Anda di halaman 1dari 23

Kompetensi

1. Rencana perawatan
a. Posisi Operator
Posisi operator pada jam 9 kecuali untuk mencabut gigi posterior rahang bawah kanan
pada jam 11
b. Posisi Kursi

c. Posisi Pasien
Kepala, leher, dan pundak harus lurus
Dataran oklusal rahang bawah sejajar lantai
Dataran oklusal rahang atas membentuk sudut 45-60 derajat dengan lantai
d. Ketinggian Kursi Gigi
Ekstraksi gigi rahang atas
Dataran oklusal sekitar 5 cm di bawah pundak operator
Ekstraksi gigi rahang bawah
Dataran oklusal sekitar 5 cm di atas siku
Khusus gigi rahang bawah posterior kanan, kursi harus cukup rendah sehingga
operator dapat melihat dengan jelas dari belakang
2. Diagnosis
a. Kelainan TMJ
Myofascial pain
Etiologi
Bruxism akibat stress/gelisah
maloklusi
Jenis sakit
Menyebar ke daerah preaurekular dan melibatkan otot temporalis dan pterigoideus

medialis
Gejala
Bruxism sakit terasa parah pada pagi hari
Penurunan pembukaan mulut dan sakit ketika berfungsi
Sakit kepala
Sakit bertambah ketika tegang dan gelisah

Kondisi TMJ
TMJ tidak sakit ketika dipalpasi
Suara sendi tidak ada pembukaan terbatas dan deviasi kea rah yang terlibat
Disc Displacement Disorders
Klasifikasi
1. Anterior disc displacement with reduction
Clicking pada opening, mrp respon diskus ke posisi normal
Clicking pada closing kadang dapat didengar/dipalpasi, mrp kegagalan
mempertahankan posisi normal diskus
Pembukaan maksimal relatif normal
Kadang crepitis karena permukaan kasar
2. Anterior disc displacement without reduction (closed lock)
Kondilus tdk dapat translasi maksimal melewati aspek posterior diskus
Tdk ada clicking
Pembukaan terbatas, deviasi sisi yg terlibat, penurunan ekskrusi lateral dan
kontraleteral.
Degenerative Joint Disease (Arthrosis,osteoarthritis)
Etiologi
Diskus irregular,perforasi atau rusak
Abnormalitas permukaan sendi missal flattening, erosi, pembentukan osteophyte
Ciri khas
Unilateral
Kondisi TMJ
Bunyi crepitus dan clicking pada TMJ
Keterbatasan pembukaan
Systemic Arthritic Conditions
Ciri Khas
Mengenai seluruh tubuh
Bilateral
Kondisi TMJ
Pada pemeriksaan radiologi terjadi erosi pada aspek posterior dan anterior
kondilus,kadang erosinya banyak sehingga terlihat kondilus yang kecil dalam fossa
yang besar,bias juga keseluruhan kondilus dan leher kondilus rusak.
Chronic Recurrent Dislocation
Etiologi
Berhubungan dengan spasme otot yang berat
Ciri khas
Recurrent
Unilateral/ bilateral
Kondisi TMJ
Kondilus terletak di depan eminensia artikularis dan terkunci pada posisinya
sehingga terjadi subluksasi self-reducing

Dislokasi
Ankylosis (fusi sendi)
Klasifikasi
Intracapsular ankylosis
Etiologi
: makrotrauma (fraktur kondilus), tindakan bedah, infeksi
Kondisi TMJ : deviasi pada sisi yang terlibat, pada pemeriksaan radiologi, terjadi
iregularitas permukaan kondilus serta fossa, terdapat hubungan
Gejala

kalsifikasi diantara kedua permukaan sendi


: keterbatasan pembukaan mulut

Neoplasia
Sangat jarang
Menyebabkan keterbatasan pembukaan
Sakit sendi
Ketidaknormalan hubungan kondilus dan fossa
Kadang menyebabkan ankylosis
Infection
Sangat jarang
Infeksi pada telinga tengah bila tidak diantibiotik menyebar ke TMJ
Kadang menyebabkan ankylosis
b. Klasifikasi Impaksi
Klasifikasi Molar 3 Mandibula Impaksi Klasifikasi Archer dan Kruger

Mesioangular
Distoangular
Vertikal
Horisontal
Bukoangular
Linguoangular
Inverted
Berdasarkan relasi molar ketiga bawah dengan ramus mandibular, klasifikasi sebagai
berikut

