Anda di halaman 1dari 6

Seputar masalah sholat (syarat, rukun

dan wajib sholat)


diposting oleh webadmin pada 11/07/2005
Syarat dan Rukun Shalat
Syarat-Syarat Shalat
Shalat tidak akan sah kecuali jika memenuhi syarat-syarat, rukun-rukun dan hal-hal yang wajib ada padanya serta
menghindari hal-hal yang akan membatalkannya. Adapun syarat-syaratnya ada sembilan: 1. Islam, 2. Berakal, 3.
Tamyiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk), 4. Menghilangkan hadats, 5. Menghilangkan najis, 6.
Menutup aurat, 7. Masuknya waktu, 8. Menghadap kiblat, 9. Niat.
Secara bahasa, syuruuth (syarat-syarat) adalah bentuk jamak dari kata syarth yang berarti alamat.
Sedangkan menurut istilah adalah apa-apa yang ketiadaannya menyebabkan ketidakadaan (tidak sah), tetapi adanya
tidak mengharuskan (sesuatu itu) ada (sah). Contohnya, jika tidak ada thaharah (kesucian) maka shalat tidak ada
(yakni tidak sah), tetapi adanya thaharah tidak berarti adanya shalat (belum memastikan sahnya shalat, karena masih
harus memenuhi syarat-syarat yang lainnya, rukun-rukunnya, hal-hal yang wajibnya dan menghindari hal-hal yang
membatalkannya, pent.). Adapun yang dimaksud dengan syarat-syarat shalat di sini ialah syarat-syarat sahnya shalat
tersebut.
Penjelasan Sembilan Syarat Sahnya Shalat
1. Islam
Lawannya adalah kafir. Orang kafir amalannya tertolak walaupun dia banyak mengamalkan apa saja, dalilnya firman
Allah azza wa jalla, Tidaklah pantas bagi orang-orang musyrik untuk memakmurkan masjid-masjid Allah padahal
mereka menyaksikan atas diri mereka kekafiran. Mereka itu, amal-amalnya telah runtuh dan di dalam nerakalah
mereka akan kekal. (At-Taubah:17)
Dan firman Allah azza wa jalla, Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu
(bagaikan) debu yang berterbangan. (Al-Furqan:23)
Shalat tidak akan diterima selain dari seorang muslim, dalilnya firman Allah azza wa jalla, Barangsiapa mencari
agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat
termasuk orang-orang yang rugi. (Aali Imraan:85)
2. Berakal
Lawannya adalah gila. Orang gila terangkat darinya pena (tidak dihisab amalannya) hingga dia sadar, dalilnya sabda
Rasulullah,
:
. (
)
Diangkat pena dari tiga orang: 1. Orang tidur hingga dia bangun, 2. Orang gila hingga dia sadar, 3. Anak-anak
sampai ia baligh. (HR. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa-i, dan Ibnu Majah).

3. Tamyiz
Yaitu anak-anak yang sudah dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk, dimulai dari umur sekitar tujuh
tahun. Jika sudah berumur tujuh tahun maka mereka diperintahkan untuk melaksanakan shalat, berdasarkan sabda
Nabi shallallahu alaihi wa sallam,

. (
)
Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika berumur tujuh tahun, dan pukullah mereka ketika berumur sepuluh
tahun (jika mereka enggan untuk shalat) dan pisahkanlah mereka di tempat-tempat tidur mereka masing-masing.
(HR. Al-Hakim, Al-Imam Ahmad dan Abu Dawud)
4. Menghilangkan Hadats (Thaharah)
Hadats ada dua: hadats akbar (hadats besar) seperti janabat dan haidh, dihilangkan dengan mandi (yakni mandi
janabah), dan hadats ashghar (hadats kecil) dihilangkan dengan wudhu`, sesuai sabda Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam,
Allah tidak akan menerima shalat tanpa bersuci. (HR. Muslim dan selainnya)
Dan sabda Rasul shallallahu alaihi wa sallam, Allah tidak akan menerima shalat orang yang berhadats hingga dia
berwudlu`. (Muttafaqun alaih)
5. Menghilangkan Najis
Menghilangkan najis dari tiga hal: badan, pakaian dan tanah (lantai tempat shalat), dalilnya firman Allah azza wa
jalla, Dan pakaianmu, maka sucikanlah. (Al-Muddatstsir:4)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
.
Bersucilah dari kencing, sebab kebanyakan adzab kubur disebabkan olehnya.
6. Menutup Aurat
Menutupnya dengan apa yang tidak menampakkan kulit (dan bentuk tubuh), berdasarkan sabda Rasulullah
shallallahu alaihi wa sallam, Allah tidak akan menerima shalat wanita yang telah haidh (yakni yang telah baligh)
kecuali dengan khimar (pakaian yang menutup seluruh tubuh, seperti mukenah). (HR. Abu Dawud)
Para ulama sepakat atas batalnya orang yang shalat dalam keadaan terbuka auratnya padahal dia mampu
mendapatkan penutup aurat. Batas aurat laki-laki dan budak wanita ialah dari pusar hingga ke lutut, sedangkan
wanita merdeka maka seluruh tubuhnya aurat selain wajahnya selama tidak ada ajnaby (orang yang bukan
mahramnya) yang melihatnya, namun jika ada ajnaby maka sudah tentu wajib atasnya menutup wajah juga.
Di antara yang menunjukkan tentang mentutup aurat ialah hadits Salamah bin Al-Akwa` radhiyallahu anhu,
Kancinglah ia (baju) walau dengan duri.
Dan firman Allah azza wa jalla, Wahai anak cucu Adam, pakailah pakaian kalian yang indah di setiap (memasuki)
masjid. (Al-Araaf:31) Yakni tatkala shalat.
7. Masuk Waktu
Dalil dari As-Sunnah ialah hadits Jibril alaihis salam bahwa dia mengimami Nabi shallallahu alaihi wa sallam di awal

