Anda di halaman 1dari 18

Mekanisme Pembentukan Purin dan Pirimidin

Josua
10.2012.034
Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
Jl. Arjuna Utara No. 6 Jakarta Barat 1151
Email : agustinusjosua@yahoo.com

Abstrak
Kita harus menjaga keseimbangan asam urat dalam tubuh kita, produksi yang berlebihan dari
senyawa ini dapat menyebabkan suatu kondisi yang disebut hiperurisemia, sedangkan
kurangnya kadar asam urat dalam tubuh disebut sebagai hipourisemia. Precursor dari asam urat
adalah purin yang dapat diproduksi oleh tubuh kita sendiri. Defisiensi dari satu maupun
beberapa enzim dalam metabolism purin dapat menyebabkan beberapa penyakit. Kita juga dapat
mencegah penumpukan dari asam urat dalam tubuh kita dengan mengurangi mengkonsumsi
makanan yang mengandung xantin seperti kopi, the, dan cokelat.
Kata kunci:purin, hiperurisemia, hipourisemia, asam urat
Abstract
We should keep balance of uric acid in our body, the overproduction of this thing can make
condition calls hiperuricemia, and also the lack of production uric acid can causes the
hipouricemia. The precursor of uric acid is purine, which the production are in own body. Lack
of one or many enzymes in purine metabolism process can cause some disease. We also can
prevent the over amount of uric acid in our body, by decrease intake of coffee, tea, and chocolate
which contain xantin, a one precursor of uric acid.
Keywords: purine, hiperuricemia, hipouricemia, uric acid
Pendahuluan
Kehidupan seorang manusia memang tidak ada dapat seorangpun yang dapat menebak,
kita sebagai manusia hanya dapat berusaha mencegah terjadi suatu hal yang tidak diinginkan,
sama halnya juga dengan mencegah penyakit penyakit maupun kelainan yang dapat berdampak
bagi kesehatan kita. Masa kini, jumlah kelainan dan penyakit yang sudah diketahui dan
ditemukan beragam jenisnya, salah satu dari gangguan kesehatan tersebut adalah asam urat.
Asam urat atau dalam bahasa inggris dikenal dengan nama uric acid mempunyai pengertian a
chemical compound which is formed from nitrogen in waste products from the body and which
also forms crystals in the joints of people who have gout yang dalam bahasa Indonesia berarti
1

kumpulan senyawa kimia yang terbentuk dari nitrogen yang merupakan produk buangan dari
tubuh yang dapat membentuk kristal pada persendian orang yang mengalami gout.
Pembahasan
Metabolisme Purin
Purin dan pirimidin merupakan senyawa siklik heterosiklus yang mengandung nitrogen
dengan cincin mengandung karbon dan unsur-unsur lain (atom hetero). Purin dan pirimidin
memiliki karakter planar yang mempermudah pembentukan ikatan erat atau stacking yang dapat
menstabilkan DNA untai ganda. Gugus okso dan amino purin dan pirimidin memperlihatkan
tautomerisme keto-enol dan amin-imin, tetapi kondisi fisiologis cenderung memilih bentuk
amino dan okso.1
Jaringan tubuh dapat menyintesis purin dan pirimidin dari zat-zat antara amfibolik. Asam
nukleat dan nukleotida yang dimakan yang karenanya bersifat nonesensial secara diuretik
diuraikan di saluran cerna menjadi mononukleotida sehingga dapat diserap atau diubah menjadi
basa purin dan pirimidin. Basa purin kemudian dioksidasi menjadi asam urat yang akan
diabsorbsi maupun diekskresikan dalam urin. Jika hanya sedikit atau tidak ada purin/pirimidin
dalam makanan untuk dijadikan asam nukleat jaringan, senyawa yang disuntikkan dapat
digunakan untuk membentuk asam nukleat.
DNA dan RNA memiliki basa purin yang sama yaitu adenine dan guanine. Keduanya
mengandung basa pirimidin sitosin, tetapi berbeda pada basa pirimidin yang lainnya. DNA
mengandung basa timin, sedangkan RNA mengandung urasil. Nukleosida merupakan basa yang
ditambahkan dengan pentose, seperti adenosine, guanosine, sistidin, timidin, dan uridin.
Sedangkan nukleotida merupakan senyawa nukleosida dengan tambahan gugus fosfat yang
terikat pada atom kelima dari pentosa. Derivat purin dapat ditemukan dalam makanan misalnya
kaffein pada kopi, theophyllin pada teh, dan theobromin pada coklat.
Fungsi utama nukleotida purin bersama sama dengan nukleotida pirimidin adalah sebagai
pro zat pembentuk asam nukleat yaitu asam deoksiribonukleat (DNA) dan asam ribonukleat
(RNA). Selain itu nukleotida purin berperan sebagai komponen dari molekul berenergi tinggi
yaitu adenosin tripospat (ATP), adenosin dipospat (ADP), adenosin monopospat (AMP), dan
guanosin monopospat (GMP), guanosin dipospat (GDP), dan guanosin tripospat (GTP).

