.000,- dan persediaan barang dagang akhir sebesar Rp. 10.000.000,-.

Penyesuaiannya :

HPP

Rp. 6.500.000,-

Persediaan barang dagang awal


HPP

Rp. 6.500.000,Rp. 35.000.000,-

Pembelian
HPP

Rp. 35.000.000,Rp. 250.00,-

Beban angkut pembelian


Retur pembelian & PH

Rp. 250.000,Rp. 650.000,-

HPP
Potongan pembelian

Rp. 650.000,Rp. 200.000,-

HPP
Persediaan barang dagang akhir
HPP

Rp. 200.000,Rp. 10.000.000,Rp. 10.000.000,

2. PERLENGKAPAN
Perlengkapan itu merupakan kelompok harta/ aktiva yang sifatnya lancar, atau biasa disebut dengan harta lancar /
aktiva lancar/ current assets. Nah, kalau disuruh buat jurnal penyesuaian untuk akun perlengkapan, yang perlu
diingat itu ialah, yang dicatat itu adalah nilai/ nominal perlengkapan yang digunakan atau sudah dipergunakan.
Lanjuuut, contoh :

Pada tanggal 1 Juni 2012, saldo akun perlengkapan berjumlah Rp. 3.500.000,-. Pada akhir periode, perlengkapan
yang tersisa berjumlah Rp. 500.00,-.
Penyelesaian :

Penjelasan

INGAT ! Yang dicatat itu adalah nominal perlengkapan yang sudah terpakai. Jadi, berdasarkan soal di atas, untuk
mengetahui nominal perlengkapan yang sudah terpakai, adalah dengan cara mengurangkan saldo akun
perlengkapan awal dengan saldo akun perlengkapan yang tersisa.

Perhitungan

Rp. 3.500.000,- Rp. 500.000,- = Rp. 3.000.000,Nah, Rp. 3.000.000,- inilah yang dicatat. Understand- kah?

Penyesusaian

Beban perlengkapan
Perlengkapan

Rp. 3.000.000,Rp. 3.000.000,-

3. BEBAN DIBAYAR DIMUKA


Biaya-biaya yang belum merupakan kewajiban perusahaan untuk membayarnya pada periode yang bersangkutan,
tapi perusahaan sudah membayarnya terlebih dahulu. Karena jumlah yang dibayarkan tersebut belum merupakan
beban perusahaan untuk periode yang bersangkutan, maka jumlah yang telah dibayarkan tersebut merupakan uang
muka.
Nah, nama lain dari beban dibayar dimuka itu adalah persekot beban atau premi beban, lebih singkat dan mudah
diingat. Nah, akun persekot beban ini dapat dicatat sebagai harta dan juga beban. Apa bedanya ya ? Well, Ill explain
it.
Harta
Kalau dicatat sebagai harta, berarti pada neraca saldo awal perusahaan, akun beban dibayar dimuka ini dicatat
sebagai harta. Nah, loh, gimana membedakannya? Ingat ya. Tidak ada penulisan beban jika dicatat sebagai harta.
Contohnya : Asuransi dibayar dimuka, Premi asuransi, Persekot asuransi. Tuh, kan bener, gak ada kata kata beban
disitu. Nah, jika akun persekot beban dicatat sebagai sebagai harta, maka nominal yang dicatat pada jurnal
penyesuaiannya adalah nominal beban
Beban
Nah, kalau dicatat sebagai beban, berarti pada neraca saldo awal perusahaan, akun beban dibayar dimuka ya dicatat
sebagai beban. Namanya aja juga udah beban, berarti ada kata kata bebannya dong, so pastee. Contohnya :
Beban asuransi, beban iklan, beban gaji karyawan,. beban hidup #ehhh becanda.. :p. Nah, jika akun persekot

beban dicatat sebagai sebagai beban, maka nominal yang dicatat pada jurnal penyesuaiannya adalah nominal
harta.
Okee, contoh :
Pada tanggal 1 September 2012, dibayar sewa gedung sebesar Rp. 3.000.000,- untuk masa satu tahun. Sewa yang
telah menjadi beban selama 2012 adalah selama empat bulan. (Nah, btw tau gak dari mana asal empat bulan ini?,
hehehe, caranya gini )
1 September

30 September

1 Oktober

31 Oktober

1 November

30 November

1 Desember

= 1 bulan.
= 1 bulan.
= 1 bulan.

31 Desember

= 1 bulan.

Penyelesaian :
Sewa yang telah menjadi beban, artinya sewa yang telah terpakai atau telah diperguakan.

4 x (Rp. 3.000.000,- : 12 (jumlah bulan dalam setahun)) = Rp. 1.000.000,-

Sewa yang masih menjadi harta, artinya bahwa perusahaan masih memiliki sewa yang belum terpakai.

Rp. 3.000000,- Rp. 1.000.000,- = Rp. 2.000.000,-

Maka, jurnal penyesuaiannya akan menjadi seperti berikut :

Dicatat sebagai harta : maka yang dicatat adalah nominal beban.

Beban sewa

Rp. 1.000.000,-

Sewa dibayar dimuka

Rp. 1.000.000,-

Dicatat sebagai beban : maka yang dicatat adalah nominal harta.

Sewa dibayar dimuka

Rp. 2.p00.000,-

Beban sewa

Rp. 2.000.000,-

4. PENDAPATAN DITERIA DIMUKA


Nah, pendapatan diterima diimuka ini adalah pendapatan yang diterima lebih dahulu atas pembayaran transaksi yang
belum dilakukan kepada pelanggan. Nama lain dari akun yan satu ini adalah persekot pendapatan, ataupun prei
pendapatan. Nah, jurnal penyesuaian untuk persekot pendapatan ini dapat dicatatsebagai utang dan juga
pendapatan.

Utang
Well, kalau akun persekot pendapatan ini dicatat sebagai utang, artinya gini bro, perusahaan itu merasa bahwa
persekot pendapatan ini merupakan utang bagi perusahaan, bagaimana tidak? Secara, perusahaan sudah menerima
uang dari pelanggan, tapi perusahaan itu sendiri belum ngasih feedback sama pelanggan itu, jadi udah pasti hal ini
merupakan utang bagi perusahaan tersebut. Contoh penulisan untuk akun persekot pendapatan yang dicatat sebagai
utang adalah : Sewa diterima dimuka, persekot pendapatan dan juga premi pendapatan sewa.
Pendapatan
Nah, kalau akun persekot pendapatan dicatat sebagai pendapatan, artinya begini, perusahaan itu menganggap
bahwa persekot pendapatan yang diberikan oleh peanggan itu adaah tetap pendapatan untuk perusahaan itu. Nah,
otomatis penulisan untuk akun persekot pendapatan ini berbau dengan pendapatan. Contohnya : Pendapatan sewa.
Okkeehh, contooh :
Pada tanggal 1 Oktober 2012, diterima pembayaran sewa gedung sebesar Rp. 6.000.000,- untuk masa satu tahun.
Penyelesaian :
Jika dicatat sebagai utang.

