Anda di halaman 1dari 64

1

I
KEADAAN UMUM PERUSAHAAN
1.1

Identitas dan Sejarah Perusahaan

Nama Perusahaan

: PT Mabar Feed Indonesia Divisi Pig Farm

Bentuk Perusahaan

: Perseroan Terbatas

Tahun Berdiri

: 1993

Bidang Usaha

: Pig Farm (Breeding dan Fattening)

Alamat Perusahaan

: Jalan Deli Tua Talun Kenas Desa Sumbul Kec.


Talun Kenas, kab. Medan, Sumatera Utara

Alamat Kantor Pusat

: Jl. Rumah Potong Hewan No.44, MABAR, Medan


Deli, Kota Medan, Sumatera Utara 20241

PT. Mabar Feed Indonesia merupakan salah satu perusahaan yang bergerak
di bidang industri pakan ternak ayam petelur dan daging. Produk lain yang
dihasilkan oleh PT. Mabar Feed Indonesia berupa pakan ternak udang dan hewan
lainnya. PT. Mabar Feed Indonesia mulanya merupakan bentuk usaha perorangan
yang didirikan oleh Bapak Rachman pada tanggal 15 Maret 1976. Perusahaan ini
didirikan sesuai dengan surat izin dari Kantor Dinas Perindustrian Propinsi
Daerah Tingkat I Sumatera Utara Medan untuk mendirikan dan menjalankan
perusahaan makanan ternak dengan No.14/PERIND/IV/76 dengan nomor kode
3121/14/2A tertanggal 27 Mei 1976.
Pada awalnya perusahaan ini hanya memproduksi beberapa jenis pakan
ternak untuk ayam potong dan ayam pedaging yang bentuk produk yang
dihasilkan berbentuk pellet. Sejak awal berdirinya perusahaan ini hingga tahun
1980, perusahaan ini menggunakan mesin dan peralatan yang sederhana dalam
proses produksinya. Sejak tahun 1980, perusahaan ini mulai menggunakan mesinmesin yang lebih canggih. Pada tanggal 23 Mei 1985, perusahaan ini berubah
nama dari bentuk usaha perseorangan menjadi bentuk Persekutuan Komenditer
(CV) dengan nama CV Mabar. Seiring dengan kemajuan perusahaan, CV Mabar
pun berubah bentuk m enjadi Perseroan Terbatas (PT) dengan nama PT. Shrimp
Feed Indonesia dan berstatus Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Pada
tanggal 29 Juli 1988 PT. Shrimp Feed Indonesia akhirnya berubah nama menjadi

PT. Mabar Feed Indonesia. Perubahan status badan hukum perusahaan pada
perusahaan ini telah mendapat persetujuan dari Menteri Kehakiman RI dengan
dikeluarkannya Surat Keputusan No. C2-175.HT.1.TH 1990 pada tanggal 19
Januari 1990. Pada tahun 2001, asset (aktiva) perusahaan ini sebesar Rp. 111,72
miliar. Asset (aktiva) per 31 Desember 2005 sebesar 236,40.
Produk yang dihasilkan oleh PT. Mabar Feed Indonesia, dari tahun ke
tahun mengalami peningkatan yang cukup signifinikan. Hal ini dapat dilihat dari
volume penjualan dari tahun ke tahun. Tahun pertama produksi yang dihasilkan
oleh PT. Mabar Feed Indonesia mencapai 7.200 ton per tahun. Pada tahun 1988,
produksi PT. Mabar Feed Indonesia sebesar 40.000 ton per tahun meningkat 150
% menjadi 100.000 ton per tahun pada tahun 1996, kemudian karena pengaruh
krisis moneter produksi turun menjadi 36.000 ton pada tahun 1998. hal ini
disebabkan karena tingginya harga bahan baku dan rendahnya permintaan. Seiring
dengan pulihnya perekonomian nasional maka volume penjualan juga meningkat
menjadi 97.000 ton per tahun. Pada tahun 2001 jumlah produksi yang dihasilkan
sebesar 145.000 ton per tahun.
Program jangka panjang PT. Mabar Feed Indonesia adalah meningkatkan
volume penjualan hingga mencapai 20.000 ton per-bulan, dengan melaksanakan
diversifikasi produk, penambahan fasilitas produksi dan laboratorium yang
modern serta melakukann aktivitas benchmarking sehingga kualitas pakan ternak
tetap tinggi dan terjaga. Sebagai komitmen terhadap kualitas produksi maka pada
Universitas Sumatera Utara tanggal 11 Desember 2003, perusahaan ini
mendapatkan sertifikat ISO 9001 : 2000 dari Tuvreinahld.
Dengan banyaknya minat dari penjualan daging babi di kota Medan, maka
PT. Mabar Feed Indonesia membuat sebuah divisi Pig Farm yang bertujuan untuk
Breeding dan Fattening, dengan pasokan pakan dari PT. Mabar Feed Indonesia.
Divisi Pig Farm ini terletak di Jalan Deli Tua Talun Kenas Desa Sumbul
Kecamatan Talun Kenas Medan Sumatera Utara. Didirikan mulai tahun 1993 dan
masih tetap beroperasi sampai sekarang.

1.2 Lokasi Perusahaan

PT. Mabar Feed Indonesia Divisi Pig Farm berlokasi di Jalan Deli Tua Talun
Kenas Desa Sumbul Kecamatan Talun Kenas Medan Sumatera Utara. Lokasi farm
ini terletak di daerah yang dikelilingi kebun dengan jarak ke pemukiman
penduduk sekitar 500 meter.
Topografi areal farm merupakan daerah dataran tinggi dengan ketinggian
kurang lebih 750-900 meter diatas permukaan laut. Suhu minimum sekitar 20

dan suhu maksimum sekitar 27

dengan kelembaban sekitar 80% dan

curah hujan berkisar antara mm/tahun. Luas area pig farm ini kurang lebih 10,3
Ha dengan jumlah kandang sebanyak 20 kandang yang terdiri dari 3 jenis kandang
yaitu kandang induk bersalin sebanyak 3 kandang, kandang induk-perkawinan
sebanyak 5 kandang, 11 kandang starter-grower-fattening dan 1 kandang
penjualan.
1.3 Skala Usaha dan Populasi
PT Mabar Feed Indonesia Divisi Pig Farm terdiri dari 20 kandang dengan
kapasitas total 12.500 ekor. Strain yang digunakan di PT Mabar Feed Indonesia
Divisi Pig Farm yaitu Landrace, Duroc, Hamshire, Yorkshire dan Pietrain.
Populasi babi yang dipelihara di kandang berjumlah 11.000 ekor. Termasuk
pada skala usaha besar.
1.4 Struktur Organisasi
PT Mabar Feed Indonesia Divisi Pig Farm memiliki kerangka dan susunan
yang menggambarkan hubungan antara fungsi-fungsi dan posisi serta menunjukan
kedudukan, tugas, wewenang, dan tanggung jawab yang jelas dalam organisasi.
Kekuasaan tertinggi dipegang oleh seorang manajer yang memiliki wewenang dan
tanggung jawab penuh atas kelangsungan farm tersebut. Seorang manajer dibantu
oleh lima orang supervisor/kepala kandang, yaitu supervisor kandang bersalin,
supervisor kandang pembibitan, supervisor kandang fattening, supervisor
kompos, dan supervisor HRD/Marketing. PT Mabar Feed Indonesia Divisi Pig
Farm tidak memiliki asisten supervisor dikarenakan jumlah karyawan yang relatif
hanya sedikit.

II
TATACARA PEMELIHARAAN DAN PEMBERIAN OBAT DAN VAKSIN
DI PT. MABAR FEED INDONESIA DIVISI PIG FARM
Disusun Oleh :
Yance Aletheio Adwindra Sormin
200110130393
2.1 Abstrak
Praktik Kerja Lapangan dilaksanakan di PT Mabar Feed Indonesia Divisi
Pig Farm. Kegiatan ini dilaksanakan dari tanggal 24 Juni 2016 sampai dengan
tanggal 18 Juli 2016. Kegiatan Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan dengan
tujuan untuk mengetahui secara langsung mengenai peternakan babi dan
khususnya untuk mengetahui mengenai tata cara pemeliharaan, pemberian obat
dan vaksin yang dilakukan di perusahaan ini. Metode yang digunakan ialah
bekerja langsung di lapangan, pengamatan langsung di lapangan, diskusi dan
wawancara mendalam dengan seluruh pihak yang terkait langsung di lapangan
dan pengumpulan data. Hasil pelaksanaan pengamatan di lapangan pada praktik
kerja lapangan menunjukkan bahwa tatacara pemberian obat dan vaksin sudah
baik.
2.2 Pendahuluan
Penyakit merupakan salah satu faktor yang menjadi gangguan dalam usaha
untuk meningkatkan produksi ternak. Setiap peternakan perlu melakukan berbagai
tindakan guna mencegah penyebaran penyakit pada peternakan yang dijalankan.
Upaya tersebut dapat dilakukan dengan menjalankan tata cara pemeliharaan serta
program pemberian vaksin dan pemberian obat pada ternak yang sakit secara baik.
Faktor ini menjadi salah satu faktor penting dalam usaha meningkatkan produksi
ternak.
Tata cara pemeliharaan ternak memiliki pengaruh penting dalam sebuah
usaha peternakan dimana tingkat mortilitas akan menjadi tinggi ketika tata cara
pemeliharaan yang dijalankan sudah tepat guna. Peternakan dengan skala usaha
industri harus menerapkan tata cara pemeliharaan yang tepat untuk mencegah
penyebaran penyakit pada ternak lain. Pemberian vaksin juga harus dilakukan
secara berkala dan tepat waktu. Ternak yang sakit harus diberikan obat maupun

perlakuan khusus serta di karantina untuk mencegah penularan penyakit bila


diperlukan.
2.3 Tujuan
Maksud dan tujuan dilaksanakannya pengamatan pada praktek kerja
lapangan di PT Mabar Feed Indonesia Divisi Pig Farm ini ialah untuk mengetahui
tata cara pemeliharaan, pemberian obat dan vaksin baik SOP maupun program
kerja di area peternakan dan mengetahui langkah-langkah pencegahan penyakit
yang dilaksanakan di perusahaan ini serta mempelajari prosedur penerapan tata
cara pemeliharaan yang dilakukan.
2.4 Metode Pengamatan
Metode pengamatan yang dilakukan pada praktek kerja lapangan di PT
Mabar Feed Indonesia Divisi Pig Farm ialah sebagai berikut:
1. Training by doing, yaitu bekerja langsung di lapangan agar dapat memahami
langkah-langkah yang dilakukan secara praktik.
2. Pengamatan/observasi langsung di lapangan

(direct

observation).

Pengamatan dilakukan setiap hari kerja dengan mengamati seluruh area


peternakan tersebut mulai dari kandang induk bersalin hingga kandang
induk-perkawinan.
3. Metode diskusi dan wawancara mendalam (indepth interview) kepada
supervisor dan karyawan kandang. Diskusi mendalam juga dilaksanakan
dengan Manager farm di PT Mabar Feed Indonesia Divisi Pig Farm
4. Pengumpulan dan pengamatan data (collecting data) yang diperoleh yang
mendukung dalam pengambilan kesimpulan dari data tersebut.
2.5 Hasil dan Pembahasan
2.5.1 Tata Cara Pemeliharaan
Babi adalah ternak monogastrik yang mampu mengubah bahan makanan
secara efisien. Limbah pertanian, peternakan dan sisa makanan manusia yang
tidak termakan dapat digunakan oleh babi untuk menjadi produksi daging.
Besarnya konversi babi terhadap ransum ialah 3,5 artinya untuk menghasilkan
berat babi 1 kg dibutuhkan makanan sebanyak 3,5 kg ransum (Prasetya, H., 2012).
Ternak babi juga adalah ternak yang paling subur untuk dipelihara dan
kemudian dijual. Jumlah anak yang dilahirkan lebih dari satu, serta jarak dari satu
kelahiran dan kelahiran berikutnya pendek hal ini memungkinkan untuk

menjualnya dalam jumlah besar. Babi yang besar dapat dengan mudah
memproduksi litter size yang masing-masing terdiri dari rata-rata 10 ekor babi
perkelahiran, selanjutnya dinyatakan bahwa karakter reproduksi bersifat unik bila
dibandingkan dengan sapi, domba dan kuda. Perbedaan yang paling penting
adalah bahwa babi merupakan hewan polytocous atau melahirkan anak lebih dari
satu (Blakely J dan Bade, 1992).
Tata cara pemeliharaan merupakan faktor yang sangat penting dalam
keberlangsungan suatu usaha peternakan untuk dapat berhasil. Tata cara
pemeliharaan babi meliputi pemilihan bibit babi sebagai calon pejantan/induk,
manajemen

pemberian

pakan,

manajemen

pemeliharaan

penggemukan,

perkandangan, pencegahan/pengendalian penyakit (pemberian obat dan vaksin).


Adapun secara garis besar tata cara pemeliharaan babi dapat dikelompokkan
menjadi tata cara pemeliharaan induk, anak, calon pejantan/induk, penggemukan
dan pejantan/induk.
Lokasi farm harus dipikirkan sedemikian rupa sehingga penularan penyakit dari
farm lain tidak mudah terjadi, serta harus memikirkan posisi kandang sesuai arah
mata angin yang baik. Kandang induk bersalin harus menjadi fokus utama karena
anak babi yang baru lahir akan lebih mudah terkena penyakit dibandingkan babi
yang sudah di vaksin.
Untuk pencegahan penularan penyakit, maka pemeliharaan ternak babi
harus dilakukan secara tertib dan memenuhi tata cara budidaya ternak babi yang
baik terutama menyangkut masalah biosecuriti, higiene dan sanitasi dan
pencemaran lingkungan. Hal-hal yang perlu diperhatikan sebagai berikut :
(1) Melakukan pembersihan dan pencucian kandang serta menyediakan
desinfektan, hal ini sudah dilakukan di PT. Mabar Feed Divisi Pig Farm, setiap
hari kandang dicuci dan di bersihkan dari kotoran maupun sisa-sisa pakan yang
menempel pada lantai. Dan sudah dilakukan pencuci hamaan dengan desinfektan
sebelum memelihara babi dalam kandang. Pemberian desinfektan ini dilakukan
dua minggu sebelum babi dimasukkan ke dalam kandang.
(2) Membersihkan lingkungan sekitar kandang, dengan menyapu daerah sekeliling
kandang agar selalu bersih, sehingga ternak tidak akan mudah terkena penyakit
dari luar.

(3) Melakukan desinfeksi kandang dan peralatan, penyemprotan insektisida


terhadap serangga, lalat dan pembasmian terhadap hama lainnya. Hal ini sudah
dilakukan di PT. Mabar Feed Divisi Pig Farm, kandang dan peralatan kandang di
desinfeksi usai pemeliharaan selesai, dan khusus untuk peralatan dilakukan
desinfeksi setelah penggunaannya. Penyemprotan serangga juga dilakukan untuk
menghindari ternak terkotaminasi penyakit dari luar.
(4) Mencegah terjadinya penularan penyakit dari suatu kelompok ternak ke
kelompok ternak lainnya, pekerja yang melayani hewan sakit/kandang isolasi
tidak diperkenankan untuk melayani ternak-ternak/kandang lainnya; hal ini
penting dilkukan untuk mencegah penularan penyakit menular dan mencegah
kerugian yang besar pada peternakan.
(5) Membakar atau mengubur bangkai babi yang mati karena menderita penyakit
menular atau bangkai babi dan bahan yang berasal dari kandang yang
bersangkutan tidak diperbolehkan dibawa keluar melainkan harus segera
dimusnahkan dengan cara dibakar atau dikubur sesuai ketentuan yang berlaku, hal
ini mutlak dilakukan apabila ada babi yang terkena penyakit menular seperti
Cholera.
(6) Setiap usaha peternakan babi harus menyediakan fasilitas desinfeksi untuk
petugas dan tamu pada saat masuk ke peternakan. Hal ini dilakukan di PT. Mabar
Feed Divisi Pig Farm yang berguna untuk mencegah masuknya penyakit dari luar.
(7) Kandang ternak babi harus terpisah dengan kandang ternak lainnya. Maka dari
itu ternak babi ini dipelihara jauh dari pemukiman penduduk maupun dari
kandang ternak hewan lainnya.
2.5.2 Pemberian Obat dan Vaksin
Pada prinsipnya penyakit yang menyerang babi digolongkan menjadi dua:
1. Penyakit Tak Menular
Misalnya penyakit akibat kekurangan zat-zat makanan tertentu (deficiency)
seperti anemia, bulu rontok, rachitis, keracunan, dan lain-lain.
2. Penyakit Menular
Penyakit yang disebabkan oleh gangguan dari suatu organisme (bakteri, virus dan
parasit) seperti cacing, kutu, dan lain-lain.

