Anda di halaman 1dari 18

FENOMENA CERUCUK SEBAGAI PENINGKATAN DAYA

DUKUNG TANAH DAN REDUKSI PENURUNAN


BANGUNAN DI ATAS TANAH LEMBEK
Ir. Muhrozi, MS. (Ka. Lab. Mekanika Tanah Undip)
1.

Pendahuluan
Masyarakat di daerah pantai, rawa dan daerah pasang surut sering menggunakan
cerucuk bambu/dolken sebagai pondasi atau perkuatan tanah untuk bangunan
rumah/gedung, bangunan jalan, bangunan drainase/irigasi, bangunan break water
dan bangunan lainnya. Pada akhir-akhir ini cerucuk bambu dengan matras/anyaman
bambu mulai banyak digunakan sebagai soil improvement untuk dasar reklamasi
pantai atau badan jalan di daerah rawa atau tambak.
Penulis sekitar tahun 1994 mendapat permasalahan perencanaan pondasi ground
reservoir, gedung bertingkat menengah, oprit jembatan dan bangunan air didaerah
rawa atau pasang surut yang sulit untuk dijangkau oleh peralatan berat pada masa
konstruksi. Waktu perencanaan yang terbatas, mobilisasi alat boring yang sulit
maka perlu menggunakan peralatan uji tanah yang cukup sederhana, seperti :
sondir, bor manual, vane shear, soil test dan oedometer, sehingga perhitungan
peningkatan daya dukung tanah dan berkurang-nya penurunan bangunan dengan
jarak cerucuk tertentu dapat analisa.
Pada waktu itu belum ada penjelasan ilmiah, bagaimana konstruksi cerucuk dapat
meningkatkan kapasitas daya dukung tanah dan dapat mengurangi penurunan tanah,
akan tetapi dalam praktek dilapangan telah menunjukkan peningkatan daya dukung
tanah lunak bilamana menggunakan cerucuk bambu/dolken. Pengembangan
cerucuk nantinya harus lebih ekonomis, dapat dipertanggung jawabkan secara
ilmiah, dapat dilaksanakan dengan mudah dan mudah dipahami oleh para
perencana.
Pemerintah melalui Departemen Pekerjaan Umum telah menerbitkan pedoman
teknis Tata cara Pelaksanaan Pondasi Cerucut Kayu di Atas Tanah Lembek
dan Tanah Gambut No.029/T/BM1999 Lampiran No. 6 Keputusan Direktur

Jendral Bina Marga No. 76/KPTS/Db/1999 Tanggal 20 Desember 1999. Dari


pedoman teknis tersebut tidak menjelaskan tentang perencanaan cerucuk.
Pedoman Stabilisasi dangkal tanah lunak untuk konstruksi timbunan jalan
(dengan semen dan cerucuk) Pd T-11-2005-B, merupakan hasil kegiatan litbang
pada Balai Geoteknik Jalan dan dipersiapkan oleh Panitia Teknik Standardisasi
Bidang Konstruksi dan Bangunan melalui Gugus Kerja Balai Geoteknik Jalan pada
Sub Panitia Teknik Standardisasi Bidang Prasarana Transportasi. Pedoman
stabilisasi dangkal tanah lunak untuk konstruksi timbunan jalan

2.

Ide-ide Yang Mendasari


Menyadur dari suntingan pidato Prof. DR. Ir. R. Roeseno pada Asian Regional
Conferention On Tall Building and Urban Habitat di Kuala Lumpur,1988,
menceritakan pengalamnya pada waktu membangun gedung Laboratorium Unair
Surabaya tingkat 4 (empat) dengan cerucuk bambu berdiameter 12 cm dan panjang
4-5 meter. Dimana sistem pemasangan cerucuk bambu betul-betul terlepas dari
struktur pondasi, harapan perencanan adalah ingin meningkatkan daya dukung tanah
lunak yang sangat kecil menjadi lebih besar, yaitu : dari (q all. ) = 0,25 kg/cm2
menjadi dua kalinya. Dari hasil pengalaman bapak Prof. Roeseno tersebut ada 3
(tiga) hal penting yang perlu dicatat yaitu :

Dengan pemasangan cerucuk bambu kedalam tanah lunak maka cerucuk


bambu tersebut akan memotong bidang longsor (sliding plane) sehingga kuat
geser tanah secara keseluruhan akan meningkat.