Transaksi ini dicatat sebagai utang pendapatan, yaitu :

Kas

Rp. 6.000.000,-

Sewa diterima dimuka

Dari

Rp. 6.000.000,-

Jumlah bulan yang merupakan perhitungan sebagai utang adalah :


: 1 Oktober 2012

31 Desember 2012

= 3 bulan.

Maka, pencatatan penyesuaian sewa pada akhir periode (31 Desemebr 2012) adalah :

3 x (Rp. 6.000.000,- : 12 (jumlah bulan dalam setahun)) = Rp. 1.500.000,Jika dicatat sebagai pendapatan.

Transaksi ini dicatat sebagai utang pendapatan, yaitu :

Kas

Rp. 6.000.000,-

Pendapatan sewa

Dari

Rp. 6.000.000,-

Jumlah bulan yang merupakan perhitungan sebagai pendapatan adalah :


: 1 Januari 2013

31 September 2013

= 9 bulan.

Maka, pencatatan penyesuaian sewa pada akhir periode (31 Desemebr 2012) adalah :

9 x (Rp. 6.000.000,- : 12 (jumlah bulan dalam setahun)) = Rp. 4.500.000,

Penyesuaian

Dicatat sebagai utang, maka yang dicatat adalah nominal utang.


Sewa diterima dimuka

Rp. 1.500.000,-

Pendapatan sewa

Rp. 1.500.000,-

Dicatat sebagai pendapatan, maka yang dicatat adalah nominal pendapatan.


Pendapatan sewa

Rp. 4.500.000,-

Sewa diterima dimuka

Rp. 4.500.000,-

5. BEBAN YANG MASIH HARUS DIBAYAR


Beban yang masih harus dibayar adalah beban yang masih harus dikeluarkan oleh perusahaan pada akhir periode.
Naah, nama lain dari akun yang satu ini adalah, Utang beban, logika kan? Secara, perusahaan itu punya beban yang
masih harus dibayar (utang). Otomatis, hal ini akan menambah beban pada periode berikutnya..
Oke, seep, contooh :
Sebuah perusahaan mempekerjakan empat 5 pekerja dengan upah @Rp. 50.000,- per hari. Upah dibayarkan setiap
hari Sabtu untuk masa enam hari kerja. Pembayaran upah terakhir dilakukan pada hari Sabtu tanggal 29 Desember
2012. Beban upah yang masih harus dibayar pada tanggal 31 Desember 2012 adalah satu hari, yaitu Senin, 31
Desember 2012.
Penyelesaian :

Penjelasan

Nah, pembayaran upah kan setiap hari Sabtu tuh untuk masa kerja enam hari, dari hari Senin s.d Sabtu. Eehh,
rupanya akhir tahun alias tanggal 31 Desember 2012 jatuh di hari Senin. Nah, otomatis yang satu hari ini, dibebankan
pada periode tahun 2013-nya. Loh, kenapa? Kan nanggung?. Memang sih, bener nanggung, tapi untuk hari Senin itu
tidak dapat dilakukan pembayaran upah, karena, kan pebayaran upah sudah ditetapkan hari Sabtu. Jadii ya harus
hari sabtu deh dibayarkan. Begitu.. J

Perhitungan

5 (pekerja) x 1 (hari) x Rp. 50.000,- = Rp. 250.000,-

Penyesuaiannya

Beban gaji

Rp. 250.000,-

Utang gaji

Rp. 250.000,-

6. PENDAPATAN YANG MASIH HARUS DITERIMA


Pendapatan yang masih harus diterima merupakan pendapatan yang masih akan diterima perusahaan akibat dari
pelanggan yang belum membayar utang nya. Nah, ecek eceknya pelanggan perusahaan itu masih utang, jadi bagi
perusahaan, hal ini disebut dengan piutang. So nama lain dari akun ini adalah piutang pendapatan.
Seep, contoh :
Pada akun piutang pendapatan, tercatat nominl sebesar Rp. 1.000.000,Penyelesaian :
Piutang pendapatan

Rp. 1.000.000,-

Pendapatan

Rp. 1.000.000,-

7. PENYUSUTAN
Penyusutan adalah kerugian yang ditanggung oleh perusahaan atas penuruna nilai aktiva tetap. Contohnya :
kendaraan, gedung, peralatan, mesin, dll. Untuk apa sih disusutkan? Nah, penyusutan itu berguna untuk mengetahui
nilai ekonomis dari aktiva tetap yang sebenarnya.
Okee, contooh :
Suatu perusahaan menetapkan penyusutan 5 % per tahun atas kendaran yang bernilai Rp. 100.000.000,-.

Penyelesaian :

Perhitungan

5 % x Rp. 100.000.000,- = Rp. 5.000.000,-

Penyesuaian

Beban penyusutan kendaraan

Rp. 5.000.000,-

Akumulasi penyusutan kendaraan

Rp. 5.000.000,-

8. PIUTANG TIDAK TERTAGIH


Piutang tidak tertagih merupakan resiko yang dialami perusahaan akibat tidak tertagih-nya piutang dagang. Nah,
transaksi piutang tidak tertagih ini, diperlakukan sebagai beban persahaan. Gimana nggak? Kan intinya perusahaan
itu jadi nomboin kan ? hehehehe.
Seep, contoh :
Suatu perusahaan menetapkan 3 % sebagai piutang tidak tertagih terhadap piutang dagang sebesar Rp.
18.000.000,-.
Penyelesaian :

Perhitungan

3 % x Rp. 18.000.000,- = Rp. 540.000,

Penyesuaian

Kerugian piutang

Rp. 540.000,-

Cadangan kerugian piutang

Rp. 540.000,-

Sumber :
http://blogpajak.com/pengertiandefinisi-biaya-dibayar-dimuka-prepaid-expenses/
http://ikkaikko.wordpress.com/pendidikan/ayat-jurnal-penyesuaian/
Berbagai sumber buku dan pejelasan guru

Dasar akuntansi

Setiap akhir periode atau akhir tahun, suatu perusahaan diwajibkan menyusun laporan keuangan
untuk disampaikan kepada pihak-pihak yang membutuhkan laporan keuangan tersebut. Dalam
menyusun laporan keuangan, suatu perusahaan harus terlebih dahulu membuat kertas kerja sebagai
pertolongan untuk mempermudah penyusunan laporan keuangan.
Penyusunan kertas kerja diawali dengan membuat jurnal penyesuaian untuk menyesuaikan kondisi
harta, utang, dan modal agar sesuai dengan keadaan yang sebenarnya pada setiap akhir periode. Jadi,
jurnal penyesuaian (adjustment journal) adalah jurnal untuk mengadakan penyesuaian catatan-catatan
dengan keadaan atau fakta yang sebenarnya pada akhir periode.