Hog cholera merupakan penyakit viral yang sangat menular pada babi
disebabkan oleh virus dari genus Pestivirus, famili Flaviviridae. Penyakit Hog
cholera bersifat sangat menular pada babi, dapat terjadi secara akut, sub akut dan
kronis disertai morbiditas dan mortalitas tinggi. Bentuk akut ditandai oleh demam
tinggi, depresi berat, perdarahan dalam dan terbatas pada permukaan mukosa.
Bentuk kronis ditandai oleh depresi, anoreksia, demam ringan dan kesembuhan
dapat terjadi pada babi dewasa (Adyatma., 1980).
Vaksinasi merupakan salah satu cara yang efektif untuk mencegah
penyebaran penyakit Hog cholera. Keberhasilan program vaksinasi ditentukan
dari terbentuknya antibodi protektif dalam tubuh babi. Titer antibodi protektif
pada tubuh ternak dipengaruhi oleh banyak faktor diantaranya umur babi pada
saat divaksinasi, status maternal antibodi anak babi, stress, kondisi malnutrisi, dan
infeksi parasit (Tizard, 2000). Infeksi parasit internal pada babi terutama
disebabkan oleh golongan nematoda (Soulsby, 1986; Levine, 1990).
Infeksi oleh parasit cacing dapat menurunkan produktivitas ternak babi
(Sosroamidjojo, 1991) dan menurunkan titer antibodi dalam tubuh babi terhadap
vaksinasi yang diberikan (Tizard, 2000). Infeksi oleh parasit cacing dapat bersifat
subklinik (tanpa gejala klinis) apabila tingkat infeksi masih rendah sampai sedang,
dan akan menimbulkan gejala klinis apabila tingkat infeksi parah. Pada infeksi
ringan sampai sedang dapat menurunkan produktivitas babi yang ditandai dengan
berat badan yang rendah 6 (Soulsby 1982; Beriajaya dan Stevenson 1986) serta
mudah terinfeksi oleh mikroba (Tizard, 2000).
Pemberian obat dan vaksin menjadi faktor penting guna menunjang
berjalannya tata cara pemeliharaan dengan baik sesuai dengan standar yang telah
ditentukan oleh perusahaan. Pemberin vaksin harus dilakukan sesuai dengan
waktu yang telah ditentukan dan tidak boleh terlambat karena dapat menyebabkan
seluruh farm terjangkit penyakit. Oleh karena itu harus dipilih supervisor serta
anak kandang yang ulet agar program pemberian vaksin dapet berjalan sesuai
dengan SOP. Adapun pemberian obat diberikan pada babi yang menderita sakit
terutama secara fisik seperti luka akibat babi lain (pada kandang koloni) maupun
babi yang ditempatkan pada kandang individu karena ukuran kandang yang
sempit sehingga kaki ternak terjepit pada besi. Adapun babi yang menderita abses
dikarenakan kesalahan anak kandang pada saat melakukan penyuntikan vaksin

maupun vitamin sehingga perlu diberikan vitamin. Perlakuan khusus juga perlu
diberikan untuk babi yang memiliki ukuran tubuh yang relatif lebih kecil maupun
babi yang memiliki cacat tubuh (pincang) agar tidak kalah dalam persaingan
mendapatkan makanan dengan babi lain (pada kandang koloni) sehingga babi
sebaiknya dipindahkan ke kandang karantina sehingga babi dapat makan maupun
minum dengan baik tanpa harus bersaing guna meningkatkan PBB agar bobot
badan ternak tersebut dapat menjadi seragam dengan ternak lain yang seumur.
2.1. Jadwal Program Vaksinasi Kandang Starter
Tangga MP (3 Tangga MP (3 HC

I HC II HC III

l Sapih Mingg

l Sapih Mingg

(4

(7

(10

(3

(3

Mingg

Mingg

Mingg

u)

u)

u)

u)

Mingg

u)

Mingg

u)
26-08-

27-08-

u)
29-08-

30-08-

06-09-

27-09-

18-10-

15
02-09-

15
03-09-

15
05-09-

15
06-09-

15
13-09-

15
04-10-

15
25-10-

15
09-09-

15
10-09-

15
12-09-

15
13-09-

15
20-09-

15
11-10-

15
01-11-

15
16-09-

15
17-09-

15
19-09-

15
20-09-

15
27-09-

15
18-10-

15
08-11-

15
23-09-

15
24-09-

15
26-09-

15
27-09-

15
04-10-

15
25-10-

15
15-11-

15
30-09-

15
01-10-

15
03-10-

15
04-10-

15
11-10-

15
01-11-

15
22-11-

15
07-10-

15
08-10-

15
10-10-

15
11-10-

15
18-10-

15
08-11-

15
29-11-

15
14-10-

15
15-10-

15
17-10-

15
18-10-

15
25-10-

15
15-11-

15
06-12-

15
21-10-

15
22-10-

15
24-10-

15
25-10-

15
01-11-

15
22-11-

15
13-12-

15
28-10-

15
29-10-

15
31-10-

15
01-11-

15
08-11-

15
29-11-

15
20-12-

15
04-11-

15
05-11-

15
07-11-

15
08-11-

15
15-11-

15
06-12-

5
27-12-

15
11-11-

15
12-11-

15
14-11-

15
15-11-

15
22-11-

15
13-12-

15
03-01-

10

15
18-11-

15
19-11-

15
21-11-

15
22-11-

15
29-11-

15
20-12-

15
10-01-

15
25-11-

15
26-11-

15
28-11-

15
29-11-

15
06-12-

15
27-12-

15
17-01-

15
15
15
15
15
15
15
*MP = Microplasma merupakan vaksin untuk mencegah gangguan
pernafasan pada babi
**HC = Hog Colera merupakan vaksin pencegah penyakit Cholera
Pada tabel di atas terlihat bahwa jadwal pemberian vaksin adalah setelah 3
minggu dari tanggal sapih, hal ini dikarenakan ternak sudah memasuki masa
remaja pada pertumbuhannya, babi akan segera di masukkan pada kandang
dewasa yang dimana akan berbaur dengan babi yang lain sehingga perlu
diberikan vaksin microplasma agar babi tidak cacingan sehingga dapat tumbuh
dengan baik. Setelah itu minggu ke-4, ke-7, dan ke-10 diberikan vaksin Hog
Cholera,vaksin Hog Cholera diberikan sebanyak 3 kali untuk mencegah
penyakit Cholera, karena virus ini banyak berkembang pada kondisi lingkungan
yang kotor, sedangkan pada kandang babi keadaan kandang seringkali kotor
yang menyebabkan virus berkembang dengan baik dan menyerang bagian kulit
babi yang luka. Vaksin tersebut merupakan vaksin wajib setelah masa sapih
berakhir. Selain vaksin di atas diberikan pula beberapa obat-obatan apabila babi
terlihat sakit, diantaranya sebagai berikut.
Pembagian Pemakaian Obat-obatan di Kandang babi :
1. Kandang Anak
- Baycox
----- Coccidiosis
- Catosal
----- Mencegah stres
- Gentamox
----- Diare
- Mamimune
----- Suplemen
- Ironlyte
----- Vitamin dan Zat Besi (Program)
- Stressvitam
----- Untuk Induk
2. Kandang Induk
- Minerasol
----- Mineral
- Kepromec
----- Ekto dan Endoparasida
- Lutalyse
----- Hormon Untuk Campur Sperma
3. Kandang Starter
- Gentamox
----- Diare
- Ironlyte
----- Program Untuk Sapihan
- Linco PB-12
----- Pernafasan
4. Kandang Grower-Finisher
- Dimedriyl
----- Stress / Penenang Jantung
- Hiprasulfa
----- Pencernaan
- Florfenicol
----- Pernafasan

11

Linco PB-12
Tyloprim (Tilosin)
CTK
Excenel

----- Pernafasan
----- Pencernaan
----- Pencernaan dan Pernafasan
----- Bila Kondisi Sangat Parah

Cara Pemberian obat dan vaksin :


1. Per Oral
Yaitu pemberian obat melalui mulut, dengan cara dicekok (Drenching).
Hal ini lebih mudah dan praktis. Namun kurang cocok untuk hewan yang sakit
parah dan tidak mempunyai nafsu makan. Dapat diserap oleh darah setelah dua
jam.
2. Injeksi Sub cutan
Yaitu cara pemberian obat melalui injeksi di bawah kulit. Dapat dinjeksi
pada bagian leher, punggung. Terserap oleh darah setelah jam. Contohnya :
injeksi ivermectin (ivomec, cydectin dll), anastesi local. Pasca injeksi kulit harus
ditekan-tekan biar obat merata.
3. Injeksi Intramuskuler
Injeksi pada bagian otot atau daging yang tebal. Dinjeksikan pada bagian
otot paha, otot dada, diantara musculus subscapularis, bagian pantat. Dapat
diserap

oleh

darah

setelah

15-30

menit. Contohnya

injeksi

antibiotika,vitamin,mineral, anastesi umum.


4. Intravena
Yaitu injeksi obat yang dilakukan melalui pembuluh darah arteri
cephalica (pada kaki depan/tangan), arteri jugularus (pada leher) dan arteri
femoralis (kaki belakang). Dapat terserap darah hanya dalam ukuran detik. Cepat
terserap, cepat bereaksi, dan memiliki ketrerampilan khusus. Contohnya : injeksi
infus Ringer dextrose 5 %. Obat dalam bentuk cair encer.
5. Intramamaria
Pemberian obat melalui saluran puting. Digunakan untuk mengobati
penyakit mastitis. Cara memasukkannya dengan menggunakan alat khusus (canul
mastitis) yang akan langsung dimasukkan melalui kelenjar mamalia. Contoh :
injeksi cloxalene plus.
6. Intraperitonium
Pemberian obat melalui injeksi lewat perut. Untuk pengobatan penyakit
kembung akut. Obat yang diberikan yaitu dalam bentuk cairan antasida.

12

2.5.3. Pemberian Vaksin dan Obat-obatan untuk Babi Periode Starter


Babi periode starter sangat rentan untuk terkena penyakit dan defisiensi
vitamin maupun mineral, yang disebabkan karena sistem kekebalan tubuh belum
sempurna, oleh karena itu sangat penting dilakukan vaksin dan pemberian obatobatan untuk mencegah babi terjangkit oleh penyakit menular yang dapat
menyebabkan kerugian. Berikut ini adalah program kesehatan yang dilakukan
pada babi periode Starter :
Tabel 2.2. Program Kesehatan Babi Periode Starter
Umur
1 hari
3 hari
4 hari
7 hari
10 hari

Vaksin/Obat-obatan
Mamimune
Mamimune+Ironlyte

Keterangan
Suplemen energi
Suplemen energi+vitamin dan

Baycox

zat besi
Kontrol dan pengobatan

Catosal
Ironlyte

penyakit Coccidiosis
Mencegah Stress
Vitamin dan zat besi

1. Mamimune
Mamimune adalah produk suplemen energy yang natural/alami dalam
bentuk emulasi, dibuat berdasarkan dosis kebutuh pada anak babi dan diberikan
pada anak babi (anakan hewan) yag baru lahir. Sebagian besar kerugian adalah
terjadinya kematian pada anak babi di antara umur 3 hari, yang disebabkan oleh
beberapa factor, yang utama karena rendahnya cadangan Glycogen selama proses
kelahiran. Sedangkan anak babi bersaing untuk mendapatkan Colostrum. Asupan
Colostrum memegang peranan penting pada anak babi sebelum umur 12 jam
untuk mendapatkan material antibody dari induk.
- Merupakan suplemen energy dalam formula emulsi khusus.
- Bisa diberikan pada semua anakan hewan yang baru lahir (babi, kambing,
domba dll).
- Meningkatkan performa, pertumbuhan dan berat badan.
- Sangat cepat diserap, setelah 2 jam pemberian kadarnya tinggi dalam darah.
- Menstimulasi perkembangn system alat pencernaan (Villi dan Crypt), efeknya
akan terlihat setelah pemberian.

13

- Meningkatkan absorbs pakan.


- Menaikkan daya tahan dan daya hidup anakan hewan yang baru lahir.
- mengandung bahan-bahan yang alami/natural.
Dosis dan Cara Pakai :
1-2 kali pompa (24 ml Mamimune) untuk setiap anakan hewan yang baru lahir.
Ulangi setiap 3 hari sekali untuk yang kondisinya masih lemah.
2. Ironlyte
Diindikasikan untuk mencegah dan mengobati kekurangan zat besi saat
anemia pada anak babi. Khususnya jika diperlukan pada saat baru lahir dengan
kondisi anemia. Juga anemeia yang disebabkan oleh parasit dan infeksi bakteri,
kondisi stress (juga disebabkan pada saat transportasi), untuk perbaikan
peternakan dan pertumbuhan hewan yang masih muda sebagai pendukung dalam
pengobatan penyakit infeksius dan kehilangan darah.
Dosis dan Cara Pakai :
Untuk suntikan intramuscular atau subkutan pada penyuntikan yang sesuai.
Untuk pengobatan yang teratur :
Pada babi dewasa diberikan 3-5 ml pada suntikan pertama. Jika diperlukan,
suntikan kedua diberikan 7 hari kemudian.
Pada anak babi diberikan 1-2 ml pada hari ketiga setelah kelahiran dan pada hari
ke 5 setelah kelahiran.
Kontradiksi
Defisiensi vitamin E dan atau defisiensi selenium pada anak babi yang sering
diberikan karena meningkatkan pertukaran keracunan.
Efek Samping
Ironlyte dapat menyebabkan reaksi sakit dan pembengkakkan, perubahan warna
pada otot. Terkadang reaksi anafilaksis terjadi. Pemberian dalam dosis yang
sangat tinggi dapat menyebabkan Siderosis, Intoksikasi dengan Hipotemia, shock
dan bahkan kematian.
3. Baycox
Kontrol dan pengobatan penyakit Coccidiosis yang disebabkan oleh bakteri
Coccidiostat. Memiliki keunggulan :
- Spektrum yang luas untuk semua jenis koksi
- Bekerja pada semua stadium koksidia dalam tubuh
- Aman
- Cukup diberikan satu kali saja secara oral
- Tidak menyebabkan muntah
- Tak mempengaruhi sistem kekebalan

14

Dosis dan Aturan Pakai :


Dicekok dengan dosis 0,4 ml/kg berat badan, diberikan satu kali saja pada umur 34 hari.
4. Catosal
Indikasi :
- Mencegah stress
- Memperbaiki metabolisme
- Meningkatkan nafsu makan setelah melahirkan
Dosis dan Aturan Pakai :
- Pada babi dewasa diberikan sebanyak 2,5-20 ml
- Pada anak babi diberikan sebanyak 1-2,5 ml pada saat umur 7 hari
Pemberian vaksin maupun obat-obatan tersebut selalu dilakukan pada babi
yang baru lahir, hal ini bertujuan untuk mengurangi angka kematian yang terjadi
pada anak babi, sehingga kerugian materi dapat dikurangi dengan cara pemberian
vaksin dan obat-obatan tersebut.

