Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Pembedahan atau operasi adalah semua tindakan yang menggunakan cara


invasif dengan membuka atau menampilkan bagian tubuh yang akan
ditangani dan pada umumnya dilakukan dengan membuat sayatan diakhiri
dengan penutupan luka dan penjaitan luka (Perry & Potter. 2005). Tindakan
bedah harus segera dilakukan dengan maksud untuk mencegah komplikasi
yang umumnya berbahaya. Pada kasus digestive ada beberapa penyakit yang
penangannya dengan teknik bedah seperti apendiksitis. (Sjamsuhidajat dan
Jong, 2011).
Apendiksitis adalah peradangan dari appendiks vermiformis dan
merupakan penyebab terlazim dilakukannya bedah abdomen akut pada pasien
(Sabiston, 2007). Appendicitis adalah peradangan akibat infeksi pada usus
buntu atau umbai cacing (apendiks). Usus buntu sebenarnya adalah sekum
(cecum). Infeksi ini bisa mengakibatkan peradangan akut sehingga
memerlukan tindakan bedah segera untuk mencegah komplikasi yang
umumnya berbahaya (Win de jong et al, 2005).
Insiden terjadi apendiksitis akut di negara maju lebih tinggi dibandingkan
dengan negara berkembang. Di Amerika Serikat appendiksitis merupakan
kedaruratan bedah abdomen paling sering dilakukan dengan jumlah penderita
pada tahun 2008 sebanyak 734.138 orang dan meningkat pada 2009 menjadi
739.177. Di Amerika Serikat kejadian apendiksitis dikatakan 7% dari seluruh
populasi dengan insiden 1,1 kasus per 1000 penduduk per tahun. Dari segi
usia 20 tahun adalah usia yang paling tersering mengalami appendiksitis.
Laki-laki 1,4 kali lebih sering daripada wanita. Angka kematian secara
keseluruhan adalah 0,2-0,8% dan lebih sering oleh karena komplikasi yang
terjadi dari akibat tindakan pembedahan yang dilakukan. Insiden perforasi
lebih tinggi terkait keterlambatan diagnosis yang kemudian meningkatkan
resiko morbilitas dan mortalitas (Santacrore dan Craigh, 2012).
Sementara untuk Indonesia sendiri appendiksitis merupakan penyakit
dengan urutan keempat terbanyak pada tahun 2006. Data yang dirilis oleh
Departemen Kesehatan RI pada tahun 2008 jumlah penderita appendiksitis di
Indonesia mencapai 591.819 orang dan meningkat pada tahun 2009 sebesar
596.132 orang. Kelompok usia yang umumnya mengalami appendiksitis yaitu
1

pada usia 10-30 tahun. Dimana insiden laki-laki lebih tinggi daripada
perempuan (Wylin, 2009).
Penatalaksanaan apendiksitis adalah apendiktomi. Apendiktomi adalah
operasi untuk mengangkat apendiksitis yang dilakukan sesegera mungkin
untuk menurunkan resiko perforasi (Jitowiyono, 2010). Apendiktomi
merupakan suatu intervensi bedah yang mempunyai tujuan pengangkatan
anggota tubuh yang mengalami masalah. Efek tindakan apendiktomi bisa
menimbulkan nyeri daerah operasi. Apendiktomi adalah suatu tindakan bedah
untuk menghilangkan apendiks dengan satu sayatan di area kanan bawah
perut. Biasanya sayatan pada daerah operasi ini akan menimbulkan nyeri yang
merupakan salah satu masalah keperawatan pada post apendiktomi. Pada post
apendiktomi nyeri disebabkan oleh inflamasi luka operasi yang baru saja
dijalani dimana proses inflamasi terjadi 2-3 hari dan dapat menimbulkan nyeri
ringan sampai sedang (Smelzer dan Bare, 2002).
1.2 TUJUAN
1.2.1 Tujuan Umum

Tujuan umum dari pembuatan makalah ini adalah memperoleh


gambaran secara teoritis dalam penatalaksanaan pasien apendiksitis.
1.2.2 Tujuan Khusus
a. Mampu menguasai konsep teori apendiksitis.
b. Mampu menguasai penatalaksanaan pasien operasi apendiktomi.
1.3 MANFAAT
1.3.1 Bagi Mahasiswa
Sebagai informasi dasar untuk membuat tugas mata kuliah perioperatif
mengenai penatalaksanaan pasien operasi apendiksitis.
1.3.2 Bagi Masyarakat
Untuk menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat tentang
penatalaksanaan pasien operasi apendiksitis.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1