Tujuannya agar setiap perkiraan riil dan perkiraan nominal dapat menunjukkan besarnya harta,
utang, modal, pendapatan, dan beban yang sebenarnya dan seharusnya diakui pada akhir periode.
Sekadar mengingatkan kembali, dalam perusahaan jasa seperti yang telah dibahas pada kelas XI
Semester II terdapat tujuh macam jurnal penyesuaian yaitu sebagai berikut.
1. Penyesuaian untuk pemakaian perlengkapan, artinya penurunan nilai perlengkapan dikarenakan
adanya pemakaian, sehingga harus disesuaikan dengan keadaan yang sebenarnya pada akhir
periode.
2. Penyesuaian untuk beban yang masih harus dibayar atau utang beban, artinya beban yang sudah
saatnya untuk dibayar tetapi belum dilakukan pembayaran atau belum dilunasi.
3. Penyesuaian untuk pendapatan yang masih harus diterima atau piutang pendapatan, artinya
pendapatan yang seharusnya sudah diterima, tetapi belum diterima pelunasannya.
4. Penyesuaian untuk beban dibayar di muka atau persekot biaya, artinya beban yang sudah dibayar
tetapi sebenarnya beban tersebut untuk beban di masa yang akan datang.
5. Penyesuaian untuk pendapatan diterima di muka atau utang pendapatan, artinya pendapatan yang
sudah diterima, tetapi sebenarnya pendapatan tersebut untuk pendapatan di masa yang akan datang.
6. Penyesuaian untuk kerugian piutang tak tertagih, artinya taksiran kerugian yang timbul karena
sebagian dari jumlah piutang tidak dapat ditagih.
7. Penyesuaian untuk penyusutan aktiva tetap, artinya pembebanan akan pemakaian aktiva tetap,
sehingga susut nilai dan disesuaikan dengan harga pada setiap akhir periode.
Berbeda dengan perusahaan dagang, selain menyusun jurnal penyesuaian seperti yang telah
disebutkan di atas, masih terdapat jurnal penyesuaian untuk akun persediaan barang dagangan, yaitu
persediaan barang dagangan yang belum laku dijual dan masih terdapat di gudang, untuk dapat dijual
pada periode mendatang.
Jurnal penyesuaian disusun berdasarkan data dari neraca saldo dan data penyesuaian akhir periode,
seperti yang telah dilakukan dalam akuntansi perusahaan jasa. Untuk itu, saldosaldo yang tampak di
neraca sisa atau neraca saldo masih perlu dibuat jurnal penyesuaian. Akan tetapi tidak setiap
perkiraan dalam neraca sisa atau neraca saldo dibuat jurnal penyesuaian. Saldo-saldo yang terdapat
dalam neraca sisa yang biasanya memerlukan jurnal penyesuaian antara lain sebagai berikut.

Penyusunan Jurnal Penyesuaian


Sebagaimana kamu ketahui, bahwa neraca sisa juga merupakan dasar penyusunan laporan keuangan.
Namun, pada kenyataannya belum menyajikan informasi yang lengkap. Oleh karena itu, dalam
penyusunan laporan keuangan terlebih dahulu harus diadakan penyesuaian yang bertujuan agar
informasi yang dimunculkan benar-benar baru dan sesuai dengan keadaan sebenarnya. Atau dengan
kata lain, ayat jurnal penyesuaian berfungsi untuk mengubah akun melalui proses pencatatan
transaksi sehingga sisa yang diperlihatkan adalah saldo sebenarnya.
Nah, untuk memberimu pemahaman lebih jelas, selanjutnya perhatikan contoh penyusunan jurnal

penyesuaian berikut ini.


Contoh:
Data-data akuntansi di bawah ini diambil dari pembukuan PD Asih Jaya, Semarang per 31 Desember
2005.
1. Perlengkapan yang tercantum dalam neraca sisa sebesar Rp1.000.000,00 (debit). Pada akhir
periode perlengkapan yang masih ada sebesar Rp400.000,00.
2. Masih harus diterima bunga atas wesel tagih sebesar Rp150.000,00.
3. Gaji dan upah yang belum dibayar untuk bulan Desember 2005 sebesar Rp2.400.000,00.
4. Sewa diterima di muka sebelum penyesuaian menunjukkan jumlah sebesar Rp18.000.000,00
(kredit). Sewa tersebut untuk jangka waktu 1 April 2005 sampai dengan 1 April 2006.
5. Asuransi dibayar di muka dalam neraca saldo menunjukkan debit sebesar Rp2.400.000,00. Asuransi
tersebut untuk pembayaran dari tanggal 1 Mei 2005 sampai dengan 1 Mei 2006.
6. Dari jumlah piutang dagang sebesar Rp50.000.000,00 ditaksir sebesar 5% kemungkinan tidak dapat
ditagih.
7. Penyusutan atas peralatan toko ditetapkan sebesar Rp4.000.000,00.
8. Persediaan barang dagangan sebelum penyesuaian sebesar Rp15.000.000,00 dan persediaan
barang dagangan akhir sebesar Rp20.000.000,00 (menggunakan akun ikhtisar laba/ rugi).
Diminta:
Susunlah jurnal penyesuaian per 31 Desember 2005 untuk transaksi-transaksi di atas!

Perbedaan Jurnal Penyesuaian dan Jurnal


Koreksi
Oleh Admin KeuLSM / Selasa 31 Desember 2013 / Tanggapi?

Dalam akuntansi, jurnal koreksi perlu dibuat dengan maksud untuk mengkoreksi nilai
transaksi yang telah salah dibukukan dan atau juga untuk mengkoreksi penggunaan
klasifikasi akun yang salah (salah dalam mengidentifikasi akun).

