Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGELOLAAN AIR UNTUK PERTANIAN


ACARA IV
PERHITUNGAN EVAPOTRANSPIRASI DENGAN RUMUSRUMUS EMPIRIS MENGGUNAKAN
DATA IKLIM

Disusun oleh :
1.
2.
3.
4.
5.

Nurul Fatimah
(12645)
Verfita Sela R.
(12654)
Qisthin Awanis
(12655)
Muhammad Darussalam. T (12696)
Fajar Dwi Cahyoko
(12720)

Golongan / Kelompok : A4/1


Asisten : Yunita Tri Astuti

LABORATORIUM AGROHIDROLOGI
JURUSAN TANAH
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS GADJAH MADA
YOGYAKARTA
2015

ACARA IV
PERHITUNGAN EVAPOTRANSPIRASI DENGAN RUMUS-RUMUS
EMPIRIS MENGGUNAKAN DATA IKLIM
ABSTRAK
Evapotranspirasi merupakan proses pengembalian sejumlah air total ke atmosfer dari
permukaan tanah, badan air dan vegetasi oleh adanya pengaruh faktor iklim dan fisiologis
tanaman. Praktikum Pengelolaan Air untuk Pertanian Acara 4 yang berjudul Perhitungan
Evapotranspirasi dengan Rumus-Rumus Empiris menggunakan Data Iklim dilaksanakan di
Laboratorium Agrohidrologi, Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada,
pada tanggal 19 Maret 2015. Untuk mendukung praktikum ini disediakan data iklim lengkap
dari stasiun iklim yang mewakili, minimum 10 tahun pengamatan. Data yang digunakan
merupakan data pada tahun 2004 dan 2005 yang dianalisis dengan menggunakan metode
Blanney Criddle, metode Radiasi, dan metode Penman. Dari hasil praktikum, maka tanaman
cotton cocok ditanam pada bulan November dasarian III, dan butuh pengairan di bulan januari
dasarian I dan II, dan panen pada bulan Mei dasarian II. Celery dapat ditanam pada bulan
November dasarian III dan panen pada Maret dasarian III, tanaman Celery membutuhkan air
pada bulan Januari dasarian I dan II, Februari dasarian I dan Maret dasarian I dan II.
Crucifer dapat ditanam pada bulan Februari dasarian I dan panen pada April dasarian II.
Tanaman Crucifer membutuhkan air pada Maret dasarian I dan II serta bulan April dasarian
II pada tahun 2005.
Kata kunci : Evapotraspirasi, Blanney Criddle, Radiasi, Penman