Apendiksitis
2.1.1 Anatomi Apendiks
Apendiks merupakan suatu organ limfoid seperti tonsil, payer
patch ( analog dengan Bursa Fabricus ) membentuk produk
immunoglobulin, berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10cm
( kisaran 3-15cm ) dengan diameter 0,5-1cm dan berpangkal di sekum.
Lumennya sempit di bagian proksimal dan melebar dibagian distal.
Basis appendiks terletak di bagian postero medial caecum, di bawah
katup ileocaecal. Ketiga taenia caecum bertemu pada basis apendiks (
Wim de Jong, 2005 ).
Apendiks

verviformis

disangga

oleh

mesoapendiks

( mesenteriolum ) yang bergabung dengan mesenterium usus halus


pada daerah

ileum terminale. Mesenteriolum berisi a.Apendikularis


( cabang a.ileocolica). orificiumnya terletak 2,5cm dari katup
ileocecal.

Mesoapendiknya

merupakan

jaringan

lemak

yang

mempunyai pembuluh appendiceal dan terkadang juga memiliki


limfonodi kecil ( Wim de Jong, 2005 ).
Struktur apendiks mirip dengan usus mempunyai 4 lapisan
yaitu mukosa, submukosa, muskularis eksterna/propria ( oto
longitudinal dan sirkuker ) dan serosa. Apendiks mungkin tidak
terlihat karena adanya membran Jackson yang merupakan lapisan
peritoneum yang menyebar dari bagian lateral abdomen ke ileum
terminal, menutup caecum dan apendiks. Lapisan submukosa terdiri
dari jaringan ikat kendor dan jaringan elastik membentuk jaringan
saraf, pembuluh darah dan lymphe. Antara mukosa dan submukosa
terdapat lymphonodes. Mukosa terdiri dari satu lapis columnar
epithelium dan terdiri dari kantong yang disebut crypta lieberkuhn.
Dinding luar ( outer longitudinal muscle ) dilapisi oleh pertemuan
ketiga taenia colli pada pertemuan caecum dan apendiks taenia
anterior digunakan sebagai pegangan untuk mencari apendik ( Wim de
Jong, 2005).
Apendiks pertama kali tampak saat perkembangan embriologi
minggu ke-8 yaitu bagian ujung dari protuberans sekum. Pada saat
antenatal dan postnatal, pertumbuhan dari sekum yng berlebih akan
menjadi apendiks, yang berpindah dari medial menuju katup ileosekal.
( Wim de Jong, 2005)
Pada bayi, apendiks berbentuk kerucut, lebar pada pangkalnya
dan menyempit kearah ujungnya. Keadaan ini mungkin menjadi sebab
rendahnya kasus insiden apendisitis pada usia tersebut. Pada 65%
kasus,

apendiks

terletak

intraperitoneal.

Kedudukan

itu

memungkinkan apendiks bergerak dan ruang geraknya bergantung


pada panjang mesoapendiks penggantungnya. Pada kasus selebihnya,
apendiks terletak retroperitoneal, yaitu di belakang sekum, di belakang
kolon asendens, atau ditepi lateral kolon asendens. Gejala klinis
apendisitis ditentukan oleh letak apendiks ( Wim de Jong, 2005).

Persarafan parasimpatis berasal dari cabang n.vagus yang


mengikuti a.mesenterika superior dan a.apendikularis, sedangkan
persarafan simpatis berasal dari n.torkalis. Oleh karena itu, nyeri
visceral pada apendisitis bermula disekitar umbilikus. Pendarahan
apendiks berasal dari a.apendikularis yang merupakan arteri tanpa
kolateral. Jika arteri ini tersumbat, misalnya karena trombosis pada
infeksi, apendiks akan mengalami gangrene ( Wim de Jong, 2005).

