Anda di halaman 1dari 33

1

BAB XII
EVALUASI / PENILAIAN KURIKULUM
A. Pendahuluan
Tidak diragukan lagi bahwa aspek terkait bagaimana sebuah
kurikulum direncanakan dan dilaksanakan sangat berpengaruh pada kualitas
akhir sebuah program atau kurikulum. Karena itu, proses yang digunakan
untuk mendefinisikan dan menentukan kualitas menjadi sangat penting.
Peran dari penilaian dalam sebuah pengembangan kurikulum menjadi satu
hal yang tidak bisa diabaikan. Ketika pemberdayaan secara optimal hal
tersebut telah dilakukan, maka penilaian dapar digunakan untuk memastikan
bahwa kurikulum dilaksanakan dalam kualitas yang terbaik, dan juga
ketidakefisienan dapat terdidentifikasi sebelum menimbulkan dampak buruk
yang sangat besar kerugiannya.
Pertanyaannya kemudian terletak pada apa sebenarnya hakikat dari
penilaian dalam sebuah kurikulum? Dalam konteks pemgembangan
kurikulum, penilaian didefinisikan sebagai penentuan kelebihan/kekuatan
dan kekurangan/kelemahan dari sebuah kurikulum (atau satu bagian dari
sebuah unit kurikulum). Hal ini meliputi pengumpulan informasi yang
digunakan untuk menilai / menentukan kualitas dari kurikulum, program atau
materi kurikulum yang bersangkutan. Untuk menilai kurikulum secara
keseluruhan merupakan satu hal yang sangat kompleks dan menyita banyak
waktu. Oleh karena itu, sering kali penilaian difokuskan pada program dan
materi kurikulum. Meskipun antara program dan materi kurikulum sangat erat
hubungannya, akan tetapi evaluasi yang diterapkan pada keduanya memiliki
fokus yang berbeda. Hal ini sangat mudah dijumpai dalam berbagai literatur
penilaian, bahwa terdapat perbedaan yang jelas antara penilaian program
pembelajaran dan penilaian terhadap materi pelajaran. Program sering
disamaakan / identik dengan kurikulum, karena itu hal tersebut secara logis
berfokus pada aspek formal pembelajaran dan secara tipikal fokus pada area
spesifik dari sebuah pembelajaran/ instruksional (seperti: agribisnis,
reprographics, child care dan sebagainya). Sementara itu, bahan ajar secara
tipikal dipandang sebagai bagian atau sub dari sebuah program
pembelajaran/ instruksional, seperti: pedoman belajar, modul-modul,
software komputer, naskah, atau paket multimedia yang dirasakan oleh
pengembang memiliki kemampuan yang lebih baik dari sekedar seorang
instruktur secara perorangan.
Setiap orang yang ingin melakukan penilaian tersebut, hendaknya
mengakui bahwa terdapat suatu teknik penilaian secara numerik
(berdasarkan angka-angka). Teknik-teknik tersebut berusaha membuat
pengkategorian secara kuantitatif atau secara naturalistik. Teknik kuantitatif
akan dicontohkan dalam bab ini, dengan penilaian yang berfokus pada
1

luaran program/ kurikulum secara spesifik, kriteria dan tujuan program yang
ingin dicapai. Sementara itu, teknik naturalistik tidak terlalu menekankan
pada hasil akan tetapi lebih menekankan pada proses penyampaian
program/kurikulum yang bersangkutan. Proses inqury dilaksanakan dalam
sebuah cara yang tidak terikat (luwes), proses penilaian dilakukan secara
kolaboratif dalam pelaksanaan pembelajaran. Bentuk atau contoh dari teknik
penilaian secara naturalistik adalah observasi dan wawancara partisipatif.
Keputusan untuk menggunakan teknik penilaian kuantitatif atau teknik
naturalistik sangat tergantung pada pemahaman filosofi dan kemampuan/
kecakapan dari pihak penilai. Secara ideal sebaiknya pemilihan penggunaan
kedua teknik tersebut didasarkan pada utilitas segenap potensi, dan bukan
berdasarkan perspektif pribadi. Akan tetapi pada kenyataannya hal ini tidak
sepenuhnya dapat terlaksana. Jika penilai kurikulum benar-benar ingin
bekerja efektif, penilai harus benar-benar menguasai kedua teknik ini secara
bersamaan, memiliki perspektif yang luas tentang penilaian, dan berfokus
pada apa yang menjadi perhatian pihak stakeholder program.
Oleh karena itu segenap data tertulis hendaknya dicurahkan untuk
optimalisasi penilaian kurikulum. Informasi yang disajikan dalam hal ini
hendaknya memberikan pijakan yang baik bagi pihak pengembang dalam
melakukan kegiatan penilaian kurikulum. Penekanan kerangka kerja
penilaian kurikulum harus sejalan dengan pengembangan kurikulum itu
sendiri. Selanjutnya, berbagai aspek perencanaan penilaian yang dibahas
meliputi tujuan penilaian dan pengembangan rencana penilaian.
Pelaksanaan penilaian program kemudian dijabarkan dan dilanjutkan dengan
penjabaran materi kurikulum. Pada akhirnya, segenap pemikiran tercurah
pada bagaimana hasil penilaian berdampak positif bagi pengembangan
kurikulum itu sendiri.
B. Sebuah Kerangka Kerja Untuk Evaluasi Kurikulum
Penilaian kurikulum pada pendidikan kejuruan dan teknologi sering
menjadi momok dan cenderung dihindari. Untuk itu banyak alibi-alibi pun
dimunculkan dengan pernyataan Setiap kali berinteraksi dengan siswa
selalu dilakukan penilaian atau penilaian telah dilakukan dengan baik setiap
saat. Akan tetapi faktanya hanya sebagian kecil dari kurikulum yang
mendapat penilaian secara ketat dan sistematis. Alasannya sangatlah
sederhana, pendidik merasa tidak memiliki cukup waktu, kecakapan, dan
kemampuan melaksanakan penilaian yang diperlukan secara komprehensif.
Oleh karena itu sangat jarang yang menyadari bahwa sebenarnya penilaian
itu tidak menghabiskan banyak waktu. Padahal kenyataannya banyak
pengembang kurikulum dapat melakukannya dengan mudah dan
memandangnya sebagai bagian yang tidak terpisahkan, jika saja standar
pengukuran dan penilaian yang baik telah digunakan. Terkait dengan
kecakapan penilaian, sebaiknya minimal ada seseorang dalam suatu instansi

pendidikan yang bersangkutan yang memiliki pengetahuan atau wawasan


penilaian kurikulum yang memadai dan bersedia menerapkan kemampuan
tersebut dengan penuh tanggungjawab. Dengan kata lain, para profesional
ini memposisikan diri sebagai pembimbing dalam hal penyusunan rencana
penilaian. Selanjutnya berkaitan dengan kecenderungan yang ada, sikap
atau cara pandang harus berubah bila menghendaki penilaian itu tidak hanya
memberikan dampak yang tidak signifikan pada perbaikan kurikulum.
Segenap pihak mulai dari top management sampai para guru atau instruktur
hendaknya menyadari dan mengintegrasikan penilaian ini sebagai upaya
pengembangan dan perbaikan kurikulum secara terus menerus.
Salah satu cara yang digunakan adalah dengan menerapkan sebuah
kerangka kerja penilaian kurikulum yang komprehensif. Dengan kata lain
penilaian kurikulum harus dilakukan secara sistematis dengan struktur urutan
aktifitas tertentu yang sarat makna. Ketika tuntutan kurikulum secara
kontemporer menjadi lebih komprehensif, maka begitu juga sistem penilaian
kurikulum juga harus komprehensif mulai dari aspek perencanaan,
pengembangan, penerapan dan perbaikannya. Ilustrasi berikut ini dapat
memberikan gambaran dari aspek-aspek yang terlibat dalam sebuah
penilaian kurikulum.

Input

Kontek
s
Perencanaan dan
Pengembangan
Kurikulum

Penerapan dan
Perbaikan Kurikulum

Produk

Proses

Keempat elemen penilaian kurikulum tersebut meliputi :

a. Konteks, yaitu segala sesuatu yang berada di luar lingkup kurikulum


tetapi memiliki pengaruh terhadapnya, dimana parameternya meliputi
fokus, tujuan dan sasaran.
b. Input yaitu berkaitan dengan keputusan pemilihan sumber daya dan
strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan dan sasaran
kurikulum.
c. Proses, yang berfokus pada penentuan apa dampak/ efek yang
diterima siswa selama mengikuti persekolahan/pembelajaran.
d. Produk, yang berkaitan dengan pengujian dampak kurikulum pada
siswa tamatan (alumni).
Model CIPP (context, input, process and product) telah dikembangkan oleh
Stufflebeam dan para pakar lainnya. Dari semua pendapat ahli tersebut
elemen kunci penilaiannya terletak pada ketelitian pengumpulan data atau
informasi yang akan dijadikan acuan pengambilan keputusan. Letak
penekanannya adalah pengambilan keputusan yang tepat (proper decission
making) sangat mempengaruhi kualitas akhir sebuah pengembangan
kurikulum. Penilaian pada ranah konteks dan input berfokus pada
pengumpulan informasi dan pembuatan keputusan yang berkaitan dengan
perencanaan kurikulum, pengembangan kurikulum, dan pengembangan
materi kurikulum/pembelajaran. Sementara penilaian pada ranah proses dan
produk berkaitan dengan penerapan kurikulum dan perbaikannya. Penilaian
proses berfokus pada dampak atau efek penerapan kurikulum pada
pengalaman belajar siswa (apakah materi mampu dikuasai oleh siswa ?).
Sementara penilaian produk berkaitan erat dengan dampak/efek kurikulum
terhadap mutu lulusan (apakah kurikulum berkontribusi terhadap kecakapan
kerja lulusan/tamatan ?).
Tanda panah pada ilustrasi gambar sebelumnya (gambar 12-1),
merefleksikan kesunyataan arah siklus penilaian kurikulum. Dalam hal ini
bisa saja terjadi arus siklus kembali ke konteks, imput, proses dan produk
secara periodik terjadi perubahan kurikulum sebagai akibat dari kajian-kajian
secara terus menerus. Oleh karena itu, kebutuhan akan penilaian secara
paralel pada tahap perencanaan, pengembangan, penerapan dan perbaikan
tersebut perlu dilakukan secara berkelanjutan.
1. Evaluasi Sebuah Kurikulum dalam Ranah Konteks
Penilaian dalam ranah konteks merupakan hal yang paling
mendasar dari sebuah proses pengembangan kurikulum. Hal ini berkaitan
dengan kurikulum yang seperti apa yang seharusnya diberikan? Apakah
yang menjadi tujuan dan sasaran dari kurikulum tersebut? Secara
realistik, sebuah upaya perencanaan komprehensif kemungkinan meliputi
semua elemen penting dalam penilaian konteks kurikulum. Secara
spesifik, penilaian konteks kemungkinan memberikan definisi dan

