Anda di halaman 1dari 33

Laporan Praktikum

Laboratorium Teknik Material 1


Modul F Uji Impak
oleh :

Nama

: Catia Julie Aulia

NIM

: 13714035

Kelompok

:7

Anggota (NIM) : 1. Conrad Cleave Bonar (13714008)


2. Catia Julie Aulia

(13714035)

3. Hutomo Tanoto

(13714044)

4. Fakhri Arsyi Hawari

(13714051)

Tanggal Praktikum

: Rabu, 6 April 2016

Tanggal Penyerahan Laporan : Senin, 11 April 2016


Nama Asisten (NIM)

: Annisa Amalia Martiano (13712044)

Laboratorium Metalurgi dan Teknik Material


Program Studi Teknik Material
Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
Institut Teknologi Bandung
2016

Catia Julie Aulia


13714035

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Dalam pengujian mekanik, terdapat beberapa jenis pemberian beban
kepada material, yaitu beban statik seperti pada uji tarik, uji tekan, dan uji puntir,
beban dinamik seperti pada uji fatigue, dan pemberian beban dengan kecepatan
tinggi seperti pada uji impak. Perbedaan dari pembebanan jenis ini dapat dilihat
pada strain ratenya.
Tabel 1. Jenis Pembebanan Berdasarkan Strain Ratenya

Pengujian impak ada karena terjadi suatu fenomena pada masa Perang
Dunia ke 2. Saat itu banyak terjadi fenomena patah getas yang terjadi pada daerah
lasan kapal-kapal perang dan tanker-tanker. Diantara fenomena patahan tersebut
ada yang patah sebagian dan ada yang benar-benar patah terbelah menjadi 2
bagian. Fenomena patahan ini biasa terjadi pada saat musim dingin ketika kapal
sedang berada di laut lepas ataupun ketika kapal sedang berlabuh. Contoh yang
sangat terkenal tentang fenomena patahan getas adalah tragedi Kapal Titanic yang
melintasi samudera Atlantik. Semenjak adanya fenomena tersebut, banyak orang
yang menelitinya lebih lanjut dan lahirlah uji impak ini.
Dasar pengujian impak ini adalah perpindahan energi potensial yang
berubah menjadi energi kinetik dari pendulum beban yang berayun dari suatu
ketinggian tertentu kepada benda uji melalui tumbukan, sehingga benda uji
mengalami deformasi.
Pengujian impak merupakan simulasi dari kondisi operasional material
yang biasa ditemui dalam perlengkapan konstruksi dan transportasi, dimana beban

Page 2 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

yang diberikan tidak selalu terjadi secara perlahan, namun diberikan dengan
kecepatan tinggi atau secara tiba-tiba, contohnya seperti beban yang diterima oleh
bumper mobil pada saat terjadi kecelakaan. Pengujian ini banyak dilakukan di
indusri terutama pada industri otomotif. Pengujian impak dilakukan untuk
mengetahui apakah energi yang diterima oleh material diserap atau dialirkan
kembali oleh material tersebut. Untuk industri mobil, material yang baik dan
aman untuk digunakan adalah material yang dapat menyerap energi akibat
tabrakan, bukan yang mengalirkan energi tersebut.

1.2 Tujuan Praktikum


Tujuan dari Pengujian Impak adalah sebagai berikut :
1. Menentukan harga impak spesimen
2. Menentukan jenis patahan yang terjadi pada spesimen
3. Menentukan temperatur transisi spesimen

Page 3 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

BAB II
TEORI DASAR
2.1 Uji Impak
Uji impak adalah pengujian ketahanan suatu material terhadap beban kejut.
Beban kejut yang dimaksud adalah pemberian beban dengan kecepatan tinggi.
Parameter kecepatan pembebanan inilah yang membedakan uji impak dengan uji
yang lainnya, dimana pada pengujian yang lainnya beban diberikan secara
perlahan.
Pengujian impak merupakan simulasi dari kondisi operasional material
yang biasa ditemui dalam perlengkapan konstruksi dan transportasi dimana beban
yang diberikan tidak selalu terjadi secara perlahan, namun diberikan secara tibatiba atau dengan kecepatan yang tinggi, contohnya seperti beban yang diterima
pada bumper mobil pada saat terjadi kecelakaan.

2.2 Prinsip Uji Impak


Dasar dari uji impak adalah penyerapan energi potensial dari pendulum
beban yang berayun dari suatu ketinggian tertentu yang kemudian menumbuk
spesimen uji sehingga spesimen mengalami deformasi. Pada saat beban dinaikkan
dengan ketinggian tertentu, beban memiliki energi potensial, kemudian saat beban
jatuh dan menumbuk spesimen, energi potensial yang dimiliki oleh beban berubah
menjadi energi kinetik. Energi kinetik yang mengenai spesimen merupakan energi
kinetik maksimum yang kemudian diserap oleh spesimen uji.
Nilai energi yang diserap oleh spesimen hingga terjadi patahan pada
spesimen merupakan ukuran dari ketahanan impak material tersebut. Suatu
material dapat dikatakan tahan beban impak apabila material tersebut memiliki
kemampuan untuk menyerap beban kejut yang diberikan tanpa mengalami
deformasi dengan mudah.