Fungsi purin
Asam deoksiribonukleat (DNA) berkaitan dengan sifatsifat genetik, pada
mikroorganisme satu untai DNA menyimpan informasi genetiknya. Pada organisme tingkat
tinggi, DNA terdapat sebagai nukleoprotein di dalam kromosom, sebagian besar DNA terdapat
didalam inti sel, sejumlah kecil di dalam mitokondria dan kloroplas.
DNA menyediakan cetakan bagi sintesa protein didalam sel, sifat keturunan diwariskan melalui
proses replikasi yang melibatkan peranan sejumlah protein dan enzim. DNA dibutuhkan dalam
pertumbuhan dan pembelahan sel, unit monomer DNA adalah adenosin, guanin, sitosin dan
timin. Unit-unit monomer DNA dijadikan bentuk polimer oleh ikatan 3,5 fosfodiester.
Nukleotida purin dan pirimidin disintesis in vivo dengan kecepatan yang konsisten
dengan kebutuhan fisiologis. Mekanisme intrasel mendeteksi dan meregulasi besarnya jumlah
kompartemen nukleotida trifosfat (NTP), yang meningkat selama masa pertumbuhan atau
regenerasi jaringan ketika sel-sel membelah dengan cepat. Ada 3 proses yang berperan dalam
biosintesis nukleotida purin. Ketiga proses tersebut, diurutkan dari yang paling penting yaitu
sintesis dari zat antara amfibolik (sintesis de novo), fosforibosilasi purin dan fosforilasi
nukleosida purin.
Biosintesis de novo terutama terjadi di organ hepar/hati. Proses ini dimulai dengan
senyawa awal berupa ribosa 5-Phospat yang kemudian akan diubah menjadi fosforibosil
pirofosfat dengan bantuan enzim phospo ribosa piro phospat (PRPP), juga memerlukan ATP dan
Mg2+. Fosforibosil pirofosfat kemudian dibantu oleh glutamine, H 2O, dan enzim PRPP
amidotransferase menjadi 5-fosfo--D-ribosilamin. Setelah itu dengan bantuan glisin, ATP, Mg2+
menjadi gilisinamida ribosil 5-fosfat yang kemudian dengan bantuan enzim formil transferase
menjadi formiglisin ribosil 5-P. Setelah itu dengan ATP, Mg 2+, dan enzim sintetase mengalami
penutupan cincin menjadi aminoimidazol ribosil 5-fosfat. Setelah itu ditambahkan dengan CO 2,
dan enzim karboksilase menjadi aminoimidazol karboksilat ribosil 5-fosfat. Kemudian dengan
bantuan aspartat dan enzim sintetase kembali menjadi aminoimidazol suksinil karboksamida
ribosil 5-fosfat. Kemudian dengan bantuan enzim adenil suksinase menjadi aminoimidazol
karboksamida ribosil 5-fosfat. Lalu dengan tambahan folat dan enzim formil transferase menjadi
fornimidoimidazol karboksamida ribosil 5-fosfat. Setelah itu mengalami penutupan cincin oleh
enzim IMP siklohidrolase menjadi inosin monofosfat yang merupakan nukleotida pertama. Otak
manusia memiliki PRPP glutamil amidotransferase dalam kadar rendah sehingga bergantung
pada purin eksogen. Eritrosit dan leukosit polimorfonukleat tidak mampu menyintesis 5fosforibosilamin sehingga menggunakan purin eksogen untuk membentuk nukleotida.1

Gambar 1 .Sintesis de novo purin1


Sintesis PRPP dari ATP dan ribosa 5 fosfat diaktivasi oleh Pi (phospat inorganik)
sedangkan dihambat oleh nukleosida purin difosfat dan trifosfat. PRPP amidotransferase yang
berperan dengan glutamine dihambat oleh AMP, GMP, dan IMP. Sintesis purin dihambat oleh
sulfonamide, metotreksat. Senyawa yang menginhibisi pembentukan tetrahidrofolat sehingga
menghambat sintesis purin sudah digunakan dalam kemoterapi kanker. Senyawa inhibitor
tersebut diantaranya adalah azaserin, diazanorleusin, 6-merkaptopurin, dan asam mikofenolat.
Perubahan purin, ribonukleosida dan deoksiribonukleosida menjadi mononukleotida
memerlukan proses yang disebut reaksi penyelamatan (salvage reaction). Proses penyelamatan
purin ini juga terjadi di hepar. Mekanisme yang lebih penting melibatkan fosforibosilasi oleh
PRPP purin bebas untuk membentuk purin 5-mononukleotida. Dua fosforibosil transferase
kemudian mengubah adenine menjadi AMP, serta mengubah hipoxantin dan guanine menjadi
IMP atau GMP. Mekanisme penyelamatan kedua melibatkan transfer fosforil dari ATP ke
ribonukleosida purin. Adenosin kinase mengkatalisis fosforilasi adenosine dan deoksiadenosin
menjadi AMP dan dAMP, dan deoksisistidin kinase memfosforilasi deoksisistidin dan 2deoksiguanosin menjadi dCMP dan dGMP. Enzim yang terlibat adalah adenine fosforibosil
transferase (APRT) dan hipoxantin guanine fosforibosil transferase (HGPRT).
Dua mekanisme meregulasi perubahan IMP menjadi GMP, masing-masing menginhibisi
adenilosuksinat sintase dan IMP dehidrogenase. Selain itu, perubahan IMP menjadi AMP
memerlukan GTP, dan perubahan XMP menjadi GMP memerlukan ATP. Oleh karena itu,
regulasi silang jalur-jalur metebolisme IMP ini berfungsi menurunkan sintesis sebuah nukleotida
purin jika terjadi defisiensi nukleotida lain. AMP dan GMP juga menginhibisi HGPRT, yang
mengubah hipoxantin dan guanine menjadi IMP dan GMP dan umpan balik GMP menginhibisi
PRPP glutamil amidotransferase.
4

Manusia mengubah adenosine dan guanine menjadi asam urat. Adenin mula-mula diubah
menjadi inosin oleh adenosine deaminase. Purin nukleosida fosforilase akan merubah inosin dan
guanosin menjadi hipoxantin dan guanine. Guanin akan mengalami deaminasi menjadi
hipoxantin. Hipoxantin akan dioksidasi oleh enzim xantin oksidase menjadi xantin dan hasil
akhirnya adalah asam urat yang akan dieksresikan ke dalam urin. Selain pada primata ingkat
tinggi, uratase mengubah asam urat menjadi alantoin, suatu produk yang larut air pada mamalia.
Namun, karena manusia tidak memiiki uratase, produksi akhir metabolisme purin adalah asam
urat.

