Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hizbut Tahrir didirikan sebagai organisasi Islam yang bertujuan
mengembalikan kaum muslim untuk kembali taat ke hukum Islam, memperbaiki
sistem perundangan dan hukum negara yang dinilai kufur agar sesuai tuntunan
syariat, serta membebaskan dari gaya hidup dan pengaruh negara barat. Hizbut
Tahrir juga bertujuan untuk membangun kembali pemerintahan Khilafah
Islamiyah di dunia, sehingga hukum Islam dapat diberlakukan kembali.
Perkembangan Hizbut Tahrir berkembang ke seluruh negara Arab di Timur
Tengah, termasuk di Afrikan seperi Libya, Mesir, Sudan Aljazair. Juga ke Eropa
menjangkau Turki, Inggris, Perancis, Jerman, Austria, dan negara-negara Eropah
lainnya hingga ke Amerika Serikat, Rusia, Uzbekistan, Tajikistan, Kirgistan,
Pakistan, Malaysia, Indonesia, dan Australia.
Hizbut Tahrir masuk ke Indonesia sekita tahun 1980-an dengan dakwah
terfokus di kampus-kampus besar di seluruh Indonesia. Namun pada era tahun
1990-an ide-ide dakwah Hizbut Tahrir merambah ke masyarakat, melalui dakwah
aktifitas di masjid, perkantoran, perusahaan, perumahan.
Pendiri Hizbut Tahrir (Taqiyyuddin An Nabhani) mengharamkan meyakini
aqidah selain dari riwayat yang mutawatir saja meskipun riwayat tersebut
shohih. Taqiyyuddin juga berpendapat bahwa semua Dhon tidak bisa dijadikan
aqidah.hal ini karena Taqiyyuddin menganggap hadits Ahad meskipun shohih,
hanya membuahkan Dhon dan semua Dhon tidak bisa diimani (haram diimani).
Di bidang akidah, mereka cenderung berpaham Qodariyah, paham yang
menganggap manusia bisa menentukan sendiri keinginannya tanpa terikat
ketentuan Allah.Dalam kitab As-Syakhshiyah Al-Islamiyah juz
I bab Al qadha wal qodar (cet. Darul Ummah hal 94-95) Taqiyuddin berkata :
Segala perbuatan manusia tidak terkait dengan Qadla (kepastian) Allah. Karena
setiap manusia dapat menentukan kemauan dan keinginannya sendiri. Maka
semua perbuatan yang mengandung unsur kesengajaan dan kehendak manusia
tidak masuk dalam Qadla.

1.2 Batasan Masalah


a. Bagaimana mengenai asal-usul Hizbut Tahrir?
b. Apa saja tujuan mendirikan Hizbut Tahrir?
1.3 Tujuan Penulisan
a. Untuk memenuhi tugas mata kuliah Sejarah Pemikiran Islam
b. Untuk mengetahui Hizbut Tahrir
1.4 Sistematika Penulisan

II
PEMBAHASAN

2.1 Asal usul Hizbut Tahrir


Hizbut Tahrir atau Hizb ut-Tahrir (Arab: ; Inggris: Party of
Liberation; Indonesia: 'Partai Pembebasan') awalnya bernama 'Partai
Pembebasan Islam (hizb al-tahrir al-islami)' adalah partai politik berideologi Islam
didirikan pada tahun 1952 di Al Quds berdasarkan aqidah Islam. Taqiyyuddin An
Nabhani (1905-1978) atau di Indonesia dikenal denganSyekh Taqiyyuddin An
Nabhani seorang Ulama, Mujtahid, hakim pengadilan (Qadi) Di Palestina dan
lulusan Al Azhar. Beliau hafidz Quran sejak usia 15 tahun. Ia adalah cucu dari
Ulama besar pada masa Khilafah Utsmaniyah, Syeikh Yusuf An-Nabhani.
Sebagaimana dijelaskan dalam buku mereka Strategi Dakwah Hizbut
Tahrir yang diterbitkan oleh pustaka Thariqul Izzah (halaman 21- 23),
bahwasanya Hizbut Tahrir merupakan sebuah gerakan yang bermula dari
beberapa Ulama setelah merasakan berbagai malapetaka yang menimpa kaum
muslimin. Mereka lalu mempelajari realita umat islam di masa kini dan masa
lampau (lihat halaman 22). Wal hasil, setelah melalui berbagai studi secara
intensif, mereka menghasilkan sebuah pemikiran yang khas, jernih dan jelas; lalu
mereka mendirikan Hizbut Tahrir berdasarkan pemikiran tersebut