menjelaskan konteks lingkungan dimana kurikulum tersebut akan


diterapkan, mengidentifikasi kebutuhan yang digunakan sebagai kriteria
dalam pengambilan keputusannya, menentukan setiap kendala yang
dihadapi dalam rangka memenuhi kebutuhan tersebut. Agregat data dan
informasi yang dikumpulkan menjadi acuan dasar pengambilan keputusan
penentuan kurikulum, serta menjadi bagian atau penjabaran dari
pengembangan tujuan yang hendak dicapai oleh kurikulum yang akan
diterapkan.
Berikut ini adalah representasi dari sekian banyak pertanyaan
tentang kurikulum yang harus dicari jawabannya berkaitan dengan
penilaian konteks, yaitu:
a. Haruskah sebuah kurikulum itu diterapkan ?
b. Populasi siswa seperti apa yang akan disasar oleh kurikulum ?
c. Kelompok bisnis dan industri seperti apa yang akan disasar oleh
kurikulum ?
d. Sumberdaya apa saja yang tersedia dalam lingkungan tersebut?
e. Konten apa saja yang akan dimasukkan dalam kurikulum ?
f. Apa saja tujuan yang seharusnya dimiliki oleh kurikulum ?
g. Apa saja sasaran yang termasuk dalam kurikulum ?
Ada berbagai strategi dan pengukuran yang terkait dengan penilaian
konteks. Diantara hal-hal yang telah disinggung pada bagian (bab)
sebelumnya, meliputi : penilaian kebutuhan, analisis tugas, dan introspeksi.
Secara alamiah, penilaian konteks sedikit spekulatif, khususnya ketika
sebuah kurikulum baru diinisiasi dalam sistem pendidikan. Pengambilan
keputusan umumnya cenderung subjektif, ketika data-data otentik mungkin
tidak selalu tersedia. Teknik penilaian naturalistik kemungkinan besar dapat
digunakan dalam seting seperti ini, mengingat keberadaan deskripsi yang
jelas terkait lingkungan dimana kurikulum akan diterapkan sangat diperlukan.
2. Evaluasi Sebuah Kurikulum dalam Ranah Input
Penilaian terhadap input dengan fokus pada sumber dan strategi
pengambilan keputusan, memiliki implikasi yang penting bagi pengembang
kurikulum. Ketika kurikulum dipandang sebagai suatu tatanan struktur, maka
setiap upaya diarahkan untuk memastikan bahwa sumber yang terbaik telah
dipilih dengan benar dan ketentuannya juga ditentukan dengan cara yang
tepat. Pembuatan keputusan dalam hal ini terlalu sering hanya didasarkan
pada dugaan/asumsi bukan dengan data. Penilaian input dilakukan dengan
tujuan untuk membantu pengembang kurikulum dalam membuat keputusan
yang lebih objektif tentang bagaimana konten materi yang akan diberikan
kepada siswa. Hal ini diselesaikan dengan identifikasi secara sistematis dan
dilkukan oleh badan pendidikan yang memeiliki kapabilitas relevan, sumber
data untuk menilai tujuan kurikulum, dan rencana alternatif terkait
implementasi kurikulum (Stufflebeam et al., 1971; Webster, 1981). Sumbersumber yang dimaksud dapat berupa media, modul-modul, dan lingkungan

belajar, sampai dengan pemilihan strategi pembelajaran dan bentuk


pengamalan belajar yang terbaik bagi siswa. Informasi yang dimaksudkan
dalam identifikasi dan penilaian ini digunakan untuk memilih sumber dan
strategi yang spesifik untuk mencapai hasil yang terbaik dari penerapan
sebuah kurikulum.
Penggunaan penilaian input ini terkadang bertolakbelakang dengan
prasyarat dasar yang digunakan dalam pengambilan keputusan terkait
penerapan sebuah kurikulum pendidikan kejuruan atau pendidikan teknologi.
Ketika penilaian iput digunakan untuk menentukan bagaimana semua
sumberdaya diberdayakan secara optimal untuk mencapai luaran terbaik dari
sebuah kurikulum. Untuk itu asessor (penilai) seharusnya penilaian yang
dilakukan bedasarkan data-data otentik dan menjauhkan diri dari sikap
sewenang-wenang dalam hal melakukan evaluasi proses dan produk sebuah
program/kurikulum. Logika sederhananya: penilaian input lebih berfokus
pada hasil yang dikehendaki daripada hasil aktual (nyata). Dengan demikian,
sejauh mana penilaian input dapat bermakna tergantung pada hubungan
yang benar antara proses dan produk sebuah kurikulum. Sebagai contoh,
sebuah keputusan dibuat untuk memaksimalkan peran team teaching dalam
sebuah kurikulum, dengan asumsi bahwa team teaching akan dapat
memberikan penguasaan materi yang lebih banyak bagi siswa. Keputusan ini
tergolong tentatif sampai kemudian data otentik menunjukkan bahwa
memang benar team teaching dapat berkontribusi secara signifikan pada
hasil belajar siswa.
Pertanyaan terkait dengan penilaian input ini antara lain :
a. Materi dan pendekatan pembelajaran apa yang dipandang paling
berguna pada sebuah seting pembelajaran tertentu?
b. Materi dan pendekatan pembelajaran manakah yang paling cocok
untuk para instruktur (guru) dan juga para siswa ?
c. Bagaimana cara terbaik dalam mengiplementasikan pembelajaran?
d. Apa saja kemungkinan dampak/efek relatif jika diterapkan materi
dan pendekatan pembelajaran yang lain terhadap hasil belajar
siswa?
Pengumpulan data untuk penilaian input dapat berupa data yang relatif
sederhana sampai data yang kompleks. Hal ini tergantung pada kemampuan
instrumen yang digunakan dalam hal derajat objektifitas hasil penilaian.
Teknik yang dioptimalkan dalam proses pengumpulan data meliputi
kesepakatan kelompok, penilaian kelompok, tinjauan literatur dan kurikulum,
dan upaya penilaian secara kuatitatif serta secara naturalistik.
3. Evaluasi Sebuah Kurikulum dalam Ranah Proses
Penilaian proses umumnya sangat erat kaitannya dengan
pembelajaran itu sendiri. Sedangkan pada akhirnya semua penilaian
perlu difokuskan pada bagaimana kurikulum secara aktual membantu
siswa. Penilaian proses dikatakan berhasil baik ketika dampak seketika

sebuah pembelajaran dapat diperiksa dengan baik. Ketika penilaian


proses sejalan dengan implementasi kurikulum, maka semua informasi
yang berkaitan dengan elemen tersebut akan sangat berguna bagi
semua staf pengajar. Secara tradisional, penilaian proses terkait dengan
segala aspek yang termasuk dalam penilaian, akan tetapi semuanya
kembali terangkum dalam sebuah kerangka penilaian yang utuh.
Kenyataannya keberhasilan siswa dalam konteks inschool success
sangat penting, tetapi akan lebih baik jika keberhasilan berlanjut pada
konteks outschool success. Oleh karena itu, meskipun kesimpulan dari
penilaian proses sangat berguna bagi pengembangan kurikulum, akan
tetapi mungkin saja hal tersebut tidak sepenuhnya sejalan dengan
keberhasilan lulusan dalam konteks ketenagakerjaan nantinya.
Penilaian proses ini dapat digunakan untuk wahana pengujian
dalam berbagai lingkup atau area. Sebagai contoh, hal tersebut akan
tepat bila pengujian dilanjutkan manakala siswa yang telah menerima
serangkaian kurikulum atau program inovatif mampu memperlihatkan
kemampuan teknis (unjuk kerja) dengan baik. Beberapa contoh
pertanyaan berkaitan tentang penilaian kurikulum dalam ranah proses,
meliputi :
a. Seberapa baik kemampuan unjuk kerja siswa?
b. Apa batasan sebuah pembelajaran dapat dikatakan berkualitas dan
memiliki dukungan personil ?
c. Apa saja yang menjadi biaya dan kemanfaatannya berkaitan
dengan penerapan kurikulum?
d. Kelanjutannya dalam bentuk apakah siswa akan merasa puas
dengan pembelajaran yang telah diterimanya?
e. Komponen kurikulum mana yang dinilai tidak efisien ?
Penilaian tingkat keberhasilan proses jenisnya sangat beragam.
Salah satunya dapat dilihat dari tingkat capaian skor dalam sertifikat,
tanda tamat belajar diploma, derajat ketuntasan belajar, ketuntasan
program dan capaian hasil belajar siswa yang diukur dengan tes
terstandar (Hoachlander, 1991).
Demikian juga cara mengumpulkan data penilaian proses juga
sangat beragam, meliputi : penilaian kegiatan pembelajaran yang
dilakukan oleh guru/instruktur, pengukuran rating bagi instruktur,
pengukuran standar keberhasilan program, pengukuran oleh pakar/ahli,
dan
instrumen
penilaian
kemampuan
guru/instruktur
dalam
mengkonstruksi pengetahuan dan juga penilaian unjuk kerja instruktur.
4. Evaluasi Sebuah kurikulum dalam Ranah Produk
Penilaian hendaknya diletakkan lebih dari sekedar menempatkan
fokus pada keberhasilan siswa di sekolah. Pertimbangan utama
seharusnya dicurahkan kepada bagaimana kurikulum berkontribusi pada

mutu lulusan. Penilaian produk menggunakan mutu lulusan sebagai poin


penting yang menjadi ukuran kualitas sebuah program/kurikulum. Karena
produk akhir dari sebuah kurikulum adalah lulusan program, dan produk
ini juga termasuk siswa yang tidak lulus (jika ada). Hal ini perlu ditelusuri
dalam kaitan penilaian secara realistik tentang kebermaknaan atau
keberhasilan sebuah kurikulum.
Penilaian produk secara tipikal berlangsung pada tataran teknis di
lapangan (in the field), melalui pengumpulan informasi dari para pekerja,
pengawas industri, dan lulusan yang sudah bekerja. Sumber data ini
sangatlah penting, manakala penilaian proses dihadapkan pada
keberhasilan jangka pendek dalam lingkup sekolah. Berkaitan dengan
hal tersebut, beberapa pertanyaan terkait penilaian produk dari sebuah
kurikulum, meliputi :
a. Bagaimana mobilitas para lulusan (masa tunggu bekerja) ?
b. Bagaimana tingkat kepuasan lulusan dengan dunia kerja mereka?
c. Bagaimana pendapat industri tentang kinerja para lulusan?
d. Bagaimana tingkat adekuasi kurikulum dalam menyiapkan
individu siswa untuk bekerja ?
Pengukuran yang berkaitan dengan penilaian produk kurikulum harus
ditentukan dengan sangat teliti. Hal ini untuk memastikan bahwa
penilaian secara akurat dapat mencerminkan keefektifan sebuah
kurikulum. Diantara teknik-teknik pengukuran tersebut, teknik yang
paling sering digunakan dalam penilaian produk kurikulum yaitu: survey
keterampilan siswa, kepuasan kerja, dan nilai kebermanfaatan atau
kontribusi program/kurikulum bagi kemampuan kerja lulusan.
Pengumpulan informasi / data mungkin akan membutuhkan waktu yang
panjang karena terkait masalah ketenagakerjaan, meliputi : tingkat
keterserapan kerja lulusan, gaji awal lulusan, peningkatan pendapatan
lulusan, kepuasan industri terhadap lulusan, dan juga kepuasan lulusan
akan penghargaan oleh industri (Hoachlander, 1991). Pertimbangan
penilaian ini seharusnya ditujukan pada pemilihan teknik penilaian
secara naturalistik, seperti : ethnography, historiography, dan biography
untuk memotret deskripsi informasi yang cukup memadai berkaitan
dengan penilaian produk dari sebuah kurikulum.
5. Level atau Tingkatan Evaluasi Sebuah Kurikulum
Meskipun sebuah model penilaian kurikulum komprehensif telah
digunakan, fokus perhatiannya kemudian meningkat kepada penilaian yang
bersifat lebih spesifik. Perhatian akan hal tersebut dalam bentuk
implementasi penilaian pada elemen konteks, input, proses dan produk dari
sebuah kurikulum. Untuk merespon perhatian tersebut, maka sangat penting
untuk mempertimbangkan penggunaan penilaian kurikulum dalam level yang