2.1.2 Pengertian Apendiksitis

Apendiks adalah ujung seperti jari kecil panjangnya kira-kira


10 cm (4 inci), melekat pada sekum tepat di bawah katub ileosekal.
Apendik berisi makanan dan mengosongkan diri secara teratur ke
dalam sekum. Karena pengosongannya tidak efektif, dan lumennya
kecil, apendiks cenderung menjadi tersumbat dan terutama rentang
terhadap infeksi (apendisitis) (Smeltzer & Bare, 2002). Apendisitis
adalah peradangan apendiks yang relatif sering dijumpai yang dapat
timbul tanpa sebab yang jelas, atau timbul setelah obstruksi apendiks
oleh tinja, atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh darahnya.
Peradangan menyebabkan apendiks membengkak dan nyeri yang
dapat menimbulkan gangren karena suplai darah terganggu (Corwin,
2009). Menurut Jitowiyono & Kristiyanasari (2010) Apendiktomi
adalah operasi untuk mengangkat apendiksitis yang dilakukan
sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.
Appendisitis adalah penyebab umum inflamasi akut pada
kuadran kanan bawah rongga abdomen, yang dilakukan dengan
pembedahan abdomen darurat. Manifestasi klinis appendisitis adalah
nyeri abdomen kanan bawah ( Brunner & Suddart , 2014 ). Penyakit
apendisitis ditemukan pada semua umur, , insiden tertinggi pada
kelompok umur 10-30 tahun, penyakit apendisitis lebih sering terjadi
pada laki-laki daripada perempuan, lebih sering terjadi pada usia
remaja daripada usia dewasa (Smetlzer & Bare, 2002).
2.1.3 Etiologi Apendiksitis

Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal


berperan sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks
merupakan faktor yang diajukan sebagai faktor pencetus disamping
hiperplasia jaringan limfe, fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris
terdapat pula menyebabkan sumbatan. Penyebab lain yang diduga
dapat menimbulkan apendisitis ialah erosi mukosa apendiks karena
parasit seperti E.histolyca ( Wim de Jong, 2005).

2.1.4 Patofisiolgi Apendiksitis

Apendiks terinflamasi dan mengalami edema sebagai akibat


terlipat atau tersumbat, kemungkinan oleh fekalit (massa keras dari
feses), tumor, atau benda asing. Proses inflamasi meningkatkan
tekanan intraluminal, menimbulkan nyeri abdomen atau menyebar
hebat secara progresif, dalam beberapa jam, terlokalisasi di kuadran
kanan bawah dari abdomen. Akhirnya, apendiks yang terinflamasi
berisi pus (Smetlzer & Bare, 2002).
2.1.5 Jenis-Jenis Apendiksitis

Menurut Wing De Jong (2005), mengklasifikasikan apendisitis


menjadi tiga:
a. Apendisitis Akut merupakan infeksi yang disebabkan oleh
bakteria. Dan faktor pencetusnya disebabkan oleh sumbatan
lumen apendiks. Selain itu hyperplasia jaringan limfe, fekalit
(tinja/batu), tumor apendiks, dan cacing askaris yang dapat
menyebabkan sumbatan dan juga erosi mukosa apendiks
karena parasit (E.histolytica).
b. Apendisitis Rekurens yaitu jika ada riwayat nyeri berulang
diperut kanan bawah yang mendorong dilakukannya
apendiktomi. Kelainan ini terjadi bila serangan apendiksitis
akut pertama kali sembuh spontan. Namun apendisitis tidak
pernah kembali ke bentuk aslinya karena terjadi fibrosis dan
jaringan parut.
c. Apendisitis Kronik memiliki semua gejala riwayat nyeri perut
kanan bawah lebih dari dua minggu, radang kronik apendiks

secara makroskopik dan mikroskopik (fibrosis menyeluruh di


dinding apendiks, sumbatan partial atau lumen apendiks,
adanya jaringan parut dan ulkus lama di mukosa dan infiltrasi
sel inflamasi kronik), dan keluhan menghilang setelah
apendiktomi.
2.1.6 Manifestasi Klinis Apendiksitis