2.2 Tujuan Utama mendirikan Hizbut Tahrir


Menurut mereka, problematika utama umat yang dihadapi oleh umat
Islam bukanlah masalah menegakkan tauhid dan menjauhkan umat Islam dari
kesyirikan, tetapi bagaimana caranya mendirikan khilafah (daulah Islamiah).

Sebagaimana perkataan mereka ;Sesungguhnya problematika utama yang


dihadapi kaum muslimin saat ini adalah bagaimana menerapkan kembali hukum
yang diturunkan Allah I , yaitu dengan menegakkan kembali sistem khilafah dan
mengangkat seorang khalifah yang dibai'at berdasarkan kitabullah dan sunnah
Rosul-Nya(lhat halaman 5). Bahkan mereka membatasi problematika umat islam
hanya pada masalah ini bukan pada masalah aqidah atau yang lainnya.
Sebagaimana perkataan mereka :Dengan membatasi problematika utama kaum
muslimin, akan jelaslah tujuan yang harus diupayakan.(lihat halaman 5). Karena
menurut mereka hanya dengan sistem khilafah baru bisa tegak hukum-hukum
Islam.
Hal ini dibangun atas anggapan mereka bahwa seluruh negara-negara
(termasuk Arab) telah menerapkan hukum-hukum kufur. Mereka berkata
:Sementara negeri-negeri Islam termasuk Arab sekalipun -sangat disayangkanternyata seluruhnya telah menerapkan perundang-undangan dan hukum-hukum
kufur , kecuali sebagian kecil... (lihat halaman 6). Walaupun mereka agak
melebihkan Arab Saudi dari yang lainnya, namun anehnya mereka juga
melebihkan Iran. Kata mereka : Sekalipun ada juga pengadilan-pengadilan yang
menerapkan sebagian hukum syara' selain yang disebutkan diatas, namun
hanya terdapat di sebagian kecil negeri-negeri kaum muslimin seperti Arab Saudi
dan Iran. (lihat halaman 6). Padahal kita ketahui bahwa Iran merupakan pusat
perkembangan Syi'ah.

2.3 Landasan Pemikiran Hizbut Tahrir


Hizbut Tahrir selama ini melakukan serangkaian pengkajian, penelitian,
dan studi terhadap keadaan umat dan kemerosotan yang dideritanya. Pada saat
yang sama, Hizbut Tahrir juga melakukan serangkaian penelaahansebagai
perbandingan, penerj.terhadap situasi masa Rasulullah saw., masa Khulafaur
Rasyidin, dan masa tbin. Upaya ini dilakukan dengan senantiasa merujuk pada
Sirah Rasulullah saw. dan metode beliau dalam mengemban dakwah (sejak awal
hingga beliau berhasil mendirikan Daulah Islam di Madinah), serta dengan
melakukan studi tentang bagaimana perjalanan hidup beliau di Madinah. Upaya
ini juga dilakukan dengan senantiasa merujuk pada Kitabullah, Sunnah RasulNya, serta apa yang ditunjukkan oleh keduanya, yakni Ijma Sahabat dan Qiyas,
di samping merujuk pula pada berbagai pendapat para imam mujtahid. Setelah
melakukan serangkaian upaya di atas, Hizbut Tahrir lalu memilih dan
menetapkan ide-ide, pendapat-pendapat, dan hukum-hukum; baik secara
konseptual (fikrah) maupun metode operasionalnya (thariqah). Semua itu
merupakan ide-ide, pendapat-pendapat, dan hukum-hukum Islam semata; tidak
ada satu pun yang tidak Islami; tidak pula dipengaruhi oleh sesuatu yang tidak
bersumber dari Islam. Semuanya bersumber secara utuh dan murni dari Islam,
tidak bersandar pada dasardasar selain Islam dan nash-nash syariatnya. Selain
itu, partai ini senantiasa bersandar pada pemikiran (akal sehat) dalam
menetapakan semua itu. Hizbut Tahrir telah memilih dan menetapkan ide-ide,
pendapat-pendapat, dan hukum-hukum tersebut sesuai dengan ketentuan yang
diperlukan dalam perjuangannya. Semua itu adalah dalam rangka
melangsungkan kehidupan Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh
penjuru dunia, dengan cara mendirikan kembali dawlah-khilafah dan
mengangkat seorang khalifah. Ide-ide, pendapat-pendapat, dan hukum-hukum