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Air merupakan kebutuhan mutlak suatu tanaman. Kehilangan air yang cukup
tinggi pada suatu tahap pertumbuhan tanaman akan menyebabkan pertumbuhan dan
produksi tanaman terganggu. Pengaturan air tanaman sesuai kebutuhan akan dapat
mengoptimalkan produksi tanaman. Evapotranspirasi dalam pertanian biasanya
digunakan untuk perhitungan neraca air lahan pertanian dan mengatur pola tanaman,
sehingga kebutuhan air tanaman tercukupi. Data evapotranspirasi suatu wilayah
merupakan data yang penting untuk perencanaan pengembangan sumber daya air dan
pengaturan waktu irigasi pada wilayah tersebut. evapotranspirasi potensial (ETP)
menggambarkan laju maksimum kehilangan air suatu pertanaman yang ditentukan
oleh kondisi iklim pada keadaan penutupan tajuk tanaman pendek yanfg rapat
dengan penyediaan air yang cukup.
Suhu permukaan merupakan salah satu parameter yang utama dalam sebuah
interaksi antara permukaan dengan atmosfer. Suhu permukaan darat, merupakan
contoh fenomena di atmosfer yang dapat dirasakan akibat adanya perubahan tutupan
awan. Dikarenakan adanya fenomena itu, maka suhu permukaan dapat dijadikan
suatu indicator untuk mengukur tingginya evapotranspirasi di wilayah tertentu.
Laju evaporasi di Indonesia dan daerah tropis umumnya berkisar antara 100200 mm per bulan. Fakta ini sesungguhnya menjadi dasar pemilihan bulan menjadi
bulan basah, lembab, dan kering. Bulan basah dalam kaitannya dengan ini adalah
bulan dengan curah hujan lebih rendah dibandingkan dengan laju evaporasi. Dengan
demikian, selama bulan basah terjadi surplus air pada tanah sehingga tanaman tidak
akan mengalami kekurangan air untuk metabolisme dan pertumbuhannya. Selama
bulan kering akan terjadi defisit air tanah, sehingga akan menghambat pertumbuhan
dan akan mengganggu proses metabolism tanaman. Untuk itu, pengetahuan
mengenai evapotranspirasi diperlukan oleh setiap pihak yang berkecimpung di dunia
pertanian, termasuk mahasiswa.
B. Tujuan
Menghitung kebutuhan air konsumtif suatu tanaman berdasarkan keadaan
iklim suatu wilayah.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Evapotranspirasi adalah keseluruhan jumlah air yang berasal dari permukaan
tanah, air dan vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer. Dengan kata lain,
besarnya evapotrasnpirasi adalah jumlah antara evapotranspirasi adalah jumlah
antara evaporasi (penguapan air berasal dari permukaan badan air) dan transpirasi
(penguapan air tanah ke atmosfer melalui vegetasi). Intersepsi merupakan proses
penguapan air ke atmosfer melalui tajuk vegetasi (Asdak, 1995). Evapotranspirasi
standar merupakan laju evapotranspirasi dari permukaan yang luas, rapat ditumbuhi
rumput hijau dengan ketinggian yang seragam antara 8 15 cm dan dalam kondisi
tidak kekurangan air (Allen, 1998 cit. Manik dkk, 2012).
Tiga istilah evaporasi yang sering digunakan di agroklimatologi adalah (1)
evaporasi, yang menggambarkan jumlah air yang menguap dari permukaan air
langsung ke atmosfer, (2) evaporasi aktual (ETa), yang menggambarkan jumlah air
pada permukaan tanah yang berubah menjadi uap air pada kondisi normal, dan (3)
evapotranspirasi potensial (ETp) adalah kehilangan air pada saat kondisi air tanah
jenuh (Runtunuwu et al., 2008).
Evapotranspirasi potensial (ETP) adalah besarnya evapotranspirasi pada
suatu lahan pertanaman jika air mencukupi dan pertumbuhan tanaman tidak
terganggu atau dengan pengertian lain evapotranspirasi yang terjadi jika tanah
dalam keadaan tidak kurang air dan seluruh vegetasi diatasnya menutupi seluruh
permukaan tanah (Nuryanto dan Rizal, 2013). Untuk memeriksa kepekaan ETp
terhadap perubahan iklim maka langkah pertama ialah menentukan nilai dasar ETp
(tanpa perubahan iklim), menggunakan metode Tronthwaite, Blanney-Criddle,
Samani, Hergreaves, Jansen, Haise, Prishey, Taylor, Penman dan Penman-Monteith.
Sementara itu didalam penilaian kepekaan ETp terhadap variabel iklim hanya
pengaruh suhu yang diperiksa, sedangkan variabel lainnya tidak dianggap mengalami
perubahan. Setelah diperoleh nilai dasar ETp bulanan untuk setiap lokasi menurut
masing-masing metode terhadap perubahan yang terjadi pada suhu, yaitu cara
memvariasikan variabel suhu yang menjadi masukan dalam perhitungan (Usman,
2009).
Apabila komponen penggunaan lahan berubah terutama penggunaan lahan
hutan (deforestasi). Hal ini akan berdampak pada ekosistem. Selain itu, siklus