Menurut Smetlzer & Bare (2002) manifestasi klinis apendisitis


adalah nyeri kuadran bawah terasa dan biasanya disertai oleh demam
ringan, mual, muntah, dan hilangnya nafsu makan. Nyeri tekan lokal
pada titik Mc Burney bila dilakukan tekanan. Nyeri tekan lepas (hasil
atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan dilepaskan) mungkin
dijumpai. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat
konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi
apendiks. Bila apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri
tekan dapat terasa di daerah lumbal; bila ujungnya ada pada pelvis,
tanda-tanda ini dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rektal.
Nyeri pada defekasi menujukkan ujung apendiks berada dekat
rektum; nyeri pada saat berkemih menunjukkan bahwa ujung apendiks
dekat dengan kandung kemih atau ureter. Adanya kekuatan pada
bagian bawah otot rektus kanan dapat terjadi. Tanda Rovsing dapat
timbul dengan melakukan palpasi kuadran kiri, yang secara
paradoksial menyebabkan nyeri yang terasa di kuadran kanan bawah.
Apabila apendiks telah ruptur, nyeri menjadi lebih menyebar; distensi
abdomen terjadi akibat ileus paralitik, dan kondisi pasien memburuk.
2.1.7 Komplikasi Apendiksitis

Menurut Smetlzer & Bare (2002) komplikasi utama apendisitis


adalah perforasi apendiks, yang dapat berkembang menjadi peritonitis
atau abses. Insiden perforasi adalah 10-32%. Insiden lebih tinggi pada
anak kecil dan lansia. Perforasi secara umum terjadi 24 jam setelah
awitan nyeri. Gejala mencakup demam dengan suhu 37,7 C atau lebih
tinggi, penampilan toksik, dan nyeri atau nyeri tekan abdomen yang
kontinyu.

2.1.8 Pemeriksaan Apendiksitis

Pemeriksaan menurut Betz ( 2002 ), Catzel ( 1995 ), Hartman ( 1994 ),


antara lain:
1. Anamnesa
Gejala apendisitis ditegakkan dengan anamnese, ada 4 hal yang
penting adalah :
a. Nyeri mula mula di epigastrium ( nyeri viseral ) yang
beberapa waktu kemudian menajalar ke perut kanan bawah
b. Muntah oleh karena nyeri viseral
c. Panas ( karena kuman yang menetap di dinding usus )
d. Gejala lain adalah badan lemah dan kurang nafsu makan,
penderita nampak sakit, menghindarkan pergerakan, di
perut terasa nyeri
2. Pemeriksaan Radiologi
Pemeriksaan radiologi pada foto tidak dapat menolong untuk
menegakkan diagnosa apendisitis akut, kecuali bila terjadi
peritonitis, tapi kadang kala dapat ditemukan gambaran sebagai
berikut :
a. Adanya sedikit fluid level disebabkan karena adanya udara
dan cairan
b. Kadang ada fecalit ( sumbatan ), pada keadaan perforasi
ditemukan adanya udara bebas dalam diafragma.
3. Pemeriksaan Laboratorium
a. Pemeriksaan darah : leukosit ringan umumnya pada
apendisitis sederhana lebih dari 13.000/mm3 umumnya
pada apendisitis perforasi. Tidak adanya leukositosis tidak
menyingkirkan apendistis
b. Hitung jenis : tedapat pergeseran ke kiri
c. Pemeriksaan urin : sediment dapat normal atau terdapat
leukosit dan eritrosit lebih dari normal bila apendiks yang

meradang menempel pada ureter atau vesika. Pemeriksaan


leukosit

meningkat

melindungi

tubuh

sebagai

respon

terhadap

fisiologis

untuk

mikroorganisme

yang

menyerang. Pada apendisitis akut dan perforasi akan terjadi


leukositosis yang lebih tinggi lagi. Hb ( hemoglobin )
nampak normal. Laju endap darah ( LED ) meningkat pada
keadaan apendisitis infiltrat. Urine rutin penting untuk
melihat apa ada infeksi pada ginjal.
2.1.9 Penatalaksanaan Apendiksitis

Menurut Smetlzer & Bare (2002) penatalaksanaan apendisitis


adalah dengan pembedahan diindikasikan bila diagnosa apendisitis
telah ditegakkan. Antibiotik dan cairan IV diberikan sampai
pembedahan dilakukan. Analgesik dapat diberikan setelah diagnosa
ditegakkan. Apendiktomi (pembedahan untuk mengangkat apendiks)
dilakukan sesegera mungkin untuk menurunkan resiko perforasi.
Apendiktomi dapat dilakukan di bawah anestesi umum atau spinal
dengan insisi abdomen bawah atau dengan laparoskopi, yang
merupakan metode terbaru yang sangat efektif.
Penatalaksanaan apendiksitis menurut Mansjoer, 2003 :
a.