2.6 Kesimpulan dan Saran


2.6.1

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan dan pembahasan yang telah dipaparkan

sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa tata cara pemeliharan, serta pemberian


obat dan vaksin telah berjalan dengan baik dan sesuai dengan prosedur yang ada.

2.6.2

Saran
Perusahaan diharapkan terus menjaga serta meningkatkan tata cara

pemeliharaan serta pemberian obat dan vaksin yang telah ditetapkan agar
penularan penyakit dapat semakin diminimalisir guna meningkatkan produksi
ternak.

15

DAFTAR PUSTAKA
Adyatma, 1980. Kebijaksanaan Pemberantasan Penyakit Parasit di Indonesia.
Dalam: Indra Chahaya, 2003. Epidemiologi Toxoplasma gondii. Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, Medan: 1.
BERIAJAYA and P. STEVENSON. 1986. Reduced Productivity on Small
Ruminants in Indonesia as a Result of Gastrointestinal Nematode
Infections . Proc.5th .Int .Conf.Lvstk.Dis .Trop . 28-30
Blakely, J. dan Bade, D. H., 1992. Ilmu Peternakan IV. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.
Levine. N.D., 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Dalam: Indra
Chahaya, 2003. Epidemiologi Toxoplasma gondii. Fakultas Kesehatan
Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, Medan: 2-6.
Prasetya, H. 2012. Prospek Cerah Beternak Sapi Perah. Pustaka Baru Press.
Yogyakarta.
Sosroamidjojo, M. S. 1983. Ternak Potong dan Kerja. Cetakan ke-8. CV.
Yasaguna. Jakarta.
Soulsby, E.J.L. 1986 . Helminths, Arthropds and Protozoa of Domesticated
Animals. The English language book society and bailliere, Tindall. London
Tizard IR. 2000. Veterinary Immunology An Introduction. Sixth Edition. WB
Saunders Company. Harcourt Health Sciences Company. Philadelphia,
Pennsylvania.

16

LAMPIRAN

Lampiran 2.1. Daftar Obat-obatan

Lampiran 2.2. Jadwal Program Vaksinasi Kandang Starter

III

17

SISTEM PERKANDANGAN PADA PETERNAKAN BABI


PT. MABAR FEED INDONESIA
DESA SUMBUL KECAMATAN STM HILIR KABUPATEN DELI
SERDANG SUMATRA BARAT
Oleh :
Nova Timotius Panggabean
200110130234
3.1 Abstrak
Praktek Kerja Lapangan ini dilaksanakan pada tanggal 24 Juni- 18 Juli 2016
di PT. MABAR FEED INDONESIA. Selama praktek kerja lapangan, Penulis
melakukan wawancara dan pengamatan langsung ke lapangan. Penunjang
keberhasilan dalam usaha beternak, khususnya babi diperlukan manajemen
kandang yang baik dan benar. Manajemen perkandangan yang dikelola dengan
baik dan benar dapat memberikan keuntungan dari pertambahan dan pertumbuhan
ternak tersebut. Sistem perkandangan sangat diperlukan di suatu perusahaan untuk
menunjang produktivitas ternak tersebut.
Perkandangan yang ada di perusahaan ini yaitu: Kandang Calon Induk dan
Kandang IB, Kandang Bunting, Melahirkan dan Menyusui, kandang Pre Starter
dan Starter, kandang Grower dan Fattening,dan Kandang Finisher dan Penjualan.
Dari hasil pengamatan diketahui pada perusahaan itu sistem perkandangan sudah
baik dan untuk saluran limbah terdapat gorong- gorong yang hilirnya ke tempat
yang akan didaur ulang, pada kandang dan bahan- bahan yang digunakan
dilakukan pengecekan agar membuat nyaman ternak, ketika kandang rusak pihak
perusahaan sangat sigap untuk menanggulanggi kerusakan.
Kata Kunci : Sistem Perkandangan, Kandang Calon Induk dan Kandang IB,
Kandang Bunting, Melahirkan dan Menyusui, kandang Pre Starter dan Starter,
kandang Grower dan Fattening,dan Kandang Finisher dan Penjualan
3.2 Pendahuluan
Perkandangan mutlak diperlukan pada suatu petermakan karena merupakan
salah satu aspek penting yang dapat menunjang keberhasilan dalam proses
produksi suatu peternakan. Suatu peternakan mengharapkan produktivitas yang
tinggi dari ternak yang dipeliharanya oleh sebab itu harus diperhatikan segala
sesuatu yang berhubungan dalam sistem perkandangan seperti tatalaksana
bangunan, bentuk bangunan, dan perlengkapannya. Sistem perkandangan ini harus
dapat menjamin kenyamanan hidup ternak sehingga menghasilkan produktivitas
yang optimal. Kandang yang baik yang akan mampu meningkatkan koversi

18

makanan; meningkatkan pertumbuhan dan menjamin kesehatan ternak ( Yudhie,


2009).
Bangunan kandang babi untuk daerah tropis seperti Indonesia lebih
sederhana dibandingkan dengan untuk daerah subtropis atau daerah beriklim
dingin, suhu di Indonesia rata-tata 27,20C. Suhu atau temperatur lingkungan mikro
harus dimodifikasi agar sesuai dengan tuntutan hidup ternak babi yang dipelihara
dalam kandang. Harus diusahakan agar mikroklimat dalam kandang serasi bagi
kehidupan atau kebutuhan fisiologis babi. Bila suhu terlalu tinggi, babi akan
kehilangan panas evaporatif (berkeringat atau terengah-engah), konsumsi
makanan biasanya menurun, konsumsi air minum meningkat, berusaha mencari
kesejukan, dan tingkah laku mungkin berubah, dan faktor- faktor tersebut
mengakibatkan

gangguan

produksi.

Suhu

mengakibatkan pertumbuhan babi berbeda. ).

lingkungan

yang

berbeda

Menurut Pollung S. H (1990),

alasan utama mengandangkan ternak babi adalah untuk memodifikasi iklim dan
mengahasilkan suatu lingkaran yang lebih baik dapat memberi laju pertumbuhan
yang lebih cepat dan penggunaan makanan yan lebih efisien maka menjadi suatu
hal yang terbaik untuk ternak babi agar dapat menghasilkan produktivitas yang
tinggi. Temperatur yang terlalu tinggi atau terlalu rendah akan mengganggu
kehidupan babi, sebab babi akan bertumbuh baik di lingkungan zone
termonetralnya, yakni berkisar antara 20-26 C (Sihombing, 2006). Tindakan
berupa penyemprotan kandang dengan air bersih untuk menjaga kebersihan
kandang agar membunuh agen penyakit dengan cara desinfeksi secara teratur
dengan menggunakan desinfektan di lingkungan kandang.
3.3 Tujuan Pengamatan
Adapun tujuan dari Praktek Kerja Lapangan di PT. Mabar Feed Indonesia
adalah :
1
2

Mengetahui sistem perkandangan babi di PT. Mabar Feed Indonesia


Mengetahui bahan yang digunakan pada kandang babi di PT. Mabar Feed

Indonesia
Mengetahui alat- alat dan perlengkapan kandang babi di PT. Mabar Feed
Indonesia

3.4 Metode Pengamatan

19

Adapun metode pengamatan yang dilakukan adalah sebagai berikut :


1

Melakukan observasi langsung dan ikut bekerja untuk mendapatkan

2
3

informasi mengenai sistem perkandangan di PT. Mabar Feed Indonesia


Wawancara dan diskusi dengan karyawan PT. Mabar Feed Indonesia
Melakukan pengumpulan data mengenai sistem perkandangan di PT.

Mabar Feed Indonesia


Mendokumentasikan kegiatan

yang

berhubungan

dengan

sistem

perkandangan di PT. Mabar Feed Indonesia dengan menggunakan alat


bantu yang berupa kamera untuk menunjang isi lapor.
3.5 Hasil Pengamatan dan Diskusi
Sistem Perkandangan Babi di PT. Mabar Feed Indonesia
Pertumbuhan dan perkembangan babi sangat tergantung dari kondisi
lingkungan dalam kandang seperti temperatur, kelembaban kandang, kecepatan
angin. Untuk memenuhi standar tersebut yang perlu diperhatikan dalam
pembuatan kandang adalah ; ukuran kandang, tempat pakan, dot minum, kandang,
tirai plastik harus ditutup saat dingin/malam hari, tangki untuk mencampur obat
minum, bak pembuangan limbah. Kandang yang dimiliki perusahaan ini sekitar
sudah memenuhi beberapa kriteria tersebut.
a

Sistem Perkandangan

Kandang Calon Induk dan Kandang Inseminasi Buatan


Pada fase ini peternakan mengunakan sistem kandang individu. Untuk minum,

ternak menggunakan nipple dan untuk tempat pakan diletakan di lantai. Pada
kandang ini (gambar 1) dilaksanakan penyuntikan IB untuk calon induk betina
dan pengambilan semen untuk pejantan. Setelah 2-3 minggu setelah IB, induk
akan dipindahkan ke kandang melahirkan

20

Gambar 3.1 . Kandang Calon Induk dan Kandang Inseminasi Buatan


(Dokumentasi Pribadi, 2016)
-

Kandang Bunting dan Melahirkan


Pada kandang ini (gambar 2) adalah perpindahan dari kandang calon induk

yang sudah bunting dengan cara IB (Inseminasi Buatan). Kandang induk yang
efisien ialah jika kandang tersebut nyaman bagi induk dan sekaligus nyaman bagi
anak-anak yang dilahirkan, sehingga anak-anaknya bisa mendapatkan kesempatan
hidup pada kandang tersebut. Kandang ini langsung bersebelahan dengan kandang
calon induk untuk memudahkan proses pemindahan dengan cara penggiringan
oleh anak kandang. Peternakan ini memiliki 3 kandang besar untuk fase ini dan
setiap kandang besar memilik 104 kandang kecil dengan 1 ekor induk bunting
didalamnya. Ukuran kandang kecil 3x 4m, di setiap kandang tersedia tempat
makan untuk induk berukuran 40 x 45 cm dengan ketinggian 30 cm dan tempat
makan untuk anak babi berukuran 20 x 70 cm dengan tinggi 10 cm.
Pada kandang melahirkan sudah tersedia kandang untuk anak babi yang
diberi alas dan penghangat (lampu) untuk menjaga agar suhu kandang tetap
hangat bagi anak babi. Pada peternakan ini, kebersihan kandang selalu dijaga,
dalam satu hari babi akan dimandikan 2 kali, pagi dan sore. Mikroorganisme
pathogen memang banyak bermukim di kandang beranak yang kotor. Infeksi
sangat mungkin terjadi pada anak babi dari induk muda yang baru pertama kali
beranak. Tingkat mortalitasnya cukup tinggi bisa mencapai 90%. Normalnya
tingkat bertahan hidup anak babi antara 60-70% (Anonim, 2009). Dengan
demikian untuk menghindari penyakit dan penyebarannya, keadaan kandang harus

21

dijaga bersih, kering, dan suhunya diatur agar anak babi dan induknya nyaman
( Yudhie, 2009 ).
Unit ataubangsal kandang mengasuh anak ( nursery pens ) yang terdiri dari
petak petak setelah anak babi disapih dan tinggal disitu sampai umur atau bobot
badan 35 40 Kg. Mungkin juga ditampatkan di petak petak kandang ini induk
bersama anaknya yang dipindahkan dari kandang melahirkan setelah anak
berumur 2 3 minggu dan induk tinggal disitu sampai anak disapih.

gambar 3.2 . Kandang Bunting dan Melahirkan


(Dokumentasi Pribadi, 2016)
-

Kandang Pre- Starter dan Starter


Babi pada tahap ini adalah anak babi yang telah lepas sapih. Pemeliharan Pre

Starter merupakan pemeliharaan yang intensif pada ternak babi yang berumur 2-4
minggu dimana kondisi anak babi sudah dipisahkan dari induknya. Satu kandang (
gambar 3.3) terdapat 21 anak babi yang selesai sapih dari kandang induk
melahirkan. Ukuran kandang ini 2,74 x 3,75 m.

22

Gambar
3.3 . Kandang Pre- Starter dan Starter
(Dokumentasi Pribadi, 2016)
Kandang Grower dan Fattening
Kandang ini (Gambar 3.4) berukuran 4,5x 5 m dimana satu kandang berisi 15-

16 ekor babi. Tempat pakan yang tersedia pada kandang ini lebih besar dibanding
pada kandang Pre- Starter dan Starter. Ukuran kandang pada usaha penggemukan
babi sangat berperan penting. Bila terjadi over density (kepadatan) akan
menyebabkan kenyamanan babi berkurang, sirkulasi udara kurang, volume
kotoran akan lebih banyak dibanding dengan luasan kandang standar sehingga
resiko terjadinya penyakit menjadi lebih besar.
Menurut Heru, 2015, ukuran kandang ideal adalalah:
- Berat 40kg 0, 36 m/ekor
- Berat 40-90kg 0, 50 m/ekor
- Berat > 90kg 0, 75 m/ekor

Gambar 3.4 . Kandang Grower dan Finisher


(Dokumentasi Pribadi, 2016)
-

Kandang Finisher dan Penjualan


Kandang ini (Gamabar 3.5) adalah babi yang sudah siap untuk dijual.

23

Gambar 3.5 . Kandang Finisher dan Penjualan


(Dokumentasi Pribadi, 2016)
b Bahan Kandang Babi
-

Lantai
Luas latai kandang bagi ternak babi sangat penting diperhatikan karena sangat

berkaitan atau erat hubungannya dengan kehiduapan biologis babi yang meliputi
pertumbuhan, kesehatan, reproduksi, produksi dan tingkah laku babi. Luas lantai
kandang tergantung dari status atau golongan, bobot badan atau umur babi, bahan
dan tipe lantai kandang. Di setiap petak kandang harus tersedia tempat makan dan
minum. Lantai berguna untuk menghindari kelembaban dari dalam tanah, menjaga
kebersihan ternak, dan mencegah kontaminasi parasit dari tanah. Lantai kandang
tidak boleh licin sehingga tidak melukai ternak
Dari hasil pengamatan, lantai ( gambar 3.6) yang digunakan pada perusahaan
ini adalah semen, tipe lantai nya adalah berbilah. Penggunaan semen tidak terlalu
baik karena masih banyak ternak yang akan dipindahkan tergelincir yang
mengakibatkan mengganggu produktivitas ternak itu.

24

Gambar 3.6. Lantai Kandang


(Dokumentasi Pribadi, 2016)
-

Dinding
Dinding (Gambar 3.7) kandang berguna untuk melindungi ternak atau

pembatas, yakni pembatas luar dan dalam kandang dan antar ternak untuk
membatasi ruangan, udara, angin dan panas, menahan keluarnya panas yang
dihasilkan oleh tubuh hewan. Umumnya dinding luar atau batas petak kandang bai
di daerah tropis berkisar 90-100 cm, kecuali kandang pejantan dan kandang
karantina babi sakit mungkin perlu setinggi 125 cm, sedang dinding kandang babi
sapihan mungkin cukup 75 cm, dan batas pemisah kandang melahirkan cukup 50
cm (Sihombing, 1997).
Pada peternakan di perusahaan ini kandang bata dan semen. Penggunaan bata
dan semen baik sehingga terhindar dari kedinginan dan kepanasan.