Klas I : Diameter anteroposterior gigi sama atau sebanding dengan ruang antara
batas anterior ramus mandibula dan permukaan distal gigi molar kedua. Pada klas I
ada celah di sebelah distal Molar kedua yang potensial untuk tempat erupsi Molar

ketiga.
Klas II: Sejumlah kecil tulang menutupi permukaan distal gigi dan ruang tidak
adekuat untuk erupsi gigi, sebagai contoh diameter mesiodistal gigi lebih besar

daripada ruang yang tersedia. Pada klas II, celah di sebelah distal M
Klas III: Gigi secara utuh terletak di dalam mandibula akses yang sulit. Pada klas
III mahkota gigi impaksi seluruhnya terletak di dalam ramus

Berdasarkan jumlah tulang yang menutupi gigi impaksi, dapat dikelompokkan


berdasarkan kedalamannya, dalam hubungannya terhadap garis servikal Molar kedua
disebelahnya
Posisi A : permukaan oklusal gigi impaksi sama tinggi atau sedikit lebih tinggi dari

gigi molar kedua.


Posisi B : permukaan oklusal dari gigi impaksi berada pada pertengahan mahkota

gigi molar kedua atau sama tinggi dari garis servikal


Posisi C : permukaan oklusal dari gigi impaksi berada di bawah garis servikal
molar kedua.

c. Kista
Klasifikasi kista odontogenik
Inflammatory cyst
Kista radikular (kista periapikal)

Lokasi
Gambaran klinis

: apeks gigi nonvital


: asimptomatik, swelling, keras pada saat palpasi, terdapat

Gambaran radiografi

krepitasi tulang, fluktuasi destruksi tulang


: radiolusen berbatas tegas, terjadi migrasi dan resorbsi

gigi,ekspansi ke bukal
Kista residual
Kista yang berasal dari incomplete removal kista radikular atau dari kista yang di
ekstraksi
Lokasi
Gambaran klinis
Gambaran radiografi

: di atas canalis mandibula


: asimptomatik, ekspansi pada rahang dan sakit
: radiolusen berbatas tegas, gigi yang berdekatan migrasi,
jarang resorbsi, ekspansi ke bukal

Kista paradental
Developmental cyst
kista dentigerous (kista follicular)
lokasi
: di sekitar gigi unerupted
Gambaran klinis
: berkembang di sekitar gigi yang unerupted atau
supernumerary, ada gigi yang hilang/tidak muncul secara
klinis, hard swelling, asimetris,tidak sakit dan tidak
Gambaran radiologi

nyaman.
: completely radiolusen kecuali gigi unerupted dengan
batas yang tegas MENEMPEL pada CEJ !!! gigi yang
berdekatan migrasi, resorbsi akar, gigi berpindah tempat,
ekspansi bukal atau medial

kista erupsi
PemBENGKAKan gusi yang lunak, translusen dan bila terisi darah akan berwarna
BIRU KEUNGUAN
Gambaran radiografi

: gambaran radiolusen tipis di bagian koronal gigi yang

akan erupsi.
odontogenic keratocyst (kista primordial)
lokasi
: posterior korpus mandibula, meluas sampai ke rasmus,
Gambaran radiografi

anterior maksila pada pada region C


: radiolusen berbatas tegas, minimal ekspansi, resorbsi akar
gigi, BERADA di PERIKORONAL

lateral periodontal cyst


Berasal dari epithelial rest pada dental lamina permukaan lateral akar gigi.
Lokasi
: permukaan lateral akar gigi vital

Gambaran radiografi

: radiolusen dengan batas tegas , apabila kista besar maka

terjadi migrasi dan resorbsi, ekspansi ke bukal


calcifying odontogenik cyst
lokasi
: mandibula region anterior dan premolar
gambaran klinis
: berhubungan dengan odontoma, atau unerupted
gambaran radiografi
: radiopak berbatas radiolusen
d. Abses
Abses periapikal
Abses periapikal sering juga disebut abses dento-alveolar, terjadi di daerah periapikal
gigi non vital.