yang telah dipilih dan ditetapkan oleh Hizbut Tahrir telah dihimpun di dalam
buku-buku (baik yang dijadikan sebagai materi pokok pembinaan ataupun
sebagai materi pelengkap) dan sejumlah selebaran. Semua itu telah diterbitkan
dan disebarkan di tengah-tengah umat. Berikut ini adalah beberapa buku yang
telah diterbitkan oleh Hizbut Tahrir, yaitu :
Kitab Nizhm al-Islm (Islam Struktural).
Kitab Nizhm al-H ukm f al-Islm (Sistem Pemerintahan Islam).
Kitab An-Nizhm al-Iqtishd f al-Islm (Sistem Ekonomi Islam).
Kitab An-Nizhm al-Ijtim f al-Islm (Sistem Pergaulan Pria-Wanita dalam
Islam).
Kitab At-Takattul al-H izb (Politik Partai: Strategi Partai Politik Islam).
Kitab Mafhm H izbut Tahrr (Pokok-pokok Pikiran Hizbut Tahrir).
Kitab Ad-Dawlah al-Islamiyyah (Daulah Islam).
Kitab Asy-Syakhshiyyah al-Islmiyyah (Membentuk Kepribadian Islam, tiga jilid).
Kitab Mafhm Siysah li Hizbut Tahrir (Pokok-pokok Pikiran Politik Hizbut Tahrir).
Kitab Nadhart Siysiyah li Hizbut Tahrir (Beberapa Pandangan Politik menurut
Hizbut Tahrir).
Kitab Muqaddimah ad-Dustr (Pengantar Undang-undang Negara Islam)
Kitab Al-Khilfah (Khilafah).
Kitab Kayfa Hudimat al-Khilfah (Dekonstruksi Khilafah: Skenario di Balik
Runtuhnya Khilafah Islam).
Kitab Nizhm al-Uqbt (Sistem Peradilan Islam).
Kitab Ahkm al-Bayyint (Hukum-hukum Pembuktian dalam Pengadilan)
Kitab Naqd al-Isytirkiyyah al-Marksiyah (Kritik atas Sosialisme-Marxis).
Kitab At-Tafkr (Nalar Islam: Membangun Daya Pikir).
Kitab Surah al-Badhah (Mempercepat Proses Berpikir).
Kitab Al-Fikr al-Islm (Bunga Rampai Pemikiran Islam).
Kitab Naqd an-Nadhariyah al-Iltizmi f Qawnn al-Gharbiyyah (Kritik atas Teori
Stipulasi dalam Undang-undang Barat).
Kitab Nid Hr (Panggilan Hangat dari Hizbut Tahrir untuk Umat Islam).
Kitab As-Siysah al-Iqtishdhiyyah al-Mutsla (Politik-Ekonomi Islam).
Kitab Al-Amwl f Dawlah al-Khilfah (Sistem Keuangan dalam Negara Khilafah).
Struktur Daulah Khilafah Islamiyah
Min Muqowwimat an Nafsiyyah Al Islamiyyah (Pilar-pilar nafsiyah Islamiyah)

Di samping itu, terdapat ribuan selebaran-selebaran, buklet-buklet, dan diktatdiktat (surat-surat terbuka kepada para penguasa dan pemimpin gerakan politik)
yang dikeluarkan oleh Hizbut Tahrir sejak berdirinya sampai sekarang.