Gambar 2 .Katabolisme purin1


Berbagai defek genetik pada PRPP sintase bermanifestasi secara klinis sebagai
Gout(pirai). Gout dapat disebabkan karena defisiensi parsial HGPRT-ase. Berbagai defek
menyebabkan produksi dan ekskresi berlebihan berbagai katabolik purin. Ketika kadar asam urat
serum melebihi batas kelarutannya, terjadilah kristalisasi natrium urat di jaringan lunak dan sendi
sehingga menimbulkan reaksi inflamasi, arthritis gout. Namun, sebagian besar kasus gout
mencerminkan gangguan pengaturan asam urat di ginjal. Selain itu kondisi hiperuricemia yang
lain adalah Sindrom Lesch-Nyhan, dimana produksi katabolik berlebih karna defisiensi total
pada HGPRT-ase. Penyakit Von Gierke, terjadi karena produksi purin yang berlebih karena
defisiensi glukosa 6-fosfatase akibat peningkatan pembentukan precursor PRPP ribose 5-fosfat,
juga terjadi asidosis laktat yang meningkatkan kadar asam total dalam tubuh. Hipourisemia dan
meningkatnya eksresi hipoxantin dan xantin disebabkan karna defisiensi xantin oksidase.1

Metabolisme Pirimidin

Senyawa awal untuk sintesis pirimidin adalah CO2, glutamine dan ATP. Kemudian
dibantu oleh enzim karbamoil fosfat sintase II (CPS II) menjadi karbamoil fosfat, lalu dengan
penambahan asam aspartat dan enzim aspartat transkarbamoilase menjadi asam aspartat
karbamoil. Enzim CPS II tidak memerlukan koenzim biotin, dan aktivitasnya diaktivasi oleh ATP
dan PRPP, sedangkan dihambat oleh UTP. Karbamoil fosfat dibentuk di sitosol. Lalu, dengan
enzim dihidroorotase terjadi penutupan cincin menjadi asam dihidroorotat. Asam dihidroorotat
kemudian menjadi asam orotat dengan bantuan enzim dihidroorotat dehidrogenase. Kemudian
dengan enzim orotat fosforibosil transferase baru terbentuk nukleotida pertama yaitu orotik
monofosfat (OMP). OMP kemudian diubah menjadi UMP oleh enzim orotidilat dekarboksilase.
Defisiensi enzim orotat fosforibosil transferase dan orotidilat dekarboksilase akan menyebabkan
orotic acid uria. Selajutnya UMP akan menjadi UDP, yang kemudian menjadi CTP dan TMP.
Enzim CTP sintase mengkatalisis proses aminasi UTP menjadi CTP. Sedangkan pembentukan
TMP dimulai dari UDP yang dibantu ribonukleotida reduktase menjadi dUDP, kemudian menjadi
dUMP, lalu dibantu enzim timidilat sintase baru terbentuklah TMP. Timidilat sintase dihambat
oleh fluoroasil. Aktivitas enzim pertama dan kedua dalam biosentesis pirimidin dikendalikan
oleh regulasi alosterik. Aspartat transkarbamoilase diinhibisi oleh CTP namun diaktifkan oleh
ATP.1
Karena sel mamalia tidak banyak menggunakan ulang pirimidin bebas, reaksi
penyelamatan mengubah ribonukleosida pirimidin (uridin dan sitidin) serta deoksiribonukleosida
pirimidin (timidin dan deoksisistidin) menjadi nukleotida masing-masing. Fosforiltransferase
yang bergantung ATP mengkatalisis fosforilasi difosfat menjadi nukleosida trifosfat. Selain itu,
orotat fosforibosiltransferase menyelamatkan asam orotat dengan mengubahnya menjadi OMP.
Tidak seperti produk akhir katabolisme purin, produk akhir katabolisme pirimidin sangat
larut air, seperti CO2, NH3, -alanin, dan -aminoisobutirat. Eksresi -aminoisobutirat meningkat
pada leukemia dan pajanan radiasi sinar X yang parah akibat meningkatnya perusakan DNA.
Sifat produk akhir yang larut air ini menyebabkan pembentukan berlebihan pirimidin jarang
menimbulkan gejala atau tanda klinis. Asiduria orotat yang menyertai sindrom Reye mungkin
terjadi akibat kerusakan parah pada mitokondria sehingga tidak mampu menggunakan karbamoil
fosfat, sehingga terjadi pembentukan asam orotat sistolik secara berlebihan. Asiuduria tipe I
mencerminkan defisiensi orotat fosforibosiltransferase dan orotat dekarboksilase. Asidurida tipe
II disebabkan defisiensi orotat dekarboksilase saja, namun jarang terjadi.
Purin dan pirimidin memiliki beberapa peran dalam tubuh, diantaranya adalah sebagai
sumber energy berupa ATP,GTP,UTP,CTP,ADP,GDP,dll. Sebagai koenzim beripa FAD, FMN,
NAD, NADP, koenzim A. Sebagai second messenger dalam bentuk cAMP dan cGMP. Sebagai
sumber metil, S-adenosil metionin. Sebagai building blocks RNA dan DNA. Membentuk
senyawa aktif seperti UDP-glukosa, UDP-galaktosa, asetil KoA, siksinil koA, dll. Asam nukleat
dari makanan ajan dicerna diusus, diubah menjadi mononukleotida, kemudian menjadi
mononukleosida, lalu menjadi basa purin dan pirimidin, baru direabsorbsi dan masuk ke dalam
6

darah. Purin dari makanan di usus akan dioksidasi menjadi asam urat dan dieksresikan melalui
urin. Basa purin dan pirimidin perenteral dapat digunakan untuk sintesis asam nukleat.1
Jalur-Jalur Metabolisme Karbohidrat
Terdapat beberapa jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis, oksidasi piruvat, siklus asam
sitrat, glikogenesis, glikogenolisis serta glukoneogenesis.
Glikolisis
Glikolisis adalah katabolisme glukosa yang berlangsung di dalam sitosol semua sel, menjadi:
asam piruvat, pada suasana aerob (tersedia oksigen).1
asam laktat, pada suasana anaerob (tidak tersedia oksigen). 1
1.

Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa-6 fosfat dengan dikatalisir oleh enzim
heksokinase atau glukokinase pada sel parenkim hati dan sel Pulau Langerhans pancreas.
ATP diperlukan sebagai donor fosfat dan bereaksi sebagai kompleks Mg-ATP. Satu fosfat
berenergi tinggi digunakan, sehingga hasilnya adalah ADP. (-1P). 1
Mg2+
Glukosa + ATP glukosa 6-fosfat + ADP

2.

Glukosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 6-fosfat dengan bantuan enzim fosfoheksosa
isomerase. Enzim ini hanya bekerja pada anomer -glukosa 6-fosfat. 1
-D-glukosa 6-fosfat -D-fruktosa 6-fosfat

3.

Fruktosa 6-fosfat diubah menjadi Fruktosa 1,6-bifosfat dengan bantuan enzim


fosfofruktokinase. ATP menjadi donor fosfat, sehingga hasilnya adalah ADP.(-1P). 1
-D-fruktosa 6-fosfat + ATP D-fruktosa 1,6-bifosfat

4.