berbeda-beda. Kirkpatrick (1994) sangat menganjurkan bahwa penekanan


penilaian seharusnya diletakkan pada dampak dari penerapan sebuah
kurikulum dengan fokus pada empat (4) level berbeda.
Level penilaian yang pertama, reaksi (level 1) menekankan pada
penentuan bagaimana seseorang personil bereaksi terhadap penerapan
sebuah kurikulum tertentu. Personil-personil yang dimaksud meliputi: siswa,
instruktur/guru, administrator pendidikan, pihak pemakai produk kurikulum,
yang semestinya bereaksi positif terhadap kurikulum. Apabila reaksi tersebut
sesuai dengan yang dikehendaki, maka keputusannya kurikulum tersebut
layak diterima dan diterapkan.
Level penilaian yang kedua, belajar (level 2) secara khusus ditujukan
pada peserta program (siswa). Apakah keterampilan, pengetahuan dan sikap
siswa mengalami perubahan sebagai akibat dari perbaikan yang mereka
lakukan (Kirkpatrick, 1994)?. Sebuah contoh misalnya: siswa dari sebuah
pelatihan kerja di bidang pemasaran yang menunjukkan perbaikan sikap
kepada pelanggan sebagai hasil dari pengalaman kerja secara sebagai sales
(pemasar) pada pusat perbelanjaan setempat (lokal).
Level penilaian ketiga, tingkah laku (level 3) berkaitan dengan
perubahan perilaku peserta program/ kurikulum tertentu. Penilaian pada level
tiga (3) ini berpusat pada perubahan perilaku dalam konteks penerapannya.
Sebagai contoh: peserta diklat yang mengikuti pedidikan dalam sebuah
akademi penerbangan dan kedirgantaraan sampai tamat cenderung memiliki
kehadiran dan grade (prestasi) yang lebih baik jika dibandingkan dengan
rekan kerjanya yang tidak mengikuti pedidikan academi penerbangan dan
kedirgantaraan.
Level penilaian keempat, hasil (level 4) diarahkan pada keseluruhan
hasil atau luaran dari sebuah program/kurikulum. Sebagai contoh misalnya:
persentase dari lulusan program perawat kesehatan yang telah lulus ujian
negeri tentang keperawatan, dalam perspektif skor ujian yang diperolehnya
pada kesempatan pertama menerapkan semua ilmu yang didapatkannya
dalam program perawat kesehatan.
Sebagai lanjutan dari level penilaian yang berkaitan dengan keempat
elemen penilaian, dapat dicermati pada tabel berikut.
Tabel. Penerapan Level Penilaian pada Elemen Penilaian
Elemen
Penilaian
Konteks
Input

Reaksi
+
+

Level Penilaian
Belajar
Tingkah Laku
0
0
+
0

Hasil
-

10

Proses
Produk

0
0

+
0

+
+

0
+

Dalam tabel terlihat bahwa kontribusi dari masing-masing level berkisar dari
lebih besar (+) ke lebih kecil (-). Meskipun demikian keempat level mungkin
saja diterapkan pada elemen penilaian konteks, input, proses dan produk.
Semuanya akan sangat bermanfaat ketika digunakan pada situasi yang
karakteristiknya sesuai/cocok. Oleh karena itu, meskipun pada nilai reaksi
peserta lebih besar pada elemen penilaian konteks dan input, akan tetapi
nilai reaksi peserta pada elemen penilaian proses dan produk cenderung
lebih kecil.
C. Perencanaan Evaluasi Sebuah Kurikulum
Beberapa pihak mungkin beranggapan bahwa penilaian itu hanyalah
formalitas, dan menganggap bagaimanapun itu akan sangat jauh dari
kesunyataan objek yang dinilai. Kualitas dari sebuah penilaian akan sangat
tergantung pada intensitas dan jenis perencanaan penilaian yang dilakukan.
Perencaan sebuah penilaian kurikulum sarat makna biasanya berhadapan
pada kebutuhan waktu yang cukup lama dengan upaya-upaya sistematik.
Proses penilaian dibuat dalam beberapa elemen kunci, meliputi: penyusunan
tujuan dan standar penilaian; dan pengembangan rencana penilaian
komprehensif.
1. Tujuan dan Standar Penilaian
Semua pengembangan kurikulum saat ini berisikan tujuan atau
indikator kinerja yang memberikan spesifikasi aktifitas yang harus
diselesaikan, kondisi dimana aktifitas dilakukan, dan level kinerja yang
diterima/memenuhi kriteria minimal. Meskipun indikator kinerja sangat
baik dalam perspektif instruksional, akan tetapi hal tersebut tidaklah
berhubungan langsung dengan proses penilaian kurikulum.
Hal ini terlihat sangat efisien ketika berfokus pada indikator dan
standar penilaian yang berkaitan dengan kualitas dari sebuah kurikulum.
Dengan mengasumsikan bahwa seorang pengembang kurikulum tertarik
untuk menilai beberapa materi seperti modul-modul yang diharapkan
memiliki kualitas terbaik. Dengan menterjemahkan pernyataan yang
agak samar menjadi standar yang lebih eksplisit terkait kualitas yang
dinilai, maka pengembang kurikulum sebaiknya berusaha menjawab
beberapa pertanyaan umum berikut:
a. Apakah siswa menguasai modul pembelajaran ?
b. Apakah setiap modul pembelajaran dapat diterima atau dipahami?
c. Dapatkan materi pembelajaran tersebut digunakan dalam seting
pembelajaran reguler?

11

Langkah logis berikutnya adalah mengembangkan pertanyaan yang


lebih detail berkaitan dengan masing-masing cakupan area tersebut.
Beberapa pertanyaan yang muncul terkait cakupan secara umum
tersebut antara lain:
a. Apakah siswa mencapai masing-masing penguasaan modul
pembelajaran ditinjau dari indikator pengalaman belajar?
b. Apakah siswa memiliki sikap yang baik dengan diterapkannya
pembelajaran dalam bentuk modul?
c. Apakah guru memandang bahwa modul pembelajaran dapat
memberikan kontribusi pada proses belajar-mengajar?
d. Akankah penggunaan modul memerlukan fasilitas khusus?
e. Akankah penggunaan modul memerlukan peralatan khusus?
f. Akankah penggunaan modul memerlukan sumber belajar lain?
Langkah selanjutnya, menempatkan pertanyaan pertama dan
menggabungkannya
dengan
indikator
kinerja.
Kita
dapat
mengembangkan sebuah indikator dan standar penilaian, misalnya :
Setelah siswa mempelajari masing-masing modul pembelajaran, 70%
siswa harus menyelesaikan masing-masing pengalaman pembelajaran
dan harus menguasai tujuan atau indikator pembelajaran dalam sebuah
pengalaman belajar yang diberikan pada kesempatan percobaan
pertama.
Upaya penspesifikasian pada level ini sangatlah penting ketika
materi kurikulum sedang dinilai, karena hal tersebut memberikan satu
definisi yang jelas tentang level kontrol kualitas dan titik balik siklus
penilaian. Jika standar penilaian belum dicapai, maka modul
pembelajaran perlu direvisi dan dinilai kembali kelayakannya. Nilai 70%
terlihat agak berlebihan, mengacu pada jenis materi pelajaran yang
dilibatkan, karakteristik siswa, dan taraf kesalahan (error) terkait proses
pengujian.
Untuk pertanyaan kedua mungkin bisa dijabarkan dalam indikator
penilaian berikut ini.
Setelah siswa menyelesaikan masing-masing modul pembelajaran,
80% siswa harus mencapai skor 160 atau lebih tinggi saat diukur
dengan instrumen inventory sikap belajar.
Pengadministrasian instruktur terkait pembelajaran modular harus
menampilkan reaksi yang positif minimal 80% dari keseluruhan item
yang ada pada form reaksi instruktur.
Masing-masing indikator dan standar penilaian ini dikombinasikan
dengan sebuah instrumen untuk memastikan akurasi penilaian dapat
terwujud. Indikator sikap menggunakan sejumlah skala instrumen,

12

dengan masing-masing item yang terkumpul untuk membentuk


sebuah skor penilaian sikap kumulatif (gabungan). Indikator
persempsi menggunakan format dengan item yang dinilai sendirisendiri (individual). Dalam kasus ini skor item tidak dijumlahkan.
Item-item tersebut diuji secara tersendiri dengan minimal 80%
penyajian masing-masing instruktur sebagai acuan standarnya.
Untuk pertanyaan ketiga mungkin akan terjawab dengan cara
membaca modul dan melakukan spekulasi menggunakan peralatan
khusus yang dibutuhkan atau mungkin tidak dibutuhkan. Meskipun
demikian, ketika ujian riil terhadap kualitas terjadi ketika materi sedang
diterapkan, indikator atau standar penilaian berikut kemungkinan
dikembangkan :
Dengan tidak adanya instruktur yang menggunakan modul
mengidikasikan bahwa materi mensyaratkan penggunaan fasilitas
khusus.
Dengan tidak adanya instruktur yang menggunakan modul
mengidikasikan bahwa materi mensyaratkan penggunaan peralatan
khusus.
Dengan tidak adanya instruktur yang menggunakan modul
mengidikasikan bahwa sumber belajar tambahan tertentu diperlukan.
Ada sejumlah indikator dan standar penilaian tambahan yang
dapat disajikan. Meskipun demikian, salah satunya dibuat untuk
mengilustrasikan rentang kemungkinan yang digunakan oleh seorang
assessor. Apakah ia bertugas untuk menilai materi kurikulum, sebuah
program khusus, atau keseluruhan kurikulum. Hal ini sangat penting
bahwa perencanaan penilaian harus memiliki makna dan indikator
penilaian yang terukur. Dengan kata lain, sama sekali tidak terlalu
banyak aspek yang perlu dikahawatirkan dalam membuat sebuah
perencanaan penilaian.
2. Mengembangkan Rencana Penilaian
a. Kebutuhan akan perencanaan penilaian
Ada beberapa alasan untuk menggunakan sebuah rencana
penilaian. Pertama terkait dengan manfaat umum dari perencanaan.
Jika sebuah evaluasi dilaksanakan tanpa perencanaan tertentu,
hasilnya mungkin berupa kesalahan desain pengumpulan data,
kesalahan data atau hasil yang tidak valid. Dari sudut pandang
praktis, waktu yang dihabiskan dalam proses perencanaan sangat
besar kontribusinya dalam menentukan kualitas kurikulum secara
akurat. Perencanaan dapat menuntun pengembang kurikulum dalam