Page 4 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Gambar 1. Proses Perpindahan Energi

2.3 Metode Uji Impak


Metode uji impak berdasarkan standar ASTM E23 ada dua, yaitu :
1. Metode Charpy
Metode Charpy merupakan metode yang banyak digunakan di
Amerika Serikat. Spesimen metode ini memiliki dimensi 55 mm x 10 mm
x 10 mm (panjang x lebar x tinggi) dan memiliki takikan tepat di tengahtengah spesimen. Berdasarkan standar ASTM E23, terdapat 3 jenis
spesimen untuk metode ini, dimana perbedaan antar spesimen terletak
pada bentuk takikannya. Bentuk takikan pada spesimen metode ini berupa
huruf U, V, dan key hole (seperti lubang kunci).

Gambar 2. Spesimen Metode Charpy

Page 5 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Gambar 3. Metode Charpy

Pada metode ini, spesimen akan diletakkan pada tumpuan dengan


posisi horizontal tanpa dijepit, kemudian beban akan diberikan pada arah
belakang takikan. Keuntungan dari spesimen yang tidak dijepit adalah
membuat pengujian berlangsung lebih cepat, sehingga memudahkan untuk
melakukan pengujian pada temperatur transisinya.

2. Metode Izod
Metode Izod merupakan metode yang banyak digunakan di Eropa.
Spesimen metode ini memiliki dimensi 75 mm x 10 mm x 10 mm
(panjang x lebar x tinggi) dan memiliki takikan. Berdasarkan standar
ASTM E23, bentuk takikan dari spesimen metode ini adalah V, dengan
kedalaman takikan sebesar 2 mm, dan sudut takikan 45o.

Gambar 5. Spesimen Metode Izod

Page 6 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Gambar 4. Metode Izod

Pada metode ini, spesimen akan diletakkan pada tumpuan dengan


posisi vertikal dan dijepit, kemudian beban akan diberikan pada arah
depan takikan. Penjepitan spesimen pada metode ini menyebabkan
pengujian berlangsung lama, sehingga tidak cocok untuk digunakan pada
pengujian dengan temperatur yang bervariasi.

2.4 Kelebihan dan Kekurangan Metode Uji Impak


Metode pada pengujian impak memiliki kelebihan dan kekurangan sebagai
berikut :
1. Metode Charpy
Kelebihan :
a. Pengerjaannya lebih mudah dilakukan
b. Menghasilkan tegangan yang seragam di sepanjang penampang
c. Harga alat lebih murah
d. Waktu pengujian lebih singkat

Kekurangan :
a. Spesimen hanya dapat dipasang pada posisi horizontal
b. Spesimen dapat bergeser dari tumpuannya karena tidak dijepit
c. Pengujian hanya dapat dilakukan pada spesimen yang kecil

Page 7 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

d. Hasil pengujian kurang dapat atau tepat dimanfaatkan dalam


perancangan karena level tegangan yang diberikan tidak rata

2. Metode Izod
Kelebihan :
a. Tumbukan tepat pada takikan karena spesimen dijepit
b. Dapat menggunakan spesimen dengan ukuran yang lebih besar
c. Spesimen tidak mudah bergeser karena dijepit pada salah satu
ujungnya

Kekurangan
a. Biaya pengujian yang lebih mahal
b. Pembebanan yang dilakukan hanya pada satu ujungnya, sehingga hasil
yang diperoleh kurang baik
c. Waktu yang digunakan cukup banyak karena prosedur pengujiannya
yang banyak, mulai dari menjepit benda kerja hingga tahap pengujian

2.5 Data yang Diperoleh dari Uji Impak


Dari pengujian impak, dapat diperoleh informasi sebagai berikut :
1. Energi yang Diserap oleh Spesimen
Besarnya energi yang dapat diserap oleh spesimen akibat
terjadinya tumbukan dengan beban.

2. Harga Impak
Harga impak adalah jumlah energi yang dapat diserap oleh suatu
material tiap satuan luas. Harga impak dapat dihitung melalui persamaan :

Page 8 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

dimana :
HI = harga impak (J/mm2)
E = energi yang diserap oleh spesimen (Joule)
A = luas penampang spesimen (mm2)

3. Bentuk Patahan
Jenis patahan yang terjadi setelah beban menumbuk spesimen,
apakah patahannya berserat (shear fracture), kristalin (cleavage fracture),
atau campuran dari keduanya. Patahan berserat biasa terjadi pada material
yang ulet, sedangkan patahan kristalin biasa terjadi pada material yang
getas.

4. Temperatur Transisi
Temperatur transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisi
perubahan jenis perpatahan suatu material bila diuji pada temperatur yang
berbeda-beda. Dari pengujian dengan temperatur yang berbeda-beda, maka
akan terlihat bahwa pada temperatur tinggi material akan cenderung
bersifat ulet sehingga patahan yang akan terjadi adalah patah ulet, dan
pada temperatur rendah material akan cenderung bersifat getas sehingga
patahan yang akan terjadi adalah patah getas. Semakin rendah nilai
temperatur transisi, maka semakin tinggi ketahanan patah material tersebut.
Dari data energi yang diserap oleh spesimen dan temperatur yang
diberikan pada spesimen, akan didapatkan kurva Energi yang Diserap (Cv)
vs Temperatur. Dari kurva tersebut dapat diketahui berbagai macam
temperatur transisi dari material uji.