hidrologi juga akan mengalami perubahan. Perubahan siklus hidrologi akan


berdampak pada kerusakan tanah dan terganggunya proses aliran air dan evaporasi
air tanah (Talatua, 2009).
Air di dalam tanah berada dalam keadaan diam dan statusnya tidak berubah.
Pada kenyataannya semakin air di dalam tanah selalu berubah. Air di dalam tanah
bertambah karena adanya pengairan dan lain-lain. Sebaliknya, air di dalam tanah
juga dapat menguap karena penguapan transpirasi dan lain-lain (Suryatmojo, 2006).
Sepanjang tahun, tanaman menyerap air dari berbagai lapisan tanah untuk
proses evapotrasnpirasi pada permukaan daun dan tanah. Faktor-faktor yang
mempengaruhi jumlah serapan air oleh pohon adalah fenologi pohon, distribusi atas
dan respon fisiologis pohon terhadap cekaman parsial air tersedia. Serapan air oleh
pohon diantaranya kejadian hujan akan mempengaruhi jumlah air yang dapat
disimpan dari kejadian hujan berikutnya. Serapan air pada musim kemarau
khususnya dari lapisan tanah bawah akan mempengaruhi jumlah air tersedia untuk
aliran lambat (Noordwijik et al., 2009). Perbedaan kebutuhan air pada setiap periode
pertumbuhan ini disebabkan oleh perbedaan koefisien tanaman (Kc) pada setiap
periode juga. Pada pertumbuhan aktif sistem perakaran akan lebih banyak menyerap
air daripada periode pertumbuhan awal karena tanaman membutuhkan air yang lebih
untuk persiapan pembentukan bunga dan buah (Bandi dkk., 2014).
Permasalahan mendasar bahwa di Indonesia sebagian proyek-proyek irigasi
di buat dan dioperasikan dengan metode non standar yang bisa jadi kurang cocok
penggunaannya. Oleh karena itu penelitian sangat perlu dilakukan untuk dapat
menghemat sumberdaya air tanpa mengurangi produksi yang akan dicapai
(Panjaitan, 2010).

III. METODOLOGI
Praktikum Pengelolaan Air untuk Pertanian Acara IV yang berjudul
Perhitungan Evapotranspirasi dengan Rumus-Rumus Empiris menggunakan Data
Iklim dilaksanakan pada tanggal 19 Maret 2015 di Laboratorium Agrohidrologi,
Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Adapun alat yang
digunakan yaitu kalkulator dan alat tulis. Bahan yang digunakan adalah data iklim
lengkap dari stasiun iklim yang mewakili, minimum 10 tahun pengamatan.
Pertama, data iklim dianalisis sesuai masukan yang diperlukan untuk rumus
Eto (metode Blanney Criddle, metode Radiasi, metode Penman, dan Panci
Evaporasi). Selanjutnya hasil perhitungan keempat rumus tersebut dibandingkan. Etc
dihitung untuk suatu tanaman tertentu pada setiap fase pertumbuhannya (digunakan
Eto total dari metode Penman).

IV. HASIL PENGAMATAN


Tabel. 4.1. Tanaman 1. Jenis Tanaman : Celery, Ditanam pada dasarian ke : III, Bulan
: November, Tahun : 2004
Dasarian
(terhadap
tanaman)
P CH 75%
Etc
Irigasi
Dasarian
(terhadap
tanaman
P CH 75%
Etc
Irigasi

II

20,28

20,28

XII

XIII

42,8
55,07

28,4

III

20,86

IV

VI

VII

VIII

30,72

0
40,57
-40,57

0
50,43
-50,43

0
59,13
-59,13

30,86
60,86
-30

IX

60,86

XI

60,86

4,26
60,86

Tabel. 4.2. Tanaman 2. Jenis Tanaman : Cotton, Ditanam pada dasarian ke : III, Bulan
: November, Tahun : 2004
Dasarian
(terhadap
tanaman
P CH 75%
Etc