Abses subperiosteal

Gejala klinis abses subperiosteal ditandai dengan selulitis jaringan lunak mulut dan
daerah maksilofasial. Pembengkakan yang menyebar ke ekstra oral, warna kulit sedikit
merah pada daerah gigi penyebab. Penderita merasakan sakit yang hebat, berdenyut dan
dalam serta tidak terlokalisir. Pada rahang bawah bila berasal dari gigi premolar atau
molar pembengkakan dapat meluas dari pipi sampai pinggir mandibula, tetapi masih
dapat diraba. Gigi penyebab sensitif pada sentuhan atau tekanan.

e. Abses submukosa
Pus berkumpul dibawah mukosa setelah periosteum tertembus. Rasa sakit
mendadak berkurang, sedangkan pembengkakan bertambah besar. Gejala lain yaitu masih
terdapat pembengkakan ekstra oral kadang-kadang disertai demam. lipatan mukobukal
terangkat, pada palpasi lunak dan fluktuasi positip. Kelenjar limfe submandibula
membesar dan sakit pada palpasi.

f. Abses fosa kanina


Gejala klinis ditandai dengan pembengkakan pada muka, kehilangan sulkus
nasolabialis dan edema pelupuk mata bawah sehingga tampak tertutup. Bibir atas
bengkak, seluruh muka terasa sakit disertai kulit yang tegang berwarna merah.

g. Abses spasium bukal


Spasium bukal berada diantara m. masseter ,m. pterigoidus interna dan m.
Businator. Gejala klinis abses ini terbentuk di bawah mukosa bukal dan menonjol ke arah
rongga mulut. Pada perabaan tidak jelas ada proses supuratif, fluktuasi negatif dan gigi
penyebab kadang-kadang tidak jelas. Masa infeksi/pus dapat turun ke spasium terdekat
lainnya. Pada pemeriksaan estraoral tampak pembengkakan difus, tidak jelas pada
perabaan.

h. Abses spasium infratemporal

Spasium infratemporal terletak di bawah dataran horisontal arkus-zigomatikus dan


bagian lateral di batasi oleh ramus mandibula dan bagian dalam oleh m.pterigoid
interna.

i. Abses spasium submasseter


Gejala klinis dapat berupa sakit berdenyut diregio ramus mandibula bagian dalam,
pembengkakan jaringan lunak muka disertai trismus yang berjalan cepat, toksik dan
delirium. Bagian posterior ramus mempunyai daerah tegangan besar dan sakit pada
penekanan.

j. Abses spasium submandibula


Infeksi pada spasium ini dapat berasal dari abses dentoalveolar, abses periodontal
dan perikoronitis yang berasal dari gigi premolar atau molar mandibula.

k. Abses sublingual
Spasium sublingual dari garis median oleh fasia yang tebal , teletak diatas
m.milohioid dan bagian medial dibatasi oleh m.genioglosus dan lateral oleh permukaan
lingual mandibula.
Gejala klinis ditandai dengan pembengkakan daasarr mulut dan lidah terangkat,
bergerser ke sisi yang normal. Kelenjar sublingual aan tampak menonjol karena terdesak
oleh akumulasi pus di bawahnya. Penderita akan mengalami kesulitan menelen dan terasa
sakit.
l. Abses spasium submental
Gigi penyebab biasanya gigi anterior atau premolar. Gejala klinis ditandai dengan
selulitis pada regio submental. Tahap akhir akan terjadi supuratif dan pada perabaan
fluktuatif positif. Pada pemeriksaan intra oral tidak tampak adanya pembengkakan.
Kadang-kadang gusi disekitar gigi penyebab lebih merah dari jaringan sekitarnya. Pada
tahap lanjut infeksi dapat menyebar juga kearah spasium yang terdekat terutama kearah
belakang.
m. Abses spasium parafaringeal
Infeksi pada spasium ini mudah menyebar keatas melalui berbagai foramina
menuju bagian otak. Kejadian tersebut dapat menimbulkan abses otak, meningitis atau
trombosis sinus. Bila infeksi berjalan ke bawah dapat melalui selubung karotis sampai
mediastinuim
3. Rencana perawatan
a. Pencabutan pada kasus sistemik
Hipertensi
Pada pasien yang hipertensi beresiko terjadi:
Perdarahan dan thrombosis
Resiko terjadinya injeksi intravascular dan adrenalin pada obat anastesi lokal
masuk ke dalam pembuluh darah, sehingga dapat menyebabkan takikardi, stroke
volume meningkat, sehingga tekanan darah menjadi tinggi.
Penatalaksanaan:
Penggunaan anastesi lokal yang mengandung adrenalin perlu dipertimbangkan,
juga pemberian obat-obatan dari golongan NSAID.