Sebelum operasi
1.

Pemasangan sonde lambung untuk dekompresi

2.

Pemasangan kateter untuk kontrol produksi urin

3.

Rehidrasi

4.

Antibiotik dengan spektrum luas, dosis tinggi dan diberikan


secara intravena

5.

Obat obatan penurun panas, phenergan sebagai anti mengigil,


largaktil untuk membuka pembuluh pembuluh darah perifer
diberikan setelah rehidrasi tercapai

6.
b.

Bila demam, harus diturunkan sebelum diberi anestesi

Operasi
1.

Apendiktomi

10

2.

Apendiks dibuang, jika apendiks mengalami perforasi bebas,


maka abdomen dicuci dengan garam fisiologis dan antibiotika

3.

Abses apendiks diobati dengan antibiotika IV, massa mungkin


mengecil, atau abses mungkin memerlukan drainase dalam jangka
waktu beberapa hari. Apendiktomi dilakukan bila abses dilakukan
operasi elektif sesudah 6 minggu sampai 3 bulan

c.

Setelah operasi
1.

Observasi TTV

2.

Angkat sonde lambung bila pasien telah sadar sehingga aspirasi


cairan lambung dapat dicegah

3.

Baringkan pasien dalam posisi semi fowler

4.

Pasien dikatakan baik bila dalam 12 jam tidak terjadi gangguan,


selam pasien dipuasakan

5.

Bila tindakan operasi lebih besar, misalnya pada perforasi, puasa


dilanjutkan sampai fungsi usus kembali normal.

6.

Berikan minum mulai 15 ml/jam selama 4 5 jam lalu naikkan


menjadi 30 ml/jam. Keesokan harinya berikan makanan saring
dan hari berikutnya diberikan makanan lunak

7.

Satu hari pascar operasi pasien dianjurkan untuk duduk tegak di


tempat tidur selama 2x30 menit

8.

Pada hari kedua pasien dapat berdiri dan duduk di luar kamar

9.

Hari ke-7 jahitan dapat diangkat dan pasien diperbolehkan pulang

Pada keadaan massa apendiks dengan proses radang yang masih aktif yang
ditandai dengan :
a. Keadaan umum klien masih terlihat sakit, suhu tubuh masih tinggi
b. Pemeriksaan lokal pada abdomen kuadran kanan bawah masih jelas
terdapat tanda tanda peritonitis
c. Laboratorium masih terdapat lekositosis dan pada hitung jenis terdapat
pergeseran ke kiri

10

11

2.2 Instrumentasi Operasi Apendiktomi


2.2.1

Pengertian
Suatu cara melakukan instrumentasi pada operasi apendiktomi
(pemotongan apendiks karena terjadi perforasi atau infeksi).

2.2.2

Tujuan
1. Memperlancar jalannya operasi
2. Dapat mempertahankan kesterilan alat-alat instumen
3. Dapat mengurangi rasa sakit nyaman pada penderita
4. Dapat mengatur alat secara sistematis di meja mayo

2.2.3

Persiapan Lingkungan
1. Ruangan sudah bersih dan siap pakai
2. Meja operasi siap pakai
3. Lampu operasi siap pakai
4. Suction siap pakai
5. Meja instrumen disiapkan
6. Meja mayo disiapkan
7. Suhu ruangan diatur
8. Tempat sampah medis dan non medis

2.2.4 Persiapan Pasien


1. Persetujuan operasi (informed consent)
2. Pasien dipuasakan 6-8 jam sebelum operasi
3. Vital sign dalam batas normal
4. Marking area operasi
5. Posisi pasien supine
6. Pastikan pasien tidak memakai perhiasan ( yang berhubungan

dengan logam ) dan gigi palsu.


2.2.5 Persiapan Alat

Persiapan Alat Steril


1. Scalp blade & handle (hand fat mess) no.3
:1
2. Metzenboum scissor (gunting matzenboum)
:1
11

12

3. Surgical Scissors (gunting kasar)

:1
Tissue forceps (pinset chirugis)
:2
Dissecting forceps (pinset anatomis)
:2
Dissecting forceps long (pinset anatomis panjang)
:1
Washing and Dressing forceps (desinfeksi klem)
:1
Towel Clamp (duk klem)
:5

4.
5.
6.
7.
8.