20,28

II

III

20,28

20,2
8

IV

24,92

VI

34,78

40,57

VII

VIII

IX

30,86
52,75

Irigasi

62,02

4,26
66,02

66,67

-31,18

Dasarian
(terhadap
tanaman
P CH 75%

42,8

Etc

66,97

Irigasi

-23,87

XII

XIII

66,97

XIV

60,7
5

XV

XVI

XVII

XVIII

XIX

XX

11,82

51,59

37,68

37,68

37,68

37,68

37,68

-39,77

-37,68

-37,68

-37,68

-37,68

-37,68

: Februari, Tahun : 2005


I
20,28

II
20,28

III

IV

26,66

4,26
39,41
-35,16

V
51,59
-8,79

VI
57,97

66,67
-62,41

Tabel. 4.3. Tanaman 3. Jenis Tanaman : Crucifer, Ditanam pada dasarian ke : I, Bulan
Dasarian (terhadap
tanaman
P CH 75%
Etc
Irigasi

XI

VII

VIII

57,97

11,82
49,27
-37,45

V. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini digunakan 3 metode perhitungan evapotranspirasi untuk
mengetahui kesesuaian curah hujan dan kebutuhan air tanaman, diantaranya yaitu
metode Penman, Radiasi, dan Blanney Criddle. Adapun masing-masing metode
memiliki keunggulan dan kelemahan. Metode Penman membutuhkan data
meteorologi berupa suhu udara, kelembaban, kecepatan angin, lama penyinaran, dan
intensitas radiasi. Kelebihan dari metode Penman yaitu data yang dihasilkan akurat
karena diukur menggunakan semua faktor yang mempengaruhi yang telah terukur.
Kekurangan metode Penman yaitu lebih rumit karena harus menghitung keseluruhan
faktor yang mempengaruhinya terlebih dahulu.
Metode Blanney-Criddle menggunakan data meteorologi berupa suhu udara
dan data pendukung berupa letak lintang dan faktor koreksi c. Keunggulan dari
Blanney-Criddle yaitu kesederhanaannya dalam perhitungan, cara ini cocok
digunakan untuk perkiraan evapotranspirasi jangka waktu yang panjang. Metode
radiasi membutuhkan data meteorologi berupa suhu udara dan panjang hari.
keunggulan dari metode radiasi yaitu sedikitnya data yang digunakan untuk
memperoleh nilai evapotranspirasi. Kelemahan metode radiasi yaitu ketidakakuratan
data yang dihasilkan karena mengabaikan faktor-faktor yang mempengaruhi
evapotranspirasi. Oleh karena kelemahan dan keunggulan tersebut, maka metode
yang paling baik untuk digunakan adalah metode Penman karena dirasa metode
inilah yang paling akurat dan sering digunakan.
Irigasi adalah suatu sistem untuk mengairi suatu lahan dengan cara
membendung sumber air. Irigasi yaitu suatu usaha penyediaan, pengaturan, dan
pembuangan air irigasi yang bertujuan untuk mempermudah dalam pengairan lahan
pertanian, memupuk, atau merabuk tanah, membilas air kotor, mengatur suhu tanah,
dan mempertinggi permukaan air tanah. Fungsi irigasi adalah untuk memasok
kebutuhan air tanaman dan menjamin ketersediaan air.
Keuntungan dari mengetahui kebutuhan air irigasi untuk pertanian yaitu dapat
menentukan komoditas yang cocok ditanam di area pertanian tersebut. Selain itu
dapat menentukan waktu tanam yang baik agar sesuai dengan budidaya komoditas
tanaman tertentu. Kebutuhan air irigasi juga dapat disesuaikan agar air yang berada
atau dibutuhkan oleh tanaman tidak berlebihan atau kekurangan. Dengan begitu,