Pemberian sedatif berupa N20 sebelum perawatan hanya bila diperlukan (sebagai

kontrol kecemasan).
Untuk pasien hipertensi pada tingkat normal tinggi, masih bisa dilakukan
pemberian anastesi lokal yang mengandung vasokontriktor (adrenalin) dengan
perbandingan 1:200000. Atau bisa juga dilakukan pengenceran pehakain dengan

mencampur 1ml pehakain 2% dengan 1ml lidocain 2% murni.


Hindari waktu perawatan pada jam-jam sibuk dan cuaca yang tidak mendukung.
Bila diperlukan perawatan gigi sebaiknya dikonsultasikan segera dan perawatan
bedah dilakukan dalam kerja tim.
Diabetes Mellitus
Manifestasi rongga mulut pada penderita diabetes antara lain:
Penyakit gusi yang semakin luas
Gingivitis
Disfungsi pengecapan
Kandidiasis
Lichen planus
Ulserasi mukosa
Cheilosis angularis
Penyakit periodontal progresif
Periodontitis, kehilangan gigi, luka sulit sembuh
Infeksi dan penyakit mulut gigi
Karies
Sakit pada lidah
Mulut kering/xerostomia
Mulut terasa terbakar
Masalah:
Hilangnya pengendalian metabolik. Dapat disebabkan karena stress, obat anastesi
lokal (terutama yang mengandung adrenalin atau vasokonstriktor lainnya), dan

krisis hipoglikemik.
Meningkatnya kemungkinan terjadinya infeksi. Disebabkan oleh terganggunya
produksi antibodi yang diakibatkan oleh kurangnya glikogen, imunitas selular dan
hormonal penderita diabetes mellitus menurun, fungsi leukosit terganggu dan

kadar gula dalam darah tinggi.


Pembekuan darah pada penderita diabetes mellitus, baik yang tipe 1 maupun tipe
2, sedikit terganggu. Artinya cloating time penderita tidak seperti orang non
diabetes.

Kecenderungan perdarahan yang meningkat. Hal tersebut berhubungan dengan


vasopati dan infeksi yang sering kambuh pada mukosa mulut. Perdarahan selama
dan setelah tindakan eksodonsi biasanya dapat dikendalikan melalui perawatan

lokal.
Salah satu komplikasi akut diabetes mellitus adalah koma hiperosmoler non
ketotik. Penyakit ini disebabkan tingginya kadar gula darah melebihi 600 mg%

yang mengakibatkan pasien mudah shock.


Penatalaksanaan:
Informasi riwayat kasus yang menyeluruh (anamnesa).
Pemeriksaan kadar gula sebelum dan sesudah tindakan.
Dilakukan penambahan insulin guna mencegah terjadinya shock.
Anastesi lokal tanpa penambahan bahan vasokonstriktor. Karena adrenalin dapat

meningkatkan kadar glukosa darah.


Pada tindakan pembedahan, terdapat sedikit perbedaan antara penderita diabetes
mellitus tipe 1 dan tipe 2. Pada penderita diabetes mellitus tipe 1, sebelum
dilakukan pembedahan harus dilakukan terapi insulin, dengan memberikan
suntikan insulin karena jumlah insulinnya tidak mencukupi kebutuhan. Sedangkan

pada tipe 2, tidak perlu diberikan suntikan insulin.


Teknik operasi konservatif dan drainasi luka, misalnya pemberian tampon selam

30 menit setelah ekstraksi gigi.


Mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi iatrogenik, gangguan lipid darah,

peningkatan tekanan darah, hiperkoagulasi darah.


Kemungkinan pemberian profilaksis antibiotik.
Tindakan pencabutan atau operasi sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan setelah

makan, karena pada waktu itu keadaan metabolic relatif stabil.


Penyakit Kardivaskular
Masalah:
Komplikasi peredaran darah, seperti perdarahan dan thrombosis
Infeksi Endokarditis
Penatalaksanaan:
Harus menghindari penggunaan vasokonstriksi dalam anastesi lokal, karena dalam
hubungannya dengan catecholamine yang dilepaskan secara endogen, dapat

menyebabkan komplikasi peredaran darah.


Berhati-hati dalam melakukan tindakan perawatan gigi.
Penggunaan profilaksis antibiotik.