9. Delicate hemostatic forceps pean (musquito klem pean bengkok)


10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.

:1
Hemostatic forceps pean (klem pean manis)
:1
Delicate haemostatic forceps pean (Klem pean bengkok sedang)
:4
Haemostatic forceps kocher curved (Klem kocher bengkok
sedang) : 4
Hemostatic forceps kocher straight (kocher sedang lurus)
:2
Needle holder (nald voeder)
:2
Retractor us army (langenbeck)
:2
Bebcok (klem apendik)
:1

Persiapan di meja instrument :


a. Instrument

1.
2.
3.

Couter monopolar
Bengkok (kidney tray)
Kom/ cuching

:1
:2
:2

12

13

b.

Linen
1. Scort steril
2. Doek besar/doek sedang
3. Doek kecil

4.
5.

:6
:4
:6

Sarung meja mayo


Handuk kecil

:1
:6

Persiapan Bahan Habis Pakai


1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
2.2.6

Mess no. 10
Handscoen steril
Iodine Povidone 10%
Cairan NS
Kassa
Deppers
stell deper
Foley catether no.16
Urobag
Jelly
Spuit 10 cc
Underpad on sterile/sterile
Jarum bulat ( round )
tajam ( cutting )
Benang mersilk 2-0
Benang vicryl 2-0
Benang monosin 3-0
Supratule
Hypafix

:1
: secukupnya
: secukupnya
: 1 flash
: 10 buah
: 5 buah
: secukupnya
: 1 buah
: 1 buah
: secukupnya
: 1 buah
: 1/1 buah
: 1 buah
: 1 buah
:1
:1
:1
: 1 lembar
: secukupnya

Penatalaksanaan
1.

Sign in dilakukan di ruang premidikasi, dihadiri oleh semua tim


operasi.

2.

Bantu memindahkan pasien ke ruang operasi dan langsung ke meja


operasi,

13

14

3.

Pasien di lakukan pembiusan SAB oleh petugas anesthesia, kemudian


pasien diposisikan supine, lalu perawat sirkuler memasang folley
catether No. 16

4.

Instrumentator melakukan surgical scrubing, gowning dan gloving,


serta membantu memakaikan baju operasi dan handscoen kepada
operator dan asisten.

5.

Perawat sirkuler mencuci area operasi dengan larutan klorheksidine,


kemudian berikan duk kecil untuk lap kering.

6.

Instrumentator memberikan desinfeksi klem dan cucing yang berisi


bethadine dan deppers kepada operator untuk dilakukan desinfeksi
area operasi

7.

Melakukan drapping:
- Berikan 1 duk tebal untuk drapping ekstrimitas bawah
- Berikan 1 duk tebal lagi untuk ekstrimitas atas
- Berikan 2 duk besar untuk samping kiri dan kana lalu difiksasi
setiap sudut dengan duk klem.

8.

Dekatkan meja instrumen dan meja mayo dengan daerah operasi,


kemudian pasang couter dan fiksasi dengan duk klem.

9.

Time out, dibacakan oleh perawat sirkuler

10. Instrumentator : Berikan mess no.10 yang sudah terpasang dan pincet
cirurgis pada operator untuk dilakukan incisi kulit.
11. Berikan muskuito dan kassa kering kepada asisten, jika ada
perdarahan, rawat perdarahan dengan couter.
12. Berikan doubel langenback untuk memperluas lapang operasi,
kemudian operator memperdalam incisi menggunakan couter sampai
tanpak fascia.
13. Setelah tampak fascia, berikan mess no. 10 untuk membuka fascia
terlebih dahulu kemudian berikan doubel kocher untuk memegang sisi
kiri dan kanan fascia, setelah itu berikan gunting kasar untuk
membuka fascia secara memanjang.
14. Berikan klem pean manis untuk dilakukan spleet pada otot