dapat diketahui jenis tanaman apa yang dapat ditumpang sari atau ditumpang
gilirkan.
Untuk menentukan jenis tanaman dan pola tanam yang akan digunakan pada
suatu lahan di daerah tertentu haruslah mempertimbangkan jumlah air yang
dibutuhkan oleh tanaman yang ada, serta distribusi air yang tersedia guna memenuhi
kebutuhan air konsumtif suatu tanaman. Data iklim suatu wilayah yang akan
ditanami juga sangat menentukan keberhasilan produksi tanaman yang akan
diusahakan. Kebutuhan air untuk tanaman sangat tergantung dari besarnya curah
hujan rata-rata dan penguapan (evapotranspirasi). Semakin kecil curah hujan ratarata bulanan, semakin besar penguapan, maka kebutuhan air untuk tanaman akan
semakin besar.
Pola tanaman untuk masing masing tanaman yaitu tanaman Celery
(Seledri), Cotton (Kapas) dan Crucifer (Kubis). Pada tanaman Celery menggunakan
pola tanam secara monokultur (tanaman tunggal). Pada tanaman Cotton dapat
dilakukan dengan cara monokultur maupun tumpang sari dengan tanaman jenis
kacang-kacangan. Tumpang sari dilakukan bila diinginkan lebih dari satu jenis
tanaman yang dipanen. Pada tanaman Crucifer dapat dilakukan dengan pola tanam
monokultur dan tumpang sari dengan tanaman hortikultura.
Tanaman seledri sangat baik di dataran tinggi 1000-1200 m dpl dengan
kisaran suhu 7-16 C, tapi bisa juga di dataran rendah dengan memberi naungan
berupa atap alang-alang atau jerami, yang berfungsi sebagai penahan sinar matahari
dan menjaga kelembaban. Seledri kurang tahan hujan oleh karena itu curah hujan
optimum berkisar 60-100 mm/bulan.
Kapas yang umurnya kurang dari 1 (satu) tahun menghendaki curah hujan
rata-rata 1500-1800 mm/tahun. Sebaiknya tanaman kapas ditanam di tanah datar, dan
cocok pada ketinggian 10-150 mdpl. Selama masa pertumbuhan hendaknya suhunya
sama. Pada suhu dibawah 15oC tumbuhnya lambat. Pertumbuhan yang optimal
menghendaki suhu rata rata 25 28oC dengan kelembaban 70%.
Budidaya tanaman kubis bunga juga dapat dilakukan di dataran rendah (0-200
m dpl) dan menengah (200-700 m dpl). Di dataran rendah, temperatur malam yang
terlalu rendah menyebabkan terjadinya sedikit penundaan dalam pembentukan bunga
dan umur panen yang lebih panjang. Jumlah curah hujan 80% dari jumlah normal (30
cm) memberikan hasil rata-rata 12% dibawah rata-rata normal.

Pola tanam direncanakan pada bulan yang memiliki curah hujan tinggi, hal ini
dapat dilihat pada grafik. Ketersediaan air sangat memadai pada bulan Desember
dasarian II hingga bulan April dasarian I. Pada bulan Januari dasarian III hingga
bulan April dasarian I memiliki ketersediaan air paling besar. Pada bulan April
dasarian III hingga bulan Oktober dasarian I persediaan air sangat minimum karena
tidak ada curah hujan. Jika ingin menanam pada bulan bulan April hingga Oktober,
harus dirancang pembangunan irigasi yang memadai.
Setiap tanaman memiliki jumlah dasarian yang berbeda-beda sehingga waktu
tanam dan waktu pemanenan juga sangat berbeda. Tanaman Cotton memiliki jumlah
dasarian terbanyak yaitu berjumlah 20. Kebutuhan air tanaman Cotton tergolong
tinggi. Tanaman ini cocok ditanam pada bulan November dasarian III, dan butuh
pengariran di bulan januari dasarian I dan II, dan panen pada bulan Mei dasarian II.
Walaupun diawal bulan Februari dan Maret selama satu dasarian tanaman ini
kekurangan air, sehingga diperlukan irigasi atau pengairan.. Tanaman Celery
memiliki jumlah dasarian sebanyak 13. Kebutuhan air tanaman Celery tergolong
sedang. Celery dapat ditanam pada bulan November dasarian III dan panen pada
Maret dasarian III, tanaman Celery membutuhkan air pada bulan Januari dasarian I
dan II, Februari dasarian I dan Maret dasarian I dan II. Tanaman Crucifer memiliki
jumlah dasarian sebanyak 8. Crucifer dapat ditanam pada bulan Februari dasarian I
dan panen pada April dasarian II. Kebutuhan airnya sedang. Tanaman Crucifer
membutuhkan air pada Maret dasarian I dan II serta bulan April dasarian II pada
tahun 2005. Dari hasil menginterpretasikan ketiga jenis tanaman diperoleh pola
tanam yang hampir sama karena tanaman Celery dan Crucifer merupakan jenis
tanaman mesofit, dimana memiliki tingkat kebutuhan air yang sedang.
Kebutuhan air tanaman kapas tergolong tinggi pada masa perkecambahan,
menjelang berbunga dan pada saat pembentukan buah. Apabila keadaan terlalu
kering saat tanaman menjelang pembungaandan pembentukan buah akan
menyebabkan buah dan bunga-bunga gugur. Pengairan dilakukan pada sore hari
dengan mengaliri air pada parit-parit atau larikan antar bedeng. Penyiraman
dilakukan pada pagi dan sore hari secara rutin, untuk mengurangi tingkat kekerinag.
Pengairan dan penyiraman hendaknya dilakukan dengan hati-hati agar tidak
mengikis tanah di sekitar pertanaman.