25

Gambar 3.7. Dinding Kandang


(Dokumentasi Pribadi, 2016)
-

Atap
Atap (Gambar 3.8) sebagai pembatasan di bagian atas, berguna untuk

melindungi ternak dari air hujan dan terik matahari; mempertahankan suhu di
dalam kandang pada waktu dingin. Bahan atap sebaiknya dipilih yang memiliki
permukaan yang memungkinkan pemantulan sebanyak mungkin atau yang meiliki
koefisien refleksi (albedo) raidasi surya atau bumi. Bahan- bahan atau yang
memungkinkan dipakai adalah seng plat atau gelombang, aluminium, superdek
(campuran aluminium dan seng), asbes gelombang, plastik gelombang,, genteng,
sirap, ijuk atau dedaunan.
Atap ijuk dan pelbagai dedaunan membuat kandang cukup sejuk, namun
bahan tersebut mudah terbakar dan kemungkinan tikus bersarang. Atap dedaunan
dapat tahan sekitar 25 tahun dan ijuk tahan hingga 100 tahun, asal rapi
pemasangannya. Atap seng sangat panas dalam kandang pada siang hari dan
dingin pada malam hari, dan cukup berisik ketika hujan mendera. Sedangkan atap
plastik membuat sangat panas dalam kandang dan relatif muah rusak oleh terik

26

surya. Atap kandang hendaknya dibuat dengan kemiringan sedang, dan biasanya
sekitar 30-45 0 (Sihombing, 1997)
Atap yang digunakan pada perusahaan ini yaitu asbes untuk menutupi celahcelah terbuka pada asbes digunakan seng untuk menutupi, bahan ini digunakan
untuk kandang close house,sementara untuk kandang open house menggunakan
asbes.

Gambar 3.8 . Atap Kandang


(Dokumentasi Pribadi, 2016)
c

Alat- alat dan perlengkapan kandang


Agar produksi peternakan yang kita lakukan sesuai dengan yangdiharapkan

maka alat-alat atau perlengkapan kandang juga harus dipenuhi. Perlengkapan


kandang juga merupakan salah satu faktor untuk meningkatkan produksi, yaitu:
-

Tempat makan dan minum


Ada dua macam tempat makan yaitu yang berbentuk bak dari pasangan semen

dan

yang

kedua

ialah

tempat

makan

berupa

kotak

yang

bahannya

dari papan ataupun seng. Tempat makan yang berbentuk kotak ini bisa dibuat
memanjang ataupun bulat. Masing-masing bisa dipakai secara individual atau
kelompok. Demikian juga mengenai tempat minum, ada yang berupa bak, tabung
dan nozzle. Baik tempat makan ataupun tempat minum ini merupakan
perlengkapankadang yang mutlak diperlukan oleh babi. Oleh karena itu
perlengkapan kandangini harus dengan baik dan memenuhi persyaratan.

27

Persyaratan pembuatan tempat makan/air minum yang perlu diperhatikan


antara lain:
Ukuran

tempat

makan

dan

minum

hendaknya

disesuaikan

dengan

umur/besarkecilnya babi.
Mudah dibersihkan.
Konstruksi tempat makan dan minum harus dijaga, agar babi tidak bisa dengan
mudah masuk menginjak-injak ataupun berbaring di dalamnya.
Tempat makan dan minum letaknya lebih tinggi daripada lantai.
Permukaan bagian dalam mesti keras, rata dan halus agar sisa makanan tidak bisa
tertinggal di sela-selanya, dan mudah dibersihkan
Tepi atau bibir tempat makan dan minum harus dibuat agak bulat
seperti punggung belut, sehingga tidak tajam.
Tempat makan dan minum di perusahaan ini sudah baik dan efisien. Tempat
makan dan minum mudah dibersihkan namun terkadang untuk nipple pada tempat
minum sering macet dan keluar air dan terbuang percuma.

Gambar 3.9. Tempat makan dan minum


-

(Dokumentasi Pribadi, 2016)


Bak penampung kotoran
Setiap kandang atau ruangan hendaknya dilengkapi dengan saluran

atau parit yang menghubungkan kandang dengan bak penampungan kotoran,


sehinggadengan letak lantai yang sedikit miring, air kencing dan kotoran dengan
mudah bisa dialirkan langsung kotoran ini ialah bahwa semua kotoran akan

28

tertampung didalamnya dan tidak mengganggu sekelilingnya serta bisa


dimanfaatkan untukusaha-usaha pertanian. Ukuran bak ini tergantung dari
persediaan bak yang ada serta jumlah babi atau luas kandang.
Pada perusahaan ini bak penampungan kotoran sudah baik karena perusahan
ini langsung di daur ulang di tempat limbah tsb sehingga tidak menimbulkan bau.
Untuk air dilakukan daur ulang sehingga air bersih dan dapat digunakan kembali
dan kotoran dijadikan kompos.
Tabel 3.1. Ukuran Kandang Berdasarkan Pengamatan
No.

Kandang

Berdasarkan Peternakan Mabar Feed


Indonesia
P
5m

L
4m

100 cm

4m

4,5m

3.

Menyusui
Pre Starter 100 cm

4m

4,5 m

4.

dan Starter
Grower dan 120 cm

3m

150cm

5.

Fattening
Finisher dan 130 cm

5m

6m

1.

T
Calon Induk 120 cm
dan

2.

Kandang IB
Bunting,
Melahirkan
dan

Penjualan

Tabel 3.2. Suhu Optimal bagi Ternak Babi


Status babi

Bobot badan (Kg)

Suhu

29

Baru lahir
Menyusui

12
25

optiomal (0C)
35
25 34

Lepas sapih/fase

5 40

18 24

bertumbuh
Fase bertumbuh

40 90

12 22

pengakhiran
Babi bunting
Induk menyusukan

130 250
130 250

14 20
5 18

anak
3.6 Kesimpulan dan Saran
3.6.1 Kesimpulan
Dari hasil pengamatan dapat disimpulkan bahwa sistem kandang di
perusahaan ini sudah baik, namun untuk kepadatan ternak perlu diperhatikan
karena apabila terjadi over density (kepadatan) akan menyebabkan kenyamanan
babi berkurang, sirkulasi udara kurang, volume kotoran akan lebih banyak
dibanding dengan luasan kandang standar sehingga resiko terjadinya penyakit
menjadi lebih besar.
3.6.2 Saran
-

Sebaiknya nipple diperbaiki agar mnghemat air dan tidak membuat becek
kandang yang dapat menyebabkan penyakit

Penggunaan semen pada lantai kurang baik karena dapat membuat babi
tergelincir, maka dari itu kandang diusahakan untuk tetep dalam keadaan
kering

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2009. Penyakit diare pada anak babi. http://veterinerisland.blogspot.com/2009/12/penyakit-diare-pada-anak-babi.html. (Diakses 2
Oktober 2011)

30

Priyambudi,
Heru.
2015.
Ukuran
Kandang
yang
Ideal.
http://dewataternak.blogspot.co.id/2015/07/babi-ukuran-kandang-yangideal.html ( Diakses 14 Septermber 2016)
Sihombing, 1997. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University. Yogyakarta.
Sihombing. 2006. Ilmu Ternak Babi. Cetakan kedua. Gadjah Mada University.
Yogyakarta.
Yudhie.
2009.
Manajemen
ternak
http://yudhiestar.blogspot.com/2009/12/manajemen-ternak-babi.html
(Diakses 20 Oktober 2011)

babi.

Prasetyo, Hilda; Ida Bagus Komang Ardana, Made Kota Budiasa. 2013 Studi
Penampilan Reproduksi (Litter Size, Jumlah Sapih, Kematian) Induk Babi
pada Peternakan Himalaya, Kupang. Vol 2(3) : 261 268

IV
PERFORMA BABI PERANAKAN YANG DIBERIKAN PAKAN
KONSENTRAT DI MABAR FEED INDONESIA, KABUPATEN DELI
SERDANG PROVINSI SUMATERA UTARA

31

Disusun Oleh:
Christian Alexander Gurning
200110130238
4.1

Abstrak

Praktek Kerja Lapangan dilaksanakan pada tanggal 24 Juni 2016 sampai


dengan 18 Juli 2016 di Mabar Feed Indonesia, Kabupaten Deli Serdang Provinsi
Sumatera Utara. Praktek Kerja Lapangan yang dilaksanakan di Mabar Feed
Indonesia bertujuan untuk mengetahui performa babi peranakan yang diberikan
pakan konsentrat. Performa berbagai babi peranakan ini dilihat dari konsumsi
pakan, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Materi yang diamati
adalah babi peranakan sebanyak 21 ekor yang dikandangkan dalam satu kandang
berdasarkan umur dan ukuran bobot badan yang sama. Alat yang digunakan
adalah timbangan dan record. Metode praktek kerja lapangan adalah wawancara
dan diskusi, observasi, bekerja dan mengambil data dari tempat praktek kerja
lapangan serta mengambil data ataupun sumber dari buku. Anak babi yang baru
lahir dipelihara sekitar 6 bulanan dalam kandang yang terbuat dari semen. Air
minum diberikan secara ad- libitum dan ransum yang diberikan dalam bentuk
crumble pada babi fase starter dan fase grower dan bentuk mash pada babi fase
finisher juga secara ad-libitum. Nutrisi yang terkandung dalam ransum adalah
energi, protein, lemak, serat kasar, fosfor, lisin, metionin, metionin+sistein,
treonin, triptofan, arginin, glisin+serin, histidin, isoleusin, leusin, fenilalanin,
fenilalanin+treonin, dan valin. Kesimpulan dari praktek kerja lapangan ini
mengenai konsumsi ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum yang
didapat dari sampel babi peranakan sebanyak 21 ekor selama satu periode
pemeliharaan masing-masingnya adalah 446,952 kg, 121,008 kg dan 3,69.
Kata Kunci : babi peranakan, crumble, mash, ad- libitum, konsumsi pakan,
pertambahan bobot badan, konversi ransum.

4.2

Pendahuluan
Dalam usaha peternakan, ada tiga faktor penunjang utama usaha

peternakan. Tiga faktor tersebut adalah aspek breeding (bibit), aspek feeding
(pakan) dan aspek management (manajemen). Ketiga aspek tersebut berkaitan
antar satu sama lain sehingga apabila salah satu aspek bermasalah maka akan
mempengaruhi aspek lainnya. Aspek bibit merupakan aspek paling utama
dibandingkan kedua aspek lainnya. Aspek pakan berkaitan terhadap asupan nutrisi
yang diterima oleh seekor ternak. Asupan nutrisi yang diterima dari seekor ternak
tersebut, apakah dapat dioptimalkan dan dimanfaatkan dalam tubuh ternak
sehingga menghasilkan produktivitas yang baik atau tidak. Aspek manajemen

32

merupakan aspek pelengkap setelah kedua aspek diatas yang berfungsi sebagai
pengontrol dan pengendali.
Ternak babi adalah salah satu ternak monogastrik penghasil daging yang
paling efisien dalam mengubah pakan menjadi daging dengan konversi pakan
antara 3,4 sampai 3,6 yang artinya setiap 3,6 kg pakan yang diberikan, babi akan
menghasilkan bagian daging yang dapat dimakan sebanyak 1 kg. Babi juga dapat
menghasilkan berat karkas sebesar 75% dari berat badan. Ternak babi memiliki
persentase karkas yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan ternak lain yaitu
dapat mencapai 70%. Bobot hidup yang semakin tinggi pada umumnya akan
menyebabkan persentase karkas juga akan meningkat.
Ransum merupakan salah satu faktor yang dapat mencapai berat karkas,
oleh karena itu yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan ternak babi adalah
masalah ransum. Ransum juga merupakan kebutuhan pokok dalam pertumbuhan
dan perkembangan ternak babi. Salah satu unsur penting dalam ransum ternak
babi adalah besarnya kandungan protein dan energi yang terdapat dalam ransum
tersebut. Hal inilah yang melatarbelakangi dilaksanakannya praktek kerja
lapangan mengenai aspek ransum pada pemeliharaan babi peranakan di PT Mabar
Feed Indonesia Kabupaten Deli Serdang Sumatra Utara.
4.3

Tujuan
Tujuan dilaksanakannya Praktek Kerja Lapangan di Mabar Feed

Indonesia, adalah :
1. Mengetahui konsumsi ransum babi peranakan yang diberikan konsentrat.
2. Mengetahui pertambahan bobot badan babi peranakan yang diberikan pakan
konsentrat.
3. Mengetahui konversi ransum (FCR) babi peranakan yang diberikan pakan
konsentrat.

4.4

Metode
Metode yang digunakan dalam Praktek Kerja Lapangan di Mabar Feed

Indonesia adalah sebagai berikut :

33

1. Wawancara dan Diskusi


Metode ini dilakukan dengan cara mewawancarai dan berdiskusi langsung
dengan peternak farm dan technical service di peternakan Mabar Feed
Indonesia.
2. Observasi
Metode ini dilakukan dengan cara pengamatan secara langsung pada setiap
kegiatan yang dilakukan di peternakan Mabar Feed Indonesia
3. Bekerja langsung dan mengambil data di tempat praktek kerja lapangan
Metode ini dilakukan dengan cara mahasiswa bekerja langsung ke lapangan
sekaligus mengambil data di lapangan yang dibutuhkan dalam proses
pembuatan laporan.
4. Mengambil data ataupun sumber dari buku
Metode ini dilakukan dengan cara mengambil data ataupun sumber dari
buku sebagai acuan dalam proses pelaksanaan praktek kerja lapangan.
4.5

Hasil dan Pembahasan


Berdasarkan konsumsi pakan, pertambahan bobot badan dan konversi

ransum, maka akan didapatkan suatu performa ternak. Materi yang akan diamati
adalah babi peranakan yang dipelihara dari anak hingga panen sebanyak 21 ekor.
Anak babi peranakan yang dilahirkan ini akan dipelihara sampai panen sekitar 6
bulanan. Selama masa pemeliharaan ternak babi ini, dibedakan atas beberapa fase
yaitu pre-starter, starter, grower dan finisher. Setiap fase pemeliharaan tersebut,
babi akan dipindahkan berdasarkan umur dan bobot badan babi tersebut. Berikut
dibawah ini adalah tabel komposisi nutrisi pakan konsentrat dari fase starter
hingga fase laktasi:

Tabel 4.1. Komposisi Nutrisi Pakan Konsentrat dari Fase Starter hingga Fase
Laktasi
NO

Komponen
Nutrien

PreStarter
(Pakan
Pf 2)

Starter
(Pakan
Pf 3)

Fase
Grower
(Pakan
Pf 4)

Laktasi
dan
Finisher
(Pakan
Pf 5)

Indukan dan
Pejantan
(Pakan Pf 6
dan Pf 7)

34

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17

18
19

Energi
(kkal/kg)
Protein (%)
Lemak (%)
Serat kasar (%)
Kalsium(%)
Fosfor (%)
Total
Tersedia
Lisin (%)
Methionin(%)
Metionin+
sistein (%)
Treonin (%)
Triptofan(%)
Arginin (%)
Glisin+serin
(%)
Histidin (%)
Isoleusin (%)
Leusin (%)
Fenilalanin
(%)
Fenilalanin+
treonin (%)
Valin (%)