14

15

15. Setelah muskulus oblikus internus dibuka dan peritonium kelihatan,


berikan doubel pincet anatomis, 1 buat operator dan 1 buat asisten
untuk memegang peritonium, lalu berikan mentzembaum untuk
membuka peritonium. Setelah peritonium dibuka, berikan 2 klem
kockher untuk memegang peritonium.
16. Berikan pinset anatomis panjang untuk mencari sekum, setelah sekum
ketemu lalu dikeluarkan.
17. Berikan babckok (klem apendik) untuk memegang mesinterium pada
ujung apendik
18. Berikan klem bengkok untuk memegang meso apendik,lalu berikan
gunting metzenboum untuk memotong meso apendik sampai pada
basis apendik, kemudian berikan nalvoeder dan benang mersilk no. 20 untuk diligasi
19. Berikan 1 klem lagi untuk krus atau klem pangkal apendik, kemudian
berikan nail voeder dan benang mersilk 2-0 lagi untuk ligasi pangkal
apendik
20. Setelah pangkal apendik terikat kuat, berikan mess yang sudah
dicelupkan bethadin untuk memotong pangkal apendik, kemudian
berikan pinset anatomis dan stell deper batadine untuk desinfeksi
irisan pangkal apendik.
21. Setelah dipastikan tidak ada perdarahan dengan menggunakan kassa
basah, berikan 2 kocher lagi untuk memegang peritonium.
22. Sign out, dibacakan oleh perawat sirkuler
23. Berikan nail voeder dan benang vicryl 2-0 untuk menjahit lapis demi
lapis, dari lapisan peritonium, otot, fascia, dan lemak
24. Berikan benang Monosin 3-0 untuk menjahit kulit hingga tertutup
rapat
25. Bersihkan area operasi dari bekas darah menggunakan kasa basah dan
kassa kering.
26. Setelah bersih semua, tutup luka operasi dengan sufratul dan kassa
kering lalu dplester dengan hypavix.

15

16

27. Operasi selesai, rapikan pasien kembali


28. Merapikan alat-alat, dekontaminasi alat :
-

Rendam alat pada larutan presept selama 10-15 menit


Bersihkan menggunakan larutan cidezyme dengan menggunakan sikat
Bilas pada air mengalir kemudian dikeringkan dan packing kembali

29. Inventarisasi bahan habis pakai pada depo farmasi.


2.2.7 Benang operasi beserta fungsinya
a. Seide (silk/sutera)
Bersifat tidak licin seperti sutera biasa karena sudah dikombinasi

dengan perekat, tidak diserap tubuh. Pada penggunaan disebelah luar


maka benang harus dibuka kembali.
Warna : hitam dan putih
Ukuran : 5,0-3
Kegunaan : menjahit kulit, mengikat pembuluh arteri (arteri besar) dan
sebagai teugel (kendali)
b. Plain catgut
Diserap tubuh dalam waktu 7-10 hari
Warna : putih dan kekuningan
Ukuran : 5,0-3
Kegunaan : untuk mengikat sumber perdarahan kecil, menjahit

subkutis dan dapat pula dipergunakan untuk menjahit kulit terutama


daerah longgar (perut, wajah) yang tak banyak bergerak dan luas
lukanya kecil. Plain catgut harus disimpul paling sedikit 3 kali, karena
dalam tubuh akan mengembang.
c. Chromic catgut
Berbeda dengan plain catgut, sebelum dipintal ditambahkan krom,

sehinggan menjadi lebih keras dan diserap lebih lama 20-40 hari.
Warna : coklat dan kebiruan
Ukuran : 3,0-3

16

17

Kegunaan : penjahitan luka yang dianggap belum merapat dalam

waktu 10 hari, untuk menjahit tendo untuk penderita yang tidak


kooperatif dan bila mobilisasi harus segera dilakukan.
d. Vicryl
Benang sintetis kemasan atraumatis. Diserap tubuh tidak menimbulkan

reaksi jaringan. Dalam subkuitis bertahan 3 minggu, dalam otot


bertahan 3 bulan
Warna : ungu
Ukuran : 10,0-1
Penggunaan : bedah mata, ortopedi, urologi dan bedah plastic
Ukuran benang dinyatakan dalam satuan baku eropa atau dalam satuan
metric. Ukuran terkecil standar eropa adalah 11,0 dan terbesar adalah ukuran 7.
Ukuran benang merupakan salah satu factor yang menentukan kekuatan jahitan.
Oleh karena itu pemilihan ukuran benang untuk menjahit luka bedah bergantung
pada jaringan apa yang di jahit dan dengan pertimbangan factor kosmetik.
Sedangkan kekuatan jahitan ditentukan oleh jumlah jahitan, jarak jahitan, dan
jenis benangnya. Pada wajah digunakan ukuran yang kecil (5,0 atau 6,0)