- See more at: http://keuanganlsm.com/perbedaan-jurnal-penyesuaian-danjurnal-koreksi/#sthash.motFH6r0.dpuf

Penyelesaian Jurnal Penyesuaian Perusahaan


Dagang
December 10, 2013 by M Mustafa

Artikel kali ini adalah tentang cara penyelesaian dari artikel sebelumnya tentang Contoh Soal Jurnal
Penyesuaian Perusahaan Dagang. Dan ini masih merupakan lanjutan dari siklus akuntansi perusahaan Mitra
Mart Milik Pak Jono. Langsung saja kita selesaikan soalnya :

Penyelesaian Soal Jurnal Penyesuaian Perusahaan Dagang


Inventaris kantor di susutkan 5 tahun dengan nilai ekonomis tahun terakhir sebesar Rp. Rp. 7.000.000
Nilai Akhir adalah Rp. 7.000.000 dan nilai total dalam buku besar Rp. 25.000.000 dan di susutkan selama 5
tahun (60 bulan) maka akan kita temukan penyusutan perbulan sebesar

25.000.000 7.000.000 = 18.000.000

18.000.000 / 60 Bulan = 300.000 / Bulan

Jadi Jurnalnya adalah :

(D) Beban Penyusutan Inventaris Kantor Rp. 300.000

(K) Akumulasi Penyusutan Inventaris Kantor Rp. 300.000

2. Inventaris Toko disusutkan 5 tahun dengan nilai ekonomis akhir sebesar Rp. 20.350.000
Menghitung soal ini juga sama seperti soal pertama yaitu tentang amortisasi atau penyusutan, Neracasaldo
menunjukkan saldo Rp. 80.350.000 dan nilai akhir Rp. 20.350.000 serta penyusutan selama 5 tahun (60 bulan)
maka perhitungannya adalah :

80.350.000 20.350.000 = 60.000.000

60.000.000 / 60 bulan = 1.000.000 / bulan

Jadi Jurnalnya adalah :

(D) Beban Penyusutan Inventaris Toko Rp. 1.000.000

(K) Akumulasi Penyusutan Inventaris Toko Rp. 1.000.000

Penyusutan Gedung disusutkan dengan perhitungan nilsi rkonomi akhir Rp. 15.000.000 yang disusutkan
selama 10 tahun.
Sedangkan untuk gedung, nilai di Neraca Saldo menunjukkan Rp. 75.000.000 disusutkan selama 10 tahun (120
Bulan) maka perhitungannya adalah :

75.000.000 15.000.000 = 60.000.000

60.000.000 / 120 Bulan = 500.000

Jadi Jurnalnya adalah

(D) Beban Akumulasi Penyusutan Gedung Rp. 500.000

(K) Akumulasi Penyusutan Gedung Rp. 500.000 / bulan

4. Pembayaran Bank dengan Angsuran sebesar Rp. 9.250.000 dengan keterangan sebagai berikut :

Pokok Pinjaman Rp. 300.000.000

Sisa Pokok Pinjaman Rp. 250.000.000

Telah di bayar sebesar Rp. 50.000.000 tertanggal 31 Januari 2013

Bungan Pinjaman Sebesar 14.40% pertahun

Pembayaran tersebut di lakukan langsung dengan cara mendebet rekening bank oleh pihak Bank.
Untuk penyelesaian ini kita akan melihat bahwa pokok pinjaman adalah sebesar Rp. 300.000.000 sedangkan
saldo buku besar sisa Rp. 250.000.000. Berarti sejak memulai pembukuan ini, Pak Jono telah melakukan
pembayaran sebesar Rp. 50.000.000. Namun saat pembukuan di mulai sisa pinjaman sisa Rp. 250.000.000 dan
pembayaran bulanan adalah sebesar Rp. 9.850.000 maka perhitungannya adalah sebagai berikut :

Bunga Tahunan = Rp. 300.000.000 x 14.40 % / 12 bulan = Rp. 3.600.000

Pokok Angsuran = Rp. 9.850.000 Rp. 3.600.000 = Rp. 6.250.000

Total Bulan Angsuran = 300.000.000 / 6.250.000 = 48 Bulan = 4 Tahun

Maka kita akan mendapatkan Jurnal Sebagai Berikut :

(D) Utang Bank Rp. 6.250.000

(D) Beban Bunga Bank Rp. 3.600.000

(K) Kas Bank BNI Rp. 9.850.000

5. Diterima Pembayaran Via Transfer Bank belum tercatat Rp. 17.900.000 pada hari tersebut
Jurnalnya adalah :

(D) Kas Bank BNI Rp. 17.900.000

(K) Piutang Dagang Rp. 17.900.000

6. Mitra Mart bekerjasama dengan pengantaran ekspedisi untuk penjualan barang mereka dan menerima
tagihan sebesar Rp. 6.750.000 dan di bayarkan hari itu juga.

Beban Angkut Penjualan Rp. 6.750.000

Kas Rp. 6.750.000

7. Berdasarkan pemeriksaan kartu stock barang persediaan sisa Rp. 201.450.000


Cara menghitungnya adalah :

Persediaan awal + Pembelian Persediaan Akhir = Harga Pokok Penjualan (HPP)

341.000.000 + 355.000.000 201.450.000 = 494.550.000

Jurnalnya adalah :

(D) Persediaan Barang Dagang Rp. 355.000.000

(K) Pembelian Rp. 355.000.000

(D) Harga Pokok Penjualan Rp. 494.550.000

(K) Persediaan Barang Dagangan Rp. 494.550.000

Mudah-mudahan Penyelesaian Jurnal Penyesuaian Perusahaan Dagang ini bisa di pahami dan melanjutkan
pada proses siklus berikutnya yaitu tentang Neraca Lajur perusahaan dagang namun jangan lupa untuk
memasukkan data jurnal penyesuaian ini ke buku besar.

Share this:

Contoh Soal Jurnal Koreksi

Contoh soal jurnal koreksi

Tanggal 10 Januari 2013, ditemukan beberapa kesalahan pencatatan transaksi.

#Kesalahan 1:
Tanggal 4 desember 2012 ada biaya maintenance 400.000. seharusnya biaya
komisi

Koreksi tanggal 10 Januari:


Kesalahan ini tidak harus diperbaiki, karena akun biaya sudah dittup, dan tidak
mungkin membuat adjustment atau reversal atau koreksi pada akun yang sudah
ditutup

#Kesalahan 2:
Tanggal 12 september 2012, piutang penjualan dicatat 8.000.000. seharusnya
8.600.000. HPP ditaksir 300.000

Koreksi tanggal 10 Januari:


[D] Piutang usaha

600.000

[K] Laba ditahan

[D] Laba ditahan


[K] Persediaan

600.000

300.000
300.000

Masuk laba ditahan karena akun pendapatan (penjualan) dan HPP sudah ditutup
ke akun laba ditahan saat jurnal penutup.