Dalam pemasangan cerucuk bambu berdiamter 12 cm, jarak antar cerucuk


bambu 40 cm dan panjang 4-5 m, daya dukung tanah yang semula 0,25
kg/cm2 dapat meningkat sampai 0,50 kg/cm2.

Dari penulis tersebut memberikan informasi bahwa penjelasan secara ilmiah


bagaimana sistim cerucuk dapat meningkatkan kapasitas daya dukung tanah
lunak perlu dikaji lebih lanjut, akan tetapi dalam praktek dengan jarak
cerucuk tertentu dapat meningkatkan daya dukung 2 (dua) kali lipat dari
aslinya.

Abdul Hadi, Tesis S2, 1990 ITB Bandung, dengan konfigurasi jarak cerucuk dapat
disimpulkan bahwa jarak tiang cerucuk yang lebih dekat/pendek dan jumlah
cerucuk semakin banyak maka akan terjadi peningkatan daya dukung pondasi
telapak yang cukup besar. Yang menarik dalam penelitian ini adalah perubahan
peningkatan cohesi undrained (CU) dengan pengukuran vane shear test yang
dilakukan pada tanah yang diberi cerucuk.
Studi Daya Dukung Tanah dengan Cerucuk Bambu di pantai Utara kota Semarang
dilakukan oleh Tim penelitii Universitas Katolik Sugiyapranata Semarang pada
tahun 1995 (Ir. Y Daryanto dkk). Dari hasil penelitian disimpulkan: pondasi cerucuk
bambu tidak dapat dikatakan sebagai Pondasi tetapi lebih tepat merupakan
perbaikan daya dukung tanah pendukung pondasi.
Penulis sering melakukan perencanaan bangunganan ringan sampai sedang pada
tanah lunak dengan cerucuk dolken/bambu, dengan beberapa langkah yang
diterangkan dalam makalah ini maka hasilnya tidak terjadi sinking, spreading dan
penuruanan yang terjadi lebih kecil.
Perilaku Penurunan Timbunan Di atas Tanah Lunak Menggunakan Teknologi
Kombinasi Cerucuk Kayu dan Stabilisasi Cleanset Hedy Rahadian, Slamet Prabudi
S., Y.P. Chandra Makalah pada Seminar HATTI, Bandung, 2001
Idealisasi suatu kontinum sebagai gabungan dari sejumlah elemen yang terpisah
merupakan konsep dasar dari metode elemen hingga. Elemen-elemen ini
dihubungkan dengan titik-titik nodal. Perilaku dari kontinuum kemudian didekati
dengan perilaku elemen-elemen. Persamaan kesetimbangan dibuat dalam bentuk
perpindahan nodal-nodal dengan beberapa pendekatan. Solusi persamaanpersamaan tersebut akan menghasilkan perpindahan danselanjutnya akan diperoleh
tegangan dan regangan. Analisis menggunakan metode elemen hingga (MEH) atau
FEM (finite elemen method).
3.

Rujukan Teori
Kuat geser tanah merupakan fungsi dari beberapa factor yang sangat komplek,
secara keseluruhan persamaan ini dapat ditulis sebagai berikut :
S = f (C,c,e,,,,,H,st,,w)

Dimana : C : tekanan kompresi

: kecepatan regangan

c : kohesi tanah

H : sejarah pembebanan

e : angka pori tanah

st : struktur tanah

: sudut geser dalam tanah

: berat isi tanah

: tegangan efektif tanah

w : kadar air

: regangan
Secara phisik kekuatan geser tanah merupakan sumbungan dari tiga komponen pada
tanah yang bersangkutan, yaitu :

Sifat bidang geser antar partikel

Kohesi dan adhesi partikel tanah

Bidang kontak yang saling mengunci antar partikel tanah untuk menahan
deformasi.

Secara teoritis kuat geser tanah ditentukan oleh banyak fariabel, akan tetapi fariabel
yang dominan adalah : kohesi tanah (c) dan sudut geser tanah (). Pada tahun 1910
oleh Mohr-Coulomb, mendefinisikan kuat geser tanah sebagai berikut :
S = c + tan
Kuat geser tanah efektif dapat ditulis sebagai berikut :
S = c + (-u) tan = c + tan
Untuk kondisi tanah yang jenuh air, dimana = 0 maka persamaan tersebut menjadi
berikut :
S = Cu
3.1.