waktu dan di akhir waktu (esok harinya), lalu dia berkata: Wahai Muhammad, shalat itu antara dua waktu ini.
Dan firman Allah azza wa jalla, Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orangorang yang beriman. (An-Nisa`:103)
Artinya diwajibkan dalam waktu-waktu yang telah tertentu. Dalil tentang waktu-waktu itu adalah firman Allah azza wa
jalla, Dirikanlah shalat dari sesudah tergelincirnya matahari sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat)
Shubuh. Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat). (Al-Israa`:78)
8. Menghadap Kiblat
Dalilnya firman Allah, Sungguh Kami melihat wajahmu sering menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan
memalingkan kamu ke Kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil-Haram, dan di mana saja
kalian berada maka palingkanlah wajah kalian ke arahnya. (Al-Baqarah:144)
9. Niat
Tempat niat ialah di dalam hati, sedangkan melafazhkannya adalah bidah (karena tidak ada dalilnya). Dalil wajibnya
niat adalah hadits yang masyhur, Sesungguhnya amal-amal itu didasari oleh niat dan sesungguhnya setiap orang
akan diberi (balasan) sesuai niatnya. (Muttafaqun alaih dari Umar Ibnul Khaththab)
Rukun-Rukun Shalat
Rukun-rukun shalat ada empat belas: 1. Berdiri bagi yang mampu, 2. Takbiiratul-Ihraam, 3. Membaca Al-Fatihah, 4.
Ruku, 5. Itidal setelah ruku, 6. Sujud dengan anggota tubuh yang tujuh, 7. Bangkit darinya, 8. Duduk di antara dua
sujud, 9. Thumaninah (Tenang) dalam semua amalan, 10. Tertib rukun-rukunnya, 11. Tasyahhud Akhir, 12. Duduk
untuk Tahiyyat Akhir, 13. Shalawat untuk Nabi shallallahu alaihi wa sallam, 14. Salam dua kali.
Penjelasan Empat Belas Rukun Shalat
1. Berdiri tegak pada shalat fardhu bagi yang mampu
Dalilnya firman Allah azza wa jalla, Jagalah shalat-shalat dan shalat wustha (shalat Ashar), serta berdirilah untuk
Allah azza wa jalla dengan khusyu. (Al-Baqarah:238)
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Shalatlah dengan berdiri (HR. Al-Bukhary)
2. Takbiiratul-ihraam, yaitu ucapan: Allahu Akbar, tidak boleh dengan ucapan lain
Dalilnya hadits, Pembukaan (dimulainya) shalat dengan takbir dan penutupnya dengan salam. (HR. Abu Dawud dan
dishahihkan Al-Hakim)
Juga hadits tentang orang yang salah shalatnya, Jika kamu telah berdiri untuk shalat maka bertakbirlah. (Idem)
3. Membaca Al-Fatihah
Membaca Al-Fatihah adalah rukun pada tiap rakaat, sebagaimana dalam hadits,
.
Tidak ada shalat bagi orang yang tidak membaca Al-Fatihah. (Muttafaqun alaih)
4. Ruku
5. Itidal (Berdiri tegak) setelah ruku
6. Sujud dengan tujuh anggota tubuh
7. Bangkit darinya
8. Duduk di antara dua sujud
Dalil dari rukun-rukun ini adalah firman Allah azza wa jalla, Wahai orang-orang yang beriman rukulah dan sujudlah.