Page 9 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Gambar 6. Kurva Energi vs Temperatur

Jenis temperatur transisi ada 3, yaitu :


1. Fracture Transition Plastic (FTP)
FTP adalah temperatur dimana bentuk patahan yang terjadi
adalah patahan ulet.

2. Fracture Appearance Transition Temperature (FATT)


FATT adalah temperatur dimana bentuk patahan yang terjadi
adalah campuran dari patah ulet dan patah getas.

3. Nil Ductility Temperature (NDT)


NDT adalah temperatur dimana bentuk patahan yang terjadi
adalah patah getas.

2.6 Faktor yang Mempengaruhi Bentuk Patahan


Faktor utama yang mempengaruhi bentuk patahan adalah sebagai berikut :
1. Temperatur
Pada temperatur yang sangat rendah, patahan spesimen akan
membentuk patah getas. Hal tersebut disebabkan oleh atom-atom pada
spesimen berrotasi lebih lambat sehingga atom-atomnya lebih sulit untuk
melakukan slip system. Sebaliknya, pada temperatur yang sangat tinggi,

Page 10 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

patahan spesimen akan membentuk patah ulet karena atom-atom pada


spesimen berrotasi lebih cepat dan bervibrasi sehingga atom-atomnya lebih
mudah untuk melakukan slip system.

2. Kecepatan Pembebanan
Kecepatan pembebanan yang terlalu tinggi akan membuat spesimen
memiliki waktu yang lebih sedikit untuk menyerap energi sehingga patahan
yang terbentuk akan cenderung membentuk patah getas karena spesimen
tidak sempat untuk terdeformasi. Sebaliknya, kecepatan pembebanan yang
terlalu rendah menyebabkan spesimen memiliki waktu yang lebih banyak
untuk menyerap energi sehingga patahan yang terbentuk akan cenderung
membentuk patah ulet karena spesimen memiliki waktu untuk terdeformasi
terlebih dahulu.

3. Takikan
Takikan pada spesimen dapat menyebabkan munculnya tegangan
triaxial. Tegangan triaxial adalah tegangan normal yang terjadi pada tiga arah.
Berdasarkan teori kegagalan Coloumb (Maximum Normal Stress), suatu
material akan mengalami patah getas akibat tegangan normal. Oleh karena itu,
dengan adanya takikan akan menyebabkan spesimen mengalami patah getas.

Page 11 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

BAB III
DATA PERCOBAAN DAN PENGOLAHAN DATA
3.1 Data Percobaan

Tabel 2. Data Percobaan Spesimen Baja

Temperatur

Baja

( C)

Energi (J)

Panjang

Lebar

Tinggi

Notch

(mm)

(mm)

(mm)

(mm)

25

71

61,92

9,9

9,92

8,67

80

82

60,01

10,05

9,88

8,78

40

89

59,28

9,92

9,86

8,65

-20

59,23

9,81

9,88

8,77

-40

63,24

9,82

9,89

8,91

Tabel 3. Data Percobaan Spesimen Alumunium

Temperatur

Energi

Panjang

Lebar

Tinggi

Notch

(oC)

(J)

(mm)

(mm)

(mm)

(mm)

25

17

62,3

9,4

9,3

8,8

80

63

62,83

9,45

9,4

8,05

40

26

62,3

9,4

9,37

8,53

-20

30

60,81

9,32

9,3

8,73

-40

20

61

9,9

9,4

8,7

Alumunium

Page 12 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

3.2 Pengolahan Data


Dari data yang telah diperoleh, luas penampang spesimen dapat dihitung
melalui persamaan :
A=nxb

dimana :
A = luas penampang spesimen dibawah takikan (mm2)
n = tinggi spesimen dibawah takik (mm)
b = lebar spesimen (mm)

Luas penampang yang telah dihitung dapat digunakan untuk menghitung


Harga Impak. Harga Impak adalah jumlah energi yang mampu diserap oleh suatu
material tiap satuan luas. Harga Impak dapat dihitung melalui persamaan :

dimana :
HI = harga impak (J/mm2)
E = energi yang diserap oleh spesimen (Joule)
A = luas penampang spesimen (mm2)

Selain itu, dari hasil percobaan juga dapat ditentukan jenis patahan yang
terjadi pada spesimen melalui pengamatan permukaan patahan yang terjadi pada
spesimen.

Page 13 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Tabel 4. Pengolahan Data Spesimen Baja

Baja
1

P (mm)

61,92

60,01

59,28

59,23

63,24

l (mm)

9,9

10,05

9,92

9,81

9,82

t (mm)

9,92

9,88

9,86

9,88

9,89

T (oC)

25

80

40

-20

-40

85,83

88,23

85,80

86,03

87,49

71

82

89

Harga Impak (J/mm )

0,82

0,92

1,03

0,08

0,06

Permukaan Patahan

ulet

ulet

ulet

getas

getas

Luas Penampang (mm2)


Energi (Joule)
2

Gambar 7. Patahan Spesimen Baja

Page 14 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Tabel 5. Pengolahan Data Spesimen Alumunium

Alumunium
1

P (mm)

62,3

62,83

62,3

60,81

61

l (mm)

9,4

9,45

9,4

9,32

9,9

t (mm)

9,3

9,4

9,37

9,3

9,4

T (oC)

