Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN (LP)

KASUS POST PARTUM DENGAN PATOLOGIS: PERDARAHAN POSTPARTUM


DI RUANG NIFAS
RSUD dr. ABDUL AZIZ SINGKAWANG

Oleh:
KARTIKA SARI
NIM. I4051161029

STASE MATERNITAS
PROFESI NERS
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2016

A. DEFINISI
Perdarahan postpartum adalah perdarahan kala IV yang lebih dari 500-600 ml dalam masa 24
jam setelah anak dan plasenta lahir. Menurut waktu terjadinya dibagi atas dua bagian : (Amru
sofian)
1. Perdarahan post partum primer (early postpartum hemorrhage) yang terjadi dalam 24 jam
setelah anak lahir.
2. Perdarahan postpartum sekunder (late postpartum hemorrhage) yang terjadi setelah 24
jam, biasanya antara hari ke-5 sampai 15 postpartum.
B. ETIOLOGI
Kondisi dalam persalinan sangat sulit menentukan jumlah perdarahan karena tercampur
dengan air ketuban dan serapan pakaian atau kain alas tidur. Sehingga penentuan untuk
perdarahan dilakukan setelah bayi lahir dan penentuan jumlah perdarahan dilihat dari
perdarahan lebih dari normal yang telah menyebabkan perubahan tanda-tanda vital. (Abdul
Bari)
Faktor terjadinya menurut Amru Sofian:
1. Atonia uteri
Dilihat dari faktor predisposisinya: umur, paritas, partus lama dan partus terlantar,
obstetric operatif dan narkosa, uterus terlalu regang dan besar, mioma uteri, malnutrisi.
2. Sisa plasenta dan selaput ketuban.
3. Jalan lahir: robekan peritoneum, vagina serviks, forniks, dan rahim.
4. Penyakit darah.
Kelainan pembekuan darah sering dijumpai pada perdarahan yang banyak solusio
plasenta, kematian janin yang lama dalam kandungan, pre-eklamsia dan eklamsia,
infeksi, hepatitisdan septic syok.
C. MANIFESTASI KLINIS
Setelah persalinan pasien mengeluh lemah, pucat. Limbung, berkeringat dingin menggigil,
pusing, gelisah, hiperkapnea, sistolik <90 mmHg, nadi >100x/mnt, kadar Hb <8 g%) ini
karena kehilangan darah lebih dari normal dan dapat terjadi syok hipovolemik, tekanan darah
rendah, ekstremitas dingin, mual. (Abdul Bari) Gejala klinisi berdasarkan penyebab :
1. Atonia Uteri
Gejala yang selalu ada: uterus tidak berkontraksi dan lembek dan perdarahan segera
setelah anak lahir (perdarahan post partum primer. Gejala yang kadang-kadang timbul:
syok (tekanan darah rendah, denyut nadi cepat dan kecil, ekstremitas dingin, gelisah,
mual dan lain-lain
2. Robekan jalan lahir
Gejala yang selalu ada : perdarahan segera, darah segar mengalir segera setelah bayi
lahir, kontraksi uterus baik, plasenta baik.
Gejala yang kadang-kadang timbul: pucat, lemah, menggigil.
3. Retensio plasenta

Gejala yang selalu ada: plasenta belum lahir setelah 30 menit, perdarahan segera,
kontraksi uterus baik. Gejala yang kadang-kadang timbul;: tali pusat putus akibat traksi
berlebihan, inversi uteri akibat tarikan, perdarahan lanjutan.
4. Tertinggalnya plasenta (sisa plasenta)
Gejala yang selalu ada: plasenta atau sebagian selaput (mengandung pembuluh darah)
tidak lengkap dan perdarahan segera. Gejala yang kadang-kadang timbul: uterus
berkontraksi baik tetapi tinggi fundus tidak berkurang.
5. Inversion uterus
Gejala yang selalu ada: uterus tidak teraba, lumen vagina terisi massa, tampak tali pusat
(jika plasenta belum lahir), perdarahan segera dan nyeri sedikit atau berat. Gejala yang
kadang-kadang timbul: syok neurogenik dan pucat.