(Al-Hajj:77)
Sabda Rasul shallallahu alaihi wa sallam, Saya telah diperintahkan untuk sujud dengan tujuh sendi. (Muttafaqun
alaih)
9. Thumaninah dalam semua amalan
10. Tertib antara tiap rukun
Dalil rukun-rukun ini adalah hadits musii` (orang yang salah shalatnya),
Dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam masuk mesjid, lalu
seseorang masuk dan melakukan shalat lalu ia datang memberi salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa
sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab salamnya dan bersabda: Kembali! Ulangi shalatmu!
Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, Orang itu melakukan lagi seperti shalatnya yang tadi, lalu ia datang
memberi salam kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam menjawab
salamnya dan bersabda: Kembali! Ulangi shalatmu! Karena kamu belum shalat (dengan benar)!, sampai ia
melakukannya tiga kali, lalu ia berkata: Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan kebenaran sebagai Nabi
shallallahu alaihi wa sallam, saya tidak sanggup melakukan yang lebih baik dari ini maka ajarilah saya! Maka Nabi
shallallahu alaihi wa sallam bersabda kepadanya: Jika kamu berdiri hendak melakukan shalat, takbirlah, baca apa
yang mudah (yang kamu hafal) dari Al-Qur`an, kemudian rukulah hingga kamu tenang dalam ruku, lalu bangkit
hingga kamu tegak berdiri, sujudlah hingga kamu tenang dalam sujud, bangkitlah hingga kamu tenang dalam duduk,
lalu lakukanlah hal itu pada semua shalatmu. (HR. Abu Dawud dan dishahihkan Al-Hakim)
11. Tasyahhud Akhir
Tasyahhud akhir termasuk rukun shalat sesuai hadits dari Ibnu Masud radhiyallahu anhu, ia berkata, Tadinya,
sebelum diwajibkan tasyahhud atas kami, kami mengucapkan: Assalaamu alallaahi min ibaadih, assalaamu alaa
Jibriil wa Miikaa`iil (Keselamatan atas Allah azza wa jalla dari para hamba-Nya dan keselamatan atas Jibril alaihis
salam dan Mikail alaihis salam), maka Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,
Jangan kalian mengatakan, Assalaamu alallaahi min ibaadih (Keselamatan atas Allah azza wa jalla dari para
hamba-Nya), sebab sesungguhnya Allah azza wa jalla Dialah As-Salam (Dzat Yang Memberi Keselamatan) akan
tetapi katakanlah, Segala penghormatan bagi Allah, shalawat, dan kebaikan, Lalu beliau shallallahu alaihi wa
sallam menyebutkan hadits keseluruhannya. Lafazh tasyahhud bisa dilihat dalam kitab-kitab yang membahas tentang
shalat seperti kitab Shifatu Shalaatin Nabiy, karya Asy-Syaikh Al-Albaniy dan kitab yang lainnya.
12. Duduk Tasyahhud Akhir
Sesuai sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Jika seseorang dari kalian duduk dalam shalat maka
hendaklah ia mengucapkan At-Tahiyyat. (Muttafaqun alaih)
13. Shalawat atas Nabi shallallahu alaihi wa sallam
Sebagaimana dalam sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Jika seseorang dari kalian shalat (hingga
ucapannya beliau shallallahu alaihi wa sallam) lalu hendaklah ia bershalawat atas Nabi.
Pada lafazh yang lain, Hendaklah ia bershalawat atas Nabi lalu berdoa. (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
14. Dua Kali Salam
Sesuai sabda Nabi shallallahu alaihi wa sallam, dan penutupnya (shalat) ialah salam.
Inilah penjelasan tentang syarat-syarat dan rukun-rukun shalat yang harus diperhatikan dan dipenuhi dalam setiap
melakukan shalat karena kalau meninggalkan salah satu rukun shalat baik dengan sengaja atau pun lupa maka
shalatnya batal, harus diulang dari awal. Wallaahu Alam.