25

80

40

-20

-40

82,72

76,07

80,18

81,36

86,13

17

63

26

30

20

Harga Impak (J/mm )

0,20

0,82

0,32

0,36

0,23

Permukaan Patahan

ulet

ulet

ulet

ulet

ulet

Luas Penampang (mm2)


Energi (Joule)
2

Gambar 8. Patahan Spesimen Alumunium

Page 15 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Dari data yang diperoleh juga didapat grafik Energi vs. Temperatur
sebagai berikut :
Grafik 1. Grafik Energi vs Temperatur

Grafik Energi vs Temperatur


100
90
80
70
Energi (J)

60
50

Alumunium

40

Baja

30
20
10
0
-50

-25

25

50

75

Temperatur (C)

Berdasarkan grafik yang telah dibuat, dapat ditentukan interval temperatur


transisi dari kedua jenis spesimen.
Pada spesimen Baja didapatkan temperatur transisinya pada interval -20
C sampai 40 oC.

Pada spesimen Alumunium didapatkan temperatur transisinya pada


interval -20 oC sampai 30 oC.
Dari pengolahan data juga dapat diperoleh grafik Harga Impak vs
Temperatur sebagai berikut :

Page 16 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Grafik 2. Grafik Harga Impak vs Temperatur

Grafik Harga Impak vs Temperatur


1,2

Harga Impak (J/mm2)

1
0,8
0,6

Alumunium
Baja

0,4
0,2

-60

-35

0
-10

15

40

65

90

Temperatur (C)

Page 17 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

BAB IV
ANALISIS DATA
Pada pengujian impak kali ini, metode yang digunakan adalah metode
Charpy. Metode Charpy digunakan karena nilai energi yang diserap dari
pengujian dengan metode ini lebih akurat daripada metode Izod. Pada metode
Charpy, spesimen tidak dijepit oleh tumpuan sehingga energi yang diserap dari
beban oleh spesiman benar-benar diserap dan tidak dialirkan lagi ke tempat lain.
Sebaliknya, pada metode Izod, spesimen dijepit oleh tumpuan sehingga energi
yang diserap dari beban oleh spesimen tidak murni diserap sepenuhnya, namun
dialirkan juga ke tumpuan. Oleh karena itu nilai energi yang dihasilkan dari
metode Izod bukanlah nilai energi yang sebenarnya. Sehingga metode Charpy
lebih baik dan lebih akurat untuk digunakan dalam pengujian impak.
Material yang digunakan dalam percobaan ini adalah Baja dan
Alumunium. Berdasarkan literatur (Callister, William D. Materials and Science
Engineering An Introduction, 6th edition. John Wiley & Sons, Inc. 2003.), baja
memiliki struktur kristal BCC dan alumunium memiliki struktur kristal FCC. Baja
dengan struktur BCC akan cenderung bersifat getas karena jumlah bidang slip
yang sedikit, yaitu 8 buah. Dengan adanya kenaikan temperatur akan membuat
baja menjadi sedikit lebih ulet karena atom-atomnya berrotasi lebih cepat. Adanya
kecenderungan baja yang bersifat getas menjadi lebih ulet ketika diberi panas
menyebabkan baja memiliki temperatur transisi. Alumunium dengan struktur
kristal FCC akan cenderung bersifat ulet karena jumlah bidang slip yang cukup
banyak, yaitu 12 buah, dan dengan adanya kenaikan temperatur akan membuat
alumunium semakin ulet karena atom-atomnya berrotasi lebih cepat dan
bervibrasi. Karena alumunium sejak awal sudah bersifat ulet, dan dengan
pemberian panas membuat alumunium semakin ulet menyebabkan alumunium
tidak memiliki temperatur transisi.
Dari data yang diperoleh, dapat dihitung Harga Impak dari masing-masing
spesimen. Harga Impak adalah jumlah energi yang dapat diserap oleh suatu

Page 18 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

material per satuan luas. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin
tinggi Harga Impak suatu material, maka semakin baik dan aman untuk digunakan
terutama untuk benda yang akan mengalami beban impak. Selain itu, semakin
tinggi Harga Impak suatu material, maka akan semakin ulet pula sifat material
tersebut.
Apabila dibandingkan, Harga Impak spesimen baja pada temperatur tinggi
(diatas 0oC) lebih tinggi daripada alumunium. Namun, pada temperatur yang
rendah (dibawah 0oC) Harga Impak spesimen baja lebih kecil daripada
alumunium. Dari data tersebut dapat dikatakan bahwa pada temperatur tinggi, baja
akan cenderung bersifat ulet dan pada temperatur rendah, baja akan cenderung
bersifat getas. Selain itu dapat disimpulkan juga bahwa baja lebih baik dalam
menyerap energi pada temperatur tinggi dibandingkan dengan alumunium.
Namun, alumunium lebih baik dalam menyerap energi pada temperatur yang
rendah dibandingkan dengan baja. Untuk penggunaan material secara keseluruhan,
alumunium lebih baik daripada baja karena menunjukkan sifat yang lebih stabil.
Selain Harga Impak, bentuk patahan pada tiap spesimen pun dapat
diketahui. Berdasarkan hasil pengujian spesimen Baja, didapatkan bentuk patahan
ulet pada 3 buah spesimen dan patah getas pada 2 buah spesimen. Pada spesimen
Baja 1 bentuk patahan yang terjadi adalah patah ulet karena permukaan
patahannya tidak rata dan menunjukkan adanya deformasi plastis. Pada spesimen
Baja 2, bentuk patahan yang terjadi adalah patah ulet karena spesimen tidak patah
menjadi dua bagian sehingga sudah jelas bahwa spesimen mengalami deformasi
plastis. Pada spesimen Baja 3 bentuk patahannya mirip seperti spesimen baja 2,
bentuk patahannya adalah patah ulet karena spesimen tidak patah menjadi dua
bagian dan permukaan patahannya menunjukkan adanya deformasi plastis. Pada
spesimen Baja 4 didapatkan bentuk patahan getas karena permukaan patahannya
cenderung rata meskipun terdapat sedikit relief. Pada spesimen Baja 5 bentuk
patahannya adalah patah getas karena permukaan patahan cenderung rata.
Berbeda dengan spesimen Baja, pada spesimen Alumunium didapatkan
bentuk patah ulet pada semua spesimen. Pada spesimen Alumunium 1 bentuk
patahan yang terjadi adalah patah ulet karena permukaan patahan tidak rata dan