13

mengatasi bebrapa potensi masalah seperti : penjadwalan,


pengumpulan data dan analisis data.
Alasan kedua dari perencanaan penilaian berkaitan dengan
dokumentasi. Sebagai contoh, meskipun semua materi kurikulum
telah diuji coba, dan para pengguna kadang juga melihat detail hasil
uji coba. Apa yang menjadi tujuan perencanaan penilaian adalah
membantu pengembang kurikulum melakukan prosedur dokumentasi,
dan hasilnya akan dimasukkan dalam proses analisis data.
Dokumentasi evident (bukti fisik) ini, bersama dengan cara
pengumpulannya, kemungkinan akan digunakan oleh orang lain untuk
memeriksa seberapa baik materi kurikulum mampu memenuhi
kebutuhan mereka.
b. Komponen Perencanaan Penilaian
Rencana penilaian secara tipikal terdiri dari empat komponen.
Setiap komponen menyajikan hal berguna dalam mengklarifikasi
penilaian dengan menjabarkan apa yang hendak dinilai? mengapa hal
ini dinilai? dan bagaimana cara hal tersebut dinilai? Tentunya pada
beberapa penilaian kurikulum kemungkinan dilaksanakan tanpa
terlebih dahulu mengembangkan prencanaan detail. Meskipun
demikian untuk diingat bahwa isi perencanaan itu penting ketika akan
melakukan penilaian. Secara tipikal komponen dari perencanaan
penilaian terdiri dari: (1) pendahuluan; (2) program penilaian kurikulum
atau deskripsi materi; (3) desain penilaian; dan (4) deskripsi laporan
penilaian. Contoh daftar isi dari sebuah rencana penilaian/evaluasi
kurikulum dapat disajikan pada bagian berikut.

I.

II.

III.

Pendahuluan
A. Kriteria Penilaian
B. Pendekatan Penilaian
C. Manfaat yang diperoleh dari penilaian
D. Indikator dan Standar Penilaian
Deskripsi Kurikulum
A. Tujuan kurikulum
B. Philosopi dan Konten Kurikulum
C. Prosedur Kurikulum
D. Populasi Siswa
E. Setting Kurikulum
Desain Penilaian
A. Hambatan
B. Kerangka Kerja atau Model Penilaian
C. Kesesuaian Desain Penilaian
D. Penentuan Indikator dan Standar Hasil Belajar
E. Sumber Data / Informasi
F. Metode Pengumpulan Informasi/ Data

12

14

G. Prosedur Analisis
H. Jadwal / Agenda Kegiatan
I.
Anggaran Biaya
IV. Deskripsi Laporan Penilaian
Lampiran A : Instrumen Penilaian

18
19

c. Pendahuluan
Pada bagian perencanaan penilaian ini, kriteria penilaian telah
terspesifikasi. Sangat penting untuk memastikan bahwa kriteria
penilaian telah disusun secara jelas, sehingga pihak lain dapat
mengetahui alasan mengapa bagian tertentu dari kurikulum harus
dinilai. Oleh karena itu perencanaan penilaian mungkin dapat
membantu menjelaskan ide penilaian atau untuk meyakinkan pihak
lain untuk mengetahui arah penilaian. Bagian rasionalisasi dapat
menyajikan pengenalan terhadap proses penilaian dan merangsang
pembaca untuk menggali lebih jauh informasi yang disajikan. Dengan
kata lain, pendekatan penilaian secara umum seharusnya telah
ditentukan. Hal ini akan dapat menggiring pemahaman pembaca
terhadap keseluruhan lingkup/skope penilaian. Item terakhir dari
bagian ini terdiri dari detail manfaat yang diperoleh dari pelaksanaan
penilaian. Manfaat tersebut seharusnya berfokus pada kelompok yang
menerima program (misal : siswa dan instruktur) dan bagaimana hasil
evaluasi ini dapat membantu mereka secara nyata.
d. Deskripsi Kurikulum
Sebagai salah satu item prencanaan, pada bagian ini sangat
untuk, menjelaskan secara langsung tentang kurikulum, program atau
materi pembelajaran yang dinilai. Tujuan pembelajaran yang buat dan
konten materi dipaparkan secara jelas. Demikian juga aspek keunikan
materi perlu juga dijelaskan. Item seperti media dan personil
pendukung pelaksanaan kurikulum juga harus dijelaskan. Dan yang
terakhir, perlu juga menjelaskan karakteristik siswa penerima materi
dan seting pembelajaran yang digunakan.
e. Desain Penilaian
Desain penilaian ini merupakan jantung dari perencanaan. Bagian
ini dibangun berdasarkan rasionalisasi, tujuan / indikator dan deskripsi
tentang cara-cara tertentu sehingga data-data relevan dapat
dikumpulkan dan hasil yang valid dapat dihasilkan. Desain ini
hendaknya dibuat dengan mempertimbangkan kemungkinan
hambatan-hambatan yang akan dihadapi dalam proses penilaian
kurikulum tersebut. Sebagai contoh, ada beberapa faktor yang
berpengaruh, seperti : waktu, biaya, peraturan / hukum yang mungkin
membatasi lingkup penilaian. Hal-hal tersebut harus dipaparkan

15

secara detail sehingga para pembaca nantinya paham tentang alasan


mengapa penilaian dilaksanakan dengan pendekatan atau cara
tertentu. Informasi dibutuhkan untuk menentukan sudah atau
belumnya tujuan / indikator keberhasilan yang tercapai secara detail.
Informasi ini juga meliputi sumber data dan sekumpulan metode, juga
sekumpulan jadwal atau agenda kegiatan penilaian. Entah penilaian
merupakan user survey yang sederhana atau desain eksperimen yang
rumit, detail tentang proses yang digunakan untuk mengumpulkan
data harus terspesifikasi secara pasti. Begitu juga teknik analisa data
yang digunakan harus ditentukan secara jelas. Meskipun pada
kenyataannya proses analisis data tergantung pada karakteristik
masing-masing data, penting untuk diingat bahwa berbagai cara
tersebut dilakukan untuk hasil yang terbaik. Dalam desain ini juga
perlu menampilkan anggaran biaya yang digunakan dalam penilaian.
Penjabaran dari anggaran harus jelas berkaitan dengan prosesproses yang dilakukan dalam penilaian. Item anggaran biaya yang
terkover meliputi : biaya cetak, perjalanan, pengolahan data,
pengetikan dan biaya personal. Instrumen yang digunakan dalam
mengumpulkan data harus dilampirkan, agar pembaca dapat
mengetahui cara yang digunakan untuk memperoleh hasil penilaian
yang paling optimum.
Instrumen-instrumen tersebut terdiri dari
instrumen terstandar dan bukti validasi berupa draft awal instrumen
sebelum penilaian sebenarnya dilaksanakan.
f. Laporan Penilaian
Bagian ini sangat penting sebagai suatu bentuk perencanaan dari
pembuatan perbaikan berkala dan pendistribusian laporan penilaian
secara formal. Dalam laporan ini seharusnya memuat data kualitas
dan proses yang telah berlangsung dengan indikator yang ditetapkan
dengan jelas. Dalam berbagai contoh, perencaan penilaian
sebelumnya dapat menjadi acuan dasar pelaporan tersebut. Dengan
sedikit modifikasi, tiga bagian pertama dari perencaan penilaian dapat
menjadi bagian awal laporan yang komprehensif. Terkait dengan hasil
penilaian, kesimpulan dan rekomendasi merupakan bentuk laporan
yang lebih mudah diterima oleh manajemen atau sponsor program
tersebut. Suatu outline (sistematika) laporan yang dibuat secara
berkala ini akan memberikan informasi kepada pembacanya tentang
ekspektasi apa yang ingin diketahui dari upaya penilaian tersebut.
Laporan ini biasanya tidak ditujukan secara khusus ke pihak tertentu,
akan tetapi paling tidak bagi pihak-pihak yang berkepentingan pada
program atau kurikulum tertentu (seperti : instruktur pada sekolah

16

khusus, manajemen pda tingkatan tertentu, dan pihak pengembang


kurikulum yang lain).
D. Instrumen Untuk Penilaian Program dan Materi dari Sebuah Kurikulum
a. Instrumen Penilaian Pengetahuan
Apabila tujuan pembelajaran adalah untuk menghasilkan
perubahan dalam area kognitif, maka tes pengetahuan mungkin perlu
dikembangkan untuk penilaian. Seperti yang baru saja diungkapkan,
seorang pengembang kurikulum sering dihadapkan pada tugas untuk
mengembangkan instrumen, sementara di lapangan sudah ada yang
menyediakan instrumen secara komersial yang berkaitan erat dengan
luaran program.
Beberapa buku yang tersedia, menjelaskan tentang prosedur yang
digunakan
untuk
mengembangkan
instrumen
penilai
aspek
pengetahuan. Pengembang kurikulum harus dapat memilih dengan tepat
sebuah buku penilaian terapan yang baik dan menggunakan sebagai
pemandu dalam proses pengembangan instrumen. Tentunya poin sentral
dari pengembangan instrumen terletak pada relevansi konsepnya.
Instrumen apa pun harus secara langsung berfokus pada luaran
program. Jika ini tidak terpenuhi, maka program atau materi
kemungkinan tidak akan dapat terukur dengan baik ketika dinilai. Hal
yang tidak kalah pentingnya dalam hal pengembangan instrumen penilai
aspek pengetahuan adalah pembentukan validitas dan reliabilitas
instrumen. Elemen tersebut dapat mempengaruhi keberhasilan sebuah
penilaian, karenanya hal itu menjadi faktor penting dalam dalam proses
pengembangan instrumen. Ketika sebuah instrumen penilai aspek
pengetahuan sedang dipilih atau dikembangkan, sangat penting untuk
bagi sebuah instrumen untuk memiliki validitas dan reliabilitas, sehingga
tidak ada tanda tanya terkait muatan atau konten dari instrumen
tersebut.
b. Instrumen Penilaian Sikap dan Pendapat

Instrumen penilaian sikap dan pendapat befokus langsung pada


aspek affektif dari kualitas program dan materi pembelajaran. Instrumen
sikap biasanya sulit dikembangkan, mengingat sikap biasanya
penilaiannya lebih sering dilakukan secara tidak langsung dari pada
secara langsung. Hal ini memerlukan prosedur yang lebih subjektif yang
nantinya berkaitan dengan penilaian aspek pengetahuan. Dalam
pengembangan instrumen penilaian sikap, seorang pengembang tidak
cukup hanya sekedar menuliskan itemnya, kemudian membagikannya
ke siswa, dan kemudian diperoleh skor gabungan dari setiap individu
(siswa). Instrumen penilaian sikap harus valid dan reliabel serta
memenuhi standar dasar penilaian pendidikan. Sebagai contoh, sebuah