Maraaji': Syarh Ad-Duruus Al-Muhimmah li Aammatil Ummah, karya Asy-Syaikh Ibnu Baaz dengan susunan
Muhammad bin Ali Al-Arfaj.
(Dikutip dari link http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/26.htm, Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-26 Tahun ke-3 / 27 Mei
2005 M / 18 Rabiuts Tsani 1426 H)
Wajib-Wajib Shalat
Setelah pada edisi yang lalu dijelaskan syarat-syarat dan rukun-rukun shalat, sekarang akan dibahas hal-hal yang
wajib dalam shalat atau dengan istilah lain wajib-wajib shalat, dan akan dibahas pula sunnah-sunnah dalam shalat.
Adapun wajib-wajib (hal-hal yang wajib dalam) shalat itu ada delapan:
1. Semua takbir, selain Takbiiratul Ihraam
2. Mengucapkan Samiallaahu liman hamidah bagi imam dan yang shalat sendiri
3. Mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu bagi semua
4. Mengucapkan Subhaana rabbiyal azhiim saat ruku
5. Mengucapkan Subhaana rabbiyal alaa saat sujud
6. Mengucapkan Rabbighfirlii antara dua sujud
7. Membaca Tasyahhud awal
8. Duduk untuk tasyahhud awal.
Penjelasan Wajib-wajib Shalat
1. Semua takbir, kecuali Takbiiratul Ihraam
Sesuai ucapan Ibnu Masud radhiyallahu anhu, Saya melihat Nabi shallallahu alaihi wa sallam bertakbir di setiap
naik dan turunnya, berdiri dan duduknya. (HR. Ahmad, An-Nasa`iy dan At-Tirmidziy menshahihkannya)
Demikian pula sabda Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, Jika imam bertakbir maka bertakbirlah.
Ini adalah perintah, sedangkan perintah menunjukkan wajib.
2. Mengucapkan Subhaana rabbiyal azhiim saat ruku
Sesuai dengan hadits Hudzaifah radhiyallahu anhu yang menggambarkan shalat Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bahwa beliau dalam rukunya mengucapkan, Subhaana rabbiyal azhiim (Maha Suci Rabbku Yang Maha Agung)
dan pada sujudnya mengucapkan, Subhaana rabbiyal alaa (Maha Suci Rabbku Yang Maha Tinggi)
3. Mengucapkan Samiallaahu liman hamidah bagi imam dan yang shalat sendiri
Berdasarkan ucapan Abu Hurairah radhiyallahu anhu yang mensifati shalat Nabi shallallahu alaihi wa sallam
bahwasannya beliau mengucapkan Samiallaahu liman hamidah (Allah mendengar orang yang memuji-Nya) tatkala
mengangkat punggungnya dari ruku. (Muttafaqun alaih)
4. Mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu bagi semua (imam, makmum dan yang shalat sendiri)
Sesuai kelanjutan ucapan Abu Hurairah radhiyallahu anhu pada hadits yang lalu, Lalu beliau shallallahu alaihi wa
sallam dalam keadaan berdiri mengucapkan Rabbanaa walakal hamdu.
5. Mengucapkan Subhaana rabbiyal alaa saat sujud
Sesuai hadits Hudzaifah radhiyallahu anhu yang lalu.
6. Mengucapkan Rabbighfirlii antara dua sujud
Sebagaimana dalam hadits Hudzaifah radhiyallahu anhu bahwa Nabi shallallahu alaihi wa sallam mengucapkan
antara dua sujud Rabbighfirlii. (HR. An-Nasa`iy dan Ibnu Majah)

7. Membaca Tasyahhud awal, dan


8. Duduk untuk tasyahhud awal
Sebagaimana hadits, Nabi shallallahu alaihi wa sallam membaca pada tiap dua rakaat At-Tahiyyaat., dan pada
hadits yang lain, Jika kalian telah duduk pada tiap dua rakaat maka ucapkanlah At-Tahiyyaat. (HR. Al-Imam Ahmad
dan An-Nasa`iy)
Untuk lebih lengkapnya bisa meruju kepada kitab Syuruuthush Shalaati wa Arkaanuhaa, karya Syaikhul Islam
Muhammad bin Abdul Wahhab, kitab Al-Uddah Syarh Al-Umdah hal.13-17, dan kitab Manaarus Sabiil hal.70-87
Itulah penjelasan singkat tentang 8 (delapan) hal yang wajib dilakukan pada setiap shalat.
Perbedaan antara rukun-rukun shalat dengan wajib-wajib shalat adalah kalau meninggalkan rukun-rukun shalat baik
dengan sengaja ataupun lupa maka akan membatalkan shalat, sedangkan meninggalkan wajib-wajib shalat, jika
ditinggalkan secara sengaja maka shalatnya batal, namun jika ditinggalkan karena lupa maka dia melakukan sujud
sahwi (sujud karena lupa, sebagai gantinya)
(Dikutip dari link http://fdawj.atspace.org/awwb/th3/27.htm, Bulletin Al Wala wal Bara Edisi ke-27 Tahun ke-3 / 03 Juni
2005 M / 25 Rabiuts Tsani 1426 H )