Page 19 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

menunjukkan adanya deformasi plastis. Pada spesimen Alumunium 2 spesimen


tidak patah menjadi dua bagian sehingga sudah jelas bahwa spesimen mengalami
deformasi plastis dan bentuk patahannya adalah patah ulet. Spesimen Alumunium
3 juga tidak patah menjadi dua bagian sehingga dapat disimpulkan bahwa
spesimen mengalami deformasi plastis dan membentuk matahan ulet. Pada
spesimen Alumunium 4 spesimen patah menjadi dua bagian dan permukaannya
menunjukkan adanya deformasi karena permukaannya tidak rata sehingga patahan
yang terbentuk adalah patah ulet. Pada spesimen Alumunium 5 spesimen
mengalami patah ulet karena permukaan patahan tidak rata dan spesimen
mengalami deformasi plastis.
Dari data yang telah diperoleh, kurva energi terhadap temperatur dan
kurva harga impak terhadap temperatur dapat dibuat. Dari kurva energi terhadap
temperatur dapat diperoleh nilai temperatur transisi spesimen Baja dan spesimen
Alumunium. Temperatur transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisi
perubahan jenis perpatahan suatu bahan bila diuji pada temperatur yang berbedabeda. Berdasarkan grafik yang telah dibuat, Baja memiliki temperatur transisi
pada interval -20 oC sampai 40 oC. Sedangkan Alumunium memiliki temperatur
transisi pada interval -20 oC sampai 30 oC.
Berdasarkan penjelasan sebelumnya, Baja pasti memiliki temperatur
transisi, sedangkan Alumunium tidak. Hasil dari pengolahan data yang didapatkan
mengenai Baja sudah sesuai karena berdasarkan literatur dan pengujian, Baja
sama-sama memiliki temperatur transisi. Namun, pada spesimen Alumunium
terdapat perbedaan antara hasil pengujian dengan literatur. Pada pengujian kali ini
didapatkan adanya temperatur transisi pada spesimen Alumunium. Berdasarkan
literatur yang ada, seharusnya Alumunium tidak memiliki temperatur transisi.
Adanya perbedaan dari hasil pengujian dengan literatur disebabkan oleh spesimen
Alumunium yang digunakan pada pengujian ini tidak seragam sehingga
mempengaruhi data yang dihasilkan, kurangnya ketelitian dalam membaca data
hasil pengujian, alat uji yang belum dikalibrasi dengan sempurna sehingga
terdapat kesalahan dalam data hasil pengujian, temperatur pengujian yang tidak
sesuai karena cukup sulit untuk mempertahankan temperatur yang diinginkan dan

Page 20 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

kita tidak tahu apakah pada saat terjadi tumbukkan temperatur spesimen
menunjukkan temperatur yang sesuai atau tidak, peletakkan spesimen yang tidak
pas sehingga beban tidak tepat mengenai bagian sisi belakang takikan, terdapat
ketidaksesuaian dimensi spesimen yang digunakan pada pengujian ini dengan
dimensi spesimen sesuai standar ASTM E23, dan penggunaan metode Charpy
yang memiliki kekurangan yaitu spesimen dapat bergeser dari tumpuannya karena
tidak dijepit sehingga beban tidak tepat mengenai takikan.
Dari pengolahan data diperoleh kurva energi vs temperatur dan harga
impak vs temperatur yang sedikit berbeda. Seharusnya, kurva keduanya sama
persis karena harga impak merupakan pengolahan data energi lebih lanjut. Hal
tersebut disebabkan oleh kurang presisinya pengukuran dimensi spesimen karena
pengukuran hanya dilakukan sekali, sehingga terdapat error.

Page 21 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari pengujian impak adalah sebagai berikut :
1. Berdasarkan Harga Impak yang diperoleh, material Alumunium lebih baik
untuk digunakan karena sifatnya lebih stabil dibandingkan dengan material
Baja.
2. Temperatur transisi Baja yang didapatkan adalah dalam interval -20 oC
sampai 40 oC. Hasil pengujian sesuai dengan literatur, dimana Baja
memiliki temperatur transisi.
3. Temperatur transisi Alumunium yang didapatkan adalah dalam interval 20 oC sampai 30 oC. Hasil pengujian tidak sesuai dengan literatur, dimana
seharusnya Alumunium tidak memiliki temperatur transisi.