17

instrumen dengan skala Likert dengan skor yang dijumlahkan untuk


menghasilkan skor gabungan (kumulatif). Ada juga bentuk lain, misalnya
instrumen dengan pendekatan skala Thurstone dan Semantik Differential
yang mungkin berfungsi dengan baik untuk berbagai situasi penilaian.
Tipe instrumen pendapat atau angket jajak pendapat menawarkan
salah satu cara untuk mengumpulkan informasi tentang perhatian
spesifik dari pihak pengguna program. Instrumen jajak pendapat terdiri
dari beberapa item yang berfokus pada area yang berbeda-beda. Setiap
item kemudian mewakili entitas yang berbed-beda, sehingga skor item
tidak dijumlahkan untuk menghasilkan skor gabungan (kumulatif).
Manfaat yang diperoleh dari penggunaan instrumen ini bergantung pada
kemampuannya menggali informasi terkait celah-celah kelemahan
yang dimiliki oleh program/kurikulum. Instrumen jajak pendapat
memungkinkan pengembang kurikulum untuk memperoleh umpan balik
dari pengguna tentang aspek spesifik dari program atau materi
kurikulum. Contohnya, item yang menanyakan pada siswa seberapa
jelas tujuan / indikator keberhasilan belajar atau menanyakan pada
instruktur sebearapa relevan pengalaman belajar yang terjadi karena
penerapan program tersebut. Manfaat lain yang dimiliki oleh instrumen
ini yaitu kemampuannya untuk memperoleh tingkat kepuasan pengguna
terhadap materi atau program yang diberlakukan. Jika pertanyaan yang
diajukan untuk instruktur yaitu apakah anda akan menggunakan kembali
materi ini untuk kelas yang lain?. Respon kolektif mereka Ya atau Ya
tetapi dengan revisi atau tidak. Hal ini akan memberikan masukan
yang baik kepada pengembang kurikulum seberapa tinggi tingkat
penerimaan pengguna atau pemahaman user yang dimiliki oleh materi
atau program tersebut. Selain itu, instrumen jajak pendapat ini
memberikan respon informasi secara bebas dari pengguna tentang
seberapa baik program atau materi kurikulum dapat diterima. Meskipun
data atau informasi ini sangat sulit untuk diterjemahkan (coding),
mungkin saja hal ini memiliki kelebihan dan kekurangan tertentu. Dalam
kesempatan ini temuan data bisa didiskusikan dengan pengguna untuk
menentukan secara jelas di bagian manakah dari materi yang harus
diperbaiki/ direvisi.
c. Instrumen Penilaian Kinerja

Instrumen penilaian kinerja digunakan ketika suatu program atau


materi pembelajaran didesain untuk mengembangkan kabilitas siswa
menampilkan tugas atau aktifitas tertentu dalam setting pembelajaran
praktikum. Salah satu aspek kunci dalam pengembangan instrumen
penilaian kinerja adalah validitas isi (content validity). Aspek kunci yang
dimaksud, apakah konten dari instrumen dapat menggambarkan secara
akurat unjuk kerja yang dipersyaratkan dalam suatu setting

18

pembelajaran praktikum tertentu? Jika kriteria instrumen ini tidak


terpenuhi, maka instrumen tidak akan mampu menyajikan gambaran
yang sebenarnya terkait kemampuan unjuk kerja siswa. Kriteria
tambahan terkait pengembangan instrumen yaitu menentukan seberapa
mudah instrumen dapat dikerjakan secara administratif oleh siswa.
Bahkan pada Instrumen penilaian kinerja yang paling valid sekalipun
akan menimbulkan masalah, jika instrumen tidak dapat dikerjakan
secara adminstrasi oleh siswa dengan relatif mudah.
Instrumen penilaian kinerja kemungkinan telah menjadi bagian
dari program atau materi pembelajaran. Jika kasusnya seperti ini,
permasalahan instrumentasi teratasi, sementara penilaian kinerja dapat
dilaksanakan sambil siswa menyelesaikan kegiatan pembelajaran yang
dipersyaratkan. Jika Instrumen penilaian kinerja tidak termasuk dalam
program atau materi pembelajaran, unjuk kerja kemungkinan akan dinilai
dalam sesi penilaian khusus. Selain itu situasi yang harus dipastikan
oleh penguji terkait lingkungan pengujian bahwa siswa telah diberikan
kesempatan yang sama untuk menampilkan kemampuan terbaiknya.
Area terkait uji kemampuan unjuk kerja yang dikembangkan meliputi
(tidak dibatasi) : pemasaran, perawatan, diagnosa, penyetelan,
pembangunan, penampilan, pemilihan, penghitungan, perencanaan,
penggambaran,
pengadministrasian,
persiapan,
perbaikan,
pengembangan dan pengkompilasian.

Contoh Instrumen Jajak Pendapat Tentang Paket Pembelajaran


Berbasis Komputer
A. Reaksi Spesifik
Instruksi : Bacalah setiap pernyataan berikut. Lingkari pilihan jawaban di
sebelah kanan masing-masing pernyataan yang paling mendekati representasi
pendapat anda terkait paket pembelajaran mikrokomputer ini. Pilihan jawaban
di sebelah kanan meliputi :
SS = Sangat Setuju
S = Setuju
TS = Tidak Setuju
STS = Sangat Tidak Setuju
Respon dengan pertimbangan seksama yang anda berikan secara pasti akan
digunakan dalam merevisi paket pembelajaran ini.
1.
2.
3.

Saya dengan mudah memahami setiap tujuan paket


pembelajaran sebelum saya mulai melakukan
pengalaman pembelajaran.
Setiap pengalaman pembelajaran membimbing saya
dalam
menguasai
tujuan
pembelajaran
yang
bersangkutan.
Saya menyadari sepenuhnya progres yang saya
lakukan saat Saya bekerja dengan paket pembelajaran

SS

TS

STS

SS

TS

STS

SS

TS

STS

19

4.
5.
6.
7.

ini.
Evaluasi diri, lembar penilaian rating, dan ceklist telah
dapat mengukur penguasaan materi saya terkait
dengan tujuan pembelajaran
Pengalaman belajar telah membuat pengunaan waktu
terbaik saya dalam rangka menguasai tujuan
pembelajaran
Saya merasa materi pembelajaran telah membantu
saya dalam menguasai tujuan paket pembelajaran ini.
Saya merasa indikator kinerja yang ada dalam paket
pembelajaran ini sangat penting bagi kesuksesan saya
dalam program ini.

SS

TS

STS

SS

TS

STS

SS

TS

STS

SS

TS

STS

B. Reaksi Umum
Instruksi: Pada bagian ini kami menginginkan reaksi anda terkait berbagai
aspek pada paket pembelajaran mikrokomputer yang anda sukai dan tidak
sukai.
1. Apakah yang paling anda sukai dari paket pembelajaran ini ?
a.
b.
c.
2. Apakah yang paling anda tidak sukai dari paket pembelajaran ini ?
a.
b.
c.
3. Apakah anda komentar tambahan ?
...............................................................................................................
...............................................................................................................
Contoh Instrumen Jajak Pendapat Tentang Komputer
Nama : ................................................. Sekolah : ....................................
Petuntuk :
Berikut ini disajikan beberapa pernyataan tentang komputer yang telah anda
gunakan di kelas. Bacalah masing-masing pernyataan secara seksama dan
indikasikan selanjutnya bahwa anda setuju atau tidak setuju menurut skala
berikut.
STS = Sangat tidak setuju
TS = Tidak setuju
S = Setuju
SS = Sangat setuju
Lingkarilah respon yang anda berikan
1.
2.
3.
4.
5.

Komputer memerlukan banyak peawatan


Komputer memfasilitasi siswa saya cara yang
baik untuk mempelajari suatu keterampilan
Komputer sebaiknya digunakan untuk hal-hal
yang berkaitan dengan materi pembelajaran,
seperti booklet dan lembar pembelajaran
Komputer sebaiknya diletakkan di ruang kelas
Komputer
sebaiknya
digunakan
pada

STS
STS

TS
TS

S
S

SS
SS

STS

TS

SS

STS
STS

TS
TS

S
S

SS
SS

20

6.
7.
8.
9.

pembelajaran di kelas
Pembongkaran komputer tidak sering terjadi
Komputer seharusnya ditempatkan juga di area
loboratorium
Instruktur seharusnya menyediakan waktu untuk
mengembangkan materi pembelajaran yang
dapat digunakan dengan komputer
Siswa sebaiknya bekerja dengan komputer
secara bekelompok

STS
STS

TS
TS

S
S

SS
SS

STS

TS

SS

STS

TS

SS

d. Instrumen Penilaian Portofolio

Meskipun portofolio telah digunakan sejak lama di bidang


arsitektur dan seni komersil, aplikasinya pada bidang pendidikan juga
tidak dapat dibatasi. Portofolio secara tipikal lebih digunakan untuk
penilaian siswa dalam jangka panjang, seperti progres terapan dalam
sebuah program/kurikulum. Apa yang seharusnya ada dalam sebuah
protofolio ? Jawabannya sangat beragam tergantung dari ekspektasi
yang muncul pada bidang study tertentu. Sebagai contoh, sebuah
portofolio yang dikembangkan untuk progtram teknologi automotif
mungkin agak berbeda dengan yang disiapkan untuk program computeraided design (CAD). Portofolio siswa program CAD mungkin meliputi :
contoh terbaik hasil-hasil CAD, sedangkan portofolio siswa program
teknologi automotif diminta untuk menyusun deskripsi detail dari sebuah
laporan praktek bidang automotif yang representatif baik yang telah
diselesaikan di sekolah atau pun tempat kerja lainnya. Terkadang siswa
diminta untuk menyertakan hal-hal yang berkaitan dengan karir seperti
ringkasan profil diri dan contoh lamaran kerja di dalam portofolionya.
Sasarannya adalah siswa diminta untuk menyimpan atau
mendokumentasikan semua atau sebagian dari hasil belajar mereka.
Kemudian, pada waktu yang akan datang, portofolio dipresentasikan
untuk keperluan review dan penilaian.
Penilaian portofolio siswa dapat dilakukan oleh instruktur secara
perorangan atau komite yang terdiri dari instruktur dan representasi dari
pihak industri/dunia kerja relevan. Selanjutnya, siswa diminta untuk
mempresentasikan portofolionya kepada instruktur atau komite secara
lisan (oral), secara tertulis atau kedua-duanya. Penilaian portofolio sering
menggunakan pedoman kriteria penilaian portofolio yang disusun
berdasarkan kebutuhan dunia kerja. Fokus dari hal tersebut, jika
dikemudian hari siswa mungkin diminta oleh pihak dunia usaha dan
industri (calon tempat kerjanya) untuk menampilkan portofolionya dalam
rangkaian wawancara kerja.
e. Kuisioner
Kuisioner menyajikan sebuah tujuan yang bermanfaat dalam
rangka mengumpulkan informasi tentang para pengguna program dan

21

juga informasi setting pendidikannya. Kuisioner kemungkinan dapat


digunakan untuk mengidentifikasi karakter personal dari instruktur dan
siswa, meliputi : umur, pengalaman kerja, pengalaman mengajar, dan
pendidikan. Informasi ini menjadi penting ketika pengembang kurikulum
ingin mengetahui bagaimana perbedaan kelompok instruktur dalam
bereaksi (mengajar) atau bagaimana perbedaan kinerja dari tipe
kelompok siswa tertentu setelah menerima pembelajaran. Jenis
informasi lain yang dapat dikumpulkan melalui kuisioner meliputi:
tingkatan kelas siswa, lokasi penilaian, dan waktu yang diperlukan untuk
menyelesaikan pembelajaran.
Meskipun kuisioner dapat dikembangkan dan diadministrasikan
secara terpisah dari instrumen, tetapi seringkali dikombinasikan dengan
angket jajak pendapat, dimana masing-masing dapat menjadi satu
bagian atau lebih dari sebuah instrumen gabungan. Prosedur ini
membuat prosedur penilaian menjadi berjalan lebih halus, dengan cara
mengurangi jumlah kertas kerja dan memungkinkan para pengguna
program merasakan bahwa mereka tidak dijejali dengan begitu banyak
lembaran-lembaran materi yang harus diselesaikan.