Manhaj dakwah Hizbut Tahrir adalah hanya melalui politik


Mereka berkata :Oleh karena itu, usaha untuk menegakkan sistem
khilafah dan mengembalikan penerapan hukum dengan apa yang telah
diturunkan Allah harus berupa amal jama'i dan berebntuk kutlah (kelompok
dakwah), partai, atau sebuah jama'ah. Dan amal jama'i ini pun harus berupa
aktivitas politik dan tidak boleh bergerak di luar aktivitas politik(lihat halaman
25). Mereka menganggap Kelompok-kelompok dakwah yang bergerak di luar
bidang politik pada hakekatnya tidak berhubungan dengan masalah utama kaum
muslimin (lihat halaman 25). Dan menurut mereka termasuk kelompok-kelompok
tersebut adalah kelompok dakwah yang memfokuskan perhatiannya kepada
kodifikasi Hadits berikut takhrijnya (menyangkut sanad, perawi, atau
periwayatan sebuah Hadits dan lain sebagainya) (lihat halaman 27).
Kita dapati banyak pemuda-pemuda anggota Hizbut Tahrir yang terjun dalam
membahas masalah politik, padahal hal itu sudah diluar kemampuan mereka dan
bukan pula hak mereka membahas masalah politik. Tidak semua orang berhak
menjadi politikus. Yang berhak menjadi menangani masalah siyasah Syar'iyyah
hanyalah para ulama. Tidak ada yang berhak memberikan fatwa-fatwa mengenai
politik kecuali ulama yang telah mencapai derajat Mujtahid yang menguasai
seluruh cabang-cabang permasalahan syari'at. Apalagi untuk menjadi imam
yang di bai'at maka selayakanya dia adalah seorang mujtahid, atau minimal dia
didampingi oleh seorang mujtahid. (lihat majalah As-Sunnah 08/III/1419-1999
hal-35) Hizbut Tahrir tidak berhak membahas masalah politik sebab mereka
adalah kumpulan orang-orang awam yang tidak memahami hadits-hadits
Rosulullah. Bagaimana mereka bisa mencela para ulama yang sibuk mempelajari
dan membahas sanad hadits-hadits Rosulullah, padahal pada hadits-hadits
Rosulullah tersebutlah lahir hukum-hukum syari'at Islam yang harus dikuasai
oleh seorang mujtahid. Berapakah ulama yang ada pada gerakan Hizbut Tahrir
ini yang mencapai derajat mujtahid ? Ataukah tidak ada sama sekali ?.
Aqidah mereka
Hizbut Tahrir sangat terpengaruh dengan Mu'tazilah yang terlalu mengagungkan
akal. Mereka menjadikan akal sebagai dasar pijak mengenai thoriqul iman (jalan
keimanan), sebagaimana perkataan pendiri mereka (Taqiyyuddin An-Nabahani) :
Aqidah seorang muslim harus bersandar kepada akal atau pada sesuatu yang
telah terbukti dengan akal atau yang datang dari sumber berita yang yakin dan
pasti (qoth'i), yaitu apa-apa yang yang telah ditetapkan oleh Al-Qur'an dan
hadits qoth'i yaitu hadits yang mutawatir. Apa saja yang tidak terbukti dengan
kedua jalan tadi, yaitu akal serta nash Al-Qur'an dan hadits mutawatir, haram
baginya untuk mngimaninya (menjadikannya sbagai aqidah). Sebab aqidah tidak
boleh dambil kecuali dengan kepastian . Mereka memanfaatkan istlah-istilah
fiqhiah qoth'i tsubut (jelas dan pasti sumbernya dari Nabi), dzonni tsubut (masih
belum jelas sumbernya dari Nabi), qoth'i dalalah (pasti dan jelas penunjukannya)
dan dzonni dalalah (masih belum jelas penunjukannya) untuk menuju pada halhal yang menyimpang. Mereka berkata :Tidak boleh bagi seorang muslim