5.2 Saran
Saran dari pengujian impak kali ini adalah sebagai berikut :
1. Spesimen yang digunakan dalam pengujian lebih baik seragam dan
diketahui jenisnya agar perbandingan hasil pengujian dengan literatur
dapat lebih akurat.
2. Pengukuran dimensi pada spesimen lebih baik dilakukan minimal 3x
untuk tiap spesimen agar dimensi yang terukur lebih akurat.
3. Sebelum melakukan pengujian pastikan alat uji telah dikalibrasi dengan
tepat.

Page 22 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

DAFTAR PUSTAKA
Callister, William D. Materials and Science Engineering An Introduction, 6th
edition. John Wiley & Sons, Inc. 2003.
Dieter, G. E. Mechanical Metallurgy SI Metric Edition. Mc Graw Hill Book
Co. 1988.
ASTM E23

Page 23 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

LAMPIRAN

Tugas Setelah Praktikum


1. Buatlah kurva yang menghubungkan antara Temperatur dengan Energi
yang diserap oleh spesimen, baik Alumunium dan Baja secara digital!
Jawab :

Grafik Energi vs Temperatur

Energi (J)

100
90
80
70
60
50
40
30
20
10
0

-50

-25

Alumunium
Baja

25

50

75

Temperatur (C)

2. Tentukan temperatur transisi dari kedua material tersebut! Apakah


kegunaan dari temperatur transisi suatu material? Jelaskan dengan baik
dan tepat!
Jawab :
Pada spesimen Baja didapatkan temperatur transisinya pada
interval -20 oC sampai 40 oC. Sedangkan pada spesimen Alumunium
didapatkan temperatur transisinya pada interval -20 oC sampai 30 oC.
Temperatur transisi berguna untuk menentukan apakah material
tersebut stabil atau tidak pada temperatur yang bervariasi. Stabil atau
tidaknya disini adalah apakah material tersebut akan mengalami transisi
sifat pada temperatur tertentu dari ulet menjadi getas atau tidak. Dengan
mengetahui hal tersebut, dapat memudahkan dalam pemilihan jenis

Page 24 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

material. Tentunya kita tidak ingin benda yang sedang digunakan patah
tiba-tiba

karena

pengaruh

DBTT

(Ductile

to

Brittle

Transition

Temperature) pada material yang digunakan. Oleh karena itu, temperatur


transisi

bermanfaat

untuk

pemilihan material

yang tepat

untuk

menghindari kegagalan pada penggunaan material.

3. Buatlah analisis mengenai bentuk permukaan patahan untuk semua


spesimen!
Jawab :
1. Baja 1

Pada spesimen Baja 1, spesimen patah menjadi dua bagian,


permukaan patahannya tidak rata, dan terdapat deformasi plastis. Ciriciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah ulet, sehingga bentuk
patahan pada spesimen Baja 1 adalah patah ulet.

2. Baja 2

Pada spesimen Baja 2, spesimen tidak patah menjadi dua bagian,


permukaan patahannya tidak rata, dan spesimen terdeformasi plastis.
Ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah ulet, sehingga bentuk
patahan pada spesimen Baja 2 adalah patah ulet.
Page 25 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

3. Baja 3

Pada spesimen Baja 3, spesimen tidak patah menjadi dua bagian,


permukaan patahannya tidak rata, dan spesimen terdeformasi plastis.
Ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah ulet, sehingga bentuk
patahan pada spesimen Baja 3 adalah patah ulet.

4. Baja 4

Pada spesimen Baja 4, spesimen patah menjadi dua bagian,


permukaan patahannya cenderung rata, dan spesimen tidak terdeformasi
plastis. Ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah getas, sehingga
bentuk patahan pada spesimen Baja 4 adalah patah getas.

5. Baja 5

Pada spesimen Baja 5, spesimen patah menjadi dua bagian,


permukaan patahannya cenderung rata, dan spesimen tidak terdeformasi
Page 26 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

plastis. Ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah getas, sehingga


bentuk patahan pada spesimen Baja 5 adalah patah getas.

6. Alumunium 1

Pada spesimen Alumunium 1, spesimen patah menjadi dua


bagian, permukaan patahannya tidak rata, dan spesimen terdeformasi
plastis. Ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah ulet, sehingga
bentuk patahan pada spesimen Alumunium 1 adalah patah ulet.

7. Alumunium 2

Pada spesimen Alumunium 2, spesimen tidak patah menjadi dua


bagian, permukaan patahannya tidak rata, dan spesimen terdeformasi
plastis. Ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah ulet, sehingga
bentuk patahan pada spesimen Alumunium 2 adalah patah ulet.

Page 27 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

8. Alumunium 3

Pada spesimen Alumunium 3, spesimen tidak patah menjadi dua


bagian, permukaan patahannya tidak rata, dan spesimen terdeformasi
plastis. Ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah ulet, sehingga
bentuk patahan pada spesimen Alumunium 3 adalah patah ulet.

9. Alumunium 4

Pada spesimen Alumunium 4, spesimen patah menjadi dua


bagian, permukaan patahannya tidak rata, dan spesimen terdeformasi
plastis. Ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah ulet, sehingga
bentuk patahan pada spesimen Alumunium 4 adalah patah ulet.