Kebutuhan air untuk tanaman sangat tergantung dari besarnya curah hujan
rata-rata dengan evapotranspirasi. Jika semakin kecil curah hujan rata-rata bulanan,
maka semakin besar pula penguapan. Maka kebutuhan air untuk tanaman akan
semakin besar. Dengan demikian meskipun pada bulan tertentu menunjukkan
kebutuhan air tanaman terpenuhi oleh curah hujan sangat tinggi tetapi jika diiringi
evapotranspirasi yang tinggi tanaman akan mengalami kematian.
Dari data iklim yang ada kita dapat mengetahui pola curah hujan, lama
penyinaran matahari atau radiasi matahari, kelembaban udara, dan suhu di suatu
tempat. Dengan menggunakan data tersebut kita bisa memperkirakan berapa
besarnya penguapan yang terjadi. Bukan hanya memperkirakan saja, namun juga
dapat menghitung seberapa besar evaporasi dan evapotransiprasi yang terjadi di
daerah tersebut. Perhitungan yang dilakukan untuk mengetahui besarnya
evapotranspirasi di daerah tersebut dapat menggunkana rumus-rumus empiris yang
sudah baku. Rumus-rumus yang dipakai tergantung dari metode yang kita pakai.
Setiap metode memilki rumus empiris yang berbeda-beda dalam perhitungannya.
Metode yang dipakai untuk menghitung besarnya evapotranspirasi juga disesuaikan
dengan data yang ada di daerah tersebut. Data yang telah dihitung menggunakan
rumus-rumus empirik akan diperoleh nilai evapotranspirasi acuan tanaman. Dari
hasil perhitungan tersebut kita dapat mengetahui jumlah air yang diuapkan oleh tanah
dan bagian tumbuhan, sehingga kita dapat menentukan banyaknya air yang harus
ditambahkan pada tanah tersebut supaya tanah dan tanaman tidak kekurangan air
karena proses evapotranspirasi. Apabila tanah dan tanaman banyak menguapkan air
dan kita tidak mengetahui kapan harus memberikan air pada waktu yang tepat, maka
tanaman akan mencapai titik layu permanen dan tidak dapat kembali semula. Oleh
karena itu manfaat dari diketahuinya hasil perhitungan evapotranspirasi yaitu untuk
mengetahui seberapa besar tanaman dan tanah melakukan evapotranspirasi dan untuk
memperkirakan waktu yang tepat untuk memberikan air irigasi bagi tanaman
budidaya. Selain itu penggunaan rumus empiris akan jauh lebih mudah dan tepat jika
dibandingkan dengan hasil dari perkiraan saja. Dengan menggunakan rumus empiris,
semua orang dapat melakukannya dan mengetahui besar evapotranspirasi dari tanah
dan tumbuhan. Dengan data hasil perhitungan tersebut, kita juga dapat mengetahui
kebutuhan air suatu tanaman dengan praktis dan cepat, sehingga kita dapat

melakukan pemberian irigasi sesuai dengan kebutuhan tanaman. Hasil perhitungan


juga dapat dijadikan acuan untuk mengetahui kapan tanaman mengalami defisit air
ataupun mengalami surplus air.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN


Evapotraspirasi keseluruhan jumlah air yang berasal dari permukaan tanah,
air dan vegetasi yang diuapkan kembali ke atmosfer. Dalam menentukan kebutuhan
air konsumtif suatu tanaman dapat dihitung berdasarkan data iklim suatu wilayah,
seperti kecepatan angin (KA), panjang penyinaran (PP), curah hujan (CH) dan suhu
(T). Tanaman cotton cocok ditanam pada bulan November dasarian III, dan butuh
pengairan di bulan januari dasarian I dan II, dan panen pada bulan Mei dasarian II.
Celery dapat ditanam pada bulan November dasarian III dan panen pada Maret
dasarian III, tanaman Celery membutuhkan air pada bulan Januari dasarian I dan II,
Februari dasarian I dan Maret dasarian I dan II. Crucifer dapat ditanam pada bulan
Februari dasarian I dan panen pada April dasarian II. Tanaman Crucifer
membutuhkan air pada Maret dasarian I dan II serta bulan April dasarian II pada
tahun 2005.
Pengetahuan tentang evapotranspirasi dan koefisien tanaman penting untuk
mengetahui kebutuhan air suatu tanaman di suatu daerah sehingga bisa diketahui
pola tanamn yang sesuai secara luas dalam pertanian. Perkiraan peluang curah hujan
bermanfaat bagi penentuan suatu pola tanam untuk musim mendatang. Pengetahuan
tentang kebutuhan air tanaman dan ketersediaan air tanaman penting untuk
mengetahui pemberian irigasi air di suatu daerah dan perlu secara luas dalam
pertanian.

DAFTAR PUSTAKA
Asdak, C. 1995. Hidrologi dan Pengelolaan DAS. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta.
Bandi, A. A, Sumono, A. P. Munir. 2014. Kajian lama penggenangan terhadap
kualitas air dan sifat fisik tanah andosol serta pertumbuhan tanaman tomat
(Lycopersicum esculentum Mill). Jurnal Rekayasa Pangan dan Pertanian 2 :
133-142.
Manik, T. K, R. B. Rosadi, A. Karyanto. 2012. Evaluasi metode Penman-Monteith
dalam menduga laju evapotranspirasi standar (ETo) di dataran rendah
Propinsi Lampung Indonesia. Jurnal Keteknikan Pertanian 26 : 121-128
Noordwijik, M.V. A. Fahmuddin, D. Suprayoyo, K. Hairah, G.I. Pasya, B.V. Farida.
2009. Peran agroforesti dalam mempertahankan fungsi hidrologi daerah
aliran sungai (DAS). Agrivitas. XXVI (1) : 20-28.
Nuryanto, D. E, J. Rizal. 2013. Perbandingan evapotranspirasi potensial antara hasil
keluaran model ReGCM 4.0 dengan perhitungan data pengamatan. Jurnal
Meteorologi dan Geofisika 14:75-85.
Runtunuwu, E., Syahbuddin, H. dan Promudia. 2008. Validasi model pendugaan
evapotranspirasi : upaya melengkapi sistem database iklim nasional. Jurnal
Tanah dan Iklim 27 : 1-10.
Suryatmojo, H. 2006. Hidrologi Hutan. Jurusan Konservasi Sumber Daya Hutan.
<http://mayony.staff.ac.id/site/page>. Diakses tanggal 25 Maret 2015.
Talatua, S.M. 2009. The effect of land use on soil degradation due to erosion in the
district of West Seram regency Mollucas province. Jurnal Budidaya Pertanian
5: 27-34.
Usman. 2009. Analisis kepekaan beberapa metode pendugaan evapotranspirasi
potensial terhadap perubahan iklim. Jurnal Natur Indonesia 6 : 91-98.