Daya Dukung Tanah


Banyak para pakar telah merumuskan besarnya kapasitas daya dukung tanah, seperti
: Terzaghi, Mayerhof, Hansen, Vesic dan lainnya. Daya dukung tanah merupakan
fungsi dari nilai kuat geser tanah (), kohesi tanah (c), berat isi tanah (), kedalaman
pondasi (D) dan bentuk pondasi, dapat diterangkan secara umum sebagai berikut :
q ult. = f (c,,,D)
Persamaan umum daya dukung tanah oleh Terzaghi, untuk tanah c, soil dapat
dituliskan sebagai berikut :
q ult. = c Nc + D Nq + 0,5 B N

Gambar-1 Daya Dukung Tanah Pondasi Dangkal

Untuk tanah yang jenuh air (c-soil), dimana = 0 maka Nq : 0, dan N : 0 sehingga
formula dapat ditulis sebagai berikut :
q ult. = Cu Nc Nc = 5,14 5,70 atau
q ult. = (2.57 2.85) qu
Dimana : q ult. : daya dukung tanah batas
Cu

: kuat geser undrained dapat ditentukan dengan uji vane shear,


unconfined dan secara emperik data sondir Cu = qc / (15 30)

3.2.

: lebar pondasi

qu

: kuat tekan bebas (kg/cm2)

Peningkatan Kuat Geser Tanah


Kuat geser tanah undrained (Cu) dipengaruhi oleh sifat fisik dan sejarah
pembebanan, seperti : kepadatan tanah (), void ratio (e) dan sejarah pembebanan
(Pc), formula ini dapat ditulis sebagai berikut :
Cu = f (,e, Pc .)
Umumnya peningkatan kuat geser tanah selalu diikuti oleh nilai angka pori (e)
semakin kecil dan bertambahnya nilai kepadaan akibat tegangan efektif bertambah
besar, hal ini sangat jelas dilihat dari pengujian Oedometer.

Uji oedometer (konsolidasi) umumnya diberikan grafik semi logaritma hubungan


antara void ratio (e) dangan dengan beban (P). pada grafik tersebut menunjukkan :
semakin besar beban (P) yang bekerja maka nilai void ratio (e) semakin kecil seperti
gambar berikut :

Gambar-2, Hubungan Void ratio (e) vs semi LogP

Peningkatan kuat geser undrained seiring dengan terjadinya peristiwa konsolidasi,


dimana semakin besar beban kerja (P) yang bekerja pada lapisan tanah maka nilai
angka pori tanah (e) semakin kecil sehinga nilai kuat geser tanah akan meningkat.
Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh LADD dkk. 1977 dan MESRI 1975
menunjukkan bahwa tanah yang mengalami konsolidasi normal akan mengalami
peningkatan kuat geser tanah sebagai berikut :
Cu = (0.20 0.30) v
Dimana : Cu : tambahan kuat geser tanah (kg/cm2)
v : tambahan tegangan tanah vertical efektif (kg/cm2)
Merujuk hasil uji Oedometer pada grafik semi logaritma hubungan antara angka pori
(e) dengan tegangan yang bekerja pada tanah, menunjukkan : semakin besar
tegangan yang bekerja pada tanah maka nilai angka pori semakin kecil. Dengan
menganggap volume cerucuk yang dimasukkan kedalam lapisan lempung lunak

merupakan butiran tanah (Vs) dan lempung jenuh dianggap material tidak mampu
mampat maka akan mengalami perubahan nilai angka pori sebagai berikut :

Air

Va
Vv

Udara

Vu

Butir

Vb

Gambar-3, Hubungan Komposisi Volume Tanah

Nilai angka pori tanah asli sebelum ada cerucuk, lempung jenuh :
eo = Vv / Vs atau
eo = (V Vs) / (Vs)
eo = V / Vs 1
Bila volume cerucuk (Vc) dianggap sebagai butiran tanah dan dimasukkan kedalam
lempung jenuh maka nilai eo menjadi lebih kecil (e1), sehingga persamaan diatas
menjadi :
e1 = V/(Vs+Vc) 1
Dengan anggapan bahwa Volume total tanah (V) dan volume void (Vs) mempunyai
satu satuan masa ( 1) maka terdapat perubahan atau penurunan void rasio (e)
sebagai berikut :
e = 1/(1+Vc) 1
dimana : eo

: angka pori awal sebelum ada cerucuk

e1

: angka pori setelah ada cerucuk

: perubahan angka pori adanya penambahan volume cerucuk

Vvo

: volume void awal sebelum ada cerucuk

Vso

: volume butir awal sebelum ada cerucuk

Vc

: volume cerucuk

Secara ilustrasi bila dimodelkan untuk meyakinkan hipotesis ide Penulis, dapat
dilihat pada gamabar berikut :