Sedangkan untuk tindakan operasi, sebaiknya operasi dilakuakn dengan monitor


ECG dan disertai infuse IV dengan maksud untuk segera mengetahui komplikasi
dan melakukan perawatan. Tindakan ini harus dilakukan di rumah sakit sehingga
dapat dilakukan pengawasan oleh spesialis yang berwenang (Test and Wagner,

1992).
Berusaha sebisa mungkin untuk mengurangi rasa cemas pasien selama tindakan
perawatan gigi dilakukan. Karena penderita penyakit kardiovaskular yang berat

terkadang memiliki kondisi medis yang mudah sekali dipengaruhi oleh emosinya.
Sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter yang selama ini merawat
pasien untuk mengetahui dengan jelas bagaimana kondisi medis pasien saat ini,
obat-obat apa saja yang dipergunakan oleh pasien, dan apa saja yang harus
dihindarkan selama dilakukan tindakan perawatan gigi pada pasien penderita
penyakit kardiovaskular tersebut

Hipertiroidisme
Masalah:
Resiko terjadinya krisis tiroid
Penatalaksanaan:
Hindari penambahan adrenalin pada pemberian anastesi lokal, karena adanya
pelepasan adrenalin secara endogen sehingga dapat menyebabkan krisis tirotoksik.
Gagal Ginjal Kronis
Masalah:
Gangguan detoksifikasi obat
Kecenderungan perdarahan
Penatalaksanaan:
Mempertimbangkan penggunaan obat-obatan yang sifatnya diekskresi oleh ginjal.
Karena adanya bahaya akumulasi yang sangat tinggi.
Penyakit Hati Kronis
Masalah:
Gangguan detoksifikasi obat
Kecenderungan perdarahan
Resiko penularan infeksi viral hepatitis
Penatalaksanaan:
Pemeriksaan fungsi hati, untuk menghindari peningkatan perdarahan.
Penggunaan anastesi lokal golongan ester, untuk mengurangi penimbunan obat dalam

hati akibat pemecahan yang cukup banyak yang terjadi didalam jaringan dan darah.
Jika menggunakan anastesi lokal golongan amida, maka dosis maksimum yang
diperbolehkan harus dianggap sebagai dosis maksimum untuk hari ini.
Penundaan perawatan pada pasien dengan peningkatan fungsi hepar
Untuk pasien dengan infeksi aktif:
- Perawatandilakukanterakhir
- Universal precaution
Asma
Masalah:
Pasien mengalami kesulitan bernafas.
Penatalaksanaan:
Anamnesa tentang alergi obat.
Hindari penggunaan obat-obat yang merangsang reaksi alergi pada pasien.
Jika pasien mengalami serangan asma, maka: (Rylander, 1997)
i. Segera gunakan inhaler reliever dilengkapi spacer.
ii. Duduk dan relax, jangan tidur telentang.
iii.
Tunggu 5-10 menit, jika serangan asma tidak reda juga, gunakan inhaler
reliever tiap 1 menit sekali, selama 5 menit, hingga serangan asma tersebut
iv.

reda.
Jika serangan asma masih tidak reda, segera panggil ambulance, dan tetap
gunakan inhaler reliever 1x setiap menit.

b. Rencana perawatan pada kista


Enukleasi
Enukleasi merupakan suatu proses untuk mengambil semua lesi kista tanpa rupture
Teknik
Flap mucoperiosteal
Pembuangan tulang pada aspek labial dari lesi
Osseous window untuk untuk membuka bagian lesi
Pengangkatan kista dari kavitas menggunakan hemostate dan kuret
Menjahit daerah pembedahan
Penyembuhan mukosa dan remodeling tulang, dimana terbentuk jaringan granulasi
pada dinding kavitas yang bertulang dalam waktu 3-4 hari. Dan remodeling tulang
akan terjadi selama 6-12 bulan
Marsupialisasi
Marsupialisasi adalah membuat suatu jendela pada dinding kista dalam
pembedahan, mengambil isi kistanya dan memelihara kontinuitas antara kista dengan
rongga mulut, sinus maksilaris atau rongga hidung.
Teknik

Diberikan antibiotic sistemik untuk pasien dengan kondisi yang tidak sehat
Aplikasi anestesi local
Aspirasi kista, jika aspirasi dapat memperkuat diagnosis kista, prosedur

marsupialisasi dapat dilakukan


Insisi awal, biasanya sirkular/ellips dan menghasilkan saluran yang besar ( 1cm

atau lebih besar) di dalam kavitas kista


Jika lapisan atas tulang tebal, osseous window dibelah secara hati hati dengan

round bur atau rongeurs


Pengambilan isi kista
Menjahit tepi luka hingga membentuk seperti kantung
Irigasi kavitas kista untuk menghilangkan debris
Masukan iodoform gauze ke dalam kavitas kista
Irigasi kavitas rutin selama 2 minggu
Menjahit daerah pembedahan