E. Pelaksanaan Penilaian Program dari Sebuah Kurikulum


Pelaksanaan aktual dari sebuah penilaian program sangat bervariasi
tergantung pada sejumlah hambatan operasional yang dihadapi. Meskipun
hal yang paling bernilai yaitu pengujian terhadap konteks sebuah program,
input, proses dan produk, semuanya ini tidak selalu feasibel. Contoh, ada
suatu keinginan untuk menilai sebuah program yang telah beroperasi. Pada
situasi tertentu, akan menjadi agak sulit melaksanakan penilaian konteks dan
penilaian terhadap input program yang bersangkutan. Akan tetapi, jika
program tertentu sedang dimulai atau mungkin direvisi, kedua area penilaian
tersebut kemungkinan agak mudah dilakukan sebagai bagian dari
keseluruhan upaya penilaian.
Ketika lingkup penilaian telah ditentukan, maka perlu dilakukan
pemeriksaan terhadap ketentuan penilaian apa yang menjadi asumsi dari
keseluruhan anggota staf penilaian. Sementara itu pertimbangan mendasar
yang dapat diberikan pada tahap perencanaan penilaian, yang terpenting
adalah aktifitas awal yang dilakukan untuk memastikan bahwa semua
anggota mendukung dan akan melakukan bagian tugas mereka.
Pertimbangan yang diberikan pada pihak manajemen atau administrator
tentang orientasi program, sesi masukan/briefing bagi staff, dan pemberian
penghargaan/ insentif bagi setiap keterlibatan dalam proses penilaian terkait.
Meskipun pada kenyataannya, akan ada beberapa pihak yang tidak
menerima proses penilaian tersebut, untuk itu setiap upaya yang dilakukan

22

seharusnya menggiring setiap personil berada pada satu persepsi yang


sama.
Saat penilaian program sedang berlangsung, anggota staf penilai harus
selalu berusaha mendapatkan informasi dan kemajuan yang terjadi, serta
memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dalam penilaian selama jadwal
kegiatan mereka memungkinkannya. Sebagai contoh, kemungkinan sangat
cocok bagi seorang instruktur teknologi instrumentasi untuk mengunjungi
industri lokal dan melakukan penelusuran lulusan secara perorangan.
Seorang koordinator pendidikan pemasaran mungkin akan merasa sangat
tepat bila mengkombinasikan kegiatan penelusuran lulusan dengan kegiatan
mengunjungi siswa yang sedang mengikuti kegiatan pengalaman kerja
kooperatif di dunia usaha dan industri. Dalam kasus penilaian input, staf
pastinya harus memainkan peran aktif dalam pengembangan tujuan dan
sasaran program yang bersangkutan. Penilaian proses, dalam hubungan
eratnya dengan keberhasilan belajar siswa pada fase sekolah, tidak akan
bisa terlaksana kecuali jika instruktur dilibatkan dalam penilaian kinerja
siswa. Terbukti bahwa setiap anggota staft hendaknya mengetahui apa yang
diperlukan dalam penilaian dan diberikan kesempatan untuk menjadi mitra
dalam proses penilaian.
Meskipun penilaian program sangat erat kaitannya dengan
perencanaan penilaian tertentu, ada sejumlah hal yang tidak dapat dengan
mudah dituangkan secara tertulis. Hal tersebut harus digali melalui
pendekatan interpersonal. Semua hal tersebut mengingatkan kita bahwa
penilaian itu bukanlan sebuah prosedur mekanikal yang dengan mudah
mendapatkan sesuatu dari poin A menuju poin B. Upaya penilaian yang
paling bermakna adalah ketika data diperoleh sesuai indikator dan standar
penilaian yang jelas kerangka kerja penerapannya, dan mampu memberikan
pertimbangan utama/penting terkait masukan dan keterlibatan semua staff
yang ada.
F. Penilaian Materi dari Sebuah Kurikulum

1. Perlunya Penilaian terhadap Materi dari Sebuah Kurikulum


Pada beberapa tahun belakangan ini, para pendidik
menempatkan penekanan yang semakin besar dari hari ke hari
terhadap penilaian materi kurikulum. Apakah penekanan ini sebagai
akibat dari tekanan dari atasan/ manajemen sekolah, ketidakpuasan
publik, penyusutan alokasi dana/anggaran, atau memang karena
perhatian profesional, sangat tergantung pada lingkungan pendidikan
tertentu. Akan tetapi, fakta menunjukkan bahwa pendidik semakin peduli
terhadap perlunya mengumpulkan informasi tentang nilai-nilai
kemanfaatan materi yang digunakannya.
Ketika memberikan pertimbangan terhadap penilaian materi
kurikulum, sangat penting untuk membedakan 2 level penilaian, yaitu :

23

(1) penilaian formatif dan (2) penilaian sumatif. Penilaian formatif


digunakan untuk menyempurnakan materi pada saat materi tersebut
sedang diformat dan dikembangkan. Penilaian singkat ini secara tipikal
dilaksanakan oleh pihak pengembang kurikulum yang sudah familiar
dengan materi dan telah banyak berkutat dengan materi tersebut.
Penilaian summatif pada sisi lain, terdiri dari pengujian dari keseluruhan
item untuk menentukan dampak yang ditimbulkan pada para pengguna
potensial. Seseorang atau tim dari luar organisasi dilibatkan untuk
melaksanakan penilaian summatif. Meskipun demikian, bab ini
merekomendasikan hal yang sama penting bagi kedua level penilaian,
baik penilaian formatif maupun penilaian sumatif. Akan tetapi fokus akan
diletakkan pada penilaian formatif, karena level ini memperlihatkan peran
utama dari pengembang kurikulum / materi pelajaran.
2. Mendefinisikan Kualitas Materi Sebuah Kurikulum
Kualitas materi sebuah kurikulum dapat ditinjau dari berbagai
dimensi. Setiap materi yang digunakan oleh instruktur atau siswa harus
memenuhi sejumlah standar secara teknis, setiap standar memiliki
keunikan yang mencerminkan keseluruhan kualitas kualitasnya.
Spesifikasi dari kualitias materi hanya dapat dibatasi oleh suatu
kreatifitas. Selama pengembang kurikulum dapat memastikan bahwa
indikator keberhasilan telah terspesifikasi dan instrumennya
teridentifikasi, maka tidak ada batasan spesifikasi kualitas materi secara
khusus. Meskipun masalah teknis dari sisi waktu dan sumberdaya yang
tersedia untuk menilai berbagai aspek dari kualitas materi kurikulum.
Salah satu solusi dari permasalahan yang melibatkan pemilihan dan
penilaian setiap dimensi yang muncul menjadi penyumbang utama
kualitas materi. Sebagai contoh, pengembang kurikulum kemungkinan
mengidentifikasi 20 area kualitas yang berkaitan dengan satu set materi
tertentu, akan tetapi hanya memiliki sumberdaya untuk menilai 3 area
dari 20 area tersebut. Mereka akan memilih 3 area yang dirasakan akan
menjadi faktor yang paling kritis bagi kualitas dan penilaian materi pada
dimensi-dimensi yang ada. Dalam proses pemilihan, pertimbangan
seharusnya diletakkan pada pemberdayaan tim yang profesional
meliputi: para instruktur dan pengembang kurikulum yang
bertanggungjawab pada perangkingan kualitas area yang berbeda-beda
dan memilih salah satu area yang paling mendesak untuk dievaluasi.
Assessor telah memberikan banyak pemikiran terkait berbagai
aspek yang menentukan kualitas materi sebuah kurikulum. Meskipun
diskusi tentang hal ini lingkupnya sangat luas, akan tetapi penting untuk
dipertimbangkan ketika materi kurikulum sedang dinilai. Dimensi-dimensi
tersebut meliputi : (1) efektifitas; (2) efisiensi; (3) kemampuan materi

24

untuk diterima/dipahami; (4) kepraktisan dan (5) kemampuan untuk


generalisasi.
a. Keefektifan
Dimensi kualitas ini berhubungan langsung dengan peniaian
dampak penerapan materi tersebut. Pertanyaan yang muncul terkait
efektifitas materi meliputi: Apakah penggunaan materi tersebut
mengubah perilaku siswa? Perubahan seperti apa yang terjadi pada
tipikal siswa tertentu? Apakah materi tersebut memiliki dampak yang
lebih besar dibandingkan dengan materi yang lain?
b. Efisiensi
Efisiensi berfokus pada efektifitas materi dalam kaitannya dengan
waktu dan biaya. Materi mungkin saja dianggap efektif, akan tetapi
pelaksanaannya menggunakan waktu dan biaya lebih banyak. Jika
kasusnya seperti ini, seorang guru pendidikan kejuruan mungkin akan
mendapat lebih banyak manfaat ketika memutuskan untuk kembali
menggunakan susunan pembelajaran semula. Efisiensi mungkin
merepresentasikan efektifitas yang lebih besar dari pada materi saat ini
yang penerapannya tidak mengalami peningkatan waktu dan biaya.
Pertanyaan yang muncul terkait efisiensi materi meliputi : (1) apakah
materi berdampat pada tingkat keberhasilan siswa yang lebih besar
dibandingkan dengan model pembelajaran alternatif yang tidak
mengalami peningkatan waktu dan biaya? Apakah biayanya lebih sedikit
dalam hal mencapai tingkat kesuksesan siswa menguasai materi
tersebut dibandingkan ketika menggunakan materi yang lain? Apakah
waktunya lebih sedikit dalam hal mencapai tingkat kesuksesan siswa
menguasai materi jika dibandingkan ketika menggunakan materi yang
lain?
c. Kemampuan untuk diterima/dipahami
Cakupan kemampuan materi untuk dipahami ini berhubungan
langsung dengan siswa dan instruktur yang menggunakan materi.
Perhatian utama terletak pada tingkat penerimaan/pemahaman
pengguna terhadap materi kurikulum yang berkontribusi terhadap proses
pembelajaran. Pertanyaan yang muncul terkait dengan tingkat
keterserapan materi meliputi: apakah siswa memandang bahwa materi
ajar berkontribusi terhadap proses pembelajaran? Apakah siswa memiliki
sikap positif sebagai akibat dari proses pembelajaran yang diterimanya?
apakah guru/instruktur memandang bahwa materi ajar berkontribusi
terhadap proses pembelajaran? Apakah guru/instruktur memiliki sikap
positif karena adanya proses pembelajaran?