D. PENATALAKSANAAN
1. Resusitasi cairan

Pengangkatan kaki dapat meningkatkan aliran darah balik vena sehingga dapat
member waktu untuk menegakkan diagnosis dan menangani penyebab perdarahan. Perlu
dilakukan pemberian oksigen dan akses intravena. Selama persalinan perlu dipasang
paling tidak 1 jalur intravena pada wanita dengan resiko perdarahan post partum dan
pertimbangan jalur kedua pada pasien dengan resiko sangat tinggi.
Berikan resusitasi dengan cairan kristaloid dalam volume yang besa, baik normal
salin (NS/NaCl) atau cairan Ringer Laktat melalui akses intravena perifer. NS merupakan
cairan yang cocok pada saat persalinan karena biaya yang ringan dan kompatibilitasnya
dengan sebagian besar obat dan transfuse darah. Resiko terjadinya asidosis hiperkloremik
sangat rendah dalam hubungan dengan perdarahan post partum. Bila dibutuhkan cairan
kristaloid dalam jumlah banyak (<10 L), dapat dipertimbangkan penggunaan cairan
Ringer Laktat.
Cairan yang mengandung dekstrosa, seperti D 5% tidak memiliki peran pada
penanganan perdarahan post partum. Perlu diingat bahwa kehilangan 1 L darah perlu
penggantian 4-5 L kristaloid, karena sebagian besar cairan infus tidak tertahan di ruang
intravasluler, tetapi terjadi pergeseran ke ruang interstitial. Pergeseran ini bersamaan
dengan penggunaan oksitosin, dapat menyebabkan edema perifer pada hari-hari setelah
perdarahanpost partum. Ginjal normal dengan mudah mengekskresi kelebihan cairan.
Perdarahan post partum lebih dari 1500 ml pada wanita hamil yang normal dapat
ditangani cukup dengan infuse kristaloid jika penyebab perdarahan dapat tertangani.
Kehilangan darah yang banyak, biasanya membutuhkan penambahan transfusi sel darah
merah.
Cairan koloid dalam jumlah besar (1000-1500 ml/hari) dapat menyebabkan efek
yang buruk pada hemostatis. Tidak ada cairan koloid yang terbukti lebih baik
dibandingkan NS, dank arena harga serta resiko terjadinya efek yang tidak diharapkan
pada pemberian koloid, maka cairan kristaloid tetap direkomendasikan.
2. Transfusi darah
Transfusi darah perlu diberikan bila perdarahan masih terus berlanjut dan diperkirakan
akan melebihi 2000 ml atau keadaan klinis pasien menunjukkan tanda-tanda syok
walaupun telah dilakukan resusitasi cepat. PRC digunakan dengan komponen darah lain
dan diberikan jika terdapat indikasi. Para klinis harus memperhatikan darah transfuse,
berkaitan dengan waktu, tipe dan jumlah produk darah yang tersedia dalam keadaan
gawat. Tujuan transfusi adalah memasukkan 2-4 unit PRC untuk menggantikan pembawa
oksigen yang hilang dan untuk mengembalikan volume sirkulasi. PRC bersifat sangat
kental yang dapat menurunkan jumlah tetesan infuse. Masalah ini dapat diatasi dengan
menambahkan 100 ml NS pada masing-masing unit. Jangan menggunakan cairan Ringer
laktat untuk tujuan ini karena kalsium yang dikandungnya dapat menyebabkan
penyumbatan.
3. Perdarahan sesuai penyebab
a. Perdarahan kal uri

Memberikan oksitosin
Mengeluarkan plasenta menurut cara Credee (1-2 kali)
Mengeluarkan plasenta dengan tangan
Pengeluaran plasenta dengan tangan segera sesudah janin lahir dilakukan bila:
Menyangka akan terjadi perdarahan post partum
Perdarahan banyak (lebih dari 500 cc)
Retensio plasenta
Melakukan tindakan obstetri dalam narkossa
Riwayat perdarahan post partum pada persalinan yang lalu
Jika masih ada sisa-sisa plasenta yang agak melekat dan masih terdapat
perdarahan segera lakukan utero-vaginal tamponade selama 24 jam, diikuti
pemberian uterotonika dan antibiotika selama 3 hari berturut-turut dan pada hari
ke-4 baru dilakukan kuretase untuk membersihkannya.
b. Jika disebabkan oleh luka-luka jalan lahir, luka segera dijahit dan perdarahan akan
berhenti.
c. Pengobatan perdarahan post partum pada atoni uteri tergantung banyaknya
perdarahan dan derajat atoni uteri yang dibagi dalam 3 tahap:
Tahap I perdarahan yang tidak banyak dapat diatasi dengan membrikan
uterotonika, mengurut rahim (maasage) dan memasang gurita.
Tahap II: bila perdarahan belum berhenti dan bertambah banyak, selanjunya
berikan infuse dan transfusi darah lalu dapat lakukan:
Perasat (maneuver) Zangemeister.
Perasat (maneuver) Fritch
Kompresi bimanual
Kompresi aorta
Tamponade utero-vaginal
Jepit arteri uterine dengan cara Henkel
Tahap III: bila belum tertolong maka usaha terakhir adalah menghilangkan sumber
perdarahan dengan 2 cara yaitu meligasi arteri hipogastrika atau histerektomi
d. Penanganan inversio uteri
Masukkan tangan ke dalam vagina
Fundus didorong ke atas
Berikan uterotonika
Lakukan plasenta manual
Tabel jenis uterotonika dan cara pemberiannya
Jenis dan cara
Oksitosin
Ergometrin
Misoprostol
Dosis
dan
cara IV: 20 U dalam 1 L IM atau IV (lambat) Oral atau rectal 400
pemberian awal
larutan
garam 0,2 mg
mg
fisiologis
dengan
tetesan cepat
IM: 10 U
Dosis lanjutan
Ulangi 0,2 mg IM 400 mg 2-4 jam