4. Tindakan Medik Kedokteran Gigi


a. Macam macam syok
Syok hipovolemik
Pengertian
Syok hipovolemik merupakan tipe syok yang paling umum ditandai dengan
penurunan volume intravascular.
Etiologi
Kondisi-kondisi yang menempatkan pasien pada resiko syok hipovolemik adalah
(1) kehilangan cairan eksternal seperti : trauma, pembedahan, muntah-muntah,
diare, diuresis, (2) perpindahan cairan internal seperti : hemoragi internal, luka
baker, asites dan peritonitis
Syok kardiogenik
Pengertian
Syok kardiogenik disebabkan oleh kegagalan fungsi pompa jantung yang
mengakibatkan curah jantung menjadi berkurang atau berhenti sama sekali.
Etiologi
Penyebab syok kardiogenik mempunyai etiologi koroner dan non
koroner. Koroner, disebabkan oleh infark miokardium, Sedangkan Nonkoroner disebabkan oleh kardiomiopati, kerusakan katup, tamponade jantung, dan
disritmia.
Syok distributive

Syok distributif atau vasogenik terjadi ketika volume darah secara abnormal
berpindah tempat dalam vaskulatur seperti ketika darah berkumpul dalam
pembuluh darah perifer.
Syok neorogenik
Pada syok neurogenik, vasodilatasi terjadi sebagai akibat kehilangan tonus
simpatis. Kondisi ini dapat disebabkan oleh cedera medula spinalis, anastesi
spinal, dan kerusakan sistem saraf. Syok ini juga dapat terjadi sebagai akibat

kerja obat-obat depresan atau kekurangan glukosa


Syok anafilaktik
Syok anafilaktik disebabkan oleh reaksi alergi ketika pasien yang sebelumnya
sudah membentuk anti bodi terhadap benda asing (anti gen) mengalami reaksi

anti gen- anti bodi sistemik.


Syok septic
Syok septik adalah bentuk paling umum syok distributuf dan disebabkan oleh
infeksi yang menyebar luas. Insiden syok septik dapat dikurangi dengan
melakukan praktik pengendalian infeksi, melakukan teknijk aseptik yang
cermat, melakukan debriden luka ntuk membuang jarinan nekrotik,
pemeliharaan dan pembersihan peralatan secara tepat dan mencuci tangan
secara menyeluruh.

b. Bentuk tang ekstraksi


Rahang atas
Anterior

Premolar

Posterior

Exo m3 JOCKY FORCEPS

Sisa akar BAYONET FORCEPS

Sisa akar

Rahang bawah
Anterior

Premolar

Posterior

Sisa akar

c. Bentuk flap
Klasifikasi flap berdasarkan ketebalan nya
Full thickness (melibatkan mukosa dan periosteum)
Partial thickness (hanya mukosa)
Macam macam flap mukoperiosteoum
Flap trapezium
Keuntungan: visualisasi baik, bisa untuk
lebih dari satu gigi, reaproksimasi
baik
Kerugian: menyebabkan resesi gingiva

Flap triangular
Keuntungan:bisa untuk kista kecil, ujung akar, dan apikoektomi. Suplai darah
adekuat, reaproksimasi baik, mudah dimodifikasi
Kerugian: akses terbatas bila akar panjang, tegang bila di retraksi.

Flap envelope
Untuk semua gigi pada daerah bukal/palatal, biasa untuk prosedur yang melibatkan
garis servikal, apikoektomi, kista, impaksi gigi, dll
Keuntungan: reaproksimasi baik, tidak ada insisi vertikal
Kerugian: visualisasi terbatas, tegang, defek pada gingiva cekat

Flap semilunar

Untuk prosedur apikoektomi atau[un kista kecil. Titik terbawah minimal 0,5 cm dari
margin gingiva
Keuntungan: tidak ada resesi gingiva, OHI mudah, periodontium baik.
Kerugian: insisi bisa di atas lesi, visualisasi buruk, reaproksimasi sulit, mudah sobek
Insisi Y dan H

Flap pedikel

5. Ilmu Kedokteran Gigi Klinik Teknik Anestesi


Anastesi topikal / permukaan
Anastesi infiltrasi
Anastesi blok:
a. Anastesi spinal
b. Anastesi epidural
c. Anastesi kaudal