10. Alumunium 5

Pada spesimen Alumunium 5, spesimen patah menjadi dua


bagian, permukaan patahannya tidak rata, dan spesimen terdeformasi

Page 28 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

plastis. Ciri-ciri tersebut merupakan ciri-ciri dari patah ulet, sehingga


bentuk patahan pada spesimen Alumunium 5 adalah patah ulet.

Rangkuman Praktikum
Dalam uji impak, terdapat dua jenis metode pengujian berdasarkan ASTM
E23, yaitu metode Charpy dan metode Izod. Perbedaan metode Charpy dengan
metode Izod terletak pada bentuk spesimen, letak spesimen ketika akan diuji, arah
pembebanan, dan energi yang diserap.
Spesimen pada metode Charpy memiliki dimensi 55 mm x 10 mm x 10
mm (panjang x lebar x tinggi) dengan takikan berada tepat di tengah spesimen
(27,5 mm dari ujung spesimen). Sedangkan pada metode Izod, spesimennya
memiliki dimensi 75 mm x 10 mm x 10 mm (panjang x lebar x tinggi) dengan
takikan berada pada jarak 28 mm dari ujung spesimen.
Pada metode Charpy, spesimen diletakkan dalam posisi horizontal tanpa
dijepit oleh tumpuan. Sedangkan pada metode Izod, spesimen diletakkan dalam
posisi vertikal dan dijepit oleh tumpuan (biasanya diletakkan di dalam ground).
Arah pembebanan pada metode Charpy dilakukan dari sisi belakang
takikan dan tepat mengenai bagian belakang takikan. Sedangkan pada metode
Izod arah pembebanannya dilakukan dari sisi depan takikan namun tidak tepat
mengenai takikan secara langsung, beban mengenai bagian sisi atas spesimen.
Karena adanya perbedaan peletakkan spesimen, maka energi yang diserap
oleh spesimen pada metode Charpy dan metode Izod pun berbeda. Pada metode
Charpy, spesimen tidak dijepit oleh tumpuan sehingga energi yang diserap oleh
spesimen benar-benar diserap oleh spesimen dan tidak dialirkan ke tempat lain.
Berbeda dengan metode Izod yang spesimennya dijepit oleh tumpuan. Karena
spesimen pada metode Izod dijepit oleh tumpuan, maka energi yang diserap oleh
spesimen tidak benar-benar diserap seluruhnya oleh spesimen, melainkan juga
dialirkan ke tempat lain (dalam hal ini tumpuan). Oleh sebab itu dalam hal
penghitungan energi yang diserap, metode Charpy lebih baik dan lebih akurat
untuk digunakan daripada metode Izod.

Page 29 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Dalam pengujian impak, spesimen yang mengalami tumbukan dengan


beban akan patah. Patahan yang terjadi ada tiga jenis, yaitu patah ulet, patah getas,
dan campuran keduanya. Bentuk patahan yang akan dihasilkan dipengaruhi oleh
banyak faktor, namun faktor utama yang mempengaruhi bentuk patahan adalah
takikan, temperatur, dan kecepatan pembebanan.
Adanya takikan pada spesimen menyebabkan munculnya tegangan triaxial.
Tegangan triaxial adalah tegangan normal (dalam hal ini tegangan tarik) yang
terjadi pada tiga arah, yaitu arah sumbu x, sumbu y, dan sumbu z. Adanya
tegangan triaxial ini akan menyebabkan spesimen mengalami patah getas karena
spesimen menerima beban tarik. Beban tarik terjadi karena ketika spesimen
menerima beban dari salah satu sumbu, maka spesimen akan mempertahankan
bentuknya. Karena spesimen mempertahankan bentuknya maka muncul tegangan
tarik pada arah sumbu x, y, dan z. Berdasarkan teori kegagalan Coloumb
(Maximum Normal Stress), suatu material akan mengalami patah getas akibat
tegangan normal. Oleh karena itu, dengan adanya takikan akan menyebabkan
spesimen mengalami patah getas.
Pada temperatur yang rendah, atom-atom pada spesimen akan bergerak
secara lambat sehingga ketika spesimen menerima beban, atom-atom pada
spesimen tidak sempat untuk bergerak. Karena atom-atom pada spesimen tidak
sempat bergerak, maka spesimen tidak sempat untuk terdeformasi, oleh karena itu
pada temperatur rendah bentuk patahan yang akan terjadi adalah patah getas.
Sebaliknya, pada temperatur tinggi, atom-atom pada spesimen akan bergerak
lebih cepat sehingga ketika spesimen menerima beban, atom-atom pada spesimen
bergerak dan menyebabkan spesimen mengalami deformasi. Oleh karena itu pada
temperatur tinggi bentuk patahan yang akan terjadi adalah patah ulet.
Kecepatan pembebanan yang terlalu tinggi akan membuat spesimen
memiliki waktu yang lebih sedikit untuk menyerap energi sehingga patahan yang
terbentuk akan cenderung membentuk patah getas karena spesimen tidak sempat
untuk terdeformasi. Sebaliknya, kecepatan pembebanan yang terlalu rendah
menyebabkan spesimen memiliki waktu yang lebih banyak untuk menyerap

Page 30 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

energi sehingga patahan yang terbentuk akan cenderung membentuk patah ulet
karena spesimen memiliki waktu untuk terdeformasi terlebih dahulu.
Dalam pengujian impak akan didapat grafik energi vs temperatur. Grafik
tersebut dapat menunjukkan temperatur transisi pada suatu material. Temperatur
transisi adalah temperatur yang menunjukkan transisi perubahan jenis perpatahan
suatu bahan bila diuji pada temperatur yang berbeda-beda. Terdapat tiga jenis
temperatur transisi, yaitu NDT, FATT, dan FTP.