25

d. Kepraktisan
Kepraktisan berkaitan dengan penerapan materi ajar pada
lingkungan sekolah. Hal ini berfokus pada potensi hambatan yang juga
muncul ketika materi diterapkan pada kualitas lingkungan belajar yang
berbeda. Pertanyaan terkait kualitas kepraktisan materi meliputi :
Akankah penerapan materi tersebut membutuhkan fasilitas atau
peralatan
khusus
(misalnya:
laboratorium;
dukungan
media
pembelajaran; atau akses internet) ? Apakah biayanya akan terlalu
tinggi? Akankah memerlukan layanan/bantuan instruktur pendidikan?
Jika demikian, seberapa luas program in-service ini jadinya?
e. Kemampuan generalisasi
Kemampuan generalisasi berfokus pada potensi materi kurikulum
untuk dapat digunakan oleh siswa pada sekolah yang lain, daerah lain
atau pun materi pelajaran yang lainnya. Karena sejumlah materi tersebut
disusun dengan proses pengembangan yang luas dan berbiaya mahal,
maka sangat penting untuk diketahui bahwa setiap item materi harus
dapat digunakan oleh siswa yang lain, tidak hanya sebatas kepentingan
pihak siswa yang awalnya menjadi orientasi desain kurikulum. Pada saat
bersamaan perhatian juga perlu dicurahkan pada upaya mengumpulkan
informasi terkait kemungkinan terapan bentuk terbaru dari materi
kurikulum yang dirancang. Pertanyaan yang muncul terkait kemampuan
generalisasi yaitu: Pengembangan materi yang seperti apa yang akan
digunakan siswa dalam setting situasi pendidikan yang berbeda?
Pengembangan materi seperti apa yang akan dikalukan ketika materi
digunakan pada kelompok siswa dengan karakteristik berbeda dengan
kelompok siswa yang digunakan sebagai acual awal perancangan?
Untuk kondisi penggunaan materi seperti apa yang belum teridentifikasi
sampai saat ini ?
3. Melaksanakan Penilaian terhadap Materi dari Sebuah Kurikulum
a. Pilot Testing
Aktifitas pilot testing meliputi ujicoba materi kurikulum di
lingkungan sekolah dan kelompok siswa yang memiliki karakteristik yang
sama dengan kelompok siswa dimana nanti materi tersebut diterapkan.
Karena pilot testing ini merepresentasikan ujicoba tahap awal, maka
pengujian biasanya dilakukan terbatas pada satu lokasi saja.
Pilot testing ini berfokus pada aspek kemudahan diterima dan
kepraktisan dari kualitas materi kurikulum. Sedangkan masukan/ saran
terkait efektifitas materi, efisiensi dan kemungkinan adanya generalisasi
materi juga sama pentingnya. Pilot testing disajikan sebagai ujicoba awal
yang biasanya tidak dilakukan dengan waktu yang sesuai terkait dengan
beberapa faktor kunci tersebut. Pilot testing digunakan untuk

26

menjaring/mengumpulkan data permulaan sebelum beralih ke field test


(tes lapangan). Ketika suatu produk dianggap memenuhi syarat
fungsional sebelum ujicoba tambahan dilakukan, maka pilot testing ini
merupakan suatu cara untuk mendapatkan ringkasan data awal.
Suatu pilot testing secara tipikal melibatkan satu atau lebih
kelompok siswa kelas reguler yang memperoleh manfaat dari materi
tersebut. Pihak penilai pertama kali harus mengidentifikasi suatu lokasi
dimana tes memungkinkan untuk dilaksanakan dan kemudian
berkoordinasi dengan manajemen sekolah, instruktur/guru dan juga
siswa dari sekolah yang dimaksudkan. Kelompok yang menjadi tempat
uji coba hendaknya paham benar tentang apa yang menjadi
tugas/perannya dan juga paham dengan prosedur yang harus diikuti
selama tes. Meskipun informasi yang dikumpulkan lebih bersifat
deskripsi secara alamiah, tetapi penting bagi semua instruktur untuk
menjaga akurasi informasi/data yang dihasilkan. Jika instruktur/guru
kesulitan dalam mengumpulkan data, maka pihak penilai sendiri yang
berusaha untuk mengumpulkan data tersebut. Tindakan ini harus sesuai
dengan kesepakatan dengan instruktur dan manajemen sekolah yang
telah dibuat sebelumnya.
b. Field Testing
Uji coba lapangan terdiri dari beberapa kali uji coba materi
program dalam seting situasi yang sebenarnya. Uji coba lapangan ini
disusun berdasarkan hasil pilot testing dan secara tipikal berfokus pada
lima (5) aspek kualitas materi kurikulum, meliputi : (1) efektifitas; (2)
efisiensi; (3) kemudahan diterima/dipahami; (4) kepraktisan; dan (5)
kemampuan digeneralisasi. Kemudahan dipahami dan kepraktisan telah
diuji selama pelaksanaan pilot testing. Uji coba lapangan (field testing)
menyediakan satu kesempatan tambahan untuk mengumpulkan data
dari kolasi tersebut dan untuk melihat bagaimana kecocokan materi
tersebut dengan kelompok siswa dan instruktur yang berbeda.
Karakteristik uji coba lapangan ini lebih ketat bila dibanringkan
dengan pilot testing, dan kemungkinan terdiri dari satu atau lebih desain
mutakhir. Salah satu pendekatan dasar yang dapat digunakan dalam
pelaksanaan field testing dirancang dari hasil penelitian dan evaluasi
dibidang behavioural science. Karena memiliki banyak kemungkinan
rancangan penilaian, terkadang menjadi sulit untuk menentukan salah
satu desain atau kombinasi beberapa desain yang cocok digunakan
untuk situasi tertentu yang akan dinilai. Ketika merancang proses
penilaian lapangan (field test), penting untuk memberikan suatu validitas
internal dan ekternal pada instrumen dan sistem penilaian yang akan
digunakan. Hal ini dilakukan untuk melihat lebih dekat proses test
lapangan guna memastikan bahwa hasil tes dapat diinterpretasi dan

27

digeneralisasi untuk populasi tertentu dan atau seting program tertentu.


Jelaslah bahwa desain ekperimental nyata merupakan cara terbaik untuk
memperoleh validitas secara internal atau eksternanya. Hal ini digunakan
oleh pengembang kurikulum untuk mengontrol sumber-sumber
penyebab ketidakvalidan dengan cara yang efisien. Meskipun
pengembang juga perlu menyadari bahwa eksperimen tidak selalu dapat
dilakukan ketika proses penilaiannya telah selesai dilaksanakan.
Fokus perhatian lainnya adalah masalah waktu dan biaya yang
digunakan dalam ekperimen tes lapangan. Karena hambatan ini,
pengembang beralih kepada desain quasi-eksperimental, non
eksperimental dan desain pra ekperimental. Meskipun desain ini
diketahui memiliki kelemahan validitas secara internal dan eksternal,
desain tersebut secara tipikal sering digunakan oleh para assessor.
Karena tes lapangan sering dilakukan dalam kompromi-kompromi
terhadap situasi tertentu, maka desain tersebut sangat berkaitan dengan
hambatan-hambatan yang ditemui dalam suatu setting program
pendidikan tertentu. Penekannya jika yang digunakan adalah desain preeksperimental, maka pertimbangan utamanya adalah perlunya dilakukan
sejumlah tes lapangan yang memadai. Kinerja yang memuaskan dari
pengulangan test pada siswa yang berbeda seharusnya dapat
mengindikasikan bahwa materi memiliki kualitas yang baik terkait tingkat
efektifitas dan kemampuan untuk generalisasinya.
Ketika mempertimbangkan besarnya sampel yang digunakan
dalam tes lapangan, bahwa penggunaan metode sampling secara acak
tidak bisa dilaksanakan secara penuh. Hal ini tidak mungkin untuk
melakukan sampel secara acak untuk keseluruhan populasi saat ini atau
pun yang akan datang dimana hasil tes akan diinterpretasikan. Karena
itu alternatif logis pilihan untuk pelaksanaan tes lapangan adalah
menggunakan kelompok siswa dengan karakteristik yang mendekati
sama dengan kelompok siswa yang nanti akan menggunakannya. Hal ini
akan dapat memberikan kepastian bahwa ketika materi diterapkan dalam
skala yang lebih besar, akan sama efektifnya dengan ketika diterapkan
pada kelompok siswa pada tes lapangan.
Pertanyaan yang sering muncul adalah seberapa besar ukuran
jumlah sampel yang sebaiknya digunakan ? Jawaban samar sering kali
diberikan bahwa semakin besar jumlah sampel akan semakin baik untuk
digunakan untuk tes lapangan. Dalam penelitian ekperimental, minimum
10 sampai 15 subjek yang digunakan pada setiap kelompok. Jumlah
minimum ini salah satunya mungkin cukup baik untuk digunakan sebagai
sampel. Akan tetapi sebelum jumlah sampel ditetapkan, pengembang
kurikulum sebaiknya menanyakan hal penting terkait besarnya jumlah
sampel yaitu: Seberapa besar perbedaan kinerja satu orang siswa

28

berkontribusi terhadap hasil penilaian secara kolektif ? Jika satu orang


siswa merepresentasikan 10% dari sampel tes lapangan, keberhasilan
atau kegagalan yang ditimbulkan tentu akan berpengaruh lebih besar jika
dibandingkan dengan ketika menggunakan 40 orang siswa sebagai
sampel.
Pemilihan tempat dan koordinasi dalam upaya pengujian adalah
sama pentingnya antara saat melaksanakan field testing maupun pilot
testing. Kenyataannya, karena field testing dilakukan pada beberapa
lokasi test, sangat penting untuk mengerjakan susunan detail pengujian
secara tuntas ketika perencanaan penilaian dikembangkan. Ketika test
dengan lokasi berbeda-beda telah dilakukan, menjadi sangat terlambat
untuk melakukan back up atau perbaikan besar pada proses penilaian
tersebut. Karena alasan inilah mengapa susunan tes harus dipikirkan
baik-baik dan tercetak jauh-jauh hari sebelum tes akan dimulai.
G. Utilisasi Hasil Penilaian / Evaluasi untuk Perbaikan Kurikulum
Penilaian kurikulum akan bermanfaat bila hasilnya membawa dapak
positif bagi kurikulum, program atau materi pembelajaran. Meskipun hal ini
diperlukan pada saat melaksanakan sebuah penilaian untuk memenuhi
beberapa mandat ekternal, kekuatan nyata sebuah penilaian terletak pada
kemampuannya untuk mempengaruhi perbaikan program pendidikan secara
umum. Apakah perhatian itu pada keseluruhan kurikulum, suatu program
pendidikan kejuruan, atau hanya materi kurikulum yang digunakan pada
program tertentu saja? Pada esensinya hasil penilaian tersaji sebagai dasar
penentuan bahwa perubahan apa dan kapan perubahan pendidikan yang
tepat seharusnya dilakukan.
1. Perbaikan Program dalam Sebuah Kurikulum
Program kejuruan yang merepresentasikan satu substansi kurikulum,
juga bisa mengambil manfaat dari adanya penilaian kurikulum.
Kemanfatannya tentulah bersifat relatif dan cenderung seiring dengan
tingkat komprehensifitas penilaian kurikulum itu sendiri. Secara logis,
sebuah penilaian yang hanya berfokus pada proses pendidikan saja tidak
akan menghasilkan data yang sarat makna sebagai satu hal yang
berhubungan dengan konteks, input, proses dan produk.
Data penilaian konteks kurikulum kemungkinan digunakan untuk
membantu memperbaiki lingkungan pendidikan dan menyempurnakan
tujuan dan sasaran sebuah program terkait. Data penilaian input dapat
membantu pengembang kurikulum dalam menentukan sumber dan
strategi mana yang memiliki potensi terbesar dan juga mempengaruhi
bagaimana konten sebuah kurikulum itu seharusnya disusun. Data
penilaian proses dioptimalkan untuk berfokus pada kedua perbaikan baik
pengajaran dan pembelajaran, sementara data penilaian produk dapat