Dibuat jurnal persediaan, karena penjualan melibatkan HPP dan persediaan.

#Kesalahan 3:
Tanggal 8 november 2012 biaya listrik 4.500.000. sudah dibayar, tapi belum
dibukukan.

Koreksi tanggal 10 Januari:


Ini bukan jurnal koreksi, karena transaksi belum dicatat.
[D] Beban Listrik

4.500.000

[K] Kas

4.500.0000

Tidak perlu jurnal koreksi, karena, akun biaya sudah ditutup, dan karena
kesalahan ini akan betul dengan sendirinya (self corrected).
Tahun 2012 biaya understatement, laba ditahan overstatement
Tahun 2013 biaya overstatement, laba ditahan understatement
Tahun 2013 laba ditahan balance

#Kesalahan 4:
Tanggal 8 desember 2012 biaya telpon 8.800.000 sudah dibukukan sebagai
utang-telkom, belum dibayar.

Koreksi tanggal 10 Januari:


Untuk menghapus hutang - telkom
[D] Hutang Telkom

8.800.000

[K]
00.000

Kas

8.8

#Kesalahan 5:
Tanggal 9 desember 2012 , piutang usaha 67.000.000 dicatat sebagai sewa
dibayar di muka

Koreksi tanggal 10 Januari:


[D] Piutang Usaha
[K]

67.000.000
Sewa dibayar dimuka 67.000.000

Kesalahan pada akun neraca, harus diperbaiki, karena:

Akun belum ditutup, dan tidak akan pernah ditutup selama perusahaan masih
beroperasi

eraca mengandung, aset (kekayaan perusahaan), utang, dan modal. Ketiga hal

ini sangat sensitif, karena menyangkut hak dan kewajiban perusahaan terkait
dengan pihak luar.

Referensi: jurnalakuntansikeuangan.com

Diposkan oleh hanifa annadhifah di 21.37

Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke


Pinterest

Tidak ada komentar:


Poskan Komentar

Posting Lebih BaruPosting Lama


Akuntansi Excel: Jurnal umum

Akuntansi excel untuk jurnal umum

Buatlah daftar akun

Beri nama range dengan nama: Akun. Sort keseluruhan daftar akun, dari
No sampai Saldo Awal sehingga range nya menjadi A5:G284.Klik kanan,
pilih name a range

di kolom nama, ketik: Akun

Buat 1 sheet, dengan nama jurnal. Buat format seperti ini. Dan
rumusnya juga

Kolom B sampai H di merge. Lalu isi dengan rumus:


=Bulan &TEXT(B7,MMMM YYYY)

F5 =IF(G5<>H5,SALAH, )

Buat rmus SUM di G5 dan H5, adri awal jurnal samai akhir. Disini:
G5=SUM(G7:G14)

F7=IFERROR(VLOOKUP($E7,Akun,2,0), )

Pemahaman Jurnal Koreksi dan Jurnal


Penyesuaian
July 23, 2014
by hasim
jurnal, jurnal koreksi, jurnal pembetulan, jurnal penyesuaian
0 Comment

Gratis update artikel terbaru langsung di email Anda, daftar sekarang!

Pemahaman Jurnal Koreksi dan Jurnal


Penyesuaian
Dalam postingan kali ini saya akan membahas tentang 2 jurnal yang sering kita
gunakan dalam menyusun pelaporan keuangan. Pemahaman jurnal ini sudah tidak
asing lagi di dalam penyusunan laporan keuangan (Akuntansi) sangat banyak orang
yang masih di bingungkan dengan istilah penyesuaian dan koreksi. Di dalam
akuntansi sendiri ke dua istilah ini sangat berbeda artinya apa? Ke dua istilah ini
mempunyai arti atau makna yang berbeda di saat kita sedang menyusun laporan
keuangan sebuah perusahaan.
Saya sendiri pun belum dapat memastikan apakah seorang accounting sudah
memahami istilah penyesuaian & koreksi dengan tepat atau belum, karena ada
point point tertentu tetapi sangat sederhana bisa di katakan sebuah dasar dalam
pembelajaran akuntansi untuk seorang accounting memahami ke dua istilah ini.

Apakah seseorang sudah paham prosedur debit-credit (double-entry) atau


belum, dan

Apakah sudah menguasai teknik dasar menjurnal atau belum.

Sangat sederhana bukan? 2 point yang sangat sederhana tapi sangat memberikan
andil didalam penyusunan laporan keuangan, baik mungkin lansung saja kita bahas
yang pertama.

Jurnal Koreksi
Jurnal koreksi biasa kita sebut juga sebagai jurnal pembetulan, karena fungsi dari
jurnal ini sendiri adalah jurnal yang dipergunakan untuk membetulkan jurnal yang
terlanjur salah dibuat entah itu salah angka atau salah akun. Di dalam menyusun
laporan keuangan mustahil kita tidak melakukan kesalahan ketika sedang mencatat
jurnal, terlebih lagi ketika kita menyusunnya di atas sebuah kertas, sangat tidak
boleh menggunakan tip x, oke lansung saja kita ambil contoh kasus sederhana:
Pada tanggal 12 November 2013 Ari menerima slip tunai pembayaran sewa. Untuk
itu Ari membuat jurnal
[Debit] Beban Sewa Rp 10.130.000,[Kredit] Kas Rp 10.130.000,Keesokan harinya ari mendapat informasi manager bahwa saldo yang seharusnya
adalah Rp 10,310,000,- setelah membandingkannya antara slip dengan jurnal yang
sudah dibuat ternyata ada kesalahan angka. Sebagai gantinya, Ari memasukkan
JURNAL KOREKSI :
[Debit] Beban Sewa Rp 180.000,[Kredit] Kas Rp 180.000,Setelah jurnal koreksi di masukkan maka total beban sewa diakui menjadi benar,
yakni Rp 10.130.000,- + Rp 180.000,- = Rp 10.310.000,- sesuai dengan angka yang
tertera pada slip pembayaran sewa.
Jurnal Penyesuaian
Jurnal penyesuaian adalah jurnal yang dibuat untuk menyesuaikan nilai saldo
akun-akun tertentu agar sesuai dengan kondisi sebenarnya. Akun yang perlu
disesuaikan biasanya akun yang timbul karena harus menyegerakan pengakuan

biaya (biaya akrual) & untuk pengakuan biaya yang ditunda (biaya deferal) Dalam
membuat jurnal penyesuaian ada 2 metode:
1.