Fruktosa 1,6-bifosfat dipecah menjadi gliserahdehid 3-fosfat dan dihidroksi aseton


fosfat. Reaksi ini dikatalisir oleh enzim aldolase (fruktosa 1,6-bifosfat aldolase). 1
D-fruktosa 1,6-bifosfat D-gliseraldehid 3-fosfat + dihidroksiaseton fosfat

5.

Gliseraldehid 3-fosfat dapat berubah menjadi dihidroksi aseton fosfat dan sebaliknya
(reaksi interkonversi). Reaksi bolak-balik ini mendapatkan katalisator enzim fosfotriosa
isomerase. 1
7

D-gliseraldehid 3-fosfat dihidroksiaseton fosfat


6.

Gliseraldehid 3-fosfat dioksidasi menjadi 1,3-bifosfogliserat dengan bantuan enzim


gliseraldehid 3-fosfat dehidrogenase. Dihidroksi aseton fosfat bisa diubah menjadi
gliseraldehid 3-fosfat maka juga dioksidasi menjadi 1,3-bifosfogliserat. 1
D-gliseraldehid 3-fosfat + NAD+ + Pi 1,3-bifosfogliserat + NADH + H+
Atom-atom hidrogen yang dikeluarkan dari proses oksidasi ini dipindahkan kepada NAD +
yang terikat pada enzim. Pada rantai respirasi mitokondria akan dihasilkan tiga fosfat
berenergi tinggi. (+3P)

Catatan:
Karena fruktosa 1,6-bifosfat yang memiliki 6 atom C dipecah menjadi Gliseraldehid 3fosfat dan dihidroksi aseton fosfat yang masing-masing memiliki 3 atom C, dengan
demikian terbentuk 2 molekul gula yang masing-masing beratom C tiga (triosa). Jika
molekul dihidroksiaseton fosfat juga berubah menjadi 1,3-bifosfogliserat, maka dari 1
molekul glukosa pada bagian awal, sampai dengan tahap ini akan menghasilkan 2 x 3P =
6P. (+6P). 1
7.

Pada 1,3 bifosfogliserat, fosfat posisi 1 bereaksi dengan ADP menjadi ATP dibantu enzim
fosfogliserat kinase. Senyawa sisa yang dihasilkan adalah 3-fosfogliserat. 1

1,3-bifosfogliserat + ADP 3-fosfogliserat + ATP


Catatan:
Karena ada dua molekul 1,3-bifosfogliserat, maka energi yang dihasilkan adalah 2 x 1P =
2P. (+2P)
8.

3-fosfogliserat diubah menjadi 2-fosfogliserat dengan bantuan enzim fosfogliserat


mutase. 1
3-fosfogliserat 2-fosfogliserat

9.

2-fosfogliserat diubah menjadi fosfoenol piruvat (PEP) dengan bantuan enzim enolase.
Enolase dihambat oleh fluoride. Enzim ini bergantung pada Mg2+ atau Mn2+.1
2-fosfogliserat fosfoenol piruvat + H2O

10.

Fosfat pada PEPbereaksi dengan ADP menjadi ATP dengan bantuan enzim piruvat
kinase. Enol piruvat yang terbentuk dikonversi spontan menjadi keto piruvat. 1
8

Fosfoenol piruvat + ADP piruvat + ATP


Catatan:
Karena ada 2 molekul PEP maka terbentuk 2 molekul enol piruvat sehingga total hasil
energi pada tahap ini adalah 2 x 1P = 2P. (+2P)
11.

Jika tak tersedia oksigen (anaerob), tak terjadi reoksidasi NADH melalui pemindahan
unsur ekuivalen pereduksi. Piruvat akan direduksi oleh NADH menjadi laktat dengan
bantuan enzim laktat dehidrogenase.
Piruvat + NADH + H+ L(+)-Laktat + NAD+
Dalam keadaan aerob, piruvat masuk mitokondria, lalu dikonversi menjadi asetil-KoA,
selanjutnya dioksidasi dalam siklus asam sitrat menjadi CO2.

Glikogenesis
Tahap pertama metabolisme karbohidrat adalah pemecahan glukosa (glikolisis) menjadi
piruvat. Selanjutnya piruvat dioksidasi menjadi asetil KoA. Akhirnya asetil KoA masuk ke dalam
rangkaian siklus asam sitrat untuk dikatabolisir menjadi energi. 1,2
Proses di atas terjadi jika kita membutuhkan energi, misalnya untuk berpikir, mencerna
makanan, bekerja dan sebagainya. Jika jumlah glukosa melampaui kebutuhan, maka dirangkai
menjadi glikogen untuk cadangan makanan melalui proses glikogenesis.
Glikogen merupakan simpanan karbohidrat dalam tubuh dan analog dengan amilum pada
tumbuhan. Glikogen terdapat didalam hati (sampai 6%) dan otot jarang melampaui jumlah 1%.
Tetapi karena massa otot jauh lebih besar daripada hati, maka besarnya simpanan glikogen di
otot bisa mencapai tiga sampai empat kali lebih banyak. Seperti amilum, glikogen merupakan
polimer -D-Glukosa yang bercabang.2
Glikogen otot adalah sumber heksosa untuk proses glikolisis di dalam otot itu sendiri.
Sedangkan glikogen hati adalah simpanan sumber heksosa untuk dikirim keluar guna
mempertahankan kadar glukosa darah, khususnya di antara waktu makan. Setelah 12-18 jam
puasa, hampir semua simpanan glikogen hati terkuras. Tetapi glikogen otot hanya terkuras
setelah seseorang melakukan olahraga yang berat dan lama.2
Rangkaian proses terjadinya glikogenesis digambarkan sebagai berikut:
1.

Glukosa mengalami fosforilasi menjadi glukosa 6-fosfat (reaksi yang lazim terjadi juga
pada lintasan glikolisis). Di otot reaksi ini dikatalisir oleh heksokinase sedangkan di hati
oleh glukokinase.

2.

Glukosa 6-fosfat diubah menjadi glukosa 1-fosfat dalam reaksi dengan bantuan katalisator
enzim fosfoglukomutase. Enzim itu sendiri akan mengalami fosforilasi dan gugus fosfo
akan mengambil bagian di dalam reaksi reversible yang intermediatnya adalah glukosa 1,6bifosfat.
Enz-P + Glukosa 6-fosfat Enz + Glukosa 1,6-bifosfat Enz-P + Glukosa 1-fosfat

3.