Lokasi Penjahitan

Jenis Benang

Ukuran

Fasia
Otot
Kulit
Lemak
Hepar
Ginjal
Pancreas
Usus halus
Usus besar
Tendon
Kapsul sendi
Peritoneum
Bedah mikro

Semua
Semua
Tak diserap
Terserap
Kromik catgut
Semua catgut
Sutera atau kapas
Catgut, sutera, kapas
Kromik catgut
Tak terserap
Tak terserap
Kromik catgut
Tak terserap

2,0-1
3,0-0
2,0-6,0
2,0-3,0
2,0-0
4,0
3,0
2,0-3,0
4,0-0
5,0-3,0
3,0-2,0
3,0-2,0
7,0-11,0

17

18

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan

Apendisitis adalah peradangan apendiks yang relatif sering dijumpai


yang dapat timbul tanpa sebab yang jelas, atau timbul setelah obstruksi
apendiks oleh tinja, atau akibat terpuntirnya apendiks atau pembuluh
darahnya. Peradangan menyebabkan apendiks membengkak dan nyeri yang
dapat menimbulkan gangren karena suplai darah terganggu.
Apendisitis akut merupakan infeksi bakteria. Berbagai hal berperan
sebagai faktor pencetusnya. Sumbatan lumen apendiks merupakan faktor
yang diajukan sebagai faktor pencetus disamping hiperplasia jaringan limfe,
fekalit, tumor apendiks, dan cacing askaris terdapat pula menyebabkan
sumbatan. Penyebab lain yang diduga dapat menimbulkan apendisitis ialah
erosi mukosa apendiks karena parasit seperti E.histolyca.
Manifestasi klinis apendisitis adalah nyeri kuadran bawah terasa dan
biasanya disertai oleh demam ringan, mual, muntah, dan hilangnya nafsu
makan. Nyeri tekan lokal pada titik Mc Burney bila dilakukan tekanan. Nyeri
tekan lepas (hasil atau intensifikasi dari nyeri bila tekanan dilepaskan)
mungkin dijumpai. Derajat nyeri tekan, spasme otot, dan apakah terdapat
konstipasi atau diare tidak tergantung pada beratnya infeksi dan lokasi

18

19

apendiks. Bila apendiks melingkar di belakang sekum, nyeri dan nyeri tekan
dapat terasa di daerah lumbal; bila ujungnya ada pada pelvis, tanda-tanda ini
dapat diketahui hanya pada pemeriksaan rektal.
Penatalaksanaan pasien apendiktomi meliputi persiapan pasien,
persiapan linkungan dan persiapan alat. Persiapan alat meliputi peralatan alat
steril dan peralatan benang habis pakai. Benang yang dipakai pada pasien
operasi apendiktomi adalah mososilk, vicryl, dan monosin.
3.2 Saran

Bagi mahasiswa keperawatan diharapkan dapat memahami konsep


dasar penatalaksanaan pasien operasi apendictomi yang berguna bagi profesi
dan orang sekitar kita.
Bagi Masyarakat diharapkan dapat memanfaatkan makalah ini untuk
menambah pengetahuan tentang penatalaksanaan pasien operasi apendiktomi.
DAFTAR PUSTAKA

Elizabeth J. Corwin. 2009. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.


Jotowiyono, dkk. 2012. Asuhan Keperawatan Post Operasi. Yogyakarta : Nuha
Medika.
Mansjoer, A. Etal. 2003. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi 8. Jakarta :
FKUI.
Patricia A. Potter & Anne G. Perry. 2006. Buku Ajar Fundamental Keperawatan.
Jakarta : EGC.
Smeltzer & Bare. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Beda, Vol 2 Edisi 8.
Jakarta : EGC.
Sjamsuhidayat, R & Win de Jong. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi 2. Jakarta :
EGC
Win de Jong et al. 2005. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta : EGC.

19

20

20