Metode Harta (habis dipakai)

2.

Metode Beban (belum dipakai)

Baik, lansung kita ambil contoh kasus :


PT Makmur Sejahtera menunjukkan akun perlengkapan di Neraca saldo sebesar Rp
3.250.000,- dan jumlah yang masih ada di gudang Rp 1.400.000,- sehingga
selisihnya Rp 1.850.000,- sebagai biaya perlengkapan, dengan jurnal penyesuaian:
[Debit] Biaya perlengkapan salon Rp 1.850.000,[Kredit] Perlengkapan salon Rp 1.850.000,Penjelasan kasus:
Perlengkapan merupakan bahan-bahan habis pakai yang dibeli oleh perusahaan
dengan tujuan untuk digunakan sendiri. Biasanya perlengkapan dicatat pada saat
membeli saja sedangkan saat pemakaian perlengkapan tidak pernah dilakukan
pencatatan. Akibatnya saldo pada neraca saldo adalah sebesar harga beli selama
satu periode. Padahal karena perlengkapan selalu digunakan setiap saat, maka
pada akhir periode jumlah perlengkapan riil yang ada di gudang akan lebih kecil.
Selisih antara jumlah perlengkapan yang ada dineraca saldo dan yang
sesungguhnya ada yang harus dimasukkan sebagai biaya perlengkapan.
Pencatatan selisih tersebut harus melalui penyesuaian pembukuan (jurnal
penyesuaian).

Kesimpulan dari jurnal koreksi dan jurnal penyesuaian

Jurnal koreksi adalah jurnal yang dipergunakan untuk membetulkan jurnal yang
terlanjur salah dibuat entah itu salah angka atau salah akun, karena kesalahan
ketika mencatat jurnal bias terjadi di akun apa saja, sangat di anjurkan untuk
membuat jurnal koreksi ketika terjadi di periode yang sedang berjalan, bagaimana
kalau di luar periode akuntansi? Ini sangat tidak disarankan karena akan
mempengaruhi struktur laporan keuangan yang sudah terbentuk, sehingga harus
ada diskusi internal di divi accounting untuk langkah selanjutnya.
Jurnal penyesuaian adalah jurnal yang dibuat untuk menyesuaikan nilai saldo akunakun tertentu agar sesuai dengan kondisi sebenarnya. Akun yang perlu disesuaikan
biasanya akun yang timbul karena harus menyegerakan pengakuan biaya (biaya
akrual) & untuk pengakuan biaya yang ditunda (biaya deferal). Contoh akun akun
yang menggunakan jurnal penyesuaian sebagai berikut : biaya dibayar dimuka,
pendapatan diterima dimuka, akumulasi penyusutan, biaya di akrualkan dll.
Untuk mengetahui bagaimana jurnal dibentuk oleh software akuntansi, klik di di
sini.

JURNAL KOREKSI
02.26

AKUNTANSI

Jurnal Koreksi adalah jurnal yang dibuat untuk membetulkan jurnal yang
salah yang sudah terlanjur diposting.
Tata cara penanggulangan kesalahan dilakukan berdasarkan jenis
kesalahan yang dilakukan. Ada 4 macam tipe kesalahan :
Tipe 1 Suatu transaksi dicatat langsung ke buku besar. Implikasi
kesalahan ini adalah transaksi tersebut belum dicatat di buku jurnal. Untuk
mengatasi kesalahan ini, cukup segera dilakukan penjurnalan atas
transaksi yang bersangkutan, dengan memberikan keterangan seperlunya

agar kesalahan tersebut dapat diterima oleh


bersangkutan dengan pembukuan perusahaan.

pihak-pihak

yang

Tipe 2 Suatu transaksi sudah dijurnal, namun belum diposting. Untuk


mengatasi kesalahan ini, cukup segera dilakukan posting ke rekening buku
besar yang bersangkutan.
Tipe 3 Suatu transaksi dijurnal pada rekening atau dengan jumlah rupiah
yang salah dan diketahui sebelum dilakukan posting ke buku besar. Untuk
jenis kesalahan ini, perlu dilakukan koreksi pada buku jurnal. Prosedur
yang dianjurkan untuk koreksi ini adalah sbb :
a)

Pada nama rekening yang salah, atau jumlah rupiah yang salah buatlah
sebuah garis lurus. Buatlah garis tersebut dengan tinta yang relatif
mencolok, sehingga kesan tersebut segera dapat dilihat.

b)

Di atas nama rekening atau jumlah rupiah yang salah dan telah bergaris
tersebut, bubuhkan nama rekening atau jumlah rupiah yang seharusnya.

Contoh : Sebuah Transaksi Pembelian Perangkat Kantor sejumlah


Rp.250.000 tunai, keliru dicatat sebagai Pembelian Bahan Habis Pakai
Rp.205.000 tunai. Koreksi kesalahan pada pencatatan transaksi di atas
dapat dilihat pada jurnal di bawah ini .
Perangkat Kantor
Bahan Habis Pakai

Rp.250.000
Rp.205.000
Rp.250.000

Kas

Rp.205.000

( Mencatat Pembelian Tunai Bahan Habis Pakai )


Perangkat Kantor

Tipe 4 Suatu transaksi dijurnal pada rekening atau jumlah rupiah yang
salah dan diketahui sesudah jurnal itu diposting ke buku besar. Untuk jenis

kesalahan ini, harus diselenggarakan suatu Jurnal Koreksi. Fungsi Jurnal


Koreksi adalah :
a) Menetralkan kesalahan
b) Mencatat transaksi seperti yang seharusnya.
Contoh : Sebuah Transaksi Pengeluaran Kas sebesar Rp.250.000 untuk
Pembelian Perangkat Kantor telah dijurnal dan diposting. Sesudah posting
diketahui bahwa penjurnalan dilakukan dengan mendebit Bahan Habis
Pakai dan mengkredit Kas masing-masing sebesar Rp.250.000.
Untuk membuat Jurnal Koreksi, caranya kita harus mengetahui jurnal yang
salah dan jurnal yang seharusnya. Baru setelah itu dapat kita buat jurnal
koreksinya.
Jurnal yang salah
Bahan Habis Pakai

Rp.250.000

Kas

Rp.250.000

Jurnal yang seharusnya


Perangkat Kantor

Rp.250.000

Kas

Rp.250.000

Jurnal koreksi yang harus dibuat


Perangkat Kantor
Bahan Habis Pakai

Rp.250.000
Rp.250.000

Selanjutnya Jurnal Koreksi di atas harus diposting ke buku besar.