Selanjutnya glukosa 1-fosfat bereaksi dengan uridin trifosfat (UTP) untuk membentuk
uridin difosfat glukosa (UDPGlc). Reaksi ini dikatalisir oleh enzim UDPGlc
pirofosforilase.
UTP + Glukosa 1-fosfat UDPGlc + PPi

4.

Hidrolisis pirofosfat inorganic berikutnya oleh enzim pirofosfatase inorganik akan menarik
reaksi kea rah kanan persamaan reaksi

5.

Atom C1 pada glukosa yang diaktifkan oleh UDPGlc membentuk ikatan glikosidik dengan
atom C4pada residu glukosa terminal glikogen, sehingga membebaskan uridin difosfat.
Reaksi ini dikatalisir oleh enzim glikogen sintase. Molekul glikogen yang sudah ada
sebelumnya (disebut glikogen primer) harus ada untuk memulai reaksi ini. Glikogen primer
selanjutnya dapat terbentuk pada primer protein yang dikenal sebagai glikogenin. 1
UDPGlc + (C6)n UDP + (C6)n+1
Glikogen
Glikogen
Residu glukosa yang lebih lanjut melekat pada posisi 14 untuk membentuk rantai
pendek yang diaktifkan oleh glikogen sintase. Pada otot rangka glikogenin tetap melekat
pada pusat molekul glikogen, sedangkan di hati terdapat jumlah molekul glikogen yang
melebihi jumlah molekul glikogenin.1

6.

Setelah rantai dari glikogen primer diperpanjang dengan penambahan glukosa tersebut
hingga mencapai minimal 11 residu glukosa, maka enzim pembentuk cabang memindahkan
bagian dari rantai 14 (panjang minimal 6 residu glukosa) pada rantai yang berdekatan
untuk membentuk rangkaian 16 sehingga membuat titik cabang pada molekul tersebut.
Cabang-cabang ini akan tumbuh dengan penambahan lebih lanjut 1glukosil dan
pembentukan cabang selanjutnya. Setelah jumlah residu terminal yang non reduktif
bertambah, jumlah total tapak reaktif dalam molekul akan meningkat sehingga akan
mempercepat glikogenesis maupun glikogenolisis. 1

10

Tampak bahwa setiap penambahan 1 glukosa pada glikogen dikatalisir oleh enzim
glikogen sintase. Sekelompok glukosa dalam rangkaian linier dapat putus dari glikogen
induknya dan berpindah tempat untuk membentuk cabang. Enzim yang berperan dalam tahap
ini adalah enzim pembentuk cabang (branching enzyme). 1

Glikogenolisis
Jika glukosa dari diet tidak dapat mencukupi kebutuhan, maka glikogen harus dipecah
untuk mendapatkan glukosa sebagai sumber energi. Proses ini dinamakan glikogenolisis.
Glikogenolisis seakan-akan kebalikan dari glikogenesis, akan tetapi sebenarnya tidak demikian.
Untuk memutuskan ikatan glukosa satu demi satu dari glikogen diperlukan enzim fosforilase.
Enzim ini spesifik untuk proses fosforolisis rangkaian 14 glikogen untuk menghasilkan
glukosa 1-fosfat. Residu glukosil terminal pada rantai paling luar molekul glikogen dibuang
secara berurutan sampai kurang lebih ada 4 buah residu glukosa yang tersisa pada tiap sisi
cabang 16. 1
(C6)n + Pi (C6)n-1 + Glukosa 1-fosfat
Glikogen

Glikogen

Glukan transferase dibutuhkan sebagai katalisator pemindahan unit trisakarida dari


satu cabang ke cabang lainnya sehingga membuat titik cabang 16 terpajan. Hidrolisis ikatan
16 memerlukan kerja enzim enzim pemutus cabang (debranching enzyme) yang spesifik.
Dengan pemutusan cabang tersebut, maka kerja enzim fosforilase selanjutnya dapat berlangsung.
1

Glukoneogenesis
Glukoneogenesis terjadi jika sumber energi dari karbohidrat tidak tersedia lagi. Maka
tubuh adalah menggunakan lemak sebagai sumber energi. Jika lemak juga tak tersedia, barulah
memecah protein untuk energi yang sesungguhnya protein berperan pokok sebagai pembangun
tubuh. 1
Jadi bisa disimpulkan bahwa glukoneogenesis adalah proses pembentukan glukosa dari
senyawa-senyawa non karbohidrat, bisa dari lipid maupun protein.
Secara ringkas, jalur glukoneogenesis dari bahan lipid maupun protein dijelaskan sebagai
berikut:
1. Lipid terpecah menjadi komponen penyusunnya yaitu asam lemak dan gliserol. Asam lemak
dapat dioksidasi menjadi asetil KoA. Selanjutnya asetil KoA masuk dalam siklus Krebs.
Sementara itu gliserol masuk dalam jalur glikolisis.
2. Untuk protein, asam-asam amino penyusunnya akan masuk ke dalam siklus Krebs. 1
11