membangun aqidahnya kecuali berdasarkan dalil yang qoth'i tsubut dan qoth'i
dalalah. Kalau cuma salah satu maka tidak bisa. Sehingga hadits-hadits ahad
tentang aqidah walaupun qoth'i dalalah mereka tolak karena tidak mutawatir.
Bahkan ayat Al-Qur'an dalam masalah aqidah yang penunjukannya tidak jelas
(dzonni dalalah), menurut mereka tidak wajib bagi seseorang untuk berpegang
teguh dengan makna yang terkandung dalam ayat tersebut. Mereka berdalil
dengan surat An-Najm ayat 28 :
Dan sesungguhnya dzann (persangkaan) itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap
kebenaran.
Anehnya dalam masalah fiqih, mereka menerima penetapan hukum-hukum fiqih
dengan hadits ahad. Sehingga mereka menjadi kebingungan sendiri ketika kita
tanyakan tentang sikap mereka terhadap hadits Abu Hurairoh:
Jika seseorang diantara kamu duduk dalam tasyahud akhir, hendaklah ia
berlindung dari empat perkara. (Hendaklah) ia berdo'a : Ya Allah, sesungguhnya
aku berlindung diri kpadamu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dan
dari fitnah ketika hidup dan ketika mati, dan dari jahatnya fitnah al-Masih adDajjal. (diriwayatkan dalam shohih Bukhori dan hadits senada juga dirwayatkan
oleh Abu Daud, Ahmad dan Nasa'i dengan sanad yang shohih)
Menurut filsafat mereka, hadits ini sangatlah aneh. Hadits ini adalah ahad.
Anehnya di satu sisi mengandung masalah hukum fiqih (yaitu anjuran berdo'a di
akhir sholat) yang harus mereka terima, namun di sisi yang lain mengandung
masalah aqidah (yaitu tentang adanya adzab kubur) yang harus mereka tolak
karena haditsnya tidak mutawatir. Mereka sangat kebingungan untuk bisa
menerima dua hal yang saling bertolak belakang. Akhirnya karena kebngungan
tersebut mereka berkata:Kami membenarkan adzab kubur tapi kami tidak
mengimaninya. Ini jelas suatu filsafat yang aneh sekali.
Akibat dari pemahaman yang aneh ini pernah ada seorang da'i Hizbut Tahrir
yang berdakwah sendirian di Jepang. Ia menyampaikan serentetan ceramah
tentang Jalan Iman. Diantara isi ceramahnya, ia menjelaskan bahwa masalah
aqidah tidak bisa tertetapkan berdasarkan hadits ahad. Ternyata diantara para
hadirin peserta ceramah ada seorang pemuda yang pandai. Pemuda tersebut
berkata kepadanya : Wahai Ustadz, Anda datang datang sebagai da'i ke Jepang
sebuah negeri yang (penuh dengan) syirik dan kekufuran. Sebagaimana Anda
katakan, bahwa Anda datang dalam rangka berdakwah agar masyarakat Jepang
masuk islam. Anda mengatakan kepada mereka bahwa Islam menyatakan bahwa
sesungguhnya aqidah tidak bisa ditetapkan berdasarkan khabar ahad. Anda juga
berkata bahwa termasuk perkara aqidah yaitu tidak mengambil aqidah yang
dibawa oleh satu orang indvidu. Anda sekarang menyeru kami kepada Islam
padahal Anda seorang diri. Maka berdasarkan filsafat Anda, sebaiknya Anda
pulang saja ke negeri Anda, lalu bawalah (kemari) puluhan orang Islam seperti
Anda yang semuanya mengutarakan pernyataan seperti pernyataan Anda.
Dengan demikian khabar Anda menjadi khabar yang mutawatir.
Hizbut Tahrir sulit diharapkan memperhatikan masalah aqidah
Setelah mengetahui aqidah mereka yang menolak hadits-hadits ahad,
nampaklah bahwa Hizbut Tahrir tidak akan memperhatikan masalah-masalah
tauhid baik tauhid asma wa sifat maupun tauhid uluhiah. Sebab pembahasan

kedua jenis tauhid tersebut banyak di sandarkan pada hadits-hadits ahad. Jangan
diharapkan Hizbut Tahrir akan memberantas model-model kesyirikan yang begitu
banyak, karena pembahasannya juga berlandaskan pada hadits-hadits ahad.
Dan lebih-lebih jangan diharapakan mereka akan memberantas bid'ah sebab
mereka sendiri adalah jama'ah bid'ah dan jama'ah yang mencela para ulama
yang melakukan takhrij dan memeriksa derajat hadits-hadits Rosulullah.

BAB IV
KESIMPULAN

DAFTAR PUSTAKA

http://www.salafyoon.net/manhaj/hizbut-tahrir.html
http://era12111117.blogspot.com/2012/04/hizbut-tahrir.html
http://www.syahidah.web.id/2012/05/ismail-yusanto-penting-membacaulang.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Hizbut_Tahrir