NDT atau Nil Ductile Temperature adalah temperatur transisi dimana


bentuk patahan yang terjadi pada suatu material adalah patah getas. FATT atau
Fracture Appearance Transition Temperature adalah temperatur transisi dimana
bentuk patahan yang terjadi pada suatu material adalah campuran dari patah ulet
dan patah getas. FTP atau Fracture Transition Plastic adalah temperatur transisi
dimana bentuk patahan yang terjadi pada suatu material adalah patah ulet.
Pada pengujian ini, temperatur transisi dipengaruhi oleh struktur kristal
spesimen. Berdasarkan grafik energi vs temperatur, struktur FCC tidak memiliki
temperatur transisi, namun pada struktur BCC terdapat temperatur transisi. Hal
tersebut disebabkan oleh jumlah bidang slip yang dimiliki tiap struktur. Pada
struktur FCC, bidang slip yang dimiliknya adalah 12, sedangkan struktur BCC
hanya memiliki 8 bidang slip. Karena bidang slip FCC lebih banyak, maka atomatom pada struktur FCC akan lebih mudah bergerak. Karena atom-atom pada
struktur FCC mudah bergerak, maka spesimen dengan struktur FCC akan lebih
mudah terdeformasi. Struktur BCC memiliki bidang slip lebih sedikit sehingga

Page 31 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

atom-atomnya lebih sulit untuk bergerak. Karena atom-atomnya sulit bergerak,


maka spesimen dengan struktur BCC sulit untuk terdeformasi. Karena dari awal
struktur FCC mudah melakukan slip, dengan adanya kenaikan temperatur
membuat spesimen dengan struktur FCC semakin mudah bergerak sehingga pada
struktur FCC tidak terdapat temperatur transisi. Namun, pada struktur BCC yang
sulit melakukan slip, dengan adanya kenaikan temperatur membuat spesimen
dengan struktur BCC yang awalnya sulit melakukan slip menjadi mudah
melakukan slip sehingga pada struktur BCC terdapat temperatur transisi.

Pada pengujian impak ini spesimen akan mengalami patah ulet atau patah
getas. Patah ulet dan patah getas memiliki ciri-cirinya masing-masing. Ciriciri
patah ulet yaitu spesimen akan terdeformasi plastis, permukaan patahan tidak rata
karena beban yang diberikan menumbuk batas butir dari spesimen. Batas butir
memiliki kekuatan yang lebih tinggi dari butir sehingga batas butir dapat menahan
beban yang diberikan dan membuat spesimen terdeformasi plastis. Karena
permukaan patahan tidak rata, maka permukaan patahan ulet juga akan cenderung
tidak mengkilap. Sedangkan ciri-ciri patah getas yaitu spesimen tidak akan
mengalami deformasi plastis. Permukaan patahan akan rata karena beban yang
diberikan mengenai butir, dimana butir lebih lemah daripada batas butir sehingga
butir yang terkena beban tidak dapat menahan beban yang diberikan dan
menyebabkan permukaan patahan yang terjadi rata. Karena permukaan
patahannya rata, maka permukaannya akan cenderung mengkilap.

Page 32 of 33

Catia Julie Aulia


13714035

Prosedur percobaan impak ini yaitu menyiapkan 10 buah spesimen,


dimana 5 buah spesimen baja dan 5 buah spesimen alumunium dengan V Notch
sesuai dengan standar ASTM E23. Setelah itu spesimen yang telah disiapkan
diukur dimensinya dan diberi nomor. Dua buah spesimen baja dan dua buah
spesimen alumunium dipanaskan dengan menggunakan heater hingga masingmasing spesimen mencapai temperatur 40oC dan 80oC. Kemudian dua buah
spesimen baja dan dua buah spesimen alumunium yang lainnya didinginkan
dengan menggunakan nitrogen cair hingga masing-masing spesimen mencapai
temperatur -20oC dan -40oC. Satu buah spesimen baja dan alumunium sisanya
tidak diberikan perlakuan. Kemudian spesimen yang telah diberi perlakuan
diletakkan pada mesin uji impak. Beban yang ada dinaikkan kemudian dilepaskan
hingga menumbuk spesimen. Kemudian nilai energi yang diserap oleh spesimen
dicatat. Lalu percobaan diulangi untuk semua spesimen.
Pengujian impak ini banyak dilakukan di indusri terutama pada industri
otomotif. Pengujian impak dilakukan untuk mengetahui apakah energi yang
diterima oleh material dapat diserap atau dialirkan. Untuk industri mobil, material
yang baik adalah material yang dapat menyerap energi akibat tabrakan, bukan
yang dapat mengalirkan energi. Oleh karena itu pengujian impak ini dilakukan
untuk mengetahui apakah material yang digunakan aman digunakan apabila
mendapatkan beban impak atau tidak.

Page 33 of 33

Anda mungkin juga menyukai