3.410

3.315

3.145

3.000

2.950

20,50
5,00
3,00
1,23

18,5
6,00
4,00
1,04

16,5
6,50
4,50
0,98

16,00
6,00
5,50
1,05

14,00
6,00
6,00
1,10

0,89
0,60
1,38
0,45
0,82

0,81
0,50
1,20
0,38
0,71

0,80
0,46
0,98
0,32
0,61

0,75
0,41
0,86
0,32
0,63

0,75
0,44
0,65
0,32
0,59

0,82
0,26
1,02
1,48

0,71
0,22
1,12
1,32

0,62
0,19
1,17
1,44

0,64
0,19
1,21
1,49

0,52
0,18
1,01
1,09

0,51
0,91
2,05
1,05

0,49
0,79
1,89
0,89

0,42
0,69
1,41
0,68

0,43
0,73
1,47
0,70

0,35
0,57
1,23
0,54

1,95

0,50

1,28

1,33

1,07

1,07

0,93

0,85

0,87

0,73

Tabel di atas menjelaskan komponen nutrisi dari ransum yang digunakan


pada peternakan babi PT MABAR FEED INDONESIA. Data yang dikumpulkan
mengenai komponen nutrisi dari ransum tersebut sudah cukup lengkap mulai dari
Makro nutrien hingga Mikro nutrien.
Pada tahun 1998, National Research Council telah merilis kebutuhan
nutrien dari ternak babi yang dibagi berdasarkan fase pemeliharaan. Sebagai tolok
ukur akan kualitas ransum ternak babi yang digunakan di PT MABAR FEED
INDONESIA, penulis melampirkan kebutuhan nutrien ternak babi menurut NRC
pada tabel berikut:
Tabel 4.2. Kandungan Zat Makanan dan Kebutuhan Ternak Babi Menurut NRC
Ransum EM
PK
Lisin
Ca
P
SK
(kkal)
-(%)Starter
3250
18,00
0,70
0,70
0,60
5,00
Grower
3260
15,00
0,60
0,60
0,50
6,00
Finisher 3275
13,20
0,60
0,50
0,40
7,00

35

Sumber: National Research Council, 1998


Dibanding dengan kebutuhan nutrisi ternak babi menurut NRC, pakan
ternak yang digunakan pada masa pemeliharaan ternak babi pada PT MABAR
FEED INDONESIA sudah cukup dapat mengimbangi dalam hal pemenuhan
kebutuhan EM. Dibanding dengan kebutuhan nutrien menurut NRC, pakan yang
digunakan di PT MABAR FEED INDONESIA sudah melebihi batas kebutuhan,
hanya pada ransum fase Starter jumlah EM ransum yang digunakan pada PT
MABAR FEED INDONESIA berada dibawah kebutuhan ransum menurut NRC
dengan perbedaan 3315kkal berbanding 3250kkal.
Kebutuhan PK pada ransum PT MABAR FEED INDONESIA sudah
tercukupi jika dibandingkan dengan kebutuhan nutrisi ternak Babi menurut NRC
dimana semua kandungan nutrisi telah melebihi kebutuhan nutrisi.
Pada kebutuhan nutrien Lisin, Ca, dan P, ransum yang digunakan pada
ternak babi PT MABAR FEED telah memenuhi bahkan melebihi kebutuhan
nutrien menurut NRC. Hanya pada kebutuhan SK saja kandungan nutrien yang
digunakan pada PT MABAR FEED berada dibawah batas kebutuhan nutrien
menurut NRC, perbedaan yang terdapat hingga 2% pada ternak babi fase Finisher.
Adapun sampel babi peranakan yang diambil sebanyak 21 ekor untuk
diamati pertambahan bobot badannya. Namun, data bobot badan yang didapatkan
hanya bobot umur seminggu setelah lahir, bobot fase pre-starter dan bobot
finisher atau bobot panen, adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3. Penimbangan Bobot Badan Ternak Babi


NO
1
2
3
4
5

Bobot umur seminggu


setelah Lahir (kg)
1,3
1,2
1,2
1,0
1,2

Bobot Fase PreStarter (kg)


8,0
6,5
6,7
6,5
7,0

Bobot Finisher
(kg)
119
115
127
131
109

36

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
Rata
Rata

1,2
1,3
1,3
1,3
1,3
1,3
1,2
1,0
1,3
1,3
1,4
1,2
1,2
1,4
1,5
1,2

7,0
8,5
8,5
8,5
8,0
8,0
7,0
6,5
8,5
8,0
9,0
7,5
7,5
9,5
9,5
7,0

118
140
112
111
124
117
118
133
149
118
110
128
112
115
135
128

1,325

7,667

122,333

Performa babi peranakan yang dilihat ada 3 kategori yaitu konsumsi


ransum, pertambahan bobot badan dan konversi ransum. Konversi ransum ini
didapatkan dari konsumsi ransum dibagi dengan pertambahan bobot badan.
Berikut ini merupakan tabel konsumsi ransum, pertambahan bobot badan serta
konversi ransum babi peranakan:

Tabel 4.4. Konsumsi ransum, Pertambahan Bobot Badan (PBB) dan Konversi
Ransum Babi Peranakan dari Lahir hingga Panen.
Komponen Umur

Performa
Konsumsi
Ransum

PBB (dari lahir s/d


panen)
PBB=Fase finisher-fase

Konversi
Ransum

37

umur seminggu setelah


lahir
Umur
seminggu
setelah lahir s/d
babi lepas sapih
Fase Pre-Starter

2,700 kg

1,325 kg

2,04

9,144 kg

7,667 kg

1,19

Fase Starter

114,288 kg

Fase Grower

200,520 kg

Fase Finisher

234,475 kg

122,333 kg

1,93

Rerata

1,72
Nilai konversi ransum merupakan perbandingan yang menunjukan efisiensi

penggunaan ransum untuk menghasilkan pertambahan bobot badan sebesar satu


satuan, dengan demikian makin rendahnya angka konversi ransum menunjukan
bahwa ternak tersebut makin efisien dalam penggunaan ransum. (Campbell dan
Lasley, 1985).
Dari Tabel 3 dapat dilihat bagaimana dinamika angka konversi ransum
ternak babi yang dipelihara di PT MABAR FEED INDONESIA. Konversi
ransum dengan nilai terbaik didapat oleh ternak babi pada fase Pre-Starter yang
mencapai angka 1,19. Sedangkan, konversi ransum dengan nilai terburuk didapat
oleh ternak babi pada fase awal lahir dengan nilai konversi pakan sebesar 2,04.
Angka rata-rata konversi ransum yang diperoleh diatas sebesar 1,72. Angka
tersebut lebih rendah daripada angka konversi ransum yang diharapkan pada
pemeliharaan babi menurut NRC(1998) yaitu sekitar 3,25. Hal ini penulis analisis
disebabkan oleh perbedaan lingkungan pemeliharaan, bahan pakan yang
diberikan, serta genetik dari ternak babi. Sihombing (1997) menyatakan bahwa
faktor yang mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi, bagsa ternak,
lingkungan, kesehatan ternak, dan keseimbangan ransum yang diberikan.
Ternak babi berdasarkan fase pertumbuhannya dapat dibagi menjadi tiga
yaitu : starter (fase hidup anak babi semenjak menyusui sampai umur 8 atau
sampai 11 minggu), grower (fase hidup anak babi sesudah fase stater sampai
dengan umur 10 atau sampai 24 minggu) dan finisher (fase hidup anak babi dari
grower hingga menjelang panen) (Girisonta, 1981). Pertumbuhan menurut

38

Williams (1982) adalah perubahan bentuk dan ukuran seekor ternak yang dapat
dinyatakan dengan panjang, volume, ataupun massa. Sedangkan menurut
Swatland (1984) dan Aberle (2001), pertumbuhan dapat dinilai sebagai
peningkatan tinggi, panjang, ukuran lingkar dan bobot yang terjadi pada seekor
ternak muda yang diberi pakan, minum dan mendapat tempat yang layak.
Perlu dilakukan perhitungan konsumsi ransum pada ternak babi, agar kita
tahu berapa pertambahan bobot babi tersebut dan dapat memperbaiki manajemen
pemeliharaan dan pemberian pakan agar lebih efektif lagi. Adapaun rumus
konversi ransum atau FCR adalah sebagai berikut:
Rumus FCR :
FCR=

Konsumsi pakan
Berat akhirBerat Awal

PT. Mabar Feed Indonesia memiliki peternakan babi yang cukup baik
dibandingkan dengan peternakan babi lainnya karena di peternakan ini jarang
membeli induk ataupun pejantan dari luar, perusahaan ini lebih memanfaatkan
anak babi yang dilahirkan oleh induk-induk yang memang mereka anggap bibit
unggul. Proses pemberian pakan pada induk dilakukan sebanyak 2 kali sehari
yaitu pukul 08.00 dan pukul 16.00 WIB dan untuk pemberian pakannya diberikan
sebanyak 2 kg sehari.
Ternak babi mempunyai pertambahan berat badan atau pertumbuhan yang
lebih tinggi dengan pemberian takaran makanan tertentu jika dibandingkan
dengan ternak lain, kecuali ayam broiler yang dipelihara dengan cermat, juga
kalori yang berasal dari makanan yang dikandung di dalam bagian-bagian yang
dapat dimakan dari ternak babi lebih tinggi dibandingkan dengan yang berasal
dari jenis ternak lain dengan pemberian takaran zat makanan yang sama
(Sihombing, 1991).

4.5.1

Babi Fase Pre-Starter


Pada fase pre-starter, anak babi diberikan pakan yang memiliki kandungan

nutrisi yang sangat baik dan juga beberapa vitamin yang disuntikkan mulai dari

39

hari ke-1 sampai hari ke-7 untuk menjaga daya tahan anak babi yang masih
kurang baik. Untuk pemberian pakan diberikan secara ad-libitum dikarenakan
anak babi tersebut masih dalam proses menyusui dan belajar untuk memakan
pakan.
Begitu umur 1 minggu anak babi diberi creep feeds. Creep feeding adalah
cara pemberian makanan pada anak babi yang terpisah dari makanan induknya.
Creep feeds hendaknya diberikan dalam bentuk kering dan anak babi lebih suka
dalam bentuk pellet atau butir butiran ( Williamson dan Payne, 1993).
4.5.2

Babi Fase Starter


Pada fase starter anak babi diberikan pakan yang semakin menurun

nutrisinya dari pada pakan pada saat lahir dan pre-starter. Pakan yang diberikan
selama satu minggu pada saat baru pindah kandang masih sama dari pakan saat
mereka pre-starter, hal ini dikarenakan untuk penyesuaian tempat dan suasana
yang ada dikandang baru.
Anak babi yang telah lepas sapih biasanya disapih pada umur 8 minggu
dan mencapai bobot rata-rata 20 kg disebut babi periode starter (Sihombing,
1991). Selanjutnya dikatakan anak babi dengan bobot 20 kg jika sudah ada
harapan sekitar 98% dapat hidup sampai mencapai bobot potong (90-100 kg)
maksudnya bahwa babi priode starter telah melewati masa-masa kritis dimana
sebelum masa ini, babi lebih mudah terserang penyakit dan kematian sangat tinggi
yaitu 30 %. Babi periode starter merupakan awal dari proses penggemukkan
seperti dikatakan oleh Cunha (1977), bahwa ternak pada periode starter mulai
makan lebih banyak karena pada periode ini ternak babi sedang mengalami
pertumbuhan yang terus meningkat (pertumbuhan eksponential).
Ensminger (1969) mengatakan bahwa pada periode starter berat badan
ternak babi biasanya antara 15-45 kg dan protein yang dibutuhkan berkisar antara
14-16 %. Sedangkan Krider dan Carrol (1978) menyatakan bahwa setelah ternak
babi mencapai periode starter, ransum yang diberikan harus mengandung protein
sekitar 16%. Menurut NRC (1979), kebutuhan protein kasar pada babi starter
adalah 16%, energi metabolisme sebesar 3175 kkal, serta penambahan bobot
badan yang diharapkan 0,6 kg. Diharapkan pula setiap harinya mengkonsumsi

40

ransum sebanyak 1,7 kg sehingga konsumsi protein kasar 272 gram dan energi
dapat dicerna 5610 kkal. Walaupun demikian tingkat protein ransum ditentukan
pula oleh kemampuan bahan makanan itu untuk menyediakan asam-asam amino
essensial.
Menurut NRC (1988), bahwa dalam masa pertumbuhan babi dengan bobot
badan 20-50 kg akan mengkonsumsi pakan per hari 1900 gram berat kering.
Penggunaan pakan oleh babi yang masih muda lebih efisien dibanding dengan
babi yang telah lewat pubertas, karena konsumsi yang semakin tinggi tidak selalu
diikuti dengan kenaikan bobot badan.
4.5.3

Babi Fase Grower


Menurut Sihombing (1997) babi periode grower yaitu babi yang memiliki

bobot rata-rata 35 kg hingga mencapai bobot badan 60 kg. Periode grower


merupakan periode yang harus diperhatikan akan kebutuhan zat makanannya, dan
ransum yang bermutu tinggi adalah salah satu faktor terpenting yang
mempengaruhi performan babi grower. Ransum yang terdiri dari pakan yang
bermutu tinggi dan disusun memenuhi kebutuhan zat-zat makanan babi dan
dicampur baik adalah syarat untuk memperoleh performan yang optimal.
Parakkasi (1983) mengatakan bahwa pada waktu babi masih muda,
pertumbuhannya terutama terdiri dari protein dan air akan tetapi setelah babi
tersebut mempunyai berat badan sekitar 40 kg, energi yang disimpan berupa
protein telah konstan dan mulailah energi tersebut dipakai untuk pembentukan
jaringan lemak yang semakin meningkat dengan bertambahnya umur.
Menurut Tillman, dkk. (1984) pertumbuhan mempunyai tahap-tahap yang
cepat dan lambat. Tahap cepat terjadi pada saat lahir sampai pubertas, dan tahap
lambat

terjadi

pada

saat-saat

kedewasaan

tubuh

tercapai. Tahap-tahap

pertumbuhan ini membentuk gambaran sigmoid pada grafik pertumbuhan yang


ditentukan oleh tingkat konsumsi bila tingkat konsumsi tinggi, pertumbuhan juga
cepat, sedangkan pengurangan makanan akan memperlambat kecepatan
pertumbuhan.

41

4.5.4

Babi Fase Finisher


Pada fase finisher berat babi berkisar diantara 60-70 kg. Berat tersebut

didukung oleh pakan yang memiliiki kualitas baik pula. Pakan babi pada fase
finisher ini berbentuk mash yang bernama PF 5. Pada pakan ini terdapat asam
amino yaitu arginin, gliserin dan serin yang lebih banyak daripada jenis pakan
pada fase pre-starter hingga grower. Fungsi dari arginin adalah untuk menjaga
kesehatan hati, kulit, sendi dan otot serta memiliki manfaat dalam memperkuat
sistem kekebalan tubuh, mengatur hormon dan gula darah serta meningkatkan
kesuburan. Fungsi gliserin dan serin adalah untuk menjaga agar kulit babi tidak
gampang terserang penyakit.
Pemberian pakan pada babi fase finisher ini dilakukan sebanyak 2 kali
sehari, yaitu 7 pada pagi hari dan 8 sak pada saat sore hari yaitu dengan total 15
sak dalam 1 hari. Pemberian pakan dilakukan 2 kali sehari agar pakan yang
diberikan cukup dan agar membatasi makan babi sehingga waktu panen mencapai
target yaitu kurang lebih 6 bulan.
4.5.5

Pakan Konsentrat
Konsentrat adalah pakan yang memiliki protein dan energi yang cukup

tinggi yaituPK 18%. Pada ternak yang digemukan semakin banyak konsentrat
dalam pakan akan semakin baik dengan konsumsi serat kasar tidak kurang dari
15% BK pakan. Oleh karena itu, banyaknya pemberian pakan konsentrat dalam
formula pakan harus terbatas agar tidak terlalu gemuk (Siregar, 2003). Pemberian
konsentrat terlalu banyak akan meningkatkan konsentrasi energi pakan yang dapat
menurunkan tingkat konsumsi sehingga tingkat konsumsi energi sendiri dapat
berkurang (Parakkasi, 1995).
4.5.6

Konversi Ransum
Konversi ransum dapat digunakan sebagai peubah untuk seleksi terhadap

ternak yang mempunyai kecepatan pertambahan bobot badan yang baik


(Bogart,1977). Sihombing (1983), mengemukakan bahwa nilai konversi dari
seekor ternak erat kaitannya dengan tujuan seleksi guna mendapatkan ternak yang
ekonomis. Nilai konversi ransum dipengaruhi oleh pertumbuhan babi itu sendiri.