AKUN-AKUN KHUSUS DALAM PERUSAHAAN


DAGANG
02.14 | AKUNTANSI

Perusahaan dagang adalah perusahaan yang menjalankan kegiatan usaha pokok membeli barang
(komoditi) dengan tujuan untuk dijual kembali tanpa melakukan pengubahan terhadap sifat barang.
Kegiatan usaha pokok yang merupakan ciri khas (karakteristik) perusahaan dagang adalah membeli
barang dagangan , menyimpan untuk sementara dan kemudian menjual kembali.
Transaksi-transaksi yang biasa terjadi sehubungan dengan kegiatan usaha pokok perusahaan
dagang, secara umum adalah sebagai berikut :
1.

Pembelian barang dagangan

2.

Retur pembelian dan pengurangan harga

3.

Penerimaan potongan pembelian

4.

Penjualan barang dagangan

5.

Retur penjualan dan pengurangan harga

6.

Pemberian potonngan penjualan


Untuk mencatat transaksi-transaksi di atas , dalam buku besar perusahaan dagang biasanya disediakan
akun-akun sebagai berikut :

1.

Pembelian : untuk mencatat transaksi pembelian barang dagangan baik dengan pembayaran tunai
maupun secara kredit.

2.

Retur pembelian dan pengurangan harga : untuk mencatat transaksi pengembalian barang yang sudah
dibeli kepada pihak penjual , atau pengurangan harga yang disepakati penjual. Misalnya : karena barang
yang sudah dibeli sebagian rusak

3.

Potongan pembelian : untuk mencatat potongan harga yang diterima dari penjual.

4.

Biaya angkut pembelian : untuk mencatat biaya pengangkutan barang yang dibeli.

5.

Penjualan : untuk tempat mencatat transaksi penjualan barang dagangan , baik yang dilakukan dengan
pembayaran tunai maupun dengan pembayaran kredit.

6.

Retur penjualan dan pengurangan harga : untuk tempat mencatat transaksi penerimaan kembali barang
yang telah dijual , atau pengurangan harga yang diberikan kepada pihak pembeli.

7.

Potongan penjualan : digunakan sebagai tempat mencatat potongan harga yang diberikan kepada
pembeli.

8.

Beban pemgiriman barang : untuk mencatat pengeluaran untuk pengiriman barang ke tempat pembeli.
Kirimkan Ini lewat Email

Jurnal Penyesuaian vs Jurnal Koreksi

Dalam akuntansi, jurnal koreksi perlu dibuat dengan maksud untuk


mengkoreksi nilai transaksi yang telah salah dibukukan dan atau juga untuk
mengkoreksi penggunaan klasifikasi akun yang salah (salah dalam mengidentifikasi
akun) untuk mengkoreksi penggunaan klasifikasi akun

Pada akhir periode pembukuan kita sering dihadapkan pada beberapa jurnal
atau transaksi yang tidak sesuai dan selisih. Untuk itu kita perlu beberapa jurnal
perbaikan agar laporan keuangan yang kita buat menjadi balance. Terkadang yang
kita butuhkan jurnal penyesuaian, tetapi tak jarang pula kita memerlukan junal
koreksi untuk mengoreksi transaksi yang sudah kita bukukan.
Berikut ini akan kita lihat perbedaan antara jurnal koreksi dengan jurnal
penyesuaian sehingga akan mempermudah kita untuk memisahkan transaksi mana
yang harus dikoreksi dan mana yang penyesuaian. Adalah penting untuk dapat
membedakan antara jurnal koreksi dengan jurnal penyesuaian.

Ayat Jurnal Penyesuaian (Adjusting Journal


Entry)
Ayat jurnal penyesuaian atau adjusting journal entry adalah jurnal yang
disusun pada akhir periode akuntansi untuk menandingkan pendapatan dan beban
pada periode pengakuan yang sama. Jurnal yang disusun pada akhir periode

Ayat jurnal penyesuaian atau adjusting journal entry adalah jurnal yang
disusun pada akhir periode akuntansi untuk menandingkan pendapatan dan beban
pada periode pengakuan yang sama. Ayat jurnal penyesuaian memastikan bahwa
prinsip pengakuan pendapatan (revenue recognition principle) dan prinsip
penandingan (matching principle) telah dipenuhi.
Prinsip penandingan mendukung pelaporan pendapatan dan beban terkait
dalam periode yang sama. Proses biaya (cost) menjadi beban (expenses) termasuk
dalam konsep penandingan. Dalam proses ini perlu dipahami perbedaan antara
biaya dan beban.
Prinsip penandingan sendiri memenuhi asumsi dasar akuntansi, yaitu periodik
(periodicity). Penandingan pendapatan dan beban memenuhi pelaporan keuangan
yang harus dibagi dalam periode akuntansi. Untuk menentukan dalam periode
mana pelaporan pendapatan atau beban dilakukan bergantung pada apakah
akuntan menerapkan cash basis atau accrual basis. Dalam asumsi akuntansi akrual,
pengakuan terhadap pendapatan atau beban diakui saat terjadi bukan pada saat
penerimaan atau pengeluaran kas. Konsep pengakuan pendapatan berdasarkan
akuntansi akrual mengharuskan organisasi mengakui pendapatan untuk setiap kas
yang diterima atau akan diterima dari transaksi penghasilan. Proses menandingkan
antara pendapatan dan beban terkait pada periode yang sama menuntut
disusunnya ayat jurnal penyesuaian untuk memutakhirkan data sesuai dengan
kondisi yang sebenarnya.