METABOLISME PROTEIN
Protein yang dimakan didalam tubuh akan dihidrolisis menggunakan enzim-enzim
tertentu. Adapun enzim yang bekerja ialah pepsin dengan bantuan HCl di lambung. Setelah
mencapai usus halus, maka pankreas akan mensekresikan tripsin, kimotripsin dan
karboksipeptidase yang juga bekerja untuk memotong protein menjadi polipeptida. Yang
bertugas sebagai pemecah terakhir ialah peptidase dan aminopeptidase. Setelah terbentuk asam
amino, melalui transpor mediated aktif dengan bantuan ion natrium, asam amino akan dibawa ke
dalam darah melalui lumen usus halus. Vitamin B6 membantu kerja ion natrium ini.2
Asam amino dapat disintesis dalam tubuh dan didapatkan dari makanan. Seperit yang telah
dibahas diatas, asam amino yang disintesis tubuh disebut sebagai asam amino non essensial.
Total terdapat 12 asam amino non essensial. 9 diantaranya disintesis dari komponen siklus asam
sitrat, sedangkan 3 yang lain didapatkan dari asam amino essensial.3
Biosintesis asam amino non essensial:
1. ketoglutarat Asam Glutamat
2. Asam Glutamat Glutamin
3. Glutamat Prolin Hidroksi Prolin
4. Piruvat Alanin
5. Oksaloaseat Aspartat Alanin
6. D-3-Fosfogliserat Serin
7. Glioksilat dan Kolin Glisin
8. Metionin dan Serin Sistein
9. Phenilalanin Tirosin
10. Lisin Hidroksi Lisin
Metabolisme Lipid
Lipid yang kita peroleh sebagai sumber energi utamanya adalah dari lipid netral, yaitu
trigliserid (ester antara gliserol dengan 3 asam lemak). Secara ringkas, hasil dari pencernaan lipid
adalah asam lemak dan gliserol, selain itu ada juga yang masih berupa monogliserid. Karena
larut dalam air, gliserol masuk sirkulasi portal (vena porta) menuju hati. Asam-asam lemak rantai
pendek juga dapat melalui jalur ini.3
Sebagian besar asam lemak dan monogliserida karena tidak larut dalam air, maka diangkut
oleh miselus (dalam bentuk besar disebut emulsi) dan dilepaskan ke dalam sel epitel usus
(enterosit). Di dalam sel ini asam lemak dan monogliserida segera dibentuk menjadi trigliserida
(lipid) dan berkumpul berbentuk gelembung yang disebut kilomikron. Selanjutnya kilomikron
ditransportasikan melalui pembuluh limfe dan bermuara pada vena kava, sehingga bersatu
dengan sirkulasi darah. Kilomikron ini kemudian ditransportasikan menuju hati dan jaringan
adiposa.3
12

Di dalam sel-sel hati dan jaringan adiposa, kilomikron segera dipecah menjadi asam-asam
lemak dan gliserol. Selanjutnya asam-asam lemak dan gliserol tersebut, dibentuk kembali
menjadi simpanan trigliserida. Proses pembentukan trigliserida ini dinamakan esterifikasi.
Sewaktu-waktu jika kita membutuhkan energi dari lipid, trigliserida dipecah menjadi asam lemak
dan gliserol, untuk ditransportasikan menuju sel-sel untuk dioksidasi menjadi energi. Proses
pemecahan lemak jaringan ini dinamakan lipolisis. Asam lemak tersebut ditransportasikan oleh
albumin ke jaringan yang memerlukan dan disebut sebagai asam lemak bebas (free fatty
acid/FFA).3
Secara ringkas, hasil akhir dari pemecahan lipid dari makanan adalah asam lemak dan
gliserol. Jika sumber energi dari karbohidrat telah mencukupi, maka asam lemak mengalami
esterifikasi yaitu membentuk ester dengan gliserol menjadi trigliserida sebagai cadangan energi
jangka panjang. Jika sewaktu-waktu tak tersedia sumber energi dari karbohidrat barulah asam
lemak dioksidasi, baik asam lemak dari diet maupun jika harus memecah cadangan trigliserida
jaringan. Proses pemecahan trigliserida ini dinamakan lipolisis.3
Proses oksidasi asam lemak dinamakan oksidasi beta dan menghasilkan asetil KoA.
Selanjutnya sebagaimana asetil KoA dari hasil metabolisme karbohidrat dan protein, asetil KoA
dari jalur inipun akan masuk ke dalam siklus asam sitrat sehingga dihasilkan energi. Di sisi lain,
jika kebutuhan energi sudah mencukupi, asetil KoA dapat mengalami lipogenesis menjadi asam
lemak dan selanjutnya dapat disimpan sebagai trigliserida.3
Beberapa lipid non gliserida disintesis dari asetil KoA. Asetil KoA mengalami
kolesterogenesis menjadi kolesterol. Selanjutnya kolesterol mengalami steroidogenesis
membentuk steroid. Asetil KoA sebagai hasil oksidasi asam lemak juga berpotensi menghasilkan
badan-badan keton (aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton). Proses ini dinamakan ketogenesis.
Badan-badan keton dapat menyebabkan gangguan keseimbangan asam-basa yang dinamakan
asidosis metabolik. Keadaan ini dapat menyebabkan kematian.
Metabolisme Gliserol
Gliserol sebagai hasil hidrolisis lipid (trigliserida) dapat menjadi sumber energi. Gliserol
ini selanjutnya masuk ke dalam jalur metabolisme karbohidrat yaitu glikolisis. Pada tahap awal,
gliserol mendapatkan 1 gugus fosfat dari ATP membentuk gliserol 3-fosfat. Selanjutnya senyawa
ini masuk ke dalam rantai respirasi membentuk dihidroksi aseton fosfat, suatu produk antara
dalam jalur glikolisis.3
Oksidasi Asam Lemak (Oksidasi Beta)
Untuk memperoleh energi, asam lemak dapat dioksidasi dalam proses yang dinamakan
oksidasi beta. Sebelum dikatabolisir dalam oksidasi beta, asam lemak harus diaktifkan terlebih
dahulu menjadi asil-KoA. Dengan adanya ATP dan Koenzim A, asam lemak diaktifkan dengan
dikatalisir oleh enzim asil-KoA sintetase (Tiokinase).3
13

Asam lemak bebas pada umumnya berupa asam-asam lemak rantai panjang. Asam lemak
rantai panjang ini akan dapat masuk ke dalam mitokondria dengan bantuan senyawa karnitin,
dengan rumus (CH3)3N+-CH2-CH(OH)-CH2-COO-.
Langkah-langkah masuknya asil KoA ke dalam mitokondria dijelaskan sebagai berikut:

Asam lemak bebas (FFA) diaktifkan menjadi asil-KoA dengan dikatalisir oleh enzim
tiokinase.
Setelah menjadi bentuk aktif, asil-KoA dikonversikan oleh enzim karnitin palmitoil
transferase I yang terdapat pada membran eksterna mitokondria menjadi asil karnitin. Setelah
menjadi asil karnitin, barulah senyawa tersebut bisa menembus membran interna
mitokondria.
Pada membran interna mitokondria terdapat enzim karnitin asil karnitin translokase yang
bertindak sebagai pengangkut asil karnitin ke dalam dan karnitin keluar.
Asil karnitin yang masuk ke dalam mitokondria selanjutnya bereaksi dengan KoA dengan
dikatalisir oleh enzim karnitin palmitoiltransferase II yang ada di membran interna
mitokondria menjadi Asil Koa dan karnitin dibebaskan.
Asil KoA yang sudah berada dalam mitokondria ini selanjutnya masuk dalam proses oksidasi
beta.1