42

Konversi ransum akan menurun dengan bertambah besarnya babi dan variasi akan
terjadi diantara bangsa-bangsa babi.
Campbell dan Lesley (1977), melaporkan konversi ransum tergantung
pada: kemampuan ternak untuk mencerna zat makanan, kebutuhan ternak akan
energi dan protein untuk pertumbuhan, hidup pokok dan fungsi tubuh lainnya,
jumlah makanan yang hilang melalui proses metabolisme dan kerja yang tidak
produktif,

serta

tipe

makanan

yang

dikonsumsi.

Faktor

lain

yang

mempengaruhinya adalah keturunan, umur, berat badan, tingkat konsumsi


makanan, pertambahan bobot badan, palatabilitas, dan hormon. Sedangkan
menurut Devendra dan Fuller (1979), menyatakan bahwa faktor yang
mempengaruhi konversi ransum adalah nutrisi, bangsa ternak, lingkungan,
kesehatan ternak dan keseimbangan ransum yang diberikan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi efisiensi konversi pakan oleh ternak
babi yaitu pakan yang zat-zat gizinya tidak seimbang, pakan berjamur, kondisi
lingkungan, tingkat penyakit dan cacingan (Sihombing, 2006).
Efisiensi penggunaan makanan merupakan pertambahan berat badan yang
dihasilkan setiap satuan ransum yang dikonsumsi. Efisiensi penggunaan
makanan tergantung pada kebutuhan ternak akan energi dan protein untuk
pertumbuhan, hidup pokok atau fungsi lain, kemampuan ternak mencerna
makanan, jumlah makanan yang hilang melalui proses metabolisme dan tipe
makanan yang dikonsumsi (Campbell dan Lasley, 1985).
Baik buruknya penampilan ternak juga dapat dilihat dari keadaan konversi
pakan dimana konversi pakan itu sendiri adalah banyaknya pakan yang
dikonsumsi untuk menghasilkan pertambahan berat badan dalam satuan berat
dan satuan waktu tertentu yang sama (Morrison, 1961 dalam Sudana, 1997).
Banyaknya ransum yang dikonsumsi pada babi tergantung pada gene tik, umur,
besarnya ternak, aktivitas, suhu lingkungan, jenis produksi, tingkat energi
ransum, kandungan protein, serta keseimbangan asam amino pada ransum.
Tingkat pertumbuhan babi akan berpengaruh terhadap nilai konversi ransum.
Pada saat

pertumbuhan

paling

efisien dalam mengkonversi pakan.

cepat,

merupakan

fase

yang

paling

43

Berdasarkan hasil pengamatan (Tabel 3), Konversi ransum seekor ternak


babi yang didapatkan selama satu periode pemeliharaan sebesar 3,69 yang berarti
bahwa setiap 3,69 pakan yang diberikan akan menghasilkan bagian daging babi
yang dapat dimakan atau karkas babi sebesar 1 kg. Menurut NRC (1998), rasio
konversi pakan babi yang paling efisien antara 3,25. Sehingga dapat disimpulkan
bahwa pemeliharaan ternak babi selama periode pemeliharaan kali ini dapat
dikatakan baik karena hampir memenuhi standar konversi ransumnya. Konversi
ransum sebesar 3,69 ini didapatkan mungkin juga disebabkan karena hal-hal yang
menghambat seperti tidak dicatatnya banyak pemberian pakan pada beberapa fase
ataupun semua ternak, makanan ternak banyak terbuang atau terkena air pada saat
berada ditempat pakan.
2.6

Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di PT. Mabar Feed

Indonesia , selama pelaksanaan praktik kerja lapangan dapat ditarik kesimpulan


sebagai berikut :
1.

Konsumsi pakan satu ekor babi mulai dari lahir hingga ddapat di jual

2.

adalah 446,952 kg
Pertambahan bobot badan satu ekor babi mulai dari lahir hingga siap

3.

panen adalah lebih kurang 120 kg


Konversi ransum (FCR) babi yang didapatkan mulai dari lahir, lepas sapih,
pre starter, starter, grower, dan finisher adalah 3,69.

DAFTAR PUSTAKA
Aberle, E. D., J. C. Forrest, D. E. Gerrad and E. W. Millis. 2001. Principle of
Meat Since 4th ed. Lowa:Kendall/Hunt Publishing Company.

44

Bogart, R. 1977. Scientific Farm Animal Production Burgers Publishing Co.


Minneapolis. Minnesota. Disitasi dari Jurnal Ilmu Ternak. 2011. Sauland
Sinaga dan Sri Martini.
Campbell, J. R. and J. F. Lasley. 1977. The Science of Animal that Serve Menkind
Tata Mc. Graw Hill. New Delhi.
Campbell, J. R. And J.F. Lasley. 1985. The Science of Animals that
Mankid 3 th Ed. Tata Mc Graw. Hill Publishing Company Limited New
Delhi. Pp 390-392.
Cunha, T. J. 1977. Swine Feeding and Nutrition. Intersience Publisher, Inc., New
York.
Devandra, C. and M. F. Fuller. 1979. Pig Production in the Tropics. Oxford
Tropical Handbooks. Oxford University Press.
Girrisonta 1981. Pedoman Lenkap Beternak Babi. Kanisius Yogyakarta.
th
Morrison, F.B. 1961. Feed and Feeding Abridged. 9 Ed. Iowa: Morrison
Pub. Co. Clinton.
NRC. 1979. Nutrient Requirements of Poultry. Nutrient Requierments of
Domestic Animal, Nineth Revised Edition. National Academy Press.
Washington DC.
NRC. 1988. Designing Food. Animal Product Option in the Market Place.
National Research Council, Academy Press. Wahington D.C.
NRC. 1998. Nutrient requirements of Swine. National Academy Press. Washington
D.C.
Parakkasi, 1983. Ilmu Gizi dan Makanan Ternak Monogastrik. Penerbit Angkasa
Bandung
Parakkasi, A. 1995. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminansia, UI -Press,
Jakarta.
Sihombing D.T.H.1991. Ternak Babi. Gadjah Mada University Press.Yogyakarta.
Sihombing, D.T.H. 2006. Ilmu Ternak Babi. Gadjah Mada University Press
Yogyakarta.
Swatland, H.J. 1984. Structure and Development of Meat Animal. Mc. Millan
Publ. Company. New York.
Tilman. A. D., Hartadi., H. Reksohadiprodjo. S. Prawirokusumo dan S.
Lebdosoekojo. 1984. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada
University Press. Yogyakarta.
Williams, I.H. 1982. A Course Manual in Nutrion and Growth Australian ViceChoncellors-Committee. Melbourne.
Williamson, G. and W. J. A. Payne, 1993. Pengantar Peternakan di Daerah
Tropis, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

LAMPIRAN
Lampiran 4.1. Tabel Recording Konsumsi Pakan Ternak Babi

45

N
O
1
2
3
4
5

Keterangan Pemberian Pakan Babi

Pakan Merk-

Konsumsi Pakan

Umur seminggu setelah lahir s/d


babi lepas sapih (30 hari)
Umur babi lepas sapih / pre-starter
(12 hari)
Babi fase starter (48 hari)
Babi fase grower (60 hari)
Babi fase finisher (30 hari)

Pf 2

1 kg / 11 ekor

Pf 2

16 kg / 21 ekor

Pf 3
Pf 4
Pf 5

50 kg / 21 ekor
1250 kg / 374 ekor
1500 kg / 374 ekor

Lampiran 4.2. Tabel Perhitungan Konversi Ransum Ternak Babi


Komponen
Umur
Umur
seminggu
setelah lahir
s/d babi lepas
sapih
Fase
PreStarter
Fase Starter
Fase Grower
Fase Finisher
Jumlah

Konsumsi Pakan

= 90 gram x 30 hari
= 2.700 gram

= 62 gram x 12 hari
= 9.144 gram
= 2.381 gram x 48 hari
= 114.288 gram
= 3.342 gram x 60 hari
= 200.520 gram
= 4.010 gram x 30 hari
= 120.300 gram
= 446,952 kg

PBB (dari
lahir s/d
panen)
122,333 kg

FCR

Konsumsi Pakan
PBB

446,952 kg
122,333 kg

= 3,69

47

V
SISTEM PEMASARAN DAGING BABI
PT MABAR FEED INDONESIA DIVISION PIG FARM
Oleh:
SANDI PRASETYO
200110130275
5.1 Abstrak
Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL) ini di susun berdasarkan rangkaian
kegiatan dan pengamatan di PT Mabar Feed Indonesia Division Pig Farm pada
tanggal 24 juni sampai dengan 18 juli 2016. Kegiatan yang dilakukan berupa
memberi pakan, recording, pemotongan gigi dan kuping, inseminasi buatan dan
pemindahan kandang. Selain itu dilakukan pengamatan pada alur distribusi serta
harga babi hingga ketangan konsumen akhir. Metode yang digunakan adalah
berupa observsi dan wawancara. PT. Mabar menjual rata-rata 1100 ekor babi
perbulannya yang dipasok sebagian besar kekota Medan setiap bulanya. Babi
yang dijual kepada para pedagang pengumpul (Agen) kemudian dikirim ke RPH.
Selanjutnya daging babi disebarkan kepada pedagang pengecer dipasar-pasar
tradisional dan modern. Keuntungan pedagang pengumpul dari penjualan daging
babi yaitu Rp.1.850/Kg bobot babi hidup. PT. Mabar Feed Indonesai memiliki
NPV sebesar Rp. 42.359.240.000, nilai BEP 1,53, nilai PBP 8,11, dan nilai IRR
31,27 sehingga dapat dikatakan layak secara finansial.
Kata Kunci : Produksi babi, Rantai pasok, Keuntungan pedagang pengumpul,
Kelayakan finansial
5.2 Pendahuluan
Pada saat ini permintaan daging babi semakin meningkat seiring dengan
meningkatnya jumlah penduduk yang dapat mengkonsumsinya. Hal ini tidak
dapat dipungkiri apalagi pada daerah yang penduduknya mayoritas non muslim,
maka daerah tersebut tentunya juga mengalami peningkatan permintaan terhadap
daging babi tersebut. Selain itu daging babi disukai karena kandungan energinya
yang tinggi oleh banyaknya kadar lemak tubuh (Blakely dan Bade, 1995).
Usaha ternak babi sangat menguntungkan, karena selain bertumbuh cepat,
permintaan konsumen akan daging babi relative tinggi. Walaupun wilayah
pengembangannya terbatas dibeberapa daerah tertentu karena batasan agama dan
budaya, namun pada kenyataannya permintaan konsumen terhadap daging babi
tinggi terutama dikota-kota besar. Disisi lain, permintaan daging babi ang tinggi

48

dari negara tetangga memberi peluang kepada peternak Indonesia untuk


mengekspor daging babi (Sihombing,1997).
Pemasaran adalah proses social dan manajerial dimana seseorang atau
kelompok memperoleh apa yang mereka butuhkan dan inginkan melalui
penciptaan dan pertukaran produk dan nilai. Penciptaan produk dan nilai dapat
diartikan sebagai proses produksi yang berorientasi pada produsen dan konsumen.
Untuk memasarkan produk tersebut diperlukan adanya proses pemasaran yang
merupakan campuran dari berbagai konsep-konsep diantaranya yaitu: sebuah
kebutuhan, keinginan dan permintaan pasar yang harus dipenuhi. Hal ini
menegaskan bahwa pemasaran merupakan aspek penting yang harus diperhatikan
dalam menjual produk yang ingin dijual. Manusia sendiri butuh untuk memuaskan
keinginan mereka akan produk. Pemasaran harus dilandasi dengan pengaturan
manajemen yang baik sehingga proses pemasaran akan terus berkelanjutan.
Manajemen pemasaran merupakan proses distribusi gagasan, barang dan jasa
untuk menghasilkan pertukaran yang memenuhi sasaran perorangan dan
organisasi (Kotler, 2008).
Perusahaan yang memproduksi suatu barang diharuskan melakukan
orientasi pasar untuk memasarkan barang-barangnya, untuk itu pada setiap
perusahaan dipastikan mempunyai bagaian yang bertugas dibidang manajemen
pemasaran yang dipimpin oleh manajer pemasaran itu sendiri. Para manajer
pemasaran melaksanakan tugas-tugas ini denga menyelenggarakan riset,
implementasi dan pengendalian pemasaran. Dalam hal ini pemasar harus
menentukan perencanaan pemasaran yang terdiri dari pengambilan keputusan
mengenai pasar target, penentuan posisi pasar, pengembangan produk, penetapan
harga, saluran distribusi, distribusi fisik, komunikasi dan promosi. Keberhasilan
suatu bisnis ditentukan bukan dari produsennya melainkan dari pelanggannya.
PT. Mabar feed Indonesia division pig farm merupakan perusahaan yang
berada dikecamatan Deli Tua, kabupaten Deli Serdang Sumatera Utara.
Perusahaan ini menghasilkan babi siap potong dengan system peternakan yang
sudah modern. Walaupun bukan menjadi pemasok terbesar babi untuk Kota
Medan, namun hingga kini PT. Mabar terkenal sebagai penghasil babi dengan
kualitas daging yang amat baik sehingga dapat menjadi penentu harga pasar.

49

Pertumbuhan pemasaran babi yang terus berkembang setiap tahunnyya membuat


menarik untuk diketahui seberapa jauh PT. Mabar mampu memenuhi permintaan
pasar, rantai pasok pemasaran, keuntungan pedagang pengumpul, dan kelayakan
finansial PT. Mabar Feed Indonesia.
5.3 Maksud dan Tujuan
Tujuan dari praktek kerja lapangan ini yaitu untuk:
Mengetahui kesanggupan PT Mabar Feed Indonesia dalam memenuhi

permintaaan daging babi kota Medan


Mengetahui rantai pasok PT Mabar Feed Indonesia
Menganalisis besarnya keuntungan pedagang pengumpul dari pemasaran

daging babi PT Mabar Feed Indonesia


Menganalisis kelayakan finansial usaha PT. Mabar Feed Indonesia

5.4 Metode Pengamatan


Metode dan cara kerja yang dilakukan selama kegiatan praktek kerja
lapangan di PT. Mabar feed Indonesia divisi pig farm yaitu:

Mengikuti seluruh kegiatan atau arahan-arahan yang diberikan oleh pihak

PT Mabar Feed Indonesia Division Pig Farm


Wawancara, yaitu dengan cara menanyakan hal-hal yang berkenan dengan

penelitian pada para pelaku pasar.


Observsi, yaitu dengan mengumpulkan data mengenai proses pemasaran
dan proses produksi

Survei pasar, yaitu dengan terjun langsung kepasar untuk mengetahui


keadaan pasar yang sebenarnya

5.5 Hasil dan Pembahasan


5.5.1 Hasil

Struktur Populasi dan Produksi Babi


PT. Mabar Feed Indonesia memiliki beberapa jenis strain yang dikelola dan

produksi yaitu jenis Landrace, Duroc, Hamshire, Yorkshire dan Pietrain. Dari
kelima strain tersebut, PT. Mabar paling banyak memiliki strain Landrace sebagai
strain yang paling dominan sedangkan strain-strain lain tidak terlalu banyak.