Gambar-4, Hubungan Komposisi Volume Tanah

Volume butir untuk tanah setelah diberi cerucuk akan lebih besar dari sebelum diberi
cerucuk, sehingga nilai angka pori awal (eo) lebih besar dari angka pori setelah diberi
cerucuk (e1), atau eo - e1 = e

Dengan mengeplotkan nilai angka pori eo dan e dari data test Oedometer tanah asli
atau tanah sebelum diberi cerucuk maka akan didapat P o dan P1, sehingga akan
didapat besarnya pertambahan tegangan (P) sesuai dengan bertambah kecilnya
nilai e1 sesuai dengan jarak cerucuk yang dipasang.
Dengan mengetahui pertambahan nilai tegangan pada tanah (P) akibat dipasang
cerucuk maka dapat ditentukan pertambahan kuat geser undrained (Cu) = (0.20
0.30) v , sehingga daya dukung tanah dapat ditentukan sebagai berikut :
q ult. = Cu Nc Nc : 5,14 sebelum ada cerucuk
q ult. = (Cu + Cu) Nc Nc : 5,14 setelah ada cerucuk
Formula tersebut secara jelas menunjukkan bahwa lempung jenuh bila diberi
cerucuk dapat meningkatkan daya dukun tanah.
8

4.

Fenomena Adanya Cerucuk Terhadap Daya Dukung dan Penurunan Tanah

4.1. Bila jarak antar cerucuk terlalu jauh maka dapat dianggap sebagai pondasi tiang
mengambang/floating pile. Dengan adanya cerucuk maka bidang runtuh/geser dapat
tertahan oleh cerucuk

Gambar-5, Pondasi Dangkal Dengan Jarak Cerucuk Jauh

4.2. Apabila jarak antar cerucuk cukup pendek dan lebar bangunan cukup besar
maka akan ada tambahan daya dukung tanah dasar, dari q = x D menjadi q =
x D

Gambar-6, Pondasi Dangkal dengan Jarak Cerucuk Pendek

C. Bulk pressure terhadap tanah lunak apabila jarak antar cerucuk cukup pendek atau
terlalu jauh.

Gambar-7, Penomena Bulk Pressure dengan Cerucuk

D. Dengan jarak antar cerucuk dekat, maka penurunan yang diperhitungkan kung pendek
atau terlalu jauh, bila jarak antar cerucuk cukup pendek maka dapat mengurangi
penurunan bangunan.

Gambar-8, Fenomena Penurunan Tanah

10

5.2.3 Daya dukung tiang cerucuk


Untuk menghitung besarnya daya dukung tiang cerucuk dapat menggunakan
persamaan:
- Daya dukung tiang cerucuk tunggal:
Qv = Qs + Qb
(2

Qs =Fc KcR Cu Op Li
Qb =Nc *Cu*Ab

4)

dengan pengertian :
Qv = adalah daya dukung vertikal rencana
Qs = adalah daya dukung oleh tahanan sekeliling tiang
Qb = adalah daya dukung oleh tahanan ujung tiang
Fc = adalah koefisien terganggu

KcR =adalah faktor reduksi kekuatan


Cu = adalah kuat geser undrained tanah (kPa, kg/cm2)
Cp = adalah keliling efektif tiang (m, cm)
Li = adalah panjang tiang (m, cm)
Nc = adalah faktor daya dukung
Ab = adalah luas penampang ujung tiang (m2, cm2)

- Daya dukung kelompok tiang cerucuk


Jika S 3,5D maka Q vk= Q v* n , di mana v v

Q
=

(5)
Jika S < 3,5D maka v v Q k = Q n (6)
dengan pengertian:
S adalah jarak antartiang
D adalah diameter tiang
v Q k adalah daya dukung kelompok cerucuk
n adalah jumlah tiang
adalah faktor efisiensi kelompok cerucuk
Pd

5.

Contoh dan Studi Kasus

Contoh dan studi kasus ini mengambil data uji tanah bulan Mei 2009, rencana
pembangunan tower di Ds. Jombang, Purworejo.

Muka air tanah pada kedalaman -0,50 m dari muka tanah asli dan jenis tanah
lempung kelanauan (CL)

11

Cerucuk dicoba pada kedalaman -1,50 m s/d 5,50 m, data kosolidasi (uji
Oedometer) pada kedalaman -4,0 m.