29

membantu menentukan program yang mana lebih berhasil memproduksi


angkatan kerja (tenaga kerja).
Berkaitan dengan penjelasan sebelumnya, maka sangat penting
untuk mencari jawaban dari beberapa pertanyaan berikut :
a. Sudahkan indikator dan standar penilaian tercapai ?
b. Jika indikator dan standar belum tercapai, perubahan program
apa yang dapat dibuat untuk memastikan bahwa indikator dan
standar tersebut akan tercapai di masa mendatang?
c. Jika indikator dan standar telah tercapai, apakah penting untuk
meningkatkan standar kualitas tertentu dari kurikulum tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut berdasarkan asumsi-asumsi yang
realistis, dan juga berdasarkan indikator penilaian yang terukur telah
disusun sedemikian rupa. Jelaslah bahwa tanpa hal itu, maka semua
pertanyaan tersebut tidak akan terjawab. Perbaikan program kejuruan,
sangat tergantung pada indikator yang digunakan pada upaya-upaya
penilaian. Jika indikatornya samar (tidak jelas), mungkin tidak akan
pernah dapat dipastikan apakah standar penilaian telah tercapai atau
belum, lebih jauh hal ini tidak dapat menjawab tindakan apa yang
seharusnya dilakukan untuk memberikan dampak pada perbaikan
program.
Perbaikan program secara tipikal merupakan suatu tambahan
semata. Perubahan tertentu dilakukan berdasarkan pada hasil penilaian
dan kemudian penilaian dimasa mendatang berfokus pada hasil dari
perubahan yang dilakukan. Karena biasanya tidaklah mungkin untuk
melakukan perubahan total dari suatu program, akan tetapi perubahan
hanya dilakukan pada aspek yang memberikan manfaat bagi sebagian
besar siswa. Penilaian program berpotensi untuk membantu pendidik
untuk membuat suatu perubahan yang bermakna. Namun, tingkatan
perbaikan yang dibuat tergantung pada kualitas dan tingkat
komprehensifitas dari upaya-upaya penilaian itu sendiri.
2. Perbaikan Materi dalam Sebuah Kurikulum
Ketika suatu penilaian terhadap materi program/ kurikulum telah
dilaksanakan, lalu bagaimana seorang pengembang kurikulum dapat
memberdayakan hasil penilaian tersebut ? Meskipun pertanyaan ini
terlihat mudah untuk dijawab, akan tetapi proses pengujian tidak selalu
memberikan hasil (data) yang jelas dimana hal tersebut menjadi sesuatu
yang sangat diperlukan. Sebagai contoh, ketika menguji satu paket
materi kurikulum tertentu, data mungkin saja memberi indikasi bahwa
materi kurikulum efektif dan dapat diterima tetapi tidak efisien atau tidak
praktis. Pada situasi ini, beban tugas tanggungjawab terkait pengujian
terletak pada pengembang kurikulum untuk menentukan apakah suatu

30

materi kurikulum dihentikan, diperbaikan dan dites ulang, atau


diperbolehkan untuk dipergunakan dengan menyertakan dokumen
catatan ketidakefisienannya secara jelas. Keputusan yang dibuat dalam
situasi seperti ini mungkin saja tergatung pada seberapa serius tingkat
ketidakefisienan tersebut atau seberapa banyak waktu yang tersedia
untuk melakukan revisi. Sementara disisi lain, pengembang dihadapkan
pada sebuah tuntutan pengambilan keputusan, dan harapannya
keputusan yang dibuat berdasarkan data yang terkumpul selama
pengujian pilot (sampel) dan pengujian di lapangan.
Jika ketidakefisienan itu tetap muncul, maka menjadi sangat
penting
untuk
mengidentifikasi
secara
pasti
dimana
letak
ketidakefisienan itu. Hal ini dimaksudkan agar perbaikan yang tepat
dapat dilaksanakan. Sebuah pendekatan yang bermanfaat dapat
dilakukan dengan menguji pendapat individu melalui seperangkat item
instrumen dan menentukan apakah area spesifik dari permasalahan ini
dapat ditemukan. Untuk item yang mengindikasikan bahwa sebagian
besar siswa merasa banyak membuang-buang waktu, perlu
mendapatkan revisi seperti mengeliminasi materi yang dirasakan tidak
relevan. Terkait dengan siswa yang memiliki reaksi negatif terhadap
materi teks/bacaan kemungkinan akan menggiring pemikiran
pengembang kurikulum untuk menyediakan alternatif materi non
teks/bacaan. Apapun bentuk ketidikaefisienan tersebut, hal yang
terpenting adalah ketepatan mengidentifikasi di bagian mana masalah
tersebut berada dan selanjutnya membuat perbaikan yang dibutuhkan.
Dalam bebrapa kasus, mungkin sangat jelas terlihat bahwa materi
kurikulum menunjukkan ketidakefisienannya pada temuan mayor (utama)
yang tentunya tidak bisa diatasi/diselesaikan masalahnya. Jika situasi ini
terjadi,
pengembang
dihadapkan
pada
penundaan
upaya
pengembangan dan mengindikasikan bahwa pekerjaan yang dilakukan
tidak berhasil. Hal ini tentulah sebuah tugas yang sulit akan tetapi satu
hal yang perlukan adalah kebutuhan akan adanya meteri akan selalu
hadir. Sering kali, materi kurikulum dibuat untuk publik/pengguna yang
tidak memiliki standar profesi yang jelas. Disinilah peran pengembang
kurikulum dimana salah satunya adalah mengontrol dengan jelas kualitas
materi kurikulum. Bahkan bila perlu, pengembang harus siap
menunjukkan identifikasi luaran jangka pendek dari kurikulum yang
bersangkutan. Jadi penilaian sebenarnya tidak lebih dari upaya
mengkonfirmasi kualitas materi suatu kurikulum; termasuk menentukan
nilai dan melaporkannya ke publik/ pengguna kurikulum. Pengembang
kurikulum seharusnya menyiapkan laporan tentang berapa nilainya,
terlepas dari berapapun temuan penilaian tersebut.
H. Rangkuman

31

Bab ini terfokus pada penilaian kurikulum dalam sebuah setting


pendidikan secara realistik. Penilaian kurikulum secara komprehensif
kemungkinan akan tercapai bila berfokus pada konteks kurikulum, input,
proses dan produk dari kurikulum yang bersangkutan. Proses penilaian
diawali dengan pembentukan standar penilaian. Hal ini meliputi pendefinisian
secara aktual tentang sebuah kualitas, seperti halnya pengembangan
indikator penilaian capaian dari sebuah kurikulum.
Sebuah kunci untuk mensukseskan semua upaya penilaian adalah
pengembangan rencana teknis penilaian itu sendiri. Perencanaan ini
menyajikan sebuah kerangka kerja pengumpulan dan pengujian data
penilaian. Aspek rasionalisasi juga harus dimasukkan dalam proses
perencanaan penilaian, seperti halnya deskripsi tentang kurikulum dan
desain penilaian yang akan dioptimalkan keterlaksaannya. Setelah penilaian
dilaksanakan, penentuan harus dibuat untuk menghasilkan perbaikan
kurikulum. Jika hal tersebut dilaksanakan dengan benar maka upaya-upaya
penilaian kurikulum akan mencapai target atau sasaran yang diharapkan.

32

STRUKTUR DASAR POKOK BAHASAN :


EVALUASI / PENILAIAN KURIKULUM
A.
B.

C.

D.

E.
F.

Pendahuluan .................................................................................
Framework Penilaian Kurikulum .....................................................
1.
Evaluasi Kurikulum dalam Ranah Konteks ............................
2.
Evaluasi Kurikulum dalam Ranah Input .................................
3.
Evaluasi Kurikulum dalam Ranah Proses ..............................
4.
Evaluasi Kurikulum dalam Ranah Produk ..............................
5.
Level atau Tingkatan Evaluasi Kurikulum ..............................
Perencanaan Evaluasi / Penilaian Kurikulum ................................
1.
Tujuan/Indikator dan Standar Penilaian ................................
2.
Mengembangkan Rencana Penilaian ................................
a. Kebutuhan Akan Perencanaan Penilaian
b. Komponen Perencanaan Penilaian ...........................
c. Pendahuluan ...............................................................
d. Deskripsi Kurikulum ....................................................
e. Desain Penilaian ........................................................
f. Laporan Penilaian .......................................................
Instrumen Penilaian Program dan Materi Kurikulum .....................
1.
Instrumen Penilaian Pengetahuan ........................................
2.
Instrumen Penilaian Sikap dan Pendapat (Opini) ................
3.
Instrumen Penilaian Kinerja ..................................................
4.
Instrumen Penilaian Portofolio ..............................................
5.
Kuisioner ...............................................................................
Pelaksanaan Penilaian Program / Kurikulum .................................
Penilaian Materi Kurikulum ............................................................
1.
Perlunya Penilaian Materi Kurikulum ....................................
2.
Mendefinisikan Kualitas Materi Kurikulum ............................
a. Keefektifan .................................................................
b. Efifiensi ................................ .....................................
c. Kemampuan Untuk Dipahami/Diterima ......................
d. Kepraktisan .................................................................
e. Kemampuan Generalisasi ..........................................

hal
1
2
4
5
7
8
9
10
10
13
13
13
14
14
15
15
16
16
17
18
21
21
22
23
23
23
24
24
25
25
25

33

3.
G.
H.

Pelaksanaan Penilaian Materi Kurikulum ............................


a. Pilot Testing ..............................................................
b. Field Testing ..............................................................
Utilisasi Hasil Penilaian Untuk Perbaikan Kurikulum....................
1.
Perbaikan Program dalam Sebuah Kurikulum................... ...
2.
Perbaikan Materi dalam Sebuah Kurikulum ..........................
Rangkuman ....................................................................................

26
26
27
29
29
30
31