50

Populasi total berjumlah sekitar 11.000 ekor babi yang fluktuatif dengan struktur
populasi yaitu:
Pejantan

: 15 ekor (Landrace 6 ekor, hampshire 2 ekor, yorkshire 2 ekor,


pietrain 1 ekor, dan duroc 3 ekor)

Betina

: 1000 ekor (dominan landrace, namun ada beberapa strain duroc,


pietrain, hampshire, dan yorkshire)

Anakan

: 9000 10.000 (dominan landrace, namun ada beberapa strain


duroc, pietrain, hampshire, dan yorkshire)

Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa setiap bulannya PT Mabar


menjual babi rata-rata 1100 ekor. Pada waktu-waktu tertentu seperti natal dan
tahun baru jumlah penjualan babi dapat meningkat sampai 1600 ekor
perbulannya, hal tersebut dipengaruhi oleh permintaan pasar.
Sebagian besar babi dipasarkan kedaerah kota medan, namun ada juga yang
dipasarkan keluar kota Medan seperti kabupaten kabupaten di Sumatera Utara dan
ada juga yang dipasarkan keluar Propinsi seperti Riau dan Sumatera Selatan. Dari
banyaknya babi yang dijual PT Mabar ternyata hanya mampu memenuhi 5% dari
permintaan daging babi dikota Medan. Sisanya dipenuhi oleh perusahaan lain
seperti PT Algerindo, PT Bangber, PT Charon Pokphan, dan peternak-peternak
rakyat.
Babi yang dijual oleh PT Mabar adalah babi yang berumur 6-7 bulan dengan
berat masing-masing babi berkisar antara 100 Kg sampai dengan 150 Kg. Jenis
babi yang dipasarkan yaitu humshire, landrace, yorkshire, dan durock. Babi yang
dipasarkan merupakan produk asli PT Mabar dalam arti dikembangbiakan, dan
mengalami fase starter dan fatening di PT Mabar. Perbedaan jenis babi yang dijual
tidak mempengaruhi harga babi tersebut.
Pangsa pasar PT Mabar adalah masyarakat menengah keatas terutama kaum
Chinese. Bahkan kebanyakan babi diberi nomor China pada saat penomoran
dikandang sebelum penjualan. Hal tersebut dikarenakan daging babi yang
diproduksi oleh PT Mabar memiliki kualitas unggul dimana dari babi yang
dipotong lebih banyak daging merahnya dari pada daging putihnya (lemak).
Rantai Pasok
Tugas pemasaran babi PT Mabar diemban oleh bagian marketing. Bagian
marketing bertugas mencari tahu permintaan babi tiap bulannya, kesanggupan

51

para agen atau pedagang pengumpul, dan hal-hal yang berkaitan dengan
pemasaran.
Dari rata-rata 1100 ekor babi yang dijual tiap bulannya, PT Mabar
menjualnya hanya kepada delapan orang pedagang pengumpul. Setiap pedagang
pengumpul memiliki porsi beragam antara 50 sampai dengan 550 ekor.
Pembagian jumlah babi pada pedagang pengumpul dipengaruhi oleh banyaknya
permintaan daging babi ditempat pedagang pengumpul beroperasi. Pedagang
pengumpul dengan porsi 50 ekor saja setiap bulannya menandakan bahwa
pedagang pengumpul tersebut hanya mampu memasarkan jumlah yang sedikit
kepada para pedagang pengecer. Sebaliknya pedagang pengumpul dengan porsi
lebih banyak menandakan pedagang pengumpul tersebut mampu memasarkan
lebih banyak daging babi kepada pedagang pengecer. Biasayanya semakin banyak
porsi yang diterima pedagang pengumpul semakin besar pula wilayah
pemasarannya.
Pedagang pengecer adalah orang yang berinteraksi langsung dengan
konsumen akhir, tugasnya yaitu menjajakan daging babi yang diterima dari
pedagang pengumpul kepada para konsumen. Dalam kasus pemasaran daging
babi PT. Mabar pedagang pengecer merupakan pegawai dari pedagang pengumpul
sehingga pedagang pedagang pengecer memperoleh penghasilan bukan dari
persentase penjualan daging babi namun dari gaji yang diterima dari pedagang
pengumpul. Pedagang pengecer menerima kiriman dari pedagang pengumpul
berupa karkas babi yang selanjutnya dipotong-potong sesuai dengan pemesanan
konsumen. Para pedagang pengecer tersebar diberbagai pasar tradisional dan
pasar modern dikota Medan seperti pasar petisah, kongkong plaza, beruang, dan
olympia.
Selain menjualnya kepada pedagang pengumpul, perusahaan ini juga
menjualnya kepada warga sekitar. Jumlah pembeliannya hanya berkisar antara 1
sampai dengan 10 ekor saja karena warga sekitar membeli babi untuk keperluankeperluan tertentu seperti hajatan dan peringatan hari-hari besar. Penjualan babi
kepada warga dengan jumlah kecil adalah pengecualian, karena pada dasarnya PT
Mabar hanya menjual babi kepada pedagang pengumpul untuk dipasarkan pada
daerah-daerah

yang

telah

ditentukan

sebelumnya.

PT

Mabar

tidak

memperbolehkan warga sekitar membeli babi dengan jumlah banyak untuk

52

dipasarkan didaerah sekitar karena sudah terikat kontrak dengan para pedagang
pengumpul dan akan mengganggu harga pasar didaerah itu.
Sekenario distribusi PT Mabar dua jalur:

PT. Mabar Feed


Pedagang

Konsumen
Gambar 4.1. Sekenario rantai pasok pemasaran babi

Keuntungan Pedagang Pengumpul


PT Mabar mematok harga babinya dengan harga Rp. 30.000,-/Kg berat

hidupnya. Sedangkan rata-rata berat babi yang terjual antara 100 Kg sampai
dengan 150 Kg. Harga tersebut diperoleh dari pertimbangan banyaknya
pengeluaran perusahaan selama proses produksi dan harga jual daging babi
dipasaran. Diketahui bahwa harga pakan sebesar Rp. 5.400/Kg, sedangkan FCR
dipeternakan tersebut sebesar 3,65. Bila kita anggap pengeluaran untuk pakan
adalah 70% dari pengeluaran total maka dapat dihitung keuntungan PT. Mabar
sebesar:
Pemasukan
Penjualan babi

= Rp.30.000,-

Pengeluaran
Pakan, obat, dll
Keuntungan

3,65 x 5.400 x 100/70

= Rp.28.157,= Rp.1.843,-

Harga daging babi ditingkat pedagang pengecer antara Rp. 50.000 sampai
dengan Rp. 60.000. Harga daging ditingkat pengecer tergantung kepada
perbandingan daging dan lemak pada daging yang dipasarkan. Semakin banyak
daging dalam 1 Kg daging maka semakin mahal harga daging tersebut. Sebagai
ilustrasi bila dalam 1 kg daging kebanyakan daging putih maka harga daging
tersebut adalah Rp. 50.000 Kg dan bila dalam 1 kg daging yang dibeli konsumen
dominan daging merah dan hampir tidak ditemui lemak maka harga daging

53

tersebut adalah Rp. 60.000,-. Namun pada pasar-pasar modern yang juga menjadi
pangsa pasar PT Mabar, harga daging dapat mencapai Rp. 70.000,-/Kg, tentu saja
hal tersebut terjadi karena pihak pemasar menawarkan tempat dan kemasan yang
lebih baik dibandingkan bila daging babi dijual dipasar tradisional.

Kelayakan finansial
Setiap perusahaan yang berdiri haruslah memperhatikan aspek pasar dan

pemasaran, aspek teknis dan zooteknis, aspek ekonomi dan keuangan, aspek
legalitas, aspek manajerial, aspek lingkungan, serta aspek ekonomi dan keungan
demi menjang usahanya. Tujuan utama berdirinya perusahaan yaitu menghasilkan
keuntungan ekonomo sehingga dapat menghidupkan para karyawannya. Bila
sebuah perusahaan hanya menghasilkan keuntungas sosial tanpa keuntungan
ekonomi maka dapat dipastikan perusahaan itu akan hancur.
PT. Mabar Feed Indonesia sendiri memiliki keuntungan secara ekonomi dari
penjualan 1100 ekor babi tiap bulannya. Keuntungan tersebut harus dikurangi
dengan biaya operasional agar diketahui keuntungan bersih. Adapun biya
investasi dan biaya operasionalnya adalah:
Biya Investasi
Bangunan kandang, kantor, dll

2000000 @ 10000

=Rp. 20.000.000.000

Babi induk

1920000 @ 1000

=Rp. 1.920.000.000

Babi pejantan

2500000 @ 15

=Rp 37.500.000

Biaya Operasional
Pakan, obat, vaksin, dll

3.65@5400@100/80@100

Gaji manajer
Gaji pegawai

= Rp. 2.463.750/bulan
= Rp. 5000.000

2470000@48

= Rp. 118.560.000

Proyeksi Manfaat
Babi siap potong

3600000@1100

=Rp. 3.960.000.000/bulan

Berikut Ini proyeksi biaya dan proyeksi manfaat PT. Mabar Feed Indonesia:

54

Tabel 5.1. Proyaksi manfaat dan proyeksi biaya PT. Mabar Feed

4.5.2 Pembahasan

Struktur Populasi dan Produksi Babi


PT. Mabar memiliki lima macam strain yang berbeda yaitu namun ada strain

landrace, pietran, yorkshire, humpshire dan duroc. Adanya perbedaan strain


tersebut sesuai dengan pendapat Sihombing (1997) yang menjelaskan bahwa
semua babi memiliki karakteristik yang sama kedudukannya dalam sistematika
hewan yaitu: Filum: Chordata, Sub Vilum: Vertebrata, Marga: Gnotastomata,
Ordo: Artiodactyla (berjari/berkuku genap), Genus: Sus, Species: Sus celebensis,
sus veerucosus, Sus scrofa, Sus vittatus, Sus cristatus, Sus leucomystax, dan Sus
barbatus.
Pada struktur populasi tersebut diketahui jumlah betina sekitar 1000 ekor
sedangkan jumlah anakan sekitar 9000-10000 ekor yang menandakan
produktifitas babi untuk beranak tinggi. Hal tersebut sesuai dengan pendapat
Lubis (1963) yang menyatakan bahwa ternak babi bersifat peridi (prolific),
dimana satu kali beranak bisa 6-12 ekor dan setiap beranak 2 kali didalam satu
tahun.
Strain yang paling dominan adalah babi landrace yaitu babi yang berasal
dari denmark, termasuk babi bacon yang berkualitas tinggi. Pada saat pengamatan
dilapangan diketahui bahwa karakteristiknya sesuai dengan pendapat Sihombing
(2006) yang menyatakan bahwa babi ini berwarna putih, terkenal babi berubuh
panjang seperti busur, besar, lebar, bulu halus, dan juga kakinya panjang.
Sedangkan strain babi lain seperti pietran, yorkshire, humpshire, dan duroc

55

memiliki karakteristik masing-masing. Babi yorkshire merupakan babi yang


berasal dari inggris dengan ciri-ciri berwarna putih, cream profil muka cekung
dan berntuknya oval, telinga tegak, serta litter size tinggi (Blackly dan Badi,
1991). Menurut Sosroamidjodjo (1995) babi duroc merupakan babi yang bersal
dari Amerika yang memiliki ciri-ciri warna perpaduan hitam dan coklat, tipe
cesar, putting susu banyak, litter size tinggi, sifat genetik baik, kepala besar dan
panjang, mata selalu bersinar. Hhampshire berasal atau dibentuk di Amerika
engan ciri-ciri memiliki warna hitam dan warna putih berbentuk pita yang lebar
mengelilingi bahu sampai kedua kaki depan., warna putih besarnya bervariasi,
punggungnya berbentuk busur, kuat, induk banyak anak, dan bersifat aktif (AAK,
1974). Sedangkang strain pietrain merupakan babi yang dikembangkan di Belgia
dengan ciri tubuh berarna dominan putih (Sihombing, 1997)
Permintaan daging babi di provinsi Sumatera Utara tergolong tinggi dan
stabil dari tahun ketahun. Untuk itu PT Mabar secara berkelanjutan memproduksi
babi untuk memenuhi permintaan akan daging babi. Menurt Rahardi (2003),
permintaan (Demand) adalah jumlah barang yang diminta oleh konsumen pada
suatu pasar.Sebagianahli mengatakan bahwa pengertian permintaan adalah jumlah
barang yang sanggup dibeli oleh para pembeli pada suatu tempat dan waktu
tertentu dengan harga yang berlaku pada saat itu.
Populasi babi di Sumatera Utara dapat dikatakan stabil setiap tahunnya.
Berdasarkan data dari Dinas Peternakan Sumatera Utara tahun 2007 total populasi
babi sebanyak 822.790, populasi tersebut hanya berbeda sedikit dari total populasi
pada tahun 2003 yaitu sebanyak 828.043 ekor.

56

Tabel 5.2. Populasi babi per kabupaten/kota di Sumatera Utara tahun 2006 (ekor)
N

Kabupaten/Kot

Tahun
2002
14668

2003

2004

2005

2006

3
0

82951
0

85074
0

87200
0

80402
28861

1
2

Nias
Nias Selatan
Mandaiiling

3
4
5

Natal
Tapanuli Selatan
Tapanuli Tengah

0
0
59924
15073

0
0
80933
17450

0
0
83005
17897

0
0
83777
16064

0
0
88762
16022

6
7
8
9
10
11
12
13
14
15

Tapanuli Utara
Humbahas
Toba Samosir
Samosir
Labuhan Baru
Asahan
Simalungun
Dairi
Pakpak Bharat
Karo

2
0
89705
0
20978
24475
81989
24871
0
10002
20081

9
45295
91948
45295
91948
41719
85171
54717
2808
24575

6
46454
94302
42787
7323
25729
87351
56118
2880
25204

0
17759
45731
43856
8020
15975
89937
78330
2953
37538

1
21185
52994
58836
10445
15300
65484
77813
2777
25852

90479

92795

93658

64042

16 Deli Serdang
Serdang
17
18
19
20

Berdagai
Langkat
Sibolga
Tanjung Balai
Pematang

0
12302
0
0

24585
8881
0
357

25214
9108
0
366

25859
11192
0
375

47394
16360
0
214

21
22
23
24
25

Slantar
Tebing Tinggi
Medan
Binjai
P. Sudempuan

723
913
2631
1299
0
82804

1258
1015
3420
2392
0
95425

1290
1041
3507
2456
0
87098

1059
1067
2388
2391
0
80970

1838
1182
1288
1540
0
82279

Total

Produksi daging babi Sumatera Utara pun dapat dikatakan stabil dimana
tidak terdapat perbedaan mencolok antara jumlah produksi tahun 2006 sebesar

57

27.079,83 ekor dan tahun 2004 yaitu sebesar 27.079,83 ekor. Bila dibandingkan
dengan produksi babi PT Mabar Feed Indonesia maka produksi perusahaan
sebesar 1100 sampai dengan 1600 ekor hanya memenuhi kurang lebih 4%
permintaan babi sumatera utara. Menurut Sukirno (2002), hukum permintaan pada
hakekatnya merupakan suatu hipotesis yang menyatakan: Semakin rendah harga
suatu

barang

maka

semakin

banyak

permintaan

terhadap

barang

tersebut.Konsumsi sangat berpengaruh terhadap stabilitas prekonomian, Semakin


tinggi tingkat konsumsi, semakin tinggi pula perubahan kegiatan ekonomi.
Tabel 5.3. Jumlah produksi daging babi di Sumatera Utara 2002-2006 (dalam
ekor)
No
1

Jenis
Ternak
Babi

Tahun
2002
18410,81

2003
27091,49

2004
27785,06

2005
24854,84

2006
27079,83

Produksi babi PT. Mabar rata-rata sebesar 1100 ekor perbulan sehingga
bila dihitung produksi tersebut hanya memenuhi sekitar 4 % dari kebutuhan
daging babi Sumatera Utara. Walaupun PT Mabar hanya dapat memenuhi sekitar
4% dari seluruh permintaan daging babi provinsi Sumatera Utara namun nyatanya
hingga kita perusahaan ini dapat menjadi penentu harga daging dipasaran. Hal
tersebut terjadi karena PT Mabar mampu memproduksi babi dengan kualitas
karkas yang sangat baik dimana pada setiap babinya hanya mengandung sedikit
lemak da n banyak daging. Bila dipresentasikan perbandingan daging dan
lemaknya yaitu 9:1 atau 90% berupa daging.