Dosis maksimal per


hari
Kontraindikasi
atau
hati hati

setelah 15 menit
setelah dosis awal
Bila masih diperlukan,
beri IM/IV setiap 2-4
jam
Total 1 mg (5 dosis)
Total 1200 mg atau 3
dosis
Preeklamsia, vitium Nyeri kontraksi, asma
kordis, hipertensi

E. DIAFNOSA KEPERAWATAN
1. Kekurangan volume cairan bd. Kehilangan cairan aktif (perdarahan)
2. Resiko syok (hipovolemik)
3. Ketidakefektifan perfusi jaringan perifer bd. Penurunan perfusi darah keperifer
4. Intoleransi aktivitas bd. Penurunan suplai oksigen ke seluruh tubuh
5. Defisit perawatan diri bd. Kelemahan
6. Resiko infeksi
7. Nyeri bd. Trauma/ distensi jaringan
8. Ansietas bd. Perubahan dalam fungsi peran

No
1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
NANDA
NOC
NIC
Kekurangan volume cairan
a. Keseimbangan Elektrolit dan Asam Basa
a. Pencegahan perdarahan
Batasan karakteristik:
Indikator:
Aktivitas:
Penurunan status mental
Nadi dalam batas yang diharapkan
Catat kadar HB dan Ht setelah pasien
Penurunan tekanan darah
Irama jantung dalam batas yang diharapkan
mengalami kehilangan banyak darah
Penurunan volume nadi
Frekuensi nafas dalam batas yang diharapkan
Pantau factor koagulasi, termasuk
Penurunan tekanan nadi
Irama pernapasan dalam batas yang
protrombin (Pt), waktu paruh
Penurunan turgor kulit
diharapkan
tromboplastin (PTT), fibrinogen,
Penurunan haluaran urin
Natrium serum dbn
degradasi fibrin, dan kadar platelet dalam
Penurunan pengisian vena
Kalium serum dbn
darah
Klorida serum dbn
Kulit kering
Pantau tanda-tanda vital,

Kalsium
serum
dbn
Membrane mukosa kering
osmotic,termasuk TD.

Magnesium
serum
dbn
Suhu tubuh meningkat
Atur pasien agar pasien tetap bed rest jika
PH darah serum dbn
Frekuensi nadi meningkat
masih ada indikasi perdarahan
Konsentrasi urin meningkat

Atur kepatenan/ kualitas produk/ alat


b. Hidrasi
Penurunan berat badan yang tibaIndicator:
yang berhubungan dengan perdarahan
tiba (kecuali pada lapisan yang
b. Manajemen elektrolit
Mata cekung tidak tidak ditemukan
ketiga)
Demam tidak ditemukan
Aktivitas :
Kelemahan
TD dbn
Monitor ketidak abnormalan elektrolit
Haus
Hematokrit DBN
serum, yang terpakai
c. Keseimbangan cairan
Pertahankan akses IV secara paten
Berikan cairan secara tepat
Pertahankan catatan intake dan output
yang akurat
c.

Manajemen cairan
Aktivitas:

2.

Nyeri Akut
a.
Batasan Karakteristik :

Adanya laporan secara verbal


mengenai nyeri
b.

c.