Sebagai contoh, sebuah organisasi membayar sewa kantor sebesar Rp 36 juta


untuk jangka

waktu sewa tiga tahun pada 1 Januari 2010. Pada saat pembayaran sewa dibukukan
jurnal :
Sewa Dibayar di Muka

36.000.000

Bank

36.000.000

Maka setiap akhir bulan, organisasi akan menyusun jurnal penyesuaian karena
jangka waktu sewa dibayar di muka tersebut berkurang setiap bulannya. Misalnya,
per 31 Januari 2010, dibukukan jurnal penyesuaian sebagai berikut.
Biaya Sewa Kantor
Sewa Dibayar di Muka

1.000.000
1.000.000

Dalam contoh tersebut, ketika membayar Rp 36 juta pada 1 Januari 2010,


organisasi mencatat sewa dibayar di muka sebagai aset (unexpired cost). Pada 31
Desember 2010, organisasi mengakui beban sewa dua belas bulan, maka expired
cost adalah 12 juta, sementara yang belum expired adalah 24 juta. Artinya, beban
sewa (expired cost) di laporan laba rugi adalah 12 juta dan sewa di bayar di muka
(unexpired cost) dilaporan pada neraca sebesar 24 juta.
Akuntan akan/perlu membuat jurnal penyesuaian atas transaksi yang pada
awal mulanya telah dicatat secara benar (tidak salah dalam membukukan nilai
maupun tidak salah dalam penggunaan akun) dalam rangka memperbaharui data
akuntansi dengan cara menentukan secara tepat: berapa besarnya bagian dari
jumlah penerimaan yang diterima di muka yang telah menjadi pendapatan untuk
periode berjalan, berapa besarnya bagian dari jumlah penerimaan yang diterima di
muka (dalam periode berjalan) yang akan ditangguhkan sebagai pendapatan untuk
periode mendatang, berapa besarnya bagian dari jumlah pengeluaran yang telah
menjadi beban untuk periode berjalan, berapa besarnya bagian dari jumlah
pengeluaran periode berjalan yang akan ditangguhkan sebagai beban untuk
periode mendatang, berapa besarnya jumlah beban periode berjalan yang harus
diakui meskipun pembayarannya belum dilakukan, dan berapa besarnya jumlah
pendapatan periode berjalan yang harus diakui meskipun penagihan kasnya belum
diterima.
JURNAL KOREKSI
Jurnal koreksi diperlukan untuk memperbaiki kesalahan pencatatan transaksi (baik yang
diketahui di periode yang sama maupun yang yang berbeda). sesederhana itu teorinya. Pada
kenyataannya, tidak sedikit teman-teman di bagianakuntansi tidak yakin (lalu menjadi tidak cukup
percaya diri) dalam melakukan koreksi, takut salah. Tetapi, bisa saya maklumi.

Penggunaan istilah jurnal koreksi (pembetulan) sering ditukar atau dicampuradukan


dengan jurnal penyesuaian. Padahal sudah jelas, secara harfiah yang namanya koreksi ya untuk
memperbaiki kesalahan. Sedangkan jurnal penyesuaian diperlukan hanya untuk menyesuaikan
pencatatan akibat penggunaan metode akrual, pengalokasian beban secara gradual, atau akibat adanya
perubahan kebijakan akuntansi yang diterapkan oleh perusahaan (misal: perubahan estimasi atau
metode penghitungan). Bukan untuk melakukan koreksi terhadap kesalahan pencatatan!
Tidak sedikit teman-teman pegawai accounting (terutama pemula) yang dibikin bingung oleh
kedua istilah ini. Penggunaannya menjadi simpang siur parahnya kesimpangsiuran ini mengakibatkan
sulitnya memahami cara memperbaiki kesalahan pencatatan (jurnal)
Pada dasarnya, semua jenis kesalahan jika memungkinkan, seharusnya dikoreksi. Namun ada
beberapa kondisi yang membuat tidak semua kesalahan memerlukan jurnal koreksi karena akan betul
dengan sendirinya di periode (bulan/tahun) berikutnya. Kesalahan seperti apa yang membutuhkan jurnal
koreksi/pembetulan dan kesalahan seperti apa yang tidak? Bagaimana membuat jurnal koreksi?
Kesalahan pencatatan bisa saja diketehaui di periode yang sama (misal: transaksi periode 2011
kesalahannya diketahui di tahun 2011) atau di periode yang berbeda (transaksi tahun 2011 baru diketahui
di tahun 2012).
Agar tidak membingungkan sekalilagi saya akan tetap memakai istilah jurnal koreksi termasuk
untuk kesalahan yang diketahui di periode yang sama.Kesalahan bisa berupa kesalahan klasifikasi atau
kesalahan jumlah (salah hitung atau salah input):
1.

Kesalahan Klasifikasi Untuk kesalahan klasifikasi, tinggal dibuatkan jurnal reklasifikasi. Misalnya: PT.
RSUP menggunakan periode buku tahunan. Tanggal 25 Agustus 2011 diketahui terjadi kesalahan
pencatatan atas transaksi tanggal 10 Juli 2011 berupa pembelian mesin senilai Rp 60,000,000 yang
dimasukan ke dalam kelompok Aktiva Tetap Bangunan. Karena kesalahan diketahui di periode yang
sama dimana penyusutan atas aktiva tetap tersebut belum dicatat, maka yang di reklasifikasi hanya nilai
perolehannya, sehingga jurnal reklasifikasinya adalah sbb:
Aktiva Tetap Mesin = Rp 60,000,000
Aktiva Tetap Bangunan = Rp 60,000,000

2.

Kesalahan Jumlah Misalnya: Pada tanggal 25 Agustus diketahui telah terjadi kesalahan pencatatan
atas pembayaran listrik tanggal 15 Agustus 2011 yang sebesar Rp 15,000,000 dimasukkan hanya Rp
1,500,000. Koreksi atas kesalahan jumlah bisa dilakukan dengan cara memasukan jumlah selisihnya:
Biaya Listrik = Rp 13,500,000
Kas/Utang PLN = Rp 13,500,000
(Rp 15,000,000 Rp 1,500,000 = Rp 13,500,000)

Dalam akuntansi, jurnal koreksi perlu dibuat dengan maksud untuk


mengkoreksi nilai transaksi yang telah salah dibukukan dan atau juga untuk
mengkoreksi penggunaan klasifikasi akun yang salah (salah dalam mengidentifikasi

akun). Sedangkan jurnal penyesuaian, dibuat dengan tujuan untuk memperbaharui


data akuntansi agar supaya menjadi lebih akurat.
Secara garis besar dapat disimpulkan di sini bahwa jurnal koreksi dibuat atas
kesalahan yang terjadi dalam awal mulanya transaksi tersebut dicatat dan
dibukukan (baik salah nilai maupun akun). Sedangkan jurnal penyesuaian dibuat
bukan untuk memperbaiki kesalahan yang terjadi dalam awal mulanya transaksi
dicatat, melainkan untuk memenuhi konsep akrual dan deferral dalam akuntansi.
Selalu diakhir tulisan Tidak Pernah Terlambat Untuk Belajar
Salam Blogger
Boston sofian naibaho
Diposka