Rantai Pasok
Distribusi babi dari PT Mabar sampai ketangan konsumen hanya melewati

lembaga pemasaran yaitu pedagang pengumpul, sedangkan pedagang pengecer


yang bertugas menjajakan daging pedagang konsumen merupakan pegawai
pedagang pengumpul sehingga tidak terhitung sebagai suatu lembaga pemasaran.
Baik produsen dalam hal ini PT Mabar, pedagang pengumpul, dan pedagang
pengecer memiliki tugas dan fungsinya masing masing. Sistem pemasaran PT
Mabar didukung oleh pernyataan Kotler (1989) bahwa saluran distribusi terdiri
dari seperangkat lembaga yang melakukan semua kegiatan (fungsi) pemasaran
untuk menyalurkan produk dan status pemilikannya dari produsen ke konsumen

58

Menurut Walters dalam Dharmmesta (1999), saluran distribusi adalah


sekelompok pedagang dan agen perusahaan yang mengkombinasikan antara
pemindahan fisik dan nama dari suatu produk untuk menciptakan kegunaan bagi
pasar tertentu. Kotler (2003), menyatakan, Marketing channels are sets of
interdependent organizations involved in the process of making a product or
service available for use or consumption. Pendapat lain juga menyatakan, place
(distribusi) termasuk aktivitas perusahaan untuk membuat produk tersedia bagi
konsumen sasaran (Kotler dan Armstrong, 1997). Beberapa fungsi utama yang
dilaksanakan oleh anggota saluran distribusi antara lain: informasi, promosi,
negosiasi, pemesanan, pembiayaan, pengambilan risiko, fisik, pembayaran, dan
kepemilikan (Kotler, 2002).
PT Mabar selaku produsen memiliki fungsi sebagai penghasil dan penyedia
babi bagi para konsumen. Kegiatan yang dilakukan oleh PT Mabar yaitu
malakukan pengawinan, persalinan, pemberian obat, pemeliharaan induk, dan
penggemukan babi sampai siap jual. Pedagang pengumpul bertugas untuk
menyalurkan babi yang diperolah dari produsen kepedagang pengecer. Kegiatan
yang dilakukan oleh pedagang pengumpul yaitu pengangkutan dari produsen
kepedagang pengecer dan merubah babi hidup menjadi karkas babi melalui rumah
potong hewan (RPH). Pedagang pengecer mempunyai fungsi sebagai penyalur
daging babi dari pedagang pengumpul hingga sampai kekonsumen. Kegiatan yang
dilakukan oleh pedagang pengecer berupa penerimaan karkas dari pedagang
pengumpul, pengelompokan bagian karkas, pemisahan daging dan tulang, serta
menjajakannya kepada para konsumen.
Secara umum PT Mabar telah memiliki salurang pemasaran yang baik
karena memilih saluran pemasaran yang pendek sehingga efisiensi pemasaran
dapat

ditingkatkan.

Terciptanya

sistem

pemasaran

yang

efisien

serta

menguntungkan baik peternak maupun konsumen, maka peternak harus memilih


jalur pemasaran yang pendek. Keterampilan peternak untuk menuju pelaksanaan
pemasaran yang efisien memang terbatas hanya mempraktekkan unsur-unsur
manajemen saja, apalagi pemahaman informasi pasar masih rendah sehingga
kesempatan-kesempatan ekonomi menjadi sulit untuk dicapai (Soekartawi, 1993).

Keuntungan Pedagang Pengumpul

59

Terdapat perbedaan harga atau margin pemasaran dari babi yang dijual oleh
PT Mabar dengan harga daging yang diterima oleh konsumen akhir. Diketahui
bahwa harga babi hidup sebesar Rp. 30.000,-/Kg sedangkan harga daging babi
pada konsumen kurang lebih Rp. 60.000/Kg. Menurut Dahl (1997), Margin
Pemasaran atau tata niaga menunjukkan selisih harga dari dua tingkat rantai
pemasaran. Marjin tataniaga hanya mempresentasikan perbedaan harga yang
dibayarkan ke konsumen dengan harga yang diterima petani, tetapi tidak
menunjukkan jumlah kuantitas produk yang dipasarkan. Pengertian ekonomi nilai
marjin pemasaran adalah harga dari sekumpulan jasa pemasaran / tata niaga yang
merupakan hasil dari interaksi antara permintaan dan penawaran produk-produk
tersebut.
Perbedaan harga tersebut tentu dipengaruhi oleh perlakuan-perlakuan yang
diterima babi hingga menjadi daging babi yang siap dijual kepada konsumen.
Semakin banyak biaya dan perlakuan yang dilakukan oleh para pelaku pasar
membuat harga ditangan konsumen terus meningkat. Menurut Hamid (1972),
biaya pemasaran adalah biaya-biaya yang dikeluarkan dalam proses pergerakan
barang darign tagan produsen sampai ketangan konsumen akhir. Besar kecilnya
biaya pemasaran tergantungn dari besar kecilnya kegiatan lembaga-lembaga
pemasaran dan jumlah fasilitas yang diperlukan dalam proses pergerakan barang
itu.
Menurut Swastha dan Irawan (1990) biaya pemasaran terbagi menjadi dua:
Biaya langsung adalah biaya-biaya yang terjadi dalam kaitannya dengan satu
segmen pasar atau satu unit organisasi penjualan. Sebagai contoh: gaji dan
biaya perjalanan salesman dan biaya media untk mengiklankan suatu
produk.
Biaya tidak langsung adalah biaya-biaya yang terjadi diantara lebih dari satu
unit pemasaran dan tidak dapat ditunjukkan jumlahnya untuk satu produk,
daerah penjualan atau segmen pasar saja. Biaya tidak langsung ini terjadinya
dapat secara keseluruhan ataupun sebagian (parsial).
Pedagang pengumpul melakukan tindakan pada babi berupa transportasi,
pemotongan, pengkarkasan, pemisahan bagian daging, jeroan, dan tulang.

60

Sedangkan dari seekor babi dengan berat 100 Kg mereka mendapat keuntungan
kasar sebanyak:
Pemasuakan
Penjualan daging babi 70% x 4/5 x 100 x 60.000

= Rp. 3.360.000

Pengeluaran
Pembelian babi

100 x 30.000 = Rp. 3.000.000

Transportasi

= Rp. 25.000

RPH

= Rp. 150.000 +

Total Pengeluaran

= Rp. 3.175.000 -

Total Pemasukan Kotor

= Rp. 185.000

Dari perhitungan diatas dapat diketahui bahwa dari satu ekor babi berbobot
100 Kg pedagang pengumpul dan pedagang pengecer mendapatkan untuk sebesar
Rp. 185.000,- atau sebesar Rp.1.850,-/kg babi yang dibeli. Keuntungan tersebut
belum ditambah dari hasil karkas babi lainnya yaitu jeroan, hati, dan tulang yang
memiliki harga jual juga. Harga jual untuk hasil ikutan babi yaitu tulang, hati dan
jeroan adalah Rp. 30.000,-/Kg.

Kelayakan finansial
PT. Mabar merupakan salah satu produsen babi terbesar di provinsi

Sumatera Utara dengan penjualan babi rata-rata 1100 ekor/bulan. Berdasarkan


perhitungan proyeksi biaya dan proyeksi manfaat diatas maka didapatkan bahwa
proyeksi manfaat lebih besar dari pada proyeksi biaya sehingga dapat dikatakan
perusahaan ini layak secara finansial. Menurt Djamin (1993), analisis finansial
adalah analisis kelayakan yang melihat dari sudut pandang produsen sebagai
pemilik. Ananilis finansial diperhatikan didalamnya adalah dari segi cash-flow
yaitu perbandingan antara hasil penerimaan atau penjualan kotor dengan jumlah
biaya-biaya yang dinyatakan dalam nilai sekarang untuk mengetahui kriteria
kelauakan atau keuntungan suatu proyek.
Dalam analisis finansial suatu usaha terdapat beberapa kriteria yang harus
terpenuhi yaitu BEP, PBP, IRR, dan NPV. Berdsarkan perhitungan dari jumlah
pendapatan dan biaya total selama 9 tahun didapatkan bahwa nilai NPV PT.
Mabar Feed Indonesia sebesar Rp. 42.359.240,-. NPV adalah metode penilaian
yang dapat menciptakan cash in flow dibandingkan dengan opportunity cost dari

61

capitas yang ditanamkan. Jika hasil perhitungan NPV > 0 maka dapat dikatakan
bahwa kegiatan yang dilakukan menghasilkan cash iflow dengan persentase yang
lebih besar dari OCCnya.(Rahim, 2008). Maka dari itu usaha peternakan babi PT.
Mabar Feed Indonesia menghasilkan provit yang sangat banyak bila ditinjau dari
nilai NPV.
Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan untuk mengembalikan biaya
investasi dari pendapatan suatu usaha kita perlu menghitung break event point
(BEP) usaha tersebut. Menurut Yamit (1998), break event point dapat diartikan
suatu keadaan dimana total pendapatan besarnya sama dengan total biaya
(TR=TC). Dengan menggunakan pendekatan matematis atau pendapatan sama
dengan biaya, maka rumus BEP yaitu:
TR = TC
P.Q = F + V.Q
BEP =

F
PV P

BPE =

F
1V

Berdasarkan hasil perhitungan didapatkan bahwa waktu yang dibutuhkan


untuk mengembalikan biaya investasi yaitu satu tahun enam bulan sebelas hari.
Hasil tersebut dikarenakan biaya investasi tidak lebih besar dari pada biaya
operasionalnya sehingga pendapatan dapat dengan cepat menutup kembali biaya
investasi yang ditanamkan diawal perencanaan usaha.
Untuk mengetahui waktu yang dibutuhkan suatu usaha mengembalikan
kembali total biaya yang dikeluarkan dengan pendapatan usaha tersebut kita harus
mencari nila payback period. Payback period adalah jangka waktu tertentu yang
menunjukan terjadinya arus penerimaan secara kmulatif sama dengan jumlah
investasi dalam bentuk present value.
PBP =

investasi
kas bersih

x 12 bulan

(ibrahim, 2009)

Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa waktu yang dibutuhkan


pendapatan PT. Mabar Feed Indonesia untuk menutupi biaya investasi dan biaya
operasionalnya yaitu selama delapan tahun satu bulan sepuluh hari. Banyaknya

62

waktu yang dibutuhkan dikarenakan biaya operasional sangat tinggi dimana


dalam satu tahun biaya operasional untuk pakan, obat-obatan, vaksin, gaji
pegawai, dan sebagainya dapat mencapai Rp. 6.643.634.000,-.
Untuk mengetahui ketahanan usaha PT. Mabar Feed Indonesia terhadap
pertambahan nilai mata uang kita dapat mencari IRR. Menurut Gray (2005)
Internal rate of return adalah tinkat rendemen (implicit) atas interval netto yang
dihitung secara intuitif berdasarkan proyek terkait. Nilai IRR yang lebih besar
atau sama dengan opportunity cost of capitasl menyatakan usaha tersebut layak,
sedangkan bila sebaliknya maka usaha tersebut tidak layak. Rumus IRR adalah
sebagai berikut:
n

BCK
t
IRR: 0
t=0 (1+ IRR )
Dari hasil perhitungan didapatkan bahwa nilai IRR PT. Mabar Feed
Indonesia sebesar 31,27% berarti perusahaan masih dapat bertahan dengan
kenaikan suku bunga sampai lebih dari 30% yang menandakan usaha ini sangat
prospektif.
5.6 Kesimpulan dan Saran
5.6.1 Kesimpulan

PT Mabar Feed Indonesia hanya dapat memasok 5% dari permintaan babi

kota Medan, namun dapat menjadi pengatur harga daging dipasaran.


Rantai pasok pemasaran PT Mabar Feed Indonesia hanya melalui pedagang

pengumpul berjumlah 8 orang.


Keuntungan pedagang pengumpul dari penjualan daging babi saja sebesar

Rp.1.850,-/Kg bobot babi hidup.


PT. Mabar Feed Indonesia layak secara finansial karena memiliki NPV, BEP,
PBP, dan IRR yang memenuhi syarat.

5.6.2 Saran
Walaupun sampai saat ini PT. Mabar pig farm masih memegang status
sebagai penentu harga daging dipasaran namun bukan tidak mungkin status
tersebut dapat tergantikan dikemudian hari. Maka dari itu perlu diadakan inovasi-

63

inovasi mulai dari manajemen pakan, manajemen personalia, sampai dengan


manajemen pemasaran agar status sebagai penentu harga daging dipasaran terus
dapat dipertahankan.

DAFTAR PUSTAKA
AAK. 1974. Beternak Babi. Kanisius. Yogyakarta
Blakely, J. dan Bade. D.H. 1996. Ilmu Peternakan. Penerjemah: Srigandono. B.
Penyunting: Soedarsono. Fakultas Peternakan Universitas Diponegoro.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Dinas Peternakan Sumatera Utara. 2007. Populasi ternak babi di Sumatera Utara.
________________________________. Produksi daging babi di Sumatera Utara.
Djamin, Zulkarnaen, (1993), Perencanaan dan Analisa Proyek, Edisi Ketiga,
Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta
Gray, Clive dkk. 2005. Pengantar Evaluasi Proyek. Edisi kedua. Jakarta: PT
Gramedia Pustaka Utama.
Hamid, A.K. 1972. Tataniaga Pertanian. Fakultas Pertanian. Institut Pertanian
Bogor.
H.M.Yacob Ibrahim.,2009. Studi Kelayakan Bisnis Edisi Revisi. Penerbit Rineka
Cipta. Jakarta
Kotler, P., 1988. Manajemen pemasaran. Edisi keenam. Salemba empat. Prentice
Hall. Jakarta
_________. 2002. Manajemen Pemasaran (Terjemahan). Edisi millennium 2.
Jakarta: Prenhallindo.
Rahardi, F. dan Hartono, R. 2003. Agribisnis Peternakan. Penerbit Penebar
Swadaya,Depok
Rahim, A. dan Diah R. D. H. 2008. Pengantar, Teori, dan Kasus Ekonomika
Pertanian. Cetakan Kedua. Jakarta: Penebar Swadaya.
Sihombing. D.T.H., 1997, Ilmu Beternak Babi, Penerbit Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Soekartawi, 1993. Manajemen Pemasaran Hasil Pertanian, Teori dan Aplikasinya.
Jakarta: CV. Rajawali.
Sukirno. 2002. MikroEkonomi Teori Pengantar. PT Raja Graha Persada.
Jakarta.
Swastha, B. dan Irawan. 1990. Menejemen Pemasaran Modern. Liberty
Yogyakarta. Yogyakarta.
Yamit, Zulian. (1998). Manajemen Produksi dan Operasi. Cetakan Kedua.
Yogyakarta

64

LAMPIRAN
Lampiran 5.1. Foto kegiatan

Lampiran 5.2. NPV PT. Mabar Feed Indonesia

65

Lampiran 5.3. BEP dan PBP PT. Mabar Feed Indonesia

PBP = 8 tahun, 1 bulan, 10 hari


BEP = 1 tahun, 6 bulan, 11 hari
Lampiran 5.4. IRR PT. Mabar Feed Indonesia