Dari data sondir (S2) nilai konus pada kedalaman -4,0 m, qc rata-rata = 6,60
kg/cm2 Cuo = qc/(15 30) = 6,60 / 25 = 0,26 kg/cm2.

Daya dukung tanah ijin awal q all. awal = Cuo x Nc / FK


q all. awal = 0,26 x 5,14 / 3 = 0,44 kg/cm2

Dicoba diameter cerucuk =12 cm dan susunan cercuk 2 tipe, tipe-1 jarak 0,50 m
dan tipe-2 jarak 0,40 cm, seperti gambar berikut :

Gambar-9, Susunan Cerucuk

Volume tiap cerucuk satuan kedalaman (vc) = 113,04 cm3, sehingga prosentase
cerucuk terhadap luasan tanah 1,0 m dapat dihitung sebagai berikut :
-

vc jarak 50 cm = 4 x 113,04 / 10000 = 0,046 atau 4,6 %


e = 1/(1+0,046) 1 = - 0,044
e11 = eo + e = 1,30 - 0,044 = 1,256

vc jarak 40 cm = 9 x 113,04 / 14400 = 0,071 atau 7,1 %


e = 1/(1+0,071) 1 = - 0,067
e12 = eo + e = 1,30 - 0,067 = 1,233

Mencari eo pada kedalaman -4,0m dengan grafik e vs log P (uji konsolidsi)


-

Po = 0,5 x 1,65 + 3,5 x (1,65 -1 ) = 3,10 t/m2 = 0,31 kg/cm2

12

Dari grafik didapat eo = 1,30, sehingga nilai e pada tipe 1 dan tipe 2 dapat
dihitung sebagi berikut :
e11 = eo + e = 1,30 - 0,044 = 1,256
e12 = eo + e = 1,30 - 0,067 = 1,233

Dari grafik akan besarnya beban yang akan timbul sebesar :


P1.1 sebesar = 0,80 kg./cm2 dan
P1.2. sebear = 1,40 kg/cm2

1.5

e0 =1,31
e11 =1,25

1.3

Void Ratio ( e )

e12 =1,23

1.1

0.9

0.7
0.1

P0 = 0,31

1P12 =

P11 = 0,80

1,40

10

100

P ( kg/cm2)

Gambar-10, Grafik e vs Log P, untuk mencari nilai e dan P

Sehingga pertambahan beban (P)dan nilai kuat geser tanah (Cu ) sebesar :
P1.1 = 0,80 - 0,31 = 0,49 kg/cm2
Cu.1.1.= (0,2 0,3 ) P1.1 = 0,123 kg/cm2
P1.2 = 1,40 - 0,31 = 1,09 kg/cm2
Cu.1.2 = (0,2 0,3 ) P1.2 = 0,273 kg/cm2

13

Peningkatan daya dukung tanah akibat adanya cerucuk dengan jarak 50 cm dapat
dihitung sebagai berikut :
Cu cerucuk tipe-1 = Cuo + Cu.1.1 = 0,26 + 0,123 = 0,383 kg/cm2
Jadi q all. baru tipe-1 = Cu.1.1 x Nc / FK
= 0,383 x 5,14 / 3 = 0,66 kg/cm2
Jadi q all. awal = 0,44 kg/cm2 q all. tipe-1 = 0,66 kg/cm2

Peningkatan daya dukung tanah akibat adanya cerucuk dengan jarak 40 cm dapat
dihitung sebagai berikut :
Cu cerucuk tipe-1 = Cuo + Cu.1.1 = 0,26 + 0,273 = 0,533 kg/cm2
Jadi q all. baru tipe-1 = Cu.1.1 x Nc / FK
= 0,533 x 5,14 / 3 = 0,91 kg/cm2
Jadi q all. awal = 0,44 kg/cm2 q all. tipe-1 = 0,91 kg/cm2
dengan kata lain meningkat 2 (dua) kali lipat.

Contoh proyek yang dihitung dengan cara sederhana tersebut cukup banyak,
seperti di daerah Tambilahan & Bengkalis Riau, Daerah Jambi, Kaltim, Semarang
(Semarang bawah, oprit jembatan Bangetayu H timb. = 12 m) dan lokasi lain
Wilayah Pantura Jawa.