Kontrol nyeri
Factor resiko dapat diketahui
Tindakan pencegahan dapat dilakukan
Tingkat kenyamanan
Keadaan fisik membaik
Pasien dapat melakukan control nyeri
Tingkat nyeri
Frekuensi nyeri berkurang
Lama waktu nyeri berkurang

Hitung haluaran
Pertahankan intake yang akurat
Monitor status hidrasi (seperti :
kelembapan mukosa membrane, nadi)
Monitor status hemodinamik termasuk
CVP, MAP, PAP
Monitor TTV
Berikan terapi IV
d. Manajemen hipovolemia
Monitor nilai hemoglobin dan hematokrit
Monitor adanya kehilangan cairan (contoh,
perdarahan, muntah)
Monitor TTV
Pertahankan aliran infuse intravena
Atur persediaan produk darah untuk
transfuse jika dibutuhkan
Adakan autotransfusi kehilangan darah
dengan tepat
Berikan produk darah (platelet dan
plasma)
Manajemen nyeri
Nilai
nyeri
dimulai
dari
lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas,
intensitas, dan penyebab.
Kaji ketidak nyamanan secara nonverbal
Kontrol factor lingkungan yang dapat
menimbulkan ketidaknyamanan pada
pasien (suhu ruangan, pencahayaan,
keributan)

Pasien tidak resah

3.

Resiko syok
Batasan karakteristik:
Hipotensi
hipovolemia

Mengurangi factor-faktor yang nyeri


Menyediakan analgesic untuk mengatasi
nyeri / istirahat yang adekuat untuk
mengurangi nyeri
Anjurkan untuk tidur / istirahat untuk
mengurangi nyeri
a. Keseimbangan Elektrolit dan Asam Basa
a. Manajemen cairan
Indikator:
Aktivitas:
Nadi dalam batas yang diharapkan
Hitung haluaran
Irama jantung dalam batas yang diharapkan
Pertahankan intake yang akurat
Frekuensi nafas dalam batas yang diharapkan Monitor status hidrasi (seperti :
Irama pernapasan dalam batas yang
kelembapan mukosa membrane, nadi)
Monitor status hemodinamik termasuk
diharapkan
Natrium serum dbn
CVP, MAP, PAP
Kalium serum dbn
Monitor TTV
Klorida serum dbn
Berikan terapi IV
Kalsium serum dbn
b. Manajemen hipovolemia
Magnesium serum dbn
Monitor nilai hemoglobin dan hematokrit
PH darah serum dbn
Monitor adanya kehilangan cairan
b. Hidrasi
(contoh, perdarahan, muntah)
Indicator:
Atur persediaan produk darah untuk
Mata cekung tidak tidak ditemukan
transfuse jika dibutuhkan
Demam tidak ditemukan
Adakan autotransfusi kehilangan darah
TD dbn
dengan tepat
Hematokrit DBN
Berikan produk darah (platelet dan
plasma)
Monitor reaksi darah dengan tepat
c. Pencegahan syok
Aktivitas:

Monitor status sirkulasi: BP, warna kulit, suhu


kulit, denyut jantung, HR , dan ritme, nadi
perifer dan kapiler refill.
Monitor tanda inadekuat oksigenasi jaringan.
Monitor input dan output
Pantau nilai labor : khususnya Hb, Ht, factor
pembekuan, ABG dan elektrolit
Monitor kompensasi awal respon kehilangan
cairan : peningkatan HR, penurunan BP,
hipotensi ortostatik, penurunan haluaran urin,
penyempitan tekanan nadi, penurunan kapiler
refill, ketakutan, kulit, kulit dingin dan pucat,
deforesis.

DAFTAR PUSTAKA
Nurarif, Amin Huda dan Kusuma Hardhi. 2016. Asuhan Keperawatan Praktis Berdasarkan
Penerapan Diagnosa Nanda, NIC, NOC dalam Berbagai Kasus Edisi Revisi Jilid 2.
Yogyakarta: MediaAction Publisher.
Rayburn,W.F., Carey, J. C.2011. Obstetri & Ginekologi. Penerbit: Widya Medika: Jakarta.
Sofian Amru, 2012. Rustam Mochtar Sinopsis Obsttetri: Obstetri operatif Obstetri social edisi 3
jilid 1 & 2. EGC: Jakarta.
Winjosastro. 2011. Ilmu Kandungan. Edisi 2. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo, 1-6.

Mengetahui
Singkawang, 28 November 2016
Mahasiswa Praktikan

Kartika Sari

Preseptor Klinik

Rosilawati, S.ST.