Dalam oksidasi beta, asam lemak masuk ke dalam rangkaian siklus dengan 5 tahapan
proses dan pada setiap proses, diangkat 2 atom C dengan hasil akhir berupa asetil KoA.
Selanjutnya asetil KoA masuk ke dalam siklus asam sitrat. Dalam proses oksidasi ini, karbon
asam lemak dioksidasi menjadi keton.3
Telah dijelaskan bahwa asam lemak dapat dioksidasi jika diaktifkan terlebih dahulu
menjadi asil-KoA. Proses aktivasi ini membutuhkan energi sebesar 2P. (-2P)
Setelah berada di dalam mitokondria, asil-KoA akan mengalami tahap-tahap perubahan
sebagai berikut:
1. Asil-KoA diubah menjadi delta2-trans-enoil-KoA. Pada tahap ini terjadi rantai respirasi
dengan menghasilkan energi 2P (+2P)
2. delta2-trans-enoil-KoA diubah menjadi L(+)-3-hidroksi-asil-KoA
3. L(+)-3-hidroksi-asil-KoA diubah menjadi 3-Ketoasil-KoA. Pada tahap ini terjadi rantai
respirasi dengan menghasilkan energi 3P (+3P)
4. Selanjutnya terbentuklah asetil KoA yang mengandung 2 atom C dan asil-KoA yang telah
kehilangan 2 atom C.
Dalam satu oksidasi beta dihasilkan energi 2P dan 3P sehingga total energi satu kali
oksidasi beta adalah 5P. Karena pada umumnya asam lemak memiliki banyak atom C, maka asilKoA yang masih ada akan mengalami oksidasi beta kembali dan kehilangan lagi 2 atom C
karena membentuk asetil KoA. Demikian seterusnya hingga hasil yang terakhir adalah 2 asetil14

KoA.Asetil-KoA yang dihasilkan oleh oksidasi beta ini selanjutnya akan masuk siklus asam
sitrat.3
Dari uraian di atas kita bisa menghitung energi yang dihasilkan oleh oksidasi beta suatu
asam lemak. Misalnya tersedia sebuah asam lemak dengan 10 atom C, maka kita memerlukan
energi 2 ATP untuk aktivasi, dan energi yang di hasilkan oleh oksidasi beta adalah 10 dibagi 2
dikurangi 1, yaitu 4 kali oksidasi beta, berarti hasilnya adalah 4 x 5 = 20 ATP. Karena asam
lemak memiliki 10 atom C, maka asetil-KoA yang terbentuk adalah 5 buah.3
Setiap asetil-KoA akan masuk ke dalam siklus Krebs yang masing-masing akan
menghasilkan 12 ATP, sehingga totalnya adalah 5 X 12 ATP = 60 ATP. Dengan demikian sebuah
asam lemak dengan 10 atom C, akan dimetabolisir dengan hasil -2 ATP (untuk aktivasi) + 20
ATP (hasil oksidasi beta) + 60 ATP (hasil siklus Krebs) = 78 ATP.
Sebagian dari asetil-KoA akan berubah menjadi asetoasetat, selanjutnya asetoasetat
berubah menjadi hidroksi butirat dan aseton. Aseto asetat, hidroksi butirat dan aseton dikenal
sebagai badan-badan keton. Proses perubahan asetil-KoA menjadi benda-benda keton dinamakan
ketogenesis.
Sebagian dari asetil KoA dapat diubah menjadi kolesterol (prosesnya dinamakan
kolesterogenesis) yang selanjutnya dapat digunakan sebagai bahan untuk disintesis menjadi
steroid (prosesnya dinamakan steroidogenesis).3
Makanan yang Mengandung Purin
Asam urat merupakan hasil dari katabolisme dari purin. Purin yang dikatabolisme dapat
dihasilkan oleh tubuh dan juga dapat berasal dari makanan yang kita makan. Berikut makanan
yang mengandung purin.
Setiap makanan mengandung nukleoprotein. Sehingga makanan yang dimakan oleh
manusia terdapat purin yang akan dikatabolisme menjadi asam urat. Tetapi, makanan yang
dimakan tersebut dapat dibedakan menjadi makanan yang dihindari pada penderita asam urat dan
juga makanan yang dapat dikonsumsi oleh penderita asam urat.4
Makanan yang harus dihindari oleh penderita asam urat adalah minuman beralkohol, ragi,
makanan yang diawetkan dalam kaleng seperti kornet dan sarden, sayuran bayam, asparagus,
kembang kol, sup kental dan soto sulung, kerang, cumi-cumi, jengkol, petai, melinjo, jantung,
hati, kornet sapi, usus, limpa, paru, otak, dan bebek. Sebaiknya makanan yang disebutkan tadi
dihindari karena dapat menyebabkan penderita asam urat dapat mengalami nyeri pada
persendian.5

15

Makanan yang dapat dikonsumsi oleh penderita asam urat adalah daging, ayam, ikan
tongkol, ikan tenggiri, ikan bawal, ikan bandeng sebesar 50 gr sehari, sayuran selain sayuran di
atas. Makanan ini dapat di konsumsi tetapi dalam jumlah yang tidak berlebih.5
Penyakit GOUT
Gout merupakan kejadian dimana terjadi kelainan metabolisme dari purin. Hanya sekedar
informasi, penyakit gout ini menyebabkan nyeri sendi terutama pada ibu jari kaki dan kemudian
merambat pada persedian pada kaki. Asam urat yang menjadi penyebab penyakit ini seharusnya
diekskresi pada keadaan normal sebesar 700mg dan memiliki simpanan pada cairan tubuh
sebesar 1.000mg. Tetapi pada penderita gout, simpanan pada cairan tubuh meningkat 3-15 kali
dari keadaan normal dan eksresi asam urat melalui urin menurun sehingga menyebabkan
penumpukan atau pengendapan pada tubuh karena asam urat ini tidak dapat larut dalam air.6
Penilaian Status Gizi
Peniaian status gizi dapat dilakukan secara langsung dan secara tidak langsung. Penilaian secara
langsung dapat dilakukan melalui tanda-tanda klinis, pengukuran antropometri, pengukuran
biokimia, dan pengukuran biofisika. Berikut penilaian status gizi secara langsung:

Melihat tanda-tanda klinis


Didasarkan pada adanya perubahan yang diyakini disebabkan karena terjadinya
kekurangan zat gizi yang dapat dilihat atau diraba pada permukaan jaringan epitel
dari kulit, mata, rambut, dan mukosa.7
WHO dalam laporannya mengusulkan 3 kelompok untuk klasifikasi dari tanda-tanda
klinis :
1. Tanda-tanda yang pada masa lalu menunjukkan adanya kekurangan satu atau
lebih zat gizi di jaringan.
2. Tanda-tanda yang membutuhkan penilaian lebih lanjut, dimana peran kekurangan
zat gizi secara kronis bersama-sama dengan faktor lain dapat menjadi penyebab.
Keadaan ini sering terjadi pada masyarakat yang kurang mampu.
3. Tanda-tanda yang berdasarkan pengetahuan yang ada tidak ada hubungannya
dengan masalah gizi, namun perlu dibedakan dari masalah yang ditimbulkan dari
masalah gizi.
Tanda-tanda tersebut dapat dilihat pada rambut, muka, mata, bibir, lidah, gigi, gusi,
kelenjar, kulit, jaringan subcutan, system gastro intestinal, system saraf, system
cardiovascular.
Sebagai contoh tanda-tanda yang terlihat antara lain :
Rambut : kering, jarang, dispigmentasi
Muka : moonface, difus depigmentasi
Mata : bitots spot, corneal xorosis
16

Bibir : angular stomatitis, cheilosis


Lidah : magenta tongue, hyperaemic papillae
Gigi : mottled enamel, dental atrisi
Gusi : berdarah
Kulit : follicular hyperkeratosis

Makanan mengandung purin tinggi, yang perlu dihindari atau batasi oleh penderita gout
artritis
Obat-obatan diperlukan untuk mengobati Gout, akan tetapi membuat perubahan pola
makan tertentu seperti mengurangi makanan yang kaya purin juga bisa membantu. Purin
sebenarnya terdapat diseluruh bagian makhluk hidup, jadi tidak mungkin kita menghindari purin.
Yang terbaik adalah dimulai dengan mengetahui beberapa makanan yang paling tinggi
mengandung purin berikut7:
Daging merah
:Daging pada umumnya tinggi purin, dan Organ hewan atau jerohan
seperti hati, ginjal & otak mengandung purin paling tinggi. Daging yang mengandung purin
tinggi seperti daging babi, daging rusa, daging sapi, kelinci, kalkun, sapi, unggas dan bebek.
Batasi jumlah asupan protein hewani hingga 6 ons per hari, hal ini untuk mengurangi purin
dalam tubuh .
Sea food
:Ikan sarden adalah sumber purin tertinggi. Juga makanan laut lainnya seperti
halibut, ikan kod, bluefish, makarel, trout, tuna, lobster, tiram, herring, sarden dan kerang.
Anggur
:Anggur juga merupakan salah satu sumber Purine tertinggi. Batasi konsumsi
anggur jika Anda menderita gout.
Minuman
:Minuman sehari-hari kita seperti teh dan kopi sebenarnya sedikit mengandung
purin, akan tetapi batasi konsumsinya karena mengandung kafein. Sementara Minuman
beralkohol tidak boleh diminum oleh penderita kelebihan asam urat. Terutama adalah bir, dimana
yang pailing tinggi purin.
Ragi :Produk yang mengandung ragi harus dibatasi untuk menghindari masalah kesehatan,
terutama bagi penderita radang sendi akibat asam urat. Tape atau produk yang difermentasi
lainnya adalah mengandung purin tinggi dari ragi.
Kacang-kacangan :Kacang-kacangan adalah sumber protein nabati yang baik, namun pada
umumnya juga tinggi purin. Kacang-kacangan yang paling kaya akan purin adalah lentil, kacang
navy , kacang lima, kacang merah, dan belinjo.

17

Cokelat
:Biji kakao dan daun teh mengandung tinggi theobromine, yaitu alkaloid dengan
struktur mirip dengan kafein yang tinggi purin. Kakao merupakan bahan utama pembuatan dark
chocokelate. 7
Makanan rendah purin
Beberapa yang terbaik makanan rendah purin meliputi berbagai macam sayuran (jamur,
asparagus, kubis, ceri, buncis, selada, lobak, jagung, kentang, dan wortel), dan buah-buahan
( apel, pisang, jeruk, dan melon). Juga ada banyak kacang-kacangan (Brazil, hazelnut, dan
kacang tanah), keju (cheddar, edam, cottage, dan Limburger), dan pasta yang dibuat dengan telur,
dan biji-bijian.8

Kesimpulan
Purin dan pirimidin dalam tubuh dapat disintesis dan juga didapat dari makanan yang
dimakan. Hasil akhir dari katabolisme purin merupkan asam urat. Jika asam urat yang
dihasilkan tubuh dari katabolisme purin semakin banyak maka asam urat akan mengendap
pada persendian dan menimbulkan rasa nyeri yang disebabkan oleh penumpukan kristalkristal asam urat. Tidak hanya mengendap, asam urat juga dieksresikan oleh tubuh melalui
urin.
Daftar Pustaka
1. Murray RK, Granner DK, Rodwell VW. Biokimia Harper. Jakarta: EGC; 2009. H.304-18.
2. Kusharto CM, Suhardjo. Prinsip prinsip ilmu dasar gizi. Ed.12 . Yogyakarta: Kanisius;
2002. H.20-44.
3. Sediaoetama AD. Ilmu gizi untuk mahasiswa dan profesi. Jakarta: Dian rakyat:
2008.h.31-95
4. Sloane E. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta. EGC. 2003.h.228-44
5. Harjasasmita. Ikhtisat biokimia dasar B. Jakarta: FKUI 2003.h.56-79
6. Penerbit Buku Kompas. Makan sehat hidup sehat. Jakarta : Kompas Media
Nusantara.2006.h.30-6.
7. Hartono A. Terapi gizi & diet rumah sakit. Jakarta: EGC.2004. h.178-80
8. Krisnatuti D, Yenrina R, Uripi V. Perencanaan menu untuk penderita gangguan asam urat.
Jakarta: Niaga Swadaya.2007.h.4

18