Pembuktian bahwa dengan pemasangan cerucuk diatas tanah lembeh/lunak dapat


memperkecil penurunan konstruksi bangunan mudah untuk dibuktikan dan
pembaca makalah ini dapat menghitungnya.

6.

Kesimpulan dan Saran

6.1. Kesimpulan
1. Suntingan pidato Prof. DR. Ir. R. Roeseno pada Asian Regional Conferention On
Tall Building and Urban Habitat di Kuala Lumpur,1998, kemungkan dapat
terjawab.
2. Formulasi perhitungan peningkatan daya dukung diatas tanah lembek/lunak
menggunakan cerucuk diatas, masih sebatas pada pemikiran Penulis dan perlu
mendapat masukan dari para Pakar dan penelitian dengan sekala penuh di
Lapangan.

14

3. Tulisan ini semoga bermanfaat.


6.2. Saran-saran
1. Karena makalah ini masih pada taraf pemikiran dan hepotesis, sebaiknya dikaji
lebih jauh dengan para Pakar yang berkompeten.
2. Mahasiswa Teknik Sipil diminta untuk mengembangkan fenomena yang dianggap
menarik oleh salah satu Bapak Teknik Sipil Kita (Prof. DR. Ir. R. Roeseno).

Daftar Pustaka
-

A.HADI, (1990), Studi Daya Dukung Pondasi Tiang Terucuk Pada Model
Berskala Kecil, Bandung

ALLEN G.P, deltic Sediment in the Moderend on Miocen Mahakam Delta Total
Exploration Laboratory, Pessac France, 1987.

DUNN I.S, ANDERSON L.R KEIFER F.W, Fundaof geotechnical Analysis,


John Wiley & Sons, New York.

FU. HUA CHEN, Foundation on Expansive Soils, Elsevier Scientifik


Publicishing Company, 1975 New York.

Hedy Rahadian, Slamet Prabudi S., Y.P. Chandra Perilaku Penurunan Timbunan
Di atas Tanah Lunak Menggunakan Teknologi Kombinasi Cerucuk Kayu dan
Stabilisasi Cleanset Makalah pada Seminar HATTI, Bandung, 2001

JOSEPHE E,BOWLES, Analisa dan Desain Pondasi Erlangga 1986

JOSEPH E. BOWLES, JOHAN K. HAINUM, Sifat-sifat Fisis dan Geoteknis


Tanah (Mekanikan Tanah), Erlangga 1989

Muhrozi, Konsep Perhitungan Cerucuk Bambu Sebagai Upaya Peningkatan


Daya Dukung Tanah, Semarang

Pedoman Stabilisasi dangkal tanah lunak untuk konstruksi timbunan jalan


(dengan semen dan cerucuk) Pd T-11-2005-B,

POULUS, H.G. & DAVIS, E.H, (1980), Pile Foundation Analysis And Design,
John Wiely and Sons, Inc.

15

R. ROOSSENO, Foundation Of Three to Four Storeya Small Buildings on Wet


Very Soft Soil pada Asian regional Conferention on Tall Builtding and Urban
habitat, Kuala Lumpur.

SOELARNO, D.S, (1986), Diskusi Beberapa Cara Untuk Menentukan Beban


Batas Tiang Tunggal Dari Hasil Percobaan Langsung Di Lapangan, Jakarta

Tata cara Pelaksanaan Pondasi Cerucut Kayu di Atas Tanah Lembek dan Tanah
Gambut. No.029/T/BM1999 Lampiran No. 6 Keputusan Direktur Jendral Bina
Marga No. 76/KPTS/Db/1999 Tanggal 20 Desember 1999.

TOMLINSON, M.J, (1977), Pile Foundation And Construction Practice,


London.

Y. Daryanto, dkk. (1995), Perbaikan Daya Dukung Tanah Dengan Cerucuk


Bambu di Pantai Utara Semarang

ZANUSI, F.X, (1988), Daya Pikul Ultimate Terhadap beban Axial Tiang
Tunggal, Simposium nasioanl HATTI . Jakarta.

16

Cone Resistance (kg/cm2)

50

100

150

200

250

0.00
1.00
CERUCUK

2.00
3.00

Cone Resistance (qc)

4.00

Total Frictions (TF)

5.00
6.00

DEPTH ( meter )

7.00
8.00
9.00
10.00
11.00
12.00

TF

13.00
14.00

qc

15.00
16.00
17.00
18.00
19.00
20.00
0

100

200

300

Total Friction (kg/cm')

17

400

500

18